Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 1. Tampilkan semua postingan

formularium herbal 1

  



Pembangunan kesehatan di NEGARA KITA  bertujuan untuk 

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi 

setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang 

setinggi-tingginya. Selain itu kesehatan juga merupakan investasi bagi 

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan 

ekonomi. 

Kementerian  Kesehatan dalam mencapai tujuan tersebut memiliki 

kebijakan pelayanan kesehatan yang berlandaskan pada visi 

masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan dengan misi untuk 

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melindungi kesehatan 

masyarakat, menjamin ketersediaan dan pemerataan kesehatan, serta 

menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Salah satu strategi 

yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan dalam melaksanakan 

kebijakan pelayanan kesehatan yaitu  dengan meningkatkan 

pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan 

berkeadilan, serta berbasis bukti, dengan pengutamaan pada upaya 

promotif dan preventif. 

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat diselenggarakan 

melalui upaya kesehatan terpadu dan menyeluruh baik berupa upaya 

kesehatan perorangan maupun upaya kesehatan masyarakat. Upaya 

kesehatan ini diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan 

pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang 

dilaksanakan secara berkesinambungan. 

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 

48 ayat (1) menyebutkan bahwa terdapat 17 upaya kesehatan yang 

salah satunya merupakan upaya pelayanan kesehatan tradisional.  

Pelayanan Kesehatan Tradisional menurut Undang-Undang Nomor 

36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu  pengobatan dan/atau 

perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan 

keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat 

dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang 

berlaku di masyarakat. sedang  Pelayanan Kesehatan Tradisional 

Komplementer yaitu  pengobatan tradisional yang telah berlandaskan 

ilmu pengetahuan biomedik, diperoleh melalui pendidikan terstruktur 

dengan kualitas, keamanan, dan efektivitas yang tinggi, dan 

diintegrasikan dalam fasilitas pelayanan kesehatan formal (praktek 

perorangan, puskesmas dan rumah sakit), dengan tenaga 

pelaksananya yaitu  tenaga kesehatan dokter dan dokter gigi sebagai 

pelaksana utama dan tenaga kesehatan lainnya sebagai penunjang 

pelaksana utama. Pelayanan kesehatan tradisional komplementer ini 

dapat disinergikan dengan pelayanan kesehatan konvensional, baik 

sebagai pelengkap maupun pengganti jika terdapat kontraindikasi pada 

pelayanan kesehatan konvensional atau atas permintaan pasien setelah 

mendapatkan penjelasan. Saat ini pelayanan kesehatan tradisional 

merupakan jenis pelayanan yang banyak diminati baik oleh 

masyarakat maupun pakar kedokteran konvensional.   

Salah satu metode pelayanan kesehatan tradisional komplementer 

yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 

tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional yaitu  pelayanan kesehatan 

tradisional memakai  ramuan.  

Perkembangan pelayanan kesehatan tradisional memakai  

ramuan saat ini semakin pesat, terbukti dari hasil Riskesdas 2010 

bahwa persentase penduduk NEGARA KITA  yang pernah mengonsumsi 

jamu sebanyak 59,12 % yang terdapat pada semua kelompok umur, 

baik laki-laki maupun perempuan, di pedesaan maupun di perkotaan. 

Persentasi pemakaian  tanaman obat berturut-turut yaitu  jahe 

(50,36%), diikuti kencur (48,77%), temulawak (39,65%), meniran 

(13,93%) dan pace (11,17%). Selain tanaman obat di atas, sebanyak 

72,51% memakai  tanaman obat jenis lain. Bentuk sediaan jamu 

yang paling banyak disukai penduduk yaitu  cairan, diikuti berturut-

turut seduhan/serbuk, rebusan/rajangan, dan bentuk 

kapsul/pil/tablet. Penduduk NEGARA KITA  yang mengonsumsi jamu 

sebesar 95,60 % merasakan manfaatnya pada semua kelompok umur 

dan status ekonomi, baik di pedesaan maupun perkotaan.  

Kementerian Kesehatan melalui pencanangan pengembangan dan 

promosi obat tradisional NEGARA KITA  mendorong dan menggalakkan 

kembali pemanfaatan obat tradisional NEGARA KITA  oleh masyarakat serta 

dikembangkan dalam dunia  kedokteran. 

Kementerian Kesehatan dalam mendukung pelayanan kesehatan 

tradisional memakai  ramuan memandang perlu untuk membuat 

suatu acuan dalam pemilihan pemanfaatan jenis obat tradisional yang 

dapat berupa formularium. Formularium ini akan terus berkembang 

seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi bidang kesehatan. Hal ini 

didukung pula dengan keberadaan Sentra Pengembangan dan 

Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T), Badan Litbangkes serta 

Institusi Pendidikan yang senantiasa melakukan penelitian dan 

pengembangan di bidang pelayanan kesehatan tradisional. 

Formularium ini diharapkan dapat dipakai  baik untuk tenaga 

medis. 

Komitmen WHO dalam WHO Regional Meeting on the Use of Herbal 

Medicine in Primary Health Care, di Rangoon, Maret 2009 menghasilkan 

kesepakatan untuk saling bertukar informasi dan memperkuat 

Program Nasional dalam pemakaian  Herbal Medicine di Pelayanan 

Kesehatan Dasar semakin mendukung penyelenggaraan pengobatan 

herbal. 

Formularium ini ada beberapa pemilihan jenis atau gejala peyakit 

yang tidak dicantumkan kembali sebab  kurangnya data hasil 

penelitian. Pemilihan jenis atau gejala penyakit  dalam penyusunan 

Formularium Herbal Asli NEGARA KITA  ini berdasarkan data penyakit atau 

kasus terbanyak yang ditemukan di masyarakat yang diambil dari data 

hasil  Riskesdas 2010, Profil Kesehatan NEGARA KITA  dan dari data laporan 

rumah sakit dan puskesmas  maupun pengalaman di lapangan. 

Adapun jenis penyakit dan gejala penyakit  ini, meliputi: penyakit 

metabolik (diabetes mellitus, dislipidemia, hiperurisemia), ISPA (dengan 

gejala batuk, analgetik-antipiretik), penyakit kulit (panu, kadas, kurap), 

gangguan pencernaan (gastroenteritis, gastritis), hipertensi, kanker 

(suportif dan paliatif), penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan 

nutrisi (obesitas, anoreksia,), penyakit saluran kemih,  diuretik, artritis, 

konstipasi, insomnia, hepatoprotektor, disfungsi ereksi, haemorrhoid. 

B. Ruang Lingkup 

Formularium Obat Herbal Asli NEGARA KITA  ini berisi informasi 

tentang jenis-jenis tanaman obat yang tumbuh di NEGARA KITA  yang 

setelah terbukti secara ilmiah aman dan bermanfaat untuk kesehatan. 

Informasi yang disajikan meliputi nama Latin, nama daerah, bagian 

yang dipakai , deskripsi tanaman/simplisia, kandungan kimia, data 

keamanan, data manfaat, indikasi, kontraindikasi, peringatan, efek 

samping, interaksi, posologi dan daftar pustaka. Tanaman herbal ini 

kemudian disusun secara alfabetis dan dikelompokkan berdasarkan 

jenis penyakit dalam daftar indeks terapi yang juga disusun secara 

alfabetis. 

Jenis-jenis penyakit yang ada di dalam formularium ini yaitu  

jenis penyakit yang kasusnya cukup banyak  di masyarakat 

berdasarkan data  Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 dan Data Profil 

Kesehatan NEGARA KITA  tahun 2009. Pemanfaatan tanaman herbal ini 

dimaksudkan untuk upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan 

paliatif. 

 

C. Pengertian 

1. Obat tradisional yaitu  bahan atau ramuan bahan yang berupa 

bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian 

(galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun 

temurun telah dipakai  untuk pengobatan, dan dapat 

diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. 

2. Pelayanan kesehatan tradisional yaitu  pengobatan dan/atau 

perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman 

dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat 

dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma 

yang berlaku di masyarakat. 

3. Herbal asli NEGARA KITA  yaitu  tanaman obat yang tumbuh dan 

dibudidayakan di NEGARA KITA  dan dipakai  secara turun temurun 

untuk tujuan kesehatan. 

4. Formularium obat herbal asli NEGARA KITA  yaitu  dokumen yang 

berisi kumpulan tanaman obat asli NEGARA KITA  beserta dengan 

informasi tambahan yang penting tentang pemakaian nya.  

5. Fitofarmaka yaitu  sediaan obat bahan alam yang telah 

distandardisasi, status keamanan dan khasiatnya telah 

dibuktikan secara ilmiah melalui uji klinik  

6. Obat Herbal Terstandar yaitu  sediaan bahan yang telah 

distandardisasi bahan baku yang dipakai  dalam produk jadi, 

harus memenuhi persyaratan aman dan mutu sesuai dengan 

persyaratan yang berlaku serta klaim khasiat dibuktikan secara 

ilmiah/praklinik.  

7. Jamu yaitu  sediaan obat bahan alam, status keamanan dan 

khasiatnya dibuktikan secara empiris  

8. LD50 yaitu  dosis suatu obat atau bahan obat yang memicu  

kematian 50% dari populasi hewan uji. 

9. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yaitu  suatu alat dan/atau tempat 

yang dipakai  untuk menyelenggarakan upaya pelayanan 

kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif 

yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta 

dan/atau masyarakat. 

10. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tradisional yaitu  suatu alat 

dan/atau tempat yang dipakai  untuk menyelenggarakan upaya 

pelayanan kesehatan tradisional, baik promotif, preventif, kuratif 

maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah 

daerah, dan/atau masyarakat 

11. Sediaan farmasi yaitu  obat, bahan obat, obat tradisional dan 

kosmetika. 

12. Posologi yaitu  suatu sediaan dengan kadar yang sudah 

ditentukan. 

13. Ekstrak yaitu  sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan 

menyari simplisia menurut cara yang cocok, di luar pengaruh 

cahaya matahari langsung. Ekstrak harus mudah digerus menjadi 

serbuk. 

14. Tea Bag yaitu  cara penyajian yang dilakukan dengan 

memasukkan tea bag ke dalam cangkir yang berisi air mendidih 

dan didiamkan selama 5 menit. 

15. Sachet yaitu  cara penyajian yang dilakukan dengan 

memasukkan sachet ke dalam air kemudian direbus dengan api 

kecil sampai mendidih, dan biarkan di atas api kecil sampai 

menjadi setengahnya (Contoh: 2 gelas menjadi 1 gelas) kemudian 

angkat. Perebusan dilakukan dengan memakai  panci yang 

tidak bereaksi dengan obat herbal, misalnya panci yang terbuat 

dari bahan keramik, stainless steel, email atau kaca. Besar panci 

harus sesuai dengan isinya. Gelas yang dipakai  yaitu  berisi 

air sebanyak 250 mL. 

16. Cangkir yaitu  wadah yang dipakai  berisi air sebanyak 200 

mL. 

 


1. Formularium ini merupakan daftar tanaman obat pilihan asli 

NEGARA KITA  yang sudah terbukti aman, berkhasiat dan bermutu.  

2. Herbal di dalam formularium ini dipakai  dalam pengobatan 

konvensional sebagai komplementer yaitu dipakai  bersamaan 

dengan obat konvensional, atau sebagai alternatif yaitu dipakai  

dalam keadaan obat konvensional tidak dapat diberikan. 

3. Sediaan herbal tidak boleh dipakai  dalam keadaan 

kegawatdaruratan dan keadaan yang potensial membahayakan 

jiwa. 

4. Produk yang dibuat berdasarkan formularium obat herbal asli 

NEGARA KITA  memakai  bahan baku sesuai standar Farmakope 

Herbal NEGARA KITA  atau buku standar resmi lainnya. 

5. Pelayanan obat herbal memakai  rekam medik khusus yang 

telah disediakan. 

6. Penggolongan derajat evidence based medicine (EBM) 

Penggolongan Obat herbal berdasarkan data uji klinik yang 

ditetapkan tingkat pembuktiannya (Level of Evidence Grade) oleh 

Natural Standard/Harvard Medical School yang memusatkan 

informasi berbasis evidence mengenai keamanan, bahaya, 

interaksi, dan dosis, di dalam formularium ini beberapa obat 

herbal dibagi menjadi 5 tingkat pembuktian  sebagai berikut:  

a.   Grade A : Bukti ilmiah kuat (Strong Scientific Evidence) 

Bukti manfaat yang bermakna secara statistik dari > 2 

RCT yang memenuhi syarat, atau bukti dari 1 RCT yang 

memenuhi syarat dan 1 meta-analisis yang memenuhi 

ketentuan, atau  pembuktian dari multiple RCT dengan 

mayoritas dari uji klinik yang dilakukan sesuai persyaratan, 

menunjukkan bukti manfaat yang bermakna secara statistik 

disertai bukti pendukung dalam ilmu dasar, penelitian 

binatang, atau teori. 

b.   Grade B  : Bukti ilmiah Baik (Good Scientific Evidence) 

Bukti manfaat yang bermakna secara statistik dari 1-2 

uji klinik yang dilakukan secara random (acak), atau bukti 

manfaat  dari > 1 meta-analisis yang memenuhi ketentuan 

atau bukti manfaat  dari > 1 kohort/case-control/ uji klinik 

yang tidak random disertai bukti pendukung dalam ilmu 

dasar, penelitian binatang, atau teori.  

Tingkat ini diterapkan pada keadaan dimana RCT 

dengan disain yang baik melaporkan hasil negatif tetapi 

kontras dengan hasil efikasi positif yang dihasilkan dari 

banyak uji klinik lain dengan disain yang kurang baik atau 

meta-analisis dengan disain yang baik, sementara menunggu 

bukti konfirmasi dari suatu RCT tambahan dengan disain 

yang baik. 

c.   Grade C  : Pembuktian yang tidak jelas atau bukti ilmiah 

yang diperdebatkan (Unclear or Conflicting Scientific Evidence) 

Bukti manfaat dari > 1 RCT yang kecil tanpa jumlah 

sampel, power, tingkat kemaknaan, atau kualitas disain yang 

adekuat atau bukti yang diperdebatkan dari banyak RCT 

tanpa mayoritas dari uji klinik yang memenuhi persyaratan, 

menunjukkan bukti manfaat atau ketidak efektifan, atau 

bukti manfaat dari > 1 kohort/case-control/uji klinik yang 

tidak random, dan tidak disertai bukti pendukung dalam ilmu 

dasar, penelitian binatang, atau teori, atau bukti efikasi 

hanya dari ilmu dasar, penelitian binatang, atau teori.  

d.   Grade D  : Pembuktian ilmiah Negatif (Fair Negative Scientific 

Evidence) 

Bukti manfaat tidak bermakna secara statistik (tidak 

terbukti bermanfaat) dari kohort/case-control/uji klinik yang 

tidak random, dan bukti dari ilmu dasar, penelitian binatang, 

atau teori, menunjukkan tidak ada manfaat. Tingkat ini juga 

diterapkan pada keadaan dimana > 1 RCT dengan disain yang 

baik melaporkan hasil negatif,walaupun ada hasil efikasi 

positif dilaporkan oleh uji klinik atau meta-analisis dengan 

disain yang kurang baik. (NB: bila ada > 1 RCT dengan disain 

yang baik dan sangat meyakinkan menunjukkan hasil 

negative, maka dimasukkan menjadi tingkat "F" walaupun 

ada hasil positif dari studi-studi lain dengan disain yang 

kurang baik). 

e.   Grade E : Pembuktian Ilmiah Sangat Negatif (Strong 

Negative Scientific Evidence) 

Bukti statistik tidak bermakna (tidak terbukti 

bermanfaat) dari > 1 RCT dengan kriteria objektif memiliki   

power  yang adekuat dan  disain  yang berkualitas tinggi 

(kriteria objektif sesuai validated instruments for evaluating 

study quality, termasuk skala 5 point yang dikembangkan 

oleh Jadad et al, dimana skor < 4 menunjukkan metode 

dengan kualitas yang kurang) 

f.   Tidak Ada Bukti (Lack of Evidence) 

Tidak dapat mengevaluasi efikasi sebab  tidak tersedia 

data manusia yang adekuat 

 

B. KRITERIA 

1. Herbal dalam formularium ini memiliki  data keamanan yang 

dibuktikan minimal dengan data toksisitas akut (LD50). 

2. memiliki  data manfaat minimal memiliki data praklinik.  

3. Mutu dinyatakan dengan pemenuhan produk terhadap Cara 

Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). 

4. Sediaan berbentuk formulasi modern. 

 

 


pemakaian  OBAT HERBAL ASLI NEGARA KITA  

 

Di bawah ini akan diuraikan tentang indikasi pemakaian  obat herbal 

asli NEGARA KITA  untuk berbagai masalah gangguan kesehatan maupun 

sebagai suportif pada kasus-kasus tertentu.   

 

A. HERBAL UNTUK DISLIPIDEMIA 

1. Alpukat 

2. Bawang putih   

3. Daun dewa 

4. Kunyit 

5. Mengkudu  

6. Rosela   

7. Temulawak   

 

B. HERBAL UNTUK DIABETES 

1. Brotowali 

2. Kayu manis 

3. Pare     

4. Salam  

 

C. HERBAL UNTUK HIPERTENSI 

1. Mengkudu  

2. Rosela  

3. Seledri  

 

D. HERBAL UNTUK HIPERURISEMIA 

1. Anting-anting  

2. Sidaguri  

   

E. HERBAL UNTUK ANALGETIK-ANTIPIRETIK 

1. Jambu mede 

2. Kencur 

3. Pule  

4. Sambiloto 

  

F. HERBAL UNTUK OBESITAS 

1. Jati belanda   

2. Kemuning 

     

G. HERBAL UNTUK ANOREKSIA 

1. Temulawak 

       

H. HERBAL UNTUK DIURETIK 

1. Alang-alang  

2. Kumis kucing 

3. Meniran 

4. Seledri  

 

I. HERBAL UNTUK NEFROLITIASIS 

1. Alang-alang  

2. Keji beling  

3. Meniran  

4. Sembung 

5. Tempuyung  

    

J. HERBAL UNTUK ANTIEMETIK 

1. Jahe  

   

K. HERBAL UNTUK PALIATIF DAN SUPORTIF KANKER 

1. Ceplukan 

2. Keladi tikus  

3. Kunyit putih 

4. Manggis 

5. Sambiloto  

6. Sirsak  

7. Temu Kunci 

  

L. HERBAL UNTUK SUPPORTIF PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH 

DARAH 

1. Bawang putih     

2. Kunyit 

3. Miana  

4. Pegagan   


 

M. HERBAL UNTUK GASTRITIS   

1. Jahe 

2. Kapulaga 

3. Kunyit  

4. Pegagan 

5. Temu lawak   

6. Temu mangga  

 

N. HERBAL UNTUK  ARTRITIS 

1. Cabe 

2. Jahe 

3. Kayu putih 

4. Sereh 

 

O. HERBAL UNTUK  KONSTIPASI  

1. Daun sendok   

2. Daun wungu 

3. Lidah buaya  

  

P. HERBAL UNTUK  BATUK   

1. Adas 

2. Timi 

 

Q. HERBAL  UNTUK GASTROENTERITIS 

1. Daun jambu biji   

2. Sambiloto 

  

R. HERBAL UNTUK  INSOMNIA  

1. Pala  

2. Valerian (Ki Saat)  

 

S. HERBAL UNTUK  pemakaian   PENYAKIT  KULIT (PANU, KADAS, 

KURAP) 

1. Ketepeng china 

2. Pegagan 

 

 

 

T. HERBAL UNTUK  HEPATOPROTEKTOR  

1. Kunyit   

2. Meniran   

3. Paliasa   

4. Temu lawak  

 

U. HERBAL UNTUK DISFUNGSI EREKSI  

1. Cabe jawa 

2. Pasak bumi 

3. Purwoceng   

4. Som jawa 

 

V. HERBAL UNTUK  ISPA 

1. Sambiloto 

 

W. HERBAL UNTUK  HEMOROID 

1. Daun wungu 

 

X. HERBAL UNTUK MENINGKATKAN AIR  SUSU IBU/ASI 

(LAKTOGOGUM) 

1. Daun katuk 

2. Torbangun 

3. Klabet 

 

 


  OBAT HERBAL ASLI NEGARA KITA  

 

A. HERBAL UNTUK DISLIPIDEMIA  

1. Alpukat   

Persea americana Mill., P. gratissima Gaertn. 

Suku : Lauraceae 

        

Gambar 1. Alpukat 

 

a. Nama Daerah 

   Avokat, apokat, alpuket 

b. Bagian yang dipakai  

Daun,  biji  

c. Deskripsi Tanaman/simplisia 

Pohon tinggi + 10 m, berkayu, bulat, bercabang berwarna 

coklat kotor. Daun tunggal bulat telur, berwarna hijau, 

bertangkai letak tersebar, ujung dan pangkal runcing, 

berbulu, panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm. Bunga majemuk, 

bentuk malai, tumbuh diujung ranting, mahkota berambut, 

putih kekuningan. Buah buni bulat telur, 5-20 cm, berbintik-

bintik atau gundul, daging buah bila sudah masak lunak, 

keping biji coklat kemerahan. Akar tunggang bulat berwarna 

coklat. 

d. Kandungan Kimia 

Daun mengandung minyak atsiri 0.5%, dengan methyl-

chavicol, d-d-pinene dan paraffin, isorhamnetin, luteolin, 

rutin, quercetin dan apigenin. Biji mengandung saponin, 

tannin, flavonoid dan alkaloid.  


 

e. Data Keamanan 

LD50 per oral ekstrak air biji Persea americana (alpukat): 

> 10 g/kg BB pada tikus. LD50 per oral serbuk biji P. 

americana: 1767 mg/kg BB pada mencit.  

f. Data Manfaat 

1) Uji Praklinik: 

Efek hipolipidemia P. americana dilakukan pada 

tikus hiperkolestrolemia dengan berbagai dosis ekstrak 

metanol-air biji  P. americana menurunkan kadar TC, 

TG, LDLC and VLDLC dan meningkatkan HDLC secara 

bermakna. Efek ini tergantung dosis dan perubahan 

diamati pada dosis ekstrak 300 mg/kg BB. Disimpulkan 

biji P. americana menunjukkan efek hipolipemia dan 

merupakan terapi alternatif untuk hiperlipemia dan 

hipertensi. Tigapuluh lima (35) tikus diinduksi 

hiperkolesterolemia dengan 30 mg/0,3 mL kolesterol per 

oral. Kelompok 1 yaitu  kontrol normal yang diberi 

akuades, kelompok 2, tikus tanpa hiperkolesterolemia 

yang diberi akuades. Kelompok 3-6 diberi kolesterol per 

oral dan ekstrak metanol  biji  P. americana dosis 50, 

100, 200 dan 300 mg/kg BB selama 10 hari. Hasil 

menunjukkan ada penurunan kadar TC, TG, VLDLC dan 

LDLC dan peningkatan HDLC secara bermakna (P < 0.05) 

pada kelompok berbagai dosis P. americana. 

Studi  eksperimental Pre dan Post Randomized 

Controlled Group Design dilakukan pada 32 tikus 

hiperlipidemia yang dibagi menjadi 4 kelompok. 

Kelompok kontrol, mendapat diet  standar, dan 3 

kelompok terapi, I mendapat diet jus P. americana 2 

mL/hari,  kelompok II,  3 mL/hari, dan terapi III,             

4 mL /hari selama 15 hari.  Didapat hasil bahwa ke -3 

dosis jus P. americana menurunkan serum kolesterol 

total secara bermakna dibanding kontrol (p=0.000). Dosis 

yang paling efektif yaitu  4 mL/hari. 

2) Uji klinik: 

Pada suatu studi, 2 kelompok perempuan dialokasi 

secara random untuk mendapat diet P. americana, yang 

lain diet tinggi karbohidrat kompleks. Setelah  3 minggu, 

diet P. americana menurunkan kadar kolesterol total 

8.2% dari baseline, sedang  penurunan pada 

karbohidrat kompleks yaitu 4.9% (tidak bermakna). 

Kadar LDL kolesterol dan  apolipoprotein B menurun 

hanya pada kelompok P. americana. 

Untuk menentukan efek diet high monounsaturated 

fatty acids (MFA) terhadap lipid serum, diteliti 30 

normolipidemia dan 37 pasien dengan 

hiperkolesterolemia ringan (5.4-9.3 mmol/L), di mana 15 

dari padanya hipertrigliseridemia (2.3-4.8 mmol/L).  

Sejumlah 15 normolipidemia dan 30 hiperkolesterolemia 

(15 dengan NIDDM) menerima diet P. americana (2000 

KKal, lipids 53%, MFA 49 g, saturated/unsaturated ratio 

0.54), dan 7 hiperkolesterolemia non-DM mendapat diet 

kontrol isokalori (MFA 34 g, saturated/unsaturated ratio 

0.7). Setelah 7 hari, pada normolipidemia, serum 

kolesterol total menurun 16% diikuti diet tinggi  MFA, 

dan meningkat pada kontrol (p < 0.001). Pada subjek 

hiperkolesterolemia yang mendapat P. americana, serum 

kolesterol total menurun 17%, LDL-kolesterol menurun 

22% dan trigliserida menurun 22%, serta peningkatan 

HDL-kolesterol 11% secara bermakna (p < 0.01). Diet 

tinggi  MFA- P. americana dapat memperbaiki profil lipid 

pada orang sehat dan pasien hiperkolesterolemia dan 

pasien yang juga disertai hipertrigliseridemia. 

g. Indikasi 

Hiperkolesterolemia (Grade B) 

h. Kontra Indikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Belum diketahui 

j. Efek Samping 

Alergi lateks, pisang, melon, dan pir mungkin sensitif 

silang dengan alpukat 

k. Interaksi 

Penurunan efek warfarin dilaporkan pada 2 pasien 

l. Posologi 

2 x 2 kapsul (250 mg ekstrak daun)/hari 


 

2. Bawang Putih 

Allium sativum  Linn. 

Suku : Liliaceae 

           

Gambar 2. Bawang Putih  

 

a. Nama daerah 

Bawang putih, bawang basihong, lasun, lasuna, 

palasuna, dasun, bawang handak, bawang pulak, ghabang 

pote, kesuna, lasuna mabida, lasuna mawuru, yantuna 

mopusi, pia moputi. 

b. Bagian yang dipakai  

Umbi lapis 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

  Bentuk berupa umbi lapis, warna putih atau putih 

keunguan, bau khas, rasa agak pahit. Umbi berlapis 

majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengah 4-6 cm, 

terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi 3-5 selaput tipis 

serupa kertas berwarna putih, tiap suing diselubungi 2 

selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan 

agak longgar. Bau khas aromatik tajam, rasa agak pedas 

lama kelamaan menimbulkan rasa agak tebal di bibir, warna 

kekuningan. 

  Merupakan tanaman perennial tinggi 25-70 cm, memiliki 

batang yang lurus kaku atau sedikit membengkok. Daun 

memiliki permukaan yang datar dan lebar dari 4-25 mm. 

d. Kandungan kimia  

Alliin (alkilsistein sulfoksida), allylalliin, profenil alliin, 

dan allisin (termasuk gama glutamil). Umbi yang telah kering 

dan kemudian dilembabkan kembali dengan ragi akan 


 

menghasilkan minyak yaitu oligosulfida, ajoens (dialkil-

trithiaalkana-monoksida) dan vinil dithiin fruktosa, saponin 

allisin, dan selenium. 

e. Data keamanan 

LD50 3034 mg/kg BB pada kelinci, per oral. Allii sativi 

bulbus (bawang putih) tidak mutagenik secara in vitro. Dapat 

memicu  ulkus pada gaster. 

f. Data manfaat 

1) Uji praklinik: 

Pada cell line binatang dan manusia, terlihat 

penurunan lemak jaringan vaskular, pembentukan fatty 

streak, dan ukuran plak aterosklerotik.  

2) Uji klinik: 

 Sebuah meta-analisis mereview 16 uji klinik 

random dengan control (14 paralel dan 2 cross-over) dari 

952 subjek tentang efek Bulbus Allii sativi terhadap lipid 

dan lipoprotein serum. Dosis serbuk A. sativum (bawang 

putih) 600–900 mg/hari, atau umbi segar 10 g atau 

minyak 18 mg, atau ekstrak (dosis tidak disebut). Median 

lama terapi 12 minggu. 

Subjek yang mendapat  A. sativum (serbuk/bukan 

serbuk) menunjukkan rerata penurunan kolesterol total 

12%, dan trigliserida serum 13% (hanya serbuk). Namun 

kualitas uji klinik kurang baik.  Minyak bawang putih 

0.25 mg/kg BB (15 g minyak setara 30 g umbi untuk BB 

61 kg) menurunkan kadar kolesterol 18% setelah 

pemakaian  8 bulan (dari rerata 298 ke 244 mg/dL). 

Pemberian umbi 10 g setelah makan pagi selama 2 bulan 

menurunkan kadar kolesterol 15% (pada pasien dengan 

kolesterol 160-250 mg/dL). Pada 50 pasien dengan 

rerata kadar kolesterol 213 mg/dL penurunan kadar  

kolesterol total 16%. Pada uji klinik lain, A. sativum 7.2  

g setiap hari selama 6 bulan pada 41 hiperkolesterolemia 

sedang (kolesterol darah 220-290 mg/dL) dibanding 

plasebo menunjukkan penurunan kolesterol total 6.1%, 

dan kadar LDL 4%. 

 Kajian sistematik terhadap potensi menurunkan 

lipid  terhadap  8 studi dari 500 subyek yang mendapat 

- 23 - 

 

serbuk A. sativum 600-900 mg menghasilkan penurunan 

serum kolesterol dan trigliserida sebesar 5-20%, dan 

disimpulkan bahwa serbuk bawang putih berpotensi 

menurunkan kadar lemak darah. 

 Mekanisme kerja: aktivitas antikolesterolemia dan 

antihiperlipidemia diduga sebab  kandungan diallil 

disulfida dan trisulfida yang menghambat hepatic-

hydroxy-methylglutaryl-CoA (HMG-CoA) reductase dan 

peningkatan ekskresi garam empedu ke dalam feses dan 

mobilisasi lemak jaringan  ke dalam sirkulasi.   

g. Indikasi  

  Hiperlipidemia (Grade B), aterosklerosis (Grade C) 

h. Kontraindikasi  

 Alergi terhadap bawang putih. 

i. Peringatan 

 Mengkonsumsi dalam jumlah yang besar akan 

meningkatkan resiko pendarahan pascaoperasi. Hati-hati 

pada kehamilan dan laktasi. 

j. Efek Samping 

 Gastritis. Makan umbi segar, ekstrak atau minyak dalam 

keadaan perut kosong dapat menimbulkan heartburn, 

nausea, vomitus dan diare. Nafas dan keringat bau bawang 

putih. Orang yang belum pernah memakai obat ini mengalami 

sedikit alergi. 

k. Interaksi 

Pasien dalam terapi warfarin harus diperingatkan bahwa 

mengkonsumsi Allii Sativi Bulbus akan meningkatkan waktu 

pendarahan. Waktu lamanya pendarahan telah dilaporkan 

meningkat 2x untuk pasien. Tidak boleh diberikan bersamaan 

dengan antikoagulan dan antitrombotik clopidogrel sebab  

dapat meningkatkan risiko perdarahan. 

l. Posologi 

1 x 1 kapsul lunak (500 mg ekstrak)/hari 

 

 

 

 

 

- 24 - 

 

3. Daun dewa    

Gynura procumbens (Lour.) Merr 

Suku : Compositae 

     

      

Gambar 3. Daun dewa 

 

a. Nama Daerah 

Beluntas cina, samsit, tigel kio 

b.   Bagian yang dipakai  

Daun 

c. Deskripsi Tanaman/simplisia 

Tumbuhan merambat atau menjalar, tinggi sampai 2 m. 

Helai daun berbentuk oval, bulat telur memanjang atau 

lanset panjang dengan pangkal menyempit panjang dan ujung 

meruncing. Tepi daun berlekuk tajam atau tumpul dan 

bergerigi kasar, kadang-kadang terpilin menyerupai kail. 

Permukaan berambut halus dengan panjang daun bervariasi 

dari 3,5-12,5 cm dan panjang tangkai daun 0,5-3,5 cm. 

Bunga berbentuk bonggol, yang bergantung 2-7 bonggol 

membentuk perbungaan malai rata atau malai cawan.  

Bunga berbau menusuk dengan mahkota berwarna 

jingga muda, kuning-jingga sering menjadi coklat kemerahan. 

Batang berkotak-kotak atau beralur, lunak, berbintik-bintik 

ungu dan berambut halus. 

d. Kandungan Kimia 

Daun mengandung 4 senyawa flavonoid (3’4’-

dihidroksiflavon; 4’hidroksiflavonol tersubstitusi pada posisi 

4’;3’,4’-dihiroksiflavonol tersubstitusi pada posisi 3; 3,7-

- 25 - 

 

dihidroksiflavon), tanin galat, saponin dan 

steroid/triterpenoid. Metabolit yang terdapat dalam ekstrak 

yang larut dalam etanol 95% antara lain asam klorogenat, 

asam kafeat,  asam vanilat, asam p-kumarat, asam p-hidroksi 

benzoat. Sterol (β-sitosterol dan stigmasterol), glikosida sterol 

(3-O-β-D-glukopiranosil β-sitosterol, 3-O-β-D-glukopiranosil 

stigmasterol), nonadekana, phytyl valearat,      adenosine 

kaempferol-3-O-neohesperidosida, metalheksadekanoat, metal 

9-oktadekenoat, 4-hidroksi-4-metil-2-pentanon, stigmasterol 

asetat, kuersetin, kaempferol-3-glukosida, kuersetin-3-O-

ramnosil (1-6) galaktosida, kuersetin-3-O-ramnosil (1,6) 

glukosida, 3,5-di-O-asam kafeoilkuinat, 4,5-di-O-asam 

kafeoilkuinat, 1,2-bisdodekanoil-3-α-O-D-glukopiranosil-Sn-

gliserol. 

e. Data Keamanan 

LD50 ekstrak oral pada mencit: 5,56 g/kg BB. Fraksi 

kloroform dari ekstrak etanol bersifat mutagenik. 

f. Data Manfaat 

Uji praklinik: 

Pengujian ekstrak etanol pada tikus normal dan tikus 

diabetes yang diinduksi streptozotocin, selama 7 hari dengan 

kontrol metformin dan glibenklamid, selain menurunkan 

kadar gula darah juga menghasilkan dosis efektif optimum 

untuk menurunkan kolesterol dan trigliserida yaitu  150 

mg/kg BB. Fraksi butanol dosis 30, 100, dan 300 mg/kg BB 

selama 21 hari pada mencit menurunkan total kolesterol dan 

trigliserida serta meningkatkan HDL. 

Penelitian ekstrak Gynura procumbens (daun dewa) 

terhadap enzim lipase yang dikultur dari Bacillus subtilis 

mendapatkan hasil bahwa konsentrasi ekstrak kasar daun 

dewa menghambat enzim lipase secara optimum pada 60 

mg/10 mL (aq) dengan aktivitas 1.25 µmol/mL/menit. 

g. Indikasi 

Dislipidemia, penurun kolesterol 

h. Kontra Indikasi 

Belum diketahui 

 

 

- 26 - 

 

i. Peringatan 

 Menghambat aktivitas angiotensin converting enzyme 

(ACE), menimbulkan hipotensi 

j. Efek Samping 

 Gangguan hati 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (600 mg ekstrak)/hari 

 

4. Kunyit 

Curcuma domestica Val. 

Sinonim  : C.longa Linn., Turmerik 

Suku        : Zingiberaceae   

 

Gambar 4. Kunyit 

 

a. Nama daerah 

Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, 

temu koneng, temu kuning, guraci. 

b. Bagian yang dipakai   

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak tinggi ±70 cm, batang semu, tegak, bulat, 

membentuk rimpang, berwarna hijau kekuningan. Daun 

tunggal membentuk lanset memanjang. Helai daun 3-8, ujung 

dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 

8-12 cm. Pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau  

pucat. Bunga majemuk berambut bersisik. Panjang tangkai 

16-40 cm. panjang  mahkota 3 cm, lebar 1 cm, berwarna 

kuning. Kelopak silindris, bercangap 3, tipis dan berwarna 

- 27 - 

 

ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar serabut berwarna 

coklat muda. Rimpang warna kuning jingga, kuning jingga 

kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan.  

d. Kandungan kimia  

Kurkuminoid yaitu campuran dari kurkumin 

(diferuloilmetan), monodeksmetoksikurkumin dan 

bisdesmetoksikurkumin. Struktur fenolnya memungkinkan 

untuk menghilangkan radikal bebas. Minyak atsiri 5,8% 

terdiri dari  a-felandren 1%, sabinen 0,6%, sineol 1%, borneol 

0,5%, zingiberen 25%, dan seskuiterpen 53%. Mono- dan 

seskuiterpen termasuk zingiberen, kurkumen, α- dan β-

turmeron.  

e. Data Keamanan  

 LD50 ekstrak etanol pada mencit per oral: > 15 g/kg BB. 

Monyet diberi 0,8 mg/kg BB kurkumin/hari dan tikus 1,8 

mg/kg BB/hari selama 90 hari tidak menunjukkan efek 

samping. In vitro tidak bersifat mutagenik. Per oral pada tikus 

dan mencit tidak teratogenik. FDA mengklasifikasikan sebagai 

GRAS (Generally Recognized as Safe). Tidak ada efek samping 

pada pasien artritis rematoid yang diberi 1200 mg/hari 

kurkumin selama 2 minggu. Tidak ada efek toksik setelah 

pemberian oral 2,2 g kunyit (setara 180 mg kurkumin)/hari 

selama 4 bulan. 

f. Data manfaat 

1) Uji praklinik: 

Pemberian ekstrak Curcuma longa (kunyit) 200 

mg/kg BB pada tikus menunjukkan aktivitas 

antihiperkolesterolemia, menurunkan LDL tanpa 

mempengaruhi HDL. Ekstrak etanol rimpang kering 

dosis 30 mg/kg BB diberikan intragastrik pada tikus 

setiap 6 jam selama 48 jam, memperlihatkan aktivitas 

antihiperkolesterolemia. 

Kelinci yang dibuat aterosklerosis yang diberi diet 

tinggi kolesterol dan ekstrak C. longa menunjukkan efek 

antioksidan yang positif dibanding kelompok kontrol. 

Kurkumin memobilisasi α-tokoferol dari jaringan lemak, 

sehingga melindungi dari kerusakan oksidatif yang 

diproduksi selama pembentukan aterosklerosis. 

-

 

Kurkumin meningkatkan transpor kolesterol LDL & 

VLDL dalam plasma, sehingga meningkatkan kadar α-

tokoferol.  

Mekanisme kerja : 

kandungan kurkumin meningkatkan aktivitas kolesterol-

7α-hidroksilase dan meningkatkan katabolisme 

kolesterol. Pada jaringan dan mikrosom hati tikus, 

kandungan demethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin, 

dan acetylcurcumin menghambat lipid peroksidase. 

2) Uji klinik: 

Uji acak terkontrol terhadap subyek DM tipe-2 

menunjukkan pemberian kapsul yang mengandung 

kombinasi ekstrak C. longa (200 mg/kapsul) dan bawang 

putih (200 mg/kapsul) dengan dosis 2,4 g per hari 

selama 12 minggu menunjukkan perbaikan profil lipid 

(penurunan kolesterol total, LDL, trigliserid), penurunan 

glukosa darah puasa dan penurunan kadar HbA1C. 

Sebanyak 10 sukarelawan sehat yang diberi 500 mg 

curcumin selama 7 hari menghasilkan penurunan 

bermakna kadar lipid peroksida serum (33%) dan 

peningkatan HDL kolesterol (29%) serta penurunan 

kadar serum kolesterol total (12%).  

g. Indikasi 

  Dislipidemia, hiperkolesterolemia (Grade C) 

h. Kontraindikasi  

Obstruksi saluran empedu, kolesistitis. Hipersensitivitas 

terhadap komponen kunyit, gagal ginjal akut, anak < 12 

tahun. 

i. Peringatan 

Hati-hati pada pasien dengan batu empedu, sebaiknya 

konsul ke dokter ahli penyakit dalam. Hati-hati pemakaian  

pada kehamilan dan masa menyusui sebab  belum ada data 

keamanannya.  

j. Efek Samping  

    Mual  

k. Interaksi 

Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, 

antiplatelet, trombolitik, sehingga meningkatkan risiko 

 

perdarahan. Interaksi kurkumin dengan herbal yang lain: 

orang sehat diberi 2 g kurkumin dikombinasi dengan 20 mg 

piperin, bioavailabilitas kurkumin meningkat 20 kali. 

l. Posologi 

 2 x 1 tablet (200 mg ekstrak)/hari ac.  

 

5. Mengkudu   

    Morinda citrifolia  Linn.  

 Suku : Rubiaceae 

 

       

 Gambar 5. Mengkudu 

 

a. Nama daerah 

 Pace, kemudu, cengkudu, kodhuk, wengkudu, noni 

b. Bagian yang dipakai  

Buah 

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

 Pohon tinggi 4-8 m, batang berkayu bulat, kulit kasar, 

penampang batang muda segi empat, coklat kekuningan. 

Daun tunggal bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi 

rata, panjang 10-40 cm, lebar 5-17 cm, tangkai pendek 

berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk bonggol, 

bertangkai di ketiak daun. Buah bonggol, permukaan tidak 

teratur, berdaging panjang 5-10 cm, hijau kekuningan. Biji 

keras, segitiga, coklat kemerahan. Simplisia berupa irisan 

buah, warna cokelat, bau khas, rasa sedikit pahit, dengan 

ketebalan ± 1 cm, diameter 3-5 cm, dengan tonjolan-tonjolan 

biji. 

 

 

 


 

d. Kandungan kimia  

 Alkaloid seronin, plant steroid, alisarin, lisin, sodium, 

asam kaprilat, arginin, prokseronin, antrakuinin, trace 

elements, fenilalanin, magnesium,        terpenoid, dll.  

e. Data keamanan  

 LD50 ekstrak air etanol buah, daun, akar pada mencit: > 

10 g/kg BB. LD50 ekstrak etanol daun per oral pada tikus: > 

2000 mg/kg BB. 

 NOEL (no observe effect level): tidak teramati ES sampai 

dosis 6.86 g/kg BB (sebanding dengan 90 mL/kgBB jus buah) 

pada tikus. Pemberian jus buah pada 96 sukarelawan sehat 

sampai dosis 750 mL/orang/hari selama 28 hari dinyatakan 

aman terhadap parameter biokimia darah, urin dan tanda-

tanda vital. 

f. Data manfaat   

1)  Uji praklinik: 

Pemberian ekstrak etanol 50% campuran buah dan 

daun dapat menurunkan kadar gula darah binatang 

percobaan. Ekstrak buah, daun dan akar ketiganya 

menimbulkan penurunan kadar kolesterol total dan 

trigliserida. Pada tikus dislipidemia yang diinduksi diet 

tinggi lemak, ekstrak buah, daun dan akar ketiganya 

memicu  penurunan kadar kolesterol total, 

trigliserida, LDL kolesterol, indeks aterogenik, dan ratio 

kolesterol total/HDL, secara bermakna. Ekstrak akar 

menimbulkan peningkatan HDL. Mekanismse 

antidislipidemi Morinda citrifolia melalui beberapa cara 

antara lain inhibisi biosintesis, absorpsi dan sekresi 

lipid. Diduga sebab  adanya multiple antioxidant yang 

poten dalam mengkudu. 

2) Uji klinik:  

 Sejumlah 38 perokok mendapat 2 kali 2 ons jus M. 

citrifolia (mengkudu)/hari selama 30 hari dibanding 

plasebo, hasil menunjukkan jus M. citrifolia menurunkan 

kadar kolesterol total 7-22%, LDL 6-10%, trigliserida 10-

54%, homosistein 21%, dan meningkatkan HDL 

kolesterol 10-16%, sedang  pada plasebo tidak ada 

perubahan. Hasil penelitian lainnya dari Badan POM 

-

 

menyimpulkan bahwa M. citrifolia dapat menurunkan 

kadar trigliserida.  

g. Indikasi  

 Dislipidemia 

h. Kontraindikasi    

 Kehamilan, laktasi, anak, hiperkalemia, alergi. 

i. Peringatan 

Hati-hati terhadap penderita gastritis sebab  mengkudu 

bersifat asam. Dengan obat antidiabetes dapat terjadi 

hipoglikemia dan hipotensi, sebab  dapat menurunkan kadar 

glukosa dan kalium darah. Warna urin dapat menjadi merah 

muda sampai merah kecoklatan. 

j. Efek Samping  

Sedasi, mual, muntah, alergi 

k. Interaksi  

Dapat berinteraksi dengan obat ACE inhibitor, antagonis 

reseptor angiotensin II, diuretik hemat kalium. Dapat 

mengurangi efek obat imunosupresan. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (600 mg ekstrak)/hari selama 30 hari  

 

6. Rosela  

Hibiscus sabdarifa Linn. 

Suku : Malvaceae 

     

        Gambar 6. Rosela 

 

a. Nama daerah 

Gamet walanda, kasturi roriha, merambos ijo, kesew 

jawe, asam rejang, asam jarot 

-

 

b. Bagian yang dipakai   

      Kelopak bunga 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tumbuhan berupa semak, tumbuh tegak tinggi dapat 

mencapai 3 m. Batang berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak 

bercabang-cabang berwarna merah. Daun bentuk bulat telur 

dengan ujung tumpul dan tepi daun bergerigi. Tangkai bunga 

keluar dari ketiak daun. Bunga tunggal, kelopak bunga 

bentuk lanset, berdaging tebal, berwarna merah tua. 

d. Kandungan kimia  

Kelopak bunga mengandung senyawa antosianin, 

vitamin C, dan B. Kandungan lainnya yaitu  kalsium, beta 

karoten serta asam amino esensial. Rosela memiliki banyak 

unsur kimia yang menunjukkan ektivitas farmakologis.  

Sebanyak 15-20% merupakan asam-asam tumbuhan yang 

meliputi asam sitrat, asam malat, asam tartar dan asam (+)-

allo-hidroksisitrat. 

e. Data keamanan  

LD50: di atas 5000 mg/kg BB per oral pada tikus. Pada 

dosis 15 mg/kg BB terlihat ada perubahan kadar albumin, 

namun pada gambaran histologi tak ada perubahan. Pada 

pria sehat, dapat menurunkan kadar kreatinin, asam urat, 

sitrat, tartrat, kalsium, natrium, kalium, dan fosfat pada urin. 

f. Data manfaat  

1) Uji Praklinik: 

Pemberian ekstrak kering kelopak bunga Hibiscus 

sabdarifa (rosela) 500 dan 100 mg/kg BB pada tikus 

dengan diet kolesterol tinggi selama 6 minggu dapat 

menurunkan kadar kolesterol 22 dan 26%, sedang  

trigliserida turun sebesar 33 dan 28%. Sementara kadar 

high-density lipoprotein  (HDL) tidak terjadi perubahan 

nyata.  

2) Uji klinik: 

 Esktrak kering kelopak bunga H.sabdarifa 100 

mg/hari selama 1 bulan dapat menurunkan secara nyata 

kadar kolesterol total dan trigliserida, meningkatkan 

kadar HDL. Sediaan kapsul diberikan peroral pada 42 

sukarelawan dengan umur 18-75 tahun dengan kadar 

-

 

kolesterol 175-327 mg/dL selama 4 minggu. 

Sukarelawan dibagi 3 kelompok masing-masing 

memperoleh 1, 2 dan 3 kapsul. 

Pada minggu ke-2 terjadi penurunan kadar 

kolesterol pada ketiga kelompok sekitar 7,08-8,2 % 

dibandingkan dengan baseline, sedang  pada minggu   

ke-4 penurunan terjadi sekitar 8,3-14,4%. Penurunan 

nyata terlihat pada kelompok 2 yaitu 12% pada 71% 

sukarelawan.   

g. Indikasi  

  Dislipidemia  

h. Kontraindikasi 

Anak. Rosela seharusnya dihindari oleh pasien yang 

memiliki  riwayat alergi atau hipersensitif terhadap rosela 

atau kandungannya. 

i. Peringatan  

Gastritis erosif berdasarkan laporan kasus, sebab  

bersifat sangat asam. Pemberian pada dosis tinggi harus hati-

hati.   

j. Efek Samping 

Walaupun rosela sering dipakai  sebagai teh, data 

keamanan yang dilaporkan masih terbatas.  

k. Interaksi 

Menurunkan kadar klorokuinolon sehingga tidak 

berefek. Asetaminofen ditambah dengan pemberian rosela 

dapat mengubah waktu paruh obat asetaminofen pada 

sukarelawan. Rosela memiliki aktivitas estrogen meskipun 

belum ada perubahan klinis yang jelas. Interaksi dapat terjadi 

dengan senyawa estrogen lain. 

l. Posologi 

 2 x 1 tea bag (6 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir air. 

 1 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari. 

 

 

 

7. Temulawak  

Curcuma xanthorrhiza  Roxb. 

Suku : Zingiberaceae 

                

Gambar 7. Temu lawak 

 

a. Nama daerah 

Temulawak, koneng gede, temu labak  

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 

2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang 

sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, 

bagian dalam berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap 

individu tanaman memiliki  2-9 daun, berbentuk lonjong 

sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang 

sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang 

tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan 

berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas 

rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, 

daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus, 

berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir 

lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung 

banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan 

mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) 

sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih 

dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian 

bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm, 

lebar 1,5-3,5 cm. 

 

 

d. Kandungan kimia 

Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) 

terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri 

(3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-

kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-

turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30-40 %) (periksa 

kandungan kimia, sebab  ini mungkin tertukar dengan 

kunyit) 

e. Data keamanan  

 LD50 ekstrak etanol per oral pada mencit: > 5 g/kg BB. 

LD50 kurkumin per oral pada tikus dan guinea pig: > 5 g/kg 

BB. Uji klinik fase I dengan 28 orang sehat dengan dosis 

sampai 8000 mg/hari selama 3 bulan tidak menunjukkan 

efek toksik. Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 

1125-2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya 

toksisitas. 

f. Data manfaat   

Uji praklinik: 

Penelitian efek C. xanthorrhiza terhadap lipid serum dan 

hepar, HDL-kolesterol dan apolipoprotein (apo) A-I, dan enzim 

lipogenik hati pada tikus dilakukan dengan  memberikan diet 

bebas kolesterol. C. xanthorrhiza menurunkan kadar 

trigliserida serum,  fosfolipid, kolesterol hati, dan 

meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan apo A-I serum, dan 

menurunkan aktivitas fatty acid synthase hati. Pada tikus 

yang diberi diet tinggi-kolesterol, C. xanthorrhiza tidak 

menekan peningkatan kolesterol serum, walaupun 

menurunkan kolesterol hati. Kurkuminoid dari C. 

xanthorrhiza tidak memiliki  efek bermakna pada lipid 

serum hati. 

Efikasi C. xanthorrhiza dalam menurunkan lipid darah 

dievaluasi pada  40 kelinci yang dibagi menjadi 4 kelompok 

dan mendapat diet isoaterogenik tanpa curcuma, rendah 

curcuma (2 g/kg BB), medium curcuma (3 g/ kg BB) dan 

tinggi curcuma (4 g/kg BB) selama 120 hari. C. xanthorrhiza 

tidak mempengaruhi makan, konsumsi protein dan lemak 

dan ekskresi protein (P > 0,05), tetapi secara bermakna (P < 

0,05) meningkatkan ekskresi lemak. Kadar kolesterol 


 

menurun 46,6 ; 56,4 dan 63,2% dan kadar  HDL meningkat 

9,9; 14,5 dan 21,9% pada pemberian 2, 3 and 4 g/kg BB 

curcuma. C. xanthorrhiza menurunkan secara bermakna (P < 

0.05) kadar LDL dan (P < 0.01) kadar  trigliserida 20,4 ; 28,5 

dan 29,5% pada pemberian 2, 3 dan  4 g/kg BB curcuma.  

Inhibitor reduktase HMG-CoA meningkat secara bermakna (P 

< 0.05) dengan curcuma. Peroksidasi lipid dicegah pada 

pemberian 3 dan 4 g/kg BB curcuma. Peningkatan ekskresi 

lemak dimediasi melalui akselerasi metabolisme lipid dari 

jaringan ekstrahepatik ke hepar, sehingga meningkatkan 

ekskresi kolesterol melalui empedu ke dalam feses. C. 

xanthorrhiza potential sebagai fitoterapi untuk aterosklerosis 

dan gangguan kardiovaskuler. 

g. Indikasi 

 Dislipidemia, penurun kolesterol 

h. Kontraindikasi 

 Obstruksi saluran empedu 

i.  Peringatan 

 Hati-hati pada penderita gastritis dan  nefrolithiasis.  

j.  Efek Samping  

 Hingga saat ini belum ditemukan efek samping yang 

berarti. Tidak dapat dipakai  pada penderita radang 

saluran empedu akut  

k. Interaksi    

 Hati-hati memakai  temulawak bersama dengan 

antikoagulan 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari 

 

 

 

B. HERBAL UNTUK DIABETES 

1. Brotowali   

Tinospora rhumpii Boerl  

Suku  : Menispermaceae 

     

Gambar 8. Brotowali 

 

a. Nama daerah 

Antawali, tampa lorong, tambara ula, akar ali-ali. 

b. Bagian yang dipakai   

Batang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Brotowali merupakan tumbuhan merambat atau 

memanjat, tinggi batang dapat mencapai 2,5 meter, yang 

memiliki batang berwarna hijau penuh degan benjolan yang 

rapat, pegangannnya mudah terkelupas 

d. Kandungan kimia  

Alkaloid berberin dan columbin, glikosida pikroretosida, 

zat pahit pikroretin, dammar lunak dan palmitin.  

e. Data keamanan 

LD50 ekstrak metanol batang brotowali: 10,11 g/kg BB 

mencit per oral. Ekstrak etanol oral pada tikus dosis 4,0 g/kg 

BB (setara serbuk 28,95 g/kg BB), tidak menunjukkan efek 

toksik. 

f. Data manfaat 

1) Uji Praklinik:   

Infusa batang brotowali 5; 7,5 dan 10% b/v dengan 

pemberian parenteral dapat menurunkan kadar glukosa 

darah kelinci, dibandingkan dengan glibenklamid. 

Mekanisme insulinotropik Tinospora crispa diteliti in vitro 

memakai  insulin secreting clonal ß-cell line, HIT-T15.  

-

 

2) Uji klinik: 

Studi RCT, disain bersilang untuk menentukan efek 

hipoglikemia serbuk Tinospora crispa dilakukan pada 36 

pasien sindrom metabolik  yang memenuhi kriteria NCEP 

III, dirandom untuk mendapat kapsul serbuk 2 x  250 

mg atau plasebo selama 2 bulan. 

Pada pasien Tinospora crispa kadar gula darah 

menurun secara bermakna dibanding baseline (4,03 ± 

11,35 mg/dL, p=0,027, median=4,00 mg/dL, juga gula 

darah puasa (6,29 ± 10,47 mg/dl, p=0,007, median=8,00 

mg/dl, n=24). Peningkatan kadar aspartate 

aminotransferase dan alanine aminotransferase terdapat 

pada 16,7% sampel.  

g. Indikasi 

Diabetes Melitus 

h. Kontraindikasi  

Kehamilan dan laktasi  

i. Peringatan     

Gangguan fungsi hati 

j. Efek Samping   

Belum diketahui 

k. Interaksi   

Dengan obat yang berisiko meningkatkan enzim hati 

l.    Posologi  

2 x 1 kapsul (250 mg ekstrak)/hari.  

 

2. Kayu Manis 

Cinnamomum burmanii Nees &Th. Nees (C. Zeylanicum ) 

Suku: Lauraceae 

         

Gambar  9. Kayu manis 

-

 

a. Nama daerah: 

 Holim, holim manis, modang siak–siak, kanigar, madang 

kulit manih, huru mentek, kiamis, kanyengar, kesingar, 

kecingar, cingar. 

b. Bagian yang dipakai :  

kulit batang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia: 

 Pohon tahunan tinggi 10-15 m, berkayu, tegak, 

bercabang, berwarna hijau kecoklatan. Daun tunggal, lanset, 

ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 4-14 cm, lebar 

1-6 cm. Warna pucuknya kemerahan, sedang  daun 

tuanya hijau tua. Bunga berkelamin dua, warna kuning, 

ukurannya kecil.    

 Buah buni, berbiji satu dan berdaging, bentuk bulat 

memanjang, buah muda berwarna hijau tua dan buah tua 

berwarna ungu tua. 

d. Kandungan kimia:  

 Kulit kayu manis mengandung minyak atsiri sampai 4% 

dengan kandungan utama cinnamaldehyde. Komponen lain 

cinnamil acetat, eugenol, -caryofilen, linalool dan cineol, 

prosianidin, musilago polisakarida, asam sinamat dan asam 

fenolat.  

e. Data keamanan:  

 LD50 minyak kayu manis 4,16 g/kg BB. Uji toksisitas 

subkronik dengan konsentrasi 1% pada pakan tikus 

memicu  sedikit pembesaran sel hati. Pada dosis 0,25% 

tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan. US FDA 

menggolongkan GRAS (Generally Recognized as Safe) dengan 

status sebagai bahan tambahan pangan. Tidak menimbulkan 

efek mutagenik. Ekstrak metanol kulit kayu manis tidak 

menimbulkan efek teratogenik pada tikus.  

f. Data manfaat :  

1) Pra klinik: 

Ekstrak kulit kayu manis dapat menurunkan kadar 

glukosa pada uji toleransi glukosa. Efek hipoglikemik 

diduga melalui peningkatan sekresi insulin. Senyawa 

sinamitanin B1 yang diisolasi dari kulit kayu manis 

memperlihatkan efek antihiperglikemik pada sel 3T3-L1. 

-

 

Kombinasi sinamitanin B1 dan insulin dapat 

meningkatkan ambilan glukosa. Ektrak metanol daun 

kayu manis pada dosis 100, 150 dan 200 mg/kg BB 

secara nyata dapat menurunkan kadar gula darah pada 

tikus yang diinduksi dengan aloksan. 

Efek antidiabetik ekstrak Cinnamomi pada model 

hewan dengan DM tipe II (C57BIKsj db/db). pada dosis 

(50, 100, 150 dan 200 mg/kg BB) selama 6 minggu dapat 

menurunkan kadar glukosa darah secara bermakna 

(P<0.001) dengan hasil paling besar pada dosis 200 

mg/kg BB. Kadar insulin serum dan HDL-kolesterol 

meningkat secara bermakna (P<0.01) dan kadar 

trigliserida, kolesterol total dan aktivitas alpha-

glycosidase intestinal menurun secara bermakna setelah 

6 minggu. Hasil ini menandakan bahwa ekstrak 

cinnamon berperan mengatur kadar glukosa darah dan 

lipid. Efek penekanan kadar glukosa darah diperkirakan 

dengan cara memperbaiki sensitivitas insulin atau 

memperlambat absorpsi karbohidrat dalam usus kecil. 

2) Uji klinik: 

 Studi untuk meneliti efek Ekstrak Cinnamomum 

(CE) pada ekspresi gen pada kultur adiposity mencit. CE 

larut dalam air dihasilkan dari Cinnamomum burmannii. 

Quantitative real-time PCR dipakai  untuk meneliti 

efek CE terhadap  ekspresi gen untuk adipokine, glucose 

transporter (GLUT), dan komponen insulin-signaling 

pada adiposit mencit  3T3-L1. CE (100 [micro]g/ml) 

meningkatkan kadar  GLUT1 mRNA 1.91  [+ / -]0.15, 

4.39 [+ / -] 0.78, dan 6.98 [+ / -] 2.18 kali lipat dari 

kontrol setelah terapi 2-, 4-, dan 16-jam. CE 

menurunkan ekspresi protein gen insulin-signaling 

pathway termasuk GSK3B, IGF1R, IGF2R, and PIK3R1. 

Studi menunjukkan bahwa CE mengatur  ekspresi 

multiple gen dalam adiposit. Uji klinik pada 60 pasien 

DM yang mendapat plasebo atau kayu manis dosis   (1 g, 

3 g atau 6 g)/hari selama 40 hari menurunkan kadar 

glukosa puasa 18 – 29%. Pada kelompok kayu manis 1 g, 

gula darah puasa turun  2,9 mmol/L; pada kelompok 3 


 

g/hari menurun 2,0 mmol/L; dan pada kelompok 6 

g/hari menurun  3,8 mmol/L. 

g. Indikasi:  

 Diabetes Melitus (Grade C) 

h. Kontraindikasi: 

Demam yang tidak jelas kausanya, kehamilan, ulkus 

gaster atau duodenum, alergi terhadap kayu manis dan 

cinnamaldehyde. 

i. Peringatan:  

Hati-hati pada pasien dengan kerusakan hati (sebab  

kandungan coumarin), gangguan jantung. 

j. Efek samping:   

Dapat mencegah pembekuan darah sebab  itu hati-hati 

bila dikombinasi dengan obat pengencer darah. Alergi 

(dermatitis, stomatitis, gingivitis, glositis, perioral dermatitis, 

cheilitis). 

k. Interaksi:  

Dapat menurunkan jumlah trombosit setelah 

pemakaian  lama. Secara teoritis dengan obat antikoagulan 

dan antiplatelet meningkatkan risiko perdarahan tetapi tidak 

ada laporan klinis. Efek aditif dengan obat hipoglikemik. 

Sinergi dengan obat antiaritmia, herba ginko biloba, cengkeh, 

artemisia, ephedra. 

l. Posologi: 

2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari   

 

3. Pare  

        Momordica charantia L 

       Suku : Cucurbitaceae 

 

Gambar 10. Pare 

- 42 - 

 

a. Nama daerah 

Paria, pare, pare pahit, pepareh, prieu, peria, foria, 

pepare, kambeh, paria. Paya, paria, truwuk, paita, paliak, 

pariak, pania, pepule, poya, pudu, pentu, paria belenggede, 

palia, papariane, pariane, papari, kakariano, taparipong, 

papariano, popare, pepare. 

b. Bagian yang dipakai  

Buah 

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

Semak menjalar, dengan buah tipe peppo, memanjang, 

berjerawat tidak beraturan, oranye, pecah sama sekali dengan 

3 katup, 5-7 cm (liar) hingga 30 cm (ditanam). Daun pare 

berbentuk membulat, bergerigi dengan pangkal bentuk 

jantung, garis tengah 4-7 cm, tepi berbagi 5-9 lobus, 

berbintik-bintik tembus cahaya, taju bergigi kasar hingga 

berlekuk menyirip, memiliki sulur daun dan berwarna agak 

kekuningan dan terasa pahit. Bunga jantan dan bunga betina 

tumbuh pada ketiak daun. Daun dari pare yang tumbuh liar, 

dinamakan daun tundung. Daun ini dikatakan lebih 

berkhasiat bila dipakai  untuk pengobatan.  

d. Kandungan kimia 

Buah pare mengandung steroid, karantin, momordikosid, 

asil glikosil sterol, asam amino dan asam fenolat. Senyawa 

triterpen yang telah dilaporkan antara lain momordikosid (A-

L), goya glikosida (A-H), momordisin, momordisinin, 

kukurbitan I-III, dan goya saponoin I-III. Bijinya mengandung 

lektin, terpenoid, momordikosid (A- E), visin, asam amino dan 

asam lemak, serta polipeptida-p (protein mirip insulin). 

Senyawa yang telah diisolasi dari herba yaitu  saponin, 

sterol, glikosida steroid, alkaloid, asam amino dan protein. 

Selain itu telah diisolasi triterpenoid lainnya, yaitu 

momordikosida dan goya glikosida. Komponen ekstrak pare 

dengan elektroforesis dan analisis spektrum infra merah, 

mirip dengan struktur insulin binatang. 

e. Data keamanan 

LD50 jus buah: 91,9 mg/100 g BB dan LD50  ekstrak 

alkohol per oral :  362 mg/ 100 g BB pada tikus. 

Momorcharins, diisolasi dari biji menginduksi aborsi pada 

- 43 - 

 

kehamilan muda dan midterm pada mencit dan teratogenik 

pada kultur embrio tikus pada tahap awal organogenesis. 

f. Data manfaat   

Uji klinik:  

Uji pada sukarelawan pria normal 20-30 tahun dibagi 

menjadi 3 kelompok masing-masing diberi ekstrak pare setara 

dengan 0,9; 1,8 dan 2,25 kg. Pemberian dosis setara dengan 

1,8 kg buah menurunkan kadar glukosa darah secara 

bermakna.Ekstrak air buah pare (50 mg) pada diabetes tipe 2 

dapat menurunkan glukosa darah. Pemberian bubur buah 

pare pada 100 penderita diabetes tipe-2 memberikan efek 

hipoglikemik pada 86 kasus (86%) dan 5 kasus (5%) 

menunjukkan pengurangan glukosa darah puasa saja. 

Studi  kasus (n = 8) perbaikan toleransi glukosa dan 

kadar glukosa darah puasa diamati pada pasien (38–50 

tahun) diabetes tipe-2 yang diberi serbuk buah kering 2 x 50 

mg/kg BB/hari selama 1 minggu. Ekskresi glukosa urin 

menurun pada hari ke-3 dan hilang sama sekali setelah 7 

hari. Rerata kadar glukosa darah pasca terapi menurun 

dibanding nilai pra-terapi yaitu 248 mg/dL menjadi 155 

mg/dL (p < 0.001) perbedaan lebih besar setelah pemberian 

glukosa 60 g. Tidak ditemukan efek samping. 

Studi lain pada 10 pasien diabetes tipe-2 yang diberi 

serbuk buah 2,0 g/hari selama 11 hari, memperlihatkan 

penurunan kadar glukosa dan kolesterol total 10,02%. 

Penurunan kadar glukosa selama GTT sangat bermakna,  

10,64–15,15% (p < 0,001). 

Mekanisme kerja dengan menurunkan glukoneogenesis 

di hati, meningkatkan sintesis glikogen hati, dan 

meningkatkan oksidasi glukosa perifer di eritrosit dan 

adiposit. Ada data terbatas bahwa buah pare meningkatkan 

sekresi insulin di pankreas. Penurunan kadar glukosa 

dimulai setelah 30 menit, mencapai maksimum 4 jam dan 

berakhir dalam 12 jam.  

g. Indikasi  

Diabetes melitus (Grade C) 

h. Kontraindikasi  

       Kehamilan, menyusui dan anak 

- 44 - 

 

i. Peringatan 

Semua bagian tanaman pare dapat menurunkan 

fertilitas baik pria maupun wanita (khususnya buah dan biji). 

j. Efek Samping 

Koma hipoglikemi dan konvulsi pada anak, peningkatan 

kadar glutamil transferase dan fosfatase alkali, sakit kepala.  

k. Interaksi 

Pare dapat meningkatkan aktivitas insulin/obat 

antidiabetes lainnya dan obat penurun kadar kolesterol. 

l. Posologi 

2 x 2 kapsul (500 mg ekstrak)/hari 

 

4. Salam   

Syzygium polyanthum  Weight 

Suku : Myrtaceae  

               

Gambar 11. Salam 

 

a. Nama daerah 

Meselangan, ubar serai, salam, kastolan 

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Pohon, bertajuk rimbun, tinggi sampai 25 meter. Daun 

tunggal, bila diremas berbau harum, bertangkai pendek, 

panjang tangkai daun 5-10 mm. helai daun berbentuk jorong 

memanjang. Panjang 7-15 cm, lebar 5-10 cm. Ujung dan 

pangkal daun meruncing, tepi rata. Permukaan atas berwarna 

cokelat tua. Tulang daun menyirip dan menonjol pada 

permukaan bawah. Tulang cabang halus. Perbungaan berupa 

malai, keluar dari ranting, berbau harum. 

- 45 - 

 

d. Kandungan kimia  

Minyak atsiri, tanin, flavonoid 

e. Data keamanan 

LD50 pada mencit per oral: 5g/kg BB. Uji toksisitas 

subkronik dosis 2 g/kg BB tidak menunjukkan gangguan, 

namun pada dosis 3 g/kg BB menunjukkan peningkatan 

kadar ureum dan kreatinin plasma serta peningkatan enzim 

hati.  

f. Data manfaat 

1) Uji praklinik :  

Ekstrak air daun salam tidak larut etanol dengan 

dosis 700 mg/kg BB terhadap mencit menunjukkan efek 

menurunkan konsentrasi glukosa darah mencit normal, 

menurunkan konsentrasi glukosa darah pada mencit 

diabetes diinduksi aloksan, dan mempercepat toleransi 

glukosa pada mencit diabetes diinduksi aloksan. 

Uji aktivitas hipoglikemik ekstrak etanol daun salam 

30% dan 70% pada kelinci jantan yang dibebani dengan 

glukosa menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05). 

Kandungan yang teridentifikasi yaitu  golongan 

flavonoid. Tidak terlihat tanda stimulasi terhadap saraf 

parasimpatik setelah perlakuan.  

Ekstrak daun salam secara oral pada tikus berefek 

hipoglikemik. Metabolit yang berada di urin, feses, dan 

darah menunjukkan bahwa ekstrak pada feses yaitu  

0%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar 

ekstrak diserap oleh tubuh. Pada sampel darah maupun 

urin metabolit utama ekstrak tidak terdeteksi 

disebabkan sebab  ekstrak mengalami proses 

metabolisme dalam tubuh. 

2) Uji klinik : 

65 individu DM tipe II terdiri atas 30 perempuan 

dan 35 laki-laki dengan usia 35 tahun keatas (rerata 

usia 48 tahun) dibagi dalam dua kelompok,  yaitu 

perlakuan (50 orang) dan kontrol (15 orang). 

Ekstrak daun salam diberikan 4 kali sehari 2 kapsul 

atau 2 g/hari) Terjadi penurunan rerata gula darah 

puasa dari 192,2/dL menjadi 140,3/dL (p<0.05) pada 

- 46 - 

 

kelompok perlakuan  sedang  pada kontrol tidak ada 

perubahan bermakna. 

g. Indikasi 

Diabetes Melitus 

h. Kontraindikasi   

Belum diketahui 

i. Peringatan  

      Tidak dianjurkan pada kelainan hepar dan ginjal 

j. Efek Samping 

Belum diketahui 

k. Interaksi 

Belum diketahui  

l.  Posologi  

2 x 1 sachet (5 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas  

 

C. HERBAL UNTUK HIPERTENSI 

1. Mengkudu   

Morinda citrifolia  L  

 Suku : Rubiaceae 

 

Gambar 12. Mengkudu 

 

a. Nama daerah 

 Pace, kemudu, cengkudu, kodhuk, wengkudu, noni. 

b. Bagian yang dipakai  

  Buah  

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

 Pohon tinggi 4-8 m. batang berkayu bulat, kulit kasar, 

penampang batang muda segi empat, coklat kekuningan. 

Daun tunggal bulat telur, ujung & pangkal runcing, tepi rata, 

panjang 10-40 cm, lebar 5-17 cm, tangkai pendek berwarna 

- 47 - 

 

hijau. Bunga majemuk berbentuk bonggol, bertangkai di 

ketiak daun. Buah bonggol, permukaan tidak teratur, 

berdaging panjang 5-10 cm, hijau kekuningan. Biji keras, 

segitiga, coklat kemerahan. Simplisia berupa irisan buah, 

warna cokelat, bau khas, rasa sedikit pahit, dengan ketebalan 

± 1 cm, diameter 3-5 cm, dengan tonjolan-tonjolan biji. 

d. Kandungan kimia  

 Alkaloid seronin, plant sterois, alisarin, lisin, sosium, 

asam kaprilat, arginin, prokseronin, antrakuinin, trace 

elements, fenilalanin, magnesium, terpenoid, dll. 

e. Data keamanan  

 LD50 ekstrak air etanol buah, daun, akar pada mencit: > 

10 g/kg BB. LD50 ekstrak etanol daun per oral pada tikus: > 

2000 mg/kg BB. 

f. Data manfaat  

1) Uji praklinik:  

 Sediaan 70% ekstrak aqua-ethanol akar M. citrifolia 

pada sediaan atrium kanan guinea-pig, Morinda 

menghambat kekuatan dan rate kontraksi atrium. Pada 

sediaan aorta torakalis  kelinci, Morinda menghambat 

kontraksi yang ditimbulkan oleh phenylephrine (1.0 μM) 

pada Kerb’s solutions dengan Ca++  normal dan tanpa 

Ca++- dan oleh kadar K+ tinggi setara dengan verapamil. 

 Pada sediaan aorta torakalis tikus, Morinda juga 

merelaksasi kontraksi yang diinduksi oleh phenylephrine 

(1.0 μM). Vasodilatasi ini tidak berubah dengan adanya 

L-NAME (0.1 mM) atau atropine (1.0 μM) dan 

pengangkatan endothelium. Hasil menunjukan bahwa 

efek spasmolitik dan  vasodilatasi,  diduga terjadi melalui 

penghambatan kanal Kalsium dan pelepasan Ca intra 

sel. 

 Jus buah dibandingkan dengan furosemid per oral 

5 dan 10 mg/kg BB pada tikus untuk menguji efek 

diuretik. Jus meningkatkan volume urin (6.82 + 1.18 

ml/100 g/24 jam dan 7.87 + 1.15 ml/100 g/24 jam) dan  

meningkatkan indeks diuretik menjadi 2.04 dan 2.36 

untuk 5 mL/ kgBB dan 10 mL/kg BB dibanding kontrol 

-

 

(107 + 5.18 mmol/L). Walaupun ada penurunan ekskresi 

potasium namun tidak bermakna.  

2) Uji Klinik: 

Studi Preliminary (Pre-Post) pada 10 subjek 

hipertensi berusia 28-56 tahun. Tiap subjek mendapat 2 

x 200 jus sehari selama satu bulan. Tekanan darah rata-

rata pre dan post yaitu  144/83 mmHg dan 132/76 

mmHg. Diduga mekanisme kerja dengan menghambat 

ACE dan reseptor AT. 

Studi lain memakai  30 pria sebagai subyek. 

Data yang diukur yaitu  tekanan darah sistolik dan 

diastolik sebelum dan sesudah pemberian ekstrak etanol 

mengkudu. Hasil menunjukkan bahwa rerata tekanan 

darah setelah minum ekstrak mengkudu sebesar 

111,10/69,75 mmHg lebih rendah daripada tekanan 

darah rata-rata sebelum minum ekstrak etanol 

mengkudu yaitu sebesar 116,64/72,35 mmHg (p<0,05). 

Disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah mengkudu 

menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. 

g. Indikasi : 

 Hipertensi 

h. Kontraindikasi   

 Kehamilan, laktasi, anak, hiperkalemia, alergi. 

i. Peringatan 

 Hati-hati terhadap penderita gastritis sebab  

bersifat asam. Dengan obat antidiabetes dapat terjadi 

hipoglikemia dan hipotensi, sebab  dapat menurunkan kadar 

glukosa dan kalium darah. Warna urin dapat menjadi merah 

muda sampai merah kecoklatan. 

j. Efek Samping 

 Sedasi, mual, muntah, alergi, hiperkalemia. 

k. Interaksi 

 Dengan obat ACE inhibitor, antagonis reseptor 

angiotensin II, diuretik hemat kalium. Dapat mengurangi efek 

obat imunosupresan. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari. 

 

-

 

2. Rosela 

Hibiscus sabdarifa Linn. 

           Suku : Malvaceae 

     

Gambar 13. Rosela 

 

a. Nama daerah 

Gamet walanda, kasturi roriha, merambos ijo, kesew 

jawe, asam rejang, asam jarot. 

b. Bagian yang dipakai   

 Kelopak bunga 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tumbuhan berupa semak, tumbuh tegak tinggi dapat 

mencapai 3 m. Batang berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak 

bercabang-cabang berwarna merah. Daun bentuk bulat telur 

dengan ujung tumpul dan tepi daun bergerigi.Tangkai bunga 

keluar dari ketiak daun. Bunga tunggal, kelopak bunga 

bentuk lanset, berdaging tebal, berwarna merah tua. 

d. Kandungan kimia  

Kelopak bunga mengandung senyawa antosianin, 

vitamin C, dan B. Kandungan lainnya yaitu  kalsium, beta 

karoten serta asam amino esensial. 

Rosella memiliki banyak unsur kimia yang menunjukkan 

ektivitas farmakologis.15-20% merupakan asam-asam 

tumbuhan yang meliputi asam sitrat, asam malat, asam 

tartar dan asam (+)-allo-hidroksisitrat. 

e. Data keamanan  

LD50: Di atas 5000 mg/kg BB per oral pada tikus. Fraksi 

ekstrak larut air dari ekstrak hidroalkohol kelopak bunga 

rosela dengan dosis sampai 250 mg/kg BB pada mencit. Pada 

dosis 15 mg/kg BB terlihat ada perubahan kadar albumin, 

- 50 - 

 

namun pada gambaran histologi tak ada perubahan. Pada 

pria sehat, dapat menurunkan konsentrasi kreatinin, asam 

urat, sitrat, tartrat, kalsium, natrium, kalium, dan fosfat pada 

urin. 

f. Data manfaat  

Uji klinik: 

Penderita hipertensi usia 30-80 tahun diberi infusa dosis 

0,5 L (setara dengan 9,6 mg antosianin), setiap hari sebelum 

sarapan, sebagai  kontrol kaptopril 2 kali 25 mg/hari. Infusa 

dapat menurunkan tekanan sistolik 139,05 ke 123,73 mmHg, 

dan diastolik dari 90,8 ke 79,5 mmHg. Efek ini tidak berbeda 

dengan kapropril 50 mg. Ekstrak hibiscus dapat menurunkan 

tekanan sistol dan diastol pada pasien dengan hipertensi 

ringan hingga sedang. Dalam studi lain, ekstrak yang telah 

distandarisasi dibandingkan efek hipotensinya dengan 

kaptopril, penghambat enzim pengkonversi angiotensin 

(ACEI).  

Uji klinik RCT dilakukan pada 65 orang usia 30–70 

tahun dengan pra- dan hipertensi ringan, yang tidak minum 

obat antihipertensi, diberi teh Hibiscus 3 x 240 mL /hari atau  

plasebo selama 6 minggu. Setelah 6 minggu, teh Hibiscus 

menurunkan tekanan darah  sistolik (SBP) dibanding plasebo 

(−7.2 ± 11.4 vs. −1.3 ± 10.0 mm Hg; P = 0.030). Tekanan 

Diastolik juga menurun walau tidak berbeda bermakna 

dibanding plasebo (−3.1 ± 7.0 vs. −0.5 ± 7.5 mm Hg; P = 

0.160), rerata tekanan darah arteri berbeda borderline 

dibanding plasebo (−4.5 ± 7.7 vs. −0.8 ± 7.4 mm Hg; P = 

0.054). Orang dengan SBP yang lebih tinggi pada baseline 

menunjukkan respons lebih besar terhadap terapi Hibiscus (r 

= −0.421 untuk perubahan SBP; P = 0.010). Teh Hibiscus 

menurunkan tekanan darah pada pra- dan  hipertensi ringan. 

Pada 31 pasien dengan hipertensi esensial moderat diberi 

Hibiscus vs. kontrol selama 12 hari, menghasilkan penurunan 

tekanan darah sistolik 11,2% dan tekanan darah diastolik  

10,7% . 

Studi RCT dilakukan pada 65 orang usia 30-70 tahun 

dengan  SBP 120-150 mm Hg dan  DBP < 95 mmHg. Subjek 

- 51 - 

 

tidak makan obat antihipertensi atau obat lain yang 

mempengaruhi te