Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 4. Tampilkan semua postingan

formularium herbal 4





 ambu. Ketinggian maksimum tiga meter. Bunga 

kombinasi warna hijau, kuning kemerahan dan keputihan.  

d. Kandungan kimia   

 Forskolin, caffeic acid, rosmarinic acid 

e. Data manfaat: 

1)   Praklinik: 

Forskolin mengaktifkan adenilat siklase dan 

meningkatkan siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang 

mengatur dan mengaktifkan enzim penting yang 

dibutuhkan untuk energi sel. Forskolin meningkatkan 

siklik adenosin monofosfat (cAMP) dan fungsi cAMP-

mediated, melalui pengaktifan adenilat siklase enzim, 

yang meningkatkan produksi adenosin monofosfat siklik 

(cAMP) dalam sel otot jantung. 

Efek farmacologi dari coleonol, yaitu  diterpene,yang 

diisolasi dari C. forskohlii diteliti. Efek dominannya yaitu 

menurunkan tekanan darah pada tikus dan kucing yang 

dianestesi juga tikus dengan hipertensi sebab  efek 

relaksasi otot polos pembuluh darah. Pada  dosis  kecil 

menunjukkan efek inotropik positif pada jantung kelinci 

yang diisolasi juga pada jantung kucing  in vivo. Coleonol 

juga memperlihatkan aktivitas spasmolitik nonspesifik 

pada otot polos gastrointestinal pada berbagai spesies 

tapi tidak pada otot bronkhus guinea pig. Dosis besar 

coleonol memiliki  efek depresan SSP. Efek forskolin 

berasal dari aktivasi adenylate cyclase, diikuti 

peningkatan cAMP, aktivasi cAMP-dependent protein 

kinase, fosforilasi protein atau enzim, dan inhibisi 

aktivitas sodium-potassium-ATPase. Kejadian ini dapat 

menuntun pertukaran sodium dan calcium melalui  

- 136 - 

 

membran sel bersama dengan peningkatan kadar 

calcium intrasel dan inotropik positif. 

Gagal miokardium tahap akhir ditandai dengan 

force-frequency relationship (FFR) negatif, mungkin 

sebagai hasil penurunan kapasitas ambilan SR Ca2+. 

Dilakukan penelitian terhadap stimulator langsung 

adenylate cyclase, forskolin, terhadap tenaga kontraksi 

dan  FFR miockardium manusia yang diisolasi dari 7 

nonfailing hearts (NF) dan end-stage failing hearts (NYHA 

IV) sebab  iskhemik (ICM; n = 13) atau kardiomiopati 

dilatasi (DCM; n = 16). 

2) Uji klinik: 

Empat puluh Sembilan (49) subyek usia 50-80 

tahun dengan tekanan darah suboptimal diberi Coleus 

forskohlii tablet atau tablet kunyah. Hasil menunjukkan 

bahwa ke-2 sediaan C. forskohlii meningkatkan tekanan 

darah. Hasil menunjukkan bahwa C.s forskohlii 

mendukung perbaikan tekanan darah pada orang lebih 

tua. 

f. Indikasi:  

  Kardiomiopati (Grade B) 

g. Kontraindikasi:  

  Kehamilan, laktasi 

h. Peringatan:  

  Hipotensi, ulkus peptikum 

i. Efek samping:  

  Aritmia, flushing, hipotensi, sakit kepala. 

j. Interaksi:  

Secara teoritis (tidak ada laporannya) dapat berinteraksi 

dengan makanan dan minuman asam. Hati-hati  gunakan 

bersama obat yang yang tergantung pH dan aktivitas gaster 

untuk aktivasi dan pemecahannya seperti cephalosporin 

baru, itrakonozol, ketokonazol. Pemberian bersama 

antikoagulan, antiplatelet, termasuk NSAID,  dapat 

meningkatkan risiko perdarahan (Coleus merupakan anti 

agregasi platelet yang poten in vivo dan in vitro).  Pemberian 

bersama obat antihipertensi dan kardiovaskuler seperti 

- 137 - 

 

penghambat beta, clonidine, hydralazine harus dengan 

pengawasan dokter. 

k. Posologi:  

2 x 1 kapsul (50 mg ekstrak)/hari. 

 

4. Pegagan  

 Centella asiatica (L) Urban 

 Suku : Umbelliferae 

                

Gambar 44. Pegagan   

 

a. Nama daerah 

Pegagan, antanan gede, gagan-gagan, gangganan, kerok 

batok, pantegowang, panigowang, rending, calingan rambut , 

pegaga, daun kaki kuda, pegago, bebele, sarowati, wisu-wisu, 

sandanan, dogauke 

b. Bagian yang dipakai  

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba tahunan tanpa batang dengan rimpang pendek 

dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun 

tunggal, tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun, 

kadang agak berambut. Tangkai daun panjang sampai 50 

mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan 

garis tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai bergerigi 

terutama kearah pangkal daun.Bunga umumnya 3, yang di 

tengah duduk, yang di samping bergagang pendek. Buah 

pipih, kurang lebih 7 mm dan tinggi kurang lebih 3 mm, 

berlekuk dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan, 

berdinding agak tebal. 

 

 

- 138 - 

 

d. Kandungan kimia  

Triterpen: termasuk asam asiatik dan asam mandekasik 

(6-hidroksi asam asiatik), asam terminolik, serta derivat ester 

triterpen glikosida: termasuk asiatikosida, asiatikosida A, 

asiatikosida B dan madekassosida. 

e. Data keamanan  

Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB. Terdapat 

kemungkinan terjadi efek Karsinogenik pada kulit tikus pada 

pemakaian  berulang. Dilaporkan adanya kasus ikterus pada 

3 orang yang mengkonsumsi herba pegagan selama 20-60 

hari, efek ierus hilang saat pemakaian  dihentikan dan 

diberikan asam ursodeoksikolat 10 mg/kg BB/hari. 

Pemberian ekstrak pegagan hingga dosis 2000 mg/kg BB 

pada mencit per oral, menunjukkan tidak ada hewan uji yang 

mati, terjadi 20% kematian pada dosis 10g/kg BB. Pada uji 

toksisitas asiatikosida oral,tidak memperlihatkan efek toksik 

hingga dosis 1 g/kg BB, sedang  dosis toksis pemberian 

intramuscular pada mencit dan kelinci yaitu  40 dan 50 g/kg 

BB 

Uji teratogenik ekstrak pegagan pada kelinci 

menunjukkan tidak ada efek teratogenik. 

f. Data manfaat  

Uji Klinik:  

40 pasien venous hypertensive angiopathy dengan 

hipertensi vena berat, pembengkakan pergelangan kaki, dan 

lipodermatosklerosis, dirandom untuk menerima TTFCA  2 x 

60 mg/hari atau plasebo selama 8 minggu. Hasil: pasien yang 

mendapat ekstrak mengalami penurunan bermakna dari skin 

flux dan rate pembengkakan pergelangan kaki dibanding nilai 

baseline (p<0.05). Juga perbaikan klinis cepat yang terlihat 

sebagai pengurangan gejala (udem, nyeri, restless limbs, 

pembengkakan, dan perubahan kondisi/warna kulit) dari 

skor 9,5 pada baseline menjadi  4,5. 

Pada studi lain evaluasi dilakukan dengan Laser doppler. 

Subjek  mendapat TTFCA  2 x 60 mg selama 6 minggu 

memperlihatkan hasil penurunan resting flux 29% (p<0.05), 

peningkatan respons venoarteriolar 52% (p<0.05), dan reduksi 

- 139 - 

 

volume tungkai 66-mL , peningkatan pO2 sebesar 7,2% dan 

reduksi pCO2 sebesar 9,6-percent (p<0.05). 

g. Indikasi  

 Insufisiensi vena kronik, venous hypertension. 

h. Kontraindikasi 

Kehamilan, menyusui, anak – anak, alergi, gangguan 

hepar dan epilepsi 

i. Peringatan 

Efek abortif dan mengganggu siklus menstruasi, jangan 

dipakai  lebih dari 6 minggu 

j. Efek Samping 

Infertilitas, alergi kulit pada pemakaian topikal, dan efek 

sedatif/menekan sistem saraf. 

k. Interaksi 

Berinteraksi dengan obat-obat penurun gula darah dan 

penurun kolesterol serta antidepresan. 

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (30 mg ekstrak)/hari. 

 

M. HERBAL UNTUK GASTRITIS 

1. Jahe  

Zingiberis officinale (Rosc)  

Suku : Zingiberaceae 

              

Gambar 45. Jahe 

 

a. Nama Daerah 

Halia, bahing, sipode, lahia, alia, jae, sipodeh, jahi, lai, 

jae, alia, lea , melito, leya, marman. 

b. Bagian yang dipakai   

  Rimpang 

- 140 - 

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan 

pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas 

pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph berkelamin 2. 

Kelopak berbentuk tabung, dengan ujung bertaju, kerap kali 

terbelah serupa pelepah. Rimpang agak pipih, bagian ujung 

bercabang, cabang pendek pipih, bentuk bulat telur terbalik, 

pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk ke dalam. 

Potongan bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur 

memanjang, kadang ada serat bebas. 

d. Kandungan kimia    

Minyak astiri (bisabolene, cineol, phellandrene, citral, 

borneol, citronellol, geranial, linalool, limonene, zingiberol, 

zingiberene, camphene), oleoresin (gingerol, shogaol), fenol 

(gingerol, zingeron), enzim proteolitik (zingibain), vit B6, vit C, 

Kalsium, magnesium, fosfor, kalium, asam linoleat, gingerol 

(gol alkohol pada oleoresin), mengandung minyak astiri 1-3% 

diantaranya bisabolen, zingiberen dan zingiberol. 

e. Data keamanan  

LD50 6-ginggerol dan 6-shogaol yaitu  250-680 mg/kg 

BB. LD50 ekstrak air pada mencit yaitu  33,5 g/kg BB. 

Pemberian pada wanita hamil tidak menunjukkan efek 

teratogenik. 

f. Data manfaat: 

Uji praklinik:  

Ekstrak jahe invitro menghambat pertumbuhan 

Helicobacter pylori. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa 

ekstrak jahe terstandar menghambat pertumbuhan H. pylori 

invitro dengan kadar hambat minimal 0,78-12,5 μg/mL. Pada 

studi ini ekstrak jahe diuji pada model rodent yang diinduksi 

infeksi H. pylori untuk menguji efek preventif dan eradikasi 

infeksi. Ekstrak diberikan dengan dosis 100 mg/kg BB/hari 

selama 3 minggu sebelum infeksi atau 6 minggu pasca 

infeksi. Terapi dengan ekstrak jahe terstandar mereduksi 

jumlah H. pylori dibanding kontrol dan secara bermakna 

(P<0,05) mengurangi  inflamasi mukosa dan submukosa baik 

yang akut maupun kronik, cryptitis, juga degenerasi epitel 

dan erosi yang diinduksi oleh H. pylori. 

- 141 - 

 

Ekstrak tidak meningkatkan morbiditas atau mortalitas. 

Mekanisme menunjukkan bahwa ekstrak jahe menghambat 

aktivitas cyclooxygenase-2, IC50: 8,5 μg/mL in vitro, 

menghambat respon transkripsional nuclear factor-κB pada 

kBZ Jurkat cells (human T lymphocytes) dengan IC50 : 24,6 

μg/mL, dan menghambat secara bermakna pelepasan 

interleukin (IL)-1β, IL-6, IL-8, dan TNF-α dari 

lipopolysaccharide-stimulated human peripheral blood 

mononuclear cells dengan IC50 : 3,89; 7,7; 8,5 dan 8,37 

μg/mL. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak jahe berguna 

untuk mengurangi inflamasi sebab  H. pylori dan sebagai 

kemopreventif untuk Ca gaster. 

Jahe secara tradisional dipakai  untuk  terapi 

gangguan GI seperti mabuk perjalanan, dispepsia dan 

hiperemesis gravidarum, dan dilaporkan memiliki  efek 

kemopreventif pada model binatang. sebab  H. pylori 

merupakan penyebab primer yang berhubungan dengan 

dispepsia, ulkus peptikum, dan perkembangan Ca gaster dan 

kolon, dilakukan uji efek jahe secara in vitro terhadap H. 

pylori. Fraksi ekstrak metanol jahe mengandung   6-,8-,10-

gingerol dan 6-shogaol, yang diuji terhadap 19 strains H. 

pylori, termasuk strain 5 CagA+. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol 

menghambat pertumbuhan 19 strain in vitro dengan MIC 

6,25-50 µg/mL. Gingerol menghambat pertumbuhan 19 

strain dengan MIC 0,78 -12,5 µg/mL dengan aktivitas 

bermakna terhadap strain CagA+. Disimpulkan bahwa 

ekstrak jahe yang mengandung gingerol menghambat 

pertumbuhan H. pylori strain CagA+ in vitro dan dapat 

berefek kemopreventif. 

g. Indikasi:  

Gastritis/ulkus peptik sebab  infeksi H pylori (Grade C). 

h. Posologi: 

3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak) 

 

 

 

 

- 142 - 

 

2. Kapulaga  

Elletteria cardamomum 

Suku: Zingiberaceae 

 

Gambar : 46. Kapulaga 

 

a. Nama daerah: 

   Kapulaga sebrang, kapol, palago, karkolaka 

b.  Bagian yang dipakai  

   Biji  

c. Deskripsi tanaman/simplisia: 

Tumbuhan membentuk rumpun seperti tumbuhan jahe, 

dapat mencapai 2-3 meter, berbatang basah,  berpelepah 

daun yang membalut batang, letak berseling-seling. Bunga 

tandan keluar dari rimpang. Buah berbentuk bulat telur, 

berbulu, dan berwarna kuning kelabu. Buah berkumpul 

dalam tandan kecil dan pendek. Bila masak, buah akan 

pecah dan membelah berdasarkan ruang-ruangnya. Di 

dalamnya terdapat biji yang berbentuk bulat telur 

memanjang. 

Buah yang sudah kering menjadi keriput, bergaris-garis, 

berisi 4-7 butir biji kecil coklat kemerah-merahan. Rasanya 

agak pedas seperti jahe, dengan bau sedap. 

d. Kandungan kimia:  

Komponen utama minyak  cardamom yaitu  α-pinene, β-

pinene, sabinene, myrcene, α-phellandrene, limonene, 1,8-

cineole, g-terpinene, p-cymene, terpinolene, linalool, linalyl 

acetate, terpinen-4-oil, α-terpineol, α-terpineol acetate, 

citronellol, nerol, geraniol, methyl eugenol and trans-nerolidol.  

e. Data keamanan :  

LD50 oral pada tikus: 5.000 mg/kg BB. 

 

- 143 - 

 

f. Data manfaat :  

Uji praklinik: 

Penelitian terhadap efek inhibisi E. cardamomum dan 

Amomum subulatum terhadap ulkus gaster pada tikus, 

mendapatkan bahwa pemberian minyak atsiri E. 

cardamomum dan Amomum subulatum masing-masing 50 

mg/kg BB dapat menghambat pembentukan ulkus gaster 

yang diinduksi etanol secara bermakna yaitu sebesar 60,96% 

untuk Amomum subulatum (P < 0,001) dan 76,36% untuk E. 

cardamomum (P < 0,001). Efek inhibisi terhadap ulkus gaster 

yang diinduksi aspirin juga  bermakna yaitu sebesar 45,45% 

untuk Amomum subulatum (P < 0,05) dan 100% untuk E. 

cardamomum (P < 0,001). Disimpulkan bahwa efek inhibisi ini 

sebab  penurunan motilitas gaster dan efek inhibisi 5-

lipooxygenase oleh beberapa senyawa dari E. cardamomum 

dan Amomum subulatum. Sebuah studi pada tikus 

memakai  ekstrak metanol (TM), minyak esensial (EO), 

fraksi ekstrak metanol yang larut dalam petroleum eter 

soluble (PS) dan fraksi yang tidak larut (PI) dengan dosis 

masing-masing 100-500; 12,5-50; 12,5-150 dan 450 mg/kg 

BB, tentang kemampuan menghambat lesi gaster yang 

diinduksi aspirin, etanol dan ligasi pilorus, juga efek terhadap 

produksi mukus dan asam lambung. Semua  fraksi (TM, EO, 

PS, PI) menghambat lesi gaster secara bermakna yang 

diinduksi oleh etanol dan aspirin tetapi tidak yang diinduksi 

oleh ligasi pilorus. TM mengurangi lesi 70% pada ulkus yang 

diinduksi etanol pada 500 mg/kg BB. Fraksi PS mereduksi 

lesi 50% pada 50 dan 100mg/kg BB dengan efek yang sama 

dengan fraksi PI pada 450 mg/kg BB. Pada ulkus gaster yang 

diinduksi aspirin, efek gastroprotektif terbaik ditemukan pada 

fraksi PS, yang menghambat lesi hampir 100% pada 12,5 

mg/kg BB. Pada eksperimen ini, ekstrak PS dosis > 

12,5mg/kg BB dibuktikan lebih aktif daripada ranitidin 50 

mg/kg BB. 

Ekstrak metanol, fraksi minyak esensial, petroleum eter, 

dan etil asetat menghambat secara bermakna lesi gaster yang 

diinduksi etanol, tetapi tidak pada yang diinduksi aspirin dan 

ligasi pilorus. Fraksi etil asetat meningkatkan produksi 

- 144 - 

 

mukus pada ligasi pilorus. Hasil menunjukkan efek  proteksi 

langsung fraksi etil asetat pada mukosa gaster. Penurunan 

motilitas gaster oleh minyak esensial dan fraksi petroleum 

eter menunjukkan efek gastroprotektif. Penelitian ini 

mendukung pemakaian  Cardamomum pada gangguan 

gastrointestinal.  

b. Indikasi 

Gastritis 

c. Kontraindikasi 

Kehamilan, laktasi dan anak < 18 tahun 

d. Peringatan:  

pemakaian  maksimum: 10 hari kemudian istirahat  5 

hari sebelum memakai  obat ini lagi.  

e. Efek samping:  

Sangat sedikit.  Alergi (dermatitis kontak), meningkatkan 

risiko perdarahan, hipotensi, dapat memicu kolik pada pasien 

dengan gangguan empedu. 

f. Interaksi:  

Dengan obat depresan SSP, dapat menimbulkan kantuk 

atau sedasi. Meningkatkan efek obat lain yang dimetabolisme 

oleh sitokrom P450. Dapat berefek aditif dengan obat 

antikolinergik dan menimbulkan mulut kering, urinasi 

berkurang, atau penglihatan kabur. Meningkatkan risiko 

perdarahan dengan obat seperti aspirin, antikoagulan seperti 

warfarin, heparin, antiplatelet seperti clopidogrel, dan NSAID 

seperti ibuprofen atau naproxen, juga herbal seperti Ginkgo 

biloba, A. sativum, dan Saw palmetto.  

g. Posologi:  

3 x 1 kapsul (500 mg serbuk)/hari.  

 

3. Kunyit  

Curcuma domestica (Vahl)/Curcuma longa (L) 

              

 Gambar  47. Kunyit 

- 145 - 

 

a. Nama daerah 

Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, 

temu koneng, temu kuning, guraci 

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang 

c.  Data manfaat:  

1)  Uji praklinik:  

Efek C. domestica terhadap ulkus peptikum 

dilakukan dengan menghambat reseptor H2 (H2R) tikus 

(pylorus-ligated). Didapat hasil C. domestica melindungi 

mukosa gaster sama efektif seperti ranitidine.   

Penelitian lain mendapatkan bahwa ekstrak etanol 

per oral menghambat asam lambung, sekresi gaster dan 

pembentukan ulkus yang setara dengan efek ranitidine. 

C. domestica juga menekan produksi cAMP yang 

diinduksi histamin, dengan inhibisi langsung H2R.  

Peneliti lain meneliti aktivitas antiulkus dari ekstrak 

etanol. Pemberian ekstrak etanol menurunkan indeks 

ulkus dan keasaman lambung. Pemberian ekstrak C. 

domestica mengurangi intensitas ulkus yang diinduksi 

indomethacin atau reserpin. Pemberian ekstrak C. 

domestica mengurangi  keparahan lesi yang diinduksi 

oleh berbagai necrotizing agents. Pemberian ekstrak C. 

domestica menurunkan gastric mucosal non-protein 

sulfhydryl yang diinduksi oleh  etanol 80%.  

2) Uji klinik: 

Uji klinik fase II pada 25 pasien yang didiagnosis 

ulkus peptikum dengan endoskopi, diberi serbuk C. 

domestica 5 x 600 mg/hari. Ulkus menyembuh pada 

48% pasien setelah 4 minggu dan 72% setelah 12 

minggu. Tidak ada efek samping yang terjadi. Studi 

membandingkan efek C. domestica dengan antasid 

mendapatkan pengurangan besar ulkus 51.9% pada 

kelompok C. domestica dibanding 34,8% pada kelompok 

antasid. 

Dua uji klinik lain menunjukkan bahwa pemberian 

serbuk C. domestica  4 x 500 mg/hari selama 7 hari, 

menunjukkan respon bermakna,  menyembuhkan ulkus 

- 146 - 

 

dan menurunkan nyeri abdomen,  gas, atau dispepsia 

atonik.  

Studi tanpa kontrol pada 25 pasien ulkus peptikum 

yang diberi C. domestica 5 x 600 mg/hari selama 12 

minggu, memberi hasil ulkus menghilang pada 19 

pasien. Studi RCT multisenter dilakukan pada 106 

pasien dengan dispepsia (nyeri abdomen, nyeri 

epigastrik, flatulens atau bersendawa), diterapi dengan 2 

g C. domestica selama 7 hari (n=38). Sebagai kontrol 

diberikan kombinasi  herbal cascara, nux vomica dan 

jahe (n=30) atau plasebo (n=38). Pada akhir studi 87% 

kelompok C. domestica, 83% kelompok campuran 

ekstrak herbal dan  53%  kelompok plasebo 

memperlihatkan perbaikan menonjol. Kelompok C. 

domestica secara klinis berbeda bermakna dibanding 

plasebo (p=0.003).  

d.    Indikasi: 

Gastritis, ulkus peptikum (Grade C) 

e.    Posologi: 

3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari 

 

4. Pegagan  

 Centella asiatica (L) Urban 

Suku : Umbellifer 

 

Gambar  48. Pegagan  

 

1) Nama daerah 

Pegagan, antanan gede, gagan-gagan, gangganan, kerok 

batok, pantegowang, panigowang, rending, calingan rambut , 

pegaga, daun kaki kuda, pegago, bebele, sarowati, wisu-wisu, 

sandanan, dogauke 

- 147 - 

 

2) Bagian yang dipakai  

Herba 

3) Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba tahunan tanpa batang dengan rimpang pendek 

dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun 

tunggal, tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun, 

kadang agak berambut. Tangkai daun panjang sampai 50 

mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan 

garis tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai bergerigi 

terutama kearah pangkal daun.Bunga umumnya 3, yang di 

tengah duduk, yang di samping bergagang pendek. Buah 

pipih, kurang lebih 7 mm dan tinggi kurang lebih 3 mm, 

berlekuk dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan, 

berdinding agak tebal. 

4) Kandungan kimia  

Triterpen: termasuk asam asiatik dan asam mandekasik 

(6-hidroksi asam asiatik), asam terminolik, serta derivat ester 

triterpen glikosida: termasuk asiatikosida, asiatikosida A, 

asiatikosida B dan madekassosida. 

5) Data keamanan  

Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB. Terdapat 

kemungkinan terjadi efek Karsinogenik pada kulit tikus pada 

pemakaian  berulang. Dilaporkan adanya kasus ikterus pada 

3 orang yang mengkonsumsi herba pegagan selama 20-60 

hari, efek ierus hilang saat pemakaian  dihentikan dan 

diberikan asam ursodeoksikolat 10 mg/kg  BB/hari. 

Pemberian ekstrak pegagan hingga dosis 2000 mg/kg BB 

pada mencit per oral, menunjukkan tidak ada hewan uji yang 

mati, terjadi 20% kematian pada dosis 10g/kg BB. Pada uji 

toksisitas asiatikosida oral, tidak memperlihatkan efek toksik 

hingga dosis 1 g/kg BB, sedang  dosis toksis pemberian 

intramuscular pada mencit dan kelinci yaitu  40 dan 50 g/kg 

BB. Uji teratogenik ekstrak pegagan pada kelinci 

menunjukkan tidak ada efek teratogenik. 

6) Data manfaat  

i. Uji praklinik:  

Ekstrak herba efektif mengurangi ulkus lambung 

dan duodenum yang timbul sebab  stres. Mekanisme 

- 148 - 

 

kerja dihubungkan dengan aktivitas depresan SSP 

sehingga meningkatkan kadar GABA di SSP. 

ii. Uji klinik :  

Limabelas (15) pasien dengan ulkus peptikum dan 

duodenum diobati dengan ekstrak herba 60 mg/hari. 

Didapat 93% pasien memperlihatkan perbaikan jelas dari 

gejala subjektif dan pada 73% pasien, pemeriksaan 

endoskopi dan radiologi menunjukkan ulkus sembuh. 

Jus ekstrak Centella 2 x 200 mg dan 600 mg/kg 

BB/hari memperlihatkan efek proteksi terhadap ulkus 

peptikum yang diinduksi oleh aspirin dan etanol dengan 

efek serupa dengan obat sukralfat. C. asiatica 

menginduksi  sekresi mucin gaster dan produksi 

glikoprotein sel mukosa, marker untuk peningkatan 

faktor daya pertahanan mukosa gaster. 

Ekstrak C. asiatica memperlihatkan efek proteksi 

mucosa gaster secara bermakna terhadap ulkus yang 

ditimbulkan etanol, yang tergantung dosis ditandai 

dengan pengurangan besar ulkus dan pengurangan 

udem dan infiltrasi lekosit di submukosa. Proteksi paling 

jelas pada dosis ekstrak 400 mg/kg BB. 

Efek penyembuhan ekstrak air C. asiatica dan 

asiaticoside, dilakukan pada tikus yang diinduksi ulkus 

peptikum. Hasil menunjukkan bahwa C. asiatica 

mengurangi ukuran ulkus pada hari ke-3 dan ke-7 

secara tergantung dosis, dengan pengurangan aktivitas 

myeloperoxidase pada jaringan ulkus. Terlihat 

peningkatan proliferasi sel epitel dan angiogenesis. 

Ekspresi basic fibroblast growth factor, faktor 

angiogenik juga meningkat pada jaringan ulkus. 

Disimpulkan C. asiatica dan kandungan aktifnya 

potensial merupakan obat anti ulkus peptikum. 

Studi efek protektif  C. asiatica dilakukan pada tikus 

ulkus peptikum yang diinduksi etanol. Gastric 

transmucosal potential difference (PD) berkurang dengan 

aplikasi etanol 50% pada gastric ex-vivo chamber model 

dan C. asiatica mempercepat pemulihannya. Pemberian 

oral C. asiatica (0.05 g/kg BB, 0.25 g/kg BB dan 0.50 

- 149 - 

 

g/kg BB) sebelum pemberian etanol, menghambat 

pembentukan ulkus secara bermakna (58% - 82%) dan 

penurunan  aktivitas  myeloperoxidase mukosa (MPO) 

secara tergantung dosis. Hasil menunjukkan bahwa C. 

asiatica mencegah pembentukan ulkus peptikum yang 

diinduksi etanol dengan memperkuat  pertahanan  

mukosa dan mengurangi efek kerusakan sebab  radikal 

bebas. 

Studi efek ekstrak air C. asiatica dan kandungan 

aktifnya, asiaticoside, terhadap ekspresi dan aktivitas 

inducible nitric oxide synthase (iNOS) selama 

penyembuhan ulkus peptikum dilakukan dengan 

berbagai konsentrasi C. asiatica (0,10 g/kg BB dan 0,25 

g/kg BB) dan asiaticoside (5 mg/kg BB dan 10 mg/kg 

BB) yang diberikan per oral pada tikus yang diinduksi 

ulkus peptikum dengan asam asetat. Dilihat 

pengurangan ukuran ulkus pada hari ke-1, 3 dan 7 

secara tergantung dosis, diikuti penurunan aktivitas 

iNOS dan ekspresi protein pada jaringan ulkus. Kadar 

nitrit dan nitrat (NO(X)-), produk akhir yang stabil dari 

nitric oxide, pada jaringan ulkus juga menurun. N-[3-

(aminomethyl)benzyl]acetamidine (1400W), inhibitor  

iNOS yang sangat selektif, menginhibisi aktivitas  iNOS 

yang lebih poten pada dosis 0,1 mg/kg BB. Hasil 

mengindikasikan bahwa C. asiatica dan  asiaticoside 

memiliki  efek antiinflamasi melalui inhibisi sintesis 

nitric oxide sehingga menyembuhkan ulkus. Studi efek 

ekstrak etanol C. asiatica pada ulkus mukosa gaster 

tikus (yang diinduksi etanol absolut) dilakukan dengan 

pemberian larutan karboksi metil selulosa (CMC) sebagai 

kontrol, Omeprazole 20 mg/kg BB, dan ekstrak daun C. 

asiatica 100, 200 and 400 mg/kg BB dalam larutan CMC 

(1 jam sebelum induksi). Hasil menunjukkan pada 

kontrol timbul ulkus mukosa yang parah dengan udem 

dan infiltrasi lekosit pada submukosa, sedang yang 

mendapat ekstrak C. asiatica memperlihatkan proteksi 

mukosa gaster dan kurang atau hilangnya udem serta 

infiltrasi lekosit.  

- 150 - 

 

7) Indikasi  

Ulkus peptikum dan duodenum 

8) Kontraindikasi 

       Kehamilan, menyusui, anak-anak, alergi, gangguan 

hepar dan epilepsi. 

9) Peringatan 

 Efek abortif dan dapat mengganggu siklus menstruasi 

jika dipakai  lebih dari  6 minggu. 

10) Efek Samping 

      Infertilitas, dan efek sedatif/menekan sistem saraf. 

11) Interaksi 

Berinteraksi dengan obat-obat penurun gula darah dan 

penurun kolesterolserta antidepresan. 

12) Posologi 

3 x 1 kapsul (60 mg ekstrak)/hari. 

 

5. Temulawak  

Curcuma xanthorrhiza  Roxb. 

            Suku : Zingiberaceae 

                

              Gambar  49. Temu lawak 

 

a. Nama daerah 

Temulawak, koneng gede, temu labak. 

b. Bagian  yang dipakai  

Rimpang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 

2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang 

sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, 

bagian dalam   berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap 

individu tanaman memiliki  2-9 daun, berbentuk lonjong 

- 151 - 

 

sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang 

sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang 

tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan 

berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas 

rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, 

daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus, 

berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir 

lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung 

banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan 

mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) 

sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih 

dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian 

bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm, 

lebar 1,5-3,5 cm. 

d. Kandungan kimia 

Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) 

terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri 

(3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-

kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-

turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30-40%) 

e. Data keamanan  

Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 1125-

2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya 

toksisitas. Uji klinik fase I dengan 28 orang sehat 

memakai  dosis sampai 8000 mg/hari selama 3 bulan 

tidak menunjukkan efek toksik akibat kurkumin.  

f. Data Manfaat 

Uji praklinik:  

Serbuk rimpang meningkatkan aktivitas musin dalam 

cairan lambung. Disamping itu rebusan rimpang dapat 

menurunkan kontraksi usus halus.  

g. Indikasi 

Dispepsia, gastritis  

h. Kontraindikasi 

Obstruksi saluran empedu, ikterus 

i. Peringatan  

Gastritis pada dosis besar. Hati-hati pada nefrolithiasis.  

 Efek yang tidak diinginkan: 

- 152 - 

 

Dosis besar atau pemakaian yang berkepanjangan dapat 

mengakibatkan iritasi membrane mukosa lambung. Tidak 

dapat dipakai  pada penderita radang saluran empedu akut 

atau ikterus. Hati-hati memakai  temulawak bersama 

dengan obat pengencer darah. 

j. Efek Samping  

 Belum pernah dilaporkan 

k. Interaksi   

 Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari. 

 

6. Temu manga  

Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe 

Sinonim: Curcuma alba, Curcuma mangga (Val.), C. zedoaria (Berg) 

Roscoe 

           Suku: Zingiberaceae 

                

Gambar 50. Temu Mangga 

 

a. Nama daerah 

Temu mangga atau temu putih, Koneng lalab (Sunda), 

Temo pao (Madura). 

b. Bagian yang dipakai  

 Rimpang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba setahun, dapat lebih dari 2 m. Batang 

sesungguhnya berupa rimpang yang bercabang di bawah 

tanah, berwama coklat muda coklat tua, di dalamnya putih 

atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatik. 

Daun tunggal, pelepah daun membentuk batang semu, 

berwarna hijau coklat tua, helaian 2-9 buah, bentuk 

memanjang lanset 2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing-

- 153 - 

 

meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan 

bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43-80 cm atau 

lebih. Bunga majemuk susunan bulir, diketiak rimpang 

primer, tangkai berambut. Daun pelindung berjumlah 

banyak, spatha dan brachtea; rata-rata 3-8 x l,5-3,5cm. 

Kelopak 3 daun, putih atau kekuningan, bagian tengah 

merah atau coklat kemerahan, 3 -4 cm. Mahkota: 3 daun, 

putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Bibir bibiran 

membulat atau bulat telur terbalik, ujung 2 lobe, kuning atau 

putih, tengah kuning atau kuning jeruk, 14-18 x 14-20 mm. 

Benang sari 1 buah, tidak sempuma, bulat telur terbalik, 

kuning terang, 12-16 x 10-115 mm, tangkai 3 5 x 2-4 mm, 

kepala sari putih, 6 mm. Buah: berambut, rata-rata 2 cm. 

d. Kandungan kimia  

Kurkumin, minyak atsiri, saponin dan polifenol Minyak 

atsiri, saponin, polifenol, labdan diterpen glukosida, 

kurkumanggosida, labda-8(17),12-diena-15,16-dial, 

kalkaratarin A, zerumin B, skopoletin, demetoksikurkumin, 

bisdemetoksikurkumin, 1,7-bis(4-hidroksifenil)-1,4,6-

heptatrien-3-on, kurkumin, dan asam p-hidroksisinamat. 

e. Data keamanan 

LD50: per oral pada tikus: > 5000 mg/kg BB  

f. Data manfaat   

Uji Praklinik: 

Studi memakai  serbuk rimpang C. zedoaria 200 

mg/kg BB pada tikus mendapatkan hasil pengurangan pH 

gaster, jumlah asam bebas, asam total dan indeks ulkus 

secara bermakna. Hasil ini setara dengan obat standar 

omeperazol 30 mg/kg BB i.p. Disimpulkan bahwa rimpang C. 

zedoaria efektif untuk proteksi terhadap hiperasiditas dan 

ulkus gaster. 

g. Indikasi  

Gastritis/ulkus peptikum  

h. Kontraindikasi   

Kehamilan, menyusui  

i. Peringatan  

Belum diketahui 

 

- 154 - 

 

j. Efek Samping  

Belum diketahui 

k. Interaksi   

Belum diketahui  

l. Posologi 

 3 x 2 kapsul (250 mg ekstrak)/hari, ac.  

 

N. HERBAL UNTUK ARTRITIS 

1. Cabe  

Capsicum annuum Vahl 

Suku : Solanaceae 

         

Gambar 51. Cabe 

 

a. Bagian yang dipakai   

Buah  

b. Nama Daerah 

  Cabe , lombok merah, lombok sabrang, mengkreng, rica, 

malita, risa, tabia 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Buah mengangguk atau menggantung, panjang dan 

sempit, meruncing pada bagian ujungnya, permukaan licin. 

Buah muda hijau dan bila tua menjadi merah, berbentuk 

bulat telur sampai bulat, panjang 10-15 cm, lebar   1-2 cm.  

d. Kandungan kimia 

Capsaicinoid (amida vanillil amine dengan asam lemak 

pada C8-C13): komponen utama capsaicin (32-38%), dihidro-

capsaicin (18-52%). Karoten (0,3-0,8%): sebagian dalam 

bentuk kapsanthin, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin. 

Lutein. 

 

- 155 - 

 

e. Data keamanan  

Dosis toksik menimbulkan hipotermia sebab  

mempengaruhi termoreseptor. Pemberian dosis tinggi pada 

waktu lama dapat menimbulkan kerusakan lambung kronik, 

kerusakan hati, dan efek neurotoksik. 

f. Data manfaat 

Uji praklinik:  

Zat aktif yang paling penting yaitu  capsaicin, yang 

menghasilkan efek hyperemic cutaneus nociceptor atau saraf 

sensorik perifer cabang saraf sensorik primer yang diaktivasi 

oleh stimulus noxious. Saraf perifer menghasilkan respon 

lokal seperti edema, kemerahan, dan vasodilatasi, sementara 

serabut aferen menyampaikan informasi noxiceptive ke SSP 

dan menghasilkan sensasi nyeri dan terbakar. Desensitasi 

jangka panjang terjadi setelah pemakaian  capsaicin berulang 

dan menghasilkan hilangnya sensasi nyeri. Capsaicin terikat 

pada reseptor vanilloid tipe-C (VR1) dan membuka saluran 

kation sehingga terjadi influks kalsium berlebih yang 

kemudian terjadi pelepasan neuropeptida (substansi P) yang 

bertanggung jawab terhadap nyeri kemogenik, regulasi suhu 

dan neurogenik. Penghambatan saluran kalsium akan 

mengakibatkan penurunan substansi P dalam saraf sensoris 

dan hilangnya rasa nyeri. 

g. Indikasi  

Membantu menghilangkan ketegangan otot, rematik 

h. Kontraindikasi  

Belum diketahui 

i. Peringatan 

pemakaian  topikal pada bayi atau anak-anak harus 

berhati-hati sebab  dapat mengenai mukosa. Reaksi alergi 

jarang terjadi dan sensitisasi spontan dapat terjadi.  

j. Efek Samping 

Uji topikal dengan campuran mengandung 1-5% ekstrak 

buah Capsicum selama 48 jam, menginduksi eritema samar 

pada 1 dari 10 sukarelawan. Uji topikal berulang dengan 

ekstrak buah Capsicum 0,025% pada 103 subjek tidak 

menimbulkan iritasi atau dermatitis kontak alergik. US FDA 

menyatakan bahwa capsaisin aman dan efektif sebagai  

- 156 - 

 

analgesik eksternal. Aplikasi topikal krim capsaicin dapat 

menimbulkan rasa terbakar pada kebanyakan orang beberapa 

hari pertama, yang akan menghilang pada aplikasi berulang. 

Eritema sering menyertai rasa terbakar. Kontaminasi tidak 

sengaja, terutama pada mata,mulut atau regio perineal 

regions, dapat terjadi sebab  tidak mencuci tangan setelah 

memakai  krim, yang dapat dihilangkan dengan mencuci 

dengan air bersih atau minyak dingin. Capsaicin dan 

capsaicinoid yaitu  iritan kuat untuk  selaput mukosa dan 

dapat menimbulkan dermatitis. 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

Linimen    : 10-20% capsaicin selama 2 hari, dapat diulang  

       kembali setelah 2 minggu.  

Ointment  : 1/8 bagian capsaicin.   

Oleoresin  : kekuatan maksimum 2,5%.  

Krim : 4 x 0,025-0,075% capsaicin/hari, paling sedikit  

        selama 2 minggu. 

 

2. Jahe  

Zingiber officinale Rosc 

Suku : Zingiberaceae 

              

Gambar 52. Jahe 

 

a. Nama daerah 

Halia, bahing, sipode, lahia, alia, jae, sipodeh, Jahi, Lai, 

jae, alia, lea , melito, leya, marman. 

b. Bagian yang dipakai   

Rimpang 

 

- 157 - 

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan 

pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas 

pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph berkelamin 2. 

Kelopak berbentuk tabung, dengan ujung bertaju, kerap kali 

terbelah serupa pelepah. Rimpang agak pipih, bagian ujung 

bercabang, cabang pendek pipih, bentuk bulat telur terbalik, 

pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk ke dalam. 

Potongan bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur 

memanjang, kadang ada serat bebas. 

d. Kandungan kimia    

Minyak astiri (bisabolene, cineol, phellandrene, citral, 

borneol, citronellol, geranial, linalool, limonene, zingiberol, 

zingiberene, camphene), oleoresin (gingerol, shogaol), fenol 

(gingerol, zingeron), enzim proteolitik (zingibain), vit B6, vit C, 

Kalsium, magnesium, fosfor, kalium, asam linoleat, gingerol 

(gol alkohol pada oleoresin), mengandung minyak astiri 1-3% 

diantaranya bisabolen, zingiberen dan zingiberol. 

e. Data keamanan  

LD50 6-ginggerol dan 6-shogaol yaitu  250-680 mg/BB. 

Pemberian pada wanita hamil tidak menunjukkan efek 

teratogenik. 

f. Data manfaat   

Uji klinik:  

Sebuah studi pada 113 pasien nyeri rheumatik dan nyeri 

punggung bawah, diinjeksi dengan 5-10% ekstrak jahe pada 

titik nyeri, menghilangkan nyeri baik seluruhnya atau parsial, 

mengurangi pembengkakan sendi dan perbaikan fungsi sendi. 

Pemberian serbuk jahe per oral pada pasien rheumatism dan 

gangguan muskuloskeletal dilaporkan dapat mengurangi 

maupun menghilangkan berbagai tingkat rasa nyeri dan 

pembengkakan. Mekanisme kerja: menghambat biosintesis 

prostaglandin melalui inhibisi COX-1 dan COX-2. In vitro juga 

menghambat proliferasi sel T, produksi IL-1α, aktivitas dan 

sintesis makrofag.  

Lima puluh enam (56) pasien (28 rematoid artritis, 18 

osteoartritis dan 10 gangguan muskular) diberi serbuk jahe. 

Pada pasien artritis > 3/4, berkurang nyeri dan 

- 158 - 

 

pembengkakannya. Semua pasien gangguan  muskular 

berkurang nyerinya. Tidak ada efek samping pada 

pemakaian  3 bulan- 2,5 tahun. Diperkirakan mekanismenya 

berhubungan dengan penghambatan biosintesis 

prostaglandin dan leukotriene, yaitu dual inhibitor biosintesis 

eicosanoid. 

RCT multisenter terhadap efikasi dan keamanan ekstrak 

terstandar 2 species jahe, Zingiber officinale dan  Alpinia 

galanga (EV.EXT 77),  dilakukan pada 261 pasien 

osteoarthritis (OA) genu dengan nyeri moderate-berat. Setelah 

washout, pasien menerima ekstrak jahe atau plasebo 2 x/hari 

dengan acetaminophen sebagai rescue. Responder yaitu  

yang pengurangan nyeri pada VAS > 15 mm. Hasil dari 247 

pasien yang dievaluasi, responder pada kelompok ekstrak 

jahe yang mengalami pengurangan nyeri genu pada saat 

berdiri, superior dibanding kontrol (63% vs 50%; P = 0.048). 

Nilai rerata pengurangan nyeri genu saat berdiri (24.5 mm vs 

16.4 mm; P = 0.005), pengurangan nyeri genu saat berjalan 

50 feet (15.1 mm vs 8.7 mm; P = 0.016), pengurangan indeks 

komposit osteoartritis (Western Ontario dan McMaster 

Universities) 12.9 mm vs 9.0 mm; P = 0.087. Perubahan 

status global dan pengurangan intake obat rescue > pada 

ekstrak jahe. Perubahan kualitas hidup sama pada ke-2 

kelompok. Pasien yang mendapat ekstrak mengalami efek 

samping gastrointestinal (GI) ringan >  plasebo (59 vs 21 

pasien). Disimpulkan bahwa ekstrak jahe terstandar 

mengurangi gejala OA genu secara moderat dan bermakna. 

RCT pada 43 OA (menurut kriteria Altman 1991 dan 

tingkat 1, 2, dan 3 menurut kriteria Kellgren-Lawrence), diberi 

ekstrak jahe atau acetaminophen 3 X/hari. Setelah terapi 7 

hari, parameter nyeri dan inflamasi tidak berbeda bermakna, 

kecuali perbaikan nyeri saat naik dan turun tangga, 

acetaminophen superior (P 0,003). Setelah terapi 14 hari 

kelompok ekstrak jahe superior dalam memperbaiki 

parameter inflamasi, kaku sendi (11-3,018), range of motion 

(ROM) (P 0,002), diameter lutut (P 0,002) dan Lequesne index 

(160,006). Hanya 1 pasien pada kelompok jahe yang merasa 

nausea. Tidak ada perbedaan hasil laboratorium antar ke-2 

- 159 - 

 

kelompok. Disimpulkan bahwa ekstrak jahe superior untuk 

memperbaiki inflamasi setelah terapi 14 hari. Tidak ada 

perbedaan bermakna dalam mengurangi nyeri sendi antar 

ekstrak jahe dan kelompok acetaminophen. Pada kelompok 

jahe ditemukan gangguan  gastrointestinal ringan. 

g. Indikasi  

Osteoarthritis, rematoid artritis (Grade C) 

h. Kontraindikasi 

Meskipun pada penelitian klinik tidak ditemukan efek 

teratogenik pada bayi yang dilahirkan, namun sebaiknya 

tidak dipakai  pada kehamilan, laktasi dan anak < 6 tahun.  

Batu empedu dan pasien berisiko perdarahan (sebab  dapat 

menghambat aktivitas tromboksan).  

i. Peringatan 

Dilaporkan 6 g serbuk jahe kering menunjukkan 

peningkatan eksfoliasi sel epithel permukaan lambung yang 

dapat berakibat ulkus, sebab itu direkomendasikan 

pemakaian  pada perut kosong tidak lebih dari 6 g. 

j. Efek Samping 

 Sedikit nyeri abdomen. Rasa tidak enak di ulu hati atau 

heart burn dapat terjadi. Dermatitis kontak. 

k. Interaksi 

Pemberian bersama obat antikoagulan, antiplatelet, 

heparin, trombolitik, secara teori dapat meningkatkan risiko 

perdarahan. Hasil uji klinik menunjukkan dosis 10 g 

menunjukkan efek bermakna. Pasien dengan obat 

antikoagulan dan gangguan perdarahan agar menghindar 

pemakaian  dalam dosis besar. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (250mg ekstrak)/hari 

 

 

 

 

 

 

 

 

- 160 - 

 

3. Kayu Putih   

             Melaleuca leucadendra L. 

            Suku  : Myrtaceae 

               

            Gambar 53. Kayu Putih 

 

a. Nama daerah 

Kapape, kapuka, aren, nggela sole, inggolom, gelam, 

kayu gelang, kayu putih, baru galang, waru gelang,  ngglelak, 

iren, sakelan, irano, ai kelane, irono, ilano, elan. 

b. Bagian yang dipakai  

Daun dan kulit batang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Pohon tinggi 10-25 m. batang berkayu, kulit batang 

mudah mengelupas, batang bercabang banyak, penampang 

bulat, warna batang putih abu-abu. Daun tunggal, berbentuk 

jorong atau lanset,, ujung runcing dan pangkal runcing atau 

bulat, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10-22 cm, 

lebar 3-9 cm, panjang tangkai 3-4 cm, warna hijau keputih-

putihan. 

 Daun dan kulit bila memar berbau kayu putih. Bunga 

majemuk, berbentuk mayang berambut atau tidak berambut, 

tumbuh di ketiak daun atau di ujung. Buah bentuk lonceng, 

2,5-7 mm, lebar 3-4 mm. Biji kecil-kecil bulat berwarna 

coklat.  

d. Kandungan kimia    

Minyak atsiri, sineol 50%-65%, α-pinen, limonen dan 

dipenten. 1,8-sineol (54-95%), α-pinen (2,6%), p-simen (2,7%), 

aromadendren, kulminaldehid, globulol dan pinokarveol. 

 

 

- 161 - 

 

e. Data keamanan  

Tidak teratogenik bila diberi subkutan 135 mg/kg BB pd 

mencit hamil pg hari 6-15 kehamilan. Eucaliptol subkutan 

500 mg/kg BB dilaporkan penetrasi melalui plasenta dan 

mencapai kadar dlm darah yg cukup untuk stimulasi 

aktivitas enzim metabolisme. 

f. Data manfaat   

3) Uji praklinik:  

Minyak esensial menghambat biosintesis 

prostaglandin in vitro pada konsentrasi 37  µmol/L. 

4) Uji klinik:  

Uji klinik RCT disain bersilang dengan kontrol 

plasebo pada 32 pasien untuk melihat efektivitas 

kombinasi minyak eucaliptus dan Aetheroleum Menthae 

Piperitae (minyak pepermint) untuk nyeri kepala. Lima 

formulasi berbeda (semua dlm etanol 90%) dipakai  

yaitu  10 g minyak pepermint & 5 g minyak eucaliptus; 10 

g minyak pepermint & sangat sedikit minyak eucaliptus; 

sangat sedikit minyak pepermint & 5 g minyak 

eucaliptus; sangat sedikit minyak pepermint & sangat 

sedikit minyak eucaliptus; atau plasebo. Semua 

diberikan topikal pada pelipis dan dahi, dan parameter 

neurofisiologi, psikologi, dan algesimetrik eksperimental 

diukur. Semua formulasi memperbaiki kognitif, dan 

menimbulkan relaksasi otot dan mental dibanding 

plasebo tetapi tidak terhadap nyeri kepala. Mekanisme 

kerja: komponen utama sineol diamati menghambat 

produksi sitokin dan metabolisme asam arakidonat 

g. Indikasi  

Analgesia, antiinflamasi topikal (Grade C untuk sakit 

kepala) 

h. Kontraindikasi 

Tidak boleh diberikan per oral pada anak, inflamasi 

saluran cerna, gangguan kandung empedu, gangguan hati, 

kehamilan, dan menyusui (dengan supervisi medik). 

i. Peringatan 

Tidak boleh diaplikasikan ke muka, terutama hidung 

bayi dan anak kecil. Jauhkan dari jangkauan anak. Tidak 

- 162 - 

 

boleh dipakai  sebagai nasal spray, sebab  menghambat 

gerak silia dan dapat menimbulkan lipid pneumonia.  

j. Efek Samping 

Umumnya pemberian topikal tidak merangsang, tidak 

menimbulkan alergi, dan tidak fototoksik. Antara 1981-1992 

efek keracunan diobservasi pada 59% dari 109 anak setelah 

tidak sengaja terminum minyak esensial 2-10 mL. Gejalanya 

yaitu  depresi tapi sadar (28%), mengantuk (25%), tidak 

sadar (3%) dan gejala ini tergantung dosis. Gejala lain rasa 

terbakar di epigastrium, nausea, vomitus, pusing, kelemahan 

otot, miosis, merasa sulit bernafas, sianosis, delirium, dan 

konvulsi. Alergi pernah dilaporkan pada pemakaian  lozenges 

mengandung minyak esensial. 

Antara 1889-1992, dilaporkan 17 kematian sebab  

keracunan sebab  meminum minyak esensial. Dosis 3,5 mL 

fatal, namun data ini sudah tua dan kemurnian minyak juga 

tidak diketahui. 

k. Interaksi 

Studi pada hewan menunjukan kemungkinan induksi 

enzim metabolisme hati dan menurunkan efek obat yang 

diberikan bersamaan. 

l. Posologi 

Ekstrak cair dalam formulasi berbasis alkohol 5-10%.  

 

4. Sereh  

Cymbopogon nardus (L) Rendle 

Suku : Gramineae  

                

Gambar 54.Sereh 

 

 

 

- 163 - 

 

a. Nama daerah 

Sere mangat, seere, sang-sange, sarai, sorai, sere, serai, 

belangkak, salai, segumau, see, pataha mpori, kendaung 

witu, nau sina, bumuke, tenian malai, rimanil, tonti, timbu 

ale, longio, towobane, sare, tapisa-pisa, hisa-hisa, isalo, bias, 

bewuwu, gara mahusu. 

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Merupakan keluarga rumput yang rimbun dan 

berumpun besar, aroma kuat dan wangi, juga merupakan 

tanaman tahunan yang hidup liar. Tinggi sampai 1,2 m. Akar 

merupakan akar serabut yang berimpang pendek. Batang 

tanaman tumbuh tegak lurus, bergerombol, berumbi 

berwarna putih kekuningan atau putih keunguan dan 

kemerahan, lunak, bersifat kaku dan mudah patah serta 

berongga. 

Isi batang berupa pelepah umbi untuk pucuk. Daun 

berwarna hijau, tepi tajam dan kasar, panjang 50-100 cm, 

lebar 2 cm, daging daun tipis, serta pada permukaan dan 

dalamnya berbulu halus, tidak bertangkai, kesat, panjang, 

runcing, hamper menyerupai daun  lalang, bentuk seperti 

pita yang makin keujung makin runcing dan berbau citrus 

ketika diremas, tulang daun tersusun sejajar, letaknya pada 

batang tersebar. Jarang sekali memiliki bunga bila ada tidak 

memiliki mahkota dan mengandung bulir. 

d. Kandungan kimia 

Mengandung 1% minyak atsiri dengan komponen 

sitronelal (32-45%), geraniol (12-25%), geranil asetat (3-8%), 

sitronelil asetat (1-4%). Komponen lain yaitu  mirsen (12-

25%, diterpen, metilheptanon, sitronelol, linalool, farnesol, 

alkohol, aldehid, terpineol dan lebih 12 komponen lain. 

e. Data keamanan  

Di USA daun sereh termasuk Generally recognized as 

safe (GRAS). Infusa daun sereh per oral pada tikus selama 2 

bulan, dengan pemberian 2 kali sehari tidak menunjukkan 

efek toksik. Meskipun demikian pernah dilaporkan 2 kasus 

- 164 - 

 

toksik alveolitis pada pemakaian  minyak atsiri secara 

inhalasi. 

f. Data manfaat  

Uji praklinik: 

Pengujian ekstrak air panas dosis 15 mL/kg BB pada 20 

tikus yang diinduksi edema oleh karagenan menunjukkan 

inhibisi edema sebesar 18,6%. Pada pemberian dekokta 20% 

memakai  pembanding indometasin menunjukkan efek 

inhibisi 58,6%. 

Efek analgesik perifer dari myrcene diuji terhadap 

hiperalgesia yang diinduksi oleh prostaglandin pada kaki 

tikus dan terhadap kejatan yang diinduksi oleh injeksi 

iloprost intraperitoneal pada mencit. Berbeda dengan efek 

morfin sebagai analgesik sentral, myrcene tidak menimbulkan 

toleransi pada pemberian berulang.Minyak atsiri berefek 

analgesik terhadap nyeri kepala, kejang otot, spasme, 

reumatik, myalgia dan neuralgia. 

g. Indikasi  

Analgetik-antiinflamasi 

h. Kontraindikasi  

Alergi dan kehamilan. 

i. Peringatan 

pemakaian  secara topikal dapat memicu  alergi 

pada kulit 

j. Efek yang tidak diinginkan :  

Belum diketahui 

k. Interaksi :  

Belum diketahui 

l. Posologi 

Minyak atsiri  

 

 

 

 

 

 

 

 

- 165 - 

 

 

 

O. HERBAL UNTUK KONSTIPASI  

1. Daun Sendok 

Plantago major (L)/ P. psyllium (L)/ P. lanceolata (L) 

Suku: Plantaginaceae 

     

Gambar  55. Daun sendok 

 

a. Nama daerah 

Daun urat, otot-ototan, torongoat, ki urat, ekor angin, 

kuping menjangan, deuli, sangkabuwah, sembung otot, suri 

panda 

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Diskripsi tanaman/simplisia 

Herba semusim tinggi 6-50 cm. Batang pendek, bulat 

berwarna coklat. Daun tunggal, berbentuk bulat telur sampai 

lanset, ujung tumpul, pangkal meruncing, tepi rata atau 

bergerigi tak beraturan, panjang 5-30 cm. lebar 3-10 cm, 

permukaan licin, tangkai 1-25 cm, pertulangan melengkung, 

warna hijau muda sampai hijau. Bunga majemuk, bentuk 

bulir, panjang 40 cm, berwarna putih. Buah panjang 2-4 mm, 

berisi 6-34 bji berwarna hijau. Biji kecil, ketika muda coklat 

setelah tua hitam.  

d. Kandungan kimia 

Glycoside aucubin,  tannins, mucus, vitamins (vitamin C, 

provitamin A), ascorbic acid, uronic acid. Dalam biji: steroidal 

saponins, 44% phlegm, 22% fatty oil, 0,16-0,17% planteozy 

carbohydrate, 22% protein and 16% amino acids. Daun segar 

- 166 - 

 

mengandung flavonoid, karbohidrat mannitol, potassium dan 

citric acid.  

e. Data keamanan 

LD50 per oral: > 4g kg BB pada tikus. LD50 per oral 

ekstrak  air-etanol (1:1) daun: 11,9 g/kg BB pada mencit. 

f. Data manfaat 

Uji klinik: 

Studi pada 50 orang sehat yang diberi diet mengandung 

serat 8,8 g dari 15 g/hari kulit biji Plantago selama 7 hari,  

menunjukkan peningkatan  viskositas, kelembaban, dan 

berat feses secara bermakna. Berbeda dengan serat lain yang 

difermentasi komplit di kolon, komponen ini tidak 

difermentasi. Gel ini melubrikasi dan memfasilitasi propulsi 

isi kolon serta feses yang lebih bervolume dan lembab 

dibanding serat lainnya.  

Studi  multisenter, random, tersamar ganda, disain 

paralel dilakukan pada  170 subyek  konstipasi kronik 

idiopatik terdiri dari fase baseline (plasebo) 2 minggu, diikuti 

fase terapi dengan psyllium (2 x 5,1 g/hari) atau docusate 

sodium (2 x 100 mg/hari) selama 2 minggu. Psyllium 

meningkatkan kandungan air dalam feses dibanding baseline 

vs. docusate (psyllium 2.33% vs. docusate 0,01%, P = 0,007). 

Psyllium meningkatkan berat feses (psyllium 84,0 g/BM; 

docusate 71,4 g/BM; P = 0,04), feses total (psyllium 359,9 

g/minggu: docusate 271,9 g/minggu; P = 0,005), skor 

konstipasi objektif (psyllium 475,1; docusate 403,9; P = 

0,002). Frekuensi peristalsis (BM) lebih besar secara 

bermakna  pada psyllium (3,5 BM/minggu) vs. docusate (2,9 

BM/minggu) (P = 0,02), dan tidak ada perbedaan bermakna 

antara ke-2 jenis terapi (P > 0,05) (3,3 vs. 3,1 BM/minggu). 

Disimpulkan bahwa Psyllium superior dari  docusate sodium 

untuk melembutkan feses dengan meningkatkan kandungan 

air, dan merupakan  laksan yang efektif  pada subjek dengan  

konstipasi kronik idiopatik. 

g. Indikasi 

   Konstipasi (Grade B)                                                 

h. Kontraindikasi 

   Kehamilan, laktasi, obstruksi usus, alergi.  

- 167 - 

 

i. Peringatan 

Anak < 6 tahun (harus dengan supervisi dokter) 

j. Posologi                                                                                                                                                   

3 x 1 sachet (2 g serbuk)/hari. 

 

2. Daun Wungu   

Graptophyllum pictum (L) Griff. 

Suku : Acanthaceae 

               

Gambar 56. Daun Wungu 

 

a. Nama daerah 

 Sumatra: pudin, dangora, daun putri, puding, puding 

peraha; Jawa: daun ungu, daun teman-teman, handeuleum, 

demung, tulak, wungu, karotan, karotong; Bali: temen; 

Maluku: kabi-kabi, dongo-dong, daun alifuru. 

b. Bagian yang dipakai   

   Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak tegak atau perdu, tidak berambut, tinggi dapat 

mencapai 3 m, cabang bersudut tumpul, berbentuk galah 

dengan berbuku-buku nyata. Daun tunggal, letak daun 

bersilang dan berhadapan, helauan daun bulat memanjang 

atau lanset, panjang 8-20 cm, lebar 3-13 cm, pangkal 

berbentuk segitiga berbalik (pasak), ujung meruncing, tepi 

daun bergelombang, warna daun ungu kehijauan, ungu 

berbercak hijau, ungu berbecak putih, atau hijau, panjang 

tangkai daun 0,5-1 cm. Perbungaan berupa bunga majemuk, 

mahkota bunga merah tua. Buah berbentuk kapsul. 

d. Kandungan kimia  

Alkaloid non toksik, glikosid steroid, saponin, lendir, 

tanin galat, antosianin, leukoantosianin, asam protokatekuat, 

- 168 - 

 

dan flavonoid (berupa 4,5,7-trihidoksi flavonol; 4,4-dihidroksi 

flavon; 3,4,7-trihidoksi flavon dan luteolin-7-glukosida). 

Senyawa aktif lain berupa asam-asam fenolat, yaitu asam 

protokatekuat, asam p-hidroksi benzoat, asam kafeat, asam 

p-kumarat, asam vanilat, asam siringat, dan asam ferulat, 

juga mengandung senyawa serupa alkaloid. 

e. Data keamanan  

LD50 daun handeleum = 117,3 (107,0-128,87) mg/10g 

BB mg/10g BB. mencit ip atau LD50> 15 g/kg BB tikus oral , 

dikategorikan aman dipakai  . Serbuk daun ungu dapat 

menaikkan kadar glukosa darah tikus secara signifikan, 

sebesar 25%; 33,9%; dan 56,7% dan kenaikan BB. 

f. Data manfaat  

Uji Praklinik :  

Infusa daun dosis  498 mg/100 g BB pada tikus dapat 

memperkecil rasio jarak usus yang dilalui zat penanda norit 

terhadap panjang usus seluruhnya. Juga dapat 

meningkatkan frekuensi, menurunkan konsistensi dan massa 

feses. Jadi daun dapat dipakai sebagai obat sembelit.  

g. Indikasi  

Konstipasi 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan:  

Belum diketahui  

j. Efek Samping:  

Belum diketahui 

k. Interaksi:  

Belum diketahui 

l. Posologi: 

2 x 1 sachet (5 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas.  

 

 

 

 

 

 

- 169 - 

 

3. Lidah buaya  

Aloe vera (L) Burm,F 

Suku : Liliaceae 

                

  Gambar 57. Lidah buaya 

 

a. Nama daerah 

Ilat boyo; letah buaya; Jadam, lidah buaya  

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tumbuhan berair, panjang daun 30-50 cm dan lebarnya 

sekitar 10 cm; berwarna hijau (pada waktu muda terdapat 

bercak putih pada daunnya); bunga berbentuk pipa berwarna 

kuning terang, tersusun rapat dan memanjang, 25-35 cm.  

Ekstrak yang dikeringkan berasal dari sel-sel persikel 

yang berbatasan dengan parenkim daun, dan secara spontan 

mengikuti potongan daun, disediakan dalam bentuk kering 

baik dengan atau tanpa pemanasan.  Gel Aloe vera berupa 

musilago tidak berwarna, yang dihasilkan dari sel-sel 

parenkim daun Aloe vera (L.) Burm. F. 

d. Kandungan kimia 

Kandungan utama dari aloe berupa senyawa turunan 

hidroksiantron, sebagian besar jenis aloe-emodin-antron C-

glikosida. Kandungan utama dikenal sebagai barbaloin (aloin) 

(15-40%). Juga mengandung hidroksiaolin (sekitar 3%). 

Babarloin merupakan campuran dari aloin A (10S)  dan B. 

e. Data keamanan  

LD50 gel Aloe vera per oral pada tikus: > 64,0  mL/kg  

BB. Ekstrak tidak menimbulkan efek teratogenik pada tikus, 

sampai dosis oral 1000 mg/kg BB, dan aloin A sampai dosis 

200 mg/kg BB. NOEL Aloe polysaccharide, acemannan pada 

- 170 - 

 

tikus 50,000 ppm atau 4,1-4,6 g/kg BB/hari. Pada dosis 

efektif sebagai laksan pada tikus dan mencit memperlihatkan 

toksisitas akut dan subkronik yang lemah. Tidak 

memperlihatkan tanda-tanda toksisitas sampai dosis 50 

mg/kg BB perhari untuk ekstrak selama 12 minggu dan 60 

mg/kg BB perhari selama 20 minggu yang diberikan pada 

mencit. Tidak menimbulkan efek teratogenik, fetotoksik 

sampai dosis 1000 mg/kg BB untuk ekstrak dan 200 mg/kg 

BB untuk aloin A setelah pemberian oral pada tikus. 

f. Data manfaat 

1) Uji Praklinik : 

Mekanisme kerja: glikosid antraquinon (aloin, aloe 

emodin, dan barbaloin) merupakan merupakan laksan 

yang poten, mempengaruhi motilitas usus besar 

(penghambatan pompa Na+/K+ dan kanal Cl- pada 

membran kolon), mengakibatkan percepatan waktu 

transit pada kolon, dan mempengaruhi proses sekresi 

mukus dan klorida yang mengakibatkan peningkatan 

volume cairan. Komponen aloe-emodin-9-anthrone 

meningkatkan kadar air pada usus besar tikus. 

Defekasi terjadi sekitar 6-12 jam sebab  diperlukan 

waktu transpor antraquinon ke kolon dan dimetabolisme 

manjadi senyawa aktif.  

2) Uji klinik:  

Pemberian jus 0,04-0,17 g (setara 10-30 mg 

hidroksiantraquinon) bermanfaat pada pasien dengan 

konstipasi. Efek laksan Aloe terutama sebab  kandungan 

1, 8-dihydroxyanthracene glycosides, aloin A dan B 

(barbaloin). Setelah pemberian oral,  aloin A dan B, (yang 

tidak diabsorbsi di GI atas) dihidrolisis di kolon oleh 

bakteri usus dan menjadi metabolit aktif (terutama aloe-

emodin-9-anthrone), yang bekerja sebagai stimulan dan 

iritan pada traktus GI. Efek laksan Aloe umumnya tidak 

terlihat sebelum 6 jam pasca pemberian, kadang sampai  

24 jam atau lebih. 

g. Indikasi  

Konstipasi  (Grade B) 

 

- 171 - 

 

h. Kontraindikasi 

Obstruksi usus, stenosis, atoni, diare, atau konstipasi 

kronis. Inflamasi pada saluran cerna,  anak < 10 tahun, 

kehamilan dan laktasi (dalam supervisi dokter). Kejang, 

hemoroid, nefritis, atau gejala gastrointestinal yang belum 

dapat didiagnosis seperti nyeri, mual dan muntah. 

i. Peringatan 

Hanya dipakai  bila dengan diet atau sediaan 

pembentuk massa tidak berefek. Bila setelah 24 jam terjadi 

perdarahan per rektal atau tidak terjadi efek laksan, 

menandakan kondisi serius. 

pemakaian  kronik dapat menimbulkan ketergantungan 

dan kebutuhan untuk meningkatkan dosis,  gangguan 

keseimbangan air dan elektrolit (hipokalemia), dan  atonia 

kolon dengan gangguan fungsi. pemakaian  > 2 minggu 

memerlukan  supervisi medik. Semua laksan golongan 

anthroquinone (aloe, senna, cascara sagrada) dapat 

menimbulkan melanosis coli, colon katartik, dan mungkin 

peningkatan risiko Ca colorectal. Melanosis coli umumnya 

ditemukan setelah pemakaian   minimum 9-12 bulan. 

Pigmentasi ini secara klinis tidak berbahaya dan akan hilang 

4-12 bulan setelah obat dihentikan. 

j. Efek Samping 

Spasme dan nyeri perut bisa terjadi pada pemberian 

dosis tunggal. pemakaian  berlebih menimbulkan gejala mual 

dan diare hebat.  Jumlah elektrolit khusus kalium harus 

dimonitor khususnya pada anak dan orangtua. pemakaian  

kronis dapat menimbulkan hepatitis, hipokalemia, 

hipokalsemia, asidosis metabolik, malabsorbsi, penurunan 

berat badan, albuminuria, dan haematuria, pigmentasi 

melanosik mukosa kolon (pseudomelanosis coli) biasanya bisa 

terjadi lagi dalam 4-12 bulan setelah pemberian 

diberhentikan. 

k. Interaksi 

Jangka panjang yang memicu  hipokalemia dapat 

meningkatkan potensi glikosida kardiotonik (digitalis, 

strofantus) dan obat antiaritmia seperti kuinidin.  

 

- 172 - 

 

l. Posologi 

Dosis tunggal 1 kapsul (100 mg ekstrak), malam (mulai 

kerja 8 jam). Aloe dipakai  untuk periode singkat, maksimal 

8-10 hari. 

 

P. HERBAL UNTUK BATUK   

1. Adas Manis 

Pimpinella anisum (L) /Anisum officinarum (Moench) 

Suku : Apiaceae 

                

 Gambar 58. Adas Manis 

 

a. Nama daerah 

Adasa, jinten manis, adas pedas 

b. Bagian yang dipakai  

Buah 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tanaman tahunan, tinggi hingga 60 cm batang halus, 

beralur dan berbulu, berbentuk silindris, banyak 

dibudidayakan di Eropa dan Amerika. Daun tersusun dua 

baris, panjang hingga 5 cm, pada posisi batang lebih tinggi 

terbagi menjadi banyak anak daun. Bunga putih kekuningan, 

bergerombol, membentuk seperti payung. Buah bentuk 

lonjong, biji warna hijau agak cokelat. Simplisia berbentuk 

bulat telur, ukuran 3-5 mm, lebar 1-2 mm,  berbau aromatis 

khas, rasa manis, tangkai buah kecil panjang, warna hijau 

kecokelatan, permukaan kasar. Beberapa pustaka 

mensyaratkan kadar minyak atsiri tidak kurang dari 2% 

(v/b). Minyak Adas merupakan cairan jernih, tidak berwarna 

atau kuning muda, berbau aromatis khas, rasa manis, jika 

- 173 - 

 

didinginkan akan menjadi padatan, praktis tidak larut dalam 

air, dapat bercampur dengan alkohol, eter. 

d. Kandungan kimia  

Mengandung minyak atsiri 1,5-5,0%, dengan komponen 

antara lain trans-anetol (80-90%), linalool, terpineol, estragole 

(metilkhavikol), isoanetol, trans-anetol, cis- anetol, limonena, 

anisaldehida. 

e. Data keamanan  

Minyak  Anise berstatus GRAS. LD50 oral minyak pada  

tikus: 2,25 g/kg BB. LD50 ekstrak etanol 50% dari buah 

kering dalam NaCl fisiologis: 750 mg/kgBB mencit , dan dosis 

maksimum: 500 mg/kg BB. LD50 minyak atsiri oral pada 

tikus: 2,7g/kg BB. LD50 trans-anetol: 1,82-5,0 g pada mencit; 

2,1-3,2 g pada tikus dan 2,16 g pada marmot.  LD50 anethol 

pada tikus per oral: 2090 mg/kg BB. Pada uji toksisitas akut,  

tikus mati dalam 4-18 jam sebab  depresi SSP. LD50 oral pada 

guinea-pig: 1,26 g/kg BB. LD50 anethole pada tikus: 2090 

mg/kg BB, dan dosis berulang 695 mg/kg BB menimbulkan 

gangguan hati ringan berupa perubahan warna, berbintik dan 

ujung lobus menjadi tumpul. Insidens tumor hati pada diet 

trans-anethole 550,0 mg/kg BB/hari. Senyawa ini 

menunjukkan aktivitas estrogenik, antiprogestasional, 

androgenik dan antiandrogenik.  Aktivitas antifertilitas dan 

antiimplantasi 100% diamati pada tikus dengan dosis 80 

mg/kg BB.  

f. Data manfaat 

1)    Uji Praklinik: 

Buah, 1,0 mmol/L, memiliki  efek relaksan 

bermakna (P < 0,05) pada cincin trakhea guinea-pig yang 

berkontraksi dan bronkhodilator in vitro. Buah juga 

menginduksi shift paralel ke kanan pada kurva respons 

methacholine, yang menunjukkan bahwa efek 

bronkhodilator mungkin sebab  inhibisi pada reseptor 

muscarinik. 

Anetol dapat menstimulasi dan merelaksasi saluran 

pernapasan, dan merangsang sekresi kelenjar saluran 

napas. 

 

- 174 - 

 

2)    Uji Klinik: 

62 pasien usia rata-rata 50 tahun dengan batuk 

iritasi sebab  common cold (n=29), bronkhitis (n=20) atau 

gangguan saluran pernafasan dengan mukus kental 

(n=15). Rerata- asupan per hari 10 ml (7.5-15) sirup, and 

rerata lama terapi 12 hari (3-23 hari). Semua skor gejala 

menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan baseline. 

g. Indikasi 

Batuk produktif (ekspektoran) 

h. Kontraindikasi  

Alergi terhadap anetol, anak < 12 tahun, kehamilan dan 

laktasi. 

i. Peringatan 

Kandungan trans-anetol dilaporkan memiliki  aktivitas 

estrogenik, antiprogestasional, androgenik dan 

antiandrogenik. 

j. Efek Samping 

Kadang terjadi alergi pada mukosa saluran pernafasan 

yang dapat menimbulkan asma, mual. Toksisitas anethole 

pernah dilaporkan dengan gejala hipertonia, pergerakan 

okular atipik, twitching, sianosis, anoreksia dan vomitus. 

k. Interaksi 

Pemberian adas bersamaan dengan siprofloksasin dapat 

mempengaruhi absorpsi, distribusi, eliminasi, serta 

mengurangi ketersediaan hayati siprofloksasin hampir satu 

setengah kalinya. 

l. Posologi 

2 x 1 tea bag (3 g serbuk)/hari, seduh dengan 1 cangkir 

air. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- 175 - 

 

2. Timi 

Thymus vulgaris (L)/ Thymus zygis (L) 

Suku: Lamiace 

               

Gambar  59.  Timi 

 

a. Nama daerah: 

 timo, teem 

b. Bagian yang dipakai :  

daun 

c. Diskripsi tanaman/simplisia:  

Tanaman tahunan yang sangat aromatik dapat mencapai 

ketinggian sekitar 40 cm. dengan daun berbentuk tombak, 

sedikit abu-abu-hijau dan bunga mulai dari putih menjadi 

merah muda ke ungu. Bentuk bunganya sepintas mirip 

bunga terompet dengan ukuran lebih mini. 

d. Kandungan kimia:  

Senyawa utama yaitu  thymol dan carvacrol (> 64%), 

linalool, p-cymol, cymene, thymene, α-pinene, apigenin, 

luteolin, dan 6-hydroxyluteolin glycosides, juga di-, tri- dan 

tetramethoxylated flavones, semua disubstitusi pada posisi 6 

(mis. 5,4'-dihydroxy-6,7-dimethoxyflavone, 5,4'-dihydroxy- 

6,7,3'-trimethoxyflavone and its 8-methoxylated derivative 

5,6,4'-trihydroxy- 7,8,3'-trimethoxyflavone). 

e. Data keamanan: 

LD50 ekstrak per oral pada mencit: 0,5-3,0 g/kg BB 

setara 4,3-26,0 g simplisia kering. LD50 minyak atsiri p.o: 

2,84 g/kg BB pada tikus. Diet mengandung daun T. vulgaris 

10% pada tikus selama  6 minggu, tidak memperlihatkan efek 

toksik. LD50 ekstrak etanol dalam 5% Tween 80 pada tikus 

>5g/kg BB. 

 

 

- 176 - 

 

f. Data manfaat: 

1)  Uji praklinik: 

Studi efek relaksan otot polos traktus respiratorius 

dilakukan pada cincin trakhea guinea-pigs yang diberi 

ekstrak air Thymus vulgaris (0,25; 0,5; 0,75 dan 1.0 g %) 

dibanding kontrol saline dan theophylline (0,25; 0,5; 0,75 

dan 1,0 mm). Efek relaksan diuji pada trahea 

berkontraksi diinduksi KCl 60 mm dan methacholine 10 

µm pada 2 kondisi: non-incubated tissues dan incubated 

tissues dengan 1 µm propranolol dan 1 µm 

chlorphenamine. Terdapat korelasi bermakna antara efek 

relaksan dan kadar ekstrak serta theophylline pada 

semua kelompok eksperimen (p < 0,01 - p < 0,001). Hasil 

memperlihatkan efek relaksan T. vulgaris  yang poten  

sebanding dengan theophylline. 

Penelitian eksperimental menunjukkan minyak 

atsiri memiliki  aktivitas sekretomotorik, yang 

dihubungkan dengan ekstrak saponinnya. Juga 

dilaporkan stimulasi pergerakan silia pada mukosa 

faring kodok yang diberi   solusio minyak timi, thymol 

atau carvacrol. Diamati juga peningkatan sekresi mukus 

bronkhus setelah pemberian ekstrak timi. 

Studi In vitro menunjukkan bahwa flavone dan 

ekstrak T. vulgaris menghambat respons agonis reseptor 

spesifik seperti acetylcholine, histamine dan L-

norepinephrine,  juga pada agen yang tidak memerlukan 

reseptor spesifik, seperti barium chloride. Kandungan 

flavone bekerja sebagai antagonis nonkompetitif dan 

non-spesifik dan memperlihatkan efek antagonis Ca2+ 

dan muskulotropik yang bekerja langsung pada otot 

polos. Eksperimen menunjukkan bahwa efek spasmolitik 

T. vulgaris disebabkan oleh kandungan 

polymethoxyflavone. 

Bukti eksperimen lain menunjukkan bahwa minyak 

timi memiliki  aktivitas sekretomotorik yang 

berhubungan dengan saponin yang diekstrak dari T. 

vulgaris. Dilaporkan stimulasi pergerakan silia  mukosa 

faring kodok yang diberi minyak timi, thymol atau 

- 177 - 

 

carvacrol. Pemberian ekstrak timi meningkatkan sekresi 

mukus dalam  bronkhi. 

2)  Uji klinik: 

Studi RCT pada 60 orang dengan batuk produktif 

sebab  infeksi traktus respiratorius atas tanpa 

komplikasi diberi sirup timi (3 x 10 mL/hari, n=31) atau 

preparat bromhexine (n=29) selama 5 hari. Tidak ada 

perbedaan bermakna antara sirup timi dan bromhexine 

pada pelaporan gejala pada terapi hari ke-2 dan ke-5. 

Sebuah studi multisenter terbuka (Dentinox 1997, 

dalam ESCOP (2003), 154 anak usia 2 bulan sampai 14 

tahun (rerata 4,4 tahun) dengan bronkhial katar atau 

bronkhitis diterapi dengan 15-30 mL sirup timi yang 

mengandung 97,6 mg ekstrak cair timi (2-2,5: 1) per mL, 

selama 7-14 hari (rerata 7,9 hari); 46 pasien tidak 

menerima  co-medikasi. Dibanding kondisi awal didapat 

perbaikan intensitas batuk pada 93,5 % pasien.  

g. Indikasi:  

  Batuk (ekspektoran) (Grade C) 

h. Kontraindikasi:  

       Kehamilan , laktasi. 

i. Peringatan:  

      Alergi, sensitivitas silang dengan alergi terhadap seledri 

dan serbuk sari. 

j. Efek samping: 

       Dermatitis kontak.  

k. Interaksi: 

     Belum diketahui 

l. Posologi: 

Anak lebih besar atau sama dengan 1 tahun dan dewasa: 

2 x 1 sendok makan (250 mg ekstrak cair).  

 

 

 

 

 

 

 

- 178 - 

 

Q. HERBAL  UNTUK GASTROENTERITIS 

1. Daun Jambu biji  

Psidium guajava  L  

Suku : Myrtaceae  

               

Gambar 60. Jambu biji  

 

a. Nama daerah 

Glima breueh, galiman, masiambu, biawas, jambu biji, 

jambu partikel, jambu susu, Jambu klutuk, bayawas, jambu 

krutuk, petokal, jhmabhu bhender, jhambhu bighi, sotong, 

guawa, gothawas, kuyabas, koyabas, diabuto, kayawase, 

kojawase. 

b. Bagian yang dipakai   

Daun  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Pohon, tinggi mencapai 10 meter, tumbuh pada 

ketinggian 1-1200 m di atas permukaan laut. Batang bulat 

berkayu, kulit kayu licin, mengelupas, bercabang, warna 

coklat kehijauan. Daun tunggal bertangkai pendek, 

berhadapan, elips, ujung tumpul, pangkal