akaan
PEMERIKSAAN FORENSIK
Dari satu jenis luka tembak masuk akan dapat
memberi banyak informasi bagi kepentingan forensik.
Oleh sebab itu pada setiap luka tembak yang ditemukan
pada tubuh mayat perlu dipastikan lebih dahulu, luka mana
yang merupakan luka tembak masuk. Jika sudah dapat
dipastikan luka yang menjadi luka tembak masuk, maka
dengan pemeriksaan yang teliti akan dapat memberi
informasi untuk kepentingan forensik yaitu Proses
terjadinya tembakan dan konteks pemicu nya (kecelakaan,
bunuh diri atau pembunuhan), meliputi :
A. Senjata yang digunakan :
• Jenisnya
Dengan melihat ciri-ciri luka akan dapat ditentukan
apakah disebabkan oleh senjata api, senjata angin atau
shotgun.
• Kalibernya
Dengan melihat diameter cincin memar/ cincin lecet.
Kaliber ini ditentukan berdasar diameter lumen
dari laras, yang tidak selalu sama dengan diameter
dari peluru. Akibat adanya elastisitas kulit maka,
biasanya diameter anak peluru lebih besar dari
diameter cincin memar/ cincin lecet. Pada bagian
tubuh yang kulitnya sangat dekat dengan tulang,
maka diameter anak peluru hampir sama dengan
diameter cincin lecet/ memar. Sebab tulang dapat
menjadi penahan terhadap elastisitas kulit di atasnya
saat mendapat dorongan anak peluru.
B. Cara Melakukan Tembakan :
• Arah tembakan
Secara teori arah tembakan dapat ditentukan dengan
pasti, dengan menghubungkan luka tembak masuk
dan luka tembak keluar. Hanya saja luka tembak
keluar terkadang tidak selalu ditemukan. Kalaupun
ditemukan, terkadang luka ini terjadi sesudah
arah anak peluru berubah, sebab membentur tulang.
Selain itu terkadang jumlah luka tembak sangat
banyak, sehingga sangat sulit untuk menentukan luka
tembak masuk dan luka tembak keluar. Dalam
keadaan-keadaan ini maka perkiraan arah
tembakan dapat dilakukan dengan cara mencari posisi
lubang luka terhadap cincin lecet. Bila letak konsentris
(terpusat) maka, diperkirakan arah tembakan tegak
lurus terhadap sasaran dan bila episentris, maka
diperkirakan arah tembakan miring.
• Jarak tembak
Kecuali pada jarak tempel. Maka perkiraan jarak
tembak hanya dapat diperkirakan secara kasar.
Dengan melihat bentuk luka, atau produk-produk dari
ledakan mesiu. Penggunaan peredam suara dapat
mempengaruhi jangkauan dan bentuk penyebaran
jelaga, sehingga merancukan perkiraan jarak tembak.
Bila pada tubuh korban ada luka tembak masuk
dan tampak jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga
atau tattoo, maka perkiraan atau penentuan jarak tembak
tidak sulit. Kesulitan baru timbul bila tidak ada kelim-kelim
ini selain kelim lecet.
Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari
jarak dekat, maksimal 30 cm. Bila ada kelim tattoo, berarti
korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm, dan
seterusnya. Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya
yaitu sebagai berikut: “berdasar sifat lukanya luka
tembak ini merupakan luka tembak jarak jauh“, ini
mengandung arti :
1. Memang korban ditembak dari jarak jauh, yang berarti
diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu
yang tidak terbakar atau sebagian terbakar.
2. Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat,
akan namun antara korban dengan moncong senjata ada
penghalang, seperti bantal dan lain sebagainya.
3. Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak
yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15 cm (Idris,
1997).
Menurut hadikusumo (1998), luka tembak tempel
bentuknya seperti bintang, dengan gambaran bundaran
laras senjata api dengan tambahan gambaran vizierkorrel
(pejera, foresight). Akibat panasnya mulut laras. Bila
larasnya menempel pada kulit, gas peluru ikut masuk ke
dalam luka, dan berusaha menjebol keluar lagi lewat
jaringan disekitar luka.
Sementara luka tembak jarak dekat ada sisa mesiu
yang menempel pada daerah sekitar luka. Gambaran mesiu
ini tergantung jenis senjata dan panjang laras. Mesiu hitam
lebih jauh jangkauannya dari pada mesiu tanpa asap.
Sedangkan luka tembak jarak jauh, luka bersih dengan
cincin kontusio, pada arah tembakan tegak lurus permukaan
sasaran bentuk cincin kontusionya konsentris, bundar.Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan, oleh seorang dokter
di dalam proses pembuatan visum et repertum, antara lain :
1) Bila ada kasus penembakan, maka dalam visum
harus diperhatikan
Apakah luka ini benar disebabkan oleh peluru?
Luka tembak masuk atau keluarkah luka ini ? Sifat luka
(Jarak)? Arah masuknya peluru? Perkiraan posisi senjata
terhadap korban (ada halangan/ tidak)? Bila ada lebih dari
satu luka tembak, tentukan mana yang merupakan sebab
kematian? Jumlah dan jenis peluru yang masuk dan
perkiraan jenis senjata.
2) Terhadap Peluru
Beri tanda di basis dengan scapel untuk diidentifikasi.
Deskripsi dalam laporan: Bentuk, terbuat dari logam,
panjang, diameter, berat, jumlah dan arah alur. Dikirim ke
polisi peminta (atau bagian identifikasi senjata api) Kalau
ditemukan selongsongnya, beri tanda di badannya, bukan di
baju.
3) Terhadap tersangka penembak
Lakukan test diphenylamine (Nitrat), Bahan yang
diperiksa, seperti tangan atau pakaian tersangka. Cara
memeriksa, kertas saring dicelup dalam reagens kemudian
ditempel pada tangan dan pakaian ini . Hasil : bila
positif, warna ungu.
4) Cara pengiriman barang bukti
Adapun barang bukti yang diperlukan, yakni: Senjata
api didapatkan dari tersangka, korban dan atau di TKP.
Anak peluru didapatkan dari tubuh korban dan atau di TKP.
Selongsong peluru didapatkan bersama-sama senjata api
dan atau di TKP. Mesiu didapatkan dari tangan, luka
tembak masuk, pakaian. Peluru didapatkan dari tesangka,
luka dan senjata api. Pecahan logam yang diperkirakan ada
hubungannya dengan mesiu didapatkan di TKP
5) Cara-cara pengambilan dan pengawetan barang
bukti
Senjata api Pungut pada bagian pelindung penarik
dengan memakai ibu jari dan telunjuk kemudian
letakkan pada sehelai karton dan dibungkus, diikat pada
bahagian tengah dan ujung-ujungnya sehingga tidak
bergerak (agar jangan rusak sidik jari jika ada). Anak Peluru
harus dijaga jangan sampai rusak dan mengalami
perubahan. Mengeluarkan anak peluru dari tubuh korban
dilakukan oleh dokter.
Pengambilan anak peluru dengan jari (jangan sampai
memakai besi) lalu dibalut dengan kapas dan cara
memegang anak peluru dengan memakai ujung jari
telunjuk dan ibu jari pada ujungnya. Selongsong peluru
Cara mengambilnya dengan memakai jari telunjuk dan ibu
jari, pungut pada bagian ujung atas serta jangan tergores.
Mesiu Sisa mesiu diambil dengan memakai lelehan
parafin atau dengan memakai kapas yang telah
dibasahi dengan HNO3 5%. Cara pengambilannya sama
dengan cara mengambil anak peluru.(5)
6) Cara pembungkusan barang bukti
Anak peluru atau selongsong dibungkus dengan
kapas, ditaruh dalam kotak dan dibungkus lagi dengan
kertas pembungkus, diikat dengan tali tanpa sambungan,
diberi label yang berisi catatan tentang peluru dan lain-lain
serta disegel. Kemudian dibuat berita acarapembungkusan
dengan penyegelan. Bila ditemukan anak peluru lebih dari
satu, harus dicatat dimana ditemukan dan dipisahkan satu
sama lain dengan membungkusnya terpisah pula, sebab
ada kemungkinan penembakan dilakukan oleh lebih dari
satu orang.(1)
7) Cara pengutaraan jarak tembak di dalam VER
Bila pada tubuh korban ada luka tembak masuk
dan ada jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau kelim
tattoo, maka perkiraan atau penentuan jarak tembak tidak
sulit. Bila ada kelim jelaga, berarti ditembak pada jarak dekat
dengan maksimal 30cm. Bila ada kelim tattoo, berarti
ditembak pada jarak dengan maksimal 60 cm. Bila ada kelim
lecet, cara pengutaraannya sebagai berikut : ”berdasar
sifat lukanya, luka tembak ini merupakan luka tembak
jarak jauh” yang berarti :
• Memang ditembak dari jarak jauh, yang berarti di luar
jangkauan atau jarak tempuh butir- butir mesiu yang
tidak terbakar atau sebagian terbakar.
• Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat,
akan namun antara korban dengan moncong senjata ada
penghalang, seperti bantal dan sebagainya.
• Bila ada kelim api, berarti bahwa korban ditembak dari
jarak sangat dekat sekali yaitu maksimal 15 cm.(4,5)
Bila pada mayat ditemukan luka tembak masuk jarak
dekat atau pada mayat ditemukan sisa mesiu pada
tangannya, maka dilakukan test parafin untuk mengang kat
sisa mesiu. Tempat sekitar luka tembak masuk dibendung
dengan kardus, kemudian dituangkan parafin cair, di atas
parafin lalu diletakkan kain kasa, kemudian dituangkan
parafin cair lagi. Dengan adanya kain kasa, parafin yang
membeku tidak mudah retak bila diangkat (dikenal sebagai
test parafin).(3,4,5) Pada beberapa keadaan, pemeriksaan
terhadap luka tembak masuk sering dipersulit oleh adanya
pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat
dilakukan dengan baik, akibat penafsiran atau kesimpulan
mungkin sekali tidak tepat.
Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan
ini dapat dilakukan prosedur sebagai berikut :
Luka tembak dibersihkan dengan hidrogen perokside
(3% by volume). sesudah 2-3 menit luka ini dicuci
dengan air, untuk membersihkan busa yang terjadi dan
membersihkan darah. Dengan pemberian hidrogen
perokside tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas,
sehingga diskripsi dari luka dapat dilakukan dengan akurat.
Selain secara makroskopik, yaitu dengan perangai yang
karakteristik pada luka tembak masuk, tidak jarang
diperlukan pemeriksaan khusus untuk menentukan secara
pasti bahwa luka ini luka tembak masuk; ini
disebabkan oleh sebab tidak selamanya luka tembak masuk
memperlihatkan ciri-ciri yang jelas. Adapun pemeriksaan
khusus yang dimaksud yaitu : pemeriksaan mikroskopik,
pemeriksaan kimiawi dan pemeriksaan radiologik.
Pemeriksaan Mikroskopik
Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor;
trauma mekanis dan termis
Luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat :
1. Kompresi ephitel, di sekitar luka tampak epithel yang
normal dan yang mengalami kompresi, elongasi dan
menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari
inti sel.
2. Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat
bercampur dengan butir-butir mesiu.
3. Epitel mengalami nekrose koagulatif, epitel sembab,
vakuolisasi sel-sel basal.
4. Akibat panas, jaringan kolagen menyatu dengan
pewarnaan HE akan lebih banyak mengambil warna
biru (basofilik staining).
5. Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis
(kelainan ini paling dominan) dan adanya butir-butir
mesiu.
6. Sel-sel pada dermis intinya mengkerut, vakuolisasi
dan pignotik.
7. Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak
beraturan, berwarna hitam atau hitam kecoklatan.
8. Pada luka tembak tempel “hard contact” permukaan
kulit sekitar luka tidak ada butir-butir mesiu atau
hanya sedikit sekali, butir-butir mesiu akan tampak
banyak dilapisan bawahnya, khususnya disepanjang
tepi saluran luka.
9. Pada luka tembak tempel “soft contact” butir-butir
mesiu ada pada kulit dan jaringan dibawah kulit.
10. Pada luka tembak jarak dekat, butir-butir mesiu
terutama ada pada permukaan kulit, hanya
sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit
Pemeriksaan Kimiawi
Pada “black gun powder” dapat ditemukan kalium,
karbon, nitrit, nitrat, sulfis, sulfat, karbonat, tiosianat dan
tiosulfat. Pada “smokeles gun powder” dapat ditemukan
nitrit dan selulosa nitrat. Pada senjata api yang modern,
unsur kimia yang dapat ditemukan ialah timah, barium,
antimon dan merkuri.
Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan
dari peluru sendiri dapat di temukan ialah timah, antimon,
nikel, tembaga, bismut perak dan thalium. Pemeriksaan atas
unsur-unsur ini dapat dilakukan terhadap pakaian,
didalam atau di sekitar luka, Pada pelaku penembakan,
341
unsur-unsur ini dapat dideteksi pada tangan yang
menggenggam senjata.
Pemeriksaan dengan Sinar X
Pemeriksaan secara radiologik dengan sinar X ini pada
umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak
peluru dalam tubuh korban, demikian pula bila ada partikel-
partikel yang tertinggal. Pada “tanden bullet injury” dapat
ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya
hanya satu. Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet
tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak
dengan senjata jenis “shoot gun” ,yang tidak beralur,
dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet. Bila
pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban
ditembak oleh senjata jenis rifled.
Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk
lanjut atau telah rusak sedemikian rupa, sehingga
pemeriksaan sulit, maka dengan pemeriksaan radiologi ini
akan dengan mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan
ditemukannya anak peluru pada foto rongent (Idris, 1997).
Pramono (1996) menyatakan luka tembak masuk dilukis
dalam keadaan asli atau dibuat foto. Pada luka tembak jarak
dekat dibuat percobaan parafin, yang kegunaannya untuk
menentukan sisa mesiu pada tangan penembak atau sisa-
sisa mesiu sekitar luka tembak untuk jarak dekat.
AKIBAT TRAUMA TEMBAK
Lubang tembak di kepala dan yang menembus tempurung kepala
Kerusakan pada kepala umumnya berupa pecahnya
tulang tengkorak kepala pada LTM dan pada LTK. Pada
LTM, lubang pada tabula eksterna akan lebih kecil
dibanding dengan lubang pada tabula interna sehingga
membentuk corong yang membuka ke dalam. Pada LTK,
lubang yang terjadi pada tabula interna akan lebih kecil
dibanding dengan lubang pada tabula eksterna sehingga
membentuk corong yang membuka keluar. Pecahnya tulang
tengkorak kepala biasanya disertai dengan rusaknya
jaringan otak yang jelas dapat memicu kematian.
B. Leher
Luka tembak di leher
Robeknya arteri karotis maupun vena jugularis serta
rusak dan hancurnya tenggorokan maupun kerongkongan
dapat memicu perdarahan yang hebat dan terhentinya
sistem pernafasan, sehingga memicu kematian.
C. Dada Dan Perut Serta Panggul
Luka tembak di dada yang mengenai organ jantung
Pada organ yang berongga seperti jantung dan
kandung kencing bila terkena tembakan dan kedua organ
ini sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole),
maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila
dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan
kandung kencing yang kosong : hal ini disebabkan
sebab adanya penyebaran tekanan hidrostatik keseluruh
bagian. Paru yang terkena saluran anak peluru dapat
memicu kolap, dan memicu gagalnya fungsi
pernafasan.
D. Anggota Gerak Atas Dan Bawah
Bila peluru mengenai anggota gerak berupa pecahnya
tulang-tulang (tulang panjang) pada anggota gerak tidaklah
membawa dampak yang terlalu berbahaya.Yang menjadi
perhatian yaitu saat pembuluh darah arteri ikut robek
yang dapat memicu perdarahan yang banyak
Misalnya arteri radialis pada daerah lengan, dan arteri
femoralis pada tungkai bawah.(4)
Demikian sedikit pembahasan tentang trauma/ luka
tembak. Semoga kiranya dapat bermanfaat untuk kita
semua. Saran dan kritik yang membangun sangatlah
KESIMPULAN
1) Pada prinsipnya pemeriksaan korban luka tembak,
sama dengan pemeriksaan luka pada trauma lain,
namun ada satu yang spesifik yaitu, para dokter harus
mengetahui dan memahami tentang senjata api,
amunisi dan peluru.
2) Sedangkan trauma atau luka tembak itu sendiri yaitu
luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru
atau persentuhan anak peluru dengan tubuh akibat
adanya factor kecepatan, sehingga menembus kulit
dan masuk ke dalam tubuh serta merusak jaringan
tubuh di dalamnya.
3) Senjata api yaitu suatu senjata yang memakai
tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan
proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi
melalui larasnya. Atau dengan definisi lain yaitu
suatu alat yang dapat mengeluarkan peluncur atau
proyektil (anak peluru) dengan memakai daya
pengembang/ tekanan gas yang dihasilkan oleh
pembakaran bahan ledakan atau mesiu.
TRAUMA KIMIA
TRAUMA ASAM KUAT DAN
BASA KUAT
A. LATAR BELAKANG
Trauma akibat bahan kimia yang bersifat asam dan
basa meskipun jarang ditemukan pada negara maju, namun
sering terjadi di negara-negara berkembang. Trauma yang
terjadi seringkali diakibatkan oleh sebab kecelakaan
dimana didapatkan penggunaan bahan-bahan kimia yang
bersifat asam dan basa, namun trauma yang terjadi dapat
pula diakibatkan oleh sebab suatu pembunuhan atau usaha
bunuh diri yang dilakukan atas kemauan korban itu
sendiri.(1,2,3)
Trauma akibat bahan kimia dibagi menjadi dua.
Pertama, golongan asam, seperti asam mineral, asam
organik, garam mineral atau halogen. Kedua, golongan basa,
seperti amonium hidroksida, natrium hidroksida atau
kalium hidroksida. Anak-anak dan orang dewasa memiliki
risiko yang sama untuk terpapar bahan kimia yang akan
memicu trauma. (1,8)
Trauma yang terjadi akibat bahan kimia basa memiliki
risiko tinggi terjadinya kematian bila dibandingkan dengan
trauma akibat asam. Mekanisme terjadinya trauma akibat
bahan kimia yang bersifat asam dan basa yaitu berbeda.
Pada trauma akibat asam penetrasi terhadap jaringan pada
umumnya hanya terbatas daerah yang terpapar oleh bahan
kimia itu saja, sedangkan pada trauma akibat basa justru
memicu penetrasi yang dalam pada jaringan yang
terkena.(6,7)
B. DEFINISI
Asam ialah setiap persenyawaan elemen elektronegatif
dengan satu atau lebih atom hidrogen yang dengan mudah
dapat diganti dengan atom elektropositif, persenyawaan
yang dalam larutan air mengalami disosiasi dengan
terbentuknya ion-ion hidrogen ( proton ), substansi yang
molekul atau ionnya dapat melepaskan proton ( pada basa
), yang mampu menerima sepasang electron dan
membentuk ikatan kovalen sederajat. Asam memiliki
rasa masam, mampu mengubah kertas lakmus biru menjadi
merah dan bergabung dengan basa membentuk garam.(9)
Basa ialah suatu persenyawaan yang membentuk
sabun yang dapat larut dalam asam lemak, mengubah
lakmus merah menjadi biru dan membentuk karbonat yang
dapat larut.(9)
Racun korosif yaitu golongan racun yang bersifat
merusak atau menghancurkan jaringan tubuh. Asam kuat
dan basa kuat merupakan bahan kimia yang merupakan
bagian dari racun korosif.(9)
Alkali yaitu salah satu kelas persenyawaan, yang
membentuk sabun, yang dapat larut dalam asam lemak,
mengubah litmus merah menjadi biru dan membentuk
karbonat yang larut, Pada pokoknya merupakan hidroksida
dari sesium, litium, kalium, rubidium dan natrium,
termasuk karbonat logam dan dari amonia. (9)
Caustic artinya membakar atau korosif, destruktif bagi
jaringan hidup, memiliki rasa yang membakar agen
eskarotik atau korosif. (9)
Saponifikasi artinya proses mengubah lemak menjadi
sabun dan gliserol dengan memanasi bersama alkali. Dalam
ilmu kimia hidrolisis suatu ester oleh alkali, yang
menghasilkan alkohol bebas dan garam alkali dari asam
ester. (9)
C. EPIDEMIOLOGI
Angka mortalitas dan morbiditas kasus luka bakar
akibat zat kimia yang bersifat korosif kurang lebih 20
kematian tiap tahun dengan angka rata-rata kurang dari 1 %.
Angka morbiditas pada keracunan yang berat kurang dari
1%. Insiden yang disebab kan zat yang bersifat basa
memiliki angka resiko kematian lebih tinggi dari pada zat
yang bersifat asam. Bahan pencuci pakaian berhubungan
dengan keracunan berat pada 1-2 % kasus dengan angka
kematian rata-rata kurang dari 0.1 %.(10)
Pada tahun 2003, the American Association of Poison
Control Centers ( AAPCC ) melaporkan 22.000 kasus trauma
asam, 50.500 kasus trauma basa, 16.272 kasus trauma akibat
peroksida dan 54.300 kasus trauma akibat zat pemutih.
Selama waktu itu, 2.322 kasus trauma sebab fenol atau
produk-produk fenol. Pemaparan terhadap produk yang
bersifat asam dan zat kimia lainnya memicu 20
kematian, 120 kasus keracunan berat dan 2.362 kasus
keracunan sedang. Pemaparan terhadap produk yang
bersifat basa dan kimia lainnya memicu 12 kematian,
233 kasus keracunan berat dan 4.014 keracunan sedang.
Pemaparan terhadap peroksida dilaporkan tidak ada
kematian, 8 kasus keracunan berat dan 217 kasus keracunan
sedang. Pemaparan terhadap zat pemutih dan produk yang
mengandung klorat memicu 1 kematian, 62 kasus
keracunan berat dan 2.533 kasus keracunan sedang.
Keracunan fenol dilaporkan tidak ada kematian, 9 kasus
keracunan berat dan 242 kasus keracunan sedang.(10)
Insiden pada anak dan dewasa untuk terjadinya
trauma akibat zat asam basa yaitu sama. Pada anak yang
lebih kecil angka kejadian lebih sering terjadi sebab
kurangnya pengawasan dari orang tua. Pada anak yang
lebih besar dan dewasa muda terjadi sebab tingkah laku
dan keinginan untuk mencoba hal yang baru.(9)
Di Bangladesh angka kejadian luka bakar akibat zat
asam sebesar 8,76 % dari total angka kejadian luka bakar,
pemicu yang paling sering yaitu asam sulfat, asam nitrat
dan asam hidroklorit. Angka kejadian pada perempuan
sebesar 72,78 % dengan usia rata-rata 21 tahun. Pencetus
terjadinya trauma akibat zat asam disebabkan oleh
perselingkuhan dan penolakan lamaran ( 44,3 % ),
perselisihan (30,37 % ) kecelakaan industri ( 8,22 % )
ketidaksengajaan ( 4,48 % ) dan pemicu lainnya ( 12,03 % ).
Lokasi terjadinya trauma ini bervariasi dapat di tempat
kerja (27,85 % ), di rumah ( 26,58 % ), di jalan ( 25,95 % ) dan
di tempat pendidikan ( 19,62 % ). (10)
D. PATOFISIOLOGI
Zat asam didefinisikan sebagai donor proton ( H+ ) dan
zat basa didefinisikan sebagai penerima proton ( OH- ). Basa
disebut juga alkali. Asam dan basa dapat disebut juga zat
kaustik, yang dapat memicu kerusakan jaringan bila
terpapar. Kekuatan asam berkaitan seberapa cepat zat
ini melepaskan proton, kuatnya basa berhubungan
dengan seberapa cepat zat ini mengikat proton.
Kekuatan asam basa diukur dengan skala pH, dengan nilai
antara 1-14, asam kuat memiliki pH 1 dan basa kuat
memiliki pH 14. Sedangkan PH 7 yaitu pH netral.(1)
Kontak dengan bahan kimia asam dan basa akan dapat
memicu terjadinya trauma, namun mekanisme
terjadinya luka atau trauma ini yaitu berbeda. Pada
trauma yang disebabkan oleh bahan kimia asam, akan
terjadi koagulasi serta nekrosis jaringan melalui proses
denaturasi protein pada jaringan yang terkena. Koagulasi
yang terbentuk akan menghambat penyebaran luka,
sehingga luka yang terjadi akibat bahan kimia asam hanya
bersifat lokal atau terbatas pada daerah dimana jaringan
ini terpapar oleh bahan kimia asam. Pengecualian
terjadi pada penggunaan asam hidrofluoro ( HF ),
menghasilkan nekrosis yang akan mengalami pencairan (
liquefaction necrosis ), serupa dengan trauma akibat bahan
kimia yang bersifat basa.(6)
Asam hidrofluoro memiliki ciri yang unik, yaitu dapat
dengan cepat menembus permukaan kulit hingga mengenai
pembuluh darah, memungkinkan terjadinya pelepasan ion
florida dengan cepat. Ion florida kemudian akan berikatan
dengan kalsium, memicu terjadinya hipokalsemia dan
proses kalsifikasi yang dapat memicu kematian.(6)
Trauma akibat bahan kimia basa juga dapat
memicu terjadinya liquefaction necrosis dan lebih
berpotensi memicu bahaya dibandingkan trauma
akibat asam. Bahan kimia bersifat basa akan menghancurkan
jaringan dengan cara denaturasi protein serta lemak yang
ada pada jaringan. Berbeda dengan trauma akibat asam
dimana penetrasi terhadap jaringan terbatas oleh sebab
terjadinya koagulasi, trauma akibat basa justru
memicu penetrasi yang dalam pada jaringan yang
terkena.(6)
Tingkat keparahan dari luka bakar berhubungan
dengan beberapa faktor yaitu, pH zat, konsentrasi zat,
lamanya kontak, lokasi, volume atau jumlah zat yang
memapar dan bentuk fisik dari zat. Tertelannya zat padat
yang bersifat basa dapat memicu kontak lama pada
lambung dan memicu luka bakar berat pada lambung.
Efek jangka panjang pada kulit akibat luka bakar terjadinya
skar dan tergantung lokasinya. Luka bakar okular akibat zat
ini dapat memicu kekeruhan kornea dan
kebutaan. Luka bakar pada oesofagus dan lambung dapat
memicu striktur.(1)
Zat-zat kimia korosif yaitu unsur yang menyebab-
kan kerusakan pada bagian tubuh jika terkena zat ini
akibat koagulasi protoplasma, pengendapan dan penguraian
protein serta penyerapan air. Asam dapat bersifat korosif,
iritan dan neurotik.(1)
Cara kerja asam yang bersifat korosif : (11)
• Mengesktraksi air dari jaringan.
• Mengkoagulasi protein menjadi albuminat.
• Mengubah hemoglobin menjadi asam hematin.
Ciri-ciri dari luka yang terjadi akibat zat-zat asam
korosif : (11)
• Terlihat kering.
355
• Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan
oleh asam nitrit berwarna kuning kehijauan.
• Perabaan keras dan kasar.
Basa memiliki sifat korosif dalam konsentrasi yang
pekat dan bersifat iritan pada konsentrasi yang lebih encer.
Cara kerja zat basa korosif : (11)
• Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga
membentuk alkaline albumin dan sabun.
• Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematin.
Ciri-ciri luka yang terjadi akibat persentuhan dengan
zat-zat ini yaitu : (11)
• Terlihat basah dan edematous.
• Berwarna merah kecoklatan.
• Perabaan lunak dan licin.
E. GAMBARAN KLINIS TRAUMA ASAM KUAT
DAN BASA KUAT
Gambaran khas yang penting dalam membedakan
trauma disebabkan oleh sebab bahan kimia bersifat asam
kuat atau bahan kimia bersifat basa kuat yaitu bahwa
trauma akibat basa dapat merusak jaringan tidak hanya kulit
namun hingga mengenai jaringan dibawahnya termasuk
pembuluh darah sehingga memiliki gambaran klinis yang
lebih berat dibandingkan dengan trauma akibat asam yang
hanya terbatas mengenai permukaan yang terpapar oleh zat
kimia asam.(6)
Secara umum, gambaran klinis lain oleh sebab
trauma akibat bahan kimia asam maupun basa yang bersifat
korosif tidak akan menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Kerusakan yang terjadi biasanya lebih bersifat struktural bila
dibandingkan dengan tingkat keracunan dari bahan kimia
itu sendiri, kecuali bila korban terpapar bahan kimia
ini untuk waktu yang lama.(6)
Semua bahan kimia yang bersifat korosif memiliki
gambaran klinis yang sama dimana dapat ditemukan bahan
kimia di sekitar tubuh korban, kulit mengalami erosi akibat
bahan kimia ini , lidah tampak seperti terbakar,
berkerut, disertai bercak-bercak erosi sepanjang sudut
mulut, dagu, leher serta dada. Pola luka terbakar yang
tampak pada bibir juga dapat menunjukkan wadah tempat
bahan kimia ini ditempatkan saat dimasukkan ke
dalam mulut. Bila korban dalam keadaan duduk atau
berdiri, bercak erosi yang terjadi akibat bahan kimia akan
dapat ditemukan hingga dada serta perut korban. Bila dalam
posisi tidur atau terlentang, bercak erosi akan ditemukan
pada daerah pipi, yang kemudian menuju ke daerah
belakang leher.(6,12)
Mulut bagian dalam akan mengalami erosi, lidah akan
membengkak, sesuai dengan sifat bahan kimia yang
dipergunakan. Faring, laring dan esofagus juga akan
mengalami erosi, dan bila korban masih dapat bertahan
hingga beberapa menit maka glotis akan mengalami edema.
Bahan kimia yang mengenai laring dan saluran jalan napas
akan memicu kerusakan mukosa jalan napas dan bila
terjadi aspirasi bahan kimia ini masuk ke dalam paru-
paru maka secara cepat akan memicu terjadinya
edema paru dan perdarahan hebat.(6,12)
Bila proses berlanjut mengenai esofagus bagian bawah
serta lambung, kerusakan akan dengan cepat terjadi pada
daerah ini berupa perubahan warna, terlepasnya epitel
yang melapisi organ ini ( deskuamasi ) dan kadang
kala terjadi perforasi. Bila korban masih dapat bertahan,
bahan kimia yang bersifat korosif ini akan masuk kedalam
usus halus, namun keadaan ini jarang sekali terjadi oleh
sebab terjadi spasme dari pilorus serta waktu yang
dibutuhkan agar bahan kimia ini mencapai usus halus
dengan kemampuan tubuh korban bereaksi terhadap bahan
kimia ini tidak sebanding.(6)
Sebagian besar kematian terjadi sebab bahan kimia
masuk ke dalam paru dan memicu terjadinya edema
paru. Namun, bila korban dapat hidup sesudah beberapa
hari, kemungkinan kematian akan terjadi oleh sebab
adanya bronkopneumonia yang hebat.(6)
Tanda dan gejala yang tampak akibat bahan kimia
asam maupun basa akan memiliki mekanisme yang berbeda
pada tiap jaringan yang terpapar. Hal ini sangat bergantung
pada keadaan tubuh serta cara kerja bahan kimia ini
seperti bau dan sediaan yang digunakan.(7)
Trauma yang terjadi bisa memicu kematian
namun bisa juga memicu gangguan sistemik yang ada
di dalam tubuh dimana orang yang mengalami trauma
masih hidup. Pada kasus hidup, diperlukan auto dan
alloanamnesa untuk mendapatkan informasi sebanyak-
banyaknya tentang waktu terjadinya, awal timbulnya gejala,
perkembangan, makanan serta minuman dicerna ada
tidaknya riwayat trauma yang sama sebelumnya, sedang
dalam keadaan depresi atau terlibat pertikaian, serta perlu
juga dilakukan penilaian terhadap bahan yang diduga
sebagai alat tentang bau, warna, konsistensi, rasa, serta
jumlah. sesudah anamnesa yang lengkap dan terarah,
dilakukan pemeriksaan menyeluruh mencakup tanda dan
gejala yang ada dan disertai dengan pemeriksaan penunjang
laboratorium.(7)
Pada kasus kematian, dilakukan alloanamnesa
terhadap polisi dan keluarga korban yang kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan paska kematian baik
pemeriksaan luar maupun dalam, analisa kimia terhadap
cairan tubuh, serta pemeriksaan cairan dalam organ tubuh.(7)
Trauma terhadap asam dan basa dapat terjadi melalui
beberapa cara, antara lain secara oral atau mulut ( paling
sering ), inhalasi atau terhirup oleh bahan kimia ini ,
secara parenteral ( intramuskular, intravena, subkutan
ataupun intradermal ), pada lubang lain yang ada pada
tubuh manusia ( hidung, anus, vagina atau uretra ), dan juga
pada luka maupun pada kulit yang normal (
memicu luka bakar ).(7,13) Faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya luka atau trauma akibat bahan
kimia asam atau basa, antara lain kuantitas, konsentrasi,
bentuk dan bahan kimia yang digunakan, cara pemberian,
keadaan lambung, usia, keadaan umum atau fisik tubuh,
ada tidaknya penyakit, bahan kimia kumulatif, toleransi
tubuh terhadap bahan kimia, dan idiosinkrasi.(7,14)
Semakin banyak bahan kimia yang digunakan,
semakin cepat bahan kimia ini bereaksi dan semakin
tinggi risiko terjadinya kematian. Hal yang sama juga terjadi
jika konsentrasi bahan kimia yang digunakan semakin
tinggi. Sediaan yang digunakan juga berpengaruh pada
trauma yang terjadi akibat bahan kimia. Sediaan yang
berbentuk gas akan dengan cepat diabsorbsi dan sangat
efektif. Begitu juga dengan sediaan cair bila dibandingkan
dengan sediaan padat. Keadaan umum pasien yang baik,
faktor usia, serta tidak adanya penyakit yang diderita juga
akan mempengaruhi toleransi terhadap bahan kimia bila
dicerna di dalam tubuh.(7,15)
Lambung yang sedang terisi oleh makanan akan
mempengaruhi kerja bahan kimia dengan cara
memperlambat absorbsi atau penyerapan bahan kimia
dalam tubuh. Keadaan yang sama juga terjadi jika bahan
kimia masuk ke dalam tubuh atau terpapar pada saat
sedang dalam keadaan istirahat atau tidur.(7,15)
Trauma asam dan basa dapat terjadi di berbagai
macam tempat oleh sebab bahan kimia yang bersifat asam
dan basa dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan
sehari-hari. Trauma dapat terjadi di dalam rumah (
penggunaan desinfektan, detergen, antiseptik, insektisida ),
daerah pertanian dan perkebunan ( obat-obatan
anti hama ), daerah industri atau pabrik, maupun pusat
perbelanjaan. Trauma asam dan basa juga dapat terjadi
sebagai akibat penggunaan obat-obatan yang salah, pada
makanan dan minuman, serta pada berbagai macam barang
lainnya.(7,15)
Kasus yang dapat terjadi oleh sebab trauma yang
disebabkan oleh bahan kimia asam dan basa dapat berupa
kasus pembunuhan, upaya bunuh diri atau terjadi sebab
kecelakaan. Secara klinis tidak ada perbedaan yang nyata
dalam membedakan kasus pembunuhan atau bunuh diri
akibat trauma kimia asam dan basa, namun perbedaannya
dapat dilihat dari segi penggunaan bahan-bahan kimia. Pada
359
kasus bunuh diri dan pembunuhan, bahan kimia yang
digunakan biasanya mudah untuk didapat, tidak memiliki
rasa atau manis, tidak berbau, tidak memicu perih,
harganya murah, sangat beracun, dapat digunakan bersama
dengan makanan dan minuman. Perbedaan yang ada yaitu
pada kasus pembunuhan, bahan kimia yang digunakan
biasanya tidak berwarna, tidak memiliki sisa residu saat
digunakan, tanda dan gejala yang tampak menyerupai suatu
penyakit yang terjadi secara alami, tidak memiliki antidotum
dan tidak ada tanda-tanda perubahan pada pemeriksaan
postmortem.(5,6)
F. KLASIFIKASI
1. Asam Mineral ( Asam Anorganik-Corrosive
Inorganic Acids ) :
• Asam Sulfat ( H2SO4 ).
• Asam Klorida / Hidroklorida ( HCl ).
• Asam Nitrat ( HNO3 ).
• Asam Fluorida ( HF ).
• Asam Sulfur ( H2S ). (16)
2. Asam Organik ( Corrosive Organic Acids ) :
• Asam Oksalat.
• Asam Asetat.
• Asam Sitrat.
• Asam Karbolat ( Carbolic Acid dan Phenol ).
• Asam Salisilat. (16)
• Asam Formiat. (1,8)
3. Asam Sayuran ( Vegetable Acid ) :
• Asam Hidrosianat ( Hidrocianic Acid ).
4. Garam Mineral : (1,8)
• Perak nitrat ( AgNO3 ).
• Zinc Chlorida.
5. Halogen : (1,8)
• Florida.
• Chlorin.
• Iodine.
• Bromine.
360
6. Kaustik Alkali ( Basa = Caustic Alkali ) :
• Natrium Hidroksida. ( NaOH )
• Kalium Hidroksida. ( KOH )
• Kalsium Hidroksida. ( CaOH )
• Natrium Karbonat.
• Kalium Karbonat.
• Amoniak. ( NH4OH ) (12)
Beberapa gambar korban, pada kasus trauma akibat
asam kuat dan basa kuat
1 2
3 4
361
5 6
7 8
362
9 10
11
363
BAB. II
TRAUMA ASAM KUAT
I. ASAM MINERAL(12,17)
Asam bertindak sebagai zat korosif pada bentuk yang
pekat, sebagai zat iritan pada bentuk sedikit larut dan
bertindak sebagai stimulan pada bentuk yang sangat larut.
1. GEJALA KLINIS ANTEMORTEM
Berikut ini merupakan gejala-gejala yang timbul bila
menelan asam yang pekat :
a. Rasa terbakar pada mulut, kerongkongan, oesofagus
sampai ke lambung.
b. Vomitus yang mengandung darah, mukus dan
sobekan dari membran mukosa. Pada kasus dimana
asam ditelan dalam jumlah besar, tidak akan timbul
vomit oleh sebab seluruh permukaan dari lambung
terusak.
c. Adanya daya dorong yang kuat.
d. Sudut mulut ikut rusak.
e. Gigi menjadi berwarna putih seperti kapur.
f. Lidah menunjukkan tanda-tanda korosif.
g. Suara menjadi serak dan parau oleh sebab edema
laring.
h. Pada beberapa kasus ( pada waktu asam sulfur
digunakan sebagai racun ) perforasi akan
memicu kolapsnya pasien secara tiba-tiba.
i. Konstipasi. Dapat timbul diare bercampur darah dan
robeknya membran mukosa ( jarang ).
364
j. Pupil menjadi dilatasi dan mata terlihat liar dan
tenggelam.
k. Disfagia.
l. Urin dalam jumlah sedikit dan miksi terasa sangat
sakit.
2. pemicu KEMATIAN
a. Segera
• Syok.
• Kegagalan respirasi oleh sebab spasme atau edema
glotis.
• Perforasi lambung yang memicu peritonitis.
b. Lambat
• Absorbsi septik.
• Kelelahan dan malnutrisi oleh sebab kelaparan
yang disebabkan oleh sebab sikatrisasi dan
stenosis dari esofagus dan laring.
• Dispepsia yang tidak dapat disembuhkan.
3. GAMBARAN POST-MORTEM
Hal ini tergantung dari :
• Kekuatan dari asam.
• Kuantitas dari asam yang digunakan.
• Waktu pasien bertahan hidup sesudah meminum
asam.
a. Jika kematian timbul dalam waktu singkat akan
terjadi :
• Tanda-tanda korosif dan destruksi dari mulut,
kerongkongan, esofagus dan lambung.
• Bisa ada perforasi dari lambung sehingga
memicu kebocoran isi lambung ke dalam
rongga peritoneal atau adanya destruksi dari
peritoneum dan organ-organ abdomen.
b. Jika pasien hidup untuk beberapa hari akan terjadi :
• Tanda-tanda proses penyembuhan menghasilkan
pembentukan gumpalan dan sikatrisasi.
365
A. ASAM SULFAT ( SULPHURIC ACID / H2SO4 )
Diambil dari : Nervi, Stephen J, Burns, Chemical,
www.emedicine.com, June 20th ,2006)
1. Sifat-sifat
Asam sulfat murni merupakan cairan tidak berwarna,
berat, higroskopis, seperti minyak, tidak menghasilkan gas.
Bila dicampur air akan menghasilkan panas dan volumenya
menyusut. Dalam konsentrasi yang tinggi ( 90-95 % ) dengan
cepat akan menghancurkan bahan-bahan organik dan
menghitamkannya ( mengkarbonisasi ).(12,18,19)
Pakaian atau kertas yang terkena asam ini akan rusak
atau hancur dan meninggalkan noda merah kecoklatan.
366
Asam sulfat yang biasa dijumpai di pasaran berwarna coklat
atau gelap dan biasanya tidak murni, bercampur dengan
bahan lain, seperti timbale sulfat, arsen, asam nitrat dan
nitrogen oksida. Konsentrasi vitriol oil mengandung asam
sulfat sekitar 95-98 %, brown oil of vitriol mengandung 75-80
%, sedangkan asam baterai dalam accu mengandung 25-30
% dengan berat jenis 1,2-1,26.(12,18)
2. Gejala-gejala
• sebab afinitasnya yang tinggi terhadap air ( efek
higroskopis ) sehingga jaringan akan mengalami
dehidrasi. sebab temperaturnya yang sangat tinggi,
akan memicu luka bakar.
• Lidah bengkak dan ditutupi selaput yang putih,
kadang-kadang bisa memicu bentuk seperti
suatu massa jaringan ( berbenjol-benjol ).
• Gigi berwarna putih seperti kapur. Email rusak dan
tidak berkilat.
• Bila bengkak dan mengalami ekskoriasi asam menetes
dari sudut bibir menuju dagu/ leher, sehingga bekas
akan berwarna hitam.
• Hipersalivasi selama beberapa hari ( jika korban masih
hidup ).
• Bahan muntahan berwarna coklat atau kehitaman.
• Urine mungkin berwarna biru.
3. Dosis Fatal
Efek berbahayanya lebih tergantung pada
kepekatannya daripada jumlahnya. Dosis fatal dewasa
untuk asam sulfat pekat yaitu 5-20 ml, anak-anak 2 ml.
4. Periode Fatal
Terjadi dalam 18-24 jam akibat kombinasi dari shock
dan asidosis. Biasa lebih cepat terjadi bila diikuti edema dan
spasme laring. Bila dimuntahkan maka asam dapat terhirup
atau terjadi perforasi lambung pada pemakaian stomach
tube. Bisa terjadi kematian lebih lama akibat sebab sekunder
atau striktura oesophagus.
367
5. Gambaran Post Mortem
• Pemeriksaan luar : ada tanda-tanda korosif,
warna luka bakar mula-mula abu-abu lalu dengan
cepat berubah menjadi coklat atau hitam. Kulit yang
terbakar ini kemudian akan menjadi keras sekali
seperti perkamen. Untuk itu perlu dibedakan dengan
luka lecet. sebab reaksi peradangan yang hebat,
dapat terjadi pembengkakan pada bibir dan mulut.
• Pemeriksaan Dalam : selama asam sulfat bekerja
secara lokal maka pada pemeriksaan dalam hanya
terbatas pada traktus digestivus bagian atas saja dan
traktus respiratorius. Pada traktus digestivus, mulai
dari mulut sampai dengan lambung dapat ditemukan
reaksi peradangan yang hebat, edema disertai
perdarahan interstitial yang hebat. Mukosa atau
seluruh dinding lambung menebal. Pada daerah-
daerah yang terkena akan berwarna coklat atau hitam
dan pada perabaan rapuh. Perforasi lambung sering
terjadi dan memicu komplikasi Chemical
Peritonitis. Terhadap tanda-tanda korosif pada usus
halus sebab asam ini dapat menetes pada usus
halus sesudah lambung mengalami perforasi. Hati dan
ginjal mengalami perubahan perlemakan ( fatty
change ) bila sempat penderita bertahan hidup lama.
Darah beku bisa ditemukan dalam pembuluh darah.
Pada traktus respiratorius, sebab regurgitasi isi
lambung, terjadi aspirasi maka pada laring dan trakea
ada tanda-tanda korosif.
6. Pemeriksaan kimia
Perubahan bahan organic dari asam dilakukan dengan
cara filtrasi atau dialysis. Barium Nitrat ditambahkan
sehingga membentuk barium sulfat dan akan tampak
berupa endapan berwarna putih.
7. Aspek Medikolegal
Asam sulfat yang diperdagangkan memicu
mudah diperoleh dipasaran dan bisa dipakai untuk
pembunuhan atau bunuh diri sehubungan rasanya yang
asam dan perubahan fisik berupa kelainan warna
368
memicu jarang dipakai untuk pembunuhan. Pada
anak-anak sering terjadi kecelakaan sebab biasa dikelirukan
dengan glycerin atau castor oil atau disangka sirup. Sering
juga disalah gunakan untuk melakukan tindakan aborsi
dengan memasukkannya kedalam vagina.
8. Penyiraman asam pada wajah ( Vitriot Trowing/
Vitriolage )
Yaitu tindakan dimana asam sulfat pekat disiramkan
seseorang untuk merusak wajah atau untuk membunuh
orang lain. Tentu akan tampak lesi local pada wajah, bila
mengenai mata akan terjadi konjungtival edema, hancur
kornea, dan akhirnya menjadi buta. Cucilah bagian yang
terkena dengan air mengalir, bilas dengan sabun, atau
sodium/ kalsiumbicarbonat encer. Atau taburi kemudian
dengan tepung NaCO3 atau MgO dengan salapnya. Pada
anak, mata yang terkena irigasi dengan larutan yang
menandung sodium bikarbonat 1gr dalam 1 gram air, lalu
tetesi dengan kastrol oil atau olive oil.
B. ASAM NITRAT ( HNO3 ) (5,12,16)
1. Sifat-sifat
Asam nitrat pekat merupakan cairan bening, tidak
berwarna. Reaksi dengan udara akan mengeluarkan asap/
uap yang tidak berwarna dan baunya tidak enak.
Merupakan oksidan kuat dan dapat menghancurkan semua
logam kecuali emas dan platina. Yang ada dipasaran
berwarna kuning sampai warna merah kecoklatan,
merupakan asam nitrit komersial yang mengandung oksida
nitrogen.
2. Gejala-gejala dan tanda-tanda khusus
• Bibir, lidah dan mukosa mulut lunak dan putih,
kemudian berubah menjadi kering sebab
pembentukan asam xantoproteic dari protein.
• Email gigi menjadi rusak dan gigi menjadi kuning.
• Muntah yang bercampur darah berwarna kuning
kecoklatan.
369
• Dapat terjadi oliguri, anuri dan adanya albuminuria.
• Menghirup asam nitrat dapat terjadi lakrimasi, sesak
nafas yang dapat memicu kematian mendadak
atau mati lemas sebab edema paru dan
bronkopneumonia.
3. Dosis Fatal
Sebanyak 8 ml asam nitrat dapat memicu
kematian pada anak-anak. Pada orang dewasa pada keadaan
tertentu tergantung lamanya kontak pada kerongkongan,
saluran nafas dan saluran cerna.
4. Periode Fatal
Lamanya 12-24 jam.
5. Gambaran Post Mortem
• Kulit dan membrane mukosa pada system pencernaan
berwarna kuning.
• Saluran nafas tampak tersumbat dan tampak edema
paru, bila kematian sebab terhirup gas/ asap asam
nitrat.
• Kadang-kadang dapat dijumpai peradangan pada
lapisan membrane atrium jantung korban.
6. Aspek Medikolegal
Keracunan asam ini jarang terjadi. Biasa sebab
kecelakaan atau yang tidak sengaja sebab
kontaminasi. Dapat pula terjadi keadaan bunuh diri
( suicide ).
370
Diambil dari : A.Y, Al Aali et A, Bestoun H, Nitric Acid Burn,
www.hmc.org.qa/mejem/mar2003/cr/39.htm, Maret 2003
C. ASAM KLORIDA ( HCl ) (12,16)
Trauma akibat asam hidroklorida
1. Sifat-Sifat
Tidak berwarna, bau sangat merangsang dan larut
sempurna dalam air.
2. Gejala-Gejala
• Gejalanya lebih ringan dari asam nitrat dan asam
sulfat.
371
• Pakaian yang berwarna gelap akan menjadi merah
kecokelatan jika terkena asam ini, mulut dan mukosa
tidak mengalami perubahan warna.
• Dapat terjadi hipersalivasi, konvulsi, delirium dan
paralysis tungkai.
• Keracunan kronis yang menghirup asam dari HCl
dapat mengalami coryza, nausea, nyeri pada dada,
peradangan gusi.
3. Dosis Fatal
Biasanya 15-20 ml asam pekat. Dosis fatal Forcast yang
pernah dilaporkan yaitu 3,5 ml pada anak wanita
umur 15 tahun.
4. Periode Fatal
24-36 jam.
5. Gambaran Post Mortem
• Tidak ada perubahan warna pada kulit dan membran
mukosa.
• Kulit menjadi keras dan mengalami fragmentasi.
• Membran mukosa pada lambung berwarna putih
kelabu, disertai dengan adanya beberapa tempat yang
mengalami korosif dan berwarna hitam.
• Jarang ditemukan adanya perforasi, hanya biasanya
tampak gambaran gastritis akut.
• Bila kematian sebab menghirup uap, maka paru-paru
tampak kongesti dan edema.
6. Aspek Medikolegal
Umumnya kecelakaan atau upaya bunuh diri.
D. ASAM SULFUR ( H2S ) (12,16)
Asam sulfur murni merupakan cairan yang berat dan
tidak berwarna. Asam ini tidak memancarkan api saat
terekspose dengan udara. saat air ditambahkan akan
bertambah panas. Jika berkontak dengan setiap material
organik, kulit atau tekstil akan mengubah warnanya menjadi
hitam seperti arang.
1. Tanda dan gejala yang khusus
• Asam sulfur memiliki afinitas yang tinggi terhadap
air ( efek higroskopis ) oleh sebab itu jaringan
menjadi dehidrasi. Oleh sebab peningkatan suhu
yang sangat tinggi akan timbul luka bakar.
• Lidah menjadi bengkak dan ditutupi dengan lapisan
putih.
• Gigi menjadi berwarna putih kapur dan kehilangan
warna aslinya.
• Bibir juga bengkak dan ada ekskoriasi. Asam mengalir
dari sudut mulut ke dagu, sehingga menghasilkan
warna kehitaman pada jalur yang dilalui asam.
• Hipersalivasi untuk beberapa hari.
• Urin berwarna kebiruan.
2. Dosis fatal
5-100 ml
3. Periode fetal
18-24 jam
4. Gambaran post-mortem
• Striktur oesofagus.
• Dinding lambung hitam. Perforasi sering terlihat pada
fundus lambung. Bagian yang lain meradang dan
berwarna kemerahan.
• Tanda-tanda korosif pada usus halus oleh sebab asam
turun ke usus sesudah lambung mengalami perforasi.
• Hepar dan ginjal menunjukkan perlemakan jika pasien
bertahan hidup.
• Koagulasi darah.
5. Tes kimia
Pemisahan dari campuran organik dari asam
dilakukan dengan cara filtrasi atau dialisis. Barium
nitrat ditambahkan sehingga terbentuk Barium sulfat.
6. Aspek medikolegal
• Kegunaannya paling sering untuk tujuan bunuh diri.
• Jarang digunakan sebagai racun untuk pembunuhan
pada anak-anak dan pasien tidak sadar.
Penyiraman asam pada wajah
Dampak lokal pada kulit yaitu berupa jejas yang
permanen. Jika permukaan tubuh yang terkena sangat luas
bisa memicu kematian. Jika mengenai kornea akan
memicu buta.
II. ASAM ORGANIK (9,13,16,17,18)
A. ASAM OKSALAT
1. Sifat-Sifat
Tidak berwarna, bentuk kristal, larut dalam air dan
alkohol.
2. Penggunaan
• Sebagai bahan pemutih untuk menghilangkan bercak
pada pakaian.
• Sebagai bahan pewarna pada proses pencetakan dan
mengkilatkan besi.
3. Gejala-Gejala
• Bereaksi secara lokal dan sistemik.
• Muntah terus menerus dan bisa sampai mati.
• Pada awalnya sering tidak disertai diare
• Tenesmus 2-3 hari, kemudian timbul oliguria yang
disertai diuresis.
• Rasa terbakar pada mulut, tenggorokan dan
oesophagus, perasaan tercekik pada tenggorokan.
• Pada tahap awal dapat terjadi anuria kemudian
perlahan-lahan jumlah urine semakin meningkat.
• Albumin pada urine tidak begitu banyak secara
mikroskopik akan tampak adanya sel darah merah,
silinder hialin dan banyak kristal oksalat.
• Kegagalan peredaran perifer semakin lama semakin
nyata.
• Kemudian kebas di kaki dan mati rasa anggota badan.
• Pasien mengalami uremia lalu koma, kontraksi otot
dan kejang mungkin terjadi pada waktu koma sebelum
pasien meninggal sehingga pasien tidak bisa buka
mulut.
4. Dosis Fatal
Rata-rata 15 gr ( 10-30 gr ).
5. Periode Fatal
Sangat singkat yaitu 3-10 menit, rata-rata 1-2 jam.
6. Pengobatan
• Bilas lambung lakukan secara hati-hati dan hanya
pada kasus tertentu saja.
• Berikan 2 sendok teh kalsium laktat, dimana akan
memicu terbentuknya kalsium oksalat yang
tidak larut sehingga tidak dapat diserap.
• Kalsium glukonas 10 ml secara sistemik ( IV ) sebagai
antidotum.
• Morfin dapat diberi untuk mengatasi nyeri.
• Mencegah kerusakan renal flow ( aliran ginjal )
haruslah dipertahankan pemberian infus cairan
glukosa kira-kira 2-4 ml/ hari.
• Isi lambung dikeluarkan secara enema.
• Jangan gunakan larutan yang bersifat basa sebab
akan memicu pembentukan garam yang mudah
larut dan bersifat racun.
7. Gambaran Post Mortem
• Bila asam ini pekat, ditemukan tanda-tanda korosif
pada mulut, kerongkongan, oesophagus dan lambung.
Membran mukosa berwarna putih, keriput dan mudah
lepas dari jaringan di bawahnya.
• Kadang-kadang mukosa berwarna hitam akibat
bekuan darah.
• Permukaan esophagus bergerombol.
• Cairan lambung berwarna coklat kehitaman dengan
usus tampak bagian atas mengalami hyperemia dan
kongesti.
• Pada ginjal, tubulus ginjal berisi kristal oksalat yang
merupakan tanda khas dari keracunan asam oksalat.
• Organ-organ lain ( otak, liver, paru-paru dan lain-lain )
dapat tampak mengalami kongesti.
8. Aspek Medikolegal
Kecelakaan ( accidental ) lebih sering terjadi daripada bunuh
diri ataupun pembunuhan yang sangat jarang terjadi.
B. ASAM ASETAT
Asam asetat dibentuk sewaktu pembusukan dari
bahan organic tertentu. Asam asetat murni berbentuk padat
seperti es dibawah suhu 16 °C, oleh sebab itu disebut juga
asam asetat glacial. Di atas suhu ini berbentuk cairan
tidak berwarna dengan bau tajam. asam yang pekat bersifat
korosif sementara yang larut bersifat iritan.
1. Gejala klinis
ada nyeri terus menerus mulai dari mulut sampai
lambung, vomitus juga sering terjadi. Gejala lain termasuk
kesulitan untuk menelan, konvulsi, dan kolaps. Asam
menjadi bersifat menguap, juga ada batuk-batuk dan
komplikasi pada laring. Hemoglobinuria sering terlihat pada
urin. Konjungtivitis dapat timbul. Membran mukosa dan
bagian lain dari tubuh yang berkontak dengan asam menjadi
lunak dan berwarna putih kekuningan.
2. Dosis fatal
60 ml
3. Periode fatal
1-48 jam
4. Gambaran postmortem
Baunya yang timbul merupakan kriteria diagnostik.
Iritasi merupakan efek yang utama. Juga bisa ada erosi
dari membran mukosa mulut, esofagus, lambung dan usus
halus, tergantung dari kekuatan asam. Traktus respiratorius
atas kongestif.
5. Aspek medikolegal
Keracunan asam ini terjadi tidak sengaja oleh sebab
meminum asam asetat pekat. Asam yang larut banyak
ditemukan di rumah-rumah dalam bentuk vinegar.
Sehingga pada negara-negara berkembang sering digunakan
untuk bunuh diri.
C. ASAM SALISILAT (13,14)
Asam salisilat sebagian besar digunakan untuk
pengobatan penyakit kulit. Zat ini dapat memicu
iritasi pada mukosa membran gaster. Bentuk asam salisilat
ini berupa sodium salisilat, metil salisilat dan asam asetil
salisilat.
1. Gejala klinis
Asam salisilat dan bentuk-bentuknya dapat
memicu iritasi gastrointestinal. Gejala lainnya berupa
pusing, banyak berkeringat, dehidrasi, asidosis,
kebingungan, delirium dan koma, serta dapat terjadi
perdarahan pada membran mukosa. Kematian dapat terjadi
sebab kolaps kardiovaskular atau kegagalan pernapasan.
Metil salisilat dapat memicu gastroenteritis yang
diikuti oleh asidosis, hiperpireksia dan kematian.
2. Dosis fatal :
5-10 gm.
3. Periode fatal :
4-7 hari.
4. Gambaran postmortem :
Terdiri dari gastroenteritis dan perdarahan
submukosa. Pada ginjal ada tanda-tanda iritasi, adanya
edema paru dan kongesti organ-organ viseral. ada
gambaran petechie pada cortex ginjal dan otak.
5. Aspek medikolegal
Keracuan ini terjadi biasanya sebab kecelakaan. Asam
salisilat di absorbsi oleh kulit dan memicu timbulnya
gejala keracunan jika terkena permukaan kulit atau kulit
yang intak.(1)
C.a. Metil Salisilat
1. Sifat-Sifat
Merupakan hasil dari Natrium peroksida + CO2.
Sifatnya tidak berwarna, berbentuk kristal padat dan
rasanya sedikit manis, larut sebagian dalam air dingin
dan larut sempurna dalam air panas, alkohol, eter dan
khloroform. Sebagai anti fermentasi dan anti
pembusukan untuk pemakaian luar pada beberapa
pemyakit kulit.
2. Gejala-Gejala
Akan timbul rasa panas dalam tenggorokan dan
lambung, perdarahan terjadi akibat kerusakan
mukosa, misalnya epistaksis, perdarahan pada retina (
amblyophia ), ginjal ( hematuria ) dan dapat
memicu abortus. Kematian umumnya sebab
kolaps jantung dan kegagalan pernafasan.
C.b. Asam Asetyl Salisilat
1. Sifat-Sifatnya
Bentuk biasanya tablet dengan nama lain Aspirin,
merupakan hasil dari reaksi anhydrida asam asetat /
asetylklorida + asam salisilat. Bentuk kristal, warna putih,
tidak berbau dengan rasa sedikit asam, sebagian larut dalam
air dan larut sempurna dalam alcohol / eter.
2. Gejala-Gejala
Gejala keracunan berupa sakit kepala, telinga
berdengung, dapat terjadi ketulian, rasa haus, juga bisa
timbul kegagalan ginjal sehingga harus memerlukan
tindakan hemodialisa.
3. Dosis Fatal
Dosis maksimum 3-6 gr Aspirin.
4. Periode Fatal
Bervariasi dari beberapa menit sampai beberapa jam.
5. Pengobatan
Kumbah lambung dengan air bersih/ garam fisiologis.
Pada pasien tidak sadar dengan larutan bikarbonas
konsentrasi rendah. Dapat diberi arang aktif untuk
mengurangi konsentrasi. Untuk meningkatkan aliran darah
ke ginjal, dapat diberi larutan glukosa 5 % dalam saline/ IV
atau natrium bikarbonat 2 % dalam saline untuk akselerasi
salisilat yang meninggi, membantu dehidrasi dan mencegah
muntah. Untuk asidosisnya dapat diberikan larutan laktat.
Mengatasi pembuluh darah yang kolaps diberikan
noradrenalin drips 8 mg/ liter.
6. Gambaran Post Mortem
Mukosa lambung dijumpai bintik-bintik perdarahan
dan lesi menggaung yang ada pada daerah nekrosis.
Pada otak dan organ-organ dalam tubuh dapat terjadi
perdarahan.
7. Aspek Medikolegal
Lebih sering sebab kecelakaan ( seperti : salah makan
obat ) daripada pembunuhan atau bunuh diri.
D. ASAM KARBOL (13,14)
Yang termasuk golongan ini yaitu Cresol ( methyl
phenol ), Lysol ( Cresol + Larutan sabun ), Dettol (
Chloroxylenol ) dan Hexachlorophene. Asam karbolat saat
berada dalam bentuk cairan konsentrat bertindak sebagai
korosif, memicu membran mukosa yang berkontak
berwarna putih dan menyusut. Pasien dengan cepat berada
dalam keadaan koma, oleh sebab asam ini mempengaruhi
kerja sistim saraf pusat. Fenomena yang khas, urin yang
berwarna hijau gelap atau kehitaman sering terlihat sesudah
terkena asam ini.(1)
Asam karbolat berbentuk kristal yang tidak berwarna,
di mana jika bereaksi dengan udara akan berwarna merah
muda. Pasien dengan cepat menjadi koma sebab asam ini
mempengaruhi kerja sistim saraf pusat. Fenomena yang
khas berupa urin berwarna hijau gelap atau kehitaman.
Keracunan asam karbolat dikenal juga dengan sebutan
karbolism.(12)
Gambaran klinis antemortem akibat trauma asam
karbolat dapat berupa perasaan terbakar dan mati rasa pada
sistem pencernaan, sebab efek anestesi ini maka
jarang terjadi mual dan muntah. Membran mukosa sistem
pencernaan berwarna putih dan keras. Penderita merasa
sakit kepala dan pusing, perlahan-lahan akan terjadi
insensitif secara umum dan akhirnya memasuki tahap koma.
Pupil mengalami miosis. Jumlah urin sangat sedikit dan
pada saat berkemih warna urin berubah menjadi hijau
kerena terbentuknya hasil oksidasi dari asam karbolat yaitu
hidroquinon dan pirokatekol. Jika penderita bisa bertahan
dalam 24 jam pertama maka ada kemungkinan untuk
sembuh.(12)
Gambaran postmortem dapat berupa perubahan
warna kulit yang terkena menjadi pucat atau kekuningan.
Kulit dapat terkelupas dan berwarna putih jika
konsentrasinya sangat pekat. Membran mukosa mulut dan
esofagus mengalami korosif, berwarna putih, lembab,
ada bagian yang terkelupas sebab adanya perdarahan
submukosa. Dari mulut tercium bau asam karbolat.
Membran mukosa lambung dan usus halus menjadi keras,
berwarna coklat, kasar, memiliki tonjolan lipatan yang
jelas dan mungkin tampak bintik-bintik perdarahan. Kedua
ginjal membesar, meradang dan menunjukkan bercak
perdarahan. Jaringan otak akan mengalami edema dan
kongesti. Dosis fatal asam karbolat yaitu 60 ml dengan
periode fatal berkisar antara 3-4 jam.(12)
D.a PHENOL
1. Sifat-Sifat
Larutan tidak berwarna, kristalnya berbentuk jarum
yang berwarna agak merah jambu yaitu bila terkena udara.
Rasanya agak manis dan memiliki bau yang khas yaitu “
Carbolic Smell “. Phenol juga mudah larut dalam air,
alkohol, eter dan gliserin.
2. Dosis Letal
8-15 gr ( 2 ml ) per-oral.
3. Absorpsi dan Gejala
Phenol dapat diabsorpsi melalui kulit yang normal
atau yang sakit, traktus digestivus, traktus urogenitalis,
rektum dan traktus respiratorius. Eliminasi melalui urine
dalam waktu 36 jam akan dieliminasikan seluruhnya. Di
dalam urine diperoleh dalam bentuk Hydroguinone atau
Pyrocatechine, yang memicu urine warna hijau
kecokelatan dan bila ditambah FeCl3 akan memberi
warna biru ( phenol ) dan hijau ( Cresol ). Phenol
memiliki efek lokal dan sistemik sebab phenol
merupakan fat soluble depressant, berpengaruh terhadap
susunan saraf pusat sehingga terjadi paralysis otot
pernafasan.
4. Gambaran Post Mortem
Pemeriksaan luar : korosif pada bibir dan jaringan
disekitarnya yang berwarna abu-abu keputihan, warna ini
lama-lama oleh sebab pengeringan akan berwarna lebih
gelap ( coklat ). Juga mungkin didapatkan kelainan yang
sama di daerah jari-jari tangan. Dari sudut mulut dan
hidung dapat tercium bau yang khas ( carbolic smell ).
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar dapat pula
ditemukan.
Pemeriksaan dalam : tanda-tanda korosif akan
ditemukan pada traktus digestivus mulai dari mulut sampai
lambung, kelainan yang paling jelas ada di lambung
yaitu berupa : Lambung akan kaku, keras, perabaan kasar
seperti meraba kulit, mukosa membengkak dan ditutupi
oleh lapisan membran yang berwarna abu-abu atau
kecokelatan dan memberi gambaran seperti perak (
silvery appearance ). Kelainan ini tampak jelas pada
lipatan-lipatan mukosa. Oleh sebab koagulasi pada tempat
ini tidak terjadi atau jika terjadi hanya ringan saja, sering
pula didapati mukosa yang terlepas / nekrotik, dan jaringan
dibawahnya tampak kongestif. Bau yang khas dari phenol
dapat tercium. Pada traktus respiratorius akan didapatkan
kelainan yang serupa, terutama jika terjadi aspirasi dari isi
lambung. Pembengkakan ( edema ) pada laring dan paru-
paru akan didapatkan terutama jika uap phenol yang diisap.
D.b. LYSOL
Gambaran post mortem pada keracunan Lysol, agak
sedikit berbeda, yaitu : lambung tidak mengeras namun
malah melunak dan pada perabaan mukosanya licin oleh
sebab terjadi proses penyabunan dan warna mukosa pada
keracunan Lysol yaitu coklat tua atau coklat kemerahan.
Warna ini disebabkan sebab terbentuknya hematin-
alkali.
III. VEGETABLE ACID
A. ASAM HIDROSIANIDA (12)
Asam hidrosianida termasuk asam yang bersifat
neurotik dan merupakan salah satu bahan yang mematikan.
Dengan dosis kurang dari satu sendok teh asam
hidrosianida 2 % sudah memicu kematian. Bila
diberikan dalam dosis fatal gejala keracunan asam ini akan
terjadi dalam waktu yang singkat sebagai konsekuensi dari
cepatnya absorbsi lambung dan peredaran melalui
pembuluh darah.
Onset gejala timbul dalam hitungan detik. Korban
masih dapat melalukan beberapa gerakan spontan sebelum
gejala awal timbul. Pertama-tama korban akan merasa sulit
bernafas, detak jantung melambat, dengan kecenderungan
organ-organ lain untuk ikut berhenti dan berdilatasi.
Bersamaan dengan terjadinya dilatasi pupil, pasien akan
mengalami gerakan konvulsi yang tidak teratur. Irama gerak
nafas terganggu, wajah kebiruan, pasien terjatuh secara
spontan sebab hilangnya seluruh kekuatan otot.
Akhirnya dapat terjadi tahap asfiksia dimana
pernafasan terengah-engah, denyut nadi hilang dan terjadi
paralisis gerak. Biasanya kematian didahului oleh spasme
otot. Gejala-gejala di atas, cepatnya kematian dan bau asam
yang khas dari nafas dan lingkungan sekitar tubuh pasien
dapat memberi petunjuk mengenai pemicu nya (12)
IV. GARAM MINERAL (20)
A. AGNO3 (PERAK NITRAT) :
Dalam bidang medis, sering digunakan untuk kaustik.
Gejala terpapar zat ini seperti, nyeri tenggorokan, nyeri
perut, muntah isi lambung yang bercampur dengan darah
atau muntahan berwarna hitam, vertigo, spasme, gagal
nafas. Pada penampakan, mulut dan tenggorok dapat
terlihat zat yang berwarna perak putih yang kemudian jadi
gelap, membran mukosa dari saluran cerna juga tampak
terwarna dan mengalami korosi. Isi lambung ditampung
guna pemeriksaan toksikologi. Pada pemberian garam perak
untuk periode yang lama dapat terjadi deposit,
penampakannya yaitu warna metalik pada jaringan ikat,
kulit dan organ dalam seperti hepar, ginjal. Proses ini terjadi
berbulan-bulan.(15)
B. ZINC CHLORIDE :
Merupakan garam yang larut air. Dahulu digunakan
untuk melapisi kayu rel kereta api agar tidak dimakan
serangga, sekarang digunakan sebagai disinfektan,
pengawetan mayat, untuk kauterisasi ulkus. Jika terpapar
atau tertelan zat ini, ada gambaran luka bakar pada
kulit, korosif pada saluran pencernaan, terbentuk membran
putih dengan pengelupasan mukosa diatasnya, sehingga
dasarnya terlihat berwarna merah coklat. Perforasi dari
saluran pencernaan dapat terjadi. Garam Zinc ini dapat
diekskresi oleh usus besar dan ginjal. Pada autopsi, selain
menampung isi lambung, dapat diperiksa juga organ
ginjal.(14)
V. HALOGEN
Yang termasuk golongan halogen seperti Chlorine,
fluorine, iodine, Bromine. Semuanya memiliki sifat korosif
kuat. Berikut ini yaitu bahan-bahan yang digunakan
sehari-hari : Chlorine merupakan gas berwarna hijau jingga.
Merupakan disinfektan dan juga digunakan sebagai zat
bleaching. Terpapar gas chlorine memicu iritasi
konjungtiva, dyspnae, sianosis, asfiksia, spasme laring dan
kematian dapat terjadi sebab refleks spasme laring. Pada
paru terjadi edema masif (14)
Fluorine merupakan bagian dari Asam Hidrofluorik
dan Natrium Fluoride. Natrium Fluoride ini digunakan pada
racun tikus. Sering disalah gunakan untuk bunuh diri
dengan menelannya. Akibatnya terjadi nyeri epigastrium,
dispnea, disfagia, nausea dan muntah. sesudah bahan
ini diabsorbsi dapat terjadi kelemahan jantung,
gangguan fungsi neuromuskular, gangguan sistemik seperti
albuminuria, anemia dan secara mikroskopis ada
nekrosis dari membran mukosa. Kematian dapat terjadi 45
menit hingga 4 jam sesudah menelan zat ini . Dosis
fatalnya 5-10 gram. (14)
TRAUMA BASA KUAT
A. BASA KUAT – KAUSTIK ALKALI (12,18,21)
Alkali atau basa kuat beberapa diantaranya digunakan
dalam bidang kesehatan atau dalam industri lainnya.
Misalnya digunakan sebagai bahan pemutih. Secara umum
bahan-bahan alkali ini memiliki sifat :
• Beberapa berbentuk cairan ( ammonium hidroksida )
dan sebagian dalam bentuk padat atau dalam pelarut
air.
• Ammonium hidroksida memicu bau sedangkan
lainnya pada umumnya tidak berbau.
• Semuanya memicu rasa terbakar jika berkontak
dengan tubuh.
B. TANDA DAN GEJALA
Bila tertelan, memicu rasa bakar pada mulut,
tenggorokan dan lambung, dijumpai muntah yang berisi
darah dan mukosa lambung. Muntahan bersifat basa dengan
lapisan mukosa lambung menjadi halus, warna putih, jernih,
kadang juga dijumpai berwarna merah kecoklatan. Bila
mengenai mata akan merusak jaringan mata, lebih berat dari
pada terkena asam. Kematian biasanya oleh sebab shock
atau respiratory distress.
pemicu korosif yang utama pada golongan basa
yaitu basa inorganik seperti Hidroksida dan karbonat yang
berikatan dengan Natrium dan Kalium, Larutan alkali,
Ammonium Hidroksida atau NH4OH, Kalsium Oksida. Basa
385
dapat memicu perlukaan membran sel, membentuk
reaksi penyabunan dengan protoplasma dan menghasilkan
hematin alkali jika bereaksi dengan hemoglobin. Pengaruh
kimiawi terhadap tubuh dari basa berbeda dengan pengaruh
asam.
Basa memicu luka terbuka yang tampak
bengkak, basah, lunak, warna merah atau coklat yang
merupakan hasil dari imbibisi pigmen darah serta
memberi sensasi seperti menyentuh sabun pada
perabaan. Namun jarang memicu perforasi seperti
pada asam. (20)
Basa bersifat korosif dalam konsentrasi yang pekat dan
bersifat iritan pada konsentrasi yang lebih encer.(20)
saat basa kuat tertelan, bibir, kulit sekitar mulut,
dan lidah terlihat seperti terbakar bentuknya sesuai saat basa
melewatinya sehingga mengesankan bentuk tertentu (
geografik ) dan ada area berwarna abu-abu putih
diantara epidermis yang membengkak dan berwarna merah.
Kondisi yang sama dapat ditemukan di dalam mulut dan
tenggorok.
Membran mukosa dari oesofagus biasanya rusak dan
ada pembengkakan, warna merah coklat serta
permukaannya jika diraba lunak dan basah. Dalam
lambung, ada berbentuk pembengkakan, licin dan
berwarna merah tua, coklat tua hingga hitam. Pada
duodenum dan jejenum atas dapat terpapar basa,
tergantung dari sfingter pylori yang merupakan pintu
menuju usus halus. Gambarannya secara makrosopis
menunjukkan inflamasi seperti yang terjadi pada lambung
namun keparahannya tergantung dari paparan basa
terhadap dinding usus. (20)
Jika seseorang dapat bertahan dan pulih dari gejala-
gejala korosif, inflamasi pada dinding saluran pencernaan
dapat berkurang dalam beberapa bulan, sesudah itu akan
terjadi fibrosis pada dinding saluran pencernaan, hal ini
memicu peny








