Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label formularium herbal 3. Tampilkan semua postingan

formularium herbal 3




  s/d 4800 mg/kg BB tikus diberikan selama 

3 bulan per oral tidak menimbulkan kelainan pada organ 

vital. Pada tikus hamil 7 hari dosis 96, 960, 4800 mg/kg BB 

setiap hari selama 16 hari tidak menimbulkan efek 

teratogenik 

 

- 95 - 

 

f. Data manfaat 

Uji klinik: 

Efek P. niruri terhadap pembentukan batu (calcium stone 

forming/CSF) dilakukan pada 69 pasien yang dialokasi secara 

random untuk mendapat P. niruri (n=33) (3 x 1 kapsul 

450 mg) atau plasebo (n=36) selama 3 bulan. Diamati P. niruri 

menurunkan kalsium urin secara bermakna pada pasien 

hiperkalsiuri (4.8±1.0 vs 3.4±1.1 mg/kg/24 jam, P < 0.05). 

Studi dilakukan pada 150 pasien batu ginjal kalsium 

oksalat dengan ukuran 25 mm. 72 pasien (48%) kontrol 

mendapat ESWL 1 - 3 kali, 78 (52%) ESWL dikombinasi 

dengan  ekstrak  P. niruri (2 g/hari) selama 3 bulan. Setelah 

180 hari kondisi stone-free rate (tidak ada batu atau ada 

residu < 3 mm) yaitu  93.5% pada ESWL dan 83.3% pada 

kelompok  kombinasi (p = 0.48). 

Untuk batu yang lokasi lebih bawah (56 pasien) stone-

free rate pada kelompok 1 yaitu  93,7% dan pada kontrol 

70,8% (p = 0.01). Disimpulkan stone-free rate berbeda 

bermakna sehingga meningkatkan efektivitas ESWL pada 

batu yang terletak lebih rendah. P. niruri juga 

memperlihatkan efek antispasmodik bermakna, yang 

merelaksasi otot polos sehingga batu lewat lebih mudah. P. 

niruri juga menunjukkan efek analgesik. 

g. Indikasi  

Nefrolithiasis 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Dapat menimbulkan aborsi. Pemakaian berlebih dapat 

memicu  impotensi. 

j. Efek Samping 

Pemakaian secara luas tidak dilaporkan memiliki  efek 

samping berbahaya. 

k. Interaksi  

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (450 mg ekstrak)/hari.  

 


 

4. Sembung  

Blumea balsamifera (L) DC 

Suku: Compositae 

    

Gambar 31.  Daun Sembung 

  

a. Nama daerah 

Sembung utan, kemandin, sembung gontung, sembung 

gula, sembung kuwak, sembung iningsa, sembung langu, 

afoat, sembung lelet, capa, capo. 

b. Bagian yang dipakai  

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perdu tinggi lebih dari 4 m. Batang tegak bulat, warna 

hijau, bagian atas batang berbulu lebat dan aromatis. Daun 

tunggal, tersebar, bagian bawah berbulu rapat dan halus 

seperti beludru, bagian atas agak kasar, berbentuk lonjong, 

panjang 6-40 cm dan lebar 1,5-20 cm, pangkal dan ujung 

daun meruncing. Tepi bergerigi, pertulangan daun menyirip. 

Terdapat  2-3 daun tambahan pada pangkal daun. Bunga 

majemuk, bertangkai, berbentuk tandan, terdapat di ketiak 

daun dan ujung batang, warna mahkota bunga putih 

kekuningan. Bentuk buah kotak silendris, keras, berambut, 

warna putih kecoklatan. Biji pipih, berwarna putih. Akar 

tunggang warna putih susu. 

d. Kandungan kimia 

Mengandung minyak atsiri (sineol, borneol, limonene), 

asam miristat, asam palmitat, flavonoid total tidak kurang 

dari 1.20% (dihidrokuersetin-4’ metal eter dan 

dihidrokuersetin-7,4’-dimetil eter). Daun mengandung 3,4’,5-


 

trihidroksi-3’,7-dimetoksiflavanon, 3’,4’,5-trihidroksi-7-

metoksiflavanon dan senyawa 3-O-7’-biluteolin 

e. Data keamanan  

LD50 : 62 g/kg AAM = 40 kg dosis tunggal serbuk 

sembung = 80,000 dosis tunggal tablet. LD50 = 500 mg/dosis .  

f. Data manfaat 

Dari ekstrak  metanol Blumea balsamifera, 

dihydroflavonol, (2R,3S)-(−)-4′-O-Methyldihydro quercetin, dan 

7 senyawa diisolasi. Senyawa 1–4 dan    6–8 memperlihatkan 

aktivitas inhibitor xanthine oxidase yang bermakna yang 

tergantung konsentrasi, senyawa 1,6 dan 8 memperlihatkan 

aktivitas inhibisi yang lebih poten, dengan IC50 antara 0,23-

1,91 µm, daripada kontrol positif allopurinol (IC50 2,50 µm).  

Uji klinik:  

Uji klinik terbuka untuk mengevaluasi efektivitas dan 

keamanan tablet sembung 40 mg/kg BB/hari (dibagi menjadi 

3 dosis) terhadap 18 pasien usia 22-60 tahun dengan batu 

ginjal (diameter terbesar > 5 mm) selama 6 minggu disertai 

minum minimal 3 L/hari. Mayoritas batu soliter (78%), 

multipel (22%), dan 90% radio-opaque. Kebanyakan terletak 

di calyx (89%) dan 83% diameter yang soliter > 5-10 mm. 

Setelah 6 minggu tidak ada perubahan bermakna volume urin 

24 jam, protein, kreatinin, kalsium atau asam urat. Asam 

urat serum, kalsium, FBS, BUN, kreatinin, potassium, klorida 

tidak dipengaruhi oleh sembung. Pada radiografi pasasi 

komplit terdapat pada 10 pasien (55,6%), pada 6 pasien 

(33,6%) jumlah batu berkurang dan pada 2 pasien tidak ada 

perubahan. Perbaikan radiografi keseluruhan 89.2% dengan 

keluarnya urin berpasir. Efek samping pada 2 pasien (11%) 

yaitu nyeri  epigastrik dan konstipasi. Disimpulkan sembung 

40 mg/kg BB/hari selama 6 minggu menghasilkan perbaikan 

objektif (radiografik atau keluar batu) pada 89.2% pasien. 

Evaluasi global menunjukkan sembuh sempurna 55,6; parsial 

33,6 dan gagal 11,1%.  

Studi untuk menentukan aktivitas inhibisi xanthine oxidase 

dilakukan dengan allupurinol sebagai kontrol positif dengan 

nilai IC 50 6,1 μg/mL. Persen inhibisi aktivitas inhibitor 

xanthine oxidase ditentukan melalui slope absorbance 

- 98 - 

 

terhadap waktu (detik). Nilai IC50  diperoleh melalui slope 

kadar (200, 100, 25 μg/mL) terhadap persen inhibisi dari tiap 

konsentrasi. 

Ekstrak metanol B. Balsamifera 100 μL memperlihatkan 

inhibisi > 25%. Nilai IC50 yang menghambat > 50% yaitu 

79,67%. Uji klinik fase II membandingkan  plasebo dan tablet 

sembung 40 mg/hari pada 23 pasien dengan urolithiasis,  

selama 4 minggu. Kebanyakan pasien memiliki  batu soliter 

(80%) dengan ukuran > 5 mm dan radio-opaque. Hasil 

menunjukkan plasebo dan sembung tidak mempengaruhi, 

volume urin, pH, protein, kreatinin, serta asam urat dan 

kalsium urin dan serum secara bermakna. Efektivitas 

keseluruhan 72% dibanding plasebo. Hasil radiografik 

menunjukkan penurunan ukuran batu, dan kombinasi 

penurunan jumlah dan/atau ukuran batu terjadi pada 77% 

subjek secara bermakna dibanding 10% pada  plasebo. Efek 

samping baik frekuensi dan beratnya sama pada sembung 

dan plasebo.  

g. Indikasi   

Nefrolithiasis 

h. Kontraindikasi 

Pasien stroke dan anak-anak dengan pembengkakan 

limpa kronik. Kehamilan dan laktasi 

i. Peringatan 

Pada obstruksi ginjal 

j. Efek Samping 

Dapat terjadi alergi pada pemakaian topikal seperti rasa 

terbakar, gatal, urtikaria, eritema edematosis, erupsi papular. 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 tablet (20 mg ekstrak)/hari. 

 

 


 

5. Tempuyung  

Sonchus arvensis L 

Suku : Asteraceae 

           

Gambar  32. Tempuyung  

 

a. Nama daerah 

 Jombang, lalakina, lempung, galibug, rayana. 

b. Bagian yang dipakai  :  

Daun  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tempuyung (Sonchus arvensis L.) yaitu  tanaman semak 

yang tumbuh secara pesat pada daerah berketinggian 50-

1,650 meter di atas permukaan laut,  tingginya sekitar 2 m. 

Akarnya besar dan lurus, tangkainya berbentuk silinder dan 

mengeluarkan getah, Daunnya berbentuk tombak dan 

rasanya pahit, biasanya daun mudanya di makan sebagai 

sayuran (lalab/celur). berbentuk bongkol berwarna putih 

kekuningan dan mudah diterbangkan angin, dan buahnya 

berwarna merah tua mengandung getah putih, dengan akar 

tunggang yang kuat. Batang berongga dan berusuk. Daun 

tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal 

membentuk roset akar. Helai daun berbentuk lanset atau 

lonjong, ujung runcing, pangkal bentuk jantung, tepi berbagi 

menyirip tidak teratur, panjang 6-48 cm, lebar 3-12 cm, 

warnanya hijau muda. Daun yang keluar dari tangkai bunga 

bentuknya lebih kecil dengan pangkal memeluk batang, letak 

berjauhan, berseling. Perbungaan berbentuk bonggol yang 

tergabung dalam malai, bertangkai, mahkota bentuk jarum, 

warnanya kuning cerah, lama kelamaan menjadi merah 

kecokelatan. Buah kotak, berusuk lima, bentuknya 

memanjang sekitar 4 mm, pipih, berambut, cokelat 

- 100 - 

 

kekuningan. Ada keaneka-ragaman tumbuhan ini. Yang 

berdaun kecil disebut lempung, dan yang berdaun besar 

dengan tinggi mencapai 2 m disebut rayana. Batang muda 

dan daun walaupun rasanya pahit bisa dimakan sebagai 

lalap.  

d. Kandungan kimia  

Alfa-laktoserol, mannitol, inositol, silica, kalium, 

flavonoid, dan taraksasterol. 

e. Data keamanan 

LD50 ekstrak methanol akar per oral pada mencit: > 3,2 

g/kg  BB. LD50 pada tikus: > 5000 mg/kg BB.  

f. Data manfaat   

Uji Praklinik:  

Penelitian pengaruh ekstrak air dan ekstrak alkohol 

daun tempuyung terhadap volume urine tikus in vivo dan 

pelarutan batu ginjal in vitro, menghasilkan kesimpulan 

sebagai berikut: a. daun tempuyung tidak secara jelas 

memiliki  efek diuretik, namun memiliki  daya 

melarutkan batu ginjal oleh ekstrak air lebih baik daripada 

ekstrak alkohol. 

Studi untuk mengevaluasi efek Tempuyung terhadap 

batu ginjal dilakukan in vitro. Tigapuluh dua (32) buah batu 

staghorn dari pasien pasca bedah dengan komposisi urat, 

kalsium dan magnesium amonium fosfat diletakkan dalam 

infusa tempuyung  10% dengan pH  4,5; 8,0; 7,0 dan 6,2  

sebagai standar, selama 24 jam. Hasil: batu larut dan 

mengecil pada infusa Tempuyung pH 4,5 dan 6,2. 

Disimpulkan infusa tempuyung dapat melarutkan batu ginjal 

yang tergantung pH. 

Penelitian untuk meneliti kadar teh daun tempuyung 

kering dan berat calcium oxalate yang dapat menimbulkan 

solubilitas maksimum, dengan frekuensi pemakaian  teh 

daun kering l x sehari dan 2 x sehari, selama 7 hari, yang 

diulang selama 5 kali. Hasil menunjukkan bahwa efek teh 

tempuyung 2 x sehari lebih besar dengan solubilitas calcium 

Oxalat 27,49%. Makin lama diberikan, makin besar 

solubilitas. Studi perbandingan efek  diuretik dan kadar  

sodium dan potassium darah setelah pemberian  ekstrak 

- 101 - 

 

etanol daun Sonchus arvensis dan furosemide pada  7 

kelompok tikus. 3 kelompok diberi  ekstrak etanol 100, 300 

dan 1000 mg/kg BB 3 kelompok lain diberi furosemide dosis 

0,36; 0,72 dan 1,14 mg/kg BB. Dudapat hasil ekstrak S. 

arvensis dosis 300 mg/kg BB menunjukkan efek diuretik 

lebih kuat (6,85 mL) dari furosemide dosis 0,72 mg/kg BB 

(6,575 mL dan plasebo 5,075 mL). 

g. Indikasi  

Nefrolithiasis 

h. Kontraindikasi  

Gangguan hati, gangguan ginjal berat, kehamilan, 

laktasi, dan anak. 

i. Peringatan  

Belum diketahui 

j. Efek Samping : 

Belum diketahui 

k. Interaksi  : 

Belum diketahui 

l. Posologi  

3 x 1 kapsul (25 mg ekstrak)/hari  

 

J. HERBAL UNTUK ANTIEMETIK 

1. Jahe  

Zingiber officinale Rosc 

              Suku : Zingiberaceae 

 

Gambar 33. Jahe 

 

a. Nama daerah 

Halia, bahing, sipode, lahia, alia, jae, sipodeh, jahi, lai, 

jae, alia, lea , melito, leya, marman. 

 

- 102 - 

 

b. Bagian yang dipakai   

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan 

pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas 

pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph berkelamin 2. 

Kelopak berbentuk tabung, dengan ujung bertaju, kerap kali 

terbelah serupa pelepah. Rimpang agak pipih, bagian ujung 

bercabang, cabang pendek pipih, bentuk bulat telur terbalik, 

pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk ke dalam. 

Potongan bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur 

memanjang, kadang ada serat bebas. 

d. Kandungan kimia    

Minyak astiri (bisabolene, cineol, phellandrene, citral, 

borneol, citronellol, geranial, linalool, limonene, zingiberol, 

zingiberene, camphene), oleoresin (gingerol, shogaol), fenol 

(gingerol, zingeron), enzim proteolitik (zingibain), vit B6, vit C, 

Kalsium, magnesium, fosfor, kalium, asam linoleat, gingerol 

(gol alkohol pada oleoresin), mengandung minyak astiri 1-3% 

diantaranya bisabolen, zingiberen dan zingiberol. 

e. Data keamanan  

LD50 6-ginggerol dan 6-shogaol yaitu  250-680 mg/kg 

BB. LD50 ekstrak air pada mencit yaitu  33,5 g/kg BB. 

Pemberian pada wanita hamil tidak menunjukkan efek 

teratogenik 

f. Data manfaat   

Uji klinik:  

Pemberian serbuk jahe 940 mg lebih efektif dari 

dimenhydrinate 100 mg untuk mencegah gejala GI pada 

motion sickness. Diduga jahe memiliki  efek langsung pada 

GI melalui sifat aromatik, karminatif dan adsorben, dengan 

meningkatkan motilitas gaster dan adsorbsi toxin dan asam. 

Uji klinik Randomized Control Trial lain menunjukkan bahwa 

pemberian jahe lebih baik dari plasebo untuk menurunkan 

kejadian muntah dan keringat dingin 4 jam setelah 

pemberian pada mabuk laut.  

- 103 - 

 

Penelitian lain membandingkan obat anti muntah OTC untuk 

mencegah mabuk laut pada 1489 subyek dan mendapatkan 

bahwa jahe sama efektif dengan obat anti muntah lain. 

Studi RCT disain menyilang pemberian 4 kali 250 mg jahe 

efektif mengobati hiperemesis gravidarum. 

Sebuah RCT lain menilai mual dan muntah pada 60 

pasien pascabedah yang diberi jahe memperlihatkan hasil 

efektif secara bermakna dibanding dengan plasebo. Efek jahe 

juga dilaporkan sama baiknya dengan metoklopramid. Sifat 

antiemetik ini diakibatkan adanya kerja sinergis dari zingeron 

dan shogaol.  

Studi klinik menunjukkan bahwa serbuk jahe dengan dosis 

90 mg lebih efektif dibandingkan dimenhidrinat (100 mg) 

untuk menekan gejala kinetosis (mabuk perjalanan). 

Mekanisme kerja: efek antiemetik ditimbulkan oleh 

komponen diterpentenoid yaitu  gingerol, shaogaol, 

galanolactone. Invitro pada binatang menunjukkan 

antiserotoninergik dan antagonis reseptor 5-HT3 yang 

berperan pada nausea & vomitus pascabedah.  

g. Indikasi  

Emesis, hiperemesis gravidarum (Grade B); motion 

sickness; pascabedah,  mabuk kendaraan, mabuk laut, 

pascakemoterapi  

h. Kontraindikasi 

Meskipun pada penelitian klinik tidak ditemukan efek 

teratogenik pada bayi yg dilahirkan,namun sebaiknya tidak 

dipakai  pada wanita hamil, ibu menyusui dan anak < 6 

tahun. Batu empedu, pasien berisiko perdarahan (sebab  

dapat menghambat aktivitas tromboksan).  

i. Peringatan 

Dilaporkan 6 gram serbuk jahe kering menunjukkan 

peningkatan eksfoliasi sel epithel permukaan lambung yang 

dapat berakibat ulkus, sebab itu direkomendasikan 

pemakaian  pada perut kosong tidak lebih dari 6 gram 

j. Efek Samping 

Sedikit nyeri abdomen, rasa tidak enak di ulu hati atau 

heart burn dan dermatitis kontak. 

 

- 104 - 

 

k. Interaksi 

Pemberian bersama obat antikoagulan, antiplatelet, 

trombolitik, secara teori dapat meningkatkan risiko 

perdarahan. Hasil uji klinik menunjukkan dosis 10 gram 

meningkatkan risiko perdarahan secara bermakna. Pasien 

dengan obat antikoagulan dan gangguan perdarahan agar 

menghindar pemakaian  dalam dosis besar. 

l. Posologi 

Mabuk kendaraan: (Dewasa dan anak > 6 tahun)  1-2  x 

1 kapsul (500 mg ekstrak), 30 menit sebelum bepergian. Jika 

gejala berlanjut, minum 1-2 kapsul setiap 4 jam. 

Pasca kemoterapi:  3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari. 

Emesis dan hiperemesis gravidarum: 2 x 1 kapsul (500 mg 

ekstrak)/hari. 

Pasca bedah: 1 x 2 kapsul (500 mg ekstrak), 1 jam sebelum 

induksi.  

Dosis maksimum: 4 g/hari.  

 

K. HERBAL UNTUK PALIATIF DAN SUPPORTIF KANKER  

1. Ceplukan  

Physalis minima  L  

Sinonim :  P. angulata L 

Suku      :  Solanaceae  

 

Gambar 34. Ceplukan  

 

 

 

- 105 - 

 

a. Nama daerah 

     Letup-letup, leletup, ubat pekong, daun kopo-kopi, daun 

loto-loto, leletop, cecendet, cicendet, ciplukan dan ceplokan. 

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

     Perdu yang rendah. Bunganya berwarna kuning, buahnya 

berbentuk bulat dan berwarna hijau kekuningan bila masih 

muda, tetapi bila sudah tua berwarna coklat dengan rasa 

asam-asam manis. Buah Ciplukan yang muda dilindungi 

kerudung penutup buah. Daun tunggal, bertangkai, bagian 

bawah tersebar, diatas berpasangan, helaian daun, berbentuk 

bulat telur, bulat memanjang, lanset dan ujung runcing, 

ujung tidak sama, runcing tumpul, bertepi rata atau 

bergelombang. 

d. Kandungan kimia 

 Fisalin B, fisalin D, fisalin F, withangulatin A, asam 

palmitat, asam stearat, flavonoid (luteolin), saponin, alkaloid. 

Buah ceplukan matang, mengandung vitamin C 24,5 mg; gula 

6 %; protein 7 %  per 100 ml jus. 

e. Data keamanan 

LD50  Infusa per oral:4305 mg/kg BB tikus 

f. Data manfaat   

Uji Praklinik:  

Beberapa kandungan aktif menunjukkan efek 

sitotoksisitas terhadap Ca sel squamosa kepala dan leher 

human, melanoma, dan fibroblast fetal normal (MRC5). 

Ekstrak Physalis minima memperlihatkan efek  inhibisi 

terhadap sel Ca mamae human T-47D,  menginduksi 

apoptosis. Sifat  anti-kanker dan efek sitotoksik juga terlihat 

pada NCI-H23 (adenocarcinoma paru human). 

Studi tentang efek anti Ca ekstrak kloroform P.  minima 

memperlihatkan aktivitas sitotoksik terhadap sel line NCI-H23 

(adenocarcinoma paru human) yang tergantung pada dosis 

dan waktu (setelah inkubasi  24, 48 dan 72 jam). Analisis 

tentang  mekanisme kematian sel memperlihatkan bahwa 

ekstrak tersebut mempengaruhi apoptosis pada sel NCI-H23 

dengan fragmentasi DNA yang khas, yang merupakan tanda 

- 106 - 

 

biokimia dari  apoptosis. Observasi morfologi dengan 

mikroskop  transmisi elektron (TEM) juga memperlihatkan  

karakteristik apoptosis, termasuk  penggumpalan dan 

marginasi kromatin, diikuti convolusi nukleus dan budding 

dari sel untuk menghasilkan ikatan membran- apoptotic 

bodies. Berbagai tahap  apoptotic programed cell death seperti 

juga  externalisasi phosphatidylserine dapat dilihat  dengan 

pewarnaan annexin V dan propidium iodide. Paparan akut 

terhadap ekstrak menghasilkan pengaturan bermakna dari 

ekspresi  c-myc, caspase-3 and p53mRNA pada cell line.  

Ekstrak kloroform P. minima menghasilkan inhibisi 

pertumbuhan yang bermakna terhadap sel Ca mamae human 

T-47D dengan nilai EC50: 3.8 µg/mL. Analisis tentang  

mekanismse kematian sel memperlihatkan bahwa ekstrak 

merangsang apoptosis. Analisis ekspresi mRNA 

memperlihatkan  coregulation gen apoptosis yaitu, c-myc , 

p53, and caspase-3. c-myc diinduksi oleh ekstrak kloroform 

secara bermakna pada fase terapi yang lebih awal, diikuti p53 

dan caspase-3. Uji biokimia dan pengamatan ultrastruktur 

memperlihatkan efek apoptosis pada sel yang diterapi 

termasuk fragmentasi DNA, blebbing dan convolution dari 

membrane sel, penggumpalan dan marginasi kromatin, dan 

menghasilkan ikatan membran- apoptotic bodies.  

Studi bagian P. minima (batang dan buah) untuk 

memebuktikan efek anti-neoplastik memberi hasil nilai 

inhibisi paling bermakna dari buah yaitu 97% untuk limfoma 

pada mencit; 93% untuk carcinoma Erlich bila diuji dengan 

MGTS-1-2ai dan MGTS-1-1ai.  

g. Indikasi 

Paliatif kanker (Adenokarsinoma Paru, Ca mamae, 

Leukemia, Ca hepar, Ca renal, Ca ovarium ) 

h. Kontraindikasi 

Pasien dengan gangguan perdarahan seperti hemofilia, 

yang minum obat jantung atau pengencer darah, dan 

hipotensi 

 

 

 

- 107 - 

 

i. Peringatan 

Tidak mengonsumsi buah yang tidak matang sebab  

bersifat toksik seperti famili solanacea lain. dapat 

mengencerkan darah dan menimbulkan hipotensi. 

j. Efek Samping 

Belum ada data 

k. Interaksi 

Tanaman famili solanacea lain. 

l.   Posologi 

2 x 1 tea bag (4 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir 

air. 

 

2. Keladi Tikus  

Typhonium flagelliforme Lodd. 

Sinonim : T. divaricum L. 

Suku      : Araceae 

               

Gambar 35.  Keladi tikus  

 

a. Nama daerah  

Bira kecil, daun panta susu, kalamayong, ileus, kibabi, 

trenggiling mentik, nama asingnya rodenttuber. 

b. Bagian yang dipakai   

Umbi 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Keladi tikus salah satu jenis tanaman obat yang 

merupakan tanaman asli NEGARA KITA  yang banyak ditemui di 

Pulau Jawa dan tumbuh dengan baik pada ketinggian 1-

300m di atas Permukaan laut (ESSAI, 1986). 

Keladi Tikus termasuk golongan herba yang bentuknya 

menyerupai talas tumbuh berumpun di alam bebas pada 

tanah gembur, lembab dan teduh. Di pulau Jawa Keladi Tikus 

banyak ditemukan di hampir semua tempat baik dataran 

- 108 - 

 

tinggi maupun dataran rendah. Pada tanaman yang masih 

kecil daunnya biasanya berbentuk bulat sedikit lonjong. Daun 

berikutnya mulai meruncing seperti daun talas. Keladi Tikus 

yang sudah tua daunnya hijau halus berujung runcing 

menyerupai anak panah. Bunga berwarna putih kekuningan 

dan kelopaknya menyerupai ekor tikus.  

Akarnya berwarna putih membesar membentuk umbi. 

Tinggi tanaman dewasa 10-20 cm (yang berkualitas bagus) 

dengan berat 10-20 gram setiap rumpun. Umbi Keladi Tikus 

berbentuk bulat londong. Untuk tanaman dewasa yang siap 

dipakai  diameter umbi antara 1-2 cm.  

d. Kandungan kimia 

 Alkaloid, saponin,steroid dan glikosida, namun belum 

diketahui bahan aktif yang spesifik pada keladi tikus yang 

berperan dalam menyembuhkan penyakit kanker. Senyawa 

aktifnya ialah fitol, asam heksadekanoat, asam oktadekanoat, 

koniferin, beta-sitosterol, beta-daukosterol, serebrosida, asam 

laurat, dan asam kaprat. 

e. Data keamanan  

LD50 pada pemberian suspensi keladi tikus 600-1200 mg 

ialah 961,6123 mg/20 kg BB mencit atau 48,081 g/kg BB 

intraperitoneal. 

f. Data manfaat  

Uji Praklinik:  

Fitol dalam keladi tikus merangsang proses bunuh diri 

sel kanker. Keladi tikus menghambat perkembangan sel 

kanker dengan cara memotong DNA sel kanker. Kandungan 

beberapa jenis asam lemak seperti asam laurat dan asam 

kaprat memicu  Keladi tikus juga bersifat antibakteri. 

Efek farmakologi inilah yang menjadi obat utama untuk 

mengatasi kanker stadium lanjut. 

Bagian yang dipakai  untuk pengobatan yaitu  

keseluruhan dari tanaman tersebut. Mulai dari akar (umbi), 

batang, daun hingga bunga. Efek tersebut akan bertambah 

baik bila diberikan bersama-sama dengan tanaman lainnya, 

seperti sambiloto, rumput mutiara dan temu putih. 

Di Cina tanaman ini di teliti oleh Zhong Z, Zhou G, Chen 

X, dan Huang P dari Guangxi Institute of Traditional Medical 

- 109 - 

 

and Pharmaceutical Sciences, Nanning. Penelitian tersebut 

dilakukan untuk mengetahui efek farmakologis dari T. 

flagelliforme. Diketahui bahwa ekstrak air dan alkohol dari 

Typhonium flagelliforme memiliki  efek mencegah batuk, 

menghilangkan dahak, antiasmatik, analgesik, antiinflamasi, 

dan bersifat sedatif. Pada konsentrasi 720 g/kg ekstrak air, 

900 g/kg ekstrak alkohol dan 3240 g/kg ekstrak ester 

tanaman ini dapat meracuni tubuh. Ekstraknya memang 

mengandung zat antikanker namun konsentrasinya lemah. 

g. Indikasi  

Antineoplastik, dapat mengatasi efek sampingan dari 

kemoterapi, seperti rambut rontok, mual, perasaan tidak 

nyaman dan berkurangnya nafsu makan. 

h. Kontraindikasi 

Kehamilan, pascaoperasi, tidak boleh bersamaan dengan 

kemoterapi-radioterapi (dihentikan minimal 2 hari sebelum 

kemoterapi dan 2 hari setelahnya (Minimal 5 hari). Sifat 

Keladi Tikus yang melakukan detoksifikasi (pembuangan 

racun) akan menganggap zat-zat kimia dari kemoterapi 

sebagai racun yang otomatis akan dikeluarkan dari tubuh. Ini 

akan membuat kemoterapi tidak efektif. 

i. Peringatan 

Terdapat tumbuhan yang mirip dengan Keladi Tikus 

yaitu Typhonium trilobatum. T.trilobatum dalam literatur obat 

Cina disebut Half Summer. T. trilobatum daunnya berombak 

dan berwarna hujau agak pudar. Di bagian ujung daun yang 

masih kuncup berwarna keunguan dan akarnya berwarna 

coklat tua. Kelopak bunga T.trilobatum melebar menyerupai 

lidah serta berwarna ungu. T. trilobatum mengandung zat 

yang bersifat racun. sebab  itu hindarilah kekeliruan. Pasca 

bedah, harus menunggu 2 minggu. 

j. Efek samping:  

Nausea, vomitus, diare sedikit, letargi 

k. Interaksi:  

Belum diketahui 

l. Posologi: 

3 x 1 sachet (3 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas  

- 110 - 

 

3. Kunyit putih   

Kaempferiae rotunda (L) 

Suku : Zingiberaceae 

               

  Gambar 36. Kunyit Putih 

 

a. Nama daerah 

Kunyit putih, temu putrid, kunci pepet, temu rapet, 

koneng bodas, konce pet, kunyit kunot, ardong 

b. Bagian yang dipakai  :  

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tanaman herba tinggi sampai 0,65 m. Batang berupa 

rimpang bercabang, pendek sangat kuat, aromatik, berwarna 

putih kekuningan, batang semu kokoh, merah kecoklatan 

minimal 25 cm. Umbi berbentuk bulat, akar tunggang sangat 

kecil, rasanya wangi, cabang rhizome berbentuk kepala, 

mengandung banyak air. Daun kelihatan menempel pada 

permukaan tanah, mirip kencur. Bunga terdiri dari beberapa 

kuntum yang satu atau dua diantaranya mekar bersama. 

Kelompok bunga berwarna putih dengan mahkota bergaris-

garis, bau harum, rimpangnya pendek, menggerombol, 

berbau aromatis. Akarnya berdaging membentuk umbi 

sebesar telur puyuh. 

d. Kandungan kimia  

Saponin, tanin, minyak atsiri, kamfor, sineol. Rimpang 

mengandung 0,22% minyak atsiri yang terdiri dari 5 senyawa 

utama piperiton, p-simen-8-ol, verbenon, kariofilen, 

kariofilenoksida, dan 3 senyawa minor, serta krotepoksida. 

Menurut Bos et al (2004), minyak atsiri mengandung benzil 

- 111 - 

 

benzoat 69,7%, n-pentadecan 22,9% dan kamfen 1,0%. Sirat 

et al (2005) melaporkan kandungan minyak atsiri yaitu  

pentadekan 25,4%, bornil acetat 24,9%, benzil benzoat 15,3% 

dan kamfor 12,1%. 

e. Data keamanan  

LD50 per oral 2375 mg/kg BB tidak menimbulkan efek 

toksik. LD50 oral pada tikus: > 5 g/kg BB 

f. Data manfaat   

Uji pra klinik: 

Lectin yang dimurnikan dari ekstrak K. rotunda (KRL)  

menunjukkan aktivitas  antiproliferatif terhadap sel Ehrlich 

ascites carcinoma (EAC). In vivo pada mencit dengan dosis 

injeksi 1,25 mg/kg BB/hari dan  2,5 mg/kg BB/hari selama 5 

hari menunjukkan inhibisi 51 dan 67% . 

Pengukuran MDA dan  4-HNE berkorelasi langsung 

dengan kapasitas inhibisi lipid peroxidasi. Ekstrak 100 

μg/mL dan  200 μg/mL berefek antioksidan moderat yang 

bermakna tetapi  ekstrak 500 dan 1000 μg/ml tidak 

bermakna. Efek  antioksidan mungkin sebab  kandungan 

crotepoxide yang meningkatkan peroxidasi. Sifat antioksidan 

berhubungan terbalik dengan dosis, tinggi pada dosis rendah 

dan sebaliknya. Lectin (KRL) yang dimurnikan dari ekstrak 

rimpang K. rotunda memperlihatkan  toksisitas terhadap 

brine shrimp nauplii dengan  aktivitas agglutinasi kuat 

terhadap 7. Bacteri patogen LC50 18±6 µ g/ml. Crotepoxide  

yang diisolasi dari K. rotunda menunjukkan  aktivitas 

antitumor dan anti-inflamasi. Dilakukan penelitian tentang  

efek  crotepoxide terhadap NF-kappaB-mediated cellular 

response pada sel Ca human. Ditemukan bahwa crotepoxide 

mempotensiasi tumor necrosis factor (TNF), dan apoptosis 

yang diinduksi obat kemoterapi serta menginhibisi ekspresi 

NF-kappaB-regulated gene products yang melibatkan anti-

apoptosis (Bcl-2, Bcl-xL, IAP1, MCl-1, survivin, dan TRAF1), 

apoptosis (Bax, Bid), inflamasi (COX-2), proliferasi  (cyclin D1 

and c-myc), invasi (ICAM-1 and MMP-9), dan angiogenesis 

(VEGF). Crotepoxide juga menginhibisi aktivasi inducible dan 

constitutive NF-kappaB. Inhibisi NF-kappaB tidak  inducer-

specific; crotepoxide menginhibisi aktivasi  NF-kappaB yang 

- 112 - 

 

diinduksi oleh TNF, phorbol 12-myristate 13-acetate, 

lipopolysaccharide, dan asap rokok. Supresi 1 NF-kappaB 

tidak spesifik sebab   aktivasi NF-kappaB diinhibisi pada sel  

mieloid, lekemia, epitel. Crotepoxide juga menginhibisi 

aktivasi TAK1, sehingga timbul supresi IkappaB alpha kinase, 

penghentian fosforilasi dan degradasi IkappaB alpha, 

translokasi nuclear p65, dan  suppresi NF-kappaB-dependent 

reporter gene expression. Hasil penelitian menunjukkan 

bahwa crotepoxide mensensitisasi sel tumor terhadap 

cytokines dan obat kemoterapi melalui  inhibisi NF-kappaB 

dan NF-kappaB-regulated gene    products, sehingga 

crotepoxide dapat menekan inflamasi dan  karsinogenesis. 

g. Indikasi 

Paliatif kanker (Ehrlich ascites carcinoma/EAC) 

h. Kontraindikasi  

Belum diketahui 

i. Peringatan   

Belum diketahui 

j. Efek Samping  

Belum diketahui 

k. Interaksi   

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 tea bag (7 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir 

air. 

 

4. Manggis   

Garcinia mangostana (L) 

Suku : Cluciaceae 

          

Gambar 37. Buah manggis 

- 113 - 

 

 

a. Nama daerah 

Manggu, manggus, manggusto, manggista. 

b. Bagian yang dipakai   

Kulit buah 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tanaman yang pertumbuhannya paling lambat, berasal 

dari biji umumnya membutuhkan 10-15 tahun untuk mulai 

berbuah. Tinggi 10-25 m dan tajuk berbentuk piramida. 

Diameter batang 25-35 cm, kulit berwarna cokelat gelap atau 

hampir hitam, kasar dan cenderung mengkelupas. Getah 

berwarna kuning. Letak daun berhadapan, tangkai pendek, 

panjang 1,5-2 cm berbentuk bulat telur, bulat panjang atau 

elip dengan panjang 15-25 cm dan lebar 7-13 cm, mengkilap, 

tebal dan kaku, ujung daun meruncing dan licin. Daun baru 

berwarna agak merah muda yang berubah menjadi hijau 

gelap. Bunga uniseks  terdapat pada pucuk ranting muda 

dengan diameter     5-6 cm, pedikelnya pendek, tebal dan 

panjang 1,8-2 cm terletak pada dasar bunga. Buah dihasilkan 

secara partenogenesis, berbentuk bundar, berdaging lunak 

saat masak, pada bagian dasarnya dan bagian bawah 

terdapat petal yang tebal dan rongga-rongga stigma, sisa 

rongga stigma ini tetap tinggal pada ujung buah. Buah 

berbentuk bulat atau agak pipih dengan diameter 3,5-8 cm. 

Kulit buah mengandung getah kuning yang pahit. Kulit buah 

tebal 0,8-1 cm berwarna keunguan biasanya mengandung 

cairan kekuningan yang pahit dan mengandung tanin dan 

mangostin. Biji merupakan biji apomik yang terbentuk dari 

sel- nuselus pada buah partenokarpi, berwarna coklat dengan 

panjang 2-2,5 cm; lebar 1,5-2,0 cm dan tebalnya 0,7-1,2 cm. 

d. Kandungan kimia: 

Kulit buah yang setengah matang menghasilkan derivat 

polyhydroxy-xanthone yaitu mangostin, α-mangostin, ß-

mangostin, γ-mangostin, dan methoxy-β-mangostin. Kulit 

buah yang matang mengandung  xanthones, gartanin, 8-

disoxygartanin, dan normangostin.  

 

 

- 114 - 

 

e. Data keamanan:   

LD50: semu > 8.96 g/kgBB. LD50 per oral pada mencit: > 

5 g/kg BB. Pemberian ekstrak G. Mangostana 1,2  dan 3 g/kg 

BB per oral pada hewan uji selama 14 hari, tidak terjadi 

perubahan bermakna pada perilaku dan parameter biokimia 

darah. Toksisitas subkronik: ekstrak per oral 400, 600, dan 

1200 mg/kg BB pada tikus setiap hari selama 12 minggu, 

tidak menunjukkan perubahan tingkah laku, pola makan dan 

minum, pertumbuhan atau kesehatan, juga nilai hematologi.  

f. Data manfaat:  

Uji praklinis:   

Pemberian intragastrik ekstrak kulit buah mangis pada 

mencit albino Swiss dosis tunggal 2 dan 5 g/kg BB tidak 

menghasilkan toksisitas selama 14 hari observasi. Untuk 

toksisitas subkronik, ekstrak pada dosis 400, 600, dan 1200 

mg/kg BB diberikan secara oral pada tikus jantan dan betina 

galur Wistar setiap hari selama 12 minggu. Secara 

kesuluruhan, konsumsi ekstrak tidak menunjukkan efek 

perubahan tingkah laku, pola makan dan minum, 

pertumbuhan atau kesehatan. Nilai hematologi tidak 

menunjukkan perubahan dibandingkan dengan kontrol. 

Setelah 12 minggu, tidak terdapat perbedaan konsentrasi 

dalam parameter biokimia darah pada kelompok betina, 

namun   pada kelompok jantan, terdapat peningkatan dosis 

bervariasi pada bilirubin dibandingkan dengan kontrol. 

Pemberian ekstrak G. Mangostana 1,2  dan 3 g/kg BB pada 

hewan uji secara oral selama 14 hari, Tidak terjadi perubahan 

yang signifikan pada perilaku dan parameter biokomia darah 

dari hewan uji. 

Hasil uji praklinis produk Manggis dilakukan di 

Universitas Muhammadiyah Surakarta: dari hasil pengujian 

aktivitas antioksidan, produk Manggis terbukti memiliki  

aktivitas antioksidan yang kuat (in vitro dan in vivo) 

Studi untuk menentukan aktivitas  antiproliferatif, 

apoptotik dan antioxidatif ekstrak metanol kulit  G. 

mangostana dilakukan pada  human breast cancer (SKBR3) 

cell line. Ekstrak tersebut memperlihatkan aktivitas  

antiproliferasi, antioksidasi yang poten dan  induksi 

- 115 - 

 

apoptosis. Disimpulkan bahwa ekstrak G. mangostana 

berpotensi  untuk  kemopreventif kanker.Aktivitas  

antiproliferative terhadap  SKBR3  human breast  

adenocarcinoma cell line yang memakai   uji MTT, 

menunjukkan bahwa  G. mangostana memperlihatkan 

aktivitas yang paling poten. 

Penelitian terhadap 6 xanthone dari kulit G. mangostana, 

dilakukan untuk melihat efek inhibisi terhadap pertumbuhan 

human leukemia cell line HL60. Semua xanthone 

memperlihatkan efek penghambatan pertumbuhan terutama 

α-mangostins. 

Penelitian memakai  ekstrak 6 senyawa xanthone 

dari kulit buah G. mangostana, dilakukan untuk menguji efek 

sitotoksiknya terhadap 14 human cancer cell lines termasuk  

6 hepatoma cell lines. Hasil menunjukkan bahwa 1 derivat 

xanthone yaitu garcinone E memiliki  efek sitotoksik yang  

poten terhadap semua HCC cell lines juga terhadap  gastric 

and lung cancer cell lines.      

Penelitian menunjukkan bahwa  α-mangostin, xanthone 

dari kulit G.  mangostana, menginduksi caspase-3-dependent 

apoptosis pada HL60 cells. Studi tentang  mekanisme 

apoptosis yang diinduksi oleh α-mangostin pada HL60 cells, 

memperlihatkan aktivasi  caspase-9 dan -3 tidak -8, sehingga 

diasumsikan bahwa  α-mangostin memediasi mitochondrial 

pathway dalam apoptosis. Parameter disfungsi mitokondria 

termasuk  pembengkakan, hilangnya membran potential 

(ΔΨm), penurunan ATP  intrasel, akumulasi ROS, dan  

pelepasan cytochrome c/AIF, diamati 1 atau 2 jam pasca 

intervensi. Pemberian α-mangostin tidak mempengaruhi 

ekspresi protein bcl-2 dan  aktivasi MAP kinase. Penemuan 

ini menunjukkan bahwa α-mangostin mempengaruhi  fase 

awal di mitokondria menghasilkan  apoptosis sel HL60. Juga 

diteliti hubungan  struktur–aktivitas antara derivat  xanthone 

termasuk  α-mangostin dan potensi ΔΨm-loss pada sel HL60. 

Penggantian gugus  hydroxyl dengan  methoxy menurunkan 

potensi secara jelas,  juga diperlihatkan bahwa sitotoksisitas 

berkorelasi kuat dengan penurunan  ΔΨm. Hasil 

- 116 - 

 

menunjukkan bahwa α-mangostin dan analognya potensial 

untuk  terapi Ca. 

In vitro ekstrak α-mangostin, mangostanol, dan 

garcinone D dari kulit batang dan akar G. mangostana 

menunjukkan efek sitotoksik terhadap CEM-SS cell line. 

Efikasi dan  potensi  xanthone garcinone E, dibandingkan 

dengan  6 obat kemoterapi terhadap 4 hepatoma cell lines. 

Garcinone E sama atau lebih poten dibanding mitoxantrone 

terhadap hepatoma cell lines dan mungkin lebih  efektif dari  

methothrexate, vincristine, 5-fluorouracil (5-FU), dan 

cisplatin. α mangostin menginduksi penghambatan 

pertumbuhan sel DLD-1 human colon cancer dengan potensi 

yang sama dengan 5-FU. Mekanisme    kerja  xanthones dari 

G. mangostana dihubungkan dengan penghentian siklus sel 

dengan mempengaruhi  ekspresi cyclin, cdc2, dan p27; 

penghentian siklus sel G1 oleh    α-mangostin dan β-

mangostin, dan penghentian siklus S oleh γ-mangostin.  α-

mangostin juga menginduksi  apoptosis yang dimediasi  oleh 

intrinsic pathway melalui mitokondria dan mengatur  growth-

related signal transduction pathways. Studi lain mendapatkan 

inhibisi pertumbuhan human colon cancer DLD-1 cells 

dengan kombinasi terapi  α-mangostin dan 5-FU.  

Sebuah studi meneliti  efek  anti-proliferative 4  

prenylated xanthone dari kulit G. mangostana; α-mangostin, 

β-mangostin, γ-mangostin, dan methoxy-β-mangostin pada 

berbagai sel Ca human. Kecuali  methoxy-β-mangostin, ke-3 

xanthone menginhibisi pertumbuhan sel pada kadar rendah 

dari 5 - 20 μM pada sel human colon cancer DLD-1. Studi 

mengenai mekanisme kerja α-mangostin-dalam menginduksi 

inhibisi pertumbuhan sel DLD-1 menunjukkan efek anti-

proliferatif yang dihubungkan dengan penghentian siklus sel 

dengan mempengaruhi  ekspresi cyclin, cdc2, and p27; 

penghentian fase G1 oleh α- mangostin dan β-mangostin, 

serta penghentian fase S oleh γ-mangostin. α-Mangostin 

menginduksi apoptosis melalui  aktivasi  jalur  intrinsik 

menyusul down-regulation of signaling cascades yang 

melibatkan  MAP kinases dan serine/threonine kinase Akt. 

Efek sinergistik terlihat dari terapi kombinasi α-mangostin  

- 117 - 

 

dan obat  5-FU. α-Mangostin memiliki  efek preventif 

terhadap  µkanker pada bioassay carcinogenesis pada tikus 

dan α-mangostin serta γ- mangostin, memperlihatkan 

peningkatan aktivitas sel  NK pada mencit. 

Penelitian mengenai efek dari 6 xanthones dari kulit G. 

Mangostana terhadap penghambatan pertumbuhan human 

leukemia cell line HL60.  Semua  xanthones menunjukkan 

efek  inhibisi pertumbuhan dan diantara ke 6 nya,  alpha-

mangostin menunjukkan inhibisi komplit pada 10 microM 

melalui  induksi apoptosis.  

Studi untuk menentukan sifat antiproliferatif, apoptotik 

and antioksidatif ekstrak metanol (CME) dari kulit buah G. 

mangostana memakai   human breast cancer (SKBR3) cell 

line sebagai model. SKBR3 cells dikultur dengan  CME pada 

berbagai konsentrasi (0-50 microg/ml) selama 48 jam dan 

persentase cell viability dievaluasi dengan uji 3-(4,5-

dimethylthiazol-2-yl)-2,5-di phenyl tetrazolium bromide (MTT). 

CME memperlihatkan inhibisi yang tergantung dosis terhadap  

proliferasi sel dengan ED(50)  9.25+/-0.64 µg/ml. Efek 

antiproliferatif CME berhubungan dengan apoptosis breast 

cancer cell line dengan menentukan perubahan morfologi dan 

fragmen oligonucleosomal DNA. CME pada berbagai 

konsentrasi dan waktu  inkubasi juga menghambat produksi 

ROS. Disimpulkan bahwa ekstrak metanol kulit buah G. 

mangostana memiliki  sifat antiproliferasi yang kuat, 

antioksidan yang poten dan induksi apoptosis. G. mangostana 

potential untuk Ca kemopreventif. 

Sebuah studi meneliti efek γ-mangostin yang dipurifikasi 

dari kulit G. mangostana terhadap ekskresi  spontan 

prostaglandin E(2) (PGE(2)) genase dan inducible cyclooxy-2 

(COX-2) gene expression pada sel glioma C6 tikus. Perlakuan 

dengan γ-mangostin selama 18 jam menginhibisi pelepasan 

PGE(2) spontan yang dependen terhadap konsentrasi dengan 

IC(50) kira-kira 2 µM, tanpa mengganggu viabilitas sel bahkan 

pada 30 µM. Dengan immunoblotting dan reverse-transcription 

polymerase chain reaction, dilihat bahwa γ-mangostin 

menginhibisi lipopolysaccharide (LPS)-induced expression dari  

COX-2 protein dan mRNA nya, tetapi tidak COX-1 

- 118 - 

 

cyclooxygenase. sebab   LPS diketahui akan menstimulasi 

inhibitor kappaB (IkappaB) kinase (IKK)-mediated   

phosphorylation dari IkappaB yang diikuti dengan  degradasi 

nya, yang kemudian akan menginduksi nuclear factor (NF)-

kappaB nuclear translocation diikuti kemudian oleh aktivasi 

transcripsi COX-2 gene, efek γ-mangostin terhadap  

IKK/IkappaB cascade yang mengendalikan aktivasi NF-

kappaB diteliti.  Pengujian in vitro IKK memakai   IKK 

protein immunoprecipitated dari sel C6 . Ekstrak G. 

mangostana menginhibisi aktivitas IKK yang tergantung 

kadar, dengan IC(50) kira-kira 10 µM. Secara konsisten γ-

mangostin juga diamati menurunkan LPS-induced IkappaB 

fosforilasi dan degradasi yang tergantung konsentrasi  diuji 

dengan immunoblotting. Selanjutnya, γ-mangostin 

mengurangi LPS-inducible activation NF-kappaB-dan human 

COX-2 gene promoter region-dependent transcription. γ-

Mangostin juga menginhibisi udem pada kaki tikus yang 

diinduksi oleh carrageenan. Hasil ini menunjukkan bahwa γ-

mangostin menghambat secara langsung aktivitas IKK dan 

sebab nya mencegah transkripsi gen COX-2, suatu gen target 

NF-kappaB, mungkin produksi agen inflamasi yang 

distimulasi PGE(2) in vivo.  

g. Indikasi 

Paliatif kanker (Ca mammae, Ca gaster, Ca paru, Ca 

kolon, lekemia, hepatoma) 

h. Kontraindikasi 

Alergi, kehamilan, laktasi.  

i. Peringatan 

Manggis memiliki efek antioksidan yang dapat 

berinteraksi dengan obat kemoterapi tertentu dan terapi 

radiasi. Untuk pasien diabetes diharapkan berhati-hati pada 

pemakaian  jus manggis sebab  mengandung gula. 

j. Efek samping 

Minum jus manggis setiap hari selama 12 bulan, dapat 

mengalami  asidosis laktat berat, diduga akibat alpha-

mangostin memicu  disfungsi mitochondria. 

 

 

- 119 - 

 

k. Interaksi 

Sinergis dengan antibiotik gentamisin, vankomisin, 

ampisilin, dan minosiklin untuk mengatasi bakteri VRE 

(Vancomycin-Resistant Enterococci) dan MRSA (Multiresistant 

Staphylococcus aureus). Mungkin berinteraksi dengan obat 

kemoterapi anthracycline, platinum, dan pengalkilasi, sebab  

efek antioksidannya. Efek adiksi dengan antihistamin. 

l. Posologi: 

2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari.  

 

5. Sambiloto  

Andrographis paniculata (Burm.) F, Nees 

Suku : Acanthaceae 

               

Gambar 38. Sambiloto 

 

a. Nama daerah 

Papaitan, ki oray, ki peurat, takilo, bidara, sadilata, 

sambilata, takila, ampadu. 

b. Bagian yang dipakai  

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tidak berambut, tebal 2-6 mm, persegi empat, 

batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. 

Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, 

bentuk lanset sampai bentuk lidah tombak, rapuh, tipis, 

tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi 

daun rata. Permukaan alas berwarna hijau tua atau hijau 

kecokelatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. 

Tangkai daun pendek. Buah berbentuk jorong, pangkal dan 

- 120 - 

 

ujung tajam, kadang-kadang pecah secara membujur. 

Permukaan luar kulit buah berwarna hijau tua hingga hijau 

kecokelatan, permukaan dalam berwarna putih atau putih 

kelabu. Biji agak keras, permukaan luar berwarna cokelat 

muda dengan tonjolan.  

d. Kandungan kimia  

Kandungan utama yaitu  lakton diterpen termasuk 

andrografolid, deoksiandrografolid, neoandrografolid, 

andrografisid, deoksiandrografisid dan andropanosid (1, 3, 6, 

7, 9,). Senyawa diterpen termasuk andrografolid, 

isoandrografolid, 14-deoksiandrografolid (DA), 14-deoksi-

11,12-didehidroandrografolid (DDA), 14-deoksi-11-

oksoandrografolid, neoandrografolid, di-deoksiandrografolid 

(andro-grafisid), 14-deoksiandro-grafosid (andropanosid), 

andrograpanin, deoksiandrografolid-19-D-glukosid, 14-

deoksi-11,12-dihidroandrografisid, 6’-asetil-neoandrografolid, 

bis-andrografolid A,B,C,D.  Dari akar sambiloto diisolasi satu 

senyawa flavones glukosida, andrografidin A dan 5 flavon 

glukosida, andrografidin    B,C,D,E,F bersama 5-hidroksi-

7,8,2’,3’-tetrametoksiflavon, dan 7,8-dimetoksi-5-hidroflavon. 

Daun dan cabang : lakltone, berupa deoksi-andrografolid, 

andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12 

didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Akar : 

flavonoid, berupa polimetoksiflavon, andrografin, panikolin, 

mono-o-metilwitin dan apigenin-7,4-dimetil eter, alkan, keton, 

aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik. 

Andrografolid 1 %, kalmegin (zat amorf), hablur kuning, pahit 

sampai sangat pahit. 

e. Data keamanan  

Ekstrak sambiloto dosis 75, 150 dan 225 

mg/mencit/hari selama masa organogenesis memiliki 

aktifitas abortifum. Andrografolid (zat aktif sambiloto) 

memiliki  efek antifertilitas pada mencit betina. 

memicu  gangguan refleks setelah pemberian bahan 

uji dosis 9 g/kg BB pada mencit galur Swiss Webster 

Uji toksisitas akut ekstrak etanol 50% sambiloto dosis 15 

g/kg BB pada mencit tidak menimbulkan efek toksik. Nilai 

LD50 ekstrak sambiloto yang diberikan peroral maupun 

- 121 - 

 

subkutan > 15 g/kg BB dan nilai LD50 yang diberikan secara 

intraperitoneal yaitu  14,98 g/kg BB. 

Ekstrak daun sambiloto yang diberikan secara subkutan 

pada kelinci dengan dosis 10 mL/kg BB tidak 

memperlihatkan efek toksik. Pemberian per oral suspensi 

serbuk daun 2 g/kg BB; ekstrak etanol 2,4 g/kg BB maupun 

andrografolid 3 g/kg BB tidak memperlihatkan efek toksik 

pada mencit jantan maupun betina. Pemberian suspensi 

serbuk daun sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg BB selama 

4 minggu pada mencit tidak terlihat adanya efek toksik 

terhadap pertumbuhan, organ visceral mayor, kesuburan 

ataupun teratogenik. Pemberian per oral serbuk daun dengan 

dosis 50; 100 dan 150 mg/kg BB selama 14 minggu pada 

tikus tidak memperlihatkan efek toksik tapi dosis 150 mg/kg 

BB menghambat pertumbuhan tikus. LD50 peroral dengan 

dosis 27,54 g/kg BB praktis tidak toksik. Ekstrak daun 

sambiloto pada hewan uji tidak menimbulkan efek toksik 

pada fungsi hati dan ginjal, pada pemakaian subkronik. LD50 

pada mencit dengan dosis 19,473 g/kg BB praktis tidak 

toksik. Uji teratogenik pada mencit dengan dosis 5 kali dosis 

lazim tidak menunjukkan kelainan morfologi pada janin. 

Merusak sel trofasit dan trofoblas. 

f. Data manfaat   

Uji praklinik:  

Fraksi diklorometan menghambat perkembangbiakan sel 

HT-29 (kanker colon). Tiga senyawa diterpen dari fraksi 

diklorometan yaitu andrografolid, 14-deoksiandrografolid 

(DA), 14-deoksi-11,12-didehidroandrografolid (DDA), 

dilaporkan dapat menghambat perkembangbiakan sel kanker 

in vitro dengan menghambat siklus sel fase G0/G1 melalui 

induksi penghambatan siklus sel protein p27, dan 

mengurangi aktivitas cyclin-dependent kinase 4 (CDK4). 

Andrografolid juga meningkatkan produksi TNF-α sehingga 

meningkatkan aktivitas sitotoksis limfosit terhadap sel kanker 

yang secara tidak langsung berefek antikanker. 

g. Indikasi:  

Paliatif kanker  (lekemia, Ca kolon, Ca mamae, melano 

Ca), supportif kanker. 

- 122 - 

 

h. Kontraindikasi  

 Kehamilan, menyusui. 

i. Peringatan  

 Air perasan dapat menimbulkan bengkak pada mata. 

j. Efek Samping 

Alergi pada pasien yang peka terhadap famili 

Acanthaceae. Pernah ada laporan urtikaria setelah minum 

rebusan sambiloto. 

k. Interaksi 

Hindari pemakaian  jangka panjang bersamaan obat 

imunosupresan. Hati-hati pada pasien kardiovaskular, bila 

dikonsumsi bersamaan obat antiplatelet atau antikoagulan 

sebab  sambiloto dapat menghambat agregasi platelet. 

Dengan daun salam dapat menurunkan kadar gula darah 

lebih stabil. 

l. Posologi 

 3 x 1 kapsul (300 mg ekstrak)/hari.  

 

6. Sirsak  

Annona muricata  L 

Suku : Annonaceae 

       

Gambar 39. Sirsak  

 

a.  Nama daerah  

Deureuyan, tarutung olanda, durio olanda, durian 

belanda, nangka belanda, nangka buris, nangka elan,  

nangka muka walanda, durian batawi, duian batawi, jambu 

landa, nangkawalanda, angka londa, nangka manila, nangka 

sabrang, mulwa londa, surikaya welonda, srikaya welandi, 

nangka moris, lange lo walanda, sirikaya balanda, Srikaya 

- 123 - 

 

jawa, Naka, Annona, Atis, mangka walanda, anad walanda, 

tafena warata, anal wakano, naka loanda, naka lada. 

b. Bagian yang dipakai  

 Daun dan buah 

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

Tanaman bentuk pohon, daun tunggal, warna kehijauan 

sampai hijau kecoklatan, helaian daun seperti kulit, bentuk 

bundar panjang, lanset atau bundar telur terbalik. Panjang 

helaian daun 6-18 cm, lebar 2-6 cm. Ujung daun meruncing 

pendek, pangkal daun runcing, tepi rata, panjang tangkai 

daun lebih kurang 0,7 cm. Permukaan licin agak mengkilat, 

tulang daun menyirip, ibu tulang daun menonjol pada 

permukaan bawah. Daun berbau agak keras, rasa agak kelat. 

d. Kandungan kimia 

Minyak atsiri, sineol 50-65%, α-pinen, limonene dan 

dipenten. mengandung senyawa asetoginin, antara lain 

asimisin, bulatasin dan skuamosin. Pada konsentrasi tinggi, 

senyawa asetogenin memiliki keistimewan sebagai 

antifeedent. 

e. Deskripsi Tanaman/simplisia  

Daun sirsak berbentuk bulat telur agak tebal dan 

permukaan pada bagian atas yang halus berwarna hijau tua 

sedang  pada bagian bawahnya memiliki  warna yang 

lebih muda. 

f. Data Keamanan  

LD50 ekstrak air dari daun per oral: > 5 g/kg BB pada 

tikus. 

g. Data Manfaat:  

Uji Praklinik :  

Daun sirsak mengandung annonaceous acetogenins 

10.000 kali lebih kuat membunuh sel kanker daripada zat 

adriamycin. Ekstrak A. muricata menunjukkan efek sitotoksik 

terhadap sel hepatoma dan  sel adenocarcinoma mamae 

human yang resisten terhadap doxorubicin dengan 

menghambat pemakaian  ATP dan  menginhibisi aktivitas 

glycoprotein membran plasma. Bullatacin, acetogenin yang 

diisolasi dari buah Annona atemoya, menginduksi apoptosis, 

dimulai dari kromatin marginasi dan  kondensasi sel  tumor.   

- 124 - 

 

Acetogenin annonaceae lain , seperti muricins A–G, 

muricatetrocin A dan B, longifolicin, corossolin, serta 

corossolone, in vitro juga menunjukkan sitotoksisitas  selektif 

bermakna terhadap sel tumor. 

Fraksinasi biji A. muricata diisolasi 5 senyawa yaitu cis-

annonacin (1), cis-annonacin-10-one (2), cis-goniothalamicin 

(3), arianacin (4), and javoricin (5). Tiga senyawa pertama (1-3) 

merupakan  cincin cis mono-tetrahydrofuran acetogenin. 

Senyawa 1 menunjukkan efek sitotoksik selektif terhadap sel 

adenocarcinoma colon (HT-29) dengan potensi 10,000 kali  

adriamycin.  

Acetogenin memiliki  rantai karbon panjang ( C 35 – C 

39 ) dengan  0-2 THF (dan hydroxyl) dan akhiran lactone 

(OC=O). Lebih dari 450 acetogenin specifik di identifikasi. 

Yang paling aktif yaitu  squamocin , asimicin , trilobacin, 

and bullatacin (rolliniastatin-2), semua isomers dari C 37 H 

66 O 7 . Acetogenin dapat membunuh sel maligna secara 

selektif Acetogenin berikatan dengan mitokhondria complex I, 

menguras energi (ATP) tumor dan menginduksi apoptosis. 

Ekstrak  A. muricata memperlihatkan efek sitotoksik 

terhadap sel hepatoma dan sel adenocarcinoma mamae 

human yang resisten doxorubicin dengan menghambat 

pemakaian  ATP dan menginhibisi aktivitas glikoprotein 

membran plasma.  

Efek sitotoksik acetogenin, bullatacin, diteliti pada sel 

adenocarcinoma mammae human (MCF-7/Adr) yang 

multidrug-resistant (MDR)  dibanding sel parental non-

resistant wild type (MCF-7/wt). Bullatacin menunjukkan 

sitotoksik efektif terhadap sel MCF-7/Adr dan lebih  sitostatik 

pada sel MCF-7/wt. Mekanisme kerja acetogenin yaitu  

dengan menguras ATP sehingga efektif  untuk kemoterapi 

tumor MDR yang  tergantung ATP.  

Empat belas (14) acetogenin yang berbeda dari 

Annonaceae, mewakili 3 kelompok utama bis-adjacent, bis-

nonadjacent, dan cincin tunggal-THF, diuji efek inhibisinya 

terhadap pertumbuhan sel adenocarcinoma mamae human 

yang resisten terhadap adriamycin (MCF-7/Adr). Cell line ini 

resisten terhadap terapi dengan  adriamycin, vincristine, dan 

- 125 - 

 

vinblastine /multidrug-resistant (MDR). Diantara  serial 

cincin acetogenins bis-adjacent THF,  yang memiliki 

stereochemistry threo-trans-threo-trans-erythro (dari C-15 to 

C-24) paling  poten yaitu 250 kali potensi  adriamycin.  

Jarak  13 karbon antara hydroxyl cincin THF dan 

gamma-unsaturated lactone memiliki  aktivitas optimum 

sedang jarak 11 dan 9 karbon kurang aktif secara bermakna. 

Beberapa senyawa cincin tunggal-THF juga cukup poten, 

dengan  gigantetrocin A merupakan senyawa paling poten. 

Acetogenin memiliki  potensi  kemoterapi , terutama 

terhadap tumor MDR. Penelitian pada human cell-line 

memperlihatkan bahwa beberapa senyawa   aktif acetogenin 

membunuh sel maligna dari 12 jenis sel Ca yang berbeda 

termasuk Ca mamae , Ca ovarium, adenocarcinoma colon, 

adenocarcinoma prostat,  Ca hepar, Ca paru, Ca pankreas 

dan  limfoma maligna, dan  adenocarcinoma mamae  multi-

drug resistant. 

Mekanisme kerja:  acetogenin, merupakan  inhibitor 

NADH: ubiquinone oxidoreductase yang poten yang 

merupakan enzim  esensial dalam complex I untuk fosforilasi 

oksidatif dalam mitochondria.  Acetogenin  memperlihatkan 

aktivitas langsung terhadap  ubiquinone-catalytic site(s) pada 

complex I dan pada glucose dehydrogenase mikroba. Juga 

menginhibisi ubiquinone-linked NADH oxidase yang khas 

untuk membran plasma sel Ca. 

h. Indikasi:   

Paliatif kanker (Ca mamae, adeno Ca mamae  yang 

resisten multi-drug, Ca ovarium, adeno Ca kolon, adeno Ca 

prostat, Ca hepar, Ca paru, Ca pankreas, limfoma maligna). 

i. Kontraindikasi:  

Hipotensi, kehamilan, laktasi. 

j. Peringatan 

Bila merasa sedasi atau somnolen, nausea atau vomitus, 

dosis perlu dikurangi. Bila dipakai  > 30 hari perlu 

diberikan probiotik atau enzim pencernaan sebab  in vitro 

menunjukkan efek eliminasi bakteri GI. 

 

 

- 126 - 

 

k. Efek samping:  

Gangguan pergerakan dan mieloneuropati dengan gejala 

serupa penyakit  Parkinson.  

l. Interaksi:  

Dapat  potensiasi efek obat antihipertensi, cardiac 

depressant, antidepresan dan  penghambat MAO. 

m. Posologi 

3  x 2 kapsul (500 mg ekstrak daun)/hari.  

 

7. Temu kunci  

Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlechter,  

Sinonim : Curcuma rotunda (L) 

Kaempferia rotunda (Don)  

Suku       : Zingiberaceae 

         

Gambar 40. Temu Kunci  

 

a.  Nama daerah 

Kunci, temu konci, konceh, temo kunceh, kunce 

b. Bagian yang dipakai   

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba rendah, merayap di tanah. Batang asli di dalam 

tanah sebagai rimpang, berwarna kuning coklat, aromatik, 

menebal, 5-30 x 0,5-2 cm, batang di atas tanah berupa 

batang semu (pelepah daun). Daun: umumnya berdaun 

sebanyak 2-7 helai, daun bawah berupa pelepah daun 

berwarna merah tanpa helaian daun, tangkai daun beralur, 

tidak berambut, panjang 7-16 cm, lidah-lidah berbentuk. 

Segitiga melebar, menyerupai selaput, panjang 1-1,5 cm, 

pelepah daun sering sama panjang dengan tangkai daun; 

- 127 - 

 

helai daun tegak, bentuk lanset lebar atau agak jorong, ujung 

daun runcing, permukaan halus tetapi bagian bawah agak 

berambut terutama sepanjang pertulangan, warna helai daun 

hijau muda, lebar 5-11 cm. Bunga: susunan bulir tidak 

berbatas, di ketiak daun, dilindungi oleh 2 spatha, panjang 

tangkai 411 cm, umumnya tangkai tersembunyi dalam 2 helai 

daun terujung. Kelopak: 3 buah lepas, runcing. Mahkota: 3 

buah daun mahkota, merah muda atau kuning-putih, tabung 

50-52 mm., bagian atas tajuk berbelah-belah, berbentuk 

lanset dengan lebar 4 mm dan panjang 18 mm. Benang sari: 

1 fertil besar, kepala sari bentuk garis membuka secara 

memanjang. Lainnya berupa bibir-bibiran (staminodia) bulat 

telur terbalik tumpul, merah muda atau kuning lemon, 

gundul, 6 pertulangan, 25×7 cm. Putik: bakal buah 3 ruang, 

banyak biji dalam setiap ruang. Morfologi rimpang tersusun 

seperti kunci yang digantung. 

d.  Kandungan kimia  

Minyak atsiri, saponin dan polifenol 

e.  Data keamanan  

LD50 oral pada mencit: > 21 g/kg BB. Tidak ada 

kematian pada pemberian pinocembrin dan pinostrobin dosis 

tunggal 500 mg/kg BB per oral pada tikus. Uji toksisitas akut 

pada 36 tikus galur Sprague Dawley yang diberi ekstrak temu 

kunci dosis 2 dan 5 g/kgBB per oral diamati selama 14 hari 

menunjukkan tidak adanya manifestasi toksisitas. Data hasil 

observasi klinik, biokimia darah, hematologi dan histopatologi 

tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara 

kelompok perlakuan dengan kontrol.  

f. Data manfaat: 

Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas anti 

kanker pinostrobin yang diisolasi dari Kaempferia pandurata 

terhadap  kultur sel myeloma. Sel myleoma di inkubasi dalam 

media RPMI, Fetal Bovine Serum 10%. Konsentrasi 

pinostrobin 1, 10, 100, 500 dan 1000 ug/mL, yang 

sebelumnya dilarutkan dalam DMSO, kemudian ditambahkan 

padakultur sel myeloma dan diinkubasi selama 24 jam, pada 

37oC dalam inkubator CO2. Aktivitas  antikank ditentukan 

memakai  metode eksklusi  tripan blue, yang 

- 128 - 

 

parameternya yaitu  viabilitas sel myeloma. Hasil 

menunjukkan bahwa pinostrobin memiliki  aktivitas 

antikanker terhadapkultur sel myeloma dengan  LD50: 232,78 

ug/mL, dan tidak memiliki  aktivitas  fragmentasi DNA. 

Efek pinocembrin, 5, 7-dihydroxyflavanone yaitu 

flavanon dari rimpang B.pandurata  terhadap  fase I dan II 

enzim metabolism xenobioticpada hati tikus. Didapat bahwa 

aktivitas heme oxygenase meningkat secara bermakna pada 

kelompok yang mendapat pinocembrin 10 dan 100 mg/kgBB 

(p<0.05). Pinocembrin tidak mempengaruhi akivitas NADPH: 

cytochrome P450 reductase, NADPH: quinone reductase, 

UDP-glucuronosyltransferase dan glutathione-S-transferase.  

Juga tidak mempengaruhi ekspresi dari fase I enzime 

metabolisme, termasuk CYP1A1, CYP2B1, CYP2C11, CYP2E1, 

CYP3A2, dan NADPH: cytochrome P450 reductase. 

Disimpulkan bahwa terapi jangka pendek pinocembrin 

pada tikus meningkatkan aktivitas heme oxygenase tapi tidak 

aktivitas phase II xenobiotic-metabolizing enzymes yang lain 

atau ekspresi enzime cytochrome P450. 

g. Indikasi     

Paliatif Ca (Ca paru, Ca mamae, Ca kolon, Ca cervix, Ca 

prostat, Ca hepar) 

h. Kontraindikasi:  

Belum diketahui 

i. Peringatan:  

Belum diketahui 

j. Efek Samping :  

Konsumsi harian tidak lebih dari 30 g. Konsumsi 

berlebih (> 50 g/hari selama seminggu berturut-turut), bisa 

memicu terjadinya kemandulan pada wanita. 

k. Interaksi : 

Belum diketahui 

l. Posologi: 

2 x 1 tetes (1 ml Tingtur).  

 

 

 

 

- 129 - 

 

L. HERBAL UNTUK SUPPORTIF PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH 

DARAH 

1. Bawang Putih  

Allium sativum  L   

Suku : Liliaceae 

            

Gambar 41. Bawang Putih  

 

a. Nama daerah  

Bawang puteh, bawang basihong, lasun, lasuna, 

palasuna, dasun, bawang handak, bawang pulak, ghabang 

pote, kesuna, lasuna mabida, lasuna mawuru, yantuna 

mopusi, pia moputi. 

b. Bagian yang dipakai  

 Umbi  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Bentuk berupa umbi lapis, warna putih atau putih 

keunguan, bau khas, rasa agak pahit. Umbi berlapis 

majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengah 4-6 cm, 

terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi 3-5 selaput tipis 

serupa kertas berwarna putih, tiap suing diselubungi 2 

selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan 

agak longgar. 

Bau khas aromatik tajam, rasa agak pedas lama 

kelamaan menimbulkan rasa agak tebal di bibir, warna 

kekuningan. Merupakan tanaman perennial tinggi 25-70 cm, 

memiliki batang yang lurus kaku atau sedikit membengkok. 

Daun memiliki permukaan yang datar dan lebar dari 4-25 

mm. 

- 130 - 

 

d. Kandungan kimia  

Alliin (alkilsistein sulfoksida), allylalliin, profenil alliin, 

dan allisin (termasuk gama glutamil). Umbi yang telah kering 

dan kemudian dilembabkan kembali dengan ragi akan 

menghasilkan minyak yaitu oligosulfida, ajoens (dialkil-

trithiaalkana-monoksida) dan vinil dithiin fruktosa, saponin 

allisin, dan selenium. 

e. Data keamanan 

LD50 3034 mg/kg BB pada kelinci, per oral. 

Karsinogenitas, mutagenitas, teratogenitas, dan gangguan 

fertilitas. Allii Sativi bulbus tidak mutagenik secara in-vitro. 

Tidak diketahui toksisitas oral dari umbi bawang putih. Pada 

tikus memicu  perubahan pada hati, berat paru-paru, 

menurunnya jumlah sel darah merah, dan sel darah putih. 

Juga dapat memicu  ulkus pada gaster. 

f. Data manfaat 

Uji klinik: 

Uji klinik menunjukkan penghambatan penggumpalan 

trombosit, yang dilihat dengan peningkatan waktu 

pendarahan dan pembekuan darah serta peningkatan 

aktivitas fibrinolitik. 

Bawang putih menunjukkan penghambatan 

penggumpalan trombosit, yang dilihat dengan peningkatan 

waktu pendarahan dan pembekuan darah serta peningkatan 

aktivitas fibrinolitik. Peningkatan aktivitas fibrinolitik serum 

pada pasien aterosklerosis dilihat setelah pemberian ekstrak 

air, minyak atsiri, dan serbuk bawang putih. Uji klinik 

menunjukkan bawang putih mengaktifkan fibrinolisis 

endogen, dan efek terdeteksi beberapa jam setelah pemberian, 

dan efek meningkat bila dipakai  secara regular selama 

beberapa bulan. 

Pemberian sebuk bawang putih 800 mg/hari  selama 4 

minggu menurunkan persentase agregat platelet sirkulasi dan 

agregasi platelet spontan secara bermakna dibanding plasebo. 

Studi pada pasien hiperkolesterolaemia yang diterapi dengan 

minyak maserasi bawang putih  selama 3 bulan, 

menunjukkan penurunan adhesi dan agregasi platelet secara 

bermakna. 

- 131 - 

 

Mekanisme kerja: aktivitas antikolesterolemia dan 

antihiperlipidemia diduga sebab  kandungan diallyl disulfide 

dan trisulfide yang menghambat hepatic-hydroxy-

methylglutaryl-CoA(HMG-CoA) reductase dan juga 

peningkatan ekskresi garam empedu ke dalam feses dan 

mobilisasi lemak jaringan  ke dalam sirkulasi.   

g. Indikasi  

Antiplatelet (Grade C), menghambat pembekuan darah 

(Grade C) 

h. Kontraindikasi  

 Alergi terhadap bawang putih. 

i. Peringatan 

Mengkonsumsi dalam jumlah yang besar akan 

meningkatkan resiko pendarahan pascaoperasi. Hati-hati 

pada kehamilan dan menyusui. 

j. Efek Samping 

Gastritis. Orang yang belum pernah memakai obat ini 

mengalami sedikit alergi. 

k. Interaksi 

Pasien dalam terapi warfarin harus diperingatkan bahwa 

mengkonsumsi allii sativa Bulbus akan meningkatkan waktu 

pendarahan. Waktu lamanya pendarahan telah dilaporkan 

meningkat 2x untuk pasien 

l. Posologi 

 1 x 1 kapsul lunak (500 mg ekstrak)/hari.   

 

2. Kunyit   

Curcuma domestica Val  

Sinonim: C.longa Linn. 

Suku      : Zingiberaceae 

 

Gambar 42. Kunyit 

- 132 - 

 

a. Nama daerah 

Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, 

temu koneng, temu kuning, guraci 

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak tinggi ±70 cm, batang semu, tegak, bulat, 

membentuk rimpang, berwarna hijau kekuningan. Daun 

tunggal membentuk lanset memanjang. Helai daun 3-8, ujung 

dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 

8-12 cm. Pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau  

pucat. Bunga majemuk berambut bersisik. Panjang tangkai 

16-40 cm. panjang  mahkota 3 cm, lebar 1 cm, berwarna 

kuning. Kelopak silindris,bercangap 3, tipis dan berwarna 

ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar serabut berwarna 

coklat muda. Rimpang warna kuning jingga, kuning jingga 

kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan.  

d. Kandungan kimia  

Kurkuminoid yaitu campuran dari kurkumin 

(diferuloilmetan), monodeksmetoksikurkumin dan 

bisdesmetoksikurkumin. Struktur fenolnya memungkinkan 

untuk menghilangkan radikal bebas. Minyak atsiri 5,8% 

terdiri dari  a-felandren 1%, sabinen 0,6%, sineol 1%, borneol 

0,5%, zingiberen 25%, dan seskuiterpen 53%. Mono- dan 

seskuiterpen termasuk zingiberen, kurkumen, α- dan β-

turmeron. 

e. Data Keamanan  

LD50 ekstrak air pada mencit intraperitoneal: 18,72 

(16,30-21,50 mg/10g BB). Monyet diberi kurkumin 0,8 /hari 

dan tikus 1,8 mg/kg BB/hari selama 90 hari tidak 

menunjukan efek samping. Invitro tidak bersifat mutagenik. 

Per oral pada tikus dan mencit tidak teratogenik. Mencit yang 

diberi 1% and 5% selama 14 hari menunjukkan 

hepatotoksisitas. FDA mengklasifikasi sebagai GRAS 

(Generally Recognized as Safe). Tidak ada efek samping pada 

pasien artritis rematoid yang diberi 1200 mg/hari kurkumin 

selama 2 minggu. Tidak ada efek toksik setelah pemberian 

- 133 - 

 

oral 8,000 mg atau 2.2 g tumerik (setara 180 mg 

kurkumin)/hari selama 4 bulan. 

f. Data manfaat  

Uji klinik:  

Penelitian efek suplementasi diet dengan ekstrak 

rimpang kurkuma terhadap faktor risiko aterogenesis dan 

penyakit kardiovaskular terkait. Pada orang sehat,  asupan 

ekstrak 200 mg menurunkan lipid peroksidase darah total 

juga HDL dan LDL-lipid peroksidase. Efek anti-aterogenik 

diikuti oleh kurkuma antioxidant-induced normalisasi kadar 

fibrinogen plasma dan ratio apo B/apo A, yang juga 

menurunkan risiko kardiovaskular.  

Studi untuk mengevaluasi  potensi kardioprotektif C. 

longa pada model ischemia-reperfusion (I/R) dari infark 

miokard (MI). Tikus dibagi menjadi 3 kelompok, yang 

mendapat  saline  per oral (sham/ kontrol I/R) dan C. longa 

100 mg/kg (CL-100) selama 1 bulan. Pada hari ke 31, 

kelompok kontrol I/R dan Cl mengalami oklusi arteri koroner 

LAD selama 45 menit dan di reperfusi selama 1 jam. I/R 

mengalami nekrosis kardial bermakna, depresi fungsi 

ventrikel kiri, penurunan status antioksidan dan peningkatan 

lipid perodixation pada kontrol I/R dibanding kontrol sham. 

Infark miokard setelah I/R berkurang secara bermakna pada 

kelompok Cl. Terapi Cl menghasilkan restorasi status 

antioksidan miokard dan merubah parameter hemodinamik 

dibanding kontrol I/R. I/R-induced lipid peroxidation 

dihambat secara bermakna oleh terapi Cl. Efek  

kardioprotektif juga terlihat pada pemulihan  fungsi jantung. 

Efek  kardioprotektif Cl mungkin sebagai hasil supresi stres 

oksidatif dan berkorelasi dengan perbaikan fungsi ventrikel. 

Kurkumin, berperan protektif terhadap nekrosis miokard 

pada tikus. 

Efek antioksidan mungkin sebab  gugus phenol dan 

methoxy dalam hubungan dengan 1,3-diketone-conjugated 

diene system, untuk  scavenging radikal oksigen. Kurkumin 

memperlihatkan peningkatan aktivitas enzim detoksifikasi 

seperti glutathione-S-transferase in vivo. Kurkumin juga 

- 134 - 

 

menghambat pembentukan radikal bebas pada iskemia 

miokard pada tikus.  

g. Indikasi 

Antiplatelet (Grade C)  

h. Kontraindikasi  

 Obstruksi saluran empedu, kolesistitis. Untuk batu 

empedu konsul ke dokter. Hipersensitivitas, Gagal ginjal akut, 

anak < 12 tahun 

i. Peringatan 

pemakaian  pada masa kehamilan: keamanan 

pemakaian rimpang kunyit selamam kehamilan belum 

dibuktikan. Sebagai perhatian sebaiknya tidak dipakai  

selama kehamilan, kecuali ada petunjuk medis. pemakaian  

pada masa menyusui: ekskresi obat melalui air susu dan 

efeknya terhadap bayi belum dibuktikan. Sampai data 

tersedia, rimpang kunyit sebaiknya tidak dipakai  kecuali 

atas petunjuk medis. 

j. Efek Samping  

pemakaian  pada kehamilan dan menyusui harus 

dengan pengawasan dokter. Mual pada dosis tinggi. 

k. Interaksi 

Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, 

antiplatelet, heparin, trombolitik sehingga meningkatkan 

risiko perdarahan. Interaksi kurkumin dengan herbal yang 

lain: Orang sehat diberi 2 g curcumin dikombinasi dengan 20 

mg piperine, bioavailabilitas kurkumin meningkat 20 kali. Teh 

hijau meningkatkan efek kurkumin. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (200 mg ekstrak)/hari.  

 

3. Miana 

  Coleus forskohlii (Willd) 

         

 Gambar 43. Miana 

- 135 - 

 

a. Nama daerah  

  Belum diketahui 

b.  Bagian yang dipakai  

  Herba, akar 

c. Diskripsi tanaman 

Tanaman hias dengan daun dua warna. Coleus terkenal 

dengan keunikannya sebab  memiliki kombinasi daun warna 

warni dalam gabungan warna merah, kuning, ungu dan 

merah j