formularium herbal 2



 nsi. 

Studi RCT untuk melihat efektivitas terapi, tolerabilitas, 

dan keamanan,  juga efek terhadap elektrolit dan efek 

penghambat ACE dari ekstrak kering calyx H. sabdariffa 

(HsHMP) dibanding lisinopril pada pasien hipertensi (HT). 

Pasien berusia, 25-61 tahun, dengan hipertensi stadium  I 

atau II, diterapi setiap hari selama  4 minggu dengan  HsHMP 

(250 mg anthocyanins/dosis), atau 10 mg lisinopril. Analisis 

pada 171 subjek (100 kelompok HsHMP), menunjukkan 

bahwa HsHMP menurunkan tensi dari 146,48/97,77 menjadi 

129,89/85,96 mmHg, penurunan  absolut 17,14/11,97 

mmHg (11,58/12,21 %, p < 0,05). Efektivitas terapi 65,12 % 

dengan tolerabilitas dan keamanan 100 %. Penurunan tensi 

dan efektivitas terapi lebih rendah dari lisinopril (p < 0,05). 

Dengan HsHMP terjadi peningkatan  kadar chlorine 

serum dari 91,71 menjadi 95,13 mmol/L (p = 0,0001), kadar 

sodium menunjukkan tendensi penurunan (139,09 menjadi 

137.35,  p = 0,07), kadar potassium tidak berubah. Aktivitas 

ACE plasma dihambat HsHMP dari 44,049 menjadi 30,1 Units 

(Us; p = 0.0001). kesimpulan, HsHMP memperlihatkan 

efekivitas antihipertensi, juga menurunkan aktivitas  ACE 

plasma secara bermakna, serta memperlihatkan tendensi 

penurunan kadar Na serum tanpa mempengaruhi kadar 

potassium (K). 

Studi RCT dilakukan pada pasien berusia 30-80 tahun 

dengan diagnosis hipertensi tanpa terapi minimal 1 bulan, 

untuk membandingkan efektivitas  antihipertensi dan 

tolerabilitas ekstrak terstandar H. sabdariffa dalam bentuk 

infusa 10 g calyx kering/hari  (dalam air  0,51 setara 9,6 mg 

anthocyanins), sebelum makan pagi, dan captopril 2 x 25 

mg/hari, selama 4 minggu.  Analisis 39 kelompok H. 

sabdariffa dan 36 captopril menunjukkan bahwa H. 

sabdariffa menurunkan tekanan sistolik dari 139,05 menjadi 

123,73mm Hg (p < 0,03) dan tekanan darah diastolik dari  

90,81 menjadi  79,52mm Hg (p < 0,06). Tidak ada perbedaan 

bermakna antara kedua kelompok (p > 0,25). Rate efektivitas 

terapi pada  H. sabdariffa 0,7895 dan  pada captopril 0,8438 

- 52 - 

 

(Chi2, p > 0,560),dan  tolerabilitas  100% pada keduanya. 

Efek  natriuretik diamati pada ekstrak H. Sabdariffa. Ekstrak 

terstandar mengandung  9,6 mg anthocyanin, dan  captopril 

50 mg/hari, tidak menunjukkan perbedaan bermakna  efek 

hipotensif, efektivitas antihipertensi, dan tolerabilitas. 

Studi RCT pada 193 pasien dengan hipertensi  ringan 

sampai sedang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I 

menerima ekstrak H. sabdariffa (terstandar mengandung 250 

mg anthocyanin) setiap hari, kelompok II mendapat lisinopril 

10 mg/hari. Pada akhir minggu ke 4, kelompok hibiscus 

menunjukkan penurunan tensi bermakna dengan rerata 17 

mmHg untuk  tekanan darah   sistolik dan 12 mm Hg untuk 

tekanan diastolik. Pasien H. sabdariffa memperlihatkan 

penurunan kadar sodium tetapi tidak potassium. 

Studi RCT dengan kontrol plasebo dilakukan untuk 

menilai efek teh hibiscus pada 54 pasien dengan hipertensi  

sedang. Setelah 15 hari kelompok Hibiscus menunjukkan  

rerata penurunan bermakna tekanan darah sistolik 11,2%  

dan tekanan diastolik 10,7%. 

Mekanisme kerja: hibiscus mengandung anthocyanin 

yaitu flavonoid yang memiliki  efek antioksidan. Pada 

jaringan binatang diamati adanya efek hipotensi dan 

vasorelaksan, juga aktivitas kardioprotektif  dan inhibitor 

ACE.  

g. Indikasi 

Hipertensi ringan dan sedang (Grade B) 

h. Kontraindikasi 

Anak 

i. Peringatan 

Gastritis erosif berdasarkan laporan kasus, sebab  

bersifat sangat asam. 

j. Efek Samping 

Walaupun rosela sering dipakai  sebagai teh, data 

keamanan yang dilaporkan masih terbatas. Rosela 

seharusnya dihindari oleh pasien yang memiliki  alergi atau 

hipersensitif terhadap rosela atau kandungannya. Pemberian 

pada dosis tinggi harus hati-hati.   

 

-

 

k. Interaksi 

Menurunkan kadar  fluorokuinolon sehingga tidak 

berefek. Asetaminofen ditambah dengan pemberian rosela 

dapat mengubah waktu paruh obat asetaminofen pada 

sukarelawan. Rosela memiliki aktivitas estrogen meskipun 

belum ada perubahan klinis yang jelas. Interaksi dapat terjadi 

dengan senyawa estrogen lain. 

Tes histologi: Rosela memiliki  efek antikanker pada 

studi laboratorium dan hewan coba dan secara teoritis dapat 

berinteraksi dengan senyawa antineoplastik.  

Tes fungsi ginjal: pada pria sehat, mengkonsumsi Rosela yang 

dapat memicu  penurunan konsentrasi kreatinin, asam 

urat, sitrat, tartrat, kalsium, natrium, kalium, dan fosfat pada 

urin, tetapi bukan oksalat.  

l. Posologi 

3 x 1 tea bag (3 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir 

air 1 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari. 

 

3. Seledri   

 Apium graveolens  L  

 Suku : Apiaceae 

 

Gambar 14. Seledri  

 

a. Nama daerah  

  Seledri, saladri 

b. Bagian yang dipakai   

Herba 

 

- 54 - 

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

  Terna tumbuh tegak, tinggi sekitar 50 cm dengan bau 

aromatik yang khas. Batang persegi, beralur, beruas, tidak 

berambut, bercabang banyak, berwarna hijau. Daun 

majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3-7 helai. Anak 

daun bertangkai 1-2,7 cm, helaian daun tipis dan rapuh, 

pangkal dan daun runcing, tepi beringgit, panjang 2-7,5 cm, 

lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau 

keputihan. Bunga berbentuk payung 8-12 buah, kecil-kecil 

berwarna putih, mekar secara bertahap. Buah kotak, 

berbentuk kerucut, panjang 1-1,5 mm, berwarna hijau 

kekuningan.  

d. Kandungan kimia  

  Flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak atsiri 0,033%, 

flavor-glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin, zat 

pahit, vitamin (A,B,C). Setiap 100 g herba seledri 

mengandung air 93 ml, protein 0,9 g, lemak 0,1 g, 

karbohidrat 4 g, serat 0,9 g, kalsium 50 mg, besi 1 mg, fosfor 

40 mg, yodium 150 mg, kalium 400 mg, magnesium 85 mg, 

vitamin A 130 IU, vitamin C 15 mg, riboflavin 0,05 mg, tiamin 

0,03 mg, nikotinamid 0,4 mg. Akar mengandung asparagin, 

manit, minyak atsiri, pentosan, glutamin, dan tirosin. Ekstrak 

diklorometan akar seledri mengandung senyawa poliasetilen 

falkarinol, falkarindiol, panaksidiol dan 8-O-metilfalkarindiol. 

Biji mengandung apiin, minyak atsiri, apigenin, alkaloid. 

Senyawa yang memberi bau aromatic yaitu  ftalides (3-

butilftalid & 5,6-dihidro turunan sedanenolid). 

e. Data keamanan  

  LD50 peroral pada tikus > 5 g/kg BB. Tidak toksis pada 

pemberian subkronik dengan dosis per oral 5 g/kg BB pada 

tikus 

f. Data manfaat  

1)  Uji Preklinik:  

Infusa daun seledri 20; 40% dosis 8 mL/ekor pada 

tikus putih dengan pembanding furosemida dosis 1,4 

mg/ekor, dapat memperbanyak urin secara bermakna. 

Pemberian perasan daun seledri menurunkan tekanan 

darah kucing sebesar 13-17 mmHg. Pada penelitian lain 


 

ekstrak daun seledri menurunkan tekanan darah kucing 

sebesar 10-30 mmHg.  

2)  Uji klinik : 

Yang melibatkan 49 penderita hipertensi diberi 

tingtur (setara 2 g/mL ekstrak herba seledri) 3 kali sehari 

30-45 tetes. Hasil, memberikan efek terapetik  pada 

26,5%, efek moderat pada 44,9% dan tidak memberikan 

efek pada 28,6%. Penambahan madu dan sirup pada jus 

herba segar dosis 40 mL/3 x sehari menunjukkan 

efektivitas pengobatan pada 14 dari 16 kasus hipertensi 

sedang  2 kasus tidak efektif.  

g. Indikasi  

Hipertensi 

h. Kontraindikasi  

sebab  diuretik kuat maka tidak dipakai  pada 

gangguan ginjal akut, infeksi ginjal, dan kehamilan. Buah 

seledri mengandung fuanokumarin yang berefek fototoksik 

dan dapat memicu terjadinya reaksi alergi. 

i. Peringatan 

      Herba seledri segar lebih dari 200 g sekali minum dapat 

memicu  penurunan tekanan darah secara tajam 

sehingga mengakibatkan syok. Dosis 200 g juga 

memicu  efek diuretik. Biji seledri menimbulkan 

fotosensitisasi, perlu memakai  tabir surya bila kena 

sinar matahari. 

j. Efek Samping  

Penderita yang sensitif terhadap tanaman Apiaceae bisa 

memicu  dermatitis alergika. Beberapa senyawa kumarin 

kemungkinan memiliki  efek tranquilizer.  

k. Interaksi  

Meningkatkan efek obat antihipertensi dan diuretik. Biji 

seledri dapat mengencerkan darah, sehingga tidak dipakai  

pada orang yang memakai  pengencer darah, termasuk 

aspirin, dan Warfarin. Pasien yang memakai  diuretik 

tidak boleh mengkonsumsi biji seledri.  

l. Posologi 

3 x 1 tablet (2 g serbuk biji)/hari. 3 x 1 kapsul (100 mg 

ekstrak herba)/hari. 


 

D. HERBAL UNTUK HIPERURISEMIA 

1. Anting-anting   

Acalypha indica (L), Indian Nettle 

Suku: Euphorbiaceae 

      

Gambar 15. Anting-anting 

 

a. Nama daerah 

Anting-anting, lateng, akar kucing, rumput bolong-

bolong, rumput kokosongan. 

b. Bagian yang dipakai   

Akar  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tinggi tanaman sekitar 1,5 meter 60 cm dengan batang 

tegak, bulat, berambut halus, dan berwarna hijau. Daunnya 

merupakan daun tunggal berbentuk belah ketupat dengan 

pangkal membulat, tepi bergerigi, ujung-ujungnya runcing 

dan    pertulangan menyirip. Panjang daun 3-4 cm dan 

lebarnya 2-3 cm. Tangkai daun berbentuk silindris dengan 

panjang 3-4 cm berwarna hijau. Bunganya merupakan bunga 

majemuk berbentuk bulir dan berkelamin satu, terletak di 

ketiak daun dan ujung cabang. Mahkota bunga berbentuk 

bulat telur, berambut, dan berwarna hijau merah. Buahnya 

berbentuk kotak berwarna hitam dengan biji bulat panjang 

berwarna coklat. Akarnya merupakan akar tunggang 

berwarna putih kotor. 

d. Kandungan kimia  

Akar anting-anting mengandung senyawa-senyawa dari 

golongan alkaloid (pyranoquinolinone alkaloid flindersin), 

tannin (antara lain tri-O-methyl ellagic acid), sterol, flavonoid 

(biorobin, kaempferol derivatives nicotiflorin, clitorin, 

mauritianin) dan glikosida sianogenik (acalyphin 0,3%, 


 

turunan 3-cyanopyridone). acalyphamide, aurantiamide, 

succinimide. Senyawa dari akar yang diduga dapat 

menurunkan kadar asam urat yaitu  tanin sebagai 

penghambat xantin oksidase.      

e. Data keamanan  

Pada uji toksisitas akut, nilai LD50 ekstrak air herba A. 

indica Linn. pada mencit per oral yaitu  8,13 g/kg BB, 

Toksisitas subkronik rebusan akar anting-anting dengan 

dosis 13,5; 27; dan 54 g/kg BB tikus selama 90 hari maupun 

pada hari ke-115 tidak mempengaruhi fungsi organ jantung, 

hati, ginjal, dan hematologinya, baik pada kelompok tikus 

jantan maupun betina. 

f. Data manfaat 

Uji praklinik:   

Pemberian rebusan akar anting-anting dosis 2,7; 5,4 dan 

10,8 g/200 g BB  selama 15 hari pada tikus putih yang 

diinduksi dengan kafein dapat    menurunkan kadar asam 

urat darah. Penelitian pada tikus yang mengalami 

hiperurisemia yang diinduksi dengan kalium oksonat, 

pemberian rebusan akar anting-anting dengan dosis 2,7; 5,4 

dan 10,8 g/200 g BB  selama 2 minggu dapat menurunkan 

kadar asam urat darah. Namun efek tersebut masih lebih 

rendah dibandingkan dengan alopurinol  36 mg/200 g BB.  

g. Indikasi  

Hiperurisemia.  

h. Kontraindikasi  

Penderita defisiensi G6PD,  infertilitas. 

i. Peringatan  

Alergi, ulkus peptikum, perlu perhatian bila terjadi 

perubahan warna darah menjadi coklat akibat efek toksik 

turunan siano-glikosida. 

j. Efek Samping 

Sejauh ini tidak dijumpai efek samping kecuali 

pemberian dosis tinggi memicu  iritasi pada lambung 

dan usus. Dermatitis kontak dengan getah tanaman segar. 

 

 

 

-

 

k. Interaksi 

Estrogen, tanaman lain yang mengandung glikosida 

sianiogenik misalnya singkong, biji apel, pir, plum, dan 

aprikot. 

l. Posologi 

      4 x 1 kapsul (520 mg serbuk ekstrak)/hari 

 

2. Sidaguri   

Sida rhombifolia L 

Suku : Malvaceae 

               

Gambar 16. Sidaguri 

 

a. Nama daerah 

Sadaguri, sidaguri, guri, saliguri, otok-otok, taguri, 

kahindu, dikira, hutugamu, bitumu, digo, sosapu. 

b. Bagian yang dipakai  

Herba  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Sidaguri tumbuh liar di tepi jalan, halaman berumput, 

hutan, ladang, dan tempat-tempat dengan sinar matahari 

cerah atau sedikit terlindung. Perdu tegak bercabang ini 

tingginya dapat mencapai 2 m dengan cabang kecil berambut 

rapat. Daun tunggal, letak berseling, bentuknya bulat telur 

atau lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pertulangan 

menyirip, bagian bawah berambut pendek warnanya abu-abu, 

panjang 1,5-4 cm, lebar 1–1,5 cm. Bunga tunggal berwarna 

kuning cerah yang keluar dari ketiak daun, mekar sekitar 

pukul 12 siang dan layu sekitar tiga jam kemudian. Buah 

dengan     8-10 kendaga, diameter 6-7 mm.  

 

-

 

d. Kandungan kimia  

Sidagori memiliki sifat khas manis dan mendinginkan. 

Kandungan utama tanaman yaitu  tanin, flavonoid, saponin, 

alkaloid dan glikosida. Di samping itu juga ditemui kalsium 

oksalat, fenol, steroid, efedrine dan asam amino. Kadar kimia 

zat tersebut ditemui pada kisaran yang berbeda-beda pada 

jaringan tanaman. Pada akar ditemui alkaloid, steroid dan 

efedrin. Pada daun ditemui juga alkaloid, kalsium oksalat, 

tanin, saponin, fenol, asam amino dan minyak atsiri, pada 

batang ditemui kalsium oksalat dan tanin. 

e. Data keamanan 

LD50 : ekstrak air pada tikus per oral 8,5 g/kg BB. 

Ekstrak air bersifat non toksik pada tikus sampai dengan 

dosis 10 g/kg BB. 

 Toksisitas subkronik peroral pada tikus dengan dosis 300, 

600 dan 1200 mg/kg BB tidak menimbulkan perubahan pada 

organ.  

f. Data manfaat   

Uji praklinik : 

Ekstrak gabungan sidaguri dengan seledri dapat 

dipakai  sebagai antigout  dengan mekanisme menghambat 

aktivitas enzim xantin oksidase. 

Ekstrak etanol daun Sida rhombifolia menunjukkan aktivitas 

anti-inflamasi.  

Edema   yang diinduksi dengan 

menyuntikkan karagenan mengalami penurunan pada 

perlakuan pemberian ekstrak (400 mg / kg BB) secara 

oral dibandingkan dengan kelompok kontrol (p <0,05). 

Hasil ini mendukung pemakaian  ekstrak etanol daun  

S. rhombifolia  dalam mengurangi peradangan.Flavonoids dari 

ekstrak Sidaguri invitro menghambat aktivitas xanthine 

oxidase (XO) sampai 55% sehingga memiliki  efek  antigout 

dan efek inhibisinya 48-71% (100-800 mg/L). Studi kinetik 

mendapatkan inhibisi flavonoids yaitu  inhibisi kompetitif 

dengan afinitas (α) 2.32 dan p < 0.01. Fraksionasi 

menghasilkan 11 fraksi dengan aktivitas paling tinggi pada 

fraksi 4 yaitu 79%. Analisis  GC-MS dari fraksi 4 

menunjukkan ada 39 senyawa organik dan fragmen flavonoid.  


 

g. Indikasi  

Hiperurisemia  

h. Kontraindikasi 

Kehamilan dan menyusui  

i. Peringatan 

Belum diketahui 

j. Efek Samping 

Belum diketahui 

k. Interaksi  

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 sachet (15 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas. 

 

E. HERBAL UNTUK ANALGETIK-ANTIPIRETIK  

1. Jambu Mede  

Anacardium occidentale L 

Suku : Anacardiaceae  

           

Gambar 17. Jambu Mede 

 

a. Nama daerah:  

Jambu monyet 

b. Bagian yang dipakai :   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Jambu mede atau jambu monyet, tersebar di daerah 

tropik dan ditemukan pada ketinggian antara 1-1.200 m dpl. 

Pohon, tinggi 8-12 m, memiliki cabang dan ranting yang 

banyak. Batang melengkung, berkayu, bergetah, percabangan 

mulai dari bagian pangkalnya. Daun tunggal, bertangkai, 

 

panjang 4-22,5 cm, lebar 2,5-15 cm. helaian daun berbentuk 

bulat telur sungsang, tepi rata, pengkal meruncing, ujung 

membulat dengan lekukan kecil di bagian tengah, 

pertulangan menyirip, berwarna hijau. Bunga berumah satu 

memiliki bunga betina dan bunga jantan, tersusun bentuk 

malai, keluar di ketiak daun atau di ujung percabangan. 

Buahnya buah batu, keras, melengkung. Tangkai buahnya 

lama kelamaan akan menggelembung menjadi buah semu 

yang lunak, seperti buah peer, berwarna kuning, kadang-

kadang bernoda merah, rasanya manis agak sepat, banyak 

mengandung air dan berserat. Biji bulat panjang, melengkung 

pipih, warnanya coklat tua.  

Daun muda bisa dimakan sebagai lalap (mentah atau 

dikukus terlebih dahulu). Buah semu rasanya sepat dan bisa 

dimakan sebagai rujak, dibuat minuman, anggur dan selai. 

Jika sudah diolah, harga biji jambu mede cukup mahal, 

dikenal dengan nama kacang mede. 

d. Kandungan kimia: 

Simplisia daun jambu mete mengandung senyawa 

golongan flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. 

Dari ekstrak n-heksana diperoleh isolat yang menghasilkan 

bercak berwarna merah-ungu setelah disemprot penampak 

bercak Liebermann Burchard. Isolat diduga merupakan suatu 

senyawa triterpenoid yang memiliki gugus –OH, -CH 

alifatik, dan -C=O. 

e. Data keamanan  

LD50 per oral pada mencit jantan dan betina 16 g/kg BB. 

LD50 ekstrak dehidro-etanol dengan efek menghambat lesi 

lambung yaitu  150 mg/kg BB. Uji toksisitas subkronis: 

dosis 2; 6; 10 mg/kg BB pemberian berulang selama 56 hari, 

memicu  penurunan asupan makanan, berat badan, 

perubahan fungsi liver dan ginjal, serta perubahan tingkah 

laku mencit. Dalam studi lain, pemberian ekstrak <2 g/kg BB 

tidak menunjukkan gejala toksik akut. 

f. Data manfaat   

1)   Uji pra-klinik: 

Pemeriksaan efek analgesik daun jambu mede telah 

dilakukan dengan metode hot-plate pada mencit. 


 

Pemeriksaan efek analgesik infusa daun muda jambu 

mede dengan dosis 600 mg/200 g BB dan 1200 mg/200 

g BB memberikan efek analgesik pada tikus dengan 

metode tail flick, namun aktivitasnya yang lebih lemah 

dibandingkan dengan obat analgesik Dipiron. 

Infusum 10% daun jambu mede menunjukkan efek 

mirip morfin dan fenotiazin pada tikus albino dan pada 

dosis 30 mL/kg BB dapat memperpanjang waktu reaksi 

pada mencit mirip morfin dan metamizol. Pemberian 

secara intraperitoneal, dosis sebesar 50 mL/kg BB 

menghambat conditional avoidance escape response 

sebesar 87%. 

Ekstrak etil asetat 47 mg/20 g BB mencit dan 

ekstrak butanol 26 mg/20 g BB memiliki  efek 

analgetik yang   tidak berbeda bermakna dengan efek 

asam asetil salisilat dosis 1,30 mg/20 g BB. 

Pada dosis >100 mg/kg BB efek tersebut lebih baik 

dibandingkan lansoprazol 30 mg/kg BB Efek hambatan 

terjadinya lesi lambung akibat induksi etanol/HCl 

tersebut merupakan kerja dari glycosylated quercetin, 

turunan amentoflavone  dan tetramer proanthocyanidin. 

2)   Uji Klinik: 

Efek analgetik infusa jambu mede telah dilakukan 

pada uji pendahuluan terhadap sukarelawan sehat 

dengan metode dengan disain randomized blind 

crossover, dengan sukarelawan 12 orang sehat, dosis 

infusa dengan dosis   setara   25 g/50  kg  BB  secara  

peroral.  Sebagai    pembanding parasetamol dosis 600 

mg/50 kg BB. Pengukuran dengan analgesimeter. Efek 

analgesik jambu mede lebih lemah dibandingkan dengan 

parasetamol. 

g. Indikasi: 

      Analgesik 

h. Kontraindikasi  

Belum diketahui 

i. Peringatan  

Getah kulit buah bersifat iritasi pada mukosa sebab  

mengandung kardol  

-

 

j. Efek  Samping  

Dosis tinggi  (ekstrak > 6 g/kg BB) menunjukkan efek 

toksik berupa asthenia, anoreksia, diare, dan sinkop. 

k. Interaksi  

Obat analgetik golongan salisilat, morfin dan metamizol. 

l. Posologi  

1 x  1 sachet (10 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi    1 gelas. 

 

2. Kencur  

Kaempferia galanga  L 

Suku : Zingiberaceae 

     

Gambar  18. Kencur  

 

a. Nama daerah 

Ceuku, tekur, kaciwer, kopuk, cakue, cokur, cikur, 

kencor, cekor, cekuh, cekur, cekir, sokus, souk, hume, pete, 

tukulo, tadosi, cakuru, asuli, sauro, saulo, onega, bataka, 

ukap. 

b. Bagian yang dipakai :  

Rimpang 

c. Diskripsi tanaman/simplisia: 

Terna tahunan tinggi  ±20 cm. Batang semu, pendek 

membentuk  rimpang, coklat keputihan. Daun tunggal, 

menempel di permukaan tanah,     melonjong membundar, 

panjang 7-15 cm, lebar 2-8 cm, ujung melancip, pangkal 

menjantung, membundar, tepi rata, hijau. Bunga majemuk, 

kelopak membentuk tabung, bercuping memita, benang sari 

panjang  4 mm, kuning, staminodium melonjong membundar 

- 64 - 

 

telur sungsang, putih, putik putih, putih keunguan. Akar 

serabut, coklat kekuningan, membentuk umbi, membulat 

telur-membulat, putih di bagian dalam. 

d. Kandungan Kimia 

Rimpang Kencur mengandung pati (4,14 %), mineral 

(13,73 %), dan minyak atsiri (0,02 %) berupa sineol, asam 

metil kanil dan penta dekaan, asam sinnamat, etil aster, 

asam sinamik, borneol, kamfen, paraeumarin, asam anisikα, 

alkaloid dan gom. 

e. Data Keamanan 

Belum ada data 

f. Data Manfaat  

1) Uji praklinik: 

 Studi untuk meneliti aktivitas antinociceptive pada 

mencit dan tikus memakai  ekstrak K. galanga per 

oral dengan dosis 50, 100 dan 200 mg/kg BB  terhadap 

geliat yang diinduksi asam asetat, formalin, lempeng 

panas dan tail-flick tests, memperlihatkan aktivitas 

antinyeri yang tergantung dosis dan waktu. Ekstrak 200 

mg/kg BB, memperlihatkan efek > aspirin (100 mg/kg 

BB, p.o.) namun < morphine (5 mg/kg BB, s.c.). Naloxone 

(2 mg/kg BB, i.p.) menghilangkan efek antinyeri 

tersebut. Disimpulkan ekstrak  metanol K. galanga  

memperlihatkan aktivitas antinyeri pada binatang 

percobaan. Efek antinosiseptif  terlihat melalui 

mekanisme perifer dan sentral dan diduga melibatkan 

reseptor opioid. 

 Sebuah studi dilakukan untuk menentukan efek 

antinyeri dan anti-inflamasi ekstrak air daun K. galanga 

dosis 30, 100, dan 300 mg/kg BB, subkutan pada 

mencit/tikus. Ekstrak yang diberikan 30 menit sebelum 

pengujian memperlihatkan aktivitas anti nyeri yang 

bermakna (P < 0,05) pada uji konstriksi abdomen, 

lempeng panas  dan formalin, yang tergantung dosis.  

Aktivitas antinyeri ekstrak K. galanga dihilangkan secara 

bermakna (P < 0,05) dengan pemberian  naloxone 10 

mg/kg BB. 


 

 Ekstrak juga memperlihatkan efek antiinflamasi 

yang bermakna (P < 0,05) pada uji udem telapak kaki 

yang diinduksi carragen. Disimpulkan daun  K. galanga 

memperlihatkan efek  antinyeri dan anti-inflamasi. 

2) Uji Klinik : 

 Penelitian sari kencur maupun beras kencur 

terhadap efek analgesik dilakukan pada manusia. Hasil 

penelitian memperlihatkan bahwa 200 ml sari kencur 10 

% yang diberikan secara oral memiliki  khasiat 

analgesik yang tidak berbeda dengan metampiron 500 

mg. sedang  penelitian  dengan beras kencur 

menunjukkan bahwa beras kencur memiliki  efek 

analgesik yang tidak berbeda dengan novalgin. 

g. Indikasi:  

 Analgetik, antiinflamasi. 

h. Kontraindikasi:  

 Alergi, kehamilan, gangguan GI kronik 

i. Peringatan:  

  Belum diketahui 

j. Efek Samping:  

      Heart burn, alergi 

k. Interaksi: 

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 tea bag (5 g serbuk)/hari, diseduh dalam 1 cangkir 

air, ac. 

 

3. Pule   

Alstonia scholaris  L  

Alstonia spectabilis  R.Br/ Echites scholaris  Linn. 

Suku        : Apocynaceae  

      

Gambar 19. Pule 

 


 

a. Nama daerah 

Pulai, kayu gabus, lame, polay, kaliti, reareangou, 

baringao, kita raringau, wariangou, deddeangou, rite, tewer, 

hange, hanjalutung, aliag. 

b. Bagian yang dipakai  

 Kulit  kayu   

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Potongan kulit kayu, menggulung atau kadang-kadang 

berbentuk pipa, tebal sampai lebih kurang 3 mm, warna 

cokelat kehitaman; tidak berbau; rasa pahit yang tidak 

mudah hilang. Permukaan luar sangat kasar, tidak rata, 

mudah mengelupas, banyak retak-retak membujur dan 

melintang; warna permukaan hijau kelabu, cokelat muda 

atau cokelat kehitaman; lenti sel berbentuk lonjong, warna 

putih kelabu, terletak melintang. 

Permukaan dalam bergaris halus, juga terdapat retak-

retak melintang; warna permukaan kuning kecokelatan 

sampai cokelat kelabu tua. Mudah dipatahkan, bekas 

patahan kasar dan agak berserat. 

d. Kandungan kimia 

Reserpina, dereserpidina, alstonina, tetrahidroalstonina, 

alstonidina, yohimbina. Kulit kayu mengandung alkaloid 

ditain, ditamin (ekitamina), ekitanina, alstonin, ekitanin, 

ekitamidin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triterpen 

(lupeol, α-amirin). 

e. Data keamanan 

Efek toksik ekstrak hidroalkoholik dari kulit batang pule 

tergantung pada musim pengumpulan. Kulit batang yang 

dikumpulkan pada musim panas nilai LD50 900 mg/kg BB; 

yang dikumpulkan pada musim dingin nilai LD50 1075 mg/kg 

BB sedang  yang dikumpulkan pada musim hujan nilai 

LD50 1200 mg/kg BB. 

Pemberian dosis 490 dan 980 mg/kg BB memicu  

efek teratogenik dan hidrosefalus ringan pada tikus putih 

galur Wistar. Ekstrak etanol dosis >240 mg/kg BB (terutama 

360 mg atau 480 mg/kg BB) menunjukkan efek toksik 

(teratogenik) pada mencit sebab  mengandung ekitamin. 

 


 

f. Data manfaat  

 Uji Praklinik: 

Infus kulit batang pule dosis 7,5; 10 dan 12,5 g/kg BB 

dapat menghambat rangsangan sakit mencit yang diinduksi 

fenilkinon. Tapi efeknya masih lebih kecil dibanding 

fenilbutazon maupun asetosal. 

Ekstrak kulit batang pule dosis 3,75; 11,25 dan 37,5 

mg/10 g BB; asetosal dosis 0,52 mg/10 g BB dan akuades 

sebagai kontrol negatif diberikan pada mencit yang diinduksi 

asam asetat. Hasil, ekstrak dosis 3,75 mg/10 g BB dapat 

mengurangi jumlah geliat sebagai parameter berkurangnya 

rasa sakit dan dosis 37,5 mg/10 g BB memiliki  efek 

sebanding dengan asetosal dalam mengurangi jumlah geliat. 

Infus kulit batang pule dosis 7,5; 10; 12,5 dan 15 g/kg BB 

dapat menurunkan suhu tikus yang diinduksi pepton 5% 0,6 

mL/ekor. Makin besar dosis semakin besar penurunan 

suhunya. 

g. Indikasi 

 Analgetik, antipiretik 

h. Kontraindikasi 

 Kehamilan, hipotensi 

i. Peringatan 

pemakaian  > 9 g/kg BB memicu  gangguan 

refleks. pemakaian  dosis berlebihan dapat membahayakan 

kerja jantung. 

j. Efek Samping  

Pada dosis tinggi dapat memicu  gangguan jantung 

dan hipotensi berat sebab  kandungan reserpin.  

k. Interaksi 

Obat antihipertensi, tanaman Rauwolfia dan tanaman 

yang mengandung yohimbin. 

l. Posologi  

2 x 1 sachet (6 g serbuk)/hari,  rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas.  

 

 

 

 

 

4. Sambiloto  

Andrographis paniculata (Burm.) F, Nees 

Suku : Acanthaceae 

         

    Gambar 20. Sambiloto 

 

a. Nama daerah 

Papaitan, ki oray, ki peurat, takilo, bidara, sadilata, 

sambilata, takila, ampadu. 

b. Bagian yang dipakai  

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tidak berambut, tebal 2-6 mm, persegi empat, 

batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. 

Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, 

bentuk lanset sampai bentuk lidah tombak, rapuh, tipis, 

tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi 

daun rata. Permukaan alas berwarna hijau tua atau hijau 

kecokelatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. 

Tangkai daun pendek. 

Buah berbentuk jorong, pangkal dan ujung tajam, 

kadang-kadang pecah secara membujur. Permukaan luar 

kulit buah berwarna hijau tua hingga hijau kecokelatan, 

permukaan dalam berwarna putih atau putih kelabu. Biji 

agak keras, permukaan luar berwarna cokelat muda dengan 

tonjolan.  

d. Kandungan kimia 

Kandungan utama yaitu  lakton diterpen termasuk 

andrografolid, deoksiandrografolid, neoandrografolid, 

andrografisid, deoksiandrografisid dan andropanosid (1, 3, 6, 

7, 9,). Senyawa diterpen termasuk andrografolid, 

isoandrografolid, 14-deoksiandrografolid (DA), 14-deoksi-


 

11,12-didehidroandrografolid (DDA), 14-deoksi-11-

oksoandrografolid, neoandrografolid, di-deoksiandrografolid 

(andro-grafisid), 14-deoksiandro-grafosid (andropanosid), 

andrograpanin, deoksiandrografolid-19-D-glukosid, 14-

deoksi-11,12-dihidroandrografisid, 6’-asetil-neoandrografolid, 

bis-andrografolid A,B,C,D.  Dari akar sambiloto diisolasi satu 

senyawa flavones glukosida, andrografidin A dan 5 flavon 

glukosida, andrografidin B,C,D,E,F bersama 5-hidroksi-

7,8,2’,3’-tetrametoksiflavon, dan 7,8-dimetoksi-5-hidroflavon. 

Daun dan cabang : lakltone, berupa deoksi-andrografolid, 

andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12 

didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Akar : 

flavonoid, berupa polimetoksiflavon, andrografin, panikolin, 

mono-o-metilwitin dan apigenin-7,4-dimetil eter, alkan, keton, 

aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik. 

Andrografolid 1 %, kalmegin (zat amorf), hablur kuning, pahit 

sampai sangat pahit. 

e. Data keamanan  

LD50 peroral dengan dosis 27,54 g/kg BB praktis tidak 

toksik.  Uji toksisitas akut ekstrak etanol 50% sambiloto dosis 

15 g/kg BB pada mencit tidak menimbulkan efek toksik. Nilai 

LD50 ekstrak sambiloto yang diberikan peroral maupun 

subkutan > 15 g/kg BB dan nilai LD50 yang diberikan secara 

intraperitoneal yaitu  14,98 g/kg BB. 

Ekstrak sambiloto dosis 75, 150 dan 225 

mg/mencit/hari selama masa organogenesis memiliki 

aktifitas abortifum. Andrografolid (zat aktif sambiloto) 

memiliki  efek antifertilitas pada mencit betina. 

memicu  gangguan refleks setelah pemberian bahan uji 

dosis 9 g/kg BB pada mencit galur Swiss Webster 

Ekstrak daun sambiloto yang diberikan secara subkutan 

pada kelinci dengan dosis 10 mL/kg BB tidak 

memperlihatkan efek toksik. Pemberian per oral suspensi 

serbuk daun 2 g/kg BB; ekstrak etanol 2,4 g/kg BB maupun 

andrografolid 3 g/kg BB tidak memperlihatkan efek toksik 

pada mencit jantan maupun betina. Pemberian suspensi 

serbuk daun sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg BB selama 

4 minggu pada mencit tidak terlihat adanya efek toksik 


 

terhadap pertumbuhan, organ visceral mayor, kesuburan 

ataupun teratogenik. Pemberian per oral serbuk daun dengan 

dosis 50; 100 dan 150 mg/kg BB selama 14 minggu pada 

tikus tidak memperlihatkan efek toksik tapi dosis 150 mg/kg 

BB menghambat pertumbuhan tikus. 

Ekstrak daun sambiloto pada hewan uji tidak 

menimbulkan efek toksik pada fungsi hati dan ginjal, pada 

pemakaian subkronik. LD50 pada mencit dengan dosis 19.473 

g/kg BB praktis tidak toksik. 

Uji teratogenik pada mencit dengan dosis 5 kali dosis 

lazim tidak menunjukkan kelainan morfologi pada janin. 

Merusak sel trofasit dan trofoblas. 

f. Data manfaat   

1)  Uji praklinik: 

Ekstrak etanol  500 mg/kg BB menurunkan suhu 

badan tikus yang diinduksi ragi dan efektifitasnya 

sebanding dengan aspirin 200 mg/kg BB. 

Deoxyandrographolide, andrografolide, 

neoandrographolide atau 11,12-didehydro-14-

deoxyandrographolide 100 mg/kg BB dapat menurunkan 

demam yang diinduksi oleh  2,4-dinitrophenol atau 

endotoksin pada mencit, tikus, dan kelinci. 

2)   Uji Klinik: 

Uji klinik RCT untuk menguji efikasi simplisia A. 

paniculata (6 g /hari) dibanding  paracetamol (1 kapsul 

325 mg) untuk mengatasi gejala faringotonsilitis pada 

152 orang dewasa, mendapatkan bahwa  terapi  A. 

paniculata  selama 3 hari sama efektifnya dengan 

paracetamol dalam mengurangi nyeri tenggorok dan 

demam. 

Uji klinik RCT dilakukan pada 152 pasien dengan 

faringotonsillitis, secara random  diberi   parasetamol,  A. 

paniculata 3 g/hari atau  A. paniculata 6 g/hari selama 7 

hari. Efektivitas parasetamol dan  A. paniculata dosis 6 

g/hari lebih besar secara bermakna dibanding  A. 

paniculata  3 g/hari pada hari ke-3, dalam 

menghilangkan demam dan nyeri tenggorok, namun efek 

ini tidak berbeda pada hari ke-7. Efek samping minimal 

- 71 - 

 

ditemukan pada 20% pasien semua kelompok dan 

menghilang dengan sendirinya. 

3)  Indikasi  

Antipiretik 

g. Kontraindikasi  

      Kehamilan, laktasi, alergi, anak (dengan supervisi medik). 

h. Peringatan  

Air perasan dapat menimbulkan bengkak pada mata. 

Hati-hati pada pasien yang diterapi antikoagulan seperti 

warfarin atau heparin, atau obat anti-platelet seperti 

ibuprofen sebab  kemungkinan inhibisi agregasi platelet oleh 

Andrographis. 

i. Efek Samping 

Alergi pada pasien yang peka terhadap famili 

Acanthaceae. Pernah ada laporan urtikaria setelah minum 

rebusan sambiloto. Aman dan ditoleransi baik pada dosis 

yang direkomendasikan. Dosis besar menimbulkan rasa tidak 

enak di abdomen, vomitus dan anoreksia, mungkin sebab  

rasa pahit andrographolide.  

j. Interaksi 

Hindari pemakaian  jangka panjang bersamaan obat 

imunosupresan. Hati-hati pada pasien kardiovaskular, bila 

dikonsumsi bersamaan obat antiplatelet atau antikoagulan 

sebab  sambiloto dapat menghambat agregasi platelet. 

Dengan daun salam dapat menurunkan kadar gula darah 

lebih stabil. Ekstrak berefek sinergis dengan isoniazid. 

k. Posologi 

4 x 1 kapsul (300 mg ekstrak)/hari. 

 

F. HERBAL UNTUK OBESITAS 

1. Jati Belanda   

Guazuma ulmifoliae Lamk. 

Suku : Sterculiaceae 

               

Gambar 21. Jati Belanda 


 

a. Nama daerah 

      Jati londo; Jati sabrang 

b. Bagian yang dipakai   

 Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

      Tanaman pohon, tinggi lebih kurang 10 meter. Batang 

keras, bulat, permukaan kasar, banyak alur, berkayu, 

bercabang, warna hijau keputih-putihan. Daun tunggal, bulat 

telur, permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, 

pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 10-16 cm, 

lebar 3-6 cm, warna hijau. Bunga tunggal, bulat di ketiak 

daun, warna hijau muda. Buah kotak, bulat, keras, 

permukaan berduri, warna hitam. 

d. Kandungan kimia  

Tanin, Lendir, Zat pahit, damar, 0,2% kamferetin, 

kuersetin & kaemferol, daunnya mengandung 0.09-0.14% 

alkaloid. Bunga segar jati belanda mengandung 0,2% 

kamferetin, kuersetin dan kaemferol, daunnya mengandung 

0,09-0,14% alkaloid, lendir, dammar, flavanoid, saponin dan 

tannin. Hasil analisis GC/MS minyak atsiri daun 

menunjukkan adanya komponen utama prekosen I (56,0%), 

β-kariofilen (13,7%), dan (2Z,6E)-farnesol (6,6%). 

e. Data keamanan  

LD50: 6324,14 mg/kg BB (tikus, per oral). Pemberian 

ekstrak kering daun jati belanda dosis 2 g/kg BB,  4 g/kg BB 

dan 8 g/kg BB pada tikus jantan sekali sehari selama 3 bulan 

tidak menaikkan kadar keratinin dan urea plasma serta 

ukuran diameter rata-rata glomerulus ginjal tikus. Hasil 

pengamatan mikroskopik preparat histologi ginjal juga tidak 

memperlihatkan adanya perbedaan dengan kelompok kontrol 

tanpa perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian 

jangka panjang daun jati belanda tidak menganggu fungsi 

ginjal. Uji serupa telah dilakukan pula terhadap granul kering 

daun jati belanda dengan kesimpulan yang sama yaitu tidak 

mempengaruhi fungsi ginjal. 

Uji mutagenik ekstrak etanol 50% daun jati belanda telah 

dilakukan dengan metode Ames memakai  lima galur 

bakteri Salmonella typhi yang telah dimutasikan dan tanpa 

 

aktivator metabolik. Hasil penelitian yang memperlihatkan 

bahwa ekstrak etanol daun jati belanda tidak bersifat 

mutagen, yang ditunjukkan dengan tidak terjadinya mutasi 

DNA dan kerusakkan kromosom bakteri uji. 

f. Data manfaat   

1.  Uji Praklinik: 

Studi pada 30 tikus dengan BB 150-200 g dibagi 

secara acak menjadi 5 kelompok. Kelompok I mendapat 

ekstrak etanol daun 10% dengan dosis 0,5 mL/200 g 

BB/hari, kelompok II ekstrak etanol 20% dan kelompok 

III ekstrak etanol 30%, kelompok IV mendapat  2 mL 

aquades, kelompok V mendapat orlistat  (inhibitor lipase) 

2,16 mg/200 g BB /hari,  selama 30 hari. Hasil 

menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jati belanda 

10, 20, dan 30% serta orlistat mampu menurunkan 

aktivitas lipase pankreas secara nyata, berturut-turut 

sebesar 8,33±9,27; 9,33±6,34; 15,33±7,61; dan 

13,33±7,33 IU/L. Pada kelompok kontrol negatif  justru 

terjadi peningkatan aktivitas enzim lipase sebesar 

15,17±14,79 IU/L. Disimpulkan ekstrak etanol daun  jati 

belanda menurunkan aktivitas serum lipase secara 

bermakna (p < 0,05). 

2. Uji Klinik : 

Penelitian kuasi eksperimental dengan disain pre 

dan postes, pada 30 penderita obesitas yang memperoleh 

perlakuan pemberian ekstrak daun jati belanda. Data 

yang diukur yaitu  berat badan. Hasil penelitan 

menunjukkan bahwa adanya penurunan berat badan 

penderita obesitas sesudah pemberian ekstrak daun jati 

belanda. Rata-rata sebelum perlakuan berat badan 

penderita 75,5 kg dan sesudahnya 73,9 kg. ( p< 0.05) 

g. Indikasi 

Obesitas 

h. Kontraindikasi 

Kehamilan, laktasi dan anak. 

i. Peringatan 

Konsumsi yang berlebihan mengakibatkan kerusakan 

usus sebab  tingginya kandungan tanin. 


 

j. Efek Samping  

Kemungkinan dapat terjadi diare sebab  iritasi lambung 

k. Interaksi  

Dapat menghambat absorpsi obat lain yang diberikan 

secara bersamaan 

l. Posologi  

3 x 1 tea bag (5 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir 

air.  

 

2. Kemuning    

Murraya paniculata (L,)Jack  

Suku : Rutaceae  

               

Gambar 22. Kemuning 

 

a. Nama daerah 

 Kamuning, kamuri, kamoni, kamone, kemuning, kajeri 

b. Bagian yang dipakai  

 Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

 Tanaman berupa pohon, tinggi 3-7 m. Batang berkayu, 

beralur, warna kecokelatan kotor. Daun majemuk, anak daun 

4-7, permukaan licin, bentuk corong, ujung dan pangkal 

runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga 

majemuk, bentuk tandan, panjang mahkota 6-27 mm, lebar 

4-10 mm, warna putih. Buah buni, diameter lebih kurang 1 

cm, buah muda berwarna hijau setelah tua merah.  

d. Kandungan kimia  

 Daun kemuning mengandung kadinen, metil-antranilat, 

bisabolen, ß-karyofilen, geraniol, karen-3, eugenol, sitronelol, 

- 75 - 

 

metil-salisilat, s-guiazulen, ostol, panikulatin, tanin dan 

kumurayin. Kulit batang mengandung meksotioin, 5-7-

dimetoksi-8-(2,3-dihidroksiisopentil) kumarin. sedang  

bunga kemuning mengandung skopoletin, dan buahnya 

mengandung semi-a-karotenom. 

e. Data keamanan 

LD50 infusa  daun per oral pada tikus: > 15 g/kg BB.  

f. Data manfaat  

Uji Praklinik:  

Infusa daun kemuning 10, 20, 30 dan 40% sebanyak 0,5 

mL pada mencit dapat menurunkan berat badan secara 

bermakna. 

g. Indikasi 

Obesitas 

h. Kontraindikasi  

Belum diketahui 

i. Peringatan  

Belum diketahui  

j. Efek Samping 

Belum diketahui 

k. Interaksi  

Belum diketahui 

l. Posologi  

2 x 1 sachet (15 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas. 

 

G. HERBAL UNTUK ANOREKSIA 

1. Temulawak  

Curcuma xanthorrhiza  Roxb. 

Suku : Zingiberaceae 

               

Gambar  23. Temulawak 


 

 

a. Nama daerah 

Temulawak, koneng gede, temu labak. 

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 

2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang 

sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, 

bagian dalam berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap 

individu tanaman memiliki  2-9 daun, berbentuk lonjong 

sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang 

sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang 

tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan 

berupa bunga majemuk bulir, muncul di   antara 2 ruas 

rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, 

daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus, 

berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir 

lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung 

banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan 

mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) 

sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih 

dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian 

bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm, 

lebar 1,5-3,5 cm. 

d. Kandungan kimia 

Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) 

terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri 

(3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-

kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-

turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30 40 %) 

e. Data keamanan  

LD50 ekstrak etanol per oral pada mencit: > 5 g/kg BB. 

LD50 kurkumin per oral pada tikus dan guinea pig: > 5 g/kg 

BB. Uji klinik fase I dengan 28 orang sehat dengan dosis 

sampai 8000 mg/hari selama 3 bulan tidak menunjukkan 

efek toksik. Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 

- 77 - 

 

1125-2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya 

toksisitas. 

f. Data manfaat   

1)  Uji praklinik:  

Serbuk rimpang dapat meningkatkan aktivitas 

musin dalam cairan lambung. Disamping itu rebusan 

rimpang dapat menurunkan kontraksi usus halus. 

2)  Uji Klinik: 

Uji klinik dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh 

serbuk temulawak pada penderita anoreksia primer. 

Secara acak 56 orang dibagi menjadi kelompok 

temulawak dan kontrol. Jumlah penderita kelompok 

temulawak yang mengalami peningkatan nafsu makan 

lebih banyak dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan 

nafsu makan ini semakin nyata dengan semakin 

lamanya pemberian temulawak. Peningkatan masukan 

kalori dan protein makanan juga dialami kelompok 

temulawak. Pada uji klinis terbukti adanya peningkatan 

aktivitas pencernaan, termasuk peningkatan absorbsi 

dalam usus halus. Asupan oral ekstrak kasar temulawak 

dengan dosis 50 mg per hari selama 35 hari dapat 

meningkatkan nafsu makan pada pasien anoreksia 

primer kelompok dewasa muda. 

g. Indikasi 

Anoreksia.  

h. Kontraindikasi 

Obstruksi saluran empedu 

i. Peringatan 

Gastritis pada dosis besar. Hati-hati pada nefrolithiasis 

dan pemakaian  bersama dengan obat pengencer darah. 

j. Efek Samping  

Dosis besar atau pemakaian yang berkepanjangan dapat 

mengakibatkan iritasi membran mukosa lambung.  

k. Interaksi    

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (200 mg ekstrak)/hari 

 


 

H. HERBAL UNTUK DIURETIK 

1. Alang-alang  

Imperata cylindrica  (L)/ Imperata arundinacea (Cyr) 

Suku : Poaceae 

    

Gambar 24. Alang-alang 

 

a. Nama daerah  

Naleueng lakoe, hilalang, tingen, puang, padang,buhang, 

belalang, bolalang, eurih, kebut, ambengan, pandengo, 

padanga.  

b. Bagian yang dipakai   

Akar (rimpang) 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba rumput, berimpang dengan permukaan luar 

hitam, merayap di bawah tanah. Batang tegak membentuk 

satu perbungaan, padat, pada bukunya berambut jarang.  

d. Kandungan kimia  

Flavonoid turunan fluvonal, asam-asam vanillat-, ferulat-

, p-kumarat-, p-hidroksibenzoat dalam bentuk bebas, dan 

asam kafeat dalam bentuk ester.  

e. Data keamanan  

LD50 ekstrak air akar peroral pada tikus lebih besar 5000 

mg/kg BB. Tidak menunjukkan toksisitas subkronik pada 

pemberian ekstrak air sampai dosis per oral 1200 mg/kg BB 

pada tikus. 

f. Data manfaat  

1)  Uji praklinik: 

Efek diuretik akar alang-alang dilakukan pada tikus 

dengan pembanding hidroklorotiazid (HCT). Kelompok I 

diberi infusa akar alang-alang dengan dosis 6,4 g/kg BB. 

Kelompok II dengan dosis 3,2 g/kg BB, Kelompok III 


 

dengan dosis 1,6 g/kg BB, Kelompok IV dengan dosis 0,8 

g/kg BB, Kelompok V diberi suspensi HCT dalam tween 

80 dengan dosis 1,68 mg/kg BB dan kelompok VI diberi 

aquades 3 mL/ekor (20 mL/kg BB). Dari hasil analisis 

disimpulkan bahwa infusa akar alang-alang dengan 

dosis 1,6 dan 0,8 g/kg BB memiliki  efek diuretik yang 

sama dengan HCT. Disimpulkan bahwa akar alang-alang 

memiliki  efek diuretik yang sama dengan HCT. 

Efek diuretik dari ekstrak akar I.cylindrica, Zea 

mays, dan daun pisang diteliti pada mencit dengan 

pembanding furosemid. Ekstrak diberikan dalam 2 dosis, 

500 mg/kg BB dan 1000 mg/kg BB dengan interval 2 

hari. 

Hasil menunjukkan bahwa ekstrak akar I. 

cylindrica, Zea mays, dan daun pisang meningkatkan 

diuresis air. Ekstrak daun pisang 1000 mg/kg BB 

memperlihatkan efek diuretik tertinggi diikuti Zea mays, 

dan akar I cylendrica.   

2)   Uji Klinik : 

Penelitian memakai  Imperata cylindrica 

mengukur jumlah diuresis setiap 5 jam, Hasil 

menunjukkan bahwa Imperata cylindrica memiliki  

efek diuresis pada sukarelawan dewasa dan efeknya 

dapat menggantikan obat modern. 

g. Indikasi 

Diuretik  

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Belum diketahui 

j. Efek Samping 

Pusing, mual, ingin defekasi 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 sachet (10 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas. 

 

-

 

2. Kumis kucing  

Orthosiphon stamineus  Benth. 

Sinonim : Orthosiphon .aristatus (Bl) Miq  

Suku       : Labiatae 

 

Gambar 25. Kumis Kucing 

 

a. Nama daerah 

Kumis ucing, brengos kucing, songot koceng, remujung, 

sesaseyan, kumis kucing, songot koceng. 

b. Bagian yang dipakai   

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar di bagian 

buku-bukunya, tinggi sampai 2 m. Batang bersegi 4 agak 

beralur, berambut pendek atau gundul dan mudah 

dipatahkan. Helai daun berbentuk bulat telur lonjong, atau 

belah ketupat, panjang 1 cm-10 cm, lebar 7,5 mm-5 cm. Urat 

daun  sepanjang tepi berambut tipis atau gundul, kedua 

permukaan berbintik-bintik, panjang tangkai 3 cm. 

Perbungaan berupa tandan yang keluar diujung cabang, 

panjang 7-29 cm, ditutupi rambut pendek berwarna ungu 

dan kemudian menjadi putih, gagang rambut pendek dan 

jarang, panjang 1-5 mm. Kelopak bunga berkelenjar, arat dan 

pangkal berambut pendek dan jarang sedang  di bagian 

paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota berwarna ungu 

pucat atau putih, panjang 13-27 mm, di bagian atas ditutupi 

rambut pendek yang berwarna ungu atau putih seperti kumis 

kucing, panjang tabung 10-18 mm, panjang bibir 4,5-10 mm, 

helai bunga tumpul, bundar. Benang sari lebih panjang dari 

tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Bunga 

geluk berwarna coklat gelap, panjang 1,75- 2 mm. Dikenal 3 


 

varietas kumis kucing yaitu yang berbunga biru, berbunga 

putih dengan batang serta tulang dan tangkai bunga coklat 

kemerahan, dan yang berbunga putih. 

d. Kandungan kimia 

Glikosid ortosifonin; Zat lemak; Minyak atsiri; Minyak 

lemak; Saponin; Sapofonin; Garam kalium. 

e. Data keamanan 

LD(50) per oral pada tikus: > 5000 mg/kg BB. NOAEL 

ekstrak terstandar O. stamineus 50% selama 28 hari: 3500 

mg/hari. Toksisitas kronis sampai   dengan 6000 mg/kg BB 

tikus putih pemberian selama 3 bulan tidak menunjukkan 

kelainan pada organ penting. 

f. Data manfaat   

1)  Uji Praklinik: 

Infusa 5% diberikan secara intravena pada kelinci 

memperlihatkan efek diuretik. Efek diuretik juga 

diperlihatkan pada penelitian secara subkutan sediaan 

ekstrak air pada kelinci dan anjing. Ekstrak kering 

alkohol air diberikan secara peroral pada tikus  terjadi 

peningkatan jumlah urin dibandingkan air sebagai 

control. Selain itu terjadi peningkatan sekresi natrium. 

Selain itu terjadi peningkatan sekresi natrium, tetapi 

tidak mengganggu kadar kalium sebab  kadar Kalium O. 

stamineus tinggi yaitu 600–700 mg/100 g daun segar. 

Methylripariochromene A (MRC) yang diisolasi dari daun 

O. Stamineus memicu  penurunan tekanan darah 

sistolik dan laju kerja jantung setelah pemberian secara 

subkutan pada SHRSP (Stroke-prone spontaneously 

hypertensive rats). MRC menurunkan tekanan kontraksi 

endothelium aorta torakalis tikus yang diinduksi oleh K+ 

tinggi, 1-fenilefrin atau prostaglandin F2α. MRC 

menghambat  daya kontraktil tanpa reduksi yang 

signifikan pada kontraksi atrium marmut yang diisolasi. 

MRC meningkatkan jumlah urin dan sekresi Na+, K+, dan 

Cl- selama 3 jam setelah pemberian oral pada tikus. 

Dapat disimpulkan methylripariochromene A (MRC) 

berkhasiat  yang berhubungan dengan penurunan 

tekanan darah, seperti vasodilatasi, penurunan curah 


 

jantung, dan diuretik. Efektivitas antihipertensi 

ditimbulkan oleh senyawa methylripariochromene A 

(MRC) dalam daun O. stamineus. 

Studi untuk melihat efek  diuretik dan hipourisemia 

ekstrak daun O stamineus dilakukan pada tikus dengan 

ekstrak  metanol dan metanol-air (1:1). Sebagai kontrol 

positif dipakai  hydrochlorothiazide (10 mg/kg BB). 

Ekstrak Metanol dan metanol-air (1:1) diberikan 0,5 

g/kgBB selama 7 hari. Aktivitas  hipourisemia ekstrak 

metanol-air (1:1) dilakukan dengan pemberian dosis 

tunggal (0,25; 0,5; 1 dan 2 g/kg BB) dan allopurinol 

sebagai  kontrol positif. Hasil menunjukkan bahwa 

ekskresi sodium dan potassium meningkat bermakna (p 

< 0,05 dan p < 0,01) 8 jam pasca dosis tunggal (2 g/kg 

BB) setara dengan diuretik hydrochlorothiazide. Dosis 

berulang ekstrak methanol-air (1:1) 0,5 g/kg BB 

meningkatkan volume urin (p <0.01) dan ekskresi 

elektrolit (Na+ dan K+) (p < 0,05 dan p < 0,01) secara 

bermakna dari hari ke-3 sampai hari ke-7. Ekstrak 

metanol-air (1:1) 0,5; 1 dan 2 g/kg BB serta allopurinol 

menurunkan kadar asam urat serum pada tikus 

hiperurisemia pada jam ke-6. Disimpulkan ekstrak 

metanol-air (1:1) menimbulkan efek diuretik dan 

hipourisemia. 

Ekstrak air O. stamineus diberikan per oral dengan 

dosis 0,5 dan 10 mg/kg BB pada tikus dengan 

pembanding furosemide atau hydrochlorthiazide 10 

mg/kg BB. Ekstrak O. stamineus  memperlihatkan 

aktivitas diuretik yang tergantung dosis. Ekskresi Na+ 

dan Cl- tidak jelas meningkat, tetapi ekskresi K+ urin 

meningkat secara bermakna.  

Ekstrak O. stamineus juga meningkatkan  kadar 

BUN serum, kreatinin dan gula darah, walau berbeda 

bermakna dibanding kontrol, tetapi masih dalam batas 

normal. Disimpulkan  O. stamineus memperlihatkan efek 

diuretik namun kurang poten dibanding furosemide dan 

hydrochlorothiazide. Perlu kehati-hatian sebab  diamati 

ada peningkatan enzim fungsi ginjal sedikit. 

 

Ekstrak etanol 50% (v/v) atau etanol 70% (v/v) daun 

O. stamineus dengan dosis masing-masing  700 mg/kg 

BB, diuji efek diuretiknya  pada tikus, dengan  air, dan 

Furosemide (30 mg/kg BB, per oral) sebagai kontrol. 

Volume urin meningkat  2,5 kali pada terapi furosemide 

dibanding kontrol, meningkat 1,3 kali pada ekstrak 

etanol 50% dan tidak meningkat pada ekstrak etanol 

70%. Ekskresi sodium meningkat pada semua kelompok 

dibanding kontrol, dan efek natriuretik ekstrak etanol 

50% lebih besar daripada  furosemide. Ekskresi 

Potassium meningkat, tetapi < furosemide. Eliminasi 

asam urat  juga membaik. 

Efek diuretik ekstrak metanol dan metanol-air (1:1) 

daun O. stamineus diuji pada tikus dengan dosis tunggal 

(2000 mg/kg BB) atau dosis berulang (500 g/kg BB/hari 

selama 7 hari), dengan Hydrochlorothiazide (10 mg/kg 

BB) sebagai kontrol positif. Dosis metanol tunggal atau 

ekstrak metanol-air  tidak menginduksi peningkatan 

output urin yang bermakna, terbalik dari 

hydrochlorothiazide. Peningkatan  pH urin, dan ekskresi  

sodium dan potassium terjadi pada ke-2 ekstrak. 

Pemberian berulang ekstrak metanol-air (1:1) 500 

mg/kgBB meningkatkan output urin bermakna sejak 

hari ke-3 dibanding kontrol negatif. Pada kelompok 

ekstrak  metanol, terlihat peningkatan bermakna volume 

urin kumulatif pada hari ke-7. 

Kedua ekstrak meningkatkan ekskresi sodium dan 

potassium dari hari ke-4 dan   ke-7. 

Methylripariochromene A (MRC) diisolasi (2.3%) dari 

fraksi yang larut dalam kloroform dari dekokta daun O. 

stamineus. Tikus diberi MRC (25, 50 and 100 mg/kg BB) 

dengan kontrol pelarut (solutio 0.5% Tween 80), dan 

hydrochlorothiazide (25 mg/kg BB). Urin dikumpulkan 3 

jam pasca    pemberian, dengan hasil pada dosis sampai 

50 mg/kg BB MRC tidak ada perubahan. Peningkatan 

volume urin 3 kali didapat pada dosis 100 mg/kg BB dan 

kelompok  hydrochlorothiazide. Ekskresi ion (Na+, K+, Cl-) 

juga meningkat secara bermakna. Intensitas efek ½ dari 


 

hydrochlorothiazide dalam hal ekskresi ion sodium dan 

chloride , sedang  jumlah ekskresi potassium urin 2 

kali kontrol pada tikus yang mendapat 100 mg/kg BB 

dan  hydrochlorothiazide. Kadar tiap ion dalam urin 

tidak dimodifikasi oleh MRC, sedang   

hydrochlorothiazide meningkatkan kadar ion sodium dan 

chloride urin secara bermakna. Disimpulkan mekanisme 

diuretik MRC mungkin tidak sama dengan 

hydrochlorothiazide. 

2)   Uji Klinik:  

Pada 14 pasien yang menerima 12% sediaan infusa 

(500 mL/hari) selama 10 hari terjadi peningkatan efek 

diuretik dan eliminasi klorida dan urea.  

Studi lain pada 67 pasien yang menderita urathic 

diathesis tidak mempengaruhi diuresis, filtrasi 

glomerulus, kandungan plasma dan ekskresi kalsium, 

fosfat anorganik dan asam urat selama 3 bulan 

pemberian infusa daun kumis kucing. 

g. Indikasi  

Diuretik 

h. Kontraindikasi  

       Penderita hipersensitivitas terhadap komponen aktif 

kumis kucing, udem sebab  gangguan jantung atau ginjal. 

i. Peringatan :  

      Hindari pemakaian  kumis kucing dalam jangka waktu 

lama. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (2 liter atau 

lebih per hari), ketika memakai  kumis kucing. Harus 

disertai asupan cairan yang cukup. 

j. Efek Samping 

      Tidak ada efek samping pada pemakaian  secara benar 

sesuai dengan dosis terapi 

k. Interaksi 

      Belum Diketahui  

l. Posologi 

      3 x 1 kapsul (280 mg ekstrak)/hari 

 

 


 

3. Meniran   

Phylanthus niruri (Val.)  

 Suku : Euphorbiaceae 

      

Gambar 26. Meniran 

 

a. Nama daerah 

Gosau na dungi; Gosau madungi roriha; Daun gendong 

anak, Meniran, Memeniran. 

b. Bagian yang dipakai   

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak, tanaman semusim. Terna tumbuh tegak, tinggi 

50 cm – 1 m, bercabang berpencar, cabang memiliki  daun 

tunggal yang berseling dan tumbuh mendatar dari batang 

pokok. Batang berwarna hijau pucat atau hijau kemerahan. 

Batang masif, bulat licin, tidak berambut, diameter 3 mm. 

Daun majemuk, berseling, anak daun 15-24, berwarna hijau. 

Bentuk daun bundar telur sampai bundar memanjang, 

panjang daun 5 mm-10 mm, lebar 2,5 mm- 5 mm, 

permukaan daun bagian bawah berbintik-bintik kelenjar, tepi 

rata, ujung tumpul, pangkal membulat. Bunga 

berwarnaputih, tunggal. Bunga keluar dari ketiak daun. 

Bunga jantan terletak di bawah ketiak daun, berkumpul 2-4 

bunga, gagang bunga 0,5 mm-1 mm, helai mahkota bunga 

berbentuk bundar telur terbalik, panjang 0,75 mm-1 mm, 

berwarna merah pucat. Bunga betina di bagian atas ketiak 

daun, gagang bunga 0,75-1 mm, helai mahkota bunga 

berbentuk bundar telur sampai bundar memanjang, tepi 

berwarna hijau muda, panjang 1,25 mm-2,5 mm. Buah 

kotak, bulat, diameter 2 mm, berwarna hijau keunguan, licin, 

- 86 - 

 

panjang gagang buah 1,5-2 mm. Biji kecil, keras, berwarna 

coklat. 

d. Kandungan kimia  

Katekin, galokatekin, epikatekin, epikatekin-3-galat, 

epigalokatekin, 4-hidroksilintetralin, 4-hidroksisesamin, 

epigalokatekin-3-O-galat, limonen, norserurinin, 4-metoksi-

norserurinin, 2,3-dimetoksi-isolintetralin, 24-isopropil 

kolesterol, asam askorbat, astragalin, β- sitosterol, korilagin, 

simen, demetilenedioksi nirantin, asam dotriakontanat, asam 

elagat, eriodiktiol-7-O-α-L-ramnosid, estradiol, fisetin-41-O-β-

D-glukosid, asam galat, geranin, hinokinin, hidroksinirantin, 

hipofilantin, isolintetralin,    isokuersitrin, kaemferol-4-O-α-L-

ramnosid, linantin, asam linoleat, asam linolenat, lintetralin, 

lupeol asetat, lupeol, nirantin, nirfilin, nirtetralin, nirurin, 

nirurinetin, norsekurinin, filantenol, filantenon, filanteol, 

filantin, filnirurin, filokrisin, filetetrin, kuersetin, asam 

repandusinat, asam rikinoleat, rutin, metal ester asam 

salisilat, seko-4-hidroksi-lintetralin, trans-fitol. Filantin, 

hipofilantin, damar, kalium, tanin. Filantina; hipofilantina; 

kalium; damar tannin 

e. Data keamanan  

LD50 :1.588 mg/kg BB mencit per oral. Toksisitas 

subkronik: Dosis s/d 4800 mg/kg BB tikus diberikan selama 

3 bulan per oral tidak menimbulkan kelainan pada organ 

vital. Pada tikus hamil 7 hari dosis 96, 960, 4800 mg/kg BB 

setiap hari selama 16 hari tidak menimbulkan efek 

teratogenik. 

f. Data manfaat   

1)  Uji Praklinik: 

Ekstrak air P. niruri diuji pada tikus untuk efek 

diuretik, dengan dosis tunggal per oral (200 mg/kg BB 

dan 400 mg/kg BB) dan hidroklorotiazid (10 mg/kg BB) 

sebagai kontrol. Didapat peningkatan volume urin dan 

ekskresi sodium, potasium serta klorida bermakna setara 

dengan hidroklorotiazid, pH urin tidak berubah 

(perlakukan 8,2 versus 8,5 dengan hidroklorotiazid). Efek 

diuretik, pengaruh terhadap fungsi ginjal dan hati serta 

daya melarutkan batu ginjal asam urat dari dekokta dan 


 

infusa herba P. niruri (A dan B) 10% b/v diberikan oral 

pada tikus. Dosis 500 mg/kg BB dan 1000 mg/kg BB P. 

niruri (A) memperlihatkan efek diuretik sedang. 

Dekokta P. niruri (B) meskipun meningkatkan 

diuresis namun tidak memenuhi kriteria sebagai diuretik 

sedang. Infusa P. niruri (A) memiliki  efek diuretik kuat   

dan meningkatkan ekskresi ion natrium dan kalium 

dalam urin, tetapi tidak mempengaruhi ekskresi ion 

kalsium. Sebuah penelitian dilakukan pada 5 kelompok 

tikus, kelompok I (Gp I) mendapat pelarut, Gp II 

hidroklorotiazid, Gp III (ekstrak petroleum ether bahan 

100 mg/kg BB), Gp IV (ekstrak bahan 200 mg/kg BB), 

dan Gp V (ekstrak bahan 400 mg/kg BB) selama 28 hari. 

Hasil menunjukkan bahwa P. niruri bekerja sebagai 

diuretik yang efektif (meningkatkan  volume urin, 

ekskresi Na, K dan Cl).  

2)   Uji Klinik: 

Efek diuretik P. niruri dilakukan pada 9 pasien 

hipertensi (4 di antaranya juga diabetes mellitus) yang 

diberi herba P. niruri selama 10 hari. Didapat 

peningkatan bermakna dari volume urin 24 jam, kadar 

Na urin dan serum. Tidak diamati ada efek samping 

berbahaya. Disimpulkan P. niruri merupakan diuretik 

yang  potential. 

3)  Indikasi  

Diuretik  

4)  Kontraindikasi 

Kehamilan, penyakit jantung, hipoglikemia. 

5)  Peringatan 

Dosis tinggi dapat menimbulkan aborsi. Pemakaian 

berlebih dapat memicu  impotensi. 

6) Efek Samping 

Pemakaian secara luas tidak dilaporkan memiliki  

efek samping berbahaya. Hipotensi, hipoglikemia, 

gangguan keseimbangan elektrolit.  

7) Interaksi  

Meningkatkan efek insulin dan obat antidiabetes. 

Mengandung graniin yang dilaporkan memiliki  efek 

- 88 - 

 

inotropik dan kronotropik negatif, hipotensi, sebab  itu 

dapat meningkatkan efek obat antihipertensi, ACE 

inhibitor, α-blocker dan obat jantung lain. Ekstrak etanol 

menghambat enzim sitokrom P450 invivo dan invitro.  

8) Posologi 

2 x 1 kapsul (25 mg ekstrak)/hari.  

 

4. Seledri   

Apium graveolens  L  

Suku : Apiacea  

        

Gambar 27. Seledri  

 

a. Bagian yang dipakai   

Herba 

b. Nama daerah  

Seledri 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Terna tumbuh tegak, tinggi sekitar 50 cm dengan bau 

aromatik yang khas. Batang persegi, beralur, beruas, tidak 

berambut, bercabang banyak, berwarna hijau. Daun 

majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3-7 helai. Anak 

daun bertangkai 1-2,7 cm, helaian daun tipis dan rapuh, 

pangkal dan daun runcing, tepi beringgit, panjang 2-7,5 cm, 

lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau 

keputihan. Bunga berbentuk payung 8-12 buah, kecil2 

berwarna putih, mekar secara bertahap. Buah kotak, 

berbentuk kerucut, panjang 1-1,5 mm, berwarna hijau 

kekuningan.  

 

 


 

d. Kandungan kimia  

Flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak atsiri 0.033%, 

flavor-glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin, zat 

pahit, vitamin (A,B,C). Setiap 100 g herba seledri 

mengandung air 93 ml, protein 0.9 g, lemak 0,1 g, 

karbohidrat 4 g, serat 0,9 g, kalsium 50 mg, besi 1 mg, fosfor 

40 mg, yodium 150 mg, kalium 400 mg, magnesium 85 mg, 

vitamin A 130 IU, vitamin C 15 mg, riboflavin 0,05 mg, tiamin 

0,03 mg, nikotinamid 0,4 mg. Akar mengandung asparagin, 

manit, minyak atsiri, pentosan, glutamin, dan tirosin. Ekstrak 

diklorometan akar seledri mengandung senyawa poliasetilen 

falkarinol, falkarindiol, panaksidiol dan 8-O-metilfalkarindiol. 

Biji mengandung apiin, minyak atsiri, apigenin, alkaloid. 

Senyawa yang memberi bau aromatik yaitu  ftalides (3-

butilftalid & 5,6-dihidro turunan sedanenolid). 

e. Data keamanan  

LD50 peroral pada tikus : 7,55 g/kg BB 

LD50 peroral pada tikus lebih besar 5000 mg/kg BB. Tidak 

toksik pada pemberian subkronik dengan dosis per oral 5000 

mg/kg BB pada tikus. 

f. Data manfaat 

Uji Praklinik: 

Infusa daun seledri 20; 40% dosis 8 mL/ekor pada tikus 

putih dengan pembanding furosemida dosis 1,4 mg/ekor, 

dapat memperbanyak urin secara bermakna.  

g. Indikasi  

Diuretik 

h. Kontraindikasi  

sebab  diuretik kuat maka tidak dipakai  pada 

gangguan ginjal akut, infeksi ginjal, kehamilan. Buah seledri 

mengandung fuanokumarin yang berefek fototoksik dan dapat 

memicu terjadinya reaksi alergi. 

i. Peringatan: 

Herba seledri segar lebih dari 200 g sekali minum dapat 

memicu  penurunan tekanan darah secara tajam 

sehingga mengakibatkan syok. Dosis 200 g juga 

memicu  efek diuretik. 

 


 

j. Efek Samping: 

Alergi 

k. Interaksi  

Meningkatkan efek obat antihipertensi dan diuretik.Biji 

seledri dapat mengencerkan darah, sehingga tidak dipakai  

pada orang yang memakai  pengencer darah, termasuk 

aspirin, dan Warfarin. Pasien yang memakai  diuretik  

tidak boleh mendapat biji seledri.  

l. Posologi 

2 x 1 sachet (2 g serbuk biji)/hari, seduh dalam 1 cangkir 

air. 1 x 1 kapsul (100 mg ekstrak daun)/hari.  

 

I. HERBAL UNTUK NEFROLITIASIS 

2. Alang-alang    

Imperata cylindrica  (L)/ Imperata arundinacea (Cyr) 

 Suku : Poaceae 

 

Gambar 28. Alang-alang 

 

a. Nama daerah  

Naleueng lakoe, hilalang, tingen, puang, padang, 

buhang, belalang, bolalang, eurih, kebut, ambengan, 

pandengo, padanga. 

b. Bagian yang dipakai   

Akar (rimpang) 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba rumput, berimpang dengan permukaan luar 

hitam, merayap di bawah tanah. Batang tegak membentuk 

satu perbungaan, padat, pada bukunya berambut jarang.  

d. Kandungan kimia  


 

Flavonoid turunan fluvonal, asam-asam vanillat-, ferulat-

p-kumarat-, p-hidroksibenzoat dalam bentuk bebas, dan 

asam kafeat dalam bentuk ester.  

e. Data keamanan  

LD50 ekstrak air akar peroral pada tikus lebih besar 5000 

mg/kg BB. Tidak menunjukkan toksisitas subkronik pada 

pemberian ekstrak air sampai dosis per oral 1200 mg/kg BB 

pada tikus. 

f. Data manfaat  

Uji praklinik:  

In vitro fraksi etil asetat dan fraksi air ekstrak etanol 70% 

dapat melarutkan batu ginjal kalsium. 

g. Indikasi 

 Nefrolitiasis  

h. Kontraindikasi 

 Belum diketahui 

i. Peringatan 

 Belum diketahui 

j. Efek Samping 

 Pusing, mual, ingin defekasi 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 sachet (10 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai menjadi 1 gelas. 

 

2. Keji beling  

Strobilanthus crispus L  

Sinonim : Stachytarpheta mutabilis Vahl, Sericocalyx crispus L. 

           Suku: Acanthaceae         

    

Gambar 29. Keji Beling  

 

 

a. Nama Daerah  

  Keji beling, ngokilo 

b. Bagian yang dipakai  

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

Berbatang basah dan sepintas lalu menyerupai rumput 

berbatang tegak. Di Jawa tanaman ini banyak terdapat di 

pedesaan yang tumbuh sebagai semak. Batang pohonnya 

berdiameter antara 0,2-0,7 cm. Kulit luar berwarna ungu 

dengan bintik-bintik hijau dan apabila menjadi tua berubah 

menjadi coklat. Daun ngokilo berbentuk bulat telur, pada 

tepinya bergerigi dengan jarak agak jarang, berbulu halus 

hampir tak kelihatan. Panjang helaian daun (tanpa tangkai) 

berkisar antara 5-8 cm (ukuran normal) dan lebar daun kira-

kira 2-5 cm. 

d. Kandungan Kimia 

Kalium, natrium, kalsium dan beberapa unsur lainnya. 

e. Data Keamanan  

LD50 ekstrak daun per oral pada tikus: > 5 g/kg BB. 

Toksisitas subkronik daun keji beling menunjukkan 

parameter  SGOT, SGPT, ureum, kreatinin dan Hb serta hasil 

analisis perubahan histopatologis organ-organ penting tikus 

percobaan seperti hati, paru, ginjal, jantung, lambung dan 

usus tidak terlihat perbedaan yang signifikan antara 

kelompok kontrol dan kelompok yang diberi bahan uji ekstrak 

etanol 70% daun keji beling sampai dengan dosis 125 mg/100 

g BB 

f. Data manfaat  

Uji Praklinik:  

Ekstrak S. crispa dapat menghambat pertumbuhan 

kristal kalsium oksalat. Efektivitas ekstrak air lebih besar 

daripada ekstrak aseton 70% dan metanol. Hambatan ekstrak 

S. Crispa lebih kecil daripada sodium sitrat sebagai kontrol 

positif. 

g. Indikasi 

Nefrolithiasis 

 


 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

 Belum diketahui 

j. Efek Samping   

 Belum diketahui 

k. Interaksi     

 Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 2 kapsul (500 mg ekstrak)/hari 

 

3. Meniran   

       Phylanthus niruri (Val.)  

            Suku : Euphorbiaceae 

  

Gambar  30. Meniran 

 

a. Nama daerah 

 Gosau na dungi; gosau madungi roriha; daun gendong 

anak, meniran, memeniran  

b. Bagian yang dipakai   

 Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak, tanaman semusim. Terna tumbuh tegak, tinggi 

0,5-1 m, bercabang berpencar, cabang memiliki  daun 

tunggal yang berseling dan tumbuh mendatar dari batang 

pokok. Batang berwarna hijau pucat atau hijau kemerahan. 

Batang masif, bulat licin, tidak berambut, diameter 3 mm. 

Daun majemuk, berseling, anak daun 15-24, berwarna hijau. 

Bentuk daun bundar telur sampai bundar memanjang, 

panjang daun 5-10 mm, lebar 2,5-5 mm, permukaan daun 

- 94 - 

 

bagian bawah berbintik-bintik kelenjar, tepi rata, ujung 

tumpul, pangkal membulat. Bunga berwarna putih, tunggal. 

Bunga keluar dari ketiak daun. Bunga jantan terletak di 

bawah ketiak daun, berkumpul 2-4 bunga, gagang bunga 0,5 

mm-1 mm, helai mahkota bunga berbentuk bundar telur 

terbalik, panjang 0,75-1 mm, berwarna merah pucat. Bunga 

betina di bagian atas ketiak daun, gagang bunga 0,75-1 mm, 

helai mahkota bunga berbentuk bundar telur sampai bundar 

memanjang, tepi berwarna hijau muda, panjang 1,25-2,5 mm. 

Buah kotak, bulat, diameter 2 mm, berwarna hijau keunguan, 

licin, panjang gagang buah 1,5-2 mm. Biji kecil, keras, 

berwarna coklat. 

d. Kandungan kimia  

Katekin, galokatekin, epikatekin, epikatekin-3-galat, 

epigalokatekin, 4-hidroksilintetralin, 4-hidroksisesamin, 

epigalokatekin-3-O-galat, limonen, norserurinin, 4-metoksi-

norserurinin, 2,3-dimetoksi-isolintetralin, 24-isopropil 

kolesterol, asam askorbat, astragalin, β- sitosterol, korilagin, 

simen, demetilenedioksi nirantin, asam dotriakontanat, asam 

elagat, eriodiktiol-7-O-α-L-ramnosid, estradiol, fisetin-41-O-β-

D-glukosid, asam galat, geranin, hinokinin, hidroksinirantin, 

hipofilantin, isolintetralin, isokuersitrin, kaemferol-4-O-α-L-

ramnosid, linantin, asam linoleat, asam linolenat, lintetralin, 

lupeol asetat, lupeol, nirantin, nirfilin, nirtetralin, nirurin, 

nirurinetin, norsekurinin, filantenol, filantenon, filanteol, 

filantin, filnirurin, filokrisin, filetetrin, kuersetin, asam 

repandusinat, asam rikinoleat, rutin, metal ester asam 

salisilat, seko-4-hidroksi-lintetralin, trans-fitol. Filantin, 

hipofilantin, damar, kalium, tanin. Filantina; hipofilantina; 

kalium; damar tanin 

e. Data keamanan  

LD50 : 1,588 mg/kg BB mencit per oralToksisitas 

subkronik: Dosis