formularium herbal 5

 





membulat, tepi 

rata, panjang hingga 14 cm, lebar hingga 6 cm, tulang daun 

menyirip, warna hijau kekuningan. Bunga di ketiak daun, 

mahkota warna putih kekuningan, berkumpul 1-3 bunga. 

Buah bentuk bundar telur, warna putih  kekuningan, kulit 

tipis, berdaging tebal, beraroma wangi, rasa manis asam.  

d. Kandungan kimia  

Senyawa flavonoid : guaijavarin, kuersetin, kuersitrin,  

isokuersetin,  guajavarin (kuersetin 3-O-α-L-arabinosida) dan 

asam guajavolat. Glukosida flavonoid: 3-O-α-L-liksopiranosida 

dan morin-3-O-alfa-L-arabopiranosida, serta minyak atsiri, 

tanin,  sitosterol. 

- 179 - 

 

e. Data keamanan: 

 LD50 mencit intraperitoneal: 13,12 (8,95-19,23 mg/10 g 

BB). LD50 ekstrak air per oral yaitu  5 g/kg BB. LD50 ekstrak 

Petroleum eter 5 g/kg BB; ekstrak kloroform: 5 g/kg BB; 

ekstrak etil asetat: 2 g/kg BB; ekstrak methanol: 2 g/kg BB;  

ekstrak air: 2 g/kg BB. 

f. Data manfaat  

a.  Uji praklinik :  

Kandungan kuersetin dalam daun menunjukkan 

efek menurunkan kontraksi ileum melalui efek antagonis 

kalsium, serta menghambat sekresi asetilkolin dalam 

lambung. 

Ekstrak air daun menunjukkan adanya efek 

antidiare dengan mengurangi efek peristaltik, khasiat 

antiamuba dan antibakteri, antara lain Shigella flexnerri, 

Salmonella thyphi, Bacillus sp., Clostridium sp. Secara in 

vitro ekstrak heksana, metanol dan air menunjukkan 

aktivitas spasmolitik, sedang  ekstrak etanol juga 

memiliki  aktivitas terhadap enterobakteri. Flavonoid 

dari daun jambu biji seperti morin, kuersetin dan 

glikosidanya dapat menghambat mikroba patogen. 

Ekstrak metanol daun jambu biji pemberian secara oral 

dengan dosis 50-200 mg/kg BB dapat menghambat diare 

pada tikus yang diinduksi dengan minyak jarak. Selain 

itu juga dapat meningkatkan konsistensi feses. Efek 

antispasmodik dan antidiare ekstrak daun jambu melalui 

penghambatan motilitas usus. Efek spasmolitik ini 

berhubungan dengan kandungan flavonoid pada daun 

jambu biji, yaitu turunan kuersetin. Ekstrak air daun 

jambu dosis 50-400 mg/kg BB per oral pada tikus dan 

mencit menunjukkan pengurangan motilitas usus 

dengan mekanisme kerja seperti atropin dosis 1 mg/kg 

BB, menurunkan frekuensi dan keparahan diare seperti 

loperamid 10 mg/kg BB. 

Ekstrak metanol pada dosis 200 mg/kg BB 

menunjukkan efek hepatoprotektor yang setara dengan 

silimarin 100 mg/kg BB.  

 

- 180 - 

 

b.  Uji klinis :  

Mekanisme antispasmodik disebabkan sebab  

inhibisi terhadap sekresi Na+ dan K+ dan berkurangnya 

transpor air melalui dinding membran. 

g. Indikasi  

Diare ringan 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Pada kulit yang sensitif, bulu-bulu halus pada helai 

daun berpotensi menimbulkan reaksi alergi. Ekstrak daun 

berpotensi memperpanjang waktu pembekuan darah. Buah 

yang masih mentah tidak dicerna oleh lambung dan 

mengakibatkan rasa mual. Jangan dipakai  lebih dari dosis 

dan lama pemberian yang direkomendasikan.  

j. Efek Samping 

Konstipasi, alergi. 

k. Interaksi 

Menghambat absorpsi zat besi. 

l. Posologi 

4 x 1 tablet (500 mg ekstrak)/hari, diminum saat makan. 

 

2. Sambiloto  

Andrographis paniculata (Burm.) F, Nees 

Suku : Acanthaceae 

      

Gambar 61. Sambiloto 

 

a. Nama daerah 

Papaitan, ki oray, ki peurat, takilo, bidara, sadilata, 

sambilata, takila, ampadu  

b. Bagian yang dipakai  

Herba 

- 181 - 

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tidak berambut, tebal 2-6 mm, persegi empat, 

batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. 

Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, 

bentuk lanset sampai bentuk lidah tombak, rapuh, tipis, 

tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi 

daun rata. Permukaan alas berwarna hijau tua atau hijau 

kecokelatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. 

Tangkai daun pendek. Buah berbentuk jorong, pangkal dan 

ujung tajam, kadang-kadang pecah secara membujur. 

Permukaan luar kulit buah berwarna hijau tua hingga hijau 

kecokelatan, permukaan dalam berwarna putih atau putih 

kelabu. Biji agak keras, permukaan luar berwarna cokelat 

muda dengan tonjolan.  

d. Kandungan kimia  

Kandungan utama yaitu  lakton diterpen termasuk 

andrografolid, deoksiandrografolid, neoandrografolid, 

andrografisid, deoksiandrografisid dan andropanosid (1, 3, 6, 

7, 9,). Senyawa diterpen termasuk andrografolid, 

isoandrografolid, 14-deoksiandrografolid (DA), 14-deoksi-

11,12-didehidroandrografolid (DDA), 14-deoksi-11-

oksoandrografolid, neoandrografolid, di-deoksiandrografolid 

(andro-grafisid), 14-deoksiandro-grafosid (andropanosid), 

andrograpanin, deoksiandrografolid-19-D-glukosid, 14-

deoksi-11,12-dihidroandrografisid, 6’-asetil-neoandrografolid, 

bis-andrografolid A,B,C,D.  Dari akar sambiloto diisolasi satu 

senyawa flavones glukosida, andrografidin A dan 5 flavon 

glukosida, andrografidin B,C,D,E,F bersama 5-hidroksi-

7,8,2’,3’-tetrametoksiflavon, dan 7,8-dimetoksi-5-hidroflavon. 

Daun dan cabang: lakltone, berupa deoksi-andrografolid, 

andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12 

didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. Akar : 

flavonoid, berupa polimetoksiflavon, andrografin, panikolin, 

mono-o-metilwitin dan apigenin-7,4-dimetil eter, alkan, keton, 

aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik. 

Andrografolid 1 %, kalmegin (zat amorf), hablur kuning, pahit 

sampai sangat pahit. 

 

- 182 - 

 

e. Data keamanan  

Ekstrak sambiloto dosis 75, 150 dan 225 

mg/mencit/hari selama masa organogenesis memiliki 

aktifitas abortifum. Andrografolid (zat aktif sambiloto) 

memiliki  efek antifertilitas pada mencit betina. 

memicu  gangguan refleks setelah pemberian bahan 

uji dosis 9 g/kg BB pada mencit galur Swiss Webster 

Uji toksisitas akut ekstrak etanol 50% sambiloto dosis 15 

g/kg BB pada mencit tidak menimbulkan efek toksik. Nilai 

LD50 ekstrak sambiloto yang diberikan peroral maupun 

subkutan > 15 g/kg BB dan nilai LD50 yang diberikan secara 

intraperitoneal yaitu  14,98 g/kg BB. 

Ekstrak daun sambiloto yang diberikan secara subkutan 

pada kelinci dengan dosis 10 mL/kg BB tidak 

memperlihatkan efek toksik. Pemberian per oral suspensi 

serbuk daun 2 g/kg BB; ekstrak etanol             2,4 g/kg BB 

maupun andrografolid 3 g/kg BB tidak memperlihatkan efek 

toksik pada mencit jantan maupun betina. Pemberian 

suspensi serbuk daun sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg 

BB selama 4 minggu pada mencit tidak terlihat adanya efek 

toksik terhadap pertumbuhan, organ visceral mayor, 

kesuburan ataupun teratogenik. Pemberian per oral serbuk 

daun dengan dosis 50; 100 dan 150 mg/kg BB selama 14 

minggu pada tikus tidak memperlihatkan efek toksik tapi 

dosis 150 mg/kg BB menghambat pertumbuhan tikus. 

LD50 peroral dengan dosis 27.54 g/kg BB praktis tidak 

toksik. Ekstrak daun sambiloto pada hewan uji tidak 

menimbulkan efek toksik pada fungsi hati dan ginjal, pada 

pemakaian subkronik. LD50 pada mencit dengan dosis 19.473 

g/kg BB praktis tidak toksik. Uji teratogenik pada mencit 

dengan dosis 5 kali dosis lazim tidak menunjukkan kelainan 

morfologi pada janin. Merusak sel trofasit dan trofoblas 

f. Data manfaat   

1)  Uji praklinik: 

Andrographolide 1 mg sama efektif dengan 

loperamide terhadap endotoksin E. coli yang labil 

terhadap panas, dan sedikit kurang aktif dari loperamide 

untuk endotoksin yang stabil terhadap panas. 

- 183 - 

 

Mekanisme kerja melalui stimulasi adenyl cyclase 

bagi endotoksin yang labil terhadap panas dan melalui 

guanylate cyclase untuk yang stabil terhadap panas. 

Analisis Western blot memperlihatkan bahwa 

andrographolide menghambat ekspresi isoform yang 

diinduksi oleh nitrit oksida sintetase sebab   syok 

disebabkan endotoksin. 

2)   Uji klinik: 

Kombinasi antara andrographolide dan 

neoandrographolide dilaporkan lebih efektif dari 

furazolidine atau chloramphenicol untuk disentri basiler. 

Uji klinik RCT pada 200 pasien membandingkan serbuk 

herba dengan tetracycline 4 x 500 mg selama 3 hari 

untuk diare akut dan disentri basiler. Serbuk herba 

menurunkan frekuensi dan jumlah diare. Serbuk herba 

juga lebih efektif untuk diare sebab  shigellosis. 

g. Indikasi:   

Diare 

h. Kontraindikasi:  

Kehamilan dan laktasi. 

i. Peringatan  

Air perasan dapat menimbulkan bengkak pada mata. 

j. Efek Samping 

Alergi pada pasien yang peka terhadap famili 

Acanthaceae. Pernah ada laporan urtikaria setelah minum 

rebusan sambiloto. 

k. Interaksi 

Hindari pemakaian  jangka panjang bersamaan obat 

imunosupresan. Hati-hati pada pasien kardiovaskular, bila 

dikonsumsi bersamaan obat antiplatelet atau antikoagulan 

sebab  sambiloto dapat menghambat agregasi platelet. 

Dengan daun salam dapat menurunkan kadar gula darah 

lebih stabil. 

l. Posologi 

3 x 2 tablet (500 mg ekstrak)/hari pc.  

 

 

 

- 184 - 

 

R. HERBAL UNTUK INSOMNIA  

1. Pala  

Myristica fragrans  Hout 

Suku : Myristicaceae   

 

       

  Gambar 62. Pala 

 

a. Nama daerah 

  Falo, kapala, bubula, pal, pahalo, gosora 

b. Bagian yang dipakai   

   Biji 

c. Deskripsi tanaman/simplisia  

Pohon tinggi 15 m, bertajuk rimbun. Batang tegak, 

berkayu, bulat, percabangan simpodial dan berwarna putih 

susu. Daun tunggal berbentuk lonjongujung dan pangkal 

runcing, tepi rata, panjang 8-10 cm dan lebar 3-5 cm, 

pertulangan menyirip, hijau mengkilat. Bunga majemuk 

berbentuk malai, tumbuh di ketiak daun, bunga jantan 

berbentuk periuk, bunga betina 1-2 helai, daun pelindung 

built, mahkota bertajuk dabn berwarna kuning. Buah licin, 

agak bulat, berwarna kuning panjang 3-6 cm dan lebar 3-5.5 

cm. biji kecil, bulat telur, kulit ari berwarna putih kekuningan 

26026kemudian berubah menjadi merah tua, mengkilat dan 

berbau wangi, berwarna hitam kecoklatan. Akar tunggang 

warna putih susu. 

d. Kandungan kimia  

   Minyak atsiri (kamfen, sinen, diterpen), minyak lemak 

e. Data keamanan 

    LD50 tikus oral :> 15 g/kgBB, dikategorikan aman. 

f. Data manfaat 

Uji Praklinik: 

- 185 - 

 

Efek sedatif seduhan biji pala dicoba pada mencit jantan, 

pada konsentrasi 60%.  Efek sedatif pada kelompok mencit 

yang diberi infus buah pala pada dosis 67,5 mg/10 g BB 

memicu  perpanjangan waktu tidur akibat pemberian 

fenobarbital, dibandingkan kelompok yang diberi akuades.  

g. Indikasi  

Insomnia 

h. Kontraindikasi:  

Kehamilan , laktasi, mono amine oxidase inhibitor (MAOI)  

i. Peringatan  

Dapat merangsang kontraksi uterus. Dosis besar 

menimbulkan abortus, perlemakan hati, nyeri epigastrium, 

aritmia, nausea, vomitus, sakit kepala dan delirium.  

j. Efek Samping:  

Radang kulit pada yang peka, diare dan rasa panas di 

perut/lambung. Dosis berlebih dapat menimbulkan delusi, 

halusinasi dan rasa tidak nyaman. 

k. Interaksi: 

Potensiasi waktu tidur phenobarbitone. Interaksi dengan 

etanol (sebab  pala memiliki  efek halusinogenik dan 

penghambat MAO), benzodiazepine seperti lorazepam atau 

diazepam, narkotik seperti kodein, beberapa antidepresan. 

Obat yang dimetabolisme melalui enzim cytochrome P450.  

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (300 mg serbuk)/hari 

 

2. Valerian   

 Valeriana officinalis  (L) 

 Sinonim : Valeriana alternifolia (Ledeb) 

                      Valeriana excels  (Poir)  

                      Valeriana sylvestris (Grosch)   

 Suku     : Valerianaceae 

        

Gambar 63. Valerian 

- 186 - 

 

a. Nama daerah  

  Ki Saat 

b. Bagian yang dipakai   

Akar dan daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Bagian herba yang di bawah tanah terdiri dari rimpang 

vertikal dengan banyak cabang dan 1 atau lebih stolon. 

Batang berlubang dapat mencapai tinggi 2 m, bercabang di 

bagian atas. Bunga kecil, putih atau merah jambu. 

d. Kandungan kimia 

Minyak atsiri (0,2-2,8%) dg kandungan utama bornil 

asetat dan bornil isovalerat, β-kariofilen, valeranon, varenal, 

asam asetoksivalerenat, asam valerenat, dan seskuiterpenoid 

dan monoterpen lain. Kandungan penting lain (0,05-0,67%) 

yaitu  non-glikosidat bisiklik iridoid monoterpen eoksi-ester 

yg dikenal dg valepotriat, yaitu valtrat dan isovaltrat. 

Dihidrovaltrat, isovaleroksi-hidroksidihidrovaltrat, 1-

asevaltrat. Valpotriat agak tidak stabil cepat hilang pada 

penyimpanan dan pemrosesan, terutama bila tidak 

dikeringkan dengan baik. Produk degradasinya yaitu  

baldrinal, homobaldrinal dan valtroksal. 

e. Data keamanan 

LD50: 15.000 mg/kg BB (oral pada tikus Pemberian 

valpotriat menimbulkan efek sitotoksik in vitro, namun tidak 

in vivo walau pada dosis 1350 mg/kg. Tidak terlihat efek 

teratogenik pada pemberian per oral jangka lama.  

f. Data manfaat   

1)  Uji Praklinik :  

Sebagai sedatif ringan dan obat tidur. Sering 

dipakai  sebagai substitusi dari sedatif sintetik yang 

lebih kuat seperti benzodiazepin pada terapi neurosis 

dan ansietas yang menimbulkan kesulitan tidur. In vitro, 

ekstrak air dari akar V. officinalis menghambat re-uptake 

dan menstimulasi pelepasan GABA yang dilabel 

radioaktif pada sinaptosom yang diisolasi dari sediaan 

korteks otak tikus. Aktivitas ini dapat meningkatkan 

kadar GABA ekstrasel pada celah sinaps sehingga 

meningkatkan efek biokimia dan sifat GABA.  

- 187 - 

 

2)  Uji Klinik: 

Pada studi tersamar ganda, valerian (ekstrak air dari 

akar 450 mg atau 900 mg) secara bermakna mengurangi 

masa laten tidur dibanding plasebo, sedang  dosis 

yang lebih tinggi tidak meningkatkan efek lebih lanjut. 

Ekstrak akar secara bermakna juga meningkatkan 

kualitas tidur, pada orang yang sulit tidur. Terlihat 

peningkatan gelombang lambat pada pasien dengan nilai 

basal yang rendah, tanpa perubahan REM. Pemberian 

ekstrak akar memperlihatkan penekanan pada aktivitas 

SSP, namun tapi tidak pada pemberian masing-masing 

kandungan bahan kimianya. Flavonoid glikosida linarin, 

flavon 6-metilapigenin & flavanon glikosida 2S(-) 

hesperidin yang diduga menimbulkan efek ansiolitik dan 

sedatif. 

Sebuah studi menunjukkan valerian memperbaiki 

skor HAM-A dan STAI-trait setelah 4 minggu 

pemakaian . Data menunjukkan valerian memperbaiki 

kualitas tidur dan latensi tidur untuk 4-6 minggu, dan 

efek lebih baik pada yang bermasalah tidur.  

Uji klinik multisenter terbuka tanpa kontrol 

terhadap 11.000 penderita yang diberi ekstrak air akar 

valerian (15-20%) dengan dosis 45 mg sehari sukses 

mengatasi insomnia. Dengan perincian untuk kesulitan 

mulai tidur (72%), kesulitan untuk meneruskan tidur 

setelah terbangun (76%) dan kurang istirahat serta 

tekanan pikiran (72%). 

g. Indikasi  

Antiansietas  (Grade C) dan insomnia (Grade B) 

h. Kontraindikasi: 

Kehamilan, laktasi dan gangguan fungsi hati. 

i. Peringatan:  

Hanya dipakai  untuk waktu singkat, bila tidak maka 

dapat menimbulkan sakit kepala, spasme otot, palpitasi, dan 

depresi. Jangan mengemudi atau menjalankan mesin. Jangan 

dikonsumsi bersama dengan alkohol atau obat sedatif lain.  

Jangan diberikan pada anak <12 tahun tanpa pengawasan 

dokter. 

- 188 - 

 

j. Efek samping:  

pemakaian  kronik dapat menimbulkan efek samping 

ringan seperti sakit kepala, ketegangan, rasa tidak nyaman 

dan insomnia. Dosis sangat besar dapat menimbulkan 

bradikardi dan aritmia serta penurunan motilitas saluran 

cerna. Pertolongan pertama dengan pemberian bilas lambung, 

karbon aktif, sodium sulfat. Dosis 20 kali dosis terapi hanya 

menimbulkan efek samping ringan yang akan hilang dalam 

24 jam.  

k. Interaksi: 

Valerian dapat meningkatkan durasi tidur  dengan 

golongan barbiturat, obat anestesi dan depresan SSP lainnya. 

l. Posologi:  

Anxietas: 1 x 1 kapsul (100 mg ekstrak akar).  

Insomnia:  1 x 1 kapsul (600 mg ekstrak akar),  30 menit 

sebelum tidur. 

 

S. HERBAL UNTUK PENYAKIT KULIT (PANU, KADAS, KURAP) 

1. Ketepeng Cina  

Cassia alata (L)Roxb.  

Suku : Fabace  

                

 Gambar 64. Ketepeng Cina 

 

a. Nama daerah 

Ketepeng kebo, ketepeng badak, acon-aconan, sajamera, 

kupang-kupang, tabankun, daun kupang, daun kurap, 

gelenggang, uru'kap. 

b. Bagian yang dipakai   

Daun  

 

- 189 - 

 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Habitus: Perdu, tinggi ± 5 m.  

Batang: Berkayu, bulat, percabangan simpodial, coklat kotor. 

Daun: Majemuk, menyirip genap, anak daun delapan sampai 

dua puluh empat pasang, bentuk bulat panjang, ujung 

tumpul, tepi rata, pangkal membulat, panjang 3,5-15 cm, 

lebar 2,5-9 cm, pertulangan menyirip, tangkai pendek, hijau.  

Bunga: Majemuk, bentuk tandan, kelopak berbagi lima, 

benang sari tiga, kuning, daun peiindung pendek, jingga, 

mahkota bentuk kupu-kupu, kuning.  

Buah: Polong, panjang, bersegi empat, panjang ± 18 cm, lebar 

± 2,5 cm, masih muda hijau setelah tua hitam kecoklatan. 

Biji: Segi tiga lancip, pipih, masih muda hijau setelah tua 

hitam.  

Akar: Tunggang, bercabang, bulat, kehitaman. 

d. Kandungan kimia 

Rein aloe-emodina, rein aloe-emodina-diantron, rein, aloe 

emodina, asam krisofanat, (dihidroksimetilantrakuinon), 

tanin. 

e. Data keamanan 

 LD50 per oral pada mencit: 18.50 g/kg BB. LD50 ekstrak  

alcohol per oral pada mencit:  > 15 g/kg BB. LD50 subkutan: > 

15 g/kg BB. Pada uji toksisitas kronik tidak terlihat 

abnormalitas pada organ-organ. 

f. Data manfaat  

1) Uji Praklinik: 

Ekstrak metanol, air, garam alkaloid dan basa 

alkaloid  daun C. alata menunjukkan aktivitas sangat 

kuat dan bermakna terhadap 2 mikroba (Dermatophylus 

congoensis, Actinomyces bovis dan 5 jamur  yaitu 

Microsporum canis, Blastomyces dermatitidis, 

Trichophyton mentagrophytes, Candida albicans, 

Aspergillus flavus. Aktivitas yang paling kuat diamati 

pada ekstrak metanol. Hasil ini menunjang pemakaian  

ekstrak C. alata sebagai antijamur di kulit. 

2) Uji Klinik: 

Penelitian RCT pada 33 pasien di penjara (19 studi 

dan 14 kontrol) dengan infeksi kulit Tineasis versicolor 

- 190 - 

 

dan Tinea corporis (mikroskopis terlihat infeksi jamur 

Epidermophyton floccusum dan Cryptococcus sp) diminta 

untuk mandi dan menggosokkan sabun (serbuk daun C. 

alata, NaOH, dan minyak kelapa 1,5% w.w) pada kulit 

yang sakit  2 x sehari selama 1 bulan. Hasil 

menunjukkan bahwa 16 pasien (94.1%) yang diberi 

sabun C. alata hilang infeksi kulitnya secara bermakna, 

sedang kelompok kontrol tidak ada perubahan. Hasil 

mengkonfirmasi pemakaian  C. alata sebagai terapi 

untuk dermatitis sebab  jamur. Efek terapi ekstrak daun 

C. alata terhadap Pityriasis versicolor dilaporkan dari 

studi manusia selama 10 tahun yang menunjukkan 

bahwa ekstrak daun efektif untuk terapi Pityriasis 

versicolor.  

g. Indikasi:  

Infeksi jamur di kulit 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Kebersihan perorangan perlu diutamakan. 

j. Efek samping   

 Penelitian 10 tahun sebagai terapi dermatitis fungal di 

kulit di India melaporkan tidak ada efek samping. 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi  

Ointment: 2 x 1/hari 

Sabun    : 2 x 1/hari 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- 191 - 

 

2. Pegagan  

        Centella asiatica (L) Urban  

Suku: Umbelliferae 

     

Gambar  65. Pegagan  

 

a. Bagian yang dipakai  

Herba 

b. Nama daerah 

Pegagan, antanan gede, gagan-gagan, gangganan, kerok 

batok, pantegowang, panigowang, rending, calingan rambut , 

pegaga, daun kaki kuda, pegago, bebele, sarowati, wisu-wisu, 

sandanan, dogauke. 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba tahunan tanpa batang dengan rimpang pendek 

dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun 

tunggal, tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun, 

kadang agak berambut. Tangkai daun panjang sampai 50 

mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan 

garis tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai bergerigi 

terutama kearah pangkal daun.Bunga umumnya 3, yang di 

tengah duduk, yang di samping bergagang pendek. Buah 

pipih, kurang lebih 7 mm dan tinggi kurang lebih 3 mm, 

berlekuk dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan, 

berdinding agak tebal. 

d. Kandungan kimia  

Triterpen: termasuk asam asiatik dan asam mandekasik 

(6-hidroksi asam asiatik), asam terminolik, serta derivat ester 

triterpen glikosida: termasuk asiatikosida, asiatikosida A, 

asiatikosida B dan madekassosida. 

 

 

- 192 - 

 

e. Data keamanan  

Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB Terdapat 

kemungkinan terjadi efek Karsinogenik pada kulit tikus pada 

pemakaian  berulang. 

Dilaporkan adanya kasus ikterus pada 3 orang yang 

mengkonsumsi herba pegagan selama 20-60 hari, efek ierus 

hilang saat pemakaian  dihentikan dan diberikan asam 

ursodeoksikolat 10 mg/kg BB/hari. Pemberian ekstrak 

pegagan hingga dosis 2000 mg/kg BB pada mencit per oral, 

menunjukkan tidak ada hewan uji yang mati, terjadi 20% 

kematian pada dosis 10g/kg BB. Pada uji toksisitas 

asiatikosida oral, tidak memperlihatkan efek toksik hingga 

dosis 1 g/kg BB, sedang  dosis toksis pemberian 

intramuscular pada mencit dan kelinci yaitu  40 dan 50 g/kg 

BB. Uji teratogenik ekstrak pegagan pada kelinci 

menunjukkan tidak ada efek teratogenik. 

f. Data manfaat 

Uji Praklinik: 

Ekstrak salep 1%, atau serbuk 2% mempercepat 

penyembuhan luka. Sebuah formulasi yg mengandung  

Asiaticoside menyembuhkan 64% luka kotor dan luka kronik 

yang resisten terhadap terapi biasa. Pada open study, terapi 

20 pasien dengan luka kotor dan kronik memakai  

sediaan mengandung 89,5% C. asiatica menyembuhkan luka 

64% dan perbaikan 16%.  

Aplikasi topikal ekstrak pada luka bakar derajat 2 dan 3 

mempercepat penyembuhan, mencegah parut dan 

pembengkakan sebab  infeksi dan mencegah timbul jaringan 

parut hipertropik. 

Pada sebuah uji klinik, ekstrak herba efektif 

menyembuhkan ulkus tungkai yang sulit diobati. Pada uji 

klinik yang lain, pemberian C. asiatica atau asiaticoside dan 

kapsul KCl  pada pasien lepra sama efektifnya dengan terapi 

dapsone. Pada 90 pasien lepra dengan ulkus tungkai 

perforata, pemberian salep C. asiatica secara bermakna lebih 

baik dari plasebo. 

g. Indikasi  

Luka bakar, keloid, mempercepat penyembuhan luka. 

- 193 - 

 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Belum diketahui  

j. Efek Samping 

Alergi kulit pada pemakaian topical 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

Ointment dan krim (1%) 

 

T. HERBAL UNTUK HEPATOPROTEKTOR  

1. Kunyit   

Curcuma domestica Val  

Sinonim  : C.longa Linn. 

Suku      : Zingiberaceae 

 

Gambar 66. Kunyit 

 

a. Nama daerah 

Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis, 

temu koneng, temu kuning, guraci 

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak tinggi ±70 cm, batang semu, tegak, bulat, 

membentuk rimpang, berwarna hijau kekuningan. Daun 

tunggal membentuk lanset memanjang. Helai daun 3-8, ujung 

dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 

8-12 cm. Pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau  

pucat. Bunga majemuk berambut bersisik. Panjang tangkai 

- 194 - 

 

16-40 cm. panjang  mahkota 3 cm, lebar 1 cm, berwarna 

kuning. Kelopak silindris,bercangap 3, tipis dan berwarna 

ungu. Pangkal daun pelindung putih. Akar serabut berwarna 

coklat muda. Rimpang warna kuning jingga, kuning jingga 

kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan.  

d. Kandungan kimia  

Kurkuminoid yaitu campuran dari kurkumin 

(diferuloilmetan), monodeksmetoksikurkumin dan 

bisdesmetoksikurkumin. Struktur fenolnya memungkinkan 

untuk menghilangkan radikal bebas. Minyak atsiri 5.8% 

terdiri dari  a-felandren 1%, sabinen 0.6%, sineol 1%, borneol 

0.5%, zingiberen 25%, dan seskuiterpen 53%. Mono- dan 

seskuiterpen termasuk zingiberen, kurkumen, α- dan β-

turmeron.  

e. Data Keamanan  

Monyet diberi 0.8 mg/kg BB kurkumin/hari dan tikus 

1.8 mg/kg BB/hari selama 90 hari tidak menunjukan efek 

samping. Invitro tidak bersifat mutagenik. Per oral pada tikus 

dan mencit tidak teratogenik Mencit yang diberi 1 dan 5% 

selama 14 hari menunjukkan hepatotoksisitas. FDA 

mengklasifikasi sebagai GRAS (Generally Recognized as Safe). 

Tidak ada efek samping pada pasien artritis rematoid yang 

diberi 1200 mg/hari kurkumin selama 2 minggu. Tidak ada 

efek toksik setelah pemberian oral 8,000 mg atau 2,2 g 

tumerik (setara 180 mg kurkumin)/hari selama 4 bulan. 

f. Data manfaat   

Farmakokinetik:  Dosis sampai 5 μg/ml kurkumin yang 

ditambahkan ke suspensi mikrosom dan hepatosit 

menghilang dalam 30 menit. Pada tikus, 40-75% kurkumin 

per oral diekskresi melalui feces. Kadar dalam darah < 5 

μg/mL menandakan absorbsi gastrointestinal yang buruk. 

Kurkumin dimetabolisme secara cepat dan diekskresi di feses. 

Pada manusia estimasi bioavailabilitas setelah pemberian oral 

yaitu  65%. Kurkumin menghambat sitokrom P450 isoenzim 

1A1 dan dimetabolisme oleh  glukuronidase.  

Uji praklinik:   

Kunyit menunjukan aktivitas hepatoprotektor in vitro 

maupun in vivo pada mencit, tikus dan itik yang diinduksi 

- 195 - 

 

hepatotoksik dengan karbon tetraklorida, aflatoksin B1, 

parasetamol, besi dan cyclophosphamide. Pemberian 30 

mg/kg BB kurkumin/hari selama 10 hari efektif sebagai 

protektor. Pemberian kunyit  80% dan kurkumin pada 

konsentrasi 2 µg dapat menghambat induksi mutagen yaitu 

aflatoksin B1 pada percobaan pembiakan Salmonella 

thyphimurium Strain TA98 dan TA100. Pemberian kunyit 5% 

dan 10% merangsang enzim (arylhidrokarbon hidroksilase, 

UDP glukuronil transferase, glutathion-S-transferase) yang 

memetabolisme xenobiotik. Kurkumin merupakan 

penghambat sitokrom 450 IA yang kuat yaitu isoenzim yang 

terlibat pada beberapa toksin, termasuk benzopyren.  

Curcumin melindungi sel terhadap lipid peroxidation 

yang diinduksi parasetamol, mungkin sebab  efek antioxidatif 

gugus fenol pada curcumin. Curcumin menurunkan  aktivitas 

aspartate transaminase and serum fosfatase alkali, serta 

kadar asam lemak bebas, kolesterol and fosfolipid.  Ekstrak 

air C. domestica (10 mg/mL) menghambat produksi toxin 99% 

pada duckling yang diinduksi oleh aflatoxin. Extrak alkohol 

menunjukkan penghambatan yang sama namun lebih lemah. 

Terapi kunyit dan curcumin menunjukkan perbaikan hampir 

sempurna dari perlemakan dan nekrosis yang diinduksi 

aflatoxin.  

g. Indikasi 

Hepatoprotektor 

h. Kontraindikasi  

Obstruksi saluran empedu, kolesistitis. Untuk batu 

empedu konsul ke dokter. Hipersensitivitas, Gagal ginjal akut, 

anak < 12 tahun. 

i. Peringatan 

pemakaian  pada masa kehamilan: keamanan 

pemakaian rimpang kunyit selamam kehamilan belum 

dibuktikan. Sebagai perhatian sebaiknya tidak dipakai  

selama kehamilan, kecuali ada petunjuk medis. pemakaian  

pada masa menyusui: ekskresi obat melalui air susu dan 

efeknya terhadap bayi belum dibuktikan. Sampai data 

tersedia, rimpang kunyit sebaiknya tidak dipakai  kecuali 

atas petunjuk medis. 

- 196 - 

 

j. Efek Samping  

pemakaian  pada kehamilan dan menyusui harus 

dengan pengawasan dokter. Mual pada dosis tinggi. 

k. Interaksi  

Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, 

antiplatelet, heparin, trombolitik sehingga meningkatkan 

risiko perdarahan. Interaksi kurkumin dengan herbal yang 

lain: Orang sehat diberi 2 g curcumin dikombinasi dengan 20 

mg piperine, bioavailabilitas kurkumin meningkat 20 kali. Teh 

hijau meningkatkan efek curcumin. 

l. Posologi 

3 x 1 tablet (500 mg ekstrak)/hari.  

 

2. Meniran   

Phylanthus niruri (Val.)  

Suku : Euphorbiaceae 

      

Gambar  67. Meniran 

 

a. Nama daerah 

Gosau na dungi; Gosau madungi roriha; Daun gendong 

anak, Meniran, Memeniran  

b. Bagian yang dipakai   

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak, tanaman semusim. Terna tumbuh tegak, tinggi 

0,5-1 m, bercabang berpencar, cabang memiliki  daun 

tunggal yang berseling dan tumbuh mendatar dari batang 

pokok. Batang berwarna hijau pucat atau hijau kemerahan. 

Batang masif, bulat licin, tidak berambut, diameter 3 mm. 

Daun majemuk, berseling, anak daun 15-24, berwarna hijau. 

- 197 - 

 

Bentuk daun bundar telur sampai bundar memanjang, 

panjang daun 5 mm-10 mm, lebar 2,5-5 mm, permukaan 

daun bagian bawah berbintik-bintik kelenjar, tepi rata, ujung 

tumpul, pangkal membulat. Bunga berwarna putih, tunggal. 

Bunga keluar dari ketiak daun. Bunga jantan terletak di 

bawah ketiak daun, berkumpul 2-4 bunga, gagang bunga 0,5-

1 mm, helai mahkota bunga berbentuk bundar telur terbalik, 

panjang 0,75-1 mm, berwarna merah pucat. Bunga betina di 

bagian atas ketiak daun, gagang bunga 0,75-1 mm, helai 

mahkota bunga berbentuk bundar telur sampai bundar 

memanjang, tepi berwarna hijau muda, panjang 1,25-2.5 mm. 

Buah kotak, bulat, diameter 2 mm, berwarna hijau keunguan, 

licin, panjang gagang buah 1,5-2. Biji kecil, keras, berwarna 

coklat. 

d. Kandungan kimia  

Katekin, galokatekin, epikatekin, epikatekin-3-galat, 

epigalokatekin, 4-hidroksilintetralin, 4-hidroksisesamin, 

epigalokatekin-3-O-galat, limonen, norserurinin, 4-metoksi-

norserurinin, 2,3-dimetoksi-isolintetralin, 24-isopropil 

kolesterol, asam askorbat, astragalin, β- sitosterol, korilagin, 

simen, demetilenedioksi nirantin, asam dotriakontanat, asam 

elagat, eriodiktiol-7-O-α-L-ramnosid, estradiol, fisetin-41-O-β-

D-glukosid, asam galat, geranin, hinokinin, hidroksinirantin, 

hipofilantin, isolintetralin, isokuersitrin, kaemferol-4-O-α-L-

ramnosid, linantin, asam linoleat, asam linolenat, lintetralin, 

lupeol asetat, lupeol, nirantin, nirfilin, nirtetralin, nirurin, 

nirurinetin, norsekurinin, filantenol, filantenon, filanteol, 

filantin, filnirurin, filokrisin, filetetrin, kuersetin, asam 

repandusinat, asam rikinoleat, rutin, metal ester asam 

salisilat, seko-4-hidroksi-lintetralin, trans-fitol. Filantin, 

hipofilantin, damar, kalium, tanin. 

Filantina; hipofilantina; kalium; damar tannin 

e. Data keamanan  

LD50 :1.588 mg/kg  BB mencit per oral. Toksisitas 

subkronik: Dosis s/d 4800 mg/kg BB tikus diberikan selama 

3 bulan per oral tidak menimbulkan kelainan pada organ 

vital. Pada tikus hamil 7 hari dosis 96, 960, 4800 mg/kg BB 

- 198 - 

 

setiap hari selama 16 hari tidak menimbulkan efek 

teratogenik. 

f. Data manfaat   

Uji klinik: 

P. niruri memperlihatkan aktivitas antihepatitis B virus 

surface antigen pada studi  in vivo dan in vitro. Studi pada 37 

pasien dengan hepatitis B kronik diterapi dengan P. niruri 600 

mg/hari selama 30 hari, memberikan hasil 59% pasien 

HBsAg negatif 2 minggu pasca terapi. Pada evaluasi  9 bulan, 

P. niruri dapat menghambat proliferasi virus dengan 

menghambat  replikasi materi genetik.   

g. Indikasi  

Hepatoprotektor 

h. Kontraindikasi  

Kehamilan, penyakit  jantung dan  hipoglikemia. 

i. Peringatan 

Dapat menimbulkan aborsi. Pemakaian berlebih dapat 

memicu  impotensi. 

j. Efek Samping 

Pemakaian secara luas tidak dilaporkan memiliki  efek 

samping berbahaya. Hipotensi, hipoglikemia, gangguan 

keseimbangan elektrolit. 

k. Interaksi  

Meningkatkan efek insulin dan obat antidiabetes. 

Mengandung graniin yang dilaporkan memiliki  efek 

inotropik dan kronotropik negatif, hipotensi, sebab  itu dapat 

meningkatkan efek obat  anti hipertensi, ACE inhibitor , α-

blocker dan obat jantung. Ekstrak etanol menghambat enzim 

sitokrom P450 in vivo dan in vitro. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (25 mg ekstrak)/hari.  

 

 

 

 

 

 

 

- 199 - 

 

3. Paliasa  

Kleinhovia hospital Folium  Linn.   

Suku : Malvaceae 

 

Gambar 68. Paliasa 

 

a. Bagian yang dipakai    

Daun 

b. Nama daerah 

Kalimaha, manger, tangkele, timaha, kadanga, kauwasa, 

ayupali, ngaru 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Pohon tinggi 5-20 m. Daun bertangkai panjang, 

berbentuk jantung 4,5-27 cm, lebar 3,2-24 cm. Pangkal daun 

bertulang dan menjari. Daun berwarna hijau, berbau khas, 

berasa kelat. Habitus berupa pohon  berbelukar, selalu hijau 

dengan mahkota membulat dan taburan bunga yang tegak 

dan buah berwarna pink, pepagan melekah, keabu-abuan di 

luar, kekuningan di dalam, daun tunggal berseling bentuk 

membulat sampai, membundar telur sampai menjantung, 

gundul do kediua permukaan. Perbungaan malai terminal, 

rnggang, bunga lebar sekitar 5 mm, daun bunga, nenita, 

melanset, daun mahkota berwarna kuning. Buah kapsul 

berselaput dan membulat, merekah pada rongganya, masing-

masing rangga berbiji 1-2. Biji bulat keputihan. 

d. Kandungan kimia 

Kuersetin, kaemferol, tanin, rutin, tirterpen, asam 

prusid, minyak atsiri, saponin, cardenolin & bufadienol serta 

antrakinon. 

e. Data keamanan  

LD50: 18,5/ kg BB 

- 200 - 

 

f. Data manfaat   

1)   Uji praklinik: 

Uji khasiat dan manfaat daun paliasa terhadap 

tikus penderita radang hati. dipakai  63 ekor tikus 

Ekstrak daun paliasa diberikan per oral. Sebelum 

penelitian dimulai semua tikus kecuali kelompok kontrol 

diberi 0,55 mg/kg BB CCl4 untuk merusak organ 

hatinya. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak 

Lengkap (RAL) terdiri dari 7 perlakuan dan 9 ulangan. 

Masing-masing perlakuan terdiri dari pemberian : 

Akuades sebagai (Kn) Kontrol negatif, CCl4 sebagai (Kp) 

Kontrol positif, CCl4 + ekstrak daun paliasa dengan dosis 

250 mg/kg BB (P1). CCl4 + ekstrak daun paliasa 500 

mg/kg BB (P2), CCl4 + ekstrak daun paliasa dengan dosis 

750 mg/kg BB (P3), CCl4 + ekstrak daun paliasa dengan 

dosis 1000 mg/kg BB (P4) serta CCl4 + ekstrak daun 

paliasa dengan dosis 1250 mg/kg BB (P5). Pada ketujuh 

kelompok tikus tersebut dilakukan pengukuran kadar 

SGPT, kandungan peroksida lipid hati dan derajat 

kerusakan sel hati. Pada hari kedua atau jam ke 50 

semua tikus dimatikan dan dilakukan pengambilan 

darah serta pemeriksaan histopatologi. Hasil penelitian 

memperlihatkan bahwa ketiga parameter tersebut secara 

statistik tidak berbeda bermakna antar masing-masing 

perlakuan dengan ekstrak daun paliasa, sebaliknya 

berbeda bermakna jika dibandingkan dengan kelompok 

positif CCl4 (Kp) (P < 0,05). Maka kesimpulannya: ekstrak 

daun paliasa semua dosis perlakuan secara efektif dapat 

mengurangi kerusakan sel hati yang ditimbulkan oleh 

karbon tetraklorida (CCl4). Peningkatan dosis ekstrak 

daun paliasa (1250 mg/kg BB) menimbulkan 

pengurangan efek perbaikan sel hati dan dosis ini 

kurang efektif untuk pengobatan radang hati. 

Ekstra daun paliasa ternyata berkhasiat untuk 

pengobatan radang hati pada dosis 250, 500, 750 dan 

1000 mg/kg BB.  

 

 

- 201 - 

 

2)  Uji Klinik:  

Penelitian Randomized Clinical Trial (RCT), pada 

pasien hepatitis di beberapa RS Sampling secara random 

dan terdiri dari: 

Kel 1: 30 sample yang memperoleh terapi suportif dan 

ekstrak paliasa  

Kel 2: 30 sample yang memperoleh terapi suportif.  

Dengan menilai kadar SGPT dan SGOT pre dan post 

intervensi dengan kriteria inklusi penderita Hepatitis 

Kronis dengan kadar enzim transaminase (SGPT) lebih 

besar 2 kali nilai normal dan kriteria eksklusi sedang 

hamil dan menyusui serta penderita Hepatoma. 

Hasil penelitian yaitu  ekstrak daun paliasa 

memiliki efektifitas dalam menurunkan kadar SGPT dan 

SGOT penderita hepatitis.  

g. Indikasi  

Hepatitis 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan:  

Belum diketahui 

j. Efek yang tidak diinginkan  

Belum diketahui 

k. Interaksi  

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (250 mg ekstrak)/hari  minum selama 7 

hari.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- 202 - 

 

4. Temulawak  

Curcuma xanthorrhiza  Roxb. 

Suku : Zingiberaceae 

               

Gambar 69. Temu lawak 

 

a. Nama daerah 

      Temulawak, koneng gede, temu labak. 

b. Bagian yang dipakai  

Rimpang  

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai 

2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang 

sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap, 

bagian dalam berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap 

individu tanaman memiliki  2-9 daun, berbentuk lonjong 

sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang 

sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang 

tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan 

berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas 

rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut, 

daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus, 

berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir 

lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung 

banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan 

mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) 

sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih 

dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian 

bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm, 

lebar 1,5-3,5 cm. 

 

- 203 - 

 

d. Kandungan kimia 

Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) 

terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri 

(3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-

kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-

turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30-40%) 

e. Data keamanan  

Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 1125-

2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya 

toksisitas. 

f. Data manfaat 

Uji praklinik: 

Xanthorrhizol (200 mg/kg BB/hari, po) selama 4 hari 

ternyata mencegah hepatotoksisitas yang diinduksi cisplatin 

(45 mg/kg BB, ip) secara bermakna. Juga menghilangkan 

cisplatin-induced DNA-binding activity of nuclear factor-kappaB 

(NF-κB), sehingga mempengaruhi kadar ekspresi mRNA dari 

NF-κB-dependent genes, inducible nitric oxide synthase (iNOS), 

dan cyclooxygenase-2 (COX-2), walaupun sebagian. Juga 

melemahkan supresi cisplatin terhadap DNA-binding activity 

of activator protein 1 (AP-1). Terapi kombinasi xanthorrhizol 

dan cisplatin memberi keuntungan dibanding terapi tunggal 

cisplatin pada terapi Ca. 

g. Indikasi 

Hepatoprotektor 

h. Kontraindikasi 

Obstruksi saluran empedu dan ikterus 

i. Peringatan 

Gastritis pada dosis besar. Hati-hati pada nefrolithiasis.  

j. Efek Samping 

Dosis besar atau pemakaian yang berkepanjangan dapat 

mengakibatkan iritasi membrane mukosa lambung. Tidak 

dapat dipakai  pada penderita radang saluran empedu akut 

atau ikterus. Hati-hati memakai  temulawak bersama 

dengan obat pengencer darah 

k. Efek Samping: 

Belum pernah dilaporkan 

 

- 204 - 

 

l. Interaksi  :  

Belum diketahui  

m. Posologi : 

2 x 1 kapsul (250 mg ekstrak)/hari selama 30 hari. 

 

U. HERBAL  UNTUK  DISFUNGSI  EREKSI  

1. Cabe Jawa   

Piper retrofractum Vahl 

Suku : Piperaceae 

              

Gambar 70. Cabe Jawa 

 

a. Nama daerah 

Lada panjang; cabai jawa, cabai panjang; cabean, cabe 

alas, cabe areuy, cabe jawa, cabe sula; cabhi jhamo, cabi 

onggu, cabi solah ; cabai. 

b. Bagian yang dipakai  

Buah   

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Perawakan semak berkayu, dibagian pangkal batang, 

memanjat dengan akar pelekat pada batang pohon, membelit 

atau merayap dipermukaan tanah, tinggi atau panjang batang 

dapatv mencapai 10 m. Daun tunggal, letak daun tersebar, 

helaian daun berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal 

daun berbentuk jantung atau membulat, ujungb daun 

runcing, bintik-bintik kelenjar tenggelam di permukaan 

bawah, panjang helai daun   8,5-30 cm, lebar 3-13 cm, 

panjang tangkai daun 0,5-3 cm. Perbungaan berupa bunga 

mejemuk untai tegak atau sedikit mengangguk, panjang 

tangkai 0,5-2 cm, daun pelindung berbentuk bulat telur, 

panjang 1,5-2 mm, berwarna kuning waktu bunga mekar. 

Bulir jantan: panjang 2,5-8,5 cm, benang sari 2 kadang-

- 205 - 

 

kadang 3, pendek. Bulir betina: panjang ,5-3 cm, putik 

berjumlah 2-3 buah. Bunga berbentuk bulat, lonjong, 

berwarna merah cerah. Biji berukuran 2-2,5 mm. 

d. Kandungan kimia 

Buah cabe jawa mengandung minyak atsiri 0,9%, zat 

pedas piperin 4-6%, resin (kavisin), asam palmitik, 1-

undecylenyl-3-4-methylenedioxy benzen, piperidin, sesamin. 

Senyawa lain yaitu  asam palmitat, asam tetrahidropiperat, 

N-isobutyl decatrans-2  

e. Data keamanan  

Nilai LD50 ekstrak etanol buah cabe jawa yaitu  2,324 

mg/kg BB per oral pada tikus. Pemberian ekstrak buah cabe 

jawa dosis 1,25; 3,75 dan 12,5 mg/kg BB selama 90 hari 

tidak menimbulkan kerusakan organ. 

Teratogenik pada dosis bertingkat 140, 1400, 14000 

mg/kg BB tikus hamil 7 hari. Diberikan setiap hari sampai 

hari ke-16 kehamilan. LD50 oral ekstrak etanol-air 1:1 pada 

mencit sebesar 3,32 mg/10 g mencit. Uji subkronik selama 90 

hari dengan dosis ekstrak etanol 12,5 mg/200 g BB tikus 

tidak menimbulkan kerusakan pada organ penting. 

f. Data manfaat   

1)  Uji Praklinik: 

Infusa buah cabe jawa dosis 0,21; 2,1 dan 21 

mg/10 g BB yang diberikan  pada tikus putih jantan 

selama 33 hari, pembanding metiltestosteron 12,5 µg/10 

g BB, hasil dosis 2,1 mg/10 g BB memberikan efek 

androgenik dan anabolik maksimal. 

2)  Uji Klinik:  

Ekstrak buah cabe jawa dosis 100 mg/hari 

diberikan pada 9 pria hipogonad, hasil 7 dari 9 pria 

hipogonad mengalami peningkatan kadar testosteron, 

bersifat androgenik lemah dan 9 pria tersebut meningkat 

frekuensi koitusnya.    

g. Indikasi  

Disfungsi ereksi dan aprodisiak 

h. Kontraindikasi 

Alergi 

 

- 206 - 

 

i. Peringatan 

Reaksi anafilaksis pada orang yang alergi 

j. Efek samping 

Dapat menimbulkan respiratory distress syndrome bila 

terinhalasi. 

k. Interaksi 

Dapat meningkatkan absorpsi dan kadar obat fenitoin, 

propranolol dan teofilin dalam darah apabila obat tersebut 

dipakai  bersama dengan herbal ini. 

l. Posologi 

        1x1 kapsul (100 mg ekstrak)/hari. 

 

2. Pasak Bumi   

Eurycoma longifolia (Jack)  

Suku: Simarubaceae 

    

Gambar  71. Pasak bumi 

 

a. Nama daerah 

Babi kurus, kebel, mempoleh, tungke ali. 

b. Bagian yang dipakai  

 Batang dan akar. 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Pohon tinggi sampai 15 m, tidak bercabang, kalau 

bercabang hanya 1-2 cabang saja. Daun majemuk, panjang 

dan rimbun pada ujung batang. Saat daun gugur akan 

meninggalkan bekas luka yang cukup lebar pada batang. 

Daun berbentuk bulat telur sampai lanset, tidak bertangkai 

atau hampir tidak bertangkai dan berhadapan. Bunga 

terdapat pada tangkai yang bercabang, kebanyakan besar dan 

keluar pada pangkal daun. Bunga dewasa umumnya memiliki 

- 207 - 

 

rambut-rambut halus dan pendek. Buah berbentuk elips atau 

bulat telur, panjang 10-20 mm dan lebar 5-12 mm, berwarna 

hijau sampai merah kehitaman saat matang. 

d. Kandungan Kimia 

Quassinoids, termasuk eurycomanol, eurycomanol-2-O-

beta-D-glycopyranoside, 13 beta, 18-dihydroeurycomanol, 

14,15p-dihydroxyklaineanone, dan 6 alpha-

hydroxyeurycomalactone. Derivat squalene, 

biphenylneolignans dan  alkaloid.  

e. Data keamanan 

LD50 > 15.000 mg/kg BB oral pada tikus (praktis tidak 

toksik). Gejala toksisitas yaitu depresi, respirasi dangkal, dan 

konvulsi.  

f. Data manfaat 

g. Uji Praklinik:  

Efek ekstrak E. longifolia per oral dengan dosis 2 x 200, 

400 dan 800 mg/kg BB selama 10 hari sebelum dan selama 

pengujian terhadap inisiasi kinerja seksual dan berat aksesori 

seksual pada tikus yang dikastrasi. Sebagai kontrol 

testosterone 15 mg/kg BB/hari subkutan selama 32 hari. 

Hasil menunjukkan bahwa E. longifolia meningkatkan kinerja 

seksual secara tergantung dosis pada tikus yang diterapi E. 

longifolia, tetapi lebih rendah dari kelompok testosterone 

dalam hal mounting, intromission dan ejakulasi. E. longifolia 

meningkatkan pertumbuhan prostat bagian ventral dan 

vesikula seminalis dibanding kontrol, tetapi pertumbuhan 

aksesori seksual pada fraksi butanol, metanol, air dan 

kloroform dari E. longifolia 800 mg/kg BB lebih kecil dari 

pada kelompok testosterone. Studi ini memperlihatkan efek E. 

longifolia sebagai aphrodisiak. 

Studi terhadap kualitas seksual tikus usia pertengahan 

dilakukan dengan pemberian E. longifolia 0,5 g/kg BB dengan 

kontrol mendapat 3 mL/kg BB saline, setiap hari selama 12 

minggu. Hasil menunjukkan bahwa                  longifolia 

meningkatkan kualitas seksual dengan menurunkan 

hesitation time dibanding kontrol dengan berbagai fraksi E. 

longifolia yang menghasilkan 865-916 (91-96), 860-914 (92-

98), 850-904 (93-99), 854-890 (95-99), 844-880 (94-98), 840-

- 208 - 

 

875 (94-98), 830-870 (94-98), 825-860 (94-98), 820-850 (96-

99), 800-840 (93-98), 750-795 (94-99) dan  650-754 detik (82-

95%) kontras dengan kontrol  yang menghasilkan 950 (100), 

934 (100), 910 (100), 900 (100), 895 (100), 890 (100), 885 

(100), 880 (100), 855 (100), 860 (100), 800 (100) dan 790 detik 

(100%).  

Juga ada peningkatan sementara dalam persentase tikus 

yang berespon pada pilihan yang benar setelah pemberian 

kronik 0,5 g/kg BB E. longifolia, dengan skor > 50% pilihan 

benar setelah terapi  2 minggu dan tidak ada peningkatan 

pada kontrol dan pilihan benar hanya 45-55%. Disimpulkan 

E. longifolia meningkatkan kualitas seksual tikus, dan efek 

aphrodisiak. 

h. Uji Klinik: 

Kombinasi ekstrak Eurycoma longifolia dan Polygonum 

minus (antioksidan) 300 mg dipakai  sebagai aprodisiaka 

pada 12  laki-laki berumur 40-65 tahun selama 12 minggu 

secara RCT, dengan kontrol plasebo (14). Hasil menunjukkan 

peningkatan skor bermakna terhadap fungsi ereksi maksimal 

(P < 0.05 ). 

Studi lain memakai  300 mg ekstrak air Eurycoma 

longifolia atau plasebo selama 12 minggu terhadap 109 laki-

laki usia 30-55 tahun. Tujuan penelitian yaitu  untuk 

mengetahui kualitas hidup melalui kuisioner SF-36 dan 

Sexual Well-Being melalui International Index of Erectile 

Function (IIEF) and Sexual Health Questionnaires (SHQ); 

Seminal Fluid Analysis (SFA), massa lemak dan profil 

keamanan. Kelompok perlakuan secara bermakna 

meningkatkan Physical Functioning dari SF-36, dari baseline 

dibandingkan plasebo. 

i. Indikasi  

Disfungsi ereksi dan aprodisiak 

j. Kontraindikasi 

Kehamilan dan laktasi. 

 

 

 

  

- 209 - 

 

k. Peringatan 

Belum diketahui 

l. Efek samping 

Insomnia, gelisah, dan tidak sabar.  

m. Posologi: 

1 x 1 kapsul (400 mg ekstrak batang/akar). 

 

3. Purwoceng  

Pimpinella pruatjan (Molkenb) 

Suku : Apiaceae 

                

Gambar  72. Purwoceng 

 

a. Nama daerah 

Kiurai, purwoceng, antanan gunung, gebongan depok, 

rumput dempo, suripandak abang. 

b. Bagian yang dipakai     

Herba dan akar   

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Terna yang hampir menutupi tanah, tidak berbatang, 

hanya pokok akar dimana daun dan tunas tumbuh. Daun 

majemuk, menyirip ganjil, tangkai silindri, masif, panjang 

daun 5-30 cm, berwarna hijau atau unguanak daun bentuk 

bulat atau bulat telur, tepi beringgit, panjang 1-4 cm, lebar 1-

3 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk bentuk payung, 

kelopak kecil, berwarna hijau atau putih kehijauan, mahkota 

berbagi 5, kecil, berwarna putih. Buah berupa buah padi, 

bentuk bulat telur, panjang 1-2 mm, permukaan beralur, 

berwarna coklat. Akar tunggang, sedikit bercabang, berwarna 

putih kecoklatan. 

 

 

- 210 - 

 

d. Kandungan kimia 

Purwoceng mengandung senyawa kumarin (bergapten 

dan Isobergapten serta xantotoksin, umbeliferon dan 

marmesin), saponin dan sterol (stigmasterol dan y-sitosterol), 

furanokumarin (bergapten, isobergapten, psoralen dan 

sfondin), saponin, sterol dan alkaloid). 

e. Data keamanan  

LD 50 = 66,36 (45,70-96,36 mg/10 g BB mencit ip). 

f. Data manfaat  

1)  Uji Praklinik: 

Penelitian pada tikus jantan usia 40 hari 

menunjukkan bahwa pemberian po ekstrak purwoceng 

25 mg selama 53 hari meningkatkan spermatogenesis, 

meningkatkan jumlah dan motilitas sperma dibanding 

control akuades (P < 0,01). Penelitian lainnya pada tikus 

jantan usia 90 hari menunjukkan bahwa pemberian 2 

mL po ekstrak purwoceng 25 mg/mL (2,5% b/v) selama 7 

hari meningkatkan kadar testosteron dan LH yang 

diukur dengan metode RIA.  

2)   Uji Klinik: 

Penelitian dilakukan terhadap 40 laki-laki berumur 

40 tahun dibagi dalam 2 klompok. Kelompok pertama 

diberikan kapsul plasebo dan Kelompok kedua kapsul 

ekstrak purwoceng 50 mg/hari untuk 15 hari. Hasil 

menunjukkan ekstrak purwoceng meningkatkan kadar 

LH,  indeks androgen bebas dan indeks defisiensi 

androgen.  

g. Indikasi 

Aprodisiak dan disfungsi ereksi. 

h. Kontraindikasi 

Gagal ginjal, hipertensi, kelainan jantung. 

i. Peringatan 

Konsumsi Purwoceng secara berlebihan mengakibatkan 

iritasi ginjal. 

j. Efek samping:  

Belum diketahui 

k. Interaksi :  

Belum diketahui 

- 211 - 

 

l. Posologi 

1 x 2 kapsul (500 mg ekstrak akar), diminum 1 jam 

sebelum melakukan aktivitas. 

 

4. Som Jawa  

Talinum paniculatum Gaertn 

Suku : Portulacaceae 

             

 Gambar 73. Som Jawa 

 

a. Nama daerah 

Som jawa, ginseng jawa, gelang porsle 

b. Bagian yang dipakai  

Akar    

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Herba menahun tinggi bisa mencapai 75 cm. Batang 

bulat berkayu, berwarna ungu. Daun tunggal, bentuk bulat 

telur memanjang, pangkal tumpul, tepi rata, permukaan 

mengkilat dan berwarna hijau. Bunga majemuk dengan tipe 

malai. Mahkota berjumlah lima, berbentuk bulat telur dan 

berwarna merah kecoklatan. Biji bulat kecil dan berwarna 

hitam kemerahan. Akarnya berbentuk seperti akar ginseng, 

akar berdaging rasanya manis.  

d. Kandungan kimia 

saponin, flavonoida dan tanin. 

e. Data keamanan  

LD50 pada tikus per oral  > 15.000 mg/kg BB, menurut 

batasan Gleason dalam Weil, CS termasuk kategori praktis 

tidak toksik. 

f. Data manfaat    

Uji Praklinik: 

- 212 - 

 

Pemberian infusa Som Jawa dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 

mg/10 g BB bahan diberikan selama 50 hari pada mencit 

(satu siklus spermatogenesis). Hasil, dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 

mg/10 g BB dapat meningkatkan motilitas spermatozoa 

mencit secara bermakna (P<0,05). 

Infusa Som jawa dosis 0,7; 7 dan 70 mg/20 g BB dan 

heptamil dosis 0,78 mg/20 g BB diberikan pada mencit untuk 

menguji ketahanan renang.   Hasil, dosis 70 mg/20 g BB 

dapat meningkatkan lama berenang secara bermakna 

(P<0,05) dibanding heptamil. Akar Som jawa berkhasiat 

sebagai obat disfungsi ereksi.  

g. Indikasi  

Disfungsi ereksi dan aprodisiak 

h. Kontraindikasi  

Belum diketahui  

i. Peringatan  

Belum diketahui  

j. Efek samping    

Belum diketahui  

k. Interaksi         

Belum diketahui  

l. Posologi 

1 x 1 tea bag (50 g serbuk akar/serbuk umbi)/kali, 

seduh dengan 2 cangkir air.  

 

V. HERBAL UNTUK  ISPA 

1. Sambiloto  

Andrographis paniculata (Burm.) F, Nees 

Suku : Acanthaceae 

               

 Gambar 74. Sambiloto 

 

 

- 213 - 

 

a. Nama daerah 

Papaitan, ki oray, ki peurat, takilo, bidara, sadilata, 

sambilata, takila, ampadu. 

b. Bagian yang dipakai  

Herba 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Batang tidak berambut, tebal 2-6 mm, persegi empat, 

batang bagian atas seringkali dengan sudut agak berusuk. 

Daun bersilang berhadapan, umumnya terlepas dari batang, 

bentuk lanset sampai bentuk lidah tombak, rapuh, tipis, 

tidak berambut, pangkal daun runcing, ujung meruncing, tepi 

daun rata. Permukaan alas berwarna hijau tua atau hijau 

kecokelatan, permukaan bawah berwarna hijau pucat. 

Tangkai daun pendek. Buah berbentuk jorong, pangkal dan 

ujung tajam, kadang-kadang pecah secara membujur.  

Permukaan luar kulit buah berwarna hijau tua hingga 

hijau kecokelatan, permukaan dalam berwarna putih atau 

putih kelabu. Biji agak keras, permukaan luar berwarna 

cokelat muda dengan tonjolan. 

d. Kandungan kimia  

Kandungan utama yaitu  lakton diterpen termasuk 

andrografolid, deoksiandrografolid, neoandrografolid, 

andrografisid, deoksiandrografisid dan andropanosid (1, 3, 6, 

7, 9,). Senyawa diterpen termasuk andrografolid, 

isoandrografolid, 14-deoksiandrografolid (DA), 14-deoksi-

11,12-didehidroandrografolid (DDA), 14-deoksi-11-

oksoandrografolid, neoandrografolid, di-deoksiandrografolid 

(andro-grafisid), 14-deoksiandro-grafosid (andropanosid), 

andrograpanin, deoksiandrografolid-19-D-glukosid, 14-

deoksi-11,12-dihidroandrografisid, 6’-asetil-neoandrografolid, 

bis-andrografolid A,B,C,D.  Dari akar sambiloto diisolasi satu 

senyawa flavones glukosida, andrografidin A dan 5 flavon 

glukosida, andrografidin B,C,D,E,F bersama 5-hidroksi-

7,8,2’,3’-tetrametoksiflavon, dan 7,8-dimetoksi-5-hidroflavon. 

Daun dan cabang : lakltone, berupa deoksi-andrografolid, 

andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12 

didehidroandrografolid, dan homoandrografolid. 

- 214 - 

 

Akar : flavonoid, berupa polimetoksiflavon, andrografin, 

panikolin, mono-o-metilwitin dan apigenin-7,4-dimetil eter, 

alkan, keton, aldehid, kalium, kalsium, natrium, asam kersik. 

Andrografolid 1 %, kalmegin (zat amorf), hablur kuning, pahit 

sampai sangat pahit. 

e. Data keamanan  

Ekstrak sambiloto dosis 75, 150 dan 225 

mg/mencit/hari selama masa organogenesis memiliki 

aktifitas abortifum. Andrografolid (zat aktif sambiloto) 

memiliki  efek antifertilitas pada mencit betina. 

memicu  gangguan refleks setelah pemberian bahan 

uji dosis 9 g/kg BB pada mencit galur Swiss Webster 

Uji toksisitas akut ekstrak etanol 50% sambiloto dosis 15 

g/kg BB pada mencit tidak menimbulkan efek toksik. Nilai 

LD50 ekstrak sambiloto yang diberikan peroral maupun 

subkutan > 15 g/kg BB dan nilai LD50 yang diberikan secara 

intraperitoneal yaitu  14,98 g/kg BB. 

Ekstrak daun sambiloto yang diberikan secara subkutan 

pada kelinci dengan dosis 10 mL/kg BB tidak 

memperlihatkan efek toksik. Pemberian per oral suspensi 

serbuk daun 2 g/kg BB; ekstrak etanol 2,4 g/kg BB maupun 

andrografolid 3 g/kg BB tidak memperlihatkan efek toksik 

pada mencit jantan maupun betina. Pemberian suspensi 

serbuk daun sambiloto dosis 200 dan 400 mg/kg BB selama 

4 minggu pada mencit tidak terlihat adanya efek toksik 

terhadap pertumbuhan, organ visceral mayor, kesuburan 

ataupun teratogenik. Pemberian per oral serbuk daun dengan 

dosis 50; 100 dan        150 mg/kg BB selama 14 minggu pada 

tikus tidak memperlihatkan efek toksik tapi dosis 150 mg/kg 

BB menghambat pertumbuhan tikus. LD50 peroral dengan 

dosis 27,54 g/kg BB praktis tidak toksik. Ekstrak daun 

sambiloto pada hewan uji tidak menimbulkan efek toksik 

pada fungsi hati dan ginjal, pada pemakaian subkronik. LD50 

pada mencit dengan dosis 19,473 g/kg BB praktis tidak 

toksik. teratogenik pada mencit dengan dosis 5 kali dosis 

lazim tidak menunjukkan kelainan morfologi pada janin. 

Merusak sel trofasit dan trofoblas 

 

- 215 - 

 

f. Data manfaat 

Uji klinik: 

Studi RCT dilakukan untuk menguji efikasi ekstrak 

terstandar (mengandung 4% andrographolide) untuk common 

cold dan sinusitis pada 50 pasien yang menerima ekstrak 

sambiloto 1020 mg/hari atau plasebo selama 5 hari. Hasil 

menunjukkan hari sakit yang lebih singkat pada kelompok 

yang diterapi dibanding plasebo (0,21 hari dibanding 0,96 

hari), dan sembuh total 68% dibanding 36% pada plasebo, 

serta 55% merasa perjalanan penyakit lebih ringan dibanding 

19% pada plasebo. 

Studi RCT untuk menguji efikasi ekstrak terstandar 

(mengandung 4% andrographolide) untuk pencegahan 

common cold pada 107 anak sekolah yang diberi ekstrak  200 

mg/hari atau plasebo selama 3 bulan. Pada bulan ke-3 

terlihat perbedaan bermakna (P<0.05) kejadian common cold 

(30%) dibanding plasebo (62%). 

Studi RCT pada 152 orang dewasa dengan 

faringotonsilitis untuk menguji efikasi simplisia A. paniculata 

(6 g/hari) dibanding parasetamol (1 kapsul   325 mg) untuk 

mengatasi gejala.  Setelah terapi 3 hari terlihat A. paniculata 

sama efektifnya dengan parasetamol dalam mengurangi nyeri 

tenggorok dan demam. 

Tujuh uji klinik tersamar ganda dengan kontrol (n = 

896), mendapatkan bahwa A. paniculata superior dibanding 

plasebo untuk menghilangkan gejala subjektif ISPA. 

g. Indikasi  

      ISPA 

h. Kontraindikasi  

      Kehamilan dan laktasi 

i. Peringatan  

     Air perasan dapat menimbulkan bengkak pada mata. 

j. Efek Samping 

Alergi pada pasien yang peka terhadap famili 

Acanthaceae. Pernah ada laporan urtikaria setelah minum 

rebusan sambiloto. 

 

 

- 216 - 

 

k. Interaksi 

Hindari pemakaian  jangka panjang bersamaan obat 

imunosupresan. Hati-hati pada pasien kardiovaskular, bila 

dikonsumsi bersamaan obat antiplatelet atau antikoagulan 

sebab  sambiloto dapat menghambat agregasi platelet. 

Dengan daun salam memiliki  efek aditif. 

l. Posologi 

2 x 1 kapsul (400 mg ekstrak)/hari.  

  

W. HERBAL UNTUK HEMOROID 

1. Daun Wungu   

Graptophyllum pictum (L) Griff. 

Suku : Acanthaceae 

 

Gambar 75. Daun Wungu 

 

a. Nama daerah 

Sumatra: pudin, dangora, daun putri, puding, puding 

peraha; Jawa: daun ungu, daun teman-teman, handeuleum, 

demung, tulak, wungu, karotan, karotong; Bali: temen; 

Maluku: kabi-kabi, dongo-dong, daun alifuru. 

 

b. Bagian yang dipakai  

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia 

Semak tegak atau perdu, tidak berambut, tinggi dapat 

mencapai 3 m, cabang bersudut tumpul, berbentuk galah 

dengan berbuku-buku nyata. Daun tunggal, letak daun 

bersilang dan berhadapan, helauan daun bulat memanjang 

atau lanset, panjang 8-20 cm, lebar 3-13 cm, pangkal 

berbentuk segitiga berbalik (pasak), ujung meruncing, tepi 

daun bergelombang, warna daun ungu kehijauan, ungu 

berbercak hijau, ungu berbecak putih, atau hijau, panjang 

- 217 - 

 

tangkai daun 0,5-1 cm. Perbungaan berupa bunga majemuk, 

mahkota bunga merah tua. Buah berbentuk kapsul. 

d. Kandungan kimia  

Alkaloid non toksik, glikosid steroid, saponin, lendir, 

tanin galat, antosianin, leukoantosianin, asam protokatekuat, 

dan flavonoid (berupa 4,5,7-trihidoksi flavonol; 4,4-dihidroksi 

flavon; 3,4,7-trihidoksi flavon dan luteolin-7-glukosida). 

Senyawa aktif lain berupa asam-asam fenolat, yaitu asam 

protokatekuat, asam p-hidroksi benzoat, asam kafeat, asam 

p-kumarat, asam vanilat, asam siringat, dan asam ferulat, 

juga mengandung senyawa serupa alkaloid. 

e. Data keamanan  

LD50 daun handeleum = 117,3 (107,0-128,87) mg/10 g 

BB. mencit ip atau LD50> 15 g/kg BB tikus oral, 

dikategorikan aman dipakai . Serbuk daun ungu dapat 

menaikkan kadar glukosa darah tikus secara signifikan, 

sebesar 25%, 33,9%, dan 56,7%, dan kenaikan BB. 

f. Data Manfaat 

Uji Pra klinik :  

Infusa daun wungu dapat meningkatkan frekuensi, 

konsistensi dan massa feses. Sifat laksan daun ungu ringan, 

hanya membuat feses menjadi lunak dan bukan diare. Daun 

wungu meningkatkan kandungan mukus 35%. Seratnya 

dapat mengatasi dan mencegah hemoroid dan konstipasi.  

g. Indikasi  

Hemoroid 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan   

Belum diketahui  

j. Efek Samping  

Belum diketahui 

k. Interaksi   

Belum diketahui 

l. Posologi 

2 x 1 sachet (5 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air 

sampai  menjadi 1 gelas. 

 

- 218 - 

 

X. HERBAL UNTUK MENINGKATKAN AIR SUSU IBU/ASI  

(LAKTOGOGUM) 

1. Katuk 

Sauropus androgynus (L) Merr  

           

Gambar 76. Katuk 

a. Nama daerah 

Memata, simani, kebing, katukan, kerakur. 

b. Bagian yang dipakai  

Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia: 

Tanaman perdu, tinggi mencapai 2-3 m. Cabang agak 

lunak dan terbagi. Daun tersusun selang-seling pada satu 

tangkai, berbentuk lonjong sampai bundar dengan panjang 

2,5 cm dan lebar 1,25-3 cm. Bunga tunggal atau berkelompok 

tiga berwarna merah gelap atau kuning dengan bercak merah 

gelap. Buah bertangkai panjang      1,25 cm.  

d. Kandungan kimia:  

Ekstrak heksana menunjukkan senyawa alifatik. Pada 

ekstrak eter terdapat komponen utama monometil suksinat, 

asam benzoat dan asam 2-fenilmalonat; serta komponen 

minor meliputi: terbutol, 2-propagiloksan, 4H-piran-4-on, 2-

metoksi-6-metil, 3-peten-2-on, 3-(2-furanil), dan asam 

palmitat. Pada ekstrak etil asetat komponen utama: sis-2-

metil-siklopentanol asetat, komponen minor meliputi protein, 

lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. pirolidinon, 

dan metil piroglutamat serta p-dodesilfenol. 

e. Data keamanan:  

LD50: jus daun pada tikus: > 5000 mg/ kg BB. Infusa 

daun kadar 20 %, 40 %, dan 80 % pada mencit selama 

periode organogenesis tidak teratogenik. 

- 219 - 

 

f. Data manfaat: 

1)   Uji praklinik: 

Penelitian pada tikus membuktikan bahwa 631,6 

mg ekstrak daun katuk memberikan efek sebagai 

laktagogum. Penelitian pengaruh pemberian daun katuk 

terhadap peningkatan produksi susu domba 

mendapatkan hasil bahwa ekstrak daun katuk 20% yang 

diberikan secara in vitro dapat meningkatkan produksi 

air susu > 20%. Komposisi susu tidak berubah, terjadi 

peningkatan aktifitas metabolisme glukosa sebesar > 

50%. 

2) Uji klinik: 

Penelitian pada manusia membuktikan efek 

laktagogum daun katuk pada dosis 900 mg/hari. Suatu 

penelitian dilakukan mengetahui potensi daun katuk 

sebagai laktagogum. Subyek penelitian yaitu ibu 

menyusui dibagi menjadi 2 yaitu kelompok yang diberi 

ekstrak daun katuk 3 x 300 mg/hari dan kelompok 

plasebo selama 15 hari. Hasil penelitian menemukan 

peningkatan produksi ASI secara bermakna sebesar 

50,7% pada kelompok ekstrak daun katuk dibandingkan 

dengan plasebo.   

g. Indikasi 

Meningkatkan produksi ASI (Laktagogum) 

h. Kontraindikasi 

Belum diketahui 

i. Peringatan 

Belum diketahui 

j. Efek samping 

Sukar tidur, anoreksia dan bronkiolitis obliterans (dosis 

150 mg setelah penggunaaan selama 7 bulan terutama yang 

dikonsumsi sebagai jus mentah). 

k. Interaksi 

Belum diketahui 

l. Posologi 

3 x 1 kapsul (300 mg ekstrak)/hari. 

 

 

 

2. Torbangun 

Coleus amboinicus (Lour.) 

Suku : Lamiaceae  

    

   Gambar 77. Torbangun 

 

a. Nama daerah 

Bangun-bangun, cumin, ajeran, daun jinten, daun iwak 

b. Bagian yang dipakai  

 Daun 

c. Deskripsi tanaman/simplisia: 

Daun bangun-bangun bertulang lunak, beruas, 

melingkar, dengan diameter sekitar 15 mm, bagian tengah 

dan ujungnya sekitar 10 mm ± 5 mm. Daun yang masih segar 

bentuknya tebal, berwarna hijau tua, kedua permukaan daun 

licin.  

d. Kandungan kimia:  

   Alkaloid, flavonoid, tannin. 

e. Data keamanan:  

LD50: > 5000 mg/Kg BB pada tikus.  

f. Data manfaat: 

1) Uji praklinik: 

Studi pada kambing memperlihatkan peningkatan 

jumlah sel kelenjar mamae diikuti peningkatan aktivitas 

sekresi air susu pada periode laktasi dini. Studi lain 

pada sapi memperlihatkan meningkatan produksi air 

susu sebab  peningkatan aktivitas sekresi kelenjar 

mamae tanpa peningkatan jumlah sel kelenjar. 

- 221 - 

 

2) Uji klinik:  

Ibu usia 20-40 yang melahirkan normal dengan bayi 

minimal 2.5 kg, yang menyusui secara eksklusif selama 

minimum 4 bulan, dialokasi secara  random untuk 

mendapat simplisia torbangun (Coleus amboinicus Lour) 

atau plasebo. Dimulai pada hari ke-2 pasca persalinan, 

25 subjek  dialokasi untuk mendapat 150 g simplisia  

torbangun/hari sebagai suplemen 6 hari seminggu; 3 x 1 

kapsul Klabet/hari (n = 25); atau 3 x 1 tablet salut gula 

Moloco+B12/hari (n = 25) selama 30 days. Duapuluh tiga 

subjek kelompok torbangun, 22 subjek kelompok Klabet 

dan 22 subjek kelompok Moloco+B12 menyelesaikan 

penelitian. Tujuan utama yaitu  meneliti perubahan 

volume dan kualitas nutrisi ASI. Perbedaan BB bayi 

sebelum dan sesudah terapi dalam gram dipakai  

untuk mengukur volume ASI, yang kemudian dikonversi 

menjadi mL memakai  faktor konversi 0.983 mL/g 

disesuaikan dengan  densitas ASI. Tidak ada perbedaan 

nilai dari ke-3 kelompok pada nilai basal. Pada hari ke- 

28, rerata volume ASI kelompok torbangun yaitu  479 

mL (meningkat 65%), kelompok Klabet 400 mL 

(meningkat 20%),  dan Moloco+B12 yaitu  385 mL 

(peningkatan 10%). Peningkatan kelompok torbangun 

bermakna (P < .05). Data pada hari ke- 42 dan 56 

menunjukkan peningkatan  volume ASI kelompok 

torbangun tetap lebih tinggi disbanding ke-2 kelompok 

lain. Disimpulkan bahwa simplisia torbangun 

meningkatkan produksi ASI, dan  efeknya menetap.  

g. Indikasi:  

Meningkatkan produksi ASI (Laktagogum) (Grade C) 

h. Kontraindikasi: 

 Alergi 

i. Peringatan:  

 Gangguan  tiroid, pasien DM sebab  colenol dari coleus 

merangsang pelepasan insulin, pasien dg riwayat perdarahan 

& gangguan hemostatik, hipotensi, gangguan jantung & 

asma. 

 

- 222 - 

 

j. Efek samping:   

 Meningkatkan risiko perdarahan, hentikan paling sedikit 

2 minggu sebelum operasi atau cabut gigi. 

k. Interaksi: 

 Dengan obat pengencer darah, obat  antidepresan, 

antihistamin, antihipertensi, obat asma, beta- bloker, obat 

inotropik, obat tiroid, cephalosporin, itraconazole, 

ketoconazole, warfarin, Ginkgo biloba and garlic. 

l. Posologi: 

 3 x 1 sachet (50 g serbuk)/hari, rebus dengan 3 gelas air 

sampai tersisa 1 1/2  gelas. 

 

3. Klabet  

Trigonella foenum-graceum (L.) 

Sinonim:  Foenum-graecum officinale (Moench.) 

Suku:  Fabaceae 

        

  Gambar 78. Klabet 

 

a.   Nama daerah 

Kelabet 

b.   Bagian yang dipakai  

Biji 

c.   Deskripsi tanaman/simplisia: 

       Kelabet merupakan tanaman herba tahunan, tinggi dapat 

mencapai 60 cm. Daun trifoliate, berbentuk lanset. Biji warna 

coklat, bentuk belah ketupat.   

d.   Kandungan kimia:  

Proteins, lipid( terutama asam linoleic dan linolenic), 

galactomannans, 4-Hydroxyisoleucine , pseudo alkaloid, 

trigonelline, fenol (coumarin, flavonoid), minyak atsiri 

- 223 - 

 

(terutama g-lactone, sotolone),  steroid (sterol bebas terutama 

sitosterol), musilago, tannicacid, diosgenin, trigocoumarin, 

trigomethyl coumarin, steroidal saponin seperti gitogenin,  

trigogenin dan vitamin A. 

e.  Data keamanan:  

LD50: 7 g/kgBB per oral pada mencit. Ekstrak air  etanol 

(1:1) 10 g/kg BB intragaster pada mencit diamati tidak ada  

toksik. Oleh US FDA digolongkan GRAS (Generally Recognized 

As Safe). Pemberian biji kelabet praktis tidak toksik. LD50 

Trigonelline oral pada tikus: 5 g/kgBB. Toksisitas subkronis 

90 hari dengan dosis 0-10% hematologi, berat organ vital dan 

strukutur histologi tidak mengalami perubahan. Pengujian 

pada tikus selama 90 hari dengan dosis 5-20%. Pemberian 

biji kelabet tidak mempengaruhi asupan makanan, berat 

badan rasio efesiensi makanan, juga parameter biokimia 

darah tidak ada perbedaan bermakna.  

f. Data manfaat:  

Uji klinik:   

Sebuah penelitian yang bertujuan untuk meneliti efek 

Klabet  terhadap produksi ASI dilakukan pada 10 ibu 

menyusui selama 2 minggu.  Minggu I merupakan produksi 

ASI basal. Selama minggu ke II ibu diberi 3 x 3 kapsul 

klabet/hari.  Rerata volume ASI yang dipompa pada minggu I 

dibandingkan dengan rerata volume ASI pada minggu ke II. 

Rerata volume ASI minggu I yaitu 207 mL sedang  volume 

ASI minggu ke II yaitu 464 mL, dan peningkatan ini 

bermakna (P=0.004). Disimpulkan bahwa Klabet dapat 

meningkatkan produksi ASI secara bermakna. 

Sebuah studi RCT dilakukan pada 66 ibu yang 

memiliki  bayi aterm sehat yang memberikan ASI eksklusif 

dan bersedia memakai  pompa ASI pada hari ke-3 pasca 

persalinan. Ibu dialokasikan untuk mendapat terapi 3 x 1 

cangkir the mengandung 100 mg Klabet (n = 22), plasebo 

mendapat teh apel (n = 22), dan control mendapat nasihat 

rutin (n = 22).Ibu dipompa selama 15 menit dengan pompa 

listrik untuk mengukur volume ASI. Hasil menunjukkan 

bahwa rerata volume ASI pada kelompok terapi Klabet yaitu  

73.2 mL, placebo 38.8 mL, dan control  31.1 mL, (P < .05). 

- 224 - 

 

Penurunan BB maksimum paling rendah pada kelompok 

terapi (P < .05). Bayi pada kelompok terapi juga mencapai BB 

lahir lebih cepat daripada ke-2 kelompok lain (P < .05). 

Disimpulkan bahwa teh herbal mengandung Klabet dapat 

meningkatkan produksi ASI secara bermakna. 

g. Indikasi:  

Meningkatkan produksi ASI (Grade C). Peningkatan ASI 

biasanya terlihat dalam 24 - 72 jam setelah dosis pertama.  

h. Kontraindikasi:  

Kehamilan,  anak < 18 tahun. 

i. Peringatan:  

pemakaian  > 100 g/hari dapat menimbulkan kembung, 

diare dan nausea. Pada pasien asma dapat memperberat 

penyakitnya. Diabetes atau hipoglikemia. Dosis > dosis yang 

direkomendasikan menurunkan kadar gula darah, juga 

menurunkan kadar kolesterol. Alergi terhadap kacang, 

chickpeas dan kacang-kacangan lain mungkin alergi juga 

pada Klabet 

j.    Efek samping: 

 Keringat, urin, ASI  yang berbau sirup maple, diare 

ringan, alergi. 

k. Interaksi:  

Dapat menurunkan absorpsi obat/herbal yang diberikan 

bersamaan sebab  kandungan musilagonya. Diduga dapat 

berefek aditif dengan obat antidiabetik oral dan Insulin. 

Heparin, Warfarin dan antikoagulan lain, ticlopidine dan 

platelet inhibitor lain sebab  Klabet mngandung coumarin. 

Walau pada berbagai studi tidak menunjukkan masalah, 

namun potensial menimbulkan perdarahan bila diberikan 

bersamaan. MAOI, Klabet mengandung amine dan  potential 

meningkatkan efek obat ini. 

l. Posologi: 

3 x 3 kapsul (600 mg ekstrak)/hari 

10 hari pertama 3 x 3 kapsul/hari.  10 hari kedua 2 x 3 

kapsul/hari;         

10 hari  ketiga 1 x 3 kapsul/hari. 

German Commission E merekomendasikan dosis harian 6 g. 

- 225 -