forensik medikolegal 7




 akaan 

 

PEMERIKSAAN FORENSIK 

 

Dari satu jenis luka tembak masuk akan dapat 

memberi  banyak informasi bagi kepentingan forensik. 

Oleh sebab itu pada setiap luka tembak yang ditemukan 

pada tubuh mayat perlu dipastikan lebih dahulu, luka mana 

yang merupakan luka tembak masuk. Jika sudah dapat 

dipastikan luka yang menjadi luka tembak masuk, maka 

dengan pemeriksaan yang teliti akan dapat memberi  

informasi untuk kepentingan forensik yaitu  Proses 

terjadinya tembakan dan konteks pemicu nya (kecelakaan, 

bunuh diri atau pembunuhan), meliputi  : 

A. Senjata yang digunakan  : 

• Jenisnya 

Dengan melihat ciri-ciri luka akan dapat ditentukan 

apakah disebabkan oleh senjata api, senjata angin atau 

shotgun. 

• Kalibernya 

Dengan melihat diameter cincin memar/ cincin lecet. 

Kaliber ini ditentukan berdasar  diameter lumen 

dari laras, yang tidak selalu sama dengan diameter 

dari peluru. Akibat adanya elastisitas kulit maka, 

biasanya diameter anak peluru lebih besar dari 

diameter cincin memar/ cincin lecet. Pada bagian 

tubuh yang kulitnya sangat dekat dengan tulang, 

maka diameter anak peluru hampir sama dengan 

diameter cincin lecet/ memar. Sebab tulang dapat 

 

menjadi penahan terhadap elastisitas kulit di atasnya 

saat  mendapat dorongan anak peluru. 

 

B. Cara Melakukan Tembakan  : 

• Arah tembakan 

Secara teori arah tembakan dapat ditentukan dengan 

pasti, dengan menghubungkan luka tembak masuk 

dan luka tembak keluar. Hanya saja luka tembak 

keluar terkadang tidak selalu ditemukan. Kalaupun 

ditemukan, terkadang luka ini  terjadi sesudah  

arah anak peluru berubah, sebab  membentur tulang. 

Selain itu terkadang jumlah luka tembak sangat 

banyak, sehingga sangat sulit untuk menentukan luka 

tembak masuk dan luka tembak keluar. Dalam 

keadaan-keadaan ini  maka perkiraan arah 

tembakan dapat dilakukan dengan cara mencari posisi 

lubang luka terhadap cincin lecet. Bila letak konsentris 

(terpusat) maka, diperkirakan arah tembakan tegak 

lurus terhadap sasaran dan bila episentris, maka 

diperkirakan arah tembakan miring. 

• Jarak tembak 

Kecuali pada jarak tempel. Maka perkiraan jarak 

tembak hanya dapat diperkirakan secara kasar. 

Dengan melihat bentuk luka, atau produk-produk dari 

ledakan mesiu. Penggunaan peredam suara dapat 

mempengaruhi jangkauan dan bentuk penyebaran 

jelaga, sehingga merancukan perkiraan jarak tembak. 

Bila pada tubuh korban ada  luka tembak masuk 

dan tampak jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga 

atau tattoo,  maka perkiraan atau penentuan jarak tembak 

tidak sulit. Kesulitan baru timbul bila tidak ada kelim-kelim 

ini  selain kelim lecet.  

Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari 

jarak dekat, maksimal  30 cm. Bila ada kelim tattoo, berarti 

korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm, dan 

seterusnya. Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya 

yaitu  sebagai berikut: “berdasar  sifat lukanya luka 


tembak ini  merupakan luka tembak jarak jauh“, ini 

mengandung arti :  

1. Memang korban ditembak dari jarak jauh, yang berarti 

diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu 

yang tidak terbakar atau sebagian terbakar. 

2. Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, 

akan namun  antara korban dengan moncong senjata ada 

penghalang, seperti bantal dan lain sebagainya. 

3. Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak 

yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15 cm (Idris, 

1997). 

Menurut hadikusumo (1998), luka tembak tempel 

bentuknya seperti bintang, dengan gambaran bundaran 

laras senjata api dengan tambahan gambaran vizierkorrel 

(pejera, foresight). Akibat panasnya mulut laras. Bila 

larasnya menempel pada kulit, gas peluru ikut masuk ke 

dalam luka, dan berusaha menjebol keluar lagi lewat 

jaringan disekitar luka.  

Sementara luka tembak jarak dekat ada sisa mesiu 

yang menempel pada daerah sekitar luka. Gambaran mesiu 

ini tergantung jenis senjata dan panjang laras. Mesiu hitam 

lebih jauh jangkauannya dari pada mesiu tanpa asap. 

Sedangkan luka tembak jarak jauh, luka bersih dengan 

cincin kontusio, pada arah tembakan tegak lurus permukaan 

sasaran bentuk cincin kontusionya konsentris, bundar.Ada 

beberapa hal yang harus diperhatikan, oleh seorang dokter 

di dalam proses pembuatan visum et repertum, antara lain  : 

1) Bila ada kasus penembakan, maka dalam visum 

harus diperhatikan 

Apakah luka ini  benar disebabkan oleh peluru? 

Luka tembak masuk atau keluarkah luka ini ? Sifat luka 

(Jarak)? Arah masuknya peluru? Perkiraan posisi senjata 

terhadap korban (ada halangan/ tidak)? Bila ada lebih dari 

satu luka tembak, tentukan mana yang merupakan sebab 

kematian? Jumlah dan jenis peluru yang masuk dan 

perkiraan jenis senjata. 

 

2) Terhadap Peluru  

Beri tanda di basis dengan scapel untuk diidentifikasi. 

Deskripsi dalam laporan: Bentuk, terbuat dari logam, 

panjang, diameter, berat, jumlah dan arah alur. Dikirim ke 

polisi peminta (atau bagian identifikasi senjata api) Kalau 

ditemukan selongsongnya, beri tanda di badannya, bukan di 

baju. 

 

3) Terhadap tersangka penembak  

Lakukan test diphenylamine (Nitrat), Bahan yang 

diperiksa, seperti tangan atau pakaian tersangka. Cara 

memeriksa, kertas saring dicelup dalam reagens kemudian 

ditempel pada tangan dan pakaian ini .  Hasil : bila 

positif, warna ungu.    

 

4) Cara pengiriman barang bukti  

Adapun barang bukti yang diperlukan, yakni: Senjata 

api didapatkan dari tersangka, korban dan atau di TKP. 

Anak peluru didapatkan dari tubuh korban dan atau di TKP. 

Selongsong peluru didapatkan bersama-sama senjata api 

dan atau di TKP. Mesiu didapatkan dari tangan, luka 

tembak masuk, pakaian. Peluru didapatkan dari tesangka, 

luka dan senjata api. Pecahan logam yang diperkirakan ada 

hubungannya dengan mesiu didapatkan di TKP 

 

5) Cara-cara pengambilan dan pengawetan barang 

bukti  

Senjata api Pungut pada bagian pelindung penarik 

dengan memakai  ibu jari dan telunjuk kemudian 

letakkan pada sehelai karton dan dibungkus, diikat pada 

bahagian tengah dan ujung-ujungnya sehingga tidak 

bergerak (agar jangan rusak sidik jari jika ada). Anak Peluru 

harus dijaga jangan sampai rusak dan mengalami 

perubahan. Mengeluarkan anak peluru dari tubuh korban 

dilakukan oleh dokter.  

Pengambilan anak peluru dengan jari (jangan sampai 

memakai  besi) lalu dibalut dengan kapas dan cara 


memegang anak peluru dengan memakai  ujung jari 

telunjuk dan ibu jari pada ujungnya. Selongsong peluru 

Cara mengambilnya dengan memakai jari telunjuk dan ibu 

jari, pungut pada bagian ujung atas serta jangan tergores. 

Mesiu Sisa mesiu diambil dengan memakai  lelehan 

parafin atau dengan memakai  kapas yang telah 

dibasahi dengan HNO3 5%. Cara pengambilannya sama 

dengan cara mengambil anak peluru.(5) 

 

6) Cara pembungkusan barang bukti  

Anak peluru atau selongsong dibungkus dengan 

kapas, ditaruh dalam kotak dan dibungkus lagi dengan 

kertas pembungkus, diikat dengan tali tanpa sambungan, 

diberi label yang berisi catatan tentang peluru dan lain-lain 

serta disegel. Kemudian dibuat berita acarapembungkusan 

dengan penyegelan. Bila ditemukan anak peluru lebih dari 

satu, harus dicatat dimana ditemukan dan dipisahkan satu 

sama lain dengan membungkusnya terpisah pula, sebab  

ada kemungkinan penembakan dilakukan oleh lebih dari 

satu orang.(1) 

 

7) Cara pengutaraan jarak tembak di dalam VER 

Bila pada tubuh korban ada  luka tembak masuk 

dan ada  jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau kelim 

tattoo, maka perkiraan atau penentuan jarak tembak tidak 

sulit. Bila ada kelim jelaga, berarti ditembak pada jarak dekat 

dengan maksimal 30cm. Bila ada kelim tattoo, berarti 

ditembak pada jarak dengan maksimal 60 cm. Bila ada kelim 

lecet, cara pengutaraannya sebagai berikut : ”berdasar  

sifat lukanya, luka tembak ini  merupakan luka tembak 

jarak jauh” yang berarti : 

• Memang ditembak dari jarak jauh, yang berarti di luar 

jangkauan atau jarak tempuh butir- butir mesiu yang 

tidak terbakar atau sebagian terbakar. 

• Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, 

akan namun  antara korban dengan moncong senjata ada 

penghalang, seperti bantal dan sebagainya. 

• Bila ada kelim api, berarti bahwa korban ditembak dari 

jarak sangat dekat sekali yaitu maksimal 15 cm.(4,5) 

Bila pada mayat ditemukan luka tembak masuk jarak 

dekat atau pada mayat ditemukan sisa mesiu pada 

tangannya, maka dilakukan test parafin untuk mengang kat 

sisa mesiu. Tempat sekitar luka tembak masuk dibendung 

dengan kardus, kemudian dituangkan parafin cair, di atas 

parafin lalu diletakkan kain kasa, kemudian dituangkan 

parafin cair lagi. Dengan adanya kain kasa, parafin yang 

membeku tidak mudah retak bila diangkat (dikenal sebagai 

test parafin).(3,4,5) Pada beberapa keadaan, pemeriksaan 

terhadap luka tembak masuk sering dipersulit oleh adanya 

pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat 

dilakukan dengan baik, akibat penafsiran atau kesimpulan 

mungkin sekali tidak tepat. 

Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan 

ini  dapat dilakukan prosedur sebagai berikut : 

Luka tembak dibersihkan dengan hidrogen perokside 

(3% by volume). sesudah  2-3 menit luka ini  dicuci 

dengan air, untuk membersihkan busa yang terjadi dan 

membersihkan darah. Dengan pemberian hidrogen 

perokside tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas, 

sehingga diskripsi dari luka dapat dilakukan dengan akurat. 

Selain secara makroskopik, yaitu dengan perangai yang 

karakteristik pada luka tembak masuk, tidak jarang 

diperlukan pemeriksaan khusus untuk menentukan secara 

pasti bahwa luka ini  luka tembak masuk; ini 

disebabkan oleh sebab  tidak selamanya luka tembak masuk 

memperlihatkan ciri-ciri yang jelas. Adapun pemeriksaan 

khusus yang dimaksud yaitu : pemeriksaan mikroskopik, 

pemeriksaan kimiawi dan pemeriksaan radiologik. 

Pemeriksaan Mikroskopik 

Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor; 

trauma mekanis dan termis  

Luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat : 

1. Kompresi ephitel, di sekitar luka tampak epithel yang 

normal dan yang mengalami kompresi, elongasi dan 

 

menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari 

inti sel. 

2. Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat 

bercampur dengan butir-butir mesiu. 

3. Epitel mengalami nekrose koagulatif, epitel sembab, 

vakuolisasi sel-sel basal. 

4. Akibat panas, jaringan kolagen menyatu dengan 

pewarnaan HE akan lebih banyak mengambil warna 

biru (basofilik staining). 

5. Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis 

(kelainan ini paling dominan)  dan adanya butir-butir 

mesiu. 

6. Sel-sel pada dermis intinya mengkerut, vakuolisasi 

dan pignotik. 

7. Butir-butir mesiu tampak sebagai benda tidak 

beraturan, berwarna hitam atau hitam kecoklatan. 

8. Pada luka tembak tempel “hard contact” permukaan 

kulit sekitar luka tidak ada  butir-butir mesiu atau 

hanya sedikit sekali, butir-butir mesiu akan tampak 

banyak dilapisan bawahnya, khususnya disepanjang 

tepi saluran luka. 

9. Pada luka tembak tempel “soft contact” butir-butir 

mesiu ada  pada kulit dan jaringan dibawah kulit. 

10. Pada luka tembak jarak dekat, butir-butir mesiu 

terutama ada  pada permukaan kulit,  hanya 

sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit 

Pemeriksaan Kimiawi 

Pada “black gun powder” dapat ditemukan kalium, 

karbon, nitrit, nitrat, sulfis, sulfat, karbonat, tiosianat dan 

tiosulfat. Pada “smokeles gun powder” dapat ditemukan 

nitrit dan selulosa nitrat. Pada senjata api yang modern, 

unsur kimia yang dapat ditemukan ialah timah, barium, 

antimon dan merkuri.  

Unsur-unsur kimia yang berasal dari laras senjata dan 

dari peluru sendiri dapat di temukan ialah timah, antimon, 

nikel, tembaga, bismut perak dan thalium. Pemeriksaan atas 

unsur-unsur ini  dapat dilakukan terhadap pakaian, 

didalam atau di sekitar luka, Pada pelaku penembakan, 

 

341 

 

unsur-unsur ini  dapat dideteksi pada tangan yang 

menggenggam senjata. 

Pemeriksaan dengan Sinar X  

Pemeriksaan secara radiologik dengan sinar X ini pada 

umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak 

peluru dalam tubuh korban, demikian pula bila ada partikel-

partikel yang tertinggal. Pada “tanden bullet injury” dapat 

ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya 

hanya satu. Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet 

tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak 

dengan senjata jenis “shoot gun” ,yang tidak beralur, 

dimana dalam satu peluru terdiri dari berpuluh pellet. Bila 

pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban 

ditembak oleh senjata jenis rifled.  

Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk 

lanjut atau telah rusak sedemikian rupa, sehingga 

pemeriksaan sulit, maka dengan pemeriksaan radiologi ini 

akan dengan mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan 

ditemukannya anak peluru pada foto rongent (Idris, 1997). 

Pramono (1996) menyatakan luka tembak masuk dilukis 

dalam keadaan asli atau dibuat foto. Pada luka tembak jarak 

dekat dibuat percobaan parafin, yang kegunaannya untuk 

menentukan sisa mesiu pada tangan penembak atau sisa-

sisa mesiu sekitar luka tembak untuk jarak dekat. 

 

AKIBAT TRAUMA TEMBAK 

 

Lubang tembak di kepala dan yang menembus tempurung kepala 

 

Kerusakan pada kepala umumnya berupa pecahnya 

tulang tengkorak kepala pada LTM dan pada LTK. Pada 

LTM, lubang pada tabula eksterna akan lebih kecil 

dibanding dengan lubang pada tabula interna sehingga 

membentuk corong yang membuka ke dalam. Pada LTK, 

lubang yang terjadi pada tabula interna akan lebih kecil 

dibanding dengan lubang pada tabula eksterna sehingga 

membentuk corong yang membuka keluar. Pecahnya tulang 

tengkorak kepala biasanya disertai dengan rusaknya 

jaringan otak yang jelas dapat memicu  kematian. 

 

B. Leher 

 

Luka tembak di leher 

Robeknya arteri karotis maupun vena jugularis serta 

rusak dan hancurnya tenggorokan maupun kerongkongan 

dapat memicu  perdarahan yang hebat dan terhentinya 

sistem pernafasan, sehingga memicu  kematian. 

 

 

C. Dada Dan Perut Serta Panggul 

 

 

 

Luka tembak di dada yang mengenai organ jantung 

 

Pada organ yang berongga seperti jantung dan 

kandung kencing bila terkena tembakan dan kedua organ 

ini  sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole), 

maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila 

dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan 

kandung kencing yang kosong : hal ini  disebabkan 

sebab  adanya penyebaran tekanan hidrostatik keseluruh 

bagian. Paru yang terkena saluran anak peluru dapat 

memicu  kolap, dan memicu  gagalnya fungsi 

pernafasan. 

 

D. Anggota Gerak Atas Dan Bawah 

Bila peluru mengenai anggota gerak berupa pecahnya 

tulang-tulang (tulang panjang) pada anggota gerak tidaklah 

membawa dampak yang terlalu berbahaya.Yang menjadi 

perhatian yaitu  saat  pembuluh darah arteri ikut robek 

yang dapat memicu  perdarahan yang banyak 

Misalnya arteri radialis pada daerah lengan, dan arteri 

femoralis pada tungkai bawah.(4) 

Demikian sedikit pembahasan tentang trauma/ luka 

tembak. Semoga kiranya dapat bermanfaat untuk kita 

semua. Saran dan kritik yang membangun sangatlah 

 


KESIMPULAN 

1) Pada prinsipnya pemeriksaan korban luka tembak, 

sama dengan pemeriksaan luka pada trauma lain, 

namun ada satu yang spesifik yaitu, para dokter harus 

mengetahui dan memahami tentang senjata api, 

amunisi dan peluru. 

2) Sedangkan trauma atau luka tembak itu sendiri yaitu  

luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru 

atau persentuhan anak peluru dengan tubuh akibat 

adanya factor kecepatan, sehingga menembus kulit 

dan masuk ke dalam tubuh serta merusak jaringan 

tubuh di dalamnya. 

3) Senjata api yaitu  suatu senjata yang memakai  

tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan 

proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi 

melalui larasnya. Atau dengan definisi lain yaitu  

suatu alat yang dapat mengeluarkan peluncur atau 

proyektil (anak peluru) dengan memakai  daya 

pengembang/ tekanan gas yang dihasilkan oleh 

pembakaran bahan ledakan atau mesiu. 

 

TRAUMA KIMIA 

 

TRAUMA ASAM KUAT DAN  

BASA KUAT 

 

A. LATAR BELAKANG 

Trauma akibat bahan kimia yang bersifat asam dan 

basa meskipun jarang ditemukan pada negara maju, namun 

sering terjadi di negara-negara berkembang. Trauma yang 

terjadi seringkali diakibatkan oleh sebab  kecelakaan 

dimana didapatkan penggunaan bahan-bahan kimia yang 

bersifat asam dan basa, namun trauma yang terjadi dapat 

pula diakibatkan oleh sebab  suatu pembunuhan atau usaha 

bunuh diri yang dilakukan atas kemauan korban itu 

sendiri.(1,2,3) 

Trauma akibat bahan kimia dibagi menjadi dua. 

Pertama, golongan asam, seperti asam mineral, asam 

organik, garam mineral atau halogen. Kedua, golongan basa, 

seperti amonium hidroksida, natrium hidroksida atau 

kalium hidroksida. Anak-anak dan orang dewasa memiliki 

risiko yang sama untuk terpapar bahan kimia yang akan 

memicu  trauma. (1,8) 

Trauma yang terjadi akibat bahan kimia basa memiliki 

risiko tinggi terjadinya kematian bila dibandingkan dengan 

trauma akibat asam. Mekanisme terjadinya trauma akibat 

bahan kimia yang bersifat asam dan basa yaitu  berbeda. 

Pada trauma akibat asam penetrasi terhadap jaringan pada 

umumnya hanya terbatas daerah yang terpapar oleh bahan 

kimia itu saja, sedangkan pada trauma akibat basa justru 

 


memicu  penetrasi yang dalam pada jaringan yang 

terkena.(6,7) 

  

B. DEFINISI 

Asam ialah setiap persenyawaan elemen elektronegatif 

dengan satu atau lebih atom hidrogen yang dengan mudah 

dapat diganti dengan atom elektropositif, persenyawaan 

yang dalam larutan air mengalami disosiasi dengan 

terbentuknya ion-ion hidrogen ( proton ), substansi yang 

molekul atau ionnya dapat melepaskan proton  ( pada basa 

), yang mampu menerima sepasang electron dan 

membentuk ikatan kovalen sederajat. Asam memiliki  

rasa masam, mampu mengubah kertas lakmus biru menjadi 

merah dan bergabung dengan basa membentuk garam.(9) 

Basa ialah suatu persenyawaan yang membentuk 

sabun yang dapat larut dalam asam lemak, mengubah 

lakmus merah menjadi biru dan membentuk karbonat yang 

dapat larut.(9) 

Racun korosif yaitu  golongan racun yang bersifat 

merusak atau menghancurkan jaringan tubuh. Asam kuat 

dan basa kuat merupakan bahan kimia yang merupakan 

bagian dari racun korosif.(9) 

Alkali yaitu  salah satu kelas persenyawaan, yang 

membentuk sabun, yang dapat larut dalam asam lemak, 

mengubah litmus merah menjadi biru dan membentuk 

karbonat yang larut, Pada pokoknya merupakan hidroksida 

dari sesium, litium, kalium, rubidium dan natrium, 

termasuk karbonat logam dan dari amonia. (9) 

Caustic artinya membakar atau korosif, destruktif bagi 

jaringan hidup, memiliki rasa yang membakar agen 

eskarotik atau korosif. (9) 

Saponifikasi artinya proses mengubah lemak menjadi 

sabun dan gliserol dengan memanasi bersama alkali. Dalam 

ilmu kimia hidrolisis suatu ester oleh alkali, yang 

menghasilkan alkohol bebas dan garam alkali dari asam 

ester. (9) 

 

 

C. EPIDEMIOLOGI 

Angka mortalitas dan morbiditas kasus luka bakar 

akibat zat kimia yang bersifat korosif kurang lebih 20 

kematian tiap tahun dengan angka rata-rata kurang dari 1 %. 

Angka morbiditas pada keracunan yang berat kurang dari 

1%. Insiden yang disebab kan zat yang bersifat basa 

memiliki  angka resiko kematian lebih tinggi dari pada zat 

yang bersifat asam. Bahan pencuci pakaian berhubungan 

dengan keracunan berat pada 1-2 % kasus dengan angka 

kematian rata-rata kurang dari 0.1 %.(10) 

Pada tahun 2003, the American Association of Poison 

Control Centers ( AAPCC ) melaporkan 22.000 kasus trauma 

asam, 50.500 kasus trauma basa, 16.272 kasus trauma akibat 

peroksida dan 54.300 kasus trauma akibat zat pemutih. 

Selama waktu itu, 2.322 kasus trauma sebab  fenol atau 

produk-produk fenol. Pemaparan terhadap produk yang 

bersifat asam dan zat kimia lainnya memicu  20 

kematian, 120 kasus keracunan berat dan 2.362 kasus 

keracunan sedang. Pemaparan terhadap produk yang 

bersifat basa dan kimia lainnya memicu  12 kematian, 

233 kasus keracunan berat dan 4.014 keracunan sedang. 

Pemaparan terhadap peroksida dilaporkan tidak ada 

kematian, 8 kasus keracunan berat dan 217 kasus keracunan 

sedang. Pemaparan terhadap zat pemutih dan produk yang 

mengandung klorat memicu  1 kematian, 62 kasus 

keracunan berat dan 2.533 kasus keracunan sedang.  

Keracunan fenol dilaporkan tidak ada kematian, 9 kasus 

keracunan berat dan 242 kasus keracunan sedang.(10) 

Insiden pada anak dan dewasa untuk terjadinya 

trauma akibat zat asam basa yaitu  sama. Pada anak yang 

lebih kecil angka kejadian lebih sering terjadi sebab  

kurangnya pengawasan dari orang tua. Pada anak yang 

lebih besar dan dewasa muda terjadi sebab  tingkah laku 

dan keinginan untuk mencoba hal yang baru.(9) 

Di Bangladesh angka kejadian luka bakar akibat zat 

asam sebesar 8,76 % dari total angka kejadian luka bakar, 

pemicu  yang paling sering yaitu  asam sulfat, asam nitrat 

dan asam hidroklorit. Angka kejadian pada perempuan 


 

sebesar 72,78 % dengan usia rata-rata 21 tahun. Pencetus  

terjadinya trauma akibat zat asam disebabkan oleh 

perselingkuhan dan penolakan lamaran ( 44,3 % ), 

perselisihan (30,37 % ) kecelakaan industri ( 8,22 % ) 

ketidaksengajaan ( 4,48 % ) dan pemicu  lainnya ( 12,03 % ). 

Lokasi terjadinya trauma ini  bervariasi dapat di tempat 

kerja (27,85 % ), di rumah ( 26,58 % ), di jalan ( 25,95 % ) dan 

di tempat pendidikan ( 19,62 % ). (10) 

 

D. PATOFISIOLOGI 

Zat asam didefinisikan sebagai donor proton ( H+ ) dan 

zat basa didefinisikan sebagai penerima proton ( OH- ). Basa 

disebut juga alkali. Asam dan basa dapat disebut juga zat 

kaustik, yang dapat memicu  kerusakan jaringan bila 

terpapar. Kekuatan asam berkaitan seberapa cepat zat 

ini  melepaskan proton, kuatnya basa berhubungan 

dengan seberapa cepat zat ini  mengikat proton. 

Kekuatan asam basa diukur dengan skala pH, dengan nilai 

antara 1-14, asam kuat memiliki pH 1 dan basa kuat 

memiliki pH 14. Sedangkan PH 7 yaitu  pH netral.(1)  

Kontak dengan bahan kimia asam dan basa akan dapat 

memicu  terjadinya trauma, namun mekanisme 

terjadinya luka atau trauma ini  yaitu  berbeda. Pada 

trauma yang disebabkan oleh bahan kimia asam, akan 

terjadi koagulasi serta nekrosis jaringan melalui proses 

denaturasi protein pada jaringan yang terkena. Koagulasi 

yang terbentuk akan menghambat penyebaran luka, 

sehingga luka yang terjadi akibat bahan kimia asam hanya 

bersifat lokal atau terbatas pada daerah dimana jaringan 

ini  terpapar oleh bahan kimia asam. Pengecualian 

terjadi pada penggunaan asam hidrofluoro ( HF ), 

menghasilkan nekrosis yang akan mengalami pencairan ( 

liquefaction necrosis ), serupa dengan trauma akibat bahan 

kimia yang bersifat basa.(6) 

Asam hidrofluoro memiliki ciri yang unik, yaitu dapat 

dengan cepat menembus permukaan kulit hingga mengenai 

pembuluh darah, memungkinkan terjadinya pelepasan ion 

florida dengan cepat. Ion florida kemudian akan berikatan 

 

dengan kalsium, memicu  terjadinya hipokalsemia dan 

proses kalsifikasi yang dapat memicu  kematian.(6) 

Trauma akibat bahan kimia basa juga dapat 

memicu  terjadinya liquefaction necrosis dan lebih 

berpotensi memicu  bahaya dibandingkan trauma 

akibat asam. Bahan kimia bersifat basa akan menghancurkan 

jaringan dengan cara denaturasi protein serta lemak yang 

ada pada jaringan. Berbeda dengan trauma akibat asam 

dimana penetrasi terhadap jaringan terbatas oleh sebab  

terjadinya koagulasi, trauma akibat basa justru 

memicu  penetrasi yang dalam pada jaringan yang 

terkena.(6) 

Tingkat keparahan dari luka bakar berhubungan 

dengan beberapa faktor yaitu, pH zat, konsentrasi zat, 

lamanya kontak, lokasi, volume atau jumlah zat yang 

memapar dan bentuk fisik dari zat. Tertelannya zat padat 

yang bersifat basa dapat memicu  kontak lama pada 

lambung dan memicu  luka bakar berat pada lambung. 

Efek jangka panjang pada kulit akibat luka bakar terjadinya 

skar dan tergantung lokasinya. Luka bakar okular akibat zat 

ini  dapat memicu  kekeruhan kornea dan 

kebutaan. Luka bakar pada oesofagus dan lambung dapat 

memicu  striktur.(1) 

Zat-zat kimia korosif  yaitu  unsur yang menyebab-

kan kerusakan pada bagian tubuh jika terkena zat ini  

akibat koagulasi protoplasma, pengendapan dan penguraian 

protein serta penyerapan air. Asam dapat bersifat korosif, 

iritan dan neurotik.(1) 

Cara kerja asam yang bersifat korosif : (11) 

• Mengesktraksi air dari jaringan. 

• Mengkoagulasi protein menjadi albuminat. 

• Mengubah hemoglobin menjadi asam hematin. 

Ciri-ciri dari luka yang terjadi akibat zat-zat asam 

korosif : (11)  

• Terlihat kering. 

 

355 

 

• Berwarna coklat kehitaman, kecuali yang disebabkan 

oleh asam nitrit berwarna kuning kehijauan. 

• Perabaan keras dan kasar. 

Basa memiliki  sifat korosif dalam konsentrasi yang 

pekat dan bersifat iritan pada konsentrasi yang lebih encer. 

Cara kerja zat basa korosif : (11)  

• Mengadakan ikatan dengan protoplasma sehingga 

membentuk alkaline albumin dan sabun. 

• Mengubah hemoglobin menjadi alkaline hematin. 

Ciri-ciri luka yang terjadi akibat persentuhan dengan 

zat-zat ini yaitu  : (11)  

• Terlihat basah dan edematous. 

• Berwarna merah kecoklatan. 

• Perabaan lunak dan licin. 

  

E. GAMBARAN KLINIS TRAUMA ASAM KUAT 

DAN BASA KUAT 

Gambaran khas yang penting dalam membedakan 

trauma disebabkan oleh sebab  bahan kimia bersifat asam 

kuat atau bahan kimia bersifat basa kuat yaitu  bahwa 

trauma akibat basa dapat merusak jaringan tidak hanya kulit 

namun  hingga mengenai jaringan dibawahnya termasuk 

pembuluh darah sehingga memiliki gambaran klinis yang 

lebih berat dibandingkan dengan trauma akibat asam yang 

hanya terbatas mengenai permukaan yang terpapar oleh zat 

kimia asam.(6) 

Secara umum, gambaran klinis lain oleh sebab  

trauma akibat bahan kimia asam maupun basa yang bersifat 

korosif tidak akan menunjukkan perbedaan yang bermakna. 

Kerusakan yang terjadi biasanya lebih bersifat struktural bila 

dibandingkan dengan tingkat keracunan dari bahan kimia 

itu sendiri, kecuali bila korban terpapar bahan kimia 

ini  untuk waktu yang lama.(6) 

Semua bahan kimia yang bersifat korosif memiliki 

gambaran klinis yang sama dimana dapat ditemukan bahan 

kimia di sekitar tubuh korban, kulit mengalami erosi akibat 


bahan kimia ini , lidah tampak seperti terbakar, 

berkerut, disertai bercak-bercak erosi sepanjang sudut 

mulut, dagu, leher serta dada. Pola luka terbakar yang 

tampak pada bibir juga dapat menunjukkan wadah tempat 

bahan kimia ini  ditempatkan saat  dimasukkan ke 

dalam mulut. Bila korban dalam keadaan duduk atau 

berdiri, bercak erosi yang terjadi akibat bahan kimia akan 

dapat ditemukan hingga dada serta perut korban. Bila dalam 

posisi tidur atau terlentang, bercak erosi akan ditemukan 

pada daerah pipi, yang kemudian menuju ke daerah 

belakang leher.(6,12)  

Mulut bagian dalam akan mengalami erosi, lidah akan 

membengkak, sesuai dengan sifat bahan kimia yang 

dipergunakan. Faring, laring dan esofagus juga akan 

mengalami erosi, dan bila korban masih dapat bertahan 

hingga beberapa menit maka glotis akan mengalami edema. 

Bahan kimia yang mengenai laring dan saluran jalan napas 

akan memicu  kerusakan mukosa jalan napas dan bila 

terjadi aspirasi bahan kimia ini  masuk ke dalam paru-

paru maka secara cepat akan memicu  terjadinya 

edema paru dan perdarahan hebat.(6,12) 

Bila proses berlanjut mengenai esofagus bagian bawah 

serta lambung, kerusakan akan dengan cepat terjadi pada 

daerah ini  berupa perubahan warna, terlepasnya epitel 

yang melapisi organ ini  ( deskuamasi ) dan kadang 

kala terjadi perforasi. Bila korban masih dapat bertahan, 

bahan kimia yang bersifat korosif ini akan masuk kedalam 

usus halus, namun keadaan ini jarang sekali terjadi oleh 

sebab  terjadi spasme dari pilorus serta waktu yang 

dibutuhkan agar bahan kimia ini  mencapai usus halus 

dengan kemampuan tubuh korban bereaksi terhadap bahan 

kimia ini  tidak sebanding.(6) 

Sebagian besar kematian terjadi sebab  bahan kimia 

masuk ke dalam paru dan memicu  terjadinya edema 

paru. Namun, bila korban dapat hidup sesudah  beberapa 

hari, kemungkinan kematian akan terjadi oleh sebab  

adanya bronkopneumonia yang hebat.(6) 

 

Tanda dan gejala yang tampak akibat bahan kimia 

asam maupun basa akan memiliki mekanisme yang berbeda 

pada tiap jaringan yang terpapar. Hal ini sangat bergantung 

pada keadaan tubuh serta cara kerja bahan kimia ini  

seperti bau dan sediaan yang digunakan.(7) 

Trauma yang terjadi bisa memicu  kematian 

namun bisa juga memicu  gangguan sistemik yang ada 

di dalam tubuh dimana orang yang mengalami trauma 

masih hidup. Pada kasus hidup, diperlukan auto dan 

alloanamnesa untuk mendapatkan informasi sebanyak-

banyaknya tentang waktu terjadinya, awal timbulnya gejala, 

perkembangan, makanan serta minuman dicerna ada 

tidaknya riwayat trauma yang sama sebelumnya, sedang 

dalam keadaan depresi atau terlibat pertikaian, serta perlu 

juga dilakukan penilaian terhadap bahan yang diduga 

sebagai alat tentang bau, warna, konsistensi, rasa, serta 

jumlah. sesudah  anamnesa yang lengkap dan terarah, 

dilakukan pemeriksaan menyeluruh mencakup tanda dan 

gejala yang ada dan disertai dengan pemeriksaan penunjang 

laboratorium.(7)  

Pada kasus kematian, dilakukan alloanamnesa 

terhadap polisi dan keluarga korban yang kemudian 

dilanjutkan dengan pemeriksaan paska kematian baik 

pemeriksaan luar maupun dalam, analisa kimia terhadap 

cairan tubuh, serta pemeriksaan cairan dalam organ tubuh.(7) 

Trauma terhadap asam dan basa dapat terjadi melalui 

beberapa cara, antara lain secara oral atau mulut ( paling 

sering ), inhalasi atau terhirup oleh bahan kimia ini , 

secara parenteral ( intramuskular, intravena, subkutan 

ataupun intradermal ), pada lubang lain yang ada pada 

tubuh manusia ( hidung, anus, vagina atau uretra ), dan juga 

pada luka maupun pada kulit yang normal                ( 

memicu  luka bakar ).(7,13) Faktor-faktor yang 

mempengaruhi terjadinya luka atau trauma akibat bahan 

kimia asam atau basa, antara lain kuantitas, konsentrasi, 

bentuk dan bahan kimia yang digunakan, cara pemberian, 

keadaan lambung, usia, keadaan umum atau fisik tubuh,

ada tidaknya penyakit, bahan kimia kumulatif, toleransi 

tubuh terhadap bahan kimia, dan idiosinkrasi.(7,14) 

Semakin banyak bahan kimia yang digunakan, 

semakin cepat bahan kimia ini  bereaksi dan semakin 

tinggi risiko terjadinya kematian. Hal yang sama juga terjadi 

jika konsentrasi bahan kimia yang digunakan semakin 

tinggi. Sediaan yang digunakan juga berpengaruh pada 

trauma yang terjadi akibat bahan kimia. Sediaan yang 

berbentuk gas akan dengan cepat diabsorbsi dan sangat 

efektif. Begitu juga dengan sediaan cair bila dibandingkan 

dengan sediaan padat. Keadaan umum pasien yang baik, 

faktor usia, serta tidak adanya penyakit yang diderita juga 

akan mempengaruhi toleransi terhadap bahan kimia bila 

dicerna di dalam tubuh.(7,15) 

Lambung yang sedang terisi oleh makanan akan 

mempengaruhi kerja bahan kimia dengan cara 

memperlambat absorbsi atau penyerapan bahan kimia 

dalam tubuh. Keadaan yang sama juga terjadi jika  bahan 

kimia masuk ke dalam tubuh atau terpapar pada saat 

sedang dalam keadaan istirahat atau tidur.(7,15) 

Trauma asam dan basa dapat terjadi di berbagai 

macam tempat oleh sebab  bahan kimia yang bersifat asam 

dan basa dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan 

sehari-hari. Trauma dapat terjadi di dalam rumah ( 

penggunaan desinfektan, detergen, antiseptik, insektisida ), 

daerah pertanian dan perkebunan                    ( obat-obatan 

anti hama ), daerah industri atau pabrik, maupun pusat 

perbelanjaan. Trauma asam dan basa juga dapat terjadi 

sebagai akibat penggunaan obat-obatan yang salah, pada 

makanan dan minuman, serta pada berbagai macam barang 

lainnya.(7,15) 

Kasus yang dapat terjadi oleh sebab  trauma yang 

disebabkan oleh bahan kimia asam dan basa dapat berupa 

kasus pembunuhan, upaya bunuh diri atau terjadi sebab  

kecelakaan. Secara klinis tidak ada perbedaan yang nyata 

dalam membedakan kasus pembunuhan atau bunuh diri 

akibat trauma kimia asam dan basa, namun perbedaannya 

dapat dilihat dari segi penggunaan bahan-bahan kimia. Pada 

 

359 

 

kasus bunuh diri dan pembunuhan, bahan kimia yang 

digunakan biasanya mudah untuk didapat, tidak memiliki 

rasa atau manis, tidak berbau, tidak memicu  perih, 

harganya murah, sangat beracun, dapat digunakan bersama 

dengan makanan dan minuman. Perbedaan yang ada yaitu  

pada kasus pembunuhan, bahan kimia yang digunakan 

biasanya tidak berwarna, tidak memiliki sisa residu saat 

digunakan, tanda dan gejala yang tampak menyerupai suatu 

penyakit yang terjadi secara alami, tidak memiliki antidotum 

dan tidak ada tanda-tanda perubahan pada pemeriksaan 

postmortem.(5,6) 

 

F. KLASIFIKASI 

1. Asam Mineral ( Asam Anorganik-Corrosive 

Inorganic Acids ) : 

• Asam Sulfat ( H2SO4 ). 

• Asam Klorida / Hidroklorida ( HCl ). 

• Asam Nitrat ( HNO3 ).  

• Asam Fluorida ( HF ).  

• Asam Sulfur ( H2S ). (16) 

2. Asam Organik ( Corrosive Organic Acids ) : 

• Asam Oksalat.  

• Asam Asetat.  

• Asam Sitrat. 

• Asam Karbolat ( Carbolic Acid dan Phenol ).  

• Asam Salisilat. (16)  

• Asam Formiat. (1,8) 

3. Asam Sayuran ( Vegetable Acid ) : 

• Asam Hidrosianat ( Hidrocianic Acid ).  

4. Garam Mineral  : (1,8)   

• Perak nitrat ( AgNO3 ).  

• Zinc Chlorida.   

5. Halogen  : (1,8) 

• Florida. 

• Chlorin. 

• Iodine. 

• Bromine. 

 

360 

 

6. Kaustik Alkali ( Basa = Caustic Alkali ) : 

• Natrium Hidroksida. ( NaOH ) 

• Kalium Hidroksida. ( KOH ) 

• Kalsium Hidroksida. ( CaOH ) 

• Natrium Karbonat.  

• Kalium Karbonat. 

• Amoniak. ( NH4OH ) (12) 

Beberapa gambar korban, pada kasus trauma akibat  

asam kuat dan basa kuat 

    

   1           2 

    

  3     4 

 

361 

 

5      6 

  

7      8 

 

 

 

 

 

 

 

362 

 

 

9     10 

 11 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

363 

 

 

 

 

 

 

 

BAB. II 

TRAUMA ASAM KUAT 

I. ASAM MINERAL(12,17) 

Asam bertindak sebagai zat korosif pada bentuk yang 

pekat, sebagai zat iritan pada bentuk sedikit larut dan 

bertindak sebagai stimulan pada bentuk yang sangat larut. 

1. GEJALA KLINIS ANTEMORTEM 

Berikut ini merupakan gejala-gejala yang timbul bila 

menelan asam yang pekat : 

a. Rasa terbakar pada mulut, kerongkongan, oesofagus 

sampai ke lambung. 

b. Vomitus yang mengandung darah, mukus dan 

sobekan dari membran mukosa. Pada kasus dimana 

asam ditelan dalam jumlah besar, tidak akan timbul 

vomit oleh sebab  seluruh permukaan dari lambung 

terusak. 

c. Adanya daya dorong yang kuat. 

d. Sudut mulut ikut rusak. 

e. Gigi menjadi berwarna putih seperti kapur. 

f. Lidah menunjukkan tanda-tanda korosif. 

g. Suara menjadi serak dan parau oleh sebab  edema 

laring. 

h. Pada beberapa kasus ( pada waktu asam sulfur 

digunakan sebagai racun ) perforasi akan 

memicu  kolapsnya pasien secara tiba-tiba. 

i. Konstipasi. Dapat timbul diare bercampur darah dan 

robeknya membran mukosa ( jarang ). 

 

364 

 

j. Pupil menjadi dilatasi dan mata terlihat liar dan 

tenggelam. 

k. Disfagia. 

l. Urin dalam jumlah sedikit dan miksi terasa sangat 

sakit. 

 

2. pemicu  KEMATIAN 

a. Segera 

• Syok. 

• Kegagalan respirasi oleh sebab  spasme atau edema 

glotis. 

• Perforasi lambung yang memicu  peritonitis. 

b. Lambat 

• Absorbsi septik. 

• Kelelahan dan malnutrisi oleh sebab  kelaparan 

yang disebabkan oleh sebab  sikatrisasi dan 

stenosis dari esofagus dan laring. 

• Dispepsia yang tidak dapat disembuhkan. 

 

3. GAMBARAN POST-MORTEM 

Hal ini tergantung dari : 

• Kekuatan dari asam. 

• Kuantitas dari asam yang digunakan. 

• Waktu pasien bertahan hidup sesudah  meminum 

asam. 

a. Jika kematian timbul dalam waktu singkat akan 

terjadi : 

• Tanda-tanda korosif dan destruksi dari mulut, 

kerongkongan, esofagus dan lambung. 

• Bisa ada  perforasi dari lambung sehingga 

memicu  kebocoran isi lambung ke dalam 

rongga peritoneal atau adanya destruksi dari 

peritoneum dan organ-organ abdomen.   

b. Jika pasien hidup untuk beberapa hari akan terjadi : 

• Tanda-tanda proses penyembuhan menghasilkan 

pembentukan gumpalan dan sikatrisasi. 

 

365 

 

A. ASAM SULFAT ( SULPHURIC ACID / H2SO4 ) 

 

     

 

Diambil dari : Nervi, Stephen J, Burns, Chemical, 

www.emedicine.com, June 20th ,2006) 

 

1. Sifat-sifat 

Asam sulfat murni merupakan cairan tidak berwarna, 

berat, higroskopis, seperti minyak, tidak menghasilkan gas. 

Bila dicampur air akan menghasilkan panas dan volumenya 

menyusut. Dalam konsentrasi yang tinggi ( 90-95 % ) dengan 

cepat akan menghancurkan bahan-bahan organik dan 

menghitamkannya ( mengkarbonisasi ).(12,18,19) 

Pakaian atau kertas yang terkena asam ini akan rusak 

atau hancur dan meninggalkan noda merah kecoklatan. 

 

366 

 

Asam sulfat yang biasa dijumpai di pasaran berwarna coklat 

atau gelap dan biasanya tidak murni, bercampur dengan 

bahan lain, seperti timbale sulfat, arsen, asam nitrat dan 

nitrogen oksida. Konsentrasi vitriol oil mengandung asam 

sulfat sekitar 95-98 %, brown oil of vitriol mengandung 75-80 

%, sedangkan asam baterai dalam accu mengandung 25-30 

% dengan berat jenis 1,2-1,26.(12,18) 

 

2. Gejala-gejala   

• sebab  afinitasnya yang tinggi terhadap air ( efek 

higroskopis ) sehingga jaringan akan mengalami 

dehidrasi. sebab  temperaturnya yang sangat tinggi, 

akan memicu  luka bakar.  

• Lidah bengkak dan ditutupi selaput yang putih, 

kadang-kadang bisa memicu  bentuk seperti 

suatu massa jaringan ( berbenjol-benjol ).   

• Gigi berwarna putih seperti kapur. Email rusak dan 

tidak berkilat. 

• Bila bengkak dan mengalami ekskoriasi asam menetes 

dari sudut bibir menuju dagu/ leher, sehingga bekas 

akan berwarna hitam. 

• Hipersalivasi selama beberapa hari ( jika korban masih 

hidup ). 

• Bahan muntahan berwarna coklat atau kehitaman. 

• Urine mungkin berwarna biru. 

 

3. Dosis Fatal 

Efek berbahayanya lebih tergantung pada 

kepekatannya daripada jumlahnya. Dosis fatal dewasa 

untuk asam sulfat pekat yaitu  5-20 ml, anak-anak 2 ml. 

4. Periode Fatal 

Terjadi dalam 18-24 jam akibat kombinasi dari shock 

dan asidosis. Biasa lebih cepat terjadi bila diikuti edema dan 

spasme laring. Bila dimuntahkan maka asam dapat terhirup 

atau terjadi perforasi lambung pada pemakaian stomach 

tube. Bisa terjadi kematian lebih lama akibat sebab sekunder 

atau striktura oesophagus. 

 

367 

 

5. Gambaran Post Mortem 

• Pemeriksaan luar : ada  tanda-tanda korosif, 

warna luka bakar mula-mula abu-abu lalu dengan 

cepat berubah menjadi coklat atau hitam. Kulit yang 

terbakar ini  kemudian akan menjadi keras sekali 

seperti perkamen. Untuk itu perlu dibedakan dengan 

luka lecet. sebab  reaksi peradangan yang hebat, 

dapat terjadi pembengkakan pada bibir dan mulut. 

• Pemeriksaan Dalam : selama asam sulfat bekerja 

secara lokal maka pada pemeriksaan dalam hanya 

terbatas pada traktus digestivus bagian atas saja dan 

traktus respiratorius. Pada traktus digestivus, mulai 

dari mulut sampai dengan lambung dapat ditemukan 

reaksi peradangan yang hebat, edema disertai 

perdarahan interstitial yang hebat. Mukosa atau 

seluruh dinding lambung menebal. Pada daerah-

daerah yang terkena akan berwarna coklat atau hitam 

dan pada perabaan rapuh. Perforasi lambung sering 

terjadi dan memicu  komplikasi Chemical 

Peritonitis. Terhadap tanda-tanda korosif pada usus 

halus sebab  asam ini  dapat menetes pada usus 

halus sesudah  lambung mengalami perforasi. Hati dan 

ginjal mengalami perubahan perlemakan ( fatty 

change ) bila sempat penderita bertahan hidup lama. 

Darah beku bisa ditemukan dalam pembuluh darah. 

Pada traktus respiratorius, sebab  regurgitasi isi 

lambung, terjadi aspirasi maka pada laring dan trakea 

ada  tanda-tanda korosif. 

6. Pemeriksaan kimia  

Perubahan bahan organic dari asam dilakukan dengan 

cara filtrasi atau dialysis. Barium Nitrat ditambahkan 

sehingga membentuk barium sulfat dan akan tampak 

berupa endapan berwarna putih. 

7. Aspek Medikolegal 

Asam sulfat yang diperdagangkan memicu  

mudah diperoleh dipasaran dan bisa dipakai untuk 

pembunuhan atau bunuh diri sehubungan rasanya yang 

asam dan perubahan fisik berupa kelainan warna 

 

368 

 

memicu  jarang dipakai untuk pembunuhan. Pada 

anak-anak sering terjadi kecelakaan sebab  biasa dikelirukan 

dengan glycerin atau castor oil atau disangka sirup. Sering 

juga disalah gunakan untuk melakukan tindakan aborsi 

dengan memasukkannya kedalam vagina. 

8. Penyiraman asam pada wajah ( Vitriot Trowing/ 

Vitriolage ) 

Yaitu tindakan dimana asam sulfat pekat disiramkan 

seseorang untuk merusak wajah atau untuk membunuh 

orang lain. Tentu akan tampak lesi local pada wajah, bila 

mengenai mata akan terjadi konjungtival edema, hancur 

kornea, dan akhirnya menjadi buta. Cucilah bagian yang 

terkena dengan air mengalir, bilas dengan sabun, atau 

sodium/ kalsiumbicarbonat encer. Atau taburi kemudian 

dengan tepung NaCO3 atau MgO dengan salapnya. Pada 

anak, mata yang terkena irigasi dengan larutan yang 

menandung sodium bikarbonat 1gr dalam 1 gram air, lalu 

tetesi dengan kastrol oil atau olive oil. 

 

B. ASAM NITRAT ( HNO3 ) (5,12,16) 

1. Sifat-sifat 

Asam nitrat pekat merupakan cairan bening, tidak 

berwarna. Reaksi dengan udara akan mengeluarkan asap/ 

uap yang tidak  berwarna dan baunya tidak enak. 

Merupakan oksidan kuat dan dapat menghancurkan semua 

logam kecuali emas dan platina. Yang ada  dipasaran 

berwarna kuning sampai warna merah kecoklatan, 

merupakan asam nitrit komersial yang mengandung oksida 

nitrogen. 

2. Gejala-gejala dan tanda-tanda khusus 

• Bibir, lidah dan mukosa mulut lunak dan putih, 

kemudian berubah menjadi kering sebab  

pembentukan asam xantoproteic dari protein. 

• Email gigi menjadi rusak dan gigi menjadi kuning. 

• Muntah yang bercampur darah berwarna kuning 

kecoklatan. 

 

369 

 

• Dapat terjadi oliguri, anuri dan adanya albuminuria. 

• Menghirup asam nitrat dapat terjadi lakrimasi, sesak 

nafas yang dapat memicu  kematian mendadak 

atau mati lemas sebab  edema paru dan 

bronkopneumonia. 

3. Dosis Fatal 

Sebanyak 8 ml asam nitrat dapat memicu  

kematian pada anak-anak. Pada orang dewasa pada keadaan 

tertentu tergantung lamanya kontak pada kerongkongan, 

saluran nafas dan saluran cerna. 

4. Periode Fatal 

Lamanya 12-24 jam. 

5. Gambaran Post Mortem 

• Kulit dan membrane mukosa pada system pencernaan 

berwarna kuning. 

• Saluran nafas tampak tersumbat dan tampak edema 

paru, bila kematian sebab  terhirup gas/ asap asam 

nitrat. 

• Kadang-kadang dapat dijumpai peradangan pada 

lapisan membrane atrium jantung korban. 

6. Aspek Medikolegal 

Keracunan asam ini jarang terjadi. Biasa sebab  

kecelakaan atau yang tidak sengaja sebab  

kontaminasi. Dapat pula terjadi keadaan bunuh diri                        

( suicide ). 

 

 

370 

 

 

Diambil dari : A.Y, Al Aali et A, Bestoun H, Nitric Acid Burn, 

www.hmc.org.qa/mejem/mar2003/cr/39.htm, Maret 2003 

 

C. ASAM  KLORIDA  ( HCl ) (12,16) 

 

 

Trauma akibat asam hidroklorida 

 

1. Sifat-Sifat 

Tidak berwarna, bau sangat merangsang dan larut 

sempurna dalam air. 

 

2. Gejala-Gejala 

• Gejalanya lebih ringan dari asam nitrat dan asam 

sulfat. 

 

371 

 

• Pakaian yang berwarna gelap akan menjadi merah 

kecokelatan jika terkena asam ini, mulut dan mukosa 

tidak mengalami perubahan warna. 

• Dapat terjadi hipersalivasi, konvulsi, delirium dan 

paralysis tungkai. 

• Keracunan kronis yang menghirup asam dari HCl 

dapat mengalami coryza, nausea, nyeri pada dada, 

peradangan gusi. 

3. Dosis Fatal 

Biasanya 15-20 ml asam pekat. Dosis fatal Forcast yang 

pernah dilaporkan yaitu  3,5 ml pada anak wanita 

umur 15 tahun. 

4. Periode Fatal 

24-36 jam. 

5. Gambaran Post Mortem 

• Tidak ada perubahan warna pada kulit dan membran 

mukosa. 

• Kulit menjadi keras dan mengalami fragmentasi. 

• Membran mukosa pada lambung berwarna putih 

kelabu, disertai dengan adanya beberapa tempat yang 

mengalami korosif dan berwarna hitam. 

• Jarang ditemukan adanya perforasi, hanya biasanya 

tampak gambaran gastritis akut. 

• Bila kematian sebab  menghirup uap, maka paru-paru 

tampak kongesti dan edema. 

6. Aspek Medikolegal 

Umumnya kecelakaan atau upaya bunuh diri. 

 

 

D. ASAM SULFUR ( H2S ) (12,16) 

Asam sulfur murni merupakan cairan yang berat dan 

tidak berwarna. Asam ini tidak memancarkan api saat  

terekspose dengan udara. saat  air ditambahkan akan 

bertambah panas. Jika berkontak dengan setiap material 

organik, kulit atau tekstil akan mengubah warnanya menjadi 

hitam seperti arang. 


1. Tanda dan gejala yang khusus 

• Asam sulfur memiliki  afinitas yang tinggi terhadap 

air ( efek higroskopis ) oleh sebab  itu jaringan 

menjadi dehidrasi. Oleh sebab  peningkatan suhu 

yang sangat tinggi akan timbul luka bakar. 

• Lidah menjadi bengkak dan ditutupi dengan lapisan 

putih. 

• Gigi menjadi berwarna putih kapur dan kehilangan 

warna aslinya. 

• Bibir juga bengkak dan ada ekskoriasi. Asam mengalir 

dari sudut mulut ke dagu, sehingga menghasilkan 

warna kehitaman pada jalur yang dilalui asam. 

• Hipersalivasi untuk beberapa hari. 

• Urin berwarna kebiruan. 

2. Dosis fatal   

5-100 ml 

3. Periode fetal   

18-24 jam 

4. Gambaran post-mortem 

• Striktur oesofagus. 

• Dinding lambung hitam. Perforasi sering terlihat pada 

fundus lambung. Bagian yang lain meradang dan 

berwarna kemerahan. 

• Tanda-tanda korosif pada usus halus oleh sebab  asam 

turun ke usus sesudah  lambung mengalami perforasi. 

• Hepar dan ginjal menunjukkan perlemakan jika pasien 

bertahan hidup. 

• Koagulasi darah. 

5. Tes kimia 

Pemisahan dari campuran organik dari asam 

dilakukan dengan cara filtrasi atau dialisis. Barium 

nitrat ditambahkan sehingga terbentuk Barium sulfat. 

6. Aspek medikolegal  

• Kegunaannya paling sering untuk tujuan bunuh diri. 

 

• Jarang digunakan sebagai racun untuk pembunuhan 

pada anak-anak dan pasien tidak sadar. 

Penyiraman asam pada wajah  

Dampak lokal pada kulit yaitu  berupa jejas yang 

permanen. Jika permukaan tubuh yang terkena sangat luas 

bisa memicu  kematian. Jika mengenai kornea akan 

memicu  buta. 

 

II. ASAM ORGANIK (9,13,16,17,18)  

A. ASAM OKSALAT 

1. Sifat-Sifat 

Tidak berwarna, bentuk kristal, larut dalam air dan 

alkohol. 

2. Penggunaan 

• Sebagai bahan pemutih untuk menghilangkan bercak 

pada pakaian. 

• Sebagai bahan pewarna pada proses pencetakan dan 

mengkilatkan besi. 

3. Gejala-Gejala 

• Bereaksi secara lokal dan sistemik. 

• Muntah terus menerus dan bisa sampai mati. 

• Pada awalnya sering tidak disertai diare 

• Tenesmus 2-3 hari, kemudian timbul oliguria yang 

disertai diuresis. 

• Rasa terbakar pada mulut, tenggorokan dan 

oesophagus, perasaan tercekik pada tenggorokan. 

• Pada tahap awal dapat terjadi anuria kemudian 

perlahan-lahan jumlah urine semakin meningkat. 

• Albumin pada urine tidak begitu banyak secara 

mikroskopik akan tampak adanya sel darah merah, 

silinder hialin dan banyak kristal oksalat. 

• Kegagalan peredaran perifer semakin lama semakin 

nyata. 

• Kemudian kebas di kaki dan mati rasa anggota badan. 

• Pasien mengalami uremia lalu koma, kontraksi otot 

dan kejang mungkin terjadi pada waktu koma sebelum 

 

pasien meninggal sehingga pasien tidak bisa buka 

mulut. 

4. Dosis Fatal 

Rata-rata 15 gr ( 10-30 gr ). 

5. Periode Fatal 

Sangat singkat yaitu 3-10 menit, rata-rata 1-2 jam. 

6. Pengobatan 

• Bilas lambung lakukan secara hati-hati dan hanya 

pada kasus tertentu saja. 

• Berikan 2 sendok teh kalsium laktat, dimana akan 

memicu  terbentuknya kalsium oksalat yang 

tidak larut sehingga tidak dapat diserap.  

• Kalsium glukonas 10 ml secara sistemik ( IV ) sebagai 

antidotum. 

• Morfin dapat diberi untuk mengatasi nyeri. 

• Mencegah kerusakan renal flow ( aliran ginjal ) 

haruslah dipertahankan pemberian infus cairan 

glukosa kira-kira 2-4 ml/ hari. 

• Isi lambung dikeluarkan secara enema. 

• Jangan gunakan larutan yang bersifat basa sebab  

akan memicu  pembentukan garam yang mudah 

larut dan bersifat racun. 

7. Gambaran Post Mortem 

• Bila asam ini pekat, ditemukan tanda-tanda korosif 

pada mulut, kerongkongan, oesophagus dan lambung. 

Membran mukosa berwarna putih, keriput dan mudah 

lepas dari jaringan di bawahnya. 

• Kadang-kadang mukosa berwarna hitam akibat 

bekuan darah. 

• Permukaan esophagus bergerombol. 

• Cairan lambung berwarna coklat  kehitaman dengan 

usus tampak bagian atas mengalami hyperemia dan 

kongesti. 

• Pada ginjal, tubulus ginjal berisi kristal oksalat yang 

merupakan tanda khas dari keracunan asam oksalat. 

 

• Organ-organ lain ( otak, liver, paru-paru dan lain-lain ) 

dapat tampak mengalami kongesti. 

8. Aspek Medikolegal 

Kecelakaan ( accidental ) lebih sering terjadi daripada bunuh 

diri ataupun pembunuhan yang sangat jarang terjadi. 

 

B. ASAM ASETAT 

Asam asetat dibentuk sewaktu pembusukan dari 

bahan organic tertentu. Asam asetat murni berbentuk padat 

seperti es dibawah suhu 16 °C, oleh sebab  itu disebut juga 

asam asetat glacial. Di atas suhu ini  berbentuk cairan 

tidak berwarna dengan bau tajam. asam yang pekat bersifat 

korosif sementara yang larut bersifat iritan.  

1. Gejala klinis 

ada  nyeri terus menerus mulai dari mulut sampai 

lambung, vomitus juga sering terjadi. Gejala lain termasuk 

kesulitan untuk menelan, konvulsi, dan kolaps. Asam 

menjadi bersifat menguap, juga ada  batuk-batuk dan 

komplikasi pada laring. Hemoglobinuria sering terlihat pada 

urin. Konjungtivitis dapat timbul. Membran mukosa dan 

bagian lain dari tubuh yang berkontak dengan asam menjadi 

lunak dan berwarna putih kekuningan.  

2. Dosis fatal  

60 ml  

3. Periode fatal 

1-48 jam 

4. Gambaran postmortem  

Baunya yang timbul merupakan kriteria diagnostik. 

Iritasi merupakan efek yang utama. Juga bisa ada  erosi 

dari membran mukosa mulut, esofagus, lambung dan usus 

halus, tergantung dari kekuatan asam. Traktus respiratorius 

atas kongestif. 

5. Aspek medikolegal 

Keracunan asam ini terjadi tidak sengaja oleh sebab  

meminum asam asetat pekat. Asam yang larut banyak 

ditemukan di rumah-rumah dalam bentuk vinegar. 

 

Sehingga pada negara-negara berkembang sering digunakan 

untuk bunuh diri.  

 

C. ASAM SALISILAT (13,14) 

Asam salisilat sebagian besar digunakan untuk 

pengobatan penyakit kulit. Zat ini dapat memicu  

iritasi pada mukosa membran gaster. Bentuk asam salisilat 

ini berupa sodium salisilat, metil salisilat dan asam asetil 

salisilat.  

1. Gejala klinis 

Asam salisilat dan bentuk-bentuknya dapat 

memicu  iritasi gastrointestinal. Gejala lainnya berupa 

pusing, banyak berkeringat, dehidrasi, asidosis, 

kebingungan, delirium dan koma, serta dapat terjadi 

perdarahan pada membran mukosa. Kematian dapat terjadi 

sebab  kolaps kardiovaskular atau kegagalan pernapasan. 

Metil salisilat dapat memicu  gastroenteritis yang 

diikuti oleh asidosis, hiperpireksia dan kematian. 

2. Dosis fatal :  

5-10 gm. 

3. Periode fatal :  

4-7 hari. 

4. Gambaran postmortem : 

Terdiri dari gastroenteritis dan perdarahan 

submukosa. Pada ginjal ada  tanda-tanda iritasi, adanya 

edema paru dan kongesti organ-organ viseral. ada  

gambaran petechie pada cortex ginjal dan otak. 

5. Aspek medikolegal 

Keracuan ini terjadi biasanya sebab  kecelakaan. Asam 

salisilat di absorbsi oleh kulit dan memicu  timbulnya 

gejala keracunan jika terkena permukaan kulit atau kulit 

yang intak.(1) 

 

 

C.a.  Metil Salisilat 

1. Sifat-Sifat 

Merupakan hasil dari Natrium peroksida + CO2. 

Sifatnya tidak berwarna, berbentuk kristal padat dan 

rasanya sedikit manis, larut sebagian dalam air dingin 

dan larut sempurna dalam air panas, alkohol, eter dan 

khloroform. Sebagai anti fermentasi dan anti 

pembusukan untuk pemakaian luar pada beberapa 

pemyakit kulit. 

2. Gejala-Gejala 

Akan timbul rasa panas dalam tenggorokan dan 

lambung, perdarahan terjadi akibat kerusakan 

mukosa, misalnya epistaksis, perdarahan pada retina ( 

amblyophia ), ginjal ( hematuria ) dan dapat 

memicu  abortus. Kematian umumnya sebab  

kolaps jantung dan kegagalan pernafasan. 

 

C.b. Asam  Asetyl  Salisilat 

1. Sifat-Sifatnya 

Bentuk biasanya tablet dengan nama lain Aspirin, 

merupakan hasil dari reaksi anhydrida asam asetat / 

asetylklorida + asam salisilat. Bentuk kristal, warna putih, 

tidak berbau dengan rasa sedikit asam, sebagian larut dalam 

air dan larut sempurna dalam alcohol / eter.  

2. Gejala-Gejala 

Gejala keracunan berupa sakit kepala, telinga 

berdengung, dapat terjadi ketulian, rasa haus, juga bisa 

timbul kegagalan ginjal sehingga harus memerlukan 

tindakan hemodialisa. 

3. Dosis Fatal 

Dosis maksimum 3-6 gr Aspirin. 

4. Periode Fatal 

Bervariasi dari beberapa menit sampai beberapa jam. 

5. Pengobatan 

Kumbah lambung dengan air bersih/ garam fisiologis. 

Pada pasien tidak sadar dengan larutan bikarbonas 

 

konsentrasi rendah. Dapat diberi arang aktif untuk 

mengurangi konsentrasi. Untuk meningkatkan aliran darah 

ke ginjal, dapat diberi larutan glukosa 5 % dalam saline/ IV 

atau natrium bikarbonat 2 % dalam saline untuk akselerasi 

salisilat yang meninggi, membantu dehidrasi dan mencegah 

muntah. Untuk asidosisnya dapat diberikan larutan laktat. 

Mengatasi pembuluh darah yang kolaps diberikan 

noradrenalin drips 8 mg/ liter. 

6. Gambaran Post Mortem 

Mukosa lambung dijumpai bintik-bintik perdarahan 

dan lesi menggaung yang ada  pada daerah nekrosis. 

Pada otak dan organ-organ dalam tubuh dapat terjadi 

perdarahan. 

7. Aspek Medikolegal 

Lebih sering sebab  kecelakaan ( seperti : salah makan 

obat ) daripada pembunuhan atau bunuh diri. 

 

D. ASAM  KARBOL (13,14) 

Yang termasuk golongan ini yaitu  Cresol ( methyl 

phenol ), Lysol ( Cresol + Larutan sabun ), Dettol ( 

Chloroxylenol ) dan Hexachlorophene. Asam karbolat saat  

berada dalam bentuk cairan konsentrat bertindak sebagai 

korosif, memicu  membran mukosa yang berkontak 

berwarna putih dan menyusut. Pasien dengan cepat berada 

dalam keadaan koma, oleh sebab  asam ini mempengaruhi 

kerja sistim saraf pusat. Fenomena yang khas, urin yang 

berwarna hijau gelap atau kehitaman sering terlihat sesudah  

terkena asam ini.(1) 

Asam karbolat berbentuk kristal yang tidak berwarna, 

di mana jika bereaksi dengan udara akan berwarna merah 

muda. Pasien dengan cepat menjadi koma sebab  asam ini 

mempengaruhi kerja sistim saraf pusat. Fenomena yang 

khas berupa urin berwarna hijau gelap atau kehitaman. 

Keracunan asam karbolat dikenal juga dengan sebutan 

karbolism.(12) 

 

 

Gambaran klinis antemortem akibat trauma asam 

karbolat dapat berupa perasaan terbakar dan mati rasa pada 

sistem pencernaan, sebab  efek anestesi ini  maka 

jarang terjadi mual dan muntah. Membran mukosa sistem 

pencernaan berwarna putih dan keras. Penderita merasa 

sakit kepala dan pusing, perlahan-lahan akan terjadi 

insensitif secara umum dan akhirnya memasuki tahap koma. 

Pupil mengalami miosis. Jumlah urin sangat sedikit dan 

pada saat berkemih warna urin berubah menjadi hijau 

kerena terbentuknya hasil oksidasi dari asam karbolat yaitu 

hidroquinon dan pirokatekol. Jika penderita bisa bertahan 

dalam 24 jam pertama maka ada kemungkinan untuk 

sembuh.(12) 

Gambaran postmortem dapat berupa perubahan 

warna kulit yang terkena menjadi pucat atau kekuningan. 

Kulit dapat terkelupas dan berwarna putih jika 

konsentrasinya sangat pekat. Membran mukosa mulut dan 

esofagus mengalami korosif, berwarna putih, lembab, 

ada  bagian yang terkelupas sebab  adanya perdarahan 

submukosa. Dari mulut tercium bau asam karbolat. 

Membran mukosa lambung dan usus halus menjadi keras, 

berwarna coklat, kasar, memiliki  tonjolan lipatan yang 

jelas dan mungkin tampak bintik-bintik perdarahan. Kedua 

ginjal membesar, meradang dan menunjukkan bercak 

perdarahan. Jaringan otak akan mengalami edema dan 

kongesti. Dosis fatal asam karbolat yaitu  60 ml dengan 

periode fatal berkisar antara 3-4 jam.(12)   

D.a  PHENOL 

1. Sifat-Sifat 

Larutan tidak berwarna, kristalnya berbentuk jarum 

yang berwarna agak merah jambu yaitu bila terkena udara. 

Rasanya agak manis dan memiliki  bau yang khas yaitu “ 

Carbolic Smell “. Phenol juga mudah larut dalam air, 

alkohol, eter dan gliserin. 

2. Dosis Letal 

8-15 gr ( 2 ml ) per-oral. 

3. Absorpsi dan Gejala 

 

 

Phenol dapat diabsorpsi melalui kulit yang normal 

atau yang sakit, traktus digestivus, traktus urogenitalis, 

rektum dan traktus respiratorius. Eliminasi melalui urine 

dalam waktu 36 jam akan dieliminasikan seluruhnya. Di 

dalam urine diperoleh dalam bentuk Hydroguinone atau 

Pyrocatechine, yang memicu  urine warna hijau 

kecokelatan dan bila ditambah FeCl3 akan memberi  

warna biru ( phenol ) dan hijau ( Cresol ). Phenol 

memiliki  efek lokal dan sistemik sebab  phenol 

merupakan fat soluble depressant, berpengaruh terhadap 

susunan saraf pusat sehingga terjadi paralysis otot 

pernafasan. 

4. Gambaran Post Mortem 

Pemeriksaan luar : korosif pada bibir dan jaringan 

disekitarnya yang berwarna abu-abu keputihan, warna ini 

lama-lama oleh sebab  pengeringan akan berwarna lebih 

gelap ( coklat ). Juga mungkin didapatkan kelainan yang 

sama di daerah jari-jari tangan. Dari sudut mulut dan 

hidung dapat tercium bau yang khas ( carbolic smell ). 

Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar dapat pula 

ditemukan. 

Pemeriksaan dalam : tanda-tanda korosif akan 

ditemukan pada traktus digestivus mulai dari mulut sampai 

lambung, kelainan yang paling jelas ada  di lambung 

yaitu berupa : Lambung akan kaku, keras, perabaan kasar 

seperti meraba kulit, mukosa membengkak dan ditutupi 

oleh lapisan membran yang berwarna abu-abu atau 

kecokelatan dan memberi  gambaran seperti perak ( 

silvery appearance ). Kelainan ini  tampak jelas pada 

lipatan-lipatan mukosa. Oleh sebab  koagulasi pada tempat 

ini tidak terjadi atau jika terjadi hanya ringan saja, sering 

pula didapati mukosa yang terlepas / nekrotik, dan jaringan 

dibawahnya tampak kongestif. Bau yang khas dari phenol 

dapat tercium. Pada traktus respiratorius akan didapatkan 

kelainan yang serupa, terutama jika terjadi aspirasi dari isi 

lambung. Pembengkakan  ( edema ) pada laring dan paru-

paru akan didapatkan terutama jika uap phenol yang diisap. 

 


D.b. LYSOL 

Gambaran post mortem pada keracunan Lysol, agak 

sedikit berbeda, yaitu : lambung tidak mengeras namun  

malah melunak dan pada perabaan mukosanya licin oleh 

sebab  terjadi proses penyabunan dan warna mukosa pada 

keracunan Lysol yaitu  coklat tua atau coklat kemerahan. 

Warna ini  disebabkan sebab  terbentuknya hematin-

alkali. 

 

III. VEGETABLE ACID 

A. ASAM HIDROSIANIDA (12) 

Asam hidrosianida termasuk asam yang bersifat 

neurotik dan merupakan salah satu bahan yang mematikan. 

Dengan dosis kurang dari satu sendok teh asam 

hidrosianida 2 % sudah memicu  kematian. Bila 

diberikan dalam dosis fatal gejala keracunan asam ini akan 

terjadi dalam waktu yang singkat sebagai konsekuensi dari 

cepatnya absorbsi lambung dan peredaran melalui 

pembuluh darah. 

Onset gejala timbul dalam hitungan detik. Korban 

masih dapat melalukan beberapa gerakan spontan sebelum 

gejala awal timbul. Pertama-tama korban akan merasa sulit 

bernafas, detak jantung melambat, dengan kecenderungan 

organ-organ lain untuk ikut berhenti dan berdilatasi. 

Bersamaan dengan terjadinya dilatasi pupil, pasien akan 

mengalami gerakan konvulsi yang tidak teratur. Irama gerak 

nafas terganggu, wajah kebiruan, pasien terjatuh secara 

spontan sebab  hilangnya seluruh kekuatan otot.  

Akhirnya dapat terjadi tahap asfiksia dimana 

pernafasan terengah-engah, denyut nadi hilang dan terjadi 

paralisis gerak. Biasanya kematian didahului oleh spasme 

otot. Gejala-gejala di atas, cepatnya kematian dan bau asam 

yang khas dari nafas dan lingkungan sekitar tubuh pasien 

dapat memberi petunjuk mengenai pemicu nya (12) 

 

 

IV. GARAM MINERAL (20) 

A. AGNO3 (PERAK NITRAT) : 

Dalam bidang medis, sering digunakan untuk kaustik. 

Gejala terpapar zat ini  seperti, nyeri tenggorokan, nyeri 

perut, muntah isi lambung yang bercampur dengan darah 

atau muntahan berwarna hitam, vertigo, spasme, gagal 

nafas. Pada penampakan, mulut dan tenggorok dapat 

terlihat zat yang berwarna perak putih yang kemudian jadi 

gelap, membran mukosa dari saluran cerna juga tampak 

terwarna dan mengalami korosi. Isi lambung ditampung 

guna pemeriksaan toksikologi. Pada pemberian garam perak 

untuk periode yang lama dapat terjadi deposit, 

penampakannya yaitu  warna metalik pada jaringan ikat, 

kulit dan organ dalam seperti hepar, ginjal. Proses ini terjadi 

berbulan-bulan.(15) 

 

B. ZINC CHLORIDE :  

Merupakan garam yang larut air. Dahulu digunakan 

untuk melapisi kayu rel kereta api agar tidak dimakan 

serangga, sekarang digunakan sebagai disinfektan, 

pengawetan mayat, untuk kauterisasi ulkus. Jika terpapar 

atau tertelan zat ini, ada  gambaran luka bakar pada 

kulit, korosif pada saluran pencernaan, terbentuk membran 

putih dengan pengelupasan mukosa diatasnya, sehingga 

dasarnya terlihat berwarna merah coklat. Perforasi dari 

saluran pencernaan dapat terjadi. Garam Zinc ini dapat 

diekskresi oleh usus besar dan ginjal. Pada autopsi, selain 

menampung isi lambung, dapat diperiksa juga organ 

ginjal.(14) 

 

V. HALOGEN  

Yang termasuk golongan halogen seperti Chlorine, 

fluorine, iodine, Bromine. Semuanya memiliki sifat korosif 

kuat. Berikut ini yaitu  bahan-bahan yang digunakan 

sehari-hari : Chlorine merupakan gas berwarna hijau jingga. 

Merupakan disinfektan dan juga digunakan sebagai zat 

bleaching. Terpapar gas chlorine memicu  iritasi 

 

konjungtiva, dyspnae, sianosis, asfiksia, spasme laring dan 

kematian dapat terjadi sebab  refleks spasme laring. Pada 

paru terjadi edema masif  (14) 

Fluorine merupakan bagian dari Asam Hidrofluorik 

dan Natrium Fluoride. Natrium Fluoride ini digunakan pada 

racun tikus. Sering disalah gunakan untuk bunuh diri 

dengan menelannya. Akibatnya terjadi nyeri epigastrium, 

dispnea, disfagia, nausea dan muntah. sesudah  bahan 

ini  diabsorbsi dapat terjadi kelemahan jantung, 

gangguan fungsi neuromuskular, gangguan sistemik seperti 

albuminuria, anemia dan secara mikroskopis ada  

nekrosis dari membran mukosa. Kematian dapat terjadi 45 

menit hingga 4 jam sesudah  menelan zat ini . Dosis 

fatalnya 5-10 gram. (14) 


TRAUMA BASA KUAT 

 

A. BASA  KUAT – KAUSTIK  ALKALI (12,18,21) 

Alkali atau basa kuat beberapa diantaranya digunakan 

dalam bidang kesehatan atau dalam industri lainnya. 

Misalnya digunakan sebagai bahan pemutih. Secara umum 

bahan-bahan alkali ini memiliki  sifat : 

• Beberapa berbentuk cairan ( ammonium hidroksida ) 

dan sebagian dalam bentuk  padat atau dalam pelarut 

air. 

• Ammonium hidroksida memicu  bau sedangkan 

lainnya pada umumnya tidak berbau. 

• Semuanya memicu  rasa terbakar jika berkontak 

dengan tubuh. 

 

B. TANDA DAN GEJALA 

Bila tertelan, memicu  rasa bakar pada mulut, 

tenggorokan dan lambung, dijumpai muntah yang berisi 

darah dan mukosa lambung. Muntahan bersifat basa dengan 

lapisan mukosa lambung menjadi halus, warna putih, jernih, 

kadang juga dijumpai berwarna merah kecoklatan. Bila 

mengenai mata akan merusak jaringan mata, lebih berat dari 

pada terkena asam. Kematian biasanya oleh sebab  shock 

atau respiratory distress. 

pemicu  korosif yang utama pada golongan basa 

yaitu  basa inorganik seperti Hidroksida dan karbonat yang 

berikatan dengan Natrium dan Kalium, Larutan alkali, 

Ammonium Hidroksida atau NH4OH, Kalsium Oksida. Basa 

 

385 

 

dapat memicu  perlukaan membran sel, membentuk 

reaksi penyabunan dengan protoplasma dan menghasilkan 

hematin alkali jika bereaksi dengan hemoglobin. Pengaruh 

kimiawi terhadap tubuh dari basa berbeda dengan pengaruh 

asam.  

Basa memicu  luka terbuka yang tampak 

bengkak, basah, lunak, warna merah atau coklat yang 

merupakan hasil dari imbibisi pigmen darah serta 

memberi  sensasi seperti menyentuh sabun pada 

perabaan. Namun jarang memicu  perforasi seperti 

pada asam. (20) 

Basa bersifat korosif dalam konsentrasi yang pekat dan 

bersifat iritan pada konsentrasi yang lebih encer.(20) 

saat  basa kuat tertelan, bibir, kulit sekitar mulut, 

dan lidah terlihat seperti terbakar bentuknya sesuai saat basa 

melewatinya sehingga mengesankan bentuk tertentu ( 

geografik ) dan ada  area berwarna abu-abu putih 

diantara epidermis yang membengkak dan berwarna merah. 

Kondisi yang sama dapat ditemukan di dalam mulut dan 

tenggorok.  

Membran mukosa dari oesofagus biasanya rusak dan 

ada  pembengkakan, warna merah coklat serta 

permukaannya jika diraba lunak dan basah. Dalam 

lambung, ada  berbentuk pembengkakan, licin dan 

berwarna merah tua, coklat tua hingga hitam. Pada 

duodenum dan jejenum atas dapat terpapar basa, 

tergantung dari sfingter pylori yang merupakan pintu 

menuju usus halus. Gambarannya secara makrosopis 

menunjukkan inflamasi seperti yang terjadi pada lambung 

namun keparahannya tergantung dari paparan basa 

terhadap dinding usus. (20) 

Jika seseorang dapat bertahan dan pulih dari gejala-

gejala korosif, inflamasi pada dinding saluran pencernaan 

dapat berkurang dalam beberapa bulan, sesudah  itu akan 

terjadi fibrosis pada dinding saluran pencernaan, hal ini 

memicu  peny