ambu. Ketinggian maksimum tiga meter. Bunga
kombinasi warna hijau, kuning kemerahan dan keputihan.
d. Kandungan kimia
Forskolin, caffeic acid, rosmarinic acid
e. Data manfaat:
1) Praklinik:
Forskolin mengaktifkan adenilat siklase dan
meningkatkan siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang
mengatur dan mengaktifkan enzim penting yang
dibutuhkan untuk energi sel. Forskolin meningkatkan
siklik adenosin monofosfat (cAMP) dan fungsi cAMP-
mediated, melalui pengaktifan adenilat siklase enzim,
yang meningkatkan produksi adenosin monofosfat siklik
(cAMP) dalam sel otot jantung.
Efek farmacologi dari coleonol, yaitu diterpene,yang
diisolasi dari C. forskohlii diteliti. Efek dominannya yaitu
menurunkan tekanan darah pada tikus dan kucing yang
dianestesi juga tikus dengan hipertensi sebab efek
relaksasi otot polos pembuluh darah. Pada dosis kecil
menunjukkan efek inotropik positif pada jantung kelinci
yang diisolasi juga pada jantung kucing in vivo. Coleonol
juga memperlihatkan aktivitas spasmolitik nonspesifik
pada otot polos gastrointestinal pada berbagai spesies
tapi tidak pada otot bronkhus guinea pig. Dosis besar
coleonol memiliki efek depresan SSP. Efek forskolin
berasal dari aktivasi adenylate cyclase, diikuti
peningkatan cAMP, aktivasi cAMP-dependent protein
kinase, fosforilasi protein atau enzim, dan inhibisi
aktivitas sodium-potassium-ATPase. Kejadian ini dapat
menuntun pertukaran sodium dan calcium melalui
- 136 -
membran sel bersama dengan peningkatan kadar
calcium intrasel dan inotropik positif.
Gagal miokardium tahap akhir ditandai dengan
force-frequency relationship (FFR) negatif, mungkin
sebagai hasil penurunan kapasitas ambilan SR Ca2+.
Dilakukan penelitian terhadap stimulator langsung
adenylate cyclase, forskolin, terhadap tenaga kontraksi
dan FFR miockardium manusia yang diisolasi dari 7
nonfailing hearts (NF) dan end-stage failing hearts (NYHA
IV) sebab iskhemik (ICM; n = 13) atau kardiomiopati
dilatasi (DCM; n = 16).
2) Uji klinik:
Empat puluh Sembilan (49) subyek usia 50-80
tahun dengan tekanan darah suboptimal diberi Coleus
forskohlii tablet atau tablet kunyah. Hasil menunjukkan
bahwa ke-2 sediaan C. forskohlii meningkatkan tekanan
darah. Hasil menunjukkan bahwa C.s forskohlii
mendukung perbaikan tekanan darah pada orang lebih
tua.
f. Indikasi:
Kardiomiopati (Grade B)
g. Kontraindikasi:
Kehamilan, laktasi
h. Peringatan:
Hipotensi, ulkus peptikum
i. Efek samping:
Aritmia, flushing, hipotensi, sakit kepala.
j. Interaksi:
Secara teoritis (tidak ada laporannya) dapat berinteraksi
dengan makanan dan minuman asam. Hati-hati gunakan
bersama obat yang yang tergantung pH dan aktivitas gaster
untuk aktivasi dan pemecahannya seperti cephalosporin
baru, itrakonozol, ketokonazol. Pemberian bersama
antikoagulan, antiplatelet, termasuk NSAID, dapat
meningkatkan risiko perdarahan (Coleus merupakan anti
agregasi platelet yang poten in vivo dan in vitro). Pemberian
bersama obat antihipertensi dan kardiovaskuler seperti
- 137 -
penghambat beta, clonidine, hydralazine harus dengan
pengawasan dokter.
k. Posologi:
2 x 1 kapsul (50 mg ekstrak)/hari.
4. Pegagan
Centella asiatica (L) Urban
Suku : Umbelliferae
Gambar 44. Pegagan
a. Nama daerah
Pegagan, antanan gede, gagan-gagan, gangganan, kerok
batok, pantegowang, panigowang, rending, calingan rambut ,
pegaga, daun kaki kuda, pegago, bebele, sarowati, wisu-wisu,
sandanan, dogauke
b. Bagian yang dipakai
Herba
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Herba tahunan tanpa batang dengan rimpang pendek
dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun
tunggal, tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun,
kadang agak berambut. Tangkai daun panjang sampai 50
mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan
garis tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai bergerigi
terutama kearah pangkal daun.Bunga umumnya 3, yang di
tengah duduk, yang di samping bergagang pendek. Buah
pipih, kurang lebih 7 mm dan tinggi kurang lebih 3 mm,
berlekuk dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan,
berdinding agak tebal.
- 138 -
d. Kandungan kimia
Triterpen: termasuk asam asiatik dan asam mandekasik
(6-hidroksi asam asiatik), asam terminolik, serta derivat ester
triterpen glikosida: termasuk asiatikosida, asiatikosida A,
asiatikosida B dan madekassosida.
e. Data keamanan
Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB. Terdapat
kemungkinan terjadi efek Karsinogenik pada kulit tikus pada
pemakaian berulang. Dilaporkan adanya kasus ikterus pada
3 orang yang mengkonsumsi herba pegagan selama 20-60
hari, efek ierus hilang saat pemakaian dihentikan dan
diberikan asam ursodeoksikolat 10 mg/kg BB/hari.
Pemberian ekstrak pegagan hingga dosis 2000 mg/kg BB
pada mencit per oral, menunjukkan tidak ada hewan uji yang
mati, terjadi 20% kematian pada dosis 10g/kg BB. Pada uji
toksisitas asiatikosida oral,tidak memperlihatkan efek toksik
hingga dosis 1 g/kg BB, sedang dosis toksis pemberian
intramuscular pada mencit dan kelinci yaitu 40 dan 50 g/kg
BB
Uji teratogenik ekstrak pegagan pada kelinci
menunjukkan tidak ada efek teratogenik.
f. Data manfaat
Uji Klinik:
40 pasien venous hypertensive angiopathy dengan
hipertensi vena berat, pembengkakan pergelangan kaki, dan
lipodermatosklerosis, dirandom untuk menerima TTFCA 2 x
60 mg/hari atau plasebo selama 8 minggu. Hasil: pasien yang
mendapat ekstrak mengalami penurunan bermakna dari skin
flux dan rate pembengkakan pergelangan kaki dibanding nilai
baseline (p<0.05). Juga perbaikan klinis cepat yang terlihat
sebagai pengurangan gejala (udem, nyeri, restless limbs,
pembengkakan, dan perubahan kondisi/warna kulit) dari
skor 9,5 pada baseline menjadi 4,5.
Pada studi lain evaluasi dilakukan dengan Laser doppler.
Subjek mendapat TTFCA 2 x 60 mg selama 6 minggu
memperlihatkan hasil penurunan resting flux 29% (p<0.05),
peningkatan respons venoarteriolar 52% (p<0.05), dan reduksi
- 139 -
volume tungkai 66-mL , peningkatan pO2 sebesar 7,2% dan
reduksi pCO2 sebesar 9,6-percent (p<0.05).
g. Indikasi
Insufisiensi vena kronik, venous hypertension.
h. Kontraindikasi
Kehamilan, menyusui, anak – anak, alergi, gangguan
hepar dan epilepsi
i. Peringatan
Efek abortif dan mengganggu siklus menstruasi, jangan
dipakai lebih dari 6 minggu
j. Efek Samping
Infertilitas, alergi kulit pada pemakaian topikal, dan efek
sedatif/menekan sistem saraf.
k. Interaksi
Berinteraksi dengan obat-obat penurun gula darah dan
penurun kolesterol serta antidepresan.
l. Posologi
3 x 1 kapsul (30 mg ekstrak)/hari.
M. HERBAL UNTUK GASTRITIS
1. Jahe
Zingiberis officinale (Rosc)
Suku : Zingiberaceae
Gambar 45. Jahe
a. Nama Daerah
Halia, bahing, sipode, lahia, alia, jae, sipodeh, jahi, lai,
jae, alia, lea , melito, leya, marman.
b. Bagian yang dipakai
Rimpang
- 140 -
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan
pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas
pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph berkelamin 2.
Kelopak berbentuk tabung, dengan ujung bertaju, kerap kali
terbelah serupa pelepah. Rimpang agak pipih, bagian ujung
bercabang, cabang pendek pipih, bentuk bulat telur terbalik,
pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk ke dalam.
Potongan bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur
memanjang, kadang ada serat bebas.
d. Kandungan kimia
Minyak astiri (bisabolene, cineol, phellandrene, citral,
borneol, citronellol, geranial, linalool, limonene, zingiberol,
zingiberene, camphene), oleoresin (gingerol, shogaol), fenol
(gingerol, zingeron), enzim proteolitik (zingibain), vit B6, vit C,
Kalsium, magnesium, fosfor, kalium, asam linoleat, gingerol
(gol alkohol pada oleoresin), mengandung minyak astiri 1-3%
diantaranya bisabolen, zingiberen dan zingiberol.
e. Data keamanan
LD50 6-ginggerol dan 6-shogaol yaitu 250-680 mg/kg
BB. LD50 ekstrak air pada mencit yaitu 33,5 g/kg BB.
Pemberian pada wanita hamil tidak menunjukkan efek
teratogenik.
f. Data manfaat:
Uji praklinik:
Ekstrak jahe invitro menghambat pertumbuhan
Helicobacter pylori. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa
ekstrak jahe terstandar menghambat pertumbuhan H. pylori
invitro dengan kadar hambat minimal 0,78-12,5 μg/mL. Pada
studi ini ekstrak jahe diuji pada model rodent yang diinduksi
infeksi H. pylori untuk menguji efek preventif dan eradikasi
infeksi. Ekstrak diberikan dengan dosis 100 mg/kg BB/hari
selama 3 minggu sebelum infeksi atau 6 minggu pasca
infeksi. Terapi dengan ekstrak jahe terstandar mereduksi
jumlah H. pylori dibanding kontrol dan secara bermakna
(P<0,05) mengurangi inflamasi mukosa dan submukosa baik
yang akut maupun kronik, cryptitis, juga degenerasi epitel
dan erosi yang diinduksi oleh H. pylori.
- 141 -
Ekstrak tidak meningkatkan morbiditas atau mortalitas.
Mekanisme menunjukkan bahwa ekstrak jahe menghambat
aktivitas cyclooxygenase-2, IC50: 8,5 μg/mL in vitro,
menghambat respon transkripsional nuclear factor-κB pada
kBZ Jurkat cells (human T lymphocytes) dengan IC50 : 24,6
μg/mL, dan menghambat secara bermakna pelepasan
interleukin (IL)-1β, IL-6, IL-8, dan TNF-α dari
lipopolysaccharide-stimulated human peripheral blood
mononuclear cells dengan IC50 : 3,89; 7,7; 8,5 dan 8,37
μg/mL. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak jahe berguna
untuk mengurangi inflamasi sebab H. pylori dan sebagai
kemopreventif untuk Ca gaster.
Jahe secara tradisional dipakai untuk terapi
gangguan GI seperti mabuk perjalanan, dispepsia dan
hiperemesis gravidarum, dan dilaporkan memiliki efek
kemopreventif pada model binatang. sebab H. pylori
merupakan penyebab primer yang berhubungan dengan
dispepsia, ulkus peptikum, dan perkembangan Ca gaster dan
kolon, dilakukan uji efek jahe secara in vitro terhadap H.
pylori. Fraksi ekstrak metanol jahe mengandung 6-,8-,10-
gingerol dan 6-shogaol, yang diuji terhadap 19 strains H.
pylori, termasuk strain 5 CagA+.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol
menghambat pertumbuhan 19 strain in vitro dengan MIC
6,25-50 µg/mL. Gingerol menghambat pertumbuhan 19
strain dengan MIC 0,78 -12,5 µg/mL dengan aktivitas
bermakna terhadap strain CagA+. Disimpulkan bahwa
ekstrak jahe yang mengandung gingerol menghambat
pertumbuhan H. pylori strain CagA+ in vitro dan dapat
berefek kemopreventif.
g. Indikasi:
Gastritis/ulkus peptik sebab infeksi H pylori (Grade C).
h. Posologi:
3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)
- 142 -
2. Kapulaga
Elletteria cardamomum
Suku: Zingiberaceae
Gambar : 46. Kapulaga
a. Nama daerah:
Kapulaga sebrang, kapol, palago, karkolaka
b. Bagian yang dipakai
Biji
c. Deskripsi tanaman/simplisia:
Tumbuhan membentuk rumpun seperti tumbuhan jahe,
dapat mencapai 2-3 meter, berbatang basah, berpelepah
daun yang membalut batang, letak berseling-seling. Bunga
tandan keluar dari rimpang. Buah berbentuk bulat telur,
berbulu, dan berwarna kuning kelabu. Buah berkumpul
dalam tandan kecil dan pendek. Bila masak, buah akan
pecah dan membelah berdasarkan ruang-ruangnya. Di
dalamnya terdapat biji yang berbentuk bulat telur
memanjang.
Buah yang sudah kering menjadi keriput, bergaris-garis,
berisi 4-7 butir biji kecil coklat kemerah-merahan. Rasanya
agak pedas seperti jahe, dengan bau sedap.
d. Kandungan kimia:
Komponen utama minyak cardamom yaitu α-pinene, β-
pinene, sabinene, myrcene, α-phellandrene, limonene, 1,8-
cineole, g-terpinene, p-cymene, terpinolene, linalool, linalyl
acetate, terpinen-4-oil, α-terpineol, α-terpineol acetate,
citronellol, nerol, geraniol, methyl eugenol and trans-nerolidol.
e. Data keamanan :
LD50 oral pada tikus: 5.000 mg/kg BB.
- 143 -
f. Data manfaat :
Uji praklinik:
Penelitian terhadap efek inhibisi E. cardamomum dan
Amomum subulatum terhadap ulkus gaster pada tikus,
mendapatkan bahwa pemberian minyak atsiri E.
cardamomum dan Amomum subulatum masing-masing 50
mg/kg BB dapat menghambat pembentukan ulkus gaster
yang diinduksi etanol secara bermakna yaitu sebesar 60,96%
untuk Amomum subulatum (P < 0,001) dan 76,36% untuk E.
cardamomum (P < 0,001). Efek inhibisi terhadap ulkus gaster
yang diinduksi aspirin juga bermakna yaitu sebesar 45,45%
untuk Amomum subulatum (P < 0,05) dan 100% untuk E.
cardamomum (P < 0,001). Disimpulkan bahwa efek inhibisi ini
sebab penurunan motilitas gaster dan efek inhibisi 5-
lipooxygenase oleh beberapa senyawa dari E. cardamomum
dan Amomum subulatum. Sebuah studi pada tikus
memakai ekstrak metanol (TM), minyak esensial (EO),
fraksi ekstrak metanol yang larut dalam petroleum eter
soluble (PS) dan fraksi yang tidak larut (PI) dengan dosis
masing-masing 100-500; 12,5-50; 12,5-150 dan 450 mg/kg
BB, tentang kemampuan menghambat lesi gaster yang
diinduksi aspirin, etanol dan ligasi pilorus, juga efek terhadap
produksi mukus dan asam lambung. Semua fraksi (TM, EO,
PS, PI) menghambat lesi gaster secara bermakna yang
diinduksi oleh etanol dan aspirin tetapi tidak yang diinduksi
oleh ligasi pilorus. TM mengurangi lesi 70% pada ulkus yang
diinduksi etanol pada 500 mg/kg BB. Fraksi PS mereduksi
lesi 50% pada 50 dan 100mg/kg BB dengan efek yang sama
dengan fraksi PI pada 450 mg/kg BB. Pada ulkus gaster yang
diinduksi aspirin, efek gastroprotektif terbaik ditemukan pada
fraksi PS, yang menghambat lesi hampir 100% pada 12,5
mg/kg BB. Pada eksperimen ini, ekstrak PS dosis >
12,5mg/kg BB dibuktikan lebih aktif daripada ranitidin 50
mg/kg BB.
Ekstrak metanol, fraksi minyak esensial, petroleum eter,
dan etil asetat menghambat secara bermakna lesi gaster yang
diinduksi etanol, tetapi tidak pada yang diinduksi aspirin dan
ligasi pilorus. Fraksi etil asetat meningkatkan produksi
- 144 -
mukus pada ligasi pilorus. Hasil menunjukkan efek proteksi
langsung fraksi etil asetat pada mukosa gaster. Penurunan
motilitas gaster oleh minyak esensial dan fraksi petroleum
eter menunjukkan efek gastroprotektif. Penelitian ini
mendukung pemakaian Cardamomum pada gangguan
gastrointestinal.
b. Indikasi
Gastritis
c. Kontraindikasi
Kehamilan, laktasi dan anak < 18 tahun
d. Peringatan:
pemakaian maksimum: 10 hari kemudian istirahat 5
hari sebelum memakai obat ini lagi.
e. Efek samping:
Sangat sedikit. Alergi (dermatitis kontak), meningkatkan
risiko perdarahan, hipotensi, dapat memicu kolik pada pasien
dengan gangguan empedu.
f. Interaksi:
Dengan obat depresan SSP, dapat menimbulkan kantuk
atau sedasi. Meningkatkan efek obat lain yang dimetabolisme
oleh sitokrom P450. Dapat berefek aditif dengan obat
antikolinergik dan menimbulkan mulut kering, urinasi
berkurang, atau penglihatan kabur. Meningkatkan risiko
perdarahan dengan obat seperti aspirin, antikoagulan seperti
warfarin, heparin, antiplatelet seperti clopidogrel, dan NSAID
seperti ibuprofen atau naproxen, juga herbal seperti Ginkgo
biloba, A. sativum, dan Saw palmetto.
g. Posologi:
3 x 1 kapsul (500 mg serbuk)/hari.
3. Kunyit
Curcuma domestica (Vahl)/Curcuma longa (L)
Gambar 47. Kunyit
- 145 -
a. Nama daerah
Rimpang kunyit, koneng, kunir, konyet, kunir bentis,
temu koneng, temu kuning, guraci
b. Bagian yang dipakai
Rimpang
c. Data manfaat:
1) Uji praklinik:
Efek C. domestica terhadap ulkus peptikum
dilakukan dengan menghambat reseptor H2 (H2R) tikus
(pylorus-ligated). Didapat hasil C. domestica melindungi
mukosa gaster sama efektif seperti ranitidine.
Penelitian lain mendapatkan bahwa ekstrak etanol
per oral menghambat asam lambung, sekresi gaster dan
pembentukan ulkus yang setara dengan efek ranitidine.
C. domestica juga menekan produksi cAMP yang
diinduksi histamin, dengan inhibisi langsung H2R.
Peneliti lain meneliti aktivitas antiulkus dari ekstrak
etanol. Pemberian ekstrak etanol menurunkan indeks
ulkus dan keasaman lambung. Pemberian ekstrak C.
domestica mengurangi intensitas ulkus yang diinduksi
indomethacin atau reserpin. Pemberian ekstrak C.
domestica mengurangi keparahan lesi yang diinduksi
oleh berbagai necrotizing agents. Pemberian ekstrak C.
domestica menurunkan gastric mucosal non-protein
sulfhydryl yang diinduksi oleh etanol 80%.
2) Uji klinik:
Uji klinik fase II pada 25 pasien yang didiagnosis
ulkus peptikum dengan endoskopi, diberi serbuk C.
domestica 5 x 600 mg/hari. Ulkus menyembuh pada
48% pasien setelah 4 minggu dan 72% setelah 12
minggu. Tidak ada efek samping yang terjadi. Studi
membandingkan efek C. domestica dengan antasid
mendapatkan pengurangan besar ulkus 51.9% pada
kelompok C. domestica dibanding 34,8% pada kelompok
antasid.
Dua uji klinik lain menunjukkan bahwa pemberian
serbuk C. domestica 4 x 500 mg/hari selama 7 hari,
menunjukkan respon bermakna, menyembuhkan ulkus
- 146 -
dan menurunkan nyeri abdomen, gas, atau dispepsia
atonik.
Studi tanpa kontrol pada 25 pasien ulkus peptikum
yang diberi C. domestica 5 x 600 mg/hari selama 12
minggu, memberi hasil ulkus menghilang pada 19
pasien. Studi RCT multisenter dilakukan pada 106
pasien dengan dispepsia (nyeri abdomen, nyeri
epigastrik, flatulens atau bersendawa), diterapi dengan 2
g C. domestica selama 7 hari (n=38). Sebagai kontrol
diberikan kombinasi herbal cascara, nux vomica dan
jahe (n=30) atau plasebo (n=38). Pada akhir studi 87%
kelompok C. domestica, 83% kelompok campuran
ekstrak herbal dan 53% kelompok plasebo
memperlihatkan perbaikan menonjol. Kelompok C.
domestica secara klinis berbeda bermakna dibanding
plasebo (p=0.003).
d. Indikasi:
Gastritis, ulkus peptikum (Grade C)
e. Posologi:
3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari
4. Pegagan
Centella asiatica (L) Urban
Suku : Umbellifer
Gambar 48. Pegagan
1) Nama daerah
Pegagan, antanan gede, gagan-gagan, gangganan, kerok
batok, pantegowang, panigowang, rending, calingan rambut ,
pegaga, daun kaki kuda, pegago, bebele, sarowati, wisu-wisu,
sandanan, dogauke
- 147 -
2) Bagian yang dipakai
Herba
3) Deskripsi tanaman/simplisia
Herba tahunan tanpa batang dengan rimpang pendek
dan stolon-stolon yang melata, panjang 10-80 cm. Daun
tunggal, tersusun dalam roset yang terdiri dari 2-10 daun,
kadang agak berambut. Tangkai daun panjang sampai 50
mm, helai daun berbentuk ginjal, lebar dan bundar dengan
garis tengah 1-7 cm, pinggir daun beringgit sampai bergerigi
terutama kearah pangkal daun.Bunga umumnya 3, yang di
tengah duduk, yang di samping bergagang pendek. Buah
pipih, kurang lebih 7 mm dan tinggi kurang lebih 3 mm,
berlekuk dua, jelas berusuk, berwarna kuning kecoklatan,
berdinding agak tebal.
4) Kandungan kimia
Triterpen: termasuk asam asiatik dan asam mandekasik
(6-hidroksi asam asiatik), asam terminolik, serta derivat ester
triterpen glikosida: termasuk asiatikosida, asiatikosida A,
asiatikosida B dan madekassosida.
5) Data keamanan
Tidak toksik sampai dosis 350 mg/kg BB. Terdapat
kemungkinan terjadi efek Karsinogenik pada kulit tikus pada
pemakaian berulang. Dilaporkan adanya kasus ikterus pada
3 orang yang mengkonsumsi herba pegagan selama 20-60
hari, efek ierus hilang saat pemakaian dihentikan dan
diberikan asam ursodeoksikolat 10 mg/kg BB/hari.
Pemberian ekstrak pegagan hingga dosis 2000 mg/kg BB
pada mencit per oral, menunjukkan tidak ada hewan uji yang
mati, terjadi 20% kematian pada dosis 10g/kg BB. Pada uji
toksisitas asiatikosida oral, tidak memperlihatkan efek toksik
hingga dosis 1 g/kg BB, sedang dosis toksis pemberian
intramuscular pada mencit dan kelinci yaitu 40 dan 50 g/kg
BB. Uji teratogenik ekstrak pegagan pada kelinci
menunjukkan tidak ada efek teratogenik.
6) Data manfaat
i. Uji praklinik:
Ekstrak herba efektif mengurangi ulkus lambung
dan duodenum yang timbul sebab stres. Mekanisme
- 148 -
kerja dihubungkan dengan aktivitas depresan SSP
sehingga meningkatkan kadar GABA di SSP.
ii. Uji klinik :
Limabelas (15) pasien dengan ulkus peptikum dan
duodenum diobati dengan ekstrak herba 60 mg/hari.
Didapat 93% pasien memperlihatkan perbaikan jelas dari
gejala subjektif dan pada 73% pasien, pemeriksaan
endoskopi dan radiologi menunjukkan ulkus sembuh.
Jus ekstrak Centella 2 x 200 mg dan 600 mg/kg
BB/hari memperlihatkan efek proteksi terhadap ulkus
peptikum yang diinduksi oleh aspirin dan etanol dengan
efek serupa dengan obat sukralfat. C. asiatica
menginduksi sekresi mucin gaster dan produksi
glikoprotein sel mukosa, marker untuk peningkatan
faktor daya pertahanan mukosa gaster.
Ekstrak C. asiatica memperlihatkan efek proteksi
mucosa gaster secara bermakna terhadap ulkus yang
ditimbulkan etanol, yang tergantung dosis ditandai
dengan pengurangan besar ulkus dan pengurangan
udem dan infiltrasi lekosit di submukosa. Proteksi paling
jelas pada dosis ekstrak 400 mg/kg BB.
Efek penyembuhan ekstrak air C. asiatica dan
asiaticoside, dilakukan pada tikus yang diinduksi ulkus
peptikum. Hasil menunjukkan bahwa C. asiatica
mengurangi ukuran ulkus pada hari ke-3 dan ke-7
secara tergantung dosis, dengan pengurangan aktivitas
myeloperoxidase pada jaringan ulkus. Terlihat
peningkatan proliferasi sel epitel dan angiogenesis.
Ekspresi basic fibroblast growth factor, faktor
angiogenik juga meningkat pada jaringan ulkus.
Disimpulkan C. asiatica dan kandungan aktifnya
potensial merupakan obat anti ulkus peptikum.
Studi efek protektif C. asiatica dilakukan pada tikus
ulkus peptikum yang diinduksi etanol. Gastric
transmucosal potential difference (PD) berkurang dengan
aplikasi etanol 50% pada gastric ex-vivo chamber model
dan C. asiatica mempercepat pemulihannya. Pemberian
oral C. asiatica (0.05 g/kg BB, 0.25 g/kg BB dan 0.50
- 149 -
g/kg BB) sebelum pemberian etanol, menghambat
pembentukan ulkus secara bermakna (58% - 82%) dan
penurunan aktivitas myeloperoxidase mukosa (MPO)
secara tergantung dosis. Hasil menunjukkan bahwa C.
asiatica mencegah pembentukan ulkus peptikum yang
diinduksi etanol dengan memperkuat pertahanan
mukosa dan mengurangi efek kerusakan sebab radikal
bebas.
Studi efek ekstrak air C. asiatica dan kandungan
aktifnya, asiaticoside, terhadap ekspresi dan aktivitas
inducible nitric oxide synthase (iNOS) selama
penyembuhan ulkus peptikum dilakukan dengan
berbagai konsentrasi C. asiatica (0,10 g/kg BB dan 0,25
g/kg BB) dan asiaticoside (5 mg/kg BB dan 10 mg/kg
BB) yang diberikan per oral pada tikus yang diinduksi
ulkus peptikum dengan asam asetat. Dilihat
pengurangan ukuran ulkus pada hari ke-1, 3 dan 7
secara tergantung dosis, diikuti penurunan aktivitas
iNOS dan ekspresi protein pada jaringan ulkus. Kadar
nitrit dan nitrat (NO(X)-), produk akhir yang stabil dari
nitric oxide, pada jaringan ulkus juga menurun. N-[3-
(aminomethyl)benzyl]acetamidine (1400W), inhibitor
iNOS yang sangat selektif, menginhibisi aktivitas iNOS
yang lebih poten pada dosis 0,1 mg/kg BB. Hasil
mengindikasikan bahwa C. asiatica dan asiaticoside
memiliki efek antiinflamasi melalui inhibisi sintesis
nitric oxide sehingga menyembuhkan ulkus. Studi efek
ekstrak etanol C. asiatica pada ulkus mukosa gaster
tikus (yang diinduksi etanol absolut) dilakukan dengan
pemberian larutan karboksi metil selulosa (CMC) sebagai
kontrol, Omeprazole 20 mg/kg BB, dan ekstrak daun C.
asiatica 100, 200 and 400 mg/kg BB dalam larutan CMC
(1 jam sebelum induksi). Hasil menunjukkan pada
kontrol timbul ulkus mukosa yang parah dengan udem
dan infiltrasi lekosit pada submukosa, sedang yang
mendapat ekstrak C. asiatica memperlihatkan proteksi
mukosa gaster dan kurang atau hilangnya udem serta
infiltrasi lekosit.
- 150 -
7) Indikasi
Ulkus peptikum dan duodenum
8) Kontraindikasi
Kehamilan, menyusui, anak-anak, alergi, gangguan
hepar dan epilepsi.
9) Peringatan
Efek abortif dan dapat mengganggu siklus menstruasi
jika dipakai lebih dari 6 minggu.
10) Efek Samping
Infertilitas, dan efek sedatif/menekan sistem saraf.
11) Interaksi
Berinteraksi dengan obat-obat penurun gula darah dan
penurun kolesterolserta antidepresan.
12) Posologi
3 x 1 kapsul (60 mg ekstrak)/hari.
5. Temulawak
Curcuma xanthorrhiza Roxb.
Suku : Zingiberaceae
Gambar 49. Temu lawak
a. Nama daerah
Temulawak, koneng gede, temu labak.
b. Bagian yang dipakai
Rimpang
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Perawakan terna berbatang semu, tinggi dapat mencapai
2 m, berwarna hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang
sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap,
bagian dalam berwarna jingga, rasanya agak pahit. Setiap
individu tanaman memiliki 2-9 daun, berbentuk lonjong
- 151 -
sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan terang
sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang
tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan
berupa bunga majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas
rimpang (lateralis), bertangkai ramping, 10-37 cm berambut,
daun-daun pelindung menyerupai sisik berbentuk garus,
berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm. Bentuk bulir
lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun pelindung
banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan
mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik)
sampai bulat memanjang, berwarna merah, ungu atau putih
dengan sebagian dari ujungnya berwarna ungu, bagian
bawah berwarna hijau muda atau keputihan, panjang 3-8 cm,
lebar 1,5-3,5 cm.
d. Kandungan kimia
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%)
terdiri dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri
(3-12%) dengan komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-
kurkumen, germakren, furanodien, furanodienon, ar-
turmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati (30-40%)
e. Data keamanan
Dari lima penelitian pada manusia dengan dosis 1125-
2500 mg kurkumin per hari tidak menunjukkan adanya
toksisitas. Uji klinik fase I dengan 28 orang sehat
memakai dosis sampai 8000 mg/hari selama 3 bulan
tidak menunjukkan efek toksik akibat kurkumin.
f. Data Manfaat
Uji praklinik:
Serbuk rimpang meningkatkan aktivitas musin dalam
cairan lambung. Disamping itu rebusan rimpang dapat
menurunkan kontraksi usus halus.
g. Indikasi
Dispepsia, gastritis
h. Kontraindikasi
Obstruksi saluran empedu, ikterus
i. Peringatan
Gastritis pada dosis besar. Hati-hati pada nefrolithiasis.
Efek yang tidak diinginkan:
- 152 -
Dosis besar atau pemakaian yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan iritasi membrane mukosa lambung. Tidak
dapat dipakai pada penderita radang saluran empedu akut
atau ikterus. Hati-hati memakai temulawak bersama
dengan obat pengencer darah.
j. Efek Samping
Belum pernah dilaporkan
k. Interaksi
Belum diketahui
l. Posologi
3 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari.
6. Temu manga
Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe
Sinonim: Curcuma alba, Curcuma mangga (Val.), C. zedoaria (Berg)
Roscoe
Suku: Zingiberaceae
Gambar 50. Temu Mangga
a. Nama daerah
Temu mangga atau temu putih, Koneng lalab (Sunda),
Temo pao (Madura).
b. Bagian yang dipakai
Rimpang
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Herba setahun, dapat lebih dari 2 m. Batang
sesungguhnya berupa rimpang yang bercabang di bawah
tanah, berwama coklat muda coklat tua, di dalamnya putih
atau putih kebiruan, memiliki umbi bulat dan aromatik.
Daun tunggal, pelepah daun membentuk batang semu,
berwarna hijau coklat tua, helaian 2-9 buah, bentuk
memanjang lanset 2,5 kali lebar yang terlebar, ujung runcing-
- 153 -
meruncing, berambut tidak nyata, hijau atau hijau dengan
bercak coklat ungu di tulang daun pangkal, 43-80 cm atau
lebih. Bunga majemuk susunan bulir, diketiak rimpang
primer, tangkai berambut. Daun pelindung berjumlah
banyak, spatha dan brachtea; rata-rata 3-8 x l,5-3,5cm.
Kelopak 3 daun, putih atau kekuningan, bagian tengah
merah atau coklat kemerahan, 3 -4 cm. Mahkota: 3 daun,
putih kemerahan, tinggi rata-rata 4,5 cm. Bibir bibiran
membulat atau bulat telur terbalik, ujung 2 lobe, kuning atau
putih, tengah kuning atau kuning jeruk, 14-18 x 14-20 mm.
Benang sari 1 buah, tidak sempuma, bulat telur terbalik,
kuning terang, 12-16 x 10-115 mm, tangkai 3 5 x 2-4 mm,
kepala sari putih, 6 mm. Buah: berambut, rata-rata 2 cm.
d. Kandungan kimia
Kurkumin, minyak atsiri, saponin dan polifenol Minyak
atsiri, saponin, polifenol, labdan diterpen glukosida,
kurkumanggosida, labda-8(17),12-diena-15,16-dial,
kalkaratarin A, zerumin B, skopoletin, demetoksikurkumin,
bisdemetoksikurkumin, 1,7-bis(4-hidroksifenil)-1,4,6-
heptatrien-3-on, kurkumin, dan asam p-hidroksisinamat.
e. Data keamanan
LD50: per oral pada tikus: > 5000 mg/kg BB
f. Data manfaat
Uji Praklinik:
Studi memakai serbuk rimpang C. zedoaria 200
mg/kg BB pada tikus mendapatkan hasil pengurangan pH
gaster, jumlah asam bebas, asam total dan indeks ulkus
secara bermakna. Hasil ini setara dengan obat standar
omeperazol 30 mg/kg BB i.p. Disimpulkan bahwa rimpang C.
zedoaria efektif untuk proteksi terhadap hiperasiditas dan
ulkus gaster.
g. Indikasi
Gastritis/ulkus peptikum
h. Kontraindikasi
Kehamilan, menyusui
i. Peringatan
Belum diketahui
- 154 -
j. Efek Samping
Belum diketahui
k. Interaksi
Belum diketahui
l. Posologi
3 x 2 kapsul (250 mg ekstrak)/hari, ac.
N. HERBAL UNTUK ARTRITIS
1. Cabe
Capsicum annuum Vahl
Suku : Solanaceae
Gambar 51. Cabe
a. Bagian yang dipakai
Buah
b. Nama Daerah
Cabe , lombok merah, lombok sabrang, mengkreng, rica,
malita, risa, tabia
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Buah mengangguk atau menggantung, panjang dan
sempit, meruncing pada bagian ujungnya, permukaan licin.
Buah muda hijau dan bila tua menjadi merah, berbentuk
bulat telur sampai bulat, panjang 10-15 cm, lebar 1-2 cm.
d. Kandungan kimia
Capsaicinoid (amida vanillil amine dengan asam lemak
pada C8-C13): komponen utama capsaicin (32-38%), dihidro-
capsaicin (18-52%). Karoten (0,3-0,8%): sebagian dalam
bentuk kapsanthin, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin.
Lutein.
- 155 -
e. Data keamanan
Dosis toksik menimbulkan hipotermia sebab
mempengaruhi termoreseptor. Pemberian dosis tinggi pada
waktu lama dapat menimbulkan kerusakan lambung kronik,
kerusakan hati, dan efek neurotoksik.
f. Data manfaat
Uji praklinik:
Zat aktif yang paling penting yaitu capsaicin, yang
menghasilkan efek hyperemic cutaneus nociceptor atau saraf
sensorik perifer cabang saraf sensorik primer yang diaktivasi
oleh stimulus noxious. Saraf perifer menghasilkan respon
lokal seperti edema, kemerahan, dan vasodilatasi, sementara
serabut aferen menyampaikan informasi noxiceptive ke SSP
dan menghasilkan sensasi nyeri dan terbakar. Desensitasi
jangka panjang terjadi setelah pemakaian capsaicin berulang
dan menghasilkan hilangnya sensasi nyeri. Capsaicin terikat
pada reseptor vanilloid tipe-C (VR1) dan membuka saluran
kation sehingga terjadi influks kalsium berlebih yang
kemudian terjadi pelepasan neuropeptida (substansi P) yang
bertanggung jawab terhadap nyeri kemogenik, regulasi suhu
dan neurogenik. Penghambatan saluran kalsium akan
mengakibatkan penurunan substansi P dalam saraf sensoris
dan hilangnya rasa nyeri.
g. Indikasi
Membantu menghilangkan ketegangan otot, rematik
h. Kontraindikasi
Belum diketahui
i. Peringatan
pemakaian topikal pada bayi atau anak-anak harus
berhati-hati sebab dapat mengenai mukosa. Reaksi alergi
jarang terjadi dan sensitisasi spontan dapat terjadi.
j. Efek Samping
Uji topikal dengan campuran mengandung 1-5% ekstrak
buah Capsicum selama 48 jam, menginduksi eritema samar
pada 1 dari 10 sukarelawan. Uji topikal berulang dengan
ekstrak buah Capsicum 0,025% pada 103 subjek tidak
menimbulkan iritasi atau dermatitis kontak alergik. US FDA
menyatakan bahwa capsaisin aman dan efektif sebagai
- 156 -
analgesik eksternal. Aplikasi topikal krim capsaicin dapat
menimbulkan rasa terbakar pada kebanyakan orang beberapa
hari pertama, yang akan menghilang pada aplikasi berulang.
Eritema sering menyertai rasa terbakar. Kontaminasi tidak
sengaja, terutama pada mata,mulut atau regio perineal
regions, dapat terjadi sebab tidak mencuci tangan setelah
memakai krim, yang dapat dihilangkan dengan mencuci
dengan air bersih atau minyak dingin. Capsaicin dan
capsaicinoid yaitu iritan kuat untuk selaput mukosa dan
dapat menimbulkan dermatitis.
k. Interaksi
Belum diketahui
l. Posologi
Linimen : 10-20% capsaicin selama 2 hari, dapat diulang
kembali setelah 2 minggu.
Ointment : 1/8 bagian capsaicin.
Oleoresin : kekuatan maksimum 2,5%.
Krim : 4 x 0,025-0,075% capsaicin/hari, paling sedikit
selama 2 minggu.
2. Jahe
Zingiber officinale Rosc
Suku : Zingiberaceae
Gambar 52. Jahe
a. Nama daerah
Halia, bahing, sipode, lahia, alia, jae, sipodeh, Jahi, Lai,
jae, alia, lea , melito, leya, marman.
b. Bagian yang dipakai
Rimpang
- 157 -
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan
pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas
pelepah dan helaian daun. Bunga zygomorph berkelamin 2.
Kelopak berbentuk tabung, dengan ujung bertaju, kerap kali
terbelah serupa pelepah. Rimpang agak pipih, bagian ujung
bercabang, cabang pendek pipih, bentuk bulat telur terbalik,
pada setiap ujung cabang terdapat parut melekuk ke dalam.
Potongan bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur
memanjang, kadang ada serat bebas.
d. Kandungan kimia
Minyak astiri (bisabolene, cineol, phellandrene, citral,
borneol, citronellol, geranial, linalool, limonene, zingiberol,
zingiberene, camphene), oleoresin (gingerol, shogaol), fenol
(gingerol, zingeron), enzim proteolitik (zingibain), vit B6, vit C,
Kalsium, magnesium, fosfor, kalium, asam linoleat, gingerol
(gol alkohol pada oleoresin), mengandung minyak astiri 1-3%
diantaranya bisabolen, zingiberen dan zingiberol.
e. Data keamanan
LD50 6-ginggerol dan 6-shogaol yaitu 250-680 mg/BB.
Pemberian pada wanita hamil tidak menunjukkan efek
teratogenik.
f. Data manfaat
Uji klinik:
Sebuah studi pada 113 pasien nyeri rheumatik dan nyeri
punggung bawah, diinjeksi dengan 5-10% ekstrak jahe pada
titik nyeri, menghilangkan nyeri baik seluruhnya atau parsial,
mengurangi pembengkakan sendi dan perbaikan fungsi sendi.
Pemberian serbuk jahe per oral pada pasien rheumatism dan
gangguan muskuloskeletal dilaporkan dapat mengurangi
maupun menghilangkan berbagai tingkat rasa nyeri dan
pembengkakan. Mekanisme kerja: menghambat biosintesis
prostaglandin melalui inhibisi COX-1 dan COX-2. In vitro juga
menghambat proliferasi sel T, produksi IL-1α, aktivitas dan
sintesis makrofag.
Lima puluh enam (56) pasien (28 rematoid artritis, 18
osteoartritis dan 10 gangguan muskular) diberi serbuk jahe.
Pada pasien artritis > 3/4, berkurang nyeri dan
- 158 -
pembengkakannya. Semua pasien gangguan muskular
berkurang nyerinya. Tidak ada efek samping pada
pemakaian 3 bulan- 2,5 tahun. Diperkirakan mekanismenya
berhubungan dengan penghambatan biosintesis
prostaglandin dan leukotriene, yaitu dual inhibitor biosintesis
eicosanoid.
RCT multisenter terhadap efikasi dan keamanan ekstrak
terstandar 2 species jahe, Zingiber officinale dan Alpinia
galanga (EV.EXT 77), dilakukan pada 261 pasien
osteoarthritis (OA) genu dengan nyeri moderate-berat. Setelah
washout, pasien menerima ekstrak jahe atau plasebo 2 x/hari
dengan acetaminophen sebagai rescue. Responder yaitu
yang pengurangan nyeri pada VAS > 15 mm. Hasil dari 247
pasien yang dievaluasi, responder pada kelompok ekstrak
jahe yang mengalami pengurangan nyeri genu pada saat
berdiri, superior dibanding kontrol (63% vs 50%; P = 0.048).
Nilai rerata pengurangan nyeri genu saat berdiri (24.5 mm vs
16.4 mm; P = 0.005), pengurangan nyeri genu saat berjalan
50 feet (15.1 mm vs 8.7 mm; P = 0.016), pengurangan indeks
komposit osteoartritis (Western Ontario dan McMaster
Universities) 12.9 mm vs 9.0 mm; P = 0.087. Perubahan
status global dan pengurangan intake obat rescue > pada
ekstrak jahe. Perubahan kualitas hidup sama pada ke-2
kelompok. Pasien yang mendapat ekstrak mengalami efek
samping gastrointestinal (GI) ringan > plasebo (59 vs 21
pasien). Disimpulkan bahwa ekstrak jahe terstandar
mengurangi gejala OA genu secara moderat dan bermakna.
RCT pada 43 OA (menurut kriteria Altman 1991 dan
tingkat 1, 2, dan 3 menurut kriteria Kellgren-Lawrence), diberi
ekstrak jahe atau acetaminophen 3 X/hari. Setelah terapi 7
hari, parameter nyeri dan inflamasi tidak berbeda bermakna,
kecuali perbaikan nyeri saat naik dan turun tangga,
acetaminophen superior (P 0,003). Setelah terapi 14 hari
kelompok ekstrak jahe superior dalam memperbaiki
parameter inflamasi, kaku sendi (11-3,018), range of motion
(ROM) (P 0,002), diameter lutut (P 0,002) dan Lequesne index
(160,006). Hanya 1 pasien pada kelompok jahe yang merasa
nausea. Tidak ada perbedaan hasil laboratorium antar ke-2
- 159 -
kelompok. Disimpulkan bahwa ekstrak jahe superior untuk
memperbaiki inflamasi setelah terapi 14 hari. Tidak ada
perbedaan bermakna dalam mengurangi nyeri sendi antar
ekstrak jahe dan kelompok acetaminophen. Pada kelompok
jahe ditemukan gangguan gastrointestinal ringan.
g. Indikasi
Osteoarthritis, rematoid artritis (Grade C)
h. Kontraindikasi
Meskipun pada penelitian klinik tidak ditemukan efek
teratogenik pada bayi yang dilahirkan, namun sebaiknya
tidak dipakai pada kehamilan, laktasi dan anak < 6 tahun.
Batu empedu dan pasien berisiko perdarahan (sebab dapat
menghambat aktivitas tromboksan).
i. Peringatan
Dilaporkan 6 g serbuk jahe kering menunjukkan
peningkatan eksfoliasi sel epithel permukaan lambung yang
dapat berakibat ulkus, sebab itu direkomendasikan
pemakaian pada perut kosong tidak lebih dari 6 g.
j. Efek Samping
Sedikit nyeri abdomen. Rasa tidak enak di ulu hati atau
heart burn dapat terjadi. Dermatitis kontak.
k. Interaksi
Pemberian bersama obat antikoagulan, antiplatelet,
heparin, trombolitik, secara teori dapat meningkatkan risiko
perdarahan. Hasil uji klinik menunjukkan dosis 10 g
menunjukkan efek bermakna. Pasien dengan obat
antikoagulan dan gangguan perdarahan agar menghindar
pemakaian dalam dosis besar.
l. Posologi
2 x 1 kapsul (250mg ekstrak)/hari
- 160 -
3. Kayu Putih
Melaleuca leucadendra L.
Suku : Myrtaceae
Gambar 53. Kayu Putih
a. Nama daerah
Kapape, kapuka, aren, nggela sole, inggolom, gelam,
kayu gelang, kayu putih, baru galang, waru gelang, ngglelak,
iren, sakelan, irano, ai kelane, irono, ilano, elan.
b. Bagian yang dipakai
Daun dan kulit batang
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Pohon tinggi 10-25 m. batang berkayu, kulit batang
mudah mengelupas, batang bercabang banyak, penampang
bulat, warna batang putih abu-abu. Daun tunggal, berbentuk
jorong atau lanset,, ujung runcing dan pangkal runcing atau
bulat, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10-22 cm,
lebar 3-9 cm, panjang tangkai 3-4 cm, warna hijau keputih-
putihan.
Daun dan kulit bila memar berbau kayu putih. Bunga
majemuk, berbentuk mayang berambut atau tidak berambut,
tumbuh di ketiak daun atau di ujung. Buah bentuk lonceng,
2,5-7 mm, lebar 3-4 mm. Biji kecil-kecil bulat berwarna
coklat.
d. Kandungan kimia
Minyak atsiri, sineol 50%-65%, α-pinen, limonen dan
dipenten. 1,8-sineol (54-95%), α-pinen (2,6%), p-simen (2,7%),
aromadendren, kulminaldehid, globulol dan pinokarveol.
- 161 -
e. Data keamanan
Tidak teratogenik bila diberi subkutan 135 mg/kg BB pd
mencit hamil pg hari 6-15 kehamilan. Eucaliptol subkutan
500 mg/kg BB dilaporkan penetrasi melalui plasenta dan
mencapai kadar dlm darah yg cukup untuk stimulasi
aktivitas enzim metabolisme.
f. Data manfaat
3) Uji praklinik:
Minyak esensial menghambat biosintesis
prostaglandin in vitro pada konsentrasi 37 µmol/L.
4) Uji klinik:
Uji klinik RCT disain bersilang dengan kontrol
plasebo pada 32 pasien untuk melihat efektivitas
kombinasi minyak eucaliptus dan Aetheroleum Menthae
Piperitae (minyak pepermint) untuk nyeri kepala. Lima
formulasi berbeda (semua dlm etanol 90%) dipakai
yaitu 10 g minyak pepermint & 5 g minyak eucaliptus; 10
g minyak pepermint & sangat sedikit minyak eucaliptus;
sangat sedikit minyak pepermint & 5 g minyak
eucaliptus; sangat sedikit minyak pepermint & sangat
sedikit minyak eucaliptus; atau plasebo. Semua
diberikan topikal pada pelipis dan dahi, dan parameter
neurofisiologi, psikologi, dan algesimetrik eksperimental
diukur. Semua formulasi memperbaiki kognitif, dan
menimbulkan relaksasi otot dan mental dibanding
plasebo tetapi tidak terhadap nyeri kepala. Mekanisme
kerja: komponen utama sineol diamati menghambat
produksi sitokin dan metabolisme asam arakidonat
g. Indikasi
Analgesia, antiinflamasi topikal (Grade C untuk sakit
kepala)
h. Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan per oral pada anak, inflamasi
saluran cerna, gangguan kandung empedu, gangguan hati,
kehamilan, dan menyusui (dengan supervisi medik).
i. Peringatan
Tidak boleh diaplikasikan ke muka, terutama hidung
bayi dan anak kecil. Jauhkan dari jangkauan anak. Tidak
- 162 -
boleh dipakai sebagai nasal spray, sebab menghambat
gerak silia dan dapat menimbulkan lipid pneumonia.
j. Efek Samping
Umumnya pemberian topikal tidak merangsang, tidak
menimbulkan alergi, dan tidak fototoksik. Antara 1981-1992
efek keracunan diobservasi pada 59% dari 109 anak setelah
tidak sengaja terminum minyak esensial 2-10 mL. Gejalanya
yaitu depresi tapi sadar (28%), mengantuk (25%), tidak
sadar (3%) dan gejala ini tergantung dosis. Gejala lain rasa
terbakar di epigastrium, nausea, vomitus, pusing, kelemahan
otot, miosis, merasa sulit bernafas, sianosis, delirium, dan
konvulsi. Alergi pernah dilaporkan pada pemakaian lozenges
mengandung minyak esensial.
Antara 1889-1992, dilaporkan 17 kematian sebab
keracunan sebab meminum minyak esensial. Dosis 3,5 mL
fatal, namun data ini sudah tua dan kemurnian minyak juga
tidak diketahui.
k. Interaksi
Studi pada hewan menunjukan kemungkinan induksi
enzim metabolisme hati dan menurunkan efek obat yang
diberikan bersamaan.
l. Posologi
Ekstrak cair dalam formulasi berbasis alkohol 5-10%.
4. Sereh
Cymbopogon nardus (L) Rendle
Suku : Gramineae
Gambar 54.Sereh
- 163 -
a. Nama daerah
Sere mangat, seere, sang-sange, sarai, sorai, sere, serai,
belangkak, salai, segumau, see, pataha mpori, kendaung
witu, nau sina, bumuke, tenian malai, rimanil, tonti, timbu
ale, longio, towobane, sare, tapisa-pisa, hisa-hisa, isalo, bias,
bewuwu, gara mahusu.
b. Bagian yang dipakai
Daun
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Merupakan keluarga rumput yang rimbun dan
berumpun besar, aroma kuat dan wangi, juga merupakan
tanaman tahunan yang hidup liar. Tinggi sampai 1,2 m. Akar
merupakan akar serabut yang berimpang pendek. Batang
tanaman tumbuh tegak lurus, bergerombol, berumbi
berwarna putih kekuningan atau putih keunguan dan
kemerahan, lunak, bersifat kaku dan mudah patah serta
berongga.
Isi batang berupa pelepah umbi untuk pucuk. Daun
berwarna hijau, tepi tajam dan kasar, panjang 50-100 cm,
lebar 2 cm, daging daun tipis, serta pada permukaan dan
dalamnya berbulu halus, tidak bertangkai, kesat, panjang,
runcing, hamper menyerupai daun lalang, bentuk seperti
pita yang makin keujung makin runcing dan berbau citrus
ketika diremas, tulang daun tersusun sejajar, letaknya pada
batang tersebar. Jarang sekali memiliki bunga bila ada tidak
memiliki mahkota dan mengandung bulir.
d. Kandungan kimia
Mengandung 1% minyak atsiri dengan komponen
sitronelal (32-45%), geraniol (12-25%), geranil asetat (3-8%),
sitronelil asetat (1-4%). Komponen lain yaitu mirsen (12-
25%, diterpen, metilheptanon, sitronelol, linalool, farnesol,
alkohol, aldehid, terpineol dan lebih 12 komponen lain.
e. Data keamanan
Di USA daun sereh termasuk Generally recognized as
safe (GRAS). Infusa daun sereh per oral pada tikus selama 2
bulan, dengan pemberian 2 kali sehari tidak menunjukkan
efek toksik. Meskipun demikian pernah dilaporkan 2 kasus
- 164 -
toksik alveolitis pada pemakaian minyak atsiri secara
inhalasi.
f. Data manfaat
Uji praklinik:
Pengujian ekstrak air panas dosis 15 mL/kg BB pada 20
tikus yang diinduksi edema oleh karagenan menunjukkan
inhibisi edema sebesar 18,6%. Pada pemberian dekokta 20%
memakai pembanding indometasin menunjukkan efek
inhibisi 58,6%.
Efek analgesik perifer dari myrcene diuji terhadap
hiperalgesia yang diinduksi oleh prostaglandin pada kaki
tikus dan terhadap kejatan yang diinduksi oleh injeksi
iloprost intraperitoneal pada mencit. Berbeda dengan efek
morfin sebagai analgesik sentral, myrcene tidak menimbulkan
toleransi pada pemberian berulang.Minyak atsiri berefek
analgesik terhadap nyeri kepala, kejang otot, spasme,
reumatik, myalgia dan neuralgia.
g. Indikasi
Analgetik-antiinflamasi
h. Kontraindikasi
Alergi dan kehamilan.
i. Peringatan
pemakaian secara topikal dapat memicu alergi
pada kulit
j. Efek yang tidak diinginkan :
Belum diketahui
k. Interaksi :
Belum diketahui
l. Posologi
Minyak atsiri
- 165 -
O. HERBAL UNTUK KONSTIPASI
1. Daun Sendok
Plantago major (L)/ P. psyllium (L)/ P. lanceolata (L)
Suku: Plantaginaceae
Gambar 55. Daun sendok
a. Nama daerah
Daun urat, otot-ototan, torongoat, ki urat, ekor angin,
kuping menjangan, deuli, sangkabuwah, sembung otot, suri
panda
b. Bagian yang dipakai
Daun
c. Diskripsi tanaman/simplisia
Herba semusim tinggi 6-50 cm. Batang pendek, bulat
berwarna coklat. Daun tunggal, berbentuk bulat telur sampai
lanset, ujung tumpul, pangkal meruncing, tepi rata atau
bergerigi tak beraturan, panjang 5-30 cm. lebar 3-10 cm,
permukaan licin, tangkai 1-25 cm, pertulangan melengkung,
warna hijau muda sampai hijau. Bunga majemuk, bentuk
bulir, panjang 40 cm, berwarna putih. Buah panjang 2-4 mm,
berisi 6-34 bji berwarna hijau. Biji kecil, ketika muda coklat
setelah tua hitam.
d. Kandungan kimia
Glycoside aucubin, tannins, mucus, vitamins (vitamin C,
provitamin A), ascorbic acid, uronic acid. Dalam biji: steroidal
saponins, 44% phlegm, 22% fatty oil, 0,16-0,17% planteozy
carbohydrate, 22% protein and 16% amino acids. Daun segar
- 166 -
mengandung flavonoid, karbohidrat mannitol, potassium dan
citric acid.
e. Data keamanan
LD50 per oral: > 4g kg BB pada tikus. LD50 per oral
ekstrak air-etanol (1:1) daun: 11,9 g/kg BB pada mencit.
f. Data manfaat
Uji klinik:
Studi pada 50 orang sehat yang diberi diet mengandung
serat 8,8 g dari 15 g/hari kulit biji Plantago selama 7 hari,
menunjukkan peningkatan viskositas, kelembaban, dan
berat feses secara bermakna. Berbeda dengan serat lain yang
difermentasi komplit di kolon, komponen ini tidak
difermentasi. Gel ini melubrikasi dan memfasilitasi propulsi
isi kolon serta feses yang lebih bervolume dan lembab
dibanding serat lainnya.
Studi multisenter, random, tersamar ganda, disain
paralel dilakukan pada 170 subyek konstipasi kronik
idiopatik terdiri dari fase baseline (plasebo) 2 minggu, diikuti
fase terapi dengan psyllium (2 x 5,1 g/hari) atau docusate
sodium (2 x 100 mg/hari) selama 2 minggu. Psyllium
meningkatkan kandungan air dalam feses dibanding baseline
vs. docusate (psyllium 2.33% vs. docusate 0,01%, P = 0,007).
Psyllium meningkatkan berat feses (psyllium 84,0 g/BM;
docusate 71,4 g/BM; P = 0,04), feses total (psyllium 359,9
g/minggu: docusate 271,9 g/minggu; P = 0,005), skor
konstipasi objektif (psyllium 475,1; docusate 403,9; P =
0,002). Frekuensi peristalsis (BM) lebih besar secara
bermakna pada psyllium (3,5 BM/minggu) vs. docusate (2,9
BM/minggu) (P = 0,02), dan tidak ada perbedaan bermakna
antara ke-2 jenis terapi (P > 0,05) (3,3 vs. 3,1 BM/minggu).
Disimpulkan bahwa Psyllium superior dari docusate sodium
untuk melembutkan feses dengan meningkatkan kandungan
air, dan merupakan laksan yang efektif pada subjek dengan
konstipasi kronik idiopatik.
g. Indikasi
Konstipasi (Grade B)
h. Kontraindikasi
Kehamilan, laktasi, obstruksi usus, alergi.
- 167 -
i. Peringatan
Anak < 6 tahun (harus dengan supervisi dokter)
j. Posologi
3 x 1 sachet (2 g serbuk)/hari.
2. Daun Wungu
Graptophyllum pictum (L) Griff.
Suku : Acanthaceae
Gambar 56. Daun Wungu
a. Nama daerah
Sumatra: pudin, dangora, daun putri, puding, puding
peraha; Jawa: daun ungu, daun teman-teman, handeuleum,
demung, tulak, wungu, karotan, karotong; Bali: temen;
Maluku: kabi-kabi, dongo-dong, daun alifuru.
b. Bagian yang dipakai
Daun
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Semak tegak atau perdu, tidak berambut, tinggi dapat
mencapai 3 m, cabang bersudut tumpul, berbentuk galah
dengan berbuku-buku nyata. Daun tunggal, letak daun
bersilang dan berhadapan, helauan daun bulat memanjang
atau lanset, panjang 8-20 cm, lebar 3-13 cm, pangkal
berbentuk segitiga berbalik (pasak), ujung meruncing, tepi
daun bergelombang, warna daun ungu kehijauan, ungu
berbercak hijau, ungu berbecak putih, atau hijau, panjang
tangkai daun 0,5-1 cm. Perbungaan berupa bunga majemuk,
mahkota bunga merah tua. Buah berbentuk kapsul.
d. Kandungan kimia
Alkaloid non toksik, glikosid steroid, saponin, lendir,
tanin galat, antosianin, leukoantosianin, asam protokatekuat,
- 168 -
dan flavonoid (berupa 4,5,7-trihidoksi flavonol; 4,4-dihidroksi
flavon; 3,4,7-trihidoksi flavon dan luteolin-7-glukosida).
Senyawa aktif lain berupa asam-asam fenolat, yaitu asam
protokatekuat, asam p-hidroksi benzoat, asam kafeat, asam
p-kumarat, asam vanilat, asam siringat, dan asam ferulat,
juga mengandung senyawa serupa alkaloid.
e. Data keamanan
LD50 daun handeleum = 117,3 (107,0-128,87) mg/10g
BB mg/10g BB. mencit ip atau LD50> 15 g/kg BB tikus oral ,
dikategorikan aman dipakai . Serbuk daun ungu dapat
menaikkan kadar glukosa darah tikus secara signifikan,
sebesar 25%; 33,9%; dan 56,7% dan kenaikan BB.
f. Data manfaat
Uji Praklinik :
Infusa daun dosis 498 mg/100 g BB pada tikus dapat
memperkecil rasio jarak usus yang dilalui zat penanda norit
terhadap panjang usus seluruhnya. Juga dapat
meningkatkan frekuensi, menurunkan konsistensi dan massa
feses. Jadi daun dapat dipakai sebagai obat sembelit.
g. Indikasi
Konstipasi
h. Kontraindikasi
Belum diketahui
i. Peringatan:
Belum diketahui
j. Efek Samping:
Belum diketahui
k. Interaksi:
Belum diketahui
l. Posologi:
2 x 1 sachet (5 g serbuk)/hari, rebus dengan 2 gelas air
sampai menjadi 1 gelas.
- 169 -
3. Lidah buaya
Aloe vera (L) Burm,F
Suku : Liliaceae
Gambar 57. Lidah buaya
a. Nama daerah
Ilat boyo; letah buaya; Jadam, lidah buaya
b. Bagian yang dipakai
Daun
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Tumbuhan berair, panjang daun 30-50 cm dan lebarnya
sekitar 10 cm; berwarna hijau (pada waktu muda terdapat
bercak putih pada daunnya); bunga berbentuk pipa berwarna
kuning terang, tersusun rapat dan memanjang, 25-35 cm.
Ekstrak yang dikeringkan berasal dari sel-sel persikel
yang berbatasan dengan parenkim daun, dan secara spontan
mengikuti potongan daun, disediakan dalam bentuk kering
baik dengan atau tanpa pemanasan. Gel Aloe vera berupa
musilago tidak berwarna, yang dihasilkan dari sel-sel
parenkim daun Aloe vera (L.) Burm. F.
d. Kandungan kimia
Kandungan utama dari aloe berupa senyawa turunan
hidroksiantron, sebagian besar jenis aloe-emodin-antron C-
glikosida. Kandungan utama dikenal sebagai barbaloin (aloin)
(15-40%). Juga mengandung hidroksiaolin (sekitar 3%).
Babarloin merupakan campuran dari aloin A (10S) dan B.
e. Data keamanan
LD50 gel Aloe vera per oral pada tikus: > 64,0 mL/kg
BB. Ekstrak tidak menimbulkan efek teratogenik pada tikus,
sampai dosis oral 1000 mg/kg BB, dan aloin A sampai dosis
200 mg/kg BB. NOEL Aloe polysaccharide, acemannan pada
- 170 -
tikus 50,000 ppm atau 4,1-4,6 g/kg BB/hari. Pada dosis
efektif sebagai laksan pada tikus dan mencit memperlihatkan
toksisitas akut dan subkronik yang lemah. Tidak
memperlihatkan tanda-tanda toksisitas sampai dosis 50
mg/kg BB perhari untuk ekstrak selama 12 minggu dan 60
mg/kg BB perhari selama 20 minggu yang diberikan pada
mencit. Tidak menimbulkan efek teratogenik, fetotoksik
sampai dosis 1000 mg/kg BB untuk ekstrak dan 200 mg/kg
BB untuk aloin A setelah pemberian oral pada tikus.
f. Data manfaat
1) Uji Praklinik :
Mekanisme kerja: glikosid antraquinon (aloin, aloe
emodin, dan barbaloin) merupakan merupakan laksan
yang poten, mempengaruhi motilitas usus besar
(penghambatan pompa Na+/K+ dan kanal Cl- pada
membran kolon), mengakibatkan percepatan waktu
transit pada kolon, dan mempengaruhi proses sekresi
mukus dan klorida yang mengakibatkan peningkatan
volume cairan. Komponen aloe-emodin-9-anthrone
meningkatkan kadar air pada usus besar tikus.
Defekasi terjadi sekitar 6-12 jam sebab diperlukan
waktu transpor antraquinon ke kolon dan dimetabolisme
manjadi senyawa aktif.
2) Uji klinik:
Pemberian jus 0,04-0,17 g (setara 10-30 mg
hidroksiantraquinon) bermanfaat pada pasien dengan
konstipasi. Efek laksan Aloe terutama sebab kandungan
1, 8-dihydroxyanthracene glycosides, aloin A dan B
(barbaloin). Setelah pemberian oral, aloin A dan B, (yang
tidak diabsorbsi di GI atas) dihidrolisis di kolon oleh
bakteri usus dan menjadi metabolit aktif (terutama aloe-
emodin-9-anthrone), yang bekerja sebagai stimulan dan
iritan pada traktus GI. Efek laksan Aloe umumnya tidak
terlihat sebelum 6 jam pasca pemberian, kadang sampai
24 jam atau lebih.
g. Indikasi
Konstipasi (Grade B)
- 171 -
h. Kontraindikasi
Obstruksi usus, stenosis, atoni, diare, atau konstipasi
kronis. Inflamasi pada saluran cerna, anak < 10 tahun,
kehamilan dan laktasi (dalam supervisi dokter). Kejang,
hemoroid, nefritis, atau gejala gastrointestinal yang belum
dapat didiagnosis seperti nyeri, mual dan muntah.
i. Peringatan
Hanya dipakai bila dengan diet atau sediaan
pembentuk massa tidak berefek. Bila setelah 24 jam terjadi
perdarahan per rektal atau tidak terjadi efek laksan,
menandakan kondisi serius.
pemakaian kronik dapat menimbulkan ketergantungan
dan kebutuhan untuk meningkatkan dosis, gangguan
keseimbangan air dan elektrolit (hipokalemia), dan atonia
kolon dengan gangguan fungsi. pemakaian > 2 minggu
memerlukan supervisi medik. Semua laksan golongan
anthroquinone (aloe, senna, cascara sagrada) dapat
menimbulkan melanosis coli, colon katartik, dan mungkin
peningkatan risiko Ca colorectal. Melanosis coli umumnya
ditemukan setelah pemakaian minimum 9-12 bulan.
Pigmentasi ini secara klinis tidak berbahaya dan akan hilang
4-12 bulan setelah obat dihentikan.
j. Efek Samping
Spasme dan nyeri perut bisa terjadi pada pemberian
dosis tunggal. pemakaian berlebih menimbulkan gejala mual
dan diare hebat. Jumlah elektrolit khusus kalium harus
dimonitor khususnya pada anak dan orangtua. pemakaian
kronis dapat menimbulkan hepatitis, hipokalemia,
hipokalsemia, asidosis metabolik, malabsorbsi, penurunan
berat badan, albuminuria, dan haematuria, pigmentasi
melanosik mukosa kolon (pseudomelanosis coli) biasanya bisa
terjadi lagi dalam 4-12 bulan setelah pemberian
diberhentikan.
k. Interaksi
Jangka panjang yang memicu hipokalemia dapat
meningkatkan potensi glikosida kardiotonik (digitalis,
strofantus) dan obat antiaritmia seperti kuinidin.
- 172 -
l. Posologi
Dosis tunggal 1 kapsul (100 mg ekstrak), malam (mulai
kerja 8 jam). Aloe dipakai untuk periode singkat, maksimal
8-10 hari.
P. HERBAL UNTUK BATUK
1. Adas Manis
Pimpinella anisum (L) /Anisum officinarum (Moench)
Suku : Apiaceae
Gambar 58. Adas Manis
a. Nama daerah
Adasa, jinten manis, adas pedas
b. Bagian yang dipakai
Buah
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Tanaman tahunan, tinggi hingga 60 cm batang halus,
beralur dan berbulu, berbentuk silindris, banyak
dibudidayakan di Eropa dan Amerika. Daun tersusun dua
baris, panjang hingga 5 cm, pada posisi batang lebih tinggi
terbagi menjadi banyak anak daun. Bunga putih kekuningan,
bergerombol, membentuk seperti payung. Buah bentuk
lonjong, biji warna hijau agak cokelat. Simplisia berbentuk
bulat telur, ukuran 3-5 mm, lebar 1-2 mm, berbau aromatis
khas, rasa manis, tangkai buah kecil panjang, warna hijau
kecokelatan, permukaan kasar. Beberapa pustaka
mensyaratkan kadar minyak atsiri tidak kurang dari 2%
(v/b). Minyak Adas merupakan cairan jernih, tidak berwarna
atau kuning muda, berbau aromatis khas, rasa manis, jika
- 173 -
didinginkan akan menjadi padatan, praktis tidak larut dalam
air, dapat bercampur dengan alkohol, eter.
d. Kandungan kimia
Mengandung minyak atsiri 1,5-5,0%, dengan komponen
antara lain trans-anetol (80-90%), linalool, terpineol, estragole
(metilkhavikol), isoanetol, trans-anetol, cis- anetol, limonena,
anisaldehida.
e. Data keamanan
Minyak Anise berstatus GRAS. LD50 oral minyak pada
tikus: 2,25 g/kg BB. LD50 ekstrak etanol 50% dari buah
kering dalam NaCl fisiologis: 750 mg/kgBB mencit , dan dosis
maksimum: 500 mg/kg BB. LD50 minyak atsiri oral pada
tikus: 2,7g/kg BB. LD50 trans-anetol: 1,82-5,0 g pada mencit;
2,1-3,2 g pada tikus dan 2,16 g pada marmot. LD50 anethol
pada tikus per oral: 2090 mg/kg BB. Pada uji toksisitas akut,
tikus mati dalam 4-18 jam sebab depresi SSP. LD50 oral pada
guinea-pig: 1,26 g/kg BB. LD50 anethole pada tikus: 2090
mg/kg BB, dan dosis berulang 695 mg/kg BB menimbulkan
gangguan hati ringan berupa perubahan warna, berbintik dan
ujung lobus menjadi tumpul. Insidens tumor hati pada diet
trans-anethole 550,0 mg/kg BB/hari. Senyawa ini
menunjukkan aktivitas estrogenik, antiprogestasional,
androgenik dan antiandrogenik. Aktivitas antifertilitas dan
antiimplantasi 100% diamati pada tikus dengan dosis 80
mg/kg BB.
f. Data manfaat
1) Uji Praklinik:
Buah, 1,0 mmol/L, memiliki efek relaksan
bermakna (P < 0,05) pada cincin trakhea guinea-pig yang
berkontraksi dan bronkhodilator in vitro. Buah juga
menginduksi shift paralel ke kanan pada kurva respons
methacholine, yang menunjukkan bahwa efek
bronkhodilator mungkin sebab inhibisi pada reseptor
muscarinik.
Anetol dapat menstimulasi dan merelaksasi saluran
pernapasan, dan merangsang sekresi kelenjar saluran
napas.
- 174 -
2) Uji Klinik:
62 pasien usia rata-rata 50 tahun dengan batuk
iritasi sebab common cold (n=29), bronkhitis (n=20) atau
gangguan saluran pernafasan dengan mukus kental
(n=15). Rerata- asupan per hari 10 ml (7.5-15) sirup, and
rerata lama terapi 12 hari (3-23 hari). Semua skor gejala
menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan baseline.
g. Indikasi
Batuk produktif (ekspektoran)
h. Kontraindikasi
Alergi terhadap anetol, anak < 12 tahun, kehamilan dan
laktasi.
i. Peringatan
Kandungan trans-anetol dilaporkan memiliki aktivitas
estrogenik, antiprogestasional, androgenik dan
antiandrogenik.
j. Efek Samping
Kadang terjadi alergi pada mukosa saluran pernafasan
yang dapat menimbulkan asma, mual. Toksisitas anethole
pernah dilaporkan dengan gejala hipertonia, pergerakan
okular atipik, twitching, sianosis, anoreksia dan vomitus.
k. Interaksi
Pemberian adas bersamaan dengan siprofloksasin dapat
mempengaruhi absorpsi, distribusi, eliminasi, serta
mengurangi ketersediaan hayati siprofloksasin hampir satu
setengah kalinya.
l. Posologi
2 x 1 tea bag (3 g serbuk)/hari, seduh dengan 1 cangkir
air.
- 175 -
2. Timi
Thymus vulgaris (L)/ Thymus zygis (L)
Suku: Lamiace
Gambar 59. Timi
a. Nama daerah:
timo, teem
b. Bagian yang dipakai :
daun
c. Diskripsi tanaman/simplisia:
Tanaman tahunan yang sangat aromatik dapat mencapai
ketinggian sekitar 40 cm. dengan daun berbentuk tombak,
sedikit abu-abu-hijau dan bunga mulai dari putih menjadi
merah muda ke ungu. Bentuk bunganya sepintas mirip
bunga terompet dengan ukuran lebih mini.
d. Kandungan kimia:
Senyawa utama yaitu thymol dan carvacrol (> 64%),
linalool, p-cymol, cymene, thymene, α-pinene, apigenin,
luteolin, dan 6-hydroxyluteolin glycosides, juga di-, tri- dan
tetramethoxylated flavones, semua disubstitusi pada posisi 6
(mis. 5,4'-dihydroxy-6,7-dimethoxyflavone, 5,4'-dihydroxy-
6,7,3'-trimethoxyflavone and its 8-methoxylated derivative
5,6,4'-trihydroxy- 7,8,3'-trimethoxyflavone).
e. Data keamanan:
LD50 ekstrak per oral pada mencit: 0,5-3,0 g/kg BB
setara 4,3-26,0 g simplisia kering. LD50 minyak atsiri p.o:
2,84 g/kg BB pada tikus. Diet mengandung daun T. vulgaris
10% pada tikus selama 6 minggu, tidak memperlihatkan efek
toksik. LD50 ekstrak etanol dalam 5% Tween 80 pada tikus
>5g/kg BB.
- 176 -
f. Data manfaat:
1) Uji praklinik:
Studi efek relaksan otot polos traktus respiratorius
dilakukan pada cincin trakhea guinea-pigs yang diberi
ekstrak air Thymus vulgaris (0,25; 0,5; 0,75 dan 1.0 g %)
dibanding kontrol saline dan theophylline (0,25; 0,5; 0,75
dan 1,0 mm). Efek relaksan diuji pada trahea
berkontraksi diinduksi KCl 60 mm dan methacholine 10
µm pada 2 kondisi: non-incubated tissues dan incubated
tissues dengan 1 µm propranolol dan 1 µm
chlorphenamine. Terdapat korelasi bermakna antara efek
relaksan dan kadar ekstrak serta theophylline pada
semua kelompok eksperimen (p < 0,01 - p < 0,001). Hasil
memperlihatkan efek relaksan T. vulgaris yang poten
sebanding dengan theophylline.
Penelitian eksperimental menunjukkan minyak
atsiri memiliki aktivitas sekretomotorik, yang
dihubungkan dengan ekstrak saponinnya. Juga
dilaporkan stimulasi pergerakan silia pada mukosa
faring kodok yang diberi solusio minyak timi, thymol
atau carvacrol. Diamati juga peningkatan sekresi mukus
bronkhus setelah pemberian ekstrak timi.
Studi In vitro menunjukkan bahwa flavone dan
ekstrak T. vulgaris menghambat respons agonis reseptor
spesifik seperti acetylcholine, histamine dan L-
norepinephrine, juga pada agen yang tidak memerlukan
reseptor spesifik, seperti barium chloride. Kandungan
flavone bekerja sebagai antagonis nonkompetitif dan
non-spesifik dan memperlihatkan efek antagonis Ca2+
dan muskulotropik yang bekerja langsung pada otot
polos. Eksperimen menunjukkan bahwa efek spasmolitik
T. vulgaris disebabkan oleh kandungan
polymethoxyflavone.
Bukti eksperimen lain menunjukkan bahwa minyak
timi memiliki aktivitas sekretomotorik yang
berhubungan dengan saponin yang diekstrak dari T.
vulgaris. Dilaporkan stimulasi pergerakan silia mukosa
faring kodok yang diberi minyak timi, thymol atau
- 177 -
carvacrol. Pemberian ekstrak timi meningkatkan sekresi
mukus dalam bronkhi.
2) Uji klinik:
Studi RCT pada 60 orang dengan batuk produktif
sebab infeksi traktus respiratorius atas tanpa
komplikasi diberi sirup timi (3 x 10 mL/hari, n=31) atau
preparat bromhexine (n=29) selama 5 hari. Tidak ada
perbedaan bermakna antara sirup timi dan bromhexine
pada pelaporan gejala pada terapi hari ke-2 dan ke-5.
Sebuah studi multisenter terbuka (Dentinox 1997,
dalam ESCOP (2003), 154 anak usia 2 bulan sampai 14
tahun (rerata 4,4 tahun) dengan bronkhial katar atau
bronkhitis diterapi dengan 15-30 mL sirup timi yang
mengandung 97,6 mg ekstrak cair timi (2-2,5: 1) per mL,
selama 7-14 hari (rerata 7,9 hari); 46 pasien tidak
menerima co-medikasi. Dibanding kondisi awal didapat
perbaikan intensitas batuk pada 93,5 % pasien.
g. Indikasi:
Batuk (ekspektoran) (Grade C)
h. Kontraindikasi:
Kehamilan , laktasi.
i. Peringatan:
Alergi, sensitivitas silang dengan alergi terhadap seledri
dan serbuk sari.
j. Efek samping:
Dermatitis kontak.
k. Interaksi:
Belum diketahui
l. Posologi:
Anak lebih besar atau sama dengan 1 tahun dan dewasa:
2 x 1 sendok makan (250 mg ekstrak cair).
- 178 -
Q. HERBAL UNTUK GASTROENTERITIS
1. Daun Jambu biji
Psidium guajava L
Suku : Myrtaceae
Gambar 60. Jambu biji
a. Nama daerah
Glima breueh, galiman, masiambu, biawas, jambu biji,
jambu partikel, jambu susu, Jambu klutuk, bayawas, jambu
krutuk, petokal, jhmabhu bhender, jhambhu bighi, sotong,
guawa, gothawas, kuyabas, koyabas, diabuto, kayawase,
kojawase.
b. Bagian yang dipakai
Daun
c. Deskripsi tanaman/simplisia
Pohon, tinggi mencapai 10 meter, tumbuh pada
ketinggian 1-1200 m di atas permukaan laut. Batang bulat
berkayu, kulit kayu licin, mengelupas, bercabang, warna
coklat kehijauan. Daun tunggal bertangkai pendek,
berhadapan, elips, ujung tumpul, pangkal










