Imunohematologi 2



 sebagian 

besardapat dicegah. Jarang ditemukannya kasus HDN yang 

dipicu  oleh imunisasi Kell cenderung mengakibatkan anemia 

pada janin yang parah sebab  prekursor eritrosit janin merupakan 

target anti-Kell ibu, sehingga menekan produksi eritrosit janin. 

 

     

 

A. Sejarah Golongan Darah Kell 

Sistem golongan darah Kell ditemukan pada tahun 1946. 

Namanya berasal dari Nyonya Kelleher, seorang pasien yang memiliki 

antibodi anti-Kell dan mengakibatkan penyakit hemolitik pada 

anaknya yang baru lahir (anak ini  memiliki eritrosit dengan 

antigen K yang diikat oleh anti-K pada serum ibu). Hingga saat ini, 

diketahui ada  total 25 antigen Kell yang ditemukan dan memiliki 

frekuensi yang berbeda pada populasi yang berbeda. Namun antigen 

K original  tetap sangat penting dalam transfusi darah dan HDN. 

 


B. Antigen Kell 

Antigen sistem Kell terletak pada glikoprotein membran 

eritrosit yaitu N-glycosylated.Kell merupakan sistem kompleks yang 

sampai saat ini terdiri dari 24 antigen. ada  5 set alel yang 

mengekspresikan antigen dengan frekuensi tinggi dan rendah serta 

sekitar 14 antigen independen lainnya. Pada Tabel 2.12 dapat dilihat 

fenotip dan frekuensi sistem Kell secara umum. Antigen Kell antigen 

menunjukkan variasi pada populasi yang berbeda. Antigen K terjadi 

      

pada 9% kulit putih namun  hanya 2% kulit hitam. Antigen Kpa memiliki 

frekuensi 2% pada orang kulit putih namun jarang pada orang kulit 

hitam. ada  Antigen Kpc 0,2% di Jepang dan jarang pada antigen 

lain. Antigen Jsa dapat terjadi pada 20% orang kulit hitam namun  

jarang pada orang kulit putih. Antigen Ula yaitu  antigen dengan 

frekuensi rendah, namun  ditemukan pada 2,6% orang Finlandia dan 

0,46% orang Jepang. Antigen lainnya merupakan insiden tinggi atau 

rendah. Antigen Ku mewakili antigen "total Kell" dan individu yang 

kekurangan Ku dianggap Knull. 

 

C. Antibodi Kell 

Antigen K merupakan antigen golongan darah paling 

imunogenik sesudah  ABO dan Rh, yang memicu  penyakit 

hemolitik pada bayi baru lahir dan HTRs segera dan tertunda. 

Antibodi umumnya IgG, terutama IgG1. Pasien dengan antibodi 

terhadap sistem golongan darah Kell harus menerima darah antigen-

negatif. 

Adanya anti-K tampaknya tidak seberapa parah dalam kasus 

HDFN dibandingkan anti-D. Antigen K muncul pada eritrosit janin 

lebih awal daripada protein Rh. Akibatnya, anti-K memfasilitasi 

fagositosis pada tahap lebih awal, sebelum sel menghasilkan 

hemoglobin. Anemia parah dapat terjadi sebab  anti-K memicu  

penekanan eritropoiesis daripada mendestruksi imunitas dengan 

anti-D. 

Antibodi terhadap Kpa, Kpb, Kpc, Jsa, dan Jsb juga ditemukan dan 

dalam kasus HDFN dan HTR. Ras harus dipertimbangkan ketika 

mengidentifikasi antibodi. Antigen Kpahanya ditemukan pada ras 

kulit putih dan Kpc hanya ditemukan pada orang Asia. Baik Kpa dan 

Kpc merupakan antigen dengan insiden rendah, sehingga mayoritas 

individu yaitu  Kp (a-b+c-). Antigen Jsa lebih umum pada orang kulit 

      

 

 

hitam sedang  antigen Kpa pada orang kulit putih atau Kpc pada 

orang Asia. 

Individu yang kekurangan antigen Kell yang diimunisasi  

untuk menghasilkan antibodi yang disebut anti-Ku (K untuk Kell dan 

u untuk universal). Selain itu, serum mereka mungkin mengandung 

antibodi untuk antigen Kell dengan insiden tinggi lainnya. 

 

 

2.5   GOLONGAN DARAH DUFFY 

Glikoprotein Duffy merupakan reseptor untuk bahan kimia 

yang disekresikan oleh sel darah selama inflamasi, serta reseptor 

untuk Plasmodium vivax, yaitu parasit yang menyerang eritrosit dan 

memicu  malaria. Eritrosit yang tidak memiliki antigen Duffy 

relatif resisten terhadap invasi oleh P. vivax. Ini mempengaruhi 

variasi golongan darah Duffy yang tampak pada populasi dimana 

malaria umum terjadi. Antibodi yang terbentuk melawan antigen 

Duffy merupakan pemicu  dari reaksi transfusi dan penyakit 

hemolitik pada bayi baru lahir. 

 

A. Sejarah Golongan Darah Duffy 

Golongan darah Duffy ditemukan pada tahun 1950. Nama 

Duffy berasal dari Tn. Duffy, nama pasien hemofilia yang telah 

menerima banyak transfusi darah, dan orang pertama yang diketahui 

menghasilkan anti-Fya. Setahun lalu , anti-Fyb ditemukan pada 

seorang wanita yang memiliki beberapa anak. Antigen Duffy yang 

tersisa (FY3, FY4, FY5, dan FY6) ditemukan 20 tahun lalu , dan 

hanya FY3 yang tampak signifikan secara klinis. 

Frekuensi fenotip Duffy bervariasi dalam populasi yang 

berbeda. Fenotip Duffy null, Fy (ab-), jarang ditemukan pada populasi 

Kaukasia dan Asia, namun paling umum di ditemukan pada kulit 

hitam,terjadi pada lebih dari 2/3 populasi kulit hitam. Variasi rasial 

      


 

dalam distribusi antigen Duffy merupakan hasil dari tekanan seleksi 

positif, dimana tidak adanya antigen Duffy pada eritrosit 

memicu  ertirosit lebih tahan terhadap invasi oleh parasit 

malaria. 

ada  4 jenis spesies Plasmodium sebagai pemicu  

malaria pada manusia, P. falciparum dapat memicu  sebagian 

besar kasus yang berakibat fatal. Namun di Asia dan Amerika, malaria 

umumnya dipicu  oleh P. vivax. Untuk memicu  penyakit, P. 

vivax harus memasukkan eritrosit manusia dengan cara mengikat 

domain ekstraseluler N-terminal glikoprotein Duffy melalui region 

rich sistein dari Duffy binding protein (DBP). Individu dengan fenotip 

Duffy null tidak mengekspresikan protein Duffy pada eritrosit mereka 

sehingga kebal terhadap infeksi P. vivax. Menariknya, fenotip Fy (a-

b-) umumnya ada  di daerah dengan sedikit kasus malaria P. 

vivax. Di Afrika Barat, ada  frekuensi tinggi fenotip Fy (a-b-) dan 

rendahnya insiden malaria akibat P. vivax. Ini dipicu  sebab  pra-

eksistensi frekuensi tinggi fenotip Fy (a-b-) mencegah malaria P. vivax 

menjadi endemik di Afrika Barat. 

 

B. Antigen Duffy 

Antigen Duffy merupakan glikoprotein dan bagian integral dari 

membran eritrosit. Glikoprotein inijuga diekspresikan pada sel non 

erythroid termasuk endotelium, otak, usus besar, paru-paru, limpa, 

ginjal, tiroid,dan timus. Glikoprotein terkait dengan family 

reseptor IL-8 dan berfungsi sebagai reseptor eritrosit 

untuk kemokin proinflamasi. Kemokin berperan utama dalam 

inflamasi serta infeksi malaria. Antigen Duffy berfungsi sebagai 

anggota superfamily reseptor kemokin serta reseptor untuk 

parasit malaria manusia, yaitu Plasmodium vivax. 

Glikoprotein Duffy terdiri dari 7 domain spanning 

transmembran dengan intraseluler dan loop ekstraseluler.  

      


 

Glikoprotein memiliki domain terminal N eksoseluler 

dan domain terminal C endoseluler. Dua antigen utama, yaitu  Fya dan 

Fyb, diwariskan sesuai metode Mendel dan dibedakan oleh single 

kodon. Ada 3 genotip yang mungkin, antara lain: FyaFya, Fya- 

Fyb, dan FybFyb. Frekuensi fenotip ada pada Tabel 2.14. ada  

frekuensi fenotip  yang berbeda antara populasi Kaukasia dan kulit 

hitam. 

 

Tabel 2.14 Persentase Frekuensi Fenotip dari Antigen Duffy 

Fenotip Kaukasian Kulit Hitam 

Fy(a+b−) 17 9 

Fy(a−b+) 34 22 

Fy(a+b+) 49 1 

Fy(a−b−) Jarang >68 

(Whitlock, 2010) 

 

C. Antibodi Duffy 

Karakteristik antibodi ini merupakan IgG, AHG antibodi reaktif 

yang telah distimulasi secara aktif melalui paparan antigen langsung. 

Antibodi Duffy berupa IgG dan mampu memicu  Penyakit 

Hemolitik Janin dan Bayi Baru Lahir dan reaksi transfusi hemolitik.  

 

 

 

 

2.6   GOLONGAN DARAH KIDD 

Glikoprotein Kidd (JK) merupakan transporter urea eritrosit.  

Terletak di membran eritrosit untukmengangkut urea secara cepat ke 

dalam dan keluar eritrosit, menjaga stabilitas osmotik dan proses 

pembentukan eritrosit. Glikoprotein Kidd juga diekspresikan dalam 

ginjal, sehingga memungkinkan ginjal untuk memenuhi kebutuhan 

urea yang tinggi yang diperlukan untuk menghasilkan urin pekat. 

Orang-orang yang tidak memproduksi glikoprotein Kidd cenderung 

tidak mampu untuk memekatkan urin secara maksimal, namun 

mereka sehat dan eritrositnya memiliki bentuk dan masa hidup 

normal.  

Antibodi dengan target antigen Kidd merupakan pemicu  

signifikan dari reaksi transfusi hemolitik yang tertunda. 

Antibodi anti-Kidd juga merupakan pemicu  penyakit hemolitik 

pada bayi baru lahir (HDN), tingkat keparahan penyakit bervariasi 

namun cenderung bersifat ringan. 

 

A. Sejarah Golongan Darah Kidd 

Pada tahun 1951, seorang pasien bernama Nyonya Kidd 

diketahui memproduksi antibodi yang melawan antigen eritrosit 

yang tidak diketahui selama kehamilannya. Sehingga antibodi ibu 

ini  memicu  penyakit hemolitik yang fatal pada bayinya 

yang baru lahir. Protein itu diberi nama Jka dan merupakan antigen 

pertama yang ditemukan dalam sistem golongan darah Kidd. Sejak 

itu, dua antigen lain yaitu Jkb dan Jk3 juga ditemukan. Pada tahun 

1959, contoh pertama dari fenotipe nol, yaitu, Jk(a-b-) ditemukan 

pada seorang wanita mengalami jaundice (penyakit kuning) sesudah  

      

 

transfusi darah. Serumnya ditemukan mengandung antibodi yang 

mengenali Jka dan Jkb. Antibodi ini lalu  dinamakani anti-Jk3. 

 

 

B. Antigen dan Antibodi Kidd 

Antigen Jka dan Jkb bertanggungjawab terhadap kesamaan 

fenotip. Fenotip dan frekuensi golongan darah Kidd ada pada Tabel 

2.15.  

Pembentukan antibodi Kidd distimulasi oleh kehamilan dan 

transfusi darah, meskipun antibodi ini tidak terlalu bersifat 

imunogenik. Anti-Jka sering ditemukan dengan spesifisitas lain, 

namun anti-Jkb umummnya ditemukan dengan antibodi lain. 

Keduanya bereaksi lemah sebab  merupakan antibodi IgG yang 

kadarnya sedikit dalam darah. Reaktivitas dapat ditingkatkan dengan 

enzim. Antibodi Kidd dikenal melemah dari waktu ke waktu dan 

bahkan menjadi tidak terdeteksi. Antibodi kemungkinan tidak 

ditemukan pada saat dilakukan pengujian pretransfusi darah. 

Meskipun demikian,  antibodi ini dapat mengakibatkan HTR 

tertunda yang parah. Pasien yang membutuhkan transfusi harus 

menerima darah antigen negatif. Anti-Jka, anti-Jkb, dan anti-Jk3 dapat 

memicu  HDN, namun  biasanya ringan walaupun merupakan 

IgG, mengikat komplemen, dan antigennya berkembang dengan baik 

pada sel-sel janin. 

 

 

 

 

2.7   GOLONGAN DARAH MNS  

Antigen golongan darah MNS, membawa protein yang 

mengandung gula yang disebut glikophorin. Ini terletak di membran 

eritrosit. Salah satu ujung glikophorin melekat pada sel di bawahnya, 

dan ujung yang lain menahan gula dan menentukan tipe golongan 

darah MNS seseorang. 

 

A. Antigen Golongan Darah MNS 

Sistem Golongan Darah MNS terdiri dari lebih dari 40 antigen. 

Yang paling umum antara lain: M, N, S, s, dan U. Frekuensi antigen 

MNS ada pada Tabel 2.16. Dua gen yang mengkode pasangan gen, 

M/N dan S/s, terletak pada kromosom 4. Terdiri dari 2 gen, yaitu 

GYPA dan GYPB, kode untuk glikophorin A (GPA) dan glikophorin B 

(GPB). Kode GPA untuk antigen M dan N, dan kode GPB untuk antigen 

S dan s. Gen-gen itu terletak berdekatan dan diwariskan sebagai 

haplotype daripada independen. Kemungkinan haplotypes yaitu  

Ms, MS, Ns, dan NS. Haplotype yang paling sering diwariskan yaitu  

Ns. Mewarisi M atau N dalam keadaan homozigot meningkatkan 

kekuatan ekspresi antigenik. 

 

B. Antibodi Golongan Darah MNS 

Antibodi terhadap antigen MN paling sering merupakan 

antibodi yang bereaksi pada suhu dingin dari jenis IgM. Antibodi ini 

dapat terjadi secara non-stimulasi eritrosit  maupun  distimulasi oleh 

paparan (exposure). Anti-M umumnya berupa antibodi yang secara 

klinis tidak signifikan dan jarang terlibat dalam HDFN. Anti-N miliki 

      


 

karakteristik yang identik dengan anti-M. Ditemukan lebih jarang 

daripada anti-M. Antibodi anti-M dan anti-N bersifat non-reaktif 

dalam enzim. Sebaliknya, antibodi terhadap antigen Ss dan U paling 

sering bereaksi pada suhu 37°C dan pada tahap  pengujian AHG. 

Antibodi ini berupa IgG yang secara klinis signifikan dan dapat 

memicu  HDFN dan menurunkan kelangsungan hidup eritrosit. 

sedang  anti-U jarang ditemukan. Karakteristik antibodi MN ada 

pada Tabel 2.17. 

 


 

RANGKUMAN :  

   Sistem golongan darah dan antibodi merupakan dasar untuk 

pemeriksaan pra transfusi darah. 

   Sistem ABO paling penting dalam bidang transfusi, sebab  

transfusi sistem ABO yang inkompatibel akan mengakibatkan 

gejala reaksi transfusi hemolitik dan mengakibatkan koagulasi 

intravaskular diseminata, gagal ginjal, dan kematian. 

   Antigen ABO terletak di permukaan eritrosit. Antigen ABO juga 

ditemukan pada limfosit, trombosit, organ, sel endotel, dan sel 

epitel. 

   Individu Oh Bombay memiliki  antibodi anti-H, anti-A dan anti-

B yang kuat di dalam serumnya. Sehingga mereka hanya bisa 

menerima transfusi hanya dengan golongan darah Oh. 

   Individu yang memiliki antigen ABH terlarut (SeSe atau Sese) 

dalam cairan sekresi tubuhnya disebut sekretor. sedang  

individu yang tidak memiliki antigen A atau B di cairan sekresi 

tubuhnya (sese) disebut non sekretor.  

   Sistem Rhesus telah menjadi golongan darah terpenting kedua 

sesudah  ABO di bidang transfusi darah. Sistem Rhesus sangat 

penting dalam bidang obstetri, sebab  menjadi pemicu  utama 

penyakit hemolitik pada bayi baru lahir atau Hemolytic Disease 

of the Newborn (HDN). 

   ada  33 sistem golongan darah lain selain ABO dan Rhesus 

yang memiliki relevansi klinis dan biologis yang beragam, 

     

 

diantara: golongan darah Lewis, Kell, Duffy, Kidd, MNS, dan 

sebagainya. 

 

 

 

 

SISTEM ADMINISTRASI DONOR DARAH 

 

 

 

A. Darah Utuh (Whole Blood) 

Darah merupakan cairan kompleks terdiri dari sel-sel darah 

berbeda yang tersuspensi dalam cairan kekuningan yang disebut 

plasma. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah 

putih (leukosit), dan platelet (trombosit). Plasma darah mengandung 

beberapa protein, substansi kimia, faktor pembekuan (koagulasi) dan 

banyak substansi metabolisme. Darah berfungsi sebagai media 

transportasi untuk membawa semua komponen yang berbeda ke 

berbagai organ tubuh. 

 

B. Eritrosit 

Bentuk eritrosit tampak seperti cakram bikonkaf bila dilihat 

dibawah mikroskop. Eritrosit memiliki  diameter 7,2 mikron dan 

ada  sekitar 5 juta sel eritrosit per mm3 darah (5 x 1012/L). 

Eritrosit diproduksi di sumsum tulang, lalu  memasuki aliran 

darah ketika sudah matur. Rata-rata masa hidup eritrosit yaitu  120 

hari, sesudah  itu eritrosit mengalami penuaan dan destruksi (menjadi 

rusak) serta dihancurkan oleh sel-sel dalam sistem reticulum 

endothelium. Sel-sel khusus ini tersebar diseluruh tubuh dan 

ditemukan terutama di sumsum tulang, hati, limpa, dan kelenjar 

getah bening. Eritrosit mengandung hemoglobin yang memiliki fungsi 

utama dalam membawa oksigen ke jaringan tubuh. 

 

C. Hemoglobin (Hb) 

Hemoglobin merupakan molekul besar kompleks terdiri dari 

molekul besi yaitu hem yang melekat pada rantai polipeptida yang 

disebut globin. Hemoglobin inilah yang memicu  eritrosit 

berwarna merah. Hemoglobin memiliki kemampuan untuk berikatan 

dengan oksigen dan karbon dioksida secara reversibel. Hemoglobin 

berfungsi mengangkut oksigen ke berbagai jaringan guna 

menyediakan energi dan panas bagi tubuh. Oksigen diambil dari 

      

 

paru-paru dan dipompa oleh jantung ke jaringan. sesudah  digunakan, 

oksigen digantikan oleh karbon dioksida dan dibawa kembali ke paru-

paru oleh eritrosit dan sebagian kecil oleh plasma. Selanjutnya 

diganti dengan oksigen baru dan siap untuk memulai siklus sirkulasi 

berikutnya. 

Kadar hemoglobin diukur dalam satuan gram hemoglobin per 

desiliter darah. Nilai normal hemoglobin pada pria sedikit lebih tinggi 

daripada wanita. Nilai  normal hemoglobin pada pria yaitu 13,5 – 17,0 

g/dl dan pada wanita yaitu 12,0 – 16,0 g/dl. Kadar hemoglobin 

minimum yang dapat diterima oleh pusat transfusi darah di banyak 

negara, yaitu: 13,5 g/dl pada pria, dan 12,5 g/dl pada wanita. Metode 

pemeriksaan hemoglobin terbaik yaitu  dengan menggunakan 

teknik kolorometrik atau fotometrik. 

Kadar hemoglobin juga dapat dilakukan dengan teknik 

estimasi, dengan cara membandingkan berat jenis hemoglobin  

dengan berat jenis larutan tembaga sulfat yang telah diketahui 

kadarnya. Teknik ini dapat digunakan dalam praktik transfusi darah 

dan cocok diterapkan di daerah yang tidak tersedia listrik atau 

minimum pasokan listrik. Kadar hemoglobin donor yang dapat 

diterima ditentukan dengan mengkonfirmasi bahwa setetes darah 

dapat meresap dalam larutan tembaga sulfat dengan berat jenis 

1,055 untuk pria dan 1,053 untuk wanita.  

 

D. Leukosit 

Leukosit merupakan sel yang memiliki inti yang terdiri dari 

granulosit dan agranulosit. Granulosit terdiri dari: neutrofil, eosinofil, 

dan basofil. sedang  agranulosit meliputi: limfosit dan monosit. 

Dalam kondisi normal, granulosit hanya berasal dari sumsum tulang. 

Sejumlah kecil limfosit diproduksi di sumsum tulang, namun  pasokan 

utama berasal dari jaringan limfatik dan timus. Monosit kemungkinan 

diproduksi di area jaringan retikuloendotelial, terutama limpa. 

      


Jumlah normal leukosit yang bersirkulasi dalam darah jauh lebih 

sedikit daripada jumlah sel eritrosit. Nilai normal jumlah leukosit 

yaitu  4000 - 11.000 leukosit per mm3 (4,0 - 11,0 x 109/L) darah, 

meliputi: 

- Eosinofil: 0 - 400 per mm3 (0 - 0,4 x 109/L) 

- Basofil: 0 - 200 per mm3 (0 - 0,2 x 109/L) 

- Neutrofil: 1500 - 7500 per mm3 (1,5 - 7,5 x 109/L) 

- Limfosit: 1000 - 4500 per mm3 (1,0 - 4,5 x 109/L) 

- Monosit: 0 - 800 per mm3 (0 - 0,8 x 109/L) 

Leukosit memiliki umur lebih pendek daripada eritrosit. Masa 

hidup granulosit yaitu  sekitar 3-5 hari, dan berperan utama dalam 

melawan infeksi. Masa hidup limfosit mulai dari beberapa hari hingga 

bertahun-tahun. Limfosit berperan penting dalam memproduksi 

antibodi terhadap antigen asing dan melawan infeksi virus. Monosit 

meninggalkan sistem peredaran darah sesudah  beberapa hari, dan 

disebut scavenger cells  sebab  dapat menelan bakteri dan benda 

asing lainnya melalui proses fagositosis. 

E. Trombosit (Platelet) 

Ukuran trombosit jauh lebih kecil daripada eritrosit dan 

leukosit. Nilai normal jumlah trombosit yaitu  150.000 - 500.000 per 

mm3 (150 - 500 x 109/L) darah pada orang dewasa normal. Trombosit 

berperan penting dalam mekanisme pembekuan darah. Trombosit 

melepaskan substansi di lokasi luka atau cedera dan bergabung 

dengan faktor pembekuan lain dalam plasma untuk menghasilkan 

benang protein halus (fibrin). Selanjutnya, fibrin membentuk jaring 

halus atau jaringan yang menjerat eritrosit untuk menghasilkan 

pembekuan dan mencegah pendarahan lebih lanjut. Penyimpanan 

trombosit dengan benar memiliki masa simpan laboratorium sampai 

dengan 5 hari sebelum dilakukan transfusi darah. 

 

F. Koagulasi Darah 

      


Pada saat darah yang ada dalam spuit dimasukkan ke dalam 

tabung maka akan terjadi koagulasi atau pembekuan darah, dimana 

terbentuk massa semi-solid sel darah. Cairan yang mengelilingi massa 

semi-solid ini dinamakan serum. Namun, jika darah dimasukkan ke 

dalam tabung yang berisi antikoagulan, yaitu suatu substansi yang 

mencegah pembekuan darah, maka sedimen sel yang tidak 

membeku ada di bagian bawah tabung. Cairan yang mengelilingi sel-

sel yang tidak membeku ini disebut plasma. 

Proses pembekuan darah sangat kompleks, terdiri dari jalur 

intrinsik (surface contact) dan ekstrinsik (cedera jaringan). Kerusakan 

atau cedera pada pembuluh darah akan memicu jalur koagulasi atau 

kaskade, memicu  perubahan dari fibrinogen terlarut menjadi 

fibrin, yang membentuk bekuan yang stabil dan mencegah 

perdarahan lebih lanjut. 

 

 

G. Tujuan Transfusi Darah 

ada  3 tujuan utama transfusi darah, antara lain: 

untuk mengatasi anemia (penurunan kadar hemoglobin); 

untuk menggantikan kehilangan darah akibat perdarahan, baik 

sebab  operasi atau kecelakaan; dan untuk menggantikan komponen 

darah lainnya, misalnya faktor pembekuan. 

 

3.2 KRITERIA DONOR DALAM PENGAMBILAN DARAH 

Prosedur seleksi (screening) donor dalam beberapa tahun 

terakhir semakin berkembang. Prosedur terbaru 

mempertimbangkan beberapa komponen penting, diantaranya 

kesehatan pendonor, produk darah yang bebas dari transfusion 

transmissable diseases (TTD), dan perlindungan donor selama proses 

pengambilan darah dan pemulihan sesudah  pengambilan darah 

      

 

selesai. Proses screening donor meliputi tiga tahap , yaitu: pendaftaran, 

wawancara riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik. 

 

A. Registrasi Donor 

Registrasi donor diperlukan pada setiap kegiatan transfusi 

darah. Catatan registrasi donor meliputi dokumentasi yang 

sepenuhnya mengidentifikasi donor, dan identifikasi harus 

diverifikasi oleh setiap pendonor. Sistem komputerisasi dapat 

digunakan dalam proses registrasi pendonor untuk memudahkan  

memperbarui informasi yang diperlukan. Informasi penting dalam 

registrasi pendonor, antara lain: 

   Tanggal dan waktu donasi 

   Nama lengkap 

   Alamat rumah dan atau kantor 

   Telepon rumah dan atau kantor 

   Jenis kelamin 

   Umur atau tanggal lahir 

   Rekaman penangguhan pemeriksaan sebelumnya 

   Tanggal melakukan transfusi darah terakhir 

   Informed consent tertulis 

 

B. Umur 

Syarat menjadi pendonor minimal berusia 17 tahun. Namun 

ada beberapa negara yang memiliki  batasan usia minimal yaitu  

16 tahun tergantung dari aturan oleh hukum negara ini . Izin 

orang tua diperlukan untuk pendonor yang berusia kurang dari 18 

tahun.  

 

C. Donor Darah Sebelumnya 

      

 

 

Pendonor whole blood berhak untuk mendonorkan setiap 56 

hari (8 minggu) sekali. Pendonor apheresis (plateletpheresis, 

leukopheresis, dan plasmapheresis) dapat mendonorkan darah 

minimal 48 jam sesudah  pheresis selesai, sebelum melakukan donor 

whole blood. 

 

D. Edukasi Donor  

Calon pendonor perlu diberikan materi edukasi tentang donor 

darah. Materi ini  meliputi informasi tentang penyakit menular 

yang dapat ditularkan melalui transfusi darah; tanda dan gejala AIDS. 

Informasi tambahan pra-donasi, seperti: pentingnya memberi  

informasi yang akurat; kebebasan untuk menarik diri dari proses 

donasi dengan alasan apapun jika mereka merasa tidak cocok untuk 

melakukan transfusi. sesudah  pendonor memahami dan materi yang 

telah dibaca lalu  ditandatangani. 

 

 

 

E. Persetujuan Pendonor 

Sebelum melakukan transfusi darah, pendonor harus 

menandatangani persetujuan tertulis (informed consent) untuk 

pengambilan darah. Pendonor harus memiliki kebebasan untuk 

mengajukan pertanyaan, menerima jawaban atas pertanyaan-

pertanyaan ini , dan akhirnya dapat membuat pilihan 

menyetujui ataupun menolak melakukan donor darah. Setiap donor 

di edukasi tentang risiko dari prosedur dan pemeriksaan penyakit 

menular yang akan dilakukan pada sampel darah. Penjelasan 

diberikan tentang pemberitahuan hasil tes positif. Donor diberitahu 

bahwa ia akan diberitahu jika pemeriksaan sampel darah berpotensi 

pada penularan penyakit menular. Selain itu, donornya 

diinformasikan bahwa penangguhan dari donor darah di lalu  

      


 

hari akan terjadi jika hasil pemeriksaan penyakit menular yaitu  

positif. Donor akan memiliki kesempatan untuk menundanya secara 

rahasia. Donor dapat memilih: "transfusi darah saya" atau "jangan 

transfusi darah saya." 

Donor yang melakukan vaksinasi kemungkinan memerlukan 

masa penangguhan sebelum melakukan transfusi. Vaksin yang 

terbuat dari organisme yang mati atau toksoid tidak memerlukan 

mengalami penundaan. Donor harus bebas dari gejala. Vaksin 

hepatitis A dan meningitis tidak memerlukan penangguhan jika 

mereka diberikan untuk pencegahan daripada paparan. Vaksin rutin 

seperti influenza dan tetanus tidak memerlukan penangguhan, jika  

donor tidak menunjukkan gejala dan tidak demam. Tabel 3.1 

menunjukkan masa penangguhan sementara untuk administrasi 

vaksin. sedang  pendonor yang membutuhkan penangguhan 12 

bulan bertujuan untuk memberi perlindungan terhadap  

penerima atau resipien. Penangguhan ini ada pada Tabel 3.2. 

 

 

F. Pemeriksaan Fisik 

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan kesehatan umum dan 

tanda-tanda vital untuk memastikan kesehatan yang baik pada 

pendonor. Pendonor harus tampak sehat pada saat akan melakukan 

donor darah. Pemeriksaan pendonor harus memperhatikan keadaan 

umum, jawaban terhadap pertanyaan tentang kesehatan, riwayat 

kesehatan, dan faktor resiko terkait gaya hidup dan beberapa 

pemeriksaan sederhana. Darah yang akan didonorkan sebanyak 

kurang lebih 525 ml termasuk sampel untuk pemeriksaan sebelum 

darah di berikan kepada resipien. Kriteria pemeriksaan fisik bagi 

pendonor, antara lain: 

a). Hemoglobin ≥ 12,5 g/dl 

b). Hematokrit ≥ 38% 

      

 

c). Tekanan darah sistolik ≤ 180 mmHg, dan diastolik ≤ 100 mmHg 

d). Temperatur ≤ 37,5oC 

e). Denyut nadi antara 50 s.d 100 kali/menit 

f). Berat badan ≥ 50 kg 

 

G. Flebotomi 

Seorang flebotomis akan memeriksa area antecubital kedua 

lengan pendonor. Pemeriksaan ini bertujuan menempatkan 

pembuluh darah yang tepat untuk dilakukan pengambilan darah. 

Flebotomis juga memeriksa bukti penggunaan obat intravena dan 

adanya lesi kulit. Lengan yang digunakan untuk pengambilan darah 

harus bebas dari lesi kulit pada hari dilakukannya donasi darah. 

Sebelum dilakukan pengambilan darah, lengan harus di 

desinfeksi dengan menggunakan larutan scrub berair 70% dari 

senyawa iodophor untuk menghilangkan kotoran dipermukaan 

lengan, diikuti oleh larutan 10% PVP-iodine. Desinfeksi dilakukan 

dengan gerakan melingkar memutar kearah luar. Area yang disiapkan 

harus dibiarkan kering selama 30 detik dan dapat ditutup dengan kain 

kasa steril sebelum dilakukan venipuncture. 

Dengan menggunakan manset sphygmomanometer yang 

dipompa sampai dengan 40 hingga 60 mmHg dapat melebarkan 

pembuluh darah vena untuk memudahkan proses mengeluarkan 

darah. Untuk pengambilan darah dipilih jarum 16-gauge yang 

melekat pada kantung darah primer. Venipuncture dilakukan pada 

vena di antekubital, dan harus bebas dari lesi kulit. 

 


 

H. Reaksi Donor 

Reaksi negatif pendonor dapat terjadi pada saat proses 

screening, pengambilan darah, dan sesudah  selesai donor darah. 

Sebagian besar reaksi bersifat minor dan dapat segera diatasi oleh 

staf bank darah. Namun reaksi yang serius seperti kejang sampai 

dengan henti jantung dapat terjadi, meskipun jarang. Seorang 

flebotomis harus mampu mengenali gejala awal reaksi dan 

memberi  pertolongan pertama ketika diindikasikan. 

Kemungkinan gejalanya, antara lain: pucat, berkeringat, pusing, nafas 

cepat, mual, dan pingsan. jika  gejala ini muncul, maka proses 

pengambilan darah harus segera dihentikan dan segera dilakukan 

penanganan serta perawatan yang tepat. Berbagai reaksi negatif 

donor beserta penangannya ada pada Tabel 3.3.  

sesudah  selesai melakukan donor darah, pendonor harus 

memulai proses rehidrasi dengan cara segera memberi  minuman 

dan makanan ringan. Pendonor disarankan untuk mengkonsumsi 

cairan ekstra selama 72 jam ke depan. Instruksi khusus sesudah  

donasi, meliputi: 

- Tidak mengonsumsi alkohol sampai pertama kali mengonsumsi 

makanan. 

- Tidak merokok selama 30 menit 

  

Tabel 3.3 Reaksi Negatif Donor dan Penanganannya 

Keadaan  Penanganan 

Hematoma Berikan tekanan pada area hematoma; 

selanjutnya kompres dengan es 

      

 

 

Pucat, 

berkeringat, 

pusing, bernapas 

cepat, mual 

- Naikkan kaki lebih tinggi sekitar 30 cm 

dari dada (untuk mengembalikan aliran 

darah kembali ke otak) 

- lakukan kompres air dingin di dahi dan 

belakang leher 

Kejang otot dan 

kedutan 

Bernapaslah ke dalam kantong kertas 

Syncope (pingsan)  - Kepala diturunkan dan kaki di angkat 

- Oleskan kompres dingin ke dahi dan 

belakang leher 

- Oleskan minyak kayu putih atau bahan 

aromatik lainnya 

Kejang - Memanggil bantuan darurat 

- Pertahankan jalan napas 

- Lindungi donor dari cedera sampai 

bantuan datang 

Gejala Jantung - Hubungi bantuan darurat 

- Lakukan CPR 

(Cardiopulmonary Resuscitation) jika 

diperlukan 

(Whitlock, 2010) 

 

- Waspada gejala pra-syncope yang kemungkinan terjadi sebab  

adanya reaksi transfusi tunda (delayed reaction). 

- Mencegah perdarahan area flebotomi dengan mengangkat 

lengan tangan dan memberi  tekanan pada area ini .  

 

3.3 TRANSFUSI DARAH ALTERNATIF 

A. Donor Autologous 

Donor autologous merupakan pengambilan darah untuk 

ditransfusikan ke pendonor di lalu  hari. Hal ini berbeda dengan 

donor alogenik, yang pengambilan darahnya dilakukan untuk 

ditransfusikan kepada individu pada populasi umum. Donor darah 

      

 

autologus pra operasi mengacu pada teknik dimana sebelum operasi 

dilakukan pengambilan darah pada pasien dan disimpan pada jangka 

waktu tertentu, lalu  ditransfusikan kembali selama operasi. 

Metode ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain: donor darah 

berulang sebelum operasi mampu menstimulasi proliferasi sel pada 

sumsum tulang, menstimulasi regenerasi eritrosit, meningkatkan 

fungsi hematopoietic pada pasien sesudah  operasi, mempercepat 

pemulihan hematopoietic sesudah  operasi, kondusif untuk 

penyembuhan luka, serta mengurangi kemungkinan infeksi yang 

dipicu  oleh reaksi imunologi dari transfusi darah alogenik. 

 

B. Directed Donation (Penunjukan Pendonor) 

Directed Donation yaitu  seseorang, umumnya orangtua, 

anggota keluarga, maupun teman yang mendonorkan darahnya 

khusus bagi pasien sebelum jadwal transfusi darah. Directed donor 

tidak lebih aman daripada donor komunitas, dan juga harus dilakukan 

pemeriksaan untuk penyakit menular seperti umumnya pemeriksaan 

sebelum donor darah. Directed donor  bisa menjadi kurang aman jika 

seseorang merasakan tekanan dari keluarga atau teman untuk 

mendonorkan darahnya sebab  merasa tidak nyaman 

mengungkapkan informasi kesehatan penting yang akan 

membuatnya tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. 

 

C. Flebotomi Therapeutic 

Flebotomi terapeutik merupakan pengobatan khusus untuk 

kelainan darah di mana pemindahan eritrosit atau serum iron yaitu  

metode yang paling efisien untuk manajemen gejala dan komplikasi. 

Flebotomi terapeutik diindikasikan untuk pengobatan 

hemochromatosis, polycythemia vera, porphyria cutanea tarda, 

penyakit sel sabit, dan penyakit hati berlemak nonalkohol dengan 

hiperferritinemia. Selain itu, flebotomi dapat dianggap sebagai 

      

 

komponen dari pengobatan untuk pasien dengan kadar serum iron 

tinggi. Namun, penting untuk membuat keputusan perawatan 

berdasarkan kondisi setiap pasien dan pedoman yang relevan untuk 

menerapkan metode flebotomi therapeutic. 

 

D.  Therapeutic Apheresis 

Apheresis berarti "memindahkan" dan heme mengacu pada 

"darah". Pada hemapheresis artinya whole blood dipindahkan dari 

donor atau pasien dan dipisahkan menjadi beberapa komponen. Satu 

atau lebih komponen dipertahankan, dengan bagian yang tersisa 

digabungkan kembali dan dikembalikan kepada donor atau pasien. 

Teknologi ini memungkinkan untuk hanya memilih komponen yang 

dibutuhkan atau  otomatis memproduksi beberapa komponen. Sel 

darah, trombosit, plasma, dan/ atau granulosit dapat dikumpulkan 

menggunakan perangkat pengumpulan darah otomatis berdasarkan 

teknologi apheresis. Contoh alat therapeutic apheresis ada pada 

Gambar 3.1. Berikut ini merupakan daftar penyakit yang dilakukan 

pengobatan dengan apheresis terapeutik: 

• Kondisi hematologi/ onkologi 

• Paraproteinemia 

• Hiperleukositosis 

• Trombositemia 

• Thrombotic thrombocytopenic purpura/ hemolytic uremic 

syndrome 

• Penyakit sel sabit 

• Purpura pasca transfusi 

• Kondisi neurologi 

• Acute Guillain–Barré syndrome 

• Polineuropati inflamasi kronis 

• Myasthenia gravis 

• Cryoglobulinemia 

     

 

• Rapidly progressive glomerulonephritis associated with antibody 

to neutrophil cytoplasmic antigen 

• Hiperkolesterolemia familial tipe II homozigot 

• Refsum disease 

 

Therapeutic apheresis merupakan prosedur dimana darah 

pasien dialirkan melalui alat medis ekstrakorporeal yang 

memisahkan komponen darah untuk mengobati suatu penyakit. 

Therapeutic apheresis tidak termasuk pengambilan sel punca (stem 

cell) untuk digunakan dalam transplantasi sumsum tulang/ sel punca. 

Umumnya dilakukan di fasilitas rawat jalan dan prosesnya 

membutuhkan beberapa jam. Berikut ini yaitu  istilah umum yang 

mencakup semua prosedur berdasarkan apheresis: 

- Leukocytapheresis (LCP): prosedur di mana darah pasien atau 

donor dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan 

leukosit (misalnya: leukemia blast atau granulosit), 

mengumpulkan sel yang dipilih, dan mengembalikan sisa darah 

pasien atau donor darah dengan atau tanpa penambahan cairan 

pengganti, seperti larutan koloid dan/ atau kristaloid. 

- Platelet Apheresis: prosedur di mana darah donor dialirkan 

melalui perangkat medis yang memisahkan trombosit, 

mengumpulkan trombosit, dan mengembalikan sisa darah donor. 

Prosedur ini digunakan dalam persiapan komponen darah 

(misalnya: Trombosit apheresis). 

- Erythrocytapheresis: prosedur di mana darah pasien atau donor 

dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan eritrosit dari 

komponen darah lainnya. Eritrosit dikeluarkan dan diganti dengan 

kristaloid atau larutan koloid, bila perlu. 

- Plasmaferesis: Prosedur di mana darah pasien atau donor 

dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan plasma dari 

      


komponen darah lainnya dan plasma dikeluarkan (yaitu, kurang 

dari 15% dari total plasma. 

- Thrombocytapheresis: prosedur terapi di mana darah pasien 

dialirkan melalui alat kesehatan yang memisahkan trombosit, 

membuang trombosit, dan mengembalikan sisa darah pasien 

dengan atau tanpa penambahan cairan pengganti seperti larutan 

koloid dan / atau kristaloid. 

- Adsorptive Cytapheresis: Prosedur terapeutik di mana darah 

pasien dialirkan melalui perangkat medis, 

yang berisi kolom atau filter yang secara selektif mengabsorpsi 

monosit dan granulosit, memungkinkan 

leukosit yang tersisa dan komponen darah lainnya untuk 

dikembalikan ke pasien. 

- Extracorporeal Photopheresis (ECP): Prosedur terapeutik di mana 

buffy coat dipisahkan dari darah pasien, diperlakukan secara 

ekstrakorporeal dengan senyawa fotoaktif (misalnya, psoralens) 

dan diteruskan sinar ultraviolet A lalu  diinfuskan kembali ke 

pasien selama prosedur yang sama. 

- RBC Exchange: Prosedur terapeutik di mana darah pasien 

dialirkan melalui perangkat medis memisahkan sel darah merah 

dari komponen darah lainnya. Sel darah merah pasien diangkat 

dan diganti dengan donor sel darah merah dan larutan koloid. 

 

 

 

 

RANGKUMAN :  

   Darah merupakan cairan kompleks terdiri dari sel-sel darah 

(eritrosit, leukosit, trombosit) yang tersuspensi dalam cairan 

kekuningan yang disebut plasma. 

   Bentuk eritrosit tampak seperti cakram bikonkaf, memiliki  

diameter 7,2 mikron dan ada  sekitar 5 juta sel eritrosit per 

mm3 darah (5 x 1012/L). Eritrosit mengandung hemoglobin yang 

memiliki fungsi utama dalam membawa oksigen ke jaringan 

tubuh. 

   Leukosit merupakan sel yang memiliki inti yang terdiri dari 

granulosit dan agranulosit. Granulosit terdiri dari: neutrofil, 

      

 


eosinofil, dan basofil. sedang  agranulosit meliputi: limfosit dan 

monosit. Nilai normal jumlah leukosit yaitu  4000 - 11.000 

leukosit per mm3 (4,0 - 11,0 x 109/L) darah 

   Ukuran trombosit jauh lebih kecil daripada eritrosit dan leukosit. 

Nilai normal jumlah trombosit yaitu  150.000 - 500.000 per mm3 

(150 - 500 x 109/L) darah. Trombosit berperan penting dalam 

mekanisme pembekuan darah. 

   Proses screening donor meliputi tiga tahap , yaitu: pendaftaran, 

wawancara riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik. Hal yang 

harus diperhatikan untuk kriteria pendonor meliputi: registrasi, 

umur, donor darah sebelumnya, edukasi donor, persetujuan 

donor. 

   Reaksi negatif pendonor dapat terjadi pada saat proses screening, 

pengambilan darah, dan sesudah  selesai donor darah. Sebagian 

besar reaksi bersifat minor dan dapat segera diatasi oleh staf bank 

darah. Namun reaksi yang serius seperti kejang sampai dengan 

henti jantung dapat terjadi, meskipun jarang. 

   ada  beberapa transfusi darah alternatif, antara lain: donor 

autologous, directed donation, flebotomi therapeutic, dan 

therapeutic apheresis. 

 


TEKNOLOGI PENGOLAHAN DARAH 

 

 

 

    

Transfusi darah dalam bentuk Whole blood memberi  

manfaat yang hanya menguntungkan satu pasien. Oleh sebab  itu 

diperlukan teknologi pengolahan darah sehingga darah utuh (whole 

blood) dapat dibagi menjadi beberapa bagian atau komponen. 

Penggunaan komponen darah memaksimalkan penggunaan darah 

yang merupakan sumber daya yang terbatas namun berharga. 

Fraksinasi whole blood menjadi beberapa komponen memungkinkan 

pasien untuk menerima terapi paling efektif dengan produk yang 

lebih aman daripada whole blood. Pembagian whole blood menjadi 

beberapa komponen memberi  manfaat maksimal bagi banyak 

resipien, bukan hanya bagi satu pasien. 

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas 

Obat dan Makanan (BPOM) mengatur pengumpulan dan fraksinasi 

whole blood. Bank darah dan layanan transfusi yang melakukan 

pengambilan whole blood dan fraksinasi komponen darah harus 

mengikuti Good Manufacturing Practices (GMP) dan mematuhi 

pedoman BPOM. Prosedur pengumpulan awal, persiapan komponen, 

pelabelan, penyimpanan, dan distribusi semua komponen 

merupakan proses vital dalam bank darah. Pada bab ini akan 

membahas tentang komponen whole blood, metode persiapan, 

pelabelan, penyimpanan, dan penggunaan yang tepat dari setiap 

komponen darah. 

 

4.1 PREPARASI DONOR DARAH 

A. Kantong Darah 

Kantong penampung darah tersedia secara komersial dalam 

berbagai konfigurasi. Wadah darah ini harus tidak berwarna dan 

transparan untuk memungkinkan memeriksa isinya dan harus di 

tutup sedemikian rupa untuk menjaga segel kedap udara dan 

mencegah kontaminasi. Kantong darah bahannya tidak boleh 

      

mempengaruhi isinya pada saat penyimpanan dan penggunaan biasa 

(sehari-hari).  

Semua kantong darah memiliki bagian dalam yang steril, 

termasuk jarum dan semua tabung yang terpasang, dan mengandung 

larutan pengawet antikoagulan. Larutan pengawet antikoagulan 

bervariasi tergantung produsennya. Sistem pengumpulan darah yang 

ideal yaitu  sistem tertutup. Sistem tertutup terdiri dari kantong 

utama dan satu atau lebih kantong satelit. Kantong yang saling 

berhubungan memungkinkan pemindahan komponen dari kantong 

aslinya tanpa adaya paparan udara ke produk darah. Ini menjaga 

sterilitas komponen darah dan memungkinkan eritrosit 

mempertahankan tanggal kadaluwarsa dari whole blood. sedang  

pada sistem terbuka, prosesnya meningkatkan resiko paparan 

kontaminasi pada komponen darah dan perubahan tanggal 

kadaluwarsa komponen. Contoh kantong darah ada pada Gambar 

4.1. Berbagai jenis kantong darah dan komponennya ditunjukkan 

pada Tabel 4.1. 

 

 

B. Antikoagulan 

Antikoagulan dalam kantong darah (whole blood collection set) 

akan bercampur dengan darah donor selama proses pengambilan 

darah. Antikoagulan pada kantong darah akan mencegah darah 

menggumpal selama proses pengambilan darah. Antikoagulan utama 

yang digunakan yaitu  citrate-phosphate dextrose (CPD), citrate-

phosphate-2-dextrose (CP2D), dan citrate-phosphate-dextrose plus 

adenine (CPDA1). Komposisi masing-masing antikoagulan dijelaskan 


 

Semua antikoagulan mengandung sitrat, yang mengkelat 

(mengikat) kalsium dalam darah, sehingga menghambat langkah-

langkah yang bergantung pada kalsium dalam kaskade koagulasi. 

Antikoagulan juga mengandung natrium bifosfat yang menjaga pH 

komponen selama penyimpanan. Mempertahankan tingkat pH 

diperlukan untuk mempertahankan tingkat 2,3-difosfogliserat (2,3-

DPG) yang memadai. Eritrosit menyalurkan oksigen (O2) dari paru-

paru ke jaringan tubuh dengan menggunakan perbedaan afinitas 

untuk molekul O2. Di area dengan tekanan parsial tinggi seperti paru-

paru, afinitas eritrosit untuk O2 meningkat. Saat eritrosit berjalan ke 

jaringan dan tekanan parsial menurun, afinitas oksigen menurun dan 

molekul oksigen dilepaskan dari eritrosit ke jaringan. Jumlah 2,3-DPG 

dalam darah memodulasi keefektifan eritrosit untuk oksigen. 

Meskipun kadar 2,3-DPG menurun pada  2 minggu pertama 

penyimpanan, kadar eritrosit yang ditransfusikan akan beregenerasi 

dalam 12 hingga 24 jam sesudah  transfusi. Ringkasan tentang 

berbagai antikoagulan ada pada Tabel 4.2. Kantong darah dengan 63 

ml antikoagulan untuk menyimpan 450 ± 45 ml darah. sedang  

kantong darah dengan 70 ml antikoagulan untuk menyimpan 500 ± 

50 ml darah. 

 

Tabel 4.1 Berbagai Tipe Kantong Darah dan Komponennya pada  

      

 

  93 

 

   Sistem Tertutup 

Tipe Kantong 

Darah 

Jumlah Kantong 

Satelit 

Komponen 

Single 0 Whole blood 

Double 1 Eritrosit/ plasma 

Triple 2 Eritrosit/ platelet/ 

plasma atau eritrosit/ 

cryoprecipitate/ plasma 

Quadruple 3 Eritrosit/ platelet/ 

cryoprecipitate/ plasma 

(Quinley, 2011) 

 

C. Larutan Aditif 

Larutan aditif berfungsi untuk memperpanjang lama 

penyimpanan eritrosit. Larutan aditif mengandung saline, adenin, 

dan dekstrosa atau meningkatkan pembentukan ATP, dan zat minor 

lainnya yang meningkatkan viabilitas eritrosit dalam kantong darah. 

Tanggal kedaluwarsa eritrosit dapat diperpanjang menjadi 42 hari. 

Komposisi absolut dari larutan aditif bervariasi menurut produsen 

blood collection set. Larutan aditif ditambahkan ke eritrosit sesudah  

plasma dipisahkan/ dimasukkan ke dalam kantong darah satelit. 

Hematokrit terakhir dari eritrosit yang mengandung larutan aditif 

antara 55% dan 65% dibandingkan dengan eritrosit tanpa larutan 

aditif yang harus kurang dari 80%. Hematokrit dan viskositas yang 

menurun dari eritrosit aditif memfasilitasi peningkatan aliran darah 

selama transfusi. Larutan aditif harus ditambahkan ke eritrosit dalam 

waktu 72 jam sesudah  pengambilan darah atau sesuai petunjuk 

pabrik.  

 


 

4.2 KOMPONEN DONOR DARAH 

A. Whole Blood 

Penggunaan darah utuh (whole blood) untuk transfusi selama 

30 tahun terakhir sangat jarang. Hal ini terjadi sebab  adanya 

teknologi untuk mempersiapkan dan menyimpan setiap komponen 

darah secara terpisah demi memaksimalkan sifat spesifik 

terapeutiknya. Meskipun whole blood mengandung semua 

komponen seluler dan plasma darah, faktor koagulasi labil berkurang 

seiring waktu dan trombosit menjadi tidak berfungsi pada suhu 

penyimpanan 1oC hingga 6oC. Unit rata-rata whole blood yang 

dikumpulkan biasanya 450 atau 500 mL darah (± 10%) ditambah 

antikoagulan terukur yang sesuai. Indikasi klinis untuk whole blood 

sedikit dan transfusi whole blood harus disediakan untuk beberapa 

pasien yang membutuhkan penggantian volume dan kapasitas 

pengangkutan oksigen. Fresh whole blood yang telah diuji 

sepenuhnya dapat digunakan untuk transfusi pada neonatal. 

Pembagian unit whole blood menjadi beberapa komponen ada pada 

Gambar 4.2. 

 

B. Red Blood Cell (Eritrosit) 

Tiga komponen darah utama, yaitu eritrosit, trombosit, dan 

plasma. Ini dibuat dari whole blood melalui proses sentrifugasi 

      

 

 

diferensial untuk memisahkan berbagai komponen. Memvariasikan 

waktu putaran centrifus dan kecepatan putaran (rpm) menghasilkan 

komponen yang berbeda berdasarkan parameter hasil yang optimal 

dan kebutuhan produk pasien.  

sesudah  unit whole blood disentrifugasi, plasma dipisahkan dari 

eritrosit melalui port akses internal ke salah satu kantong satelit yang 

terpasang pada collection set. Penting untuk menggunakan sistem 

tertutup (closed system). Jika larutan aditif tidak digunakan, maka 

plasma harus tetap bersama eritrosit untuk memastikan hematokrit 

kurang dari 80%. Jika hematokrit dari eritrosit tanpa aditif lebih dari 

80%, maka suplai nutrisi dan pengawet yang ada kemungkinan tidak 

dapat mempertahankan eritrosit selama penyimpanan. Transfusi 

eritrosit diindikasikan untuk pasien yang membutuhkan massa 

eritrosit tambahan untuk kapasitas pembawa oksigen sebab  

kehilangan darah atau proses penyakit yang mengurangi jumlah 

eritrosit. Satu unit eritrosit umumnya akan meningkatkan hematokrit 

pasien yang tidak perdarahan sekitar 3% dan hemoglobin sekitar 1 

g/dL. Transfusi eritrosit diperlukan ketika hemoglobin menurun ke 

tingkat yang membutuhkan dukungan transfusi. Transfusi komponen 

lain yang sesuai dapat terjadi secara  

 

 

Gambar 4.2 (A). Persiapan Komponen dari Satu Unit Whole Blood 

Sentrifugasi Sederhana dan Pemisahan menjadi Plasma dan Packed 

Cells; (B) Pilihan konversi yang mungkin untuk Plasma dan Packed 

Cells (Whitlock, 2010) 

bersamaan. Komponen tambahan akan menggantikan faktor 

koagulasi untuk mencegah perdarahan tambahan atau eksaserbasi 

dari kondisi klinis lainnya. Komponen ini mungkin termasuk FFP  

(Fresh Frozen Plasma) dan/ atau trombosit. Kondisi yang mungkin 

memerlukan transfusi eritrosit, antara lain:  

   Anemia akut atau kronik 

   Trauma 

   Pembedahan 

   Karsinoma, limfoma, leukemia 

   Thalasemia; 

   Anemia sel sabit 

      

 

 

   Penyakit ginjal 

   Hemolytic Disease of the Fetus and Newborn (HDFN) 

 

C. Red Blood Cells Leukocytes Reduced 

Eritrosit sering dipersiapkan dengan metode untuk 

mengurangi leukosit atau massa leukosit. Beberapa alasan untuk 

membuang leukosit, yaitu:  

   Untuk mengurangi resiko reaksi transfusi demam non-hemolitik 

   Untuk mengurangi Human Leukocyte Antigen (HLA) atau 

granulocyte alloimmunization 

   Untuk meminimalkan transmisi penyakit menular seperti 

cytomegalovirus (CMV) 

   Untuk mengurangi jumlah reaksi transfusi yang merugikan 

terhadap simpanan darah dari enzim dan sitokin yang dilepaskan 

oleh leukosit saat mereka memburuk (deteriorate) dan pecah 

(fragment).  

Beberapa metode tersedia untuk mempersiapkan Red Blood 

Cells Leukocytes Reduced untuk transfusi. Leukosit dapat dipisahkan 

dari eritrosit di samping tempat tidur pasien melalui penggunaan 

filter reduksi leukosit khusus yang dipasang pada set transfusi. Satu 

kelemahan dari teknik ini yaitu  tidak memiliki mekanisme kendali 

mutu untuk mengevaluasi keefektifan filter. Teknik ini juga tidak 

mencegah semua reaksi merugikan dan aloimunisasi ke fragmen 

leukosit yang terakumulasi di unit eritrosit yang disimpan. The 

American Association of Blood Banks (AABB) mensyaratkan bahwa 

unit Red Blood Cells Leukocytes Reduced memiliki < 5 × 106 leukosit 

per unit. Idealnya, pengurangan leukosit harus dilakukan sebelum 

penyimpanan eritrosit. 

 

D. Red Blood Cell Washed 

      

 


 

Red blood cell washed dilakukan bagi pasien defisiensi IgA, 

ketika komponen seluler defisiensi IgA tidak tersedia, atau jika pasien 

mengalami beberapa reaksi alergi yang semakin buruk terhadap unit 

yang ditransfusikan. Washing Red blood cell tidak dianggap sebagai 

metode yang efektif untuk mencapai leukoreduced RBCs. Washed cell 

biasanya disiapkan dengan perangkat pencuci sel otomatis, meskipun 

bisa dibuat dengan proses sentrifugasi manual. Mesin pencuci sel 

otomatis menambahkan saline 0,9% ke eritrosit, menyentrifugasi 

produk, dan lalu  memisahkan supernatan plasma dan 

campuran saline ke dalam kantong limbah. Proses ini diulangi 

beberapa kali menggunakan 1 hingga 2 L larutan saline. sebab  

sistem kantong darah tertutup terganggu dan sebab  semua nutrisi 

antikoagulan dan plasma juga hilang, maka tanggal kadaluwarsa dari 

eritrosit yang sudah dicuci yaitu  24 jam dari saat sistem dibuka. 

Suhu penyimpanan tetap pada 1oC - 6oC. 

 

E. Red Blood Cell Frozen atau Red Blood Cell Deglycerolized 

Penyimpanan eritrosit pada suhu yang sangat rendah (pada 

−65 hingga −196oC) merupakan alternatif untuk penyimpanan cairan 

hipotermia (pada 4-6oC). Metode ini bertujuan untuk 

memperpanjang umur seluler dalam waktu lama melalui 

penghentian aktivitas biologis. Pembekuan, bagaimanapun, dikaitkan 

dengan kerusakan permanen pada sel-sel hidup, tergantung pada 

laju pendinginan, kristal es dapat dibentuk secara ekstraseluler (laju 

lambat) atau intraseluler (laju tinggi). Selain itu, sel yang melewati 

zona suhu menengah (kira-kira antara -10 hingga -60oC) dapat 

merusak permeabilitas membran. Akibatnya, aditif krioprotektif 

sangat penting, dengan gliserol nontoksik menjadi yang paling 

banyak digunakan untuk kriopreservasi eritrosit. Ini memasuki sel 

melalui transportasi yang difasilitasi dan membatasi pembentukan 

kristal es, efek zat terlarut dan dehidrasi. Konsentrasinya bervariasi 

      


 

sesuai dengan protokol pembekuan: pada tingkat pendinginan yang 

lambat, konsentrasi gliserol tinggi digunakan untuk melawan 

ketidakseimbangan osmotik, sedang  pada tingkat pendinginan 

tinggi gliserol dibutuhkan pada konsentrasi yang lebih rendah. 

ada  dua metode yang telah dikembangkan sesuai untuk 

penggunaan klinis, yaitu metode gliserol tinggi (HGM) dan metode 

gliserol rendah (LGM). 

Eritrosit dapat dibekukan untuk digunakan dilalu  hari 

dalam keadaan tertentu. Sel-sel tanpa larutan aditif ini harus 

dibekukan dalam waktu 6 hari sesudah  pengumpulan. Eritrosit dengan 

larutan aditif dapat dibekukan kapan saja sebelum tanggal 

kadaluwarsanya. Red Blood Cell Frozen disimpan pada suhu -65oC. 

Alasan utama pembekuan eritrosit yaitu  untuk keadaan transfusi 

khusus, seperti penggunaan autologous, dan untuk menyimpan unit 

yang sangat langka berdasarkan fenotipe spesifik. Eritrosit yang 

dibekukan memiliki tanggal kadaluwarsa 10 tahun. Proses 

membekukan dan lalu  mencairkan serta menghilangkan lemak 

eritrosit jika  akan digunakan pasien memakan waktu, mahal, dan 

kehilangan massa eritrosit yang berharga. sesudah  sel disiapkan untuk 

transfusi, proses sistem terbuka memicu  umur simpan yang 

pendek selama 24 jam, sehingga red blood cell frozen tidak praktis 

sebagai item persediaan rutin. 

Penyakit menular baru dapat ditambahkan sebagai tes donor. 

Hal ini penting dilakukan sebab  sampel serum atau plasma dari 

donor unit beku untuk pengujian di masa mendatang sebab unit ini 

ditempatkan dalam penyimpanan jangka panjang (hingga 10 tahun). 

Unit langka yang belum ada diuji untuk penanda penyakit menular 

yang baru. Pelabelan produk harus mencerminkan dengan jelas tes 

yang belum dilakukan. Sebuah perangkat telah disetujui FDA untuk 

pembekuan sistem tertutup dan degliserolisasi eritrosit dalam waktu 

6 hari sesudah  pengumpulan. Eritrosit bisa dibekukan selama 3 tahun. 

      

 

sebab  perangkat ini memproses eritrosit dalam sistem tertutup, 

eritrosit ini  tahan lama lebih dari 14 hari sesudah  pencairan. 

Red Blood Cell Deglycerolized merupakan produk yang dibuat 

saat frozen cells  dicairkan dan gliserol dihilangkan. Unit beku 

dicairkan pada 37oC. Prosesor eritrosit otomatis digunakan untuk 

memproses sel yang dicairkan. Pencucian ganda dengan larutan 

saline menurunkan osmolitas digunakan. Proses ini mengeluarkan 

gliserol dari sel dan sel disuspensi kembali dalam konsentrasi saline 

yang digunakan dalam pencucian akhir. Konsentrasi saline yang 

digunakan yaitu  12%; 1,6%; dan 0,9%. Ini merupakan sistem 

terbuka dan kadaluwarsa unit yaitu  24 jam sesudah  persiapan. 

 

F. Fresh Frozen Plasma (FFP) 

Ketika donor memberi  satu unit darah utuh (whole blood), 

darah ini  dipisahkan menjadi beberapa bagian komponen. 

Komponen utama yaitu  packed Red Blood Cells (pRBC), FFP, dan 

terkadang trombosit. FFP dapat dipisahkan menjadi kriopresipitat 

dan apa yang dikenal sebagai "cryo-poor plasma" produk yang jarang 

digunakan untuk sarana terapeutik. Plasma merupakan cairan, 

bagian darah non-seluler, mengandung air, elektrolit, dan protein. 

Protein dalam plasma termasuk faktor pembekuan utama dan 

antikoagulan intrinsik. Plasma dipisahkan dari whole blood sesudah  

donasi dan lalu  dibekukan. agar dianggap "fresh", plasma harus 

ditempatkan ke dalam freezer dalam waktu 8 jam sesudah  

pengumpulan dan disimpan pada suhu -18oC (dapat untuk 

penyimpanan selama 12 bulan) atau lebih rendah, jika tidak maka 

hanya plasma beku (produk lain yang jarang digunakan sebagai 

terapeutik). FFP dapat dibuat dengan memisahkan dari whole blood 

atau melalui plasmaferesis. 

Fresh Frozen Plasma mengandung mayoritas dari semua faktor 

koagulasi yang diketahui, namun  pada dasarnya tidak ada sel 

      


 

(misalnya eritrosit, leukosit atau trombosit). Selain faktor koagulasi, 

FFP juga mengandung sekitar 500 mg fibrinogen. Fibrinogen dalam 1 

unit FFP kira-kira sama dengan jumlah fibrinogen yang ditemukan 

dalam 2 unit kriopresipitat. Faktor pembekuan dan fibrinogen ini 

sangat penting untuk hemostasis normal. 

FFP diindikasikan untuk defisiensi faktor koagulasi dengan tes 

koagulasi abnormal ditandai adanya perdarahan aktif. FFP juga 

diindikasikan untuk pembedahan terencana atau prosedur invasif 

sebab  adanya tes koagulasi abnormal, untuk pembalikan warfarin 

yang dipicu  perdarahan aktif atau prosedur terencana ketika 

vitamin K tidak cukup untuk membalikkan efek warfarin, thrombotic 

thrombocytopenic purpura, dan congenital or acquired factor 

deficiency with no alternative therapy. Rekomendasi lain yang lebih 

spesifik untuk FFP berdasarkan tinjauan sistematis termasuk pasien 

trauma yang membutuhkan transfusi masif dan perdarahan 

intrakranial terkait warfarin. Kondisi yang memicu  defisiensi 

beberapa faktor koagulasi, mungkin memerlukan pemberian FFP 

termasuk penyakit hati dan disseminated intravascular coagulation 

(DIC). Transfusi FFP mungkin tidak dapat ditoleransi pada pasien 

dengan penyakit hati sebab  pasien kemungkinan tidak dapat 

mentolerir volume infus yang diperlukan untuk mencapai tingkat 

faktor koagulasi hemostatik yang memadai. 

 

G. Cryoprecipitated Antihemophilic Factor (CRYO) 

Faktor antihemofilik cryoprecipitated (CRYO) yaitu  produk 

yang dibuat dari plasma yang dikeluarkan dari eritrosit segera sesudah  

pengambilan darah. Ini yaitu  konsentrat dari Faktor Koagulasi VIII, I 

(Fibrinogen), Faktor von Willebrand (vWF), dan fibronektin. Produk 

dipersiapkan dengan menghilangkan plasma dari eritrosit dan 

membekukannya menjadi campuran cair (slushy mixture). Pada saat 

itu, hasil dari bahan yang terkonsentrasi di dasar plasma yaitu  

      

 

kriopresipitat. Plasma yang tersisa dibuang dan bahan kriopresipitat 

diberi label dan dibekukan. 

Kriopresipitat awalnya dikembangkan sebagai terapi untuk 

pasien dengan defisiensi faktor antihemofilik, atau hemofilia A, telah 

digunakan selama hampir 50 tahun. Namun kini kriopresipitat paling 

sering digunakan untuk mengisi kembali kadar fibrinogen pada 

pasien dengan acquired coagulopathy, seperti keadaan klinis dengan 

perdarahan termasuk operasi jantung, trauma, transplantasi hati, 

atau pendarahan obstetrik. Kriopresipitat merupakan produk 

gabungan yang tidak mengalami inaktivasi patogen, dan 

pemberiannya telah dikaitkan dengan sejumlah efek samping, 

terutama penularan patogen melalui darah dan cedera paru akut 

terkait transfusi. sebab  itu, bersamaan dengan ketersediaan sediaan 

fibrinogen alternatif, kriopresipitat telah ditarik dari penggunaan di 

sejumlah negara Eropa. Dibandingkan dengan plasma yang dibuat, 

kriopresipitat mengandung faktor koagulasi VIII dengan konsentrasi 

tinggi, faktor koagulasi XIII, dan fibrinogen. Kriopresipitat biasanya 

dilisensikan oleh otoritas regulasi untuk pengobatan 

hipofibrinogenaemia, dan direkomendasikan untuk suplementasi 

ketika kadar fibrinogen plasma turun di bawah 1 g/L. 

 

H. Platelet Concentrates (PC) 

Konsentrat trombosit dapat dibuat dari satu unit darah utuh 

(whole blood). Trombosit ini yaitu  trombosit donor "random" atau 

konsentrat trombosit. Trombosit donor tunggal ini harus 

menghasilkan minimal 5,5 × 1010 trombosit per unit. Umur 

penyimpanan stok trombosit tergantung pada antikoagulan. Tanggal 

kadaluwarsa biasanya lima hari sejak tanggal pengambilan. Unit 

tunggal dapat digabungkan agar menghasilkan platelet concentrates 

dengan volume yang lebih besar untuk ditransfusikan ke penerima 

dewasa. Proses penyatuan melibatkan penggabungan trombosit dari 

     

satu unit dalam satu set transfer terpisah menggunakan teknik 

aseptik. Proses penggabungan ini menciptakan sistem terbuka. 

Trombosit yang terkumpul disimpan pada suhu 20 sampai 24ºC 

sampai ditransfusikan dan harus ditransfusikan dalam waktu empat 

jam. 

Penggunaan pooled platelet dapat menurun sebab  tingkat 

kontaminasi bakteri pada platelet concentrates. sebab  trombosit 

disimpan pada suhu 20 hingga 24oC, bakteri yang masuk pada saat 

pengambilan lebih mungkin berkembang biak. Proses pengumpulan 

juga membahayakan volume gabungan trombosit yang 

meningkatkan kemungkinan bakteri masuk ke lingkungan pooled. 

Pooled trombosit masih dapat diberikan, namun produk pheresis 

trombosit dapat digunakan kapan saja jika memungkinkan. 

Trombosit juga dapat dikumpulkan dengan hemaferesis. 

Trombosit harus menghasilkan trombosit minimal 3 × 1011. Ini setara 

dengan lima hingga delapan unit trombosit yang dibuat dari darah 

utuh. Donor plateletpheresis dapat menyumbang dua kali seminggu 

hingga total 24 kali per tahun. Harus ada jeda waktu setidaknya 48 

jam diantara donasi. 

Trombosit yang diperoleh dengan pheresis dapat dicocokkan 

untuk HLA atau antigen trombosit lainnya pada penerima yang 

mungkin memiliki antibodi terhadap antigen spesifik pada 

permukaan trombosit. individu yang sering menerima transfusi 

trombosit dapat mengembangkan antibodi yang menurunkan 

kelangsungan hidup produk yang ditransfusikan. Pasien-pasien ini 

dikatakan refrakter terhadap trombosit yang ditransfusikan. Penting 

untuk menentukan antisipasi peningkatan jumlah trombosit pasca 

transfusi. 

 

I. Granulocyte Concentrate 

      

Konsentrat granulosit dibuat dengan hemaferesis. Komponen 

ini akan mengandung trombosit serta beberapa eritrosit. Konsentrat 

granulosit disimpan hingga 24 jam pada suhu 20 hingga 24oC, namun  

memburuk dengan cepat saat disimpan. Setidaknya 75% dari unit 

yang diuji harus mengandung minimal 1,0 × 1010 granulosit. 

Pencocokan silang diperlukan jika ada lebih dari 2 ml eritrosit. 

Transfusi konsentrat granulosit harus dilakukan melalui filter yang 

tidak akan menghilangkan granulosit. Komponen harus disinari 

sebab  resipien seringkali merupakan individu dengan imunosupresi. 

Penggunaan konsentrat granulosit jarang terjadi sebab  potensi 

reaksi, penggunaan antibiotik yang lebih baik, dan perkembangan zat 

stimulasi sumsum tulang seperti faktor pertumbuhan rekombinan. 

Indikasi untuk transfusi granulosit meliputi: neutropenia (<0,5 × 

109/L), infeksi, dan kurangnya respon terhadap antibiotik. 

 

 

 

4.3 PENYIMPANAN KOMPONEN DARAH 

Semua prosedur harus dilakukan oleh semua staf yang terlibat 

dengan penyimpanan komponen darah. Temperatur dan waktu 

penyimpanan berbagai komponen darah ada pada Tabel  4.3. 

Perawatan untuk penyimpanan komponen harus memenuhi kriteria, 

antara lain: 

   Temperatur lemari es, freezer, inkubator trombosit, waterbath, 

dan suhu ruangan harus terjaga. 

   Semua termometer yang dikalibrasi harus diperiksa terhadap 

termometer referensi. 

   Suhu harus selalu terekam setiap empat jam. 

 

 

 

RANGKUMAN : 

   Teknologi pengolahan darah mampu menjadikan darah utuh 

(whole blood) dibagi menjadi beberapa bagian atau komponen. 

   Fraksinasi whole blood menjadi beberapa komponen 

memungkinkan pasien untuk menerima terapi paling efektif 

dengan produk yang lebih aman daripada whole blood. 

   Semua kantong darah memiliki bagian dalam yang steril, termasuk 

jarum dan semua tabung yang terpasang, dan mengandung 

larutan pengawet antikoagulan. 

   Antikoagulan pada kantong darah akan mencegah darah 

menggumpal selama proses pengambilan darah. Antikoagulan 

utama yang digunakan yaitu  citrate-phosphate dextrose (CPD), 

citrate-phosphate-2-dextrose (CP2D), dan citrate-phosphate-

dextrose plus adenine (CPDA1). 

      

   Larutan aditif berfungsi untuk memperpanjang umur simpan 

eritrosit. Larutan aditif mengandung saline, adenin, dan dekstrosa 

atau meningkatkan pembentukan ATP, dan zat minor lainnya yang 

meningkatkan viabilitas eritrosit dalam kantong darah. 

   Donor fraksinasi komponen darah dapat berupa: eritrosit, Red 

Blood Cells Leukocytes Reduced, Red Blood Cell Washed, Red Blood 

Cell Frozen, Fresh Frozen Plasma (FFP), Cryoprecipitated 

Antihemophilic Factor (CRYO), Platelet Concentrates (PC), 

Granulocyte Concentrate. 

 

 

 

 

 

REAKSI TRANSFUSI DARAH 

 

 

 

5.1 DEFINISI DAN pemicu  REAKSI TRANSFUSI 

Reaksi transfusi didefinisikan sebagai efek samping yang 

terkait dengan transfusi whole blood atau salah satu komponennya. 

Reaksi ini dapat terjadi dengan tingkat keparahan dari ringan sampai 

      

 

dengan mengancam jiwa. Reaksi dapat terjadi selama transfusi 

(acute transfusion reactions/ reaksi transfusi akut) atau beberapa 

hari hingga beberapa minggu lalu  (delayed transfusion 

reactions/ reaksi transfusi tertunda) dan dapat bersifat imunologis 

atau non-imunologis.  

Reaksi mungkin sulit untuk didiagnosis sebab  dapat timbul 

dengan gejala yang tidak spesifik dan sering kali tumpang tindih. 

Tanda dan gejala yang paling umum termasuk demam, menggigil, 

urtikaria, dan gatal-gatal. Beberapa gejala hilang dengan sedikit atau 

tanpa pengobatan. Namun, gangguan pernapasan, demam tinggi, 

hipotensi, dan hemoglobinuria dapat menunjukkan reaksi yang lebih 

serius. Jenis reaksi transfusi meliputi: hemolitik akut (Hemolytic 

Transfusion Reactions/ HTRs), hemolitik tertunda, post transfusion 

purpura (PTP), demam non-hemolitik, anafilaksis, alergi sederhana, 

septic (kontaminasi bakteri), cedera paru akut terkait transfusi 

(Transfusion-Related Acute Lung Injury/ TRALI), dan kelebihan beban 

sirkulasi terkait transfusi (Transfusion-Associated Circulatory 

Overload/ TACO). Jika terjadi semua reaksi yang dicurigai maka harus 

segera menghentikan transfusi serta melaporkan bank darah dan 

dokter. 

Reaksi transfusi terjadi dalam frekuensi dari yang relatif umum 

(alergi ringan dan reaksi non-hemolitik demam), hingga jarang 

(anafilaksis, hemolitik akut, dan sepsis). Efek samping fatal yang 

dilaporkan paling sering terjadi yaitu  TRALI. sedang  efek 

samping jangka panjang atau lambat biasanya merupakan hasil dari 

penularan penyakit. Tingkat keparahan dan kejadian bervariasi 

tergantung pada jenis reaksi transfusi, prevalensi penyakit pada 

pendonor, dan tingkat perawatan lanjutan yang diperoleh pasien. 

sebab  kemajuan dalam sistem screening pendonor, pengujian yang 

lebih baik, dan sistem data otomatisasi, maka risiko dan kematian 

yang dipicu  oleh transfusi komponen darah terus menurun. 

      

 

5.2 REAKSI TRANSFUSI AKUT 

Reaksi transfusi yang dimediasi imunitas (immune-mediated) 

umumnya terjadi sebab  mismactch (ketidakcocokan) atau 

inkompatibilitas produk transfusi terhadap resipien. Mereka 

termasuk antibodi yang terjadi secara alami dalam penerima darah 

(seperti anti-A, anti-B yang biasanya bertanggung jawab untuk reaksi 

transfusi hemolitik akut) serta antibodi yang dibuat sebagai respons 

terhadap antigen asing (alloantibodi). Aloantibodi ini memicu  

banyak reaksi termasuk alergi ringan, demam non-hemolitik, 

hemolitik akut, dan anafilaksis. Antibodi yang ada dalam donor darah 

juga dapat memicu  reaksi dan dianggap terlibat dalam cedera 

paru terkait transfusi (TRALI). 

Patofisiolog reaksi transfusi akut, antara lain: 

   Alergi ringan: berkaitan dengan hipersensitivitas terhadap protein 

asing dalam produk donor. 

   Anafilaksis: Mirip dengan reaksi alergi ringan, namun 

mengakibatkan reaksi yang lebih parah. Terkadang hal ini dapat 

terjadi pada pasien dengan defisiensi IgA yang membuat 

aloantibodi melawan IgA dan lalu  menerima produk darah 

yang mengandung IgA. 

   Demam non-hemolitik: Umumnya diduga dipicu  oleh sitokin 

yang dilepaskan dari leukosit donor darah. 

   Septic: dipicu  oleh bakteri atau produk sampingan bakteri 

(seperti endotoksin) yang dapat mencemari darah. 

   Hemolytic Transfusion Reactions (Reaksi transfusi hemolitik akut/ 

HTRs): Dapat memicu  hemolisis intravaskular atau 

ekstravaskular, tergantung pada etiologi spesifik (pemicu nya). 

Reaksi yang dimediasi oleh kekebalan seringkali merupakan hasil 

dari antibodi penerima yang ada pada antigen donor darah. Reaksi 

non-imun mungkin terjadi, dan terjadi ketika eritrosit rusak 

      

 

 

sebelum transfusi (misalnya, oleh panas atau kondisi osmotik 

yang salah). 

   Transfusion-associated circulatory overload (TACO): Terjadi ketika 

volume komponen yang ditransfusikan memicu  

hipervolemia (kelebihan volume). 

   Transfusion-related acute lung injury (TRALI): Cedera paru akut 

dipicu  oleh antibodi dalam produk donor (antigen leukosit 

manusia atau antigen neutrofil manusia) yang bereaksi dengan 

antigen pada resipien. Sistem kekebalan penerima merespons dan 

memicu  pelepasan mediator yang memicu  edema 

paru. Kemungkinan pemicu nya yaitu  kondisi klinis yang 

mempengaruhi pasien, termasuk infeksi, pasca pembedahan, 

atau inflamasi. 

5.3 REAKSI TRANSFUSI TERTUNDA  

Reaksi non-imunologis biasanya dipicu  oleh efek fisik 

komponen darah atau penularan penyakit. Kontaminasi bakteri, 

misalnya, mengakibatkan reaksi transfusi septic dan dipicu  oleh 

kontaminasi bakteri dan / atau endotoksin pada produk darah. Hal ini 

dapat terjadi pada saat pengambilan darah sebab  desinfeksi lengan 

donor darah yang tidak tepat, adanya bakteri dalam sirkulasi donor 

pada saat pengambilan, atau sebab  penanganan produk yang tidak 

tepat sesudah  pengambilan. Reaksi transfusi juga dapat terjadi tidak 

terkait dengan faktor intrinsik darah. Contohnya termasuk kelebihan 

volume terkait transfusi (TACO) dan hipotermia. 

Patofisiolog reaksi transfusi tertunda, antara lain: 

   Reaksi transfusi hemolitik yang tertunda: Biasan

ya dipicu  
oleh respons anamnestik terhadap antigen asing yang 
sebelumnya terpajan pada pasien (umumnya dengan transfusi 
sebelumnya atau kehamilan). 
   Transfusion-associated graft-versus-host disease (TA-GVHD): 
Hasil dari pengikatan limfosit donor (biasanya ditemukan dalam 
      
 
produk darah seluler) ke dalam sumsum tulang penerima yang 
immunocompromised. Limfosit donor mengenali pasien sebagai 
benda asing dan bereaksi terhadap tubuh resipien. Sistem 
kekebalan pasien tidak dapat membersihkan limfosit asing. Ini 
jarang terjadi namun  seringkali berakibat fatal. 
 
A. Immediate HemolyticTransfusion Reactions (IHTR) 
Reaksi transfusi hemolitik segera yang terjadi sesudah  transfusi 
eritrosit yang tidak kompatibel. Eritrosit yang ditransfusikan dengan 
cepat dihancurkan dengan pelepasan hemoglobin dan stroma dari sel 
hemolisis ke dalam sirkulasi. pemicu  hemolisis biasanya sebab  
adanya alloantibodi yang terbentuk sebelumnya yang diproduksi 
sebagai hasil dari transfusi atau kehamilan sebelumnya. Umumnya ini 
dipicu  oleh antibodi ABO yang terjadi secara alami. Ketika 
eritrosit yang tidak kompatibel ditransfusikan, kompleks antigen-
antibodi terbentuk, yang mengaktifkan sistem komplemen, 
plasminogen, kinin, dan koagulasi. Hanya sejumlah kecil darah yang 
tidak sesuai yang perlu ditransfusikan untuk memicu tanda dan gejala 
IHTR yang akan datang. Tanda dan gejala pertama mungkin termasuk 
demam, menggigil, ketidaknyamanan umum, sakit punggung, 
hemoglobinuria, dispnea, hipotensi, syok, pendarahan yang tidak 
terkendali, nyeri di tempat infus, mual, kemerahan, pusing, nyeri 
substernal, hemoglobinemia, dan anemia. 
 
B. Delayed Hemolytic Transfusion Reaction (DHTR) 
Reaksi transfusi hemolitik yang tertunda (DHTR) yaitu  
penghancuran darah yang ditransfusi atau komponen darah sesudah  
suatu interval di mana penerima meningkatkan respons imun 
sekunder terhadap antigen asing. Reaksi ini mungkin terlihat 
bersamaan dengan reaksi transfusi serologi yang tertunda (DSTR) di 
mana eritrosit yang menyebar menjadi peka oleh antibodi yang baru 
      
 
terbentuk tanpa hemolisis klinis. Berbagai alloantibodi telah terlibat 
sebagai pemicu  DHTR. 
  
C. Febrile Non-HemolyticTransfusion Reactions (FNHTRs) 
Reaksi transfusi non-hemolitik demam (FNHTRs) yaitu  efek 
samping yang umum terjadi sesudah  transfusi darah dan komponen 
darah. Sebagian besar reaksinya ringan, namun dapat pula 
mengancam nyawa sebab  kemungkinan syok anafilaksis yang parah. 
Reaksi ini terjadi pada sekitar 0,5% dari darah non-leukosit yang 
direduksi darah dan transfusi komponen darah, dan pasien dengan 
riwayat FNHTR memiliki sekitar 15% risiko mengalami keadaan ini 
lagi. AFNHTR terjadi pada sekitar 3% hingga 7% pasien yang 
menerima transfusi eritrosit dan pada 20% hingga 30% pasien yang 
menerima konsentrat trombosit (PC). Reaksi ini yaitu  jenis reaksi 
transfusi yang paling umum dan dipicu oleh adanya leukoagglutinin 
muncul di plasma resipien. Aloimunisasi biasanya akibat pajanan 
antigen melalui transfusi sebelumnya, transplantasi jaringan, atau 
kehamilan. 
 

 
 
D. Allergic Transfusion Reactions 
Reaksi akut terhadap konstituen plasma dapat diklasifikasikan 
sebagai alergi, anafilaktoid, atau anafilaksis. Reaksi alergi terhadap 
komponen yang tidak diketahui dalam darah donor sering terjadi, 
biasanya sebab  alergen dalam plasma donor atau, lebih jarang, 
antibodi dari donor alergi. Antibodi IgE menempel pada sel mast dan 
basofil, yang memicu  pelepasan histamin dan vasoaktif amina. 
Reaksi biasanya ringan dengan urtikaria, edema, pusing sesekali, dan 
sakit kepala selama atau segera sesudah  transfusi. Lebih jarang, 
dispnea, mengi (nafas bunyi), dan inkontinensia dapat terjadi, yang 
menunjukkan kejang otot polos secara umum. Jarang dapat terjadi 
anafilaksis.Pada pasien dengan riwayat alergi atau reaksi alergi 
transfusi, antihistamin dapat diberikan secara profilaksis sebelum 
atau pada awal transfusi. Obat tidak boleh dicampur dengan darah. 
Jika terjadi reaksi alergi, transfusi dihentikan dan antihistamin 
diberikan untuk mengendalikan kasus ringan. Untuk reaksi yang lebih 
parah, epinefrin harus diberikan. Kortikosteroid terkadang 
     
 
diperlukan, dan investigasi reaksi transfusi dimulai. Transfusi lebih 
lanjut sebaiknya tidak dilakukan sampai pemeriksaan selesai. Pada 
reaksi yang parah, harus diberikan deglycerolized frozen red blood 
cells. 
 
E. Anaphylactic Transfusion Reaction 
Reaksi anafilaksis merupakan kejadian yang langka, yang 
terjadi  pada pasien yang kekurangan IgA dan telah mengembangkan 
antibodi anti-IgA. Produksi antibodi IgA dapat mengikuti imunisasi 
dari transfusi atau kehamilan sebelumnya, dan beberapa pasien 
mungkin memiliki antibodi tanpa paparan yang diketahui 
sebelumnya. Defisiensi IgA merupakan yang paling umum dari semua 
defisiensi selektif imunoglobulin serum. Reaksi transfusi anafilaksis 
IgA diperkirakan terjadi pada 1 dari 20.000 hingga 47.000 transfusi 
darah. Tanda dan gejala reaksi ini dramatis dan cepat pada awalnya 
dan muncul tiba-tiba sesudah  terpapar protein IgA seringkali sebelum 
10mL plasma diinfuskan. Gejala mungkin termasuk mual, kram perut, 
muntah, dan diare. Hipertensi transien dapat diikuti oleh hipotensi, 
syok, dan kehilangan kesadaran. Tidak adanya demam membedakan 
reaksi anafilaksis dari reaksi langsung lainnya. 
 
F. Noncardiogenic Pulmonary Reaction 
Reaksi paru nonkardiogenik juga dikenal sebagai cedera paru 
akut terkait transfusi (TRALI) yaitu  komplikasi terapi transfusi yang 
jarang namun  mengancam jiwa. Secara klinis mirip dengan sindrom 
gangguan pernapasan dewasa (adult respiratory distress syndrome/ 
ARDS) namun  dengan prognosis yang jauh lebih baik. Tingkat kematian 
yang telah dilaporkan sebanyak 5% sampai 10%, sedang  ARDS 
mencapai 50% sampai 60%. Reaksi biasanya dimulai dalam 6 jam 
sesudah  peristiwa transfusi dan ditandai dengan edema paru yang 
parah, hipoksemia berat, hipotensi, menggigil, dan demam. 
      

Kardiogenik dan pemicu  lain dari gangguan pernapasan harus 
disingkirkan. Dalam kebanyakan kasus, TRALI membaik secara klinis 
dalam 48 hingga 96 jam sesudah  onset. Kadang-kadang muncul 
sebagai komplikasi transfusi yang tidak diketahui. Hal ini dapat 
memicu  kesalahan diagnosis akibat kelebihan beban sirkulasi, 
dan menghasilkan terapi yang tidak tepat. Ini telah dikaitkan dengan 
berbagai jenis transfusi komponen darah seperti wholeblood, 
eritrosit, platelet concentrates (PC), dan granulosit, namun  tidak 
dengan turunan plasma. Produk imunoglobulin untuk penggunaan 
intravena belum pernah dilaporkan memicu  TRALI. Antibodi 
granulosit dan/ atau HLA, yang ada  dalam darah donor, paling 
sering dianggap sebagai pemicu  TRALI. Alloimunisasi terhadap 
antigen granulosit terlihat pada sekitar 3% wanita hamil, pada 7,7% 
donor wanita, dan hingga 78% penerima transfusi granulosit. 
 
G. Transfusion-Associated Graft-Versus-Host Disease (TA-GVHD) 
Pasien yang mengalami imunosupresi berat, seperti pasien 
yang menjalani kemoterapi antikanker intensif, berisiko mengalami 
engraftment (peningkatan leukosit) dan GVHD yang tidak disengaja 
ketika mereka menjalani transfusi dengan komponen darah seluler, 
suatu kondisi yang dikenal sebagai TA-GVHD. Untuk mencegah 
komplikasi ini, komponen darah harus diradiasi sebelum transfusi, 
meskipun dosis iradiasi minimum yang diperlukan tidak pasti. 
Penyakit graft-versus-host biasanya dipicu  oleh pencangkokan 
limfosit imunokompeten dari transplantasi sumsum tulang ke pasien 
yang mengalami gangguan sistem imun. Namun, bahkan sejumlah 
kecil limfosit dalam darah atau transfusi komponen darah dapat 
membelah secara spontan dan memicu  GVHD pada penerima 
imunosupresi. Pencegahan yaitu  dengan penyinaran semua produk 
darah yang ditujukan untuk transfusi ke pasien ini . 
 
    
 
H. Alloimmunization 
Refraktori trombosit yang meningkat dari alloimunisasi HLA 
merupakan komplikasi serius dari terapi transfusi. Walaupun 
transfusi efektif dalam mencegah morbiditas sel sabit, 
penggunaannya dipersulit oleh tingginya insiden aloimunisasi 
eritrosit dan komplikasi terkait transfusi. Risiko aloimunisasi terus 
meningkat dengan pajanan eritrosit, sehingga 60% orang dewasa 
yang ditransfusikan secara kronis menjadi aloimunisasi. Lebih lanjut, 
lebih dari separuh pasien ini memiliki antibodi terhadap lebih dari 1 
antigen, yang membuatnya sulit untuk mendapatkan darah yang 
kompatibel, dan mengakibatkan DHTR dan kejadian yang terkadang 
mengancam nyawa. Data awal menunjukkan bahwa aloimunisasi 
juga meningkatkan laju pembentukan autoantibodi eritrosit pada 
penyakit sel sabit (SCD). Mekanisme yang mendasari peningkatan 
kejadian aloimunisasi pada pasien ini mungkin multifaktorial, namun  
kurangnya kompatibilitas fenotipik antara darah donor dan resipien 
jelas merupakan faktor utama. 
 
I. Immunosuppression 
Transfusi darah dapat menekan sistem imun resipien dan 
menghasilkan risiko transfusi yang disebut imunomodulasi. Risiko ini 
tampaknya sangat terkait dengan adanya leukosit donor dalam 
produk yang ditransfusikan. Imunosupresi dapat memicu  
kejadian yang mengancam jiwa, seperti kegagalan multi organ, 
peningkatan risiko infeksi sesudah  operasi, dan/ atau berkurangnya 
kemungkinan penyembuhan pada pasien dengan keganasan 
tertentu. Efek lain dari imunosupresi termasuk penurunan tingkat 
penolakan allograft (cangkok jaringan yang asal jaringannya diambil 
dari individu satu ke individu lain yang berbeda konstitusi 
genetikanya namun  dalam satu spesies), penurunan kejadian aborsi 
spontan berulang, dan penurunan angka kekambuhan penyakit 
      
 
 
Crohn. Imunosupresi terkait transfusi dapat memicu  
peningkatan insiden infeksi pada pasien yang ditransfusikan pasca 
trauma dan pembedahan. Studi klinis telah menunjukkan bahwa 
pengurangan leukosit dengan filtrasi komponen darah dapat 
mengurangi transfusi terkait imunosupresi dan menurunkan tingkat 
infeksi pasca operasi. Donor darah autologus pra operasi biasanya 
digunakan untuk mengurangi pajanan terhadap transfusi alogenik di 
antara pasien yang menjalani operasi elektif, dengan tujuan 
membatasi terjadinya penularan infeksi virus melalui komponen 
darah dan mengurangi risiko aloimunisasi dan imunosupresi. 
 
J. Post Transfusion Purpura (PTP) 
Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi transfusi yang 
jarang terjadi dan memicu  trombositopenia secara mendadak 
yang berkembang 5 hingga 10 hari sesudah  transfusi whole blood, 
RBC, FFP, atau PCs. Pasien yang mengalami komplikasi ini telah 
mengembangkan antibodi anti-platelet pada masa kehamilan atau 
transfusi sebelumnya. Transfusi selanjutnya memicu penghancuran 
yang dimediasi imunitas trombosit pasien sendiri yang 
mengakibatkan trombositopenia yang parah di mana tingkat 
trombosit sering turun menjadi <10.000/ μl. Purpura pasca transfusi 
bermanifestasi pada orang dewasa, terutama wanita, dengan 
perdarahan selaput lendir, epistaksis, perdarahan gastrointestinal, 
dan perdarahan dari saluran kemih. Sembilan persen pasien 
mengalami perdarahan intra kranial. Pemulihan platelet spontan 
terjadi dalam 2 minggu. Untuk sementara, pasien dapat diobati 
dengan kortikosteroid, pertukaran plasma, imunoglobulin intravena 
dosis tinggi, dan transfusi dengan P1A1 negative platelets. 

RANGKUMAN : 
   Reaksi transfusi dapat terjadi selama transfusi (acute transfusion 
reactions/ reaksi transfusi akut) atau beberapa hari hingga 
beberapa minggu lalu  (delayed transfusion reactions/ reaksi 
transfusi tertunda) dan dapat bersifat imunologis atau non-
imunologis. 
   Reaksi transfusi terjadi dalam frekuensi dari yang relatif umum 
(alergi ringan dan reaksi non-hemolitik demam), hingga jarang 
(anafilaksis, hemolitik akut, dan sepsis). Efek samping fatal yang 
dilaporkan paling sering terjadi yaitu  TRALI. sedang  efek 
samping jangka panjang atau lambat biasanya merupakan hasil 
dari penularan penyakit. 
   Jenis reaksi transfusi meliputi: hemolitik akut (Hemolytic 
Transfusion Reactions/ HTRs), hemolitik tertunda, post 
transfusion purpura (PTP), demam non-hemolitik, anafilaksis, 
alergi sederhana, septic (kontaminasi bakteri), cedera paru akut 
terkait transfusi (Transfusion-Related Acute Lung Injury/ TRALI), 
dan kelebihan beban sirkulasi terkait transfusi (Transfusion-
Associated Circulatory Overload/ TACO).