sebagian
besardapat dicegah. Jarang ditemukannya kasus HDN yang
dipicu oleh imunisasi Kell cenderung mengakibatkan anemia
pada janin yang parah sebab prekursor eritrosit janin merupakan
target anti-Kell ibu, sehingga menekan produksi eritrosit janin.
A. Sejarah Golongan Darah Kell
Sistem golongan darah Kell ditemukan pada tahun 1946.
Namanya berasal dari Nyonya Kelleher, seorang pasien yang memiliki
antibodi anti-Kell dan mengakibatkan penyakit hemolitik pada
anaknya yang baru lahir (anak ini memiliki eritrosit dengan
antigen K yang diikat oleh anti-K pada serum ibu). Hingga saat ini,
diketahui ada total 25 antigen Kell yang ditemukan dan memiliki
frekuensi yang berbeda pada populasi yang berbeda. Namun antigen
K original tetap sangat penting dalam transfusi darah dan HDN.
B. Antigen Kell
Antigen sistem Kell terletak pada glikoprotein membran
eritrosit yaitu N-glycosylated.Kell merupakan sistem kompleks yang
sampai saat ini terdiri dari 24 antigen. ada 5 set alel yang
mengekspresikan antigen dengan frekuensi tinggi dan rendah serta
sekitar 14 antigen independen lainnya. Pada Tabel 2.12 dapat dilihat
fenotip dan frekuensi sistem Kell secara umum. Antigen Kell antigen
menunjukkan variasi pada populasi yang berbeda. Antigen K terjadi
pada 9% kulit putih namun hanya 2% kulit hitam. Antigen Kpa memiliki
frekuensi 2% pada orang kulit putih namun jarang pada orang kulit
hitam. ada Antigen Kpc 0,2% di Jepang dan jarang pada antigen
lain. Antigen Jsa dapat terjadi pada 20% orang kulit hitam namun
jarang pada orang kulit putih. Antigen Ula yaitu antigen dengan
frekuensi rendah, namun ditemukan pada 2,6% orang Finlandia dan
0,46% orang Jepang. Antigen lainnya merupakan insiden tinggi atau
rendah. Antigen Ku mewakili antigen "total Kell" dan individu yang
kekurangan Ku dianggap Knull.
C. Antibodi Kell
Antigen K merupakan antigen golongan darah paling
imunogenik sesudah ABO dan Rh, yang memicu penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir dan HTRs segera dan tertunda.
Antibodi umumnya IgG, terutama IgG1. Pasien dengan antibodi
terhadap sistem golongan darah Kell harus menerima darah antigen-
negatif.
Adanya anti-K tampaknya tidak seberapa parah dalam kasus
HDFN dibandingkan anti-D. Antigen K muncul pada eritrosit janin
lebih awal daripada protein Rh. Akibatnya, anti-K memfasilitasi
fagositosis pada tahap lebih awal, sebelum sel menghasilkan
hemoglobin. Anemia parah dapat terjadi sebab anti-K memicu
penekanan eritropoiesis daripada mendestruksi imunitas dengan
anti-D.
Antibodi terhadap Kpa, Kpb, Kpc, Jsa, dan Jsb juga ditemukan dan
dalam kasus HDFN dan HTR. Ras harus dipertimbangkan ketika
mengidentifikasi antibodi. Antigen Kpahanya ditemukan pada ras
kulit putih dan Kpc hanya ditemukan pada orang Asia. Baik Kpa dan
Kpc merupakan antigen dengan insiden rendah, sehingga mayoritas
individu yaitu Kp (a-b+c-). Antigen Jsa lebih umum pada orang kulit
hitam sedang antigen Kpa pada orang kulit putih atau Kpc pada
orang Asia.
Individu yang kekurangan antigen Kell yang diimunisasi
untuk menghasilkan antibodi yang disebut anti-Ku (K untuk Kell dan
u untuk universal). Selain itu, serum mereka mungkin mengandung
antibodi untuk antigen Kell dengan insiden tinggi lainnya.
2.5 GOLONGAN DARAH DUFFY
Glikoprotein Duffy merupakan reseptor untuk bahan kimia
yang disekresikan oleh sel darah selama inflamasi, serta reseptor
untuk Plasmodium vivax, yaitu parasit yang menyerang eritrosit dan
memicu malaria. Eritrosit yang tidak memiliki antigen Duffy
relatif resisten terhadap invasi oleh P. vivax. Ini mempengaruhi
variasi golongan darah Duffy yang tampak pada populasi dimana
malaria umum terjadi. Antibodi yang terbentuk melawan antigen
Duffy merupakan pemicu dari reaksi transfusi dan penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir.
A. Sejarah Golongan Darah Duffy
Golongan darah Duffy ditemukan pada tahun 1950. Nama
Duffy berasal dari Tn. Duffy, nama pasien hemofilia yang telah
menerima banyak transfusi darah, dan orang pertama yang diketahui
menghasilkan anti-Fya. Setahun lalu , anti-Fyb ditemukan pada
seorang wanita yang memiliki beberapa anak. Antigen Duffy yang
tersisa (FY3, FY4, FY5, dan FY6) ditemukan 20 tahun lalu , dan
hanya FY3 yang tampak signifikan secara klinis.
Frekuensi fenotip Duffy bervariasi dalam populasi yang
berbeda. Fenotip Duffy null, Fy (ab-), jarang ditemukan pada populasi
Kaukasia dan Asia, namun paling umum di ditemukan pada kulit
hitam,terjadi pada lebih dari 2/3 populasi kulit hitam. Variasi rasial
dalam distribusi antigen Duffy merupakan hasil dari tekanan seleksi
positif, dimana tidak adanya antigen Duffy pada eritrosit
memicu ertirosit lebih tahan terhadap invasi oleh parasit
malaria.
ada 4 jenis spesies Plasmodium sebagai pemicu
malaria pada manusia, P. falciparum dapat memicu sebagian
besar kasus yang berakibat fatal. Namun di Asia dan Amerika, malaria
umumnya dipicu oleh P. vivax. Untuk memicu penyakit, P.
vivax harus memasukkan eritrosit manusia dengan cara mengikat
domain ekstraseluler N-terminal glikoprotein Duffy melalui region
rich sistein dari Duffy binding protein (DBP). Individu dengan fenotip
Duffy null tidak mengekspresikan protein Duffy pada eritrosit mereka
sehingga kebal terhadap infeksi P. vivax. Menariknya, fenotip Fy (a-
b-) umumnya ada di daerah dengan sedikit kasus malaria P.
vivax. Di Afrika Barat, ada frekuensi tinggi fenotip Fy (a-b-) dan
rendahnya insiden malaria akibat P. vivax. Ini dipicu sebab pra-
eksistensi frekuensi tinggi fenotip Fy (a-b-) mencegah malaria P. vivax
menjadi endemik di Afrika Barat.
B. Antigen Duffy
Antigen Duffy merupakan glikoprotein dan bagian integral dari
membran eritrosit. Glikoprotein inijuga diekspresikan pada sel non
erythroid termasuk endotelium, otak, usus besar, paru-paru, limpa,
ginjal, tiroid,dan timus. Glikoprotein terkait dengan family
reseptor IL-8 dan berfungsi sebagai reseptor eritrosit
untuk kemokin proinflamasi. Kemokin berperan utama dalam
inflamasi serta infeksi malaria. Antigen Duffy berfungsi sebagai
anggota superfamily reseptor kemokin serta reseptor untuk
parasit malaria manusia, yaitu Plasmodium vivax.
Glikoprotein Duffy terdiri dari 7 domain spanning
transmembran dengan intraseluler dan loop ekstraseluler.
Glikoprotein memiliki domain terminal N eksoseluler
dan domain terminal C endoseluler. Dua antigen utama, yaitu Fya dan
Fyb, diwariskan sesuai metode Mendel dan dibedakan oleh single
kodon. Ada 3 genotip yang mungkin, antara lain: FyaFya, Fya-
Fyb, dan FybFyb. Frekuensi fenotip ada pada Tabel 2.14. ada
frekuensi fenotip yang berbeda antara populasi Kaukasia dan kulit
hitam.
Tabel 2.14 Persentase Frekuensi Fenotip dari Antigen Duffy
Fenotip Kaukasian Kulit Hitam
Fy(a+b−) 17 9
Fy(a−b+) 34 22
Fy(a+b+) 49 1
Fy(a−b−) Jarang >68
(Whitlock, 2010)
C. Antibodi Duffy
Karakteristik antibodi ini merupakan IgG, AHG antibodi reaktif
yang telah distimulasi secara aktif melalui paparan antigen langsung.
Antibodi Duffy berupa IgG dan mampu memicu Penyakit
Hemolitik Janin dan Bayi Baru Lahir dan reaksi transfusi hemolitik.
2.6 GOLONGAN DARAH KIDD
Glikoprotein Kidd (JK) merupakan transporter urea eritrosit.
Terletak di membran eritrosit untukmengangkut urea secara cepat ke
dalam dan keluar eritrosit, menjaga stabilitas osmotik dan proses
pembentukan eritrosit. Glikoprotein Kidd juga diekspresikan dalam
ginjal, sehingga memungkinkan ginjal untuk memenuhi kebutuhan
urea yang tinggi yang diperlukan untuk menghasilkan urin pekat.
Orang-orang yang tidak memproduksi glikoprotein Kidd cenderung
tidak mampu untuk memekatkan urin secara maksimal, namun
mereka sehat dan eritrositnya memiliki bentuk dan masa hidup
normal.
Antibodi dengan target antigen Kidd merupakan pemicu
signifikan dari reaksi transfusi hemolitik yang tertunda.
Antibodi anti-Kidd juga merupakan pemicu penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir (HDN), tingkat keparahan penyakit bervariasi
namun cenderung bersifat ringan.
A. Sejarah Golongan Darah Kidd
Pada tahun 1951, seorang pasien bernama Nyonya Kidd
diketahui memproduksi antibodi yang melawan antigen eritrosit
yang tidak diketahui selama kehamilannya. Sehingga antibodi ibu
ini memicu penyakit hemolitik yang fatal pada bayinya
yang baru lahir. Protein itu diberi nama Jka dan merupakan antigen
pertama yang ditemukan dalam sistem golongan darah Kidd. Sejak
itu, dua antigen lain yaitu Jkb dan Jk3 juga ditemukan. Pada tahun
1959, contoh pertama dari fenotipe nol, yaitu, Jk(a-b-) ditemukan
pada seorang wanita mengalami jaundice (penyakit kuning) sesudah
transfusi darah. Serumnya ditemukan mengandung antibodi yang
mengenali Jka dan Jkb. Antibodi ini lalu dinamakani anti-Jk3.
B. Antigen dan Antibodi Kidd
Antigen Jka dan Jkb bertanggungjawab terhadap kesamaan
fenotip. Fenotip dan frekuensi golongan darah Kidd ada pada Tabel
2.15.
Pembentukan antibodi Kidd distimulasi oleh kehamilan dan
transfusi darah, meskipun antibodi ini tidak terlalu bersifat
imunogenik. Anti-Jka sering ditemukan dengan spesifisitas lain,
namun anti-Jkb umummnya ditemukan dengan antibodi lain.
Keduanya bereaksi lemah sebab merupakan antibodi IgG yang
kadarnya sedikit dalam darah. Reaktivitas dapat ditingkatkan dengan
enzim. Antibodi Kidd dikenal melemah dari waktu ke waktu dan
bahkan menjadi tidak terdeteksi. Antibodi kemungkinan tidak
ditemukan pada saat dilakukan pengujian pretransfusi darah.
Meskipun demikian, antibodi ini dapat mengakibatkan HTR
tertunda yang parah. Pasien yang membutuhkan transfusi harus
menerima darah antigen negatif. Anti-Jka, anti-Jkb, dan anti-Jk3 dapat
memicu HDN, namun biasanya ringan walaupun merupakan
IgG, mengikat komplemen, dan antigennya berkembang dengan baik
pada sel-sel janin.
2.7 GOLONGAN DARAH MNS
Antigen golongan darah MNS, membawa protein yang
mengandung gula yang disebut glikophorin. Ini terletak di membran
eritrosit. Salah satu ujung glikophorin melekat pada sel di bawahnya,
dan ujung yang lain menahan gula dan menentukan tipe golongan
darah MNS seseorang.
A. Antigen Golongan Darah MNS
Sistem Golongan Darah MNS terdiri dari lebih dari 40 antigen.
Yang paling umum antara lain: M, N, S, s, dan U. Frekuensi antigen
MNS ada pada Tabel 2.16. Dua gen yang mengkode pasangan gen,
M/N dan S/s, terletak pada kromosom 4. Terdiri dari 2 gen, yaitu
GYPA dan GYPB, kode untuk glikophorin A (GPA) dan glikophorin B
(GPB). Kode GPA untuk antigen M dan N, dan kode GPB untuk antigen
S dan s. Gen-gen itu terletak berdekatan dan diwariskan sebagai
haplotype daripada independen. Kemungkinan haplotypes yaitu
Ms, MS, Ns, dan NS. Haplotype yang paling sering diwariskan yaitu
Ns. Mewarisi M atau N dalam keadaan homozigot meningkatkan
kekuatan ekspresi antigenik.
B. Antibodi Golongan Darah MNS
Antibodi terhadap antigen MN paling sering merupakan
antibodi yang bereaksi pada suhu dingin dari jenis IgM. Antibodi ini
dapat terjadi secara non-stimulasi eritrosit maupun distimulasi oleh
paparan (exposure). Anti-M umumnya berupa antibodi yang secara
klinis tidak signifikan dan jarang terlibat dalam HDFN. Anti-N miliki
karakteristik yang identik dengan anti-M. Ditemukan lebih jarang
daripada anti-M. Antibodi anti-M dan anti-N bersifat non-reaktif
dalam enzim. Sebaliknya, antibodi terhadap antigen Ss dan U paling
sering bereaksi pada suhu 37°C dan pada tahap pengujian AHG.
Antibodi ini berupa IgG yang secara klinis signifikan dan dapat
memicu HDFN dan menurunkan kelangsungan hidup eritrosit.
sedang anti-U jarang ditemukan. Karakteristik antibodi MN ada
pada Tabel 2.17.
RANGKUMAN :
Sistem golongan darah dan antibodi merupakan dasar untuk
pemeriksaan pra transfusi darah.
Sistem ABO paling penting dalam bidang transfusi, sebab
transfusi sistem ABO yang inkompatibel akan mengakibatkan
gejala reaksi transfusi hemolitik dan mengakibatkan koagulasi
intravaskular diseminata, gagal ginjal, dan kematian.
Antigen ABO terletak di permukaan eritrosit. Antigen ABO juga
ditemukan pada limfosit, trombosit, organ, sel endotel, dan sel
epitel.
Individu Oh Bombay memiliki antibodi anti-H, anti-A dan anti-
B yang kuat di dalam serumnya. Sehingga mereka hanya bisa
menerima transfusi hanya dengan golongan darah Oh.
Individu yang memiliki antigen ABH terlarut (SeSe atau Sese)
dalam cairan sekresi tubuhnya disebut sekretor. sedang
individu yang tidak memiliki antigen A atau B di cairan sekresi
tubuhnya (sese) disebut non sekretor.
Sistem Rhesus telah menjadi golongan darah terpenting kedua
sesudah ABO di bidang transfusi darah. Sistem Rhesus sangat
penting dalam bidang obstetri, sebab menjadi pemicu utama
penyakit hemolitik pada bayi baru lahir atau Hemolytic Disease
of the Newborn (HDN).
ada 33 sistem golongan darah lain selain ABO dan Rhesus
yang memiliki relevansi klinis dan biologis yang beragam,
diantara: golongan darah Lewis, Kell, Duffy, Kidd, MNS, dan
sebagainya.
SISTEM ADMINISTRASI DONOR DARAH
A. Darah Utuh (Whole Blood)
Darah merupakan cairan kompleks terdiri dari sel-sel darah
berbeda yang tersuspensi dalam cairan kekuningan yang disebut
plasma. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), dan platelet (trombosit). Plasma darah mengandung
beberapa protein, substansi kimia, faktor pembekuan (koagulasi) dan
banyak substansi metabolisme. Darah berfungsi sebagai media
transportasi untuk membawa semua komponen yang berbeda ke
berbagai organ tubuh.
B. Eritrosit
Bentuk eritrosit tampak seperti cakram bikonkaf bila dilihat
dibawah mikroskop. Eritrosit memiliki diameter 7,2 mikron dan
ada sekitar 5 juta sel eritrosit per mm3 darah (5 x 1012/L).
Eritrosit diproduksi di sumsum tulang, lalu memasuki aliran
darah ketika sudah matur. Rata-rata masa hidup eritrosit yaitu 120
hari, sesudah itu eritrosit mengalami penuaan dan destruksi (menjadi
rusak) serta dihancurkan oleh sel-sel dalam sistem reticulum
endothelium. Sel-sel khusus ini tersebar diseluruh tubuh dan
ditemukan terutama di sumsum tulang, hati, limpa, dan kelenjar
getah bening. Eritrosit mengandung hemoglobin yang memiliki fungsi
utama dalam membawa oksigen ke jaringan tubuh.
C. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin merupakan molekul besar kompleks terdiri dari
molekul besi yaitu hem yang melekat pada rantai polipeptida yang
disebut globin. Hemoglobin inilah yang memicu eritrosit
berwarna merah. Hemoglobin memiliki kemampuan untuk berikatan
dengan oksigen dan karbon dioksida secara reversibel. Hemoglobin
berfungsi mengangkut oksigen ke berbagai jaringan guna
menyediakan energi dan panas bagi tubuh. Oksigen diambil dari
paru-paru dan dipompa oleh jantung ke jaringan. sesudah digunakan,
oksigen digantikan oleh karbon dioksida dan dibawa kembali ke paru-
paru oleh eritrosit dan sebagian kecil oleh plasma. Selanjutnya
diganti dengan oksigen baru dan siap untuk memulai siklus sirkulasi
berikutnya.
Kadar hemoglobin diukur dalam satuan gram hemoglobin per
desiliter darah. Nilai normal hemoglobin pada pria sedikit lebih tinggi
daripada wanita. Nilai normal hemoglobin pada pria yaitu 13,5 – 17,0
g/dl dan pada wanita yaitu 12,0 – 16,0 g/dl. Kadar hemoglobin
minimum yang dapat diterima oleh pusat transfusi darah di banyak
negara, yaitu: 13,5 g/dl pada pria, dan 12,5 g/dl pada wanita. Metode
pemeriksaan hemoglobin terbaik yaitu dengan menggunakan
teknik kolorometrik atau fotometrik.
Kadar hemoglobin juga dapat dilakukan dengan teknik
estimasi, dengan cara membandingkan berat jenis hemoglobin
dengan berat jenis larutan tembaga sulfat yang telah diketahui
kadarnya. Teknik ini dapat digunakan dalam praktik transfusi darah
dan cocok diterapkan di daerah yang tidak tersedia listrik atau
minimum pasokan listrik. Kadar hemoglobin donor yang dapat
diterima ditentukan dengan mengkonfirmasi bahwa setetes darah
dapat meresap dalam larutan tembaga sulfat dengan berat jenis
1,055 untuk pria dan 1,053 untuk wanita.
D. Leukosit
Leukosit merupakan sel yang memiliki inti yang terdiri dari
granulosit dan agranulosit. Granulosit terdiri dari: neutrofil, eosinofil,
dan basofil. sedang agranulosit meliputi: limfosit dan monosit.
Dalam kondisi normal, granulosit hanya berasal dari sumsum tulang.
Sejumlah kecil limfosit diproduksi di sumsum tulang, namun pasokan
utama berasal dari jaringan limfatik dan timus. Monosit kemungkinan
diproduksi di area jaringan retikuloendotelial, terutama limpa.
Jumlah normal leukosit yang bersirkulasi dalam darah jauh lebih
sedikit daripada jumlah sel eritrosit. Nilai normal jumlah leukosit
yaitu 4000 - 11.000 leukosit per mm3 (4,0 - 11,0 x 109/L) darah,
meliputi:
- Eosinofil: 0 - 400 per mm3 (0 - 0,4 x 109/L)
- Basofil: 0 - 200 per mm3 (0 - 0,2 x 109/L)
- Neutrofil: 1500 - 7500 per mm3 (1,5 - 7,5 x 109/L)
- Limfosit: 1000 - 4500 per mm3 (1,0 - 4,5 x 109/L)
- Monosit: 0 - 800 per mm3 (0 - 0,8 x 109/L)
Leukosit memiliki umur lebih pendek daripada eritrosit. Masa
hidup granulosit yaitu sekitar 3-5 hari, dan berperan utama dalam
melawan infeksi. Masa hidup limfosit mulai dari beberapa hari hingga
bertahun-tahun. Limfosit berperan penting dalam memproduksi
antibodi terhadap antigen asing dan melawan infeksi virus. Monosit
meninggalkan sistem peredaran darah sesudah beberapa hari, dan
disebut scavenger cells sebab dapat menelan bakteri dan benda
asing lainnya melalui proses fagositosis.
E. Trombosit (Platelet)
Ukuran trombosit jauh lebih kecil daripada eritrosit dan
leukosit. Nilai normal jumlah trombosit yaitu 150.000 - 500.000 per
mm3 (150 - 500 x 109/L) darah pada orang dewasa normal. Trombosit
berperan penting dalam mekanisme pembekuan darah. Trombosit
melepaskan substansi di lokasi luka atau cedera dan bergabung
dengan faktor pembekuan lain dalam plasma untuk menghasilkan
benang protein halus (fibrin). Selanjutnya, fibrin membentuk jaring
halus atau jaringan yang menjerat eritrosit untuk menghasilkan
pembekuan dan mencegah pendarahan lebih lanjut. Penyimpanan
trombosit dengan benar memiliki masa simpan laboratorium sampai
dengan 5 hari sebelum dilakukan transfusi darah.
F. Koagulasi Darah
Pada saat darah yang ada dalam spuit dimasukkan ke dalam
tabung maka akan terjadi koagulasi atau pembekuan darah, dimana
terbentuk massa semi-solid sel darah. Cairan yang mengelilingi massa
semi-solid ini dinamakan serum. Namun, jika darah dimasukkan ke
dalam tabung yang berisi antikoagulan, yaitu suatu substansi yang
mencegah pembekuan darah, maka sedimen sel yang tidak
membeku ada di bagian bawah tabung. Cairan yang mengelilingi sel-
sel yang tidak membeku ini disebut plasma.
Proses pembekuan darah sangat kompleks, terdiri dari jalur
intrinsik (surface contact) dan ekstrinsik (cedera jaringan). Kerusakan
atau cedera pada pembuluh darah akan memicu jalur koagulasi atau
kaskade, memicu perubahan dari fibrinogen terlarut menjadi
fibrin, yang membentuk bekuan yang stabil dan mencegah
perdarahan lebih lanjut.
G. Tujuan Transfusi Darah
ada 3 tujuan utama transfusi darah, antara lain:
untuk mengatasi anemia (penurunan kadar hemoglobin);
untuk menggantikan kehilangan darah akibat perdarahan, baik
sebab operasi atau kecelakaan; dan untuk menggantikan komponen
darah lainnya, misalnya faktor pembekuan.
3.2 KRITERIA DONOR DALAM PENGAMBILAN DARAH
Prosedur seleksi (screening) donor dalam beberapa tahun
terakhir semakin berkembang. Prosedur terbaru
mempertimbangkan beberapa komponen penting, diantaranya
kesehatan pendonor, produk darah yang bebas dari transfusion
transmissable diseases (TTD), dan perlindungan donor selama proses
pengambilan darah dan pemulihan sesudah pengambilan darah
selesai. Proses screening donor meliputi tiga tahap , yaitu: pendaftaran,
wawancara riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik.
A. Registrasi Donor
Registrasi donor diperlukan pada setiap kegiatan transfusi
darah. Catatan registrasi donor meliputi dokumentasi yang
sepenuhnya mengidentifikasi donor, dan identifikasi harus
diverifikasi oleh setiap pendonor. Sistem komputerisasi dapat
digunakan dalam proses registrasi pendonor untuk memudahkan
memperbarui informasi yang diperlukan. Informasi penting dalam
registrasi pendonor, antara lain:
Tanggal dan waktu donasi
Nama lengkap
Alamat rumah dan atau kantor
Telepon rumah dan atau kantor
Jenis kelamin
Umur atau tanggal lahir
Rekaman penangguhan pemeriksaan sebelumnya
Tanggal melakukan transfusi darah terakhir
Informed consent tertulis
B. Umur
Syarat menjadi pendonor minimal berusia 17 tahun. Namun
ada beberapa negara yang memiliki batasan usia minimal yaitu
16 tahun tergantung dari aturan oleh hukum negara ini . Izin
orang tua diperlukan untuk pendonor yang berusia kurang dari 18
tahun.
C. Donor Darah Sebelumnya
Pendonor whole blood berhak untuk mendonorkan setiap 56
hari (8 minggu) sekali. Pendonor apheresis (plateletpheresis,
leukopheresis, dan plasmapheresis) dapat mendonorkan darah
minimal 48 jam sesudah pheresis selesai, sebelum melakukan donor
whole blood.
D. Edukasi Donor
Calon pendonor perlu diberikan materi edukasi tentang donor
darah. Materi ini meliputi informasi tentang penyakit menular
yang dapat ditularkan melalui transfusi darah; tanda dan gejala AIDS.
Informasi tambahan pra-donasi, seperti: pentingnya memberi
informasi yang akurat; kebebasan untuk menarik diri dari proses
donasi dengan alasan apapun jika mereka merasa tidak cocok untuk
melakukan transfusi. sesudah pendonor memahami dan materi yang
telah dibaca lalu ditandatangani.
E. Persetujuan Pendonor
Sebelum melakukan transfusi darah, pendonor harus
menandatangani persetujuan tertulis (informed consent) untuk
pengambilan darah. Pendonor harus memiliki kebebasan untuk
mengajukan pertanyaan, menerima jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan ini , dan akhirnya dapat membuat pilihan
menyetujui ataupun menolak melakukan donor darah. Setiap donor
di edukasi tentang risiko dari prosedur dan pemeriksaan penyakit
menular yang akan dilakukan pada sampel darah. Penjelasan
diberikan tentang pemberitahuan hasil tes positif. Donor diberitahu
bahwa ia akan diberitahu jika pemeriksaan sampel darah berpotensi
pada penularan penyakit menular. Selain itu, donornya
diinformasikan bahwa penangguhan dari donor darah di lalu
hari akan terjadi jika hasil pemeriksaan penyakit menular yaitu
positif. Donor akan memiliki kesempatan untuk menundanya secara
rahasia. Donor dapat memilih: "transfusi darah saya" atau "jangan
transfusi darah saya."
Donor yang melakukan vaksinasi kemungkinan memerlukan
masa penangguhan sebelum melakukan transfusi. Vaksin yang
terbuat dari organisme yang mati atau toksoid tidak memerlukan
mengalami penundaan. Donor harus bebas dari gejala. Vaksin
hepatitis A dan meningitis tidak memerlukan penangguhan jika
mereka diberikan untuk pencegahan daripada paparan. Vaksin rutin
seperti influenza dan tetanus tidak memerlukan penangguhan, jika
donor tidak menunjukkan gejala dan tidak demam. Tabel 3.1
menunjukkan masa penangguhan sementara untuk administrasi
vaksin. sedang pendonor yang membutuhkan penangguhan 12
bulan bertujuan untuk memberi perlindungan terhadap
penerima atau resipien. Penangguhan ini ada pada Tabel 3.2.
F. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan kesehatan umum dan
tanda-tanda vital untuk memastikan kesehatan yang baik pada
pendonor. Pendonor harus tampak sehat pada saat akan melakukan
donor darah. Pemeriksaan pendonor harus memperhatikan keadaan
umum, jawaban terhadap pertanyaan tentang kesehatan, riwayat
kesehatan, dan faktor resiko terkait gaya hidup dan beberapa
pemeriksaan sederhana. Darah yang akan didonorkan sebanyak
kurang lebih 525 ml termasuk sampel untuk pemeriksaan sebelum
darah di berikan kepada resipien. Kriteria pemeriksaan fisik bagi
pendonor, antara lain:
a). Hemoglobin ≥ 12,5 g/dl
b). Hematokrit ≥ 38%
c). Tekanan darah sistolik ≤ 180 mmHg, dan diastolik ≤ 100 mmHg
d). Temperatur ≤ 37,5oC
e). Denyut nadi antara 50 s.d 100 kali/menit
f). Berat badan ≥ 50 kg
G. Flebotomi
Seorang flebotomis akan memeriksa area antecubital kedua
lengan pendonor. Pemeriksaan ini bertujuan menempatkan
pembuluh darah yang tepat untuk dilakukan pengambilan darah.
Flebotomis juga memeriksa bukti penggunaan obat intravena dan
adanya lesi kulit. Lengan yang digunakan untuk pengambilan darah
harus bebas dari lesi kulit pada hari dilakukannya donasi darah.
Sebelum dilakukan pengambilan darah, lengan harus di
desinfeksi dengan menggunakan larutan scrub berair 70% dari
senyawa iodophor untuk menghilangkan kotoran dipermukaan
lengan, diikuti oleh larutan 10% PVP-iodine. Desinfeksi dilakukan
dengan gerakan melingkar memutar kearah luar. Area yang disiapkan
harus dibiarkan kering selama 30 detik dan dapat ditutup dengan kain
kasa steril sebelum dilakukan venipuncture.
Dengan menggunakan manset sphygmomanometer yang
dipompa sampai dengan 40 hingga 60 mmHg dapat melebarkan
pembuluh darah vena untuk memudahkan proses mengeluarkan
darah. Untuk pengambilan darah dipilih jarum 16-gauge yang
melekat pada kantung darah primer. Venipuncture dilakukan pada
vena di antekubital, dan harus bebas dari lesi kulit.
H. Reaksi Donor
Reaksi negatif pendonor dapat terjadi pada saat proses
screening, pengambilan darah, dan sesudah selesai donor darah.
Sebagian besar reaksi bersifat minor dan dapat segera diatasi oleh
staf bank darah. Namun reaksi yang serius seperti kejang sampai
dengan henti jantung dapat terjadi, meskipun jarang. Seorang
flebotomis harus mampu mengenali gejala awal reaksi dan
memberi pertolongan pertama ketika diindikasikan.
Kemungkinan gejalanya, antara lain: pucat, berkeringat, pusing, nafas
cepat, mual, dan pingsan. jika gejala ini muncul, maka proses
pengambilan darah harus segera dihentikan dan segera dilakukan
penanganan serta perawatan yang tepat. Berbagai reaksi negatif
donor beserta penangannya ada pada Tabel 3.3.
sesudah selesai melakukan donor darah, pendonor harus
memulai proses rehidrasi dengan cara segera memberi minuman
dan makanan ringan. Pendonor disarankan untuk mengkonsumsi
cairan ekstra selama 72 jam ke depan. Instruksi khusus sesudah
donasi, meliputi:
- Tidak mengonsumsi alkohol sampai pertama kali mengonsumsi
makanan.
- Tidak merokok selama 30 menit
Tabel 3.3 Reaksi Negatif Donor dan Penanganannya
Keadaan Penanganan
Hematoma Berikan tekanan pada area hematoma;
selanjutnya kompres dengan es
Pucat,
berkeringat,
pusing, bernapas
cepat, mual
- Naikkan kaki lebih tinggi sekitar 30 cm
dari dada (untuk mengembalikan aliran
darah kembali ke otak)
- lakukan kompres air dingin di dahi dan
belakang leher
Kejang otot dan
kedutan
Bernapaslah ke dalam kantong kertas
Syncope (pingsan) - Kepala diturunkan dan kaki di angkat
- Oleskan kompres dingin ke dahi dan
belakang leher
- Oleskan minyak kayu putih atau bahan
aromatik lainnya
Kejang - Memanggil bantuan darurat
- Pertahankan jalan napas
- Lindungi donor dari cedera sampai
bantuan datang
Gejala Jantung - Hubungi bantuan darurat
- Lakukan CPR
(Cardiopulmonary Resuscitation) jika
diperlukan
(Whitlock, 2010)
- Waspada gejala pra-syncope yang kemungkinan terjadi sebab
adanya reaksi transfusi tunda (delayed reaction).
- Mencegah perdarahan area flebotomi dengan mengangkat
lengan tangan dan memberi tekanan pada area ini .
3.3 TRANSFUSI DARAH ALTERNATIF
A. Donor Autologous
Donor autologous merupakan pengambilan darah untuk
ditransfusikan ke pendonor di lalu hari. Hal ini berbeda dengan
donor alogenik, yang pengambilan darahnya dilakukan untuk
ditransfusikan kepada individu pada populasi umum. Donor darah
autologus pra operasi mengacu pada teknik dimana sebelum operasi
dilakukan pengambilan darah pada pasien dan disimpan pada jangka
waktu tertentu, lalu ditransfusikan kembali selama operasi.
Metode ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain: donor darah
berulang sebelum operasi mampu menstimulasi proliferasi sel pada
sumsum tulang, menstimulasi regenerasi eritrosit, meningkatkan
fungsi hematopoietic pada pasien sesudah operasi, mempercepat
pemulihan hematopoietic sesudah operasi, kondusif untuk
penyembuhan luka, serta mengurangi kemungkinan infeksi yang
dipicu oleh reaksi imunologi dari transfusi darah alogenik.
B. Directed Donation (Penunjukan Pendonor)
Directed Donation yaitu seseorang, umumnya orangtua,
anggota keluarga, maupun teman yang mendonorkan darahnya
khusus bagi pasien sebelum jadwal transfusi darah. Directed donor
tidak lebih aman daripada donor komunitas, dan juga harus dilakukan
pemeriksaan untuk penyakit menular seperti umumnya pemeriksaan
sebelum donor darah. Directed donor bisa menjadi kurang aman jika
seseorang merasakan tekanan dari keluarga atau teman untuk
mendonorkan darahnya sebab merasa tidak nyaman
mengungkapkan informasi kesehatan penting yang akan
membuatnya tidak memenuhi syarat sebagai pendonor.
C. Flebotomi Therapeutic
Flebotomi terapeutik merupakan pengobatan khusus untuk
kelainan darah di mana pemindahan eritrosit atau serum iron yaitu
metode yang paling efisien untuk manajemen gejala dan komplikasi.
Flebotomi terapeutik diindikasikan untuk pengobatan
hemochromatosis, polycythemia vera, porphyria cutanea tarda,
penyakit sel sabit, dan penyakit hati berlemak nonalkohol dengan
hiperferritinemia. Selain itu, flebotomi dapat dianggap sebagai
komponen dari pengobatan untuk pasien dengan kadar serum iron
tinggi. Namun, penting untuk membuat keputusan perawatan
berdasarkan kondisi setiap pasien dan pedoman yang relevan untuk
menerapkan metode flebotomi therapeutic.
D. Therapeutic Apheresis
Apheresis berarti "memindahkan" dan heme mengacu pada
"darah". Pada hemapheresis artinya whole blood dipindahkan dari
donor atau pasien dan dipisahkan menjadi beberapa komponen. Satu
atau lebih komponen dipertahankan, dengan bagian yang tersisa
digabungkan kembali dan dikembalikan kepada donor atau pasien.
Teknologi ini memungkinkan untuk hanya memilih komponen yang
dibutuhkan atau otomatis memproduksi beberapa komponen. Sel
darah, trombosit, plasma, dan/ atau granulosit dapat dikumpulkan
menggunakan perangkat pengumpulan darah otomatis berdasarkan
teknologi apheresis. Contoh alat therapeutic apheresis ada pada
Gambar 3.1. Berikut ini merupakan daftar penyakit yang dilakukan
pengobatan dengan apheresis terapeutik:
• Kondisi hematologi/ onkologi
• Paraproteinemia
• Hiperleukositosis
• Trombositemia
• Thrombotic thrombocytopenic purpura/ hemolytic uremic
syndrome
• Penyakit sel sabit
• Purpura pasca transfusi
• Kondisi neurologi
• Acute Guillain–Barré syndrome
• Polineuropati inflamasi kronis
• Myasthenia gravis
• Cryoglobulinemia
• Rapidly progressive glomerulonephritis associated with antibody
to neutrophil cytoplasmic antigen
• Hiperkolesterolemia familial tipe II homozigot
• Refsum disease
Therapeutic apheresis merupakan prosedur dimana darah
pasien dialirkan melalui alat medis ekstrakorporeal yang
memisahkan komponen darah untuk mengobati suatu penyakit.
Therapeutic apheresis tidak termasuk pengambilan sel punca (stem
cell) untuk digunakan dalam transplantasi sumsum tulang/ sel punca.
Umumnya dilakukan di fasilitas rawat jalan dan prosesnya
membutuhkan beberapa jam. Berikut ini yaitu istilah umum yang
mencakup semua prosedur berdasarkan apheresis:
- Leukocytapheresis (LCP): prosedur di mana darah pasien atau
donor dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan
leukosit (misalnya: leukemia blast atau granulosit),
mengumpulkan sel yang dipilih, dan mengembalikan sisa darah
pasien atau donor darah dengan atau tanpa penambahan cairan
pengganti, seperti larutan koloid dan/ atau kristaloid.
- Platelet Apheresis: prosedur di mana darah donor dialirkan
melalui perangkat medis yang memisahkan trombosit,
mengumpulkan trombosit, dan mengembalikan sisa darah donor.
Prosedur ini digunakan dalam persiapan komponen darah
(misalnya: Trombosit apheresis).
- Erythrocytapheresis: prosedur di mana darah pasien atau donor
dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan eritrosit dari
komponen darah lainnya. Eritrosit dikeluarkan dan diganti dengan
kristaloid atau larutan koloid, bila perlu.
- Plasmaferesis: Prosedur di mana darah pasien atau donor
dialirkan melalui perangkat medis yang memisahkan plasma dari
komponen darah lainnya dan plasma dikeluarkan (yaitu, kurang
dari 15% dari total plasma.
- Thrombocytapheresis: prosedur terapi di mana darah pasien
dialirkan melalui alat kesehatan yang memisahkan trombosit,
membuang trombosit, dan mengembalikan sisa darah pasien
dengan atau tanpa penambahan cairan pengganti seperti larutan
koloid dan / atau kristaloid.
- Adsorptive Cytapheresis: Prosedur terapeutik di mana darah
pasien dialirkan melalui perangkat medis,
yang berisi kolom atau filter yang secara selektif mengabsorpsi
monosit dan granulosit, memungkinkan
leukosit yang tersisa dan komponen darah lainnya untuk
dikembalikan ke pasien.
- Extracorporeal Photopheresis (ECP): Prosedur terapeutik di mana
buffy coat dipisahkan dari darah pasien, diperlakukan secara
ekstrakorporeal dengan senyawa fotoaktif (misalnya, psoralens)
dan diteruskan sinar ultraviolet A lalu diinfuskan kembali ke
pasien selama prosedur yang sama.
- RBC Exchange: Prosedur terapeutik di mana darah pasien
dialirkan melalui perangkat medis memisahkan sel darah merah
dari komponen darah lainnya. Sel darah merah pasien diangkat
dan diganti dengan donor sel darah merah dan larutan koloid.
RANGKUMAN :
Darah merupakan cairan kompleks terdiri dari sel-sel darah
(eritrosit, leukosit, trombosit) yang tersuspensi dalam cairan
kekuningan yang disebut plasma.
Bentuk eritrosit tampak seperti cakram bikonkaf, memiliki
diameter 7,2 mikron dan ada sekitar 5 juta sel eritrosit per
mm3 darah (5 x 1012/L). Eritrosit mengandung hemoglobin yang
memiliki fungsi utama dalam membawa oksigen ke jaringan
tubuh.
Leukosit merupakan sel yang memiliki inti yang terdiri dari
granulosit dan agranulosit. Granulosit terdiri dari: neutrofil,
eosinofil, dan basofil. sedang agranulosit meliputi: limfosit dan
monosit. Nilai normal jumlah leukosit yaitu 4000 - 11.000
leukosit per mm3 (4,0 - 11,0 x 109/L) darah
Ukuran trombosit jauh lebih kecil daripada eritrosit dan leukosit.
Nilai normal jumlah trombosit yaitu 150.000 - 500.000 per mm3
(150 - 500 x 109/L) darah. Trombosit berperan penting dalam
mekanisme pembekuan darah.
Proses screening donor meliputi tiga tahap , yaitu: pendaftaran,
wawancara riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik. Hal yang
harus diperhatikan untuk kriteria pendonor meliputi: registrasi,
umur, donor darah sebelumnya, edukasi donor, persetujuan
donor.
Reaksi negatif pendonor dapat terjadi pada saat proses screening,
pengambilan darah, dan sesudah selesai donor darah. Sebagian
besar reaksi bersifat minor dan dapat segera diatasi oleh staf bank
darah. Namun reaksi yang serius seperti kejang sampai dengan
henti jantung dapat terjadi, meskipun jarang.
ada beberapa transfusi darah alternatif, antara lain: donor
autologous, directed donation, flebotomi therapeutic, dan
therapeutic apheresis.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN DARAH
Transfusi darah dalam bentuk Whole blood memberi
manfaat yang hanya menguntungkan satu pasien. Oleh sebab itu
diperlukan teknologi pengolahan darah sehingga darah utuh (whole
blood) dapat dibagi menjadi beberapa bagian atau komponen.
Penggunaan komponen darah memaksimalkan penggunaan darah
yang merupakan sumber daya yang terbatas namun berharga.
Fraksinasi whole blood menjadi beberapa komponen memungkinkan
pasien untuk menerima terapi paling efektif dengan produk yang
lebih aman daripada whole blood. Pembagian whole blood menjadi
beberapa komponen memberi manfaat maksimal bagi banyak
resipien, bukan hanya bagi satu pasien.
Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas
Obat dan Makanan (BPOM) mengatur pengumpulan dan fraksinasi
whole blood. Bank darah dan layanan transfusi yang melakukan
pengambilan whole blood dan fraksinasi komponen darah harus
mengikuti Good Manufacturing Practices (GMP) dan mematuhi
pedoman BPOM. Prosedur pengumpulan awal, persiapan komponen,
pelabelan, penyimpanan, dan distribusi semua komponen
merupakan proses vital dalam bank darah. Pada bab ini akan
membahas tentang komponen whole blood, metode persiapan,
pelabelan, penyimpanan, dan penggunaan yang tepat dari setiap
komponen darah.
4.1 PREPARASI DONOR DARAH
A. Kantong Darah
Kantong penampung darah tersedia secara komersial dalam
berbagai konfigurasi. Wadah darah ini harus tidak berwarna dan
transparan untuk memungkinkan memeriksa isinya dan harus di
tutup sedemikian rupa untuk menjaga segel kedap udara dan
mencegah kontaminasi. Kantong darah bahannya tidak boleh
mempengaruhi isinya pada saat penyimpanan dan penggunaan biasa
(sehari-hari).
Semua kantong darah memiliki bagian dalam yang steril,
termasuk jarum dan semua tabung yang terpasang, dan mengandung
larutan pengawet antikoagulan. Larutan pengawet antikoagulan
bervariasi tergantung produsennya. Sistem pengumpulan darah yang
ideal yaitu sistem tertutup. Sistem tertutup terdiri dari kantong
utama dan satu atau lebih kantong satelit. Kantong yang saling
berhubungan memungkinkan pemindahan komponen dari kantong
aslinya tanpa adaya paparan udara ke produk darah. Ini menjaga
sterilitas komponen darah dan memungkinkan eritrosit
mempertahankan tanggal kadaluwarsa dari whole blood. sedang
pada sistem terbuka, prosesnya meningkatkan resiko paparan
kontaminasi pada komponen darah dan perubahan tanggal
kadaluwarsa komponen. Contoh kantong darah ada pada Gambar
4.1. Berbagai jenis kantong darah dan komponennya ditunjukkan
pada Tabel 4.1.
B. Antikoagulan
Antikoagulan dalam kantong darah (whole blood collection set)
akan bercampur dengan darah donor selama proses pengambilan
darah. Antikoagulan pada kantong darah akan mencegah darah
menggumpal selama proses pengambilan darah. Antikoagulan utama
yang digunakan yaitu citrate-phosphate dextrose (CPD), citrate-
phosphate-2-dextrose (CP2D), dan citrate-phosphate-dextrose plus
adenine (CPDA1). Komposisi masing-masing antikoagulan dijelaskan
Semua antikoagulan mengandung sitrat, yang mengkelat
(mengikat) kalsium dalam darah, sehingga menghambat langkah-
langkah yang bergantung pada kalsium dalam kaskade koagulasi.
Antikoagulan juga mengandung natrium bifosfat yang menjaga pH
komponen selama penyimpanan. Mempertahankan tingkat pH
diperlukan untuk mempertahankan tingkat 2,3-difosfogliserat (2,3-
DPG) yang memadai. Eritrosit menyalurkan oksigen (O2) dari paru-
paru ke jaringan tubuh dengan menggunakan perbedaan afinitas
untuk molekul O2. Di area dengan tekanan parsial tinggi seperti paru-
paru, afinitas eritrosit untuk O2 meningkat. Saat eritrosit berjalan ke
jaringan dan tekanan parsial menurun, afinitas oksigen menurun dan
molekul oksigen dilepaskan dari eritrosit ke jaringan. Jumlah 2,3-DPG
dalam darah memodulasi keefektifan eritrosit untuk oksigen.
Meskipun kadar 2,3-DPG menurun pada 2 minggu pertama
penyimpanan, kadar eritrosit yang ditransfusikan akan beregenerasi
dalam 12 hingga 24 jam sesudah transfusi. Ringkasan tentang
berbagai antikoagulan ada pada Tabel 4.2. Kantong darah dengan 63
ml antikoagulan untuk menyimpan 450 ± 45 ml darah. sedang
kantong darah dengan 70 ml antikoagulan untuk menyimpan 500 ±
50 ml darah.
Tabel 4.1 Berbagai Tipe Kantong Darah dan Komponennya pada
93
Sistem Tertutup
Tipe Kantong
Darah
Jumlah Kantong
Satelit
Komponen
Single 0 Whole blood
Double 1 Eritrosit/ plasma
Triple 2 Eritrosit/ platelet/
plasma atau eritrosit/
cryoprecipitate/ plasma
Quadruple 3 Eritrosit/ platelet/
cryoprecipitate/ plasma
(Quinley, 2011)
C. Larutan Aditif
Larutan aditif berfungsi untuk memperpanjang lama
penyimpanan eritrosit. Larutan aditif mengandung saline, adenin,
dan dekstrosa atau meningkatkan pembentukan ATP, dan zat minor
lainnya yang meningkatkan viabilitas eritrosit dalam kantong darah.
Tanggal kedaluwarsa eritrosit dapat diperpanjang menjadi 42 hari.
Komposisi absolut dari larutan aditif bervariasi menurut produsen
blood collection set. Larutan aditif ditambahkan ke eritrosit sesudah
plasma dipisahkan/ dimasukkan ke dalam kantong darah satelit.
Hematokrit terakhir dari eritrosit yang mengandung larutan aditif
antara 55% dan 65% dibandingkan dengan eritrosit tanpa larutan
aditif yang harus kurang dari 80%. Hematokrit dan viskositas yang
menurun dari eritrosit aditif memfasilitasi peningkatan aliran darah
selama transfusi. Larutan aditif harus ditambahkan ke eritrosit dalam
waktu 72 jam sesudah pengambilan darah atau sesuai petunjuk
pabrik.
4.2 KOMPONEN DONOR DARAH
A. Whole Blood
Penggunaan darah utuh (whole blood) untuk transfusi selama
30 tahun terakhir sangat jarang. Hal ini terjadi sebab adanya
teknologi untuk mempersiapkan dan menyimpan setiap komponen
darah secara terpisah demi memaksimalkan sifat spesifik
terapeutiknya. Meskipun whole blood mengandung semua
komponen seluler dan plasma darah, faktor koagulasi labil berkurang
seiring waktu dan trombosit menjadi tidak berfungsi pada suhu
penyimpanan 1oC hingga 6oC. Unit rata-rata whole blood yang
dikumpulkan biasanya 450 atau 500 mL darah (± 10%) ditambah
antikoagulan terukur yang sesuai. Indikasi klinis untuk whole blood
sedikit dan transfusi whole blood harus disediakan untuk beberapa
pasien yang membutuhkan penggantian volume dan kapasitas
pengangkutan oksigen. Fresh whole blood yang telah diuji
sepenuhnya dapat digunakan untuk transfusi pada neonatal.
Pembagian unit whole blood menjadi beberapa komponen ada pada
Gambar 4.2.
B. Red Blood Cell (Eritrosit)
Tiga komponen darah utama, yaitu eritrosit, trombosit, dan
plasma. Ini dibuat dari whole blood melalui proses sentrifugasi
diferensial untuk memisahkan berbagai komponen. Memvariasikan
waktu putaran centrifus dan kecepatan putaran (rpm) menghasilkan
komponen yang berbeda berdasarkan parameter hasil yang optimal
dan kebutuhan produk pasien.
sesudah unit whole blood disentrifugasi, plasma dipisahkan dari
eritrosit melalui port akses internal ke salah satu kantong satelit yang
terpasang pada collection set. Penting untuk menggunakan sistem
tertutup (closed system). Jika larutan aditif tidak digunakan, maka
plasma harus tetap bersama eritrosit untuk memastikan hematokrit
kurang dari 80%. Jika hematokrit dari eritrosit tanpa aditif lebih dari
80%, maka suplai nutrisi dan pengawet yang ada kemungkinan tidak
dapat mempertahankan eritrosit selama penyimpanan. Transfusi
eritrosit diindikasikan untuk pasien yang membutuhkan massa
eritrosit tambahan untuk kapasitas pembawa oksigen sebab
kehilangan darah atau proses penyakit yang mengurangi jumlah
eritrosit. Satu unit eritrosit umumnya akan meningkatkan hematokrit
pasien yang tidak perdarahan sekitar 3% dan hemoglobin sekitar 1
g/dL. Transfusi eritrosit diperlukan ketika hemoglobin menurun ke
tingkat yang membutuhkan dukungan transfusi. Transfusi komponen
lain yang sesuai dapat terjadi secara
Gambar 4.2 (A). Persiapan Komponen dari Satu Unit Whole Blood
Sentrifugasi Sederhana dan Pemisahan menjadi Plasma dan Packed
Cells; (B) Pilihan konversi yang mungkin untuk Plasma dan Packed
Cells (Whitlock, 2010)
bersamaan. Komponen tambahan akan menggantikan faktor
koagulasi untuk mencegah perdarahan tambahan atau eksaserbasi
dari kondisi klinis lainnya. Komponen ini mungkin termasuk FFP
(Fresh Frozen Plasma) dan/ atau trombosit. Kondisi yang mungkin
memerlukan transfusi eritrosit, antara lain:
Anemia akut atau kronik
Trauma
Pembedahan
Karsinoma, limfoma, leukemia
Thalasemia;
Anemia sel sabit
Penyakit ginjal
Hemolytic Disease of the Fetus and Newborn (HDFN)
C. Red Blood Cells Leukocytes Reduced
Eritrosit sering dipersiapkan dengan metode untuk
mengurangi leukosit atau massa leukosit. Beberapa alasan untuk
membuang leukosit, yaitu:
Untuk mengurangi resiko reaksi transfusi demam non-hemolitik
Untuk mengurangi Human Leukocyte Antigen (HLA) atau
granulocyte alloimmunization
Untuk meminimalkan transmisi penyakit menular seperti
cytomegalovirus (CMV)
Untuk mengurangi jumlah reaksi transfusi yang merugikan
terhadap simpanan darah dari enzim dan sitokin yang dilepaskan
oleh leukosit saat mereka memburuk (deteriorate) dan pecah
(fragment).
Beberapa metode tersedia untuk mempersiapkan Red Blood
Cells Leukocytes Reduced untuk transfusi. Leukosit dapat dipisahkan
dari eritrosit di samping tempat tidur pasien melalui penggunaan
filter reduksi leukosit khusus yang dipasang pada set transfusi. Satu
kelemahan dari teknik ini yaitu tidak memiliki mekanisme kendali
mutu untuk mengevaluasi keefektifan filter. Teknik ini juga tidak
mencegah semua reaksi merugikan dan aloimunisasi ke fragmen
leukosit yang terakumulasi di unit eritrosit yang disimpan. The
American Association of Blood Banks (AABB) mensyaratkan bahwa
unit Red Blood Cells Leukocytes Reduced memiliki < 5 × 106 leukosit
per unit. Idealnya, pengurangan leukosit harus dilakukan sebelum
penyimpanan eritrosit.
D. Red Blood Cell Washed
Red blood cell washed dilakukan bagi pasien defisiensi IgA,
ketika komponen seluler defisiensi IgA tidak tersedia, atau jika pasien
mengalami beberapa reaksi alergi yang semakin buruk terhadap unit
yang ditransfusikan. Washing Red blood cell tidak dianggap sebagai
metode yang efektif untuk mencapai leukoreduced RBCs. Washed cell
biasanya disiapkan dengan perangkat pencuci sel otomatis, meskipun
bisa dibuat dengan proses sentrifugasi manual. Mesin pencuci sel
otomatis menambahkan saline 0,9% ke eritrosit, menyentrifugasi
produk, dan lalu memisahkan supernatan plasma dan
campuran saline ke dalam kantong limbah. Proses ini diulangi
beberapa kali menggunakan 1 hingga 2 L larutan saline. sebab
sistem kantong darah tertutup terganggu dan sebab semua nutrisi
antikoagulan dan plasma juga hilang, maka tanggal kadaluwarsa dari
eritrosit yang sudah dicuci yaitu 24 jam dari saat sistem dibuka.
Suhu penyimpanan tetap pada 1oC - 6oC.
E. Red Blood Cell Frozen atau Red Blood Cell Deglycerolized
Penyimpanan eritrosit pada suhu yang sangat rendah (pada
−65 hingga −196oC) merupakan alternatif untuk penyimpanan cairan
hipotermia (pada 4-6oC). Metode ini bertujuan untuk
memperpanjang umur seluler dalam waktu lama melalui
penghentian aktivitas biologis. Pembekuan, bagaimanapun, dikaitkan
dengan kerusakan permanen pada sel-sel hidup, tergantung pada
laju pendinginan, kristal es dapat dibentuk secara ekstraseluler (laju
lambat) atau intraseluler (laju tinggi). Selain itu, sel yang melewati
zona suhu menengah (kira-kira antara -10 hingga -60oC) dapat
merusak permeabilitas membran. Akibatnya, aditif krioprotektif
sangat penting, dengan gliserol nontoksik menjadi yang paling
banyak digunakan untuk kriopreservasi eritrosit. Ini memasuki sel
melalui transportasi yang difasilitasi dan membatasi pembentukan
kristal es, efek zat terlarut dan dehidrasi. Konsentrasinya bervariasi
sesuai dengan protokol pembekuan: pada tingkat pendinginan yang
lambat, konsentrasi gliserol tinggi digunakan untuk melawan
ketidakseimbangan osmotik, sedang pada tingkat pendinginan
tinggi gliserol dibutuhkan pada konsentrasi yang lebih rendah.
ada dua metode yang telah dikembangkan sesuai untuk
penggunaan klinis, yaitu metode gliserol tinggi (HGM) dan metode
gliserol rendah (LGM).
Eritrosit dapat dibekukan untuk digunakan dilalu hari
dalam keadaan tertentu. Sel-sel tanpa larutan aditif ini harus
dibekukan dalam waktu 6 hari sesudah pengumpulan. Eritrosit dengan
larutan aditif dapat dibekukan kapan saja sebelum tanggal
kadaluwarsanya. Red Blood Cell Frozen disimpan pada suhu -65oC.
Alasan utama pembekuan eritrosit yaitu untuk keadaan transfusi
khusus, seperti penggunaan autologous, dan untuk menyimpan unit
yang sangat langka berdasarkan fenotipe spesifik. Eritrosit yang
dibekukan memiliki tanggal kadaluwarsa 10 tahun. Proses
membekukan dan lalu mencairkan serta menghilangkan lemak
eritrosit jika akan digunakan pasien memakan waktu, mahal, dan
kehilangan massa eritrosit yang berharga. sesudah sel disiapkan untuk
transfusi, proses sistem terbuka memicu umur simpan yang
pendek selama 24 jam, sehingga red blood cell frozen tidak praktis
sebagai item persediaan rutin.
Penyakit menular baru dapat ditambahkan sebagai tes donor.
Hal ini penting dilakukan sebab sampel serum atau plasma dari
donor unit beku untuk pengujian di masa mendatang sebab unit ini
ditempatkan dalam penyimpanan jangka panjang (hingga 10 tahun).
Unit langka yang belum ada diuji untuk penanda penyakit menular
yang baru. Pelabelan produk harus mencerminkan dengan jelas tes
yang belum dilakukan. Sebuah perangkat telah disetujui FDA untuk
pembekuan sistem tertutup dan degliserolisasi eritrosit dalam waktu
6 hari sesudah pengumpulan. Eritrosit bisa dibekukan selama 3 tahun.
sebab perangkat ini memproses eritrosit dalam sistem tertutup,
eritrosit ini tahan lama lebih dari 14 hari sesudah pencairan.
Red Blood Cell Deglycerolized merupakan produk yang dibuat
saat frozen cells dicairkan dan gliserol dihilangkan. Unit beku
dicairkan pada 37oC. Prosesor eritrosit otomatis digunakan untuk
memproses sel yang dicairkan. Pencucian ganda dengan larutan
saline menurunkan osmolitas digunakan. Proses ini mengeluarkan
gliserol dari sel dan sel disuspensi kembali dalam konsentrasi saline
yang digunakan dalam pencucian akhir. Konsentrasi saline yang
digunakan yaitu 12%; 1,6%; dan 0,9%. Ini merupakan sistem
terbuka dan kadaluwarsa unit yaitu 24 jam sesudah persiapan.
F. Fresh Frozen Plasma (FFP)
Ketika donor memberi satu unit darah utuh (whole blood),
darah ini dipisahkan menjadi beberapa bagian komponen.
Komponen utama yaitu packed Red Blood Cells (pRBC), FFP, dan
terkadang trombosit. FFP dapat dipisahkan menjadi kriopresipitat
dan apa yang dikenal sebagai "cryo-poor plasma" produk yang jarang
digunakan untuk sarana terapeutik. Plasma merupakan cairan,
bagian darah non-seluler, mengandung air, elektrolit, dan protein.
Protein dalam plasma termasuk faktor pembekuan utama dan
antikoagulan intrinsik. Plasma dipisahkan dari whole blood sesudah
donasi dan lalu dibekukan. agar dianggap "fresh", plasma harus
ditempatkan ke dalam freezer dalam waktu 8 jam sesudah
pengumpulan dan disimpan pada suhu -18oC (dapat untuk
penyimpanan selama 12 bulan) atau lebih rendah, jika tidak maka
hanya plasma beku (produk lain yang jarang digunakan sebagai
terapeutik). FFP dapat dibuat dengan memisahkan dari whole blood
atau melalui plasmaferesis.
Fresh Frozen Plasma mengandung mayoritas dari semua faktor
koagulasi yang diketahui, namun pada dasarnya tidak ada sel
(misalnya eritrosit, leukosit atau trombosit). Selain faktor koagulasi,
FFP juga mengandung sekitar 500 mg fibrinogen. Fibrinogen dalam 1
unit FFP kira-kira sama dengan jumlah fibrinogen yang ditemukan
dalam 2 unit kriopresipitat. Faktor pembekuan dan fibrinogen ini
sangat penting untuk hemostasis normal.
FFP diindikasikan untuk defisiensi faktor koagulasi dengan tes
koagulasi abnormal ditandai adanya perdarahan aktif. FFP juga
diindikasikan untuk pembedahan terencana atau prosedur invasif
sebab adanya tes koagulasi abnormal, untuk pembalikan warfarin
yang dipicu perdarahan aktif atau prosedur terencana ketika
vitamin K tidak cukup untuk membalikkan efek warfarin, thrombotic
thrombocytopenic purpura, dan congenital or acquired factor
deficiency with no alternative therapy. Rekomendasi lain yang lebih
spesifik untuk FFP berdasarkan tinjauan sistematis termasuk pasien
trauma yang membutuhkan transfusi masif dan perdarahan
intrakranial terkait warfarin. Kondisi yang memicu defisiensi
beberapa faktor koagulasi, mungkin memerlukan pemberian FFP
termasuk penyakit hati dan disseminated intravascular coagulation
(DIC). Transfusi FFP mungkin tidak dapat ditoleransi pada pasien
dengan penyakit hati sebab pasien kemungkinan tidak dapat
mentolerir volume infus yang diperlukan untuk mencapai tingkat
faktor koagulasi hemostatik yang memadai.
G. Cryoprecipitated Antihemophilic Factor (CRYO)
Faktor antihemofilik cryoprecipitated (CRYO) yaitu produk
yang dibuat dari plasma yang dikeluarkan dari eritrosit segera sesudah
pengambilan darah. Ini yaitu konsentrat dari Faktor Koagulasi VIII, I
(Fibrinogen), Faktor von Willebrand (vWF), dan fibronektin. Produk
dipersiapkan dengan menghilangkan plasma dari eritrosit dan
membekukannya menjadi campuran cair (slushy mixture). Pada saat
itu, hasil dari bahan yang terkonsentrasi di dasar plasma yaitu
kriopresipitat. Plasma yang tersisa dibuang dan bahan kriopresipitat
diberi label dan dibekukan.
Kriopresipitat awalnya dikembangkan sebagai terapi untuk
pasien dengan defisiensi faktor antihemofilik, atau hemofilia A, telah
digunakan selama hampir 50 tahun. Namun kini kriopresipitat paling
sering digunakan untuk mengisi kembali kadar fibrinogen pada
pasien dengan acquired coagulopathy, seperti keadaan klinis dengan
perdarahan termasuk operasi jantung, trauma, transplantasi hati,
atau pendarahan obstetrik. Kriopresipitat merupakan produk
gabungan yang tidak mengalami inaktivasi patogen, dan
pemberiannya telah dikaitkan dengan sejumlah efek samping,
terutama penularan patogen melalui darah dan cedera paru akut
terkait transfusi. sebab itu, bersamaan dengan ketersediaan sediaan
fibrinogen alternatif, kriopresipitat telah ditarik dari penggunaan di
sejumlah negara Eropa. Dibandingkan dengan plasma yang dibuat,
kriopresipitat mengandung faktor koagulasi VIII dengan konsentrasi
tinggi, faktor koagulasi XIII, dan fibrinogen. Kriopresipitat biasanya
dilisensikan oleh otoritas regulasi untuk pengobatan
hipofibrinogenaemia, dan direkomendasikan untuk suplementasi
ketika kadar fibrinogen plasma turun di bawah 1 g/L.
H. Platelet Concentrates (PC)
Konsentrat trombosit dapat dibuat dari satu unit darah utuh
(whole blood). Trombosit ini yaitu trombosit donor "random" atau
konsentrat trombosit. Trombosit donor tunggal ini harus
menghasilkan minimal 5,5 × 1010 trombosit per unit. Umur
penyimpanan stok trombosit tergantung pada antikoagulan. Tanggal
kadaluwarsa biasanya lima hari sejak tanggal pengambilan. Unit
tunggal dapat digabungkan agar menghasilkan platelet concentrates
dengan volume yang lebih besar untuk ditransfusikan ke penerima
dewasa. Proses penyatuan melibatkan penggabungan trombosit dari
satu unit dalam satu set transfer terpisah menggunakan teknik
aseptik. Proses penggabungan ini menciptakan sistem terbuka.
Trombosit yang terkumpul disimpan pada suhu 20 sampai 24ºC
sampai ditransfusikan dan harus ditransfusikan dalam waktu empat
jam.
Penggunaan pooled platelet dapat menurun sebab tingkat
kontaminasi bakteri pada platelet concentrates. sebab trombosit
disimpan pada suhu 20 hingga 24oC, bakteri yang masuk pada saat
pengambilan lebih mungkin berkembang biak. Proses pengumpulan
juga membahayakan volume gabungan trombosit yang
meningkatkan kemungkinan bakteri masuk ke lingkungan pooled.
Pooled trombosit masih dapat diberikan, namun produk pheresis
trombosit dapat digunakan kapan saja jika memungkinkan.
Trombosit juga dapat dikumpulkan dengan hemaferesis.
Trombosit harus menghasilkan trombosit minimal 3 × 1011. Ini setara
dengan lima hingga delapan unit trombosit yang dibuat dari darah
utuh. Donor plateletpheresis dapat menyumbang dua kali seminggu
hingga total 24 kali per tahun. Harus ada jeda waktu setidaknya 48
jam diantara donasi.
Trombosit yang diperoleh dengan pheresis dapat dicocokkan
untuk HLA atau antigen trombosit lainnya pada penerima yang
mungkin memiliki antibodi terhadap antigen spesifik pada
permukaan trombosit. individu yang sering menerima transfusi
trombosit dapat mengembangkan antibodi yang menurunkan
kelangsungan hidup produk yang ditransfusikan. Pasien-pasien ini
dikatakan refrakter terhadap trombosit yang ditransfusikan. Penting
untuk menentukan antisipasi peningkatan jumlah trombosit pasca
transfusi.
I. Granulocyte Concentrate
Konsentrat granulosit dibuat dengan hemaferesis. Komponen
ini akan mengandung trombosit serta beberapa eritrosit. Konsentrat
granulosit disimpan hingga 24 jam pada suhu 20 hingga 24oC, namun
memburuk dengan cepat saat disimpan. Setidaknya 75% dari unit
yang diuji harus mengandung minimal 1,0 × 1010 granulosit.
Pencocokan silang diperlukan jika ada lebih dari 2 ml eritrosit.
Transfusi konsentrat granulosit harus dilakukan melalui filter yang
tidak akan menghilangkan granulosit. Komponen harus disinari
sebab resipien seringkali merupakan individu dengan imunosupresi.
Penggunaan konsentrat granulosit jarang terjadi sebab potensi
reaksi, penggunaan antibiotik yang lebih baik, dan perkembangan zat
stimulasi sumsum tulang seperti faktor pertumbuhan rekombinan.
Indikasi untuk transfusi granulosit meliputi: neutropenia (<0,5 ×
109/L), infeksi, dan kurangnya respon terhadap antibiotik.
4.3 PENYIMPANAN KOMPONEN DARAH
Semua prosedur harus dilakukan oleh semua staf yang terlibat
dengan penyimpanan komponen darah. Temperatur dan waktu
penyimpanan berbagai komponen darah ada pada Tabel 4.3.
Perawatan untuk penyimpanan komponen harus memenuhi kriteria,
antara lain:
Temperatur lemari es, freezer, inkubator trombosit, waterbath,
dan suhu ruangan harus terjaga.
Semua termometer yang dikalibrasi harus diperiksa terhadap
termometer referensi.
Suhu harus selalu terekam setiap empat jam.
RANGKUMAN :
Teknologi pengolahan darah mampu menjadikan darah utuh
(whole blood) dibagi menjadi beberapa bagian atau komponen.
Fraksinasi whole blood menjadi beberapa komponen
memungkinkan pasien untuk menerima terapi paling efektif
dengan produk yang lebih aman daripada whole blood.
Semua kantong darah memiliki bagian dalam yang steril, termasuk
jarum dan semua tabung yang terpasang, dan mengandung
larutan pengawet antikoagulan.
Antikoagulan pada kantong darah akan mencegah darah
menggumpal selama proses pengambilan darah. Antikoagulan
utama yang digunakan yaitu citrate-phosphate dextrose (CPD),
citrate-phosphate-2-dextrose (CP2D), dan citrate-phosphate-
dextrose plus adenine (CPDA1).
Larutan aditif berfungsi untuk memperpanjang umur simpan
eritrosit. Larutan aditif mengandung saline, adenin, dan dekstrosa
atau meningkatkan pembentukan ATP, dan zat minor lainnya yang
meningkatkan viabilitas eritrosit dalam kantong darah.
Donor fraksinasi komponen darah dapat berupa: eritrosit, Red
Blood Cells Leukocytes Reduced, Red Blood Cell Washed, Red Blood
Cell Frozen, Fresh Frozen Plasma (FFP), Cryoprecipitated
Antihemophilic Factor (CRYO), Platelet Concentrates (PC),
Granulocyte Concentrate.
REAKSI TRANSFUSI DARAH
5.1 DEFINISI DAN pemicu REAKSI TRANSFUSI
Reaksi transfusi didefinisikan sebagai efek samping yang
terkait dengan transfusi whole blood atau salah satu komponennya.
Reaksi ini dapat terjadi dengan tingkat keparahan dari ringan sampai
dengan mengancam jiwa. Reaksi dapat terjadi selama transfusi
(acute transfusion reactions/ reaksi transfusi akut) atau beberapa
hari hingga beberapa minggu lalu (delayed transfusion
reactions/ reaksi transfusi tertunda) dan dapat bersifat imunologis
atau non-imunologis.
Reaksi mungkin sulit untuk didiagnosis sebab dapat timbul
dengan gejala yang tidak spesifik dan sering kali tumpang tindih.
Tanda dan gejala yang paling umum termasuk demam, menggigil,
urtikaria, dan gatal-gatal. Beberapa gejala hilang dengan sedikit atau
tanpa pengobatan. Namun, gangguan pernapasan, demam tinggi,
hipotensi, dan hemoglobinuria dapat menunjukkan reaksi yang lebih
serius. Jenis reaksi transfusi meliputi: hemolitik akut (Hemolytic
Transfusion Reactions/ HTRs), hemolitik tertunda, post transfusion
purpura (PTP), demam non-hemolitik, anafilaksis, alergi sederhana,
septic (kontaminasi bakteri), cedera paru akut terkait transfusi
(Transfusion-Related Acute Lung Injury/ TRALI), dan kelebihan beban
sirkulasi terkait transfusi (Transfusion-Associated Circulatory
Overload/ TACO). Jika terjadi semua reaksi yang dicurigai maka harus
segera menghentikan transfusi serta melaporkan bank darah dan
dokter.
Reaksi transfusi terjadi dalam frekuensi dari yang relatif umum
(alergi ringan dan reaksi non-hemolitik demam), hingga jarang
(anafilaksis, hemolitik akut, dan sepsis). Efek samping fatal yang
dilaporkan paling sering terjadi yaitu TRALI. sedang efek
samping jangka panjang atau lambat biasanya merupakan hasil dari
penularan penyakit. Tingkat keparahan dan kejadian bervariasi
tergantung pada jenis reaksi transfusi, prevalensi penyakit pada
pendonor, dan tingkat perawatan lanjutan yang diperoleh pasien.
sebab kemajuan dalam sistem screening pendonor, pengujian yang
lebih baik, dan sistem data otomatisasi, maka risiko dan kematian
yang dipicu oleh transfusi komponen darah terus menurun.
5.2 REAKSI TRANSFUSI AKUT
Reaksi transfusi yang dimediasi imunitas (immune-mediated)
umumnya terjadi sebab mismactch (ketidakcocokan) atau
inkompatibilitas produk transfusi terhadap resipien. Mereka
termasuk antibodi yang terjadi secara alami dalam penerima darah
(seperti anti-A, anti-B yang biasanya bertanggung jawab untuk reaksi
transfusi hemolitik akut) serta antibodi yang dibuat sebagai respons
terhadap antigen asing (alloantibodi). Aloantibodi ini memicu
banyak reaksi termasuk alergi ringan, demam non-hemolitik,
hemolitik akut, dan anafilaksis. Antibodi yang ada dalam donor darah
juga dapat memicu reaksi dan dianggap terlibat dalam cedera
paru terkait transfusi (TRALI).
Patofisiolog reaksi transfusi akut, antara lain:
Alergi ringan: berkaitan dengan hipersensitivitas terhadap protein
asing dalam produk donor.
Anafilaksis: Mirip dengan reaksi alergi ringan, namun
mengakibatkan reaksi yang lebih parah. Terkadang hal ini dapat
terjadi pada pasien dengan defisiensi IgA yang membuat
aloantibodi melawan IgA dan lalu menerima produk darah
yang mengandung IgA.
Demam non-hemolitik: Umumnya diduga dipicu oleh sitokin
yang dilepaskan dari leukosit donor darah.
Septic: dipicu oleh bakteri atau produk sampingan bakteri
(seperti endotoksin) yang dapat mencemari darah.
Hemolytic Transfusion Reactions (Reaksi transfusi hemolitik akut/
HTRs): Dapat memicu hemolisis intravaskular atau
ekstravaskular, tergantung pada etiologi spesifik (pemicu nya).
Reaksi yang dimediasi oleh kekebalan seringkali merupakan hasil
dari antibodi penerima yang ada pada antigen donor darah. Reaksi
non-imun mungkin terjadi, dan terjadi ketika eritrosit rusak
sebelum transfusi (misalnya, oleh panas atau kondisi osmotik
yang salah).
Transfusion-associated circulatory overload (TACO): Terjadi ketika
volume komponen yang ditransfusikan memicu
hipervolemia (kelebihan volume).
Transfusion-related acute lung injury (TRALI): Cedera paru akut
dipicu oleh antibodi dalam produk donor (antigen leukosit
manusia atau antigen neutrofil manusia) yang bereaksi dengan
antigen pada resipien. Sistem kekebalan penerima merespons dan
memicu pelepasan mediator yang memicu edema
paru. Kemungkinan pemicu nya yaitu kondisi klinis yang
mempengaruhi pasien, termasuk infeksi, pasca pembedahan,
atau inflamasi.
5.3 REAKSI TRANSFUSI TERTUNDA
Reaksi non-imunologis biasanya dipicu oleh efek fisik
komponen darah atau penularan penyakit. Kontaminasi bakteri,
misalnya, mengakibatkan reaksi transfusi septic dan dipicu oleh
kontaminasi bakteri dan / atau endotoksin pada produk darah. Hal ini
dapat terjadi pada saat pengambilan darah sebab desinfeksi lengan
donor darah yang tidak tepat, adanya bakteri dalam sirkulasi donor
pada saat pengambilan, atau sebab penanganan produk yang tidak
tepat sesudah pengambilan. Reaksi transfusi juga dapat terjadi tidak
terkait dengan faktor intrinsik darah. Contohnya termasuk kelebihan
volume terkait transfusi (TACO) dan hipotermia.
Patofisiolog reaksi transfusi tertunda, antara lain:
Reaksi transfusi hemolitik yang tertunda: Biasan








