Tampilkan postingan dengan label Imunologi 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imunologi 4. Tampilkan semua postingan

Imunologi 4

 



ubuh terhadap bakteria piogenik 

dan mikrooganisme intraselular. Ada beberapa macam defek genetik 

fagosit, 2 di antaranya mempunyai makna klinik penting, yaitu chronic 

granulomatous disease (CGD) dan leucocyte adhesion defesiency (LAD)

Disfungsi sel-sel PMN pada CGD disebabkan gangguan metabolisme 

oksidatif akibat defisiensi enzim G6PD, ketidakmampuan NADPH-

oksidase untuk bereaksi dengan substrat, gangguan rangsangan 

terhadap membran sel atau disfungsi sistem transport elektron dalam 

sel. Penderita CGD tidak mampu memproduksi radikal oksigen (O2) dan 

hidrogen peroksida, sehingga sel tiu tidak mmapu membunuh kuman 

atau jamur yang ditelannya. Akibatya yaitu  kuman itu tetap hidupo di 

dalam sel fagosit dan mengakibatkanm terjadinya respons imun selular 

terhadap mikroba intraselular ini  dan terbentuknya granuloma.

Difungsi PMN pada LAD disebabkan adanya gangguan pada reseptor 

permukaan fagosit yang dikenal sebagai reseptor komplemen CR3. 

reseptor ini kaedaan normal dapat berinteraksi dengan C3b yang melapisi 

(opsonisasi) mikroogarnisme dan merupakan poroses yang penting untuk 

berlangsungnya fagositosis. Pada LAD terjadi defek pada reseptor ini yang 

berakibat infeksi berat terutama pada mulut dan saluran cerna

CR3 terdiri atas rantai polipeptida alfa (CD11b) dan rantai beta (CD 

18) dan pada LAD ada  defek rantai beta secara genetik. Pada LAD 

juga ada  defek lymphocyte function associated antigen (LFA-1) 

yang merupakan reseptor penting pada proses adhesi sel. Reseptor 

ini beriteraksi dengan molekul adhensi interselular (ICAM-1) pada 

permukaan sel endetel dan membran lain. Akibat defek LFA-1 fagosit 

penderita LAD tidak mampu melekat melekat pada dinding pembuluh 

darah tidak dapat menyebar cepat.

Disfungsi fagosit yang lain dapat berupa kelainan intrinsik yan 

antara lain disebabkan oleh defisiensi enzim yang diperlukan untuk 

pembunuhan kuman. Gangguan pada granula azurofil dalam sel 

111


polimorfonuklear (PMN) memicu  sel PMN kekurangan enzim-

enzim untuk metabolisme oksidatif, misalnya defisiensi lisozim pada 

sindrom Chediak-Higashi, defisiensi dan difisiensi laktoferin. Kelainan 

ini disebut defisiensi granula spesifik (specific granules deficiency). 

Penyebabnya belum diketahui pasti namun  diduga pada penyakit ini faktor 

genetik juga memegang peranan penting.

Manifestasi klinik disfungsi fagosit yang umum yaitu  infeksi 

bakterial berulang kali, baik lokal maupun sistemik terutama infeksi 

oleh Staphlococcus aureus, streptococcus hemolyticus atau candida, 

dan jarang oleh virus. Pada penderita sering tampak infeksi berat tanpa 

peningkatan suhu dan tanpa peningkatan jumlah leukosit, mungkin juga 

timbul abses dingin

b. Defesiensi sistem komplemen

Berbagai jenis defesiensi dan gangguan fungsi komplemen sering 

dikaitkan dengan peningkatan kepekaan terhadap infeksi, sebab  

komplemen diperlukan untuk opsonisasi, pembunuhan kuman dan 

terjadinya khemotaksis neutrofil. Walaupun komplemen tidak ada 

hubungan dengan kepekaan terhadap infeksi, namun  dikaitkan dengan 

penyakit-penyakit lain, misalnya kecenderungan penyakit kompleks 

imun dan autoimun. Defisiensi komponen-komponen autosomal recessive 

trait, kecuali defisiensi properdin yang diturunkan secara X-linked dan 

difisiensi inhibitor C1 yang diturunkan secara autosomal dominant

Difisiensi masing-masing komponen dalam sistem komplemen 

menunjukkan gejala klinik yang berbeda-beda. Walaupun dakam 

kepustakaan telah dilaporkan berbagai jenis penyakit atau sindrom 

yang dihubungkan dengan difisinsi komplemen hanya beberapa saja 

diantaranya yang relatif sering di jumpai.

Salah satu diataranya yaitu  difisiensi inhibitor C1- esterase. Defisiensi 

ihibirtor ini mengakibatkan aktivitas C1, C2 dan C4 secara terkendali yang 

berlebihan dan berakibat peningkatan permeabilitas dinding kapiler 

sehingga terjadi edema non- inflamasi lokal yang timbul berulang kali. Hal 

ini dijumpai pada sindrom edema hereditary angioneurotic edema (HAE). 

Ada 2 bentuk HAE yang dikenal yaitu tipe I dengan defegen inhibitior C1 

sehingga tidak terbentuk transkripnya, sedang  pada tipe II terjadi 

point mutation pada gen inhibitor C1 sehingga yang terbentuk yaitu  

inhibitor-C1 sehingga yang terbentuk yaitu  Inhibitor C 1 yang cacat .

112


Difisiensi C1r C4 dan C 2 memicu  kegagalan dalam aktivasi 

C3 convertase. Kelainan ini adakalanya di jumpai pada penderita SLE. 

Hubungan yang pasti antara defisiensi komplemen dengan SLE belum 

di ketahui, namun diduga bahwa hal itu disebabkan ketidak mampuan 

sistem imun penderita untuk menyingkirkan kompleks antigen-antibodi 

yang ada  dalam tubuh secara efektif.

Penderita dengan difisiensi C3, C5, C6, C7, C8 dan C9 sering di 

jumpai namun pada umumnya penderita itu tampat sehat kecuali 

ada peningkatan kepekaan terhadap infeksi Neisseria gonorrhoea dan 

Neissieria meningitidis. Defisiensi C3 atau C5 memicu  gangguan 

opsonisasi mikroorganisme di samping gangguan penglepasan faktor 

kemotaktik sehingga proses fagositosis terganggu.

c. Defisiensi Limfosit T

Kelainan ini dapat berupa kelainan intrinsik sel B, kelainan fungsi 

sekresi imunoglubulin, atau kelainan intrinsik maupun fungsi sekresi. Ciri 

utama kelainan ini yaitu  penurunan kadar imunoglobulin serum yang 

bervariasi antara defisiensi semua kelas imunoglobulin hinga defisiensi 

imunoglobulin selektif .

Defisiensi imunoglobulin terjadi alami pada neonatus, yaitu apabila IgG 

yang berasal dari Ibu telah menghilang, dan hal ini terutama berbahaya 

bagi bayi yang lahir prematur sebab  pada umumnya sistem imun pada 

bayi prematur belum berfungsi sempurna. Neonatus pada umumnya 

mendapat perlindungan dari Ig yang berasal dari Ibu. IgA, IgM, IgD dan 

IgE tidak dapat melewati plasenta, sehingga bila dalam darah neonatus 

ada  peningkatan kadar IgA atau IgM perlu dipikirkan bahwa Ig ini 

dibentuk sendiri oleh neonatus akibat infeksi intrauterin. IgG maternal 

mengalami katabolisme dengan waktu peruh sekitar 30 hari. Dalam 

waktu 3 bulan, bayi normal sudah mulai membentuk antibodi sendiri, 

walaupun antibodi terhadap kapsul polisakarida bakteri tidak terbentuk 

dalam jumlah memadai sebelum ia berumur 2 tahun. Pada umur 5- 6 

bulan kadar IgG dalam darah bayi umumnya rendah sehingga pada usia 

ini bayi sangat peka terhadap infeksi.

Ada kalanya pada usia 5 – 6 bulan bayi mengalami infeksi saluran 

nafas berulang kali dan hal ini biasanya dihubungkan dengan defesiensi 

IgG. Kelainan ini disebut transient hypogammglobulinemia. atau 

hipogamaglobulin fisiologi. Kelainan ini sering kali berubah menjadi 

113


normal secara spontan pada umur 4 tahun. Penyebab imunodefisiensi 

ini belum diketahui pasti. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa 

pada penderita transient hypogammaglobulinemia dijumpai jumlah sel 

B yang cukup namun  fungsi sel T CD4+. Mungkin ketidak mampuan sel 

B membentuk imunoglebulin disebabkan tidak adanya bantuan dari 

sel T CD4+. Jumlah dan fungsi set T CD4+ akan kembali normal sesudah  

beberapa waktu.

Imunodefisiensi yang paling sering di jumpai yaitu  common variabel 

immunodeficiency (CVID) yang umumnya baru timbul sesudah  penderita 

dewasa, baik pria maupun wanita, ditandai dengan infeksi piogenik 

berulang kali. Dalam sumsum tulang ada  sel B imatur dalam jumla 

normal, namun  pada sebagian penderita jumlah sel B dalam sirkulasi yang 

menampilkan Imunoglobulin permukaan (sIg = Surface immunoglobulin) 

menurun. Limfosit B tidak mampu berdiferensiasi menjadi sel plasma 

atau tidak mampu menderita ini juga dijumpai kelainan pada limfosit

T. Penyebab brlum diketahui dengan pasti, namun beberapa pakar 

menduga kelainan ini disebabkan peningkatan jumlah atau aktivitas sel 

Treg atau Ts.

Pada agamaglobulinemia kongenital yang terutama di jumpai pada 

anak laki-laki (X- linked agamaglobulinemia), produk imunoglobulin 

umumnya tertekan dan dalam kelenjar limfe hanya ada  sedikit 

folikel limfoid atau sel plasma.

Jumlah sel B dalam sirkulasi berkurang atau bahkan tidak ada sel B 

namun  sel T biasanya normal. Diduga kelainan ini disebabkan tidak ada 

prekursor sel B dalam sumsum tulang sehingga dalam sumsum tulang tidak 

ada  sel plasma dan dalam darah perifer tidak ada  sel B beberapa 

peneliti dapat menemukan sel pre B dalam sumsum tulang dan dalam 

sirkulasi, namun  sel pre B ini tidak mampu mensintesis imunoglobulin. 

Respons imun selular umumnya tidak terganggu, sehingga walaupun 

pada penderita sering dijumpai infeksi piogensik yang berat, infeksi 

dengan virus biasanya dapat diatasi dengan baik. Dalam serum tidak di 

jumpai IgA, IgM, IgD maupun IgE, namun  IgG dapat dijumpai dengan kadar 

yang sangat rendah. Pada umur 6 –12 bulan, penderita dilindungi dengan 

IgG yang berasal dari Ibu, yang akan menurun kadarnya sesudah  beberapa 

bulan, sehingga penderita akan mengalami infeksi piogenik berulang kali.

114


Pada defisiensi imunoglobulin selektif, limfosit B tidak mampu 

memproduksi Imunoglobulin kelas tertentu atau Imunoglobulin tertentu 

yang diperoduksi tidak berfungsi semestinya. Yang paling sering dijumpai 

yaitu  defisiensi IgA, dengan ciri infeksi saluran nafas atau saluran cerna. 

Umumnya pada kelainan ini tidak dijumpai kelainan imunolgobulin kelas 

lain maupun kelainan limfosit T, dan seringkali masih tampak sel B dengan 

sIg A. ini berarti bahwa sel B masih mampu memproduksi IgA namun  

tidak mampu mensekresikannya. Diduga hal ini disebabkan defisiensi 

komponen-komponen sekretorik atau mungkin juga defisiensi sel Th. 

Adanya anti- IgA dalam serum penderita memicu  dugaan bahwa 

anti-IgA berperan dalam proses penyakit ini, meski belum diketahui 

apakah anti-IgA menghambat produksi IgA ataukah tidak adanya 

IgA memicu  hilangnya toleransi sehingga tubuh memproduksi 

antibodi terhadap zat eksogen yang secara imunologik mirip IgA. 

Disgamaglobulinemia kelas lain misalnya IgM atau sub kelas IgG.

d. Defisiensi Limfosit B

Berbeda dengan penderita defisiensi imunoglobulin yang biasanya 

menderita infeksi berulang kali dengan kuman patogen yang berkapsul, 

penderita defisiensi limfosit T sangat peka terhadap infeksi virus, jamur 

dan kuman yang patogenitasnya rendah atau infeksi aportunistik. 

Sindrom di Goerge, Wiskott dan Aldirch dan chronic mucocutaneous 

candidiasis termasuk golongan kelainan ini

Sindrom di George ditandai dengan tidak terbentuknya kelenjar thymus 

sama sekali (aplasia) atau pembentukan thymus yang tidak lengkap 

(hipoplasia) pada saat embriogenesis. sebab  itu cikal bakal limfosit 

tidak dapat berkembang menjadi limfosit T. Sebaliknya jaringan limfoid 

tetap terbentuk walaupun perkembangannya sedikit terganggu. Jumlah 

limfosit T dalam sirkulasi sangat sedikit dan fungsinya terganggu. Respon 

imun selular terganggu sehingga walaupun penderita dapat mengatasi 

infeksi mikroba piogenik, ia tidak mampu mengatasi infeksi virus bahkan 

tidak mampu mengatasi vaksinasi BCG. Dalam serum penderita masih 

dapat di jumpai imunoglobulin walaupun kadarnya sering berkurang. Hal 

ini menandakan bahwa pembentukan imunoglobulin tetap diperlukan 

bantuan limfosit T.

115


Pada Sindrom   Wiskot-Aldrich   dijumpai   kelainan pada proses ekspresi 

antigen oleh makrofag. Penyakit ini merupakan penyakit imunodefisiensi 

yang X-linked dan dijumpai pada pria. Sindrom yang lengkap terdiri atas 

eksim, infeksi piogenik, infeksi aportunistik, disertai trombositopenia. 

Kadar IgA dan IgE meningkat, kadar IgG normal sedang  kadar IgM 

umumnya sangat sangat rendah. Dalam serum penderita kadang-kadang 

di jumpai antibodi limfositsitotoksik yang selektif terhadap limfosit T. 

Fungsi sel T pada penderita terngganggu dan malfungsi ini lama makin 

progresif. Pada chronic mucocutaneous candidiasis sering di jumpai 

gangguan produksi migration inhibotory facktor (MIF) dan mungkin juga 

gangguan produksi lomfokin yang lain

Tabel 8.1 :  Penyakit yang disebabkan defisiensi dari komponen-kom-

ponen sistim imun

e. Defesiensi sel induk (stem cell)

Gejala yang ditunjukan oleh defesiensi sel induk limfoid merupakan 

kombinasi kelainan limfosit B dan limfosit T yaitu  severe combined 

imumunodeficiency (SICD). Gejala klinik pada penderita dengan kelainan 

ini disebabkan gangguan enzim recombinase yang sangat diperlukan 

untuk pembentukan reseptor sel B dan sel T. sebab  itu pada kelainan 

baik sel B maupun sel T tidak berhasil menjadi sel yang imunokompeten 

sehingga terjadilah imunodefisiensi selular maupun humoral. Pada 

penderita lain dapat di jumpai gangguan enzim adenosin deaminase 

pada sel B maupun T. Jenis lain yang lebih fatal yaitu  defisiensi sel 

induk pluripoten. Pada keadaan ini baik cikal bakal limfosit maupun cikal 

bakal sel mieloid tidak berkembang. Kelainan ini dikenal dengan istilah 

disgenesis retikular

116


f. Defisiensi MHC kelas II

Ketidak mampuan mengekspresikan MHC kelas II pada permukaan 

sel APC (makrofag dan sel B) diturunkan secara autosom resesif yang 

tidak berkaitan dengan lokus histocompatibilitas pada lengan pendek 

kromosom 6. anak yang menderita penyakit ini sering terkena infeksi 

berulang kali, terutama pada saluran cerna. sebab  perkembangan sel T 

CD4⁺ bergantung pada seleksi positif oleh MHC kelas II dalam thymus, 

defisiensi MHC kelas II menunjukkan defisiensi sel T CD4+, yang juga 

mengakibatkan defisiensi antibodi

2. DENFISIENSI IMUN SEKUNDER

Golongan imunodefisiensi sekunder lebih sering dijumpai dan 

dapat disebabkan oleh berbagai faktor etiologik, misalnya malnutrisi, 

infeksi virus yang bersifat sitotoksik terhadap sel limfosit seperti yang 

dijumpai pada AIDS, defisiensi akibat sinar X, obat-obat sitotoksik dan 

krotikosteroid. Imunodofesiensi sekunderjufga dapat terjadi akibat 

keganasan misalnya pada penyakit Hodgkin, leukemia limfositik kronik, 

mieloma dan penyakit Waldestrom, atau sebab  adanya hambatan pada 

proses imun seperti yang dijumpai pada penyakit lepra lepromatosis 

atau malaria. Namun masih banyak kasus imunodefisiensi sekunder yang 

belum diketahui sebabnya secara pasti.

Acquired immune deficiency sydrome (AIDS)

Imunodofesiensi   sekunder   yang   paling   banyak    dibicarakan akhir – 

akhir ini yaitu  AIDS, yang disebabkan infeksi human immunedeficiency 

virus (HIV). Penularan HIV di Afrika terjadi melalui hubungan 

heteroseksual namun  di bagian dunia yang lain penularan terutama terjadi 

melalui hubungan homoseksual walaupun transmisi heteroseksual juga 

makin lama makin meningkat. Selain itu penularan HIV dapat terjadi 

atara pencadu obat bius intravena dan dari ibu HIV positif kepada janin 

melalui transmisi fetomaternal. Segera sesudah  infeksi primer, sebanyak 

1 diantara 100 sel T CD4+ mengandung virus. Respons imun semua 

dapat menurunkan jumlah virus, namun  tidak lama virus dapat mengatasi 

perlawanan sisten imun dan berkembang dengan cepat dan menginfeksi 

lebih banyak sel T. Pengukuran jumlah sel T CD4+ merupakan parameter 

terbaik untuk mengetahui pernjalanan penyakit. bila jumlah absolut CD4+ 

117


kurang dari 600/ ul penderita mulain menunjukkan defisiensi imun selular 

dan menderita infeksi oportunistik. Pada awal perkembangan penyakit, 

sel B memperlihatkan proferasi poliklonal dan kadar imunoglobulin 

meningkat. Hasil pemeriksaan laboratorium yang khas pada penderita 

AIDS yaitu  penurunan jumlah dan fungsi limfosit T CD4+ peningkatan 

jumlah sel limfoid imatur dan aktivitas sel T CD8+ pada stadium akhir 

kadar imunoglobulin menurun secara drastis

Beberapa pakar menyatakan bahwa limfosit penderita AIDS kurang 

bereaksi terhadap rangsangan mitogen. Unsur yang paling penting 

dan sentral dalam patogenesis AIDS yaitu  gangguan pada sel TCD4+ 

khususnya yang tergolong T helper inducer, baik jumlah maupun 

fungsinya. HIV, sehingga HIV dapat melekat lalu masuk ke dalam sel dan 

merusaknya. sebab  itu pada AIDS di jumpai penurunan jumlah limfosit 

CD4+ sedang  CD8+ meningkat atau normal, sehingga rasio pada 

infeksi CD4+ / CD8+ menurun. Berbeda dengan penurunan rasio CD4 / 

CD8 yang dijumpai pada infeksi virus lain yang reversibel, penurunan 

rasio CD4/CD8 pada AIDS biasanya ireversibel. Penelitian Elvira tahun 

2021 diketahui bahwa pada penderita HIV dengan TB, ada  hubungan 

bermakna antara kadar protein-10 IFN-γ  urin sebagai biomarker 

diagnosis TB paru aktif pada pasien HIV dengan kadar CD4 serum pada 

pasien koinfeksi TB-HIV dengan kekuatan korelasi sedang.

Pada AIDS juga di jumpai gangguan fagosit; dengan demikian 

imunidefisiensi selular pada AIDS tidak terbatas pada sel – sel limfoid. 

Monosit dan makrofag dapat terinfeksi oleh HIV bahkan sel – sel ini 

merupakan resevoir yang stabil bagi virus, sebab  sel – sel ini mempunyai 

masa hidup yang lama dan menyediakan dirinya untuk replikasi virus 

secara terus menerus. Sel – sel ini baru dapat dimusnankan virus kalau 

dibantu oleh limfokin yang diproduksi oleh Sel T.

Pada AIDS jumlah sel B yang mensekresi imunoglobulin bertambah. 

Hal ini diduga terjadi sebab  aktivitas dan proliferasi sel B secara 

poliklonal. Namun demikian ternyata imunoglobulin poliklonal yang 

diproduksi tidak berfungsi semestinya (qualitatively defective). Diduga 

hal ini disebabkan gangguan sel B secara intrinsik .

AIDS merupakan penyakit yang fatal. Kematian biasanya 

disebabkan pneumonia, dan 30% disebab oleh gangguan sistem saraf. 

Infeksi oportunistik biasaya disebabkan oleh Pneumocystis Carinii, 

118


Candida, Cytomegalovirus (CMV) dan Toxoplasma. Penderita AIDS 

menunjukkan kepekaan terhadap sarkoma kaposi. Diagnosis ditegakkan 

dengan menemukan anti HIV dalam serum dengan cara ELISA yang 

dikonfirmasikan dengan cara Western Blott

3. PEMERIKSAAN LABORATURIUM PADA DEFISIENSI IMUN

Salah satu gejala imunodefisiensi yang paling menonjol dan yang 

membawa penderita ke dokter yaitu  infeksi berulang atau berkelanjutan 

yang tidak dapat diatasi dengan terapi yang adekuat. Adanya infeksi berat 

tanpa demam disertai leukopenia atau infeksi dengan kumanyang pada 

dasarnya apatogen atau infeksi oportunistik, memicu  kecurigaan 

adanya imunodefisiensi. Namun, sering pula dijumpai jumlah leukosit 

yang normal namun  tidak berfungsi adekuat, demikian juga gangguan 

dalam komponen-komponen lain dalam sistem imun yang tidak dapat 

dibedakan satu dengan yang lain secara klinik.

Dalam melakukan pendekatan diagnosis dengan pemeriksaan 

laboraturium, ada  beberapa aliran di antara para pakar. Ada yang 

melakukanpenilaian berdasar  imunitas selular atau humoral, namun  

adapula yang melakukan pendekatan dengan cara lain. Salah satu di 

antaranya yaitu  yang dikemukakan pada konferensi di University of 

California Los Angeles (UCLA) pada tahun 1988, yang disusun secara tata-urut 

(algoritmis)3. Tata-urut pemeriksaan laboraturium mencakup uji penyaring 

maupun rencana terinci untuk mempelajari kelainan neutrofil serta uji 

penyaring untuk mempelajari fungsi limfosit B, T dan komplemen. Dalam 

menentukan tata urut, ruang lingkup rencana kerja disesuaikan dengan 

kondisi penderita secara individual, misalnya umur, hasil pemeriksaan fisik 

dan pemeriksaan penunjang lain. Pada bagan dibawah disajikan algoritme 

pemeriksaan laboraturium pada imunodefisiensi secara umum.

Uji saring

Kedalam kelompok uji penyaring termasuk : hitung leukosit, trombosit, 

retikulosit dan hitung jenis leukosit dengan memperhatikan morfologi 

eritrosit. dan leukosit, serta biakan kuman. Dari mikroorganisme yang 

dijumpai pada sediaan atau biakan seringkali dapat diduga letak gangguan 

pada sistem imun. Kuman piogenik biasanya menunjukkan kelainan 

fagosit, komplemen dan limfosit B, sedang  virus atau jamur umumnya 

119


menunjukkan kelainan imunitas selular (limfosit T). pemeriksaan 

hemoglobin, morfologi eritrosit dan retikulosit dilakukan dengan maksud 

menyaring adanya anemia hemolitik. Kemungkinan defisiensi glucose-

6-phosphate dehydrogenase (G6PD). Pada sindroma Wiskott-Aldrich 

sering dijumpai trombositopenia disertai eksim, sedang  adanya 

neutrofil dengan granula abnormal (giant cytoplasmic granules) disertai 

albinisme memicu  dugaan sindrom Chediak-Higashi, defisiensi 

granula spesifik. Penemuan jumlah neutrofil kurang dari 1800/ul atau 

jumlah limfosit absolut kurang dari 1500/ul memicu  dugaan ke 

arah imunodefisiensi selular dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Bila uji saring diatas tidak menunjukkan kelainan, pemeriksaan 

dilanjutkan dengan uji imunitas humoral, yaitu pengukuran kadar 

imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgE), titer isohemaglutinin serta kadar 

komplemen terutama C3 dan C4, serta uji hemolitik CH50. Penurunan 

kadar imunoglobulin merupakan parameter kelainan sel B, sedang  

peningkatan kadar IgE menunjukkan sindrom hiper-IgE. Penurunan kadar 

dan fungsi komplemen berarti hipokomplementemia yang mungkin juga 

disebabkan ko-eksistensi penyakit autoimun disamping imunodefisiensi. 

Kelainan sel B dapat juga diamati di tingkat selular, dan pengujiannya 

dilakukan pada pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan lanjutan

Bila hasil pengujian humoral normal, pertimbangkan kelainan pada 

sel T dengan melakukan uji imunitas selular. Uji kuantitatif saja seringkali 

tidak menunjukkan korelasi dengan fungsi sel. Uji imunitas selular 

kualitatif yang sering dilakukan yaitu  uji kulit dan uji fungsi limfosit, 

misalnya uji stimulasi limfosit dengan rangsangan mitogen (transformasi 

balst) atau pengujian migration inhibitory factor (MIF). Jumlah sel T 

dapat dihitung dengan berbagai cara di antaranya dengan mendeteksi 

petanda spesifik pada permukaan sel memakai  antibodi monoklonal 

dengan prinsip imunofluoresensi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan 

memakai  mikroskop fluoresensi atau alat yang lebih canggih yang 

dapat memilah-milah setiap populasi dan subpopulasi limfosit secara 

automatis berdasar  penanda permukaannya (CD) yaitu dengan 

flowcytometer atau fluorescence activated. Pada penderita defisiensi sel 

T dapat di jumpai hasil uji kulit negatif jumlah sel T rendah atau hasil uji 

stimulasi negatif.

120


Untuk menguji limfosit B tingkat selular dapat digunakan prinsip yang 

sama, misalnya aktivitas dengan mitogen atau antigen, dan mengukur 

kadar antibodi yang diproduksi. Pada uji biosintesis ini yang diuji 

yaitu  kemampuan sel B yang telah distimulasi dan menjadi sel Plasma, 

untuk mensintesis atau mensekresi imunoglobulin. Hal ini dilakukan 

dengan mengukur kadar imunoglobulin yang disekresikan dengan cara 

radioimmunoassay, atau mempelajari imunoglobulin intrasitoplasmik 

yang diwarnakan dengan anti- imunoglobulin berlabel fluoresin di bawah 

mikroskop UV atau dengan flowcytometer.

Penilaian fungsi fagositosis dapat dilakukan bertahap sesuai dengan tahap  

proses fagositosis, seperti diuraikan terdahulu, namun  yang paling mudah 

yaitu  uji nitroblue tetrazolium (NBT). Uji NBT menguji kemampuan 

neutrofi untuk mereduksi NBT menjadi formazan yang berwarna biru. 

Hal ini menggambarkan kemampuan neutrofil untuk membentuk 

H2O2 dan superoksida, dengan demikian menggambarkan kemampuan 

membunuh kuman intraselular. Hasil uji NBT yang abnormal antara lain 

dijumpai pada chronic granulomatous disease (CGD). Untuk menilai fungsi 

neutrofil dapat juga dilakukan uji pembentukan superosiksida dengan cara 

chemiluminescence. Uji motilitas atau kemotaksis juga dapat dilakukan baik 

in vivo dengan uji Rebuck skin window maunpun un vitro memakai  

leukosit serta serum penderita dan serum kontrol. Hasil uji yang abnormal 

baik dengan memakai  serum penderita maupun serum kontrol 

menunjukkan gangguan fagosit primer seperti di jumpai pada defisiensi 

granula spesifik. Apabial hasil abnormal hanya dijumpai dengan serum 

penderita sedang  hasil pengujian denga serum kontrol berhasil normal, 

kemungkinannya defisiensi kemotaksis sekunder atau defisiensi komplemen.

Uji fungsi limfosit dapat juga dilakukan dengan mengukur 

kecepatan sintesis DNA, yaitu dengan menghitung jumlah serapan 

titriated thymidine (3H-Tdr) dengan cara autoradiografi atau dengan 

memakai  scintillation spectrophotometer. Akhir – akhir ini dapat 

digunakan metode flowcytomertry untuk mengukur tingkat proliferasi 

sel dengan mendeteksi molekul permukaan pada sel teraktivasi. Penilaian 

fungsi limfosit maupun fungsi fagosit umumnya merupakan uji biologik 

dan bermacam – macam kelainan intrinsik cara ini umumnya hanya 

dapat mendeteksi gangguan yang lengkap, sebab  pada kelainan fungsi 

yang partial, hasil pengujian ini sulit ditafsirkan. Namun bila dilengkapi 

dengna anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, hasil pengujian di 

atas dapat digunakan untuk menunjang diagnosis secara lebih seksama.

121


BAB IX 

HIPERSENSITIVITAS

Bila seseorang pernah terpapar pada antigen tertentu, maka pemaparan 

berikutnya dengan antigen yang sama memicu  respons imunologik 

sekunder dengan tujuan menyingkirkan antigen ini . Hal ini 

merupakan reaksi alami tubuh untuk mempertahankan diri. Namun, 

pada keadaan tertentu. Reaksi imunologik dapat berlangsung berlebihan 

sehingga memicu  kerusakan jaringan. Reaksi itu disebut reaksi 

hipersensitivitas. Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi bila jumlah 

antigen yang masuk relatif banyak atau bila status imunologik seseorang, 

baik selular maupun humoral, meningkat.

berdasar  mekanisme reaksi imunologik yang terjadi, Gell dan 

Coombs membagi rekasi hipersensitivitas menjadi 4 golongan, yakni 

reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III, IV, kemudian akhir-akhir ini dikenal 

satu golongan lain yang disebut tipe V atau stimulatory hypersensitivity. 

Reaksi Tipe I, II, III, dan IV terjadi sebab  interaksi antara antigen dengan 

reseptor yang ada  pada permukaan limfosit sehingga termasuk 

reaksi selular. Sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk timbulnya 

reaksi, reaksi tipe I, II, III dan IV disebut reaksi tipe segera (immediate), 

walaupun reaksi yang satu timbul lebih cepat dari yang lain, yaitu antara 

beberapa detik atau menit pada tipe I hingga beberapa jam pada tipe 

II dan III. Sebaliknya tipe IV disebut reaksi tipe lambat (delayed type 

hupersensitivity reaction) sebab  reaksi berlangsung lebih lambat 

dibandingkan tipe yang lain, yaitu umumnya lebih dari 12 jam. Walaupun 

demikian, dalam praktek, mekanisme reaksi hipersensitivitas tidak selalu 

berdiri sendiri atau terpisah satu dari yang lain, namun  sering melibatkan 

lebih dari satu mekanisme reaksi imunologik.

1. HIPERSENSITIVITAS TIPE I

Hipersensitivitas tipe I atau immediate hypersensitivity yaitu  

reaksi yang dipicu oleh paparan ulang terhadap jenis antigen tertentu. 

Hipersensitivitat Tipe I berbeda dari tipe II, tipe III dan tipe IV, sebab  

paparan oleh agen dapat melalui konsumsi, inhalasi, injeksi, atau kontak 

langsung. Kelainan klinis hipersensitivitas tipe I disebut denga istilah 

atopi mencakup asma, eksim, hay fever, dan urtikaria.

122


 Gejala ini biasanya muncul pada individu dengan anggota keluarga 

yang menunjukkan gejala yang sama, yaitu menunjukkan reaksi alergi 

segera sesudah  terpapar pada antigen lingkungan.

Peran IgE dan mediator lain

Faktor terpenting yang berperan pada reaksi anafilatik yaitu  IgE, 

yang disebut antibodi homostitotropik atau reagin. IgE mempunyai sifat 

khas yang tidak dimiliki oleh imunoglobulin kelas lain yang afinitas yang 

tinggi pada mastosit dan basfi melalui reseptor Fc pada permukaan sel 

bersangkutan yang mengikat fragmen Fc IgE. Sekali terikat, IgE dapat 

melekat pada permukaan mastosit dan basofil selama beberapa minggu dan 

IgE yang terikat inilah yang berperan beasr pada reaksi anafilaktik. Selain 

IgE, IgG4 diketahui mempunyai kemampuan serupa, namun  dengan afinitas 

yang jauh lebih rendah. Penelitian- penelitian terakhir mengungkapkan 

bahwa berbagai jenis limfokin dan sitokin dengan peran multi fungsi 

juga dilepaskan pada reaksi ini sebagai akibat aktivitas mastosit oleh IgE. 

IL-3 dan IL-4 mungkin mempunyai dampak autokrin pada sel mestosit 

bersangkutan dan substansi ini bersama-sama dengan sitokin yang lain 

meningkatkan produksi IgE oleh sel B. disamping itu beberapa jenis sitokin 

lain, termasuk produk golongan gen IL-8/IL-9, berperan dalam proses 

khemotaksis dan aktiitas sel-sel inflamasi di daerah terjadinya alergi.

Gambar 9.1: Faktor-faktor yang memicu  crosslinked dari reseptor 

Fcε yang memicu proses degranulasi sel mast (Sumber: 

Delves et a.,2017)

123


Apabil IgE yang berikatan dengan reptornya pada mastosit atau basofil, 

mengalami pemaparan ulang pada alergen spesifik yang dikenalnya, 

maka alergen akan diikat oleh IgE sedemikian rupa sehingga alergen 

ini  membentuk jembatan antara 2 molekul IgE pada permukaan 

sel (crosslinking). Crosslinking hanya terjadi dengan antigen yang bivalen 

atau multivalen namun  tidak terjadi dengan antigen yang univalen. 

Crosslinking yang sama dapat terjadi bila fragmen Fc-IgE berekasi dengan 

anti IgE, ataubila reseptor Fc dihubungkan satu dengan lain lain oleh anti 

reseptor Fc. Crosslinking merupakan mekanisme awal atau sinyal untuk 

degranulasi sel mast atau basofil (gambar 9.1).

Segera sesudah  ada sinyal pada membran sel, terjadi serangkaian reaksi 

biokimia intraselular secara berurutan menyerupai kaskade, dimulai 

dengan aktivitasi enzim metiltransferase dan serine esterase, diiku 

dengan perombakan fosfatidilinositol menjadi inositol triphosphat (IP3), 

pembentukan diasilgliserol dan peningkatan ion Ca++ intrasitoplasmik. 

Reaksi-reaksi biokimia ini memicu  terbentuknya zat-zal yang 

memudahkan fusi membran granula sehingga terjadi degranulasi.

Degranulasi mengakibatkan penglepasan mediator-mediator yang 

sebelumnya telah ada di dalam sel misalnya histamin, heparin, faktor 

kemotaktik eosinofil (neutrophil chemotactic factor/NCF), platelet 

activating factor (PAF). maupun pembentukan berbagai mediator baru. 

Di antara mediator baru yang dibentuk yaitu  slow reacting sub stances 

of anapltylaxis yang terdiri atas substansi-substansi dengan potensi 

spasmogenik dan vasodilalasi yang kuat yaitu leukotrien LTB4, LTC4 dan 

LTD4, di samping beberapa jenis prostagiandin dan tromboksan. Mediator-

mediator ini  mempunyai dampak langsung pada jaringan, misalnya 

histamin memicu  vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, 

penyempitan bronkus, edema pada mukosa dan hipersekresi. Jenis mediator 

baru yang dibentuk bermacam-macam tergantung populasi mastosit yang 

membentuknya, sehingga manifestasi kliniknya juga berbeda-beda .

Peran mastosit dalam reaksi alergi

Diketahui bahwa populasi mastosit merupakan populasi yang 

heterogen dan distribusinya dalam berbagai jaringan juga berbeda. Sel 

mastosit ada  sekitar pembuluh darah dan dalam sebagian besar 

jaringan tubuh. Pada manusia sebagian besar mastosit ada  dalam 

mukosa sepanjang saluran cerna dan pernafasan disebut mucosal mast 

cell (MMC) dan di jaringan lainseperti kulit disebut connective tissue mast 

124


cell (CTMC). Struktur dan fungsi mastosit antara spesies yang satu dengan 

spesies yang lain, maupun mastosit yang berasal dari lokasi berbeda. 

Mastosit dalam dinding saluran cerna mempunyai jumlah dan ukuran 

granula yang lebih besar dibanding mastosit yang terrdapat pada kulit. 

Sel MMC dan CTMC berasal dari sel induk yang sama, yang pada akhir 

perkembangannya menunjukkan perbedaan dalam fenotip, bergantung 

pada lingkungan lokal.

Granula mastosit mengandung beberapa jenis protease; dua di 

antaranya yaitu  trypase dan chymase. Protease ini mempunyai makna 

klinik cukup penting sebab  tryptase terbukti dapat memicu  

respons berlebihan pada bronkhus edan chymase dapat merangsang 

peningkatan sekresi mukus oleh bronkus; keduanya merupakan ciri asma. 

Kedua jenis protease juga dapat merombak peptida intestinal vasoaktif 

yang merupakan mediator relaksasi bronkus.

Rangsangan pada mastosit untuk melakukan degranulisi terjadi 

bila ada crosslinking IgE oleh pengikatan IgE dengan molekul alersen 

atau molekul lain yang memicu  agregasi reseptor Fc. Degranulasi 

juga terjadi bila ada crosslinking antara reseptor Fc secara langsung, 

misalnya oleh pengikatan jenis lectin seperti PHA dan ConA. Hal ini 

dapat menjelaskan mengapa urtikaria dapat timbul sesudah  menyantap 

makanan yang banyak mengandung lectin, misalnya buah strawberi. 

Komponen lain yang juga dapat merangsang degranulasi mastosit 

yaitu  C3a dan C5a, obat-obat seperti ACTH sintetik, kodein dan morfin. 

Mastosit yang ada  pada mukosa (MMC) memerlukan mediator 

untuk maturasi yang dilepaskan oleh sel T, yaitu IL-3 dan IL-4 dan untuk 

melepaskan mediator-mediator itu diperlukan interaksi langsung dengan 

sel T. Mediator-mediator ini yang diproduksi oleh sel TDTH hanya dapat 

mengaktivasi mastosit selama beberapa jam, berbeda dengan IgE yang 

dapat mensensitisasi selama beberapa minggu.

Interaksi dengan antigen memicu  influks Ca++ ke dalam mastosit 

dan hal ini mengakibatkan terjadinya dua proses:

1. Eksositosis isi granula, di antaranya histamin

2. Induksi pembentukan mediator vang merangsang pembentukan 

prostaglandin dan leukotrien yang mempunyai dampak langsung 

pada   jaringan   lokal.   Pada   paru-paru ia segera memicu  

konstriksi bronkus, edema dan hipersekresi mukus.

125


Faktor-faktor yang berpengaruh pada alergi

Di samping faktor genetik, ada beberapa faktor lain yang dapat 

berpengaruh pada alergi. Salah satu di antaranya yaitu  defisiensi 

sel T, terutama sel T-supresor. Pada penderita eksim atopik biasanya 

dijumpai defisiensi sel T CD3+CD8+. Respons sel T terhadap milogen juga 

berkurang pada penderita atopik. 

2. HIPERSENSITIVITAS TIPE lI

Hipersensitivitas tipe II disebut Antibody-mediated cytotoxic reaction 

(IgG or IgM antibodies). Penggolongan reaksi hipersensitivitas semula 

didasarkan atas perbedaan mekanisme kerusakan jaringan yang 

diakibatkannya. Baik reaksi tipe II maupun reaksi tipe III melibatkan IgG 

dan IgM. Perbedaannya yaitu  bahwa pada reaksi tipe II antibodi ditujukan 

kepada antigen yang ada  pada permukaan sel atau jaringan tertentu, 

sedang  pada reaksi tipe III antibodi ditujukan kepada antigen yang 

terlarut dalam serum. Jadi pada reaksi tipe II, antibodi yang ada  

dalam serum bereaksi dengan antigen yang berada pada permukaan 

suatu sel atau yang merupakan komponen membran sel.

Seringkali suatu substansi berupa mikroba dan molekul-molekul kecil 

lain atau hapten, melekat pada permukaan sel dan bersifat sebagai antigen. 

Kompleks antigen-antibodi pada permukaan sel sasaran akan dihancurkan 

oleh sel efektor, misalnya oleh makrofag maupun oleh neutrofil dan monosit, 

atau limfosit T-sitotoksik dan sel NK sehingga mungkin dapat memicu  

kerusakan sel itu sendiri. Pada keadaan ini sulit membedakan antara reaksi 

imun yang normal dengan reaksi hipersensitivitas.

Mekanisme kerusakan jaringan

Proses sitolisis dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu:

a. Proses sitolisis oleh sel efektor. Pada proses sitolisis ini perlu ada 

kontak antara sel efektor dengan sel sasaran. Kontak ini terjadi 

melalui molekul imunoglobulin yang terikat oleh antigen pada 

permukaan sel sasaran, yang kemudian berinteraksi dengan 

reseptor Fc yang ada  pada permukaan sel efektor, misalnya 

makrofag, neutrofil, eosinofil dan sel NK. Dengan demikian fragmen 

Fc merupakan jembatan antara sel efektor dengan sel sasaran 

(opsonicadherence).

126


b. Proses sitolisis oleh komplemen. Proses sitolisis oleh komplemen 

terjadi sebab  Clq merupakan reseptor Fc yang larut dan 

pengikatannya pada kompleks antigen-antibodi yang ada  pada 

permukaan sel merangsang aktivasi C3. Selanjutnya terjadi aktivasi 

komplemen melalui jalur klasik, yaitu aktivasi C5b-9 diikuti lisis sel 

sasaran secara langsung.

c. Proses sitolisis oleh sel efektor dengan bantuan komplemen 

(immune adherence). Sel sasaran yang dilapisi komplemen dapat 

dirusak oleh sel efektor sebab  sel efektor memiliki reseptor 

untuk C3b dan c3d. Pengikatan C3b dan C3d melalui reseptor C3 

pada permukaan sel efektor meningkatkan proses sitolisis oleh sel 

efektor.

Subkelas imunoglobulin yang berbeda menunjukkan kemampuan 

yang berbeda pula dalam hal interaksi dengan berbagai sel efektor dan 

sistem komplemen. Hal ini berkaitan dengan perbedaan karakteristik 

pengikatan pada jenis reseptor Fc yang berbeda satu dengan yang lain. Baik 

fragmen komplemen maupun IgG dapat bertindak selaku opsonin yang 

melapisi permukaan sel mikroba, atau sel lain sehingga sel efektor dapat 

lebih mudah menghancurkannya. Opsonisasi meningkatkan aktivitas 

lisosom fagosit, dan meningkatkan kemampuannya untuk melepaskan 

produk-produk oksigen reaktif, misalnya superoksida, sehingga hal itu 

juga meningkatkan kemampoan sel efektor untuk memicu  keadaan 

imunopatologik pada reaksi hipersensitivitas. Di samping itu antibodi yang 

terikat pada reseptor Fc pada permukaan sel efektor merangsang sel itu 

untuk melepaskan asam arakhidonik yang menghasilkan prostaglandin 

dan leukotrien yang terlibat dalam reaksi inflamasi. Beberapa unsur 

lain, misalnya C5a berfungsi sebagai faktor kemotaktik yang menarik sel 

efektor ke arah terjadinya inflamasi.

Sebagian besar patogen difagositosis dan dibunuh intralisosom, 

namun  hal ini tidak mungkin dilakukan terhadap sel sasaran yang 

berukuran besar. sebab  itu pada keadaan ini, fagosit atau sel efektor 

lain melepaskan mediator-mediator tertentu ke sekitarnya, misalnya 

protease dan kolagenase yang mampu merusak sel sasaran. Mekanisme 

sitolisis dengan bantuan antibodi yang dikenal sebagai ADCC bermanfaat 

untuk membantu sel sitotoksik menghancurkan sel sasaran yang 

berukuran terlalu besar untuk difagositosis. Selain itu mekanisme 

127


sitolisis dengan bantuan antibodi bermanfaat untuk menghancurkan sel 

patologis, misalnya sel tumor, terutama apabila antibodi yang terbentuk 

justru melindungi permukaan sel sasaran diri serangan sel T sitotok-sik 

secara langsung.

Gambar 9.2: Perbedaan mekanisme fagositosis normal dan frustrated 

phagocytic pada raksi hipersensitivitas tipe II (Sumber: 

Janeway, 2001)

Kerusakan yang dimediasi neutrofil merupakan cerminan dari respon 

normal terhadap mikroba, dengan mekanismenya yaitu  berikut: 

neutrofil mengikat mikroba dengan mengaktifkanreseptor Fc dan C3, 

kemudian mikroba difagositosis dan dihancurkan sesudah  lisosom 

bergabung membentuk fagolisosom. Pada reaksi hipersensitivitas tipe 

II, sel host individu yang dilapisi dengan antibodi dapat difagositosis 

dengan cara yang sama, namun  jarena targetnya luas atau berukuran 

besar, misalnya membran basal, maka neutrofil gagal dalam upaya 

fagositosis, yang memicu  eksositosis dari isi lisosomnya sehingga 

memicu  kerusakan sel atau jaringan sekitarnya. Hal ini disebut 

sebagai frustrated phagocytic. (Gambar 10.2)

128


Kelainan klinis hipersensitivitas tipe II

Beberapa contoh reaksi hipersensitivitas tipe II yaitu  kerusakan pada 

eritrosit seperti yang terlihat pada reaksi transfusi, hemofytic disease 

of the newborn (HDN) akibat ketidaksesuaian faktor Rhesus (Rhesus 

Incompatibility), dan anemia hemolitik akibat obat serta kerusakan 

jaringan pada penolakan jaringan transplantasi hiperakut akibat interaksi 

dengan antibodi yang telah ada sebelumnya pada resipien.

a. Kerusakan pada eritrosit

 Transfusi eritrosit kepada resipien yang mengandung antibodi 

terhadap eritrosit yang ditransfusikan dapat memicu  reaksi 

transfusi. Jenis reaksi tergantung pada kelas dan jumlah antibodi 

yang terlibat. Antibodi terhadap eritrosit sistem ABO biasanya 

terdiri atas antibodi kelas IgM. Antibodi golongan ini memicu  

aglutinasi, aktivasi komplemen dan hemolisis intravaskular. Sistem 

golongan darah yang lain memicu  pembentukan antibodi 

kelas IgG dan pada umumnya IgG akan melapisi eritrosit kemudian 

menim- bulkan reaksi tipe II. Hal serupa terjadi pada HDN dimana 

anti-D IgG yang berasal dan ibu menembus plasenta masuk ke 

dalam sirkulasi darah janin dan melapisi permukaan eritrosit janin 

kemudian mencetuskan reaksi hipersensitivitas tipe II. HDN 

terjadi apabila seorang ibu Rh mengandung janin Rh+. Sensitisasi 

pada ibu umumnya terjadi saat persalinan pertama, sebab  itu HDN 

umumnya tidak timbul pada bayi pertama. Baru pada kehamilan 

berikutnya limfosit ibu akan membentuk anti-D IgG yang dapat 

menembus plasenta dan mengadakan interaksi dengan faktor Rh 

pada permukaan eritrosit janin. Anemia hemolilik autoimun juga 

dapat dianggap reaksi hipersensitivitas tipe II sebab  eritrosit yang 

dilapisi auto antibodi lebih cepat dihancurkan oleh fagosit. Hal 

yang sama terjadi pada anemia hemolitik, agranulositosis atau 

purpura trombositopenia akibat obat. Pada kasus-kasus ini obat 

melekat pada permukaan sel bersangkutan menyusun kompleks 

antigen yang dapat menyulut pembentukan antibodi. Kompleks 

antigen-antibodi selanjutnya merangsang reaksi hipersensitivitas 

tipe II. Reaksi hipersensitivitas terhadap obat dapat timbul dalam 

berbagai bentuk. Selain reaksi tipe II, reaksi hipersensitivitas 

terhadap obat dapat timbul sebagai reaksi anafilaktik apabila 

melibatkan IgE. reaksi tipe III bila obat berinteraksi dengan protein, 

atau reaksi tipe IV pada obal yang digunakan topikal.

129


b. Kerusakan jaringan transplantasi hiperakut

 Reaksi penolakan jaringan transplantasi secara hiperakut mungkin 

terjadi apabila resipien sebelumnya pernah terpapar pada antigen 

jaringan transplantasi ini  sehingga sudah ada sensitisasi 

sebelumnya. Reaksi hiperakut dapat terjadi dalam waktu singkat, 

yaitu beberapa menit hingga 48 jam sesudah  tindakan transplantasi 

selesai. Antibodi yang ada  dalam darah resipien dapat segera 

bereaksi dengan antigen yang ada  pada permukaan jaringan 

transplantasi. Antibodi sistem ABO dapat terlibat dalam hal ini 

sebab  banyak sel jaringan mengandung antigen ABO. Mungkin 

juga antibodi yang terlibat yaitu  antibodi terhadap antigen MHC 

kelas I, bila sebelumnya resipien pernah terpapar pada jaringan 

transplantasi yang tidak sesuai (incompatible).

 Reaksi ini hanya terjadi pada jaringan transplantasi yang mengalami 

revaskularisasi segera sesudah  transplantasi, misalnya transplantasi 

ginjal. Dalam waktu sam jam sesudah  revaskularisasi tampak infiltrasi 

neutrofil secara ekstensif dan disusul oleh kerusakan pembuluh 

darah glomerulus dan perdarahan. Deposit tromkus ada  dalam 

arteriol dan jaringan transplantasi mengalami kerusakan ireversibel. 

Faktor utama yang berperan dalam kerusakan jaringan yaitu  

neutrofil dan trombosit yang berinteraksi dengan sel- sel melalui 

reseptor Fc, C3b dan C3d. Sel-sel itu melepaskan berbagai mediator, 

misalnya superoksida, enzim dan vasoactive amine, sehingga terjadi 

peningkatan permeabilitas kapiler dan kerusakan jaringan setempat. 

3. HIPERSENSITIVITAS TIPE III

Hipersensitivitas tipe III atau Immune complex-mediated reaction 

merupakan reaksi antibodi dengan antigen menghasilkan atau 

membentuk kompleks imun. Pada keadaan normal kompleks imun ini 

dieliminasi oleh jaringan retikuloendotelial melalui proses fagositosis 

ole makrofag atau aktivasi komplemen. Namun dalam keadaan penyakit 

tertentu dimana kompleks imun terbentuk dalam jumlah besar dan 

disimpan dijaringan seperti pembuluh darah dari berbagai bagian 

tubuh, maka akan memicu  kerusakan jaringan akibat reaksi 

hipersensitivitas tipe III.

Faktor-faktor yang memicu  pembentukan kompleks imun 

dalam jumlah besar yaitu : Akibat kombinasi infeksi kronis ringan dengan 

130


respons antibodi yang lemah, sehingga memicu  pembentukan 

kompleks imun kronis yang dapat mengendap di berbagai jaringan.; 

komplikasi dari penyakit autoimun dengan pembentukan autoantibodi 

secara terus menerus yang berikatan dengan jaringan self ; kompleks 

imun terbentuk pada permukaan tubuh, misalnya dalam paru-paru, 

akibat terhirupnya antigen secara berulang kali.

Reaksi hipersensitivitas tipe III terjadi ketika kompleks imun 

mengaktifkan komponen C3a dan C5a dari sistem komplemen yang 

memicu  degranulasi sel mast sehingga melepaskan histamin 

yang meningkatkan permeabilitas pembuluh kapiler   darah.   Hal 

ini memicu  deposit atau pengendapan kompleks imun pada 

dinding pembuluh darah. C5a, C3a dan C5b67 bertindak sebagai faktor 

kemotik untuk menarik neutrofil ke pengendapan kompleks imun. 

Seperti pada mekanisme hipersensitivitas tipe II, neutrofil tidak mampu 

memfagositosis sebab  kompleks imun disimpan pada membran basal, 

sehingga neutrofil melepaskan enzim lisozim untuk menghancurkan 

kompleks imun. Enzim lisozim memicu  kerusakan jaringan di 

sekitar deposit kompleks imun (gambar 9.3).

Gambar 9.3:  Respon inflamasi terhadap kompleks imun yang mengendap 

di jaringan pembuluh darah pada hipersensitivitas tipe III 

(Sumber: Janeway et al,2001)

131


Kelainan klinis hipersensitivitas tipe III

Manifestasi klinik akibat pembentukan kompleks imun in vivo, bukan 

saja bergantung pada jumlah absolut antigen dan antibodi, namun  juga 

bergantung pada perbandingan relatif antara kadar antigen dengan 

antibodi. Dalam suasana antibodi berlebihan atau bila kadar antigen hanya 

relatif sedikit lebih tinggi dari antibodi, kompleks imun yang terbentuk 

cepat mengendap sehingga reaksi yang ditimbulkannya yaitu  kelainan 

setempat berupa infiltrasi masif dari sel-sel PMN, agregasi trombosit 

dan vasodilatasi yang kemudian memicu  eritema dan edema. 

Reaksi ini disebut reaksi Arthus. Agregasi trombosit dapat meningkatkan 

penglepasan vasoactive-amine atau mungkin juga memicu  

milcrotrombus yang berakibat iskemia lokal. Dalam suasana antigen 

berlebihan, kompleks yang terbentuk yaitu  kompleks yang larut dan 

beredar dalam sirkulasi sehingga mungkin memicu  reaksi sistemik 

yang disebut serum sickness atau terperangkap di berbagai jaringan di 

seluruh tubuh dan memicu  reaksi inflamasi setempat seperti pada 

glomerulo-nefritis dan artritis.

Faktor-faktor yang berpengaruh terbentuknya kompleks imun

a. Ukuran kompleks imun

 Untuk memicu  kerusakan atau penyakit, kompleks imun harus 

mempunyai ukuran yang sesuai. Kompleks imun berukuran besar 

biasanya dapat disingkirkan oleh hepar dalam waktu beberapa 

menit, namun  kompleks imun berukuran kecil dapat beredar dalam 

sirkulasi untuk beberapa waktu. Ada dugaan bahwa defek genetik 

yang memudahkan produksi antibodi dengan afinitas rendah dapat 

memicu  pembentukan kompleks imun berukuran kecil, sehingga 

individu bersangkutan mudah menderita penyakit kompleks imun.

b. Kelas imunoglobulin

 Pembersihan (clearence) kompleks imun juga dipengaruhi oleh 

kelas imunoglobulin yang membentuk kompleks. Kompleks IgG 

mudah melekat pada eritrosit dan dikeluarkan secara perlahan-

lahan dari sirkulasi, namun  tidak demikian halnya dengan IgA yang 

tidak mudah melekat pada eritrosit dan dapat disingkirkan cepat 

dari sirkulasi, dengan kemungkinan pengendapan dalam berbagai 

jaringan misalnya ginjal, paru-paru dan otak.

132


c. Aktivasi komplemen

 Salah satu faktor penting lain yang turut menentukan manifestasi 

klinik yaitu  berfungsinya aktivasi komplemen melalui jalur 

klasik. Aktivasi komplemen melalui jalur klasik dapat mencegah 

pengendapan kompleks imun sebab  C3b yang terbentuk dapat 

menghambat pembentukan kompleks yang besar. Kompleks yang 

terlihat pada C3b akan melekat pada eritrosit melalui reseptor 

C3b, lalu dibawa ke hepar di mana kompleks itu dihancurkan 

oleh makrofag. Bila sistem ini terganggu, misalnya pada defisiensi 

komplemen, maka kompleks di atas akan membentuk kompleks 

yang berukuran besar dan memungkinkan ia terperangkap di 

berbagai jaringan atau organ. Telah diketahui bahwa kompleks 

imun yang dibentuk dalam suasana antigen berlebihan merupakan 

kompleks imun yang paling merusak apabila ia mengendap atau 

terperangkap dalam jaringan.

d. Permeabilitas pembuluh darah

 Penyulut yang penting untuk pengendapan kompleks imun yaitu  

peningkatan permeabilitas vaskular. Peningkatan permeabilitas 

vaskular dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya 

oleh peningkatan penglepasan vasoactive amine. Semua hal yang 

berkaitan dengan penglepasan substansi ini harus dipertimbangkan, 

misalnya komplemen, mastosit, basofil dan trombosit yang dapat 

memberikan kontribusinya pada peningkatan permeabilias 

vaskular.

e. Proses hemodinamik

 Pengendapan kompleks imun paling mudah terjadi di tempat- 

tempat dengan tekanan darah tinggi dan ada turbulensi. Banyak 

kompleks imun mengendap dalam glomerulus di mana tekanan 

darah meningkat hingga 4 kali dan dalam dinding pencatangan 

arteri dan di tempat-tempat terjadinya filtrasi, seperti pada pleksus 

choroid di mana tcrdapat turbulensi.

f. Afinitas antigen pada jaringan

 Tersapat beberapa jenis kompleks imun yang memilih mengendap 

di tempat-tempat tetentu, misalnya pada SLE sasaran pengendapan 

kompleks imun yaitu  ginjal. Pada artritis reumatoid kompleks 

133


imun lebih suka mengendap dalam sendi dan walaupun selalu ada 

kompleks imun dalam sirkulasi, ia tidak mengendap di ginjal. Hal ini 

ditentukan oleh afinitas antigen terhadap organ tertentu.

4. HIPERSENSITIVITAS TIPE IV

Hipersensitivitas tipe IV atau Cell-mediated, delayed hypersensitivity 

reaction berbeda dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III, 

sebab  reaksi ini tidak melibatkan antibodi namun  melibatkan sel-sel 

limfosit. Pada percobaan binatang, hipersensitivitas jenis ini tidak dapat 

dipindahkan dari binatang yang satu kepada binatang yang lain dengan 

memindahkan serum, namun  pemindahan hipersensitivitas dapat terjadi 

dengan memindahkan limfosit T. Limfosit yaitu  sel yang imunospesifik 

dan pada permukaannya mempunyai berbagai reseptor antigen, baik untuk 

antigen jaringan maupun untuk molekul-molekul kecil yang melekat pada 

membran sel dan kemudian bersifat sebagai antigen. Reaksi tipe IV yang 

juga disebut reaksi tipe lambat pada umumnya timbul lebih dari 12 jam 

sesudah  pemaparan pada antigen. Dikenal 4 jenis reaksi hipersensilivitas 

tipe lambat yaitu reaksi Jones- Mote, reaksi kontak, reaksi tuberkulin dan 

reaksi granuloma. Keempat jenis reaksi seringkali timbul secara berurutan 

atau tumpang tindih, sehingga seringkali reaksi yang terjadi tidak khas 

untuk jenis tertentu.

Kelainan klinis pada hipersensitivitas tipe IV

a. Reaksi Jones Mote

 Reaksi Jones-Mote merupakan reaksi yang timbul hanya sebentar, 

mencapai puncaknya paling lambat sesudah  24 jam dan kemudian 

berkurang atau menghilang. Reaksi Jones- Mote disebut juga 

cutaneous basophil hypersen-fitivity, sebab  menunjukkan infiltrasi 

basofil dalam jumlah besar di kulit. Mekanisme reaksi Jones-Mote 

dan manifestasi kliniknya hingga saat ini belum jelas.

b. Reaksi kontak (contact hypersensitivity)

 Reaksi kontak ditandai dengan reaksi eksim pada tcmpat terjadinya 

kontak dengan alergen yang dapat berupa hapten seperti logam, 

zat warna maupun zat kimia. Hapten umumnya terlalu kecil untuk 

menjadi antigenik namun  pada reaksi hipersensitivitas kontak, 

hapten menembus epidermis kemudian mengikat protein yang 

134


disebut carrier protein. Hapten yang sejak lama dikenal sering 

memicu  hipersensitivitas pada hampir setiap individu yaitu  

dinitrochlorobenzene (DNCB). Pengenalan oleh sel T yaitu  spesifik 

untuk konjugat hapten-carrier bersangkutan, dan tidak untuk 

masing-masing komponen.

 Reaksi kontak terjadi dalam lapisan epidennis (berbeda dengan 

reaksi tuberkulin yang terjadi dalam lapisan dermis. Sel APC 

yang berperan dalam reaksi ini yaitu  sel Langerhans yang 

mengekspresikan CD1, MHC kelas II serta reseptor untuk Fe dan 

komplemen. Proses sensitisasi pada manusia berlangsung selama 

10-14 hari. Segera sesudah  diabsorpsi, hapten berikatan dengan 

protein dan ditangkap oleh sel Langerhans yang kemudian bergerak 

melalui pembuluh limfe menuju bagian parakortikal kelenjar limfe. 

Dalam waktu 4 jam sesudah  pemaparan dengan DNCB, sel-sel 

Langerhans tampak dalam bagian parakortikal kelenjar limfe. Dalam 

kelenjar ini ia mempresentasikan konjugat hapten-carrier kepada 

limfosil CD4+ yang menghasilkan populasi sel memory. Respons 

yang terjadi bergantung pada dosis hapten yang masuk; dosis yang 

sangat rendah tidak memicu  respons namun  sebaliknya dosis 

yang melebihi dosis tertentu tidak meningkatkan respon.

 Gejala pertama   reaksi   dapat   terlihat   sesudah    4-8 jam dan 

mencapai puncaknya dalam 48-72 jam. Gejala awal menunjukkan 

sel-sel mononuklear sekilar kelenjar peluh, sebasea, folikel dan 

pembuluh darah yang mulai menginfiltrasi epidermis. Dalam waklu 

48-72 jam jumlah sel yang menginfiltrasi epidermis bertambah 

banyak dan terjadi edema. Sebagian besar sel yang ada yaitu  

limfosit CD4+, dengan sedikil CD8+. Jumlah sel Langerhans (GDI+) 

dalam epidermis bertambah dalam waktu 24-48 jam kemudian ia 

terlihat dalam lapisan dermis. Makrofag kemudian masuk ke dalam 

infiltrat, demikian pula basofil dan mastosit.

 Mekanisme patofisiologik yang mendasari reaksi ini telah banyak 

dipelajari. Pada saat sel Langerhans mempresentasikan hapten-

carrier yang telah diproses kepada sel CD4+ memory, terjadilah 

transduksi reseptor CD3 pada limfosit T disusul dengan penglepasan 

sitokin IL-2, IL-3, IFN-γ dan GM- CSF. Sel Tjuga mengekspresikan 

reseptor IL-2. Proliferasi sel T diinduksi oleh pengikatan IL-2 pada 

135


reseptornya. IFN- gama dan TNF menginduksi sel-sel keratin dalam 

epidermis untuk mengekspresikan molekul adhesi intraselular 

(ICAM- 1) dalam waklu 24-48 jam sesudah  pemaparan. ICAM-

1 diperlukan untuk lokalisasi limfosit dan makrofag dalam kulit. 

IFN-γ merangsang sel keratin untuk mengekspresikan HLA- DR. 

Sel keratin yang teraktivasi ini melepaskan IL-1, IL-6 dan GM-

CSF yang meningkatkan respons imun setempat. Reaksi mulai 

mereda sesudah  48-72 jam. Penurunan reaksi diduga disebabkan 

penglepasan beberapa mediator, di antaranya prostaglandin E yang 

menghambat produksi IL-1 dan IL-2 di sampin degradasi konjugat 

hapten-protein.

c. Reaksi tuberkulin

 Seperti halnya reaksi kontak, reaksi tuberkulin juga mencapai 

puncaknya 48-72 jam sesudah  pemaparan. Reaksi ini dapat diikuti 

dengan reaksi yang lebih lambat yang ditandai dengan agregasi 

dan proliferasi makrofag membentuk granuloma yang menetap 

selama beberapa minggu. Ditinjau   dari segi klinik jenis reaksi 

granuloma merupakan jenis reaksi imunologik selular yang paling 

patologik Pemaparan ulang sel T memory pada kompleks antigen- 

MHC kelas II yang ditampilkan oleh APC merangsang sel T CD4+ 

untuk melakukan transreseptor merupakan sinyal yang diteruskan 

ke dalam sel sebagai instruksi untuk melakukan aktivitas. Ternyata 

bahwa sinyal yang sama dapat dicetuskan oleh interaksi antara 

antibodi terhadap kelenjar liroid dengan reseptor TSH atau interaksi 

antibodi ini  dengan salah satu bagian reseptor sehingga 

memicu  rangsangan yang sama dengan yang dicetuskan 

oleh TSH, yaitu stimulasi sel kelenjar untuk berproliferasi dan 

memproduksi hormon. sebab  itu reaksi semacam ini disebut 

stimulatory hypersensitivity.

5. REAKSI HIPERSENSITIVITAS BAWAAN

Selain reaksi-reaksi hipersensitivas di atas, Roitt mengemukakan 

reaksi hipersensitivitas yang disebutnya innate hypersensitivity reaction. 

Ia menyatakan bahwa aktivasi komplemen secara berlebihan juga dapat 

memicu  kerusakan jaringan. Pada percobaan binatang terbukti bahwa 

endotoksin yang disuntikkan secara intravena mengaktivasi komplemen 



demikian rupa hingga C3b yang terbentuk melapisi endotoksin dan 

kemudian melekat pada trombosit dengan cara immune-adherence. 

Kompleks C5,6,7 yang dibentuk kemudian merusak trombosit sehingga 

mengakibaikan aktivasi faktor-faktor pembekuan dan memicu  

disseminated intramuscular coagulation (DIC). Hal yang sama dijumpai 

pada manusia, yaitu pada septikemia dengan kuman Gram-negatif 

atau infeksi ulang dengan virus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) pada 

penderita yang telah mempunyai antibodi dengan titer tinggi.


AUTOIMUNITAS

Penyakit automiun yaitu  suatu kelainan dengan ciri ketidak mampuan 

sistem imun untuk membedakan sel atau jaringan tubuh sendiri (self) 

dari sel atau jaringan asing (non-self), sehingga jaringan tubuh sendiri 

dianggap antigen asing. Akibatnya timbul respon imun, baik respon 

selular, misalnya infiltrasi atau pengrusakan jaringan oleh lomfosit T atau 

makrofag, maupun respon imun humoral dengan membentuk antibodi. 

Walaupun mekanisme efektor respon imun diatas dapat menjelaskan 

terjadinya penyakit autoimun, namun banyak jenis penyakit yang tidak 

diketahui mekanismenya.

Perlu ditekankan bahwa walaupun semua individu dapat dinduksi 

untuk memicu  respons autorekatif, hanya sedikit diantara mereka 

yang menderita penyakit autoimun. Ada beberapa penjelasan yang 

pernah dikemukakan mengapa pada beberapa orang yang rentan reaksi 

autoreaktif itu berlanjut menjadi penyakit autoimun, yaitu :

1. Faktor atau substansi yang menginduksi respons autoreaktif tetap 

berada dalam tubuh sehingga terus menerus merangsang sel T,

2. Menyusul kerusakan jaringan, serangkaian reaksi autoreaktif 

dirangsang secara terus menerus melalui penglepasan antigen 

jaringan dan pemaparan sistem, imun pada antigen ini .

3. Tidak semua sel autoreaktif disingkirkan pada saat perkembangan, 

namun  sebagian diantaranya dipertahankan dan dikendalikan 

secara ketat dalam keadaan anergi. Anergi akan terganggu apabila 

ada defek pada sistem pengendaliannya

Sebagian besar penyakit autoimun dikendalikan secara poligenik, 

namun tidak pernah ada kepastian bahwa individu dengan gen yang 

identik akan sama-sama menderita penyaklit autoimun. Ini berarti bahwa 

harus ada faktor luar yang menginduksi penyakit ini.

1. ETIOLOGI AUTOIMUNITAS

Penyebab kelainan ini belum diketahui dengan pasti, namun para 

pakar sependapat bahwa penyebabnya merupakan multifaktor. Sebagian 

besar kelainan ini diinduksi oleh satu atau lebih substansi asing. Walaupun 



demikian, jenis kelainan dikelompokkan dalam satu kelompok sebab  

mempunyai berbagai aspek yang sama. Ada beberapa teori yang dianut 

mengenai mekanisme terjadinya penyakit ini, antara lain seperti yang 

dikemukakan oleh Roitt, Steinberg atau Patrick dan pakar-pakar lain 

seperti: teori pemaparan antigen (sequestered antigen), teori gangguan 

mekanisme homeostatik, stimulasi imunogenik, dan teori genetik.

Teori pemaparan antigen (sequestered antigen)

Pembentukan antigen didalam organ yang tertutup yang memicu  

antigen itu terisolasi atau terkurung dan tidak mempunyai kesempatan 

mengadakan kontak dengan sistem limforetikuler. Selama antigen 

ini tidak terpapar pada sistem imun, tidak akan terjadi respon imun 

terhadapnya. Setiap peristiwa yang mengakibatkan antigen itu keluar 

dariorgan danterpapar pada sistemimundapat menyulut terbentuknya 

autoantibodi. Untuk beberapa keadaan teori inidapat dipaka, misalnya 

untuk pembentukan antibodi terhadap sperma atau antibodi terhadap 

lensa mata, namun beberapa penelitian membuktikan bahwa untuk 

keadaan lain ternyata bahwa pemaparan sistem imun terhadap estrak 

jaringan tertentu tidak segera memicu  pembentukan antibodi. 

Hal ini terutama berlaku bagi pengenalan antigen yang melibatkan sel T, 

yang menunjukkan bahwa pemaparan saja ternyata belum cukup untuk 

merangsang sistem imun, namun  pemaparan itu harus disertai ekspresi 

antigen melalui APC serta berbagai mediator yang terlibat dalam respon 

imun.

Teori gangguan mekanisme homeostatik

Teori ini merupakan teori yang banyak dianut pada saat ini. Sel T dam sel 

B yang autoreaktif selalu ada dalam keadaan normal namun  pada keadaan 

normal tubuh mempunyai mekanisme homeostatik yang melindunginya 

terhadap rangsangan oleh jaringan tubuh sendiri yang tidak dikehendaki 

(self tolerance)

Mekanisme self tolerance dalam keadaan normal yaitu  :

1. Penyingkiran sel autoreaktif saat berkembang

2. Penekanan respon yang tidak dikehendaki terjadi di kemudian hari.



Penyingkiran klon (clonal deletion) sel-sel autoreaktif umumnya 

terbatas pada klon sel yang mempunyai afinitas tinggi untuk 

berinteraksi dengan autoantigen. Namun mungkin saja proses 

penyingkiran itu sempurna sehingga sebagian kecil sel dengan afinitas 

tinggi terhadap autoantigen itu menetap. Kunci mekanisme ini yaitu  

pengendalian terhadap sel T, baik sel Th (helper-inducer) maupun 

sel Ts yang autoreaktif ini  diatas. Pengendelian dapat terjadi di 

timus (sentral) atau di parifer. Pengendalian terhadap sel-sel diatas 

dapat terganggu apabila sel T-penolong (helper-inducer) terganggu 

atau terkecoh, atau bila ada gangguan dalam pengaturan sistem pekan.

Beberapa hal yang dapat menggangu pengaturan homeostatik yaitu 

a. Reaksi silang dan molecular mimicry

 Autoantigen dapat berubah apabila terjadi modifikasi struktur 

autoantigen, misalnya sebab  gangguan sintesis atau perombakan 

yang mengakibatkan terbentuknya epitop baru (Neoantigen) shingga 

sel Th terpacu untuk melancarkan autoreaktivitas. Perubahan 

autoantigen juga dapat terjadi akibat penggabungan autoantigen 

dengan substansi dari luar misalnya virus, sehingga memicu  

pengenalan asosiatif. Reaksi terjadi bukan saja terhadap virus namun  

juga terhadap autoantigen. Dalam hal ini seolah-olah autoantigen 

itu suatu hapten yang tidak dapat mencetuskan respons imun tanpa 

terikat pada carrier imunongenik. Reakasi sama dapat terjadi apabila 

kedalam tubuh masuk antigen yang mempunyai struktur molekul 

yang mirip autoantigen (molecular mimicry) sehingga terjadi reaksi 

silang. Hal ini misalnya terjadi pada demam reumatik. Antigen 

streptokokus diduga memiliki struktur molekul yang mirip dengan 

sel-sel jaringan jantung, sehingga dapat merangsang pembentukan 

antobodi terhadap berbagai komponen miokard dan katup jantung 

yang kemudian memicu  kerusakan pada jaringan ini .

b.Gangguan mekanisme pengaturan oleh jaring idiotip anti- idiotip

 Telah diketahui bahwa jaringan (network) idiotip-anti idiotip turut 

berperan dalam mengatur sistem imun. Pada keadaan normal 

jaringan idiotip-anti- idiotip itu merupakan interaksi sef-self dalam 

arti mengatur respon imun demikian rupa hingga mekanisme 

berfungsi secara tepat, namun  mekanisme pengaturan itu dapat 

terganggu, misalnya bila ada virus. Reaksi autoimun dapat terjadi 



bila epitop pada virus kebetulan menunjukkan struktur yang sama 

dengan idiotip pada reseptor T atau B autoreaktif. Hal ini yang sama 

juga dapat terjadi bila idiotip pada antibbodi yang pembentukannya 

dirangsang oleh virus, menunjukkan struktur yang sama dengan 

idiotip pada sel T dan B autoreaktif, atau merupakan anti-idiotip 

bagi reseptor T dan B. reaksi autoimun mungkin juga terjadi bila 

anti virus merangsang terbentuknya anti idiotip yang bereaksi 

sebagai autoantibodi terhadap reseptor virus yang ada  pada 

permukaan sel.

 Virus yang menginfeksi sel yang memproduksi hormon dapat 

menyulut pembentukan anti hormon yang dapat merusak sel 

bersangkutan. Dia lain pihak anti hormon dapat menyulut 

pembentukan anti-idiotip yang dapat merangsang reaksi sitoloksik 

yang ditujukan terhadap sel-sel yang memiliki reseptor hormon 

ini . Dengan demikian dapat dijelaskan bagaimana virus dapat 

menyelut pembentukan anti-idiotip yang bereaksi silang dengan 

jaringan normal, sehingga memicu  penyakit autoimun. 

Mungkin pula molecular mimicry yang diuraikan diatas turut 

berperan bersama-sama dengan idiotip dan menghasilkan reaksi 

autoimun.

c. Kesalahan ekspresi MHC kelas II

 Pada beberapa keadaan, autoantigen leluasa terpapar pada limfosit 

dalam sirkulasi. Walaupun demikian, seperti telah disebut diatas, 

ternyata pemaparan saja belum cukup untuk memicu  reaksi, 

namun  pemaparan itu harus disertai penampilan antigen melalui 

MHC kelas II. Tanpa ditampilkan melalui MHC kelas II, autoantigen 

itu tetap tidak dapat dideteksi oleh limfosit sehingga sistem imun 

tetap tenang (immunologically silent). Dalam keadaan normal 

autoreaktifitas yang potensial inidapat dicegah sebab  distribusi 

MHC kelas II hanya terbatas pada beberapa jenis sel, misalnya 

makrofag, sel B dan sel T, namun ekspresi antigen MHC kelas II 

ini dapat diinduksi oleh berbagai faktor. Salah satu diantaranya 

yaitu  infeksi virus. Apabila oleh salah satu sebab MHC kelas II 

diekspresikan di permukaan, maka autoantigen menjadi potensial 

untuk merangsang autoimunitas. Dalam berbagai percobaan 

terbukti bahwa sel kelenjar tiroid dalam biakan jaringan dapat 


dirangsang untuk menampilkan HLA-DR pada permukaan sel. 

Percobaan lain menujukkan bahwa sel kelenjar tiroid pada 

penderita tirotoksikosis Grave’s dapat bereaksi dengan anti HLA-

DR, yang merupakan bukti bahwa pada penyakit ini HLA-DR 

ditampilkan pada permukaan sel

d. Kegagalan mekanisme pengaturan sistem penekanan

 Pada dasarnya semua peristiwa yang memicu  defek pada 

sistem penekanan dapat memicu  gangguan pada mekanisme 

homeostatik. Kelainan pada sel T-supresor baik yang nonspesifik 

maupun spesifik terhadap antigen atau yang spesifik terhadap 

idiotip dapat merangsang sel T-helper untuk bereaksi terhadap self. 

Rangsangan juga memicu  sel T-helper kurang peka terhadap 

stimulasi penekanan

Stimulasi imunogenik

Beberapa jenis mitogen dikenal sebagai aktivator poliklonal sebab  dapat 

merangsang sel B secara nonselekfif. sebab  itu stimulasi ini disebut juga 

stimulasi nonimunogenik. Berbagai produk yang berasal dari mikroba 

misalnya lipopolisakharida, enzim proteolitik demikian pula berbagai 

jenis virus termasuk virus Epstein Barr (EBV) ternyata dapat merangsang 

limfosit untuk membentuk antibodi poliklonal secara langsung tanpa 

memerlukan bantuan sel T penol