Tampilkan postingan dengan label Imunohematologi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imunohematologi 1. Tampilkan semua postingan

Imunohematologi 1



 Imunohematologi


DHTR  : Delayed Hemolytic Transfusion Reaction 

DSTR  : Delayed Serological Transfusion Reaction 

FDA  : Food and Drug Administration 

FFP  : Fresh Frozen Plasma 

GMP  : Good Manufacturing Practices 

FNHTR  : Febrile Non Hemolytic Transfusion Reaction 

HDFN  : Hemolytic Disease of the Fetus and Newborn 

HDN  : Hemolytic Disease of the  

HLA  : Human Leucocyte Antigen 

HPA  : Human Platelet Antigen 

HTR  : Hemolitic Transfusion Reaction 

IHTR  : Immediate Hemolytic Transfusion Reaction 

ISBT  : International Society of Blood Transfusion 

PC  : Platelet Concentrates 

PTP  : Post Transfusion Purpura 

TA-GVHD  : Transfusion-associated graft-versus-host disease 

TACO  : Transfusion-Associated Circulatory Overload 

TRALI  : Transfusion-Related Acute Lung Injury 

TRBC  :Transfusion Related Bacteria Contamination 

VWF  : Von Willebrand Factor 

 

 

 

 Definisi Imunohematologi 

Imunohematologi terdiri dari dua kata, yaitu “immune” yang 

berhubungan dengan respon imun, dan ”hematologi” yaitu ilmu 

yang mempelajari tentang darah. Pada buku ini akan membahas 

tentang imunologi dasar, penerapan konsep imunologi pada 

pemeriksaan laboratorium dan transfusi darah, serta komponen 

darah. Topik yang akan dibahas antara lain: sistem antigen golongan 

darah  dan antibodi yang terkait, pemeriksaan pra-transfusi, donor 

komponen darah, prinsip pengumpulan sampel darah, resipien 

(penerima komponen darah), kondisi klinis yang membutuhkan 

transfusi darah, serta efek samping pasca transfusi darah. 

Sistem imun merupakan sistem yang paling beragam pada 

tubuh manusia dan berfungsi untuk perlindungan organisme host. 

Mekanisme pertahanan spesifik dimulai dari permukaan tubuh 

eksternal, lalu  meluas hingga mencakup jaringan, organ, dan 

pertahanan seluler. Sistem imun berperan membedakan self dari 

non-self dan menghancurkan organism berbahaya. Organisme non-

     

self dapat berupa uniseluler sampai multiseluler, termasuk bakteri, 

virus, jamur, dan parasit. 

Sistem imun tubuh tidak bersifat otonom, melainkan 

bekerjasama dengan sistem lain di dalam tubuh. Sistem yang 

berinteraksi dengan sistem imun yaitu sistem hematopoietik, 

pencernaan, pernafasan, dan saraf. Tanpa adanya sistem imun 

maka sistem tubuh lain beresiko diserang oleh organisme patogen. 

Oleh sebab  itu, sistem imun memiliki  peran vital pada tubuh 

manusia. 

 

1.2 SISTEM IMUNITAS TUBUH 

Imunologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang 

imunitas atau kekebalan akibat adanya rangsangan molekul atau 

substansi asing dari luar maupun dari dalam tubuh, baik yang 

bersifat infeksius maupun non infeksius. Substansi yang dapat 

menimbulkan respon imun disebut antigen. Tubuh memiliki sistem 

pelacakan dan penjagaan terhadap substansi atau molekul asing 

yang disebut sistem imun. Sistem imun akan memberi  respon 

dan melindungi tubuh terhadap zat asing, seperti mikroorganisme 

pemicu  penyakit patogen (virus, bakteri, parasit, jamur), sel 

tumor, sel/ jaringan alogen, bahan atau zat yang bersifat antigen 

(alergen). ada  dua macam sistem imun, yaitu sistem imun non 

spesifik (innate immunity) dan sistem imun spesifik (adaptive 

immunity). Kedua sistem ini berperan dalam melindungi tubuh dan 

mengeliminasi agen penyakit. 

 

A. Sistem Imun Non Spesifik 

Sistem imun non spesifik yaitu  pertahanan tubuh yang 

bersifat tidak spesifik dan berfungsi sebagai barier terdepan pada 

saat terjadinya infeksi penyakit, sehingga sering disebut natural 

      

atau native immunity. Komponen utama sistem imun non spesifik 

(bawaan) yaitu pertahanan fisik dan kimiawi seperti epitel dan 

substansi antimikroba yang diproduksi oleh epitel, berbagai protein 

dalam darah seperti komponen sistem komplemen, mediator 

inflamasi, sitokin, sel fagosit (sel-sel polimorfonuklear, makrofag, 

Natural Killer). Usaha tubuh dalam mempertahankan diri terhadap 

masuknya antigen bakteri yaitu  dengan cara menghancurkan 

bakteri yang masuk secara non spesifik dengan proses fagositosis 

(Gambar 1.1), tanpa memperhatikan perbedaan kecil pada antigen 

ini . Proses fagositosis melibatkan sel makrofag,neutrofil, dan 

monosit. 

 

B. Sistem Imun Spesifik 

Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua 

ketika sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen 

penyakit. Hal ini terjadi jika  fagosit tidak mengenali agen 

infeksius sebab  hanya sedikit reseptor yang cocok untuk agen 

infeksius atau agen tidak bertindak sebagai faktor antigen terlarut 

(soluble antigen) yang aktif. Sehingga diperlukan molekul spesifik 

yang akan berikatan langsung dengan agen infeksius yang dikenali 

oleh antibodi untuk selanjutnya terjadi fagositosis. Sistem imun 

spesifik memiliki  ciri utama, antara lain: (a). Spesifisitas. Respon 

yang timbul terhadap antigen pada komponen struktural kompleks 

protein atau polisakarida yang berbeda, tidaklah sama. Bagian dari 

antigen yang dikenali oleh limfosit disebut determinan antigen 

(epitop); (2). Diversitas. Limfosit memiliki reseptor terhadap antigen 

dengan bentuk struktur yang berbeda; (3). Memori. Limfosit 

memiliki  kemampuan dalam mengingat antigen yang pernah 

masuk ke dalam tubuh dan memberi  respon yang lebih efektif 

pada paparan berikutnya; (4). Spesialisasi. Sistem imun memberi  

      


 

respon dan dengan cara yang berbeda terhadap berbagai jenis 

mikroba; (5). Membatasi diri (self limition). sesudah  rangsangan 

antigen, respon imun normal akan mereda dalam waktu tertentu. 

Ini disebab kan antigen yang masuk telah disingkirkan dan adanya 

regulasi umpan balik yang memicu  terhentinya respon imun 

ini ; (6) Membedakan self dan non-self. Pada sistem imun 

normal akan menunjukkan toleransi terhadap antigen tubuh 

sendiri. 

 

C. Respon Imun Tubuh  

Respon imun tubuh dipengaruhi oleh kemampuan sistem 

imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang ada  pada 

patogen potensial dan menstimulasi reaksi yang tepat untuk 

menyingkirkan sumber antigen bersangkutan. Proses pengenalan 

antigen dilakukan oleh limfosit yang merupakan unsur utama sistem 

imun, lalu  diikuti oleh tahap  efektor yang melibatkan  berbagai 

jenis sel. Limfosit memiliki kemampuan diversifikasi sebab  harus 

mengenal semua antigen pada patogen potensial dan d iwaktu 

bersamaan harus mengabaikan molekul-molekul jaringan tubuh 

sendiri (toleransi). 

Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen 

sistem imun yang ada  dalam jaringan limforetikuler yang 

terletak diseluruh tubuh, yaitu: sumsum tulang, kelenjar limfe, 

limpa, kelenjar getah bening, jantung, timus, sistem saluran nafas, 

usus halus, usus besar, dan sebagainya. Sel-sel yang ada  pada 

jaringan ini berasal dari sel induk (stem cell) dalam sumsum tulang 

yang berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, lalu  beredar 

dalam tubuh melalui darah, getah bening, dan jaringan limfoid serta 

dapat menunjukkan respon terhadap suatu stimulasi sesuai dengan 

sifat dan fungsinya masing-masing. Stimulasi terhadap sel-sel 

      

 

ini  terjadi jika  adanya suatu zat yang oleh sel atau jaringan 

tubuh dianggap asing. Sistem imun mampu membedakan zat asing 

(non-self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada 

beberapa keadaan patologik, sistem imun tidak mampu 

membedakan self dari non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun 

membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat anti ini 

dinamakan autoantibodi. 

 

Tabel 1.1 Imunogenisitas Berbagai Antigen 

Antigen Imunogenisitas 

Protein +++ 

Karbohidrat ++ 

Lemak +/- 

Asam nukleat - 

(Olson & Nardin, 2016) 

 

1.3 ANTIGEN (IMUNOGEN) 

Antigen merupakan substansi atau molekul yang dapat 

merangsang pembentukan antibodi. Namun, kini antigen 

didefinisikan sebagai substansi yang mampu bereaksi dengan 

antibodi yang diproduksi oleh sel B atas rangsangan imunogen, 

tanpa mempertimbangkan apakah antigen bersifat imunogenik. Ini 

artinya semua imunogen yaitu  antigen, namun tidak semua 

antigen yaitu  imunogen. Imunogen memiliki kemampuan dalam 

menginduksi respon imun dengan bantuan sel T. Tidak semua 

bagian dari antigen dapat berinteraksi dengan molekul sistem imun. 

Bagian dari antigen yang dapat berikatan dengan antibodi atau 

dengan reseptor spesifik pada limfosit T dsebut epitop. Ini 

menandakan bahwa antigen memiliki  beberapa epitop. 

      

sedang  hapten merupakan molekul organik kecil yang mampu 

mengikat bagian reseptor antigen.  

 

 

 

Suatu zat atau substansi bersifat imunogenitas jika  

memiliki sifat, antara lain: (1). Keasingan; (2) ukuran molekul; (3) 

kompleksitas struktur kimia; (4) kemudahan untuk mengenali, 

mengambil, dan mendegradasi oleh sel penyaji antigen; (5) secara 

tidak langsung, metode pengenalan antigen; (6) kehadiran zat kimia 

tertentu yang dapat bekerja sebagai adjuvan imun. 

Pada transfusi darah, imunohematologi yang diaplikasikan 

mengutamakan reaksi antara antigen pada eritrosit dengan antibodi 

pada serum/ plasma. Eritrosit memiliki banyak antigen pada 

permukaan membrannya, inilah yang digunakan dalam penentuan 

golongan darah (Gambar 1.2). Ada banyak golongan darah selain 

ABO, seperti Rhesus, MN, Lewis, Kell dan Duffy, dan lain-lain. 

      


 

Permukaan membran eritrosit memiliki banyak epitop yang 

menentukan spesifisitas dan kekuatan reaksi antigen dan antibodi 

(Gambar 1.3). Epitop umumnya berukuran kecil, yaitu ± 10.000 

Dalton. Substansi atau zat dengan berat molekul < 10.000 Dalton 

umumnya tidak bersifat imunogenik namun bila diikat pada protein 

pembawa yang berukuran cukup besar, maka dapat membentuk 

kompleks yang dapat menstimulasi respon imun untuk 

memproduksi antibodi terhadap molekul ini . Substansi ini 

dinamakan hapten. Hapten bentuk kompleksnya dapat bereaksi 

dengan antibodi meskipun ia tidak bersifat imunogenik.  

 

A. Human Leucocyte Antigen (HLA) 

 HLA juga dikenal dengan sistem Major Histocompatibility 

Complex (MHC), dan disekresikan di membran sel berinti, antara 

lain limfosit, granulosit, monosit, trombosit, dan organ-organ 

lainnya. HLA terdiri dari dua jenis, yaitu HLA kelas 1 berada di sel 

darah berinti di peredaran darah tepi dan trombosit. HLA kelas I ada 

tiga jenis, yaitu: HLA-A, HLA-B, dan HLA-C. sedang  HLA II terletak 

di limfosit dan monosit. HLA II meliputi HLA-DR, HLA-DQ, dan HLA-

DP. HLA bersifat sangat imunogenik. Antibodi terhadap HLA dapat 

terbentuk pada seseorang pada masa transfusi, hamil, dan 

transplantasi organ. Pasien yang akan melakukan transplantasi 

organ sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan HLA typing  untuk 

menghindari terjadinya proses penolakan organ di tubuh pasien. 

Pada proses transfusi darah, komponen darah yang akan 

ditransfusikan terlebih dahulu dihilangkan leukositnya (leucopoor) 

guna menghindari ketidakcocokan HLA antara pendonor dan 

resipien. 

 

 

    

B. Human Platelet Antigen (HPA) 

 HPA merupakan antigen yang ada  pada glikoprotein 

membran trombosit. Sampai saat ini diketahui ada 33 jenis HPA 

yang ada  pada trombosit. jika  terjadi ketidakcocokan HPA  

akan memicu  terbentuknya antibodi terhadap HPA, yang 

mengakibatkan trombositopenia. Pada reaksi transfusi, anti HPA 

dapat memicu  kegagalan meningkatnya jumlah trombosit 

pasca transfusi darah, perdarahan, dan timbulnya bintik atau bercak 

merah (purpura). 

 



 

1.4 ANTIBODI (IMUNOGLOBULIN) 

Antibodi atau imunoglobulin dihasilkan oleh sistem imun dan 

penting untuk pencegahan dan perlawanan infeksi oleh substansi 

asing seperti bakteri, virus, parasit, dan zat patogen lainnya. 

Antibodi merupakan glikoprotein yang berikatan khusus dengan 

substansi atau molekul asing yang disebut antigen. Struktur dasar 

antibodi terdiri dari dua rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai 

ringan (light chain) yang identik serta dihubungkan bersama oleh 

ikatan disulfide (S-S). Molekul ini dapat dipecah menjadi tiga 

fragmen oleh enzim proteolitik, yaitu2 fragmen yang memiliki  

susunan sama terdiri atas rantai berat dan rantai ringan, dinamakan 

fragmen Fab yang dibentuk oleh domain terminal-N. Dan 1 fragmen 

      


 

yang terdiri dari rantai berat saja, dinamakan fragmen Fc yang 

dibentuk oleh domain terminal-C. Fragmen Fab dengan antigen 

binding site berfungsi untuk mengikat antigen. sedang  fragmen 

Fc tidak memiliki kemampuan dalam mengikat antigen namun  dapat 

bersifat sebagai determinan antigen, serta berfungsi sebagai 

efektor sekunder yang menentukan sifat biologis dari munoglobulin 

ini . 

 

 

 

Ciri khusus dari molekul antibodi yaitu ada  pada 

perbandingan urutan asam amino dari berbagai molekul 

imunoglobulin. Ini menunjukkan bahwa imunoglobulin terdiri dari 

berbagai copi folding unit sekitar 100 asam amino, yang masing-

masing membentuk struktur serupa yang independen yang disebut 

lipatan imunoglobulin (immunoglobulin fold). Domain N-terminal 

dari setiap polipeptida (rantai berat dan ringan) sangat bervariasi, 

sedang  domain lainnya memiliki urutan konstan. Pembentuk 

domain disebut wilayah variabel (V region) sedang  yang terakhir 

yaitu  wilayah konstan (C region). Selain itu, perbandingan urutan 

wilayah V menunjukkan bahwa variabilitas tidak terdistribusi secara 

merata namun terkonsentrasi dalam tiga wilayah, yang disebut 

      

 


 

 

 Klasifikasi Imunoglobulin 

Ada lima jenis imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD, dan IgE) 

yang berbeda dalam urutan asam amino dan jumlah domain di 

area konstan pada rantai berat. Ada dua isotype rantai ringan 

yang berbeda (λ dan κ). IgG merupakan jenis utama 

imunoglobulin dalam serum normal. Kelima jenis imunoglobulin 

ini dinamakan berdasarkan rantai berat penyusunnya. 

Imunoglobulin G memiliki rantai berat ɣ, imunoglobulin M 

memiliki rantai berat µ, imunoglobulin A memiliki rantai berat α, 

imunoglobulin D memiliki rantai berat δ, imunoglobulin E 

memiliki rantai berat ε. Di bidang transfusi darah banyak 

melibatkan IgG dan IgM sebab  berhubungan dengan 

pemeriksaan pre transfusi, yaitu pemeriksaan sebelum dilakukan 

      


 

transfusi darah. Ciri dari jenis-jenis Imunoglobulin ada pada 

Tabel 1.2. Berikut ini merupakan jenis-jenis imunoglobulin, yaitu: 

 

 

 

 

 

 

 

 

(1). Imunoglobulin G 

Sebanyak 75% dalam serum manusia dewasa normal 

mengandung Imunoglobulin G. Struktur IgG berbentuk 

monomer, dan merupakan imunoglobulin utama yang dibentuk 

atas rangsangan antigen yang masuk ke dalam tubuh. IgG dapat 

menembus plasenta dan masuk ke dalam sistem peredaran 

darah janin sehingga IgG dari ibu dapat melindungi bayi dari 

infeksi. IgG paling mudah berdifusi ke dalam jaringan 

ekstravaskular dan melakukan aktivitas sebagai antibodi di 

jaringan. IgG juga dapat melapisi mikroorganisme sehingga 

mudah difagositosis, serta dapat menetralisir toksin dan virus. 

IgG memiliki  half life selama 23 hari di dalam darah. 

 

      


 

(2). Imunoglobulin M 

Molekul imunoglobulin M berbentuk pentamer dan 

berukuran paling besar. IgM banyak ada  di intravaskular 

dan merupakan 10% dari total imunoglobulin pada serum. IgM 

yaitu  imunoglobulin pertama yang dibentuk pada saat antigen 

masuk ke dalam tubuh, namun  memiliki respon yang pendek 

(hanya beberapa hari dan lalu  kembali menurun). IgM 

tidak mampu menembus plasenta, sehingga adanya IgM pada 

darah bayi menunjukkan adanya infeksi. Makromolekul IgM 

dapat memicu  aglutinasi berbagai partikel dan fiksasi 

komplemen dengan efisiensi yang sangat tinggi.  

 

(3). Imunoglobulin A 

Struktur imunoglobulin A umumnya berbentuk monomer 

dan ada  15% dari total imunoglobulin (terbanyak kedua 

dalam serum). IgA berfungsi dalam cairan sekresi yang 

diproduksi oleh sel sel plasma dalam jaringan limfoid, dan 

banyak ditemukan dalam saliva, air mata, kolostrum, serta sekret 

bronkus, vagina, dan prostat. IgA mampu mengikat 

mikroorganisme sehingga tidak melekat pada permukaan 

mukosa, dan membatasi absorpsi antigen yang berasal dari 

makanan. Imunoglobulin ini ada  pada kolostrum yang dapat 

membantu sistem imun pada bayi baru lahir. IgA memiliki  

half life selama 5-6 hari di dalam darah. 

 

 

 

(4). Imunoglobulin D 

Konsentrasi IgD hanya sedikit di dalam serum, namun 

cukup tinggi pada darah tali pusat. IgD ditemukan dalam 

      

 


 

permukaan sel B, terutama dalam sel B neonatus. keberadaan 

IgD bersama dengan IgM pada permukaan limfosit diperkirakan 

saling membantu sebagai resptor antigen dalam mengendalikan 

aktivasi dan penekanan limfosit. IgD memiliki  half life selama 

2-3 hari di dalam darah. 

 

(5). Imunoglobulin E  

Konsentrasi IgE dalam serum sangat rendah, hanya 

0,0004% dari total imunoglobulin dan dapat ditemukan dalam 

cairan sekresi. IgE memiliki  kemampuan melekat pada 

permukaan mastosit atau basofil melalui reseptor Fc. 

Imunoglobulin E dikenal sebagai reagin pada reaksi sensitifitas 

tipe segera (immediate) seperti pada rinitis musiman, asma, 

urtikaria, dan reaksi anafilaktik. IgE banyak ditemukan pada 

penderita infeksi cacing (parasit). Parasit yang dilapisi oleh IgE 

akan lebih mudah dihancurkan oleh eosinofil. 

 

Pada sistem golongan darah pada manusia normal, umumnya 

memiliki  anti A dan anti B yang secara alamiah terbentuk di 

dalam tubuh. Jenis antibodi ini terbentuk berlawanan dengan jenis 

antigen yang sudah ada. Misalnya, seseorang dengan antigen A 

akan memiliki  anti B di dalam serum darahnya. Pada sistem 

golongan darah umumnya memiliki jenis antibodi IgM atau IgG, dan 

sedikit IgA. Antibodi seperti anti A dan anti B biasanya merupakan 

IgM. sedang  antibodi jenis IgG pada sistem golongan darah 

biasanya jenis antibodi imun, sebab  terbentuk akibat paparan 

sebelumnya dengan antigen yang sesuai, misalnya antibodi Rhesus, 

antibodi Kell, antibodi Kidd, dan lain-lain. Bila antibodi jenis IgM 

dapat bereaksi langsung pada medium saline (NaCl 0,9%), maka 

jenis antibodi IgG membutuhkan reagen tambahan untuk 

      


 

memperlihatkan aglutinasi terhadap antigen yang sesuai, misalnya 

anti human globulin (AHG). 

 


 

1.5 MEKANISME RESPON IMUN 

      


Transfusi darah terutama berkaitan dengan produk dari 

antibodi sel B yang dibuat sebagai respon terhadap bahan antigenik 

seperti alogenik (“asing”: dari donor selain resipien transfusi) 

eritrosit dan terkadang leukosit, trombosit, dan obat-obatan. 

Imunisasi, atau sensitisasi (paparan antigen asing yang 

menghasilkan respon imun) pada substansi ini, terjadi melalui 

transfusi darah atau kehamilan. Elemen seluler dari donor atau janin 

mengandung antigen yang dikenali oleh sistem imun resipien 

sebagai non-self. Ketika dipresentasikan kepada resipien, maka 

antigen ini diproses oleh sistem imun resipien serta dapat 

mengakibatkan pembentukan antibodi yang terdeteksi. Keadaan ini 

dapat terjadi pada 30% sampai dengan 70% dari semua orang yang 

ditransfusikan dengan komponen darah yang mengandung leukosit. 

Antibodi yang dibuat sebagai respon terhadap produk darah “asing” 

kemungkinan dari subkelas IgG atau IgM. Antibodi IgM umumnya 

merupakan hasil dari respon imun primer, memiliki konsentrasi 

yang relatif rendah serta dapat dideteksi dalam waktu 3-4 minggu. 

Pada paparan ulang antigen non-self, dapat terjadi respon sekunder 

dengan tipikal antibodi IgG yang diproduksi dalam 1 hingga 2 hari 

dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada respon IgM. Respon 

sekunder dikenal sebagai respon anamnestik. Banyak faktor yang 

dapat mempengaruhi respon imun primer dan sekunder, misalnya 

imunogenisitas antigen, kelangsungan hidupnya dalam sirkulasi, 

dan kekuatan sistem imun resipien. Respon imun resipien ini 

tergantung pada faktor-faktor, seperti usia, status gizi, dan paparan 

sebelumnya.  

 

 

 

A. Mekanisme Aglutinasi 

      

 

Reaksi antigen-antibodi mengikuti hukum aksi massa dalam 

reaksi kombinasi sederhana (Ab + Ag  ↔ kompleks AbAg ) yang 

lalu  diikuti oleh reaksi sekunder dan tersier. Reaksi bersifat 

reversibel dan tergantung pada beberapa faktor. Namun yang 

paling penting yaitu  kecocokan dari tempat pengikatan antibodi 

(binding site) dan antigen, saling melengkapi muatan, konsentrasi 

antigen dan antibodi, medium suspensi pH, suhu, serta kekuatan 

ionik. 

 

B. Antibodi Mengikat Eritrosit 

Pengikatan eritrosit-antibodi untuk membentuk reaksi 

aglutinasi yang visible (terlihat), maka jumlah minimum molekul 

antibodi harus terikat dengan antigen. Sehingga semakin besar 

jumlah antibodi yang terikat pada setiap eritrosit maka semakin 

kuat reaksi yang dapat diamati. Selain itu, meningkatkan rasio 

serum terhadap sel memiliki efek adanya aglutinasi yang dapat 

diamati serta peningkatan uji sensitivitas. Sebaliknya, meningkatnya 

konsentrasi antigen oleh peningkatan kekuatan suspensi eritrosit 

pada sistem pengujian menghasilkan sensitivitas yang lebih rendah, 

dan lebih sedikit molekul antibodi yang terikat pada tiap eritrosit. 

 

C. Hemaglutinasi 

Tahap kedua dari reaksi antigen eritrosit-antibodi 

memicu  aglutinasi atau lebih tepatnya hemaglutinasi. 

Hemaglutinasi sebagai reaksi yang dapat diamati dapat terjadi atau 

tidak terjadi sebagai konsekuensi dari pasien yang diimunisasi 

dengan antigen sel darah merah alogenik, dan tergantung dari 

beberapa variabel, antara lain:  jumlah dan tipe antibodi yang ada; 

ukuran, jumlah, dan lokasi antigen site yang tersedia; pH, 

temperatur, dan kekuatan ion sistem pengujian. 

      

 

Anibodi golongan darah tergantung pada kelasnya. Dapat 

bereaksi dalam kisaran 4oC sampai dengan 37oC, dan tingkat 

disosiasi meningkat ketika suhu meningkat lebih dari 37oC. Prinsip 

ini digunakan dalam semua tes antigen-antibodi, mulai dari tes 

kompatibilitas hingga prosedur elusi antibodi yang menggunakan 

pemanasan untuk menghilangkan antibodi dari permukaan 

eritrosit. Suhu sangat berpengaruh pada reaksi antigen-antibodi, 

sebagai contoh ikatan anti-D lebih banyak dan efisien pada suhu 

37oC daripada suhu 4oC. 

Tidak ada metode serologis tunggal yang dapat digunakan 

untuk mendeteksi semua jenis antibodi golongan darah. Hal ini 

dipicu  sebab  metode tunggal tidak dapat menunjukkan 

reaktivitas. Ini tidak berarti bahwa serum tidak mengandung 

antibodi spesifik, namun ini tidak dapat ditunjukkan oleh suatu 

teknik tertentu, pada suhu dan pH tertentu. Aglutinasi atau reaksi 

penggumpalan yang diamati secara in vitro sebab  adanya ikatan 

antigen dan antibodi serta semua variabel yang mempengaruhi 

karakter dan jumlah reaktivitas yang dapat diamati. 

 

D. Reaksi Tersier 

Step terakhir dalam pengikatan eritrosit-antibodi mengarah 

pada destruksi target eritrosit termasuk aktivasi komplemen, 

fagositosis, opsonisasi, kemotaksis, adherens imun, dan degranulasi 

seluler.  

 

 

 

 

RANGKUMAN : 

      

 

   Imunohematologi mencakup tentang imunologi dasar, 

penerapan konsep imunologi pada pemeriksaan laboratorium 

dan transfusi darah, serta komponen darah. 

   Sistem imun non spesifik yaitu  pertahanan tubuh yang 

bersifat tidak spesifik dan berfungsi sebagai barier terdepan 

pada saat terjadinya infeksi penyakit, sehingga sering disebut 

natural atau native immunity. 

   Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua 

ketika sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen 

penyakit. 

   Antigen (imunogen) merupakan substansi yang mampu 

bereaksi dengan antibodi yang diproduksi oleh sel B atas 

rangsangan imunogen, tanpa mempertimbangkan apakah 

antigen bersifat imunogenik. Ini artinya semua imunogen 

yaitu  antigen, namun tidak semua antigen yaitu  imunogen. 

   Antibodi (imunoglobulin) dihasilkan oleh sistem imun dan 

penting untuk pencegahan dan perlawanan infeksi oleh 

substansi asing seperti bakteri, virus, parasit, dan zat patogen 

lainnya. Antibodi berupa glikoprotein yang berikatan khusus 

dengan substansi atau molekul asing yang disebut antigen. 

   ada  lima jenis imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD, dan IgE) 

yang berbeda dalam urutan asam amino dan jumlah domain di 

area konstan pada rantai berat. 

 


 

SISTEM GOLONGAN DARAH 

 

 

Bidang utama dalam sistem golongan darah meliputi bank 

darah dan terapi transfusi darah. Sistem golongan darah dan antibodi 

merupakan dasar untuk pemeriksaan pra transfusi darah. Antigen 

dan antibodi merupakan etiologi penyakit hemolitik pada janin dan 

reaksi transfusi hemolitik pada bayi baru lahir. Beberapa antigen 

berperan utama pada terapi transplantasi. Pemeriksaan pra transfusi 

berfokus pada pemeriksaan antigen ABO dan Rhesus, sera skrining 

untuk anibodi dalam plasma. Pada bab ini akan membahas tentang 

sistem golongan darah ABO dan Rhesus, serta sistem golongan darah 

lainnya.  

Hingga saat ini diketahui ada  33 sistem golongan darah 

yang mewakili lebih dari 300 antigen yang terdaftar di International 

Society of Blood Transfusion (ISBT), dimana sebagian besar telah di 

kloning dan di sekuensing (diurutkan). Gen-gen dari sistem golongan 

darah ini bersifat autosomal, kecuali XG dan XK yang diturunkan 

melalui kromsom X, dan MIC2 yang ada pada kromosom X dan Y. 

Antigen dapat berupa protein integral dimana polimorfisme terletak 

pada variasi urutan asam amino (misalnya: Rhesus, Kell), glikoprotein 

atau glikolipid (misalnya ABO). Beberapa sistem golongan darah ada 

pada Tabel 2.1.a dan 2.1.b. sedang  fungsi dari berbagai sistem 

golongan darah ada pada Tabel 2.2. 

 

2.1   GOLONGAN DARAH ABO 

Sistem golongan darah ABO penting dalam bidang ilmu 

kedokteran terutama transfusi dan transplantasi. Sistem ABO paling 

penting dalam bidang transfusi, sebab  transfusi sistem ABO yang 

inkompatibel akan mengakibatkan gejala reaksi transfusi hemolitik 

(HTR) dan mengakibatkan koagulasi intravaskular diseminata (DIC), 

gagal ginjal, dan kematian. ada  2 jenis inkompatibilitas ABO, 

yaitu: 

      

 

   Inkompatibilitas Mayor, di mana antibodi resipien akan 

menghancurkan eritrosit yang ditransfusikan (misalnya: A ke O, B 

ke O, A ke B, B ke A). 

   Inkompatibilitas Minor, di mana antibodi darah donor akan 

menghancurkan eritrosit resipien. (misalnya: O ke A, O ke B).  

Inkompatibilitas mayor dalam transfusi darah harus dihindari. 

Walaupun inkompatibilitas minor biasanya dapat diabaikan ketika 

donor tidak memiliki antibodi ABO yang levelnya sangat tinggi, bila 

memungkinkan untuk transfusi harus menggunakan darah donor dari 

golongan darah ABO yang sama dengan pasien. Tanda terjadinya 

destruksi eritrosit kemungkinan tampak sesudah  transfusi whole 

blood golongan darah O atau, dalam keadaan luar biasa, Packed Red 

Cell (PRC), kepada resipien golongan darah ABO lainnya. Ini 

memicu  destruksi eritrosit pasien sebab  ditransfusikannya 

antibodi ABO. Anti-A1 jarang bermakna klinis secara signifikan dan 

sebagian besar sampel tidak aktif pada suhu lebih dari 25°C, 

meskipun ada beberapa laporan HTR yang dipicu  oleh anti-A1. 

Diantara 33 sistem golongan darah, sistem ABO merupakan 

yang paling penting dalam transplantasi dan transfusi darah. Hal ini 

dipicu  individu berusia lebih dari 6 bulan memiliki antibodi anti-

A dan atau anti-B yang bermakna signifikan secara klinis dalam 

serumnya. Golongan Darah A mengandung antibodi terhadap 

golongan golongan darah B dalam serum dan sebaliknya. sedang  

golongan darah O tidak mengandung antigen A atau B tapi keduanya 

merupakan antibodi dalam serum.  

 


 

A. Sejarah Golongan Darah ABO 

Pada tahun 1990 Karl Landsteiner menemukan sistem 

golongan darah ABO. Ini menjadi awal mula adanya bank darah dan 

kedokteran transfusi darah. Dengan serangkaian percobaan, Karl 

Landsteiner berhasil menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam 

sistem golongan darah ABO, yaitu A, B, dan O. lalu  tidak lama 

sesudah  itu, rekannya, yaitu Alfred von Decastello dan Adriano Sturli 

menemukan golongan darah AB. Pada penelitian selanjutnya, Karl 

Landsteiner menghubungkan adanya antigen ABO pada eritrosit dan 

antibodi aglutinasi resiprokal dalam serum orang yang sama, 

misalnya antigen A pada eritrosit dengan dengan anti-B pada serum. 

Penemuan ini dikenal dengan Hukum Landsteiner, yang merupakan 

dasar untuk semua terapi transfusi serta sebagai pedoman untuk 

menentukan kompatibilitas atau kecocokan antara donor dan 

resipien. Golongan darah ABO merupakan pemeriksaan utama yang 

dilakukan di bank darah. 

 


 

B. Persebaran Golongan Darah ABO di Dunia 

(1) Golongan Darah O 

Individu dengan golongan darah O disebut "donor 

universal" sebab  darah mereka kompatibel dengan semua 

golongan darah ABO. Golongan darah ini yang paling banyak 

jumlahnya di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Eropa 

Barat. Penduduk asli Amerika Tengah dan Selatan, memiliki 

frekuensi golongan darah O sangat tinggi, hampir 100%. Golongan 

darah O juga banyak jumlahnya di antara penduduk asli Australia. 

 

(2) Golongan Darah A 

Golongan darah A banyak ada  di Eropa Tengah dan 

Timur. Sekitar 45-50% penduduk di negara Austria, Denmark, 

Norwegia, dan Swiss memiliki golongan darah A. Pada penduduk 

Polandia dan Ukraina populasi golongan darah O mencapai 40%. 

Sekitar 80% orang Indian Blackfoot di Montana memiliki golongan 

darah A. 

 

(3) Golongan Darah B 

Golongan darah B banyak ada  di Cina dan India, 

mencapai 25% dari populasinya. Golongan darah B jarang 

ditemukan di negara-negara Eropa dan penduduk Amerika yang 

berasal dari Eropa, hanya ditemukan sekitar 10% dari populasi ini. 

 

(4) Golongan Darah AB 

      


 

Golongan darah AB merupakan golongan darah yang paling 

langka. Individu golongan darah AB dikenal sebagai "resipien 

universal" sebab  dapat menerima transfusi darah dari semua 

golongan darah ABO. Golongan darah O paling banyak ada  di 

Jepang, wilayah Cina, dan di Korea, jumlahnya mencapai 10% dari 

populasi penduduknya. 

 

C. Antigen Sistem ABO dan H 

Antigen yang terdeteksi pada pemeriksaan laboratorium, termasuk 

antigen ABO terletak di permukaan eritrosit. Antigen ABO juga 

ditemukan pada limfosit, trombosit, organ, sel endotel, dan sel epitel. 

Antigen ABO berkembang dengan baik pada orang dewasa. Antigen 

ABO terdeteksi pada usia kehamilan 5 – 6 minggu. Pada bayi baru 

lahir menunjukkan antigen yang lebih lemah namun antigen ABO 

berkembang seutuhnya pada usia 2 – 4 tahun. Hal ini dipicu  oleh 

percabangan oligosakarida. Pada orang dewasa jumlah percabangan 

rantai lebih banyak, bila dibandingkan dengan bayi baru lahir yang 

lebih banyak memiliki rantai linier. Percabangan rantai 

memungkinkan perlekatan molekul ang lebih banyak untuk 

menentukan spesifitas antigen H, termasuk molekul spesifik A dan 

atau B.  

Pewarisan antigen ABO diperoleh dari kedua orangtua 

individu. Setiap individu memiliki  sepasang gen. Setiap gen 

menempati lokus identik pada kromosom 9. ada  kemungkinan 

3 gen yang dapat diwariskan, yaitu A, B, dan O. Gen A dan B 

menghasikan produk yang dapat terdeteksi. sedang  gen O 

merupakan produk yang tidak terdeteksi. Ekspresi gen A dan B yaitu  

kodominan. Kombinasi gen (genotip) dan ekspresi sebagai golongan 

darah (fenotip) ada pada Tabel 2.4. Pewarisan golongan darah ABO 

dari kedua orangtua dapat dilihat pada Tabel 2.5. 

      


 

Antigen H merupakan prekursor dari antigen golongan darah 

ABO. Antigen H ada pada semua eritrosit, terlepas dari sistem ABO. 

Antigen H diperlukan untuk menghasilkan antigen A dan atau B. Gen 

H juga diwariskan dengan gaya mendelian dan menempati lokus pada 

kromosom 19. Setiap orangtua berkonstribusi satu gen, baik H atau 

h. Kemungkinan kombinasi yang dapat terjadi yaitu  HH, Hh, dan hh. 

Individu yang secara genetik HH atau Hh akan menghasilkan antigen 

H, dan dapat terdeteksi pada eritrositnya.  

 

 

 

 

Gambar 2.1 Perbedaan Struktural Umum pada Rantai Oligosakarida 

yang Berfungsi sebagai Prekursor untuk Antigen ABH: 

a). Rantai prekursor umum 

b). Tipe 1 rantai oligosakarida – β 1—3 terikat D-galaktosa 

c). Tipe 2 rantai oligosakarida – β 1—4 terikat D-galaktosa 

(Gal = D Galaktosa; GALNAc = N-asetilglukosamin) 

 

Frekuensi munculnya antigen H pada populasi Kaukasia lebih 

dari 99,99%. sedang  individu yang menghasilkan genotip hh tidak 

menghasilkan antigen H dan memiliki fenotip Bombay Oh. Plasma 

individu dengan fenotip Bombay sering menunjukkan anti-H. Individu 

dengan fenotip Bombay homozigot untuk gen H (hh) langka 

ditemukan. Fenotip Bombay tidak mengekspresikan antigen H pada 

eritrositnya. Antigen H berfungsi sebagai prekursor, sehingga 

ketidakhadirannya menandakan tidak adanya antigen A dan B. 

Namun, individu ini  menghasilkan isoantibodi terhadap 

antigen H , serta antigen A dan B. 

Antigen H terdistribusi secara luas pada jaringan yang sama 

dengan antigen A dan B. Demikian juga pada individu "sekretor", 

dimana antigen H dalam bentuk terlarut ditemukan dalam saliva dan 

semua cairan tubuh, kecuali cairan serebrospinal. 

 

     

D. Fenotip Defisiensi-H (Bombay Oh) 

Meskipun sistem golongan darah ABO dan H berbeda secara 

genetik, namun keduanya berhubungan erat secara biokimia dan 

level fenotip. Fenotipe defisiensi-H sangat jarang dan meliputi: 

defisiensi total antigen H (Fenotip Bombay atau Oh) atau 

defisiensi parsial (Parabombay). 

Individu Oh Bombay sangat langka. Individu pertama yang 

terbukti pembawa sifat ini  yaitu  orang India yang leluhurnya 

berasal dari Bombay, sehingga dinamakan Oh Bombay. Sel-selnya 

tidak diaglutinasi oleh anti-A, anti-B, anti-A,B atau anti-H. Individu Oh 

Bombay memiliki  antibodi anti-H, anti-A dan anti-B yang kuat di 

dalam serumnya. Sehingga mereka hanya bisa menerima transfusi 

hanya dengan golongan darah Oh. Tabel 2.3 menunjukkan perbedaan 

antara golongan darah O dan golongan darah Oh. 

 

E. Perkembangan Biokimia dan Struktural Antigen A, B, Dan H 

Ekspresi gen A, B, dan H tidak menghasilkan produksi antigen 

secara langsung. Namun, masing-masing gen mengkode produksi 

enzim yang dikenal sebagai transferase. Setiap transferase 

mengkatalisis transfer molekul karbohidrat ke rantai oligosakarida. 

Karbohidrat yang terikat menyajikan spesifitas antigenik. Kode gen O 

untuk protein tidak akif secara enzimatik, sehingga tidak ada antigen 

yang diproduksi. Ringkasan dari molekul transferase ada pada Tabel 

2.6. 

 

F. Struktur Umum Golongan Darah 

Antigen A, B, dan H memiliki struktur umum berupa rantai 

oligosakarida yang terikat pada protein atau molekul lipid. Struktur 

umum ini yang digunakan sebagai komponen struktural dasar untuk 

beberapa antigen. Berbagai sistem antigen dibangun dari struktur 

yang sama, menandakan saling mempengaruhinya sistem terkait. 

Antigen dengan struktur dasar umum, antara lain: ABH, Lewis, P, dan 

I/i. Struktur oligosakarida yang umum yaitu  molekul karbohidrat 

yang terhubung dalam bentuk linier sederhana maupun struktur 

kompleks dengan tingkat percabangan yang tinggi. ada  dua 

variasi pada rantai oligosakarida, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Perbedaan 

berdasarkan struktural perlekatan molekul gula terminal.  Hal ini 

ditunjukkan pada Gambar 2.1. Rantai tipe 1 ada  pada cairan dan 

sekresi tubuh sedang  rantai tipe 2 ditemukan pada membran 

eritrosit. Rantai tipe 1 dibentuk oleh β 1 → 3 ikatan karbon nomor 1 

D-galaktosa dengan karbon nomor 3 N-asetilglukosamin. sedang  

rantai tipe 2 dibentuk oleh hubungan β 1 → 4 dari karbon nomor 1 D-

galaktosa dengan karbon nomor 4 dari N-asetilglukosamin.  

 


 

 

G. Status Sekretor 

Bentuk antigen A, B, dan H yang larut (soluble) dapat 

ditemukan dalam cairan sekresi tubuh. Kemampuan seseorang untuk 

mensekresikan substansi larut dalam cairan tubuh (water soluble) 

dikendalikan oleh gen yang diwariskan secara bebas. Gen sekretor 

yaitu  gen atau FUT2 (α 1,2 fucosyltransferase) pada kromosom 19. 

Alelnya yaitu  se bersifat amorf. Membutuhkan minimal satu gen Se 

untuk memunculkan sifat sekretori. Individu yang memiliki antigen 

ABH terlarut (SeSe atau Sese) dalam cairan sekresi tubuhnya disebut 

sekretor. sedang  individu yang tidak memiliki antigen A atau B di 

cairan sekresi tubuhnya (sese) disebut non sekretor.  

ada  sekitar 78% populasi yang memiliki minimal satu gen 

Se. individu yang memiliki gen Se akan mengeluakan antigen A, B, dan 

atau H. Enzim yang diproduksi oleh Se bekerja terutama pada rantai 

tipe 1 dan secara khusus di kelenjar sekretori. Berbeda dengan gen H 

yang bekerja hampir seluruhnya pada rantai tipe 2. Dan sebagian 

      

besar pada membran eritrosit. Kode gen Se untuk produksi 

transferase,L-fucosyltransferase. Enzim ini mendorong transfer L-

fucose ke terminal galaktosa rantai tipe 1 dan membentuk zat H 

dalam cairan sekresi tubuhnya. Enzim transferase A dan B ditemukan 

dalam sekresi individu A dan B terlepas dari status sekretornya. Oleh 

sebab  itu ketika substansi H ditemukan pada cairan sekresi tubuh 

maka antigen A dan atau B akan terbentuk jika ada  enzim 

transferase yang sesuai. Contoh cairan tubuh yang ada  substansi 

A, B dan H antara lain: saliva, keringat, air mata, semen, serum, dan 

cairan amniotik (air ketuban).  

 

 

 

 

H. Subgrup A dan B 

(1) Subgrup A1 dan A2 

Antigen grup A dibedakan menjadi beberapa subgrup. 

ada  2 grup utama yaitu A1 (80% individu grup A) dan A2 (20% 

individu grup A). Individu dengan tipe AB dapat dibagi ke dalam 

persentase yang sama dari presentasi antigen. A1B membentuk 

sekitar 80% dan A2B sebanyak 20% dari semua individu AB. Grup 

A individu yang tersisa berada dalam salah satu dari banyak 

subgrup minor. 

Antigen A1 dan A2 memiliki beberapa perbedaan secara 

kualitatif dan kuantitatif. Antigen eritrosit memiliki jumlah antigen 

yang berbeda pada permukaan selnya. Gen A1 menghasilkan 

transferase yang memiliki  kemampuan mengubah antigen H 

menjadi antigen A lebih besar daripada gen A2. Hal ini disebab kan 

jumlah transferase yang diproduksi A1 dan A2 juga berbeda. A1 

memproduksi 5 hingga 10 kali lebih banyak daripada jumlah 

tranferase yang dihasilkan oleh A2. Adanya fenotip A2 ini 

      

 

dipicu  oleh 2 mutasi, yaitu substitusi Pro-156Leu dan delesi 

single nukleotida. Inilah yang memicu  aktivitas enzim 

transferase pada A2 lebih sedikit daripada A1.  

Antigen A2  sebagian besar terdiri dari rantai oligosakarida 

linier sedang  A1 memiliki jumlah rantai yang bercabang lebih 

banyak. Pada pemeriksaan rutin, perbedaan secara kualitatif tidak 

dapat terdeteksi namun dapat ditentukan secara biokimia. A1 dan 

A2 tidak dapat dibedakan menggunakan antisera umum, sebab  

sama-sama bereaksi dengan anti A, dan anti A,B. Lectin, dan 

Dolichos biflorus dapat digunakan untuk untuk mendapatkan 

ekstrak dengan spesifitas anti A1. Dolichos biflorus dapat bereaksi 

secara khusus dengan sel A1 dan hasilnya negatif dengan A2. 

Individu A2 dapat mengembangkan antibodi terhadap 

antigen A1. Pola reaksi reverse yang khas dari individu golongan 

darah A yaitu tidak terjadi aglutinasi dengan sel A (tidak ada anti-

A) dan terjadi aglutinasi dengan sel B (ada anti-B). Pada orang A2 

dengan anti A1, sel-sel A juga akan diaglutinasi oleh golongan 

darah A. Sehingga perbedaan ini harus dikonfirmasi melalui 

pengujian eritrosit dengan Dolichos biflorus lectin. ada  

subgrup A lain yang jarang muncul, serta dipengaruhi secara 

genetik. Subgrup ini antara lain: Aintr, A3,Ax, Am, Aend, Ael, dan Abantu. 

 

(2) Subgrup B 

Subgrup B sangat jarang, dan jarang ditemukan 

dibandingkan dengan subgrup A. Metode untuk mendeteksi dan 

mengklasifikasikan subgrup B mirip dengan yang digunakan pada 

subgrup A. Subgrup B antara lain: B3, Bx, Bm, dan Bel. 

 

I. Antibodi ABO 

Sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen golongan 

darah ABO mana pun yang tidak ditemukan pada eritrosit individu. 

      

 

Dengan demikian, individu golongan darah A akan memiliki antibodi 

anti-B dan individu golongan darah B akan memiliki antibodi anti-A. 

Golongan darah O akan memiliki baik anti-A dan anti-B dalam 

serumnya. Golongan darah AB yang paling jarang, dan mereka tidak 

memiliki anti-A atau anti-B dalam serumnya. Ini dapat dilihat pada 

Tabel 2.7. 

Antibodi ABO dalam serum diperoleh secara alami, 

produksinya di stimulasi ketika sistem imun bertemu dengan antigen 

golongan darah ABO yang “hilang” dalam makanan atau dalam 

mikroorganisme. Ini terjadi pada usia dini sebab  gula yang identik 

dengan, atau sangat mirip dengan antigen golongan darah ABO yang 

ditemukan diseluruh alam. Lokus ABO memiliki  3 bentuk alel 

utama, yaitu: A, B, dan O. Alel A mengkodekan glikosiltransferase 

yang menghasilkan antigen A (N-asetilgalaktosamin merupakan gula 

immunodominannya), dan alel B mengkodekan glikosiltransferase 

yang menghasilkan antigen B (D-galaktosa merupakan gula 

imunodominannya). Antibodi ABO memiliki signifikansi klinis utama 

dipicu  2 hal, yaitu: (1) sebab  terjadi secara alami dan 

ditemukan secara universal, serta  (2) bersifat sangat reaktif. 

 


 

 

Antibodi sistem ABO hadir segera sesudah  kelahiran pada 

paparan agen lingkungan yang susunan antigennya mirip dengan 

antigen A dan B yang ditemukan pada eritrosit. Konsentrasi atau titer 

antibodi ini sangat bervariasi. Antibodi NRCS (non–red cell 

stimulated) sistem ABO pada dasarnya merupakan IgM, walaupun 

juga ditemukan adanya IgG dan IgA. Antibodi ini mengikuti sifat 

umum dari antibodi IgM (bereaksi paling baik pada suhu kamar atau 

dibawahnya, dapat mengaktifkan komplemen,dan merupakan 

aglutinin saline). Versi IgM dan IgA dari antibodi ABO tidak 

menembus barier plasenta. Namun, versi IgG mampu menembus 

plasenta serta dapat memicu  penyakit hemolitik pada bayi 

baru lahir. 

Bentuk imunitas antibodi ABO merupakan hasil dari paparan 

terhadap eritrositin kompatibel atau sumber antigen BO lainnya. 

Bentuk imunitas ini umumnya menjadi IgG, memicu  

meningkatnya resiko transfer transplasental dari antibodi ABO pada 

masa kehamilan. lalu , bentuk imunitas dari antibodi ABO tidak 

mudah dihambat oleh antigen A dan B yang bersifat soluble. Hal ini 

menunjukkan bahwa antibodi yang timbul akibat sensitisasi eritrosit 

mampu mendeteksi perbedaan halus antara rantai prekursor tipe I 

dan tipe II yang menghasilkan antigen A dan B. 

 

(1) Anti-A 

Anti-A ada  dalam serum individu golongan darah B 

yang terpapar agen lingkungan yang mirip dengan antigen A dan 

akan memicu  aglutinasi eritrosit dari individu golongan 

darah A dan AB. Sebagian besar anti-A ini yaitu  IgM, meskipun 

kemungkinan ada IgG dan IgA dalam jumlah kecil. sebab  itu, 

anti-A dapat memicu  aglutinasi eritrosit yang tersuspensi 

dalam saline dan mengaktifkan komplemen dengan mudah. Hal 

      

 

 

ini dapat memicu  destruksi intravaskular yang cepat dari 

eritrosit yang membawa antigen A. Secara fungsional anti-A dapat 

dibagi menjadi dua komponen, yaitu anti-A1, yang bereaksi 

dengan sel A1 namun tidak bereaksi dengan sel A2, dan anti-A 

umum, yang bereaksi dengan sel A1 dan A2. A1 dan A2 yaitu  dua 

subkelompok A yang paling umum, masing-masing mewakili 

sekitar 80% dan 20% dari total jumlah golongan darah A. 

sedang  subgrup lain sangat jarang ditemukan. 

Meskipun secara fungsional dapat dibedakan, anti-A1 ini 

juga dapat ditunjukkan dengan menghilangkan sel A2 pada 

adsorpsi lengkap. Ini dapat dijelaskan oleh sedikit perbedaan 

dalam antigen umum pada permukaan eritrosit pada individu A2. 

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada  

perbedaan pada antigen antara eritrosit individu A1 dan A2yang 

terletak pada jumlah relatif percabangan yang terjadi pada 

struktur prekursor untuk antigen ABH. Antigen A1 lebih bercabang 

sehingga bereaksi berbeda dengan anti-A daripada antigen 

A2yang bercabang lebih sedikit. Ini juga menjelaskan mengapa 

pada bayi baru lahir,yang awalnya sebagai A2, pada akhirnya akan 

mengekspresikan fenotip A1. Dengan demikian, antibodi yang 

dikenal sebagai anti-A umum sebenarnya dapat menjadi bentuk 

anti-A yang bereaksi berbeda sebab  hambatan sterik yang 

dipicu  oleh antigen A1 yang bercabang-cabang. 

 

(2) Anti-A1 

Anti-A dari individu golongan darah B, ketika dicampur 

dengan sel A2, dapat memicu  adsorpsi dari komponen anti-

A yang disebut anti-A umum, membiarkan komponen dengan 

aktivitas anti-A1 yang jelas. Pereaksi ini disebut anti-A1 

(teradsorpsi) dan dapat digunakan untuk membedakan antara sel 

A1 dan A2. Pereaksi yang dibuat dari tanaman Dolichos biflorus 

      


(lektin), bila diencerkan dengan benar, reagen ini dapat digunakan 

untuk membedakan antara sel A1 dan A2. 

 

(3) Anti-B 

Serum dari individu golongan darah Amengandung antibodi 

yang pada dasarnya mengalami aglutinasi (penggumpalan) pada 

golongan darah B dan AB. Anti-B, seperti anti-A, muncul paling 

sering sebagai IgM tanpa stimulasi eritrosit, serta mungkin 

memiliki IgG dan IgA dalam jumlah kecil. Bentuk imunitas antibodi 

ini bereaksi serupa dengan bentuk imunitas anti-A. Antibodi ini 

dengan mudah menggumpalkan sel-sel yang tersuspensi dalam 

saline, mengaktifkan komplemen, dan dapat dengan cepat 

menghancurkan eritrosit yang inkompatibel melalui hemolisis 

intravaskular. sedang  subgrup B yang lemah dapat bereaksi 

berbeda dengan anti-B. 

 

(4) Anti-A, B 

Anti-A, B ditemukan dalam serum semua individu golongan 

darah O bersama dengan beberapa komponen anti-A dan anti-B. 

Anti-A, B bukan hanya campuran anti-A dan anti-B, seperti yang 

dapat ditunjukkan oleh adsorpsi diferensial dengan sel A atau B. 

Salah satu dari sel-sel ini mampu menyerap sepenuhnya semua 

aktivitas anti-A atau anti-B. selanjutnya, ketika uji elusi dilakukan, 

aktivitas anti-B dapat ditunjukkan oleh antibodi yang bereaksi 

dengan sel A, dan aktivitas anti-A dapat ditunjukkan oleh antibodi 

yang dielusi dari sel B. Antibodi tidak hanya mampu bereaksi 

dengan sel-sel A atau B, namun umumnya memiliki titer dan 

aviditas yang lebih tinggi daripada NRCS anti-A atau anti-B. 

Ini yang memicu  anti-A, B dapat digunakan untuk 

mengkonfirmasi donor golongan darah O, dalam pemeriksaan 

sampel darah bayi baru lahir, dan dapat membantu 

      

mengidentifikasi subgrup A dan B yang lemah. Bentuk IgG anti-A, 

B lebih mungkin terjadi pada serum individu golongan darah O 

yang telah peka oleh antigen A atau B. Oleh sebab  itu, ibu 

golongan darah O lebih cenderung memiliki IgG anti-A, B dalam 

serum mereka ketika membawa janin golongan darah A atau B. 

Janin ini  kemungkinan besar akan menderita penyakit 

hemolitik pada bayi baru lahir dari bentuk IgG anti-A, B dalam 

hubungannya dengan IgG anti-A atau anti-B atau dari anti-A, B 

saja. Ini harus selalu dipertimbangkan ketika eluat dari sampel 

bayi baru lahir diuji inkompatibilitas ABO. Antibodi pada 

permukaan eritrosit bayi baru lahir kemungkinan besar yaitu  

anti-A, B dan harus dilaporkan demikian. 

 

(5) Anti-H 

Anti-H dapat ditemukan sebagai antibodi yang lemah dan 

bereaksi dalam temperatur rendah dalam serum grup  A1 dan 

menjadi individu A1B. Ini juga ditemukan sebagai antibodi NRCS 

yang kuat dalam serum orang yang mengekspresikan fenotip 

Bombay (Oh). Antigen H yang ada pada individu A1 dan A1B yaitu  

yang konsentrasinya paling rendah dari semua golongan darah 

ABO. Ini dapat memicu  kegagalan dalam untuk mengenali 

antigen H sebagai "self" dan untuk membuat antibodi terhadap H. 

Hal Ini merupakan penjelasan untuk anti-H yang lemah dimana 

terkadang ada dalam serum individu A1 dan A1B.  

Reagen dengan aktivitas anti-H dapat dibuat dari tanaman 

U. europaeus. Ketika diencerkan dengan benar, lektin ini dapat 

berdiferensiasi di antara sel denganberbagai konsentrasi antigen 

H dan dapat digunakan untuk menguji status sekretor. Eritrosit 

fenotip Bombay ketika diuji dengan anti-H atau U. europaeus 

lectin, akan menunjukkan hasil negatif. 

 

    

J. Acquired Changes 

Pada kasus yang jarang terjadi, individu golongan darah A 

dapat memperoleh antigen B dan menjadi golongan darah AB, 

walaupun antigen B pada umumnya lemah dan ada  beberapa 

pelemahan antigen A. Pada banyak kasus, fenomena ini terjadi pada 

pasien dengan penyakit pada saluran pencernaan, seperti kanker 

usus besar. Menurut penjelasan secara umum, adanya antigen B 

diakibatkan sebab  enzim bakteri dalam darah menghilangkan gugus 

asetil dari GalNAc, gula imunodominan antigen A, untuk 

menghasilkan galaktosamin, yang cukup mirip dalam strukturnya 

dengan Gal, gula antinominan B antigen B, untuk bereaksi saling 

silang dengan beberapa anti-B.  

Melemahnya antigen A umumnya terjadi pada pasien 

golongan darah A dengan leukemia myeloid akut (AML). Pada 

beberapa kasus, semua eritrosit menunjukkan kelemahan dari 

antigen A, sedang  pada populasi lainnya eritrosit A dan O bersifat 

jelas (tidak lemah). Perubahan yang berhubungan dengan leukemia 

pada antigen B dan H jarang terjadi. Sekitar 17% hingga 37% pasien 

dengan leukemia memiliki ekspresi antigenik A, B, atau H yang secara 

signifikan lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol yang sehat. 

Terkadang, modifikasi antigen ABH muncul sebelum pasien di 

diagnosis malignansi/ keganasan dan ini mengindikasikan keadaan 

praleukaemia. Efek leukemia ini mungkin berasal dari epigenetik, 

yang merupakan hasil dari hipermetilasi daerah promotor ABO. 

 

K. Hubungan Dengan Penyakit dan Aspek Fungsional 

Beberapa hubungan lain antara golongan darah ABO dan 

penyakit telah dilaporkan, sebagian besar berdasarkan pada 

perbedaan frekuensi fenotip ABO yang diamati antara pasien dengan 

penyakit lalu  dibandingkan dengan orang yang sehat. 

Misalnya, individu golongan darah A tampak lebih rentan terhadap 

      


 

karsinoma lambung dan usus besar daripada golongan darah ABO 

lain. 

Individu golongan darah O memiliki risiko trombosis yang lebih 

rendah dibandingkan dengan fenotip A, B, dan AB. Ini dapat 

diakibatkan sebab  adanya gula imunodominan A dan B pada faktor 

glikoprotein von Willebrand (vWF), faktor koagulasi yang terkait 

dengan Faktor VIII, sebagian menghalangi akses ADAMTS13, enzim 

yang bertanggung jawab untuk pembersihan vWF dari plasma. 

Individu golongan darah O tampaknya relatif tahan terhadap malaria 

berat yang dipicu  oleh infeksi Plasmodium falciparum, 

dibandingkan dengan individu selain golongan darah O. 

Hampir tidak ada yang diketahui tentang fungsi antigen ABO, 

baik pada eritrosit maupun di bagian tubuh lainnya. Antigen ABH 

jumlahnya sangat banyak pada eritrosit. Antigen ABH berkontribusi 

pada glikokaliks atau cell coat, yaitu sebuah matriks karbohidrat 

ekstraseluler yang melindungi sel dari kerusakan mekanis dan 

serangan oleh mikroorganisme patogen. 

 

2.2   GOLONGAN DARAH RHESUS 

Golongan darah Rhesus merupakan salah satu golongan darah 

paling kompleks pada manusia. Penemuannya dinamakan dari salah 

satu jenis monyet, yaitu Rhesus. Sistem Rhesus telah menjadi 

golongan darah terpenting kedua sesudah  ABO di bidang transfusi 

darah. Sistem Rhesus sangat penting dalam bidang obstetri, sebab  

menjadi pemicu  utama penyakit hemolitik pada bayi baru lahir 

atau Hemolytic Disease of the Newborn (HDN). 

Kompleksitas antigen golongan darah Rh dimulai dengan gen 

yang sangat polimorfik yang menyandikannya. Ada dua gen yang 

berhubungan erat, yaitu RHD dan RHCE. Berbagai pengaturan genetik 

di antara keduanya telah menghasilkan gen-gen Rh hibrida yang 

      

mengkodekan banyak sekali antigen Rh yang berbeda. Hingga saat ini 

diketahui ada  49 antigen Rh. 

Golongan darah Rh penting sebab  bersifat sangat imunogenik. 

Pada kasus antigen D, individu yang tidak memiliki  antigen D akan 

menghasilkan anti-D jika mereka menemukan antigen D pada 

eritrosit yang ditransfusikan, sehingga mengakibatkan reaksi 

transfusi hemolitik (HTR) atau pada eritrosit janin akan memicu  

HDN. sebab  itu, status Rh secara rutin di uji dalam donor darah, 

resipien transfusi, dan calon ibu. 

 

A. Sejarah Golongan Darah Rhesus 

Sistem golongan darah Rhesus ditemukan di New York pada 

tahun 1939. Awalnya ditemukan dalam antibodi pada serumseorang 

wanita yang melahirkan bayi dalam keadaan meninggal serta 

mengalami reaksi hemolitik sesudah  memperoleh transfusi darah dari 

suaminya. Levine dan Stetson menemukan bahwa antibodi 

menggumpalkan eritrosit suami wanita ini  dan 80% donor 

darah ABO yang kompatibel. Namun, Levine dan Stetson belum 

menyebutkan nama antibodi ini .  

Pada tahun 1940, Landsteiner dan Wiener membuat antibodi 

dengan menyuntikkan eritrosit monyet rhesus ke tubuh kelinci. 

Antibodi ini tidak hanya memicu  aglutinasi pada eritrosit 

monyet rhesus, namun juga eritrosit dari 85% warga kulit putih New 

Yorkdan tampaknya sama dengan antibodi Levine dan Stetson dan 

antibodi manusia lainnya yang telah diidentifikasi sebelumnya. 

Namun pada tahun 1962, diketahui bahwa anti-rhesus kelinci dan 

marmut bereaksi dengan antibodi lain yang secara genetik tidak 

berkaitandengan antibodi manusia, meskipun secara serologis 

terkait. sebab  itu, antibodi anti-rhesus diubah namanya menjadi 

anti-LW, sesudah  Landsteiner dan Wiener, dan antibodi manusia tetap 

sebagai anti-D dari sistem golongan darah Rh (bukan rhesus). LW 

      

 

diekspresikan lebih kuat pada eritrosit D+ daripada D−, menjelaskan 

kesalahan awal sebab  antiserum yang lemah sering gagal 

mengaglutinasikan eritrosit D−. 

 

B. Antigen Rh 

Sama seperti sistem ABO, antigen Rh terletak di permukaan 

eritrosit. Berbeda dengan sistem ABO, antigen Rh utama ditemukan 

secara eksklusif pada eritrosit dan bukan pada sel jaringan atau 

dalam bentuk larut pada cairan tubuh. Sifat biokimia antigen RhD dan 

RhCE berupa protein. Protein berikatan dengan lipid pada membran 

eritrosit sebagai penunjang morfologinya. Masing-masing antigen 

terdiri dari 416 asam amino. Rangkaian asam amino dililitkan melalui 

membran eritrosit dan memperlihatkan lilitan pendek pada bagian 

luar. Asam amino aktif bervariasi dengan pengkodean genetik 

individu. Antigen Rh merupakan bagian integral dari membran 

eritrosit. Teori ini didukung oleh fakta bahwa sel-sel tanpa antigen Rh 

(Rhnull), menunjukkan morfologi yang berubah dan penurunan masa 

hidup eritrosit. 

Glikoprotein yang berhubungan dengan struktur biokimia 

sistem Rh telah diidentifikasi. Glikoprotein ini tidak berkaitan dengan 

sifat antigenik sistem golongan darah mana pun, namun lebih 

berhubungan dengan membran eritrosit. Glikoprotein ini berperan 

dalam hubungan RhD dan RhCE dengan membran eritrosit. 

Glikoprotein yang berhubungan dengan membran eritrosit ini yaitu  

RhAG. Adanya mutasi atau tidak adanya glikoprotein ini dapat 

memicu  kurangnya ekspresi antigen Rh (Rhnull). 

Adanya glikoprotein sebanding dengan yang diidentifikasi 

pada otak, hati, ginjal, dan kulit. Glikoprotein ini telah diberi label 

RhBG dan RhCG, dan tidak berhubungan dengan antigen golongan 

darah tertentu, namun penelitian menunjukkan keterlibatan dengan 

transportasi amoniak. 

       

 

 

C. Genetika Sistem Golongan Darah Rh 

Gen-gen pada sistem Rh terletak pada Kromosom 1. Komposisi 

genetik sistem Rh mencakup dua gen yang terletak berdekatan, yaitu 

RhD dan RhCE. Gen-gen ini menyandi protein RhD dan RhCE. Protein 

RhD membawa antigen D sedang  RhCE membawa antigen C dan 

E. C dan E dapat hadir dalam berbagai kombinasi (misalnya: CE, ce, 

Ce, cE). Tidak ada komponen antitesis untuk antigen RhD. Sehingga, 

tidak ada huruf "d". Tidak adanya antigen D menunjukkan absensi 

atau delesi di lokasi ini. Ini sesuai dengan fenotip Rh negatif atau D 

negatif. Kurangnya material antigenik merupakan pemicu  dari 

tidak adanya gen RhD.  

Gen RhD dan RhCE masing-masing memiliki 10 ekson, dimana 

97% identik, dan kemungkinan besar muncul dari duplikasi gen. 

Komposisi asam amino RhD dan RhCE berbeda sejumlah 32 hingga 35 

dari total 416 asam amino. Perbedaan antigen antitetis (misalnya: C 

dan c merupakan antitesis) dihasilkan dari perbedaan asam amino 

yang lebih sedikit daripada perbandingan antigen dari golongan 

darah alternatif. Fakta ini juga menjelaskan tingkat keasingan yang 

besar ketika RhD antigen dimasukkan ke dalam individu RhD negatif. 

Sifat antigenik RhD yang sangat antigenik berbeda dengan sistem 

antigen lainnya. 

Teori Fisher-Race menggambarkan pewarisan Rh yang 

dihasilkan dari tiga lokus. Pada teknik molekuler, teori ini merupakan 

teori yang paling dekat menggambarkan warisan sistem Rh yang 

sebenarnya. Secara historis, Weiner mengusulkan satu gen dengan 

salah satunya memiliki dua atau tiga faktor. Nomenklatur Rosenfield 

bersifat numerik dan dikembangkan untuk membantu dalam 

konversi terminologi dengan menggunakan perangkat lunak 

komputer. ISBT merupakan pengembangan dari nomenklatur 

Rosenfield. Tata nama penulisan sistem golongan darah Rhesus 

      

 

menurut Fisher-Race dan Weiner ada pada Tabel 2.8. Penulisan 

Weiner jarang digunakan secara rutin, namun terkadang lebih mudah 

menggunakan 1 faktor daripada daftar alel individu pada terminologi 

Fisher-Race. 

ISBT memiliki standarisasi nomenklatur sistem golongan 

darah. Enam digit angka telah ditetapkan untuk antigen spesifik 

setiap golongan darah. Tiga digit angka pertama mewakili 

sistem golongan darah, (misalnya: Rh, Lewis, Duffy, dll.). Sistem 

golongan darah Rhesus telah ditetapkan sebagai 004. Tiga angka 

dibelakangnya digunakan penomoran Rosenfield untuk antigen 

ini . Misalnya: nomor ISBT untuk antigen D yaitu  004001. ISBT 

juga menunjuk sistem untuk menyediakan pengidentifikasi 

alfanumerik untuk setiap antigen. Pada sistem ini termasuk penulisan 

huruf kapital, diikuti oleh nomor spesifik antigen, seperti: RH1 

mewakili antigen D. Ini dapat dilihat pada Tabel 2.9. 

 


Dalam sistem Rhesus, antigen D merupakan antigen primer. 

Ketika antigen D ada pada eritrosit, maka individu ini  

memiliki  "Rh positif". Seseorang dapat mewarisi satu gen D dari 

setiap orangtua. Warisan salah satu atau dua gen D akan 

menunjukkanindividu ini  sebagai "Rh positif". Jumlah individu 

dengan Rh positif mencapai 85% pada populasi di Kaukasia, dan 92% 

pada populasi Afrika-Amerika. Namun jika  tidak ada gen D yang 

diwarisi dari salah satu orangtua, maka individu ini  disebut "Rh 

negatif". Individu Rh negatif jumlahnya sekitar 15% pada populasi 

Kaukasia, dan 8% pada populasi di Afrika-Amerika. 

Antigen D bersifat sangat antigenik. ada  lebih dari 80% 

individu Rh negatif (D negatif) yang mendapatkan transfusi darah Rh 

positifakan menghasilkan anti-D pada paparan awal. Individu dengan 

Rh positif dapat menerima transfusi dengan darah Rh positif atau Rh 

negatif. Namun, individu dengan Rh negatif harus selalu menerima 

transfusi dengan darah Rh negatif kecuali jika situasinya mengancam 

jiwa dan hanya darah Rh positif yang tersedia. Transfusidarah Rh 

negatif sangat penting bagi wanita usia subur. Wanita Rh negatif yang 

menghasilkan anti-D cenderung memicu  Penyakit Hemolitik 

Janin dan Bayi Baru Lahir (HDFN) jika bayi dengan Rh positif lahir dari 

ibu Rh negatif. 

 


E. Antigen CcEe 

Sistem Rh memiliki  banyak antigen tambahan. Yang paling 

signifikan ialah dua pasang alel, yaitu: Cc dan Ee. Antigen tambahan 

mungkin ada pada lokus ini. Antigen-antigen ini jarang ditemukan, 

namun dapat memproduksi antibodi atipikal ketika ditransfusikan 

pada individu antigen-negatif. 

 

F. Antigen G 

Antigen G yaitu  antigen yang ada pada setiap eritrosit, 

dimana ditemukan antigen C atau D. Ini bukan komponen antigen. 

Baik antigen C dan D tidak harus diwariskan agar antigen G dapat 

hadir.Anti-G dapat ditemukan pada individu yang memiliki salah satu 

antigen ini. sebab nya, antibodi yang terbentuk akan tampak reaktif 

dengan kedua antigen C dan D, bahkan jika hanya satu antigen yang 

ada pada eritrosit, misalnya: individu Rh positif yang tampak memiliki 

anti-D. Anti-G harus dibedakan dari anti-C dan anti-D dengan 

pengujian metode adsorpsi dan elusi. 

 

G. Antigen Rh yang Tidak Terdeteksi 

(1) Fenotip Rhnull 

Rhnull sangat jarang ditemukan. Individu dengan Rhnull pada 

permukaan eritrositnya terjadi kekurangan total antigen Rh. 

Eritrosit Rhnull ini juga kekurangan Fy dan LW, yang merupakan 

antigen dengan frekuensi tinggi dan menunjukkan ekspresi 

     

 

antigen S/s dan antigen U yang melemah. pemicu  fenotip Rhnull 

paling umum yaitu  sebab  adanya mutasi pada gen RHAG. Gen 

ini diperlukan untuk ekspresi antigen Rh pada eritrosit. Mutasi 

pada gen RHAG akan mempengaruhi ekspresi semua antigen Rh. 

Signifikansi klinis fenotip Rhnullmemiliki  dua masalah utama, 

yaitu: 

   Kesulitan menemukan darah yang cocok untuk individu Rhnull 

yang memiliki  banyak antibodi yang kompleks. 

   Menurunnya masa hidup eritrosit sebab  membran eritrosit 

yang abnormal. Sehingga memicu  meningkatnya 

fragilitas osmotik, waktu paruh yang pendek, dan anemia 

hemolitik ringan. 

 

(2) Fenotip Rhmod 

Fenotip Rhmod mirip dengan Rhnull,.Rhmod memiliki jumlah 

antigen Rh yang menurun dalam jumlah besar, sedang  Rhnull 

sepenuhnya hilang. Sel-sel mengalami penurunan jumlah antigen 

RHAG dan ekspresi antigen Rh hanya dapat dideteksi oleh metode 

adsorpsi dan elusi. Fenotip Rhmodmerupakan hasil mutasi pada gen 

RHAG. Individu ini jugadapat menderita anemia hemolitik sebab  

rusaknya membran eritrosit. 

 

H. Antibodi Rh 

Bila dibandingkan dengan sistem ABO, individu yang 

kekurangan antigen Rh jarang menghasilkan antibodi terhadap 

antigen ini  tanpa stimulasi dari eritrosit melalui kehamilan atau 

transfusi. Antibodi terhadap semua antigen Rh dapat memicu  

HDFN dan Reaksi Transfusi Hemolitik (HTR). Karakteristik semua 

antibodi Rhsama, terlepas dari antigen yang sesuai. Antibodi Rh 

merupakan antibodi IgG yang mengikat masing-masing antigen pada 

suhu 37°C. Antibodi ini dapat menimbulkan aglutinasi pada 37°C dan 

      

 

 

dalam tahap  pengujian AHG. Mereka tidak mengikat komplemen dan 

diperbanyak oleh enzim. Karakteristik antibodi dalam golongan darah 

Rh ada pada Tabel 2.10. 

 

I. Signifikansi Klinis Antibodi Rh 

Antigen Rh bersifat sangat imunogenik, dan sebagian besar 

merupakan pemicu  terjadinya reaksi transfusi hemolitik dan HDN. 

Walaupun sebagian besar golongan darah ditentukan oleh antigen 

eritrosit yang berbeda dengan satu atau dua asam amino, golongan 

darah Rh mengandung antigen D yang berbeda dari antigen C/c dan 

E/e dengan 35 asam amino. Perbedaan jumlah asam amino yang 

besar inilah yang memicu  antigen Rh memiliki  kemampuan 

kuat dalam merangsang suatu respon imun. Mayoritas antibodi yang 

dibentuk terhadap antigen Rh merupakan jenis IgG, yang mampu 

memicu  HTR dan HDN yang signifikan. Antibodi Rh jarang, jika 

ada, mengikat komplemen, dan sebab nya destruksi eritrosit 

diperantai hampir secara eksklusif oleh makrofag di limpa (hemolisis 

ekstravaskular). Ada beberapa contoh aloantibodi Rh yang terjadi 

secara alami dan dari tipe IgM, namun itu merupakan minoritas. 

 


GOLONGAN DARAH LAIN 

 Golongan darah ABO dan Rh merupakan sistem golongan 

darah yang paling signifikan secara klinis dan paling dikenal, namun 

ada  sekitar 31 sistem lain yang memiliki relevansi klinis dan 

biologis yang beragam. Selain itu juga ada antigen lainnya yang belum 

ditentukan menjadi suatu sistem, baik yang frekuensinya sangat 

tinggi maupun sangat rendah. 

 

 

2.3   GOLONGAN DARAH LEWIS 

Sistem golongan darah Lewis memiliki 2 antigen utama, yaitu 

Lea dan Leb. Antigen ini unik sebab  berbeda dengan kebanyakan 

sistem golongan darah, seperti ABO dan Rh, antigen Lewis bukan 

bagian integral dari membran eritrosit. Antigen ini terbentuk dari 

sekresi dan diadsorpsi ke permukaan eritrosit. Bayi baru lahir tidak 

memiliki antigen Lewis dengan tipe Le(a-b-). Antigen mulai 

berkembang satu minggu sesudah  kelahiran, dan terus berkembang 

sampai dengan 6 tahun. Perkembangan dari antigen ini mulai dari 

Lewis (a-b-) → Lewis (a+b-) → Lewis (a+b+) → 

Lewis (a-b+). Tipe antigen akhir ini tidak akan terlihat sampai dengan 

usia sekitar enam tahun. Frekuensi antigen Lewis ada pada Tabel 

2.11. 

Perkembangan antigen Lewis melibatkan interaksi 3 set gen. 

Gen-gen ini yaitu  H, Secretor (Se), dan Lewis (Le). Produk dari gen 

Le, Se, dan H yaitu  glycotransferases. Varian amorf dari gen-gen ini 

(le, se, dan h) tidak menghasilkan produk yang terdeteksi. Interaksi 

gen ini terjadi sebagai berikut: 

1. Kode gen Le untuk glycotransferase yang menghasilkan antigen 

Lea. Lea awalnya ada di cairan sekresi dan menjadi teradsorpsi ke 

permukaan eritrosit. Ini terjadi terlepas dari status sekretor. 

2. Gen Se mengkode agar H transferase ada  dalam cairan 

      

 

  53 

 

sekresi. 

3. Ketika kombinasi Le, H, dan Se ada bersama, Le glycotransferase 

akan menyembunyikan antigen H yang tersedia untuk Leb. Leb akan 

diadsorpsi ke dalam eritrosit, bukan Lea. 

4. Kombinasi gen dan fenotip yang dihasilkan ditunjukkan pada Tabel 

2.12 

 

 

 


 

2.4   GOLONGAN DARAH KELL 

Golongan darah Kell memiliki antigen yang dinamakan K atau 

KEL1, ini merupakan antigen original dari sistem Kell dan antigen 

golongan darah pertama yang diidentifikasi sesudah  penemuan uji 

antiglobulin pada tahun 1946. Kini sistem Kell terdiri dari 35 antigen 

yang diberi nomor dari KEL1 - KEL38, dengan 3 obsolete (tidak 

terpakai). Enam pasang dan satu triplet dari antigen antithesis Kell 

ada pada Tabel 2.13. 

Sistem golongan darah Kell kompleks dan mengandung banyak 

antigen yang sangat imunogenik. Antigen ini merupakan yang paling 

kuat ketiga sesudah  golongan darah ABO dan Rh dalam mencetuskan 

terjadinya reaksi imunitas  tubuh. Antibodi yang menargetkan 

antigen Kell dapat memicu  reaksi transfusi dan penyakit 

hemolitik pada bayi baru lahir (HDN). Dalam kasus HDN, 

inkompatibilitas ABO dan Rh merupakan pemicu  yang lebih umum. 

Namun, penyakit yang dipicu  oleh anti-ABO ibu cenderung 

ringan, dan penyakit yang dipicu  oleh anti-Rh ibu