Tampilkan postingan dengan label Imunologi 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imunologi 9. Tampilkan semua postingan

Imunologi 9

 




 

Pandemi penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang diakibatkan 

oleh virus SARS-Cov-2, mulai mewabah tahun 2019 di seluruh dunia 

sehingga mengakibatkan banyak kematian manusia. Namun Kejadian Luar 

Biasa (KLB) yang berasal dari Kota Wuhan, ibukota Hubei, negara Tiongkok 

ini  juga menyadarkan seluruh manusia mengenai kesehatan sistem imun, 

serta mempopulerkan kembali ilmu imunologi. Seluruh negara di dunia 

mewajibkan hampir seluruh rakyatnya dengan program vaksinasi Covid-19 

dengan tujuan tercapai herd immunity.  

Imunologi yaitu  ilmu yang mempelajari sistem imun tubuh meliputi jenis 

sistem imun, sel-sel dan organ-organ sistem imun, fisiologi dan respon sistem 

imun dari cedera akibat serangan berbagai sumber antara lain bakteri dan virus 

ataupun zat asing lainnya, reaksi hipersensitivitas, penyakit-penyakit autoimun, 

defisiensi imun serta vaksinasi. Imunologi berkaitan erat dengan ilmu anatomi, 

fisiologi, biokimia, bakteriologi, virologi, onkologi, dan psikiatri. 

Sejarah berkembangnya ilmu imunologi berawal dari tahun 430 SM saat 

terjadi wabah Athena di Yunani. Salah satu penyintas wabah yamg bernama 

Thucydides menemukan bahwa penderita penyakit yang sembuh dan selamat 

tidak terkena penyakit ini  lagi. Abad ke-10, seorang dokter 

berkebangsaan Iran yang bernama Al Razi (Rhazes) berhasil membedakan 

cacar air dan campak. Beliau juga menemukan bahwa demam yaitu  

mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap penyakit, sekaligus ilmuwan 

pertama yang mencetuskan kemungkinan teori sistem imun adaptif. Abad ke-

11, seorang dokter dan filsuf bernama Ibnu Sina (Avicenna) mencetuskan teori 

imunitas adaptif dan dinobatkan sebagai Bapak Kedokteran Modern. Tahun 

1546, dokter berkebangsaan Italia bernama Girolamo Fracastoro mengajukan 

teori bahwa penularan suatu penyakit disebabkan adanya penyebaran infeksi 

oleh benda mirip biji akibat kontak langsung atau tidak langsung sehingga 

menjadi epidemi.  

Selanjutnya tahun 1796, ilmuwan Inggris bernama Edward Jenner 

menemukan vaksinasi cacar air dengan cara menginokulasi seorang manusia 

dengan cacar air pada sapi untuk mencegah infeksi cacar air yang sedang 

mewabah saat itu. Penemuan ini juga menandai kelahiran ilmu imunologi 

Tahun 1862, seorang ilmuwan Jerman bernama Ernest Haeckel menemukan 

fagositosis sebagai sifat leukosit. Selanjutnya proses fagositosis ini  

dipublikasikan oleh ilmuwan kanada William Osler pada tahun 1876 dan 

diberi nama oleh ilmuwan Rusia bernama Ilya Ilyich Metchnikoff pada tahun 

1880. Lalu pada tahun 1877, ilmuwan Jerman Paul Ehrlich melakukan 

kemajuan lagi di dunia imunologi dengan menemukan mast cells. Tahun 1880, 

ilmuwan Perancis Louis Pasteur berkolaborasi dengan ilmuwan Perancis 

Emile Roux menginduksi imunitas adaptif menggunakan kultur bakteri 

pemicu  kolera yang sudah dilemahkan kepada ayam. Sejak saat itu, 

perkembangan penelitian mengenai vaksin penyakit-penyakit lain dan 

pembuatannya sangat pesat di seluruh dunia,.Tahun 1884, Ilya Mechnikov 

mengemukakan teori sistem imun seluler dalam imunologi. Tahun 1888 

George Nuttal menemukan aksi bakterisid dari darah. 

Tahun 1890, ilmuwan Jerman Emil von Behring berkolaborasi dengan 

ilmuwan Jepang Shibasaburo Kitasato mengembangkan serum tetanus yang 

berasal dari kultur murni menemukan serum antitoksin tetanus. Mereka juga 

mendemonstrasikan pentingnya antitoksin dalam mencegah penyakit dan juga 

menemukan imunitas pasif. Selanjutnya tahun 1891 Robert Koch menemukan 

hipersensitivitas tipe tertunda (delayed), Paul Ehrlich menemukan teori 

pembentukan antibodi pada tahun 1897. Tahun 1899, ilmuwan Belgia Jules 

Bordet menemukan hemolisis. Tahun 1894, ilmuwan Jerman Richard Pfeiffer 

menemukan bakteriolisis. Selanjutnya sejak tahun 1900 an sampai sekarang, 

penelitian imunologi semakin pesat berkembang

Beberapa istilah dalam Imunologi antara lain: 

1. Sistem imun, yaitu interaksi sel yang kompleks untuk terhadap zat 

asing (bukan diri), memiliki empat karakteristik yaitu spesifisitas, 

membedakan, mengenali dan mengingat. 

2. Imunitas, yaitu kemampuan tubuh untuk mengenali komponen diri 

dan melawan zat asing sebagai perlindungan tubuh dari penyakit 

infeksi.  

3. Imunisasi, yaitu proses pembentukan imunitas melalui injeksi antigen 

atau serum darah yang mengandung antibodi dari individu terpapar 

patogen. 

4. Imunogenisitas, yaitu kemampuan antigen menginduksi respon imun 

spesifik.  

5. Imunitas nonspesifik (Innate Imunity), yaitu imunitas alami tubuh 

yang bekerja cepat dalam melindungi tubuh dari mikroorganisme 

penginfeksi namun tidak spesifik untuk penginfeksi yang berbeda.  

6. Imunitas adaptif, yaitu imunitas yang didapat akibat pemaparan 

berulang dari suatu antigen, bersifat spesifik terhadap antigen 

ini . 

7. Imunitas pasif, yaitu imunitas yang didapat dari individu lainnya. 

8. Imunitas aktif, yaitu imunitas yang dihasilkan oleh sistem imun, 

didapat sesudah  terpapar infeksi patogen secara alami ataupun melalui 

vaksinasi. 

9. Imunitas Humoral, yaitu jenis imunitas aktif yang melibatkan 

antibodi yang dihasilkan dari sel limfosit B.  

10. Imunitas Seluler (imunitas dimediasi sel), yaitu jenis imunitas aktif 

yang melibatkan sel limfosit T. 

11. Sel T, yaitu komponen sistem imun yang diproduksi di sumsum 

tulang dan dimatangkan di timus. 

12. Sel B, yaitu komponen sistem imun yang diproduksi di sumsum 

tulang dan dimatangkan di sumsum tulang, yang berfungsi dalam 

membuat antibodi dalam melawan antigen. 

13. Memori imunologis, yaitu kemampuan sel limfosit B dan T dalam 

mengenali antigen dan merespon dengan cepat.  

14. Antibodi (Imunoglobulin), yaitu protein berukuran besar yang 

disintesa sebagai respon terhadap stimulasi oleh antigen, dan spesifik 

dengan antigen ini .  

15. Antigen, yaitu protein khas dari suatu sel, yang dapat menginduksi 

respon imun jika dipaparkan ke suatu organisme.  

16. Reseptor Sel B, yaitu reseptor antigen pada sel B, merupakan 

immunoglobulin 

17. Reseptor Sel T, yaitu molekul pada sel T yang bertugas mengenali 

antigen sebagai peptida yang terikat pada major histocompatibility 

complex (MHC) 

18. Inflamasi, yaitu mekanisme perlindungan diri dari infeksi 

mikroorganisme asing dengan simtom nyeri, merah, panas dan tumor.  

19. Hipersensitivitas, yaitu kondisi sistem imun bereaksi berlebihan 

terhadap suatu benda atau zat tertentu.  

20. Toleransi, yaitu kemampuan sistem imun membedakan protein 

antigen diri dengan antigen asing sehingga tidak merusak diri 

21. Vaksin, yaitu sediaan mengandung antigen yang dipaparkan ke 

individu untuk menginduksi antibodi (Punt et al., 2019). 

Sistem imun yaitu  gabungan sel, jaringan dan molekul yang berfungsi secara 

fisiologis dalam mencegah dan membasmi serangan mikrorganisme, 

mencegah pertumbuhan tumor dan kanker, serta memperbaiki kerusakan 

jaringan, Di sisi lain sistem imun juga dapat memicu  penyakit 

hipersensitivitas (alergi), autoimunitas, dan penyakit infalamsi lainnya. Sistem 

imun juga dapat menyulitkan proses transplantasi organ dan terapi gen. Sistem 

imun terbagi atas 2 bagian besar yaitu sistem imun bawaan (innate) dan sistem 

imun adaptif (acquired). Sistem imun adaptif terbagi atas 2 bagian yaitu imun 

humoral dan imun selular, diperoleh secara pasif (mendapatkan dari individu 

lain) dan aktif (diproduksi oleh diri sendiri). 

 

Sistem Imun Bawaan (Innate 

Immunity) 

Sisem imun bawaan atau innate immunity yaitu  sistem imun yang sudah ada 

sejak lahir, merupakan sistem imun garda terdepan baik dalam melawan 

serangan mikroorganisme penginfeksi seperti virus, bakteri, jamur, parasit, dan 

toksin, maupun bila tubuh terluka atau mengalami trauma. Sistem ini tidak 

memiliki memori dan spesifisitas dalam melawan mikroorganisme 

penginfeksi. Komponen sistem imun bawaan terdiri dari lapisan epitel kulit, 

lapisan epitel mukosa (antara lain di sistem pencernaan, pernafasan, dan 

urogenital), zat-zat kimia yang dihasilkan epitel ini , jaringan kelenjar 

(antara lain kelenjar saliva, kelenjar air mata dan kelenjar payudara), sel-sel 

fagosit (antara lain neutrofil dan makrofag), sel dendritik, sel mast, sel NK 

(Natural Killer), dan protein komplemen. 

Mekanisme kerja sistem imun bawaan seperti terlihat pada gambar 1.1 berikut. 

 

Gambar 1.1: Mekanisme Kerja Sistem Imun Bawaan (Punt et al., 2019) 

Sistem imun bawaan bekerja dengan dua mekanisme, yaitu inflamasi dan 

perlawanan terhadap antimikroba. Barier epitel akan mencegah mikroba 

masuk ke jaringan. Bila mikroba dapat melewati barier epitel maka sel 

dendritik dan sel mast yang merupakan komponen di jaringan akan memicu 

6 Imunologi Dasar 

 

aktivitas sel-sel fagosit untuk merusak pathogen dengan memproduksi 

berbagai zat seperti sitokin dan neurotransmitter (antara lain histamine) yang 

akan memicu  pembengkakan sehingga sel sel darah putih (leukosit) yang 

mengandng neutrofil dan makrofag, sel natural killer, dan komponen lainnya 

dialirkan ke tempat infeksi. Neutrofil dan makrofag akan membasmi 

mikroorgnisme penginfeksi, dan sel natural killer akan membunuh sel yang 

terinfeksi. Selajutnya sel dendritik akan mengaktivasi sistem imun adaptif

 

1.3 Sistem Imun Adaptif (Acquired 

Immunity) 

Sistem imun adaptif atau Acquired Immunity yaitu  sistem imun yang 

diperoleh sebagai respon paparan mikroorganisme dalam proses kehidupan 

individu. Sistem imun adaptif terbagi atas 2 bagian yaitu imun humoral dan 

imun selular, diperoleh secara pasif (mendapatkan dari individu lain) antara 

lain imunitas yang didapat bayi dari ibunya dan injeksi serum yang 

mengandung antibodi, juga dapat diperoleh secara aktif (diproduksi oleh diri 

sendiri) antara lain terpapar infeksi akibat mikroorganisme dan vaksinasi. 

Sistem imun adaptif memiliki empat karakteristik yaitu spesifik terhadap setiap 

mikroorganisme, dapat membedakan mikroorganisme satu dengan yang lain, 

dapat mengingat setiap mikroorganisme yang pernah menyerang sehingga 

mempercepat respon imun, juga dapat membedakan sel mikroorganisme 

dengan sel diri sehingga tidak menyerang sel diri. Komponen sistem imun 

adaptif terdiri dari sel limfosit B, sel limfosit T, reseptor sel B, reseptor sel T, 

Major Histocompatibility Complex (MHC), immunoglobulin dan protein 

komplemen. Imun humoral melibatkan produksi antibodi oleh sel B akibat 

sesudah  berinteraksi dengan protein zat asing (antigen). Imun selular (disebut 

juga respon imun diperantarai sel) melibatkan aktivasi sel limfosit T helper dan 

sel T sitotoksik. Fungsi sel B dan sel T dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut. 


Gambar 1.2: Komponen sel T dan sel B serta Fungsinya Dalam Sistem Imun 

Adaptif 

Komponen sisten imun adaptif seperti terlihat pada gambar 1.2 terdiri dari:  

1. Sel limfosit B berfungsi dalam proses netralisasi mikroba, fagositosis 

dan aktivasi komplemen 

2. Sel limfosit T pembantu (T cell helper) berfungsi dalam proses 

aktivasi makrofag, inflamasi, proliferasi dan diferensiasi limfosit T 

dan limfosit B. 

3. Sel limfosit T sitotoksik berfungsi membunuh sel yang terinfeksi. 

4. Sel limfosit T pengatur (T cell regulatory) berfungsi menekan kerja 

limfosit-limfosit lain. 

Bila sistem imun bawaan tidak dapat melawan mikroorganisme yang 

menginvasi, maka sel dendritik akan mengaktifkan sistem imun adaptif seperti 

terlihat pada gambar 1.1. dengan komponen seperti terlihat pada gambar 1.2. 

Sel dendritik mengaktifkan sel imun adaptif melalui fungsinya sebagai 

penampil antigen (antigen presenting sel), selanjutnya sel limfosit B mengenali 

antigen yang ditampilkan oleh sel dendritik lalu memproduksi antibodi seperti 

terlihat pada gambar 1.3. Antibodi atau immunoglobulin memiliki empat 

isotipe yaitu IgA, IgD, IgE, IgG dan IgM. Antibodi diproduksi sesuai antigen 

yang dikenali dan bersifat spesifik. Setiap ujung komponen antibodi memiliki 

struktur yang dapat berikatan dengan struktur di antigen, sehingga sel yang 

terinfeksi dapat ditandai dan dibunuh oleh komponen sistem imun lainnya. Sel 

8 Imunologi Dasar 

 

limfosit T pembantu (Tcell helper) juga mengenali antigen ini  dan 

mensekresi sitokin, lalu sitokin ini  akan menstimulasi berbagai respon 

imun sehingga sel yang terinfeksi dibunuh 

Mekanisme kerja sistem imun adaptif dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut. 

 

 

1.4 Kondisi tidak Normal pada Sistem 

Imun 

Kondisi tidak normal pada sistem imun dapat berupa hipersensitivitas, 

autoimunitas dan defisiensi sistem imun.  

Hipersensitivitas yaitu  respon imun yang berlebihan atau tidak tepat dan 

dapat memicu  kerusakan jaringan dan kondisi-kondisi patologis. 

Hipersensisitvitas terbagi atas 4 tipe yaitu: 

1. Hipersensitivitas Tipe I  

Hipersensitivitas tipe I disebut juga alergi, yaitu  hipersensitivitas 

tipe cepat, respon tubuh timbul hitungan menit hingga jam sesudah  

terpapar zat yang memicunya atau disebut alergen. Alergen ini dapat 

berupa serbuk sari tumbuhan, makanan, obat, racun dari gigitan 

serangga, spora, debu dan lainnya. pemicu  zat-zat ini menjadi 

alergen belum diketahui, dan respon setiap individu dapat berbeda 

terhadap masing-masing alergen. Mekanisme terjadinya 

hipersensitivitas tipe I diperlihatkan oleh gambar 1.4 berikut. 

 

Gambar 1.4: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe I 

Gambar 1.4 menunjukkan immunoglobulin E (IgE) menempel 

dengan sel mast, lalu IgE berikatan dengan alergen (sebagai antigen) 

yang memicu sel mast melepaskan mediator-mediator inflamasi 

antara lain histamin sehingga terjadi reaksi alergi sampai anafilaksis 


2. Hipersensitivitas Tipe II 

Hipersensitivitas tipe II memiliki respon yang cepat, dimediadi oleh 

immunoglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM), 

memicu  kerusakan pada sel. Mekanisme hipersensitivitas tipe II 

terlihat pada gambar 1.5 berikut.  


Gambar 1.5: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe II 

Gambar 1.5 menunjukkan antigen pada membran sel berikatan 

dengan antibody sehingga mengaktifkan komplemen, dan 

memicu  aksi sitotoksik dari sel natural killer. Hal ini 

memicu  kerusakan membran sel dan terjadi kematian sel. 

Hipersensitivitas ini terjadi antara lain pada anemia hemolisis atau 

pada transfusi darah 

3. Hipersensitivitas Tipe III 

Reaksi antara antigen dan antibodi membentuk kompleks imun yang 

akan mengaktifkan komplemen dan neutrofil. Hipersensitivitas tipe 

III disebut juga hipersensitivitas kompleks imun, terjadi akibat 

adanya pengendapan berlebihan kompleks imun pada jaringan 

sehingga akan memicu  reaksi inflamasi dan kerusakan jaringan 

seperti terlihat pada gambar 1.6 berikut. Pengendapan kompleks imun 

ini antara lain terjadi di membran sinovial sendi sehingga 

memicu  arthritis dan membran glomerular ginjal sehingga 

memicu  glomerulonefritis 

 

Gambar 1.6: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe III 

4. Hipersensitivitas Tipe IV  

Hipersensitivitas tipe IV termasuk tipe tertunda (delayed-type), 

terjadi 1-2 minggu sesudah  kontak pertama dengan antigen. 

Mekanisme hipersensitivitas tipe IV yaitu  terjadi perusakan jaringan 

oleh sel T dan makrofag. seperti terlihat pada gambar 1.7 berikut. 

 

 

Antigen yang ditampilkan oleh antigen presenting cell akan diikat oleh sel 

limfost T dan menstimulasi pelepasan sitokin, selanjutnya akan terjadi 

rangkaian respon imun sehingga makrofag teraktivasi memicu  

pembentukan granuloma (Parija, 2012). 

Kondisi tidak normal lain dari sistem imun yaitu  autoimunitas, yang terjadi 

akibat kegagalan sistem imun membedakan protein antigen diri dengan 

antigen asing. Kondisi ini memicu  berbagai penyakit antara lain penyakit 

lupus (systemic lupus erythematosus atau SLE), penyakit Graves, arthritis 

reumatoid dan multiple sclerosis (Abbas, Lichtman and Pillai, 2020). Kondisi 

sistem imun dapat mengalami defisiensi, terutama pada sel T, sel b dan sel-sel 

fagosit. Kondisi ini dapat terjadi secara genetik sehingga bayi yang terlahir 

dengan defisiensi imun mengalami masalah-masalah kesehatan 



Organ Imunologi 

 

  

Tubuh manusia secara konstan terpapar agen-agen infeksius, seperti virus, 

parasit, bakteri dan mikroorganisme lain yang berasal dari lingkungan luar 

tubuh. Meski demikian dalam kebanyakan kasus kita dapat melawan infeksi 

ini  tanpa terkena penyakit. Hal ini terjadi karena adanya sistem imun 

(sistim kekebalan tubuh). Sistim kekebalan tubuh kita harus bekerja keras 

untuk mengeleminasi berbagai antigen yang masuk untuk mempertahankan 

tubuh tetap prima. Sistim imun merupakan kumpulan sel, jaringan, dan 

molekul yang membantu pertahanan melawan infeksi dan zat asing lainnya. 

Respons imun merupakan rangkaian kejadian molekuler dan seluler yang 

bertujuan untuk melindungi tubuh dari berbagai ancaman, seperti organisme-

organisme patogenik, zat toksik, debris seluler, atau sel neoplastik dengan cara 

pengenalan patogen secara spesifik kemudian membunuh patogen. Fungsi 

fisiologis sistim imun yaitu  untuk mencegah infeksi dan menghilangkan 

infeksi yang telah terjadi dengan cara pengenalan patogen secara spesifik 

kemudian membunuh patogen.  

Respons imun juga terlibat dalam reaksi penolakan transplantasi organ serta 

dalam proses berbagai penyakit inflamasi yang dapat mengakibatkan 

mortalitas atau morbiditas yang serius. Imunitas atau kekebalan merupakan 

mekanisme pada tubuh yang melindungi terhadap pengaruh biologis yang 

berasal dari lingkungan luar tubuh 

Sistem imun terdiri dari berbagai komponen yang bekerja sama untuk 

mempertahankan tubuh terhadap masuknya partikel asing. Sel-sel yang terlibat 

dalam sistim imun ada  pada organ dan jaringan yang spesifik, yaitu 

jaringan limfoid atau jaringan imun. Struktur jaringan limfoid membentuk 

sistim limfoid yang terdiri dari limfosit, sel epitelial dan sel stromal. Sel-sel 

ini  tersusun dalam organ tersendiri yang berkapsul, atau tersusun 

berkelompok dalam jaringan limfoid yang difus. Bagian utama dari sistem 

imun yaitu  sumsum tulang dan timus, karena semua sel darah berasal dari 

sumsum tulang, termasuk sel limfosit T dan B. Limfosit B tetap berada di 

sumsum untuk proses pematangan, sedangkan limfosit T bermigrasi ke timus. 


Jaringan limfoid tersebar diseluruh tubuh. Organ-organ ini terlibat dalam 

proses maturasi, diferensiasi dan proliferasi limfosit. Berdasarkan fungsinya, 

organ limfoid dibagi menjadi dua yaitu organ limfoid primer atau organ 

limfoepitelial sentral dan organ limfoid sekunder. Organ limfatik primer atau 

sentral terdiri dari sumsum tulang belakang dan kelenjar timus. Sedangkan 

organ limfatik sekunder terdiri dari limfa, nodus limfa dan tonsil (termasuk 

adenoid atau kelenjar gondok). Beberapa literatur menambahkan usus besar, 

usus halus, Payer’s patches dan appendiks (usus buntu) sebagai bagian dari 


 

organ limfoid sekunder. Saat limfosit matur dihasilkan pada organ limfoid 

primer, sel-sel ini masuk dalam sirkulasi darah dan sistem limfatik yang 

merupakan sekumpulan pembuluh yang mengumpulkan cairan dari kapiler ke 

jaringan dan kemudian kembali ke darah 

 

2.2 Organ Limfatik Primer 

Organ limfatik primer yaitu  organ yang mengatur produksi dan diferensiasi 

limfosit sekaligus juga menyimpan dan mematangkan limfosit hingga matang. 

Limfosit memainkan peran mendasar dalam sistem imunitas tubuh karena 

pengaruhnya terhadap respons imun, seperti mikroorganisme infeksius dan 

benda asing lainnya. Limfosit berperan dalam sistem imunitas spesifik untuk 

melindungi tubuh dari mikroorganisme serta tumor (misalnya myeloma 

multipel) dan memicu  graft rejection (penolakan jaringan sesudah  

transplantasi organ). Limfosit didapatkan di darah dan limfe (cairan tak 

berwarna di pembuluh limfatik yang menghubungkan nodus limfatikus di 

tubuh satu sama lain melalui aliran darah). Limfosit juga didapatkan pada 

organ limfoid, seperti timus, nodus limfatikus, limpa, dan apendiks 

Sel limfosit merupakan salah satu bentuk leukosit yang berperan dalam sistim 

imun. Sel B, sel T dan sel Natural Killer (NK) merupakan bentuk-bentuk 

limfosit. Masing-masing sel ini memainkan peran dasar dalam respons imun 

adaptif tubuh. Sel B berperan penting dalam respon imun, secara resmi dikenal 

sebagai prekusor sel plasma yang akan menghasilkan antibodi. Sel T berperan 

dalam respon imun sitotoksik. Sel T termasuk dalam sistim imun adaptif dan 

melakukan beragam fungsi dalam regulasi imun, peradangan, serta respons 

imun protektif , yang termasuk 

organ limfoid primer yaitu  sumsum tulang belakang (bone marrow) dan 

kelenjar timus. Limfosit matur yang dihasilkan dari proses hematopoesis 

menjadi matur dan berkembang menjadi limfosit yang spesifik untuk antigen 

tertentu di dalam organ limfoid primer. Sel limfosit T dihasilkan dari timus 

sedamgkan sel B berasal dari sumsum tulang belakang.  

2.2.1 Sumsum Tulang Belakang (Bone marrow) 

Sumsum tulang belakang merupakan jaringan lunak yang ditemukan pada 

rongga interior tulang dan menjadi tempat produksi sebagian besar sel darah 

baru. Sumsum tulang belakang banyak ada  pada tulang besar. Sumsum 

tulang termasuk jaringan limfatik karena memproduksi limfosit muda yang 

akan diproses pada timus atau tempat-tempat lainnya menjadi limfosit T dan 

limfosit B yang fungsional. Pada manusia, sumsum tulang merupakan tempat 

asal dan berkembangnya sel B. Sel B terbentuk dari progenitor limfoid. Sel B 

imatur mengalami proliferasi dan diferensiasi di dalam sumsum tulang 

belakang. Sel stroma di dalam sumsum tulang belakang berinteraksi secara 

langsung dengan sel B dan mensekresikan berbagai sitokin yang diperlukan 

untuk perkembangan sel B. Proses seleksi di dalam sumsum tulang belakang 

berlangsung dengan mengeliminasi sel B yang memiliki reseptor antibodi 

terhadap sel tubuh 

Di dalam sumsum tulang terkandung sel-sel punca hematopoetik yang bersifat 

pluripotent. Sel punca hematopoietik akan berdiferensiasi menghasilkan dua 

jenis sel induk progenitor yang memiliki potensi terbatas (hanya akan 

berdiferensiasi menjadi sel tertentu) yaitu myeloid stem cell dan lymphoid 

stem cell (atau biasa disebut sebagai common myeloid progenitor dan 

common lymphoid progenitor). Myeloid stem cells akan berdiferensiasi lebih 

lanjut dan membentuk sel eritrosit, trombosit, granulosit dan monosit. 

Sementara lymphoid stem cells akan berdiferensiasi dan membentuk limfosit 

B, limfosit T serta sel NK (Natural Killer). Lymphoid stem cells yang 

merupakan sel progenitor limfosit akan bermigrasi dari sumsum tulang merah 

ke timus, limpa dan nodus limfatikus sebagai organ limfoid tempat terjadinya 

diferensiasi dan maturasi limfosit,i

2.2.2 Kelenjar Timus 

Kelenjar timus merupakan jaringan limfatik yang terletak di sepanjang trakhea 

pada rongga dada bagian atas. Kelenjar timus terletak di belakang tulang dada, 

di depan jantung, berupa organ pipih berbentuk segitiga dengan alasnya 

menghadap ke leher. Kelenjar timus mengandung banyak sel limfosit T. 

Timus terbagi dalam dua lobus dan banyak lobulus yang masing-masing terdiri 

atas korteks dan medula Lobus ini  tersusun dari dua jenis jaringan yang 

berbeda, yaitu jaringan limfoid dan jaringan epitel. Sel-sel limfoid berasal dari 

jaringan mesenkim, sedangkan sel epitel berasal dari jaringan endodermal. 

Pertumbuhan kelenjar timus dipengaruhi oleh usia, hormon dan adanya 

penyakit tertentu. Pertumbuhannya sangat pesat saat lahir sampai usia dua 

tahun, melambat mulai usia dua tahun sampai remaja dan saat  telah masuk 

pada tahap  dewasa, digantikan oleh jaringan lemak dan jaringan ikat. Timus 

bertanggungjawab untuk memproduksi hormon timosin yang berperan 

membantu proliferasi dan diferensiasi sel T. Selain itu, kelenjar timus juga 

memiliki fungsi mengaktifkan pertumbuhan badan sehingga pertumbuhan 

meningkat pesat saat bayi sampai remaja dan berkurang sesudah  mencapai tahap  

dewasa 

Sel induk pluripoten yang merupakan cikal bakal sel T, masuk ke dalam timus 

(pada bagian korteks) lalu berproliferasi menjadi sel yang disebut dengan 

timosit (limfosit T muda). Proses diferensiasi limfosit di dalam timus 

dipengaruhi oleh epitel timus dan sel dendritik yang berasal dari sumsum 

tulang (interdigitating cells). Sel epitel mensekresi faktor soluble seperti 

timosin dan timopoeitin yang berperan dalam regulasi dan diferensiasi limfosit 

T. Proses diferensiasi limfosit T sampai terjadinya pembentukan gen reseptor 

limfosit pada limfosit T dewasa terjadi di dalam timus, sehingga prosesnya 

disebut sebagai T cell education, sedangkan timus disebut sebagai school of 

thymocytes. Sel dendritik ini mengekspresikan MHC (major histocompability 

complex) kelas II dalam jumlah banyak dan diduga berperan dalam mendidik 

limfosit T untuk mengenal antigen diri dan bukan dirinya (self and non self 

recognition). Dalam proses maturasi ini sel T menjadi imunokompeten. Dua 

sampai tiga hari sesudah  sel induk masuk ke dalam timus, limfosit 

meninggalkan timus lalu masuk ke dalam sirkulasi dan selanjutnya menetap di 

dalam organ limfoid perifer 

Proses maturasi berlanjut dengan berubahnya sel pre T menjadi sel positif 

ganda. Disebut demikian karena pada permukaan sel nya ada  penanda sel 

T, CD4 dan CD8, jadi sel T belum terdiferensiasi menjadi sel CD4+ atau 

CD8+. Pada tahap ini terjadi banyak sekali pembelahan sel positif ganda untuk 

selanjutnya dilakukan proses seleksi positif bagi sel-sel ini di bagian korteks 

timus. Seleksi positif terjadi saat  sel-sel berhadapan dengan sel epitel korteks 

timus yang mengekspresikan MHC kelas I dan kelas II. Molekul MHC yang 

berikatan dengan sel limfosit T melalui CD4 dan CD8 ini penting dalam 

pengenalan antigen oleh sel limfosit T. Sedangkan seleksi negatif terjadi di 

medula timus yang terjadi saat  sel timosit berhadapan dengan sel epitel 

medula timus yang mengekspresikan molekul MHC. Jika sel timosit memiliki 

afinitas yang terlalu kuat dengan molekul MHC, maka sel ini akan mengalami 

apopotosis. Sel-sel timosit yang bertahan hidup kemudian akan masuk ke 

tahapan berikutnya, yaitu berubah menjadi sel positif tunggal. Pada kondisi ini, 

sel limfosit hanya akan mengekspresikan CD4 atau CD8 saja. Sel-sel ini 

dikeluarkan dari timus menuju jaringan limfoid sekunder untuk berhadapan 

dengan antigen. Sel limfosit belum teraktivasi sebelum berikatan dengan 

antigen sehingga disebut sel T naive 

 

2.3 Organ Limfatik Sekunder 

Organ limfatik sekunder merupakan organ limfoid yang responsif terhadap 

stimulasi antigenik atau tempat terjadinya interaksi antara limfosit dan antigen 

serta pengaturannya. Beberapa jaringan limfoid dijumpai di sepanjang 

pembuluh limfatik dan organ viscera, misalnya pada paru dan usus. Jaringan 

limfoid pada paru dan lamina propria dinding usus terdiri dari sekelompok 

limfosit dan makrofag. Jaringan limfoid lainnya disusun oleh folikel limfoid, 

yang terdiri atas sel limfoid dan non limfoid yang mengelilingi kapiler limfatik. 

saat  antigen datang, folikel limfoid primer yang terdiri dari sel dendritik dan 

sel B naif) menjadi folikel sekunder (terdiri dari beberapa sel limfosit B) aktif 

yang mengelilingi suatu area yang disebut pusat germinal. Pusat germinal 

merupakan suatu area dengan fokus mengadung sel limfosit B yang sedang 

berproliferasi dan area lain terdiri dari sel-sel B yang belum membelah 

diselingi beberapa sel TH dengan makrofag dan sel dendritik folikular. Nodus 

limfe dan limpa merupakan organ limfoid sekunder utama, yang terdiri dari 

tidak hanya folikel limfoid, namun juga region lain yang dikelilingi oleh 

kapsul jaringan ikat. Jaringan limfoid lain seperti jaringan limfoid mukosa 

(MALT), meliputi bercak peyer (di usus halus), tonsil, dan apendiks, juga 

termasuk folikel limfoid di dalam lamina propria usus dan membran mukosa 

di sepanjang saluran napas atas, bronkus, dan saluran genitalia. 

2.3.1 Limpa  

Limpa merupakan organ limfoid berukuran besar, berbentuk ovoid dan terletak 

di rongga perut (abdomen) sebelah kiri. Limpa terbagi menjadi dua bagian 

yaitu pulpa merah (red pulp) dan pulpa putih (white pulp). Pulpa merah 

merupakan jaringan sinusoid yang berisi makrofag, sejumlah eritrosit, dan 

sedikit limfosit. Pulpa merah menjadi tempat eritrosit tua yang rusak 


 

dihancurkan dan dikeluarkan. Beberapa makrofag di dalam pulpa merah 

menelan eritrosit atau pigmen besi dari pemecahan hemoglobin. Sementara 

pulpa putih dikelilingi oleh arteri splenik, membentuk perselubungan limfoid 

periarteriolar atau periarteriolar lymphoid sheath (PALS) yang berisi limfosit 

T. Folikel limfoid primer yang banyak mengandung sel B ini, menempel pada 

PALS. Zona marginal yang berada pada perifer PALS, didominasi oleh 

limfosit dan makrofag 

Limpa berperan penting dalam merespons antigen di dalam sirkulasi darah. 

Limpa bekerja dengan menyaring darah dan menangkap antigen yang dibawa 

darah, sehingga penting dalam respons imun terhadap infeksi sistemik. 

Antigen dari darah dan limfosit dibawa ke limpa melalui arteri splenik. 

Antigen dari darah ditangkap oleh sel dendritik interdigitasi di zona marginal 

kemudian dibawa ke PALS. Limfosit dari darah juga memasuki sinus di zona 

marginal kemudian menuju PALS. Aktivasi awal sel B dan T terjadi di PALS 

yang banyak mengandung sel T. Sel dendritik interdigitasi bersama molekul 

MHC II mempresentasikan antigen pada sel TH. Sel TH aktif kemudian 

mengaktifkan sel B. Sel B dan sel TH yang aktif ini kemudian menuju folikel 

primer di zona marginal, dan saat  ada antigen, folikel primer berkembang 

menjadi folikel sekunder yang memiliki banyak pusat germinal di mana sel B 

membelah aktif dan sel plasma dikelilingi sekelompok sel limfosit 

2.3.2 Nodus Limfa dan Pembuluh Limfa 

Kelenjar limfa disebut juga nodus limfa, berbentuk bulat lonjong seperti 

kacang dengan satu lekukan yang disebut sebagai hilus serta memiliki ukuran 

10-15 mm. Kelenjar limfa memiliki jaringan retikuler padat berisi limfosit, 

makrofag, dan sel dendritik. Kelenjar limfa memproduksi limfosit dan antibodi 

yang kemudian keluar dari pembuluh efferen. Kelenjar limfa tersebar di 

 

seluruh tubuh, banyak ada  pada daerah lipatan-lipatan (sela-sela otot) 

paha, ketiak, leher dan di dalam abdomen. Pembuluh limpa memiliki cabang 

halus yang bagian ujungnya terbuka. Bentuk pembuluh limpa mirip dengan 

vena yang memiliki katup banyak. Pembuluh limpa terbagi menjadi 2 bagian, 

yaitu limpa kanan (dada kanan) dan limpa kiri (dada kiri). Fungsi pembuluh 

limpa kanan sebagai penampung cairan limpa dari kepala, leher, dada, paru, 

dan lengan sisi kanan. Sebaliknya, pembuluh limpa kiri menampung cairan 

limpa dari kepala, kemudian ke leher, dada, lengan, dan tubuh bagian bawah 

sisi kiri 9

Di pembuluh limpa ada  cairan yang disebut cairan limpa yang berasal dari 

cairan ekstrasel (cairan darah yang meresap dari kapiler darah). Sama seperti 

usus, cairan limpa juga mengandung lemak. Lemak yang ada  di usus 

diangkut oleh pembuluh limpa. Kelenjar limfa fungsinya membawa limfosit 

ke bagian organ limfoid dan aliran darah. Kelenjar getah bening mengalir ke 

kelenjar getah kapiler. Getah kapiler memiliki lapisan yang tipis dan memiliki 

banyak lubang kecil. Lubang kecil inilah yang menjadi jalan gas, nutrisi dan 

air lewat masuk disekitarnya. Ada beberapa titik yang sering digunakan getah 

bening berkumpul, yaitu dileher, selangkangan, para-aorta dan di axilae. 

Tempat-tempat jika terjadi penumpukan memunculkan benjolan hingga ke 

permukaan kulit 

Limfonodus mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama yaitu  untuk penyaringan 

bahan-bahan asing seperti partikel sisa fagositik yang bersifat imunogenik 

melalui saluran limfe, dan fungsi kedua yaitu  sirkulasi limfosit yang dibentuk 

dalam organ limfoid primer. Organ ini merupakan struktur limfoid pertama 

 

yang menghadapi antigen dari jaringan. Antigen akan dibawa dan ditangkap 

oleh jaringan seluler dari sel fagositik dan sel dendritik (folikular dan 

interdigitasi). Keseluruhan struktur kelenjar limfe ini mendukung lingkungan 

mikro ideal bagi limfosit untuk menangkap dan merespons antigen ini . 

Secara morfologi, kelenjar limfe terbagi atas tiga area, yaitu korteks, 

parakorteks, dan medulla. Bagian paling luar korteks mengandung limfosit 

(terutama sel B), makrofag, dan sel dendritik folikular di dalam folikel primer. 

sesudah  ada antigen, folikel primer ini membesar menjadi folikel sekunder. 

Lapisan parakorteks mengandung banyak limfosit T dan sel dendritik 

interdigitasi yang mengekspresikan molekul MHC kelas II. Sementara bagian 

paling dalam medulla, terdiri dari sel-sel limfoid, yang sebagian besarnya 

berupa sel plasma yang mensekresikan molekul antibodi 

2.3.3 Tonsil dan Adenoid 

Tonsil dan adenoid merupakan benteng pertahanan terdepan untuk menangkis 

infeksi patogen yang masuk melalui saluran nafas dan saluran cerna. Tonsil 

terl, fosa tonsilaris di samping belakang lidah dan di bawah lidah. Sedangkan 

adenoid terletak di dinding belakang tengah nasofaring. Secara anatomis, tonsil 

terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringealis dan tonsil lingualis. Tonsil palatina 

ada  pada bagian kanan dan kiri belakang orofaring dapat saat membuka 

mulut. Tonsila faringealis ada  di belakang atas faring dan tonsil lingualis 

terletak di permukaan belakang di dasar lidah. Lokasi tonsil secara bersama 

membentuk lingkaran, sehingga sisebut sebagai cincin Waldeyer 

Fungsi tonsil yaitu  memproduksi sel-sel limfosit dan berperan dalam tahap-

tahap awal kehidupan untuk melawan infeksi pada selaput mukosa. Beberapa 

penelitian menunjukkan bahwa tonsil dapat menghasilkan sel B pengekspresi 


IgA polimerik yang bermigrasi ke mukosa saluran napas bagian atas, kelenjar 

lakrimal dan kelenjar ludah. Oleh karena itu, tonsil juga berfungsi 

menghasilkan antibodi yang berperan dalam memproduksi IgA. Berdasarkan 

strukturnya, tonsil terdiri dari jaringan limfatik, namun bukan merupakan 

kelenjar karena tidak memiliki pembuluh limfatik afferen sehingga tonsil tidak 

menyaring cairan limfa. Benda asing dan patogen yang masuk ke tonsil 

kemudian dimasukkan ke sel limfosit. Antigen ini akan merangsang ekspansi 

klonal sel B 

2.3.4 Jaringan Limfoid Lain  

Jaringan limfoid lain terdiri dari Gut-Associated Lymphoid Tissue (GALT) dan 

Mucosa Associated Lymphoid Tissue (MALT). Peyer’s patch dan apendiks 

(usus buntu) keduanya termasuk dalam GALT karena keduanya merupakan 

bagian dari saluran cerna. Dalam jaringan limfoid ini, ada  bagian yang 

aktivitasnya dipengaruhi oleh tonsil. GALT terdiri dari tiga struktur limfoid 

mukosa yang berbeda yaitu Peyer’s patches, lamina propria dan epitel. Pada 

GALT ada  daerah sel T dan sel B, dan daerah sub epitel di mana ada  

APC dan sel dendritik yang berakumulasi membentuk folikel pada lamina 

propria dari apendiks, Peyer’s patches pada ileum dan pada tonsil, berperan 

pada inisiasi respon imun spesifik. Pada permukaan GALT, ada  subset sel 

mikrofold (sel M) di antara epitel yang berperan sebagai perangkap antigen 

dari lumen untuk dieliminasi oleh sel dendrit atau makrofag. Pada lamina 

propria ada  sel efektor mukosa spesifik, seperti sel T, sel B memori, sel 

plasma penghasil IgA terutama IgA2. Imunoglobulin A pada mukosa 

merupakan jenis antibodi khusus yang disebut IgA sekretori atau sIgA yang 

disekresikan dalam bentuk dimer. Dengan proses eksositosis, sIgA dapat 

keluar dari lapisan mukosa menuju lumen. Respon imun mukosa adaptif 

dihasilkan melalui peran sel T CD4⁺ yang menghasilkan sitokin untuk 

proliferasi dan diferensiasi sel limfosit T dan B 

Peyer’s patches (PP) merupakan agregat folikel limfoid di mukosa 

gastrointestinal yang ditemukan di seluruh jejenum dan ileum (terbanyak di 

ileum terminal). PP merupakan tempat prekursor sel B yang dapat melakukan 

switching untuk memproduksi IgA dan membentuk sel T memori yang 

kemudian bermigrasi ke mukosa lebih distal dan tempat-tempat non mukosal. 

Limfosit B dan T di PP yang antigen reaktif ini  kemudian keluar melalui 

limfatik eferen dan bermigrasi ke kelenjar limfe mesenterik, lalu ke duktus 

torasikus dan akhirnya ke pembuluh darah. Selanjutnya sel-sel ini  


 

mencari tempat-tempat tertentu (homing) di berbagai tempat terutama di 

lamina propria berbagai jaringan mukosa. Hal ini  melahirkan konsep 

umum sistem imun mukosa, bahwa induksi respons imun terhadap antigen 

tertentu di traktus gastrointestinal, dapat mengakibatkan penyebaran limfosit 

ke jaringan mukosa lain seperti traktus respiratorius atas dan bawah, saluran 

kelenjar mammae atau traktus urogenital untuk selanjutnya memberikan 

respons terhadap antigen 

 

Gambar 2.8: Gut-associated lymphoid tissue (GALT) dengan Peyer’s patches 

yang berada pada Mukosa Saluran Cerna (Darwin dkk., 2021) 

Sedangkan MALT ada  pada saluran nafas, saluran cerna dan urogenital. 

MALT berfungsi untuk memberikan respon imunologis lokal pada permukaan 

mukosa. Jaringan limfoid ini selain berisi limfosit juga mengandung sel fagosit 

sehingga mampu memberikan respon imun spesifik dan non spesifik. Di 

dalam jaringan limfoid sepanjang saluran cerna dan saluran nafas akan 

terbentuk IgA sekretorik dan IgE yang disekresikan untuk mempertahankan 

tubuh terhadap antigen yang masuk melalui mukosa (Suardana, 2017). Sel 

epitel mukosa selain berperan sebagai penghalang fisik dari sistem kekebalan 

mukosa usus, juga berperan langsung dalam homeostasis. Rangsangan pada 

mukosa seperti adanya infeksi patogen akan mengaktifkan IEL untuk 

menghasilkan sitokin dan kemokin yang berperan pada inflamasi sebagai 

mekanisme pertahanan. Limfosit T pada lamina propria dengan cepat 

 

merespon sinyal dari lingkungan lumen dan memulai respon inflamasi dan anti 

inflamasi 

Baik MALT maupun GALT berupa jaringan limfoid tanpa kapsul dan 

memiliki tiga fungsi utama yaitu (1) melindungi membran mukosa dari invasi 

dan kolonisasi mikroba berbahaya yang mungkin menembus masuk, (2) 

melindungi pengambilan (uptake) antigen terdegradasi berupa protein asing 

dari makanan yang tercerna, material di udara yang terhirup dan bakteri 

komensal, (3) melindungi berkembangnya respons imun yang berpotensi 

merugikan 


Respon Imun Non Spesifik 

 

 

 

Tubuh memiliki mekanisme untuk mempertahankan atau melindungi diri dari 

berbagai patogen yang dapat berakibat buruk seperti timbulnya kesakitan dan 

kematian. Mekanisme ini dikenal sebagai respon dari sistem imunitas tubuh 

melibatkan berbagai sel, organ, protein, jaringan yang ada  di seluruh tubuh 

dan beberapa komponen seperti leukosit (sel darah putih), limpa, sumsum 

tulang, sistem limfatik, timus, amandel, kelenjar gondok, dan usus buntu. 

Respon imun bawaan (innate) yaitu  pertahanan lini pertama yang tidak 

spesifik terhadap patogen yang tidak memerlukan sensitisasi sebelumya. 

 Pada bab ini akan diuraikan tentang sistem imunitas 

bawaan (innate). Imunitas bawaan (innate) bekerja non spesifik. Patogen 

memiliki struktur kimia yang memberikan karakteristik bagi dirinya, yang 

mengakibatkan kemungkinan terjadi evolusi pada sistem imunitas. Imunitas 

bawaan segera diaktifkan pada tahap awal infeksi, untuk membatasi atau 

menghambat proliferasi dan penyebaran patogen di dalam tubuh. 

Sistem imun tubuh berfungsi untuk mencegah atau membatasi infeksi oleh 

mikroorganisme patogen, seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur.  Sistem imun tubuh juga mengenali dan menanggapi antigen non-diri 

secara terkoordinasi. Selain itu, sel yang rusak, sakit dapat dihilangkan oleh 

sistem imun tubuh. Hambatan (barrier) pada tubuh ini terdiri dari epitel 

Misalnya, sisi dalam vs. luar tubuh, mukosa vs. interstisial, eksokrin (kelenjar 

ludah dan sebaceous), urogenital dan ginjal, daerah pernapasan, sinovia sendi 

artikulasi, penghalang darah-otak, mata, dan plasenta.  Garis pertahanan pertama sistem imun 

tubuh terhadap patogen yaitu  seperangkat penghalang: seluler, anatomi, dan 

kimia. 

Secara kolektif disebut sebagai pertahanan imun bawaan , hambatan ini:  

1. Tidak spesifik: menghasilkan respons yang sama terhadap berbagai 

rangsangan, tidak ada kontrol, bertindak secara refleks, dengan atau 

tanpa regulasi oleh sel lain. 

2. Tidak ada memori: Kinerja mengalami peningkatan oleh stimulasi 

sebelumnya. 

3. Keragaman terbatas: memiliki fungsi yang terbatas.  

 

3.2 Imunitas Bawaan (Innate) 

Pertahanan imun bawaan (innate) terhadap infeksi umumya didasarkan pada 

deteksi pola molekuler pada agen infeksi (patogen), seperti bakteri, jamur atau 

virus, yang memberikan sinyal bahaya bagi inang. Pengenalan sinyal patogen 

ini mengarah pada aktivasi berbagai jenis sel imun, termasuk, sel pembunuh 

alami (NK), monosit, makrofag, neutrofil, sel dendritik dan limfosit T dan B. 

Respon multiseluler terhadap agen infeksi ini dibagi menjadi dua tahap  yang 

berbeda: imun bawaan dan respon imun adaptif. Respon imun bawaan 

merupakan tahap  awal dari respon imun yang dimediasi oleh pertahanan fisik, 

kimia dan seluler. 

Semua jenis organisme multiseluler memiliki imunitas bawaan dan merupakan 

sistem profilaksis primitif di mana makrofag, neutrofil, dan sel dendritik yang 

bertanggung jawab atas fungsinya untuk memberikan respon imun. Imunitas bawaan tidak hanya memainkan peran penting dalam 

pembersihan virus secara cepat tetapi juga dapat memicu  progresi 

penyakit melalui cedera jaringan inang yang dimediasi imunitas 

Pertahanan imun bawaan (innate) memiliki karakteristik berikut yang sama:  

1. Secara intrinsik ada dengan atau tanpa stimulasi sebelumnya  

2. b. Memiliki spesifisitas terbatas untuk mikroba dan struktur seluler  

3. Memiliki keragaman terbatas yang tercermin dari sejumlah pola 

pengenalan reseptor 

4. Aktivitas tidak mengalami peningkatan pada paparan berikutnya  

5. Tidak ada sistem memori(ingatan)

Imunitas bawaan yaitu  imun yang dimiliki seseorang sejak lahir. Imunitas 

bawaan dapat diklasifikasikan sebagai 

1. Imunitas individu 

Imunitas individu memberikan resistensi terhadap infeksi, individu 

dalam ras dan spesies yang sama ditentukan secara genetik.  

 

 

 

2. Imunitas rasial 

Imunitas rasial menunjukkan adanya perbedaan kerentanan terhadap 

infeksi pada ras yang berbeda dalam spesies yang sama. Misalnya, 

ras dengan anemia sel sabit kebal terhadap infeksi yang disebabkan 

oleh parasit malaria Plasmodium falciparum. Hal ini disebabkan oleh 

kelainan genetik eritrosit, eritrosit yang dimiliki berbentuk sabit yang 

mencegah parasitisasi oleh Plasmodium falciparum. 

3. Imunitas spesies 

Imunitas spesies menunjukkan total atau relatif resistensi terhadap 

patogen yang ditunjukkan oleh semua anggota spesies tertentu. 

Misalnya tikus resisten terhadap Corynebacterium diphtheriae, ayam 

resisten terhadap Bacillus anthracis, sedangkan manusia rentan 

terhadap bakteri ini. 

 

3.3 Faktor-faktor yang memengaruhi 

imunitas bawaan 

Faktor-faktor yang dapat memengaruhi imunitas bawaan inangtermasuk usia 

dan status gizi inang. 

3.3.1 Usia 

Usia ekstrem sangat rentan terhadap berbagai infeksi yang disebabkan 

berbagai patogen. Sistem imunitas pada anak-anak belum matang, 

memudarnya imunitas pada orang yang lebih tua. Janin biasanya dilindungi 

dari infeksi yang berasal daru ibu oleh penghalang plasenta. Namun, Human 

Immunodeficiency Virus (HIV), Virus Rubella, Cytomegalo Virus dan 

Toxoplasma gondii mampu melintasi penghalang plasenta dan memicu  

infeksi bawaan. Penyakit pneumonia rentang pada orang tua dibandingkan 

pada usia muda. Campak, gondok, poliomielitis, dan cacar air yaitu  penyakit 

yang memicu  penyakit klinis yang lebih parah pada orang dewasa 

daripada pada anak kecil. Respon imun yang lebih aktif pada orang dewasa 

kemungkinan memicu  kerusakan jaringan yang lebih besar 


 

3.3.2 Status Gizi 

Status gizi inang berperan penting dalam imunitas bawaan. Aktivitas neutrofil 

berkurang, respon interferon menurun, dan C3 dan faktor B komplemen 

menurun pada malnutrisi protein-kalori. Kekurangan vitamin C, vitamin A, 

dan asam folat memicu  seseorang rentan terhadap infeksi oleh banyak 

mikroba patogen. 

3.3.3 Tingkat Hormonal  

Individu dengan gangguan hormonal tertentu menjadi semakin rentan terhadap 

infeksi. Misalnya, individu menderita hipotiroidisme, diabetes mellitus, dan 

disfungsi adrenal semakin rentan terhadap infeksi Stafilokokus, infeksi 

Streptokokus, Candidiasis, Aspergillosis, Zygomycosis dan banyak infeksi 

mikroba lainnya. Demikian pula, wanita hamil lebih rentan terhadap banyak 

infeksi karena tingkat steroid yang lebih tinggi selama kehamilan 

 

3.4 Mekanisme Imunitas Bawaan 

Imunitas bawaan inang melakukan dua fungsi terpenting: membunuh 

mikroorganisme yang menyerang dan mengaktifkan proses imunitas yang 

diperoleh (adaptif). Imunitas bawaan tidak seperti imunitas adaptif, tidak 

memiliki memori dan tidak membaik sesudah  terpapar kembali oleh 

mikroorganisme yang sama.  

Mekanisme imunitas bawaan pada gambat 2 , yaitu: 

1. Peradangan  

2. Kemotaksis  

3. Opsonisasi  

4. Aktivasi sel  

5. Lisis patogen 


Imunitas bawaan terutama tergantung pada empat jenis hambatan defensif: 


1. hambatan anatomi,  

2. hambatan fisiologis,  

3. fagositosis, dan 

4. respons inflamasi. 

3.4.1 Hambatan Anatomi 

Hambatan anatomi meliputi hambatan oleh kulit dan selaput lendir. Kulit dan 

selaput lendir merupakan komponen terpenting dari imunitas bawaan. Mereka 

bertindak sebagai penghalang mekanis dan mencegah masuknya 

mikroorganisme ke dalam tubuh. Kulit normal yang utuh mencegah masuknya 

mikroorganisme patogen. Misalnya, Adanya kerusakan atau kelainan kulit 

seperti goresan, luka, atau abrasi dapat memicu  infeksi. Gigitan serangga 

yang mengandung organisme patogen (misalnya, nyamuk, kutu, kutu, dan lalat 

pasir), menjadi vektor mikroorganisme patogen yang dapat ditularkan ke 

dalam tubuh dan memicu  penyakit infeksi.  

Kulit menghasilkan sebum, yang mencegah pertumbuhan beberapa 

mikroorganisme. Komposisi sebum terdiri dari asam laktat dan asam lemak 

yang dapat menjaga pH kulit antara 3 dan 5. Sebagian besar mikroorganisme 

dapat dihambat pertumbuhannya pada pH ini . Selaput lendir dihasilkan 


 

untuk membentuk lapisan yang berfungsi sebagai penutup luar pernapasan, 

gastrointestinal, genitourinary, dan banyak saluran lain dari tubuh manusia.  

Mekanisme pertahanan nonspesifik mampu mencegah masuknya 

mikroorganisme melalui selaput lendir. Air mata, air liur, dan sekresi lendir 

cenderung membasuh mikroorganisme patoogen, sehingga mencegah 

keterikatan patogen ke situs awal infeksi. Sekresi ini juga mengandung 

antibakteri atau antivirus, sel epitel selaput lendir yang menjebak 

mikroorganisme yang menyerang.  

Saluran pernapasan yaitu  sistem yang rumit dan kompleks yang 

memfasilitasi pertukaran gas dan oksigenasi darah, sambil membentuk 

penghalang fisik dan imunologi antara lingkungan eksternal, darah, dan situs 

jaringan. (Mettelman, Allen and Thomas, 2022) Saluran pernapasan bagian 

bawah, selaput lendir ditutupi oleh silia, tonjolan seperti rambut dari membran 

sel epitel. Sistem imunitas bawaan epitel saluran napas terdiri dari beberapa 

komponen termasuk lapisan lendir, pembersihan mukosiliar dari silia, produksi 

peptida pertahanan inang, (Myszor and Gudmundsson, 2023). Gerakan silia 

yang sinkron mendorong mikroorganisme yang terperangkap oleh lendir dari 

saluran ini. Selain itu, organisme nonpatogenik cenderung menjajah sel-sel 

epitel permukaan mukosa.  

Flora normal ini umumnya bersaing dengan patogen untuk situs perlekatan 

pada permukaan sel epitel dan untuk nutrisi yang diperlukan. Candida albicans 

yaitu  pathobiont jamur yang ada pada sebagian besar individu sehat yang, 

dalam keadaan tertentu, dapat menjadi patogen dan memicu  segala 

sesuatu mulai dari infeksi mukosa ringan hingga penyakit sistemik yang 

mengancam jiwa. 

3.4.2 Hambatan Fisiologis 

Hambatan fisiologis yang berkontribusi untuk imunitas bawaan meliputi: 

Keasaman lambung yaitu  penghalang fisiologis bawaan untuk infeksi karena 

sangat sedikit mikroorganisme yang tertelan dapat bertahan hidup dari pH 

rendah isi lambung. Lisozim, interferon, dan komplemen yaitu  beberapa 

mediator larut imunitas bawaan.  

Lisozim memiliki efek antibakteri karena aksinya pada dinding sel bakteri. 

Interferon disekresikan oleh sel sebagai respons terhadap produk sel yang 

terinfeksi virus. Zat-zat ini memiliki efek antivirus umum dengan mencegah 

sintesis protein struktural virus. Lisis memicu  kebocoran isi sel yang 


 

ireversibel sesudah  kerusakan membran. Dalam kasus bakteri, ini akan 

berakibat fatal bagi mikroba. (Playfair and Chain, 2000) 

Enzim dan protein yang disekresikan dengan fungsi imunitas tubuh 

1. Lisozim 

Enzim polisakarida hidrolisis ditemukan pada permukaan sel bakteri 

dan dalam air liur. 

2. Fosfolipase 

Sebuah. Enzim hidrolisis fosfolipid menjadi asam lemak dan zat 

lipofilik. 

3. Laktoferin: Protein globular pengikat besi.  

Disekresikan oleh kelenjar eksokrin dan butiran spesifik dalam 

neutrofil. sesudah  degranulasi, hampir semua laktoferin serum berasal 

dari neutrofil. Bertindak untuk menghilangkan bakteri dari sumber 

zat besi. 

4. Laktoperoksidase 

Oksidoreduktase bakterisida. Disekresikan dari kelenjar mukosa 

termasuk kelenjar ludah dan susu. Mengkatalisis oksidasi dan 

produksi air menggunakan hidrogen peroksida sebagai donor 

elektron. 

5. Myeloperoxidase 

Oksidoreduktase bakterisida. Dinyatakan dalam neutrofil. Disimpan 

dalam butiran azurofilik. Disekresikan sesudah  aktivasi. Mengkatalisis 

oksidasi ion klorida menggunakan hidrogen peroksida untuk 

membentuk asam hipoklorit. Kofaktor katalitik yaitu  bagian heme 

yang memberikan warna hijau pada nanah. 

6. Xantin oksidoreduktase:  

a. Oksidoreduktase yang menghasilkan hidrogen peroksida dan air 

dari konversi hipoksantin menjadi xantin, yang selanjutnya 

dipecah menjadi asam urat dan hidrogen peroksida. 

b. Mengubah senyawa alifatik menjadi alkohol alifatik dan dua 

radikal superoksida oksigen.  

 

c. Xantin oksidoreduktase secara luas diekspresikan dalam jaringan 

dan merupakan konstituen utama gumpalan lemak dalam ASI. 

3.4.3 Fagositosis 

Fagositosis yaitu  mekanisme pertahanan penting lainnya dari imunitas 

bawaan. Fagositosis yaitu  proses konsumsi bahan partikulat ekstraseluler 

oleh sel-sel khusus tertentu, seperti monosit darah, neutrofil, dan makrofag 

jaringan. Ini yaitu  jenis endositosis di mana mikroorganisme yang 

menyerang hadir di lingkungan dicerna oleh sel-sel fagositik. Dalam proses ini, 

membran plasma sel mengembang di sekitar bahan partikulat, yang mungkin 

termasuk seluruh mikroorganisme patogen untuk membentuk vesikel besar 

yang disebut fagosom. 

Fagositosis (pemakan sel), Menelan partikel oleh sel. Makrofag dan PMN 

(yang dulu disebut mikrofag) yaitu  sel fagositik yang paling penting. 

Sebagian besar bahan asing yang memasuki jaringan akhirnya dibuang oleh 

mekanisme ini. Makrofag dapat membunuh beberapa target (mungkin 

termasuk sel-sel tumor) tanpa fagositosis, dan ada berbagai sel lain dengan 

kemampuan sitotoksik. 

Sel NK (pembunuh alami) Sel mirip limfosit yang mampu membunuh 

beberapa target, terutama sel yang terinfeksi virus dan sel tumor, tetapi tanpa 

reseptor atau karakteristik spesifisitas halus limfosit sejati 

3.4.4 Respon Inflamasi 

Kerusakan jaringan yang disebabkan oleh luka atau oleh mikroorganisme 

patogen yang menyerang dapat menginduksi urutan peristiwa yang kompleks, 

yang secara kolektif dikenal sebagai respons inflamasi. Hasil akhir dari 

peradangan mungkin disebabkan aktivasi respon imun spesifik terhadap invasi 

atau pembersihan penyerang oleh komponen sistem imunitas tubuh bawaan. 

Empat fitur utama dari respon inflamasi yaitu  rubor (kemerahan), calor 

(kenaikan suhu), Dolor (nyeri), dan Tumor (pembengkakan). 

 

 

 

Histamin, kinin, tahap  akut Protein, dan Defensin yaitu  mediator penting dari 

reaksi inflamasi. 

1. Histamin 

Ini yaitu  zat kimia yang diproduksi oleh berbagai sel sebagai 

respons terhadap cedera jaringan. Ini mengikat reseptor pada kapiler 

dan venula terdekat, memicu  vasodilatasi dan peningkatan 

permeabilitas. 

2. Kinin 

Ini yaitu  mediator penting lainnya dari respon inflamasi. Mereka 

biasanya hadir dalam plasma darah dalam bentuk tidak aktif. Cedera 

jaringan mengaktifkan peptida kecil ini, yang kemudian 

memicu  vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. 

Bradikinin juga merangsang reseptor rasa sakit di kulit. Efek ini 

mungkin melayani peran protektif karena rasa sakit biasanya 

memicu  seseorang untuk melindungi daerah yang terluka. 

3. Protein tahap  akut 

Ini termasuk protein C-reaktif dan protein pengikat mannose yang 

membentuk bagian dari imunitas bawaan. Mereka disintesis di hati 

sebagai respons terhadap sitokin yang disebut sitokin proinflamasi, 

yaitu, interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL6), dan faktor nekrosis 

jaringan (TNF). Mereka disebut sitokin proinflamasi karena mereka 

meningkatkan respon inflamasi. 

4. Defensin 

Mereka yaitu  komponen penting lain dari imunitas bawaan. Mereka 

yaitu  peptida kationik yang menghasilkan pori-pori di membran 

bakteri dan dengan demikian membunuh mereka. Ini hadir terutama 

di saluran pernapasan bagian bawah dan saluran pencernaan. Saluran 

pernapasan mengandung defensin, sedangkan saluran pencernaan 

mengandung defensin. defensins juga menunjukkan aktivitas 

antivirus. 

 

3.5 Dampak Aktivitas Imunitas Bawaan 

Pada manusia, aktivasi imunitas bawaan yang berlebihan sebagai respons 

terhadap infeksi virus atau bakteri sering memicu  penyakit parah dan 

kematian. Selain itu, mekanisme serupa yang terkait dengan imunitas bawaan 

dapat memicu  patogenesis dan kematian pada sepsis, trauma masif 

(termasuk operasi dan luka bakar), iskemia/reperfusi, beberapa lesi toksik, dan 

infeksi virus termasuk COVID-19. Dampak parah seperti itu mungkin 

merupakan manifestasi dari strategi bunuh diri terkontrol yang melindungi 

seluruh populasi dari penyebaran patogen dan dari patologi berbahaya 

daripada hiperstimulasi yang menyimpang dari tanggapan pertahanan. 

Imunitas bawaan mungkin terlibat dalam implementasi kematian terprogram 

altruistik dari suatu organisme yang bertujuan untuk meningkatkan 

kesejahteraan seluruh komunitas. 

Respon Imun Spesifik 

 

 

 

4.1 Komponen Sistem Imun Spesifik 

4.1.1 Maturasi dan Peran Sel dalam Sistem Imun Spesifik 

Sistem imun spesifik atau yang dikenal dengan sistem imunitas adaptif 

memiliki dua komponen utama dalam mekanisme pertahanan tubuh. Sistem 

imunitas adaptif merupakan garis pertahanan kedua yang diperankan oleh sel 

T dan sel B dalam mekanisme pertahanan tubuh. Respon imunitas spesifik 

atau adaptif lebih cepat responnya terhadap antigen. Sistem imunitas adaptif 

bertanggung jawab dalam menghilangkan patogen di tahap  akhir infeksi. Sel T 

berasal dari sel induk hematopoetik dalam tulang, sum-sum, dan sesudah  

migrasi matang di timus. Sel T tersebar di hampir seluruh jaringan tubuh. 

Sebagian besar sel T ditemukan dalam jaringan limfoid, mukosa, dan kulit dan 

2%-3% dari total komplemen ada  pada darah tepi manusia. Sel T 

berdasarkan tahap perkembangannya terbagi menjadi sel T naif (sel T yang 

baru terbentuk dan belum terpapar antigen), sel T regulator (ada pada tahap 

awal perkembangan sel) dan Sel T memori (sel yang mulai berkembang). Pada 

awal perkembangannnya (awal kehidupan/newborn) hingga menjadi sel T 

memori (masa kanak-kanak), sel ini  berkembang di situs limfoid dan 

mukosa utama tubuh (seperti paru-paru dan usus kecil). sesudah  terjadi 

perkembangan, sel T memori berkembang di subset utama seluruh tubuh, 


 

namun akumulasi sel T memori dalam jaringan limfoid lambat. Sel T dapat 

mengekspresikan reseptor yang dapat mengenali beragam antigen dari 

patogen, tumor dan lingkungan sekitar serta dapat memelihara memori 

imunologis. Sel T juga terlibat dalam reaksi inflamasi dan penyakit autoimun 

(Ali dkk., 2020; Kumar, dkk., 2018). sel T naif dalam perkembangannya dapat 

menjadi subset sel T memori dan sel T efektor. Sel T efektor terlibat dalam 

pengaturan stimulasi antigenik (misal, selama infeksi virus primer). Sel T 

efektor berperan dalam menghilangkan virus atau tumor dengan cara yang 

berbeda. Sel T memori akan tetap ada, meskipun tanpa stimulasi antigenik 

. Dalam kondisi normal, sel T 

regulator dapat meredam respon inflamasi dari sel T efektor. Antigen yang 

berinteraksi dengan sel T dapat berreaksi dengan reseptor sel B. Selanjutnya 

sel B mensintesis dan mensekresikan antibodi (imunoglobulin). Antibodi dapat 

menetralkan patogen. Antibodi dapat mengenali molekul secara spesifik. 

Molekul ini  juga disebut sebagai antigen 

Sel B merupakan sel yang bersifat protagonis terhadap sistem imun. Sel B 

mengalami diversifikasi dalam sum-sum tulang dan hati janin, kemudian 

berkembang menjadi pre-B cells dan selanjutnya berkembang menjadi sel B. 

Sel B mengatur imunoglobulin (Ig), heavy (H), dan lokus gen rantai ringan 

(L). Sel B berasal dari progenitor limfoid, kemudian berkembang menjadi 

beberapa kelas imunoglobulin. Molekul imunoglobulin kemudian berasosiasi 

dan membentuk reseptor untuk antigen. Pada awal perkembangan, sel B naif 

berinteraksi dengan antigen. Sel B yang belum matang selanjutnya berpindah 

ke perifer sebagai sel transisi. Sel B berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh 

melalui perannya dalam presentasi antigen, produksi antibodi, dan interaksi 

secara langsung dengan antigen melalui reseptor sel B (BCR). Sel B regulator 

(Breg) merupakan subset sel B yang baru berkembang. Sel Breg dapat 

memediasi penekanan respon inflamasi atau memfasilitasi pemulihan 

inflamasi. Berdasarkan kondisi ini , maka sel B dapat berperan dalam 

mempertahankan toleransi serta homeostatis sistem imun melalui produksi 

sitokin yang berbeda 

4.1.2 Reseptor Sel T dan Sel B 

Sel limfosit T berperan penting dalam sistem imunitas adaptif (spesifik). Sel T 

mengekspresikan serangkaian pengikatan antigen yang spesifik. Proses 

pengikatan antigen melalui reseptor yang ada  pada membran sel. Sel 

ini  memiliki reseptor berupa TCR (T Cell Receptor). Permukaan sel T 


dapat mengenali antigen yang berasal dari luar sel. Setiap sel T 

mengekspresikan satu jenis TCR dan memiliki kemampuan untuk 

berkembang biak dengan cepat dan berdiferensiasi jika menerima sinyal yang 

sesuai. Molekul TCR dapat berinteraksi dengan APC (biasanya sel dendrit, 

makrofag, sel B, fibroblas dan sel epitel). Permukaan APC juga 

mengekspresikan sekelompok molekul protein MHC (Molecule 

Histocampatibilty Complex). MHC diklasifikasikan menjadi MHC kelas I atau 

disebut juga Human Leukocyte Antigent (HLA) A, B, dan C yang ada  

pada semua sel berinti. MHC kelas II atau disebut HLA DP, DQ dan DR yang 

hanya ada  pada sel-sel tertentu dalam sistem kekebalan tubuh, seperti 

makrofag, sel dendritik dan sel B. Molekul MHC kelas I ada  pada peptida 

endogen (intraseluler), sedangkan MHC kelas II ada  pada peptida eksogen 

(ekstraseluler) yang dipresentasikan melalui APC ke sel T. Protein MHC 

menampilkan fragmen antigen (peptida) saat  sel terinfeksi dengan patogen 

intraseluler, seperti virus yang memfagositosis protein atau organisme asing. 

Selanjutnya terjadi pembentukan komplek MHC-antigen yang diaktivasi oleh 

TCR. Selanjutnya sel T mensekresi sitokin yang dapat mengontrol respon 

imun (Marshall dkk., 2018; Brazin dkk., 2018). Molekul MHC dipresentasikan 

oleh APC (Antigen-precenting cells). Reseptor sel T dapat mengenali lebih 

dari satu struktur peptida-MHC, ini disebut sebagai reaktivitas silang. 

Reaktivitas silang merupakan fenomena sistem kekebalan tubuh yang 

kepentingannya masih dalam penyelidikan. Reaktivitas silang dapat 

dipengaruhi oleh jumlah peptida patogen, rendahnya keragaman reseptor sel T, 

kebutuhan terhadap pengenalan varian antigen lain, dan afinitas ikatan 

reseptor-ligan rendah. Reseptor TCR terdiri dari permukaan sel heterodimerik 

yang terdiri dari rantai α dan β. Setiap rantai dihasilkan oleh somatik.  

Pengenalan sel T terhadap peptida antigenik yang berikatan dengan MHC 

kelas I atau MHC kelas II. Interaksi ini  merupakan awal mula terjadinya 

respon imunitas adaptif (Galina, dkk. 2012). Sel T berperan dalam proliferasi, 

pembunuhan sel target, sekresi sitokin, dan dapat diaktifkan atau diatur oleh 

molekul multikomponen yang ada  pada permukaan sel T. Reseptor sel T 

terdiri dari 8 subunit (TCR) dan sebuah co-reseptor (CD4 atau CD8) dan 

reseptor kostimulatori (biasanya CD28). Berbagai komponen molekul 

permukaan sel, seperti reseptor sitokin dan reseptor penghambat dapat 

memengaruhi secara positif atau negatif kekuatan interaksi ini , kualitas 

dan durasi aktivasi signal. TCR hanya mengenali antigen sesudah  diproses dan 

ditampilkan sebagai peptida pendek pada permukaan sel (APC) atau sel target 

oleh MHC, hal ini  merupakan bagian dari pembatasan MHC. Reseptor 

42 Imunologi Dasar 

 

TCR sangat sensitif sehingga dapat memicu fluks kalsium dan pelepasan 

sitokin sebagai respon terhadap stimulasi ligan peptida-MHC 

Sel B memiliki reseptor berupa BCR (B Cell Receptor). Pembentukan reseptor 

diawali dengan proses diferensiasi sel B, ekspresi molekul imonuglobulin, 

yang berasosiasi membentuk Igα dan Igβ, yang kemudian membentuk 

reseptor sel B. Reseptor ini  diperlukan untuk pematangan sel B dan 

kelangsungan hidup sel B. Sel B bersirkulasi ulang melalui organ limfoid 

sekunder seperti limpa dan kelenjar getah bening. Sel B berada di organ 

limfoid sekunder. Sel B naif yang telah matang siap untuk berinteraksi dengan 

antigen. Pengenalan antigen melalui BCR. Selanjutnya sel B teraktivasi dan 

berdiferensiasi menjadi sel plasma atau prekursor germinal center (GC). 

Inisiasi sinyal BCR secara tidak langsung diatur oleh dua molekul yang tidak 

berasosiasi dengan reseptor, yaitu B220 dan CSK (C terminal src tirosin 

kinase). Aktivasi sel B melalui BCR memicu  aktivasi beberapa protein 

lain seperti MAPK (Mitogen Activated Kinase) dan Nf-kβ (Nucelar factor 

cappa beta). Pensinyalan sel B dapat mengontrol perkembangan atau resistensi 

sel B. Pola pensinyalan BCR dapat memengaruhi seleksi sel B selama proses 

pengembangan, diferensiasi populasi sel B1, MZ atau Fo. Selanjutnya 

kekukatan pensinyalan BCR dapat memengaruhi antigent-induced, aktivasi sel 

B, migrasi, dan tingkat ekspresi molkeul ko-stimulator permukaan (Yam-Puc 

dkk., 2018). Aktivasi sel B terjadi sesudah  adanya signal BCR yang berinteraksi 

dengan antigen. Interaksi ini  dapat memicu  adanya pengelompokan 

sel B. Interaksi sel T dan dan sel B melibatkan komponen penting yaitu 

ekspresi CD40. CD40L merupakan bagian dari TNF (Tumor Necrosis Factor), 

diekspresikan sel T sebagai homotrimer membran dan ekspresi permukaannya 

diregulasi sesudah  aktivasi sel T. CD40 diekspresikan secara konstitutif pada sel 

B matang, sel naif dan germinal center (GC). Luas permukaan interaksi sel GC 

B dan sel Tfh meningkat dengan pensinyalan ICOSL-ICOS. ICOSL diregulasi 

oleh sel GC B. Kemudian dopamin sebagai faktor sekresi Tfh yang 

memengaruhi sel GC B. Keterlibatan CD40-CD40L dapat memengaruhi 

kehidupan sel B, diferensiasi dan pensinyalan ekstrinsik 



 Respon Imun Spesifik 43 

 

4.2 Mekanisme Sistem Imun Spesifik  

4.2.1 Mekanisme Mediasi dan Aktivasi Sel T 

Aktivasi sel T diatur oleh sinyal ekstraseluler berupa APC (Antigent 

Precenting Cell), regulator dan sinyal transduksi intraseluler. Molekul 

kostimulator APC sangat penting dalam aktivasi dan pengaturan klon sel-T. 

Sel T yang teraktivasi dapat berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik (sel T 

CD8+) atau sel T-helper (sel T CD4+). Sel T CD8+ terlibat dalam 

penghancuran sel yang terinfeksi agen asing seperti virus dan tumor, sel akan 

mengekspresikan antigen yang sesuai. Aktivitas ini  melalui interaksi 

TCR dengan molekul MHC kelas I. Ekspansi klonal sel T sitotoksik dapat 

menghasilkan sel T efektor yang melepaskan zat yang menginduksi apoptosis 

sel target. sesudah  terjadi infeksi sebagian besar sel efektor mati dan 

dibersihkan oleh fagosit. Namun beberapa sel dipertahankan menjadi sel 

memori yang dapat dengan cepat berdiferensiasi menjadi sel efektor. CD28 

dan ICOS (Inducible Costimulator) merupakan molekul kostimulator yang 

penting dalam dalam pengaturan aktivasi dan fungsi sel T.  

Banyak sinyal kostimulasi negatif seperti CTLA-4 (cytotoxic Tlymphocyte 

antigen-4), PD-1 (Programmed Death-1), dan beberapa molekul kostimulator 

lainnya. Aktivasi dan toleransi sel T diatur untuk memastikan eliminasi antigen 

asing yang efektif dan disertai dengan upaya pertahanan toleransi imun 

terhadap self antigen. Toleransi imunologi sel T dipertahankan melalui 

berbagai mekanisme untuk mencegah penyakit autoimun. Proses ini  

dimediasi di kelenjar Timus, dalam prosesnya, sel T self-reaktif dihapus 

melalui seleksi negatif. Selain itu ada  mekanisme toleransi perifer 

tambahan untuk mencegah reaksi autoreaktif. Toleransi perifer diatur oleh sel 

T regulator dan tolerogenik sel dendritik. Respon yang kuat teradap antigen 

yang berasal dari patogen berbeda dengan presentasi self-antigen ke sel T yang 

berdampak pada toleransi sel T yang mengakibatkan penghapusan klon sel T 

(anergi). Anergi dapat terjadi pada klon sel Th 1 (T-helper 1), seperti saat  

TCR (T cell receptor) terlibat dalam kostimulasi, ini dapat berdampak pada 

hiporesponsif TCR sekunder. Kondisi ini  dapat diatasi dengan model 

stimulasi dua sinyal yaitu aktivasi sel T melalui MHC-peptida dan yang kedua 

aktivasi sel T melalui mekanisme kostimulatori. Mekanisme ini  dapat 

memunculkan molekul k