Tampilkan postingan dengan label Imunologi 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imunologi 14. Tampilkan semua postingan

Imunologi 14

 



n kulit 

dari bagian tubuh yang lain).  

Refleks : Respon yang dilakukan tanpa sadar segera setelah adanya 

rangsang. 

Saliva  : Suatu cairan tidak bewarna yang memiliki konsistensi seperti 

lendir dan merupakan hasil sekresi kelenjar yang membasahi gigi 

serta mukosa rongga mulut. Berfungsi menjaga kelembaban dan 

membasahi rongga mulut. 

Sekresi  : Pengeluaran hasil kelenjar atau sel secara aktif. 

Sel lisis  : Proses di mana sel dipecah atau dihancurkan sebagai hasil dari 

beberapa gaya atau kondisi eksternal. 

Silia : Organel sel yang berfungsi sebagai alat bantu pergerakan yang 

menonjol dari sebagian sel yang diameternya kira-kira 0,25 μm 

dan panjangnya sekitar 2 sampai 20 μm serta biasanya muncul 

dalam jumlah banyak pada permukaan sel. 

Sirkulasi  : Perputaran atau pergerakan. 

Sitosol  : Komponen sel di dalam sitoplasma yang berupa cairan. Sebagian 

metabolisme sel terjadi di sini. Protein dalam sitosol berperan 

penting dalam jalur transduksi sinyal seluler dan glikolisis. 

Toksin  : Sebuah zat beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme 

hidup, kecuali zat buatan manusia yang diciptakan melalui 

proses artifisial. 

Virus : Mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan memakai  

mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan memakai  

mikroskop elektron, pemicu  dan penular penyakit, seperti 

cacar, influenza, dan rabies 


SISTEM LIMPORETIKULER 

 

elamat anda telah selesai mempelajari bab dua dan dianggap sudah menguasai dan 

memahami konsep dasar Immunologi dan komponen dalam sistem imun. pada bab tiga 

ini   kita akan mempelajari tentang sistem limporetikuler pada sistem imun yang meliputi 

sistem limpoid primer dan sistem limpoid sekunder, masing masing sistem limpoid akan 

dijabarkan tentang peran dan fungsinya masing masing.  

Untuk proses pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B diperlukan organ 

limpoid primer atau sentral sehingga menjadi limfosit yang mengenal antigen. Dalam produksi 

dan seleksi awal jaringan limfosit, sistem limpoid primer ikut terlibat. Ada dua organ yang 

menyokong pembentukan limfosit primer yaitu kelenjar timus dan sumsum tulang. 

Sistem limpoid sekunder merupakan tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi 

fungsional limfosit terjadi dan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen 

yang berbeda. Jaringan limpoid sekunder menyediakan lingkungan bagi molekul asing 

(antigen) asing atau yang diubah untuk berinteraksi dengan limfosit. Organ limfosit sekunder 

pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel limpoid dalam amandel, patch Peyer, 

limfa, kelenjar gondok, kulit, dll yang berhubungan dengan jaringan limpoid terkait mukosa 

(MALT). 

 Setelah mempelajari bab ketiga ini, Mahasiswa RPL program studi DIII teknologi bank 

darah mampu menjelaskan Sistem Limporetikuler. Untuk memudahkan terwujudnya capaian 

pembelajaran yang diharapkan bagi anda, maka Pada bab ketiga ini diberikan materi yang 

terbagi menjadi dua topik yaitu pada topik satu menguraikan tentang limpoid primer. 

sedangkan pada topik dua dibahas tentang limpoid sekunder.  

 

 

Untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman anda dalam mempelajari bab 3 ini, 

disarankan anda mengerjakan latihan dan menjawab soal soal di akhir bab tanpa melihat 

bahan pembelajaran. 

 

Limpoid Primer 

 

Setiap hari tubuh kita selalu terancam oleh paparan patogen diantaranya bakteri, virus, 

parasit, radiasi matahari, dan polusi. Paparan inilah yang menjadi tantangan untuk 

mempertahankan homeostasis tubuh agar tetap sehat. Sistem pertahanan tubuh meliputi 

sistem kekebalan tubuh, makrofag, dan kebutuhan gizi selalu menjaga kesehatan tubuh kita. 

Sistem imun sebagai pendeteksi adanya sel-sel abnormal, termutasi, atau keganasan yang 

berkerja dengan menghancurkannya. 

Dalam tubuh manusia tersusun sistem limpoid yang bertugas untuk melindungi tubuh 

dari paparan patogen. Sistem Limpoid yaitu  sel-sel sistem imun yang ditemukan di dalam 

jaringan dan organ tubuh. Berdasarkan organ pembentuknya sistem limpoid dibedakan 

menjadi 2 yaitu organ limpoid primer dan organ limpoid sekunder. Organ limpoid primer atau 

sentral diperlukan untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi 

limfosit yang mengenal antigen 

 

Sistem limpoid primer terlibat dalam produksi dan seleksi awal jaringan limfosit. Organ 

yang menyokong pembentukan limfosit primer ada 2 yaitu kelenjar timus dan sumsum tulang. 

Sumsum tulang bertanggung jawab atas penciptaan sel T dan produksi serta pematangan sel 

B. Dari sumsum tulang, sel B segera bergabung dengan sistem peredaran darah dan 

melakukan perjalanan ke organ limpoid sekunder untuk mencari patogen. Sel T berjalan  dari 

sumsum tulang ke timus, di mana mereka berkembang lebih lanjut. Sel T yang matang 

bergabung dengan sel B untuk mencari patogen. Sebanyak 95% sel T lainnya memulai proses 

apoptosis, suatu bentuk kematian sel akibat proses imun yang terprogram 

 

A. SUMSUM TULANG 

 

Sumsum Tulang merupakan organ limpoid yang menjadi sel–sel induk pembentukan sel 

darah merah dan sel darah putih. Sistem imun pada sumsum tulang manusia terbentuk pada 

tulang besar terutama pada tulang rusuk, tulang belakang, tulang dada, dan tulang panggul. 

Besaran dari sumsum tulang rata-rata 4% dari total massa tubuh manusia. Misalkan saja pada 

orang dewasa yang memiliki massa tubuh 65 kg (143 lb), maka sumsum tulangnya 

menyumbang berat sekitar 2,6 kilogram (5,7 lb)  (Farhi, 2009).  

Fungsi utama sumsum tulang dalam proses pertahanan tubuh sistem imun ada 2 yaitu 

pada sistem transportasi dan sistem pertahanan tubuh. Pada sistem transportasi sumsum 

tulang berfungsi untuk menghasilkan sel darah merah. Pada tubuh seseorang sumsum tulang 

dapat menghasilkan 500 juta sel darah merah per hari. Sel darah merah ini  selanjutnya 

akan masuk beredar ke pembuluh darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Sel darah merah 

berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel-sel tubuh (Saladin, 

2012). 

Sedangkan fungsi sumsum tulang pada sistem pertahanan tubuh yakni menghasilkan 

limfosit yang merupakan salah satu komponen sel darah putih yang berfungsi untuk melawan 

paparan patogen yang dalam hal ini yaitu  bakteri, kuman, dan benda asing yang masuk ke 

dalam tubuh. Berdasarkan fungsinya dalam tubuh, dapat digolongkan menjadi dua tipe utama 

sumsung tulang yaitu medulla ossium rubra atau sumsung tulang merah dan medulla ossium 

flava atau sumsung tulang kuning. Sumsung tulang merah merupakan sumsung tulang 

fungsional yang mempunyai fungsi untuk menghasilkan sel darah merah dan limfosit. 

Sedangkan sumsung tulang kuning yang banyak terdiri dari sel-sel lemak yang sudah tidak lagi 

berfungsi (

 

Melalui pembuluh darah kecil yang disebut sebagai sinusoid dengan karakteristik 

pembuluh darah yang permeabel di dalam rongga meduler, sumsum tulang manusia 

menghasilkan sel darah yang bergabung dengan sirkulasi sistemik. Semua jenis sel 

hematopoietik, termasuk garis keturunan myeloid dan limpoid, diproduksi di sumsum tulang, 

yang selanjutya sel limpoid akan melakukan perjalanan bermigrasi ke organ limpoid lain 

seperti kelenjar timus dengan tujuan untuk melengkapi proses pematangan 

 

Pada tingkat sel, komponen fungsional utama sumsum tulang termasuk sel-sel 

progenitor yang ditakdirkan untuk matang sehingga menjadi darah dan sel-sel limpoid. 

Sumsum mengandung sel induk hematopoietik yang menimbulkan tiga kelas sel darah yang 

ditemukan dalam sirkulasi: sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit), dan 

trombosit 

 

1. Sel Darah Putih (Leukosit ) 

Sel darah putih atau lebih sering dikenal dengan nama leukosit (dalam bahasa Inggris 

memiliki nama white blood cell, WBC, leukocyte) merupakan komponen darah yang erat 

kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih memiliki peran yang besar untuk 

mendeteksi dan menghancurkan  mikroorganisme asing seperi virus, bakteri, maupun parasit 

yang membawa penyakit atau pemicu  infeksi. Selain itu sel darah putih juga berperan dalam 

melindungi tubuh dari segala potensi serangan penyakit. 

Sel darah putih terlibat langsung dalam mempertahankan tubuh terhadap penyakit 

menular dan bahan asing. Sel darah putih diproduksi dan berasal dari sel multipoten di 

sumsum tulang yang dikenal sebagai sel induk hematopoietik. Leukosit ditemukan di seluruh 

tubuh, termasuk darah dan sistem limfatik. Ada berbagai jenis sel darah putih yang melayani 

 

 

peran spesifik dalam sistem kekebalan tubuh manusia. WBC terdiri sekitar 1% dari volume 

darah. 

Sel darah putih yaitu  komponen yang membentuk darah. Fungsi utamanya untuk 

membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan 

tubuh. Karakteristik dari sel darah putih yaitu dengan tidak berwarna, memiliki inti, dapat 

bergerak secara amoeboid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. Dalam keadaan 

normal tidak ada penyakit maupun mikroorganisme yang menyerang tubuh kandungan sel 

darah putih sebesar 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia 

dewasa, diketahui besarnya sel darah putih sekitar 7000-25000 sel per tetes. Dalam setiap 

milimeter kubik sel darah putih  mengadung 6000 sampai 10000 (rata-rata 8000) sel darah 

putih. Gangguan produksi sel darah putih yang masih menjadi kasus besar yaitu dalam kasus 

leukemia, jumlah leukosit dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes. 

Di dalam sistem imun tubuh leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau 

jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit 

mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel 

asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau 

bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka yaitu  produk dari sel punca 

hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang. 

Sel darah putih dibagi menjadi granulosit dan agranulosit , dibedakan dengan ada atau 

tidaknya butiran di sitoplasma. Sel darah putih yang merupakan jenis granulosit terbagi 

meliputi basofil, eosinofil, neutrofil  dan sel mast. Sedangkan yang termasuk agranulosit yaitu 

limfosit dan monosit (Saladin, 2012). 

Berdasarkan fungsi sel darah putih (leukosit) dibagi menjadi 5 jenis, yang mana 

kelimanya memiliki tugas dan fungsi sesuai dengan kemampuan dan tipe mikroorganisme 

yang dihadapi. Berikut ini fungsi sel darah putih berdasarkan jenisnya yaitu: 

 

a. Neutrofil 

Neutrofil di dalam sel darah putih jumlahnya paling besar yaitu sebanyak 50% dari total 

jumlah sel darah putih yang ada, jenis sel darah putih yang memiliki komposisi paling banyak 

ini mempunyai fungsi untuk merespons bakteri, virus, maupun parasit yang datang 

menyerang dengan cara menyerangnya balik. 

Sebagai gerbang pertahanan utama, neutrofil juga bertugas untuk mengirimkan 

informasi kepada sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh lainnya untuk bersiap untuk bereaksi 

terhadap serangan dari patogen yang merupakan agen penyakit ini . Ekskresi neutrofil 

bisa kita temukan saat terjadi luka mengeluarkan nanah. 

 

 

Siklus hidup neutrofil cukup pendek, daya tahannya hanya sekitar 8 jam setelah 

diproduksi di sumsum tulang belakang. Dalam sehari normalnya tubuh akan memproduksi 

sekitar 100 miliar sel neutrofil. 

 

b. Eosinofil 

Eosinofil yaitu  komponen sel darah putih yang tugasnya lebih kepada melawan infeksi 

mikroorganisme seperti bakteri dan parasit (cacing). Fungsi sel darah putih eosinofil juga 

berkaitan dengan respons tubuh atas alergi seperti respon gatal, panas, mata berair. Eosinofil 

hanya berkontribusi sekitar 1 persen dari total jumlah sel darah putih yang ada pada sirkulasi 

darah di dalam tubuh. 

 

c. Monosit 

Fungsi sel darah putih yang satu ini yaitu  berpindah-pindah dari satu jaringan ke 

jaringan lainnya di dalam tubuh lalu membagi fungsinya sebagai "pembersih vakum" 

(fagositosis) dari neutrofil. Tuhas monosit tidak sampai pada fagosit saja, monosit juga 

mempunyai tugas tambahan yaitu memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga 

patogen ini  dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk 

menjaga dalam sistem imun spesifik. Monosit memegang 5 persen dari total komponen sel 

darah putih yang ada di dalam tubuh.  

 

d.  Limfosit 

Fungsi utama dari limfosit yaitu menjaga sistem kekebalan tubuh. Limfosit terbagi 

menjadi 2 yaitu, limfosit T dan limfosit B. Limfosit T bertugas untuk membasmi virus dan 

bakteri, sementara limfosit B bertugas membuat zat antibodi yang akan digunakan untuk 

melawan agen penyakit. 

Limfosit lebih umum ditemukan dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit 

Sel B yaitu  Sel B membuat antibodi, Sel T, dan Sel pembunuh alami (natural killer, NK). 

 

e.  Basofil 

Jenis sel darah putih yang terakhir yaitu  basofil, fungsi sel darah putih basofil yaitu  

untuk meningkatkan respons imun non-spesifik terhadap patogen. Basofil hanya mengisi 1 

persen dari keseluruhan jumlah sel darah putih. 

Basofil bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan 

mengeluarkan histamin kimia yang memicu  peradangan. Kendati demikian basofil 

yaitu  jenis sel darah putih yang menimbulkan reaksi alergi seperti pada penyakit asma. Saat 

tubuh terkena paparan seperti debu, basofil otomatis mengeluarkan zat yang disebut 


 

histamine yang lantas memicu  bronkokonstrisksi pada saluran pernapasan sehingga 

timbul keluhan sesak nafas pada orang dengan penyakit astma 

 

Pada sel darah putih dengan jumlah yang berlebihan atau kurang akan memicu  

gangguan pada tubuh. Contoh gangguan jumlah leukosit yaitu pada keadaan leukopenia 

dimana kondisi tubuh dengan jumlah sel darah putih yang  terlalu sedikit sebab  gangguan 

proliferatif sehingga memicu  jumlah tidak cukup. Sementara keadaan tubuh yang 

mengalami terlalu banyak sel darah putih disebut leukositosis. Jumlah sel darah putih yang 

beredar umumnya meningkat pada saat terjadinya infeksi. Banyak kanker hematologis yang 

diagnosa klinisnya didasarkan pada produksi sel darah putih yang tidak tepat. Gangguan 

proliferasi sel darah merah dapat diklasifikasikan sebagai mieloproliferatif dan 

limfoproliferatif, beberapa autoimun namun  banyak yang neoplastik (Saladin, 2012). 

Cara lain untuk mengkategorikan kelainan sel darah putih dengan berbagai gangguan di 

mana jumlah sel darah putih normal namun  sel tidak berfungsi secara normal. Menurut standar 

American Associaton of Family Physician (AAFP), kategori  kadar normal leukosit jika  

dihitung berdasarkan usia:  

1) Anak bayi baru lahir  13.000 – 38.000/mm3  

2) Bayi dan anak-anak 5.000 – 20.000/mm3  

3) Orang dewasa berkisar 4.500 – 11.000/mm3 

4) Wanita hamil (trimester tiga) beriksar 5.800 – 13.200/mm3 

  

 

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa sel darah putih penting untuk menjaga sistem 

kekebalan imun tubuh. jika  sel darah putih jumlahnya sedikit, jadi rentan kena penyakit. 

jika  sel darah putih berlebih hal itu juga berbahaya. Tes darah yang menunjukkan jumlah 

sel darah putih kurang dari 4.000 per mikroliter (beberapa ahli ada juga yang mengatakan 

bahwa batas minimalnya kurang dari 4.500) dapat menandakan bahwa tubuh tidak dapat 

melawan infeksi seperti seharusnya (Saladin, 2012). 

 

2. Trombosit  

Trombosit merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani θρόμβος, "gumpalan" dan 

κύτος, "sel". Terombosit yaitu  komponen sel darah yang fungsinya bersama dengan faktor 

pembekuan darah untuk bereaksi terhadap perdarahan dari cedera pada pembuluh darah 

dengan mekanisme penggumpalan, sehingga memulai suatu gumpalan darah. Karakteristik 

dari trombosit yaitu bentuk anatomis trombosit tidak memiliki inti sel, hanya berupa fragmen 

sitoplasma yang berasal dari megakaryocytes dari sumsum tulang, yang kemudian memasuki 

sirkulasi. Trombosit yang tidak aktif yang bersirkulasi yaitu  struktur bikonveks diskoid 

(berbentuk menyerupai lensa), dengan ukuran diameter terbesar 2–3 μm. Trombosit 

teraktivasi memiliki proyeksi membran sel yang menutupi permukaannya.  

 


Struktur Trombosit 

 

Salah satu fungsi utama trombosit yaitu  berkontribusi pada keseimbangan hemostasis 

dalam tubuh dengan cara menghentikan perdarahan di lokasi yang terganggu. Mereka 

berkumpul di lokasi infeksi dan kecuali jika gangguannya secara fisik terlalu besar, mereka 

menutup lubang (Hampton, 2018). 

Proses penghentian perdarahan  diawali dengan trombosit menempel pada zat di luar 

endotelium yang terganggu atau lebih sering disebut adhesi. Kedua, mereka berubah bentuk, 

 

 

menyalakan reseptor dan mengeluarkan utusan kimia (aktifasi). Ketiga, dilanjutkan dengan 

mereka terhubung satu sama lain melalui jembatan reseptor (agregasi). 

 

 

Pembentukan sumbat dalam proses pembekuan darah oleh trombosit ini (hemostasis 

primer) dikaitkan dengan aktivasi kaskade koagulasi dengan endapan fibrin yang dihasilkan 

dan penghubung (hemostasis sekunder). Proses-proses ini mungkin saling tumpang tindih 

dimana spektrumnya berasal dari sumbat trombosit yang dominan, atau "gumpalan putih" 

menjadi fibrin yang dominan, atau "gumpalan merah" atau campuran yang lebih khas. 

Beberapa akan menambahkan retraksi dan penghambatan trombosit selanjutnya sebagai 

langkah keempat dan kelima pada penyelesaian proses dan yang lain lagi merupakan 

perbaikan luka langkah keenam. Trombosit juga berpartisipasi dalam respons imun 

intravaskular bawaan dan adaptif.   

Konsentrasi trombosit yang rendah disebabkan oleh penurunan produksi atau 

peningkatan kerusakan disebut dengan trombositopenia. Sedangkan untuk keadaan 

peningkatan konsentrasi trombosit disebut dengan trombositosis, dan bersifat bawaan, 

reaktif (terhadap sitokin), atau sebab  produksi yang tidak diatur: salah satu neoplasma 

mieloproliferatif atau neoplasma mieloid tertentu lainnya. Gangguan fungsi trombosit yaitu  

trombositopati. Trombosit yang normal dapat merespons kelainan pada dinding pembuluh 

darah dari adanya perdarahan, yang mengakibatkan adhesi/ aktivasi trombosit yang tidak 

tepat dan trombosis berupa pembentukan gumpalan di dalam pembuluh darah yang utuh. 

Jenis trombosis ini muncul dengan mekanisme yang berbeda dari mekanisme bekuan normal 

yaitu, memperpanjang fibrin trombosis vena, memperpanjang plak arteri yang tidak stabil 

  

 

atau pecah, memicu  trombosis arteri dan trombosis mikrosirkulasi. Trombus arteri 

sebagian dapat menghalangi aliran darah, memicu  iskemia hilir, atau mungkin 

sepenuhnya menghambatnya, memicu  kematian jaringan hilir 

 

Kisaran normal (99% populasi dianalisis) untuk nilai trombosit sehat yaitu  150.000 

hingga 450.000 per milimeter kubik (mm3 sama dengan mikroliter) atau 150–450 × 109 per 

liter. Trombosit memiliki peran sentral dalam imunitas bawaan, memulai dan berpartisipasi 

dalam berbagai proses inflamasi, mengikat patogen secara langsung dan bahkan 

menghancurkannya. Hal ini mendukung data klinis yang menunjukkan bahwa banyak dengan 

infeksi bakteri atau virus yang serius memiliki trombositopenia, sehingga mengurangi 

kontribusi mereka terhadap peradangan. Juga agregat platelet-leukosit (PLA) yang ditemukan 

dalam sirkulasi yaitu  tipikal pada sepsis atau penyakit radang usus, menunjukkan hubungan 

antara trombosit dan sel-sel imun. 

Transfusi trombosit paling sering digunakan untuk memperbaiki jumlah trombosit yang 

sangat rendah, baik untuk mencegah perdarahan spontan (biasanya pada jumlah di bawah 10 

× 109 / L) atau sebagai antisipasi prosedur medis yang perlu melibatkan beberapa kasus 

pendarahan seperti prosedur pembedahan. Sebagai contoh, pada pasien yang diprogramkan 

menjalani operasi terjadi perdarahan hebat atau trombosit rendah, level di bawah 50 × 109 / 

L dikaitkan dengan perdarahan bedah abnormal. Trombosit juga dapat ditransfusikan saat  

jumlah trombosit normal namun  trombositnya tidak berfungsi, seperti saat  seseorang 

mengonsumsi aspirin atau clopidogrel. Akhirnya, trombosit dapat ditransfusikan sebagai 

bagian dari protokol transfusi masif, dimana tiga komponen darah utama (sel darah merah, 

plasma, dan trombosit) ditransfusikan untuk mengatasi perdarahan yang parah. Transfusi 


trombosit dikontraindikasikan dalam purpura trombotik trombositopenik (TTP), sebab  

memicu bahan bakar koagulopati 

3. Eritrosit  

Sel darah merah atau eritrosit, berperan membawa oksigen dan mengumpulkan karbon 

dioksida melalui penggunaan hemoglobin. Hemoglobin sendiri merupakan protein yang 

mengandung zat besi yang memberi warna pada sel darah merah dan memfasilitasi terjadinya 

transportasi oksigen dari paru - paru ke jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-

paru untuk dihembuskan. Sel darah merah yaitu  sel yang paling melimpah jumlahnya dalam 

darah, terhitung sekitar 40-45% dari volume total darah 

Karakteristik sel darah merah berbentuk cakram dan dapat dideformasi untuk 

memungkinkannya masuk melalui kapiler yang sempit. Sel darah merah jauh lebih kecil 

daripada kebanyakan sel manusia lainnya. Sel darah merah terbentuk di sumsum tulang 

merah dari sel induk hematopoietik dalam proses yang dikenal sebagai erythropoiesis. Pada 

orang dewasa, sekitar 2,4 juta sel darah merah diproduksi setiap detik. Sel darah merah 

memiliki umur berkisar 100-120 hari. Setelah eritrosit menyelesaikan masa hidup mereka 

dalam peredaran darah tubuh, selanjutnya mereka dikeluarkan dari aliran darah oleh limfa. 

Sel darah merah dewasa mempunyai sifat unik di antara sel-sel dalam tubuh manusia sebab  

mereka tidak memiliki nukleus (walaupun eritroblast memiliki nukleus). Kondisi kelainan pada 

eritrosit dimana memiliki terlalu sedikit sel darah merah dikenal sebagai anemia, sedangkan 

kebalikannya memiliki terlalu banyak eritrosit disebut dengan polycythemia 

 

Sebagai salah satu komponen darah eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan 

tubuh. saat  sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka 

hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan 

menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya (Biosbcc, 2016). 

Pada keadaan kekurangan sel darah merah maka dapat diberikan penanganan sebagai 

bagian dari transfusi darah sebab  kekurangan eritrosit. Darah dapat disumbangkan dari orang 

lain, atau disimpan oleh penerima dengan proses penyimpanan khusus. Darah yang 

didonorkan biasanya memerlukan penyaringan untuk memastikan bahwa pendonor tidak 

mengandung faktor risiko terhadap beberapa penyakit yang ditularkan melalui darah, atau 

pendonor tidak akan menderita setelah proses memberikan donor darah. Sistem pendonoran 

darah dilakukan dengan cara dikumpulkan dan diuji untuk penyakit umum atau serius yang 

ditularkan melalui darah termasuk penyakit yang diuji yaitu  Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV. 

Darah manusia dibedakan berdasarkan jenis darah (A, B, AB, atau O) atau produk darah 

diidentifikasi. Hal Ini berhubungan dengan keberadaan antigen pada permukaan sel. 

 

 

Setelah proses pengidentifikasian darah maka darah akan disimpan, selanjutnya darah 

dapat diberikan sebagai produk utuh atau sel darah merah dipisahkan sebagai sel darah merah 

yang dikemas. Darah sering ditransfusikan saat  diketahui ada anemia, perdarahan aktif, atau 

saat  ada harapan kehilangan darah yang serius, seperti sebelum operasi. Sebelum dilakukan 

prosedur tranfusi darah perlunya dilakukan pengechekan atau crossing darah pendonor dan 

penerima, sampel kecil darah penerima diuji dengan transfusi dalam proses yang dikenal 

sebagai pencocokan silang yang bertujuan sebagai pencegahan penularan infeksi dan 

meminimalkan kemungkinan beberapa jenis reaksi penolakan akibat transfusi (Lang, 2012). 

Pada sistem imun sumsum tulang berperan dalam membentuk limfosit B dan limfosit T, 

sel B juga dikenal sebagai limfosit B yang merupakan jenis sel darah putih dari subtipe limfosit 

berfungsi dalam komponen imunitas humoral dari sistem imun adaptif dengan mengeluarkan 

antibodi. Selain itu, sel B menunjukkan antigen (mereka juga diklasifikasikan sebagai sel 

penyaji antigen profesional) dan mengeluarkan sitokin. Pada manusia sel B matang di sumsum 

tulang yang merupakan inti dari sebagian besar tulang. Sel B mengekspresikan reseptor sel B 

(BCR) pada membran sel mereka, sehingga  BCR memungkinkan sel B untuk berikatan dengan 

antigen spesifik, yang dengannya ia akan memulai respons antibodi 

 

Pada sumsum tulang terjadi proses pematangan limfosit B, proliferasi dan diferensiasi 

dirangsang oleh sitokin. ada  juga sel lemak, fibroblas dan sel plasma. Sel stem 

hematopoetik akan menjadi progenitor limpoid yang kemudian mejadi prolimfosit B dan 

menjadi prelimfosit B yang selanjutnya menjadi limfosit B dengan imunoglobulin D dan 

imunoglobulin M (B Cell Receptor) yang kemudian mengalami seleksi negatif sehingga 

menjadi cell B naif yang belum terpapar antigen, yang kemudian keluar dan mengikuti aliran 

darah menuju ke organ limpoid sekunder. Sel hematopoetik menjadi progenitor, limpoid juga 

berubah menjadi prolimfosit T dan selanjutnya menjadi prelimfosit T yang akhirnya menuju 

timus 

 

Limfosit dibuat dari sel batang sumsum tulang dan kemudian diproses oleh sel B di 

sumsum tulang dan sel T di timus, di mana mereka berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik dan 

helper. Sedangkan sel B yang distimulasi berubah menjadi sel blast, yang membelah untuk 

membentuk sel plasma (yang menghasilkan antibodi) dan sel memori 

 

B. TIMUS 

 

Timus dikenal oleh orang-orang Yunani kuno berasal dari kata Yunani thumos, yang 

mempunyai arti "kemarahan"  atau "hati, jiwa, hasrat, hidup", hal ini di dasarkan pada lokasi 

timus yang berada di dada, dimana pada dada dekat dengan emosi dirasakan secara subjektif. 

Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa kata timus berasal dari kata thyme yang 

berarti ramuan, yang menjadi nama untuk "kutil yang berkutil", mungkin sebab  kemiripannya 

dengan sekelompok thyme 

Orang pertama yang memperhatikan bahwa ukuran organ timus berubah sepanjang 

hidup seseorang sesuai dengan perkembangan usia yaitu  Glen. Pada abad ke-19 ditemukan 

suatu kondisi yang diidentifikasi sebagai status thymicolymphaticus yang didefinisikan sebagai 

peningkatan jaringan limpoid dan timus yang membesar, hal ini dianggap sebagai pemicu  

sindrom kematian bayi mendadak pada saat itu 

Pentingnya timus dalam sistem kekebalan ditemukan pada tahun 1961 oleh Jacques 

Miller, penelitian yang dilakukan dengan cara dilakukannya pembedahan mengeluarkan timus 

dari tikus berumur satu hari dan mengamati defisiensi yang terjadi, berikutnya pada populasi 

limfosit yang kemudian dinamai sel T. Baru-baru ini, kemajuan dalam imunologi telah mampu 

menjelaskan fungsi dari organ timus dalam pematangan sel-T menjadi lebih sepenuhnya 

dipahami sebagai pengembangan ilmu imunologi 

Timus merupakan organ limpoid primer khusus dari sistem kekebalan tubuh yang 

ada  pada mediastinum seperior anterior di depan jantung dan di belakang sternum, 

didepan pangkal pembuluh darah pada jantung yang terdiri atas 2 lobus dengan berat ± 30-40 

gram. Secara histologis, setiap lobus timus dapat dibagi menjadi medula sentral dan korteks 

perifer yang dikelilingi oleh kapsul luar. Korteks dan medula memainkan peran yang berbeda 

dalam perkembangan sel T. Sel-sel dalam timus dapat dibagi menjadi sel-sel stroma timus dan 

sel-sel yang berasal dari hematopoietik (berasal dari sel-sel induk hematopoietik penduduk 

sumsum tulang) 

 

Sel T berperan sangat penting dalam sistem kekebalan adaptif, di mana tubuh 

beradaptasi secara khusus dengan penjajah asing. Sel T yang berkembang disebut sebagai 

timosit dan berasal dari hematopoietik. Sel-sel stroma termasuk sel-sel epitel dari korteks 

timus dan medula, dan sel-sel dendritik. Timus menyediakan lingkungan induktif untuk 

perkembangan sel T dari sel progenitor hematopoietik. Selain itu, sel stroma timus 

memungkinkan untuk pemilihan repertoar sel T fungsional dan toleran. Oleh sebab  itu, salah 

satu peran paling penting dari timus yaitu  induksi toleransi pusat.  

Timus merupakan organ yang terbesar dan paling aktif selama periode neonatal dan pra-

remaja. Pada remaja awal, timus mulai mengalami atrofi dan stroma timus sebagian besar 

digantikan oleh jaringan adiposa (lemak). Namun demikian, sisa limfopoiesis T terus berlanjut 

sepanjang kehidupan dewasa. Timus bertambah besar sejak lahir sebagai respons terhadap 

stimulasi antigen pascanatal, kemudian pada masa pubertas dan mengalami kemunduran 

setelahnya. Kehilangan atau kekurangan timus memicu  defisiensi imun yang parah dan 

selanjutnya rentan terhadap infeksi suatu penyakit. 

Timus berfungsi sebagai tempat perkembangan limfosit menjadi limfosit T yang bersifat 

imunokompeten selain itu juga berfungsi dalam melepaskan limfosit T ke dalam peredaran 

darah untuk menuju ke jaringan limpoid sekunder. Limfosit ini akan mampu mengadakan 

reaksi imunologis humoral. Timus mengalami involusi fisiologis secara perlahan-lahan. 

Involusi fisiologis yang terjadi mencakup kejadian korteks menipis, produksi limfosit menurun 

sedang parenkim mengkerut diganti oleh jaringan lemak yang berasal dari jaringan pengikat 

interlobuler 

Jaringan parenkim Timus terdiri dari anyaman sel-sel retikuler yang saling berhubungan 

tanpa adanya jaringan pengikat lain, diantara sel retikuler ada  limfosit. Sel retikulernya 

berbentuk seperti didalam nodus lymphaticus dan lien, namun  berasal dari endoderm. 

Hubungan ini lebih jelas di daerah medulla sampai membentuk struktur epitel yang disebut 

corpuskulum hassalli (thymic corpuscle) (Louveau, 2015). Masing-masing lobus terdiri dari 

korteks dan medulla dengan karakteristik yang berbeda- beda, sebagai berikut. 

 

 

1. Korteks 

Korteks  kelenjar timus merupakan bagian luar yang disusun oleh limfosit dan sel epitel 

retikular yang akan berhubungan dengan bagian medulla. Korteks merupakan tempat awal 

terbentuknya Sel T. Limfosit dihasilkan di daerah korteks sehingga sebagian besar populasi sel 

di korteks yaitu  limfosit dari berbagai ukuran. Limfosit besar banyak ada  di bagian 

perifer dan makin kedalam jumlah limfosit kecil makin bertambah, sehingga korteks bagian 

dalam sangat padat oleh limfosit kecil. Dalam korteks terjadi proses proliferasi dan degenerasi, 

dan ada  makrofag yang walaupun sedikit merupakan penghuni tetap dalam korteks. 

Kadang-kadang juga ditemukan sedikit plasmasit dalam parenkim. 

 

 

2. Medulla 

Medulla merupakan tempat terbentuknya sel T lanjutan, sel epitel retikullar pada 

medulla bagian ini lebih kasar, juga sel limfositnya lebih sedikit. Pada bagian medulla juga 

ada  hassall’s corpus yaitu struktur yang menyerupai sarang yang merupakan tempat 

berkumpulnya sel epitel retikular. Pada medulla, banyak ada  sel retikuler dengan 

berbagai bentuk, kadang mempunyai tonjolan dan kadang tidak mempunyai tonjolan 

sitoplasma. Ada pula sel retikuler yang berbentuk gepeng dan tersusun konsentris 

membentuk corpusculum Hassali. Sel-selnya berhubungan sebagai desmosom. Bagian 

tengahnya mengalami degenerasi dan kadang-kadang kalsifikasi. Limfosit jumlahnya tidak 

begitu banyak dan hanya terdiri dari jenis bentuk yang kecil. Perbedaannya dengan limfosit 

korteks yaitu sebab  bentuk yang tidak teratur dengan sitoplasma yang lebih banyak. Dalam 

medulla ada  jenis sel lain dalam jumlah kecil seperti makrofag dan eosinophil 

Proses perkembangan timus berasal dari dua tonjolan epitel endoderm saccus 

brachialis III. Mula-mula penonjolan ini memiliki lumen yang berhubungan dengan faring, 

dengan adanya proliferasi epitel pada dinding, lumen akan terisi oleh sel-sel yang juga 

mengadakan invasi diantara sel-sel jaringan mesenkim di sekelilingnya. Pada umur enam 

minggu akan muncul limfosit yang makin lama akan semakin bertambah dan parenkim akan 

mengubah sel-sel stelat yang dihubungkan oleh desmosom. Medulla terjadi kemudian di 

daerah dalam. 

Sel induk yang  telah sampai ke timus akan berubah menjadi limfosit Timus dan mulai 

berproliferasi. Limfosit besar akan berproliferasi di korteks tepi memberikan limfosit kecil 

yang berkelompok di korteks sebelah dalam. Proliferasi di timus tidak dipengaruhi oleh 

antigen yang berbeda dengan di pengaruhi limfosit di organ limpoid perifer, dengan adanya 

blood timus barrier. 

Limfosit yang meninggalkan timus akan menuju organ limpoid perifer untuk bersama- 

sama berkumpul di daerah yang dibawah pengaruh timus (Timus depending regions) yaitu 

korteks bagian dalam nodus lymphaticus, selubung limpoid periarterial di lien, daerahnya 

berada diantara nodulus lymphaticus tonsilla, plaques Peyeri dan appendiks 

Proses pertahanan imun yang dilakukan oleh timus berawal dari dua lobus prekursor 

hematopoietik yang berasal dari sumsum tulang dan disebut sebagai timosit, yang matang 

menjadi sel T. Setelah matang sel T beremigrasi dari timus dan membentuk sel T perifer yang 

bertanggung jawab untuk mengarahkan banyak bagian sistem kekebalan adaptif dalam tubuh. 

Kehilangan timus pada usia dini melalui mutasi genetik (seperti pada DiGeorge Syndrome 

berupa penyakit kelainan genetik yang disebabkan oleh penghapusan sebagian kecil 

kromosom) menghasilkan defisiensi imun yang parah dan selanjutnya rentan terhadap 

paparan patogen yang memicu  infeksi. 

Setiap sel T menyerang zat tertentu yang berhasil diidentifikasi dengan reseptornya . Sel 

T memiliki reseptor yang dihasilkan oleh segmen gen pengocok acak. Setiap sel T menyerang 

antigen yang berbeda. Sel T yang menyerang protein tubuh sendiri dihilangkan dalam timus. 

Sel epitel timus mengekspresikan protein utama dari tempat lain di tubuh. Pertama sel T 

menjalani "Seleksi Positif", di mana sel bersentuhan dengan MHC diri, lalu diekspresikan oleh 

sel epitel timus yang selanjutnya  mereka tidak berinteraksi mati sebab  kurangnya sinyal 

stimulasi. Kedua, sel T mengalami "Seleksi Negatif" dengan berinteraksi dengan sel dendritik 

timus, di mana sel T dengan interaksi yang kuat dengan MHC diri dan / atau antigen sendiri 

mati oleh apoptosis terinduksi atau diinduksi menjadi sel T regulator, untuk menghindari 

autoimunitas. Mereka yang memiliki afinitas menengah bertahan. 

Stok limfosit T terbentuk pada awal kehidupan, sehingga fungsi timus berkurang pada 

orang dewasa. Efektifitas fungsi timus sebagian besar mengalami kemunduran pada orang 

dewasa lanjut usia dan hampir tidak dapat diidentifikasi sebab  pengaruh umur, yang sebagian 

besar terdiri dari jaringan lemak. Keterlibatan timus telah dikaitkan dengan hilangnya fungsi 

kekebalan pada orang tua, kerentanan terhadap kejadian infeksi dan kanker. 

Kemampuan sel T untuk mengenali antigen asing dimediasi oleh reseptor sel-T . reseptor 

sel-T mengalami penataan ulang genetik selama pematangan timosit, sehingga mapu 

menghasilkan setiap sel T yang mengandung reseptor sel-T yang unik, khusus untuk rangkaian 

peptida terbatas pada kombinasi MHC. Sifat acak dari penataan ulang genetik menghasilkan 

persyaratan mekanisme toleransi pusat untuk menghilangkan atau menonaktifkan sel-sel T 

yang mengandung reseptor sel-T dengan kemampuan untuk mengenali peptida-diri. 

Populasi langka sel progenitor hematopoietik memasuki timus dari darah, dan 

membesar dengan pembelahan sel untuk menghasilkan populasi besar timosit imatur. 

Masing-masing timus yang belum matang membuat reseptor sel-T yang berbeda dengan 

proses penyusunan ulang gen. Proses ini rawan kesalahan, dan beberapa thocytes gagal 

membuat reseptor sel-T yang fungsional, sedangkan thymocytes lain membuat reseptor sel T 

yang autoreaktif. 

Timosit yang belum matang menjalani proses seleksi, berdasarkan spesifisitas reseptor 

sel T mereka. Dalam hal ini melibatkan pemilihan sel T yang fungsional (seleksi positif), dan 

penghapusan sel T yang autoreaktif (seleksi negatif). Medula timus yaitu  tempat 

pematangan sel T. Sel-sel yang melewati kedua tingkat seleksi dilepaskan ke dalam aliran 

darah untuk melakukan fungsi-fungsi kekebalan vital. Timus juga mengeluarkan hormon dan 

sitokin yang bertujuan untuk mengatur pematangan sel-sel T, termasuk timin, timimietin, dan 

timin 

 

Limfosit sangat penting untuk perkembangan, sebab  erat kaitannya dengan adanya 

sejenis limfosit yang bertanggung jawab atas penolakan jaringan cangkok, delayed 

hypersensitvity, reaksi terhadap fungsi mikroorganisme dan virus tertentu. Limfosit T tidak 

melepaskan antibodi yang biasa namun  diperlukan untuk membantu reaksi humoral oleh 

limfosit B. Limfosit Timus baru bersifat imunokompeten jika  sudah berada di luar timus 


Tubuh kita setiap harinya selalu terancam oleh paparan patogen yang meliputi bakteri, 

virus, parasit, radiasi matahari, dan polusi. Pentingnya sistem imun sebagai pendeteksi adanya 

sel-sel abnormal, termutasi, atau keganasan yang berkerja dengan menghancurkannya. Tubuh 

manusia tersusun dari sistem limpoid yang melindungi tubuh dari paparan patogen. 

Berdasarkan organ pembentuknya maka sistem limpoid dibedakan menjadi 2 yaitu, organ 

limpoid primer dan organ limpoid sekunder. Organ limpoid primer atau sentral diperlukan 

untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang 

mengenal antigen. Sistem limpoid primer terlibat dalam produksi dan seleksi awal jaringan 

limfosit. Ada 2 organ yang menyokong pembentukan limfosit primer yaitu kelenjar timus dan 

sumsum tulang.  

Sumsum Tulang merupakan organ limpoid yang menjadi sel-sel induk pembentukan 

darah,  yaitu sel darah merah dan sel darah putih. Pembentukan sistem imun pada sumsum 

tulang manusia pada tulang besar. Dua fungsi utama sumsum tulang ialah fungsi pada sistem 

transportasi dan sistem pertahanan tubuh. Pada sistem transportasi sumsum tulang memiliki 

fungsi untuk menghasilkan sel darah merah. Sumsum tulang dapat menghasilkan 500 juta sel 

darah merah per hari. Pada sistem pertahanan tubuh, sumsung tulang berfungsi fungsi 

menghasilkan sel darah merah dan limfosit. Sumsum mengandung sel induk hematopoietik 

yang menimbulkan tiga kelas sel darah yang ditemukan dalam sirkulasi: sel darah putih 

(leukosit) bertugas untuk mendeteksi dan membasmi mikroorganisme asing seperi virus, 

bakteri, maupun parasit yang membawa penyakit atau pemicu  infeksi. Selain itu sel darah 

putih juga berperan dalam melindungi tubuh dari segala potensi serangan penyakit. Sel darah 

putih dibagi menjadi basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit dan monosit  Tes darah yang 

menunjukkan jumlah sel darah putih kurang dari 4.000 per mikroliter (beberapa ahli ada juga 

yang mengatakan bahwa batas minimalnya kurang dari 4.500) dapat menandakan bahwa 

tubuh tidak dapat melawan infeksi. Trombosit yaitu  komponen darah yang fungsinya 

bersama dengan faktor pembekuan darah untuk bereaksi terhadap perdarahan dari cedera 

pada pembuluh darah dengan mekanisme penggumpalan, sehingga memulai suatu gumpalan 

darah. Trombosit juga berpartisipasi dalam respons imun intravaskular bawaan dan adaptif. 

Konsentrasi trombosit yang rendah disebut trombositopenia, peningkatan konsentrasi 

trombosit disebut trombositosis, dimana nilai trombosit sehat yaitu  150.000 hingga 450.000 

per milimeter kubik (mm3 sama dengan mikroliter). Transfusi trombosit paling sering 

digunakan untuk memperbaiki jumlah trombosit yang sangat rendah. Sel darah merah atau 

eritrosit berperan membawa oksigen dan mengumpulkan karbon dioksida melalui 

penggunaan hemoglobin. Sel darah merah memiliki umur sekitar 100-120 hari,  berperan 

dalam sistem kekebalan tubuh. saat  sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen 

atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang 

akan menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya. Sel darah 

merah dapat diberikan sebagai bagian dari transfusi darah sebab  kekurangan eritrosit. Jenis 

darah (A, B, AB, atau O) atau produk darah diidentifikasi.  

Pada sumsum tulang membentuk limfosit B dan limfosit T, Pada sumsum tulang terjadi 

pematangan limfosit B, proliferasi dan diferensiasi dirangsang oleh sitokin. ada  juga sel 

lemak, fibroblas dan sel plasma.  

Timus merupakan organ limpoid primer khusus dari sistem kekebalan tubuh, terdiri atas 

2 lobus terdiri dari korteks dan medulla. Timus berfungsi sebagai tempat perkembangan 

limfosit menjadi limfosit T yang bersifat imunokompeten selain itu juga berfungsi dalam 

melepaskan limfosit T ke dalam peredaran darah untuk menuju ke jaringan limpoid sekunder. 

Limfosit ini akan mampu mengadakan reaksi imunologis humoral. Proses perkembangan 

timus berasal dari dua tonjolan epitel endoderm saccus brachialis III. adanya proliferasi epitel 

dindingnya, sel induk yang  telah sampai ke timus akan berubah menjadi limfosit Timus dan  

menuju organ limpoid perifer untuk berkumpul di daerah yang dibawah pengaruh timus.  

Proses pertahanan imun yang dilakukan oleh timus berawat dari dua lobus prekursor 

hematopoietik dari sumsum tulang disebut sebagai timosit, yang matang menjadi sel T. 

Setelah matang sel T beremigrasi dari timus dan membentuk sel T perifer yang bertanggung 

jawab untuk mengarahkan banyak bagian sistem kekebalan adaptif dalam tubuh. Setiap sel T 

menyerang zat tertentu yang diidentifikasi dengan reseptornya menyerang antigen. sel T yang 

fungsional (seleksi positif), dan penghapusan sel T yang autoreaktif (seleksi negatif). Medula 

timus yaitu  tempat pematangan sel T. Sel-sel yang melewati kedua tingkat seleksi dilepaskan 

ke dalam aliran darah untuk melakukan fungsi-fungsi kekebalan vital.Timus juga 

mengeluarkan hormon dan sitokin yang mengatur pematangan sel-sel T, termasuk timin, 

timimietin, dan timin. 

 


Limpoid Sekunder 

 

Setelah melalui proses pembentukan cell pada topik 1, maka akan dilanjutkan pada topik 

2 tentang lanjutan proses pertahanan tubuh yang dilakukan oleh organ sistem limfosit 

sekunder. Sistem limfosit sekunder yaitu  tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi 

fungsional limfosit terjadi dengan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen 

yang berbeda. Jaringan limpoid sekunder menyediakan lingkungan bagi molekul asing 

(antigen) asing atau yang diubah untuk berinteraksi dengan limfosit. Organ limfosit sekunder 

pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel limpoid dalam amandel, patch Peyer, 

limfa, kelenjar gondok, kulit, dll. Yang berhubungan dengan jaringan limpoid terkait mukosa 

(MALT). 

 

 

 

A. LIMFA 

 

Limfa merupakan salah satu organ limfosit seekunder yang ada pada tubuh, kata limfa 

berasal dari bahasa Yunani Kuno  (splḗn) sistem imun yang ada pada tubuh kita ada  organ 

limfa yang berperan penting dalam hal produksi sel darah merah (eritrosit) dan sistem 

kekebalan tubuh. 

Posisi limfa berada di bawah bagian kiri diafragma, dan memiliki permukaan cembung 

yang halus, menghadap diafragma, di bawah tulang iga kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas. 

Sisi lain dari limfa dibagi oleh punggungan menjadi dua daerah yaitu bagian lambung anterior, 

dan bagian ginjal posterior. Permukaan lambung diarahkan ke depan, ke atas, dan ke arah 

tengah, luas dan cekung, dan bersentuhan dengan dinding posterior lambung. Di bawah ini ia 

bersentuhan dengan ekor pankreas. Permukaan ginjal diarahkan medial ward dan down. Ini 

agak datar, jauh lebih sempit dari permukaan lambung, dan berhubungan dengan bagian atas 

permukaan anterior ginjal kiri dan kadang-kadang dengan kelenjar adrenalin kiri. 

Limfa berfungsi untuk menghilangkan sel darah merah tua dan menyimpan cadangan 

darah yang sangat diperlukan untuk persediaan jika  terjadi syok hemoragik, dan juga 

mendaur ulang zat besi. Sebagai bagian dari sistem fagosit mononuklear, limfa bertugas untuk 

melakukan memetabolisme hemoglobin yang dikeluarkan dari sel darah merah tua (eritrosit). 

Bagian globin dari hemoglobin terdegradasi menjadi asam amino konstitutifnya, dan bagian 

heme dimetabolisme menjadi bilirubin, yang dibuang di hati. Pada manusia limfa berwarna 

ungu dan berada di kuadran kiri atas perut. 


Limfa mensintesis antibodi dalam sel darah putih, menghilangkan bakteri yang dilapisi 

antibodi dan sel darah yang dilapisi antibodi dengan cara sirkulasi darah dan kelenjar getah 

bening. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2009 dengan memakai  tikus sebagai 

media percobaan berhasil menemukan bahwa pulpa merah limfa membentuk reservoir yang 

mengandung lebih dari setengah monosit tubuh. Monosit ini setelah pindah ke jaringan yang 

terluka (seperti jantung setelah infark miokard), berubah menjadi sel dendritik dan makrofag 

sambil mempromosikan penyembuhan jaringan. Limfa yaitu  pusat aktivitas sistem fagosit 

mononuklear dan analog dengan kelenjar getah bening besar, sebab  jika  tidak ada limfa 

memicu  meningkatnya kecenderungan kejadian infeksi suatu penyakit tertentu.  


Limfa memiliki sistem kapiler biasa, namun  darah langsung berhubungan dengan sel-sel 

limfa, darah dari limfa dikumpulkan oleh sebuah sinus yang bekerja sebagai vena dan yang 

mengantarkan darahnya ke dalam cabang-cabang vena 

Lien dibungkus oleh jaringan padat sebagai capsula yang melanjutkan diri sebagai 

trabecula. Capsula akan menebal di daerah hilus yang berhubungan dengan peritoneum. Dari 

capsula melanjutkan serabut retikuler halus ke tengah organ yang akan membentuk anyaman. 

Pada sediaan yang ada terlihat adanya daerah yang berbentuk bulat keabu-abuan sebesar 0,2-

0,7 mm, daerah ini  dinamakan pulpa alba yang tersebar pada daerah yang berwarna 

merah tua yang dinamakan pulpa ruba  

Pulpa alba sering disebut pula sebagai corpusculum malphigi terdiri atas jaringan 

limpoid difus dan noduler. Pulpa alba membentuk selubung limpoid periarterial (periarterial 

limpoid sheats/PALS) di sekitar arteri yang baru meninggalkan trabecula, selubung ini  

mengikuti arteri sampai bercabang-cabang menjadi kapiler. Sepanjang perjalanannya pada 

beberapa tempat selubung ini  mengandung germinal center. PALS dan germinal center 

merupakan jaringan limpoid, namun  PALS sebagian besar mengandung limfosit T dan germinal 

center mengandung limfosit B. Struktur PALS terdiri dari anyaman longgar serabut retkuler 

dan sel retikuler. Di tengah pulpa alba ada  arteri sentralis. dalam celah-celah anyaman 

ada  limfosit kecil dan sedang, kadang ditemukan plasmasit. Pada waktu adanya 

rangsangan antigen di daerah PALS banyak ada  limfosit besar, limfoblas dan plasmasit 

muda yang berjumlah banyak sekali. 

Pulpa rubra terdiri atas pembuluh-pembuluh darah besar yang tidak teratur sebagai 

sinus renosus dan jaringan yang mengisi diantaranya sebagai splendic cords of Billroth. Warna 

merah pulpa rubra disebabkan sebab  kandungan eritrosit yang mengisi sinus venosus dan 

jaringan diantaranya. 

 

Di dalam celah pulpa ada  sel-sel bebas seperti makrfag, semua jenis sel dalam 

darah dengan beberapa plasmasit. Dengan M.E. makrofag dapat dengan mudah ditemukan 

sebagai sel besar dengan sitoplasma yag kadang-kadang mengandung eritrosit, netrofil dan 

trombosit atau pigmen. Bagian tepi pulpa alba ada  daerah peralihan dengan pulpa rubra 

sebesar 80-100 mikron, daerah ini dinamakan zona marginalis yang mengandung sinus 

venosus kecil. Zona marginalis merupakan pulpa rubra yang menerima darah arterial sehingga 

merupakan tempat hubungan pertama antara sel-sel darah dan partikel dengan parenkim 

lien. 

Limfa merupakan bagian dari sistem imun tubuh berupa jaringan limpoid sekunder 

pulpa alba berfungsi dalam proses filtrasi suatu partikel, dimana partikel-partikel yang 

difagositosis makrofag dalam chorda lienalis dari pulpa rubra melakukan destruksi sel dengan 

eritrosit dan trombosit tua yang rusak dalam pulpa rubra, patogen, melakukan pengurangan 

lipid darah oleh makrofag dalam pulpa rubra.  

Primordium lien tampak pada embrio umur 8-9 minggu sebagai suatu penebalan 

jaringan mesenkim pada mesogastrium dorsalis. Sel-sel mesenkim memperbanyak diri dengan 

mitosis membentuk hubungan melalui tonjolannya sebagai rangka retikuler dalam pulpa alba 

dan pulpa rubra. Kemudian muncul sel primitif basofil yang berasal dari sel-sel induk dalam 

saccus vitelinus, hepar atau medulla oseum. 

Limfosit dalam lien sebagian besar berupa limfosit T, dan sebagian lainnya dari medulla 

oseum yang dibawah pengaruh Limfosit B. Makrofag dalam lien kemungkinan berasal dari sel 

induk dalam medulla osseum. jika  lien diangkat, maka fungsinya akan diambil alih oleh 

organ lain. jika  terjadi luka, akan terjadi kesembuhan dengan timbulnya jaringan pengikat 


 

B. TONSIL 

 

Tonsil atau yang lebih umum disebut dengan amandel, merupakan rangkaian jaringan 

limpoid sekunder yang ditutupi oleh membrana mucosa. Terletak di bagian kiri dan kanan 

pangkal tenggorokan. Tonsil mensekresikan kelenjar yang banyak mengandung limfosit, 

sehingga tonsil dapat berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada 

saluran pernapasan bagian atas dan faring. Lubang penghubung antara cavum oris dan faring 

disebut faucia. Di daerah ini membran mukosa tractus digestivus banyak mengandung 

kumpulan jaringan limpoid dan ada  infiltrasi kecil-kecil diseluruh bagian di daerah 

ini . Selain itu ditemukan juga organ limpoid dengan batas-batasan yang  nyata. 

Tonsil merupakan rangkaian dari organ limpoid yang membentuk suatu rangkaian 

(cincin Waldeyer) meliputi: 

Tonsila Lingualis yang tada  pada facies dorsalis radix linguae sebagai tonjolan-

tonjolan bulat. Pada permukaannya ada  lubang kecil yang melanjutkan diri sebagai celah 

invaginasi (crypta) yang dilapisi oleh epitel gepeng berlapis. Crypta ini  dikelilingi oleh 

jaringan limpoid. Sejumlah limfosit yang mengalami infiltrasi dalam epitel dan berkumpul 

dalam crypta yang kemudian mengalami degenerasi dan membentuk suatu kumpulan dengan 

sel epitel yang sudah terlepas bersama bakteri sebagai detritus. Kadang-kadang dalam crypta 

bermuara kelenjar mukosa. Dalam jaringan limpoid tampak adanya nodus lymphaticus. 

Tonsila Palatina berada diantara arcus glossoplatinus dan arcus pharyngopalatinus 

ada  dua buah jaringan limpoid dibawah membrane mukosa yang masing-masing disebut 

tonsilla palatine. Epitel bersama jaringan pengikat yang menutupi mengadakan invaginasi 

membentuk crypta sebanyak 10-20 buah. Pada dasar crypta, batas antara epitel dan jaringan 

limpoid kabur sebab  infiltrasi limfosit dalam epitel. Limfosit yang telah melintasi epitel 

bersama dengan leukosit dan sel epitel yang mati sebagai corpusculum salivarius. ada  

nodulus lymphaticus sebesar 1-2 mm dengan germinal centernya tersusun berderet dalam 

jaringan limpoid yang difus. Antara nodulus lymphaticus yang satu dengan yang lain 

dipisahkan oleh jaringan pengikat (capsula) yang mengandung limfosit, mast sell dan 

plasmasit. jika  ditemukan granulosit, hal ini menunjukkan adanya radang 

 

Tonsila Pharyngealis digambarkan berada pada atap dan dinding dorsal nasofaring, 

ada  kelompok jaringan limpoid yang ditutupi pula oleh epitel. Jenis epitelnya sama 

dengan epitel tractus respiratorius yaitu epitel semu yang berlapis bercillia dengan sel piala. 

Epitelnya tidak mengadakan invaginasi membentuk crypta namun  melipat-lipat. Pada puncak 

lipatan banyak infiltrasi limfosit, dibawah epitel ada  nodulus lymphaticus yang mengikuti 

lipatan-lipatan. Jaringan limpoid ini dipisahkan oleh capsula tipis jaringan pengikat dan diluar 

capsula yang ada  kelenjar-kelenjar campuran yang saluran keluarnya menembus jaringan 

limpoid dan bermuara didalam saluran lipatan epitel 

 

C. NODUS LYMPHATICUS 

 

Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang terletak berderet-deret sepanjang 

pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya berasal dari beberapa kumpulan yang mampu 

mengenal antigen yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara spesifik. Organ ini 

berbentuk seperti ginjal atau oval dengan ukuran 1-2,5 mm. Bagian yang melekuk ke dalam 

disebut hillus, berfungsi sebagai tempat keluar masuknya pembuluh darah. Pembuluh limfe 

aferen masuk melalui permukaan konveks dan pembuluh limfe eferen keluar melalui hillus. 

Nodus lymphaticus tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan 

abdomen dan daerah mediastinum. 

 

Nodus lymphaticus terdiri atas jaringan limpoid yang ditembusi anyaman pembuluh 

limfe khusus yang disebut sebagai sinus lymphaticus. Nodus lymphaticus dibungkus oleh 

jaringan pengikat sebagai kapsula yang menebal di daerah hillus dan beberapa jalur menjorok 

ke dalam sebagai trabekula. Parenkim diantara trabekula diperkuat oleh anyaman serabut 

retikuler yang berhubungan dengan sel retikuler. Diantara anyaman ini diisi oleh limfosit, 

plasmasit dan sel makrofag. Parenkim nodus lymphaticus terbagi atas korteks dan medulla, 

dengan perbedaan ada  pada jumlah, diameter dan susunan sinus (

 

Korteks terlihat sebagai kumpulan pada sel-sel limpoid yang dilalui oleh trabekula dan 

sinus corticalis. Pada korteks dibedakan berdasarkan daerah-daerah sebagai nodulus 

lymphaticus primarius, nodulus lymphaticus secondaris dan jaringan limpoid difus. Nodulus 

lymphaticus primer dan sekunder menmpati korteks bagian luar, sedang jaringan limpoid difus 

menempati korteks bagian dalam atau daerah paracortical.  

Sel retikuler terlihat memiliki inti yang jernih dengan sitoplasma mengandung granular 

endoplasmic retikulum dan diduga membuat serabut-serabut retikuler. Umumnya germinal 

center banyak ada  di daerah korteks. Daerah dekat sinus marginalis mengandung banyak 

limfosit kecil sebab  menerima limfosit yang baru datang dari pembuluh darah aferen. Pada 

bagian dalam korteks, sel-selnya yang tersusun lebih longgar dan terutama ada  limfosit 

kecil dan sel retikuler yang makin bertambah.  

Kumpulan jaringan limpoid yang tersusun di sekitar pembuluh darah disebut 

Medulla/Medulla Cord. Kumpulan jaringan limpoid ini membentuk suatu anyaman dan 

berakhir di daerah hillus. Pada medulla ini ada  banyak sekali anyaman serabut retikuler 

dan sel retikuler yang di dalamnya mengandung limfosit, plasmasit dan makrofag. Kadang 

ditemukan granulosit dan eritrosit. Jumlah unsur sel akan bertambah dalam keadaan sakit. 

 

 

Ruangan yang lebih kecil pada nodus limfa disebut nodulus. Nodulus terbagi menjadi 

ruangan yang lebih kecil lagi yang disebut sinus. Di dalam sinus ada  limfosit dan 

makrofag. Nodus limfa berfungsi untuk menyaring mikroorganisme yang ada di dalam limfa. 

 

 

Nodus lymphaticus dalam organ barier pertahanan tubuh berfungsi menerima cairan 

lymph, melakukan filtrasi, mensitimulasi sel dendrit untuk menjadi APC sehingga mampu 

untuk melakukan kontak dengan limfosit, sebagai respon imun tubuh dalam pembentukan 

antibodi, maturasi dan diferensiasi limfosit T dan B.  

 

 

Pada dinding pembuluh limfe tidak dijumpai adanya barier yang mencegah bahan-bahan 

antigenik, baik endogen maupun eksogen disebab kan dinding ini  tipis dan mudah 

ditembus oleh makromolekul dan sel-sel yang berkelana dari jaringan pengikat. Sel bakteri 

dapat dengan mudah melintasi epidermis dan epitel membrana mukosa yang membatasi 

ruangan dalam tubuh, yang jika  luput dari perngrusakan oleh fagosit dalam darah maka 

akan berproliferasi dan menghasilkan toksin yang mudah masuk dalam limfe.  

Nodus lymphaticus memiliki fungsi sebagai filtrasi terhadap limfe yang masuk sebab  

ada  pada sepanjang pembuluh limfe sehingga akan mencegah pengaruh yang merugikan 

dari bakteri ini . Fungsi imunologis nodus lymphaticus disebabkan adanya limfosit dan 

plasmasit dengan bantuan makrofag untuk mengenal antigen dan pembuangan antigen fase 

terakhir, yang juga merupakan tempat penyebaran sel-sel yang baru dilepas oleh timus atau 

sumsum tulang 

 

D. JARINGAN LIMPOID MUKOSAL (MALT) 

 

Permukaan jaringan limpoid mukosa yang mempunyai karakteristik tipis dan bertindak 

sebagai penghalang yang dapat ditembus ke bagian dalam tubuh sebab  fungsi fisiologisnya 

dalam penyerapan makanan. Sama halnya kerapuhan dan permeabilitasnya menciptakan 

kerentanan terhadap infeksi yang menyerang tubuh manusia. Pentingnya fungsi jaringan 

limpoid mukosa (MALT) dalam pertahanan tubuh bergantung pada populasi sel plasma besar  

yang merupakan produsen antibodi, dengan jumlahnya melebihi jumlah sel plasma dalam 

limfa, kelenjar getah bening dan gabungan sumsum tulang. 

Jaringan limpoid mukosa (MALT), juga disebut jaringan limfatik terkait mukosa, 

merupakan sistem difus dari konsentrasi kecil jaringan limpoid yang ditemukan di berbagai 

tempat membran submukosa tubuh seperti pada saluran pencernaan, kelenjar tiroid, paru-

paru, kelenjar liur, mata dan kulit. 

MALT sendiri merupakan pertahanan pertama dalam upaya melawan infeksi dengan 

sekresi berbagai protein oleh sel epitelial, sekaligus pertahanan adaptif oleh sebab  populasi 

jenis limfosit seperti sel T dan sel B yang teraktivasi oleh adresin, serta sel plasma dan 

makrofag, yang masing-masing berperan untuk menemukan antigen yang melewati epitel 

mukosa (Murphy, 2011). 

MALT terletak di tunika mukosa terutama lamina propria, traktus digestivus, 

respiratorius dan genitourinarius. Terdiri dari sel T terutama CD8, sel B dan APC. Pada traktus 

digestivus terdiri dari limfosit difus, limfonoduli soliter yang berkelompok (tonsila, plaque 

Peyeri). Sedangkan pada traktus respiratorius dan genitourinarius terdiri dari limfosit difus, 

limfonoduli soliter. Sistem imun mukosa pada jaringan limpoid mukosa merupakan suatu 

komponen terbesar sistem limpoid melebihi lien dan limfonodus. 


 

Jaringan limpoid terletak di sepanjang usus dan terkait usus memiliki luas sekitar 260-

300 m2. Berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan untuk penyerapan mukosa usus, 

ditutupi oleh monolayer sel epitel, memisahkan MALT dari usus lumen dan isinya. Sel-sel 

epitel ini ditutupi oleh lapisan glikokaliks pada permukaan luminal mereka untuk melindungi 

sel-sel dari pH yang terlalu asam. Sel epitel baru yang berasal dari sel punca secara konstan 

diproduksi di bagian bawah kelenjar usus, meregenerasi epitel (waktu pergantian sel epitel 

kurang dari satu minggu). Meskipun dalam crypt ini enterosit konvensional merupakan tipe 

sel yang dominan, sel Paneth juga dapat ditemukan. Terletak di bagian bawah crypts dan 

melepaskan sejumlah zat antibakteri, di antaranya lisozim yang dianggap terlibat dalam 

pengendalian suatu infeksi (Liang, 2012). 

Di bawah mereka, ada lapisan yang mendasari jaringan ikat longgar yang disebut sebagai 

lamina propria. Ada juga sirkulasi limfatik melalui jaringan yang terhubung ke kelenjar getah 

bening mesenterika. MALT dan kelenjar getah bening mesenterika yaitu  tempat di mana 

respons imun dimulai sebab  adanya sel-sel imun melalui sel epitel dan lamina propria. MALT 

juga termasuk patch Peyer dari usus kecil, folikel limpoid terisolasi hadir di seluruh usus dan 

lampiran pada manusia. Organ yang termasuk jaringan limpoid di usus, yaitu cincin tonsil 

waldeyer, tambalan peyer, agregat limpoid di usus buntu dan usus besar, jaringan limpoid 

menumpuk seiring bertambahnya usia di perut, agregat limpoid kecil di kerongkongan, dan 

sel limpoid dan sel plasma terdistribusi secara difus dalam lamina propria usus 

 

Saluran pencernaan merupakan komponen penting yang membutuhkan perlindungan 

dari sistem kekebalan tubuh pada manusia. Usus memiliki massa terbesar dari jaringan 

limpoid dalam tubuh manusia dimana MALT terdiri dari beberapa jenis jaringan limpoid yang 

menyimpan sel-sel kekebalan, seperti limfosit T dan B, yang melakukan serangan dan 

bertahan melawan patogen (

Sistem limpoid sekunder yaitu  tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi fungsional 

limfosit terjadi dengan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen yang 

berbeda. Organ limfosit sekunder pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel 

limpoid dalam amandel, patch Peyer, limfa, kelenjar gondok, kulit, dll. Yang berhubungan 

dengan jaringan limpoid terkait mukosa (MALT). 

Limfa merupakan salah satu organ limpoid sekunder berperan penting dalam hal 

produksi sel darah merah (eritrosit) dan sistem kekebalan tubuh. Limfa menghilangkan sel 

darah merah tua dan menyimpan cadangan darah yang sangat diperlukan untuk persediaan 

jika  terjadi syok hemoragik, dan juga mendaur ulang zat besi. Sebagai bagian dari sistem 

fagosit mononuklear, limfa memetabolisme hemoglobin yang dikeluarkan dari sel darah 

merah tua (eritrosit). Limfa mensintesis antibodi dalam sel darah putih, menghilangkan 

bakteri yang dilapisi antibodi dan sel darah yang dilapisi antibodi dengan cara sirkulasi darah 

dan kelenjar getah bening,  pusat aktivitas sistem fagosit mononuklear dan analog dengan 

kelenjar getah bening besar, sebab  jika  tidak ada limfa memicu  kecenderungan 

infeksi tertentu.  

Limfa memiliki sistem kapiler biasa, namun  darah langsung berhubungan dengan sel-sel 

limfa, darah dari limfa  dikumpulkan oleh sebuah sinus yang bekerja sebagai vena dan yang 

mengantarkan darahnya ke dalam cabang-cabang vena (Swirski, 2009). 

Lien dibungkus oleh jaringan padat sebagai capsula yang melanjutkan diri sebagai 

trabecula. Capsula akan menebal di daerah hilus yang berhubungan dengan peritoneum. Dari 

capsula melanjutkan serabut retikuler halus dan  pulpa ruba. 

Di dalam celah pulpa ada  sel-sel bebas seperti makrfag, semua jenis sel dalam 

darah dengan beberapa plasmasit. Dengan makrofag dengan mudah ditemukan sebagai sel 

besar dengan sitoplasma yag kadang-kadang mengandung eritrosit, netrofil dan trombosit 

atau pigmen. Bagian tepi pulpa alba ada  daerah peralihan dengan pulpa rubra sebesar 

80-100 mikron, daerah ini dinamakan zona marginalis yang mengandung sinus venosus kecil. 

Zona marginais merupakan pulpa rubra yang menerima darah arterial sehingga merupakan 

tempat hubungan pertama antara sel-sel darah dan partikel dengan parenkim lien. Pulpa alba 

berfungsi dalam proses filtrasi partikel partikel-partikel difagositosis makrofag dalam chorda 

lienalis dari pulpa rubra, melakukan destruksi sel dengan eritrosit dan trombosit tua dan rusak 

dalam pulpa rubra, patogen, melakukan pengurangan lipid darah oleh makrofag dalam pulpa 

rubra.  

Tonsil atau yang lebih umum disebut dengan amandel, merupakan rangkaian jaringan 

limpoid sekunder yang ditutupi oleh membrana mucosa. Terletak di bagian kiri dan kanan 

pangkal tenggorokan. Tonsil mensekresikan kelenjar yang banyak mengandung limfosit, 

sehingga tonsil dapat berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada 

saluran pernapasan bagian atas dan faring. Lubang penghubung antara cavum oris dan faring 

disebut faucia. Tonsil merupakan rangkaian dari organ limpoid yang membentuk suatu 

rangkaian (cincin Waldeyer), Tonsila Palatina, Tonsila Pharyngealis  

Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang terletak berderet-deret sepanjang 

pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya merupakan kumpulan yang mampu mengenal antigen 

yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara spesifik. Organ ini berbentuk seperti ginjal 

atau oval dengan ukuran 1-2,5 mm. Bagian yang melekuk ke dalam disebut hillus, yang 

merupakan tempat keluar masuknya pembuluh darah. Pembuluh limfe aferen masuk melalui 

permukaan konveks dan pembuluh limfe eferen keluar melalui hillus. Nodus lymphaticus 

tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan abdomen dan daerah 

mediastinum.  

Nodus lymphaticus terdiri atas jaringan limpoid yang ditembusi anyaman pembuluh 

limfe khusus yang disebut sinus lymphaticus. Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang 

terletak berderet-deret sepanjang pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya merupakan 

kumpulan yang mampu mengenal antigen yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara 

spesifik. Organ ini berbentuk seperti ginjal atau oval dengan ukuran 1-2,5 mmNodus 

lymphaticus tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan abdomen 

dan daerah mediastinum. Fungsi dari Nodus lymphaticus dalam organ barier pertahanan 

tubuh yaitu menerima cairan lymph, melakukan filtrasi, mensitimulasi sel dendrit untuk 

menjadi APC sehingga mampu untuk kontak dengan limfosit, sebagai respon imuntubuh 

dalam pembentukan antibodi, maturasi dan diferensiasi limfosit T dan B. 

Jaringan limpoid mukosa (MALT) juga disebut jaringan limfatik terkait mukosa, yaitu  

sistem difus dari konsentrasi kecil jaringan limpoid yang ditemukan di berbagai tempat 

membran submukosa tubuh seperti pada saluran pencernaan, kelenjar tiroid, paru-paru, 

kelenjar liur, mata dan kulit. MALT merupakan pertahanan pertama dalam upaya melawan 

infeksi dengan sekresi berbagai protein oleh sel epitelial, sekaligus pertahanan adaptif oleh 

sebab  populasi jenis limfosit seperti sel T dan sel B yang teraktivasi oleh adresin, serta sel 

plasma dan makrofag, yang masing-masing terletak untuk menemukan antigen yang melewati 

epitel mukosa. Terletak di tunika mukosa terutama lamina propria, traktus digestivus, 

respiratorius dangenitourinarius. Terdiri dari sel T terutama CD 8, sel B dan APC. Pada traktus 

digestivus terdiri dari limfosit difus, limfonoduli soliter dan berkelompok (tonsila, plaque 

peyeri). Sedangkan pada traktus respiratorius dan genitourinarius terdiri dari limfosit difus, 

limfonoduli soliter. Sistem imun mukosa pada jaringan limpoid mukosa merupakan komponen 

terbesar sistem limpoid melebihi lien dan limfonodus. 

 


 

Glosarium 

 

Adaptif  : Mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan. 

Adhesin : Protein pada dinding s