ostimulatori positif, namun juga ada banyak molekul
kostimulatori negatif . sesudah TCR
mengaktivasi sel T dengan antigen, selanjutnya reseptor sel T (TCR)
mengaktivasi program sel intrinsik yang memicu diferensiasi sel T
menjadi sel T efektor sitotoksik yang dapat membersihkan antigen. Namun
pembersihan antigen juga dapat berdampak pada ekspansi sel efektor sehingga
sebagian besar sel T efektor mati, kecuali sejumlah kecil sel T memori. Namun
saat sel T yang eksperiense terhadap antigen terpapar antigen secara kronis
maka dapat berdampak pada kelelahan sel T (disfungsi sel T). Disfungsi sel T
dapat terjadi pada sel T CD8+, ditandai dengan hilang fungsi efektor seperti
sitotoksisitas dan proliferasi pada sel ini (Zhang dkk., 2020).
Reseptor sel T (TCR) berinteraksi dengan APC yang berasal dari MHC I dan
MHC II, hal ini dipengaruhi oleh karateristik antigen patogen. MHC kelas II
dapat berinteraksi dengan sel T CD4 naif sehingga sel ini menjadi
teraktivasi. Sel yang telah teraktivasi selanjutnya melakukan pembelahan dan
diferensiasi, hasil dari mekanisme ini yaitu terbentuknya sel T efektor.
Sel T efektor berupa sel T helper 1 dan T helper 2 (Th-1 dan Th-2). Aktivasi
kedua sel T ini bermula dari peningkatan produksi sitokin yang berasal
dari sistem imunitas innate. Peningkatan produksi sitokin dapat memengaruhi
perkembangan sel T regulator (Treg). Sel ini berperan dalam kontrol
sistem kekebalan tubuh yang berlebihan atau kondisi imunopatologi lain.
Aktivasi sel T CD4 diperlukan untuk membantu aktivasi sel B dan
pembentukan generasi sel T sitotoksik (sel T CD8). Sel T CD4 dapat menjadi
sel T memori dan dapat bertahan dalam jangka panjang, sehingga fungsi
ini efektif terutama saat terjadi infeksi patogen (virus) secara berulang
(Swain, dkk., 2012). Sel T CD4 dan sel T CD8 yang teraktivasi masing –
masing dapat berikatan dengan MHC kelas I dan MHC kelas II, sesuai dengan
klon sel T. Aktivasi sel T naif menjadi sel T teraktivasi sinyal yang dikirim
oleh CD28, yang merupakan protein homodimer Ig Superfamili (IgSF) dan
molekul kostimulator prototipikal. Keterlibatan protein imunoglobulin dalam
sistem imunitas adaptif berkaitan dengan sistem imunitas humoral yang
diperankan oleh sel B sesudah terjadi aktivasi sel T dalam mekanisme sistem
imunitas adaptif
4.2.2 Mekanisme Aktivasi Sel B
Sel B terbentuk di sum-sum tulang belakang selanjutnya bermigrasi ke perifer,
seperti jaringan limpa. Selanjutnya sel B mengalami pematangan di jaringan
perifer. Sel B yang belum matang berdiferensiasi kemudian menjadi sel B
matang yang mengekspresikan imunoglobulin (Ig), seperti IgD dan IgM.
Selanjutnya sel B yang telah matang teraktivasi oleh antigen asing. Sel B yang
telah teraktivasi kemudian berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk
mensekresikan antibodi. Sel B dewasa di organ limfoid primer membutuhkan
dua sinyal. Sinyal pertama berasal dari antigent-coupled B cell receptors
(BCRs). Sinyal kedua bersumber dari sel TD (T cel-dependent) atau TI (T cell
independent). Antigen, seperti lipopolisakarida (LPS) dan glikolipid dapat
memicu sel plasma berumur pendek, yang memicu antibodi yang
dihasilkan memiliki afinitas rendah. respon TD diperantarai oleh pertemuan
antigen dan interaksi dengan folikular sel T helper (Tfh), sehingga
memicu sel B menghasilkan sel plasma berumur pendek atau segera
memasuki germinal center (GC) untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma atau
sel B memori dengan afinitas yang lebih tinggi terhadap antigen. Sel plasma
yang diturunkan dari GC bersirkulasi ke sum-sum tulang dan mengeluarkan
antibodi yang spesifik dengan antigen, dan menjadi sel plasma berumur
panjang sehingga dapat memberikan perlindungan jangka panjang terhadap
antigen spesifik (Tsai dkk., 2019). Pensinyalan yang dimediasi oleh BCR
dalam kondisi homeostatis tergantung pada ketersediaan antigen dan diatur
secara hati – hati oleh reseptor co-stimulator dan co-inhibitor. Co-inhibitor
membatasi pensinyalan BCR untuk mencegah sel B dari hiperaktivasi dan
mempertahankan homeostatis sel B. Aktivasi dan diferensiasi sel B juga
bergantung pensinyalan melalui pola pengenalan reseptor dan kemokin. Jalur
pensinyalan reseptor melalui BCR sedangkan kemokin melalui TLR (Toll-like
receptor). Kedua jalur pensinyalan ini dapat berinteraksi melalui molekul
pensinyalan bersama dan memicu aktivasi protein, salah satunya STAT
3. Aktivasi yang dimediasi TLR juga dapat secara cepat menginduksi
reorganisasi komplek IgM-BCR pada sel B. Beragam pensinyalan dari sel B
berkaitan dengan mekanisme sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi,
khususnya dalam sekresi antibodi yang spesifik terhadap antigen patogen
4.3 Respon Imun Spesifik terhadap
Infeksi
4.3.1 Agen pemicu Infeksi
Perkembangan penyakit pada vertebrata melibatkan interaksi sistem imunitas
non spesifik (bawaan/innate) dan spesifik (adaptif). Peristiwa penting selama
proses infeksi melibatkan interaksi yang kompleks antara patogen dan inang.
Proses infeksi melibatkan beberapa komponen, yaitu agen infeksius, invasi dan
kolonisasi jaringan. Pengendalian patogen menular memerlukan sistem imun
yang berbeda, hal ini tergantung pada jaringan inang yang direplikasi dan
ukurannya. Selama proses pengembangan kekebalan perlindungan inang,
sistem imunitas innate dan adaptif bekerjasama untuk menghilangkan agen
penginfeksi secara efisien. Fungsi utama respon imunitas adaptif terhadap agen
penginfeksi yaitu untuk pengenalan antigen ”nonself” yang spesifik sehingga
sehingga dapat membedakannya dengan ”self” antigen. Patogen spesifik dapat
dihilangkan melalui mekanisme efektor dan pengembangan dari sel memori
untuk pencegahan infeksi yang serupa.
Agen penginfeksi dapat berasal dari ekstraseluler, dan intraseluler
1. Agen penginfeksi ekstraseluler
Agen penginfeksi ekstraseluler dapat berreplikasi di luar sel inang.
Agen penginfeksi dapat berasal dari mikroorganisme patogen yang
berada di luar tubuh. Selanjutnya, agen ini dapat2 berreplikasi di
dalam sirkulasi, lumen saluran pernafasan, usus, dan permukaan
epitel. Selanjutnya sistem imunitas innate yang merupakan garis
pertahanan pertama, melalui mekanismenya, akan mengeliminasi
patogen secara efisien. Peningkatan produksi sitokin yang berasal
dari mekanisme sistem imunitas innate menstimulasi aktivasi
komponen yang terlibat dalam sistem imunitas adaptif (spesifik).
Produksi sitokin dapat memengaruhi aktivasi sel T. Aktivasi sel T
memicu pembentukan klon tertentu pada sel T, bergantung
pada karakteristik patogen ekstraseluler. Sel T naif yang ada
pada jaringan Timus akan teraktivasi menjadi sel T efektor (jenis
klon sesuai karakteristik patogen). Sel T berinteraksi dengan
komponen dari sistem imunitas non spesifik melalui TCR. TCR akan
berinteraksi secara langsung dengan APC dari MHC. Kemudian
aktivasi MHC dapat memengaruhi aktivasi sel B. Mekanisme aktivasi
sel B melibatkan sistem imunitas humoral. Pengenalan patogen yang
dimediasi antibodi mendorong aktivasi jalur komplemen. Sistem
komplemen merupakan bagian dari kekebalan yang efektif sebagai
respon terhadap patogen ekstraseluler. Sistem komplemen
bertanggungjawab dalam mekanisme efektor bawaan yang ditandai
dengan fagositosis, sel lisis, dan amplifikasi proses inflamasi.
2. Agen penginfeksi intraseluler
Respon imun terhadap patogen intraseluler meliputi serangkaian
mekanisme efektor berasal dari aktivitas seluler dan humoral inang
melawan mikroorganisme penyerang. Untuk melanjutkan
kehidupannya, patogen intraseluler harus menginvasi sel inang.
Proses ini memicu aktivasi beberapa reseptor. Aktivasi
reseptor bersumber dari produksi sitokin sebagai akibat adanya
proses infeksi. Pada saat terjadi infeksi awal, sistem imunitas innate
melalui mekanismenya mengaktivasi sistem imunitas adaptif
(spesifik). Namun, beberapa patogen dapat bertahan dalam
mekanisme fagositosis. Patogen yang ada dalam vesikular sel
dapat masuk ke dalam mekanisme berikutnya, termasuk presentase
antigen (APC) melalui molekul MHC kelas II. Selanjutnya terbentuk
komplek MHC II – Peptida. Komplek ini akan dikenali oleh sel
T CD 4. Fagosit yang terinfeksi patogen akan dihancurkan oleh sel T
CD4+, sebagai respon protektif terhadap patogen intraseluler.
Beberapa patogen yang mampu berreplikasi di dalam sitoplasma
seperti patogen yang berasal dari virus atau agen yang lolos dari
fagosom atau sebagai alternatif pencegahan fagolisosom akan
dikenali oleh sel T sitotoksik CD8+ (CTL). Mekanisme jalur
pengenalannya melalui molekul MHC kelas I. APC yang
dipresentasikan oleh MHC kelas I dikenal oleh CTL, selanjutnya
CTL melalui reseptornya berinteraksi dengan komplek MHC I-
peptida (patogen). Sel T CD 8+ yang teraktivasi memproduksi
perforin dan granzyme untuk menghancurkan agen penginfeksi.
4.3.2 Mekanisme Respon Imun Spesifik terhadap Infeksi
Respon imun terhadap patogen intraseluler meliputi serangkaian mekanisme
efektor yang berasal dari aktivitas seluler dan humoral inang melawan
mikroorganisme patogen. saat patogen menginvasi inang maka jaringan
yang terinfeksi akan merilis molekul DAMPs (Damage Associated Molecular
Patterns). Kemudian reseptor TLR teraktivasi, terjadi pengikatan nukleotida
sitosolik, dan NLRs (Ologimerization Domain (NOD) Like Receptor) pada
jaringan intraseluler akan menginduksi perakitan kompleks multiprotein yang
dikenal inflammasome. Reseptor ini dapat memicu produksi sitokin
pro inflamasi dan induksi apoptosis pada sel yang mengalami inflamasi
(Blander, dkk., 2014). Respon imunitas adaptif diperankan oleh sel T dengan
antigen spesifik, selanjutnya terjadi aktivasi dan proliferasi, proses ini
melibatkan APC, dan sel B yang berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk
menghasilkan antibodi (Marshall, dkk., 2018). Respon imunitas adaptif
berperan penting dalam membatasi inflamasi, memperbaiki kerusakan jaringan
sesudah infeksi dan mengembalikan homeostatis sistem imun inang melalui
sejumlah mekanisme. Apoptosis merupakan mekanisme yang diperlukan
dalam mengembalikan homeostatis sistem imun inang. Apoptosis pada sel T
dan peningkatan protein pro apoptosis berkontribusi dalam mekanisme
penekanan kekebalan pada saat infeksi kronis. Sel T CD4 dan sel T CD8 dapat
mengalami apoptosis saat terjadi infeksi. Protein caspase 3 merupakan
indikator mekanisme terjadinya apoptosis (Brady, dkk., 2020). Apoptosis
merupakan mekanisme kematian sel terprogram sesudah terjadi infeksi, dalam
mekanisme ini, membran sel tetap utuh. Proses ini disertai dengan aktivitas
fagositosis sel-sel yang mengalami apoptosis. Proses ini dimediasi
protease sistein dan caspase. Caspase (efektor, 3, 6, dan 7) dapat diaktifkan
oleh beberapa reseptor
Sel limfosit T saat terjadi infeksi mengekspresikan TCR dan koreseptor CD4
atau CD8. Selanjutnya terjadi interaksi reseptor dengan kompleks peptida-
MHC. Aktivasi limfosit memicu sel T berdiferensiasi menjadi banyak
subset, seperti sel T CD4+, seperti T-helper 1 (Th1), Th2, Th17, follicular
helper (Tfh), dan sel T regulator (Treg) (Tabel 4.1). Respons sel CD4+ Th1
memiliki peran protektif dalam infeksi bakteri karena produksi sitokin seperti
IFN-γ atau TNF-α, yang merekrut dan mengaktifkan sel imun bawaan, seperti
monosit dan granulosit. Pada mencit yang terinfeksi mikroorganisme, sel T
CD4+ dan CD8+ teraktivasi patogen, sebagai respon dalam pertahanan tubuh.
Populasi sel T CD4+ dan CD8+ pada mencit dipengaruhi oleh sumber infeksi
patogen. Perubahan populasi sel T memengaruhi produksi sitokin pro
inflamasi selama terjadi infeksi pada mencit. Peningkatan populasi sel limfosit
T yang disertai dengan stimulasi produksi sitokin dapat membatasi proliferasi
sel yang berasal dari penginfeksi. Dalam sistem imunitas adaptif, antibodi juga
berperan penting dalam melawan patogen melalui mekanisme yang ada
pada sistem imunitas humoral
Respon Imun Humoral
ada dua tipe respon imun adaptif, yaitu respon imun humoral dan respon
imun seluler. Kedua tipe respon imun ini dimediasi oleh sel dan molekul yang
berbeda, serta berperan dalam perlindungan melawan mikroorganisme seluler
yang berbeda, di mana respon imun humoral melawan mikroorganisme
ekstraseluler, sedangkan respon imun seluler berperan dalam melawan
mikroorganisme intraseluler
Respon imun humoral dimediasi oleh antibodi dan merupakan bagian dari
respon imun adaptif yang berfungsi untuk menetralisasi dan mengeliminasi
mikroorganisme ekstraseluler dan toksinnya. Respon imun humoral lebih
berperan dalam perlindungan melawan mikroorganisme yang memiliki
dinding sel dari polisakarida dan lipid dan toksin mikroorganisme ini
dibandingkan dengan respon imun seluler. Hal ini disebabkan karena pada
respon imun humoral, sel B limfosit memproduksi antibodi spesifik terhadap
banyak tipe protein, sedangkan sel T yang merupakan mediator pada respon
imun seluler hanya mampu mengenali dan merespon antigen protein. Antibodi
diproduksi oleh sel B limfosit dan turunannya. Sel limfosit B naif dapat
mengenal antigen namun belum mampu menyekresi antibodi melawan antigen
ini . Proses aktivasi sel-sel ini mampu menstimulasi diferensiasi
menjadi sel efektor yang dapat menyekresi antibodi. Pada bab ini, proses dan
mekanisme aktivasi sel limfosit B dan produksi antibodi akan dijelaskan lebih
detail
5.2 Sel Limfosit B
Sel limfosit B naif mengekspresikan dua tipe antibodi yaitu imunoglobulin G
dan imunoglobulin D yang berfungsi sebagai reseptor antigen. Sel B naif akan
diaktivasi oleh antigen dan sinyal lainnya. Proses aktivasi ini akan
menghasilkan proliferasi dari sel spesifik antigen dan berdiferensiasi menjadi
sel efektor yang secara aktif menyekresi antibodi. Antibodi yang tersekresi
memiliki spesifikasi yang sama dengan reseptor sel B naif yang dapat
mengenali antigen untuk menginisiasi respon imun. Pada proses diferensiasi,
beberapa sel B mulai dapat memproduksi beberapa antibodi dengan isotipe
yang memiliki panjang rantai yang berbeda, yang akan memediasi sel efektor
yang berbeda dan dapat melawan beberapa jenis mikroorganisme yang
berbeda
Gambar 5.1: tahap Respon Imun Humoral
Respon antibodi terhadap antigen diklasifikasikan berdasarkan kebutuhan
untuk bantuan sel T, yaitu T-dependent dan T-independent. Sel limfosit B akan
mendeteksi serta teraktivasi oleh berbagai jenis antigen, termasuk antigen yang
komposisnya tersusun atas protein, polisakarida, lipid, dan senyawa kimia
tertentu. Antigen protein akan berikatan dalam APC (antigen presenting cells)
yang kemudian dikenali oleh sel limfosit T-helper. Antigen memiliki peran
yang sangat penting dalam proses aktivasi sel limfosit B dan merupakan sel
penginduksi yang kuat dan pematangan afinitas. Tanpa bantuan sel T, antigen
protein akan memberikan respon antibodi yang lemah atau bahkan tidak
menghasilkan respon sama sekali. Oleh karena itu, antigen protein, dan respon
antibodi terhadap antigen ini, disebut "T-dependent". Antigen yang tersusun
atas polisakarida, lipid, dan antigen non-protein lainnya akan merangsang
produksi antibodi tanpa bantuan sel T helper, sehingga respon antibodi
terhadap antigen non-protein disebut "T-independent". Antibodi yang
dihasilkan sebagai respon terhadap antigen T-independent memperlihatkan
pematangan afinitas yang relatif lebih rendah
Respon antibodi terhadap paparan pertama dan selanjutnya terhadap antigen
berbeda secara kuantitatif dan kualitatif disebut ¬respon primer dan sekunder.
Kuantitas antibodi yang diproduksi pada respon primer lebih kecil daripada
jantibodi yang diproduksi pada respon sekunder. Respon sekunder antigen
protein juga menunjukkan peningkatan pematangan afinitas sebagai akibat
stimulasi berulang yang memicu peningkatan jumlah limfosit T helper.
5.3 Perubahan Sel B Limfosit oleh
Antigen
Respon imun humoral dimulai saat antigen dikenali oleh limfosit B spesifik-
antigen dalam folikel limfatik, kelenjar limfe, dan jaringan mukosa limfoid.
Beberapa antigen mikroorganisme yang masuk ke jaringan atau berada di
dalam darah akan diangkut ke sel B-limfosit. Limfosit B spesifik antigen
menggunakan reseptor imunoglobulin (Ig) yang terikat membran untuk
mengenali antigen dalam bentuk aslinya. Pengenalan antigen memicu jalur
pensinyalan yang memulai proses aktivasi sel limfosit B. Seperti sel limfosit T,
aktivasi sel B membutuhkan sinyal lain, yang sebagian besar dihasilkan selama
respon imun bawaan terhadap mikroorganisme
5.3.1 Respon Sinyal yang Diinduksi oleh Antigen pada Sel
B
Pengelompokan reseptor Ig pada membran yang diinduksi oleh antigen akan
memicu sinyal yang dimediasi oleh molekul pensinyalan yang terkait dengan
reseptor. Proses aktivasi limfosit B pada dasarnya mirip dengan aktivasi sel T.
Dalam sel limfosit B, reseptor Ig yang memediasi pensinyalan memerlukan
kombinasi dua atau lebih molekul reseptor. Tautan silang reseptor terjadi
saat dua atau lebih molekul antigen membentuk agregat atau epitop berulang
dari molekul antigen tunggal, yang kemudian berikatan dengan molekul Ig
yang berdekatan pada membran sel B. Antigen polisakarida, lipid, dan antigen
non-protein lainnya sering mengandung beberapa epitop identik pada setiap
molekul yang dapat berikatan dengan banyak reseptor Ig sel B secara
bersamaan.
Sinyal yang diinisiasi oleh ikatan silang reseptor antigen ditransduksi oleh
reseptor protein. Membran IgM dan IgD merupakan reseptor antigen dari sel
limfosit B naif dan merupakan protein dengan domain sitoplasma yang
pendek. Reseptor membran ini mengenali antigen tetapi dapat mentransduksi
sinyal secara mandiri. Reseptor melekat pada dua protein, yang disebut sebagai
Igα dan Igβ, yang akan membentuk kompleks reseptor sel B (B cell Receptor,
BCR). Domain sitoplasma Igα dan Igβ mengandung imunoreseptor berbasis
tirosin (ITAMs), yang ditemukan dalam subunit pensinyalan dari banyak
reseptor pengaktif lainnya dalam sistem kekebalan tubuh, misalnya protein
CD3 kompleks TCR (Janeway et al., 2001).
5.3.2 Peran Protein Komplemen pada Aktivasi Sel B
Limfosit B mengekspresikan reseptor untuk protein dari sistem komplemen
yang memberikan sinyal untuk proses aktivasi sel. Sistem komplemen
merupakan kumpulan protein plasma yang diaktifkan oleh mikroorganisme
dan antibodi yang melekat pada mikroorganisme ini . Fungsi dari sistem
komplemen yaitu sebagai mekanisme efektor pertahanan inang. saat sistem
komplemen diaktifkan oleh mikroorganisme, maka mikroorganisme ini
akan terselubungi oleh produk pemecahan protein komplemen yang paling
melimpah yaitu C3. Salah satu produk pemecahan ini yaitu fragmen yang
disebut C3d. Sel limfosit B mengekspresikan reseptor, yang disebut reseptor
komplemen tipe 2 (CR2, atau CD21), yang mengikat C3d. Sel B yang spesifik
untuk antigen mikroba mengenali antigen dengan reseptor Ig dan secara
bersamaan mengenali C3d yang terikat oleh reseptor CR2. Keterlibatan CR2
akan meningkatkan respon aktivasi sel B yang bergantung pada antigen.
Gambar 5.2: Aktivasi Sel B
Dengan demikian, protein komplemen memberikan sinyal kedua untuk
aktivasi sel limfosit B, yang berfungsi bersama dengan antigen untuk memulai
proses proliferasi dan diferensiasi sel limfosit B. Peran komplemen dalam
respon imun humoral memberikan yang diperlukan pada proses aktivasi
limfosit
5.3.3 Aktivasi Sel B yang Dimediasi Antigen
Proses di mana sel B diaktifkan oleh antigen akan memicu sel B mulai
berkembang biak dan berdiferensiasi, di mana hal ini berguna dalam
mempersiapkan interaksi antara limfosit B dan limfosit T-helper. Limfosit B
yang teraktivasi memasuki siklus sel dan mulai berproliferasi, memicu
peningkatan jumlah antigen spesifik. Sel juga dapat mulai mensintesis lebih
banyak IgM dan mengeluarkan beberapa IgM ini. Dengan demikian, stimulasi
antigen menginduksi tahap awal respon imun humoral. Respon itu paling kuat
terjadi saat antigennya multivalen, berikatan dengan beberapa reseptor
antigen, dan mengaktifkan komplemen dengan kuat. Semua ini umum
didapatkan pada antigen polisakarida dan antigen T-independen lainnya
Sebagian besar antigen protein tidak mengandung beberapa epitop identik,
mereka tidak dapat mengikat banyak reseptor sel B, sehingga respons stimulus
yang dihasilkan lemah. Proses stimulasi antigen menginduksi setidaknya tiga
perubahan lain pada limfosit B yang dapat meningkatkan kemampuan limfosit
B untuk berinteraksi dengan limfosit T helper. Sel B yang teraktivasi dapat
menghasilkan peningkatan ekspresi B7, memberikan sinyal lain dalam proses
aktivasi sel T. Sel B yang teraktivasi juga dapat mengurangi ekspresi reseptor
untuk kemokin, yang diproduksi di folikel limfatik dan yang fungsinya untuk
mempertahankan sel B di dalam folikel. Hal ini memicu sel B yang
teraktivasi bermigrasi dari folikel ke dalam kompartemen anatomi tempat sel T
pembantu terkonsentrasi.
5.4 Peran Sel T-helper pada Respon
Imun Humoral
Agar antigen protein dapat merangsang respon antibodi, sel limfosit B dan sel
limfosit T-helper harus bersatu dalam organ limfoid dan berinteraksi dengan
cara yang merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B. Proses ini terjadi
secara cepat karena antigen protein akan menimbulkan respon antibodi yang
sangat baik dalam waktu 3 hingga 7 hari sesudah paparan antigen. Sel T-helper
yang telah teraktivasi dan berdiferensiasi menjadi sel efektor berinteraksi
dengan antigen yang distimulasi oleh sel limfosit B. Sel limfosit T-helper CD4
naif dirangsang untuk berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel efektor
penghasil sitokin sebagai hasil dari mengenali antigen pada antigen-presenting
cells (APC) yang terletak di organ limfoid. Proses aktivasi awal sel T
membutuhkan pengenalan antigen dan stimulasi bantuan, sehingga proses
aktivasi sel T paling baik diinduksi oleh antigen mikroba dan antigen protein
yang diberikan dengan adjuvan untuk merangsang stimulasi bantuan pada
APC.
Antigen yang merangsang sel T-helper CD4+ berasal dari mikroba
ekstraseluler dan protein yang diproses dan ditampilkan terikat pada molekul
MHC kelas II dari APC. Sel T CD4+ yang mengenali antigen dapat
berdiferensiasi menjadi sel efektor yang mampu menghasilkan berbagai
sitokin. Sel T efektor yang terdiferensiasi mulai bermigrasi keluar dari tempat
tinggal normal mereka dan memasuki sirkulasi peredaran darah, menemukan
antigen mikroba di tempat yang jauh, dan membasmi mikroba dengan reaksi
imunitas selular. Sel T-helper terdiferensiasi lainnya akan bermigrasi ke tepi
folikel limfoid pada saat yang sama sel limfosit B yang dirangsang antigen di
dalam folikel mulai bermigrasi ke luar. Hal inilah yang memicu migrasi
sel B dan T didasarkan pada perubahan ekspresi reseptor kemokin tertentu
pada limfosit aktif dan produksi kemokin yang mengikat reseptor ini di folikel.
Sel B dan T akan saling bertemu di tepi folikel limfoid (Janeway et al., 2001).
Membran imunoglobulin sel B merupakan reseptor yang memiliki afinitas
tinggi sehingga memungkinkan sel B untuk mengikat antigen tertentu bahkan
saat konsentrasi antigen ekstraseluler sangat rendah. Selain itu, antigen yang
terikat oleh membran Ig akan diendositosis dan dikirim ke vesikel endosomal
intraseluler di mana protein diproses menjadi peptida yang mengikat molekul
MHC kelas II. Setiap sel B dapat mengikat epitop konformasi antigen protein,
menginternalisasi dan memproses protein, dan menampilkan beberapa peptida
protein itu untuk pengenalan sel T. Oleh karena itu, sel B dan sel T akan
mengenali epitop yang berbeda dari antigen protein yang sama.
Sel limfosit T-helper yang mengenali antigen akan mengaktifkan sel B dengan
cara mengekspresikan ligan CD40 (CD40L) dan mengeluarkan sitokin. Proses
aktivasi limfosit B yang dimediasi sel T-helper melalui proses aktivasi
makrofag yang dimediasi sel T dalam respon imun seluler. CD40L pada sel T-
helper yang diaktifkan akan berikatan dengan CD40 yang diekspresikan pada
limfosit B. Keterlibatan CD40 akan memberikan sinyal ke sel limfosit B
sehingga merangsang proliferasi (ekspansi klonal) dan sintesis serta sekresi
antibodi. Pada saat yang sama, sitokin yang diproduksi oleh sel T-helper akan
mengikat reseptor sitokin pada limfosit B dan merangsang lebih banyak
proliferasi sel B dan produksi imunoglobulin. Sinyal sel T helper juga
merangsang peralihan kelas rantai berat dan pematangan afinitas, yang
biasanya terlihat pada respons antibodi terhadap antigen protein T-dependent
5.5 Respon Antibodi terhadap Antigen
T-dependent
Polisakarida, lipid, dan antigen non-protein lainnya akan menimbulkan respon
antibodi tanpa bantuan sel T-helper. Antigen non-protein tidak dapat mengikat
molekul MHC, sehingga tidak dapat dikenali oleh sel T. Banyak bakteri yang
dinding selnya mengandung kapsul yang kaya polisakarida, sehingga
pertahanan terhadap bakteri ini dimediasi sebagian besar oleh antibodi yang
mengikat polisakarida kapsuler dan menargetkan bakteri untuk difagositosis.
Antigen polisakarida dan lipid sebagian besar mengandung struktur multivalen
dari epitop yang sama, sehingga antigen ini mampu berikatan dengan banyak
reseptor antigen pada sel B. Pengikatan ini dapat mengaktifkan sel B untuk
memediasi proses proliferasi dan diferensiasi tanpa bantuan dari sel T. Antigen
yang komposisinya dari protein biasanya memiliki struktur yang tidak
multivalen, sehingga tidak dapat menginduksi respon sel B secara mandiri
tetapi harus bergantung pada sel T-helper untuk merangsang produksi antibodi.
sesudah limfosit B berdiferensiasi menjadi sel penghasil antibodi dan sel
memori, sebagian kecil dari sel ini bertahan untuk waktu yang lama, tetapi
sebagian besar sel B yang teraktivasi akan dihilangkan melalui proses
apoptosis. Hilangnya sel B aktif secara bertahap ini akan berkontribusi pada
penurunan fisiologis dalam respon imun humoral. Sel B juga menggunakan
mekanisme khusus untuk menghentikan produksi antibodi. saat antibodi
IgG diproduksi dan beredar di dalam tubuh, antibodi akan mengikat antigen
yang masih ada dalam darah dan jaringan dan membentuk kompleks imun, di
mana sel B spesifik antigen dapat mengikat bagian antigenik kompleks imun
melalui reseptor Ig. Pada saat yang sama, reseptor Fc yang diekspresikan pada
sel dapat mengenali "ekor" Fc dari antibodi IgG yang menempel. Reseptor Fc
ini memberikan sinyal negatif yang mematikan sinyal yang diinduksi oleh
reseptor antigen, sehingga menghentikan respon sel B. Proses ini terjadi saat
antibodi berikatan dengan antigen, mencegah produksi antibodi lebih lanjut,
yang dikenal sebagai umpan balik antibodi. Ini berfungsi untuk menghentikan
respons imun humoral sesudah jumlah antibodi IgG yang cukup telah
diproduksi
Respon Imun Humoral 59
5.6 Antibodi pada Respon Imun
Humoral
Antibodi dapat berfungsi pada tempat yang jauh dari tempat produksinya.
Antibodi diproduksi sesudah stimulasi sel limfosit B oleh antigen pada organ
limfoid perifer (yaitu, kelenjar getah bening, limpa, dan jaringan limfoid
mukosa). Beberapa sel limfosit B yang dirangsang antigen akan berdiferensiasi
menjadi sel-sel yang dapat menyekresi antibodi, menyintesis dan
mengeluarkan antibodi dari isotipe yang berbeda. Antibodi akan memasuki
darah dan mencapai situs perifer terjadinya infeksi, kemudian menyekresi
mukosa sehingga mencegah infeksi mikroba yang mencoba masuk melalui
jaringan epitel. Dengan demikian, antibodi mampu melakukan fungsinya di
seluruh tubuh
Antibodi diproduksi selama respon pertama (primer) terhadap mikroba dan
dalam jumlah yang lebih besar selama respon berikutnya (sekunder. Produksi
antibodi dimulai dalam minggu pertama sesudah infeksi atau vaksinasi.
Beberapa sel plasma yang menyekresi antibodi bermigrasi ke sumsum tulang
dan hidup di jaringan ini, dan akan terus mengeluarkan antibodi dalam jumlah
kecil selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Jika mikroba kembali
mencoba menginfeksi inang, antibodi yang disekresikan terus menerus akan
memberikan perlindungan secara cepat. Beberapa sel limfosit B yang
dirangsang oleh antigen berdiferensiasi menjadi sel-sel memori, yang tidak
mengeluarkan antibodi tetapi menunggu serangan antigen berikutnya. Pada
serangan mikroba berikutnya, sel-sel memori ini dengan cepat berdiferensiasi
menjadi sel-sel penghasil antibodi, menghasilkan antibodi dalam jumlah besar
untuk membantu pertahanan yang lebih efektif terhadap infeksi. Tujuan
vaksinasi yaitu untuk merangsang perkembangan sel yang menyekresi
antibodi berumur panjang dan sel memori
Antibodi menggunakan daerah pengikatan antigen (Fab) untuk mengikat dan
memblokir efek berbahaya dari mikroba dan toksinnya, serta menggunakan
daerah Fc untuk mengaktifkan beragam mekanisme efektor yang berfungsi
mengeliminasi mikroba dan toksin. Antibodi memblokir efektivitas mikroba
dan efek merugikan dari toksin mikroba dengan cara mengikat mikroba dan
toksinnya menggunakan daerah Fab. Fungsi antibodi lainnya membutuhkan
bantuan komponen pertahanan sel inang, seperti fagosit dan sistem
komplemen. Pengikatan fagosit yang efektif dan komplemen antibodi terjadi
hanya sesudah beberapa molekul Ig mengenali dan menjadi melekat pada
mikroba atau antigen mikroba.
Pergantian isotipe dan ¬pematangan afinitas akan meningkatkan fungsi
perlindungan dari antibodi. Peralihan kelas dan pematangan afinitas yaitu dua
perubahan yang terjadi pada antibodi yang ¬dihasilkan oleh sel limfosit B yang
distimulasi antigen, terutama selama respons terhadap antigen protein
Peralihan isotipe memicu produksi antibodi yang berbeda dan mampu
melakukan perubahan fungsi efektor. Proses pematangan afinitas dipicu oleh
stimulasi antigen yang berkepanjangan atau berulang, sehingga memicu
produksi antibodi dengan afinitas yang lebih tinggi terhadap antigen.
Perubahan inilah akan meningkatkan kemampuan anti¬bodi untuk mengikat
dan menetralisir atau mengeliminasi mikroba, terutama jika mikroba ini
mampu menginfeksi secara berulang.
Respon Imun Seluler
Respon imun berperan penting untuk kelangsungan hidup manusia sebagai
pertahanan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia seringkali terpapar oleh
sumber infeksi sehingga dapat memicu berbagai jenis penyakit. Selain
sebagai pertahanan, respon imun juga dibutuhkan sebagai keseimbangan
(homeostatis) untuk mengeliminasi sel-sel tubuh yang rusak dan sebagai
pengawasan untuk mengenali dan menghancurkan sel-sel mutan terutama
yang dapat berkembang menjadi sel tumor. ada 2 jenis sistem imun di
dalam tubuh yakni sistem imun non-spesifik dan spesifik. Sistem imun non
spesifik secara alami ada di dalam tubuh sebelum terjadinya infeksi dan
mampu memberikan respon secara langsung sebagai pertahanan pertama,
sedangkan respon imun spesifik merupakan respon terhadap antigen tertentu
yang muncul sesudah terjadi proses infeksi. Sistem imun spesifik juga mampu
membentuk sel memori sehingga apabila terjadi infeksi dari patogen yang
sama maka respon imun yang dihasilkan akan lebih cepat dan adekuat.
Apabila antigen masuk ke dalam tubuh maka akan terjadi 2 macam respon
imun yaitu (1) respon imun humoral, terdiri dari sel-sel limfosit B yang
berperan dalam proses pembentukan antibodi; (2) respon imun seluler terdiri
dari sel-sel limfosit T yang mampu membedakan sel terinfeksi dan sel normal
6.2 Respon Imun Seluler
Pada umumnya antigen yang dapat menstimulasi respon imun seluler yaitu
antigen yang menginfeksi sel tubuh secara intraseluler yang berasal dari
mikroba, virus, jamur, parasit dan sel ganas. Imun seluler sendiri diperankan
oleh sel limfosit T (sel T) yakni sel-sel yang berasal dari sum-sum tulang yang
telah mengalami maturasi di kelenjar timus sehingga memiliki kemampuan
dapat membedakan bahan asing (non-self) dan bukan asing (self). Sel T yang
telah dewasa berada di kelenjar getah bening dan berfungsi sebagai bagian dari
pengawasan sistem imun tubuh. Dalam hal ini, sel T bertanggung jawab
sebagai respon imun adaptif yang bersifat spesifik terhadap antigen tertentu
dan lebih efektif melawan infeksi karena memiliki sel memori. Sel
T naif yang yang terpajan dengan kompleks antigen MHC dan dipresentasikan
oleh antigen presenting cell (APC) atau rangsangan sitokin spesifik yang
selanjutnya akan berkembang menjadi subset sel T berupa CD4+ dan CD8+
dengan fungsi efektor yang berlainan.
Dibandingkan respon imun humoral, mekanisme respon imun seluler lebih
kompleks, di mana setiap sel T hanya dapat berinteraksi secara spesifik dengan
satu jenis antigen yang ada pada permukaan sel APC dengan molekul
Major Histocompatibility Complex (MHC) yakni makrofag, sel dendritik, sel
langerhans, sel kuppffer dan sel mikroglia. Proses respon imun seluler diawali
pada saat APC menangkap fragmen antigen tertentu dan berikatan dengan
molekul MHC sehingga dapat dikenali oleh Sel-T. Kemampuan sel T untuk
mengenali antigen karena adanya kompleks protein yang ada pada
permukaan sel T yang disebut sel T-reseptor (TCR). Sel ini menjadi aktif
sesudah pengenalan antigen oleh TCR. ada beberapa tipe sel T di
antaranya sel T-helper (Th), sel T-cytotoxic (Tc) dan sel T-Suppressor (Ts).
6.2.1 Sel T-helper (Th)
Sel T-helper (Th) atau disebut juga sebagai sel T penolong memiliki penanda
berupa protein CD4+. Sel Th ini diaktivasi oleh antigen tertentu sehingga dapat
mengaktifkan sel-sel imun lainnya. Dalam regulasi respon imun, proses
pengaktifan limfosit lainnya dari sistem imun oleh sel Th diperlukan 2 sinyal,
di antaranya sinyal yang berasal dari ikatan reseptor antigen pada permukaan
sel T dengan kompleks antigen MHC kelas II pada sel APC dan sinyal yang
berasal dari IL-1 yang dihasilkan oleh sel APC. Kedua sinyal ini akan
meningkatkan ekspresi limfokin seperti interferon untuk membantu makrofag
menghancurkan mikroorganisme asing; dan IL-2 yang berfungsi sebagai
faktor pertumbuhan autokrin, memacu proliferasi dan diferensiasi sel T-
cytotoxic (CD8+). Sel Th berproliferasi dan berdeferensiasi menjadi Th1 dan
Th2. Proses ini dipacu oleh sitokin IL-12 dan IFN-γ sebagai respon
terhadap mikrorganisme untuk mengaktifkan sel dendritik, makrofag dan sel
Natural Killer (NK). Proses diferensiasi Th1 melibatkan beberapa reseptor di
antaranya sel T, IL-2 dan faktor transkripsi (T-bet dan STAT1). Reseptor IL-
12 yang dihasilkan oleh makrofag dan sel dendritik melalui jalur STAT1
dependen untuk menginduksi perkembangan Th1, sedangkan reseptor T-bet
sebagai respon terhadap IFN-γ dapat meningkatkan respon Th1 terhadap
antigen. Sel Th1 dapat menghasilkan sitokin spesifik untuk mengaktifkan sel-
sel yang berhubungan dengan respon imun seluler di antaranya sel makrofag,
sel CD8 dan NK. Oleh karena itu, sel Th1 memiliki fungsi sebagai pertahanan
untuk melawan infeksi terutama oleh mikroba intraseluler yang terjadi melalui
aktivasi makrofag, sel B dan sel neutrofil. Mekanisme fungsi dari sel Th1
dapat dilihat pada Gambar 6.1.
Gambar 6.1: Fungsi Sel Th1 (Abbas, 2007)
Berbeda dengan Th1, proses diferensiasi Th2 melibatkan reseptor sel T, IL-4
dan faktor transkripsi (GATA3 dan STAT6). Proses ini muncul sebagai
64 Imunologi Dasar
respon terhadap alergi dan parasit. Dalam hal ini adanya IL-4 mampu
menstimulasi produksi IgE yang berfungsi untuk opsonisasi parasit dalam
meningkatkan efisiensi fagositosis. Sel Th2 mampu menghasilkan sitokin
lainnya seperti IL-13 dan IL-10 yang bersifat antagonis terhadap IFN-γ dengan
menekan aktivasi makrofag. Oleh karena itu Th2 juga berfungsi sebagai
regulator fisiologis pada respon imun melalui penghambatan terhadap efek
yang dapat membahayakan respon Th1. Pertumbuhan yang tidak terkontrol
dari Th2 berkaitan dengan berkurangnya imunitas seluler terhadap infeksi
mikroba intraseluler. Pada kondisi lain seperti infeksi cacing parasit, sitokin IL-
4 yang dihasilkan oleh sel mast juga terlibat dalam perkembangan Th2 Mekanisme fungsi dari sel Th2 dapat dilihat pada Gambar
6.2.
6.2.2 Sel T-cytotoxic (Tc)
Sel T-cytotoxic merupakan sel efektor dengan penanda CD8⁺ yang aktif dalam
proses pengenalan antigen spesifik. Sel Tc mampu membunuh sel target
dengan cara melepaskan granula sitotoksik ke dalam sel target. ada
beberapa cara sel T sitotoksik menghancurkan sel terinfeksi yaitu dengan
menggunakan beberapa enzim di antaranya perforin bersifat merusak sel,
granzime yang menginduksi apoptosis sel dan ranulisin bersifat merobek
membran sel dan menghancurkan sel. Dalam prosesnya akan terjadi kontak
secara langsung antara sel Tc dan antigen mikroba intraseluler. Sebagai contoh
pada sel yang diinfeksi oleh virus, di mana sel Tc melalui molekul MHC akan
mengikat fragmen antigen virus untuk membentuk molekul kompleks MHC-
Fragmen antigen virus melalui reseptor yang ada pada permukaan sel,
kemudian melepaskan limfokin dan enzim perforin sehingga memicu
terjadinya lesi pada membran sel yang terinfeksi dan pada akhirnya mengalami
lisis dan apoptosis (Gambar 6.3). Selain sel mikroba intraseluler, sel Tc juga
dapat mengancurkan sel yang tumbuh tidak terkendali seperti sel tumor atau
sel kanker melalui pelepasan sitotoksi dan perforin.
Gambar 6.3: Mekanisme Kerja Sel T-Sitotoksik
6.2.3 Sel T-Suppressor (Ts)
Sel T-suppressor atau disebut juga sebagai sel T-regulator memiliki fungsi
menurunkan respon imun jika proses infeksi berhasil diatasi, namun tidak
memiliki efek sitotoksik. Dalam kerjanya, sel T-regulator mampu
mengeliminasi mikroba asing dan mencegah terjadinya respon autoimun. Hal
ini dapat ditunjukkan pada pasien tiroid autoimun memiliki kadar sel T-
regulator lebih rendah dibandingkan normalnya. Pada umumnya sel T-
regulator akan mengalami penurunan sesuai pertambahan usia, di mana sel ini
akan mengalami maturasi di organ timus lalu masuk ke dalam sirkulasi darah,
jaringan limfoid dan limfoid mukosa dengan kadar 10-30% dari keseluruhan
sel T pada awal kehidupan. Selanjutnya akan mengalami penurunan pada usia
anak-anak dan menjadi 1-8% pada usia dewasa.
Sel T-regulator memiliki penanda pada permukan sel meliputi CD25, CTLA-
4, GITR, OX4 dan L-selektin (CD62L), sehingga mampu mengekspresikan
faktor transkripsi Foxp3 sebagai faktor perkembangan sel T-regulator. sesudah
proses maturasi di organ timus (professional regulatory T cell) kemudian
terbentuk sel T-regulator periferal (induced regulatory T cells) yang memiliki
kemampuan dapat mengenali antigen dengan cara mengikat fragmen protein
asing melalui reseptor di permukaan sel. Fragmen protein ini yaitu yaitu
T-cell receptor (TCR) melalui mekanisme kontak antar sel untuk memberikan
sinyal yang dapat mengaktifkan sel T-regulator, sehingga akan mempengaruhi
sel T-regulator mengekspresikan molekul pada permukaan selnya dan
memberikan respon penekanan. Mekanisme kerja sel T-regulator: (1) Sel T-
regulator melakukan penekanan terhadap sel efektor dengan cara mencegah
sekresi IL-2 dan menghambat proliferasi sel target melalui kontak antar sel
tanpa intervensi APC; (2) Sel T-regulator mencegah sekresi IL-2 oleh efektor
dengan intervensi sel dendritik; (3) Sel dendritik yang telah berinteraksi
dengan sel T-regulator memiliki daya penekanan terhadap sel efektor sebagai
tolerogenik (Gambar 6.4).
Gambar 6.4: Mekanisme Kerja sel T-regulator
6.3 Sitokin
Sitokin merupakan polipeptida yang dapat muncul sebagai respon terhadap
antigen tertentu sebagai aksi imunologik dan reaksi inflamasi. Sitokin yang
terlibat dalam sistem imun non spesifik dan spesifik dihasilkan dari berbagai
sel dan bekerja pada sel atau antigen target yang berbeda-beda. Sitokin yang
dihasilkan oleh sel makrofag dan sel NK berperan pada proses inflamasi,
diferensiasi, proliferasi dan aktivasi sel makrofag. Jenis Sitokin yang bekerja
pada imun non-spesifik di antaranya TNF, IL-1, IL-6, IL-10, IL-12, IFN tipe I,
IL-15, IL-18, dan IL-33, sedangkan sitokin yang bekerja pada imun spesifik di
antaranya IL-2, IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, IL-16, IL-17, IL-23, IL-25, IL-31,
IFN-γ, TGF-β dan limfotoksin.
Interferon gamma (IFNγ) merupakan salah satu jenis sitokin jenis interferon
tipe II yang diproduksi oleh sel Th1 dan sel NK dan merupakan sitokin utama
makrofag activating cytokine (MAC). Sitokin ini berperan sebagai
aktivator utama makrofag untuk melawan mikrorganisme intraseluler. INF-γ
juga dapat merangsang ekspresi MHC-I, MHC-II dan APC, meningkatkan
diferensiasi sel CD4+ naif kesubset Th1, mencegah proliferasi Th2. INF-γ
dapat merangsang pembentukan sel B untuk meningkatkan class switching
dengan menghasilkan IgG2a dan IgG3 serta menghambat class switching yang
menghasilkan IgG1 dan IgGE. Pada kasus infeksi virus, INF-γ berfungsi
mengaktifkan gen yang menginduksi sel untuk memproduksi protein anti virus
penghambat proses translasi virus.
Interleukin-4 merupakan sitokin anti inflamasi yang menstimulasi respon imun
humoral untuk melawan patogen ekstraseluler. Sumber utama IL-4 yaitu sel
T CD4+ dan Th2. Produksi IL-4 dianggap sebagai kriteria untuk
mengklasifikasikan sel T dalam golongan sel Th2. IL-4 berfungsi sebagai
faktor pertumbuhan autokrin bagi sel Th2. IL-4 merangsang sel B
meningkatkan produksi IgG dan IgE dan meningkatkan ekspresi MHC-II dan
merangsang isotipe sel B dalam pengalihan IgE. IgE berperan pada reaksi
alergi, oleh karena itu reaksi alergi akan timbul apabila IL-4 diproduksi
berlebihan. Aktivitas IL-4 tidak terbatas pada sel B, tetapi juga pada sel T,
makrofag, granulosit, mastosit, prekursor eritrosit dan megakariosit. IL-4
merupakan sitokin petanda sel Th2, yang merupakan stimulus utama
perkembangan Th2 dari sel CD4+ naif. IL-4 dapat berfungsi sebagai faktor
pertumbuhan sel T dan menginduksi sel T untuk mengekspresikan reseptor IL-
2 dan memproduksi IL-2. Tetapi dapat juga bersifat antagonis bagi IL-2 pada
beberapa jenis sel lain. Reseptor IL-4 dapat dideteksi pada permukaan sel
hemopoetik, fibroblast, sel epitel, otot, neuroblast, dan sel stroma. IL-4
mempunyai efek inhibisi terhadap sitokin proinflamasi melalui supresi IL-1,
TNF-α, IL-6, IL-8, dan MIP-1α. IL-4 mencegah aktivasi makrofag yang
diinduksi oleh IFN-γ, sehingga IL-4 mempunyai efek yang berlawanan dengan
IFN-γ.
6.4 Interaksi Imun Seluler dan Humoral
Meskipun antara imun seluler dan imun humoral memberikan respon yang
berbeda, namun keduanya saling bekerjasama dalam mengatasi serangan
bahan asing yang masuk ke dalam tubuh. Imun seluler bertanggungjawab
memberikan respon terhadap mikroba intraseluler, sedangkan imun humoral
memberikan respon terhadap antigen ekstraseluler dalam sistem sirkulasi
darah. Dalam hal ini sel helper (Th) pada imun seluler yang mampu
mensekresikan sitokin IL-2 untuk menstimulasi pembentukan sel B pada imun
humoral. Sel B selanjutnya dapat berdeferensiasi dan berproliferasi menjadi
antibodi spesifik terhadap antigen tertentu. Interaksi antara imun seluler dan
humoral disebut juga dengan Antibody Dependent Cell Mediated Cytotoxicity
(ADCC), karena proses lisis sel (sitolisis) akan terjadi jika sudah terbentuk
antibodi. ADCC berperan dalam proses eliminasi antigen melalui sel natural
killer (NK) yang memiliki reseptor terhadap fragmen Fc antibodi, sehingga
dapat melekat erat pada sel atau antigen target yang kemudian oleh sel NK
akan dihancurkan melalui aktivitas sitolisis, terutama terhadap sel target yang
terlalu besar untuk difagositosis seperti sel tumor atau sel yang terinfeksi oleh
virus. Dalam proses aktivasi sel NK tidak memerlukan adanya paparan antigen
sebelumnya, secara otomatis sel NK dapat mensekresikan IL-1 untuk
melisiskan sel target lebih banyak. Begitupula dengan adanya IL-3 yang
disekresikan oleh sel T dapat merangsang sel NK mensekresikan interferon
untuk membantu dalam aktivitas sitolisis. Sel NK mampu mengenali molekul
MHC-I yang diekspresikan baik oleh sel sehat maupun sel terinfeksi. Sel NK
sendiri merupakan efektor respon imun yang penting. Sel NK juga mampu
mengenali sel yang terinfeksi meskipun tidak mengekspresikan MHC-I. Hal
ini dikarenakan Sel NK memiliki reseptor aktivasi yang dapat menghancurkan
sel yang terinfeksi secara langsung melalui ADCC.
Gambar 6.5: Koordinasi antara Imun Seluler dan Humoral (Radji, 2015)
Sitokin IL-2 juga dapat meningkatkan aktivitas sel-sel makrofag dalam proses
fagositosis. Dalam hal ini, makrofag merupakan sel efektor yang juga berperan
penting dalam respon imun. Aktivitas makrofag dipengaruhi oleh
makcrophage activating factor (MAF), interferon, IL-3 yang disekresikan oleh
sel-T. Makrofag memiliki fungsi yaitu (1) Menghancurkan antigen, di mana
sel makrofag mampu menghancurkan antigen di dalam fagolisosom serta
mensekresikan enzim dan isi granula ke luar sel; (2) Menyajikan antigen
Bab 6 Respon Imun Seluler 69
kepada sel limfosit T sebagai Antigen Presenting Cell (APC) untuk
menimbulkan interaksi dengan sel-sel imun lainnya. Koordinasi antara imun
seluler dan humoral lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 6.5.
Sel Imuno
Kombinasi dari sel sel imun DAN jaringan tubuh yang terlibat melawan
infeksi yaitu sistem kekebalan. Mekanisme aksi bahan ini yang
terkoordinasi melawan mikroba disebut respons imun. Tubuh membutuhkan
sistem kekebalan untuk mempertahankan integritasnya terhadap penyakit yang
dapat disebabkan oleh zat-zat di lingkungan
7.2 Sistem imun humoral
Sel imun dalam peredaran darah berperan dalam kekebalan humoral.
Kekebalan ini melibatkan pertahanan awal berupa pelepasan sistem
komplemen, kemokin dan protein C-Reactif (CRP) dan pertahanan spesifik
seperti diferensiasi dan produksi antibodi. Sistem Komplemen yaitu suatu
bahan dari regulasi imun yang ada di peredaran darah dalam keadaan non aktif
menjadi aktif saat ada antigen yang menginfeksi tubuh
7.2.1 Komplemen
Komplemen yaitu molekul dari sistem kekebalan yang ada dalam peredaran
darah dalam bentuk non aktif tetapi dapat diaktifkan saat ada infeksi dari
antigen spesifik maupun non spesifik. Berbagai jenis antibodi seperti IgG,
IgM, dan IgA dapat merangsang aktivasi komplemen. Komponen seperti C3b
dan C4b bersifat mengopsonisasi antigen kemudian fagosit diaktivasi untuk
menelan dan kemudian melisiskan sel yang mengelimasi zat-zat penginfeksi
7.2.2 Sitokin
Sitokin yaitu protein yang diproduksi oleh sel dan berperan sebagai sinyal
mengontrol respon sistem kekebalan tubuh. Sitokin ini utamanya diproduksi
oleh makrofag dan juga diproduksi oleh limfosit. Sitokin atau kemokin terdiri
dari beberapa jenis seperti Interferon, Interleukin, dan Tumor Necrosis Factor
(TNF) (Kalliolias dan Ivashkiv, 2016). Sebagai contoh, interferon (IFN) yaitu
glikoprotein yang dihasilkan oleh leukosit atau sel lainnya yang memiliki inti
yang berperan menginhibisi penggandaan jumlah virus dengan merangsang
produksi enzim antivirus host.
Menurut jenis sel yang menghasilkan IFN, maka dibedakan menjadi dua yaitu:
Interferon tipe I seperti IFN alfa (IFNα) yang diproduksi oleh leukosit. Pada
manusia, IFN tipe q mengandung kode protein sekurang kurangnya subtype 13
IFN seperti IFN-α1,-α2,-α4,-α5,-α6,-α7,-α8,-α10,-α13,-α14,-α16,-α17 and-
α21 dan IFN beta (IFNβ) dihasilkan oleh fibroblast. Interferon tipe II yaitu
IFN gamma (IFNγ) dihasilkan oleh limfosit. IFN juga merangsang aktivitas
dan kapasitas makrofag dalam melisiskan dan mengeliminasi antigen dengan
menginisiasi pembentukan serta produksi enzim proteolitik (Mitoma, dkk.
2018). Interleukin (IL) yaitu sitokin yang diproduksi oleh limposit dan
monosit dan memiliki berbagai variasi dan perannya dalam regulasi sistem
imun, termasuk IL-1, IL-2, IL-4, IL-6, IL-10, IL-12, IL-13, IL-14, IL-17, IL-
21, dan IL-22 (Ming Wu, et al., 2014). Tumor necrosis factor (TNF) yaitu
polipeptida yang diproduksi oleh sel imunokompeten sebagai respon terhadap
adanya aktivasi sel sel radang (Keneko, dkk. 2019)
7.2.3 Antibodi
Antibodi yaitu protein yang disintesis oleh sel plasma yang bersumber
melalui perkembangan sel B karena proses yang diakibatkan interaksi dengan
antigen. Antibodi berikatan dengan antigen secara khusus di mana sudah
terjadi paparan sebelumnya. Berdasarkan perbedaan struktur dan aktivitasnya,
antibodi dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis yaitu IgM, IgG, IgE, IgA,
dan IgD
7.3 Sistem imun seluler
Sel yang terlibat komponen imun seluler terdiri dari sel limfosit dan sel
imunokompeten
7.3.1 Sel Limfoid
Limfosit berjumlah 20% dari leukosit yang ada dalam darah. Sel ini akan
mengidentifikasi imunogen. Sel limfoid terdiri dari sel T dan sel pembunuh
alami (sel NK). Limfosit difasilitasi dengan molekul reseptor untuk menandai
antigen. Hal ini berbeda dengan sel NK (Levani, 2018). Sel limfoid terdiri dari:
sel T (sel Thelper/Th, sel Tsupresor/Ts, sel Tsitotoksik/Tc) dan sel NK. Sel T
merupakan sel berperan utama dalam mekanismes respons imun selular. Sel
Th merupakan sel yang mengaktivasi proliferasi dan diferensiasi sel B aktif
menjadi sel plasma, meningkatkan aktivitas sel Tc dan sel Ts yang sesuai, dan
mengaktifkan makrofag. Sel Th dapat dibedakan menjadi sel Th1 dan Th2. Sel
Th1 berperan sebagai limfosit yang akan melepaskan sitokin yang bersifat
proinflamasi, sedangkan sel Th2 berperan dalam memproduksi antibodi
dengan menstimulasi sel B menjadi sel plasma (Harahap, ddk. 2022). Sel
Tsupresor merupakan sel membatasi dan meninhibisi reaksi imun melalui aksi
"check and balance" dengan sel lainnya. Sel Ts menekan aktivitas sel T dan sel
B.
Sel Th dan Sel Ts akan berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Sel Th secara
berkesinambungan membantu aktivitas sel Ts dan mengendalikan aktivitas sel
lainnya. Akhirnya, sel ini dapat menghambat respons imun yang tidak normal
atau over dan mencegah terjadinya radang (Lebaga, dkk 2021). Sel Tsitotoksik
merupakan sel yang memiliki kapasitas menghancurkan sel transplantasi dan
sel yang terinfeksi mikroorganisme seperti virus dengan menunjukkan
aktivitas respon imun sebelum penggandaan jumlah virus. Sel NK dapat
mengeliminasi sel terinfeksi virus. Aktivasi sel NK dapat mengeluarkan IL-1
secara langsung meskipun belum ada paparan sebelumnya.
7.3.2 Sel Fagosit
Sel Fagosit dibagi menjadi dua yaitu: fagosit mononuklear dan
polimorfonuklear. Sel fagosit mononuklear dan polimorfonuklear berperan
sebagai sel yang akan merespon signalisasi dalam respon imun . Fagosit mononuklear sebagai sel imunokompeten yang profesional
memperkenalkan antigen kepada limfosit (APC) dan dapat memusnahkan
antigen. Makrofag yaitu sel yang cepat dalam memberikan respon terhadap
rangsangan kemotaksis secara aktif, dapat menelan dan mencerna serta
mengeliminasi bahan penginfeksi . Fagosit sering juga disebut sel
netrofil dan masuk ke dalam golongan Polymorphonuclear cell (PMN) karena
memiliki granulosit dengan inti berlobi.
Sel neutrofil berada di sirkulasi bersama dengan bagian seluler darah lainnya.
Sel neutrofil termasuk granulosit dengan bentuk inti yang berlobi. Hal ini yang
memicu sel ini masuk ke golongan polimorfonuklear. Granulosit jenis
lainnya seperti basophil, eosinophil akan bersama dengan makrofag dalam
menagani infeksi, sel polimorfonuklear menjadi barisan pertahanan terutama
dan pertama dan melindungi tubuh dengan mengeliminasi bahan penginvasi
7.4 Interaksi antara Respon Imun Selular
dengan Respon Imun Humoral
Interaksi antara sistem kekebalan seluler dengan sistem kekebalan humoral
dapat ditunjukkan pada proses berikut. Proses penghancuran sel karena
eksistensi antibodi melakukan opsonisasi, sehingga sel NK dan sel fagosit
yang memiliki reseptor pada fragmen Fc antibodi ini dapat menduduki
dan menghancurkan antigen ini melalui mekanisme fagositosis.
Penghancuran sel target ini terjadi melalui produksi berbagai enzim yang
dilepaskan, sitolisin, intermediate oksigen reaktif, dan sitokin langsung pada
imunogen
Sel Imuno
7.5 Leukosit
Sel-sel leukosit yaitu unit penting pada pengaturan kekebalan tubuh. Sel sel
yang berperan dalam kekebalan tubuh ini terbentuk di dalam sumsum tulang
(granulosit, monosit, dan sedikit limfosit) dan jaringan limfe sebagiannya
(eritrosit dan sel-sel plasma). sesudah sel ini matang, maka sel ini
akan dikirimkan ke dalam darah untuk didistribusikan ke lokasi tubuh untuk
digunakan. Manfaat sel ini dibawa atau diangkut menuju lokasi yang
mengalami luka atau injury yang berat secara khusus memberikan pertahanan
yang cepat dan kuat terhadap agen atau senyawa bahan penginfeksi yang ada
Secara normal jumlah leukosit 4.000-11.000 per mikroliter darah manusia.
Jumlah dominan yaitu granulosit (leukosit polimorfonuklear, PMN)(AK,
2018). Kerjasama sel-sel ini menghasilkan pengaturan kekebalan yang baik
terhadap berbagai jenis infeksi baik mikroorganisme patogen seperti virus,
bakteri, dan parasit. Meskipun jenis leukosit dan memiliki bentuk yang
berbeda secara morfologis, tetapi diferensial leukosit ini dapat bekerja
dan kerdoordinasi bersama-sama untuk mempertahankan dan melindungi
tubuh melawan invasi mikroba patogen (Saraswati dan Sumarno, 2018). Sel
darah yang berperan dalam respons kekebalan berasal dari stem sel
hematopoietik. Kemudian, stem sel ini mengalami diferensiasi melalui
jalan/jalur yang berbeda, yaitu sistem mieloid dan sistem limfoid.
Jalur mieloid terdiri dari granulosit polimorfonuklear seperti basofil/mass cell,
netrofil, eosinofil, monosit/makrofag, dan megakariosit/platelet, sedangkan
jalur limfoid terdiri dari limfosit T, limfosit B, dan sel NK (Saraswati dan
Sumarno, 2018). Limfosit, netrofil, eosinofil, basofil, dan monosit merupakan
sel yang utama dalam sistem kekebalan tubuh, sehingga disebut juga sebagai
sel imunokompeten. Sel ini dapat digunakan menjadi parameter kualitas sistem
kekebalan tubuh. Parameter kekebalan tubuh yang bersifat innate akan
diwakili oleh basofil, eosinofil, netrofil, dan monosit, sedangkan indikator
kekebalan tubuh yang didapat DENGAN melihat adanya limfosit . Sebagian besar sel-sel ini dalam aliran darah tidak berfungsi dan hanya
akan aktif saat diangkut ke jaringan yang mengalami peradangan secara
khusus.
7.5.1 Granulosit Monomorfonuklear
Monosit hanya berada dalam jumlah terntentu dalam darah pada keadaan
normal. Secara umum, monosit yaitu sel darah putih terbesar hanya sekitar
5% dari total leukosit (Christina, dkk. 2016). Monosit berukuran besar dan
memiliki satu inti dengan sedikit granula dalam sitoplasmanya dan juga jika
dibandingkan dari limfosit dan neutrofil (Djaelani, dkk. 2020). Monosit berasal
dari sel punca yang mengalami pematangan di sumsum tulang yang sama
dengan granulosit, beredar dalam waktu singkat dalam darah, dan kemudian
masuk ke jaringan untuk menjadi makrofag (Dinata, 2017). Sel-sel ini
berperan dalam menyajikan antigen kepada sel limfosit yang telah peka
terhadapnya.
Makrofag juga berfungsi sebagai sel fagosit profesional serta sebagai sel
antigen presenting cell (APC) pertama yang ditemukan. Monosit/makrofag
dan sel dendritik keduanya dapat ditemukan dalam darah dan jaringan bersama
dengan sel lainnya dengan mekanisme tertentu melawan bahan asing , Sel-sel makrofag akan memfagositosis antigen yang berbentuk
partikel, kemudian merusak antigen melalui perombakan protein, denaturasi,
dan modifikasi, dan selanjutnya menyajikan antigen ini kepada sel T. Sel
monosit memfagosit agen infeksi bekerja samadan berkoordinasi dengan
neutrofil di jaringan untuk menghilangkan sel sel yang rusak akibat infeksi
7.5.2 Granulosit Polimorfonuklear
Semua sel granulosit memiliki granula sitoplasmik yang mengandung zat
biologis spesifik, yang terlibat aktif dalam respons alergi dan peradangan. Sel
PMN dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan pewarnaan granula di dalam
sitoplasma, yaitu netrofil, basofil, dan eosinofil. PMN sejumlah 60-70% berada
dalam sirkulasi darah, sedangkan sisanya mengalami ekstravasasi. PMN
memiliki masa hidup yang singkat, sekitar dua hingga tiga hari. Sel-sel ini
memainkan mekanisme penting dalam proses radang dan responnya (Jayanti,
2020). Sel-sel ini akan melakukan fagositosis dan mengganggu protein
organisme yang dilapisi oleh komplemen dan antibodi. Enzimn akan
dilepaskan ke luar sel melalui peleburan granula intraseluler yang spesifik
dengan membran plasma melalui proses eksositosis oleh Eosinofil, basofil, dan
sel mast
7.6 Eosinofil
Pada keadaan normal, kadar eosinofil sekitar 1-5% dari jumlah leukosit.
Eosinofil memiliki granula berwarna oranye yang berisi protein asam dan
enzim penghancur Hal ini menjadi pmebeda eosinophil dengan sel lainnya.
Eosinofil juga melakukan fagositosis dan membunuh mikroorganisme.
Eusinofil sangat efektif mengeliminasi antigen yang menginduksi
pembentukan IgE karena dapat melekat erat pada antigen yang dilapisi IgE
(Silalahi dan Dharman, 2016).
Eosinofil memeiliki role yang besar dalam kerusakan jaringan dan radang. IL-
5 dapat merangsang perkembangan eosinofil yang dihasilkan oleh sel T.
Aktivasi sel T memicu penumpukan eusinofil di lokasi terjadinya alergi
eusinofil menjadi aktif saat mendapat rangsangan dan terjadi degranulasi.
Hasilnya berupa pelepasan banyak enzim untuk mengeliminasi berbagai
perantara atau mediator yang dilepaskan oleh sel ini
7.7 Neutrofil
Jumlah neutrofil hampir 90% dari granulosit dalam aliran darah. Neutrofil
yaitu memiliki granula di pada inti sel. Granula sitoplasma dapat bereaksi
dengan pewarna acid dan basa. Neutrofil yaitu jenis sel darah putih di mana
ada banyak inti
Neutrofil meberikan respon cepat terhadap rangsangan, dengan cepat
bersirkulasi menuju daerah inflamasi dikarenakan adanya faktor kemotaktik
yang diproduksi oleh sistem komplemen atau akibat aktivasi limposit. Fungsi
neutrofil secara non spesifik memberikan respon dengan melakukan aktivitas
fagositosis dan menghilangkan patogen asing yang menginvasi tubuh Seperti
halnya makrofag,. Fungsi ini akan didukung dan dipperbaiki fungsinya oleh
adanya sistem komplemen juga antibodi dan neutrofil memiliki reseptor Fc-
IgG untuk mengikat sistem komplemen dan antibodi
7.8 Basofil
Sel darah basofil menyerupai sel mast yang berukuran besar yang berlokasi
tepat di samping kapiler. Sel Basofil dan sel mast menunjukkan granula yang
mirip. Hal yang membedakan yaitu sel basofil bagian intinya menunjukkan
pemisahan, sedangkan sel mast intinya berbentuk lingkaran. Jumlah basofil
sedikit dalam sirkulasi, sekitar 0,2% dari jumlah total leukosit (Wijaya, 2020).
Sel basofil memiliki granula kasar yang berwarna biru gelap saat diberikan
reagen basa dan berwarna cerah saat diwarnai dengan reagen warna
metakromatik.
7.9 Mastosit
Mastosit sangat sering ditemukan lapisan kulit, dan lapisan epitel, memiliki inti
berlobus tunggal dan basofil dengan granula yang berjumlah banyak dan
berukuran kecil. Sel-sel ini memiliki reseptor yang sama untuk fragmen Fc
IgG dan IgE. Reseptor untuk C3b merupakan bagian mastosit. Jika ada alergen
yang bereaksi dengan IgE yang berikatan pada sel melalui reseptor Fc, maka
sel ini menghasilkan berbagai mediator memicu mekanisme
anafilaktik. Sel-sel ini dikenal sebagai mastosit yang mengandung histamin
dalam granulanya dan terlibat dalam terjadinya respon berupa alergi. Basofil
memiliki fungsi dan sifat biokimia yang serupa baik dalam sirkulasi dan
jaringan
7.10 limfosit
Limfosit bertempat dalam kelenjar limfe dan disebutkan ditemukan jaringan
limfoid, misalnya kelenjar getah bening, lapisan bawah dari saluran
pencernaan, dan sumsum tulang (Firdaus, dkk. 2016). Kadar limfosit sejumlah
30% dari total jumlah leukosit. Peningkatan jumlah limfosit terjadi sesudah
peningkatan jumlah neutrophil umumnya. Keadaan ini terjadi saat mengalami
stres dan infeksi parah.
Limfosit memiliki inti yang bulat atau agak membentuk lingkaran dengan
kromatin yang dapat berubah atau juga dapat tetap. Sitoplasma limfosit terlihat
seperti bulatan yang kecil berwarna sangat biru. Limfosit bersirkulasi secara
luas sehingga memicu pertukaran yang terus-menerus antara limfosit
yang ada di dalam jaringan, cairan limfe, dan peredaran darah (Nurfadillah,
2023). Jumlah limfosit yang menurun dari jumah normal berkaitan dengan
infeksi virus dan penggunaan agen imunosupresan Aktivitas kekebalan
umumnya terjadi di luar peredaran darah. Respons kekebalan biasanya akan
menunjukkan fenomena atau perubahan yang khusus pada sel yang beredar
dalam sirkulasi darah
Antigen
Sistem imun merupakan sistem yang berfungsi untuk mencegah terjadinya
kerusakan tubuh atau timbulnya penyakit. Sistem imun yang berfungsi baik
mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup seseorang. Semua makhluk
hidup dapat diserang penyakit, sehingga mengharuskan mengembangkan
mekanisme pertahanan. Salah satu contoh terjadinya wabah Pandemi Global
Pneumonia COVID-19 yang masuk ke negara Indonesia. Kejadian ini tidak
serta-merta terjadi begitu saja, beberapa perubahan yang terjadi di antaranya
penerapan pembatasan aturan masuk dan keluar baik dalam negeri maupun
luar negeri, kesadaran PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), kesadaran
menjaga kesehatan secara mandiri dengan mematuhi protokol kesehatan (Kate
Rittenhouse-Olson; Ernesto De Nurdin, 2017;Siti Boedina Kresno, 2013).
Bidang imunologi sampai dengan saat ini terus berkembang dan penelitian di
berbagai bidang masih terus dilakukan. Perkembangan imunologi khususnya
bidang klinik berhubungan dengan mikrobiologi sebagai sisa dari era vaksin
bakteri atau infeksi yang dapat menginduksi komplikasi imun seperti demam
reumatik. Selain itu kemajuan pesat dalam biologi molekuler dan genetika
memberikan banyak informasi mengenai jenis sel imun, reseptor, ligan,
struktur subseluler dan DNA
Pengertian awal imunitas yaitu perlindungan terhadap penyakit, dan lebih
spesifik lagi perlindungan terhadap infeksi. Sel dan molekul yang bertanggung
jawab atas imunitas disebut sistem imun dan respons komponennya secara
bersama dan terkoordinasi disebut respon imun. Penyakit dapat timbul jika
mekanisme pertahanan tubuh (penjamu/host/inang) dan agen penginfeksi
memicu kerusakan pada tubuh (penjamu/host/inang). Mikroorganisme
(bakteri/virus) dapat memicu kerusakan jaringan dengan cara
melepaskan berbagai racun atau enzim yang merusak
8.2 Antigen dan Imunologi
Imunologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang reaksi saat pejamu
bertemu dengan subtansi asing. Substansi asing yang menimbulkan respons
disebut antigen. Imunitas yaitu perbedaaan antara diri dan nondiri dan upaya
perlindungan dari nondiri sesudahnya. Sintem dalam tubuh yang berhubungan
dengan respons ini disebut dengan sistem imun
Keberadaan organisme selalu dihadapkan dengan bahaya yang mengancam
dari dunia luar. Mekanisme pertahanan tubuh dilakukan dengan beberapa
tujuan, seperti kompetisi untuk hidup, melindungi diri dari asimilasi,
melindungi kerusakan organ dan membantu perbaikan, melindungi diri dari
invasi bakteri dan parasit yang mungkin merupkan ancaman terbesar untuk
manusia, serta untuk regulasi integritas. Varian atau mutan dapat terjadi oleh
kontaminasi virus dan modifikasi oleh bahan kimia. Sistem imun merupakan sistem pertahanan tubuh melawan penyakit
yang disebabkan oleh mikroorganisme, meliputi sel-sel yang malfungsi dan
partikel asing. Sistem ini cukup rumit, terdiri dari beberapa tipe sel-sel yang
menetap, melekat pada jaringan atau yang mampu bergerak yang berinteraksi
di dalam jaringan limfoid yang tersebar dalam tubuh
Musuh yaitu sebuah set sifat kompleks yang saat diinterpretasikan
berdasarfkan lingkungan seseorang, membuat sebuah entitas menjadi ”asing”
dan karenanya merupakan sebuah agens yang berpotensi berbahaya. Sistem
imun harus dipahami tidak bisa membedakan antigen yang baik dari yang
buruk dalam banyak situasi, sistem imun justru bereaksi terhadap antigen yang
tidak berbahaya dan dalam melakukannya, sistem imun memicu lebih
banyak kerusakan pada pejamu daripada antigen itu sendiri. Kondisi ini dapat
dilihat pada kondisi hipersensitivitas dan autoimunitas. Berbagai patogen
seperti bakteri, virus, jamur atau parasit mengandung berbagai bahan yang
disebut imunogen atau antigen yang dapat menginduksi respon imun
Antibodi yaitu bahan glikoprotein yang diproduksi sel B sebagai respons
terhadap ransangan imunogen. Respon imun dapat bersifat bawaan
(nonadaptif) atau adaptif (didapat). Imunitas bawaan bersifat non spesifik dan
bervariasi sesuai dengan usia dan aktivitas hormonal dan metabolik.
Mekanisme Imunitas bawaan Imunitas adaptif bersifant spesifik dan diperantai
oleh antibodi maupun sel limfoid, dibentuk sesudah adanya pajanan terhadap
suatu antigen sehingga imunitas ini bersifat aktif atau pasif
8.2.1 Jenis-Jenis Antigen
Istilah antigen dahulu diartikan sebagai molekul yang dapat meransang
pembentukan antibodi, tetapi sekarang istilah antigen digunakan untuk
menyebut substansi yang mampu bereaksi dengan antibod








