n kulit
dari bagian tubuh yang lain).
Refleks : Respon yang dilakukan tanpa sadar segera setelah adanya
rangsang.
Saliva : Suatu cairan tidak bewarna yang memiliki konsistensi seperti
lendir dan merupakan hasil sekresi kelenjar yang membasahi gigi
serta mukosa rongga mulut. Berfungsi menjaga kelembaban dan
membasahi rongga mulut.
Sekresi : Pengeluaran hasil kelenjar atau sel secara aktif.
Sel lisis : Proses di mana sel dipecah atau dihancurkan sebagai hasil dari
beberapa gaya atau kondisi eksternal.
Silia : Organel sel yang berfungsi sebagai alat bantu pergerakan yang
menonjol dari sebagian sel yang diameternya kira-kira 0,25 μm
dan panjangnya sekitar 2 sampai 20 μm serta biasanya muncul
dalam jumlah banyak pada permukaan sel.
Sirkulasi : Perputaran atau pergerakan.
Sitosol : Komponen sel di dalam sitoplasma yang berupa cairan. Sebagian
metabolisme sel terjadi di sini. Protein dalam sitosol berperan
penting dalam jalur transduksi sinyal seluler dan glikolisis.
Toksin : Sebuah zat beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme
hidup, kecuali zat buatan manusia yang diciptakan melalui
proses artifisial.
Virus : Mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan memakai
mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan memakai
mikroskop elektron, pemicu dan penular penyakit, seperti
cacar, influenza, dan rabies
SISTEM LIMPORETIKULER
elamat anda telah selesai mempelajari bab dua dan dianggap sudah menguasai dan
memahami konsep dasar Immunologi dan komponen dalam sistem imun. pada bab tiga
ini kita akan mempelajari tentang sistem limporetikuler pada sistem imun yang meliputi
sistem limpoid primer dan sistem limpoid sekunder, masing masing sistem limpoid akan
dijabarkan tentang peran dan fungsinya masing masing.
Untuk proses pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B diperlukan organ
limpoid primer atau sentral sehingga menjadi limfosit yang mengenal antigen. Dalam produksi
dan seleksi awal jaringan limfosit, sistem limpoid primer ikut terlibat. Ada dua organ yang
menyokong pembentukan limfosit primer yaitu kelenjar timus dan sumsum tulang.
Sistem limpoid sekunder merupakan tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi
fungsional limfosit terjadi dan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen
yang berbeda. Jaringan limpoid sekunder menyediakan lingkungan bagi molekul asing
(antigen) asing atau yang diubah untuk berinteraksi dengan limfosit. Organ limfosit sekunder
pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel limpoid dalam amandel, patch Peyer,
limfa, kelenjar gondok, kulit, dll yang berhubungan dengan jaringan limpoid terkait mukosa
(MALT).
Setelah mempelajari bab ketiga ini, Mahasiswa RPL program studi DIII teknologi bank
darah mampu menjelaskan Sistem Limporetikuler. Untuk memudahkan terwujudnya capaian
pembelajaran yang diharapkan bagi anda, maka Pada bab ketiga ini diberikan materi yang
terbagi menjadi dua topik yaitu pada topik satu menguraikan tentang limpoid primer.
sedangkan pada topik dua dibahas tentang limpoid sekunder.
Untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman anda dalam mempelajari bab 3 ini,
disarankan anda mengerjakan latihan dan menjawab soal soal di akhir bab tanpa melihat
bahan pembelajaran.
Limpoid Primer
Setiap hari tubuh kita selalu terancam oleh paparan patogen diantaranya bakteri, virus,
parasit, radiasi matahari, dan polusi. Paparan inilah yang menjadi tantangan untuk
mempertahankan homeostasis tubuh agar tetap sehat. Sistem pertahanan tubuh meliputi
sistem kekebalan tubuh, makrofag, dan kebutuhan gizi selalu menjaga kesehatan tubuh kita.
Sistem imun sebagai pendeteksi adanya sel-sel abnormal, termutasi, atau keganasan yang
berkerja dengan menghancurkannya.
Dalam tubuh manusia tersusun sistem limpoid yang bertugas untuk melindungi tubuh
dari paparan patogen. Sistem Limpoid yaitu sel-sel sistem imun yang ditemukan di dalam
jaringan dan organ tubuh. Berdasarkan organ pembentuknya sistem limpoid dibedakan
menjadi 2 yaitu organ limpoid primer dan organ limpoid sekunder. Organ limpoid primer atau
sentral diperlukan untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi
limfosit yang mengenal antigen
Sistem limpoid primer terlibat dalam produksi dan seleksi awal jaringan limfosit. Organ
yang menyokong pembentukan limfosit primer ada 2 yaitu kelenjar timus dan sumsum tulang.
Sumsum tulang bertanggung jawab atas penciptaan sel T dan produksi serta pematangan sel
B. Dari sumsum tulang, sel B segera bergabung dengan sistem peredaran darah dan
melakukan perjalanan ke organ limpoid sekunder untuk mencari patogen. Sel T berjalan dari
sumsum tulang ke timus, di mana mereka berkembang lebih lanjut. Sel T yang matang
bergabung dengan sel B untuk mencari patogen. Sebanyak 95% sel T lainnya memulai proses
apoptosis, suatu bentuk kematian sel akibat proses imun yang terprogram
A. SUMSUM TULANG
Sumsum Tulang merupakan organ limpoid yang menjadi sel–sel induk pembentukan sel
darah merah dan sel darah putih. Sistem imun pada sumsum tulang manusia terbentuk pada
tulang besar terutama pada tulang rusuk, tulang belakang, tulang dada, dan tulang panggul.
Besaran dari sumsum tulang rata-rata 4% dari total massa tubuh manusia. Misalkan saja pada
orang dewasa yang memiliki massa tubuh 65 kg (143 lb), maka sumsum tulangnya
menyumbang berat sekitar 2,6 kilogram (5,7 lb) (Farhi, 2009).
Fungsi utama sumsum tulang dalam proses pertahanan tubuh sistem imun ada 2 yaitu
pada sistem transportasi dan sistem pertahanan tubuh. Pada sistem transportasi sumsum
tulang berfungsi untuk menghasilkan sel darah merah. Pada tubuh seseorang sumsum tulang
dapat menghasilkan 500 juta sel darah merah per hari. Sel darah merah ini selanjutnya
akan masuk beredar ke pembuluh darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Sel darah merah
berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel-sel tubuh (Saladin,
2012).
Sedangkan fungsi sumsum tulang pada sistem pertahanan tubuh yakni menghasilkan
limfosit yang merupakan salah satu komponen sel darah putih yang berfungsi untuk melawan
paparan patogen yang dalam hal ini yaitu bakteri, kuman, dan benda asing yang masuk ke
dalam tubuh. Berdasarkan fungsinya dalam tubuh, dapat digolongkan menjadi dua tipe utama
sumsung tulang yaitu medulla ossium rubra atau sumsung tulang merah dan medulla ossium
flava atau sumsung tulang kuning. Sumsung tulang merah merupakan sumsung tulang
fungsional yang mempunyai fungsi untuk menghasilkan sel darah merah dan limfosit.
Sedangkan sumsung tulang kuning yang banyak terdiri dari sel-sel lemak yang sudah tidak lagi
berfungsi (
Melalui pembuluh darah kecil yang disebut sebagai sinusoid dengan karakteristik
pembuluh darah yang permeabel di dalam rongga meduler, sumsum tulang manusia
menghasilkan sel darah yang bergabung dengan sirkulasi sistemik. Semua jenis sel
hematopoietik, termasuk garis keturunan myeloid dan limpoid, diproduksi di sumsum tulang,
yang selanjutya sel limpoid akan melakukan perjalanan bermigrasi ke organ limpoid lain
seperti kelenjar timus dengan tujuan untuk melengkapi proses pematangan
Pada tingkat sel, komponen fungsional utama sumsum tulang termasuk sel-sel
progenitor yang ditakdirkan untuk matang sehingga menjadi darah dan sel-sel limpoid.
Sumsum mengandung sel induk hematopoietik yang menimbulkan tiga kelas sel darah yang
ditemukan dalam sirkulasi: sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit), dan
trombosit
1. Sel Darah Putih (Leukosit )
Sel darah putih atau lebih sering dikenal dengan nama leukosit (dalam bahasa Inggris
memiliki nama white blood cell, WBC, leukocyte) merupakan komponen darah yang erat
kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih memiliki peran yang besar untuk
mendeteksi dan menghancurkan mikroorganisme asing seperi virus, bakteri, maupun parasit
yang membawa penyakit atau pemicu infeksi. Selain itu sel darah putih juga berperan dalam
melindungi tubuh dari segala potensi serangan penyakit.
Sel darah putih terlibat langsung dalam mempertahankan tubuh terhadap penyakit
menular dan bahan asing. Sel darah putih diproduksi dan berasal dari sel multipoten di
sumsum tulang yang dikenal sebagai sel induk hematopoietik. Leukosit ditemukan di seluruh
tubuh, termasuk darah dan sistem limfatik. Ada berbagai jenis sel darah putih yang melayani
peran spesifik dalam sistem kekebalan tubuh manusia. WBC terdiri sekitar 1% dari volume
darah.
Sel darah putih yaitu komponen yang membentuk darah. Fungsi utamanya untuk
membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan
tubuh. Karakteristik dari sel darah putih yaitu dengan tidak berwarna, memiliki inti, dapat
bergerak secara amoeboid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. Dalam keadaan
normal tidak ada penyakit maupun mikroorganisme yang menyerang tubuh kandungan sel
darah putih sebesar 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia
dewasa, diketahui besarnya sel darah putih sekitar 7000-25000 sel per tetes. Dalam setiap
milimeter kubik sel darah putih mengadung 6000 sampai 10000 (rata-rata 8000) sel darah
putih. Gangguan produksi sel darah putih yang masih menjadi kasus besar yaitu dalam kasus
leukemia, jumlah leukosit dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes.
Di dalam sistem imun tubuh leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau
jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit
mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel
asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau
bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka yaitu produk dari sel punca
hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang.
Sel darah putih dibagi menjadi granulosit dan agranulosit , dibedakan dengan ada atau
tidaknya butiran di sitoplasma. Sel darah putih yang merupakan jenis granulosit terbagi
meliputi basofil, eosinofil, neutrofil dan sel mast. Sedangkan yang termasuk agranulosit yaitu
limfosit dan monosit (Saladin, 2012).
Berdasarkan fungsi sel darah putih (leukosit) dibagi menjadi 5 jenis, yang mana
kelimanya memiliki tugas dan fungsi sesuai dengan kemampuan dan tipe mikroorganisme
yang dihadapi. Berikut ini fungsi sel darah putih berdasarkan jenisnya yaitu:
a. Neutrofil
Neutrofil di dalam sel darah putih jumlahnya paling besar yaitu sebanyak 50% dari total
jumlah sel darah putih yang ada, jenis sel darah putih yang memiliki komposisi paling banyak
ini mempunyai fungsi untuk merespons bakteri, virus, maupun parasit yang datang
menyerang dengan cara menyerangnya balik.
Sebagai gerbang pertahanan utama, neutrofil juga bertugas untuk mengirimkan
informasi kepada sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh lainnya untuk bersiap untuk bereaksi
terhadap serangan dari patogen yang merupakan agen penyakit ini . Ekskresi neutrofil
bisa kita temukan saat terjadi luka mengeluarkan nanah.
Siklus hidup neutrofil cukup pendek, daya tahannya hanya sekitar 8 jam setelah
diproduksi di sumsum tulang belakang. Dalam sehari normalnya tubuh akan memproduksi
sekitar 100 miliar sel neutrofil.
b. Eosinofil
Eosinofil yaitu komponen sel darah putih yang tugasnya lebih kepada melawan infeksi
mikroorganisme seperti bakteri dan parasit (cacing). Fungsi sel darah putih eosinofil juga
berkaitan dengan respons tubuh atas alergi seperti respon gatal, panas, mata berair. Eosinofil
hanya berkontribusi sekitar 1 persen dari total jumlah sel darah putih yang ada pada sirkulasi
darah di dalam tubuh.
c. Monosit
Fungsi sel darah putih yang satu ini yaitu berpindah-pindah dari satu jaringan ke
jaringan lainnya di dalam tubuh lalu membagi fungsinya sebagai "pembersih vakum"
(fagositosis) dari neutrofil. Tuhas monosit tidak sampai pada fagosit saja, monosit juga
mempunyai tugas tambahan yaitu memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga
patogen ini dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk
menjaga dalam sistem imun spesifik. Monosit memegang 5 persen dari total komponen sel
darah putih yang ada di dalam tubuh.
d. Limfosit
Fungsi utama dari limfosit yaitu menjaga sistem kekebalan tubuh. Limfosit terbagi
menjadi 2 yaitu, limfosit T dan limfosit B. Limfosit T bertugas untuk membasmi virus dan
bakteri, sementara limfosit B bertugas membuat zat antibodi yang akan digunakan untuk
melawan agen penyakit.
Limfosit lebih umum ditemukan dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit
Sel B yaitu Sel B membuat antibodi, Sel T, dan Sel pembunuh alami (natural killer, NK).
e. Basofil
Jenis sel darah putih yang terakhir yaitu basofil, fungsi sel darah putih basofil yaitu
untuk meningkatkan respons imun non-spesifik terhadap patogen. Basofil hanya mengisi 1
persen dari keseluruhan jumlah sel darah putih.
Basofil bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan
mengeluarkan histamin kimia yang memicu peradangan. Kendati demikian basofil
yaitu jenis sel darah putih yang menimbulkan reaksi alergi seperti pada penyakit asma. Saat
tubuh terkena paparan seperti debu, basofil otomatis mengeluarkan zat yang disebut
histamine yang lantas memicu bronkokonstrisksi pada saluran pernapasan sehingga
timbul keluhan sesak nafas pada orang dengan penyakit astma
Pada sel darah putih dengan jumlah yang berlebihan atau kurang akan memicu
gangguan pada tubuh. Contoh gangguan jumlah leukosit yaitu pada keadaan leukopenia
dimana kondisi tubuh dengan jumlah sel darah putih yang terlalu sedikit sebab gangguan
proliferatif sehingga memicu jumlah tidak cukup. Sementara keadaan tubuh yang
mengalami terlalu banyak sel darah putih disebut leukositosis. Jumlah sel darah putih yang
beredar umumnya meningkat pada saat terjadinya infeksi. Banyak kanker hematologis yang
diagnosa klinisnya didasarkan pada produksi sel darah putih yang tidak tepat. Gangguan
proliferasi sel darah merah dapat diklasifikasikan sebagai mieloproliferatif dan
limfoproliferatif, beberapa autoimun namun banyak yang neoplastik (Saladin, 2012).
Cara lain untuk mengkategorikan kelainan sel darah putih dengan berbagai gangguan di
mana jumlah sel darah putih normal namun sel tidak berfungsi secara normal. Menurut standar
American Associaton of Family Physician (AAFP), kategori kadar normal leukosit jika
dihitung berdasarkan usia:
1) Anak bayi baru lahir 13.000 – 38.000/mm3
2) Bayi dan anak-anak 5.000 – 20.000/mm3
3) Orang dewasa berkisar 4.500 – 11.000/mm3
4) Wanita hamil (trimester tiga) beriksar 5.800 – 13.200/mm3
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa sel darah putih penting untuk menjaga sistem
kekebalan imun tubuh. jika sel darah putih jumlahnya sedikit, jadi rentan kena penyakit.
jika sel darah putih berlebih hal itu juga berbahaya. Tes darah yang menunjukkan jumlah
sel darah putih kurang dari 4.000 per mikroliter (beberapa ahli ada juga yang mengatakan
bahwa batas minimalnya kurang dari 4.500) dapat menandakan bahwa tubuh tidak dapat
melawan infeksi seperti seharusnya (Saladin, 2012).
2. Trombosit
Trombosit merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani θρόμβος, "gumpalan" dan
κύτος, "sel". Terombosit yaitu komponen sel darah yang fungsinya bersama dengan faktor
pembekuan darah untuk bereaksi terhadap perdarahan dari cedera pada pembuluh darah
dengan mekanisme penggumpalan, sehingga memulai suatu gumpalan darah. Karakteristik
dari trombosit yaitu bentuk anatomis trombosit tidak memiliki inti sel, hanya berupa fragmen
sitoplasma yang berasal dari megakaryocytes dari sumsum tulang, yang kemudian memasuki
sirkulasi. Trombosit yang tidak aktif yang bersirkulasi yaitu struktur bikonveks diskoid
(berbentuk menyerupai lensa), dengan ukuran diameter terbesar 2–3 μm. Trombosit
teraktivasi memiliki proyeksi membran sel yang menutupi permukaannya.
Struktur Trombosit
Salah satu fungsi utama trombosit yaitu berkontribusi pada keseimbangan hemostasis
dalam tubuh dengan cara menghentikan perdarahan di lokasi yang terganggu. Mereka
berkumpul di lokasi infeksi dan kecuali jika gangguannya secara fisik terlalu besar, mereka
menutup lubang (Hampton, 2018).
Proses penghentian perdarahan diawali dengan trombosit menempel pada zat di luar
endotelium yang terganggu atau lebih sering disebut adhesi. Kedua, mereka berubah bentuk,
menyalakan reseptor dan mengeluarkan utusan kimia (aktifasi). Ketiga, dilanjutkan dengan
mereka terhubung satu sama lain melalui jembatan reseptor (agregasi).
Pembentukan sumbat dalam proses pembekuan darah oleh trombosit ini (hemostasis
primer) dikaitkan dengan aktivasi kaskade koagulasi dengan endapan fibrin yang dihasilkan
dan penghubung (hemostasis sekunder). Proses-proses ini mungkin saling tumpang tindih
dimana spektrumnya berasal dari sumbat trombosit yang dominan, atau "gumpalan putih"
menjadi fibrin yang dominan, atau "gumpalan merah" atau campuran yang lebih khas.
Beberapa akan menambahkan retraksi dan penghambatan trombosit selanjutnya sebagai
langkah keempat dan kelima pada penyelesaian proses dan yang lain lagi merupakan
perbaikan luka langkah keenam. Trombosit juga berpartisipasi dalam respons imun
intravaskular bawaan dan adaptif.
Konsentrasi trombosit yang rendah disebabkan oleh penurunan produksi atau
peningkatan kerusakan disebut dengan trombositopenia. Sedangkan untuk keadaan
peningkatan konsentrasi trombosit disebut dengan trombositosis, dan bersifat bawaan,
reaktif (terhadap sitokin), atau sebab produksi yang tidak diatur: salah satu neoplasma
mieloproliferatif atau neoplasma mieloid tertentu lainnya. Gangguan fungsi trombosit yaitu
trombositopati. Trombosit yang normal dapat merespons kelainan pada dinding pembuluh
darah dari adanya perdarahan, yang mengakibatkan adhesi/ aktivasi trombosit yang tidak
tepat dan trombosis berupa pembentukan gumpalan di dalam pembuluh darah yang utuh.
Jenis trombosis ini muncul dengan mekanisme yang berbeda dari mekanisme bekuan normal
yaitu, memperpanjang fibrin trombosis vena, memperpanjang plak arteri yang tidak stabil
atau pecah, memicu trombosis arteri dan trombosis mikrosirkulasi. Trombus arteri
sebagian dapat menghalangi aliran darah, memicu iskemia hilir, atau mungkin
sepenuhnya menghambatnya, memicu kematian jaringan hilir
Kisaran normal (99% populasi dianalisis) untuk nilai trombosit sehat yaitu 150.000
hingga 450.000 per milimeter kubik (mm3 sama dengan mikroliter) atau 150–450 × 109 per
liter. Trombosit memiliki peran sentral dalam imunitas bawaan, memulai dan berpartisipasi
dalam berbagai proses inflamasi, mengikat patogen secara langsung dan bahkan
menghancurkannya. Hal ini mendukung data klinis yang menunjukkan bahwa banyak dengan
infeksi bakteri atau virus yang serius memiliki trombositopenia, sehingga mengurangi
kontribusi mereka terhadap peradangan. Juga agregat platelet-leukosit (PLA) yang ditemukan
dalam sirkulasi yaitu tipikal pada sepsis atau penyakit radang usus, menunjukkan hubungan
antara trombosit dan sel-sel imun.
Transfusi trombosit paling sering digunakan untuk memperbaiki jumlah trombosit yang
sangat rendah, baik untuk mencegah perdarahan spontan (biasanya pada jumlah di bawah 10
× 109 / L) atau sebagai antisipasi prosedur medis yang perlu melibatkan beberapa kasus
pendarahan seperti prosedur pembedahan. Sebagai contoh, pada pasien yang diprogramkan
menjalani operasi terjadi perdarahan hebat atau trombosit rendah, level di bawah 50 × 109 /
L dikaitkan dengan perdarahan bedah abnormal. Trombosit juga dapat ditransfusikan saat
jumlah trombosit normal namun trombositnya tidak berfungsi, seperti saat seseorang
mengonsumsi aspirin atau clopidogrel. Akhirnya, trombosit dapat ditransfusikan sebagai
bagian dari protokol transfusi masif, dimana tiga komponen darah utama (sel darah merah,
plasma, dan trombosit) ditransfusikan untuk mengatasi perdarahan yang parah. Transfusi
trombosit dikontraindikasikan dalam purpura trombotik trombositopenik (TTP), sebab
memicu bahan bakar koagulopati
3. Eritrosit
Sel darah merah atau eritrosit, berperan membawa oksigen dan mengumpulkan karbon
dioksida melalui penggunaan hemoglobin. Hemoglobin sendiri merupakan protein yang
mengandung zat besi yang memberi warna pada sel darah merah dan memfasilitasi terjadinya
transportasi oksigen dari paru - paru ke jaringan dan karbon dioksida dari jaringan ke paru-
paru untuk dihembuskan. Sel darah merah yaitu sel yang paling melimpah jumlahnya dalam
darah, terhitung sekitar 40-45% dari volume total darah
Karakteristik sel darah merah berbentuk cakram dan dapat dideformasi untuk
memungkinkannya masuk melalui kapiler yang sempit. Sel darah merah jauh lebih kecil
daripada kebanyakan sel manusia lainnya. Sel darah merah terbentuk di sumsum tulang
merah dari sel induk hematopoietik dalam proses yang dikenal sebagai erythropoiesis. Pada
orang dewasa, sekitar 2,4 juta sel darah merah diproduksi setiap detik. Sel darah merah
memiliki umur berkisar 100-120 hari. Setelah eritrosit menyelesaikan masa hidup mereka
dalam peredaran darah tubuh, selanjutnya mereka dikeluarkan dari aliran darah oleh limfa.
Sel darah merah dewasa mempunyai sifat unik di antara sel-sel dalam tubuh manusia sebab
mereka tidak memiliki nukleus (walaupun eritroblast memiliki nukleus). Kondisi kelainan pada
eritrosit dimana memiliki terlalu sedikit sel darah merah dikenal sebagai anemia, sedangkan
kebalikannya memiliki terlalu banyak eritrosit disebut dengan polycythemia
Sebagai salah satu komponen darah eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan
tubuh. saat sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka
hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan
menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya (Biosbcc, 2016).
Pada keadaan kekurangan sel darah merah maka dapat diberikan penanganan sebagai
bagian dari transfusi darah sebab kekurangan eritrosit. Darah dapat disumbangkan dari orang
lain, atau disimpan oleh penerima dengan proses penyimpanan khusus. Darah yang
didonorkan biasanya memerlukan penyaringan untuk memastikan bahwa pendonor tidak
mengandung faktor risiko terhadap beberapa penyakit yang ditularkan melalui darah, atau
pendonor tidak akan menderita setelah proses memberikan donor darah. Sistem pendonoran
darah dilakukan dengan cara dikumpulkan dan diuji untuk penyakit umum atau serius yang
ditularkan melalui darah termasuk penyakit yang diuji yaitu Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV.
Darah manusia dibedakan berdasarkan jenis darah (A, B, AB, atau O) atau produk darah
diidentifikasi. Hal Ini berhubungan dengan keberadaan antigen pada permukaan sel.
Setelah proses pengidentifikasian darah maka darah akan disimpan, selanjutnya darah
dapat diberikan sebagai produk utuh atau sel darah merah dipisahkan sebagai sel darah merah
yang dikemas. Darah sering ditransfusikan saat diketahui ada anemia, perdarahan aktif, atau
saat ada harapan kehilangan darah yang serius, seperti sebelum operasi. Sebelum dilakukan
prosedur tranfusi darah perlunya dilakukan pengechekan atau crossing darah pendonor dan
penerima, sampel kecil darah penerima diuji dengan transfusi dalam proses yang dikenal
sebagai pencocokan silang yang bertujuan sebagai pencegahan penularan infeksi dan
meminimalkan kemungkinan beberapa jenis reaksi penolakan akibat transfusi (Lang, 2012).
Pada sistem imun sumsum tulang berperan dalam membentuk limfosit B dan limfosit T,
sel B juga dikenal sebagai limfosit B yang merupakan jenis sel darah putih dari subtipe limfosit
berfungsi dalam komponen imunitas humoral dari sistem imun adaptif dengan mengeluarkan
antibodi. Selain itu, sel B menunjukkan antigen (mereka juga diklasifikasikan sebagai sel
penyaji antigen profesional) dan mengeluarkan sitokin. Pada manusia sel B matang di sumsum
tulang yang merupakan inti dari sebagian besar tulang. Sel B mengekspresikan reseptor sel B
(BCR) pada membran sel mereka, sehingga BCR memungkinkan sel B untuk berikatan dengan
antigen spesifik, yang dengannya ia akan memulai respons antibodi
Pada sumsum tulang terjadi proses pematangan limfosit B, proliferasi dan diferensiasi
dirangsang oleh sitokin. ada juga sel lemak, fibroblas dan sel plasma. Sel stem
hematopoetik akan menjadi progenitor limpoid yang kemudian mejadi prolimfosit B dan
menjadi prelimfosit B yang selanjutnya menjadi limfosit B dengan imunoglobulin D dan
imunoglobulin M (B Cell Receptor) yang kemudian mengalami seleksi negatif sehingga
menjadi cell B naif yang belum terpapar antigen, yang kemudian keluar dan mengikuti aliran
darah menuju ke organ limpoid sekunder. Sel hematopoetik menjadi progenitor, limpoid juga
berubah menjadi prolimfosit T dan selanjutnya menjadi prelimfosit T yang akhirnya menuju
timus
Limfosit dibuat dari sel batang sumsum tulang dan kemudian diproses oleh sel B di
sumsum tulang dan sel T di timus, di mana mereka berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik dan
helper. Sedangkan sel B yang distimulasi berubah menjadi sel blast, yang membelah untuk
membentuk sel plasma (yang menghasilkan antibodi) dan sel memori
B. TIMUS
Timus dikenal oleh orang-orang Yunani kuno berasal dari kata Yunani thumos, yang
mempunyai arti "kemarahan" atau "hati, jiwa, hasrat, hidup", hal ini di dasarkan pada lokasi
timus yang berada di dada, dimana pada dada dekat dengan emosi dirasakan secara subjektif.
Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa kata timus berasal dari kata thyme yang
berarti ramuan, yang menjadi nama untuk "kutil yang berkutil", mungkin sebab kemiripannya
dengan sekelompok thyme
Orang pertama yang memperhatikan bahwa ukuran organ timus berubah sepanjang
hidup seseorang sesuai dengan perkembangan usia yaitu Glen. Pada abad ke-19 ditemukan
suatu kondisi yang diidentifikasi sebagai status thymicolymphaticus yang didefinisikan sebagai
peningkatan jaringan limpoid dan timus yang membesar, hal ini dianggap sebagai pemicu
sindrom kematian bayi mendadak pada saat itu
Pentingnya timus dalam sistem kekebalan ditemukan pada tahun 1961 oleh Jacques
Miller, penelitian yang dilakukan dengan cara dilakukannya pembedahan mengeluarkan timus
dari tikus berumur satu hari dan mengamati defisiensi yang terjadi, berikutnya pada populasi
limfosit yang kemudian dinamai sel T. Baru-baru ini, kemajuan dalam imunologi telah mampu
menjelaskan fungsi dari organ timus dalam pematangan sel-T menjadi lebih sepenuhnya
dipahami sebagai pengembangan ilmu imunologi
Timus merupakan organ limpoid primer khusus dari sistem kekebalan tubuh yang
ada pada mediastinum seperior anterior di depan jantung dan di belakang sternum,
didepan pangkal pembuluh darah pada jantung yang terdiri atas 2 lobus dengan berat ± 30-40
gram. Secara histologis, setiap lobus timus dapat dibagi menjadi medula sentral dan korteks
perifer yang dikelilingi oleh kapsul luar. Korteks dan medula memainkan peran yang berbeda
dalam perkembangan sel T. Sel-sel dalam timus dapat dibagi menjadi sel-sel stroma timus dan
sel-sel yang berasal dari hematopoietik (berasal dari sel-sel induk hematopoietik penduduk
sumsum tulang)
Sel T berperan sangat penting dalam sistem kekebalan adaptif, di mana tubuh
beradaptasi secara khusus dengan penjajah asing. Sel T yang berkembang disebut sebagai
timosit dan berasal dari hematopoietik. Sel-sel stroma termasuk sel-sel epitel dari korteks
timus dan medula, dan sel-sel dendritik. Timus menyediakan lingkungan induktif untuk
perkembangan sel T dari sel progenitor hematopoietik. Selain itu, sel stroma timus
memungkinkan untuk pemilihan repertoar sel T fungsional dan toleran. Oleh sebab itu, salah
satu peran paling penting dari timus yaitu induksi toleransi pusat.
Timus merupakan organ yang terbesar dan paling aktif selama periode neonatal dan pra-
remaja. Pada remaja awal, timus mulai mengalami atrofi dan stroma timus sebagian besar
digantikan oleh jaringan adiposa (lemak). Namun demikian, sisa limfopoiesis T terus berlanjut
sepanjang kehidupan dewasa. Timus bertambah besar sejak lahir sebagai respons terhadap
stimulasi antigen pascanatal, kemudian pada masa pubertas dan mengalami kemunduran
setelahnya. Kehilangan atau kekurangan timus memicu defisiensi imun yang parah dan
selanjutnya rentan terhadap infeksi suatu penyakit.
Timus berfungsi sebagai tempat perkembangan limfosit menjadi limfosit T yang bersifat
imunokompeten selain itu juga berfungsi dalam melepaskan limfosit T ke dalam peredaran
darah untuk menuju ke jaringan limpoid sekunder. Limfosit ini akan mampu mengadakan
reaksi imunologis humoral. Timus mengalami involusi fisiologis secara perlahan-lahan.
Involusi fisiologis yang terjadi mencakup kejadian korteks menipis, produksi limfosit menurun
sedang parenkim mengkerut diganti oleh jaringan lemak yang berasal dari jaringan pengikat
interlobuler
Jaringan parenkim Timus terdiri dari anyaman sel-sel retikuler yang saling berhubungan
tanpa adanya jaringan pengikat lain, diantara sel retikuler ada limfosit. Sel retikulernya
berbentuk seperti didalam nodus lymphaticus dan lien, namun berasal dari endoderm.
Hubungan ini lebih jelas di daerah medulla sampai membentuk struktur epitel yang disebut
corpuskulum hassalli (thymic corpuscle) (Louveau, 2015). Masing-masing lobus terdiri dari
korteks dan medulla dengan karakteristik yang berbeda- beda, sebagai berikut.
1. Korteks
Korteks kelenjar timus merupakan bagian luar yang disusun oleh limfosit dan sel epitel
retikular yang akan berhubungan dengan bagian medulla. Korteks merupakan tempat awal
terbentuknya Sel T. Limfosit dihasilkan di daerah korteks sehingga sebagian besar populasi sel
di korteks yaitu limfosit dari berbagai ukuran. Limfosit besar banyak ada di bagian
perifer dan makin kedalam jumlah limfosit kecil makin bertambah, sehingga korteks bagian
dalam sangat padat oleh limfosit kecil. Dalam korteks terjadi proses proliferasi dan degenerasi,
dan ada makrofag yang walaupun sedikit merupakan penghuni tetap dalam korteks.
Kadang-kadang juga ditemukan sedikit plasmasit dalam parenkim.
2. Medulla
Medulla merupakan tempat terbentuknya sel T lanjutan, sel epitel retikullar pada
medulla bagian ini lebih kasar, juga sel limfositnya lebih sedikit. Pada bagian medulla juga
ada hassall’s corpus yaitu struktur yang menyerupai sarang yang merupakan tempat
berkumpulnya sel epitel retikular. Pada medulla, banyak ada sel retikuler dengan
berbagai bentuk, kadang mempunyai tonjolan dan kadang tidak mempunyai tonjolan
sitoplasma. Ada pula sel retikuler yang berbentuk gepeng dan tersusun konsentris
membentuk corpusculum Hassali. Sel-selnya berhubungan sebagai desmosom. Bagian
tengahnya mengalami degenerasi dan kadang-kadang kalsifikasi. Limfosit jumlahnya tidak
begitu banyak dan hanya terdiri dari jenis bentuk yang kecil. Perbedaannya dengan limfosit
korteks yaitu sebab bentuk yang tidak teratur dengan sitoplasma yang lebih banyak. Dalam
medulla ada jenis sel lain dalam jumlah kecil seperti makrofag dan eosinophil
Proses perkembangan timus berasal dari dua tonjolan epitel endoderm saccus
brachialis III. Mula-mula penonjolan ini memiliki lumen yang berhubungan dengan faring,
dengan adanya proliferasi epitel pada dinding, lumen akan terisi oleh sel-sel yang juga
mengadakan invasi diantara sel-sel jaringan mesenkim di sekelilingnya. Pada umur enam
minggu akan muncul limfosit yang makin lama akan semakin bertambah dan parenkim akan
mengubah sel-sel stelat yang dihubungkan oleh desmosom. Medulla terjadi kemudian di
daerah dalam.
Sel induk yang telah sampai ke timus akan berubah menjadi limfosit Timus dan mulai
berproliferasi. Limfosit besar akan berproliferasi di korteks tepi memberikan limfosit kecil
yang berkelompok di korteks sebelah dalam. Proliferasi di timus tidak dipengaruhi oleh
antigen yang berbeda dengan di pengaruhi limfosit di organ limpoid perifer, dengan adanya
blood timus barrier.
Limfosit yang meninggalkan timus akan menuju organ limpoid perifer untuk bersama-
sama berkumpul di daerah yang dibawah pengaruh timus (Timus depending regions) yaitu
korteks bagian dalam nodus lymphaticus, selubung limpoid periarterial di lien, daerahnya
berada diantara nodulus lymphaticus tonsilla, plaques Peyeri dan appendiks
Proses pertahanan imun yang dilakukan oleh timus berawal dari dua lobus prekursor
hematopoietik yang berasal dari sumsum tulang dan disebut sebagai timosit, yang matang
menjadi sel T. Setelah matang sel T beremigrasi dari timus dan membentuk sel T perifer yang
bertanggung jawab untuk mengarahkan banyak bagian sistem kekebalan adaptif dalam tubuh.
Kehilangan timus pada usia dini melalui mutasi genetik (seperti pada DiGeorge Syndrome
berupa penyakit kelainan genetik yang disebabkan oleh penghapusan sebagian kecil
kromosom) menghasilkan defisiensi imun yang parah dan selanjutnya rentan terhadap
paparan patogen yang memicu infeksi.
Setiap sel T menyerang zat tertentu yang berhasil diidentifikasi dengan reseptornya . Sel
T memiliki reseptor yang dihasilkan oleh segmen gen pengocok acak. Setiap sel T menyerang
antigen yang berbeda. Sel T yang menyerang protein tubuh sendiri dihilangkan dalam timus.
Sel epitel timus mengekspresikan protein utama dari tempat lain di tubuh. Pertama sel T
menjalani "Seleksi Positif", di mana sel bersentuhan dengan MHC diri, lalu diekspresikan oleh
sel epitel timus yang selanjutnya mereka tidak berinteraksi mati sebab kurangnya sinyal
stimulasi. Kedua, sel T mengalami "Seleksi Negatif" dengan berinteraksi dengan sel dendritik
timus, di mana sel T dengan interaksi yang kuat dengan MHC diri dan / atau antigen sendiri
mati oleh apoptosis terinduksi atau diinduksi menjadi sel T regulator, untuk menghindari
autoimunitas. Mereka yang memiliki afinitas menengah bertahan.
Stok limfosit T terbentuk pada awal kehidupan, sehingga fungsi timus berkurang pada
orang dewasa. Efektifitas fungsi timus sebagian besar mengalami kemunduran pada orang
dewasa lanjut usia dan hampir tidak dapat diidentifikasi sebab pengaruh umur, yang sebagian
besar terdiri dari jaringan lemak. Keterlibatan timus telah dikaitkan dengan hilangnya fungsi
kekebalan pada orang tua, kerentanan terhadap kejadian infeksi dan kanker.
Kemampuan sel T untuk mengenali antigen asing dimediasi oleh reseptor sel-T . reseptor
sel-T mengalami penataan ulang genetik selama pematangan timosit, sehingga mapu
menghasilkan setiap sel T yang mengandung reseptor sel-T yang unik, khusus untuk rangkaian
peptida terbatas pada kombinasi MHC. Sifat acak dari penataan ulang genetik menghasilkan
persyaratan mekanisme toleransi pusat untuk menghilangkan atau menonaktifkan sel-sel T
yang mengandung reseptor sel-T dengan kemampuan untuk mengenali peptida-diri.
Populasi langka sel progenitor hematopoietik memasuki timus dari darah, dan
membesar dengan pembelahan sel untuk menghasilkan populasi besar timosit imatur.
Masing-masing timus yang belum matang membuat reseptor sel-T yang berbeda dengan
proses penyusunan ulang gen. Proses ini rawan kesalahan, dan beberapa thocytes gagal
membuat reseptor sel-T yang fungsional, sedangkan thymocytes lain membuat reseptor sel T
yang autoreaktif.
Timosit yang belum matang menjalani proses seleksi, berdasarkan spesifisitas reseptor
sel T mereka. Dalam hal ini melibatkan pemilihan sel T yang fungsional (seleksi positif), dan
penghapusan sel T yang autoreaktif (seleksi negatif). Medula timus yaitu tempat
pematangan sel T. Sel-sel yang melewati kedua tingkat seleksi dilepaskan ke dalam aliran
darah untuk melakukan fungsi-fungsi kekebalan vital. Timus juga mengeluarkan hormon dan
sitokin yang bertujuan untuk mengatur pematangan sel-sel T, termasuk timin, timimietin, dan
timin
Limfosit sangat penting untuk perkembangan, sebab erat kaitannya dengan adanya
sejenis limfosit yang bertanggung jawab atas penolakan jaringan cangkok, delayed
hypersensitvity, reaksi terhadap fungsi mikroorganisme dan virus tertentu. Limfosit T tidak
melepaskan antibodi yang biasa namun diperlukan untuk membantu reaksi humoral oleh
limfosit B. Limfosit Timus baru bersifat imunokompeten jika sudah berada di luar timus
Tubuh kita setiap harinya selalu terancam oleh paparan patogen yang meliputi bakteri,
virus, parasit, radiasi matahari, dan polusi. Pentingnya sistem imun sebagai pendeteksi adanya
sel-sel abnormal, termutasi, atau keganasan yang berkerja dengan menghancurkannya. Tubuh
manusia tersusun dari sistem limpoid yang melindungi tubuh dari paparan patogen.
Berdasarkan organ pembentuknya maka sistem limpoid dibedakan menjadi 2 yaitu, organ
limpoid primer dan organ limpoid sekunder. Organ limpoid primer atau sentral diperlukan
untuk pematangan, diferensiasi dan proliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang
mengenal antigen. Sistem limpoid primer terlibat dalam produksi dan seleksi awal jaringan
limfosit. Ada 2 organ yang menyokong pembentukan limfosit primer yaitu kelenjar timus dan
sumsum tulang.
Sumsum Tulang merupakan organ limpoid yang menjadi sel-sel induk pembentukan
darah, yaitu sel darah merah dan sel darah putih. Pembentukan sistem imun pada sumsum
tulang manusia pada tulang besar. Dua fungsi utama sumsum tulang ialah fungsi pada sistem
transportasi dan sistem pertahanan tubuh. Pada sistem transportasi sumsum tulang memiliki
fungsi untuk menghasilkan sel darah merah. Sumsum tulang dapat menghasilkan 500 juta sel
darah merah per hari. Pada sistem pertahanan tubuh, sumsung tulang berfungsi fungsi
menghasilkan sel darah merah dan limfosit. Sumsum mengandung sel induk hematopoietik
yang menimbulkan tiga kelas sel darah yang ditemukan dalam sirkulasi: sel darah putih
(leukosit) bertugas untuk mendeteksi dan membasmi mikroorganisme asing seperi virus,
bakteri, maupun parasit yang membawa penyakit atau pemicu infeksi. Selain itu sel darah
putih juga berperan dalam melindungi tubuh dari segala potensi serangan penyakit. Sel darah
putih dibagi menjadi basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit dan monosit Tes darah yang
menunjukkan jumlah sel darah putih kurang dari 4.000 per mikroliter (beberapa ahli ada juga
yang mengatakan bahwa batas minimalnya kurang dari 4.500) dapat menandakan bahwa
tubuh tidak dapat melawan infeksi. Trombosit yaitu komponen darah yang fungsinya
bersama dengan faktor pembekuan darah untuk bereaksi terhadap perdarahan dari cedera
pada pembuluh darah dengan mekanisme penggumpalan, sehingga memulai suatu gumpalan
darah. Trombosit juga berpartisipasi dalam respons imun intravaskular bawaan dan adaptif.
Konsentrasi trombosit yang rendah disebut trombositopenia, peningkatan konsentrasi
trombosit disebut trombositosis, dimana nilai trombosit sehat yaitu 150.000 hingga 450.000
per milimeter kubik (mm3 sama dengan mikroliter). Transfusi trombosit paling sering
digunakan untuk memperbaiki jumlah trombosit yang sangat rendah. Sel darah merah atau
eritrosit berperan membawa oksigen dan mengumpulkan karbon dioksida melalui
penggunaan hemoglobin. Sel darah merah memiliki umur sekitar 100-120 hari, berperan
dalam sistem kekebalan tubuh. saat sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen
atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang
akan menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya. Sel darah
merah dapat diberikan sebagai bagian dari transfusi darah sebab kekurangan eritrosit. Jenis
darah (A, B, AB, atau O) atau produk darah diidentifikasi.
Pada sumsum tulang membentuk limfosit B dan limfosit T, Pada sumsum tulang terjadi
pematangan limfosit B, proliferasi dan diferensiasi dirangsang oleh sitokin. ada juga sel
lemak, fibroblas dan sel plasma.
Timus merupakan organ limpoid primer khusus dari sistem kekebalan tubuh, terdiri atas
2 lobus terdiri dari korteks dan medulla. Timus berfungsi sebagai tempat perkembangan
limfosit menjadi limfosit T yang bersifat imunokompeten selain itu juga berfungsi dalam
melepaskan limfosit T ke dalam peredaran darah untuk menuju ke jaringan limpoid sekunder.
Limfosit ini akan mampu mengadakan reaksi imunologis humoral. Proses perkembangan
timus berasal dari dua tonjolan epitel endoderm saccus brachialis III. adanya proliferasi epitel
dindingnya, sel induk yang telah sampai ke timus akan berubah menjadi limfosit Timus dan
menuju organ limpoid perifer untuk berkumpul di daerah yang dibawah pengaruh timus.
Proses pertahanan imun yang dilakukan oleh timus berawat dari dua lobus prekursor
hematopoietik dari sumsum tulang disebut sebagai timosit, yang matang menjadi sel T.
Setelah matang sel T beremigrasi dari timus dan membentuk sel T perifer yang bertanggung
jawab untuk mengarahkan banyak bagian sistem kekebalan adaptif dalam tubuh. Setiap sel T
menyerang zat tertentu yang diidentifikasi dengan reseptornya menyerang antigen. sel T yang
fungsional (seleksi positif), dan penghapusan sel T yang autoreaktif (seleksi negatif). Medula
timus yaitu tempat pematangan sel T. Sel-sel yang melewati kedua tingkat seleksi dilepaskan
ke dalam aliran darah untuk melakukan fungsi-fungsi kekebalan vital.Timus juga
mengeluarkan hormon dan sitokin yang mengatur pematangan sel-sel T, termasuk timin,
timimietin, dan timin.
Limpoid Sekunder
Setelah melalui proses pembentukan cell pada topik 1, maka akan dilanjutkan pada topik
2 tentang lanjutan proses pertahanan tubuh yang dilakukan oleh organ sistem limfosit
sekunder. Sistem limfosit sekunder yaitu tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi
fungsional limfosit terjadi dengan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen
yang berbeda. Jaringan limpoid sekunder menyediakan lingkungan bagi molekul asing
(antigen) asing atau yang diubah untuk berinteraksi dengan limfosit. Organ limfosit sekunder
pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel limpoid dalam amandel, patch Peyer,
limfa, kelenjar gondok, kulit, dll. Yang berhubungan dengan jaringan limpoid terkait mukosa
(MALT).
A. LIMFA
Limfa merupakan salah satu organ limfosit seekunder yang ada pada tubuh, kata limfa
berasal dari bahasa Yunani Kuno (splḗn) sistem imun yang ada pada tubuh kita ada organ
limfa yang berperan penting dalam hal produksi sel darah merah (eritrosit) dan sistem
kekebalan tubuh.
Posisi limfa berada di bawah bagian kiri diafragma, dan memiliki permukaan cembung
yang halus, menghadap diafragma, di bawah tulang iga kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas.
Sisi lain dari limfa dibagi oleh punggungan menjadi dua daerah yaitu bagian lambung anterior,
dan bagian ginjal posterior. Permukaan lambung diarahkan ke depan, ke atas, dan ke arah
tengah, luas dan cekung, dan bersentuhan dengan dinding posterior lambung. Di bawah ini ia
bersentuhan dengan ekor pankreas. Permukaan ginjal diarahkan medial ward dan down. Ini
agak datar, jauh lebih sempit dari permukaan lambung, dan berhubungan dengan bagian atas
permukaan anterior ginjal kiri dan kadang-kadang dengan kelenjar adrenalin kiri.
Limfa berfungsi untuk menghilangkan sel darah merah tua dan menyimpan cadangan
darah yang sangat diperlukan untuk persediaan jika terjadi syok hemoragik, dan juga
mendaur ulang zat besi. Sebagai bagian dari sistem fagosit mononuklear, limfa bertugas untuk
melakukan memetabolisme hemoglobin yang dikeluarkan dari sel darah merah tua (eritrosit).
Bagian globin dari hemoglobin terdegradasi menjadi asam amino konstitutifnya, dan bagian
heme dimetabolisme menjadi bilirubin, yang dibuang di hati. Pada manusia limfa berwarna
ungu dan berada di kuadran kiri atas perut.
Limfa mensintesis antibodi dalam sel darah putih, menghilangkan bakteri yang dilapisi
antibodi dan sel darah yang dilapisi antibodi dengan cara sirkulasi darah dan kelenjar getah
bening. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2009 dengan memakai tikus sebagai
media percobaan berhasil menemukan bahwa pulpa merah limfa membentuk reservoir yang
mengandung lebih dari setengah monosit tubuh. Monosit ini setelah pindah ke jaringan yang
terluka (seperti jantung setelah infark miokard), berubah menjadi sel dendritik dan makrofag
sambil mempromosikan penyembuhan jaringan. Limfa yaitu pusat aktivitas sistem fagosit
mononuklear dan analog dengan kelenjar getah bening besar, sebab jika tidak ada limfa
memicu meningkatnya kecenderungan kejadian infeksi suatu penyakit tertentu.
Limfa memiliki sistem kapiler biasa, namun darah langsung berhubungan dengan sel-sel
limfa, darah dari limfa dikumpulkan oleh sebuah sinus yang bekerja sebagai vena dan yang
mengantarkan darahnya ke dalam cabang-cabang vena
Lien dibungkus oleh jaringan padat sebagai capsula yang melanjutkan diri sebagai
trabecula. Capsula akan menebal di daerah hilus yang berhubungan dengan peritoneum. Dari
capsula melanjutkan serabut retikuler halus ke tengah organ yang akan membentuk anyaman.
Pada sediaan yang ada terlihat adanya daerah yang berbentuk bulat keabu-abuan sebesar 0,2-
0,7 mm, daerah ini dinamakan pulpa alba yang tersebar pada daerah yang berwarna
merah tua yang dinamakan pulpa ruba
Pulpa alba sering disebut pula sebagai corpusculum malphigi terdiri atas jaringan
limpoid difus dan noduler. Pulpa alba membentuk selubung limpoid periarterial (periarterial
limpoid sheats/PALS) di sekitar arteri yang baru meninggalkan trabecula, selubung ini
mengikuti arteri sampai bercabang-cabang menjadi kapiler. Sepanjang perjalanannya pada
beberapa tempat selubung ini mengandung germinal center. PALS dan germinal center
merupakan jaringan limpoid, namun PALS sebagian besar mengandung limfosit T dan germinal
center mengandung limfosit B. Struktur PALS terdiri dari anyaman longgar serabut retkuler
dan sel retikuler. Di tengah pulpa alba ada arteri sentralis. dalam celah-celah anyaman
ada limfosit kecil dan sedang, kadang ditemukan plasmasit. Pada waktu adanya
rangsangan antigen di daerah PALS banyak ada limfosit besar, limfoblas dan plasmasit
muda yang berjumlah banyak sekali.
Pulpa rubra terdiri atas pembuluh-pembuluh darah besar yang tidak teratur sebagai
sinus renosus dan jaringan yang mengisi diantaranya sebagai splendic cords of Billroth. Warna
merah pulpa rubra disebabkan sebab kandungan eritrosit yang mengisi sinus venosus dan
jaringan diantaranya.
Di dalam celah pulpa ada sel-sel bebas seperti makrfag, semua jenis sel dalam
darah dengan beberapa plasmasit. Dengan M.E. makrofag dapat dengan mudah ditemukan
sebagai sel besar dengan sitoplasma yag kadang-kadang mengandung eritrosit, netrofil dan
trombosit atau pigmen. Bagian tepi pulpa alba ada daerah peralihan dengan pulpa rubra
sebesar 80-100 mikron, daerah ini dinamakan zona marginalis yang mengandung sinus
venosus kecil. Zona marginalis merupakan pulpa rubra yang menerima darah arterial sehingga
merupakan tempat hubungan pertama antara sel-sel darah dan partikel dengan parenkim
lien.
Limfa merupakan bagian dari sistem imun tubuh berupa jaringan limpoid sekunder
pulpa alba berfungsi dalam proses filtrasi suatu partikel, dimana partikel-partikel yang
difagositosis makrofag dalam chorda lienalis dari pulpa rubra melakukan destruksi sel dengan
eritrosit dan trombosit tua yang rusak dalam pulpa rubra, patogen, melakukan pengurangan
lipid darah oleh makrofag dalam pulpa rubra.
Primordium lien tampak pada embrio umur 8-9 minggu sebagai suatu penebalan
jaringan mesenkim pada mesogastrium dorsalis. Sel-sel mesenkim memperbanyak diri dengan
mitosis membentuk hubungan melalui tonjolannya sebagai rangka retikuler dalam pulpa alba
dan pulpa rubra. Kemudian muncul sel primitif basofil yang berasal dari sel-sel induk dalam
saccus vitelinus, hepar atau medulla oseum.
Limfosit dalam lien sebagian besar berupa limfosit T, dan sebagian lainnya dari medulla
oseum yang dibawah pengaruh Limfosit B. Makrofag dalam lien kemungkinan berasal dari sel
induk dalam medulla osseum. jika lien diangkat, maka fungsinya akan diambil alih oleh
organ lain. jika terjadi luka, akan terjadi kesembuhan dengan timbulnya jaringan pengikat
B. TONSIL
Tonsil atau yang lebih umum disebut dengan amandel, merupakan rangkaian jaringan
limpoid sekunder yang ditutupi oleh membrana mucosa. Terletak di bagian kiri dan kanan
pangkal tenggorokan. Tonsil mensekresikan kelenjar yang banyak mengandung limfosit,
sehingga tonsil dapat berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada
saluran pernapasan bagian atas dan faring. Lubang penghubung antara cavum oris dan faring
disebut faucia. Di daerah ini membran mukosa tractus digestivus banyak mengandung
kumpulan jaringan limpoid dan ada infiltrasi kecil-kecil diseluruh bagian di daerah
ini . Selain itu ditemukan juga organ limpoid dengan batas-batasan yang nyata.
Tonsil merupakan rangkaian dari organ limpoid yang membentuk suatu rangkaian
(cincin Waldeyer) meliputi:
Tonsila Lingualis yang tada pada facies dorsalis radix linguae sebagai tonjolan-
tonjolan bulat. Pada permukaannya ada lubang kecil yang melanjutkan diri sebagai celah
invaginasi (crypta) yang dilapisi oleh epitel gepeng berlapis. Crypta ini dikelilingi oleh
jaringan limpoid. Sejumlah limfosit yang mengalami infiltrasi dalam epitel dan berkumpul
dalam crypta yang kemudian mengalami degenerasi dan membentuk suatu kumpulan dengan
sel epitel yang sudah terlepas bersama bakteri sebagai detritus. Kadang-kadang dalam crypta
bermuara kelenjar mukosa. Dalam jaringan limpoid tampak adanya nodus lymphaticus.
Tonsila Palatina berada diantara arcus glossoplatinus dan arcus pharyngopalatinus
ada dua buah jaringan limpoid dibawah membrane mukosa yang masing-masing disebut
tonsilla palatine. Epitel bersama jaringan pengikat yang menutupi mengadakan invaginasi
membentuk crypta sebanyak 10-20 buah. Pada dasar crypta, batas antara epitel dan jaringan
limpoid kabur sebab infiltrasi limfosit dalam epitel. Limfosit yang telah melintasi epitel
bersama dengan leukosit dan sel epitel yang mati sebagai corpusculum salivarius. ada
nodulus lymphaticus sebesar 1-2 mm dengan germinal centernya tersusun berderet dalam
jaringan limpoid yang difus. Antara nodulus lymphaticus yang satu dengan yang lain
dipisahkan oleh jaringan pengikat (capsula) yang mengandung limfosit, mast sell dan
plasmasit. jika ditemukan granulosit, hal ini menunjukkan adanya radang
Tonsila Pharyngealis digambarkan berada pada atap dan dinding dorsal nasofaring,
ada kelompok jaringan limpoid yang ditutupi pula oleh epitel. Jenis epitelnya sama
dengan epitel tractus respiratorius yaitu epitel semu yang berlapis bercillia dengan sel piala.
Epitelnya tidak mengadakan invaginasi membentuk crypta namun melipat-lipat. Pada puncak
lipatan banyak infiltrasi limfosit, dibawah epitel ada nodulus lymphaticus yang mengikuti
lipatan-lipatan. Jaringan limpoid ini dipisahkan oleh capsula tipis jaringan pengikat dan diluar
capsula yang ada kelenjar-kelenjar campuran yang saluran keluarnya menembus jaringan
limpoid dan bermuara didalam saluran lipatan epitel
C. NODUS LYMPHATICUS
Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang terletak berderet-deret sepanjang
pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya berasal dari beberapa kumpulan yang mampu
mengenal antigen yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara spesifik. Organ ini
berbentuk seperti ginjal atau oval dengan ukuran 1-2,5 mm. Bagian yang melekuk ke dalam
disebut hillus, berfungsi sebagai tempat keluar masuknya pembuluh darah. Pembuluh limfe
aferen masuk melalui permukaan konveks dan pembuluh limfe eferen keluar melalui hillus.
Nodus lymphaticus tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan
abdomen dan daerah mediastinum.
Nodus lymphaticus terdiri atas jaringan limpoid yang ditembusi anyaman pembuluh
limfe khusus yang disebut sebagai sinus lymphaticus. Nodus lymphaticus dibungkus oleh
jaringan pengikat sebagai kapsula yang menebal di daerah hillus dan beberapa jalur menjorok
ke dalam sebagai trabekula. Parenkim diantara trabekula diperkuat oleh anyaman serabut
retikuler yang berhubungan dengan sel retikuler. Diantara anyaman ini diisi oleh limfosit,
plasmasit dan sel makrofag. Parenkim nodus lymphaticus terbagi atas korteks dan medulla,
dengan perbedaan ada pada jumlah, diameter dan susunan sinus (
Korteks terlihat sebagai kumpulan pada sel-sel limpoid yang dilalui oleh trabekula dan
sinus corticalis. Pada korteks dibedakan berdasarkan daerah-daerah sebagai nodulus
lymphaticus primarius, nodulus lymphaticus secondaris dan jaringan limpoid difus. Nodulus
lymphaticus primer dan sekunder menmpati korteks bagian luar, sedang jaringan limpoid difus
menempati korteks bagian dalam atau daerah paracortical.
Sel retikuler terlihat memiliki inti yang jernih dengan sitoplasma mengandung granular
endoplasmic retikulum dan diduga membuat serabut-serabut retikuler. Umumnya germinal
center banyak ada di daerah korteks. Daerah dekat sinus marginalis mengandung banyak
limfosit kecil sebab menerima limfosit yang baru datang dari pembuluh darah aferen. Pada
bagian dalam korteks, sel-selnya yang tersusun lebih longgar dan terutama ada limfosit
kecil dan sel retikuler yang makin bertambah.
Kumpulan jaringan limpoid yang tersusun di sekitar pembuluh darah disebut
Medulla/Medulla Cord. Kumpulan jaringan limpoid ini membentuk suatu anyaman dan
berakhir di daerah hillus. Pada medulla ini ada banyak sekali anyaman serabut retikuler
dan sel retikuler yang di dalamnya mengandung limfosit, plasmasit dan makrofag. Kadang
ditemukan granulosit dan eritrosit. Jumlah unsur sel akan bertambah dalam keadaan sakit.
Ruangan yang lebih kecil pada nodus limfa disebut nodulus. Nodulus terbagi menjadi
ruangan yang lebih kecil lagi yang disebut sinus. Di dalam sinus ada limfosit dan
makrofag. Nodus limfa berfungsi untuk menyaring mikroorganisme yang ada di dalam limfa.
Nodus lymphaticus dalam organ barier pertahanan tubuh berfungsi menerima cairan
lymph, melakukan filtrasi, mensitimulasi sel dendrit untuk menjadi APC sehingga mampu
untuk melakukan kontak dengan limfosit, sebagai respon imun tubuh dalam pembentukan
antibodi, maturasi dan diferensiasi limfosit T dan B.
Pada dinding pembuluh limfe tidak dijumpai adanya barier yang mencegah bahan-bahan
antigenik, baik endogen maupun eksogen disebab kan dinding ini tipis dan mudah
ditembus oleh makromolekul dan sel-sel yang berkelana dari jaringan pengikat. Sel bakteri
dapat dengan mudah melintasi epidermis dan epitel membrana mukosa yang membatasi
ruangan dalam tubuh, yang jika luput dari perngrusakan oleh fagosit dalam darah maka
akan berproliferasi dan menghasilkan toksin yang mudah masuk dalam limfe.
Nodus lymphaticus memiliki fungsi sebagai filtrasi terhadap limfe yang masuk sebab
ada pada sepanjang pembuluh limfe sehingga akan mencegah pengaruh yang merugikan
dari bakteri ini . Fungsi imunologis nodus lymphaticus disebabkan adanya limfosit dan
plasmasit dengan bantuan makrofag untuk mengenal antigen dan pembuangan antigen fase
terakhir, yang juga merupakan tempat penyebaran sel-sel yang baru dilepas oleh timus atau
sumsum tulang
D. JARINGAN LIMPOID MUKOSAL (MALT)
Permukaan jaringan limpoid mukosa yang mempunyai karakteristik tipis dan bertindak
sebagai penghalang yang dapat ditembus ke bagian dalam tubuh sebab fungsi fisiologisnya
dalam penyerapan makanan. Sama halnya kerapuhan dan permeabilitasnya menciptakan
kerentanan terhadap infeksi yang menyerang tubuh manusia. Pentingnya fungsi jaringan
limpoid mukosa (MALT) dalam pertahanan tubuh bergantung pada populasi sel plasma besar
yang merupakan produsen antibodi, dengan jumlahnya melebihi jumlah sel plasma dalam
limfa, kelenjar getah bening dan gabungan sumsum tulang.
Jaringan limpoid mukosa (MALT), juga disebut jaringan limfatik terkait mukosa,
merupakan sistem difus dari konsentrasi kecil jaringan limpoid yang ditemukan di berbagai
tempat membran submukosa tubuh seperti pada saluran pencernaan, kelenjar tiroid, paru-
paru, kelenjar liur, mata dan kulit.
MALT sendiri merupakan pertahanan pertama dalam upaya melawan infeksi dengan
sekresi berbagai protein oleh sel epitelial, sekaligus pertahanan adaptif oleh sebab populasi
jenis limfosit seperti sel T dan sel B yang teraktivasi oleh adresin, serta sel plasma dan
makrofag, yang masing-masing berperan untuk menemukan antigen yang melewati epitel
mukosa (Murphy, 2011).
MALT terletak di tunika mukosa terutama lamina propria, traktus digestivus,
respiratorius dan genitourinarius. Terdiri dari sel T terutama CD8, sel B dan APC. Pada traktus
digestivus terdiri dari limfosit difus, limfonoduli soliter yang berkelompok (tonsila, plaque
Peyeri). Sedangkan pada traktus respiratorius dan genitourinarius terdiri dari limfosit difus,
limfonoduli soliter. Sistem imun mukosa pada jaringan limpoid mukosa merupakan suatu
komponen terbesar sistem limpoid melebihi lien dan limfonodus.
Jaringan limpoid terletak di sepanjang usus dan terkait usus memiliki luas sekitar 260-
300 m2. Berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan untuk penyerapan mukosa usus,
ditutupi oleh monolayer sel epitel, memisahkan MALT dari usus lumen dan isinya. Sel-sel
epitel ini ditutupi oleh lapisan glikokaliks pada permukaan luminal mereka untuk melindungi
sel-sel dari pH yang terlalu asam. Sel epitel baru yang berasal dari sel punca secara konstan
diproduksi di bagian bawah kelenjar usus, meregenerasi epitel (waktu pergantian sel epitel
kurang dari satu minggu). Meskipun dalam crypt ini enterosit konvensional merupakan tipe
sel yang dominan, sel Paneth juga dapat ditemukan. Terletak di bagian bawah crypts dan
melepaskan sejumlah zat antibakteri, di antaranya lisozim yang dianggap terlibat dalam
pengendalian suatu infeksi (Liang, 2012).
Di bawah mereka, ada lapisan yang mendasari jaringan ikat longgar yang disebut sebagai
lamina propria. Ada juga sirkulasi limfatik melalui jaringan yang terhubung ke kelenjar getah
bening mesenterika. MALT dan kelenjar getah bening mesenterika yaitu tempat di mana
respons imun dimulai sebab adanya sel-sel imun melalui sel epitel dan lamina propria. MALT
juga termasuk patch Peyer dari usus kecil, folikel limpoid terisolasi hadir di seluruh usus dan
lampiran pada manusia. Organ yang termasuk jaringan limpoid di usus, yaitu cincin tonsil
waldeyer, tambalan peyer, agregat limpoid di usus buntu dan usus besar, jaringan limpoid
menumpuk seiring bertambahnya usia di perut, agregat limpoid kecil di kerongkongan, dan
sel limpoid dan sel plasma terdistribusi secara difus dalam lamina propria usus
Saluran pencernaan merupakan komponen penting yang membutuhkan perlindungan
dari sistem kekebalan tubuh pada manusia. Usus memiliki massa terbesar dari jaringan
limpoid dalam tubuh manusia dimana MALT terdiri dari beberapa jenis jaringan limpoid yang
menyimpan sel-sel kekebalan, seperti limfosit T dan B, yang melakukan serangan dan
bertahan melawan patogen (
Sistem limpoid sekunder yaitu tempat sistem kekebalan di mana spesialisasi fungsional
limfosit terjadi dengan memungkinkan mereka untuk berhubungan dengan antigen yang
berbeda. Organ limfosit sekunder pada tubuh seperti kelenjar getah bening, dan folikel
limpoid dalam amandel, patch Peyer, limfa, kelenjar gondok, kulit, dll. Yang berhubungan
dengan jaringan limpoid terkait mukosa (MALT).
Limfa merupakan salah satu organ limpoid sekunder berperan penting dalam hal
produksi sel darah merah (eritrosit) dan sistem kekebalan tubuh. Limfa menghilangkan sel
darah merah tua dan menyimpan cadangan darah yang sangat diperlukan untuk persediaan
jika terjadi syok hemoragik, dan juga mendaur ulang zat besi. Sebagai bagian dari sistem
fagosit mononuklear, limfa memetabolisme hemoglobin yang dikeluarkan dari sel darah
merah tua (eritrosit). Limfa mensintesis antibodi dalam sel darah putih, menghilangkan
bakteri yang dilapisi antibodi dan sel darah yang dilapisi antibodi dengan cara sirkulasi darah
dan kelenjar getah bening, pusat aktivitas sistem fagosit mononuklear dan analog dengan
kelenjar getah bening besar, sebab jika tidak ada limfa memicu kecenderungan
infeksi tertentu.
Limfa memiliki sistem kapiler biasa, namun darah langsung berhubungan dengan sel-sel
limfa, darah dari limfa dikumpulkan oleh sebuah sinus yang bekerja sebagai vena dan yang
mengantarkan darahnya ke dalam cabang-cabang vena (Swirski, 2009).
Lien dibungkus oleh jaringan padat sebagai capsula yang melanjutkan diri sebagai
trabecula. Capsula akan menebal di daerah hilus yang berhubungan dengan peritoneum. Dari
capsula melanjutkan serabut retikuler halus dan pulpa ruba.
Di dalam celah pulpa ada sel-sel bebas seperti makrfag, semua jenis sel dalam
darah dengan beberapa plasmasit. Dengan makrofag dengan mudah ditemukan sebagai sel
besar dengan sitoplasma yag kadang-kadang mengandung eritrosit, netrofil dan trombosit
atau pigmen. Bagian tepi pulpa alba ada daerah peralihan dengan pulpa rubra sebesar
80-100 mikron, daerah ini dinamakan zona marginalis yang mengandung sinus venosus kecil.
Zona marginais merupakan pulpa rubra yang menerima darah arterial sehingga merupakan
tempat hubungan pertama antara sel-sel darah dan partikel dengan parenkim lien. Pulpa alba
berfungsi dalam proses filtrasi partikel partikel-partikel difagositosis makrofag dalam chorda
lienalis dari pulpa rubra, melakukan destruksi sel dengan eritrosit dan trombosit tua dan rusak
dalam pulpa rubra, patogen, melakukan pengurangan lipid darah oleh makrofag dalam pulpa
rubra.
Tonsil atau yang lebih umum disebut dengan amandel, merupakan rangkaian jaringan
limpoid sekunder yang ditutupi oleh membrana mucosa. Terletak di bagian kiri dan kanan
pangkal tenggorokan. Tonsil mensekresikan kelenjar yang banyak mengandung limfosit,
sehingga tonsil dapat berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan melawan infeksi pada
saluran pernapasan bagian atas dan faring. Lubang penghubung antara cavum oris dan faring
disebut faucia. Tonsil merupakan rangkaian dari organ limpoid yang membentuk suatu
rangkaian (cincin Waldeyer), Tonsila Palatina, Tonsila Pharyngealis
Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang terletak berderet-deret sepanjang
pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya merupakan kumpulan yang mampu mengenal antigen
yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara spesifik. Organ ini berbentuk seperti ginjal
atau oval dengan ukuran 1-2,5 mm. Bagian yang melekuk ke dalam disebut hillus, yang
merupakan tempat keluar masuknya pembuluh darah. Pembuluh limfe aferen masuk melalui
permukaan konveks dan pembuluh limfe eferen keluar melalui hillus. Nodus lymphaticus
tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan abdomen dan daerah
mediastinum.
Nodus lymphaticus terdiri atas jaringan limpoid yang ditembusi anyaman pembuluh
limfe khusus yang disebut sinus lymphaticus. Nodus lymphaticus merupakan organ kecil yang
terletak berderet-deret sepanjang pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya merupakan
kumpulan yang mampu mengenal antigen yang masuk dan memberi reaksi imunologis secara
spesifik. Organ ini berbentuk seperti ginjal atau oval dengan ukuran 1-2,5 mmNodus
lymphaticus tersebar pada ekstrimitas, leher, ruang retroperitoneal di pelvis dan abdomen
dan daerah mediastinum. Fungsi dari Nodus lymphaticus dalam organ barier pertahanan
tubuh yaitu menerima cairan lymph, melakukan filtrasi, mensitimulasi sel dendrit untuk
menjadi APC sehingga mampu untuk kontak dengan limfosit, sebagai respon imuntubuh
dalam pembentukan antibodi, maturasi dan diferensiasi limfosit T dan B.
Jaringan limpoid mukosa (MALT) juga disebut jaringan limfatik terkait mukosa, yaitu
sistem difus dari konsentrasi kecil jaringan limpoid yang ditemukan di berbagai tempat
membran submukosa tubuh seperti pada saluran pencernaan, kelenjar tiroid, paru-paru,
kelenjar liur, mata dan kulit. MALT merupakan pertahanan pertama dalam upaya melawan
infeksi dengan sekresi berbagai protein oleh sel epitelial, sekaligus pertahanan adaptif oleh
sebab populasi jenis limfosit seperti sel T dan sel B yang teraktivasi oleh adresin, serta sel
plasma dan makrofag, yang masing-masing terletak untuk menemukan antigen yang melewati
epitel mukosa. Terletak di tunika mukosa terutama lamina propria, traktus digestivus,
respiratorius dangenitourinarius. Terdiri dari sel T terutama CD 8, sel B dan APC. Pada traktus
digestivus terdiri dari limfosit difus, limfonoduli soliter dan berkelompok (tonsila, plaque
peyeri). Sedangkan pada traktus respiratorius dan genitourinarius terdiri dari limfosit difus,
limfonoduli soliter. Sistem imun mukosa pada jaringan limpoid mukosa merupakan komponen
terbesar sistem limpoid melebihi lien dan limfonodus.
Glosarium
Adaptif : Mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan.
Adhesin : Protein pada dinding s








