Imunologi 17

 



garis tes (garis kontrol harus 

berwarna sebagai validasi reagen). 

• Invalid = garis kontrol tidak menunjukkan warna (reagen tidak valid), walaupun pada 

garis tes muncul atau tidak muncul warna.  

 

3. Metode 

Metode ini dengan dasar Enzyme Immunoassay dan tidak berbeda jauh dengan ELISA 

(Enzim Linked Immunosorbent Assay). Perbedaan yang terlihat yaitu  imunokromatografi 

dilakukan pada kertas kromatografi atau nitroselulosa sedangkan ELISA dilakukan pada tabung 

atau plate mikrotiter. Kertas kromatografi pada imunokromatografi biaa disebut test strip, 

sebab  bentuknya seperti strip, baik dalam kaset atau tanpa kaset. Gambar 5.28 

menggambarkan proses reaksi yang terjadi pada sebuah test strip imunokromatografi 


4. Jenis-Jenis Immunochromatographic Assay 

Ada beberapa jenis pemeriksaan metode imunokromatografi dalam bentuk strip test, 

cassette test, maupun rapid test menurut Mengko (2013) (Gambar 5.29)  

a. HbsAg 

b. Plano test 

c. Narkoba 

d. Pemeriksaan dengue 

e. Pemeriksaan widal  

f. Pemeriksaan HIV 

g. Pemeriksaan HCV 

h. Pemeriksaan Anti HbsAg 

 

  

 

Ringkasan 

 

Banyak teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium. 

Banyaknya tempat pengikatan pada antibodi dan antigen memicu  terbentuknya 

kompleks besar saat  antibodi dan antigen bereaksi pada konsentrasi yang tepat. 

Pengembangan teknik pemeriksaan dalam bidang imunoserologi dengan label ini 

memakai  metode yang lebih canggih. 

Imunoasai Fluoresens yaitu  tipe immunoassay yang memakai  metode teknik 

biokimia yang digunakan untuk mendeteksi pengikatan antibodi "deteksi" dan molekul analit. 

Metode ini termasuk deteksi sensitivitas yang lebih tinggi dari analit, pereaksi yang 

disederhanakan dan desain pengujian yang lebih sederhana. Immunoassay berbasis fluoresen 

modern digunakan sebagai pendeteksi senyawa fluoresen yang menyerap cahaya atau energi 

(energi eksitasi) pada panjang gelombang tertentu dan kemudian memancarkan cahaya atau 

energi pada panjang gelombang yang berbeda. Ada beberapa macam cara FIA (Fluorescent 

Immunoassay) yaitu Direk (langsung) dan Indirek (tidak langsung). 

Yalow dan Berson mengembangkan teknik radioisotop pertama yang mempelajari 

volume darah dan metabolisme yodium. Pada tahun 1959 Yalow dan Berson 

menyempurnakan teknik pengukuran dan menamakannya radioimmunoassay (RIA). 

Radioimmunoassay (RIA) yaitu  metode yang mengukur adanya antigen dengan sensitivitas 

yang sangat tinggi untuk mengukur jumlah yang sangat kecil dari suatu zat dalam darah. RIA 

digunakan dalam diagnosis untuk menemukan antigen tunggal atau antibodi dalam cairan 

biologis. 

Enzyme Immunoassay (EIA) yaitu  tes untuk mendeteksi antigen atau antibodi dengan 

penambahan enzim yang dapat mengkatalisa substrat sehingga terjadi perubahan warna. 

Metode EIA memakai  sifat katalisa dari enzim untuk mendeteksi dan menghitung jumlah 

reaksi imunologi. Hasil pada tes EIA dapat juga dinilai dengan membandingkan hasil 

spektofometer serum pasien dengan referensi serum kontrol. Ada 2 (dua) tipe EIA yaitu 

deteksi antigen dan deteksi antibodi (non-kompetitif, kompetitif, capture). 

Imunokromatografi yaitu  teknik untuk memisahkan dan mengidentifikasi antigen atau 

antibodi yang terlarut dalam sampel atau disebut juga aliran samping (lateral flow test) atau 

dengan singkat disebut uji strip (strip test). Komponen pada imunokromatografi meliputi 

sample pad, conjugate pad, membran selulosa, garis test, garis kontrol, absorbing pad. 

Metode ini dengan dasar Enzyme Immunoassay dan tidak berbeda jauh dengan ELISA (Enzim 

Linked Immunosorbent Assay). Perbedaan yang terlihat yaitu  imunokromatografi dilakukan 

pada kertas kromatografi atau nitroselulosa. 

 

 

 

 

Glosarium 

 

Antibodi (Ab) : Suatu protein yang dihasilkan sebagai akibat interaksi dengan suatu 

antigen. Protein ini mampu bergabung dengan antigen yang 

menstimulasi produksinya.  

Antigen (Ag) : Suatu zat yang dapat bereaksi dengan antibodi.  

Basofil : Sel darah putih yang berjumlah 0,01-0,3% yang mengandung banyak 

granula sitoplasmik yang berjumlah dua lobus dan dapat bergerak ke 

jaringan tubuh pada kondisi tertentu. Basofil bagian dari granulosit, 

disaat teraktivasi, basofil akan mengeluarkan senyawa seperti 

kondroitin, histamin, leukotriena, heparin, lisfospolipase, elastase dan 

beberapa jenis atau macam sitokina. 

Capture EIA : Metode ELISA yang digunakan untuk deteksi Ig M dalam serum dengan 

memakai  anti Ig M yang dilapiskan pada fase padat sehingga Ig M 

dalam sampel akan ditangkap kemudian, tambah antigen (misalnya 

Rubella) yang selanjutnya, ditambahkan antibodi yang dilabel enzim. 

Aktivitas enzim berbanding lurus dengan konsentrasi Ig M dalam 

sampel.  

Competitif EIA  : Metode ELISA yang digunakan untuk deteksi antibodi dalam serum 

dengan memakai  antigen direkatkan pada fase padat. Antibodi 

dalam sampel ditambahkan. Kemudian antibodi yang dilabel enzim 

ditambahkan. Aktivitas enzim yang terikat diukur dengan penambahan 

substrat. Aktivitas enzim yang terikat berbanding terbalik dengan 

kadar antibodi dalam sampel. 

ELISA  :  Enzyme Linked Imunosorbent Assay 

  Cara kuantitatif untuk mengukur antigen yang diendapkan pada 

permukaan padat dengan memakai  antibodi spesifik yang diikat 

dengan enzim kovalen. Jumlah antibodi yang diikat antigen sebanding 

dengan jumlah antigen yang ada dan ditentukan dengan cara 

spektrofotometris. Perubahan substrat jernih menjadi produk 

berwarna atas pengaruh enzim yang diikat. 

Epitop  :  Tempat di dalam antigen yang dikenali oleh antibodi. Juga dikenal 

sebagai determinan antigenik.  

Imunitas humoral  :  Berikatan dengan imunitas dalam cairan tubuh dan digunakan untuk 

menunjukkan imunitas yang diperantarai oleh antibodi dan 

komplemen.  

Imunoglobulin : Suatu glikoprotein, terdiri dari rantai H dan L, yang berfungsi sebagai 

antibodi. Semua antibodi yaitu  imunoglobulin, namun  tidak semua 

imunoglobulin mempunyai fungsi antibodi.  

Inflamasi : Akumulasi lokal cairan dan sel-sel setelah cidera atau infeksi. 

  

 

Kelas Imunoglobulin : Subdivisi molekul imunoglobulin berdasarkan perbedaan struktural 

(urutan asam amino) pada manusia ada  lima kelas imunoglobulin: 

IgG, IgM, IgA, IgE, dan IgD. 

Komplemen : Suatu set protein plasma yang merupakan mediator primer reaksi-

reaksi antigen-antibodi. 

Makrofag : Sel mononuklear fagositik yang berasal dari monosit sumsum tulang 

dan ditemukan dalam jaringan serta tempat peradangan. Makrofag 

berperan sebagai pembantu dalam imunitas, terutama sebagai sel 

penyaji antigen (antigen presenting cell, APC)  

Respon imun : Terjadinya resistensi (imunitas) terhadap zat asing misalnya agen 

infeksius. Respons imun dapat diperantarai antibodi (humoral), 

diperantarai sel (selular), atau keduanya.  

Ruptur :  Robek atau koyaknya jaringan secara paksa. 

Sel B : Dalam artian sempit, suatu sel yang berasal dari bursa pada spesies 

burung dan, dengan memakai  analogi ini , juga berlaku 

untuk sel yang berasal dari organ yang sama dengan bursa pada 

spesies bukan burung. Sel B yaitu  prekursor sel plasma yang 

menghasilkan antibodi.  

Sel Mast : Sel yang kaya dengan granula berisi berbagai macam enzim, Histamin 

dan berbagai jenis mediator kimia lain yang bertanggung jawab 

terhadap terjadinya inflamasi pada daerah sekitar luka. Bahan aktif 

yang dilepaskannya akan memicu serangkaian proses yang 

memicu  peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga 

sel monosit bisa dengan mudah bermigrasi kedalam jaringan yang 

luka. 

Sel T : Suatu sel yang berasal dari timus yang berpartisipasi dalam berbagai 

reaksi imun selular yang dapat membunuh sel lain, misal, sel-sel yang 

terinfeksi patogen intraseluler.  

Sensitisasi : Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya rangsangan respon 

kekebalan yang berbeda jika  organisme menerima paparan 

pertama dan kedua atas suatu senyawa. Sensitisasi merupakan 

langkah pertama pada respon alergi. 

Sensitivitas  :  Dapat diartikan sebagai batas deteksi, yaitu kadar terendah dari suatu 

analit yang dapat dideteksi oleh suatu metode. Dengan kata lain, 

positivitas diantara yang berpenyakit (persentase hasil positif sejati 

diantara pasien–pasien yang berpenyakit). Sensitivitas yang baik 

jika  mendekati nilai 100%. Pemeriksaan dengan sensitivitas yang 

tinggi terutama dipersyaratkan pada pemeriksaan untuk tujuan 

skrining 

Serologi : Studi serum (antibodi) dan reaksi dengan antigen. Biasanya dilakukan 

dalam diagnosis penyakit infeksi yang mencari antibodi spesifik. 

 

 

Spesifisitas : Berkaitan dengan kemmapuan dan akurasi suatu metode untuk 

memeriksa suatu analit tanpa dipengaruhi zat-zat lain. Persentase 

hasil negatif sejati diantara pasien-pasien yang sehat. 

Tidak semua antigen dapat memicu produksi antibodi; zat yang dapat 

memicu produksi antibodi disebut imunogen.  

Trombosit : Fragmen sitoplasma megakariosit yang tidak berinti dan terbentuk di 

sumsum tulang. Trombosit matang berukuran 2-4 µm, berbentuk 

cakram bikonveks dengan volume 5-8 fl. Trombosit setelah keluar dari 

sumsum tulang, sekitar 20-30% trombosit mengalami sekuestrasi di 

limpa. 

Throughput : Cakupan frekuensi transmisi aktual yang terukur pada suatu ukuran 

waktu tertentu. 

 

 

 

 


GANGGUAN SISTEM IMUN 

 

istem imun bawaan merupakan bentuk pertahanan awal yang melibatkan penghalang 

permukaan, reaksi peradangan, sistem komplemen, dan komponen seluler. Sistem imun 

adaptif berkembang sebab  diaktifkan oleh sistem imun bawaan dan memerlukan waktu 

untuk dapat mengerahkan respons pertahanan yang lebih kuat dan spesifik. Imunitas adaptif 

(atau dapatan) membentuk memori imunologis setelah respons awal terhadap patogen dan 

membuat perlindungan yang lebih ditingatkan pada pertemuan dengan patogen yang sama 

berikutnya. Proses imunitas dapatan ini menjadi dasar dari vaksinasi. Gangguan pada sistem 

imun dapat berupa imunodefisiensi, penyakit autoimun dan penyakit inflamasi dan 

kanker. Imunodefisiensi dapat terjadi saat  sistem imun kurang aktif sehingga dapat 

menimbulkan infeksi berulang dan dapat mengancam jiwa. Sebaliknya, penyakit autoimun 

memicu  sistem imun menjadi hiperaktif menyerang jaringan normal seakan-akan 

jaringan ini  merupakan benda asing. 

Pada Bab 6 ini kita akan mempelajari tentang gangguan sistem imun. Pelajarilah dengan 

seksama Bab 6 ini. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa akan mampu:  

1. Menjelaskan Hipersensitivitas (Tipe I, Tipe II, Tipe III dan Tipe IV) 

2. Menjelaskan Penyakit Autoimun 

 

Manfaat mempelajari bab ini yaitu  membantu Anda untuk dapat memahami lebih 

dalam tentang Respon Imun manusia. Agar memudahkan Anda mempelajari bab ini, maka 

materi yang akan dibahas terbagi menjadi 2 topik, yaitu:  

1. Hipersensitivitas (Tipe I, Tipe II, Tipe III dan Tipe IV) 

2. Penyakit Autoimun 


 

Selanjutnya agar Anda berhasil dalam mempelajari materi yang tersaji dalam Bab 6 ini, 

perhatikan beberapa saran sebagai berikut :  

1. Pelajari setiap topik materi secara bertahap. 

2. Usahakan mengerjakan setiap latihan dengan tertib dan sungguh-sungguh. 

3. Kerjakan tes yang disediakan dan diskusikan bagian-bagian yang sulit Anda pahami 

dengan teman sejawat atau tutor, atau melalui pencarian di internet. 

 

Untuk mengukur sejauh mana pemahaman anda dalam mempelajari bab ini, maka lebih 

baik anda mengerjakan latihan dan soal-soal diakhir bab tanpa melihat materi yang sudah 

diajarkan. Nah, sekarang mari kita mulai belajar bersama-sama tentang gangguan imunologi! 

 

HIPERSENSITIVITAS 

 

 

Sebelumnya kita sudah mempelajari tentang respon imun pada Bab 4. Mari kita ulang 

kembali fungsi dari respon Imun. Respon imun berfungsi memberikan perlindungan terhadap 

tubuh dari serangan patogen. Namun, kadang kala respon imun mengalami gangguan 

sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Hipersensitivitas yaitu  suatu 

kondisi dimana respon imun terjadi secara berlebihan sehingga tidak memberikan efek 

proteksi namun  justru memicu  penyakit pada individu. Autoimun sebagai bagian dari 

hipersensitivitas juga bersifat merusak tubuh. Beberapa mekanisme disebutkan menjadi 

pemicu  hipersensitivitas dan autoimun. Pada bab ini, kita akan mempelajari mengenai apa 

itu hipersensitivitas dan autoimun, beberapa jenisnya dan apa saja penyakit yang 

disebabkannya. 

Hipersensitivitas merupakan suatu keadaan dimana respon imun  berlebihan, sehingga 

menghasilkan ketidaknyamanan dan penyakit pada individu yang mengalaminya. 

Hipersensitivitas berbeda dengan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi patogen sebab  

hipersensitivitas timbul dari respon imun yang normal namun  reaksinya berlebihan. 

Ada 4 jenis hipersensitivitas menurut  Baratawidjaja (2009) yaitu Tipe I (Immediate 

Hypersensitivity), Tipe II (Antibody Mediated), Tipe III (Immune complex mediated) dan tipe 

IV (Delayed Type Hypersensitivity).  

 

B. TIPE I 

 

Hipersensitivitas Tipe I sering dikenal dengan alergi oleh beberapa orang. Alergi terjadi 

dengan perantaraan Ig E. jika  ada antigen kemudian dikenali oleh molekul Ig E yang ada di 

permukaan sel mast, akan memicu  produksi sitokin pro-inflamasi yang disebut histamin 

oleh sel mast. Histamin ini akan memicu  reaksi alergi. Mekanisme histamin 

memicu  alergi bisa berupa terjadinya kontraksi otot polos pada paru- paru sehingga 

individu kesulitan bernafas. Bisa juga dengan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah 

sehingga plasma darah bisa keluar dari pembuluh darah dan memicu  syok. Kejadian ini 

disebut syok anafilaksis. Respon yang dihasilkan dari hipersensitivitas tipe I ini sangat cepat, 

dalam waktu 15-30 menit setelah paparan agen pemicu  alergi (alergen). Ada beberapa  

macam alergen yaitu seperti bulu kucing, serbuk bunga, debu, dll. Alergen untuk setiap 

individu bisa berbeda-beda. Contoh penyakit yang merupakan hipersensitivitas tipe I yaitu  

 

 

asma dan anafilaksis. Pada asma, saluran bronkiolus akan menyempit dan mengganggu 

jalannya udara bernafas. Hal ini memicu  individu yang terkena asma mengalami 

kesulitan bernafas (gambar 6.1). 

 


 

 Anafilaksis yaitu  gejala alergi berat sistemik yang berbahaya dan dapat 

mengakibatkan kematian. Oleh sebab  itu, orang yang mengalami anafilaksis harus 

mendapatkan pertolongan medis sesegera mungkin. Pertolongan medis untuk anafilaksis 

yaitu  dengan memberikan obat epinefrin. Beberapa gejala anafilaksis antara lain batuk, 

sesak pada dada, kesulitan bernafas dan peningkatan denyut jantung, pembengkakan pada 

beberapa tempat seperti muka dan lidah kemudian bisa muntah, diare, nadi lemah dan pucat 

(Gambar 6.2). 

 

 

C. TIPE II 

 

Hipersensitivitas tipe II merupakan hipersensitivitas dengan perantaraan antibodi Ig M 

dan Ig G yang berikatan dengan antigen pada permukaan sel. Ikatan antigen-antibodi ini 

membentuk komplek yang menstimulasi protein komplemen beraksi. Respon dari protein 

komplemen bersifat sitotoksik (merusak sel) sehingga bisa berdampak serius bagi individu 

(Gambar 6.3). Contoh penyakit hipersensitivitas tipe II yaitu  trombositopenia, Grave’s 

disease, eritroblastosis fetalis dan Myasthenia gravis.  

 

 

Sumber: https://docplayer.info/77016462-Modul-imunologi-ibl341-disusun-oleh-dr-henny-

saraswati-s-si-m-biomed.html 

 

Gambar 6.3 

Mekanisme Hipersensitivitas Tipe II, Antibodi Mengenali Antigen yang ada  pada 

Permukaan Sel 

 262 Imunologi   ◼ 

 

Eritroblastosis fetalis yaitu  suatu kondisi anemia pada bayi yang disebabkan antibodi 

ibu mengenali antigen yang ada  pada sel darah merah janin, sehingga mengakibatkan 

penggumpalan sel darah merah dan anemia pada bayi. Hal ini dapat terjadi jika  seorang 

wanita dengan golongan darah Rhesus (Rh) negatif (Rh-) menikah dengan laki-laki yang 

memiliki golongan darah Rh+. Janin yang dikandung ibu dengan Rh- akan memiliki golongan 

darah Rh+ seperti ayahnya. Antibodi ibu akan dapat mengenali antigen Rhesus pada sel darah 

merah janin, sehingga terjadilah anemia pada janin. Umumnya bayi yang dilahirkan pada kasus 

Eritroblastosis fetalis dapat bertahan hidup pada kelahiran pertama tidak terdampak serius. 

namun  pada kelahiran kedua dan seterusnya, bayi dapat mengalami anemia, 

hipoalbuminemia, peningkatan bilirubin, gagal jantung dan kematian (Gambar 6.4). 

 

 

Sumber: https://docplayer.info/77016462-Modul-imunologi-ibl341-disusun-oleh-dr-henny-

saraswati-s-si-m-biomed.html 

 

Gambar 6.4 

Eritroblastosis Fetalis pada Kehamilan Pertama dan Kedua 

 

Penyakit lain yang disebabkan oleh hipersensitivitas tipe II yaitu  Graves Disease. Pada 

penyakit ini, terjadi produksi tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme) pada tubuh. Hal ini 

memicu  pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran mata, penurunan nafsu makan, 

perubahan siklus menstruasi pada wanita dan peningkatan dan ketidakteraturan detak 

jantung (Gambar 6.5).  

 

 

◼   Imunologi        263 

 

 

Sumber: https://docplayer.info/77016462-Modul-imunologi-ibl341-disusun-oleh-dr-henny-

saraswati-s-si-m-biomed.html 

 

Gambar 6.5 

Pembesaran Kelenjar Tiroid dan Pembesaran Mata Merupakan Gejala- gejala Graves Disease 

 

D. TIPE III 

 

Hipersensitivitas Tipe III diperantarai oleh pembentukan komplek imun di darah. 

Komplek imun yaitu  antibodi dan antigen terlarut yang saling berikatan. Komplek imun ini 

tidak dapat dapat dihilangkan oleh sel-sel imun, dan kemudian mengendap di dasar pembuluh 

darah atau di ginjal (Gambar 6.6). Hal ini akan memicu  terjadinya peradangan di daerah 

ini . Munculnya respon hipersensitivitas tipe III ini cukup lambat, sekitar 3-10 jam. 

Contoh penyakit hipersensitivitas tipe III yaitu  systemic lupus erythomatosis dan arthritis 


Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang lebih dikenal dengan penyakit lupus, 

yaitu  inflamasi atau peradangan pada beberapa tempat di tubuh akibat pengenalan antigen 

tubuh oleh antibodi. Inflamasi ini bisa terjadi pada beberapa organ tubuh sehingga 

mengakibatkan kerusakan dan memicu  kematian. Gejala SLE cukup bervariasi, namun 

yang paling khas yaitu  terbentuknya ruam (rash) pada pipi yang berbentuk kupu-kupu 

(Gambar 6.7) 


Rheumatoid arthritis merupakan peradangan yang terjadi pada persendian, khususnya 

pada tangan dan kaki (Gambar 6.8). 

 


Peradangan pada sendi ini mengakibatkan adanya pembengkakan pada daerah sendi, 

alat gerak menjadi kaku dan sakit saat digerakkan (Gambar 6.9). 

 

 

 

E. TIPE IV 

 

Hipersensitivitas tipe IV menghasilkan reaksi yang lambat, yaitu beberapa hari setelah 

terpapar antigen (48-72 jam). Hipersensitivitas tipe ini merupakan satu-satunya yang 

disebabkan atau diperantarai oleh sel limfosit T, baik sel T CD4+ maupun CD8+. Sel limfosit T 

CD4+ yang mengenali antigen akan teraktivasi dan mengeluarkan sitokin yang berperan dalam 

inflamasi. Untuk hipersensitivitas tipe IV ini, inflamasi yang terjadi lebih berat. Sedangkan sel 

T CD8+ pada kejadian hipersensitivitas tipe IV ini sangat aktif merusak sel terinfeksi patogen. 

Contoh penyakit hipersensitivitas tipe IV ini yaitu  penyakit multiple sclerosis (kerusakan 

myelin), dermatitis sebab  penggunaan bahan nikel (misalnya penggunaan cincin) dan reaksi 

yang terjadi pada tes mantoux (Baratawidjaja KG, 2012). 

Multiple sclerosis yaitu  penyakit autoimun, dimana sel limfosit T akan menyerang 

selubung mielin pada sel saraf. Selubung mielin ini berfungsi untuk melindungi sel saraf 

(Gambar 6.10). jika  selubung ini dirusak, maka sel saraf juga akan rusak. Hal ini 

mengakibatkan hilangnya fungsi dan koordinasi sel saraf dari otak. Gejalanya juga cukup 

bervariasi, tergantung dimana sel saraf yang diserang dan tingkat kerusakan sel saraf. Hal ini 

antara lain mati rasa atau kelemahan anggota gerak pada sisi yang sama, penglihatan menjadi 

kabur, terjadi kesulitan dalam berbicara, menelan dan berjalan 

 

Tes mantoux yaitu  uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi 

Mycobacterium tuberculosis, bakteri pemicu  penyakit tuberkulosis. Pada tes mantoux, 

dilakukan penyuntikan antigen tuberkulin di bawah kulit (intradermal). Setelah itu, ditunggu 

selama 48-72 jam. Respon positif terjadi jika  terbentuk benjolan pada bekas suntikan.  

Untuk pencatatan hasil dilakukan pengukuran diameter benjolan ini (Gambar  6.11). 

     (a)    (b) 

 

 

 

Ringkasan 

 

Mekanisme respon imun untuk proteksi tubuh terkadang tidak berlangsung secara 

optimal. Hipersensitivitas dan autoimun yaitu  respon imun yang justru memicu  

penyakit pada individu. Hipersensitivitas yaitu  respon imun yang berlebihan sehingga 

mengakibatkan adanya peradangan, ketidaknyamanan bahkan kematian pada individu. Ada 4 

jenis hipersensitivitas, yaitu Tipe I (Immediate Hypersensitivity), Tipe II (Antibody Mediated), 

Tipe III (Immune complex mediated) dan tipe IV (Delayed Type Hypersensitivity). Tipe I hingga 

III diperantarai oleh antibodi, sedangkan tipe IV diperantarai oleh sel limfosit T. Autoimun 

yaitu  bagian dari hipersensitivitas. Contoh penyakit hipersensitivitas antara lain alergi, 

multiple sclerosis, SLE dan Eritroblastosis fetalis. 

 

 

 

Penyakit Autoimun 

 

A. FAKTOR pemicu  

 

Penyakit autoimun yaitu  kondisi saat  sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang 

tubuh sendiri. Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme 

asing seperti bakteri atau virus. Namun, pada seseorang yang menderita penyakit autoimun, 

sistem kekebalan tubuhnya melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga 

sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk 

menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Penyakit autoimun merupakan bagian dari 

hipersensitivitas. Penyakit autoimun yaitu  penyakit dimana respon imun tubuh mengenali 

dan bereaksi dengan protein tubuh (self antigen) sendiri. Oleh sebab  itu penyakit autoimun 

akan bersifat kronis disebab kan protein tubuh tidak akan hilang, namun menetap dalam 

tubuh. Pada manusia autoimun ini belum diketahui secara jelas pemicu nya.  

Penyakit autoimun dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu (a) organ spesifik dan 

(b) sistemik. Pada penyakit autoimun yang organ spesifik, maka alat tubuh yang menjadi 

sasaran yaitu  kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, lambung dan pankreas. Respon imun yang 

terjadi yaitu  terbentuknya antibodi terhadap jaringan alatnya sendiri. Dalam hal ini muncul 

antibodi yang tumpang tindih, seperti antibodi terhadap kelenjar tiroid dan antibodi terhadap 

lambung sering ditemukan pada satu penderita. Kedua antibodi ini  jarang ditemukan 

bersamaan dengan antibodi yang non-organ spesifik/sistemik seperti antibodi terhadap 

komponen nukleus dan nukleoprotein. Penderita anemia perniosa lebih cenderung menderita 

penyakit tiroid autoimun dibanding orang normal dan juga sebaliknya penderita dengan 

penyakit tiroid autoimun lebih cenderung untuk juga menderita anemia pernisiosa. 

Penyakitnya ada  atau terekspresikan pada organ-organ tertentu, contohnya pada 

penyakit Hashimoto’s thyroiditis dan Graves disease. Sedangkan penyakit autoimun yang 

sistemik yaitu  penyakit autoimun yang berdampak pada keseluruhan jaringan tubuh, seperti 

contohnya pada penyakit lupus (SLE, Systemic Lupus Erythematosus) dan rheumatoid arthritis.  

Penyakit autoimun spesifik terjadi sebab  dibentuknya antibodi terhadap autoantigen 

yang tersebar luas di dalam tubuh, seperti DNA. Antibodi yang tumpang tindih ditemukan pula 

pada golongan penyakit rheumatoid seperti arthritis  rheumatoid dan lupus eritematosus 

sistemik. Juga sering ditemukan gejala klinis yang sama pada kedua penyakit ini . Pada 

penyakit autoimun sistemik  sering juga dibentuk kompleks imun yang dapat diendapkan pada 

dinding pembuluh darah, kulit, sendi, dan ginjal, serta menimbulkan kerusakan pada organ 


 

ini . Tempat endapan kompleks imun didalam ginjal bergantung pada ukuran kompleks 

yang ada di dalam sirkulasi.  

Mekanisme penyakit autoimun yang memicu  kerusakan sel merupakan suatu 

siklus yang dapat berulang. Dimulai dari pengenalan self antigen oleh antibodi dan sel limfosit 

akan memicu  terjadinya aktivasi antibodi dan limfosit ini . Hasil dari aktivasi ini 

yaitu  adanya reaksi inflamasi pada tempat tertentu. Stimulasi perbanyakan antibodi 

terhadap sel antigen terus berlanjut dan siklus akan kembali dari awal (

 

Belum diketahui apa pemicu  penyakit autoimun, namun menurut Hikmah (2010) 

ada  beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita 

penyakit ini antara lain: 

 

1. Etnis 

Beberapa penyakit autoimun umumnya menyerang etnis tertentu. Misalnya, diabetes 

tipe 1 umumnya menimpa orang Eropa, sedangkan lupus rentan terjadi pada orang Afrika-

Amerika dan Amerika Latin. 

 

  

 

2. Gender 

Wanita lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria. Biasanya penyakit ini 

dimulai pada masa kehamilan. 

 

3. Lingkungan 

Paparan dari lingkungan seperti cahaya matahari, bahan kimia serta infeksi virus dan 

bakteri, bisa memicu  seseorang terserang penyakit autoimun dan memperparah 

keadaannya. 

 

4. Riwayat keluarga 

Umumnya penyakit autoimun juga menyerang anggota keluarga yang lain. Meski tidak 

selalu terserang penyakit autoimun yang sama, mereka rentan terkena penyakit autoimun 

yang lain. 

 

5. Hormon 

ada  asumsi bahwa penyakit autoimun terkait dengan perubahan hormon, seperti 

saat hamil, melahirkan, atau menopause. Infeksi Gejala autoimun juga dapat dipicu atau 

diperburuk infeksi tertentu. 

 

6. Infeksi 

Gejala autoimun juga dapat dipicu atau diperburuk infeksi tertentu.  

 

Gejala Penyakit Autoimun 

Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya 

memiliki gejala yang sama. Menurut Hikmah (2010) gejala-gejala awal dari penyakit autoimun 

yaitu  kelelahan, pegal otot, ruam kulit, demam ringan, rambut rontok, sulit berkonsentrasi 

dan kesemutan di tangan dan kaki 

Masing-masing penyakit autoimun memiliki gejala yang spesifik, misalnya sering merasa 

haus, lemas, dan penurunan berat badan pada penderita diabetes tipe1. Kesalahpahaman 

bahwa bahwa sistem kekebalan tubuh seseorang sama sekali tidak mampu mengenali 

antigen diri bukanlah hal baru. Paul Ehrlich, pada awal abad kedua puluh mengajukan konsep 

autotoxicus horor, dimana tubuh normal tidak memiliki respon kekebalan terhadap jaringan 

tubuh. Dengan demikian, setiap respon autoimun dianggap menjadi abnormal dan 

dipostulasikan untuk dihubungkan dengan penyakit manusia. Sekarang, sudah diakui bahwa 

respon autoimun merupakan bagian keseluruhan dari sistem kekebalan tubuh vertebrata, 

biasanya dicegah dari pemicu  penyakit oleh fenomena toleransi imunologi diri antigen.  

Sistem imun tubuh berkembang sedemikian rupa sehingga mampu mengenal setiap 

antigen asing dan membedakannya dengan struktur antigen diri "self antigen”, namun  dapat 


 

saja timbul gangguan terhadap kemampuan pengenalan ini  sehingga terjadi respons 

imun terhadap antigen diri yang dianggap asing. Respons imun yang disebut autoimunitas 

ini  dapat berupa respons imun humoral dengan pembentukan autoantibodi, atau 

respons imun selular (Bratawidjaya K G, 2012). 

Autoimunitas sebetulnya bersifat protektif, yaitu sebagai sarana pembuangan berbagai 

produk akibat kerusakan sel atau jaringan. Autoantibodi mengikat produk itu diikuti dengan 

proses eliminasi. Autoantibodi dan respons imun selular terhadap antigen diri tidak selalu 

menimbulkan penyakit. Penyakit autoimun merupakan kerusakan jaringan atau gangguan 

fungsi fisologik akibat respons autoimun. Perbedaan ini menjadi penting sebab  respons 

autoimun dapat terjadi tanpa penyakit atau pada penyakit yang disebabkan oleh mekanisme 

lain "seperti infeksi”. Istilah penyakit autoimun yang berkonotasi patologik ditujukan untuk 

keadaan yang berhubungan erat dengan pembentukan autoantibodi atau respons imun 

selular yang terbentuk setelah timbulnya penyakit 

 

B. JENIS PENYAKIT AUTOIMUN 

 

Penyakit autoimun bisa berdampak pada banyak bagian tubuh. Ada lebih dari 80 jenis 

penyakit autoimun mulai dari yang ringan sampai berat. Dari sekian banyaknya jenis penyakit 

autoimun, beberapa penyakit autoimun di bawah ini merupakan yang sering sekali ditemui, 

di antaranya: (Elshemy, Ahmed, 2013). 

Penyakit autoimun melalui antibodi: 

 

1. Anemia Hemolitik Autoimun 

Salah satu sebab menurunnya jumlah sel darah merah dalam sirkulasi ialah destruksi 

oleh antibodi terhadap antigen pada permukaan sel ini . Destruksi dapat terjadi akibat 

aktivasi komplemen dan hal ini akan menimbulkan Hb dalam urin (hemoglobinuria). Destruksi 

sel dapat pula terjadi melalui opsonisasi oleh antibodi dan komponen komplemen lainnya. Sel 

darah merah yang dilapisi antibodi difagositosis makrofag ( yang memiliki reseptor Fc dan C3). 

 

2. Miastenia Gravis 

Sasaran dari penyakit ini ialah reseptor asetilkolin pada hubungan neuromuskuler. 

Reaksi antara reseptor dan Ig akan mencegah penerimaan impuls saraf yang dalam keadaan 

normal dialirkan oleh molekul asetilkolin. Hal ini menimbulkan kelemahan otot yang begitu 

berat yang ditandai dengan gejala yang sulit mengunyah dan bernafas sehingga dapat 

mengakibatkan kematian sebab  gagal nafas. 


 

Timbulnya miastenia gravis berhubungan dengan timus. Pada umumnya penderita 

menunjukkan hipertrofi timus dan bila kelenjar timus diangkat, penyakit kadang-kadang dapat 

menghilang. 

Molekul yang menunjukkan rekasi silang dengan reseptor asetilkolin telah  ditemukan 

dalam berbagai sel timus seperti timosit dan sel epitel. Keterlibatan sel-sel dalam perannya 

menimbulkan penyakit belum diketahui. 

 

3. Tirotoksikosis 

Pada keadaan ini autoantibodi dibentuk terhadap reseptor hormon. Antibodi terhadap 

reseptor hormon. Antibodi akan terbentuk terhadap reseptor tiroid stimulating hormone 

(TSH). 

Autoantibodi dapat menembus plasenta sehingga ibu dengan tirotoksikosis dapat 

melahirkan bayi dengan hiperaktivitas tiroid. Bila autoantibodi pada bayi ini  

dihancurkan beberapa minggu kemudian, tanda-tanda hiperreaktivitas tiroid juga akan hilang. 

Sel tiroid dirangsang bila reseptor untuk TSH mengikat hormon. Antibodi terhadap 

reseptor TSH ditemukan dalam serum penderita dengan penyakit Grave atau basedow dan 

bila antibodi ini  diikat reseptor TSH akan terjadi rangsangan yang sama terhadap sel 

tiroid. Banyak ahli menggolongkan reaksi ini  sebagai reaksi Gel dan Coombs type V. 

Contoh penyakit autoimun lain ialah infertilitas pada pria yang mengandung antibodi aglutinin 

terhadap sperma, yang memicu  sperma tidak dapat bergerak untuk bertemu dengan 

ovum. 

Penyakit autoimun melalui kompleks imun: 

 

1. Rematik (Rheumatoid Arthritis) 

Rematik (Rheumatoid arthritis) yaitu  gangguan peradangan kronis yang dapat 

mempengaruhi lebih dari sekedar persendian. Pada beberapa orang, kondisi ini dapat 

merusak berbagai sistem tubuh, termasuk kulit, mata, paru-paru, jantung dan pembuluh 

darah  

Gangguan autoimun, rematik terjadi saat  sistem kekebalan tubuh secara jahat 

menyerang jaringan tubuh. Tidak seperti kerusakan akibat keausan pada osteoarthritis, 

rematik mempengaruhi lapisan sendi, memicu  pembengkakan yang menyakitkan dan 

pada akhirnya dapat memicu  erosi tulang serta kelainan bentuk sendi (gambar 6.13).  

Peradangan yang terkait dengan rematik yaitu  apa yang dapat merusak bagian lain dari 

tubuh juga. Sementara jenis obat baru telah meningkatkan pilihan pengobatan secara 

dramatis, rematik yang parah masih dapat memicu  cacat fisik 

 

Gejala 

Tanda dan gejala rheumatoid arthritis yaitu Sendi yang lembut, hangat dan bengkak, 

Kekakuan sendi yang biasanya lebih buruk di pagi hari dan setelah tidak aktif, Kelelahan, 

demam, dan kehilangan nafsu makan. Rematik dini cenderung mempengaruhi sendi kecil 

terlebih dahulu. Khususnya sendi yang menempelkan jari-jari tangan dan jari-jari kaki.  

Seiring perkembangan penyakit, gejalanya sering menyebar ke pergelangan tangan, 

lutut, pergelangan kaki, siku, pinggul, dan bahu. Dalam kebanyakan kasus, gejala terjadi pada 

persendian yang sama di kedua sisi tubuh. Sekitar 40 persen orang yang menderita rematik 

juga mengalami tanda-tanda dan gejala yang tidak melibatkan sendi. Rematik dapat 

mempengaruhi banyak struktur non sendi, termasuk kulit, mata, paru-paru, jantung, ginjal, 

kelenjar ludah, jaringan saraf, sumsum tulang, pembuluh darah.  

Tanda-tanda dan gejala-gejala rematik dapat bervariasi dalam keparahan dan bahkan 

mungkin datang dan pergi. Periode peningkatan aktivitas penyakit, yang disebut suar, berganti 

dengan periode remisi relatif saat  pembengkakan dan nyeri memudar atau menghilang. 

Seiring waktu, rematik dapat memicu  persendian menjadi rusak dan bergeser keluar 

dari tempatnya 

 

pemicu  

Rematik terjadi saat  sistem kekebalan tubuh, menyerang sinovium (selaput membran) 

yang mengelilingi sendi. Peradangan yang dihasilkan mengentalkan sinovium, yang akhirnya 

dapat menghancurkan tulang rawan dan tulang di dalam sendi. Tendon dan ligamen yang 

menyatukan sendi melemah dan meregang. Secara bertahap, sambungan kehilangan bentuk 

dan pelurusannya (Goldsby RA, 2000). 

 

2. Lupus (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) 

Systemic lupus erythematosus (SLE) yaitu  penyakit kronis yang memicu  

peradangan pada jaringan ikat, seperti tulang rawan dan lapisan pembuluh darah, yang 

memberikan kekuatan dan fleksibilitas pada struktur di seluruh tubuh. Tanda-tanda dan gejala 

SLE bervariasi di antara individu yang terkena, dan dapat melibatkan banyak organ dan sistem, 

termasuk kulit, sendi, ginjal, paru-paru, sistem saraf pusat, dan sistem pembentuk darah 

(hematopoietik). SLE yaitu  salah satu dari sekelompok besar kondisi yang disebut gangguan 

autoimun yang terjadi saat  sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan dan organ tubuh 

sendiri 

SLE pertama kali dapat muncul sebagai kelelahan ekstrim, perasaan tidak nyaman atau 

malaise, demam, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Kebanyakan individu 

 

 

yang terkena juga memiliki nyeri sendi, biasanya mempengaruhi sendi yang sama di kedua sisi 

tubuh, dan nyeri dan kelemahan otot. Masalah kulit sering terjadi pada SLE. Ciri khas yaitu  

ruam merah pipih di pipi dan pangkal hidung, disebut "ruam kupu-kupu" sebab  bentuknya. 

Ruam, yang umumnya tidak sakit atau gatal, sering muncul atau menjadi lebih jelas saat 

terkena sinar matahari. Masalah kulit lain yang mungkin terjadi pada SLE termasuk endapan 

kalsium di bawah kulit (calcinosis), pembuluh darah yang rusak (vasculitis) di kulit, dan bintik-

bintik merah kecil yang disebut petechiae. Petechiae disebabkan oleh kekurangan fragmen sel 

yang terlibat dalam pembekuan (trombosit), yang memicu  perdarahan di bawah kulit. 

Individu yang terkena mungkin juga mengalami kerontokan rambut (alopecia) dan luka 

terbuka (ulserasi) di lapisan lembab (mukosa) mulut, hidung, atau, yang lebih jarang, alat 

kelamin.  

Sekitar sepertiga orang dengan SLE mengalami penyakit ginjal (nefritis). Masalah 

jantung juga dapat terjadi pada SLE, termasuk radang selaput seperti kantung di sekitar 

jantung (perikarditis) dan kelainan katup jantung, yang mengontrol aliran darah di jantung. 

Penyakit jantung yang disebabkan oleh penumpukan lemak di pembuluh darah 

(atherosclerosis), yang sangat umum pada populasi umum, bahkan lebih umum pada orang-

orang dengan SLE. Karakteristik peradangan SLE juga dapat merusak sistem saraf, dan dapat 

memicu  sensasi abnormal dan kelemahan pada tungkai (neuropati perifer); kejang; 

pukulan; dan kesulitan memproses, belajar, dan mengingat informasi (gangguan kognitif). 

Kecemasan dan depresi juga umum terjadi pada SLE.  

Orang-orang dengan SLE memiliki kondisi di mana menjadi lebih buruk (eksaserbasi) dan 

di waktu-waktu lain saat  keadaan menjadi lebih baik (remisi). Secara keseluruhan, SLE secara 

bertahap menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu, dan kerusakan pada organ-organ utama 

tubuh dapat mengancam jiwa. 

SLE diperkirakan mempengaruhi antara 322.000 dan 1,5 juta orang di Amerika Serikat. 

Prevalensi yang tepat sulit untuk ditentukan sebab  banyak tanda dan gejala SLE mirip dengan 

kelainan lain. Diagnosis dapat ditunda selama bertahun-tahun, dan kondisi ini mungkin tidak 

pernah didiagnosis pada beberapa individu yang terkena. Wanita mengembangkan SLE sekitar 

sembilan kali lebih sering daripada pria. Ini paling sering terjadi pada wanita yang lebih muda, 

memuncak selama masa subur, namun 20 persen kasus SLE terjadi pada orang di atas usia 50 

tahun 

 

Pola Warisan 

SLE dan gangguan autoimun lainnya cenderung berjalan dalam keluarga, namun  pola 

pewarisan biasanya tidak diketahui. Orang mungkin mewarisi variasi gen yang meningkatkan 

atau mengurangi risiko SLE, namun  dalam kebanyakan kasus tidak mewarisi kondisi itu sendiri. 


Tidak semua orang dengan SLE memiliki variasi gen yang meningkatkan risiko, dan tidak semua 

orang dengan variasi gen seperti itu akan mengembangkan kelainan ini .  

Dalam kasus yang jarang terjadi, SLE dapat diwariskan dalam pola resesif autosom 

(gambar 6.15), yang berarti kedua salinan gen dalam setiap sel mengalami mutasi. Orang tua 

dari individu dengan kondisi resesif autosomal masing-masing membawa satu salinan gen 

bermutasi, namun  mereka biasanya tidak menunjukkan tanda dan gejala kondisi 

 

3. Diabetes Tipe I 

Diabetes tipe 1 yaitu  penyakit autoimun. Pankreas tidak dapat membuat insulin sebab  

sistem kekebalan menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin. Anak-

anak dan remaja dengan diabetes tipe 1 berisiko mengalami masalah autoimun lainnya, namun  

ini sebenarnya bukan disebabkan oleh diabetes. Diabetes tipe 1 pada anak-anak yaitu  suatu 

kondisi di mana tubuh anak tidak lagi menghasilkan hormon penting (insulin). Anak 

membutuhkan insulin untuk bertahan hidup, jadi harus mengganti insulin yang hilang. 

Diabetes tipe 1 pada anak-anak dulu dikenal sebagai diabetes remaja atau diabetes 

tergantung insulin.  

Diagnosis diabetes tipe 1 pada anak-anak dapat luar biasa pada awalnya. Maka harus 

tau cara memberikan suntikan, menghitung karbohidrat, dan memantau gula darah (Riwayati, 

2015). Diabetes tipe 1 pada anak-anak membutuhkan perawatan yang konsisten. namun  

kemajuan dalam pemantauan gula darah dan pengiriman insulin telah meningkatkan 

manajemen kondisi sehari-hari 

 

Gejala 

Tanda-tanda dan gejala diabetes tipe 1 pada anak-anak biasanya berkembang dengan 

cepat, selama beberapa minggu. Menurut Riwayati (2015) tanda dan gejala ini penyakit ini 

antara lain 

• Rasa haus meningkat dan sering buang air kecil. Kelebihan gula yang menumpuk di aliran 

darah anak menarik cairan dari jaringan. Akibatnya mungkin haus kemudian  minum dan 

buang air kecil lebih dari biasanya. 

• Rasa lapar yang luar biasa. Tanpa cukup insulin untuk memindahkan gula ke dalam sel 

anak, otot dan organ kekurangan energi. Ini memicu rasa lapar yang hebat. 

• Penurunan berat badan. Meskipun makan lebih dari biasanya untuk menghilangkan rasa 

lapar, kemungkinan akan kehilangan berat badan dan tekadang cepat. Tanpa pasokan 

gula energi, jaringan otot dan simpanan lemak menyusut. Penurunan berat badan yang 

tidak dapat dijelaskan seringkali merupakan tanda pertama dari diabetes tipe 1. 

• Kelelahan. Kurangnya gula dalam sel mungkin membuatnya lelah dan lesu. 

• Lekas marah atau perubahan perilaku. 

• Napas berbau harum. Membakar lemak sebagai ganti gula menghasilkan zat tertentu 

(keton) yang dapat memicu  nafas bau buah. 

• Penglihatan kabur. Jika gula darah terlalu tinggi, cairan dapat ditarik dari lensa mata. 

Dan mungkin tidak dapat fokus dengan jelas. 

• Infeksi ragi. Gadis dengan diabetes tipe 1 mungkin memiliki infeksi jamur genital. Bayi 

dapat mengalami ruam popok yang disebabkan oleh ragi. 

 

 

 

pemicu  

pemicu  pasti diabetes tipe 1 tidak diketahui. namun  pada kebanyakan orang dengan 

diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh - yang biasanya melawan bakteri dan virus berbahaya 

- keliru menghancurkan sel-sel penghasil insulin (pulau) di pankreas. Genetika dan faktor 

lingkungan tampaknya berperan dalam proses ini. 

Insulin melakukan pekerjaan penting untuk memindahkan gula (glukosa) dari aliran 

darah ke sel-sel tubuh. Gula memasuki aliran darah saat  makanan dicerna. Setelah sel pulau 

pankreas dihancurkan, tubuh akan memproduksi sedikit atau tidak ada insulin. Akibatnya, 

glukosa menumpuk di aliran darah, di mana ia dapat memicu  komplikasi yang 

mengancam jiwa (Abbas K A, 2007). 

 

Faktor Risiko 

Menurut Delves (2011) faktor risiko untuk diabetes tipe 1 meliputi  

• Sejarah keluarga. Siapa pun yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan 

diabetes tipe 1 memiliki risiko sedikit lebih tinggi terkena kondisi ini . 

• Kerentanan genetik. Kehadiran gen tertentu menunjukkan peningkatan risiko diabetes 

tipe 1. 

• Ras. Di Amerika Serikat, diabetes tipe 1 lebih umum di antara anak-anak kulit putih non-

Hispanik daripada di antara ras lain. 

 

Faktor Risiko Lingkungan Mungkin Termasuk 

• Virus tertentu. Paparan berbagai virus dapat memicu kerusakan autoimun dari sel 

pulau. 

• Diet. Tidak ada faktor diet atau nutrisi spesifik pada masa bayi yang terbukti berperan 

dalam perkembangan diabetes tipe 1. Namun, asupan awal susu sapi telah dikaitkan 

dengan peningkatan risiko diabetes tipe 1, sementara menyusui dapat menurunkan 

risiko. Waktu pemberian sereal ke dalam makanan bayi juga dapat memengaruhi risiko 

anak terkena diabetes tipe 1. 

 

Komplikasi 

Komplikasi diabetes tipe 1 berkembang secara bertahap. Jika kadar gula darah tidak 

terkontrol dengan baik dalam jangka waktu yang lama, komplikasi diabetes pada akhirnya 

dapat melumpuhkan atau bahkan mengancam jiwa 

 

Komplikasi dapat meliputi 

• Penyakit jantung dan pembuluh darah. Diabetes secara dramatis meningkatkan risiko 

perkembangan kondisi tubuh seperti penyakit arteri koroner dengan nyeri dada 

 

 

(angina), serangan jantung, stroke, penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) dan 

tekanan darah tinggi di kemudian hari. 

• Kerusakan saraf. Gula yang berlebihan dapat melukai dinding pembuluh darah kecil 

yang menyehatkan saraf, terutama di kaki. Ini bisa memicu  kesemutan, mati rasa, 

terbakar atau sakit. Kerusakan saraf biasanya terjadi secara bertahap dalam jangka 

waktu yang lama. 

• Kerusakan ginjal. Diabetes dapat merusak banyak kluster pembuluh darah kecil yang 

menyaring limbah dari darah. Kerusakan parah dapat memicu  gagal ginjal atau 

penyakit ginjal tahap akhir yang tidak dapat disembuhkan, membutuhkan dialisis atau 

transplantasi ginjal. 

• Kerusakan mata. Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina, yang dapat 

memicu  penglihatan yang buruk dan bahkan mungkin memicu  kebutaan. 

Diabetes juga dapat memicu  katarak dan risiko glaukoma yang lebih besar. 

• Kondisi kulit. Diabetes dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap masalah kulit, 

termasuk infeksi bakteri, infeksi jamur, dan gatal-gatal. 

• Osteoporosis. Diabetes dapat memicu  kepadatan mineral tulang yang lebih 

rendah dari normal, meningkatkan risiko osteoporosis sebagai orang dewasa. 

 

4. Multiple Sclerosis (MS) 

Multiple sclerosis (MS) yaitu  penyakit yang berpotensi melumpuhkan otak dan 

sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) (gambar 6.16). Pada MS, sistem kekebalan tubuh 

menyerang selubung pelindung (myelin) yang menutupi serat saraf dan memicu  

masalah komunikasi antara otak dan seluruh tubuh. Akhirnya, penyakit ini dapat 

memicu  kerusakan permanen atau kerusakan saraf 

 

Tanda dan gejala MS sangat bervariasi dan tergantung pada jumlah kerusakan saraf dan 

saraf mana yang terpengaruh. Beberapa orang dengan MS parah mungkin kehilangan 

kemampuan untuk berjalan secara mandiri atau tidak sama sekali, sementara yang lain 

mungkin mengalami remisi yang lama tanpa gejala baru (Lodish, H., A. 2000) 

Tidak ada obat untuk multiple sclerosis. Namun, perawatan dapat membantu 

mempercepat pemulihan dari serangan, memodifikasi perjalanan penyakit dan mengelola 

gejala. 

 

Gejala 

Beberapa tanda dan gejala sclerosis mungkin sangat berbeda dari orang ke orang dan 

selama perjalanan penyakit tergantung pada lokasi serabut saraf yang terkena. Gejala sering 

mempengaruhi pergerakan, seperti (Murphy, K. Janeway’s, 2012): 

• Mati rasa atau kelemahan pada satu atau lebih anggota badan yang biasanya terjadi 

pada satu sisi tubuh pada satu waktu, atau kaki dan batang tubuh 

 284 Imunologi   ◼ 

 

• Sensasi sengatan listrik yang terjadi dengan gerakan leher tertentu, terutama menekuk 

leher ke depan (tanda Lhermitte) 

• Tremor, kurangnya koordinasi atau gaya berjalan tidak stabil 

 

Masalah penglihatan juga umum terjadi, termasuk: 

• Hilangnya penglihatan sebagian atau seluruhnya, biasanya pada satu mata pada satu 

waktu, sering disertai rasa sakit selama gerakan mata 

• Penglihatan ganda yang berkepanjangan 

• Pandangan yang kabur 

 

Gejala multiple sclerosis juga termasuk: 

• Bicara tidak jelas 

• Kelelahan 

• Pusing 

• Kesemutan atau rasa sakit di bagian tubuh 

• Masalah dengan fungsi seksual, usus dan kandung kemih 

 

pemicu  

pemicu  multiple sclerosis tidak diketahui. Ini dianggap sebagai penyakit autoimun di 

mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri. Dalam kasus MS, kerusakan 

sistem kekebalan ini menghancurkan zat berlemak yang melapisi dan melindungi serabut saraf 

di otak dan sumsum tulang belakang (mielin) (Murphy, K. Janeway’s, 2012). 

Myelin dapat dibandingkan dengan lapisan isolasi pada kabel listrik. saat  mielin 

pelindung rusak dan serabut saraf terbuka, pesan yang bergerak di sepanjang saraf itu 

mungkin melambat atau tersumbat. Saraf juga bisa rusak itu sendiri. Tidak jelas mengapa MS 

berkembang pada beberapa orang dan tidak pada orang lain (Murphy, K. Janeway’s, 2012). 

 

Faktor Risiko 

Faktor-faktor ini dapat meningkatkan risiko terkena multiple sclerosis: 

• Usia. MS dapat terjadi pada usia berapa pun, namun  biasanya menyerang orang di suatu 

tempat antara usia 16 dan 55 tahun. 

• Seks. Wanita lebih dari dua hingga tiga kali lebih mungkin mengalami pria yang 

mengalami MS yang kambuh. 

• Sejarah keluarga. Jika salah satu orang tua atau saudara kandung menderita MS, maka 

kita berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini. 

• Infeksi tertentu. Berbagai virus telah dikaitkan dengan MS, termasuk Epstein-Barr, virus 

yang memicu  infeksi mononukleosis. 

 

 

• Ras. Orang kulit putih, khususnya keturunan Eropa Utara, berisiko paling tinggi terkena 

MS. Orang-orang keturunan Asia, Afrika atau Asli Amerika memiliki risiko terendah. 

• Iklim. MS jauh lebih umum di negara-negara dengan iklim sedang, termasuk Kanada, 

Amerika Serikat bagian utara, Selandia Baru, Australia tenggara dan Eropa. 

• Vitamin D. Memiliki tingkat vitamin D yang rendah dan paparan sinar matahari yang 

rendah dikaitkan dengan risiko MS yang lebih besar. 

• Penyakit autoimun tertentu. Resiko sedikit lebih tinggi terkena MS jika tubuh memiliki 

penyakit tiroid, diabetes tipe 1 atau penyakit radang usus. 

• Merokok. Perokok yang mengalami peristiwa awal gejala yang mungkin menandakan 

MS lebih mungkin daripada yang bukan perokok untuk mengembangkan peristiwa 

kedua yang mengonfirmasi MS yang kambuh. 

 

Komplikasi 

Orang dengan multiple sclerosis juga dapat berkembang: 

• Kekakuan atau kejang otot 

• Kelumpuhan, biasanya di kaki 

• Masalah dengan kandung kemih, fungsi usus atau seksual 

• Perubahan mental, seperti pelupa atau perubahan suasana hati 

• Depresi 

• Epilepsi 

 

5. Penyakit Graves 

Penyakit Graves yaitu  kelainan sistem kekebalan yang memicu  produksi hormon 

tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme) (gambar 6.17). Meskipun sejumlah gangguan dapat 

memicu  hipertiroidisme, penyakit Graves yaitu  pemicu  umum.  

sebab  hormon tiroid memengaruhi sejumlah sistem tubuh yang berbeda, tanda dan 

gejala yang terkait dengan penyakit Graves bisa luas dan secara signifikan memengaruhi 

kesejahteraan secara keseluruhan. Meskipun penyakit Graves dapat mempengaruhi siapa 

pun, penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan sebelum usia 40 tahun. Tujuan 

pengobatan utama yaitu  untuk menghambat produksi hormon tiroid yang berlebihan dan 

mengurangi keparahan gejala.  

 

 

Tanda dan gejala umum penyakit Graves meliputi kecemasan dan lekas marah, getaran 

halus tangan atau jari, sensitivitas panas dan peningkatan keringat atau kulit hangat dan 

lembab, penurunan berat badan, meski kebiasaan makannya normal, pembesaran kelenjar 

tiroi (gondok), ubah siklus menstruasi, disfungsi ereksi atau penurunan libido, sering buang air 

besar, mata menonjol (Oftalmopati Graves), kelelahan, kulit tebal dan merah biasanya di 

tulang kering atau di atas kaki (Dermopati Graves) (Gambar 6.18), detak jantung cepat atau 

tidak teratur (palpitasi) 


Gambar 6.18 

Ini Hasil dari Penumpukan Karbohidrat Tertentu di Kulit. Ini Sering Terjadi pada Tulang Kering 

dan di Bagian Atas Kaki 

 

6. Oftalmopati Graves 

Sekitar 30 persen orang dengan penyakit Graves menunjukkan beberapa tanda dan 

gejala dari suatu kondisi yang dikenal sebagai oftalmopati Graves. Dalam oftalmopati Graves, 

peradangan dan peristiwa sistem kekebalan lainnya memengaruhi otot dan jaringan lain di 

sekitar mata. Tanda-tanda dan gejala yang dihasilkan mungkin termasuk mata menonjol 

(exophthalmos), sensasi berpasir di mata, tekanan atau rasa sakit di mata, kelopak mata 

bengkak atau retraksi, mata memerah atau meradang, sensitivitas cahaya, visi ganda, 

hilangnya penglihatan (Murphy, K. Janeway’s, 2012). 

 

pemicu  

Penyakit Grave disebabkan oleh kerusakan pada sistem kekebalan tubuh yang melawan 

penyakit, meskipun alasan pasti mengapa hal ini terjadi masih belum diketahui. Satu respon 

sistem imun yang normal yaitu  produksi antibodi yang dirancang untuk menargetkan virus, 

bakteri, atau zat asing tertentu. Pada penyakit Graves, tubuh memproduksi antibodi pada satu 

bagian sel di kelenjar tiroid, kelenjar penghasil hormon di leher (Parham P. 2000). 

Biasanya, fungsi tiroid diatur oleh hormon yang dilepaskan oleh kelenjar kecil di dasar 

otak (kelenjar hipofisis). Antibodi yang terkait dengan penyakit Graves yaitu  antibodi 


 

reseptor thyrotropin (TRAb) yang bertindak seperti hormon hipofisis pengatur. Itu berarti 

bahwa TRAb mengesampingkan regulasi normal tiroid, memicu  produksi hormon tiroid 

yang berlebihan (hipertiroidisme) (Parham P. 2000). 

 

pemicu  Oftalmopati Graves 

Kondisi ini hasil dari penumpukan karbohidrat tertentu di otot dan jaringan di belakang 

mata yang pemicu nya juga tidak diketahui. Antibodi yang sama dapat memicu  

disfungsi tiroid serta memiliki ketertarikan dengan jaringan di sekitar mata. 

Oftalmopati Graves sering muncul bersamaan dengan hipertiroidisme atau beberapa 

bulan kemudian. namun  tanda dan gejala oftalmopati dapat muncul bertahun-tahun sebelum 

atau setelah timbulnya hipertiroidisme. Oftalmopati Graves juga dapat terjadi bahkan jika 

tidak ada hipertiroidisme. 

 

Faktor risiko 

Meskipun siapa pun dapat terserang penyakit Grave, sejumlah faktor dapat 

meningkatkan risiko penyakit. Faktor-faktor risiko ini termasuk yang berikut: 

• Sejarah keluarga. sebab  riwayat keluarga penyakit Graves yaitu  faktor risiko yang 

diketahui, kemungkinan ada gen atau gen yang dapat membuat seseorang lebih rentan 

terhadap gangguan ini . 

• Jenis kelamin. Wanita jauh lebih mungkin terserang penyakit Graves daripada pria. 

• Usia. Penyakit Grave biasanya berkembang pada orang yang berusia kurang dari 40 

tahun. 

• Gangguan autoimun lainnya. Orang dengan gangguan lain pada sistem kekebalan 

tubuh, seperti diabetes tipe 1 atau rheumatoid arthritis, memiliki risiko yang meningkat. 

• Stres emosional atau fisik. Peristiwa hidup yang penuh tekanan atau penyakit dapat 

bertindak sebagai pemicu timbulnya penyakit Graves di antara orang-orang yang secara 

genetik rentan. 

• Kehamilan. Kehamilan atau persalinan baru-baru ini dapat meningkatkan risiko kelainan 

ini, terutama di antara wanita yang secara genetik rentan. 

• Merokok. Merokok, yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan 

risiko penyakit Graves. Perokok yang menderita penyakit Grave juga berisiko lebih tinggi 

terkena oftalmopati Grave. 

 

Komplikasi 

Komplikasi penyakit Graves menurut Baratawidjaya (2006) meliputi: 

• Masalah kehamilan. Kemungkinan komplikasi penyakit Grave selama kehamilan 

termasuk keguguran, kelahiran prematur, disfungsi tiroid janin, pertumbuhan janin yang 

 

◼   Imunologi        289 

 

buruk, gagal jantung ibu dan preeklampsia. Preeklampsia yaitu  kondisi ibu yang 

memicu  tekanan darah tinggi dan tanda dan gejala serius lainnya. 

• Gangguan jantung. Jika tidak ditangani, penyakit Graves dapat memicu  gangguan 

irama jantung, perubahan struktur dan fungsi otot-otot jantung, dan ketidakmampuan 

jantung untuk memompa cukup darah ke tubuh (gagal jantung kongestif). 

• Badai tiroid. Komplikasi penyakit Graves yang jarang namun mengancam jiwa yaitu  

badai tiroid, juga dikenal sebagai hipertiroidisme yang dipercepat atau krisis tirotoksik. 

Ini lebih mungkin saat  hipertiroidisme parah tidak diobati atau diobati dengan tidak 

memadai. 

• Peningkatan hormon tiroid yang tiba-tiba dan drastis dapat menghasilkan sejumlah 

efek, termasuk demam, berkeringat banyak, muntah, diare, delirium, kelemahan parah, 

kejang, detak jantung yang sangat tidak teratur, kulit dan mata kuning (penyakit kuning), 

tekanan darah rendah yang parah, dan koma. Badai tiroid membutuhkan perawatan 

darurat segera. 

• Tulang rapuh. Hipertiroidisme yang tidak diobati juga dapat memicu  tulang lemah 

dan rapuh (osteoporosis). Kekuatan tulang sebagian tergantung pada jumlah kalsium 

dan mineral lain yang dikandungnya. Terlalu banyak hormon tiroid mengganggu 

kemampuan tubuh untuk memasukkan kalsium ke dalam tulang. 

 

7. Psoriasis 

Psoriasis yaitu  kondisi kulit umum yang mempercepat siklus hidup sel-sel kulit. Ini 

memicu  sel-sel menumpuk dengan cepat di permukaan kulit (gambar 6.19). Sel-sel kulit 

ekstra membentuk sisik dan bercak merah yang gatal dan kadang menyakitkan. Psoriasis 

yaitu  penyakit kronis yang sering datang dan pergi. Tujuan utama perawatan yaitu  

menghentikan sel-sel kulit agar tidak tumbuh begitu cepat (Baratawidjaya KG, 2006). 

Tidak ada obat untuk psoriasis, namun  gejalanya bisa diatasi seperti gaya hidup, seperti 

pelembab, berhenti merokok dan mengatur stres. 

 290 Imunologi   ◼ 

 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.19 

Dalam Psoriasis, Siklus Hidup Sel-sel Kulit sangat Meningkat, yang Mengarah ke Penumpukan 

Sel-sel Mati di Permukaan Epidermis 

 

Gejala 

Tanda dan gejala psoriasis berbeda untuk semua orang. Tanda dan gejala umum 

meliputi bercak merah pada kulit ditutupi dengan sisik tebal berwarna perak, tempat bersisik 

kecil (biasanya terlihat pada anak-anak), kulit kering dan pecah-pecah yang mungkin berdarah, 

gatal, terbakar atau pegal, kuku menebal, berlubang atau bergerigi, sendi yang bengkak dan 

kaku, bercak psoriasis dapat berkisar dari beberapa titik penskalaan seperti ketombe hingga 

erupsi besar yang meliputi area yang luas . 

Sebagian besar jenis psoriasis mengalami siklus, melebar selama beberapa minggu atau 

bulan, kemudian mereda untuk sementara waktu atau bahkan mengalami remisi total 

(Baratawidjaya KG, 2006). 

 

Ada Beberapa Jenis Psoriasis 

• Psoriasis plak. Bentuk yang paling umum, psoriasis plak memicu  lesi kulit kering, 

terangkat, merah (plak) ditutupi dengan sisik keperakan. Plak-plak itu mungkin gatal 

atau nyeri dan mungkin ada sedikit atau banyak. Mereka dapat terjadi di mana saja di 

tubuh, alat kelamin dan jaringan lunak di dalam mulut. 

 

◼   Imunologi        291 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.20 

Psoriasis Plak yaitu  Jenis Psoriasis yang Paling Umum. Biasanya memicu  Lesi Kulit 

Kering (Plak) yang Ditutupi oleh Sisik Keperakan 

 

• Psoriasis kuku. Psoriasis dapat memengaruhi kuku dan kuku, memicu  pitting, 

pertumbuhan kuku yang abnormal, dan perubahan warna. Kuku psoriatik dapat 

melonggarkan dan terpisah dari dasar kuku (onikolisis). Kasus yang parah dapat 

memicu  kuku hancur. 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.21 

Psoriasis dapat Memengaruhi Kuku dan Kuku, memicu  Pitting, Pertumbuhan Kuku 

yang Abnormal, dan Perubahan Warna 

 

 292 Imunologi   ◼ 

 

• Guttate psoriasis. Jenis ini terutama menyerang orang dewasa muda dan anak-anak. Ini 

biasanya dipicu oleh infeksi bakteri seperti radang tenggorokan. Ini ditandai oleh lesi 

scaling kecil berbentuk tetesan air di batang, lengan, kaki, dan kulit kepala. Lesi ditutupi 

oleh skala halus dan tidak setebal plak biasa. wabah tunggal akan hilang dengan 

sendirinya, atau memiliki episode berulang. 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.22 

Psoriasis Guttate, Lebih Umum pada Anak-anak dan Orang Dewasa di bawah 30 Tahun, 

Muncul Sebagai Luka Kecil Berbentuk Tetesan Air pada Batang, Lengan, Kaki, dan Kulit 

Kepala. Luka Biasanya Ditutupi oleh Skala Halus 

 

• Inverse Psoriasis. Ini terutama mempengaruhi kulit di ketiak, di selangkangan, di bawah 

payudara dan di sekitar alat kelamin. Psoriasis terbalik memicu  bercak halus 

merah, kulit meradang yang memburuk dengan gesekan dan berkeringat. Infeksi jamur 

dapat memicu jenis psoriasis ini. 

 

 

 

◼   Imunologi        293 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.23 

Inverse Psoriasis memicu  Bercak Halus Merah, Kulit Meradang. Ini Lebih Sering Terjadi 

Pada Orang Yang Kelebihan Berat Badan dan Diperburuk oleh Gesekan dan Keringat 

 

• Psoriasis pustular. Bentuk psoriasis yang tidak biasa ini dapat terjadi pada tambalan luas 

(psoriasis pustular menyeluruh) atau di area yang lebih kecil di tangan, kaki, atau ujung 

jari. Umumnya berkembang dengan cepat, dengan lepuh berisi nanah muncul hanya 

beberapa jam setelah kulit menjadi merah dan lembut. Lepuh mungkin sering datang 

dan pergi. Psoriasis pustular menyeluruh juga dapat memicu  demam, menggigil, 

gatal parah, dan diare. 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.24 

Psoriasis Pustular Umumnya Berkembang dengan Cepat, dengan Lepuh Berisi Nanah Muncul 

Hanya Beberapa Jam Setelah Kulit Menjadi Merah dan Lembut 

 294 Imunologi   ◼ 

 

• Psoriasis eritrodermik. Jenis psoriasis yang paling tidak umum, psoriasis erythrodermic 

dapat menutupi seluruh tubuh dengan ruam merah yang mengelupas yang bisa terasa 

gatal atau terbakar secara intens. 

 

 

Sumber: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/psoriasis/symptoms-causes/syc-

20355840 

 

Gambar 6.25 

Psoriasis Erythrodermic 

 

• Artritis psoriatik. Selain meradang, kulit bersisik, radang sendi psoriatik memicu  

sendi bengkak dan nyeri yang merupakan tipikal radang sendi. Kadang-kadang gejala 

sendi yaitu  manifestasi pertama atau satu-satunya psoriasis atau kadang-kadang 

hanya perubahan kuku yang terlihat. Gejalanya berkisar dari ringan hingga berat, dan 

artritis psoriatik dapat memengaruhi sendi mana pun. Meskipun penyakit ini biasanya 

tidak melumpuhkan seperti bentuk arthritis lainnya, penyakit ini dapat memicu  

kekakuan dan kerusakan sendi progresif yang pada kasus yang paling serius dapat 

memicu  kelainan bentuk permanen. 

 

pemicu  

pemicu  psoriasis belum sepenuhnya dipahami, namun  diduga terkait dengan masalah 

sistem kekebalan dengan sel T dan sel darah putih lainnya, yang disebut neutrofil, di dalam 

tubuh. Sel T biasanya melakukan perjalanan ke seluruh tubuh untuk bertahan melawan zat 

asing, seperti virus atau bakteri. namun  jika penderita psoriasis, sel-sel T menyerang sel-sel 

kulit yang sehat secara tidak sengaja, seolah menyembuhkan luka atau melawan infeksi. 

 

 

Sel T yang terlalu aktif juga memicu peningkatan produksi sel kulit yang sehat, lebih 

banyak sel T, dan sel darah putih lainnya, terutama neutrofil. Ini berjalan ke kulit 

memicu  kemerahan dan terkadang nanah pada lesi pustular. Pembuluh darah melebar 

di daerah yang terkena psoriasis menciptakan kehangatan dan kemerahan pada lesi kulit. 

Proses ini menjadi siklus berkelanjutan di mana sel-sel kulit baru bergerak ke lapisan 

kulit terluar terlalu cepat. Sel-sel kulit menumpuk dalam bercak tebal dan bersisik di 

permukaan kulit, berlanjut sampai pengobatan menghentikan siklus. Apa yang memicu  

sel T tidak berfungsi dengan benar pada penderita psoriasis tidak sepenuhnya jelas. Para 

peneliti percaya faktor genetika dan lingkungan berperan. 

 

Pemicu psoriasis 

Psoriasis biasanya mulai atau memburuk sebab  pemicu yang mungkin dapat identifikasi 

dan hindari. Faktor-faktor yang dapat memicu psoriasis meliputi infeksi, seperti radang 

tenggorokan atau infeksi kulit, cidera pada kulit, seperti luka atau goresan, gigitan serangga, 

atau sengatan matahari yang parah,  merokok, konsumsi alkohol berat, Kekurangan vitamin 

D, Obat-obatan tertentu (termasuk lithium, yang diresepkan untuk gangguan bipolar, obat 

tekanan darah tinggi seperti beta blocker, obat antimalaria, dan iodida). 

Penyakit autoimun melalui sel:  

 

T Hashimoto thyroiditis (HT) 

Penyakit kelenjar tiroid yang sering ditemukan pada wanita dewasa tua yaitu  goiter ( 

pembesaran kelenjar tiroid) atau hipotiroidism yang mengakibatkan rusaknya fungsi kelenjar. 

Infiltrat terdiri terutama atas sel mononuclear yang ditemukan dalam folikel kelenjar. Bila 

infiltrasi mencapai derajat. Hal ini serupa dengan reaksi lambat melalui sel T lainnya. Destruksi 

folikel kelenjar yang progresif disertai dengan infiltrasi sel. Bila infiltrasi mencapai derajat 

tertentu, pengeluaran hormon tiroid menurun dan gejala hipotiroidism timbul seperti kulit 

kerang, puffy face, rambut tipis mudah rontok dan perasaan dingin. Beberapa alat sasaran 

yang terkena pada proses ini yaitu  tiroglobulin yang merupakan hormon utama tiroid. 

Mikrosom dari epitel tiroid juga ikut berperanan dan Ig terhadap kedua jenis antigen ini  

ditemukan pada penderita dengan HT. 

 

 

 

Ringkasan 

 

Penyakit autoimun yaitu  penyakit yang terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang 

sel-sel sehat dalam tubuh. Padahal, sistem kekebalan tubuh seharusnya menjadi pelindung 

bagi tubuh untuk melawan penyakit dan sel jahat, seperti bakteri maupun virus. Saat 

terserang penyakit autoimun ini, maka dampaknya kepada tubuh akan banyak sekali. Bahkan, 

telah tercatat bahwa ada   80 jenis penyakit autoimun yang menunjukkan gejala yang 

sama. Hal ini membuat seseorang sulit diketahui apakah mengidap gangguan ini atau tidak, 

dan pada jenis yang mana. Sementara, pemicu  dari penyakit autoimun juga masih belum 

dapat dipastikan. 

Hingga detik ini, para ahli masih belum menemukan pemicu  pasti dari penyakit 

autoimun.  Namun, ada beberapa faktor yang memicu  seseorang lebih berisiko 

mengidap penyakit autoimun, antara lain: 

• Genetik atau keturunan. Faktor risiko utama dari penyakit autoimun yaitu  faktor 

genetik. Meski demikian, faktor ini bukan satu-satunya yang bisa memicu reaksi 

kekebalan tubuh. 


 

• Lingkungan. Faktor lingkungan merupakan hal penting dalam timbulnya penyakit 

autoimun. Faktor lingkungan mencakup paparan zat tertentu seperti asbes, merkuri, 

perak dan emas, pola hidup yang berantakan serta pola makan yang kurang sehat. 

• Perubahan hormon. Beberapa penyakit autoimun sering kali menyerang ibu setelah 

melahirkan. Hal ini memicu  hadirnya sebuah asumsi bahwa penyakit autoimun 

terkait dengan perubahan hormon, misalnya saat hamil, melahirkan, atau menopause. 

• Infeksi. Beberapa penyakit autoimun sering kali dikaitkan dengan terjadinya infeksi. Hal 

ini dianggap wajar sebab sebagian besar gejala penyakit autoimun diperburuk oleh 

infeksi tertentu. 

Seperti yang sebelumnya disebutkan, bahwa ada lebih dari 80 penyakit yang 

digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya pun memiliki gejala yang sama. Secara 

umum, gejala-gejala awal penyakit autoimun antara lain: 

• Nyeri di sekujur tubuh. Nyeri yang membuat badan seperti ditusuk-tusuk. 

• Nyeri sendi. Bagian sendi yang paling sering diserang yaitu  sendi lutut, sendi di 

pergelangan tangan, punggung tangan hingga buku-buku jari. Nyeri ini terjadi di kedua 

sisi kiri dan kanan. Nyeri ini juga sering diiringi pembengkakan dan/atau kekakuan, 

sehingga membuat kamu sangat kesakitan dan sulit bergerak. 

• Fatigue. Yaitu rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, seperti habis berlari jauh, 

membuat energi tubuh seperti terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat badan dari 

tempat tidur saja terasa berat. 

• Timbul demam ringan. Bila dipegang oleh orang lain, badan akan terasa agak hangat, 

namun saat  diperiksa dengan termometer, suhunya masih normal (pada batas atas), 

sekitar 37,4 - 37,5 derajat Celsius. 

• Rambut mengalami kerontokan parah. 

• Sering terkena sariawan. 

• Brain fog. Disebut demikian sebab  otak sewaktu-waktu seperti tertutup kabut, 

sehingga untuk sesaat seseorang kehilangan memori, fokus, dan konsentrasi, entah 

sedang menulis maupun saat berbicara. 

 


 

Glosarium 

 

Antibodi (Ab) : Suatu protein yang dihasilkan sebagai akibat interaksi dengan suatu 

anti

gen. Protein ini mampu bergabung dengan antigen yang 
menstimulasi produksinya.  
Antigen (Ag) : Suatu zat yang dapat bereaksi dengan antibodi. 
Hipoalbuminemia : yaitu  suatu gejala rendahnya kadar albumin di dalam serum darah 
akibat abnormalitas. Albumin merupakan protein, maka 
hipoalbuminemia merupakan salah satu bentuk hipoproteinemia. 
Albumin yaitu  protein utama pada manusia dengan rasio plasma 
sekitar 60%. Banyak hormon, obat dan molekul lain, terikat dengan 
albumin di dalam sirkulasi darah sebelum terlepas dengan menjadi aktif. 
Rendahnya kadar albumin dapat menjadi indikasi gangguan pada hati 
atau sindrom pada ginjal atau pudarnya tekanan onkotik. 
Imunodefisiensi : yaitu  istilah umum yang merujuk pada suatu kondisi di mana 
kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit dan infeksi 
mengalami gangguan atau melemah. 
Imunosupresif : berhubungan dengan penekanan kerja sistem imun. Obat dan terapi 
imunosupresif mampu menghambat proses pembentukan limfosit di 
dalam tubuh. Meskipun telah dimanfaatkan dalam pengobatan, obat 
dan terapi imunosupresif memiliki efek samping bagi kesehatan. 
Inflamasi : reaksi tubuh thd mikroorganisme dan benda asing yang ditandai oleh 
panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh. 
Komplemen : Suatu set protein plasma yang merupakan mediator primer reaksi-
reaksi antigen-antibodi. 
Malaise : Istilah medis untuk menggambarkan kondisi umum yang lemas, tidak 
nyaman, kurang fit atau merasa sakit. 
Postulasi : Dapat diartikan seperti asumsi, definisi atau hipotesis. 
Respon imun : Terjadinya resistensi (imunitas) terhadap zat asing misalnya agen 
infeksius. Respons imun dapat diperantarai antibodi (humoral), 
diperantarai sel (selular), atau keduanya.  
Sel Mast : Sel yang kaya dengan granula berisi berbagai macam enzim, Histamin 
dan berbagai jenis mediator kimia lain yang bertanggung jawab 
terhadap terjadinya inflamasi pada daerah sekitar luka. Bahan aktif yang 
dilepaskannya akan memicu serangkaian proses yang memicu  
peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga sel monosit bisa 
dengan mudah bermigrasi kedalam jaringan yang luka. 
Sel T : Suatu sel yang berasal dari timus yang berpartisipasi dalam berbagai 
reaksi imun selular yang dapat membunuh sel lain, misal, sel-sel yang 
terinfeksi patogen intraseluler. Kelompok sel darah putih yang 
memainkan peran utama pada kekebalan seluler. Sel T mampu 
membedakan jenis patogen dengan kemampuan berevolusi  sepanjang 
waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen. 
Hal ini dimungkinkan sebab  sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T 
memori dengan kemampuan untuk berproliferasi dengan cepat untuk 
melawan infeksi yang mungkin terulang kembali. 
Sel T CD4+  :  yaitu  sel yang telah disintesis dari kelenjar timus dan akan terbawa 
oleh sirkulasi darah hingga masuk ke dalam limpa dan bermigrasi ke 
dalam jaringan limfatik. 
Sel T CD8+  :  disebut juga sel T sitotoksik sebab  ada  glikoproteinCD8 pada 
permukaan sel yang mengikat MHC kelas I. Sel T sitotoksik dapat 
menjadi pasif pada status anergik, seperti pada penyakit autoimun. Sel 
ini yaitu  penghancur sel terinfeksi virus dan sel tumor dan terlibat 
pada penolakan transplantasi organ. 
Sensitivitas  :  Dapat diartikan sebagai batas deteksi, yaitu kadar terendah dari suatu 
analit yang dapat dideteksi oleh suatu metode. Dengan kata lain, 
positivitas diantara yang berpenyakit (persentase hasil positif sejati 
diantara pasien–pasien yang berpenyakit). Sensitivitas yang baik jika  
mendekati nilai 100%. Pemeriksaan dengan sensitivitas yang tinggi 
terutama dipersyaratkan pada pemeriksaan untuk tujuan skrining 
Sinovium  :  Amplop berserat yang menghasilkan cairan untuk membantu 
mengurangi gesekan dan keausan pada sendi 
Trombosit  : Fragmen sitoplasma megakariosit yang tidak berinti dan terbentuk di 
sumsum tulang. Trombosit matang berukuran 2-4 µm, berbentuk 
cakram bikonveks dengan volume 5-8 fl. Trombosit setelah keluar dari 
sumsum tulang, sekitar 20-30% trombosit mengalami sekuestrasi di 
limpa. 
Vertebrata  :  mencakup semua hewan dan manusia yang memiliki tulang belakang.