an limfoid
seperti limpa, limfonodus, tonsil, Peyer’s patch dan sedikit didalam darah.
Sel dendritik yang diaktifkan oleh mikroba menghasilkan sitokin dan
kostimulator yang meningkatkan aktivasi dan diferensiasi sel T menjadi
sel T efektor dengan mempresentasikan antigen dan mengirim sinyal
aktivasi kepada limfosit T naive atau T virgin untuk memulai respon imun,
sebab itu sel dendrit disebut juga immunostimulatory cells. Berbeda
dengan makrofag yang mengekspresikan MHC-kelas II sesudah induksi
antigen, sel dendritik mengekspresikannya sendiri pada permukaan sel
dengan level yang tinggi.
Selain mengekspresikan molekul MHC-kelas II, sel dendrit juga
mengekspresikan MHC-klas I dan reseseptor komplemen tipe 3. Sel
dendritik pada area B limfonodus dan zona marginalis dari limpa disebut
sel dendrit folikel, pada area T dan parakorteks limfonodus, pada area T
dari limpa dan pada medula timus disebut sel interdigitating.
Sel dendritik yaitu APC paling penting untuk mengaktifkan sel T
naive, dan memiliki peran utama dalam sistem imun bawaan terhadap
infeksi, dan dalam menghubungkan respon imun bawaan dan adaptif.
Sel dendritik terdistribusi secara luas di jaringan limfoid, epitel mukosa,
dan parenkim organ. Kebanyakan sel dendritik yaitu bagian dari garis
keturunan myeloid sel hematopoietik dan muncul dari prekursor yang
juga dapat berdiferensiasi menjadi monosit namun tidak granulosit.
Sel Langerhans
Sel APC dikulit disebut sel Langerhans, yang diduga merupakan
sel muda dari sel dendrit. Gambaran sel Langerhans ditandai oleh adanya
granul berbentuk raket tennis, disebut granul Birbeck. Sel Langerhans
bermigrasi ke daerah parakorteks limfonodus melalui pembuluh limf
aferen, untuk berinteraksi dengan beberapa limfosit T. Antigen precenting
cell mengandung molekul antigen MHC kelas-II yang berperan penting
untuk menyajikan antigen kepada limfosit T.
Sel-sel pada pembuluh limf aferen mirip dengan sel dendrit, tapi sel-
sel ini lebih heterogen dengan fenotipe transisional antara sel dendrit
dan interdigitating, dan disebut veiled cell. Pada timus, APC ada
dalam bentuk sel interdigitating yang ada dengan jumlah besar pada
medula timus. Sel interdigitating kaya akan antigen MHC klas-II, berperan
untuk seleksi limfosit T dan bereaksi terhadap antigen self
Antigen Precenting Cells
Sistem imun bawaan mengandung sel yang mendeteksi antigen yang
berpotensi berbahaya. Ketika patogen terdeteksi, sel fagosit seperti
makrofag dan sel dendritik akan memfagositosis patogen ini dan
mencernanya dengan bantuan enzim lisozim untuk membentuk berbagai
fragmen antigen yang berbeda. Fragmen antigen berikatan dengan MHC
kelas II, kemudian akan diangkut ke permukaan dan berada dipermukaan
sel sebagai kompleks antigen-MHC. Antigen- presenting cell yaitu sel
imun yang mendeteksi, menelan, dan menginformasikan antigen untuk
menginduksi respons imun adaptif. Antigen yang masuk kedalam tubuh
ditemukan dalam bentuk bebas atau terikat pada permukaan sel APC,
yang diangkut ke organ limfoid sekunder melalui sistim limfatika dan
selanjutnya berinteraksi dengan limfosit (Gambar 2.12).
Gambar 2.13: Mekanisme fagositosis dan presentasi antigen kepada sel T
oleh APC
Antigen-presenting cell merupakan kelompok sel imun heterogen yang
mampu menangkap mikroorganisme dan antigen lain, menyajikannya
kepada limfosit, dan memberikan sinyal untuk merangsang proliferasi
dan diferensiasi limfosit. Istilah APC berasal dari pemikiran bahwa sel
dapat memproses antigen asing, mengekspresikan molekul MHC-kelas II
yang berasal dari kompleks peptide-MHC agar dapat dikenali oleh limfosit
T spesifik, sehingga mengaktivasi limfosit T-helper untuk memulai tahap
efektor respon imun Jenis utama APC yang terlibat dalam memulai
respons sel T yaitu sel dendritik. Makrofag dan sel B menyajikan antigen
ke limfosit T dalam respon imun yang diperantarai sel dan humoral.
Antigen Precenting Cells sangat penting untuk respon imun adaptif yang
efektif, sebab fungsi sel T sitotoksik dan T helper bergantung pada APC.
Antigen Precenting Cells berinteraksi dengan sel T untuk menghubungkan
respon imun bawaan dan adaptif. Dengan menampilkan antigen bakteri
dan tumorigenik pada permukaannya melalui MHC, APC dapat secara
langsung mempengaruhi diferensiasi sel T. Demikian juga, aktivasi sel
T, diferensiasi, dan fungsi efektor dimodulasi oleh APC memakai
berbagai mekanisme. Presentasi antigen memungkinkan spesifisitas
imunitas adaptif dan dapat berkontribusi pada respon imun terhadap
patogen intraseluler dan ekstraseluler, dan dalam pertahanan melawan
tumor. Beberapa terapi kanker melibatkan pembuatan APC buatan untuk
mengungguli sistem kekebalan adaptif untuk menargetkan sel-sel ganas.
Sel Granulosit Polimorfonuklear
Sel granulosit berasal dari prekusor stem sel di sum-sum tulang,
mendominasi jumlah leukosit dalam sirkulasi (60-70%). Pada sitoplasma
ada sejumlah besar granul yang khas untuk masing- masing sel.
Granul biru ada pada basofil (0-1% dari jumlah granulosit), granul
merah pada eosinofil (3-5% dari jumlah granulosit) dan granul yang relatif
tidak berwarna pada netrofil (90-95% dari jumlah granulosit).
Netrofil merupakan sel fagosit, memiliki masa hidup 2-3 hari dalam
sirkulasi, bermigrasi menembus endotel ke jaringan dengan aktivasi
molekul adesi pada proses inflamasi. Granul netrofil terdiri dari granul
primer azurofil yang mengandung mieloperoksidase dan lisozim.
Granul sekunder mengandung laktoferin dan lisozim, sedang granul
tersier mengandung hidrolase asam. Enzim ini bekerja untuk mencerna
benda asing yang sudah difagosit.
Trombosit
Trombosit merupakan derivat megakaryosit yang berasal dari myeloid
di sum-sum tulang. Trombosit berbentuk bikonkaf dengan diameter μ,
tidak berinti namun struktur yang kompleks meliputi mikrofilamen,
mikrutubulus, vesikel, granul glikogen, mitokhondria dan sedikit
ribosom. Selain berperan pada pembekuan darah, trombosit berperan
juga dalam respon imun terutama pada respon inflamasi. Trombosit
memiliki MHC klas-1 dan reseptor untuk IgG dan IgE. Bila terjadi
trauma endotel, trombosit berlekatan dan membentuk agregasi pada
permukaan endotelm melepaskan bahan yang memicu peningkatan
permeabilitas kapiler dan bahan-bahan bertanggung jawab dalam aktivasi
komponen komplemen untuk menarik leukosit.
3. RESIRKULASI LIMFOSIT
Jumlah limfosit pada manusia dewasa yang sehat yaitu kira- kira
10¹², dan 0,1% diperbaharui setiap hari. Limfosit tidak menetap pada
satu organ saja namun beredar atau mengalami resirkulasi antara darah,
pembuluh limf, jaringan dan organ limfoid, untuk kembali ke jaringan
semula. Resirkulasi diperkirakan memakan waktu selama 1-2 hari.
Kecepatan resirkulasi pada proses pengawasan (immuno surveillance)
tergantung pada tipe sel dan anatomi, sebagai contoh; limfosit B memiliki
kecenderungan lebih tinggi untuk bermigrasi ke jaringan limfoid mukosa
daripada limfosit T. Pembuluh limf berperan untuk memfasilitasi migrasi
sel imun dan transportasi antigen dari perifer ke kelenjar getah bening
yang dilalui. Disamping itu pembuluh limf juga berperan dalam migrasi sel
kanker ke tempat metastasisnya.
Dalam tubuh ada dua sistim sirkulasi, yaitu sirkulasi darah dan
sirkulasi limf. Sirkulasi darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah
mulai dari pembuluh besar seperti yaitu aorta sampai ke pembuluh
terkecil kapiler di jaringan. Selain berfungsi untuk transport oksigen oleh
eritrosit, darah juga berfungsi untuk transport leukosit pomormonuklear
dewasa yang pada proses inflamasi diprodu ksi oleh sum-sum tulang
secara cepat ketempat proses inflamasi.
Gambar 2.14: Resirkulasi limfosit
Cairan keluar dari pembuluh darah kejaringan sebagai cairan
ekstraseluler. Sebagian dari cairan ini berkumpul masuk kedalam
pembuluh limf yang berhubungan satu sama lain menjadi pembuluh yang
lebih besar, dan masuk kedalam limfonodus melalui pembuluh limf aferen.
Pembuluh limf aferen berperan pada transport antigen dari jaringan lain
kedalam folikel limfonodus dimana respon imun terjadi (gambar 2.14).
Dari limfonodus cairan keluar melalui pembuluh limf eferen yang
akhirnya masuk ke sirkulasi darah melaluivena subklavia. Limfosit
dapat masuk kedalam pembuluh limf menembus pembuluh darah pada
tempat yang disebut sebagai high endothelial venules (HEV) yang ada
pada limfonodus dan Peyer’s patch, untuk kemudian kembali kedalam
pembuluh darah.
Limfosit T dan B yang belum terstimulasi oleh antigen disebut sebagai
naïve lymphocytes, secara kontinyu mengalami resirkulasi dari darah
kedalam jaringan limfoid perifer atau sekunder, kemudian kembali lagi ke
darah melalui pembuluh limf Resirkulasi limfosit T naïve untuk menjadi
sel efektor meliputi proses migrasi sel melalui limfonodus dimana limfosit
T berinteraksi dengan APC, melibatkan juga interaksi non-spesifik antara
limfosit dengan sel lain. Reaksi perlekatan dikontrol oleh molekul adesi
yang ada pada permukaan limfosit T yang dapat mengenal molekul
adesi yang sesuai dari permukaan sel lain ini . Klas utama dari molekul
adesi yaitu selektin, integrin dan superfamili imunoglobulin.
Selektin-L, E dan P ada pada permukaan leukosit, endotel dan
trombosit, berperan pada mekanisme homing dari leukosit. Intergrin
ada pada permukaan sel limfosit, makrofag dan netrofil. Superfamili
immunoglobulin terdiri dari intercellular adhesion molecule (ICAM)
yang ada pada permukaan leukosit dan endotel, dan vascular cell
adhesion molecule (VCAM) yang ada dipermukaan endotel. Molekul
adesi ini berikatan dengan intergrin leukosit didalam pembuluh yang
mengakibatkan leukosit berhenti bergerak dalam sirkulasi sehingga
bermigrasi pembuluh darah.
ANTIGEN DAN ANTIBODI
1. ANTIGEN
Antigen merupakan molekul yang merangsang respon imun dengan
mengaktifkan leukosit untuk perlawanan terhadap penyakit. Antigen dapat
berasal dari mikoorganisme yang menginvasi seperti bakteri, virus, parasit,
dan jamur; organ yang ditransplantasikan; atau sel abnormal, seperti sel
kanker. Antigen yaitu semua substan atau partikel yang dapat merangsang
terjadinya respon imun dan dapat bereaksi dengan antibodi spesifik antigen
yang sama. Secara fungsional antigen dibagi menjadi imunogen dan hapten.
Imunogen yaitu partikel yang dapat memicu respon imun sedang
hapten yaitu determinan antigen dengan berat molekul renday yang dapat
menjadi imunogen bila diikat oleh carrier atau protein pembawa.
Imunogenitas yaitu kemampuan substan asing, seperti antigen untuk
memicu respons imun dalam tubuh manusia atau hewan lain, yang
mungkin diinginkan atau tidak diinginkan. Imunogenitas ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Keterasingan
Reaksi imunitas mampu membedakan bahwa substansia ini
yaitu substansi asing (non-self) atau bukan substansi asing (sel atau
jaringan sendiri/self). sebab sistim imun normal dapat membedakan
self dan nonself, maka untuk menjadi imunogenik substansi asing
harus memiliki keterasingan yang optimal. Sel atau jaringan sendiri
tidak akan memicu reaksi imunitas kecuali pada kondisi
patologis seperti pada sistemic lupus erythemathosus (SLE). Sifat
asing ini dapat juga terjadi bila ada perubahan konfigurasi substansi
yang semula bukan merupakan substansi asing menjadi asing
2. Ukuran molekul
Imunogen yang paling potensial untuk memicu terbentuknya
antibodi yaitu substan yang memiliki masa molekul 14.000 sampai
600.000 Da, biasanya lebih besar dari 100.000 Da. Substan dengan
berat molekul kurang dari 5.000 hingga 10.000 Da merupakan
imunogen termasuk tidak potensial.
Misalnya. Insulin (5.700 Da) bersifat non-antigenik atau antigenik
lemah. Molekul-molekul kecil seperti asam amino atau monosakrida
umumnya kurang atau tidak bersifat imunogenik.
3. Kompleksitas struktur kimia
Derajat reaksi imunitas sangat ditentukan olek struktur kimiawi
antigen. Semakin kompleks struktur kimianya, seperti protein dan
beberapa polisakarida, maka semakin tinggi derajat antigenitasnya.
Homopolimer cenderung kurang imunogenisitasnya walaupun
memiliki ukuran yang besar, sedang heteropolimer biasanya
lebih imunogenik daripada homopolimer.
4. Betuk fisik
Secara umum antigen partikulat lebih imunogenik daripada yang
larut. Antigen terdenaturasi lebih imunogenik daripada bentuk
asli. Molekul besar, tidak larut atau teragregasi lebih imunogenik
daripada molekul kecil yang larut
5. Kompleksitas struktur kimia
Derajat reaksi imunitas sangat ditentukan olek struktur kimiawi
antigen. Semakin kompleks struktur kimianya, seperti protein dan
beberapa polisakarida, maka semakin tinggi derajat antigenitasnya.
Homopolimer cenderung kurang imunogenisitasnya walaupun
memiliki ukuran yang besar, sedang heteropolimer biasanya
lebih imunogenik daripada homopolimer.
6. Sistem Biologis dari host
Genotipe yaitu faktor utama yang menentukan respon imun.
Beberapa substan yang bersifat imunogenik pada satu spesies dapat
tidak bersifat imugenik pada spesies lain. Demikian pula, beberapa
zat bersifat imunogenik pada satu individu namun tidak pada
individu lain. Produk gen MHC yang berfungsi dalam pengolahan
dan penyajian antigen mempengaruhi respon terhadap antigen.
Gen yang mengkode reseptor sel B dan sel T juga mempengaruhi
imunogenisitas. Juga, gen yang mengkode protein untuk berbagai
mekanisme pengaturan mempengaruhinya.
7. Dosis dan Cara Pemberian
Dosis imunogen yang tidak mencukupi tidak akan memicu
respon imun, sebaliknya, dosis yang terlalu tinggi juga akan
memicu tidak responsif atau toleransi. Dosis percobaan
tunggal tidak cukup untuk mengembangkan respon imun namun
dosis booster selama periode waktu tertentu meningkatkan
imunogenisitas. Rute pemberian sangat mempengaruhi respon imun.
Rute subkutan lebih baik daripada rute intravena atau intragastrik.
Cara masuk substansi asing kedalam tubuh dan besarnya dosis juga
menetukan respons imun yang ditimbulkan. Ada kalanya antigen
yang dimasukkan secaraintravenakurang imunogenik dibandingkan
dengan antigen sama yang dimasukkan secara subkutan.
8. Ajuvan
Ajuvan merupakan bahan tambahan yang dicampur dengan
antigen untuk meningkatkan imunogenisitas antigen, biasanya
dipergunakan pada vaksin. Aluminium potassium sulphat yaitu
adjuvant yang meningkatkan imunogenisitas dengan meningkatkan
persistensi antigen, dengan melepaskan antigen secara perlahan
dari tempat suntikan dan meningkatkan fagositosis antigen.
Klasifikasi antigen
1. Klasifikasi antigen berdasar epitop
a. Unideterminan antibodi
Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul
b. Unideterminan antibodi
Hanya satu jenis determinan namun dua atau lebih determinan
ini ditemukan pada satu molekul
c. Multideterminan antibodi
Banyak epitop yang bermacam-macam namun hanya satu dari
setiap macamnya (kebanyakan protein).
d. Multideterminan antibodi
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada
satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan
kompleks secara kimiawi).
2. Klasifikasi antigen berdasar spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu
c. Alloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam
satu spesies
d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3. Klasifikasi antigen berdasar ketergantungan terhadap limfosit T
a. T dependen, yang memerlukan pengenalan oleh limfosit T dan
B terlebih dahulu untuk dapat memicu respons antibodi.
Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini.
b. T antibodi, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan limfosit
T untuk membentuk antibodi. Kebanyakan antigen golongan
ini berupa molekul besar polimerik yang dipecah di dalam
tubuh secara perlahan-lahan misalnya lipopolisakarida, ficoll,
dekstran, levan, flagelin polimerik bakteri.
4. Klasifikasi antigen berdasar sifat kimiawi
a. Protein: protein seperti glikoprotein atau lipoprotein umumnya
multideterminan dan univalen, merupakan imunogen yang
sangat baik.
b. Polisakarida: polisakarida murni dan lipopolisakarida merupa-
kan imunogen yang baik. Glikoprotein yang merupakan bagian
permukaan sel banyak mikroorganisme dapat memicu re-
spon imun terutama pembentukan antibodi. Contoh lain yaitu
respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO yang sifat
antigen dan spesifisitas imunnya berasal dari polisakarida pada
permukaan sel darah merah.
c. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, namun menjadi imunogenik
bila diikat protein pembawa (carrier). Lipid dianggap sebagai
hapten, contohnya yaitu sfingolipid.
d. Asam nukleat: Asam nukleat biasanya kurang imunogenik. Namun,
mereka dapat menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa.
DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik, namun
pada penyakit autoimun SLE, terjadi respon terhadap DNA.
Determinan Antigen
Pada umumnya, struktur dan ukuran antigen jauh lebih besar
dibandingkan dengan sisi antibodi yang mengikat antigen ini .
Sehingga, hanya sebagian kecil dari struktur antigen ini yang akan
dikenal oleh antibodi, sel B, atau sel T. Bagian antigen yang dikenal dan
diikat oleh antibodi disebut epitop, yang disebut juga sebagai determinan
antigenik. Epitop yaitu bagian spesifik dari antigen yang mengikat
antibodi, sedang bagian antibodi yang mengikat epitop disebut
paratop (gambar 3.1).
Kemampuan epitop untuk diikat atau dikenali oleh antibodi tergantung
pada permukaan bebas yang tidak ditutupi oleh epitop atau rantai lainnya
dalam satu molekul. Hal ini terjadi pada antigen protein yang disebut
epitop konfirmasi dengan struktur banyak lipatan non kovalen sehingga
satu epitop dapat ditutupi oleh epitop lain dalam satu molekul. Epitop
yang tertutup tidak akan dikenali oleh antibodi. Selain epitop konfirmasi,
ada epitop linier berinteraksi dengan paratop.
Gambar 3.1: Diagram determinan antigen (epitop) pada dinding
mikroba yang berikatan dengan antibodi spesifik terhadap
determinan antigen ini
Hapten
Hapten merupakan substansia yang hanya mempunyai satu
determinan antigenik namun tidak mampu merangsang respon imunitas
bila tidak digabung dengan protein karier. Oleh sebab hanya mempunyai
satu determinan, bahan ini sangat berguna untuk mempelajari spesifisitas
antibodi maupun bentuk kompleks antigen-antibodi. Bila bergabung dengan
prrotein karier, maka antibodi akan mengenal 2 macam spesifisitas yaitu
untuk hapten maupun karier. Antibodi spesifik untuk hapten dapat dipelajari
dan dipisahkan dari kariernya dengan tekhnik seperti dianalisis dengan
hapten murni, presipitasi dengan hapten lain yang tidak memicu reaksi
silang atau dengan tekhnik penghambatan presipitasi oleh hapten bebas.
Karl Landsteiner yaitu ilmuwan pertama yang meneliti reaksi
imunitas terhadap hapten. Hal yang luar biasa dari penelitian ini ialah
bahwa antibodi mampu membedakan dua hapten yang strukturnya
antibodi sama. Bukti lanjut ialah bahwa bila hapten asam suksinit
Ditambah dengan protein karier, diberikan pada binatang percobaan,
maka antibodi yang timbul hanya mengenal asam maleik bentuk cis
antibodi dalam bentuk trans. Jadi, antibodi hanya spesifik terhadap bentuk
cis namun tidak terhadap bentuk trans.
Hapten dapat pula dibagi berdasar strukturnya yang harus disesuaikan
dengan bahan konjugasi agar dapat digabungkan dengan protein karier.
Pembagian ini dapat disingkat sebagai berikut :
a. Hapten dengan kelompok karboksil
Termasuk dalam klas ini ialah seperti asam asetilsalisilat (aspirin),
aintibod angiotensin dan bradikinin, asam uridin 5’-karboksilat,
asam kholat, kelompok steroid seperti antibodi, prostaglandin,
thiroksindan lain-lain.
b. Hapten dengan kelompok amino
Dua klas yang termasuk dalam kelompok ini yaitu kelompok
amine antibodi seperti khlorampenikol dan amine antibodi seperti
gentamisin, spermidin, tobramisin, bardikinin dan angiotensin,
adriamisin dan lain-lain
c. Hapten dengan kelompok hidroksil
Termasuk dalam klas ini ialah antibodi, phenol, gula, polisakarida
dan nukleotida.
d. Hapten dengan kelompok karbonil
Termasuk dalam klas ini ialah kelompok ketone seperti aldosteron,
kortokosterone dan kortisol, dan kelompok aldehida, seperti
piridoksal dan piridoksal phospat.
Antigen Karbohidrat
Antigen determinana karbohidrat biasanya ada dalam bentuk
glikolipid atau glikoprotein. Antigrn determinan yang paling determinan
dari grup polisakarida biasanya merupakan rantai oligosakarida yang
pendek pada bagian akhir bukan reduksi dari rantai polimer. Sehingga,
polisakarida merupakan analog dari hapten bila dilihat dari sisi struktur
determinan yang sederhana. Oleh sebab itu, metode untuk mempelajari
determinan dari polisakarida disebut penghambatan hapten. Pada
tekhnik ini, reaksi antigen dan antibodi dapat dihambat pada pemberian
oligosakarida rantai pendek. Bahan ini walaupun rantainya pendek
mampu mengikat antibodi sebaik polisakarida. Namun sebab
oligosakarida merupakan monomer maka presipitasi antara antigen-
antibodi tidak terjadi. Dengan sifat ini, ikatan antibodi dan polisakarida
dapat dipelajari, yaitu semakin banyak olisakarida yang dimasukkan
semakin sedikit ikatan antara polisakarida dengan antibodi.
Dibawah ini ada dua contoh antigen karbohidrat :
1. Antigen eritrosit
Membran setiap eritrosit atau sel darah merah mengandung
jutaan antigen yang tidak memicu respon imun tubuh. Antigen pada
membran eritrosit terdiri dari karbohidrat atau protein, dimana
antigen golongan darah ABO yaitu karbohidrat sedang antigen
golongan darah Rh yaitu protein. Dua golongan darah utama pada
manusia yaitu ABO (dengan golongan darah A, B, AB, dan O) dan Rh
(dengan golongan darah Rh D-positif atau Rh D-negatif). Sel darah
merah individu mengandung antigen pada permukaannya yang
sesuai dengan golongan darahnya dan antibodi dalam serum yang
mengidentifikasi dan berikatan dengan s antigen pada permukaan
sel darah merah jenis lain. Sistem golongan darah ABO memiliki dua
antigen dan dua antibodi, kedua antigen ini yaitu antigen A
dan antigen B yang ada pada membran eritrosit. sedang
antibodi ada didalam serum yaitu antibodi A dan antibodi B.
Sistem golongan darah ABO diklasifikasikan menjadi 4 kelompok
yaitu golongan darah A, memiliki antigen A dengan antibodi B;
golongan darah B, memiliki antigen B dan antibodi A; golongan
darah null (O), tidak memiliki antigen tapi memiliki antibodi A dan B;
golongan darah AB, memiliki antigen A dan B, namun tidak memiliki
antibodi.
Dalam kondisi fisiologis, antigen eritrosit individu tidak akan
bereaksi dengan antibodi dalam serum darahnya. Reaksi antara sel
darah merah dan antibodi akan terjadi pada penyakit autoimun dan
transfusi darah yang tidak kompatibel. Respon imun yang terjadi
apada transfusi darah yang tidak kompatibl yaitu raksi antara
antigen eritrosit donor dengan aglutinin plasma resipien yang
memicu penggumpalan atau aglutinasi eritrosit. Oleh sebab
itu, antigen pada permukaan sel darah merah ini sering disebut
sebagai aglutinogen.
2. ANTIBODI
Antibodi yaitu fraksi protein dalam cairan tubuh yang terbentuk
atas rangsangan masuknya antigen yang berasal dari luar, terjadi secara
spesifik, dan merupakan komponen sistem imun adaptif. Antibodi
ada juga pada manusia sejak lahir, yaitu antibodi yang ditransfer oleh
ibu melalui plasenta dari darah ibu kejanin. Landsteiner, seorang peneliti di
bidang fraksi protein memakai teknologi imunoelektroforesis yaitu
metode di bidang kimia yang memisahkan fraksi-fraksi protein dalam
tubuh dengan cara melewatkan ke medan listrik atas dasar kandungan
listrik pada protein. Porter dan Edelman melakukan percobaan dengan
mempergunakan toxin diphteriae untuk merangsang sistim imun mencit
sehingga mencit hanya mendapat satu antigen. Dengan rangsangan satu
jenis antigen, akan terbentuk satu macam antibodi dalam serum. Bila
serum mencit ini dicampur dengan toxin diphteriae dan didiamkan
semalam, akan terlihat bahwa antibodi ada pada fraksi γ globulin,
yang merupakan asal istilah imunoglobulin.
Sebagaimana dibahas sebelumnya respon imunitas dapat dibagi
menjadi dua sistim yaitu sistim imunitas humoral dan selular. Sistim
imunitas humoral dilakukan oleh suatu molekul glikoprotein yang sangat
luar biasa spesifiknya. Molekul antibodi ini dihasilkan oleh limfosit B dan
berbentuk imunoglobulin.
Struktur Dasar Imunoglobulin
Antibodi, juga dikenal sebagai imunoglobulin, yaitu struktur
berbentuk Y, terdiri dari empat polipeptida yang dirangkai menjadi satu
ikatan disulfida. Polipeptida dari imunoglobulin terdiri dari peptida
yang ringan, disebut light chain (rantai ringan) atau rantai L, dengan
berat molekul ± 24 kD. Peptida berat, disebut heavy chain (rantai berat)
atau rantai H, dengan berat molekul ± 55-70 kD. Satu molekul antibodi
terdiri dari 2 rantai L yang sama dan 2 rantai H yang sama, dirangkaikan
dalam satu molekul imunoglobulin. Struktur ini memungkinkan molekul
antibodi untuk menjalankan fungsi yang berbeda.
Imunoglobulin dapat dipecah menjadi berbagai fragmen dengan enzim
proteololitik yaitu papain dan pepsin. Papain memecah imunoglobulin
menjadi fragmen antigen binding (Fab) dan fragmen crystallized (Fc),
sedang pepsin memecah menjadi fragmen Fab2. Fragmen antigen
binding2 terdiri dari 2 fragmen Fab ditambah satu atau dua ikatan
disulfida antar rantai, sehingga Fab2 merupakan bivalen sedang
Fab merupakan monovalen. Fragmen Fab yang terdiri dari satu domain
konstan dan satu variabel dari masing-masing rantai berat dan ringan,
ada di ujung terminal amino monomer, mengandung domain yang
membentuk paratope yaitu area pengikatan antigen.
Fragmen ini disebut Fab sebab mampu mengikat antibodi. Fragmen
Fc ada pada ujung berlawanan dari Fab, berinteraksi dengan reseptor
permukaan sel yang disebut reseptor Fc dan beberapa protein sistem
komplemen (gambar 3.2). Fragmen crystallized memungkinkan antibodi
untuk mengaktifkan sistem imunitas tubuh. berdasar jenis rantai berat
yang dikodekan oleh gen pada kromosom 14 antibodi diklasifikasikan
menjadi IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE, sesuai urutan kadarnya serum.
Rantai H terutama regio C yang hanya mempunyai 9 alternatif sekuen
asam amino dapat membedakan imunoglobulin menjadi beberapa klas
dan subklas. ada lima kelas yaitu IgA, IgD, IgE dan IgM. IgG dan
ada beberapa subklas yang terdiri dari IgA1 dan IgA2 dan IgG1, IgG2,
IgG3 dan IgG4.
Imunoglobulin G (IgG) ada dalam darah, getah bening, saluran
pencernaan, dalam bentuk monomer, merupakan imunoglobulin yang
paling dominan, dengan persentase 75% dari seluruh imunoglobulin.
Salah satu fungsi IgG ialah mengativasi komplemen baik lewat jalur
alternatif maupun klasik. Bila sistem komplemen aktif, akan pelepasan
mediator inflamasi terjadi lisis sel. IgG merupakan satu-satunya antibodi
isotipik yang mampu melewati plasenta. Diduga plasenta mempunyai
reseptor Fc IgG sehingga antibodi dapat melewatinya dan menuju fetus.
IgG berperan meningkatkan fagositosis, menetralkan racun dan virus,
melindungi janin dan bayi baru lahir.
Gambar 3.2: Stuktur imunoglobulin
Gambar 3.3: Jenis Imunoglobulin
Imunoglobulin A (IgA) yaitu antibodi yang paling dominan pada
cairan sekresi seperti air liur, air mata, air susu ibu, darah, kelenjar getah
bening dan mukus dari saluran mukosa seperti saluran pencernaan,
pernafasan, serta mukosa genital wanita. ada dua subkelas, IgA1
dan IgA2, memiliki rantai yang menghubungkan 2 molekul berbentuk
Y, dalam bentuk dimer dan komponen sekretori. Persentase kadar
dalam serum 10-15 % dari seluruh antibodi. Fungsi IgA yaitu sebagai
perlindungan lokal dari permukaan mukosa, memberikan kekebalan
pada saluran pencernaan bayi, antara lain untuk menahan antigen agar
tidak menempel permukaan mukosa dan menetralisir virus. Antibodi IgA
resisten terhadap pencernaan enzimatik dan bertindak terutama sebagai
antibodi penetralisir. Air susu ibu dan kolostrum memiliki kadar IgA yang
tinggi yang melapisi saluran aerodigestif; melindungi terhadap infeksi
pada bayi yang disusui.
Pada orang dewasa, IgA membentuk lapisan penghalang pada
permukaan mukosa untuk mencegah invasi patogen. Sel plasma di lamina
propria menghasilkan jumlah polimer IgA dengan konsentrasi tinggi,
yang kemudian bergerak secara endositosis melalui lapisan epitel untuk
disekresikan ke area lumen. IgA menetralkan patogen dan menghalangi
perlekatan pada reseptor epitel dengan mengikat ligan mereka pada
patogen atau toksin. Molekul IgA juga dapat mengikat antigen polivalen
atau patogen, membentuk kompleks antigen-antibodi yang kemudian
terperangkap di lapisan lendir dan dibersihkan melalui peristaltik.
Imunoglobulin M (IgM) merupakan imunoglobulin terbesar dengan
strukur pentamer. IgM berperan pada respon imun primer terhadap antigen
mikroba, sebab merupakan antibodi pertama yang diproduksi selama infeksi.
IgM beredar dalam darah, getah bening, dan permukaan sel B (dalam bentuk
monomer). Persentase antibodi ini dalam serum yaitu 5-10%. Imunoglobulin
M yaitu antibodi yang predominan diproduksi oleh janin. Peningkatan kadar
IgM dalam umbilikus menunjukkan adanya infeksi sebelum lahir sebab pada
respon imun primer, IgM dibentuk lebih dahulu dibanding IgG.
Bayi yang baru dilahirkan hanya mempunyai IgM 10 % dari kadar IgM
dewasa, sebab IgM ibu tidak dapat menembus plasenta. Janin umur 12
minggu sudah mulai membentuk IgM bila limfosit B nya dirangsang oleh
infeksi intrauterin, seperyi sifilis kongenital, rubela, toksoplasmosis dan
virus sitomegalo. Kadar IgM anak akan mencapai kadar IgM dewasa pada
usia satu tahun. Imunoglobulin M juga merupakan antibodi yang dapat
mengaktifkan komplemen dengan optimal.
Imunoglobulin D (IgD) merupakan antibodi yang ada pada
permukaan sel B dalam bentuk monomer dan yang belum jelas fungsinya.
Hal ini disebabkan sulitnya mengisolasi antibodi ini dan konsentrasinya
dalam serum 0,2%. lokasi: permukaan sel B, darah, dan getah bening.
Imunoglobulin E (IgE) terutama ditemukan pada sel mast, ada dalam
konsentasi sangat rendah didalam serum dan cairan ekstrasel, yaitu
kurang dari 5000 ng/ml, dengan pesentase antibodi serum: 0,002%.
Namun level ini akan naik dengan cepat pada hipersensitivitas tipe I
seperti penyakit atopi dan reaksi anapilaksi. Imunoglobuli E berikatan
dengan sel sel mast dan basofil di seluruh tubuh. Pada tingkat rendah
dalam darah dan cairan ekstraseluler. Antibodi ini memicu pelepasan
histamin dari sel mast dan basofil, dan merupakan bagian dari respons
tubuh terhadap infeksi parasit.
Variabilitas imunoglobulin
Imunoglobulin merupakan kumpulan protein yang sangat heterogen,
heterogenitas ini antara lain disebabkan oleh susunan asam amino
yang berbeda satu dengan yang lain. Akibat perbedaan dalam susunan
asam amino, struktur molekul juga menjadi berbeda yang selanjutnya
menimbullkan variabilitas dalam determinan antigenik Ig. Variabilitas
imunoglobulin dapat digolongkan dalam : isotip, alotip dan idiotip.
Variasi Isotip
berdasar struktur bagian konstan dari rantai berat (CH),
imunoglobulin digolongkan kedalam kelompok yang disebut kelas
dan subkelas. Pada seseorang yang normal dapat dijumpai lima kelas
imunoglobulin, yaitu IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE, kelimanya berbeda dalam
bagian konstan rantai berat. Tapi dalam satu kelas juga dapat dijumpai
beberapa subkelas misalnya IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4 yang satu dengan
yang lain berbeda dalam susunan bagian konstan rantai berat G. sebab
semua bagian CH yang ada pada kelas dan subkelas imunoglobulin
ini dapat dijumpai pada satu orang maka bagian ini disebut varian
isotip. Sebutan varian isotip juga berlaku bagi bagian CL rantai kappa
dan lambda yang dapat dijumpai semua bagian kelas dan subkelas
imunoglobulin dan ada pada satu orang. sebab kedua rantai ringan
pada satu antibodi selalu identik, maka imunoglobulin selalu dibentuk
sebagai kappa atau lambda dan tidak pernah merupakan campuran. Jadi
IgG selalu dijumpai sebgai IgG-kappa atau IgG-lambda, demikian juga
untuk imunoglobulin yang lain.
Variasi alotip
Determinan antigenik suatu varian isotip imunoglobulin dalam
satu spesies juga dapat berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan ini
ditentukan secara genetik (variasi genetik) mengikuti hukum Mendel,
dan disebut varian alotip. Contoh varian alotip yang paling baik yaitu
golongan darah. Umumnya perbedaan dalam varian alotip ada
pada rantai berat. Rantai berat Gamma misalnya dapat menunjukkan
20 macam determinan alotip yang disebut Gm. Pada seseorang dijumpai
beberapa varian alotip yang berbeda dan tidak selalu sama dengan yang
ada pada orang lain.
Variasi idiotip
Merupakan determinan antigenik yang ada pada bagian variabel
molekul imunoglobulin, ini membedakan satu molekul imunoglobulin
dengan molekul imunoglobulin yang lain dalam alotip yang sama. Dengan
kata lain variasi idiotip yaitu karakteristik bagi setiap molekul antibodi.
Pembentukan antibodi
Pada saat antigen pertama kali masuk kedalam tubuh, terjadi respons
imun primer yang ditandai dengan munculnya IgM beberapa hari sesudah
pemaparan. Saat antara pemaparan antigen dan munculnya IgM disebut
lag phase. Kadar IgM mencapai puncaknya sesudah kira- kira 7 hari. Enam
sampai tujuh hari sesudah pemaparan, dalam serum mulai dapat dideteksi
IgG, sedang IgM mulai berkurang sebelum kadar IgG mencapai
puncaknya yaitu 10-14 hari sesudah pemaparan antigen. Kadar antibodi
kemudian berkurang dan umumnya hanya sedikit yang dapat dideteksi
4-5 minggu sesudah pemaparan.
Pada pemaparan antigen yang kedua kali, terjadi respon imun
sekunder yang sering juga disebut respons anamnestik atau booster. Baik
IgM maupun IgG meningkat secara cepat dengan lag phase yang pendek.
Puncak kadar IgM pada respons sekunder ini umumnya tidak melebihi
puncaknya pada respons primer, sebaliknya kadar IgG meningkat jauh
lebih tinggi dan berlangsung lebih lama. Perbedaan respon ini
yaitu sebab adanya limfosit B dan limfosit T memori akibat pemaparan
pertama. Sifat pemaparan antibodi dengan antigen juga berubah dengan
waktu, yaitu afinitas antibodi terhadap antigen makin lama makin besar,
dan kompleks antigen-antibodi yang terjadi juga makin lama makin stabil.
Antibodi yang dibentuk juga makin lama makin poliklonal sehingga
makin kurang spesifik, yang berarti makin besar kemungkinan terjadi
reaksi silang. Perbedaan dalam respons imun primer dan sekunder,
kadar antibodi yang dibentuk, lamanya lag phase dan lain-lain sangat
bergantung pada jenis, dosis dan cara masuk antigen, serta sensitivitas
tekhnik yang digunakan untuk mengukur antibodi.
Gambar 3.4: Mekanisme antibody class switching, pergantian kelas
antibodi dari sel B dengan IgM dan IgG menjadi IfA, IgM dan
IgG sesudah induksi antigen (Sumber: Duarte, 2016)
Kelas antibodi dapat berganti, disebut sebagai immunoglobulin
class switching atau antibody class switching. Pergantian kelas yaitu
proses yang memicu perubahan isotipe Ig yang diproduksi sel.
Pergantian kelas melibatkan DNA sel tidak dapat kembali memproduksi
Ig seperti semula. Pergantian kelas terjadi sesudah aktivasi sel B matang
melalui molekul reseptor sel B untuk menghasilkan kelas antibodi yang
berbeda. Sel B naïve yang menghasilkan IgM dan IgD yang diaktivasi oleh
antigen akan berproliferasi dengan dimodulasi oleh Th akan menjalani
pergantian kelas antibodi untuk menghasilkan antibodi IgG, IgA atau IgE.
Selama pergantian kelas, wilayah konstan rantai berat imunoglobulin
berubah namun wilayah variabel tidak berubah, dan sebab itu spesifisitas
antigenik tetap sama. Hal ini memungkinkan sel anak yang berbeda dari
sel B teraktivasi yang sama untuk menghasilkan antibodi dari isotipe atau
subtipe yang berbeda misalnya IgG1 and IgG2
Pembentukan antibodi tidak berlangsung tanpa batas, ada mekanisme
kontrol yang mengendalikan dan menghentikan pembentukan antibodi
berlebihan. Beberpa diantara mekanisme kontrol itu yaitu ; berkurang-
nya kadar antigen, pengaturan oleh idiotip dan penekanan oleh limfosit
Treg atau Ts.
Peran dan Fungsi antibodi
Antibodi yang beredar diproduksi oleh sel B klonal yang secara khusus
merespon hanya satu antigen. Antibodi berperan pada sistem imun melalui
tiga tiga cara yaitu: mencegah patogen memasuki atau merusak sel dengan
mengikatnya (netralisasi); merangsang penghapusan atau eliminasi
patogen oleh makrofag dan sel lain dengan melapisi patogen (opsonisasi);
dan memicu penghancuran patogen dengan merangsang respon imun
lainnya seperti jalur komplemen. Sistem komplemen memulai kaskade
panjang produksi protein yang mengopsonisasi patogen untuk fagositosis
atau melisis secara langsung dengan membentuk kompleks serangan
membran. Selama opsonisasi, antibodi mengekspresikan reseptor Fc pada
makrofag, neutrofil, atau sel NK.
Fungsi antibodi digambarkan pada gambar 3.5. Antibodi (imunoglob-
ulin/Ig) ada dalam cairan ekstraseluler (plasma darah, getah bening,
lendir, dll) dan permukaan sel B yaitu protein yang mengenali antigen
spesifik dan mengikatnya melalui Fab. Fragmen Fc mengikat reseptor
sel imun yang berbeda (misalnya pada fagosit) dan memediasi berbagai
fungsi efektor. Antibodi (terutama IgG1 dan IgG3) dapat bertindak se-
bagai opsonin dengan mengikat patogen, yang memungkinkan pengena-
lan yang lebih baik oleh fagosit. Fagosit kemudian mengikat antibodi
melalui reseptor Fc untuk memulai proses fagositosis. Antibodi juga ber-
peran mengikat dan mengopsonisasi sel target. Sel NK dapat mengenali
Fc dari antibodi dan melepaskan butiran sitotoksik (perforin dan gran-
zime) ke dalam sel target yang memicu apoptosis. Disamping itu sel NK
juga melepaskan interferon, yang menarik sel fagosit.
Antibodi yang memiliki afinitas tinggi dapat secara efektif mencegah
patogen mengakses sel dengan memblokir berbagai bagian permukaan
sel bakteri atau virus utuk menetralkan virus dan toksin bakteri
tertentu. Pengikatan beberapa antigen dan antibodi bersama- sama dapat
membentuk kompleks imun. Pembentukan kompleks imun ini membatasi
kemampuan difusi antigen, sehingga memudahkan fagosit untuk
menemukan dan menelan patogen melalui fagositosis. Antibodi yang
diproduksi terhadap antigen penyebab hipersensitivitas memicu
degranulasi dari sel mast.
Gambar 3.5: Fungsi antibodi
Komplemen jalur klasik akan diaktifkan oleh antibodi IgM atau IgG
yang berikatan dengan permukaan mikroba. Dengan melepaskan C3b
yang bertindak sebagai opsonin dan komponen pelengkap lainnya yang
membentuk kompleks yang memicu porus atau lubang pada
membran plasma patogen sehingga memicu lisis dan kematian sel.
KOMPLEMEN
Komplemen merupakan salah satu sistim enzim serum yang berfungsi
dalam inflamasi, opsonisasi partikel antigen dan kerusakan (lisis)
membran patogen. Dewasa ini diketahui ada sekitar 20 jenis protein yang
berperan dalam sistim komplemen.
Aktivasi komplemen sering pula disertai kerusakan jaringan sehingga
merugikan tubuh sendiri. Berbagai mediator dilepas oleh komplemen
yang diaktifkan.
1. MEDIATOR YANG DILEPAS KOMPLEMEN
Berbagai mediator yang dilepas komplemen yang diaktifkan ada-
lah sebagai berikut :
C1qrs : Meningkatkan permeabilitas vaskular
C2 : Mengaktifkan kinin
C3a dan C5a : Kemotaksis yang mengerahkan leukosit dan
juga berupa anafilatoksin yang dapat
merangsang sel mast melepas histamin dan
mediator-mediator lainnya
C3b : Opsonin dan adherens imun
C4a : Anafilatoksin lemah
C4b : Opsonin
C5-6-7 : Kemotaksis
C8-9 : Melepas sitolisin yang dapat menghancurkan
sel (lisis)
Anafilatoksin
Anafilatoksin yaitu bahan dengan berat molekul kecil yang dapat
memicu degranulasi sel mast dan atau basofil melepas histamin.
Histamin meningkatkan permeabilitas vaskuler dan kontraksi otot polos
dan memicu gejala-gejala lain yang ditemukan pada reaksi alergi.
C3a dan C5a yang merupakan anafilatoksi, dan C4a yang juga
menunjukkan aktivitas anafilatoksin meskipun lemah, meningkatkan
permeabilitas vaskuler dan memberikan jalan untuk migrasi sel-sel
leukosit dan plasma yang mengandung bahan antibodi, opsonin dan
komponen komplemen ke jaringan. Monosit yang masuk jaringan
menjadi makrofag dan fagositosisnya diaktifkan oleh opsonin dan
antibodi. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai mediator, sehingga
mengakibatkan terjadinya reaksi inflamasi. Proses ini bertujuan
untuk mengeliminasi antigen yang masuk tubuh di tempat ini .
Kemotaksin
Kemotaksin merupakan komponen komplemen yang dapat menarik dan
mengerahkan sel-sel fagosit seperti C3a, C5a dan C5-6-7
Adesi Imun
Adesi imun seperti merupakan fenomen dari partikel antigen yang
melekat pada berbagai permukaan (misalnya pada permukaan endotel
pembuluh darah), kemudian dilapisi antibodi dan mengaktifkan
komplemen. Akibatnya antigen akan mudah difagositosis. Komponen
komplemen yang berfungsi dalam adherens imun yaitu C3b.
Opsonin
Opsonin merupakan molekul yang dapat diikat oleh partikel yang harus
difagotosis disatu pihak dan dilain pihak diikat oleh reseptornya pada
fagosit sehingga memudahkan fagositosis Opsonisasi yaitu proses
pelapisan partikel antigen oleh antibodi dan/ atau oleh komponen
komplemen sehingga lebih mudah dan lebih cepat dapat dikenal dan
dimakan fagosit. Pengenalan dan ikatan ini dimungkinkan oleh
adanya reseptor pada fagosit untuk fraksi Fc dari IgG, C3b dan CRP yang
semuanya berfungsi sebagai opsonin.
Sejarah penemuan opsonin
Pada tahun 1890 Pfeiffer melakukan percobaan dengan menyuntikkan
suspensi kuman vibrio cholerae intra peritoneal pada kelinci percobaan.
Vibrio cholera biasanya memicu infeksi pada manusia secara oral,
sehingga pemberian suspensi secara intra peritoneal pada kelinci akan
memicu imunisasi pada kelinci ini . Pada tempat suntikan
terjadi abses dengan pernanahan, dan bila disentrifus pada dan bagian
supernatan nya ada antibodi terhadap vibrio cholera. Percobaan yang
sama dilakukan oleh asisten Pfeiffer bernama Bordet dengan memakai
supernatant yang sudah terpapar sinar matahari. Hasil yang diperoleh
menunjukan bahwa antibodi masih ada pada supernatant ini .
Sehingga ia berkesimpulan bahwa penyebab lisis dinding sel bakteri tidak
hanya berasal dari antibodi, tapi ada zat lain dalam serum. Pada percobaan
lain dengan mengambil serum kelinci yang belum terinfeksi ditemukan
bahwa ada zat lain dalam serum yang memicu lisis bakteri
yang disebut komplemen. Fenomena ini juga ditemukan pada golongan
darah A, B, O. Sehingga diketahui bahwa komplemen merupakan fraksi
protein dalam serum yang normal dan ditemukan pada setiap orang.
Konsep kerjanya sama dengan fraksi protein dalam sistem pembekuan
darah.
Komplemen merupakan suatu sistim pertahanan dalam aliran darah
dan dapat diaktifkan melalui imunoglobulin atau partikel lainnya.
ada dua alur dalam sistim aktivasi komplemen, yaitu alur klasik yang
memerlukan imunoglobulin dan alur alternatif yang tidak memerlukan
imunoglobulin.
2. NOMENKLATUR KOMPLEMEN
ada 9 protein yang terlibat dalam alur klasik dan penamaannya
disebut C dengan nomor yang sesuai dengan urutan peranan dan
aktivasinya. Jadi ada protein C1 sampai C9. C1 diproduksi oleh
sel epitelium, sel fagosit mononuklear dan fibroblast, dan gen CiqB
terletak yang pada kromososm 1p. C2 diproduksi oleh sel hepatik dan
sel fagosit mononuklear sedang gen terletak pada cromosom 6. Gen
C3 terletak pada kromosom 17 (pada mencit) dan 19 (pada manusia).
C4 diproduksi oleh makrofag dan gen terletak pada kromosom 6.
C5 diproduksi oleh hepatosit dan sisi ekstrahepatik sedang gen
terletak pada kromososm 2 (pada mencit). C6, C7 dan C9 belum banyak
diketahui. C8 terletak pada kromosom 1.
Protein yang terlibat dalam alur alternatif dinamai faktor yaitu
faktor B dan faktor D. Protein ketiga dalam alur ini disebut properdin
atau P. Properdin merupakan fraksi protein dalam serum dalam
keadaaan inaktif. Pada keadaan nyeri, properdin akan diaktivasi, lalu
properdin mengaktifkan C3 dan faktor komplemen lain. Pada orang
yang menderita rasa nyeri yang hebat terjadi hemolisa sehingga terjadi
penurunan Hb, hal ini disebut pengaktifan komplemen alternatif.
Komplemen merupakan fraksi protein dalam serum yang berperan
pada proses lisis sel. Pemanasan dengan suhu 50-60 0C dapat merusak
komplemen. Tes untuk mengetahui apakah ada antigen atau
antibodi dalam tubuh yaitu tes fiksasi komplemen (Complement
Fixation Test /CFI)
3. AKTIVASI KOMPLEMEN
Aktivasi Komplemen Secara Umum
Sistem komplemen dapat diaktifkan melalui dua jalur yaitu jalur
klasik dan alternatif. Aktivasi ini terjadi secara beruntun
(kaskade), yang berarti bahwa produk yang timbul pada satu reaksi
akan merupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Aktivasi jalur klasik
dimulai dengan C1, sedang aktivasi jalur alternatif dimulai dengan
C3. Aktivasi jalur klasik diaktifkan oleh kompleks imun atau kompleks
antigen-antibodi sedang jalur alternatif tidak memerlukan aktivasi
oleh kompleks imun.
Gambar 4.1: Aktivasi komplemen jalur klasik dan alternatif
Aktivasi Komplemen Melalui Jalur Klasik
IgM dan IgG1, IgG2, IgG3 (IgM lebih kuat dibanding dengan IgG)
yang membentuk kompleks imun dengan antigen, dapat mengaktifkan
komplemen melalui jalur klasik. Jalur klasik melibatkan 9 komplemen
protein utama yaitu C1-C9. Selama aktivasi, protein-protein ini
diaktifkan secara berurutan. Produk yang dihasilkan menjadi katalisator
dalam reaksi berikutnya. Jadi stimulus kecil dapat memicu
Aktivasi Komplemen melalui jalur alternatif
Jalur alternatif terjadi tanpa melalui tiga reaksi pertama yang ada
pada jalur klasik (C1, C4, dan C2). Jalur alternatif sebenarnya terjadi terus
menerus dalam derajad klinis yang tidak berarti. Kompleks imun (IgG
dan IgM), agregat antibodi (IgG1, IgG2, IgG3), lipid A dari endotoksin,
protease, kristal urat, polinukleotide, membran virus tertentu dan
CRP dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik. Bakteri
(endotoksin), jamur, virus, parasit, kontras (pada pemeriksaan radiologi),
zimosan, agregat IgA (IgA1, IgA2), dan faktor nefritik dapat mengaktifkan
komplemen melalui jalur alternatif. Protein tertentu dan lipopolisakarida
dapat mengaktifkan komplemen melalui kedua jalur.
Aktivasi komplemen melibatkan kaskade proteolitik, di mana enzim
prekursor tidak aktif, yang disebut zymogen, diubah menjadi protease
aktif yang membelah dan dengan demikian menginduksi aktivitas
proteolitik dari protein pelengkap berikutnya dalam kaskade. Saat
kaskade berlangsung, aktivitas enzimatik menghasilkan amplifikasi yang
luar biasa dari jumlah produk proteolitik yang dihasilkan. Produk-produk
ini melakukan fungsi efektor dari sistem komplemen. Jalur aktivasi
komplemen Aktivasi sistem komplemen dapat diprakarsai oleh tiga jalur
berbeda, yang semuanya mengarah pada produksi C3b (langkah awal).
C3b memulai tahap akhir aktivasi komplemen, yang berpuncak pada
produksi peptida yang merangsang inflamasi (C5a) dan polimerisasi C9,
yang membentuk kompleks serangan membran, disebut demikian sebab
menciptakan lubang di membran plasma (gambar 4.1).
SITOKIN
Sel dalam sistem imun dapat berkomunikasi dan berinteraksi satu
sama lain selama respon imun melalui molekul berbentuk solubel yang
disebut sebagai sitokin. Sitokin yaitu protein kecil yang diproduksi dan
disekresikan sebagai respon terhadap stimulus imunologis. Aktivitas
sitokin berlangsung dalam waktu singkat pada konsentrasi yang sangat
rendah. Sel memiliki reseptor membran spesifik terhadap sitokin, yang
akan memberi sinyal kepada gen sitokin untuk memproduksi sitokin.
Sitokin yang dihasilkan dapat menstimulasi sel yang lain sebagai sel target
untuk memberikan efek biologis (Gambar 5.1a) .
Sitokin termasuk kemokin, interferon, interleukin, limfokin, dan
faktor nekrosis tumor, diproduksi oleh berbagai sel, termasuk sel
imun seperti makrofag, limfosit B, limfosit T dan sel mast, serta sel
endotel, fibroblas, dan berbagai sel stroma. Sitokin berperan memodulasi
keseimbangan antara respon imun humoral dan berbasis sel, mengatur
pematangan, pertumbuhan, dan respon dari populasi sel tertentu, mediasi
dan pengaturan sistem imun, inflamasi dan hematopoiesis. Beberapa
sitokin meningkatkan atau menghambat aksi sitokin lain dengan cara
yang kompleks. Sitokin berbeda dari hormon, yang juga merupakan
molekul pensinyalan penting. Hormon beredar dalam konsentrasi yang
lebih tinggi, dan cenderung dibuat oleh jenis sel tertentu. Sitokin berperan
penting dalam kesehatan dan penyakit, khususnya dalam respon imun
terhadap infeksi, inflamasi, trauma, sepsis, kanker, dan reproduksi.
Dalam menghasilkan sitokin, beberapa jenis sel yang berbeda dapat
menghasilkan sitokin yang sama untuk memberi efek kerja pada beberapa
jenis sel yang berbeda (disebut pleiotropi). Sitokin dapat bekerja secara
sinergis (dua atau lebih sitokin bekerja bersama- sama) atau secara
antagonis (sitokin memicu aktivitas yang berlawanan). Sitokin
juga dapat memiliki aktivitas redundan, dimana beberapa jenis sitokin
memiliki fungsi yang sama. Sitokin sering diproduksi secara kaskade,
sebab satu sitokin merangsang sel targetnya untuk membuat sitokin
tambahan. Sitokin yang diproduksi oleh leukosit dapat memberikan
reaksi sel selain leukosit. Sebagai contoh, interleukin yang diproduksi
oleh sal epitel dapat menstimulasi sel dari organ non-limfoid seperti otak
dan hati dan memberi efek yang berbeda dalam tubuh. Keadaan ini disebut
sebagai efek pleitropik.
Sitokin diproduksi oleh berbagai populasi sel, namun produsen utama
yaitu sel Th dan makrofag. Kelompok sitokin ini merangsang
proliferasi dan diferensiasi sel imun, seperti interleukin 1 (IL-1), yang
mengaktifkan sel T; IL-2, yang merangsang proliferasi sel T dan B yang
diaktifkan antigen; IL-4, IL-5, dan IL-6, yang merangsang proliferasi dan
diferensiasi sel B; Interferon gamma (IFNγ), yang mengaktifkan makrofag;
dan IL-3, IL-7 dan Granulocyte Monocyte Colony-Stimulating Factor (GM-
CSF), yang merangsang hematopoiesis.
Sitokin yang diproduksi oleh limfosit tergantung pada subset sel
limfosit yang memproduksinya. Limfosit T terdiri dari CD4 (T helper) dan
CD8 (T sitotoksik). Limfosit T helper terdiri dari empat subset yaitu Th0
yang disebut juga sel T naive, Th1 yang disebut sel T inflamatori, Th2 yang
disebut sel T helper dan Th3 yang disebut sel T regulator atau Treg . Sel
Th1 terutama memproduksi IL-2, IFN-g, TNF-α dan GM-CSF (granulocyte-
monocyte colony stimulating factor). Th2 terutama memproduksi IL-4, IL-
5, IL-6, IL-10 dan IL-13. sedang Th3 memproduksi IL-10 dan TGF-β.
Monosit dan makrofag dijaringan memproduksi IL-1, IL-6, TNF-α dan
faktor stimulating.
2. KLASIFIKASI SITOKIN
Klasifikasi sitokin yang berkaitan dengan klinis di luar biologis
struktural yaitu sitokin yang meningkatkan respons imun seluler,
disebut tipe 1 (TNFα, IFN-γ, dll.), dan sitokin yang meningkatkan respons
antibodi, disebut tipe 2 (TGF-β, IL-4, IL-10, IL-13, dll.). Disamping itu
ada klasifikasi berdasar perannya dalam jalur inflamasi yaitu
sitokin pro-inflamasi dan anti-inflamasi. Penelitian telah membuktikan
bahawa sitokin inflamasi diinduksi oleh stres oksidatif dan juga
memicu peningkatan stres oksidatif. Hal ini menjadikannya penting
dalam peradangan kronis, serta respons imun lainnya, seperti demam dan
protein tahap akut. Sitokin anti-inflamasi (IL-1,6,12, IFN-α) telah terbukti
dapat dipergunakan untuk terapi nyeri patologis akibat inflamasi atau
cedera saraf perifer.
Sitokin juga dikategorika menjadi sitokin pada sistem imunalamiah
dan sitokin pada sistem imun adaptif. Sitokin yang berperan sebagai
mediator imunitas alamiah yaitu : TNF-α, IL-1, IL-10, IL-12, interferon
tipe I (IFN-α dan IFN-β), IFN-γ, dan kemokin. sedang sitokin yang
berperan utama dalam sistem imun adaptif meliputi: IL-2, IL-4, IL-5,
TGF-β, IL-10 dan IFN-γ. Secara fungsional, sitokin diklasifikasikan menjadi
lima, yaitu: colony-stimulating factors (CSFs), growth and differentiation
factors, immunoregulatory cytokines, pro-inflamatory cytokines, dan anti-
infamatory cytokines and growth and differentiation factor inhibitors.
Colony-stimulating factors (CSFs)
Colony-stimulating factors (CSFs), terdiri dari: GM-CSF (granulocute-
macrophage CSF), G-CSF (granulocyte CSF), M-CSF (macrophage
VSF/ CSF-1), IL-3, dan erythropoietin.
Growth and differentiation factors
Terdiri dari platelet-derived growth factor (PDGF), platelet-derived
growth factor (EGF), fibroblast growth factor (FGF), transforming
growth factor-β (TGF-β), osteoclast differentiation factors (ODF).
Immunoregulatory cytokines
Sitokin yang bersifat regulator ini terdiri dari IFN-g, IL-2, IL- 4, IL-5,
IL7, IL-9 dan IL-18.
Interferon (IFN )
Interferon berasal dari viral interference, yaitu suatu fenomena
yang ditemukan apabila binatang coba diinfeksi oleh satu jenis
virus, sering terjadi proteksi terhadap jenis virus lain. Interferon
ada dalam tiga tipe yaitu IFN-α, β dan γ. IFN-α, dan IFN-β
disebut sebagai IFN tipe I, sedang IFN-γ yang dikenal sebab
66
kemampuannya untuk melindungi sel terhadap efek sitopatik dari
virus sebagai IFN tipe II. Perbedaan IFN tipe I dan tipe II yaitu
bahwa IFN-α dan β diproduksi leukosit dan fibroblas sebab
induksi oleh infeksi virus. sedang IFN-γ diproduksi oleh sel T
selama respon imun. Disebabkan sebab perbedaan ini maka IFN
biasa juga disebut sebagai interferon leukosit, interferon fibroblas,
interferon T.
Dalam aktifitas untuk imunoregulasi, IFN menstimulasi sel NK
dan protein MHC, memodulasi sintesis antibodi yang tergantung
limfosit T maupun tidak tergantung dengan limfosit T. Disamping
itu IFN berikatan dengan fas ligand dari limfosit T sitotoksik CD8
dalam menginduksi apoptosis (programed cell death) dalam arti
kata sebagai efek antiproliferasi.
Interleukin-2 (IL-2)
Iinterleukin-2 merupakan pusat respon imun. Fungsi primer IL-2
yaitu dalam proses proliverasi dan deferensiasi limfosit T secara
autokrin dan parakrin. IL-2 diproduksi oleh limfosit T yang sudah
diaktivasi. Disamping itu IL-2 mengatur ekspresi reseptor untuk
IL-2 pada permukaan selnya sendiri terhadap adanya antigen. IL-2
juga berperan untuk aktifasi dan deferensiasi sel B menjadi sel yang
dapat mensekresikan imunoglobulin
Sitokin pro-inflamasi
Sitokin yang merangsang respon imun disebut sitokin pro-
inflamasi yaitu TNF-a, IL-1, IL-6, IL-17 dan IL-8 .
Tumour necrosis factor (TNF)
Tumour necrosis factor yaitu penamaan untuk molekul sitokin
sebab kemampuannya memicu proses nekrosis untuk
membunuh sel sarkoma yang ditanamkan pada tikus percobaan.
ada dua tipe TNF yaitu TNF-α dan β, TNF-α yang dihasilkan
oleh makrofag teraktivasi merupakan respon terhadap mikroba,
terutama LPS dari bakteri Gram negatif. TNF-α merupakan mediator
penting pada peradangan akut dengan memediasi perekrutan
neutrofil dan makrofag ke tempat infeksi dan merangsang sel endotel
untuk menghasilkan molekul adesi, dan dengan memproduksi
kemokin yang merupakan sitokin kemotaktik. TNF-α juga bekerja
67
pada hipotalamus untuk menghasilkan demam dan meningkatkan
produksi protein tahap akut.
Tumour necrosis factor-α atau cachectin, merupakan molekul
yang pertama kali ditemukan memicu kelaparan (cachexia)
pada binatang coba yang menderita penyakit infeksi kronis atau
keganasan. Selain diproduksi oleh makrofag teraktivasi, sitokin ini
dan juga diproduksi oleh limfosit T, sel NK, sel tumor sel otot polos,
keratinosit yang telah diaktivasi dan sel otak. Stimulus yang dapat
merangsang produksi TNF-α yaitu adanya infeksi seperti virus,
jamur, parasit, endotoksin, enterotoksin dan C5a yang memicu
respon inflamasi. Sitokin lain seperti IL-1 dan IL-2 dapat juga
merupakan stimulus yang merangsang produksi TNF-α.
Tumour necrosis factor-α mempunyai efek sitostatis langsung
terhadap sel tumor dengan menginduksi proses nekrosis pada
sel tumor sesuai namanya. Disamping itu mempunyai efek tidak
langsung terhadap sintesis mediator lain seperti prostaglandin,
protease, radikal bebas dan enzim lisosom. TNF-α dan IL-1 secara
sinergis bersifat artrogenik pada hewan coba. Sitokin ini ditemukan
dengan konsentrasi tinggi dalam cairan dan jaringan sinovial artritis
reumatoid. TNF-β atau lyphotoxin dikenal sebagai mediator respon
inflamasi pada hipersensitivitas tipe lambat. TNF-β diproduksi oleh
limfosit T yang telah diaktivasi.
Interleukin-1 (IL-1)
Interleukin 1 yaitu sitokin pro-inflamasi yang diproduksi oleh
makrofag yang diaktifkan. Efeknya mirip dengan TNF-α dan juga
membantu mengaktifkan sel T. Pada awal mulanya IL-1 disebut
sebagai lymphocyte activating factor (LFA), sebab peranannya
dalam menstimulasi limfosit bila ada mitogen yang suboptimal.
Thymocyte proliferation assay dilakukan untuk menentukan aktivitas
IL-1 secara in vitro, dengan mitogen dosis tinggi. Pada keadaan
dimana konsentrasi mitogen menurun, penambahan makrofag yang
telah diaktivasi mampu mempertahankan proliverasi timosit. Agen
yang diproduksi oleh makrofag ini memiliki karakteristik
IL-1. Beberapa jenis sel lain seperti fibroblas, sel endotel, limfosit
T dan B juga memiliki kemampuan untuk memproduksi IL-1.
Interleukin-1 berperan penting dalam proses proliferasi limfosit B
dan T, menginduksi netrofil dan molekul adesi pada sel endotel,
dan menginduksi GM- CSF. Interleukin-1 dan TNF-α mempunyai
aktifitas yang sama terhadap jaringan sinovial walaupun berikatan
pada reseptor sel yang berbeda, dan juga terhadap hipotalamus
yang menginduksi demam.
Interleukin-6 (IL-6)
Interleukin-6 merupakan contoh tipikal dari sitokin yang
multifungsi. Aktifitas biologis molekul ini meliputi B Cell
defferentiation factors B cell (BCDF) dan stimulatory factor 2 (BSF-
2). IL-6 mempunyai efek stimulasi terhadap sel B untuk dapat
memproduksi antibodi dan faktor reumatoid lokal pada artritis
reumatoid. Sel yang memproduksi IL-6 pada artritis reumatoid
berlokasi pada lining sinovial , tapi fenotipe selnya berbeda dengan
sel yang memproduksi IL-1 dan TNF-a.
Interleukin-17 (IL-17)
Interleukin-17 erupakan sitokin pro-inflamasi dengan panjang
sekitar 150 asam amino. Keluarga IL-17 mencakup enam anggota
yang berbagi homologi urutan namun ekspresi jaringan yang
berbeda. IL-17 diproduksi oleh sel Th17 dan ekspresi berlebihnya
dikaitkan dengan disfungsi endotel pada penyakit inflamasi kronis,
autoimun termasuk multiple sclerosis, rheumatoid arthritis.
Penelitian Darwin tahun 2017 pada hewan coba dengan disfungsi
endotel akibat hiperlipidemia mendapatkan bahwa dengan
pemberian arginin, kadar IL-17 lebih rendah daripada yang tidak
mendapatkan arginin.
Sitokin anti-inflamasi
Merupakan sitokin yang menghambat reson imun yaitu IL-
1Ra (IL-1 receptor antagonist), IL-4, IL-10, IL-13, TGF dan
OPG (osteoprotegerin).
Interleukin-4 (IL-4)
IL-4 bersama dengan sitokin lain yang diproduksi oleh Th2
menstimulasi proliverasi dan diferensiasi limfosit B menjadi sel
plasma yang mampu memproduksi antibodi. IL-4 berfungsi juga
menghambat aktivasi makrofag.
Interleukin-10 (IL-10)
IL-10 merupakan sitokin yang diproduksi oleh Th2 dan Th3,
berfungsi menghambat sintesa hampir semua sitokin yang
diproduksi Th1. Dalam fungsi menghambat fungsi monosit,
menghambat produksi IFN-γ oleh sel Th1, yang menggeser respons
imun ke tipe Th2. Interleukin-10 juga menghambat produksi
sitokin oleh makrofag yang diaktifkan dan ekspresi MHC kelas II
dan molekul co-stimulator pada makrofag, menghasilkan peredam
respons imun. Sitokin IL-10 dan aktivasinya pada molekul adesi
berperan penting pada inflamasi kronik seperti arthritis reumatoid,
yaitu pada proses infiltrasi dan aktivasi pada tahap awal
Transforming growth factor-β (TGF-β)
Transforming growth factor-β b diproduksi oleh sel T dan banyak
jenis sel lainnya. Ini terutama merupakan sitokin penghambat.
Ini menghambat proliferasi sel T dan aktivasi makrofag. Ini juga
bekerja pada PMN dan sel endotel untuk memblokir efek sitokin
pro-inflamasi.
Kemokin
Kemokin termasuk kelompok sitokin yang mempunyai kemampuan
menstimulasi leukosit untuk bergerak (kemokinesis) dan berpindah
spontan (kemotaksis). Kemokin terdiri dari dua grup yaitu kemokin-a
dan kemokin-b. Kemokin-a pada manusia terletak di suatu daerah pada
kromosom 4 sedang kemokin-b terletak pada kromosom 17. Kemokin
diproduksi oleh berbagai macam sel sebagai respon terhadap adanya
produk bakteri, virus, bahan yang dapat memicu kerusakan secara
fisik seperti silika dan asam urat.
Kemokin merupakan protein superfamili yang mempunyai sistein
berpasangan dengan dua rantai disulfida. berdasar susunan
sisteinnya, kemokin diklasifikasi menjadi empat yaitu:
1. Kemokin-α (C-X-C) seperti IL-8 yang bereaksi terutama pada
netrofil. Kemokin ini disekresi terutama oleh makrofag dan sel
endotel yang sudah diaktivasi. IL-8 diinduksi oleh IL-1 dan TNFa.
2. Kemokin-β (C-C) seperti monocyte chemoacttractant protein (MCP-
1), eotxsin, macrophage inflamatory protein-a1 ( MIP-a1) dan Rantes
(regulated and normal T cell expresed and secreted). Kemokin ini
terutama beraksi pada monosit, eosinofil, basofil dan limfosit, tapi
tidak pada netrofil.
3. Kemokin-γ (C )seperti limfotaktin, spesifik untuk limfosit
4. Kemokin CX3C untuk memicu adesi kuat antara monosit dan sel T.
Cytokine network (Jaringan sitokin )
Meskipun fokus sebagian besar penelitian telah pada produksi dan
aksi sitokin pada sel-sel sistem imun, penting untuk diingat bahwa banyak
dari mereka memiliki efek pada sel lain dan sistem organ. Faktanya,
jaringan sitokin agak kompleks dan mewakili serangkaian koneksi yang
tumpang tindih dan saling terkait di antara sitokin. Dalam jaringan ini, satu
sitokin dapat menginduksi atau menekan sintesisnya sendiri, menginduksi
atau menekan sintesis sitokin lain, menginduksi atau menekan sintesis
reseptor sitokin (baik reseptornya sendiri maupun reseptor sitokin
lainnya), dan antagonis atau bersinergi dengan sitokin lain.
Gambar 5.2: Jaringan sitokin untuk komunikasi antara limfosit dan
makrofag dan hipotalamus, adrenal, dan organisme hidup
SISTEM IMUN ALAMIAH DAN ADAPTIF
Sistem imun melindungi host dari mikroorganisme atau mikroba
patogen yang terus berkembang. Sistem imun juga membantu
menghilangkan zat toksik atau alergen yang masuk melalui permukaan
mukosa. Inti dari kemampuan sistem imun untuk memobilisasi
respons terhadap patogen, toksin, atau alergen yang menginvasi yaitu
kemampuan untuk membedakan self dari non-self melalui mekanisme
sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif untuk mendeteksi dan
menghilangkan mikroba patogen. Imunitas alamiah berperan sebagai
pertahanan pertama terhadap agen infeksius, dimana mikroorganisme
akan dihancurkan sebelum berkembang biak dan memicu infeksi.
Apabila pertahanan pertama tidak dapat mencegah infeksi sehingga
memicu penyakit, maka sistim imun adaptif akan diaktivasi.
Gambar 6.1: Mekanisme dan lama waktu terjadinya imunitas alamiah
dan adaptif
Penyembuhan melalui respon imun adaptif akan meninggalkan
memori imunologi yang spesifik, sehingga infeksi selanjutnya dengan
agen infeksius yang sama tidak akan memicu penyakit. Sebagai
contoh: individu yang pernah menderita penyakit campak atau difteri
akan memiliki imunitas terhadap penyakit ini . Kedua sistim imun
ini terdiri dari berbagai molekul dan sel yang tersebar diseluruh tubuh.
Sel yang berperan penting untuk terjadinya respon imun yaitu leukosit.
Sel-sel fagosit berperan pada sistim imun alamiah sedang limfosit
berperan penting pada sistim imun adaptif. Diantara kedua sistim ini
ada banyak interaksi. Perbedaan mekanisme dan lama waktu
terjadinya respon imun alamiah dan adaptif terlihat pada gambar 6.1.
1. SISTEM IMUN ALAMIAH
Sistem imun alamiah atau imunitas non-spesifik, yaitu sistem
pertahanan yang sudah ada dan digunakan sejak lahir untuk melindungi
tubuh terhadap masuknya antigen. Imunitas alamiah pada mamalia
mencakup hampir semua jaringan seperti proteksi melalui barier atau
penghalang fisik, mekanik dan biokimia yang mencegah bahan berbahaya
memasuki tubuh, yang membentuk garis pertahanan pertama pada
sistem imun, seperti kulit, mukosa, enzim, asam lambung dan refleks
batuk. Imunitas bawaan juga dapat dalam bentuk kimia protein, yang
disebut imunitas humoral bawaan, seperti sistem komplemen, interferon
dan interleukin-1 sebagai agen endogen yang memicu demam.
Imunitas ini disebut juga sebagai sebagai proteksi melalui barier humoral
dan proteksi melalui mekanisme seluler (gambar 6.2).
Gambar 6.2: Sistem pertahanan alamiah (Sumber: Bellanti,2012)
Sensor myeloid, sel efektor dan sel nonhematopoietik, dapat
menginisiasi mekanisme pertahanan bawaan menjadi aktif. Toll-like
receptors (TLRs) yang merupakan pattern recognition receptors (PRRs)
berperan penting dalam menginisiasi respons imun bawaan dengan









