Imunologi 6

 



Imunologi berasal dari Bahasa latin yang 

terdiri dari dua kata yaitu immunis da logos. 

Immunis yang berarti kebal atau bebas, logos 

berarti ilmu. Kata immunis dahulu dipakai oleh 

raja Romawi untuk menyebut warganya yang 

bebas.  

Imunologi sudah dikenal sejak ratusan 

tahun sebelum masehi, Raja Mithridates 

Eupatoris VI seorang Raja Yunani pada 132-63 SM 

sebagaia orang pertama ahli imunologi di dunia. 

Saat itu Raja Mithridates Eupatoris VI merasa 

cemas pada masa pemerintahannya musuh-

musuh yang tidak nampak olehnya suatu saat 

akan membunuhnya dengan menggunakan racun. 

Sang raja mengebalkan dirinya dengan mencari 

segala jenis racun yang ada pada saat itu dan 

meminumnya sedikit demi sedikit sehingga 

dirinya kebal terhadap racun ini . usaha  

pengebalan diri terhadap racun yang dilakukan 

Raja Yunani ini dinamakan mithridatisme. 

Sebutan imunitas pertama kali diketahui 

saat  terjadi wabah di Athena tahun 430 SM. 

Thuchydides ahli sejarah perang Peloponnesia 

menggambarkan terjadinya wabah di Athena, 

orang yang sembuh dari penyakit sebelumnya 

mengobati penyakit tanpa terkena penyakit 

sekali lagi.  

Pada abad ke-12, bangsa Cina juga 

menerapkan pengetahuan yang sama untuk 

menanggulangi wabah penyakit cacar. Cara 

pencegahan penularan ini kemudian dikenal 

dengan istilah variolasi. 

Pada tahun 1798, Edward Jenner 

mengamati bahwa seseorang dapat terhindar 

dari infeksi variola secara alamiah, bila ia telah 

terpajan sebelumnya dengan cacar sapi (cow 

pox). Sejak saat itu, mulai dipakai vaksin cacar 

walaupun pada waktu itu belum diketahui 

bagaimana mekanisme yang sebenarnya terjadi. 

Memang imunologi tidak akan maju bila tidak 

diiringi dengan kemajuan dalam bidang 

teknologi. Dengan ditemukannya mikroskop 

maka kemajuan dalam bidang mikrobiologi 

meningkat dan mulai dapat ditelusuri pemicu  

penyakit infeksi. 

Penelitian ilmiah mengenai imunologi baru 

dimulai setelah Louis Pasteur pada tahun 1880 

menemukan pemicu  penyakit infeksi dan 

dapat membiak mikroorganisme serta 

menetapkan teori kuman (germ theory) 

penyakit. Penemuan ini kemudian dilanjutkan 

dengan diperolehnya vaksin rabies pada manusia 

tahun 1885. 

   

Imunologi merupakan salah satu bidang 

ilmu yang mempelajari tentang mekanisme dari 

seluler, molecular, serta fungsional system 

imun. Imunologi berakar dari Imunitas atau 

kekebalan dari penyakit tertentu akibat adanya 

rangsangan molekul asing dari luar maupun dari 

dalam tubuh hewan atau manusia, baik yang 

bersifat infeksius maupun kemudian juga 

termasuk non-infeksius. Imunologi juga berarti 

ilmu yang mempelajari kemampuan tubuh untuk 

melawan atau mempertahankan dari serangan 

patogen atau organisme yang memicu  

penyakit. 

Tubuh memerlukan imunitas atau 

kekebalan agar tidak mudah atau terhindar dari 

serangan penyakit yang dapat menghambat 

fungsi organ tubuh. Salah satu bentuk dari 

imunitas yaitu adanya antibodi yang di hasilkan 

oleh sel-sel leukosit atau sel darah putih. Sel 

darah putih bekerja dengan cara mengikat dan 

kemudian menghancurkan sel-sel patogen atau 

pemicu  penyakit. 

Immunitas (imunitas) selanjutnya dipakai 

untuk suatu pengertian yang mengarah pada 

perlindungan dan kekebalan terhadap suatu 

penyakit, dan lebih spesifik penyakit infeksi. 

Konsep imunitas yang berarti perlindungan dan 

kekebalan sesungguhnya telah dikenal oleh 

manusia sejak jaman dahulu. 

Sistem imun yaitu  system dalam tubuh 

manusia yang berperan dalam pertahanan diri, 

sementara itu imunologi merupakan cabang ilmu 

yg focus mempelajari tentang fungsi pertahan 

tubuh, antigen, antibody. Ilmu ini menekankan 

peran imunitas, baik terhadap reaksi yang 

terjadi pada tubuh kita. Mulai dari reaksi 

hieprsensitif, penolakan jaringan ataupun alergi. 

Istilah inilah yang kemudian lebih sering dikenal 

dengan isltilah system imun. 

 

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUNOLOGI 

Manusia dikaruniai wujud yang sempurna, 

salah satunya yaitu  dengan memiliki anatomi 

dan fisiologi yang luar biasa sangat 

menakjubkan. Di dalam tubuh manusia ada  

berbagai macam organ tubuh, sel, saraf, yang 

berkerja bersama-sama dan saling berhubungan 

satu sama lain. Salah satunya yaitu  kemampuan 

tubuh dalam mempertahankan diri dari virus, 

bakteri, parasite, dan jamur. Lemahnya  system 

imun seseorang, akan membuat manusia mudah 

terserang penyakit tertentu salah satunya mudah 

terkena kanker. 

Berikut yaitu  organ yang paling 

berpengaruh dalam system imun. Sistem imun 

merupakan system pertahan diri tubh kita 

terhadap infeksi. Baik itu infeksi yang sifatnya 

makromolekul asing sampai serangan organisme 

seperti parasite, virus dan bakteri. kekebalan 

imun di dalam tubuh berfungsi untuk melawan 

bakteri dan virus jahat yang masuk di dalam 

tubuh. Peran imun juga mampu meminimalisir 

bakteri yang berkembang menjadi tumor. Imun 

juga mampu melawan protein tubuh dan molekul 

lain yang ada pada gangguan autoimun. 

Secara garis besar, organ dan jaringan 

system imun manusia terdiri dari:  

1. Adenoid 

Adenoid terletak di belakang saluran 

rongga hidung. Bentuknya berupa kelenjar. 

Adenoid berfungsi melawan infeksi dan 

kuman yang masuk melalui hidung dan mulut. 

Kelenjar adenoid yang tidak mampu 

mengatasi virus dan bakteri yang masuk, 

dapat menimbulkan pembengkakan yang 

disebut dengan adenoitis. 

2. Sumsum Tulang Belakang 

Sumsum tulang belakang yaitu  organ 

tempat memproduksi sel darah baru. sumsum 

tulang belakang termasuk ke dalam jaringan 

limfatik, sebab  mampu memproses limfosit 

muda, menjadi limfosit T dan limfosit B. 

Pada sumsum tulang banyak ditemukan sel 

imun yang dihasilkan oleh sel induk tulang 

belakang.  

3. Kelenjar Limfa (Getah Bening) 

Kelenjar limfa fungsinya membawa 

limfosit ke bagian organ limfoid dan aliran 

darah. Kelenjar getah bening mengalir ke 

kelenjar getah kapiler. Getha kapiler 

memiliki lapisan yang tipis dan memiliki 

banyak lubang kecil. Lubang kecil inilah yang 

menjadi jalan gas, nutrisi dan air lewat 

masuk disekitarnya. Ada beberapa titik yang 

sering digunakan getah bening berkumpul, 

yaitu dileher, selangkangan, para-aorta dan 

di axilae. Tempat-tempat jika terjadi 

penumpukan memunculkan benjolan hingga 

ke permukaan kulit. 

4. Peyers Patches 

Peyers Patches terletak di usus halus. 

Peyers Patches sebenarnya masih termasuk 

jaringan limfoid.  

5. Pembuluh Limpa 

Limpa terletak di rongga perut. Di 

pembuluh limpa ada  cairan yang disebut 

cairan limpa yang berasal dari cairan 

ekstrasel (Cairan darah yang meresap dari 

kapiler darah). Sama seperti usus, cairan 

limpa juga mengandung lemak. Lemak yang 

ada  di usus diangkut oleh pembuluh 

limpa. 

Pembuluh limpa memiliki cabang halus 

yang bagian ujungnya terbuka. Lokasinya di 

sela- sela otot. Bentuk pembuluh limpa mirip 

dengan vena yang memiliki katup banyak. 

Pembuluh limpa terbagi menjadi 2 bagian, 

yaitu limpa kanan (Dada kanan) dan limpa 

kiri (Dada kiri). Fungsi pembuluh limpa kanan 

sebagai penampung cairan limpa dari kepala, 

leher, dada, paru, dan lengan sisi kanan. 

Sebaliknya, pembuluh limpa kiri menampung 

cairan limpa dari kepala, kemudian ke leher, 

dada, lengan, dan tubuh bagian bawah sisi 

kiri. 

6. Glandula Thymus 

Glandula thymus berfungsi pada proses 

sekresi hormone thymopoetin dan thymosin. 

Dua hormon inilah yang akan mempengaruhi 

perkembangan limfosit. Limfosit terbagi 

menjadi Limfosit T Sitotoksik, Limfosit T 

Helper, Limfosit B, dan Sel plasma. Hasil 

produksi glandula thymus akan mematurasi 

(mematangkan) Limfosit T ke jaringan Limfa 

lainnya. 

Limfosit T Sitotoksik berfungsi 

memonitoring sel tubuh. Limfosit T Sitotoksik 

akan merespon lebih aktif saat  ada antigen 

permukaan yang bersifat abnormal. Sel ini 

akan menyerang dan menghancurkan sel 

abnormal yang masuk. Sementara itu, 

Limfosit T Helper akan bekerja lebih agresif 

saat  dirangsang dengan antigen presenting 

sel (semacam makrofag). Disinilah T Helper 

melepaskan factor yang mendorong 

proliferasi sel Limfosit B. saat  Limfosit B 

berubah menjadi sel memori dan sel plasma, 

ia akan memproduksi antibody. Lain halnya 

dengan limfosit, sel plasma memiliki 

reticulum endoplamik kasar yang banyak. 

Reticulum endoplamik kasar inilah yang 

bekerja untuk memproduksi antibody. 

7. Nodus Limfatikus 

Nodus Limfatikus atau Limfonodi 

mengandung makrogfag dan limfosit dalam 

jumlah banyak. Fungsi Limfatikus sebagai 

kekebalan tubuh yang melawan 

mikroorganisme. Lokasi Limfatikus di system 

Limfatik.  

8. Tonsil (Amandel) 

tonsil yaitu  organ yang paling sering 

memperoleh paparan benda asing dan 

potagen. Tonsil atau yang sering disebut 

amandel, terletak di kerongkongan sebelah 

kiri dan kanan belakang rongga mulut. Tonsil 

merupakan bagian jaringan kekebalan tubuh 

dari serangan benda asing dan potagen 

berbahaya. 

Benda asing dan potagen yang masuk 

kemudian dimasukkan ke sel Limfoit. Oleh 

sebab itu, imun tonsil sangat penting, 

terutama pada anak-anak. Struktur 

imunologis tonsil paling besar ditemukan 

pada anak-anak usia 4 sampai 10 tahun. 

Sementara itu, pada usia 60 tahun ke atas, 

tonsil mengalami penurunan dan fungsinya 

akan digantikan dengan jaringan lain. 

Anak di bawah usia 6 tahun, terutama 

anak-anak balita, sering memasukkan 

berbagai macam ke dalam mulutnya. Untuk 

menjaga ketahanan tubuh, kelenjar tonsil 

pada batita memproduksi lebih banyak sel 

imun. Oleh sebab nya, meskipun balita 

sering memasukkan benda asing ke dalam 

mulut, si anak dapat terbebas dari penyakit. 

Apabila terjadi gangguang akibat peradangan 

tonsil, anak jatuh demam dan sulit menelan 

makanan.  

9. Limfosit 

Limfosit merupakan jenis sel darah 

putih yang berfungsi melawan infeksi. Sel 

darah ini bekerja dan merespon benda asing 

yang ada di dalam darah. Limfosit memiliki 

dua komponen, yaitu pulpa merah dan pulpa 

putih. Pulpa merah ada  di sinus dan 

berfungsi sebagai organ filtrasi, yaitu 

menghancurkan darah yang sudah tua dan 

rusak dengan bantuan makrofag. darah tua 

dan darah rusak jika dibiarkan memiliki 

kecenderungan untuk merusak. 

 

Pada pulpa putih ada  limfosit dan 

makrofag. Benda asing yang masuk di pulpa 

putih dapat menstimulasi limfosit. Limfosit 

di dalam pulpa putih berfungsi untuk 

mengidentifikasi antigen. Pulpa putih juga 

berfungsi memproduksi antibody untuk 

melawan infeksi dan mengaktifkan respon 

imunologi terhadap antigen di dalam darah. 

Pada dasarnya, semua jenis sel darah, 

termasuk imun seperti limfosit dibentuk di 

sumsum tulang belakang. Dari hasil proses 

ini  Sebagian menjadi tipe lain, dan 

Sebagian lagi menjadi sel imun disebut 

fagosit. 


 SISTEM IMUNITAS NON 

SPESIFIK 


1. Pengetian  Sistem imunitas Non Spesifik  

 Tubuh manusia memiliki suatu sistem 

pertahanan terhadap benda asing dan patogen 

misalnya bakteri, virus, protozoa, dan parasite 

pertahanan ini disebut sebagai sistem imunitas. 

Komponen-komponen sistem imunitas bermacam-

macam dan ada  dalam jaringan limforetikuler 

yang letaknya tersebar diseluruh tubuh diantaranya 

yaitu : sumsum tulang, kelenjar limfe limpa, timus, 

saluran nafas, saluran pencernaan, dan organ 

lainnya. 

Imunitas yaitu  suatu kemampuan yang secara 

alami dimiliki oleh tubuh untuk melawan 

mikroorganisme atau toksin yang masuk kedalam 

jaringan dan organ tubuh. Sistem imun memiliki 

banyak fungsi, yaitu untuk pertahanan tubuh dari 

benda asing, membersihkan sel mati, memperbaiki 

jaringan rusak, dan juga mencegah aktifnya sel 

kanker dan tumor didalam tubuh. Respon imun 

timbul sebab  adanya reaksi yang dikoordinasi sel-

sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan 

lainnya. Sistem imun terdiri atas sistem imun 

alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) 

dan sistem imun didapat atau spesifik 

(adaptive/acquired). Baik sistem imun non spesifik 

maupun spesifik memiliki peran masing-masing, 

keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan namun 

sebenarnya ke dua sistem ini  memiliki kerja 

sama yang erat. 

Sistem Imunnitas non spesifik merupaka sistem 

pertahanan tubuh terhadap berbagai serangan 

substansi asing (mikroorganisme, parasite, alergi dll) 

tanpa memerlukan pengenalan terlebih dahulu. 

Dengan kata lain sistem imunitas non spesifik/ 

bawaan akan bekerja dan merespon benda asing 

walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar 

zat ini .  

Imunitas non spesifik memiliki sifat universal 

terhadap segala macam benda asing yang masuk 

kedalam tubuh. Sistem imun ini memiliki spektrum 

yang luas dan telah ada dan menjalankan fungsinya 

sejak dilahirkan. Sistem imun non spesifik berperan 

untuk merespon antigen/ benda asing yang 

pertamaa kali masuk kedalam tubuh. Sebagai 

pertahanan tubuh yang pertama dilakukan dengan 

pertahanan fisik dan kimiawi sebagai contoh yaitu  

kelanjar air mata memproduksi enzim lisozim 

sebagai anti bakteri, flora normal didalam vagina, 

perubahan pH dalam saluran pencernaan.  

 

 

Selain pertahanan berupa fisik dan kimiawi 

dalam sistem imunitas non spesifik juga 

membutuhkan pertahanan lapis kedua yang 

dilakukan oleh berbagai jenis protein yang larut 

didalam darah diantaranya yaitu  : mediator 

inflamasi, sitokin, sel natral killer (NK), sel dendrit, 

makrofag dan neutrophil.  

2. Mekanisme sistem imunitas non spesifik 

Mekanisme kerja dari sistem imunitas non 

spesifik bersifat siap setiap saat dan memiliki respon 

yang cepat dan berlangsung sesaat setelah ada 

paparan dari antigen. Sistem imuitas non spesifik 

bertindak sebagai pertahanan pertama dalam 

menghalau infeksi dari antigen, sistem imunitas ini 

tidak memerlukan paparan dari antigen untuk 

bekerja. Sifat lain yaitu  tidak spesifik  dalam artian 

kerja dari sistem imunitas ini tidak ditujukan 

terhadap antigen / mikroorganisme tertentu.  

Sistem imunitas non spesifik memiliki 4 

mekanisme pertahanan dalam menghadapi paparan 

dari antigen/ mikroorganisme, yaitu : 

a. Pertahanan fisik/  Mekanik 

Pertahanan fisik dalam sistem imunitas 

non spesifik berupa lapisan mukosa/ lendir, 

silia pada saluran pernafasan selaput lendir 

saluran pernapasan dan berfungsi untuk 

mengeluarkan benda asing (mikroorganisme 

atau debu) yang terperangkap dari udara 

pernapasan melalui sistem transportasi 

mukosiliaris. Mekanisme batuk dan 

bersin termasuk kedalam pertahanan fisik 

dalam menghadapi invas patogen dengan 

batuk dan bersin merupakan suatu usaha 

untuk mengeluarkan benda asing yang masuk 

ke dalam tubuhnya melalui sistem 

pernapasan. Pertahanan fisik berperan dalam 

melindungi tubuh dari patogen yang berasal 

dari lingkungan.  

b. Pertahanan biokimia 

Pertahanan biokimia dalam sistem 

imunitas non spesifik berupa zat-zat kimia 

yang akan mengeliminasi mikororganisme 

yang lolos dari pertahanan fisik/ mekanik. 

Berbagai macam bentuk pertahanan ini 

antara lain : pH asam  yang disekersikan 

lambung, kelenjar keringat, serta ASI dan 

saliva. ASI mengandung antibodi yang dapat 

melindungi bayi dari infeksi.  

c. Pertahanan humoral 

Pertahanan humoral melibatkan 

molekul-molekul yang laut untuk 

megeliminasi dan melawan mikroba yang 

berhasil masuk kedalam tubuh. Pertahanan 

humoral akan bantyak muncul pada bagian 

tubuh yang mengalami . dilalui oleh mikroba. 

 

Contoh dari pertahana humoral yaitu  

interferon dan sistem komplemen.  

d. Pertahanan seluler 

Dalam peertahanan seluler banyak 

melibatkan sel-sel sistem imun untuk 

melawan mikroorganisme. Sel-sel ini  

banyak ditemukan dalam sirkulasi darah dan 

jaringan. .Contoh sel yang dapat ditemukan 

dalam sirkulasi yaitu  neutrofil, eosinofil, 

basofil, monosit, sel T, sel B, sel NK, sel 

darah merah, dan trombosit. Contoh sel-sel 

dalam jaringan yaitu  eosinofil, sel mast, 

makrofag, sel T, sel plasma, dan sel NK 

(Natural Killer).  

3. Komponen sistem imun non spesifik  

ada  beberapa sel yang termasuk dalam 

sistem imunitas non spesifik yaitu: 

a. Sel epitel 

Sel epitel merupakan bagian pertama 

jika terjadi infeksi baik oleh antigen maupun 

mikroorganisme. Peranan dari sel epitrl ini 

yaitu  sebagai perlindungan secara kimiawi, 

mekanik dan biologis. Sel epitel banyak 

ada  pada kulit, saluran pencernaan, 

paru-paru, mata hidung dan mulut.  

 

 

b. Sel fagosit 

Fagositosis merupakan istilah secara 

harfiah yaitu  memakan dan dapat 

dianalogikan dengan proses pinositosis. 

Fagositosis merupakan suatu proses dan cara 

untuk memekan bakteri atau benda asing 

yang dilakuakn dimanasetelah benda asing 

melekat dipermukaan makrofag, maka 

makrofag akan membentuk sitoplasma  

melekuk kedalam untuk membungkus bakteri 

dan benda asing ini  .  

 

Gambar 2.2. Proses fagositosis 

bakteri oleh makrofag 

Sel-sel fagosistosis menelan dan 

mencerna (fagositosis) benda asing yang 

masuk ke dalam tubuh. Fagositosis dilakukan 

oleh sel darah putih. Jenis-jenis sel darah 

putih yang dapat melakukan fagositosis 

yaitu  neutrofil, monosit, eosinofil, dan sel 

pembuluh alami. Jika sel telah dirusak oleh 

antigen maka sel ini  akan mengirimkan 

sinyal kimiawi yang menarik sel fagosit untuk 

datang. Sel fagosit akan memasuki jaringan 

yang terinfeksi lalu menelan dan mencerna 

semua mikroba yang ada.salah satu contoh 

sel fagpsit yaitu  makrofag. Makrofag 

merupakan sel fagosit mononuclear yang 

fungsi utamanya yaitu  fagositosis 

mikroorganisme dan kompleks molekul asing 

lainnya.  

Makrofag diproduksi di sumsum tulang 

belakang dari sel induk myeloid yang 

mengalami proliferasi. Didalam darah 

makrofag diaktifasi oleh berbagai macam 

stimulant termasuk mikroba dan produknya, 

kompleks antigen antibodi, inflamasi, sitokin 

dan trauma.  

Dalam kerjanya makrofag tidak sendirian, 

namun akan berinteraksi dengan limfosit 

ditempat yang mengalami infeksi. Fagositosis 

yang efektif pada invasi kuman dini akan 

dapat mencegah timbulnya infeksi. Sel 

fagosit dalam kerjanya juga berinteraksi 

dengan komplemen dan sistem imun spesifik.  

c. Sel eosinophil 

Eosinofil merupakan salah satu bagian 

dari sel darah putih yang berfungsi untuk 

melindungi diri dari parasit dan penyakit, 

dan juga bertanggung jawab untuk 

memunculkan reaksi alergi. Salah satu jenis 

dari sel darah putih yaitu  eosinofil. 

Eosinofil dapat ditemukan dalam semua 

jaringan di seluruh tubuh, dan dapat hidup 

selama beberapa minggu sebelum sumsum 

tulang belakang kembali mensuplai sel darah 

putih ke tubuh. 

Sebagai bagian dari sel darah putih, 

eosinofil memiliki peran untuk melindungi 

tubuh dari serangan penyakit. Peran spesifik 

dari eosinofil yaitu melawan parasit yang 

lebih besar (misalnya cacing tambang) dan 

membantu memunculkan sekaligus 

mengontrol respon imun terhadap alergi. 

Sel-sel eosinofil merupakan sel granulosit 

yang juga berperan dalam respon imun. Sel 

ini memiliki 2 lobus pada sitoplasmanya. 

Eosinofil dapat mengeluarkan protein yang 

toksik terhadap patogen. Selain itu sel 

eosinofil juga berperan dalam peradangan 

bersama-sama dengan sel mast dan basofil. 

Eosinofil sendiri memiliki fungsi untuk 

menyerang bakteri, membuang sisa sel yang 

22 

 

rusak, dan mengatur pelepasan zat kimia 

pada saat menyerang bakteri. 

d. Sel mast 

Mastosit sangat mirip dengan granulosit 

basofil, salah satu golongan sel darah 

putih dan membuat banyak spekulasi bahwa 

mastosit dan basofil berasal dari jaringan 

yang sama Basofil meninggalkan sumsum 

tulang setelah dewasa sedangkan mastosit 

teredar dalam bentuk yang belum matang. 

Sel mast banyak mengandung granula yang 

mengandung histamin dan heparin yang 

berperan langsung dalam reaksi alergi dan 

hipersensivitas  

Sel mast sangat dikenal peranannya 

dalam proses alergi. Sel-sel ini banyak 

ada  pada tempat-tempat yang sering 

berhubungan dengan lingkungan luar, seperti 

kulit dan saluran pernafasan. Mekanisme sel 

mast dalam mencegah infeksi dilakukan 

dengan cara memproduksi protein inflamasi, 

vasodilatasi dan rekrutmen sel-sel fagositik 

ke tempat infeksi. Selain itu sel mast dapat 

melepaskan histamine yang berperan dalam 

proses alergi. Hal ini akan kita bahas lebih 

lanjut dalam pertemuan yang membahas 

hipersensitivitas. 

 

e. Sel Natural killer (NK) 

Sel natural killer merupakan bagian dari 

respon bawaan yang termasuk dalam kelas 

limfosit. Sel natural killer atau sel NK 

merupkan bagian penting dari sistem imun 

seseorang. Sel natural killer merupakan 

turunan limfosit dan bagian dari sel darah 

putih yang bisa membantu membunuh sel 

berbahaya dalam tubuh. Jumlah sel NK yang 

dimiliki manusia sekitar 10-15% dari seluruh 

limfosit perifer darah. Sel natural killer 

diproduksi di sumsum tulang belakang, 

kelenjar timus, tonsil, dan juga kelenjar 

limpa. Sel-sel ini juga disebut sel pembunuh 

alami sebab  sel-sel ini dapat bertindak 

segera tanpa perlu aktivasi. Sel target 

(kanker atau sel yang terinfeksi virus) akan 

mengalami kematian. Jumlah sel NK dalam 

tubuh hanya sekitar 10-15% dari semua 

limfosit dalam darah. 

Sel natural killer ini memiliki kemampuan 

untuk membaca sinyal keberadaan sel 

abnormal dan sel patogen. Sinyal ini menjadi 

perintah bagi sel Natural Killer untuk 

menyerang sel dan mematikannya. Dan akan 

bekerja menghancurkan sel patogen asing 

yang masuk ke dalam tubuh sebelum sel 

patogen ini  menyerang sel sehat dan 

membentuk infeksi. Sel ini juga efektif untuk 

 

cara mencegah kanker. sebab  sel ini akan 

agresif menyerang sel-sel abnormal dan 

mencegah sel melakukan pembelahan diri 

masif atau proliferasi dan proses pelepasan 

diri dari koloni untuk menyebar atau 

metastasis. Sel Natural Killer  memiliki  

kemampuan dalam membedakan sel sehat 

dan sel tidak normal. Sel ini dapat dengan 

efektif membaca DNA nukleus dan 

memastikan apakah sel dihadapannya dalah 

sel sehat atau sel abnormal. Cara kerja sel 

natural killer terbagi menjadi 5 tahapan 

yaitu : 1). sel Natural Killer  bekerja 

berkeliling mengikuti saluran limfosit 

menuju seluruh bagian tubuh. sel ini cukup 

peka terhadap sinyal keberadaan sel kanker 

dalam tubuh. Tidak hanya sel kanker, 

sel Natural Killer juga melawan serangan 

akibat bakteri, virus dan mikroba lain. 2). 

Sel Natural Killer membaca sinyal 

keberadaan sel yang tidak sebagaimana 

biasa/ abnormal. Sel dapat mengidentifikasi 

dari senyawa yang diproduksi, perilakunya, 

formasi serta bentuknya, hingga komponen 

protein yang ada. 3). Sel Natural Killer akan 

mendekat pada sel asing untuk membaca 

nukleus dari sel asing ini . Apabila sel 

asing ini  menunjukan jejak DNA yang 

berbeda dari sel tubuh manusia 

bersangkutan, maka sel Natural Killer akan 

membacanya sebagai sel yang harus 

dimatikan. 4). Sel Natural Killer membentuk 

kelompok hingga muncul semacam koloni 

yang menyerang masif dan terarah pada sel 

abnormal ini . Sel akan menyerang 

membran dari sel asing ini , kemudian 

secara khusus mengincak nukleus sel hingga 

sel asing ini meledak dan hancur. 5). 

Sel Natural Killer juga akan melepas 

semacam hormon yang bekerja memberi 

sinyal bagi sel-sel sistem imun lain untuk 

turut menyerang sel asing ini . Semakin 

kuat sel asing yang dihadapi, semakin banyak 

pula hormon dilepas dan semakin besar 

koloni sistem imun yang akan dihadirkan. 

f. Protein Komplemen 

Komplemen merupakan sistem yang 

terdiri atas sejumlah protein yang berperan 

dalam pertahanan hospes, baik dalam sistem 

imun nonspesifik maupun sistem imun 

spesifik. Aktivasi komplemen merupakan 

usaha tubuh untuk menghancurkan antigen 

asing. Komplemen merupakan salah satu 

sistem enzim serum yang berfungsi antara 

lain untuk lisis bakteri, oposonisasi yang 

meningkatkan fagositosis partikel antigen, 

mengikat reseptor komplemen spesifik pada 

sel sistem imun sehingga memicu fungsi sel 

spesifik untuk memproduksi antibodi.  

 

Komplemen berfungsi mengaktifkan 

fagosit dan membantu destruktif bakteri dan 

parasit sebab  komplemen dapat 

menghancurkan sel membran bakteri. 

Komplemen merupakan faktor kemotaktik 

yang mengarahkan makrofag ke tempat 

bakteri, komponen yang mengendap pada 

permukaan bakteri sehingga memudahkan 

makrofag untuk mengenal dan 

memfagositosis (opsonisasi). 

Sistem komplemen yaitu  kumpulan dari 

protein terikat membran dan protein dalam 

darah yang penting dalam pertahanan. 

Protein ini dapat membantu proses 

opsonisasi antibiotik terhadap antigen. 

Diketahui bahwa protein ini ada  di 

plasma darah dan banyak diproduksi oleh sel-

sel hati. Pada tubuh manusia diketahui ada 

lebih dari 30 protein komplemen. Hampir 

mirip dengan komponen respon imun lainnya, 

maka protein komplemen akan aktif jika ada 

patogen. Demikian pula sebaliknya tidak 

aktif jika tidak ada patogen. 

Aktivasi sistem komplemen memicu  

interaksi berantai yang menghasilkan 

berbagai substansi biologik aktif yang 

diakhiri dengan lisisnya membran sel 

antigen. Aktivasi sistemkomplemen ini  

selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh, 

sebaliknya juga dapat membahayakan 

bahkan memicu  kematian 

 

Gambar 2.3. Jalur aktivasi komplemen 

Aktivasi komplemen terjadi melalui 3 

jalur, yaitu jalur klasik, jalur alternatif dan 

jalur lektin. Ketiga jenis jalur aktivasi 

komplemen ini memiliki persamaan yaitu 

pada terbentuknya C3 convertase, yang 

membelah molekul C3 menjadi C3b (fragmen 

yang besar) dan C3a (fragmen yang lebih 

kecil). Fungsi komplemen sebagai 

anaphylatoxins diperankan oleh fragmen C3a 

C4a dan C5a. Fragmen ini berperan untuk 

menginduksi inflamasi melalui aktivasi sel 

mast dan neutrofil. Ketiga fragmen ini 

berikatan dengan sel mast dan menginduksi 

terjadinya degranulasi dengan pelepasan 

mediator-mediator vasoaktif seperti 

histamin 

C. Rangkuman 

Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan 

terhadap benda asing dan patogen misalnya bakteri, 

virus, protozoa, dan parasite pertahanan ini disebut 

sebagai sistem imunitas. Sistem imun terdiri atas sistem 

imun alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) 

dan sistem imun didapat atau spesifik 

(adaptive/acquired). Sistem Imunnitas non spesifik 

merupaka sistem pertahanan tubuh terhadap berbagai 

serangan substansi asing. Imunitas non spesifik memiliki 

sifat universal, merespon benda asing walaupun tubuh 

sebelumnya tidak pernah terpapar zat asing, memiliki 

spektrum yang luas dan telah ada dan menjalankan 

fungsinya sejak dilahirkan, memiliki respon yang cepat 

dan berlangsung sesaat setelah ada paparan dari 

antigen. Sistem imunitas non spesifik memiliki 4 

mekanisme pertahanan dalam menghadapi paparan dari 

antigen/ mikroorganisme, yaitu : pertahanan fisik/ 

mekanik, pertahanan biokimia, pertahanan humoral, 

pertahanan seluler. Komponen sistem imunitas non 

spesifik terdiri dari sel epitel, sel fagosit, sel eosinophil, 

sel mast, sel natural killer, dan protein komplemen.  

 


 

 

F. Glosarium 

Patogen : mikroorganisme parasit yang dapat 

memicu  penyakit pada inangnya 

seperti tubuh manusia 

Inflamasi : reaksi kekebalan alami yang dimiliki 

tubuh untuk melawan berbagai serangan 

penyakit atau mikroorganisme jahat 

Sitokin : molekul peptida atau protein yang 

berfungsi dalam komunikasi antar sel. 

sel natural killer :  turunan limfosit yang memiliki  

andil sangat besar dalam sistem imun 

bawaan 

dendrit : bagian neuron yang berfungsi menangkap 

rangsangan dalam bentuk impuls dan 

menghantarkannya ke akson 

makrofag : sel fagosit terpenting dalam sistem imun 

yang berasal dari sel monosit dewasa 

yang menetap di jaringan 

neutrophil :  salah satu jenis sel darah putih yang 

ada di dalam tubuh manusia 

antigen : zat yang dapat merangsang sistem 

kekebalan tubuh untuk menghasilkan 

antibodi sebagai bentuk perlawanan 

31 

 

mukosa : apisan kulit dalam, yang terutup pada 

epitelium dan fungsinya sendiri terlibat 

dalam proses absorpsi dan proses sekresi. 

Antibodi : zat kimia yang beredar di aliran darah dan 

termasuk dalam bagian dari sistem 

imunitas atau kekebalan tubuh 

Interferon:  potein alami dari sistem kekebalan 

tubuh manusia yang berfungsi melawan 

pemicu  penyakit (patogen), seperti 

bakteri dan virus, 

Eosinophil : Salah satu jenis sel darah putih yang dari 

kategori granulosit yang berperan 

dalam sistem kekebalan dengan 

melawan parasit multiselular dan 

beberapa infeks  

Basofil : salah satu jenis sel darah putih yang 

memiliki peran penting sebagai bagian 

dari sistem kekebalan tubuh. berperan 

penting dalam menghasilkan reaksi 

peradangan untuk melawan infeksi dan 

turut berperan dalam munculnya reaksi 

alergi. 

Monosit : Salah satu jenis sel darah putih yang 

berfungsi untuk melawan infeksi dan 

meningkatkan kekebalan tubuh 

Fagositosis : proses seluler dari fagosit dan protista 

yang menggulung partikel padat dengan 

membran sel dan membentuk fagosom 

internal. 


 

Proliferasi : Pertumbuhan dan pertambahan sel yang 

sangat cepat (dalam keadaan abnormal) 

Inflamasi : eaksi kekebalan alami yang dimiliki tubuh 

untuk melawan berbagai serangan 

penyakit atau mikroorganisme jahat. 

Lobus :  bagian korteks serebri yang terletak di 

belakang dan berhubungan dengan 

penafsiran rangsangan visual. 

Hipersensifitas : reaksi dari sistem kekebalan yang 

terjadi saat jaringan tubuh sehat 

mengalami cidera atau luka.  

Vasodilatasi : merupakan pembesaran dari 

pembuluh darah di dalam tubuh. 

Histamin :  salah satu zat kimia yang diproduksi saat 

tubuh alami alergi 

Lisis : peristiwa pecah atau rusaknya integritas 

membran sel dan memicu  

keluarnya organel sel. 

Anaphylatoxins : fragmen protein yang terbentuk 

saat sistem komplemen teraktivasi dan 

terdiri dari C3a, C4a, C5a 

 

SISTEM IMUN ADAPTIF 


 

 

Sistem imun adaptif yaitu  kebalikan dari sistem 

imun innate (non spesifik). Sistem imun adaptif tidak 

dibentuk secara alami, melainkan harus mengalami 

proses pajanan (pengenalan) antigen terlebih dahulu. 

Meskipun proses pengenalan ini membutuhkan waktu 

yang lebih lama, pertahanan yang dihasilkan akan lebih 

spesifik. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai 

sistem imun spesifik.  

Imunitas adaptif merupakan jenis kekebalan yang 

sangat maju dan lebih spesifik dengan sifat luar biasa 

dalam menginduksi respons "memori" pada paparan 

kedua terhadap beberapa antigen, sehingga sangat 

efektif dalam pertahanan terhadap infeksi mikroba 

patogen. Perbedaan dengan innate yaitu  bahwa innate 

hanya mengenali struktur penyusun mikroba (jenis 

antigen), sementara adaptif dapat mengekspresikan 

reseptor yang secara spesifik dapat mengenal berbagai 

molekul penyusun mikroba (variasi antigen). Sistem 

imun adaptif juga memiliki kemampuan untuk 

mengenali self atau non-self yang lebih baik. Setiap zat 

yang secara khusus dikenali oleh limfosit atau antibodi 

disebut antigen. Respon imun adaptif yang efektif 

melibatkan dua kelompok sel utama, yaitu sel limfosit 

dan produknya (antibodi), dan antigen-presenting cell 

(APC).  

1. Jenis Imunitas Adaptif 

Imunitas adaptif dibagi menjadi dua, yaitu Imunitas 

Humoral dan Imunitas yang Dimediasi oleh Sel (Cell-

Mediated Immunity).  

a. Imunitas Humoral 

Imunitas ini dimediasi oleh protein-protein 

yang disebut antibodi. Antibodi diproduksi oleh sel 

plasma, sel hasil diferensiasi limfosit B. Antibodi 

yang disekresikan masuk ke dalam sirkulasi dan 

cairan mukosa, kemudian menetralisasi dan 

mengeliminasi mikroba ekstraselular dan toksinnya. 

b. Cell-mediated immunity  

Dimediasi oleh jenis limfosit T, yaitu limfosit T 

helper dan limfosit T sitotoksik. Limfosit T helper 

mengaktivasi sel fagosit untuk menghancurkan 

mikroba yang sudah dicerna sebelumnya dan 

limfosit T sitotoksik berperan mengeliminasi sel 

yang terinfeksi mikroba intraselular (seperti virus 

dan bakteri tuberkulosis). 


 

Imunitas

Humoral

Cell-mediated 

Immunity

Mikroba

Mikroba

ekstraselular

Mikroba yang 

difagosit oleh 

makrofag

Mikroba intraselular

(contoh: virus)

Respon

limfosit

Limfosit B

Limfosit T 

Helper

Limfosit T 

Sitotoksik

Mekanisme

efektor

Antibodi

sekresi

Fungsi

Blokir dan 

eliminasi

mikroba

ekstrasel

Eliminasi

mikroba yang

difagosit

Membunuh dan 

mengeliminasi

sel terinfeksi

Makrofag

teraktivasi


 

2. Sumber Imunitas Adaptif 

Imunitas seseorang dapat diperoleh secara aktif 

maupun pasif. Imunitas aktif yaitu  imunitas yang 

diperoleh melalui aktivasi sel-sel imun. Hal ini 

dapat terjadi melalui infeksi (secara alami), atau 

melalui vaksinasi (secara buatan). Imunitas pasif 

yaitu  imunitas yang diperoleh tanpa perlu aktivasi 

sel-sel imun. Imunitas dapat langsung diperoleh 

melalui transfer antibodi, baik secara alami 

(melalui ibu ke anak) atau buatan (transfer antibodi 

monoklonal). 

 

 

 

3. Spesifisitas Imunitas Adaptif 

Imunitas adaptif memiliki spesifisitas yang 

sangat tinggi. Spesifisitas atau kemampuan 

mengenali antigen yang dimiliki ini sangat unik. 

Walaupun setiap limfosit hanya memiliki satu jenis 

reseptor epitop (TCR atau BCR), mereka mampu 

mengenali dan membedakan setiap jenis patogen 

yang memiliki begitu banyak molekul antigen, di 

mana masing-masing dapat memiliki beberapa 

epitop. 

Dasar spesifisitas dan keragaman yang luar 

biasa ini yaitu  bahwa limfosit mengekspresikan 

reseptor yang terdistribusi secara klonal untuk 

antigen, yang berarti bahwa populasi total limfosit 

terdiri dari banyak klon yang berbeda (masing-

masing terdiri dari satu sel dan turunannya), dan 

setiap klon mengekspresikan reseptor antigen yang 

berbeda dari reseptor klon lainnya. 

4. Mekanisme Memori 

Salah satu keunikan imunitas adaptif yaitu  

dapat mengembangkan mekanisme memori. Istilah 

memori muncul sebab  sel-sel ini mampu mengingat 

paparan antigen sebelumnya. saat  terjadi 

paparan infeksi, imunitas adaptif akan mempelajari 

dan mengingat patogen pemicu  infeksi ini , 

sehingga dapat memberikan pertahanan dan 

perlindungan jangka panjang terhadap infeksi 

berulang. Imunitas adaptif meningkatkan respons 


 

yang lebih besar dan lebih efektif terhadap paparan 

berulang untuk antigen yang sama.  

Respon terhadap paparan pertama, disebut 

respon imun primer, diperankan oleh limfosit 

naif, yaitu limfosit yang pertama kali terpapar 

dengan antigen. Istilah naif mengacu pada sel-sel 

yang secara imunologis belum pernah terpapar 

oleh antigen sebelumnya. Paparan berikutnya 

dengan antigen yang sama memicu  respons 

yang disebut respons imun sekunder. Respon ini 

biasanya lebih cepat, lebih besar, dan lebih 

mampu mengeliminasi antigen dibanding respons 

primer. Respons sekunder yaitu  hasil aktivasi 

limfosit memori, yang merupakan sel berumur 

panjang yang diinduksi selama respons imun 

primer.  

Memori juga merupakan salah satu alasan 

mengapa vaksin memberikan perlindungan 

jangka panjang terhadap infeksi. Vaksinasi 

terhadap virus dapat dilakukan menggunakan 

virus aktif yang dilemahkan, atau bagian 

tertentu dari virus yang tidak aktif. Baik virus 

utuh maupun partikel virus yang dilemahkan 

sebenarnya tidak dapat memicu  infeksi 

aktif. Sebaliknya, vaksin ini hanya meniru 

keberadaan virus aktif untuk menstimulasi 

respons imunitas. Dengan mendapatkan 

vaksinasi, tubuh seolah terpapar pada suatu 

antigen virus, sehingga menghasilkan antibodi 

 

khusus, dan memperoleh memori tentang virus 

ini , tanpa perlu mengalami sakit. 

Beberapa gangguan dalam sistem memori imunologi 

dapat memicu  penyakit autoimun. Mimikri 

molekuler dari self-antigen oleh patogen infeksius, 

seperti bakteri dan virus, dapat memicu penyakit 

autoimun sebab  respon imun reaktif silang terhadap 

infeksi. Salah satu contoh organisme yang menggunakan 

mimikri molekuler untuk bersembunyi dari pertahanan 

imunologis yaitu  infeksi Streptococcus. 


 

5. Respon Imun Adaptif terhadap Mikroba 

Jika sistem imun innate tidak mampu dalam 

menghadapi paparan mikroba, respon imun adaptif 

akan diaktivasi. Dalam hal ini sistem imun innate dan 

adaptif saling bekerjasama. Oleh sebab itu, 

mekanisme respon imun adaptif dimulai dari 

presentasi antigen oleh APC kepada limfosit T naif 

(rekognisi antigen); aktivasi limfosit; eliminasi antigen 

melalui imunitas humoral dan selular; regulasi respon 

imun (homeostasis); dan mekanisme memori.  

 

 


 

 

a. Rekognisi antigen 

Sebelum sampai pada tahap eliminasi, suatu 

patogen harus dikenali dahulu, baik struktur 

penyusunnya, maupun antigennya. Hal ini 

dimaksudkan agar respon yang dihasilkan lebih 

spesifik dan efektif. saat  terjadi paparan mikroba 

(patogen), sel-sel penyaji antigen (APC) khususnya 

sel dendritik residen segera menangkap patogen 

ini  dan membawanya ke organ limfoid 

sekunder untuk dipresentasikan ke limfosit T naif. 

Antigen protein mikroba diproses dalam sel 

dendritik untuk menghasilkan peptida yang akan 

dipresentasikan pada permukaan sel yang terikat 

Gambar3. 4. Tahapan respon imun adaptif terhadap 

mikroba. Respons imun adaptif terjadi dalam beberapa 

langkah. Langkah pertama yaitu  rekognisi (pengenalan) 

antigen pada titik waktu 0 yang mengarah pada aktivasi sel T 

naif atau sel B yang secara langsung mengikat antigen. Fase 

efektor terdiri dari aktivasi limfosit dan eliminasi antigen yang 

berlangsung selama lebih kurang 14 hari. saat  antigen telah 

dimusnahkan, fase kontraksi (homeostasis( respon imun 

dimulai, sebagian besar sel B dan T mati oleh apoptosis dan 

hanya sedikit sel berumur panjang yang bertahan dan 

memberikan respon imun memori. 

 

pada molekul MHC. Sel T naif akan mengenali 

kompleks peptida-MHC ini, dan ini yaitu  langkah 

pertama dalam inisiasi respons sel T. Di sisi lain, 

Protein antigen yang sama juga diproses oleh 

limfosit B untuk dipresentasikan ke sel T. Limfosit B 

juga dapat memproses antigen polisakarida dan 

antigen nonprotein lainnya yang tidak dapat 

dilakukan APC dan sel T. 

 

b. Aktivasi limfosit 

 Sel dendritik aktif mampu 

mengekspresikan molekul kostimulator dan 

mensekresikan sitokin yang keduanya diperlukan, 

selain antigen, untuk menstimulasi proliferasi dan 

diferensiasi sel T. Proses ini melibatkan tiga sinyal 

utama, yaitu sinyal 1 (aktivasi); sinyal 2 

(kostimulasi); dan sinyal 3 (sekresi sitokin). 

 Sinyal ini memastikan bahwa respons 

imun adaptif benar diinduksi oleh mikroba dan 

bukan oleh zat yang tidak berbahaya. Sinyal yang 

dihasilkan dalam sel T oleh keterlibatan reseptor 

antigen dan reseptor kostimulator memicu  

transkripsi berbagai gen, yang menyandikan sitokin, 

reseptor sitokin, molekul efektor, dan protein yang 

mengontrol kelangsungan hidup sel.  

 saat  diaktifkan oleh antigen dan 

kostimulator di organ limfoid, sel T naif kemudian 

mengeluarkan sitokin yang berfungsi sebagai 

growth factor dan merespons sitokin lain yang 

disekresikan oleh sel dendritik. Kombinasi sinyal 


 

(antigen, kostimulasi, dan sitokin) merangsang 

proliferasi (ekspansi klon) sel T dan diferensiasinya 

menjadi sel T efektor.  

 

Gambar 3.5 Tiga sinyal aktivasi sel T. Aktivasi sel 

T spesifik-antigen membutuhkan tiga sinyal berbeda. 

Sinyal 1 disebut sinyal aktivasi, yaitu  pensinyalan 

spesifik-antigen yang dimediasi oleh keterlibatan 

reseptor sel-T (TCR) dari peptida patogen yang disajikan 

oleh molekul MHC. Sinyal 2 yaitu  sinyal kostimulatori, 

terutama dimediasi oleh interaksi CD28 dengan salah 

satu molekul B7 (CD80 dan CD86). Sinyal 3 yaitu  sinyal 

sekresi sitokin oleh sel dendritik dan sel T, sinyal ini 

menstimulasi proliferasi dan diferensiasi sel T. 

 

c. Eliminasi antigen  

Dalam mengeliminasi anitgen, sistem imun 

adaptif mengembangkan dua mekanisme utama, 

yaitu cell-mediated immunity dan imunitas 

humoral. Imunitas humoral diperankan oleh 

antibodi sementara cell-mediated immunity 

diperankan oleh sel T. 

1) Cell-mediated immunity 

Beberapa sel T efektor yang dihasilkan di 

organ limfoid dapat bermigrasi kembali ke 

dalam darah dan kemudian ke tempat mana 

pun di mana antigen (atau mikroba) berada. 

Sel-sel efektor ini diaktifkan kembali oleh 

antigen di tempat infeksi dan melakukan 

fungsinya untuk mengeliminasi mikroba. Sel T 

helper dapat berdiferensiasi menjadi subset sel 

efektor yang berbeda dengan fungsi yang 

berbeda. Beberapa dari sel T helper merekrut 

neutrofil dan leukosit lain ke tempat infeksi; sel 

T helper lainnya mengaktifkan makrofag untuk 

membunuh mikroba yang difagosit; dan yang 

lainnya tetap berada di organ limfoid untuk 

membantu aktivasi limfosit B untuk 

memproduksi antibodi. Selain sel T hepler, sel 

T sitotoksik (CTL) berperan membunuh secara 

langsung sel yang terinfeksi atau mengandung 

mikroba di sitoplasma. Dengan menghancurkan 

sel yang terinfeksi, CTL menghilangkan 

reservoir infeksi. 

 

 Berikut peran limfosit T dalam 

mengeliminasi antigen; 

a) Merekrut netrofil dan leukosit lain ke 

tempat infeksi; 

b) Mengaktifkan makrofag untuk 

membunuh mikroba yang difagosit; 

c) Membantu aktivasi limfosit B untuk 

memproduksi antibodi;  

d) Membunuh sel yang terinfeksi virus 

oleh sel T sitotoksik. 

2) Imunitas Humoral 

Imunitas humoral diperankan oleh 

antibodi, produk dari limfosit B. Pada saat 

aktivasi, sel B berproliferasi dan berdiferensiasi 

menjadi sel plasma yang mensekresikan 

berbagai kelas antibodi (IgM, IgG, IgE, IgA, IgD) 

yang memiliki fungsi berbeda.  

Banyak antigen non protein, seperti 

polisakarida dan lipid, memiliki beberapa 

determinan antigenik (epitop) identik yang 

mampu bereaksi secara langsung dengan 

reseptor antigen sel B dan memulai aktivasi sel 

B tanpa memerlukan bantuan sel T. Antigen 

protein biasanya terlipat dan tidak 

mengandung epitop identik, sehingga tidak 

dapat mengikat reseptor antigen secara 

bersamaan, sehingga respons sel B terhadap 

antigen protein memerlukan bantuan sel T 

helper (CD4+). Sel B menelan antigen protein, 

mendegradasinya, dan mempresentasikannya 

 

(peptida) melalui molekul MHC kepada sel T 

helper. Sel T helper kemudian mengekspresikan 

sitokin dan protein permukaan sel, yang 

bekerja sama untuk mengaktifkan sel B. 

Aktivasi sel B tanpa bantuan sel T disebut T-

independent dan dengan bantuan sel T disebut 

T-dependent. 

Gambar 3.6. Respon antibodi T-dependent dan T-

independent. Respons antibodi terhadap antigen protein 

memerlukan bantuan sel T, dan antibodi yang dihasilkan 

biasanya menunjukkan penggantian isotipe dan memiliki 

 

afinitas tinggi. Antigen non-protein (misalnya, polisakarida) 

dapat mengaktifkan sel B tanpa bantuan sel T. Sebagian 

besar respons yang bergantung pada T dibuat oleh sel B 

folikel, sedangkan sel B zona marginal dan sel B-1 berperan 

lebih besar dalam respons yang tidak bergantung pada sel 

T (Sumber: Abbas et al., 2016). 

Sel B yang diaktivasi secara langsung oleh 

antigen non protein biasanya mensekresikan 

antibodi dengan fungsi terbatas dan memiliki 

afinitas rendah terhadap antigen. Sementara 

antigen protein, dengan melibatkan bantuan 

sel T, dapat merangsang produksi beberapa 

jenis antibodi dengan fungsi berbeda dan 

memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap 

antigen. Selain itu, antigen protein dapat 

menginduksi sel plasma dan sel B memori yang 

berumur sangat panjang. 

Respons imun humoral bertahan melawan 

mikroba dengan berbagai cara. Antibodi dapat 

mengikat dan menetralisasi mikroba sehingga 

mencegahnya menginfeksi sel. Antibodi dapat 

melapisi (opsonisasi) mikroba dan menargetkannya 

untuk difagositosis, sebab  sel-sel fagosit (neutrofil 

dan makrofag) mengekspresikan reseptor spesifik 

untuk antibodi (reseptor Fc). Selain itu, antibodi 

juga dapat mengaktifkan sistem komplemen jalur 

klasik untuk menghancurkan dinding sel mikroba 

dan mengembangkan mekanisme sitotoksik sel 

untuk menghancurkan mikroba atau sel yang 

terinfeksi. Jenis antibodi tertentu dan mekanisme 

transpor antibodi juga memiliki peran berbeda pada 

lokasi anatomi tertentu, termasuk lumen saluran 

pernapasan dan saluran pencernaan serta plasenta 

dan janin.  

 

 

d. Hemostasis dan Memori  

Setelah melaksanakan tugasnya mengeliminasi 

mikroba, sebagian besar limfosit efektor akan mati 

oleh mekanisme apoptosis, sehingga sistem imun 

dapat kemb=ali ke keadaan semula (istirahat), yang 

disebut homeostasis. Ini terjadi sebab  mikroba 

memberikan stimulasi penting untuk kelangsungan 

hidup dan aktivasi limfosit, dan sel efektor berumur 

pendek. Oleh sebab  itu, saat  rangsangan 

dihilangkan, limfosit yang diaktifkan tidak lagi 

bertahan hidup. Aktivasi awal limfosit menghasilkan 

Mengikat antigen àmenghantarkannya

ke sistem pemusnahan (Fagosit)

Netralisasi Opsonisasi

Aktivasi

komplemen ADCC

Transitosis & 

Neonatal immunity

1 2 3 4 5

Gambar 7. Fungsi antibodi secara umum 

51 

 

sel memori berumur panjang, yang dapat bertahan 

selama bertahun-tahun setelah infeksi dan 

meningkatkan respons yang cepat dan kuat 

terhadap paparan berulang dengan antigen. 

 

 REAKSI ANTIGEN & ANTIBODI 


B. Penjelasan Materi Dengan Ilustrasi Dan Contoh 

Antigen Merupakan zat protein yang saling 

berkaitan antar bakteri dan virus yang ada di dalam 

tubuh manusia tergolong pada makromolekul dengan 


dua jenis bakteri atau virus yaitu olisakarida dan 

polipeptida. 

 

Antibodi merupakan protein yang terbentuk dari 

antigen yang ada di dalam tubuh manusia yang bereaksi 

secara spesifik dengan antigen sehingga menghasilkan 

sebuah antibodi yang digunakan untuk melindungi 

sistem imun tubuh. 

Dari antigen ini  memiliki sebuah  

konfigurasi dengan antibodi yang mana konfigurasi 

molekul kedua hal ini  membentuk suatu respon 

terhadap antigen yang mana cocok untuk memicu 

sebuah reaksi-reaksi antigen dan antibodi sehingga 

terjadi interaksi kimia yang mana antara sel B dengan 

reaksi antigen imun. 

Reaksi antigen antibodi ini  merupakan 

sebuah reaksi yang muncul sebab  adanya proses 

molekul-molekul asing dalam kompleks seperti patogen 

Dan racun kimia yang ada di dalam darah dengan 

antigen yang diikat oleh antibodi secara khusus dengan 

adanya afinitas tinggi sehingga membentuk suatu 

kompleks imun yang disebut dengan reaksi. 


 

 

1. Respon Tubuh Terhadap Antigen  

Pemaparan antigen yang masuk dalam tubuh 

ini  pertama kali direspon oleh sel makrofag 

yang mana nantinya sel makrofag ini  akan 

memberikan antigen kepada sel t helper untuk 

membentuk suatu respon pertahanan dengan 

antigen dari sel t helpers ini  mengaktivasikan 

kepada sel B dan sel t sitotoksik yang mana kedua 

proses ini  mengalami aktivasi yang merespon 

terhadap  


 

 

antigen dan menjaga kekebalan humoral 

sehingga menghasilkan antibodi dalam plasma darah 

selain itu juga untuk melisiskan sel-sel yang sudah 

terinfeksi adanya antigen. 

Saat pengaktivisan ini  sel B lebih 

memperbanyak diri agar sel-sel ini  dapat 

digunakan sebagai sel respon sekunder untuk 

menyerang antigen sehingga pemaparan antigen 

ini  yang datang langsung menuju ke sel B akan 

diproduksi antibodinya untuk melawan sel antigen 

ini . sehingga antigen yang masuk dan diikat oleh 

antibodi ini  akan menjadi sebuah bagian epitel 

yang mana epitel ini lah yang menentukan antara 

kecocokan antigen dengan antibodi apabila antigen 

ini  sudah diikat oleh antibodi dan diuraikan untuk 

dibuang keluar tubuh bersama dengan aliran darah 

maka antigen ini  tidak termasuk antigen yang baik 

untuk sistem kekebalan tubuh. 

C. Rangkuman  

Antigen merupakan zat protein yang berkaitan 

dengan bakteri dan virus sedangkan antibodi 

merupakan sebuah protein yang terbentuk adanya 

antigen di dalam tubuh sehingga menciptakan sebuah 

sistem imun kekebalan tubuh. 

Reaksi yang timbul adanya pengikatan dari 

antigen dan antibodi ini  yaitu  sebuah reaksi 

yang mana ada  molekul di dalamnya dengan 

adanya konfigurasi molekul yang saling berkaitan 

dengan adanya antigen yang diikat oleh antibodi antara 

sel B sampai dengan sel t yang saling berkaitan untuk 

menciptakan sebuah sistem kekebalan imun dan 

dikeluarkan melalui darah. 


 

F. Glosarium 

Antigen : zat yang mampu memicu  sistem imun 

ini  menghasilkan sebuah antibiotik. 

Antibodi : protein yang timbul dari adanya ikatan 

antigen. 

Bakteri : sebuah kelompok mikroorganisme yang 

mana bisa memicu  timbulnya suatu penyakit dalam 

sistem tubuh manusia dan mengurangi sistem imun dalam 

tubuh manusia. 

Imun : kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam 

melawan mikroorganisme yang ada di dalam tubuh yang 

dapat memicu  menurunnya daya tahan tubuh. 

Konfigurasi : suatu hal yang merujuk pada bentuk, 

wujud dan benda serta nilai-nilai dari zat ini . 

Molekul : bagian senyawa terkecil yang tersusun 

antar beberapa atom sehingga jika saling berikatan dengan 

zat lain akan membentuk suatu konfigurasi. 

Olisakarida : gabungan dari beberapa molekul 

monosakarida yang menjadi sebuah molekul olisakarida 

yang mana memiliki sebuah fungsi untuk membantu adanya 

sistem imun yang ada di dalam tubuh. 

Patogen : suatu agen dalam biologis yang 

memicu  penyakit dalam sistem inang sehingga 

membantu virus-virus dan bakteri yang di dalam sel tubuh 

ini  berkembang dan membentuk suatu penyakit. 

Polipeptida : susunan antara beberapa molekul dari 

peptida yang tersusun dalam suatu gugus amino yang mana 

ada  antara beberapa karbon. 

Reaksi : suatu bentuk gejala yang timbul adanya 

ikatan antara kedua belah zat atau molekul sehingga 

menciptakan sebuah konfigurasi molekul. 


 

 

Tubuh : bentuk fisik dari kerangka manusia yang 

dilengkapi dengan adanya zat-zat dan molekul di dalamnya. 

Virus : mikroorganisme dari patogen yang tidak 

memiliki kelengkapan dalam selulernya sehingga virus 

ini  akan saling bergantung terhadap molekul-molekul 

yang ada di sekitarnya. 

G. Indeks 

Antigen...................................................61,

85,121 

Antibodi.................................................3,65

,89 

Imun........................................................2,

7,16,89 

Molekul..................................................3,12

,89 

Virus.......................................................12,

89 

 

 

 

 

 

SISTEM LIMFATIK 


Sistem limfatik terdiri dari cairan yang disebut getah 

bening, pembuluh yang disebut pembuluh limfatik yang 

mengangkut getah bening, sejumlah struktur dan organ 

yang mengandung jaringan limfatik (limfosit dalam 

jaringan penyaring), dan sumsum tulang merah (lihat 

gambar 1) . Sistem limfatis di dalam tubuh kita merupakan 

suatu sistem yang berperan dalam menjaga keseimbangan 

cairan dalam tubuh, mengabsorpsi lemak dan substansi 

lainnya dalam sistem pencernaan dan yang paling penting 

yaitu  sebagai sistem pertahanan tubuh dari 

mikroorganisme dan substansi asing lainnya. Sebagian 

besar komponen penyaring plasma darah melalui dinding 

kapiler darah untuk membentuk cairan interstisial. Setelah 

cairan interstitial masuk ke pembuluh limfatik, itu disebut 

getah bening. Perbedaan utama antara cairan interstisiil 

dan getah bening berada: cairan interstisial ditemukan 

antara sel, dan getah bening terletak di dalam pembuluh 

limfatik dan jaringan limfatik. Jaringan limfatik yaitu  

bentuk khusus dari jaringan jaringan ikat retikuler yang 

mengandung banyak limfosit.  Dua jenis limfosit 

berpartisipasi dalam respon imun adaptif: sel B dan sel T. 

 

2. Fungsi Sistem limfatik 

Sistem getah bening memiliki tiga fungsi utama yaitu 

menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, mengabsorpsi 

lemak dan substansi lain dan sebagai sistem pertahanan 

tubuh. 

a. Keseimbangan Cairan 

Sistem limfatik mengembalikan kelebihan cairan 

dan protein dari jaringan yang tidak dapat kembali 

melalui pembuluh darah. Cairan sering terkumpul di 

ruang kecil yang mengelilingi sel, yang dikenal sebagai 

ruang interstisial. Kapiler getah bening kecil 

menghubungkan ruang-ruang ini ke sistem limfatik. 

Sekitar 90% plasma yang mencapai jaringan dari kapiler 

darah arteri kembali melalui kapiler vena dan vena. 10% 

sisanya berjalan melalui sistem limfatik. 

b. Transport Lipid Makanan 

Sistem limfatik memainkan peran kunci dalam 

fungsi usus. Pembuluh limfatik mengangkut lipid dan 

vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K) yang 

diserap oleh saluran pencernaan. Bagian dari selaput usus 

di usus kecil mengandung tonjolan kecil seperti jari yang 

disebut vili. Setiap vili mengandung kapiler limfa kecil, 

yang dikenal sebagai lakteal. Ini menyerap lemak dan 

vitamin yang larut dalam lemak untuk membentuk cairan 

putih susu yang disebut chyle. Cairan ini mengandung 

lemak getah bening dan emulsi, atau asam lemak bebas. 

Ini memberikan nutrisi secara tidak langsung saat  

mencapai sirkulasi darah vena. Kapiler darah mengambil 

nutrisi lain secara langsung. 

 

c. Pertahanan Tubuh  

Sistem limfatik bertanggung jawab untuk 

mengambil kelebihan air dan protein interstitial serta sel-

sel lain, termasuk bakteri, yang dapat masuk ke jaringan 

melalui luka kecil atau luka di kulit. Bakteri dan antigen 

lainnya diangkut oleh sistem limfatik dari interstitium ke 

limfosit di kelenjar getah bening, di mana respon imun 

dapat dimulai. 

Bagaimana sistem limfatik melawan infeksi? 

Sistem limfatik menghasilkan sel darah putih yang 

disebut limfosit. Ada dua jenis limfosit: sel T dan sel B. 

Keduanya berjalan melalui sistem limfatik. Saat 

mencapai kelenjar getah bening, mereka bersentuhan 

dengan virus, bakteri, dan partikel asing dalam cairan 

getah bening. Setelah kontak, limfosit membentuk 

antibodi dan mulai mempertahankan tubuh. Mereka juga 

dapat menghasilkan antibodi dari ingatan jika mereka 

telah menemukan patogen spesifik di masa lalu. Sistem 

limfatik dan aksi limfosit merupakan bagian dari respon 

imun adaptif tubuh. Ini yaitu  tanggapan yang sangat 

spesifik dan tahan lama terhadap patogen tertentu. 

 

 

Gambar 5.1: Anatomi Sistem Limfatik (OpenStax 

Rice University , 2016. Anatomy and Physiology 

Houston, Texas, P 982) 

3. Pembuluh Limfatik (Lymph Vessels ) dan Sirkulasi 

Getah Bening 

Pembuluh limfatik dimulai sebagai kapiler 

limfatik. Kapiler ini, yang terletak di ruang antar sel, 

ditutup pada satu ujung (Gambar 2). Sama seperti kapiler 


 

 

darah berkumpul untuk membentuk venula dan kemudian 

vena, kapiler limfatik bersatu untuk membentuk lebih 

besar pembuluh limfatik (lihat Gambar1), yang 

menyerupai vena kecil dalam struktur namun  memiliki 

dinding yang lebih tipis dan lebih banyak katup. Pada 

interval sepanjang pembuluh limfatik, getah bening 

mengalir melalui kelenjar getah bening, dikemas organ 

berbentuk kacang yang terdiri dari massa sel B dan sel T.  

Perbedaan utama antara sistem limfatik dan 

kardiovaskular pada manusia yaitu  bahwa getah bening 

tidak dipompa secara aktif oleh jantung, namun  dipaksa 

melalui pembuluh oleh gerakan tubuh, kontraksi otot 

rangka selama gerakan tubuh dan pernafasan. Pompa 

pernafasan  secara bergantian mengembang dan menekan 

getah bening pembuluh darah di rongga dada dan 

membuat getah bening terus bergerak.  Pembuluh getah 

bening di ekstremitas, terutama tungkai, dikompresi oleh 

otot rangka yang mengelilinginya; ini yaitu  pompa otot 

rangka.  Katup satu arah (katup semi-lunar) di pembuluh 

limfatik menjaga agar getah bening tetap bergerak ke arah 

jantung. Getah bening mengalir dari kapiler limfatik, 

melalui pembuluh limfatik, dan kemudian dialirkan ke 

sistem peredaran darah melalui saluran limfatik yang 

terletak di persimpangan vena jugularis dan subklavia di 

leher. 

 

 

a.  Kapiler Limfatik 

Kapiler limfatik, juga disebut limfatik terminal, 

yaitu  pembuluh di mana cairan interstitial memasuki 

sistem limfatik menjadi cairan limfe. Kapiler limfe 

berbentuk seperti pipa, memiliki struktur yang hampir 

sama dengan kapiler darah namun  memiliki permeabilitas 

yang lebih besar dari kapiler darah demikian dapat 

menyerap molekul besar seperti protein dan lemak. 

Terletak di hampir setiap jaringan dalam tubuh, pembuluh 

ini terjalin antara arteriol dan venula dari sistem peredaran 

darah di jaringan ikat lunak tubuh. Pengecualian yaitu  

sistem saraf pusat, sumsum tulang, tulang rawan, gigi, 

epidermis dan kornea mata, yang tidak mengandung 

pembuluh getah bening. 

Kapiler limfatik juga berdiameter sedikit lebih 

besar dari kapiler darah dan memiliki struktur satu arah 

yang unik itu memungkinkan cairan interstitial mengalir 

ke dalamnya namun  tidak keluar. Kapiler limfatik dibentuk 

oleh satu lapisan sel endotel setebal sel dan merupakan 

ujung terbuka dari sistem, memungkinkan cairan 

interstitial mengalir ke dalamnya melalui sel yang 

tumpang tindih (lihat Gambar 2). saat  tekanan 

interstisial rendah, penutup endotel menutup untuk 

mencegah aliran balik. Saat tekanan interstisial 

meningkat, ruang antar sel terbuka, memungkinkan cairan 

masuk. Masuknya cairan ke dalam kapiler limfatik juga 

dimungkinkan oleh filamen kolagen yang berlabuh 

kapiler ke struktur sekitarnya. Saat tekanan interstisial 

meningkat, filamen menarik penutup sel endotel, 

membukanya lebih jauh untuk memungkinkan masuknya 

cairan dengan mudah. saat  kelebihan cairan interstisial 

itu menumpuk dan memicu  pembengkakan 

jaringan, filamen penahan ditarik, membuat bukaan antar


 

sel semakin besar sehingga lebih banyak cairan dapat 

mengalir ke kapiler limfatik. 

 

Gambar 5. 2: Kapiler Limfatik (OpenStax Rice 

University , 2016. Anatomy and Physiology Houston, 

Texas, P 983) 

 

Di usus kecil, kapiler limfatik yang disebut lakteal 

membawa lipid makanan ke dalam pembuluh limfatik dan 

akhirnya ke dalam darah.  Lacteal vili menyerap produk 

akhir pencernaan yang larut dalam lemak, seperti sebagai 

asam lemak dan vitamin A, D, E, dan K bergabung dengan 

lipid dan protein lain. Kehadiran lipid ini memicu  

getah bening mengalir dari usus kecil tampak putih krem 

(seperti susu); getah bening ini  disebut sebagai chyle 

. Di tempat lain, getah bening berwarna kuning pucat 

cairan. Chyle kemudian berjalan melalui sistem limfatik, 

akhirnya memasuki hati dan kemudian aliran darah. 

 



b. Pembuluh Limfe Besar (Lymph Vessels ) 

Dinding pembuluh limfe besar memiliki ketebalan 

yang hampir sama dengan vena kecil serta lapisan yang 

sama namun  batas antar lapisan tidak jelas. Pada tunika 

intima ada  sel endotel, serat elastis, serat kolagen tipis 

dan membrana elastika interna. Tunika media terdiri dari 

otot polos yang berjalan oblik dan sirkuler serta serat 

elastis. Sedangkan pada tunika adventisia dapat terlihat 

otot polos yang berjalan longitudinal dan oblik dan serat 

kolagen. Pembuluh limfe memiliki katup atau valvula 

yang berfungsi untuk mencegah aliran balik cairan limfe 

Pembuluh limfatik dibagi menjadi dua kelompok 

besar; pembuluh limfatik superfisial dan dalam. Pembuluh 

superfisial terletak di lapisan subkutan kulit tempat 

mereka mengumpulkan getah bening dari struktur 

superfisial tubuh. Mereka cenderung mengikuti drainase 

sistem vena dan pada akhirnya mengalir ke pembuluh 

limfatik yang dalam. Pembuluh limfatik yang dalam 

membawa getah bening dari organ dalam. Berbeda dengan 

pembuluh superfisial, pembuluh dalam disertai dengan 

arteri. Arteri ini bersandar ke dinding pembuluh limfatik 

yang dalam, memberi tekanan padanya dan membantu 

aliran getah bening. 

Sepanjang jalan, pembuluh limfatik superfisial dan 

dalam melewati kelenjar getah bening yang memantau isi 

getah bening. Pembuluh limfatik yang membawa getah 

bening menuju kelenjar getah bening dikenal sebagai 

aferen, sedangkan pembuluh yang membawa getah bening 

dari kelenjar getah bening disebut pembuluh limfatik 

eferen. Pembuluh limfatik eferen keluar dari area tertentu 


 

 

bagian tubuh, selanjutnya mereka bergabung membentuk 

trunkus (batang) getah bening (trunkus limfatik). Trunkus 

limfatik diberi nama sesuai dengan wilayah tubuh tempat 

mereka mengalirkan getah bening. Ada empat pasang 

Trunkus: lumbar, bronkomediastinal, subklavia dan 

jugularis.  Trunkus lumbar mengalirkan getah bening dari 

tungkai bawah, dinding dan jeroan panggul, ginjal, 

kelenjar adrenal, dan dinding perut. Trunkus usus 

mengalirkan getah bening dari perut, usus, pankreas, 

limpa, dan sebagian hati. Trunkus bronkomediastinal  

mengalirkan getah bening dari dinding toraks, paru-paru, 

dan jantung. Trunklus subklavia mengalirkan tungkai 

atas. Trunkus Jugularis mengalirkan kepala dan leher. 

 

 

 

Gambar 5.3: Rute Drainase limfe dari trunkus 

limfatik menuju ductus Torasikus dan ductus limfatik 

Kanan (Gerard J. Tortora, Bryan H. Derrickson. 2014, 

Principles of Anatomy and Physiology   14th Edition, 

John Wiley & Sons, Inc. P 803) 

 

Getah bening mengalir dari trunkus limfatik menuju 

ke dua saluran utama  (ductus), yaitu duktus toraksikus dan 


 

 

duktus limfatik kanan, kemudian mengalir ke darah vena. 

Duktus toraksikus (limfatik kiri). 

1) Pembuluh limfa kanan (duktus limfatikus dekster) 

: Pembuluh limfa kanan terbentuk dari cairan limfa 

yang berasal dari daerah kepala dan leher bagian kanan, 

dada kanan, lengan kanan, jantung dan paru-paru yang 

terkumpul dalam pembuluh limfa. Pembuluh limfa 

kanan bermuara di pembuluh balik (vena) subklavia 

kanan. 

2) Pembuluh limfa kiri (duktus limfatikus toraksikus) 

: Pembuluh limfa kiri disebut juga pembuluh dada, 

panjang 38 – 45 cm.  Pembuluh limfa kiri terbentuk 

dari cairan limfa yang berasal dari kepala dan leher 

bagian kiri dan dada kiri, lengan kiri, dan tubuh bagian 

bawah. Pembuluh getah bening dari tubuh bagian 

bawah bersatu di depan vertebra lumbal 2, membentuk 

pembuluh disebut cisterna chyli, yang berlanjut ke atas 

depan tulang belakang sebagai saluran toraks. 

Pembuluh limfa ini bermuara di vena subklavia kiri. 

 

c. Cairan Limfe (Getah Bening)  

Semua jaringan dalam tubuh mengandung 

banyak cairan jaringan yang berasal dari darah dan 

seluruh kandungannya beserta hasil sekresi sel berupa 

bahan-bahan yang telah dipergunakan dan akan 

dibuang. Sekitar 21 liter cairan plasma keluar dari 

kapiler dan masuk ke dalam jaringan. Untuk menjaga 

komposisi dan volume cairan dalam jaringan dan 

pembuluh darah, maka cairan jaringan ini  akan 

diabsorpsi kembali ke dalam pembuluh darah. Cairan 

yang tidak terabsorpsi berjumlah sekitar 3 liter 

perhari akan masuk ke dalam pembuluh limfatik dan 

menjadi cairan limfe atau getah bening. sebab  

sebagian besar protein plasma terlalu besar 

meninggalkan pembuluh darah, cairan interstitial 

hanya berisi sedikit jumlah protein. Protein yang 

meninggalkan plasma darah tidak bisa kembali ke 

darah melalui difusi sebab  gradien konsentrasi 

(protein tingkat tinggi di dalam kapiler darah, tingkat 

rendah di luar) menentang gerakan ini . Namun, 

protein dapat bergerak dengan mudah melalui kapiler 

limfatik yang lebih permeabel ke dalam getah bening. 

Cairan limfe merupakan cairan yang jernih 

kekuningan dengan komposisi menyerupai plasma 

dan cairan interstisial. Tergantung di mana getah 

bening diproduksi, komposisi getah bening dapat 

bervariasi (misalnya getah bening yang diproduksi di 

sistem pencernaan kaya akan lemak).  

Aliran limfe  sekitar 100 ml /jam melalui 

ductus torasikus dan sekitar 20 ml/jam mengalir ke 

dalam sirkulasi melalui saluran lain, sehingga 

diperkirakan aliran limfe 120 ml/jam atau 2-3 liter per 

hari. Cairan limfe juga mengandung banyak zat lain 

termasuk ; 1) Protein, trigliserida, mineral, nutrien, 

dan substansi lain, yang memberi nutrisi pada 

jaringan, 2) Sel rusak, sel kanker, dan partikel asing 

(seperti bakteri dan virus) yang mungkin masuk ke 

dalam cairan jaringan  yang akan di filtrasi dan 

dihancurkan oleh limfonodus. Selain itu cairan limfe 


juga mengandung limfosit yang beredar dalam sistem 

limfatis. 

 

d. Jaringan dan Organ Limfatik  

Organ dan jaringan limfatik yang didistribusikan 

diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan 

fungsinya. Organ limfatik primer yaitu  area di mana sel 

punca membelah dan menjadi imunokompeten, yaitu, 

mampu meningkatkan respons imun. Organ limfatik 

primer yaitu  sumsum tulang merah (dalam tulang pipih 

dan epifisis tulang panjang orang dewasa) dan timus. Sel 

induk berpotensi majemuk di sumsum tulang merah 

menimbulkan matang, sel B imunokompeten dan sel pra-

T. Sel pra-T pada gilirannya bermigrasi ke timus, di 

mana mereka menjadi imunokompeten sel T.  

Organ dan jaringan limfatik sekunder yaitu  area 

di mana sebagian besar respon imun terjadi. Mereka 

termasuk kelenjar getah bening, itu limpa, dan nodul 

limfatik (folikel). timus, kelenjar getah bening, dan 

limpa dianggap organ sebab  masing-masing dikelilingi 

oleh a kapsul jaringan ikat; kelenjar getah bening, 

sebaliknya, tidak dianggap organ sebab  tidak memiliki 

kapsul. 

1) Sumsum Tulang Merah 

Di dalam embrio, sel darah dibuat di kantung kuning 

telur. Saat perkembangan berlanjut, fungsi ini diambil 

alih oleh limpa, kelenjar getah bening, dan hati. 

Belakangan, sumsum tulang mengambil alih sebagian 

besar fungsi hematopoietik, meskipun pada tahap akhir 

dari diferensiasi beberapa sel dapat terjadi di organ lain.

Sumsum tulang merah yaitu  kumpulan sel yang 

longgar di mana hematopoiesis terjadi, dan sumsum 

tulang kuning yaitu  tempat penyimpanan energi, yang 

sebagian besar terdiri dari sel-sel lemak. Sumsum tulang 

merah merupakan jaringan penghasil limfosit B dan T. 

Sel B mengalami hampir semua perkembangannya di 

sumsum tulang merah, sedangkan sel T yang belum 

matang disebut timosit, meninggalkan sumsum tulang 

dan sebagian besar matang di kelenjar timus. Limfosit-

limfosit ini berperan penting untuk melawan penyakit 

2) Kelenjar Timus 

Timus memiliki fungsi spesifik, yaitu tempat 

perkembangan limfosit yang dihasilkan dari sumsum 

merah untuk menjadi limfosit T. Timus tidak berperan 

dalam memerangi antigen secara langsung seperti pada 

organorgan limfoid yang lain. Untuk memberikan 

kekebalan pada limfosit T ini, maka timus 

mensekresikan hormon tipopoietin. 

Timus terletak tepat mediastinum antara sternum 

dan aorta. (Gambar 4).  Satu pembungkus