Imunologi berasal dari Bahasa latin yang
terdiri dari dua kata yaitu immunis da logos.
Immunis yang berarti kebal atau bebas, logos
berarti ilmu. Kata immunis dahulu dipakai oleh
raja Romawi untuk menyebut warganya yang
bebas.
Imunologi sudah dikenal sejak ratusan
tahun sebelum masehi, Raja Mithridates
Eupatoris VI seorang Raja Yunani pada 132-63 SM
sebagaia orang pertama ahli imunologi di dunia.
Saat itu Raja Mithridates Eupatoris VI merasa
cemas pada masa pemerintahannya musuh-
musuh yang tidak nampak olehnya suatu saat
akan membunuhnya dengan menggunakan racun.
Sang raja mengebalkan dirinya dengan mencari
segala jenis racun yang ada pada saat itu dan
meminumnya sedikit demi sedikit sehingga
dirinya kebal terhadap racun ini . usaha
pengebalan diri terhadap racun yang dilakukan
Raja Yunani ini dinamakan mithridatisme.
Sebutan imunitas pertama kali diketahui
saat terjadi wabah di Athena tahun 430 SM.
Thuchydides ahli sejarah perang Peloponnesia
menggambarkan terjadinya wabah di Athena,
orang yang sembuh dari penyakit sebelumnya
mengobati penyakit tanpa terkena penyakit
sekali lagi.
Pada abad ke-12, bangsa Cina juga
menerapkan pengetahuan yang sama untuk
menanggulangi wabah penyakit cacar. Cara
pencegahan penularan ini kemudian dikenal
dengan istilah variolasi.
Pada tahun 1798, Edward Jenner
mengamati bahwa seseorang dapat terhindar
dari infeksi variola secara alamiah, bila ia telah
terpajan sebelumnya dengan cacar sapi (cow
pox). Sejak saat itu, mulai dipakai vaksin cacar
walaupun pada waktu itu belum diketahui
bagaimana mekanisme yang sebenarnya terjadi.
Memang imunologi tidak akan maju bila tidak
diiringi dengan kemajuan dalam bidang
teknologi. Dengan ditemukannya mikroskop
maka kemajuan dalam bidang mikrobiologi
meningkat dan mulai dapat ditelusuri pemicu
penyakit infeksi.
Penelitian ilmiah mengenai imunologi baru
dimulai setelah Louis Pasteur pada tahun 1880
menemukan pemicu penyakit infeksi dan
dapat membiak mikroorganisme serta
menetapkan teori kuman (germ theory)
penyakit. Penemuan ini kemudian dilanjutkan
dengan diperolehnya vaksin rabies pada manusia
tahun 1885.
Imunologi merupakan salah satu bidang
ilmu yang mempelajari tentang mekanisme dari
seluler, molecular, serta fungsional system
imun. Imunologi berakar dari Imunitas atau
kekebalan dari penyakit tertentu akibat adanya
rangsangan molekul asing dari luar maupun dari
dalam tubuh hewan atau manusia, baik yang
bersifat infeksius maupun kemudian juga
termasuk non-infeksius. Imunologi juga berarti
ilmu yang mempelajari kemampuan tubuh untuk
melawan atau mempertahankan dari serangan
patogen atau organisme yang memicu
penyakit.
Tubuh memerlukan imunitas atau
kekebalan agar tidak mudah atau terhindar dari
serangan penyakit yang dapat menghambat
fungsi organ tubuh. Salah satu bentuk dari
imunitas yaitu adanya antibodi yang di hasilkan
oleh sel-sel leukosit atau sel darah putih. Sel
darah putih bekerja dengan cara mengikat dan
kemudian menghancurkan sel-sel patogen atau
pemicu penyakit.
Immunitas (imunitas) selanjutnya dipakai
untuk suatu pengertian yang mengarah pada
perlindungan dan kekebalan terhadap suatu
penyakit, dan lebih spesifik penyakit infeksi.
Konsep imunitas yang berarti perlindungan dan
kekebalan sesungguhnya telah dikenal oleh
manusia sejak jaman dahulu.
Sistem imun yaitu system dalam tubuh
manusia yang berperan dalam pertahanan diri,
sementara itu imunologi merupakan cabang ilmu
yg focus mempelajari tentang fungsi pertahan
tubuh, antigen, antibody. Ilmu ini menekankan
peran imunitas, baik terhadap reaksi yang
terjadi pada tubuh kita. Mulai dari reaksi
hieprsensitif, penolakan jaringan ataupun alergi.
Istilah inilah yang kemudian lebih sering dikenal
dengan isltilah system imun.
C. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUNOLOGI
Manusia dikaruniai wujud yang sempurna,
salah satunya yaitu dengan memiliki anatomi
dan fisiologi yang luar biasa sangat
menakjubkan. Di dalam tubuh manusia ada
berbagai macam organ tubuh, sel, saraf, yang
berkerja bersama-sama dan saling berhubungan
satu sama lain. Salah satunya yaitu kemampuan
tubuh dalam mempertahankan diri dari virus,
bakteri, parasite, dan jamur. Lemahnya system
imun seseorang, akan membuat manusia mudah
terserang penyakit tertentu salah satunya mudah
terkena kanker.
Berikut yaitu organ yang paling
berpengaruh dalam system imun. Sistem imun
merupakan system pertahan diri tubh kita
terhadap infeksi. Baik itu infeksi yang sifatnya
makromolekul asing sampai serangan organisme
seperti parasite, virus dan bakteri. kekebalan
imun di dalam tubuh berfungsi untuk melawan
bakteri dan virus jahat yang masuk di dalam
tubuh. Peran imun juga mampu meminimalisir
bakteri yang berkembang menjadi tumor. Imun
juga mampu melawan protein tubuh dan molekul
lain yang ada pada gangguan autoimun.
Secara garis besar, organ dan jaringan
system imun manusia terdiri dari:
1. Adenoid
Adenoid terletak di belakang saluran
rongga hidung. Bentuknya berupa kelenjar.
Adenoid berfungsi melawan infeksi dan
kuman yang masuk melalui hidung dan mulut.
Kelenjar adenoid yang tidak mampu
mengatasi virus dan bakteri yang masuk,
dapat menimbulkan pembengkakan yang
disebut dengan adenoitis.
2. Sumsum Tulang Belakang
Sumsum tulang belakang yaitu organ
tempat memproduksi sel darah baru. sumsum
tulang belakang termasuk ke dalam jaringan
limfatik, sebab mampu memproses limfosit
muda, menjadi limfosit T dan limfosit B.
Pada sumsum tulang banyak ditemukan sel
imun yang dihasilkan oleh sel induk tulang
belakang.
3. Kelenjar Limfa (Getah Bening)
Kelenjar limfa fungsinya membawa
limfosit ke bagian organ limfoid dan aliran
darah. Kelenjar getah bening mengalir ke
kelenjar getah kapiler. Getha kapiler
memiliki lapisan yang tipis dan memiliki
banyak lubang kecil. Lubang kecil inilah yang
menjadi jalan gas, nutrisi dan air lewat
masuk disekitarnya. Ada beberapa titik yang
sering digunakan getah bening berkumpul,
yaitu dileher, selangkangan, para-aorta dan
di axilae. Tempat-tempat jika terjadi
penumpukan memunculkan benjolan hingga
ke permukaan kulit.
4. Peyers Patches
Peyers Patches terletak di usus halus.
Peyers Patches sebenarnya masih termasuk
jaringan limfoid.
5. Pembuluh Limpa
Limpa terletak di rongga perut. Di
pembuluh limpa ada cairan yang disebut
cairan limpa yang berasal dari cairan
ekstrasel (Cairan darah yang meresap dari
kapiler darah). Sama seperti usus, cairan
limpa juga mengandung lemak. Lemak yang
ada di usus diangkut oleh pembuluh
limpa.
Pembuluh limpa memiliki cabang halus
yang bagian ujungnya terbuka. Lokasinya di
sela- sela otot. Bentuk pembuluh limpa mirip
dengan vena yang memiliki katup banyak.
Pembuluh limpa terbagi menjadi 2 bagian,
yaitu limpa kanan (Dada kanan) dan limpa
kiri (Dada kiri). Fungsi pembuluh limpa kanan
sebagai penampung cairan limpa dari kepala,
leher, dada, paru, dan lengan sisi kanan.
Sebaliknya, pembuluh limpa kiri menampung
cairan limpa dari kepala, kemudian ke leher,
dada, lengan, dan tubuh bagian bawah sisi
kiri.
6. Glandula Thymus
Glandula thymus berfungsi pada proses
sekresi hormone thymopoetin dan thymosin.
Dua hormon inilah yang akan mempengaruhi
perkembangan limfosit. Limfosit terbagi
menjadi Limfosit T Sitotoksik, Limfosit T
Helper, Limfosit B, dan Sel plasma. Hasil
produksi glandula thymus akan mematurasi
(mematangkan) Limfosit T ke jaringan Limfa
lainnya.
Limfosit T Sitotoksik berfungsi
memonitoring sel tubuh. Limfosit T Sitotoksik
akan merespon lebih aktif saat ada antigen
permukaan yang bersifat abnormal. Sel ini
akan menyerang dan menghancurkan sel
abnormal yang masuk. Sementara itu,
Limfosit T Helper akan bekerja lebih agresif
saat dirangsang dengan antigen presenting
sel (semacam makrofag). Disinilah T Helper
melepaskan factor yang mendorong
proliferasi sel Limfosit B. saat Limfosit B
berubah menjadi sel memori dan sel plasma,
ia akan memproduksi antibody. Lain halnya
dengan limfosit, sel plasma memiliki
reticulum endoplamik kasar yang banyak.
Reticulum endoplamik kasar inilah yang
bekerja untuk memproduksi antibody.
7. Nodus Limfatikus
Nodus Limfatikus atau Limfonodi
mengandung makrogfag dan limfosit dalam
jumlah banyak. Fungsi Limfatikus sebagai
kekebalan tubuh yang melawan
mikroorganisme. Lokasi Limfatikus di system
Limfatik.
8. Tonsil (Amandel)
tonsil yaitu organ yang paling sering
memperoleh paparan benda asing dan
potagen. Tonsil atau yang sering disebut
amandel, terletak di kerongkongan sebelah
kiri dan kanan belakang rongga mulut. Tonsil
merupakan bagian jaringan kekebalan tubuh
dari serangan benda asing dan potagen
berbahaya.
Benda asing dan potagen yang masuk
kemudian dimasukkan ke sel Limfoit. Oleh
sebab itu, imun tonsil sangat penting,
terutama pada anak-anak. Struktur
imunologis tonsil paling besar ditemukan
pada anak-anak usia 4 sampai 10 tahun.
Sementara itu, pada usia 60 tahun ke atas,
tonsil mengalami penurunan dan fungsinya
akan digantikan dengan jaringan lain.
Anak di bawah usia 6 tahun, terutama
anak-anak balita, sering memasukkan
berbagai macam ke dalam mulutnya. Untuk
menjaga ketahanan tubuh, kelenjar tonsil
pada batita memproduksi lebih banyak sel
imun. Oleh sebab nya, meskipun balita
sering memasukkan benda asing ke dalam
mulut, si anak dapat terbebas dari penyakit.
Apabila terjadi gangguang akibat peradangan
tonsil, anak jatuh demam dan sulit menelan
makanan.
9. Limfosit
Limfosit merupakan jenis sel darah
putih yang berfungsi melawan infeksi. Sel
darah ini bekerja dan merespon benda asing
yang ada di dalam darah. Limfosit memiliki
dua komponen, yaitu pulpa merah dan pulpa
putih. Pulpa merah ada di sinus dan
berfungsi sebagai organ filtrasi, yaitu
menghancurkan darah yang sudah tua dan
rusak dengan bantuan makrofag. darah tua
dan darah rusak jika dibiarkan memiliki
kecenderungan untuk merusak.
Pada pulpa putih ada limfosit dan
makrofag. Benda asing yang masuk di pulpa
putih dapat menstimulasi limfosit. Limfosit
di dalam pulpa putih berfungsi untuk
mengidentifikasi antigen. Pulpa putih juga
berfungsi memproduksi antibody untuk
melawan infeksi dan mengaktifkan respon
imunologi terhadap antigen di dalam darah.
Pada dasarnya, semua jenis sel darah,
termasuk imun seperti limfosit dibentuk di
sumsum tulang belakang. Dari hasil proses
ini Sebagian menjadi tipe lain, dan
Sebagian lagi menjadi sel imun disebut
fagosit.
SISTEM IMUNITAS NON
SPESIFIK
1. Pengetian Sistem imunitas Non Spesifik
Tubuh manusia memiliki suatu sistem
pertahanan terhadap benda asing dan patogen
misalnya bakteri, virus, protozoa, dan parasite
pertahanan ini disebut sebagai sistem imunitas.
Komponen-komponen sistem imunitas bermacam-
macam dan ada dalam jaringan limforetikuler
yang letaknya tersebar diseluruh tubuh diantaranya
yaitu : sumsum tulang, kelenjar limfe limpa, timus,
saluran nafas, saluran pencernaan, dan organ
lainnya.
Imunitas yaitu suatu kemampuan yang secara
alami dimiliki oleh tubuh untuk melawan
mikroorganisme atau toksin yang masuk kedalam
jaringan dan organ tubuh. Sistem imun memiliki
banyak fungsi, yaitu untuk pertahanan tubuh dari
benda asing, membersihkan sel mati, memperbaiki
jaringan rusak, dan juga mencegah aktifnya sel
kanker dan tumor didalam tubuh. Respon imun
timbul sebab adanya reaksi yang dikoordinasi sel-
sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan
lainnya. Sistem imun terdiri atas sistem imun
alamiah atau non spesifik (natural/innate/native)
dan sistem imun didapat atau spesifik
(adaptive/acquired). Baik sistem imun non spesifik
maupun spesifik memiliki peran masing-masing,
keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan namun
sebenarnya ke dua sistem ini memiliki kerja
sama yang erat.
Sistem Imunnitas non spesifik merupaka sistem
pertahanan tubuh terhadap berbagai serangan
substansi asing (mikroorganisme, parasite, alergi dll)
tanpa memerlukan pengenalan terlebih dahulu.
Dengan kata lain sistem imunitas non spesifik/
bawaan akan bekerja dan merespon benda asing
walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar
zat ini .
Imunitas non spesifik memiliki sifat universal
terhadap segala macam benda asing yang masuk
kedalam tubuh. Sistem imun ini memiliki spektrum
yang luas dan telah ada dan menjalankan fungsinya
sejak dilahirkan. Sistem imun non spesifik berperan
untuk merespon antigen/ benda asing yang
pertamaa kali masuk kedalam tubuh. Sebagai
pertahanan tubuh yang pertama dilakukan dengan
pertahanan fisik dan kimiawi sebagai contoh yaitu
kelanjar air mata memproduksi enzim lisozim
sebagai anti bakteri, flora normal didalam vagina,
perubahan pH dalam saluran pencernaan.
Selain pertahanan berupa fisik dan kimiawi
dalam sistem imunitas non spesifik juga
membutuhkan pertahanan lapis kedua yang
dilakukan oleh berbagai jenis protein yang larut
didalam darah diantaranya yaitu : mediator
inflamasi, sitokin, sel natral killer (NK), sel dendrit,
makrofag dan neutrophil.
2. Mekanisme sistem imunitas non spesifik
Mekanisme kerja dari sistem imunitas non
spesifik bersifat siap setiap saat dan memiliki respon
yang cepat dan berlangsung sesaat setelah ada
paparan dari antigen. Sistem imuitas non spesifik
bertindak sebagai pertahanan pertama dalam
menghalau infeksi dari antigen, sistem imunitas ini
tidak memerlukan paparan dari antigen untuk
bekerja. Sifat lain yaitu tidak spesifik dalam artian
kerja dari sistem imunitas ini tidak ditujukan
terhadap antigen / mikroorganisme tertentu.
Sistem imunitas non spesifik memiliki 4
mekanisme pertahanan dalam menghadapi paparan
dari antigen/ mikroorganisme, yaitu :
a. Pertahanan fisik/ Mekanik
Pertahanan fisik dalam sistem imunitas
non spesifik berupa lapisan mukosa/ lendir,
silia pada saluran pernafasan selaput lendir
saluran pernapasan dan berfungsi untuk
mengeluarkan benda asing (mikroorganisme
atau debu) yang terperangkap dari udara
pernapasan melalui sistem transportasi
mukosiliaris. Mekanisme batuk dan
bersin termasuk kedalam pertahanan fisik
dalam menghadapi invas patogen dengan
batuk dan bersin merupakan suatu usaha
untuk mengeluarkan benda asing yang masuk
ke dalam tubuhnya melalui sistem
pernapasan. Pertahanan fisik berperan dalam
melindungi tubuh dari patogen yang berasal
dari lingkungan.
b. Pertahanan biokimia
Pertahanan biokimia dalam sistem
imunitas non spesifik berupa zat-zat kimia
yang akan mengeliminasi mikororganisme
yang lolos dari pertahanan fisik/ mekanik.
Berbagai macam bentuk pertahanan ini
antara lain : pH asam yang disekersikan
lambung, kelenjar keringat, serta ASI dan
saliva. ASI mengandung antibodi yang dapat
melindungi bayi dari infeksi.
c. Pertahanan humoral
Pertahanan humoral melibatkan
molekul-molekul yang laut untuk
megeliminasi dan melawan mikroba yang
berhasil masuk kedalam tubuh. Pertahanan
humoral akan bantyak muncul pada bagian
tubuh yang mengalami . dilalui oleh mikroba.
Contoh dari pertahana humoral yaitu
interferon dan sistem komplemen.
d. Pertahanan seluler
Dalam peertahanan seluler banyak
melibatkan sel-sel sistem imun untuk
melawan mikroorganisme. Sel-sel ini
banyak ditemukan dalam sirkulasi darah dan
jaringan. .Contoh sel yang dapat ditemukan
dalam sirkulasi yaitu neutrofil, eosinofil,
basofil, monosit, sel T, sel B, sel NK, sel
darah merah, dan trombosit. Contoh sel-sel
dalam jaringan yaitu eosinofil, sel mast,
makrofag, sel T, sel plasma, dan sel NK
(Natural Killer).
3. Komponen sistem imun non spesifik
ada beberapa sel yang termasuk dalam
sistem imunitas non spesifik yaitu:
a. Sel epitel
Sel epitel merupakan bagian pertama
jika terjadi infeksi baik oleh antigen maupun
mikroorganisme. Peranan dari sel epitrl ini
yaitu sebagai perlindungan secara kimiawi,
mekanik dan biologis. Sel epitel banyak
ada pada kulit, saluran pencernaan,
paru-paru, mata hidung dan mulut.
b. Sel fagosit
Fagositosis merupakan istilah secara
harfiah yaitu memakan dan dapat
dianalogikan dengan proses pinositosis.
Fagositosis merupakan suatu proses dan cara
untuk memekan bakteri atau benda asing
yang dilakuakn dimanasetelah benda asing
melekat dipermukaan makrofag, maka
makrofag akan membentuk sitoplasma
melekuk kedalam untuk membungkus bakteri
dan benda asing ini .
Gambar 2.2. Proses fagositosis
bakteri oleh makrofag
Sel-sel fagosistosis menelan dan
mencerna (fagositosis) benda asing yang
masuk ke dalam tubuh. Fagositosis dilakukan
oleh sel darah putih. Jenis-jenis sel darah
putih yang dapat melakukan fagositosis
yaitu neutrofil, monosit, eosinofil, dan sel
pembuluh alami. Jika sel telah dirusak oleh
antigen maka sel ini akan mengirimkan
sinyal kimiawi yang menarik sel fagosit untuk
datang. Sel fagosit akan memasuki jaringan
yang terinfeksi lalu menelan dan mencerna
semua mikroba yang ada.salah satu contoh
sel fagpsit yaitu makrofag. Makrofag
merupakan sel fagosit mononuclear yang
fungsi utamanya yaitu fagositosis
mikroorganisme dan kompleks molekul asing
lainnya.
Makrofag diproduksi di sumsum tulang
belakang dari sel induk myeloid yang
mengalami proliferasi. Didalam darah
makrofag diaktifasi oleh berbagai macam
stimulant termasuk mikroba dan produknya,
kompleks antigen antibodi, inflamasi, sitokin
dan trauma.
Dalam kerjanya makrofag tidak sendirian,
namun akan berinteraksi dengan limfosit
ditempat yang mengalami infeksi. Fagositosis
yang efektif pada invasi kuman dini akan
dapat mencegah timbulnya infeksi. Sel
fagosit dalam kerjanya juga berinteraksi
dengan komplemen dan sistem imun spesifik.
c. Sel eosinophil
Eosinofil merupakan salah satu bagian
dari sel darah putih yang berfungsi untuk
melindungi diri dari parasit dan penyakit,
dan juga bertanggung jawab untuk
memunculkan reaksi alergi. Salah satu jenis
dari sel darah putih yaitu eosinofil.
Eosinofil dapat ditemukan dalam semua
jaringan di seluruh tubuh, dan dapat hidup
selama beberapa minggu sebelum sumsum
tulang belakang kembali mensuplai sel darah
putih ke tubuh.
Sebagai bagian dari sel darah putih,
eosinofil memiliki peran untuk melindungi
tubuh dari serangan penyakit. Peran spesifik
dari eosinofil yaitu melawan parasit yang
lebih besar (misalnya cacing tambang) dan
membantu memunculkan sekaligus
mengontrol respon imun terhadap alergi.
Sel-sel eosinofil merupakan sel granulosit
yang juga berperan dalam respon imun. Sel
ini memiliki 2 lobus pada sitoplasmanya.
Eosinofil dapat mengeluarkan protein yang
toksik terhadap patogen. Selain itu sel
eosinofil juga berperan dalam peradangan
bersama-sama dengan sel mast dan basofil.
Eosinofil sendiri memiliki fungsi untuk
menyerang bakteri, membuang sisa sel yang
22
rusak, dan mengatur pelepasan zat kimia
pada saat menyerang bakteri.
d. Sel mast
Mastosit sangat mirip dengan granulosit
basofil, salah satu golongan sel darah
putih dan membuat banyak spekulasi bahwa
mastosit dan basofil berasal dari jaringan
yang sama Basofil meninggalkan sumsum
tulang setelah dewasa sedangkan mastosit
teredar dalam bentuk yang belum matang.
Sel mast banyak mengandung granula yang
mengandung histamin dan heparin yang
berperan langsung dalam reaksi alergi dan
hipersensivitas
Sel mast sangat dikenal peranannya
dalam proses alergi. Sel-sel ini banyak
ada pada tempat-tempat yang sering
berhubungan dengan lingkungan luar, seperti
kulit dan saluran pernafasan. Mekanisme sel
mast dalam mencegah infeksi dilakukan
dengan cara memproduksi protein inflamasi,
vasodilatasi dan rekrutmen sel-sel fagositik
ke tempat infeksi. Selain itu sel mast dapat
melepaskan histamine yang berperan dalam
proses alergi. Hal ini akan kita bahas lebih
lanjut dalam pertemuan yang membahas
hipersensitivitas.
e. Sel Natural killer (NK)
Sel natural killer merupakan bagian dari
respon bawaan yang termasuk dalam kelas
limfosit. Sel natural killer atau sel NK
merupkan bagian penting dari sistem imun
seseorang. Sel natural killer merupakan
turunan limfosit dan bagian dari sel darah
putih yang bisa membantu membunuh sel
berbahaya dalam tubuh. Jumlah sel NK yang
dimiliki manusia sekitar 10-15% dari seluruh
limfosit perifer darah. Sel natural killer
diproduksi di sumsum tulang belakang,
kelenjar timus, tonsil, dan juga kelenjar
limpa. Sel-sel ini juga disebut sel pembunuh
alami sebab sel-sel ini dapat bertindak
segera tanpa perlu aktivasi. Sel target
(kanker atau sel yang terinfeksi virus) akan
mengalami kematian. Jumlah sel NK dalam
tubuh hanya sekitar 10-15% dari semua
limfosit dalam darah.
Sel natural killer ini memiliki kemampuan
untuk membaca sinyal keberadaan sel
abnormal dan sel patogen. Sinyal ini menjadi
perintah bagi sel Natural Killer untuk
menyerang sel dan mematikannya. Dan akan
bekerja menghancurkan sel patogen asing
yang masuk ke dalam tubuh sebelum sel
patogen ini menyerang sel sehat dan
membentuk infeksi. Sel ini juga efektif untuk
cara mencegah kanker. sebab sel ini akan
agresif menyerang sel-sel abnormal dan
mencegah sel melakukan pembelahan diri
masif atau proliferasi dan proses pelepasan
diri dari koloni untuk menyebar atau
metastasis. Sel Natural Killer memiliki
kemampuan dalam membedakan sel sehat
dan sel tidak normal. Sel ini dapat dengan
efektif membaca DNA nukleus dan
memastikan apakah sel dihadapannya dalah
sel sehat atau sel abnormal. Cara kerja sel
natural killer terbagi menjadi 5 tahapan
yaitu : 1). sel Natural Killer bekerja
berkeliling mengikuti saluran limfosit
menuju seluruh bagian tubuh. sel ini cukup
peka terhadap sinyal keberadaan sel kanker
dalam tubuh. Tidak hanya sel kanker,
sel Natural Killer juga melawan serangan
akibat bakteri, virus dan mikroba lain. 2).
Sel Natural Killer membaca sinyal
keberadaan sel yang tidak sebagaimana
biasa/ abnormal. Sel dapat mengidentifikasi
dari senyawa yang diproduksi, perilakunya,
formasi serta bentuknya, hingga komponen
protein yang ada. 3). Sel Natural Killer akan
mendekat pada sel asing untuk membaca
nukleus dari sel asing ini . Apabila sel
asing ini menunjukan jejak DNA yang
berbeda dari sel tubuh manusia
bersangkutan, maka sel Natural Killer akan
membacanya sebagai sel yang harus
dimatikan. 4). Sel Natural Killer membentuk
kelompok hingga muncul semacam koloni
yang menyerang masif dan terarah pada sel
abnormal ini . Sel akan menyerang
membran dari sel asing ini , kemudian
secara khusus mengincak nukleus sel hingga
sel asing ini meledak dan hancur. 5).
Sel Natural Killer juga akan melepas
semacam hormon yang bekerja memberi
sinyal bagi sel-sel sistem imun lain untuk
turut menyerang sel asing ini . Semakin
kuat sel asing yang dihadapi, semakin banyak
pula hormon dilepas dan semakin besar
koloni sistem imun yang akan dihadirkan.
f. Protein Komplemen
Komplemen merupakan sistem yang
terdiri atas sejumlah protein yang berperan
dalam pertahanan hospes, baik dalam sistem
imun nonspesifik maupun sistem imun
spesifik. Aktivasi komplemen merupakan
usaha tubuh untuk menghancurkan antigen
asing. Komplemen merupakan salah satu
sistem enzim serum yang berfungsi antara
lain untuk lisis bakteri, oposonisasi yang
meningkatkan fagositosis partikel antigen,
mengikat reseptor komplemen spesifik pada
sel sistem imun sehingga memicu fungsi sel
spesifik untuk memproduksi antibodi.
Komplemen berfungsi mengaktifkan
fagosit dan membantu destruktif bakteri dan
parasit sebab komplemen dapat
menghancurkan sel membran bakteri.
Komplemen merupakan faktor kemotaktik
yang mengarahkan makrofag ke tempat
bakteri, komponen yang mengendap pada
permukaan bakteri sehingga memudahkan
makrofag untuk mengenal dan
memfagositosis (opsonisasi).
Sistem komplemen yaitu kumpulan dari
protein terikat membran dan protein dalam
darah yang penting dalam pertahanan.
Protein ini dapat membantu proses
opsonisasi antibiotik terhadap antigen.
Diketahui bahwa protein ini ada di
plasma darah dan banyak diproduksi oleh sel-
sel hati. Pada tubuh manusia diketahui ada
lebih dari 30 protein komplemen. Hampir
mirip dengan komponen respon imun lainnya,
maka protein komplemen akan aktif jika ada
patogen. Demikian pula sebaliknya tidak
aktif jika tidak ada patogen.
Aktivasi sistem komplemen memicu
interaksi berantai yang menghasilkan
berbagai substansi biologik aktif yang
diakhiri dengan lisisnya membran sel
antigen. Aktivasi sistemkomplemen ini
selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh,
sebaliknya juga dapat membahayakan
bahkan memicu kematian
Gambar 2.3. Jalur aktivasi komplemen
Aktivasi komplemen terjadi melalui 3
jalur, yaitu jalur klasik, jalur alternatif dan
jalur lektin. Ketiga jenis jalur aktivasi
komplemen ini memiliki persamaan yaitu
pada terbentuknya C3 convertase, yang
membelah molekul C3 menjadi C3b (fragmen
yang besar) dan C3a (fragmen yang lebih
kecil). Fungsi komplemen sebagai
anaphylatoxins diperankan oleh fragmen C3a
C4a dan C5a. Fragmen ini berperan untuk
menginduksi inflamasi melalui aktivasi sel
mast dan neutrofil. Ketiga fragmen ini
berikatan dengan sel mast dan menginduksi
terjadinya degranulasi dengan pelepasan
mediator-mediator vasoaktif seperti
histamin
C. Rangkuman
Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan
terhadap benda asing dan patogen misalnya bakteri,
virus, protozoa, dan parasite pertahanan ini disebut
sebagai sistem imunitas. Sistem imun terdiri atas sistem
imun alamiah atau non spesifik (natural/innate/native)
dan sistem imun didapat atau spesifik
(adaptive/acquired). Sistem Imunnitas non spesifik
merupaka sistem pertahanan tubuh terhadap berbagai
serangan substansi asing. Imunitas non spesifik memiliki
sifat universal, merespon benda asing walaupun tubuh
sebelumnya tidak pernah terpapar zat asing, memiliki
spektrum yang luas dan telah ada dan menjalankan
fungsinya sejak dilahirkan, memiliki respon yang cepat
dan berlangsung sesaat setelah ada paparan dari
antigen. Sistem imunitas non spesifik memiliki 4
mekanisme pertahanan dalam menghadapi paparan dari
antigen/ mikroorganisme, yaitu : pertahanan fisik/
mekanik, pertahanan biokimia, pertahanan humoral,
pertahanan seluler. Komponen sistem imunitas non
spesifik terdiri dari sel epitel, sel fagosit, sel eosinophil,
sel mast, sel natural killer, dan protein komplemen.
F. Glosarium
Patogen : mikroorganisme parasit yang dapat
memicu penyakit pada inangnya
seperti tubuh manusia
Inflamasi : reaksi kekebalan alami yang dimiliki
tubuh untuk melawan berbagai serangan
penyakit atau mikroorganisme jahat
Sitokin : molekul peptida atau protein yang
berfungsi dalam komunikasi antar sel.
sel natural killer : turunan limfosit yang memiliki
andil sangat besar dalam sistem imun
bawaan
dendrit : bagian neuron yang berfungsi menangkap
rangsangan dalam bentuk impuls dan
menghantarkannya ke akson
makrofag : sel fagosit terpenting dalam sistem imun
yang berasal dari sel monosit dewasa
yang menetap di jaringan
neutrophil : salah satu jenis sel darah putih yang
ada di dalam tubuh manusia
antigen : zat yang dapat merangsang sistem
kekebalan tubuh untuk menghasilkan
antibodi sebagai bentuk perlawanan
31
mukosa : apisan kulit dalam, yang terutup pada
epitelium dan fungsinya sendiri terlibat
dalam proses absorpsi dan proses sekresi.
Antibodi : zat kimia yang beredar di aliran darah dan
termasuk dalam bagian dari sistem
imunitas atau kekebalan tubuh
Interferon: potein alami dari sistem kekebalan
tubuh manusia yang berfungsi melawan
pemicu penyakit (patogen), seperti
bakteri dan virus,
Eosinophil : Salah satu jenis sel darah putih yang dari
kategori granulosit yang berperan
dalam sistem kekebalan dengan
melawan parasit multiselular dan
beberapa infeks
Basofil : salah satu jenis sel darah putih yang
memiliki peran penting sebagai bagian
dari sistem kekebalan tubuh. berperan
penting dalam menghasilkan reaksi
peradangan untuk melawan infeksi dan
turut berperan dalam munculnya reaksi
alergi.
Monosit : Salah satu jenis sel darah putih yang
berfungsi untuk melawan infeksi dan
meningkatkan kekebalan tubuh
Fagositosis : proses seluler dari fagosit dan protista
yang menggulung partikel padat dengan
membran sel dan membentuk fagosom
internal.
Proliferasi : Pertumbuhan dan pertambahan sel yang
sangat cepat (dalam keadaan abnormal)
Inflamasi : eaksi kekebalan alami yang dimiliki tubuh
untuk melawan berbagai serangan
penyakit atau mikroorganisme jahat.
Lobus : bagian korteks serebri yang terletak di
belakang dan berhubungan dengan
penafsiran rangsangan visual.
Hipersensifitas : reaksi dari sistem kekebalan yang
terjadi saat jaringan tubuh sehat
mengalami cidera atau luka.
Vasodilatasi : merupakan pembesaran dari
pembuluh darah di dalam tubuh.
Histamin : salah satu zat kimia yang diproduksi saat
tubuh alami alergi
Lisis : peristiwa pecah atau rusaknya integritas
membran sel dan memicu
keluarnya organel sel.
Anaphylatoxins : fragmen protein yang terbentuk
saat sistem komplemen teraktivasi dan
terdiri dari C3a, C4a, C5a
SISTEM IMUN ADAPTIF
Sistem imun adaptif yaitu kebalikan dari sistem
imun innate (non spesifik). Sistem imun adaptif tidak
dibentuk secara alami, melainkan harus mengalami
proses pajanan (pengenalan) antigen terlebih dahulu.
Meskipun proses pengenalan ini membutuhkan waktu
yang lebih lama, pertahanan yang dihasilkan akan lebih
spesifik. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai
sistem imun spesifik.
Imunitas adaptif merupakan jenis kekebalan yang
sangat maju dan lebih spesifik dengan sifat luar biasa
dalam menginduksi respons "memori" pada paparan
kedua terhadap beberapa antigen, sehingga sangat
efektif dalam pertahanan terhadap infeksi mikroba
patogen. Perbedaan dengan innate yaitu bahwa innate
hanya mengenali struktur penyusun mikroba (jenis
antigen), sementara adaptif dapat mengekspresikan
reseptor yang secara spesifik dapat mengenal berbagai
molekul penyusun mikroba (variasi antigen). Sistem
imun adaptif juga memiliki kemampuan untuk
mengenali self atau non-self yang lebih baik. Setiap zat
yang secara khusus dikenali oleh limfosit atau antibodi
disebut antigen. Respon imun adaptif yang efektif
melibatkan dua kelompok sel utama, yaitu sel limfosit
dan produknya (antibodi), dan antigen-presenting cell
(APC).
1. Jenis Imunitas Adaptif
Imunitas adaptif dibagi menjadi dua, yaitu Imunitas
Humoral dan Imunitas yang Dimediasi oleh Sel (Cell-
Mediated Immunity).
a. Imunitas Humoral
Imunitas ini dimediasi oleh protein-protein
yang disebut antibodi. Antibodi diproduksi oleh sel
plasma, sel hasil diferensiasi limfosit B. Antibodi
yang disekresikan masuk ke dalam sirkulasi dan
cairan mukosa, kemudian menetralisasi dan
mengeliminasi mikroba ekstraselular dan toksinnya.
b. Cell-mediated immunity
Dimediasi oleh jenis limfosit T, yaitu limfosit T
helper dan limfosit T sitotoksik. Limfosit T helper
mengaktivasi sel fagosit untuk menghancurkan
mikroba yang sudah dicerna sebelumnya dan
limfosit T sitotoksik berperan mengeliminasi sel
yang terinfeksi mikroba intraselular (seperti virus
dan bakteri tuberkulosis).
Imunitas
Humoral
Cell-mediated
Immunity
Mikroba
Mikroba
ekstraselular
Mikroba yang
difagosit oleh
makrofag
Mikroba intraselular
(contoh: virus)
Respon
limfosit
Limfosit B
Limfosit T
Helper
Limfosit T
Sitotoksik
Mekanisme
efektor
Antibodi
sekresi
Fungsi
Blokir dan
eliminasi
mikroba
ekstrasel
Eliminasi
mikroba yang
difagosit
Membunuh dan
mengeliminasi
sel terinfeksi
Makrofag
teraktivasi
2. Sumber Imunitas Adaptif
Imunitas seseorang dapat diperoleh secara aktif
maupun pasif. Imunitas aktif yaitu imunitas yang
diperoleh melalui aktivasi sel-sel imun. Hal ini
dapat terjadi melalui infeksi (secara alami), atau
melalui vaksinasi (secara buatan). Imunitas pasif
yaitu imunitas yang diperoleh tanpa perlu aktivasi
sel-sel imun. Imunitas dapat langsung diperoleh
melalui transfer antibodi, baik secara alami
(melalui ibu ke anak) atau buatan (transfer antibodi
monoklonal).
3. Spesifisitas Imunitas Adaptif
Imunitas adaptif memiliki spesifisitas yang
sangat tinggi. Spesifisitas atau kemampuan
mengenali antigen yang dimiliki ini sangat unik.
Walaupun setiap limfosit hanya memiliki satu jenis
reseptor epitop (TCR atau BCR), mereka mampu
mengenali dan membedakan setiap jenis patogen
yang memiliki begitu banyak molekul antigen, di
mana masing-masing dapat memiliki beberapa
epitop.
Dasar spesifisitas dan keragaman yang luar
biasa ini yaitu bahwa limfosit mengekspresikan
reseptor yang terdistribusi secara klonal untuk
antigen, yang berarti bahwa populasi total limfosit
terdiri dari banyak klon yang berbeda (masing-
masing terdiri dari satu sel dan turunannya), dan
setiap klon mengekspresikan reseptor antigen yang
berbeda dari reseptor klon lainnya.
4. Mekanisme Memori
Salah satu keunikan imunitas adaptif yaitu
dapat mengembangkan mekanisme memori. Istilah
memori muncul sebab sel-sel ini mampu mengingat
paparan antigen sebelumnya. saat terjadi
paparan infeksi, imunitas adaptif akan mempelajari
dan mengingat patogen pemicu infeksi ini ,
sehingga dapat memberikan pertahanan dan
perlindungan jangka panjang terhadap infeksi
berulang. Imunitas adaptif meningkatkan respons
yang lebih besar dan lebih efektif terhadap paparan
berulang untuk antigen yang sama.
Respon terhadap paparan pertama, disebut
respon imun primer, diperankan oleh limfosit
naif, yaitu limfosit yang pertama kali terpapar
dengan antigen. Istilah naif mengacu pada sel-sel
yang secara imunologis belum pernah terpapar
oleh antigen sebelumnya. Paparan berikutnya
dengan antigen yang sama memicu respons
yang disebut respons imun sekunder. Respon ini
biasanya lebih cepat, lebih besar, dan lebih
mampu mengeliminasi antigen dibanding respons
primer. Respons sekunder yaitu hasil aktivasi
limfosit memori, yang merupakan sel berumur
panjang yang diinduksi selama respons imun
primer.
Memori juga merupakan salah satu alasan
mengapa vaksin memberikan perlindungan
jangka panjang terhadap infeksi. Vaksinasi
terhadap virus dapat dilakukan menggunakan
virus aktif yang dilemahkan, atau bagian
tertentu dari virus yang tidak aktif. Baik virus
utuh maupun partikel virus yang dilemahkan
sebenarnya tidak dapat memicu infeksi
aktif. Sebaliknya, vaksin ini hanya meniru
keberadaan virus aktif untuk menstimulasi
respons imunitas. Dengan mendapatkan
vaksinasi, tubuh seolah terpapar pada suatu
antigen virus, sehingga menghasilkan antibodi
khusus, dan memperoleh memori tentang virus
ini , tanpa perlu mengalami sakit.
Beberapa gangguan dalam sistem memori imunologi
dapat memicu penyakit autoimun. Mimikri
molekuler dari self-antigen oleh patogen infeksius,
seperti bakteri dan virus, dapat memicu penyakit
autoimun sebab respon imun reaktif silang terhadap
infeksi. Salah satu contoh organisme yang menggunakan
mimikri molekuler untuk bersembunyi dari pertahanan
imunologis yaitu infeksi Streptococcus.
5. Respon Imun Adaptif terhadap Mikroba
Jika sistem imun innate tidak mampu dalam
menghadapi paparan mikroba, respon imun adaptif
akan diaktivasi. Dalam hal ini sistem imun innate dan
adaptif saling bekerjasama. Oleh sebab itu,
mekanisme respon imun adaptif dimulai dari
presentasi antigen oleh APC kepada limfosit T naif
(rekognisi antigen); aktivasi limfosit; eliminasi antigen
melalui imunitas humoral dan selular; regulasi respon
imun (homeostasis); dan mekanisme memori.
a. Rekognisi antigen
Sebelum sampai pada tahap eliminasi, suatu
patogen harus dikenali dahulu, baik struktur
penyusunnya, maupun antigennya. Hal ini
dimaksudkan agar respon yang dihasilkan lebih
spesifik dan efektif. saat terjadi paparan mikroba
(patogen), sel-sel penyaji antigen (APC) khususnya
sel dendritik residen segera menangkap patogen
ini dan membawanya ke organ limfoid
sekunder untuk dipresentasikan ke limfosit T naif.
Antigen protein mikroba diproses dalam sel
dendritik untuk menghasilkan peptida yang akan
dipresentasikan pada permukaan sel yang terikat
Gambar3. 4. Tahapan respon imun adaptif terhadap
mikroba. Respons imun adaptif terjadi dalam beberapa
langkah. Langkah pertama yaitu rekognisi (pengenalan)
antigen pada titik waktu 0 yang mengarah pada aktivasi sel T
naif atau sel B yang secara langsung mengikat antigen. Fase
efektor terdiri dari aktivasi limfosit dan eliminasi antigen yang
berlangsung selama lebih kurang 14 hari. saat antigen telah
dimusnahkan, fase kontraksi (homeostasis( respon imun
dimulai, sebagian besar sel B dan T mati oleh apoptosis dan
hanya sedikit sel berumur panjang yang bertahan dan
memberikan respon imun memori.
pada molekul MHC. Sel T naif akan mengenali
kompleks peptida-MHC ini, dan ini yaitu langkah
pertama dalam inisiasi respons sel T. Di sisi lain,
Protein antigen yang sama juga diproses oleh
limfosit B untuk dipresentasikan ke sel T. Limfosit B
juga dapat memproses antigen polisakarida dan
antigen nonprotein lainnya yang tidak dapat
dilakukan APC dan sel T.
b. Aktivasi limfosit
Sel dendritik aktif mampu
mengekspresikan molekul kostimulator dan
mensekresikan sitokin yang keduanya diperlukan,
selain antigen, untuk menstimulasi proliferasi dan
diferensiasi sel T. Proses ini melibatkan tiga sinyal
utama, yaitu sinyal 1 (aktivasi); sinyal 2
(kostimulasi); dan sinyal 3 (sekresi sitokin).
Sinyal ini memastikan bahwa respons
imun adaptif benar diinduksi oleh mikroba dan
bukan oleh zat yang tidak berbahaya. Sinyal yang
dihasilkan dalam sel T oleh keterlibatan reseptor
antigen dan reseptor kostimulator memicu
transkripsi berbagai gen, yang menyandikan sitokin,
reseptor sitokin, molekul efektor, dan protein yang
mengontrol kelangsungan hidup sel.
saat diaktifkan oleh antigen dan
kostimulator di organ limfoid, sel T naif kemudian
mengeluarkan sitokin yang berfungsi sebagai
growth factor dan merespons sitokin lain yang
disekresikan oleh sel dendritik. Kombinasi sinyal
(antigen, kostimulasi, dan sitokin) merangsang
proliferasi (ekspansi klon) sel T dan diferensiasinya
menjadi sel T efektor.
Gambar 3.5 Tiga sinyal aktivasi sel T. Aktivasi sel
T spesifik-antigen membutuhkan tiga sinyal berbeda.
Sinyal 1 disebut sinyal aktivasi, yaitu pensinyalan
spesifik-antigen yang dimediasi oleh keterlibatan
reseptor sel-T (TCR) dari peptida patogen yang disajikan
oleh molekul MHC. Sinyal 2 yaitu sinyal kostimulatori,
terutama dimediasi oleh interaksi CD28 dengan salah
satu molekul B7 (CD80 dan CD86). Sinyal 3 yaitu sinyal
sekresi sitokin oleh sel dendritik dan sel T, sinyal ini
menstimulasi proliferasi dan diferensiasi sel T.
c. Eliminasi antigen
Dalam mengeliminasi anitgen, sistem imun
adaptif mengembangkan dua mekanisme utama,
yaitu cell-mediated immunity dan imunitas
humoral. Imunitas humoral diperankan oleh
antibodi sementara cell-mediated immunity
diperankan oleh sel T.
1) Cell-mediated immunity
Beberapa sel T efektor yang dihasilkan di
organ limfoid dapat bermigrasi kembali ke
dalam darah dan kemudian ke tempat mana
pun di mana antigen (atau mikroba) berada.
Sel-sel efektor ini diaktifkan kembali oleh
antigen di tempat infeksi dan melakukan
fungsinya untuk mengeliminasi mikroba. Sel T
helper dapat berdiferensiasi menjadi subset sel
efektor yang berbeda dengan fungsi yang
berbeda. Beberapa dari sel T helper merekrut
neutrofil dan leukosit lain ke tempat infeksi; sel
T helper lainnya mengaktifkan makrofag untuk
membunuh mikroba yang difagosit; dan yang
lainnya tetap berada di organ limfoid untuk
membantu aktivasi limfosit B untuk
memproduksi antibodi. Selain sel T hepler, sel
T sitotoksik (CTL) berperan membunuh secara
langsung sel yang terinfeksi atau mengandung
mikroba di sitoplasma. Dengan menghancurkan
sel yang terinfeksi, CTL menghilangkan
reservoir infeksi.
Berikut peran limfosit T dalam
mengeliminasi antigen;
a) Merekrut netrofil dan leukosit lain ke
tempat infeksi;
b) Mengaktifkan makrofag untuk
membunuh mikroba yang difagosit;
c) Membantu aktivasi limfosit B untuk
memproduksi antibodi;
d) Membunuh sel yang terinfeksi virus
oleh sel T sitotoksik.
2) Imunitas Humoral
Imunitas humoral diperankan oleh
antibodi, produk dari limfosit B. Pada saat
aktivasi, sel B berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi sel plasma yang mensekresikan
berbagai kelas antibodi (IgM, IgG, IgE, IgA, IgD)
yang memiliki fungsi berbeda.
Banyak antigen non protein, seperti
polisakarida dan lipid, memiliki beberapa
determinan antigenik (epitop) identik yang
mampu bereaksi secara langsung dengan
reseptor antigen sel B dan memulai aktivasi sel
B tanpa memerlukan bantuan sel T. Antigen
protein biasanya terlipat dan tidak
mengandung epitop identik, sehingga tidak
dapat mengikat reseptor antigen secara
bersamaan, sehingga respons sel B terhadap
antigen protein memerlukan bantuan sel T
helper (CD4+). Sel B menelan antigen protein,
mendegradasinya, dan mempresentasikannya
(peptida) melalui molekul MHC kepada sel T
helper. Sel T helper kemudian mengekspresikan
sitokin dan protein permukaan sel, yang
bekerja sama untuk mengaktifkan sel B.
Aktivasi sel B tanpa bantuan sel T disebut T-
independent dan dengan bantuan sel T disebut
T-dependent.
Gambar 3.6. Respon antibodi T-dependent dan T-
independent. Respons antibodi terhadap antigen protein
memerlukan bantuan sel T, dan antibodi yang dihasilkan
biasanya menunjukkan penggantian isotipe dan memiliki
afinitas tinggi. Antigen non-protein (misalnya, polisakarida)
dapat mengaktifkan sel B tanpa bantuan sel T. Sebagian
besar respons yang bergantung pada T dibuat oleh sel B
folikel, sedangkan sel B zona marginal dan sel B-1 berperan
lebih besar dalam respons yang tidak bergantung pada sel
T (Sumber: Abbas et al., 2016).
Sel B yang diaktivasi secara langsung oleh
antigen non protein biasanya mensekresikan
antibodi dengan fungsi terbatas dan memiliki
afinitas rendah terhadap antigen. Sementara
antigen protein, dengan melibatkan bantuan
sel T, dapat merangsang produksi beberapa
jenis antibodi dengan fungsi berbeda dan
memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap
antigen. Selain itu, antigen protein dapat
menginduksi sel plasma dan sel B memori yang
berumur sangat panjang.
Respons imun humoral bertahan melawan
mikroba dengan berbagai cara. Antibodi dapat
mengikat dan menetralisasi mikroba sehingga
mencegahnya menginfeksi sel. Antibodi dapat
melapisi (opsonisasi) mikroba dan menargetkannya
untuk difagositosis, sebab sel-sel fagosit (neutrofil
dan makrofag) mengekspresikan reseptor spesifik
untuk antibodi (reseptor Fc). Selain itu, antibodi
juga dapat mengaktifkan sistem komplemen jalur
klasik untuk menghancurkan dinding sel mikroba
dan mengembangkan mekanisme sitotoksik sel
untuk menghancurkan mikroba atau sel yang
terinfeksi. Jenis antibodi tertentu dan mekanisme
transpor antibodi juga memiliki peran berbeda pada
lokasi anatomi tertentu, termasuk lumen saluran
pernapasan dan saluran pencernaan serta plasenta
dan janin.
d. Hemostasis dan Memori
Setelah melaksanakan tugasnya mengeliminasi
mikroba, sebagian besar limfosit efektor akan mati
oleh mekanisme apoptosis, sehingga sistem imun
dapat kemb=ali ke keadaan semula (istirahat), yang
disebut homeostasis. Ini terjadi sebab mikroba
memberikan stimulasi penting untuk kelangsungan
hidup dan aktivasi limfosit, dan sel efektor berumur
pendek. Oleh sebab itu, saat rangsangan
dihilangkan, limfosit yang diaktifkan tidak lagi
bertahan hidup. Aktivasi awal limfosit menghasilkan
Mengikat antigen àmenghantarkannya
ke sistem pemusnahan (Fagosit)
Netralisasi Opsonisasi
Aktivasi
komplemen ADCC
Transitosis &
Neonatal immunity
1 2 3 4 5
Gambar 7. Fungsi antibodi secara umum
51
sel memori berumur panjang, yang dapat bertahan
selama bertahun-tahun setelah infeksi dan
meningkatkan respons yang cepat dan kuat
terhadap paparan berulang dengan antigen.
REAKSI ANTIGEN & ANTIBODI
B. Penjelasan Materi Dengan Ilustrasi Dan Contoh
Antigen Merupakan zat protein yang saling
berkaitan antar bakteri dan virus yang ada di dalam
tubuh manusia tergolong pada makromolekul dengan
dua jenis bakteri atau virus yaitu olisakarida dan
polipeptida.
Antibodi merupakan protein yang terbentuk dari
antigen yang ada di dalam tubuh manusia yang bereaksi
secara spesifik dengan antigen sehingga menghasilkan
sebuah antibodi yang digunakan untuk melindungi
sistem imun tubuh.
Dari antigen ini memiliki sebuah
konfigurasi dengan antibodi yang mana konfigurasi
molekul kedua hal ini membentuk suatu respon
terhadap antigen yang mana cocok untuk memicu
sebuah reaksi-reaksi antigen dan antibodi sehingga
terjadi interaksi kimia yang mana antara sel B dengan
reaksi antigen imun.
Reaksi antigen antibodi ini merupakan
sebuah reaksi yang muncul sebab adanya proses
molekul-molekul asing dalam kompleks seperti patogen
Dan racun kimia yang ada di dalam darah dengan
antigen yang diikat oleh antibodi secara khusus dengan
adanya afinitas tinggi sehingga membentuk suatu
kompleks imun yang disebut dengan reaksi.
1. Respon Tubuh Terhadap Antigen
Pemaparan antigen yang masuk dalam tubuh
ini pertama kali direspon oleh sel makrofag
yang mana nantinya sel makrofag ini akan
memberikan antigen kepada sel t helper untuk
membentuk suatu respon pertahanan dengan
antigen dari sel t helpers ini mengaktivasikan
kepada sel B dan sel t sitotoksik yang mana kedua
proses ini mengalami aktivasi yang merespon
terhadap
antigen dan menjaga kekebalan humoral
sehingga menghasilkan antibodi dalam plasma darah
selain itu juga untuk melisiskan sel-sel yang sudah
terinfeksi adanya antigen.
Saat pengaktivisan ini sel B lebih
memperbanyak diri agar sel-sel ini dapat
digunakan sebagai sel respon sekunder untuk
menyerang antigen sehingga pemaparan antigen
ini yang datang langsung menuju ke sel B akan
diproduksi antibodinya untuk melawan sel antigen
ini . sehingga antigen yang masuk dan diikat oleh
antibodi ini akan menjadi sebuah bagian epitel
yang mana epitel ini lah yang menentukan antara
kecocokan antigen dengan antibodi apabila antigen
ini sudah diikat oleh antibodi dan diuraikan untuk
dibuang keluar tubuh bersama dengan aliran darah
maka antigen ini tidak termasuk antigen yang baik
untuk sistem kekebalan tubuh.
C. Rangkuman
Antigen merupakan zat protein yang berkaitan
dengan bakteri dan virus sedangkan antibodi
merupakan sebuah protein yang terbentuk adanya
antigen di dalam tubuh sehingga menciptakan sebuah
sistem imun kekebalan tubuh.
Reaksi yang timbul adanya pengikatan dari
antigen dan antibodi ini yaitu sebuah reaksi
yang mana ada molekul di dalamnya dengan
adanya konfigurasi molekul yang saling berkaitan
dengan adanya antigen yang diikat oleh antibodi antara
sel B sampai dengan sel t yang saling berkaitan untuk
menciptakan sebuah sistem kekebalan imun dan
dikeluarkan melalui darah.
F. Glosarium
Antigen : zat yang mampu memicu sistem imun
ini menghasilkan sebuah antibiotik.
Antibodi : protein yang timbul dari adanya ikatan
antigen.
Bakteri : sebuah kelompok mikroorganisme yang
mana bisa memicu timbulnya suatu penyakit dalam
sistem tubuh manusia dan mengurangi sistem imun dalam
tubuh manusia.
Imun : kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam
melawan mikroorganisme yang ada di dalam tubuh yang
dapat memicu menurunnya daya tahan tubuh.
Konfigurasi : suatu hal yang merujuk pada bentuk,
wujud dan benda serta nilai-nilai dari zat ini .
Molekul : bagian senyawa terkecil yang tersusun
antar beberapa atom sehingga jika saling berikatan dengan
zat lain akan membentuk suatu konfigurasi.
Olisakarida : gabungan dari beberapa molekul
monosakarida yang menjadi sebuah molekul olisakarida
yang mana memiliki sebuah fungsi untuk membantu adanya
sistem imun yang ada di dalam tubuh.
Patogen : suatu agen dalam biologis yang
memicu penyakit dalam sistem inang sehingga
membantu virus-virus dan bakteri yang di dalam sel tubuh
ini berkembang dan membentuk suatu penyakit.
Polipeptida : susunan antara beberapa molekul dari
peptida yang tersusun dalam suatu gugus amino yang mana
ada antara beberapa karbon.
Reaksi : suatu bentuk gejala yang timbul adanya
ikatan antara kedua belah zat atau molekul sehingga
menciptakan sebuah konfigurasi molekul.
Tubuh : bentuk fisik dari kerangka manusia yang
dilengkapi dengan adanya zat-zat dan molekul di dalamnya.
Virus : mikroorganisme dari patogen yang tidak
memiliki kelengkapan dalam selulernya sehingga virus
ini akan saling bergantung terhadap molekul-molekul
yang ada di sekitarnya.
G. Indeks
Antigen...................................................61,
85,121
Antibodi.................................................3,65
,89
Imun........................................................2,
7,16,89
Molekul..................................................3,12
,89
Virus.......................................................12,
89
SISTEM LIMFATIK
Sistem limfatik terdiri dari cairan yang disebut getah
bening, pembuluh yang disebut pembuluh limfatik yang
mengangkut getah bening, sejumlah struktur dan organ
yang mengandung jaringan limfatik (limfosit dalam
jaringan penyaring), dan sumsum tulang merah (lihat
gambar 1) . Sistem limfatis di dalam tubuh kita merupakan
suatu sistem yang berperan dalam menjaga keseimbangan
cairan dalam tubuh, mengabsorpsi lemak dan substansi
lainnya dalam sistem pencernaan dan yang paling penting
yaitu sebagai sistem pertahanan tubuh dari
mikroorganisme dan substansi asing lainnya. Sebagian
besar komponen penyaring plasma darah melalui dinding
kapiler darah untuk membentuk cairan interstisial. Setelah
cairan interstitial masuk ke pembuluh limfatik, itu disebut
getah bening. Perbedaan utama antara cairan interstisiil
dan getah bening berada: cairan interstisial ditemukan
antara sel, dan getah bening terletak di dalam pembuluh
limfatik dan jaringan limfatik. Jaringan limfatik yaitu
bentuk khusus dari jaringan jaringan ikat retikuler yang
mengandung banyak limfosit. Dua jenis limfosit
berpartisipasi dalam respon imun adaptif: sel B dan sel T.
2. Fungsi Sistem limfatik
Sistem getah bening memiliki tiga fungsi utama yaitu
menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, mengabsorpsi
lemak dan substansi lain dan sebagai sistem pertahanan
tubuh.
a. Keseimbangan Cairan
Sistem limfatik mengembalikan kelebihan cairan
dan protein dari jaringan yang tidak dapat kembali
melalui pembuluh darah. Cairan sering terkumpul di
ruang kecil yang mengelilingi sel, yang dikenal sebagai
ruang interstisial. Kapiler getah bening kecil
menghubungkan ruang-ruang ini ke sistem limfatik.
Sekitar 90% plasma yang mencapai jaringan dari kapiler
darah arteri kembali melalui kapiler vena dan vena. 10%
sisanya berjalan melalui sistem limfatik.
b. Transport Lipid Makanan
Sistem limfatik memainkan peran kunci dalam
fungsi usus. Pembuluh limfatik mengangkut lipid dan
vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K) yang
diserap oleh saluran pencernaan. Bagian dari selaput usus
di usus kecil mengandung tonjolan kecil seperti jari yang
disebut vili. Setiap vili mengandung kapiler limfa kecil,
yang dikenal sebagai lakteal. Ini menyerap lemak dan
vitamin yang larut dalam lemak untuk membentuk cairan
putih susu yang disebut chyle. Cairan ini mengandung
lemak getah bening dan emulsi, atau asam lemak bebas.
Ini memberikan nutrisi secara tidak langsung saat
mencapai sirkulasi darah vena. Kapiler darah mengambil
nutrisi lain secara langsung.
c. Pertahanan Tubuh
Sistem limfatik bertanggung jawab untuk
mengambil kelebihan air dan protein interstitial serta sel-
sel lain, termasuk bakteri, yang dapat masuk ke jaringan
melalui luka kecil atau luka di kulit. Bakteri dan antigen
lainnya diangkut oleh sistem limfatik dari interstitium ke
limfosit di kelenjar getah bening, di mana respon imun
dapat dimulai.
Bagaimana sistem limfatik melawan infeksi?
Sistem limfatik menghasilkan sel darah putih yang
disebut limfosit. Ada dua jenis limfosit: sel T dan sel B.
Keduanya berjalan melalui sistem limfatik. Saat
mencapai kelenjar getah bening, mereka bersentuhan
dengan virus, bakteri, dan partikel asing dalam cairan
getah bening. Setelah kontak, limfosit membentuk
antibodi dan mulai mempertahankan tubuh. Mereka juga
dapat menghasilkan antibodi dari ingatan jika mereka
telah menemukan patogen spesifik di masa lalu. Sistem
limfatik dan aksi limfosit merupakan bagian dari respon
imun adaptif tubuh. Ini yaitu tanggapan yang sangat
spesifik dan tahan lama terhadap patogen tertentu.
Gambar 5.1: Anatomi Sistem Limfatik (OpenStax
Rice University , 2016. Anatomy and Physiology
Houston, Texas, P 982)
3. Pembuluh Limfatik (Lymph Vessels ) dan Sirkulasi
Getah Bening
Pembuluh limfatik dimulai sebagai kapiler
limfatik. Kapiler ini, yang terletak di ruang antar sel,
ditutup pada satu ujung (Gambar 2). Sama seperti kapiler
darah berkumpul untuk membentuk venula dan kemudian
vena, kapiler limfatik bersatu untuk membentuk lebih
besar pembuluh limfatik (lihat Gambar1), yang
menyerupai vena kecil dalam struktur namun memiliki
dinding yang lebih tipis dan lebih banyak katup. Pada
interval sepanjang pembuluh limfatik, getah bening
mengalir melalui kelenjar getah bening, dikemas organ
berbentuk kacang yang terdiri dari massa sel B dan sel T.
Perbedaan utama antara sistem limfatik dan
kardiovaskular pada manusia yaitu bahwa getah bening
tidak dipompa secara aktif oleh jantung, namun dipaksa
melalui pembuluh oleh gerakan tubuh, kontraksi otot
rangka selama gerakan tubuh dan pernafasan. Pompa
pernafasan secara bergantian mengembang dan menekan
getah bening pembuluh darah di rongga dada dan
membuat getah bening terus bergerak. Pembuluh getah
bening di ekstremitas, terutama tungkai, dikompresi oleh
otot rangka yang mengelilinginya; ini yaitu pompa otot
rangka. Katup satu arah (katup semi-lunar) di pembuluh
limfatik menjaga agar getah bening tetap bergerak ke arah
jantung. Getah bening mengalir dari kapiler limfatik,
melalui pembuluh limfatik, dan kemudian dialirkan ke
sistem peredaran darah melalui saluran limfatik yang
terletak di persimpangan vena jugularis dan subklavia di
leher.
a. Kapiler Limfatik
Kapiler limfatik, juga disebut limfatik terminal,
yaitu pembuluh di mana cairan interstitial memasuki
sistem limfatik menjadi cairan limfe. Kapiler limfe
berbentuk seperti pipa, memiliki struktur yang hampir
sama dengan kapiler darah namun memiliki permeabilitas
yang lebih besar dari kapiler darah demikian dapat
menyerap molekul besar seperti protein dan lemak.
Terletak di hampir setiap jaringan dalam tubuh, pembuluh
ini terjalin antara arteriol dan venula dari sistem peredaran
darah di jaringan ikat lunak tubuh. Pengecualian yaitu
sistem saraf pusat, sumsum tulang, tulang rawan, gigi,
epidermis dan kornea mata, yang tidak mengandung
pembuluh getah bening.
Kapiler limfatik juga berdiameter sedikit lebih
besar dari kapiler darah dan memiliki struktur satu arah
yang unik itu memungkinkan cairan interstitial mengalir
ke dalamnya namun tidak keluar. Kapiler limfatik dibentuk
oleh satu lapisan sel endotel setebal sel dan merupakan
ujung terbuka dari sistem, memungkinkan cairan
interstitial mengalir ke dalamnya melalui sel yang
tumpang tindih (lihat Gambar 2). saat tekanan
interstisial rendah, penutup endotel menutup untuk
mencegah aliran balik. Saat tekanan interstisial
meningkat, ruang antar sel terbuka, memungkinkan cairan
masuk. Masuknya cairan ke dalam kapiler limfatik juga
dimungkinkan oleh filamen kolagen yang berlabuh
kapiler ke struktur sekitarnya. Saat tekanan interstisial
meningkat, filamen menarik penutup sel endotel,
membukanya lebih jauh untuk memungkinkan masuknya
cairan dengan mudah. saat kelebihan cairan interstisial
itu menumpuk dan memicu pembengkakan
jaringan, filamen penahan ditarik, membuat bukaan antar
sel semakin besar sehingga lebih banyak cairan dapat
mengalir ke kapiler limfatik.
Gambar 5. 2: Kapiler Limfatik (OpenStax Rice
University , 2016. Anatomy and Physiology Houston,
Texas, P 983)
Di usus kecil, kapiler limfatik yang disebut lakteal
membawa lipid makanan ke dalam pembuluh limfatik dan
akhirnya ke dalam darah. Lacteal vili menyerap produk
akhir pencernaan yang larut dalam lemak, seperti sebagai
asam lemak dan vitamin A, D, E, dan K bergabung dengan
lipid dan protein lain. Kehadiran lipid ini memicu
getah bening mengalir dari usus kecil tampak putih krem
(seperti susu); getah bening ini disebut sebagai chyle
. Di tempat lain, getah bening berwarna kuning pucat
cairan. Chyle kemudian berjalan melalui sistem limfatik,
akhirnya memasuki hati dan kemudian aliran darah.
b. Pembuluh Limfe Besar (Lymph Vessels )
Dinding pembuluh limfe besar memiliki ketebalan
yang hampir sama dengan vena kecil serta lapisan yang
sama namun batas antar lapisan tidak jelas. Pada tunika
intima ada sel endotel, serat elastis, serat kolagen tipis
dan membrana elastika interna. Tunika media terdiri dari
otot polos yang berjalan oblik dan sirkuler serta serat
elastis. Sedangkan pada tunika adventisia dapat terlihat
otot polos yang berjalan longitudinal dan oblik dan serat
kolagen. Pembuluh limfe memiliki katup atau valvula
yang berfungsi untuk mencegah aliran balik cairan limfe
Pembuluh limfatik dibagi menjadi dua kelompok
besar; pembuluh limfatik superfisial dan dalam. Pembuluh
superfisial terletak di lapisan subkutan kulit tempat
mereka mengumpulkan getah bening dari struktur
superfisial tubuh. Mereka cenderung mengikuti drainase
sistem vena dan pada akhirnya mengalir ke pembuluh
limfatik yang dalam. Pembuluh limfatik yang dalam
membawa getah bening dari organ dalam. Berbeda dengan
pembuluh superfisial, pembuluh dalam disertai dengan
arteri. Arteri ini bersandar ke dinding pembuluh limfatik
yang dalam, memberi tekanan padanya dan membantu
aliran getah bening.
Sepanjang jalan, pembuluh limfatik superfisial dan
dalam melewati kelenjar getah bening yang memantau isi
getah bening. Pembuluh limfatik yang membawa getah
bening menuju kelenjar getah bening dikenal sebagai
aferen, sedangkan pembuluh yang membawa getah bening
dari kelenjar getah bening disebut pembuluh limfatik
eferen. Pembuluh limfatik eferen keluar dari area tertentu
bagian tubuh, selanjutnya mereka bergabung membentuk
trunkus (batang) getah bening (trunkus limfatik). Trunkus
limfatik diberi nama sesuai dengan wilayah tubuh tempat
mereka mengalirkan getah bening. Ada empat pasang
Trunkus: lumbar, bronkomediastinal, subklavia dan
jugularis. Trunkus lumbar mengalirkan getah bening dari
tungkai bawah, dinding dan jeroan panggul, ginjal,
kelenjar adrenal, dan dinding perut. Trunkus usus
mengalirkan getah bening dari perut, usus, pankreas,
limpa, dan sebagian hati. Trunkus bronkomediastinal
mengalirkan getah bening dari dinding toraks, paru-paru,
dan jantung. Trunklus subklavia mengalirkan tungkai
atas. Trunkus Jugularis mengalirkan kepala dan leher.
Gambar 5.3: Rute Drainase limfe dari trunkus
limfatik menuju ductus Torasikus dan ductus limfatik
Kanan (Gerard J. Tortora, Bryan H. Derrickson. 2014,
Principles of Anatomy and Physiology 14th Edition,
John Wiley & Sons, Inc. P 803)
Getah bening mengalir dari trunkus limfatik menuju
ke dua saluran utama (ductus), yaitu duktus toraksikus dan
duktus limfatik kanan, kemudian mengalir ke darah vena.
Duktus toraksikus (limfatik kiri).
1) Pembuluh limfa kanan (duktus limfatikus dekster)
: Pembuluh limfa kanan terbentuk dari cairan limfa
yang berasal dari daerah kepala dan leher bagian kanan,
dada kanan, lengan kanan, jantung dan paru-paru yang
terkumpul dalam pembuluh limfa. Pembuluh limfa
kanan bermuara di pembuluh balik (vena) subklavia
kanan.
2) Pembuluh limfa kiri (duktus limfatikus toraksikus)
: Pembuluh limfa kiri disebut juga pembuluh dada,
panjang 38 – 45 cm. Pembuluh limfa kiri terbentuk
dari cairan limfa yang berasal dari kepala dan leher
bagian kiri dan dada kiri, lengan kiri, dan tubuh bagian
bawah. Pembuluh getah bening dari tubuh bagian
bawah bersatu di depan vertebra lumbal 2, membentuk
pembuluh disebut cisterna chyli, yang berlanjut ke atas
depan tulang belakang sebagai saluran toraks.
Pembuluh limfa ini bermuara di vena subklavia kiri.
c. Cairan Limfe (Getah Bening)
Semua jaringan dalam tubuh mengandung
banyak cairan jaringan yang berasal dari darah dan
seluruh kandungannya beserta hasil sekresi sel berupa
bahan-bahan yang telah dipergunakan dan akan
dibuang. Sekitar 21 liter cairan plasma keluar dari
kapiler dan masuk ke dalam jaringan. Untuk menjaga
komposisi dan volume cairan dalam jaringan dan
pembuluh darah, maka cairan jaringan ini akan
diabsorpsi kembali ke dalam pembuluh darah. Cairan
yang tidak terabsorpsi berjumlah sekitar 3 liter
perhari akan masuk ke dalam pembuluh limfatik dan
menjadi cairan limfe atau getah bening. sebab
sebagian besar protein plasma terlalu besar
meninggalkan pembuluh darah, cairan interstitial
hanya berisi sedikit jumlah protein. Protein yang
meninggalkan plasma darah tidak bisa kembali ke
darah melalui difusi sebab gradien konsentrasi
(protein tingkat tinggi di dalam kapiler darah, tingkat
rendah di luar) menentang gerakan ini . Namun,
protein dapat bergerak dengan mudah melalui kapiler
limfatik yang lebih permeabel ke dalam getah bening.
Cairan limfe merupakan cairan yang jernih
kekuningan dengan komposisi menyerupai plasma
dan cairan interstisial. Tergantung di mana getah
bening diproduksi, komposisi getah bening dapat
bervariasi (misalnya getah bening yang diproduksi di
sistem pencernaan kaya akan lemak).
Aliran limfe sekitar 100 ml /jam melalui
ductus torasikus dan sekitar 20 ml/jam mengalir ke
dalam sirkulasi melalui saluran lain, sehingga
diperkirakan aliran limfe 120 ml/jam atau 2-3 liter per
hari. Cairan limfe juga mengandung banyak zat lain
termasuk ; 1) Protein, trigliserida, mineral, nutrien,
dan substansi lain, yang memberi nutrisi pada
jaringan, 2) Sel rusak, sel kanker, dan partikel asing
(seperti bakteri dan virus) yang mungkin masuk ke
dalam cairan jaringan yang akan di filtrasi dan
dihancurkan oleh limfonodus. Selain itu cairan limfe
juga mengandung limfosit yang beredar dalam sistem
limfatis.
d. Jaringan dan Organ Limfatik
Organ dan jaringan limfatik yang didistribusikan
diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan
fungsinya. Organ limfatik primer yaitu area di mana sel
punca membelah dan menjadi imunokompeten, yaitu,
mampu meningkatkan respons imun. Organ limfatik
primer yaitu sumsum tulang merah (dalam tulang pipih
dan epifisis tulang panjang orang dewasa) dan timus. Sel
induk berpotensi majemuk di sumsum tulang merah
menimbulkan matang, sel B imunokompeten dan sel pra-
T. Sel pra-T pada gilirannya bermigrasi ke timus, di
mana mereka menjadi imunokompeten sel T.
Organ dan jaringan limfatik sekunder yaitu area
di mana sebagian besar respon imun terjadi. Mereka
termasuk kelenjar getah bening, itu limpa, dan nodul
limfatik (folikel). timus, kelenjar getah bening, dan
limpa dianggap organ sebab masing-masing dikelilingi
oleh a kapsul jaringan ikat; kelenjar getah bening,
sebaliknya, tidak dianggap organ sebab tidak memiliki
kapsul.
1) Sumsum Tulang Merah
Di dalam embrio, sel darah dibuat di kantung kuning
telur. Saat perkembangan berlanjut, fungsi ini diambil
alih oleh limpa, kelenjar getah bening, dan hati.
Belakangan, sumsum tulang mengambil alih sebagian
besar fungsi hematopoietik, meskipun pada tahap akhir
dari diferensiasi beberapa sel dapat terjadi di organ lain.
Sumsum tulang merah yaitu kumpulan sel yang
longgar di mana hematopoiesis terjadi, dan sumsum
tulang kuning yaitu tempat penyimpanan energi, yang
sebagian besar terdiri dari sel-sel lemak. Sumsum tulang
merah merupakan jaringan penghasil limfosit B dan T.
Sel B mengalami hampir semua perkembangannya di
sumsum tulang merah, sedangkan sel T yang belum
matang disebut timosit, meninggalkan sumsum tulang
dan sebagian besar matang di kelenjar timus. Limfosit-
limfosit ini berperan penting untuk melawan penyakit
2) Kelenjar Timus
Timus memiliki fungsi spesifik, yaitu tempat
perkembangan limfosit yang dihasilkan dari sumsum
merah untuk menjadi limfosit T. Timus tidak berperan
dalam memerangi antigen secara langsung seperti pada
organorgan limfoid yang lain. Untuk memberikan
kekebalan pada limfosit T ini, maka timus
mensekresikan hormon tipopoietin.
Timus terletak tepat mediastinum antara sternum
dan aorta. (Gambar 4). Satu pembungkus








