Tampilkan postingan dengan label DNA kromosom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DNA kromosom. Tampilkan semua postingan

DNA kromosom

 







Pengemasan DNA dalam kromosom terjadi pada tahap profase. Untai DNA dipintal pada suatu 

set protein, yaitu histon yang menjadi suatu bentukan yang disebut unit nukleosom. Unit-unit 

nukleosom tersusun padat membentuk benang yang lebih padat dan terpintal menjadi lipatan-

lipatan solenoid. Lipatan solenoid tersusun padat menjadi benang kromatin. Benang-benang 

kromatin tersusun memadat menjadi lengan kromatid. 

Pengemasan Kromosom 

Untaian DNA di pintal pada suatu set protein yaitu histon menjadi suatu bentukan yang disebut 

nukleosom. Unit-unit nukleosom membentuk benang-benang yang lebih padat dan terpintal 

menjadi lipatan-lipatan solenoid. Lipatan solenoid membentuk benang-benang kromatin. 

Benang-benang kromatin tersusun membentuk kromosom.Kromosom yaitu  struktur padat yang 

terdiri dari protein dan DNA. 

   

 

Pada intinya, translasi ini yaitu  proses penerjemahan kode basa nitrogen yang dibawa 

oleh rantai mRNA dengan asam amino-asam amino yang sesuai.  

Translasi  terjadi di sitoplasma, tepatnya di ribosom. Proses ini dimulai saat keluarnya 

rantai mRNA dari nucleus menuju ke sitoplasma, kemudian mRNA menempel pada 

ribosom. Bersamaan dengan itu, datanglah rantai tRNA menuju ke ribosom dengan 

membawa asam amino yang sesuai dengan kode basa nitrogen yang dibawa oleh rantai 

mRNA. Maka terbentuklah asam amino-asam amino tersebut. Kemudian asam amino itu 

saling berikatan membentuk rantai, yang dinamakan rantai polipeptida. 

Tahap-tahap pada translasi: 

a. Tahap Insiasi 

   Untuk memulai biosintesis protein 

diperlukan tiga protein faktor inisiasi (IF-

1, IF-2, IF-3);  

   Pengikatan ke-3 faktor pada ribosom sub 

unit kecil  

   IF-2 mengikat molekul GTP dan 

membantu pengikatan tRNA pemula 

(tRNAfmet ); 

   Pengikatan mRNA pada ribosom sub unit 

kecil 30S terjadi melalui pembentukan 

pasangan basa antara urutan Shine-

Dalgarno (SD) dengan komplemennya 

yang terdapat pada 16S rRNA; 

   SD biasanya merupakan daerah urutan SD 

± 10 nukleotida purin pada mRNA, 

sebelum kodon inisiasi metionin; 

   Setelah terjadi pengikatan mRNA dan 

tRNA pemula mengenali kodon AUG 

yang mengkode metionin, IF-3 

dilepaskan; 

   Selanjutnya, terjadi hidrolisis GTP menjadi GDP dan Pi, pelepasan IF-2 dan IF-1, 

penggabungan ribosom sub unit besar 50S; 

   Penggabungan sub unit 50S menghasilkan kompleks 70S yang siap untuk menerima 

tRNA berikutnya; 

   Sub unit 50S mempunyai dua tempat untuk pengikatan tRNA, yaitu peptidyl site (P) 

dan aminoacyl site (A);  

   Exit site (E) yaitu  tempat untuk tRNA yang sudah kosong; 

   Kodon inisiasi AUG mengikat tRNAfmet pada P site.   

b. Tahap Elongasi 

   Diperlukan: EF (elongation factor), enzim peptidil transferase, GTP; 

   Asam amino dibawa oleh faktor perpanjangan/EF ke A site; 

   Terjadi pembentukan ikatan peptida oleh peptidil transferase antara tRNA pada P site 

dengan tRNA pada A sitE; 

   Peptidil transferase akan melepaskan asam amino dr tRNA yg menempati situs P, dan 

menggabungkannya pada asam amino yg ada pd situs A; 

   Proses perpanjangan berulang sampai menemukan kodon terminasi UAA, UAG, dan 

UGA  

 

c. Tahap terminasi 

   Reaksi perpanjangan rantai berjalan terus sampai pada suatu ketika yang berada di situs 

A yaitu  kodon terminasi (UAG, UAA, atau UGA).  

   Tidak ada tRNA yang dapat mengenali kodon terminasi.  

   Kodon terminasi ini akan dikenali oleh protein khusus yang dikenal dengan Release 

Factor dengan  memicu pelepasan polipeptida yang telah lengkap dari peptidil tRNA. 

   Reaksi perpanjangan rantai berjalan terus sampai pada suatu ketika yang berada di situs 

A yaitu  kodon terminasi (UAG, UAA, atau UGA).  

   Tidak ada tRNA yang dapat mengenali kodon terminasi.  

   Kodon terminasi ini akan dikenali oleh protein khusus yang dikenal dengan Release 

Factor dengan  memicu pelepasan polipeptida yang telah lengkap dari peptidil tRNA. 

 

 




Sel merupakan unit struktur dan fungsional terkecil makhluk hidup. Sel 

terbagimenjadi dua kelompok utama, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Kedua 

jenis seltersebut sama- sama memiliki  membran plasma dan sitoplasma. 

Dibandingkan seleukariotik, sel prokariotik tidak memiliki  nucleus, melainkan 

nukleolid (inti selsederhana tanpa selaput inti) dan kehilangan beberapa macam 

organel. Di dalam selterdapat sejumlah organel yang berfungsi untuk metabolism sel. 

Salah satu organeltersebut yaitu  inti sel (nucleus), organel ini berperan sebagai 

pengendali sel danmenyimpan materi genetic sel. Materi genetik yang dimaksud 

berupa untaian DNA,didalam untaian DNA ini terdapat gen yang berfungsi sebagai 

tempat informasifenotip individu.


 

1. KROMOSOM

Kromosom yaitu  sebuah molekul DNApanjang yang mengandung sebagian 

atau seluruh materi genetik suatu organisme. Sebagian bear kromosom pada 

eukariota memiliki protein pengemas yang di sebut histon yang dibantu oleh 

protein pendamping , memikat dan memadatkan molekul DNA untuk menjaga 

integrasinya.

Pengertian kromosom yaitu  benda-benda halus seperti kumpulan benang 

dengan fungsi sebagai pembawa dan penyimpan informasi genetik makhluk hidup

yang terdiri atas zat-zat yang mudah menyerap warna di dalam inti sel.

2. DNA

Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan singkatan DNA, yaitu  salah 

satu jenis asam nukleat yang memiliki kemampuan pewarisan sifat. Keberadaan 

asam deoksiribonukleat ditemukan di dalam nukleoprotein yang membentuk inti 

sel.

3. GEN 

Gen (dari bahasa Belanda: gen) yaitu  unit pewarisan sifat bagi organisme 

hidup. Bentuk fisiknya yaitu  urutan DNA yang melekat/berada di suatu protein, 

polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi organisme yang 

memilikinya. Batasan modern gen yaitu  suatu lokasi tertentu pada genom yang 

berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat dihubungkan dengan fungsi sebagai

regulator (pengendali), sasaran transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya. 

Penggunaan "gen" dalam percakapan sehari-hari (misalnya "gen cerdas" atau "gen 

warna rambut") sering kali dimaksudkan untuk alel: pilihan variasi yang tersedia 

oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering 

menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda.

B. CARA KERJA KROMOSOM, DNA DAN GEN

1. Cara Kerja Gen

Setiap gen memiliki pekerjaan khusus yang harus dilakukan. DNA dalam gen 

mengerjakan instruksi tertentu untuk membuat protein dalam sel. Protein yaitu  

blok bangunan untuk segala sesuatu dalam tubuh Anda.

Tulang dan gigi, rambut dan telinga, otot dan darah, semuanya terdiri dari 

protein. Protein-protein itu membantu tubuh tumbuh, bekerja dengan baik, dan 

tetap sehat.

Para ilmuwan saat ini memperkirakan bahwa setiap gen dalam tubuh dapat 

membuat sebanyak 10 protein yang berbeda. Itu lebih dari 300.000 protein, 

diwartakan Science Learn.

Gen memainkan peran penting dalam menentukan sifat-sifat fisik. Juga 

membawa informasi tentang siapa diri Anda, seperti rambut keriting atau lurus, 

kaki panjang atau pendek, bahkan bagaimana Anda tersenyum atau tertawa.

Banyak dari ciri-ciri ini diteruskan dari satu generasi ke generasi, dalam 

keluarga oleh gen. Contoh kasus, setiap orangtua memiliki dua salinan masing-

masing gen mereka, dan hanya satu salinan yang berhasil tembus, menciptakan gen

yang Anda miliki.

Para ilmuwan sibuk mempelajari gen. Mereka ingin tahu protein mana yang 

membuat setiap gen dan apa yang dilakukan protein tersebut. Penyakit apa yang 

disebabkan oleh gen yang tidak berfungsi.

Gen yang telah berubah disebut sebagai mutasi. Selain mempelajari gen, 

peneliti juga berusaha menguak rahasia gen yang tak berfungsi dengan baik. Salah 

satu metode yang sedang diuji yaitu  mengganti gen yang sakit dengan yang sehat.

Uji coba terapi gen, di mana penelitian diuji pada orang - dan penelitian lain 

dapat menyebabkan cara baru untuk mengobati atau bahkan mencegah banyak 

penyakit.

2. Cara Kerja DNA

Dilansir Medlineplus, DNA, atau asam deoksyribonukleat, yaitu  `bahan` 

turun temurun pada manusia dan hampir semua organisme lainnya.

Sebagian besar DNA terletak di inti sel (sebutannya yaitu DNA nuklir), tetapi 

sejumlah kecil DNA juga dapat ditemukan di mitokondria (disebut DNA 

mitokondria atau mtDNA).

Mitokondria yaitu  struktur dalam sel yang mengubah energi dari makanan 

menjadi bentuk yang dapat digunakan sel.

Informasi dalam DNA disimpan sebagai kode yang terdiri dari empat basis 

kimia: adenine (A), guanine (G), cytosine (C), dan thymine (T).

DNA manusia terdiri dari sekitar 3 miliar pangkalan, dan lebih dari 99 persen 

pangkalan itu sama pada semua orang.

Menentukan informasi yang tersedia untuk membangun dan memelihara 

organisme, mirip dengan cara kerja huruf alfabet yang muncul dalam urutan 

tertentu untuk membentuk kata dan kalimat.

Basis DNA berpasangan satu sama lain, misalnya A dengan T, dan C dengan 

G, untuk membentuk unit yang disebut pasangan dasar. Setiap pangkalan juga 

melekat pada molekul gula dan molekul fosfat.

Saat keseluruhan komponen terikat disebut nukleotida, disusun dalam dua 

untaian panjang yang membentuk spiral (helix ganda). Bentuknya mirip seperti 

tangga.

Hal yang paling penting dari DNA yaitu  dapat mereplikasi, atau membuat 

salinan. Setiap untaian DNA dalam helix ganda dapat berfungsi sebagai pola untuk 

menduplikasi urutan pangkalan. Setiap sel baru yang terbentuk memiliki salinan 

DNA dari sel lama.

3. Cara Kerja Kromosom

Dalam inti setiap sel, molekul DNA `dikemas` ke dalam struktur seperti 

benang yang disebut kromosom. Setiap kromosom terdiri dari DNA yang diikat 

erat di sekitar protein yang disebut histones yang mendukung strukturnya, dilansir 

dari Very Wealth.

Komponen dalam inti sel yang memiliki  susunan, bentuk dan fungsi khusus

serta memiliki  kemampuan untuk mengadakan replikasi sehingga pembelahan 

sel dapat berlangsung dengan baik.

Setiap kromosom memiliki titik penyempitan yang disebut sentromere, yang 

membagi kromosom menjadi dua bagian, atau "lengan."

Lengan pendek kromosom diberi label "lengan p." Lengan panjang kromosom

diberi label "lengan q." Lokasi sentromere pada setiap kromosom memberikan 

kromosom bentuk karakteristiknya, dan dapat digunakan untuk membantu 

menggambarkan lokasi gen tertentu.

Kromosom tidak terlihat dalam inti sel dalam kondisi normal, meski 

menggunakan mikroskop seklipun.

Namun, DNA yang membentuk kromosom selama proses pembagian sel dapat

terlihat di bawah mikroskop. Peneliti bisa mempelajari kromosom selama 

pembagian sel berlangsung


Kromosom:

merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu 

molekul DNA dan berbagai protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu 

organisme

DNA:

Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan singkatan DNA, yaitu  sejenis 

biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap 

organisme dan banyak jenis virus.

GEN:

yaitu  unit pewarisan sifat bagi organisme hidup. Bentuk fisiknya yaitu  urutan DNA

yang melekat/berada di suatu protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki 

fungsi bagi organisme yang memilikinya.




x


“Konstruksi dan Optimasi Primer DNA Mitokondria Manusia (Homo 

sapiens) pada Daerah D-Loop: Hypervariable Segment II dalam Biologi 

Forensik” 

 

Antonia Anindyanari Paramartastri Nitisara 

 

Analisis genetik berbasis DNA menjadi metode yang sangat penting dalam forensik. Secara umum, 

analisis genetik dilakukan dengan cara membuat profil DNA untuk membuktikan kebenaran 

identitas seseorang dalam suatu kasus. Namun, jejak biologis yang ditemukan di tempat kejadian 

perkara seringkali mengalami kerusakan atau berasal dari sampel yang sudah tua. Pemeriksaan 

forensik melalui pendekatan molekuler menggunakan daerah Hypervariable Segment II di dalam 

DNA mitokondria dapat dijadikan sebagai alternatif solusi. DNA mitokondria diwariskan secara 

maternal dan mempunyai daya salin tinggi sehingga menjadikan DNA mitokondria sebagai marka 

genetik yang ideal untuk kasus-kasus dengan kondisi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk 

merancang dan mengoptimalkan primer spesifik DNA mitokondria manusia D-Loop HVS II 

sebagai salah satu komponen penting dalam proses amplifikasi. Primer daerah HVS II dirancang 

dan diseleksi menggunakan situs NCBI, Primer3Plus, dan NetPrimer Biosoft. Primer dirancang 

untuk memastikan spesifisitas terhadap DNA target dan digunakan untuk mengamplifikasi DNA 

yang diambil dari sampel usap bukal. DNA dari sampel usap bukal diekstraksi menggunakan 

PrepFiler™ Forensic DNA Extraction Kit. Konsentrasi dan kemurnian ekstrak DNA diukur 

menggunakan NanoVue. Primer yang dirancang disintesis oleh Genewiz (China) dan optimasi 

primer dilakukan dengan PCR gradien. Proses pembacaan sekuens individu dilakukan dengan 

metode sekuensing Sanger. Hasil penelitian ini meliputi dua utas primer selektif pengkode daerah 

spesifik HVS II yang mampu mengamplifikasi daerah target sepanjang 433-513 bp pada suhu 

annealing optimal 56.5°C. Analisis hasil sekuensing menunjukkan adanya heteroplasma dan 

bahwa individu Z dikelompokkan dalam haplogroup N21 dan L4b yang masih dalam satu garis 

keturunan. Pengujian primer HVS II A dan HVS II B secara in silico dan in vitro dapat digunakan 

untuk mempermudah pemeriksaan kasus-kasus forensik. 

 

Analisis genetik berdasarkan utas DNA unik individu untuk tujuan forensik dapat 

dilakukan melalui pembuatan profil DNA. Keberhasilan pembuatan profil DNA individu 

sangat bergantung pada kondisi sampel biologis yang ditemukan di tempat kejadian perkara 

(TKP)  Sejak tahun 1996, analisis genetik terhadap orang hilang 

menggunakan jejak biologis banyak dilakukan menggunakan profil DNA autosomal atau 

DNA inti (nDNA)  DNA yang diisolasi dari sampel yang sudah tua atau 

rusak seringkali ditemukan dalam kondisi terdegradasi atau bahkan tidak tersedia sama 

sekali  Kondisi ini mengakibatkan sulitnya mendapatkan DNA 

autosomal yang cukup untuk proses identifikasi (Pajnič, 2019). Faktor-faktor yang 

mempengaruhi degradasi DNA inti umumnya berasal dari faktor eksternal yang berdampak 

pada kualitas sampel biologis, seperti kondisi substrat, lingkungan TKP, serta waktu 

pengambilan sampel (Buś et al., 2016). Contoh sampel biologis yang telah mengalami 

degradasi, seperti sisa kerangka tulang , sisa kerangka gigi (Victoria, 

2024), sisa batang rambut, dan kuku jenazah yang sudah membusuk 

umumnya mengandung DNA inti dalam jumlah yang sangat terbatas  Sebagai alternatif untuk mengatasi keterbatasan dalam penggunaan 

DNA inti, metode profil genetik berbasis DNA mitokondria (mtDNA) mulai diperkenalkan 

pada tahun 2004 dalam analisis biologi forensik 

DNA mitokondria adalah material genetik yang terletak di dalam mitokondria, yaitu 

organel sel bermembran yang berada di sitoplasma (Court, 2021). Dalam biologi forensik, 

DNA mitokondria sering dimanfaatkan untuk analisis kasus paternitas dan hubungan 

kekerabatan, khususnya dalam penelusuran garis keturunan maternal. Berbeda dengan DNA 

inti yang diwariskan dari kedua orang tua, DNA mitokondria hanya diturunkan melalui garis 

ibu (Amorim et al., 2019a). Selain itu, mtDNA juga sering digunakan dalam analisis DNA 

purba hingga triase identifikasi korban bencana (Court, 2021). Beberapa kelebihan 

penggunaan mtDNA, antara lain jumlah daya salin yang tinggi dalam satu sel, resisten 

terhadap cekaman dan degradasi, serta ukuran genomnya yang kecil ,DNA mitokondria berbentuk sirkuler dan tersusun atas daerah kontrol yang berperan dalam proses replikasi dan transkripsi  Daerah 

kontrol atau daerah non-coding ini dikenal sebagai Displacement Loop (D-Loop) mtDNA 

dengan tiga segment hypervariable, yaitu segment I, II, dan III (HVS I, II, dan III) (Chong et 

al., 2005). Analisis profil genetik mtDNA didasarkan pada kondisi variasi Single Nucleotide 

Polymorphism (SNPs) melalui sekuensing pada dua wilayah paling bervariasi dalam genom, 

yaitu HVS I (nukleotida 16.024-16.365) dan HVS II (nukleotida 73-340)  Informasi variasi SNPs pada daerah hypervariable digunakan 

untuk membentuk haplotype individu, yang kemudian diklasifikasikan ke dalam haplogroup 

berdasarkan kesamaan garis keturunan maternal 

Analisis variasi urutan nukleotida pada daerah D-Loop mtDNA memungkinkan analisis 

individu dalam skala populasi 

Dalam proses analisis sekuens individu menggunakan D-Loop mtDNA, diperlukan 

beberapa tahapan, meliputi ekstraksi DNA, perancangan primer spesifik, amplifikasi DNA 

menggunakan teknik PCR, serta proses sekuensing. Hasil sekuensing kemudian akan 

dibandingkan dengan Cambridge Reference Sequence (rCRS) sebagai acuan (H. Li et al., 

2024). Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan teknik dasar biologi molekuler untuk 

memperbanyak atau mengamplifikasi daerah atau gen target pada DNA melalui reaksi 

enzimatik yang bergantung pada spesifisitas primer (McDonald et al., 2024). Pengujian 

DNA mitokondria saat ini melibatkan amplifikasi wilayah HVS I dan HVS II menggunakan 

primer spesifik yang mentarget lebih banyak conserved region (Sultana & Sultan, 2018). 

Konstruksi primer yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan 

keberhasilan proses PCR. Amplifikasi spesifik dari gen target mengharuskan primer tidak 

memiliki kecocokan dengan gen non-target atau bersifat spesifik hanya terhadap gen target 

(Ye et al., 2012).   

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan optimasi pasangan primer yang 

spesifik terhadap daerah HVS II untuk mengetahui profil DNA seseorang menggunakan 

sampel usap bukal manusia. Penelitian ini hanya melibatkan satu segment, yaitu HVS II dari 

total tiga segment daerah kontrol D-Loop mtDNA. HVS II memiliki tingkat variasi genetik 

yang tinggi akibat keberadaan heteroplasma, yaitu kondisi ketika terdapat lebih dari satu 

jenis sekuens DNA mitokondria dalam satu individu . Hal ini menjadikan HVS II sebagai marka penting dalam 

analisis genetik, khususnya dalam studi kekerabatan maternal

Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa: 

a. Primer yang telah dikonstruksi menunjukkan spesifisitas yang baik dalam 

mengamplifikasi daerah HVS II pada wilayah D-Loop mtDNA dari sampel usap bukal 

manusia. Primer daerah HVS II mampu menghasilkan amplikon tunggal dengan ukuran 

433 bp dan 513 bp. Suhu optimum dalam proses amplifikasi DNA mitokondria adalah 

56.5˚C.  

b. Analisis efisiensi primer melalui hasil sekuensing memperlihatkan kedua utas primer 

forward HVS II mampu menghasilkan data yang dapat diinterpretasikan secara 

bioinformatik, meskipun terdapat perbedaan hasil analisis. Hasil analisa menunjukkan 

bahwa individu Z diklasifikasikan dalam haplogroup L4b2 (HVS II A) dan N21 (HVS II 

B) yang merupakan haplogroup dari beberapa populasi di suatu wilayah Indonesia. 

Kondisi ini disertai dengan heteroplasma yang terjadi di dalam satu sel bukal individu. 

  

Saran untuk penelitian selanjutnya maupun penelitian serupa: 

a. Perlu dilakukan optimasi komponen dan kondisi sekuensing, yaitu penambahan 

pengulangan sebagai cadangan data duplo dan melibatkan individu lain baik kerabat 

maupun non-kerabat sebagai pembanding. Tujuannya adalah melihat kondisi 

heteroplasma serta memperdalam analisis bioinformatik terhadap prediksi haplogroup 

antar individu atau intra-species Homo sapiens. 

b. Pengujian primer forward dan reverse HVS II A dan HVS II B sebaiknya dilakukan juga 

terhadap sampel terdegradasi, yaitu sampel biologis selain sel bukal atau sel epitel untuk 

melihat kemampuan primer dalam mengamplifikasi mtDNA pada sampel yang sudah 

rusak. 

 

  







DNA kromosom

 


 



























Substansi Genetika 

• Molekul besar yang bertanggung jawab mengatur  

  jalannya seluruh peristiwa kimia (metabolisme) di   

  dalam tubuh mahluk hidup yaitu  DNA dan atau  

  RNA. 

• DNA dan RNA juga berfungsi sebagai unit  

  informasi genetik yang dapat diwariskan  

  kepada keturunan. 

• DNA dan RNA digolongkan sebagai Asam  

  Nukleat 

 

 

 

KROMOSOM 

  yaitu  suatu struktur padat yang terdiri dari 2  

    komponen molekul yaitu asam nukleat &  

    protein. 

  ada  dalam nukleus (inti sel). 

  Kromosom berasal dari benang-benang  

     kromatin yang kemudian menebal menjadi  

     kromosom saat  sel siap untuk membelah. 

 

BAGIAN-BAGIAN KROMOSOM 

1. KROMATID : yaitu  salah satu lengan dari dua 

lengan kromosom. 

2. KROMOMER : yaitu  akumulasi dari materi kromatin 

3. SENTROMER : yaitu  daerah pelekukan disekitar 

bagian tengah kromosom. 

4. SATELIT : yaitu  bulatan diujung lengan kromatid 

yang terbentuk karena ada pelekukan kedua. 

5. TELOMER : yaitu  daerah terujung pada lengan 

kromosom yang berfungsi menjaga stabilitas daerah 

tersebut agar DNA tidak terurai. 

 

Konstriksi 

(lekukan) 

sekunder 

Konstriksi 

primer 

Satelit 

Sentromer 

Sentromer 

Kromomer 

Kromonema 

Bereplikasi 


BENTUK-BENTUK KROMOSOM 

Metasentrik 

Akrosentrik 

Submetasentrik 

Telosentrik 

• Kromosom Metasentrik : yaitu  kromosom   

  yang letak sentromernya ditengah lengan   

  kromatid. 

• Kromosom Submetasentrik : yaitu  kromosom  

  yang letak sentromernya tidak ditengah lengan  

  kromatid. 

• Kromosom Aksosentrik : yaitu  kromosom  

  yang letak sentromernya di daerah antara   

  ujung dengan bagian tengah lengan kromatid 

• Kromosom Telosentrik : yaitu  kromosom yang  

  sentromernya terletak di ujung lengan  

  kromatid. 

 

• Tampilan Visual kromosom setiap individu disebut  

  KARIOTIPE 

• Kromosom yang memiliki  

  pasangan dengan panjang,  

  letak sentromer dan pola  

  pewarnaan yang sama  

  disebut  

  Kromosom Homolog. 

 

 

XY 

Tipe Kromosom : 

 

AUTOSOM : Kromosom tubuh menentukan karakter 

fisik 

GONOSOM : Kromosom seks penentu jenis kelamin 

Jumlah kromosom pada manusia :  

 

- Pada setiap sel somatik ( sel tubuh) ada  22   

   pasang autosom dan 1 pasang gonosom 

-  Pada setiap gamet (sel kelamin) 

 Sperma (sel kelamin jantan) ada  22 autosom   

   dan gonosom X atau gonosom Y 

 Ovum (sel kelamin betina) ada  22 autosom   

   dan gonosom X  

 

PENGEMASAN DNA DALAM 

KROMOSOM 

DNA + protein histon & non histon (nukleosom)  

Nukleosom + nukleosom (solenoid)  

Solenoid + solenoid (kromatin)  

Kromatin + kromatin (kromatid)  

Kromatid + kromatid (kromosom)  

Pengemasan DNA di dalam kromosom 


1865, Gregor Mendel menduga bahwa suatu 

bagian dari sel bertanggungjawab atas sifat yang 

diturunkan dari satu generasi ke generasi 

berikutnya. 

1868, Friedrich Miescher menemukan senyawa 

kimia yang berasal dari inti sel 

1879, Albrecht Kossel menemukan asam nukleat 

 

SEJARAH PENEMUAN BAHAN GENETIKA 

– 1882, Walther Flemming menemukan kromosom yaitu  

bagian dari sel yang ditemukan Mendel 

– 1887, Edouard-Joseph-Louis-Marie van Beneden 

menemukan bahwa suatu jasad memiliki jumlah kromosom 

tertentu   

– 1902, Walter Stanborough Sutton menyatakan bahwa 

kromosom berpasangan  

– 1910, Thomas Hunt Morgan menemukan bahwa bahan 

pembawa sifat yaitu  gen yang berada di dalam kromosom 

– 1926, Hermann Muller menemukan bahwa sinar X dapat 

menginduksi mutasi 

– 1928, Fred Griffith menemukan perubahan bentuk dinding 

sel Streptococcus pneumoniae 

– 1935, Andrei Nikolaevitch Belozersky berhasil 

mengisolasi DNA murni    

– 1941, George Beadle dan Edward Tatum 

menemukan hubungan mutasi dengan kerusakan 

proses biokimia sel 

– 1944, Oswald Theodore Avery, Colin MacLeod dan 

Maclyn McCarty yang melanjutkan pekerjaan 

Griffith menemukan bahwa DNA yaitu  bahan 

yang menyebabkan perubahan bentuk dinding sel 

Streptococcus pneumoniae 

 

Penelitian 

Watson dan Crick 

Dengan dukungan data difraksi sinar-X 

dari Rosalind Franklin dan Maurice 

Wilkins  

Dengan dukungan data analisis kimia 

basa nitrogen dari Erwin Chargaff 

Memformulasikan struktur DNA 

Mengelompokkan basa DNA menjadi 

purin dan pirimidin  

Memformulasikan model replikasi DNA 

 

• Gen yaitu  fragmen DNA di dalam    

   kromosom. 

• Gen yaitu  unit informasi genetik. 

• Sifat Gen : 

Dominan : yaitu  gen yang sekalipun bersama 

dengan gen lain tetapi karakternya diekspresikan 

sepenuhnya. 

Resesif : yaitu  gen yang karakternya tidak muncul, 

tertutup oleh gen yang dominan. 

Intermedier : yaitu  gen yang saling mempengaruhi.   

•  Total informasi genetik yang disimpan  

   dalam kromosom disebut GENOM. 

 

• Gen penentu karakter tertentu disimbolkan   

   dengan huruf tertentu : 

- Huruf besar untuk gen yang dominan 

-Huruf kecil untuk gen yang resesif 

Misal : 

Karakter cebol yang resesif disimbolkan dngan huruf d 

Sedangkan karakter  tidak cebol [normal] yang dominan 

disimbolkan dengan huruf D. 

Pasangan yang dapat terjadi dari simbol gen tersebut 

yaitu  DD, Dd dan dd. 

 

ALEL 

• Letak suatu gen pada kromosom disebut lokus. 

• Setiap gen yang menentukan karakter fisik tertentu   

  menempati Lokus pada masing kromosom homolog. 

• Misal : gen penentu warna mata menempati suatu   

  lokus pada satu kromosom, maka kromosom   

  homolognya juga memiliki gen penentu warna mata  

  pada lokus yang setara. 

• Pasangan gen yang seperti ini disebut Alel. Alel atau  

  disebut juga alternatif gen menentukan variasi pada   

  pewarisan suatu sifat. 

 


DNA 

 DNA merupakan tempat penyimpanan  

   informasi genetik. 

  DNA merupakan asam nukleat terdiri dari  

   empat macam nukleotida. 

STRUKTUR DNA 

• Merupakan makromolekul polinukleotida   

  yang terususun atas polimer nuukleotida   

  yang berulang-ulang, tersusun rangkap,  

  membentuk double helix. 

• Setiap nukleotida terdiri 3 gugus molekul: 

- Deoksiribosa 

- Basa nitrogen:  

  purin (adenin dan guanin) 

  pirimidin (sitosin dan timin) 

- Gugus fosfat 

 

STRUKTUR KIMIA NUKLEOTIDA 

PENYUSUN ASAM NUKLEAT 

Gula 

ribosa 

Basa 



STRUKTUR DNA: DOUBLE HELIX 

Aturan Chargaff : 

 

Aturan Chargaff : 

 

• Setiap molekul DNA, jumlah adenin (A)   

  selalu sama dengan jumlah timin (T).  

  Demikian pula jumlah guanin (G) selalu   

  sama dengan jumlah sitosin (S). 

• Sehingga adenin (A) selalu berpasangan  

  dengan timin (T), dan sitosin (S) selalu   

  berpasangan dengan guanin (G) melalui  

  ikatan hidrogen.  

 

 

 

Susunan basa nitrogen pada DNA. Adenin berpasangan  

dengan timin dan sitosin berpasangan dengan guanin. 

• DNA merupakan makromolekul yang struktur   

  primernya yaitu  polinukleotida rantai rangkap  

  berpilin.  

 

• Struktur diibaratkan seperti sebuah tangga, anak  

  tangga yaitu susunan basa nitorgen (ikatan A-T dan G- 

  S), ibu tangganya yaitu gula ribosa antara  

  mononukleotida satu dengan lainnya melalui ikatan  

  fosfodiester.   



TUJUAN PEMBELAJARAN 

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 

siswa diharapkan dapat: 

1. Menjelaskan proses replikasi DNA. 

2. Mendeskripsikan struktur, sifat dan  

    fungsi RNA. 

3. Menyebutkan perbedaan DNA dan  

    RNA. 

4. Menjelaskan proses tahapan sintesis  

    protein. 

 

Replikasi DNA 

• Replikasi yaitu  peristiwa sintesis DNA.  

• saat  sel membelah secara mitosis sel anak   

  harus mengandung DNA penuh dan identik  

  dengan DNA pada sel induk. Karena itu DNA  

  harus direplikasi (diperbanyak) dengan secara  

  tepat sebelum proses pembelahan sel dimulai. 

HIPOTESIS  

MODEL REPLIKASI DNA 

KONSERVATIF 

SEMIKONSERVAT

IF 

DISPERSIF 

• Konservatif : dua rantai DNA lama tidak berubah, berfungsi sebagai   

  cetakan untuk dua rantai DNA baru. 

 

• Semi Konservatif : dua rantai DNA lama terpisah kemudian rantai  

  baru disintesis dengan prinsip komplementasi pada masing-masing  

  rantai DNA lama tsb. Akhirnya dihasilkan dua rantai DNA baru yang  

  masing-masing mengandung satu rantai lama dan satu rantai baru  

  hasil sintesis. 

 

• Dispersif : beberapa bagian dari kedua rantai DNA lama digunakan  

  sebagai cetakan untuk sintesis rantai DNA baru, Akhirnya diperoleh  

  dua rantai DNA yang masing-masing mengandung sebagian rantai  

  DNA lama dan rantai DNA baru. 

 


RNA 

• Merupakan makromolekul yang  

  berfungsi sebagai penyimpan dan  

  penyalur informasi genetik. 

 

• RNA sebagai penyalur informasi  

  genetik misalnya pada proses  

  translasi untuk sintesis protein.  

STRUKTUR   RNA 

  Merupakan rantai tunggal  

    polinukleotida. 

   Setiap ribonukleotida terdiri 3  

    gugus molekul : 

    1. Gula 5 karbon (ribosa) 

    2. Basa Nitrogen : 

        - Purin (Adenin & Guanin) 

        - Pirimidin (Sitosin & Urasil) 

    3. Gugus fosfat 

• RNAd yaitu  RNA yang urutan basanya komplementer (berpasangan)  

  dengan salah satu urutan basa rantai DNA. RNAd membawa pesan  

  atau kode genetik (kodon) dari kromosom di dalam inti sel ke ribosom. 

  

• RNAr yaitu  RNA yang merupakan komponen utama penyusun  

  ribosom.  

 

• RNAt yaitu  RNA pembawa asam amino satu persatu ke ribosom  

  yang akan digunakan dalam pengurutan asam amino sesuai urutan  

 kodon pada RNAd. Pada salah satu ujung RNAt ada  tiga basa N  

 yang disebut antikodon, sedang ujung yang lain yaitu  tempat   

 melekatnya asam amino.      

 

Perbedaan DNA dan RNA 

Parameter DNA RNA 

Komponen : 

•Gula 

•Basa Nitrogen 

-Purin 

-Pirimidin 

 

Deoksiribosa 

 

Adenin, Guanin 

Timin, Sitosin  

 

Ribosa 

 

Adenin, Guanin 

Urasil, Sitosin 

Bentuk Rantai panjang, ganda dan 

berpilin 

(double helix) 

Rantai pendek, tunggal 

dan tidak berpilin 

Letak Di dalam nukleus, 

kloroplas, mitokondria 

Di dalam nukleus, 

sitoplasma, kloroplas, 

mitokondria 

 Kode Genetik yaitu  pengkodean urutan nukleotida pada 

DNA atau RNA untuk menentukan urutan asam amino pada 

saat pembuatan protein (sintesis protein) 

 Informasi pada kode genetik ditentukan oleh basa Nitrogen 

pada rantai DNA yang akan menentukan susunan asam 

amino. 

 Susunan tiap tiga nukleotida akan membentuk satu macam 

asam amino Mis : AGU, GAS, SGS dll 

 Kodon (Kode Genetik) yaitu  susunan tiap 

tiga nukleotida yang mewakili informasi 

bagi suatu asam amino tertentu 

KAMUS KODE GENETIK 

 

1.Polimerase DNA : enzim yang berfungsi   

   mempolimerisasi  nukleotida-nukleotida 

2. Ligase DNA : enzim yang berperan  

    menyambung DNA utas lagging 

3. Primase DNA : enzim yang digunakan untuk  

    memulai polimerisasi DNA pada lagging  

    strand 

4. Helikase DNA : enzim yang berfungsi  

    membuka jalinan  DNA double heliks 

5. Single strand DNA-binding protein :  

    menstabilkan DNA induk yang terbuka 

 

Replikasi DNA melibatkan : 

 Leading strand: sintesis DNA terjadi 

secara kontinu 

 Lagging strand: sintesis DNA terjadi 

melalui pembentukan utas-utas pendek 

   Origin 

menginisiasi 

replikasi DNA 

pada waktu yang 

berbeda 

Replikasi dimulai dari tempat-tempat 

spesifik, yang menyebabkan kedua utas DNA 

induk berpisah dan membentuk gelembung 

replikasi 

 

Pada eukariota, ada  ratusan atau bahkan 

ribuan origin of replication di sepanjang 

molekul DNA.   

 

Gelembung replikasi terentang secara lateral 

dan replikasi terjadi ke dua arah 

 

Selanjutnya gelembung replikasi akan 

bertemu, dan sintesis DNA anak selesai 





Konsep dasar menurunnya sifat secara 

molekuler yaitu  merupakan aliran 

informasi dari DNA ke RNA ke urutan asam 

amino.  

Dogma genetik ini bersifat universal yang 

berlaku baik bagi prokariot maupun 

eukariot. 


 Proses pengkopian/penyalinan molekul 

DNA menjadi utas RNA yang 

komplementer. 

 Melibatkan RNA Polymerase 

 

1.Inisiasi : 

  

-enzim RNA polymerase menyalin gen  

-pengikatan RNA polymerase terjadi pada 

tempat tertentu yaitu tepat didepan gen yang 

akan ditranskripsi.  -tempat pertemuan antara 

gen (DNA) dengan RNA polymerase disebut 

promoter.   

-kemudian RNA polymerase membuka double 

heliks DNA.   

-salah satu utas DNA berfungsi sebagai 

cetakan. 

 

Tahap Transkripsi 

Nukleotida promoter pada eukariot yaitu   

5’-GNNCAATCT-3’ dan 5’- TATAAAT-3’.   

Simbul N menunjukkan nukleotida (bisa 

berupa A, T, G, C).   

 

Pada prokariot, urutan promotornya yaitu  

5’-TTGACA-3’ dan 5’-TATAAT-3’. 

 

2. Elongasi :  

 

Enzim RNA polymerase bergerak sepanjang 

molekul DNA, membuka double heliks dan 

merangkai ribonukleotida ke ujung 3’ dari 

RNA yang sedang tumbuh.   

 

3. Terminasi :  

 

Terjadi pada tempat tertentu.  Proses 

terminasi transkripsi ditandai dengan 

terdisosiasinya enzim RNA polymerase dari 

DNA dan RNA dilepaskan.   

 



•Bagian dari molekul DNA (gene) 

terbuka pilinannya sehingga basa-

basanya terekspos. 

•Nukleotida mRNA bebas, di dalam 

nukleus berpasangan basa-basanya 

dengan satu utas molekul DNA yang 

telah terbuka pilinannya. 

•mRNA  dibuat dengan bantuan RNA polymerase. 

Enzim ini menyatukan nukleotida mRNA untuk 

membuat utas mRNA. 

•Utas mRNA ini bersifat komplementer terhadap 

DNA (gen) 

•mRNA meninggalkan nukleus menuju sitoplasma 

melalui pori nuklear 


Translasi / sintesis protein 

-Proses penerjemahan kodon-kodon pada 

mRNA menjadi polipeptida. 

 

-Kode genetik merupakan aturan yang 

penting 

 

-Urutan nukleotida mRNA dibawa dalam 

gugus tiga – tiga.  Setiap gugus tiga disebut 

kodon.    

 

-Dalam translasi, kodon dikenali oleh lengan 

antikodon yang ada  pada tRNA 


Ala: Alanine  Cys: Cysteine  Asp: Aspartic acid  Glu: Glutamic acid 

Phe: Phenylalanine  Gly: Glycine His: Histidine  Ile: Isoleucine  

Lys: Lysine Leu: Leucine  Met: Methionine Asn: Asparagine 

Pro: Proline Gln: Glutamine Arg: Arginine Ser: Serine 

Thr: Threonine Val: Valine Trp: Tryptophane Tyr: Tyrosisne 

Inisiasi.   

 

Proses ini dimulai dari menempelnya ribosom 

sub unit kecil ke mRNA.  Penempelan terjadi 

pada tempat tertentu yaitu pada 5’-AGGAGGU-

3’, sedang pada eukariot terjadi pada struktur 

tudung.  

Ribosom bergeser ke arah 3’ sampai bertemu 

dengan kodon AUG.  Kodon ini menjadi kodon 

awal.  Asam amino yang dibawa oleh tRNA 

awal yaitu  metionin. 

Elongation.   

 

Tahap selanjutnya yaitu  penempelan sub unit 

besar pada sub unit kecil menghasilkan dua 

tempat yang terpisah .  Tempat pertama yaitu  

tempat P (peptidil) yang ditempati oleh tRA yang 

membawa metionin.  

Tempat kedua yaitu  tempat A (aminoasil) 

yang terletak pada kodon ke dua dan kosong 

Proses elongasi terjadi saat tRNA dengan 

antikodon dan asam amino yang tepat masuk 

ke tempat A.  Akibatnya kedua tempat di 

ribosom terisi, lalu terjadi ikatan peptide 

antara kedua asam amino 

 

Ikatan tRNA dengan metionin lalu lepas, 

sehingga kedua asam amino yang berangkai 

berada pada tempat A.   

 

Ribosom kemudian bergeser sehingga asam 

amino-asam amino-tRNA berada pada tempat P 

dan tempat A menjadi kosong.   

 

Selanjutnya tRNA dengan antikodon yang tepat 

dengan kodon ketiga akan masuk ke tempat A, 

dan proses berlanjut seperti sebelumnya. 

 

 

Terminasi.   

 

Proses translasi akan berhenti bila tempat A 

bertemu kodon akhir yaitu UAA, UAG, UGA.    

 

Kodon-kodon ini tidak memiliki tRNA yang 

membawa antikodon yang sesuai.   

 

Selanjutnya masuklah release factor (RF) ke 

tempat A dan melepaska rantai polipeptida 

yang terbentuk dari tRNA yang terakhir.  

Kemudian ribosom pecah menjadi sub unit kecil 

dan besar.