Imunohematologi
DHTR : Delayed Hemolytic Transfusion Reaction
DSTR : Delayed Serological Transfusion Reaction
FDA : Food and Drug Administration
FFP : Fresh Frozen Plasma
GMP : Good Manufacturing Practices
FNHTR : Febrile Non Hemolytic Transfusion Reaction
HDFN : Hemolytic Disease of the Fetus and Newborn
HDN : Hemolytic Disease of the
HLA : Human Leucocyte Antigen
HPA : Human Platelet Antigen
HTR : Hemolitic Transfusion Reaction
IHTR : Immediate Hemolytic Transfusion Reaction
ISBT : International Society of Blood Transfusion
PC : Platelet Concentrates
PTP : Post Transfusion Purpura
TA-GVHD : Transfusion-associated graft-versus-host disease
TACO : Transfusion-Associated Circulatory Overload
TRALI : Transfusion-Related Acute Lung Injury
TRBC :Transfusion Related Bacteria Contamination
VWF : Von Willebrand Factor
Definisi Imunohematologi
Imunohematologi terdiri dari dua kata, yaitu “immune” yang
berhubungan dengan respon imun, dan ”hematologi” yaitu ilmu
yang mempelajari tentang darah. Pada buku ini akan membahas
tentang imunologi dasar, penerapan konsep imunologi pada
pemeriksaan laboratorium dan transfusi darah, serta komponen
darah. Topik yang akan dibahas antara lain: sistem antigen golongan
darah dan antibodi yang terkait, pemeriksaan pra-transfusi, donor
komponen darah, prinsip pengumpulan sampel darah, resipien
(penerima komponen darah), kondisi klinis yang membutuhkan
transfusi darah, serta efek samping pasca transfusi darah.
Sistem imun merupakan sistem yang paling beragam pada
tubuh manusia dan berfungsi untuk perlindungan organisme host.
Mekanisme pertahanan spesifik dimulai dari permukaan tubuh
eksternal, lalu meluas hingga mencakup jaringan, organ, dan
pertahanan seluler. Sistem imun berperan membedakan self dari
non-self dan menghancurkan organism berbahaya. Organisme non-
self dapat berupa uniseluler sampai multiseluler, termasuk bakteri,
virus, jamur, dan parasit.
Sistem imun tubuh tidak bersifat otonom, melainkan
bekerjasama dengan sistem lain di dalam tubuh. Sistem yang
berinteraksi dengan sistem imun yaitu sistem hematopoietik,
pencernaan, pernafasan, dan saraf. Tanpa adanya sistem imun
maka sistem tubuh lain beresiko diserang oleh organisme patogen.
Oleh sebab itu, sistem imun memiliki peran vital pada tubuh
manusia.
1.2 SISTEM IMUNITAS TUBUH
Imunologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang
imunitas atau kekebalan akibat adanya rangsangan molekul atau
substansi asing dari luar maupun dari dalam tubuh, baik yang
bersifat infeksius maupun non infeksius. Substansi yang dapat
menimbulkan respon imun disebut antigen. Tubuh memiliki sistem
pelacakan dan penjagaan terhadap substansi atau molekul asing
yang disebut sistem imun. Sistem imun akan memberi respon
dan melindungi tubuh terhadap zat asing, seperti mikroorganisme
pemicu penyakit patogen (virus, bakteri, parasit, jamur), sel
tumor, sel/ jaringan alogen, bahan atau zat yang bersifat antigen
(alergen). ada dua macam sistem imun, yaitu sistem imun non
spesifik (innate immunity) dan sistem imun spesifik (adaptive
immunity). Kedua sistem ini berperan dalam melindungi tubuh dan
mengeliminasi agen penyakit.
A. Sistem Imun Non Spesifik
Sistem imun non spesifik yaitu pertahanan tubuh yang
bersifat tidak spesifik dan berfungsi sebagai barier terdepan pada
saat terjadinya infeksi penyakit, sehingga sering disebut natural
atau native immunity. Komponen utama sistem imun non spesifik
(bawaan) yaitu pertahanan fisik dan kimiawi seperti epitel dan
substansi antimikroba yang diproduksi oleh epitel, berbagai protein
dalam darah seperti komponen sistem komplemen, mediator
inflamasi, sitokin, sel fagosit (sel-sel polimorfonuklear, makrofag,
Natural Killer). Usaha tubuh dalam mempertahankan diri terhadap
masuknya antigen bakteri yaitu dengan cara menghancurkan
bakteri yang masuk secara non spesifik dengan proses fagositosis
(Gambar 1.1), tanpa memperhatikan perbedaan kecil pada antigen
ini . Proses fagositosis melibatkan sel makrofag,neutrofil, dan
monosit.
B. Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua
ketika sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen
penyakit. Hal ini terjadi jika fagosit tidak mengenali agen
infeksius sebab hanya sedikit reseptor yang cocok untuk agen
infeksius atau agen tidak bertindak sebagai faktor antigen terlarut
(soluble antigen) yang aktif. Sehingga diperlukan molekul spesifik
yang akan berikatan langsung dengan agen infeksius yang dikenali
oleh antibodi untuk selanjutnya terjadi fagositosis. Sistem imun
spesifik memiliki ciri utama, antara lain: (a). Spesifisitas. Respon
yang timbul terhadap antigen pada komponen struktural kompleks
protein atau polisakarida yang berbeda, tidaklah sama. Bagian dari
antigen yang dikenali oleh limfosit disebut determinan antigen
(epitop); (2). Diversitas. Limfosit memiliki reseptor terhadap antigen
dengan bentuk struktur yang berbeda; (3). Memori. Limfosit
memiliki kemampuan dalam mengingat antigen yang pernah
masuk ke dalam tubuh dan memberi respon yang lebih efektif
pada paparan berikutnya; (4). Spesialisasi. Sistem imun memberi
respon dan dengan cara yang berbeda terhadap berbagai jenis
mikroba; (5). Membatasi diri (self limition). sesudah rangsangan
antigen, respon imun normal akan mereda dalam waktu tertentu.
Ini disebab kan antigen yang masuk telah disingkirkan dan adanya
regulasi umpan balik yang memicu terhentinya respon imun
ini ; (6) Membedakan self dan non-self. Pada sistem imun
normal akan menunjukkan toleransi terhadap antigen tubuh
sendiri.
C. Respon Imun Tubuh
Respon imun tubuh dipengaruhi oleh kemampuan sistem
imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang ada pada
patogen potensial dan menstimulasi reaksi yang tepat untuk
menyingkirkan sumber antigen bersangkutan. Proses pengenalan
antigen dilakukan oleh limfosit yang merupakan unsur utama sistem
imun, lalu diikuti oleh tahap efektor yang melibatkan berbagai
jenis sel. Limfosit memiliki kemampuan diversifikasi sebab harus
mengenal semua antigen pada patogen potensial dan d iwaktu
bersamaan harus mengabaikan molekul-molekul jaringan tubuh
sendiri (toleransi).
Kemampuan diversifikasi dimiliki oleh komponen-komponen
sistem imun yang ada dalam jaringan limforetikuler yang
terletak diseluruh tubuh, yaitu: sumsum tulang, kelenjar limfe,
limpa, kelenjar getah bening, jantung, timus, sistem saluran nafas,
usus halus, usus besar, dan sebagainya. Sel-sel yang ada pada
jaringan ini berasal dari sel induk (stem cell) dalam sumsum tulang
yang berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, lalu beredar
dalam tubuh melalui darah, getah bening, dan jaringan limfoid serta
dapat menunjukkan respon terhadap suatu stimulasi sesuai dengan
sifat dan fungsinya masing-masing. Stimulasi terhadap sel-sel
ini terjadi jika adanya suatu zat yang oleh sel atau jaringan
tubuh dianggap asing. Sistem imun mampu membedakan zat asing
(non-self) dari zat yang berasal dari tubuh sendiri (self). Pada
beberapa keadaan patologik, sistem imun tidak mampu
membedakan self dari non-self sehingga sel-sel dalam sistem imun
membentuk zat anti terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Zat anti ini
dinamakan autoantibodi.
Tabel 1.1 Imunogenisitas Berbagai Antigen
Antigen Imunogenisitas
Protein +++
Karbohidrat ++
Lemak +/-
Asam nukleat -
(Olson & Nardin, 2016)
1.3 ANTIGEN (IMUNOGEN)
Antigen merupakan substansi atau molekul yang dapat
merangsang pembentukan antibodi. Namun, kini antigen
didefinisikan sebagai substansi yang mampu bereaksi dengan
antibodi yang diproduksi oleh sel B atas rangsangan imunogen,
tanpa mempertimbangkan apakah antigen bersifat imunogenik. Ini
artinya semua imunogen yaitu antigen, namun tidak semua
antigen yaitu imunogen. Imunogen memiliki kemampuan dalam
menginduksi respon imun dengan bantuan sel T. Tidak semua
bagian dari antigen dapat berinteraksi dengan molekul sistem imun.
Bagian dari antigen yang dapat berikatan dengan antibodi atau
dengan reseptor spesifik pada limfosit T dsebut epitop. Ini
menandakan bahwa antigen memiliki beberapa epitop.
sedang hapten merupakan molekul organik kecil yang mampu
mengikat bagian reseptor antigen.
Suatu zat atau substansi bersifat imunogenitas jika
memiliki sifat, antara lain: (1). Keasingan; (2) ukuran molekul; (3)
kompleksitas struktur kimia; (4) kemudahan untuk mengenali,
mengambil, dan mendegradasi oleh sel penyaji antigen; (5) secara
tidak langsung, metode pengenalan antigen; (6) kehadiran zat kimia
tertentu yang dapat bekerja sebagai adjuvan imun.
Pada transfusi darah, imunohematologi yang diaplikasikan
mengutamakan reaksi antara antigen pada eritrosit dengan antibodi
pada serum/ plasma. Eritrosit memiliki banyak antigen pada
permukaan membrannya, inilah yang digunakan dalam penentuan
golongan darah (Gambar 1.2). Ada banyak golongan darah selain
ABO, seperti Rhesus, MN, Lewis, Kell dan Duffy, dan lain-lain.
Permukaan membran eritrosit memiliki banyak epitop yang
menentukan spesifisitas dan kekuatan reaksi antigen dan antibodi
(Gambar 1.3). Epitop umumnya berukuran kecil, yaitu ± 10.000
Dalton. Substansi atau zat dengan berat molekul < 10.000 Dalton
umumnya tidak bersifat imunogenik namun bila diikat pada protein
pembawa yang berukuran cukup besar, maka dapat membentuk
kompleks yang dapat menstimulasi respon imun untuk
memproduksi antibodi terhadap molekul ini . Substansi ini
dinamakan hapten. Hapten bentuk kompleksnya dapat bereaksi
dengan antibodi meskipun ia tidak bersifat imunogenik.
A. Human Leucocyte Antigen (HLA)
HLA juga dikenal dengan sistem Major Histocompatibility
Complex (MHC), dan disekresikan di membran sel berinti, antara
lain limfosit, granulosit, monosit, trombosit, dan organ-organ
lainnya. HLA terdiri dari dua jenis, yaitu HLA kelas 1 berada di sel
darah berinti di peredaran darah tepi dan trombosit. HLA kelas I ada
tiga jenis, yaitu: HLA-A, HLA-B, dan HLA-C. sedang HLA II terletak
di limfosit dan monosit. HLA II meliputi HLA-DR, HLA-DQ, dan HLA-
DP. HLA bersifat sangat imunogenik. Antibodi terhadap HLA dapat
terbentuk pada seseorang pada masa transfusi, hamil, dan
transplantasi organ. Pasien yang akan melakukan transplantasi
organ sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan HLA typing untuk
menghindari terjadinya proses penolakan organ di tubuh pasien.
Pada proses transfusi darah, komponen darah yang akan
ditransfusikan terlebih dahulu dihilangkan leukositnya (leucopoor)
guna menghindari ketidakcocokan HLA antara pendonor dan
resipien.
B. Human Platelet Antigen (HPA)
HPA merupakan antigen yang ada pada glikoprotein
membran trombosit. Sampai saat ini diketahui ada 33 jenis HPA
yang ada pada trombosit. jika terjadi ketidakcocokan HPA
akan memicu terbentuknya antibodi terhadap HPA, yang
mengakibatkan trombositopenia. Pada reaksi transfusi, anti HPA
dapat memicu kegagalan meningkatnya jumlah trombosit
pasca transfusi darah, perdarahan, dan timbulnya bintik atau bercak
merah (purpura).
1.4 ANTIBODI (IMUNOGLOBULIN)
Antibodi atau imunoglobulin dihasilkan oleh sistem imun dan
penting untuk pencegahan dan perlawanan infeksi oleh substansi
asing seperti bakteri, virus, parasit, dan zat patogen lainnya.
Antibodi merupakan glikoprotein yang berikatan khusus dengan
substansi atau molekul asing yang disebut antigen. Struktur dasar
antibodi terdiri dari dua rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai
ringan (light chain) yang identik serta dihubungkan bersama oleh
ikatan disulfide (S-S). Molekul ini dapat dipecah menjadi tiga
fragmen oleh enzim proteolitik, yaitu2 fragmen yang memiliki
susunan sama terdiri atas rantai berat dan rantai ringan, dinamakan
fragmen Fab yang dibentuk oleh domain terminal-N. Dan 1 fragmen
yang terdiri dari rantai berat saja, dinamakan fragmen Fc yang
dibentuk oleh domain terminal-C. Fragmen Fab dengan antigen
binding site berfungsi untuk mengikat antigen. sedang fragmen
Fc tidak memiliki kemampuan dalam mengikat antigen namun dapat
bersifat sebagai determinan antigen, serta berfungsi sebagai
efektor sekunder yang menentukan sifat biologis dari munoglobulin
ini .
Ciri khusus dari molekul antibodi yaitu ada pada
perbandingan urutan asam amino dari berbagai molekul
imunoglobulin. Ini menunjukkan bahwa imunoglobulin terdiri dari
berbagai copi folding unit sekitar 100 asam amino, yang masing-
masing membentuk struktur serupa yang independen yang disebut
lipatan imunoglobulin (immunoglobulin fold). Domain N-terminal
dari setiap polipeptida (rantai berat dan ringan) sangat bervariasi,
sedang domain lainnya memiliki urutan konstan. Pembentuk
domain disebut wilayah variabel (V region) sedang yang terakhir
yaitu wilayah konstan (C region). Selain itu, perbandingan urutan
wilayah V menunjukkan bahwa variabilitas tidak terdistribusi secara
merata namun terkonsentrasi dalam tiga wilayah, yang disebut
Klasifikasi Imunoglobulin
Ada lima jenis imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD, dan IgE)
yang berbeda dalam urutan asam amino dan jumlah domain di
area konstan pada rantai berat. Ada dua isotype rantai ringan
yang berbeda (λ dan κ). IgG merupakan jenis utama
imunoglobulin dalam serum normal. Kelima jenis imunoglobulin
ini dinamakan berdasarkan rantai berat penyusunnya.
Imunoglobulin G memiliki rantai berat ɣ, imunoglobulin M
memiliki rantai berat µ, imunoglobulin A memiliki rantai berat α,
imunoglobulin D memiliki rantai berat δ, imunoglobulin E
memiliki rantai berat ε. Di bidang transfusi darah banyak
melibatkan IgG dan IgM sebab berhubungan dengan
pemeriksaan pre transfusi, yaitu pemeriksaan sebelum dilakukan
transfusi darah. Ciri dari jenis-jenis Imunoglobulin ada pada
Tabel 1.2. Berikut ini merupakan jenis-jenis imunoglobulin, yaitu:
(1). Imunoglobulin G
Sebanyak 75% dalam serum manusia dewasa normal
mengandung Imunoglobulin G. Struktur IgG berbentuk
monomer, dan merupakan imunoglobulin utama yang dibentuk
atas rangsangan antigen yang masuk ke dalam tubuh. IgG dapat
menembus plasenta dan masuk ke dalam sistem peredaran
darah janin sehingga IgG dari ibu dapat melindungi bayi dari
infeksi. IgG paling mudah berdifusi ke dalam jaringan
ekstravaskular dan melakukan aktivitas sebagai antibodi di
jaringan. IgG juga dapat melapisi mikroorganisme sehingga
mudah difagositosis, serta dapat menetralisir toksin dan virus.
IgG memiliki half life selama 23 hari di dalam darah.
(2). Imunoglobulin M
Molekul imunoglobulin M berbentuk pentamer dan
berukuran paling besar. IgM banyak ada di intravaskular
dan merupakan 10% dari total imunoglobulin pada serum. IgM
yaitu imunoglobulin pertama yang dibentuk pada saat antigen
masuk ke dalam tubuh, namun memiliki respon yang pendek
(hanya beberapa hari dan lalu kembali menurun). IgM
tidak mampu menembus plasenta, sehingga adanya IgM pada
darah bayi menunjukkan adanya infeksi. Makromolekul IgM
dapat memicu aglutinasi berbagai partikel dan fiksasi
komplemen dengan efisiensi yang sangat tinggi.
(3). Imunoglobulin A
Struktur imunoglobulin A umumnya berbentuk monomer
dan ada 15% dari total imunoglobulin (terbanyak kedua
dalam serum). IgA berfungsi dalam cairan sekresi yang
diproduksi oleh sel sel plasma dalam jaringan limfoid, dan
banyak ditemukan dalam saliva, air mata, kolostrum, serta sekret
bronkus, vagina, dan prostat. IgA mampu mengikat
mikroorganisme sehingga tidak melekat pada permukaan
mukosa, dan membatasi absorpsi antigen yang berasal dari
makanan. Imunoglobulin ini ada pada kolostrum yang dapat
membantu sistem imun pada bayi baru lahir. IgA memiliki
half life selama 5-6 hari di dalam darah.
(4). Imunoglobulin D
Konsentrasi IgD hanya sedikit di dalam serum, namun
cukup tinggi pada darah tali pusat. IgD ditemukan dalam
permukaan sel B, terutama dalam sel B neonatus. keberadaan
IgD bersama dengan IgM pada permukaan limfosit diperkirakan
saling membantu sebagai resptor antigen dalam mengendalikan
aktivasi dan penekanan limfosit. IgD memiliki half life selama
2-3 hari di dalam darah.
(5). Imunoglobulin E
Konsentrasi IgE dalam serum sangat rendah, hanya
0,0004% dari total imunoglobulin dan dapat ditemukan dalam
cairan sekresi. IgE memiliki kemampuan melekat pada
permukaan mastosit atau basofil melalui reseptor Fc.
Imunoglobulin E dikenal sebagai reagin pada reaksi sensitifitas
tipe segera (immediate) seperti pada rinitis musiman, asma,
urtikaria, dan reaksi anafilaktik. IgE banyak ditemukan pada
penderita infeksi cacing (parasit). Parasit yang dilapisi oleh IgE
akan lebih mudah dihancurkan oleh eosinofil.
Pada sistem golongan darah pada manusia normal, umumnya
memiliki anti A dan anti B yang secara alamiah terbentuk di
dalam tubuh. Jenis antibodi ini terbentuk berlawanan dengan jenis
antigen yang sudah ada. Misalnya, seseorang dengan antigen A
akan memiliki anti B di dalam serum darahnya. Pada sistem
golongan darah umumnya memiliki jenis antibodi IgM atau IgG, dan
sedikit IgA. Antibodi seperti anti A dan anti B biasanya merupakan
IgM. sedang antibodi jenis IgG pada sistem golongan darah
biasanya jenis antibodi imun, sebab terbentuk akibat paparan
sebelumnya dengan antigen yang sesuai, misalnya antibodi Rhesus,
antibodi Kell, antibodi Kidd, dan lain-lain. Bila antibodi jenis IgM
dapat bereaksi langsung pada medium saline (NaCl 0,9%), maka
jenis antibodi IgG membutuhkan reagen tambahan untuk
memperlihatkan aglutinasi terhadap antigen yang sesuai, misalnya
anti human globulin (AHG).
1.5 MEKANISME RESPON IMUN
Transfusi darah terutama berkaitan dengan produk dari
antibodi sel B yang dibuat sebagai respon terhadap bahan antigenik
seperti alogenik (“asing”: dari donor selain resipien transfusi)
eritrosit dan terkadang leukosit, trombosit, dan obat-obatan.
Imunisasi, atau sensitisasi (paparan antigen asing yang
menghasilkan respon imun) pada substansi ini, terjadi melalui
transfusi darah atau kehamilan. Elemen seluler dari donor atau janin
mengandung antigen yang dikenali oleh sistem imun resipien
sebagai non-self. Ketika dipresentasikan kepada resipien, maka
antigen ini diproses oleh sistem imun resipien serta dapat
mengakibatkan pembentukan antibodi yang terdeteksi. Keadaan ini
dapat terjadi pada 30% sampai dengan 70% dari semua orang yang
ditransfusikan dengan komponen darah yang mengandung leukosit.
Antibodi yang dibuat sebagai respon terhadap produk darah “asing”
kemungkinan dari subkelas IgG atau IgM. Antibodi IgM umumnya
merupakan hasil dari respon imun primer, memiliki konsentrasi
yang relatif rendah serta dapat dideteksi dalam waktu 3-4 minggu.
Pada paparan ulang antigen non-self, dapat terjadi respon sekunder
dengan tipikal antibodi IgG yang diproduksi dalam 1 hingga 2 hari
dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada respon IgM. Respon
sekunder dikenal sebagai respon anamnestik. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi respon imun primer dan sekunder, misalnya
imunogenisitas antigen, kelangsungan hidupnya dalam sirkulasi,
dan kekuatan sistem imun resipien. Respon imun resipien ini
tergantung pada faktor-faktor, seperti usia, status gizi, dan paparan
sebelumnya.
A. Mekanisme Aglutinasi
Reaksi antigen-antibodi mengikuti hukum aksi massa dalam
reaksi kombinasi sederhana (Ab + Ag ↔ kompleks AbAg ) yang
lalu diikuti oleh reaksi sekunder dan tersier. Reaksi bersifat
reversibel dan tergantung pada beberapa faktor. Namun yang
paling penting yaitu kecocokan dari tempat pengikatan antibodi
(binding site) dan antigen, saling melengkapi muatan, konsentrasi
antigen dan antibodi, medium suspensi pH, suhu, serta kekuatan
ionik.
B. Antibodi Mengikat Eritrosit
Pengikatan eritrosit-antibodi untuk membentuk reaksi
aglutinasi yang visible (terlihat), maka jumlah minimum molekul
antibodi harus terikat dengan antigen. Sehingga semakin besar
jumlah antibodi yang terikat pada setiap eritrosit maka semakin
kuat reaksi yang dapat diamati. Selain itu, meningkatkan rasio
serum terhadap sel memiliki efek adanya aglutinasi yang dapat
diamati serta peningkatan uji sensitivitas. Sebaliknya, meningkatnya
konsentrasi antigen oleh peningkatan kekuatan suspensi eritrosit
pada sistem pengujian menghasilkan sensitivitas yang lebih rendah,
dan lebih sedikit molekul antibodi yang terikat pada tiap eritrosit.
C. Hemaglutinasi
Tahap kedua dari reaksi antigen eritrosit-antibodi
memicu aglutinasi atau lebih tepatnya hemaglutinasi.
Hemaglutinasi sebagai reaksi yang dapat diamati dapat terjadi atau
tidak terjadi sebagai konsekuensi dari pasien yang diimunisasi
dengan antigen sel darah merah alogenik, dan tergantung dari
beberapa variabel, antara lain: jumlah dan tipe antibodi yang ada;
ukuran, jumlah, dan lokasi antigen site yang tersedia; pH,
temperatur, dan kekuatan ion sistem pengujian.
Anibodi golongan darah tergantung pada kelasnya. Dapat
bereaksi dalam kisaran 4oC sampai dengan 37oC, dan tingkat
disosiasi meningkat ketika suhu meningkat lebih dari 37oC. Prinsip
ini digunakan dalam semua tes antigen-antibodi, mulai dari tes
kompatibilitas hingga prosedur elusi antibodi yang menggunakan
pemanasan untuk menghilangkan antibodi dari permukaan
eritrosit. Suhu sangat berpengaruh pada reaksi antigen-antibodi,
sebagai contoh ikatan anti-D lebih banyak dan efisien pada suhu
37oC daripada suhu 4oC.
Tidak ada metode serologis tunggal yang dapat digunakan
untuk mendeteksi semua jenis antibodi golongan darah. Hal ini
dipicu sebab metode tunggal tidak dapat menunjukkan
reaktivitas. Ini tidak berarti bahwa serum tidak mengandung
antibodi spesifik, namun ini tidak dapat ditunjukkan oleh suatu
teknik tertentu, pada suhu dan pH tertentu. Aglutinasi atau reaksi
penggumpalan yang diamati secara in vitro sebab adanya ikatan
antigen dan antibodi serta semua variabel yang mempengaruhi
karakter dan jumlah reaktivitas yang dapat diamati.
D. Reaksi Tersier
Step terakhir dalam pengikatan eritrosit-antibodi mengarah
pada destruksi target eritrosit termasuk aktivasi komplemen,
fagositosis, opsonisasi, kemotaksis, adherens imun, dan degranulasi
seluler.
RANGKUMAN :
Imunohematologi mencakup tentang imunologi dasar,
penerapan konsep imunologi pada pemeriksaan laboratorium
dan transfusi darah, serta komponen darah.
Sistem imun non spesifik yaitu pertahanan tubuh yang
bersifat tidak spesifik dan berfungsi sebagai barier terdepan
pada saat terjadinya infeksi penyakit, sehingga sering disebut
natural atau native immunity.
Sistem imun spesifik ialah sistem pertahanan tubuh kedua
ketika sistem imun non spesifik tidak dapat mengeliminasi agen
penyakit.
Antigen (imunogen) merupakan substansi yang mampu
bereaksi dengan antibodi yang diproduksi oleh sel B atas
rangsangan imunogen, tanpa mempertimbangkan apakah
antigen bersifat imunogenik. Ini artinya semua imunogen
yaitu antigen, namun tidak semua antigen yaitu imunogen.
Antibodi (imunoglobulin) dihasilkan oleh sistem imun dan
penting untuk pencegahan dan perlawanan infeksi oleh
substansi asing seperti bakteri, virus, parasit, dan zat patogen
lainnya. Antibodi berupa glikoprotein yang berikatan khusus
dengan substansi atau molekul asing yang disebut antigen.
ada lima jenis imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD, dan IgE)
yang berbeda dalam urutan asam amino dan jumlah domain di
area konstan pada rantai berat.
SISTEM GOLONGAN DARAH
Bidang utama dalam sistem golongan darah meliputi bank
darah dan terapi transfusi darah. Sistem golongan darah dan antibodi
merupakan dasar untuk pemeriksaan pra transfusi darah. Antigen
dan antibodi merupakan etiologi penyakit hemolitik pada janin dan
reaksi transfusi hemolitik pada bayi baru lahir. Beberapa antigen
berperan utama pada terapi transplantasi. Pemeriksaan pra transfusi
berfokus pada pemeriksaan antigen ABO dan Rhesus, sera skrining
untuk anibodi dalam plasma. Pada bab ini akan membahas tentang
sistem golongan darah ABO dan Rhesus, serta sistem golongan darah
lainnya.
Hingga saat ini diketahui ada 33 sistem golongan darah
yang mewakili lebih dari 300 antigen yang terdaftar di International
Society of Blood Transfusion (ISBT), dimana sebagian besar telah di
kloning dan di sekuensing (diurutkan). Gen-gen dari sistem golongan
darah ini bersifat autosomal, kecuali XG dan XK yang diturunkan
melalui kromsom X, dan MIC2 yang ada pada kromosom X dan Y.
Antigen dapat berupa protein integral dimana polimorfisme terletak
pada variasi urutan asam amino (misalnya: Rhesus, Kell), glikoprotein
atau glikolipid (misalnya ABO). Beberapa sistem golongan darah ada
pada Tabel 2.1.a dan 2.1.b. sedang fungsi dari berbagai sistem
golongan darah ada pada Tabel 2.2.
2.1 GOLONGAN DARAH ABO
Sistem golongan darah ABO penting dalam bidang ilmu
kedokteran terutama transfusi dan transplantasi. Sistem ABO paling
penting dalam bidang transfusi, sebab transfusi sistem ABO yang
inkompatibel akan mengakibatkan gejala reaksi transfusi hemolitik
(HTR) dan mengakibatkan koagulasi intravaskular diseminata (DIC),
gagal ginjal, dan kematian. ada 2 jenis inkompatibilitas ABO,
yaitu:
Inkompatibilitas Mayor, di mana antibodi resipien akan
menghancurkan eritrosit yang ditransfusikan (misalnya: A ke O, B
ke O, A ke B, B ke A).
Inkompatibilitas Minor, di mana antibodi darah donor akan
menghancurkan eritrosit resipien. (misalnya: O ke A, O ke B).
Inkompatibilitas mayor dalam transfusi darah harus dihindari.
Walaupun inkompatibilitas minor biasanya dapat diabaikan ketika
donor tidak memiliki antibodi ABO yang levelnya sangat tinggi, bila
memungkinkan untuk transfusi harus menggunakan darah donor dari
golongan darah ABO yang sama dengan pasien. Tanda terjadinya
destruksi eritrosit kemungkinan tampak sesudah transfusi whole
blood golongan darah O atau, dalam keadaan luar biasa, Packed Red
Cell (PRC), kepada resipien golongan darah ABO lainnya. Ini
memicu destruksi eritrosit pasien sebab ditransfusikannya
antibodi ABO. Anti-A1 jarang bermakna klinis secara signifikan dan
sebagian besar sampel tidak aktif pada suhu lebih dari 25°C,
meskipun ada beberapa laporan HTR yang dipicu oleh anti-A1.
Diantara 33 sistem golongan darah, sistem ABO merupakan
yang paling penting dalam transplantasi dan transfusi darah. Hal ini
dipicu individu berusia lebih dari 6 bulan memiliki antibodi anti-
A dan atau anti-B yang bermakna signifikan secara klinis dalam
serumnya. Golongan Darah A mengandung antibodi terhadap
golongan golongan darah B dalam serum dan sebaliknya. sedang
golongan darah O tidak mengandung antigen A atau B tapi keduanya
merupakan antibodi dalam serum.
A. Sejarah Golongan Darah ABO
Pada tahun 1990 Karl Landsteiner menemukan sistem
golongan darah ABO. Ini menjadi awal mula adanya bank darah dan
kedokteran transfusi darah. Dengan serangkaian percobaan, Karl
Landsteiner berhasil menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam
sistem golongan darah ABO, yaitu A, B, dan O. lalu tidak lama
sesudah itu, rekannya, yaitu Alfred von Decastello dan Adriano Sturli
menemukan golongan darah AB. Pada penelitian selanjutnya, Karl
Landsteiner menghubungkan adanya antigen ABO pada eritrosit dan
antibodi aglutinasi resiprokal dalam serum orang yang sama,
misalnya antigen A pada eritrosit dengan dengan anti-B pada serum.
Penemuan ini dikenal dengan Hukum Landsteiner, yang merupakan
dasar untuk semua terapi transfusi serta sebagai pedoman untuk
menentukan kompatibilitas atau kecocokan antara donor dan
resipien. Golongan darah ABO merupakan pemeriksaan utama yang
dilakukan di bank darah.
B. Persebaran Golongan Darah ABO di Dunia
(1) Golongan Darah O
Individu dengan golongan darah O disebut "donor
universal" sebab darah mereka kompatibel dengan semua
golongan darah ABO. Golongan darah ini yang paling banyak
jumlahnya di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Eropa
Barat. Penduduk asli Amerika Tengah dan Selatan, memiliki
frekuensi golongan darah O sangat tinggi, hampir 100%. Golongan
darah O juga banyak jumlahnya di antara penduduk asli Australia.
(2) Golongan Darah A
Golongan darah A banyak ada di Eropa Tengah dan
Timur. Sekitar 45-50% penduduk di negara Austria, Denmark,
Norwegia, dan Swiss memiliki golongan darah A. Pada penduduk
Polandia dan Ukraina populasi golongan darah O mencapai 40%.
Sekitar 80% orang Indian Blackfoot di Montana memiliki golongan
darah A.
(3) Golongan Darah B
Golongan darah B banyak ada di Cina dan India,
mencapai 25% dari populasinya. Golongan darah B jarang
ditemukan di negara-negara Eropa dan penduduk Amerika yang
berasal dari Eropa, hanya ditemukan sekitar 10% dari populasi ini.
(4) Golongan Darah AB
Golongan darah AB merupakan golongan darah yang paling
langka. Individu golongan darah AB dikenal sebagai "resipien
universal" sebab dapat menerima transfusi darah dari semua
golongan darah ABO. Golongan darah O paling banyak ada di
Jepang, wilayah Cina, dan di Korea, jumlahnya mencapai 10% dari
populasi penduduknya.
C. Antigen Sistem ABO dan H
Antigen yang terdeteksi pada pemeriksaan laboratorium, termasuk
antigen ABO terletak di permukaan eritrosit. Antigen ABO juga
ditemukan pada limfosit, trombosit, organ, sel endotel, dan sel epitel.
Antigen ABO berkembang dengan baik pada orang dewasa. Antigen
ABO terdeteksi pada usia kehamilan 5 – 6 minggu. Pada bayi baru
lahir menunjukkan antigen yang lebih lemah namun antigen ABO
berkembang seutuhnya pada usia 2 – 4 tahun. Hal ini dipicu oleh
percabangan oligosakarida. Pada orang dewasa jumlah percabangan
rantai lebih banyak, bila dibandingkan dengan bayi baru lahir yang
lebih banyak memiliki rantai linier. Percabangan rantai
memungkinkan perlekatan molekul ang lebih banyak untuk
menentukan spesifitas antigen H, termasuk molekul spesifik A dan
atau B.
Pewarisan antigen ABO diperoleh dari kedua orangtua
individu. Setiap individu memiliki sepasang gen. Setiap gen
menempati lokus identik pada kromosom 9. ada kemungkinan
3 gen yang dapat diwariskan, yaitu A, B, dan O. Gen A dan B
menghasikan produk yang dapat terdeteksi. sedang gen O
merupakan produk yang tidak terdeteksi. Ekspresi gen A dan B yaitu
kodominan. Kombinasi gen (genotip) dan ekspresi sebagai golongan
darah (fenotip) ada pada Tabel 2.4. Pewarisan golongan darah ABO
dari kedua orangtua dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Antigen H merupakan prekursor dari antigen golongan darah
ABO. Antigen H ada pada semua eritrosit, terlepas dari sistem ABO.
Antigen H diperlukan untuk menghasilkan antigen A dan atau B. Gen
H juga diwariskan dengan gaya mendelian dan menempati lokus pada
kromosom 19. Setiap orangtua berkonstribusi satu gen, baik H atau
h. Kemungkinan kombinasi yang dapat terjadi yaitu HH, Hh, dan hh.
Individu yang secara genetik HH atau Hh akan menghasilkan antigen
H, dan dapat terdeteksi pada eritrositnya.
Gambar 2.1 Perbedaan Struktural Umum pada Rantai Oligosakarida
yang Berfungsi sebagai Prekursor untuk Antigen ABH:
a). Rantai prekursor umum
b). Tipe 1 rantai oligosakarida – β 1—3 terikat D-galaktosa
c). Tipe 2 rantai oligosakarida – β 1—4 terikat D-galaktosa
(Gal = D Galaktosa; GALNAc = N-asetilglukosamin)
Frekuensi munculnya antigen H pada populasi Kaukasia lebih
dari 99,99%. sedang individu yang menghasilkan genotip hh tidak
menghasilkan antigen H dan memiliki fenotip Bombay Oh. Plasma
individu dengan fenotip Bombay sering menunjukkan anti-H. Individu
dengan fenotip Bombay homozigot untuk gen H (hh) langka
ditemukan. Fenotip Bombay tidak mengekspresikan antigen H pada
eritrositnya. Antigen H berfungsi sebagai prekursor, sehingga
ketidakhadirannya menandakan tidak adanya antigen A dan B.
Namun, individu ini menghasilkan isoantibodi terhadap
antigen H , serta antigen A dan B.
Antigen H terdistribusi secara luas pada jaringan yang sama
dengan antigen A dan B. Demikian juga pada individu "sekretor",
dimana antigen H dalam bentuk terlarut ditemukan dalam saliva dan
semua cairan tubuh, kecuali cairan serebrospinal.
D. Fenotip Defisiensi-H (Bombay Oh)
Meskipun sistem golongan darah ABO dan H berbeda secara
genetik, namun keduanya berhubungan erat secara biokimia dan
level fenotip. Fenotipe defisiensi-H sangat jarang dan meliputi:
defisiensi total antigen H (Fenotip Bombay atau Oh) atau
defisiensi parsial (Parabombay).
Individu Oh Bombay sangat langka. Individu pertama yang
terbukti pembawa sifat ini yaitu orang India yang leluhurnya
berasal dari Bombay, sehingga dinamakan Oh Bombay. Sel-selnya
tidak diaglutinasi oleh anti-A, anti-B, anti-A,B atau anti-H. Individu Oh
Bombay memiliki antibodi anti-H, anti-A dan anti-B yang kuat di
dalam serumnya. Sehingga mereka hanya bisa menerima transfusi
hanya dengan golongan darah Oh. Tabel 2.3 menunjukkan perbedaan
antara golongan darah O dan golongan darah Oh.
E. Perkembangan Biokimia dan Struktural Antigen A, B, Dan H
Ekspresi gen A, B, dan H tidak menghasilkan produksi antigen
secara langsung. Namun, masing-masing gen mengkode produksi
enzim yang dikenal sebagai transferase. Setiap transferase
mengkatalisis transfer molekul karbohidrat ke rantai oligosakarida.
Karbohidrat yang terikat menyajikan spesifitas antigenik. Kode gen O
untuk protein tidak akif secara enzimatik, sehingga tidak ada antigen
yang diproduksi. Ringkasan dari molekul transferase ada pada Tabel
2.6.
F. Struktur Umum Golongan Darah
Antigen A, B, dan H memiliki struktur umum berupa rantai
oligosakarida yang terikat pada protein atau molekul lipid. Struktur
umum ini yang digunakan sebagai komponen struktural dasar untuk
beberapa antigen. Berbagai sistem antigen dibangun dari struktur
yang sama, menandakan saling mempengaruhinya sistem terkait.
Antigen dengan struktur dasar umum, antara lain: ABH, Lewis, P, dan
I/i. Struktur oligosakarida yang umum yaitu molekul karbohidrat
yang terhubung dalam bentuk linier sederhana maupun struktur
kompleks dengan tingkat percabangan yang tinggi. ada dua
variasi pada rantai oligosakarida, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Perbedaan
berdasarkan struktural perlekatan molekul gula terminal. Hal ini
ditunjukkan pada Gambar 2.1. Rantai tipe 1 ada pada cairan dan
sekresi tubuh sedang rantai tipe 2 ditemukan pada membran
eritrosit. Rantai tipe 1 dibentuk oleh β 1 → 3 ikatan karbon nomor 1
D-galaktosa dengan karbon nomor 3 N-asetilglukosamin. sedang
rantai tipe 2 dibentuk oleh hubungan β 1 → 4 dari karbon nomor 1 D-
galaktosa dengan karbon nomor 4 dari N-asetilglukosamin.
G. Status Sekretor
Bentuk antigen A, B, dan H yang larut (soluble) dapat
ditemukan dalam cairan sekresi tubuh. Kemampuan seseorang untuk
mensekresikan substansi larut dalam cairan tubuh (water soluble)
dikendalikan oleh gen yang diwariskan secara bebas. Gen sekretor
yaitu gen atau FUT2 (α 1,2 fucosyltransferase) pada kromosom 19.
Alelnya yaitu se bersifat amorf. Membutuhkan minimal satu gen Se
untuk memunculkan sifat sekretori. Individu yang memiliki antigen
ABH terlarut (SeSe atau Sese) dalam cairan sekresi tubuhnya disebut
sekretor. sedang individu yang tidak memiliki antigen A atau B di
cairan sekresi tubuhnya (sese) disebut non sekretor.
ada sekitar 78% populasi yang memiliki minimal satu gen
Se. individu yang memiliki gen Se akan mengeluakan antigen A, B, dan
atau H. Enzim yang diproduksi oleh Se bekerja terutama pada rantai
tipe 1 dan secara khusus di kelenjar sekretori. Berbeda dengan gen H
yang bekerja hampir seluruhnya pada rantai tipe 2. Dan sebagian
besar pada membran eritrosit. Kode gen Se untuk produksi
transferase,L-fucosyltransferase. Enzim ini mendorong transfer L-
fucose ke terminal galaktosa rantai tipe 1 dan membentuk zat H
dalam cairan sekresi tubuhnya. Enzim transferase A dan B ditemukan
dalam sekresi individu A dan B terlepas dari status sekretornya. Oleh
sebab itu ketika substansi H ditemukan pada cairan sekresi tubuh
maka antigen A dan atau B akan terbentuk jika ada enzim
transferase yang sesuai. Contoh cairan tubuh yang ada substansi
A, B dan H antara lain: saliva, keringat, air mata, semen, serum, dan
cairan amniotik (air ketuban).
H. Subgrup A dan B
(1) Subgrup A1 dan A2
Antigen grup A dibedakan menjadi beberapa subgrup.
ada 2 grup utama yaitu A1 (80% individu grup A) dan A2 (20%
individu grup A). Individu dengan tipe AB dapat dibagi ke dalam
persentase yang sama dari presentasi antigen. A1B membentuk
sekitar 80% dan A2B sebanyak 20% dari semua individu AB. Grup
A individu yang tersisa berada dalam salah satu dari banyak
subgrup minor.
Antigen A1 dan A2 memiliki beberapa perbedaan secara
kualitatif dan kuantitatif. Antigen eritrosit memiliki jumlah antigen
yang berbeda pada permukaan selnya. Gen A1 menghasilkan
transferase yang memiliki kemampuan mengubah antigen H
menjadi antigen A lebih besar daripada gen A2. Hal ini disebab kan
jumlah transferase yang diproduksi A1 dan A2 juga berbeda. A1
memproduksi 5 hingga 10 kali lebih banyak daripada jumlah
tranferase yang dihasilkan oleh A2. Adanya fenotip A2 ini
dipicu oleh 2 mutasi, yaitu substitusi Pro-156Leu dan delesi
single nukleotida. Inilah yang memicu aktivitas enzim
transferase pada A2 lebih sedikit daripada A1.
Antigen A2 sebagian besar terdiri dari rantai oligosakarida
linier sedang A1 memiliki jumlah rantai yang bercabang lebih
banyak. Pada pemeriksaan rutin, perbedaan secara kualitatif tidak
dapat terdeteksi namun dapat ditentukan secara biokimia. A1 dan
A2 tidak dapat dibedakan menggunakan antisera umum, sebab
sama-sama bereaksi dengan anti A, dan anti A,B. Lectin, dan
Dolichos biflorus dapat digunakan untuk untuk mendapatkan
ekstrak dengan spesifitas anti A1. Dolichos biflorus dapat bereaksi
secara khusus dengan sel A1 dan hasilnya negatif dengan A2.
Individu A2 dapat mengembangkan antibodi terhadap
antigen A1. Pola reaksi reverse yang khas dari individu golongan
darah A yaitu tidak terjadi aglutinasi dengan sel A (tidak ada anti-
A) dan terjadi aglutinasi dengan sel B (ada anti-B). Pada orang A2
dengan anti A1, sel-sel A juga akan diaglutinasi oleh golongan
darah A. Sehingga perbedaan ini harus dikonfirmasi melalui
pengujian eritrosit dengan Dolichos biflorus lectin. ada
subgrup A lain yang jarang muncul, serta dipengaruhi secara
genetik. Subgrup ini antara lain: Aintr, A3,Ax, Am, Aend, Ael, dan Abantu.
(2) Subgrup B
Subgrup B sangat jarang, dan jarang ditemukan
dibandingkan dengan subgrup A. Metode untuk mendeteksi dan
mengklasifikasikan subgrup B mirip dengan yang digunakan pada
subgrup A. Subgrup B antara lain: B3, Bx, Bm, dan Bel.
I. Antibodi ABO
Sistem imun membentuk antibodi terhadap antigen golongan
darah ABO mana pun yang tidak ditemukan pada eritrosit individu.
Dengan demikian, individu golongan darah A akan memiliki antibodi
anti-B dan individu golongan darah B akan memiliki antibodi anti-A.
Golongan darah O akan memiliki baik anti-A dan anti-B dalam
serumnya. Golongan darah AB yang paling jarang, dan mereka tidak
memiliki anti-A atau anti-B dalam serumnya. Ini dapat dilihat pada
Tabel 2.7.
Antibodi ABO dalam serum diperoleh secara alami,
produksinya di stimulasi ketika sistem imun bertemu dengan antigen
golongan darah ABO yang “hilang” dalam makanan atau dalam
mikroorganisme. Ini terjadi pada usia dini sebab gula yang identik
dengan, atau sangat mirip dengan antigen golongan darah ABO yang
ditemukan diseluruh alam. Lokus ABO memiliki 3 bentuk alel
utama, yaitu: A, B, dan O. Alel A mengkodekan glikosiltransferase
yang menghasilkan antigen A (N-asetilgalaktosamin merupakan gula
immunodominannya), dan alel B mengkodekan glikosiltransferase
yang menghasilkan antigen B (D-galaktosa merupakan gula
imunodominannya). Antibodi ABO memiliki signifikansi klinis utama
dipicu 2 hal, yaitu: (1) sebab terjadi secara alami dan
ditemukan secara universal, serta (2) bersifat sangat reaktif.
Antibodi sistem ABO hadir segera sesudah kelahiran pada
paparan agen lingkungan yang susunan antigennya mirip dengan
antigen A dan B yang ditemukan pada eritrosit. Konsentrasi atau titer
antibodi ini sangat bervariasi. Antibodi NRCS (non–red cell
stimulated) sistem ABO pada dasarnya merupakan IgM, walaupun
juga ditemukan adanya IgG dan IgA. Antibodi ini mengikuti sifat
umum dari antibodi IgM (bereaksi paling baik pada suhu kamar atau
dibawahnya, dapat mengaktifkan komplemen,dan merupakan
aglutinin saline). Versi IgM dan IgA dari antibodi ABO tidak
menembus barier plasenta. Namun, versi IgG mampu menembus
plasenta serta dapat memicu penyakit hemolitik pada bayi
baru lahir.
Bentuk imunitas antibodi ABO merupakan hasil dari paparan
terhadap eritrositin kompatibel atau sumber antigen BO lainnya.
Bentuk imunitas ini umumnya menjadi IgG, memicu
meningkatnya resiko transfer transplasental dari antibodi ABO pada
masa kehamilan. lalu , bentuk imunitas dari antibodi ABO tidak
mudah dihambat oleh antigen A dan B yang bersifat soluble. Hal ini
menunjukkan bahwa antibodi yang timbul akibat sensitisasi eritrosit
mampu mendeteksi perbedaan halus antara rantai prekursor tipe I
dan tipe II yang menghasilkan antigen A dan B.
(1) Anti-A
Anti-A ada dalam serum individu golongan darah B
yang terpapar agen lingkungan yang mirip dengan antigen A dan
akan memicu aglutinasi eritrosit dari individu golongan
darah A dan AB. Sebagian besar anti-A ini yaitu IgM, meskipun
kemungkinan ada IgG dan IgA dalam jumlah kecil. sebab itu,
anti-A dapat memicu aglutinasi eritrosit yang tersuspensi
dalam saline dan mengaktifkan komplemen dengan mudah. Hal
ini dapat memicu destruksi intravaskular yang cepat dari
eritrosit yang membawa antigen A. Secara fungsional anti-A dapat
dibagi menjadi dua komponen, yaitu anti-A1, yang bereaksi
dengan sel A1 namun tidak bereaksi dengan sel A2, dan anti-A
umum, yang bereaksi dengan sel A1 dan A2. A1 dan A2 yaitu dua
subkelompok A yang paling umum, masing-masing mewakili
sekitar 80% dan 20% dari total jumlah golongan darah A.
sedang subgrup lain sangat jarang ditemukan.
Meskipun secara fungsional dapat dibedakan, anti-A1 ini
juga dapat ditunjukkan dengan menghilangkan sel A2 pada
adsorpsi lengkap. Ini dapat dijelaskan oleh sedikit perbedaan
dalam antigen umum pada permukaan eritrosit pada individu A2.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada
perbedaan pada antigen antara eritrosit individu A1 dan A2yang
terletak pada jumlah relatif percabangan yang terjadi pada
struktur prekursor untuk antigen ABH. Antigen A1 lebih bercabang
sehingga bereaksi berbeda dengan anti-A daripada antigen
A2yang bercabang lebih sedikit. Ini juga menjelaskan mengapa
pada bayi baru lahir,yang awalnya sebagai A2, pada akhirnya akan
mengekspresikan fenotip A1. Dengan demikian, antibodi yang
dikenal sebagai anti-A umum sebenarnya dapat menjadi bentuk
anti-A yang bereaksi berbeda sebab hambatan sterik yang
dipicu oleh antigen A1 yang bercabang-cabang.
(2) Anti-A1
Anti-A dari individu golongan darah B, ketika dicampur
dengan sel A2, dapat memicu adsorpsi dari komponen anti-
A yang disebut anti-A umum, membiarkan komponen dengan
aktivitas anti-A1 yang jelas. Pereaksi ini disebut anti-A1
(teradsorpsi) dan dapat digunakan untuk membedakan antara sel
A1 dan A2. Pereaksi yang dibuat dari tanaman Dolichos biflorus
(lektin), bila diencerkan dengan benar, reagen ini dapat digunakan
untuk membedakan antara sel A1 dan A2.
(3) Anti-B
Serum dari individu golongan darah Amengandung antibodi
yang pada dasarnya mengalami aglutinasi (penggumpalan) pada
golongan darah B dan AB. Anti-B, seperti anti-A, muncul paling
sering sebagai IgM tanpa stimulasi eritrosit, serta mungkin
memiliki IgG dan IgA dalam jumlah kecil. Bentuk imunitas antibodi
ini bereaksi serupa dengan bentuk imunitas anti-A. Antibodi ini
dengan mudah menggumpalkan sel-sel yang tersuspensi dalam
saline, mengaktifkan komplemen, dan dapat dengan cepat
menghancurkan eritrosit yang inkompatibel melalui hemolisis
intravaskular. sedang subgrup B yang lemah dapat bereaksi
berbeda dengan anti-B.
(4) Anti-A, B
Anti-A, B ditemukan dalam serum semua individu golongan
darah O bersama dengan beberapa komponen anti-A dan anti-B.
Anti-A, B bukan hanya campuran anti-A dan anti-B, seperti yang
dapat ditunjukkan oleh adsorpsi diferensial dengan sel A atau B.
Salah satu dari sel-sel ini mampu menyerap sepenuhnya semua
aktivitas anti-A atau anti-B. selanjutnya, ketika uji elusi dilakukan,
aktivitas anti-B dapat ditunjukkan oleh antibodi yang bereaksi
dengan sel A, dan aktivitas anti-A dapat ditunjukkan oleh antibodi
yang dielusi dari sel B. Antibodi tidak hanya mampu bereaksi
dengan sel-sel A atau B, namun umumnya memiliki titer dan
aviditas yang lebih tinggi daripada NRCS anti-A atau anti-B.
Ini yang memicu anti-A, B dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi donor golongan darah O, dalam pemeriksaan
sampel darah bayi baru lahir, dan dapat membantu
mengidentifikasi subgrup A dan B yang lemah. Bentuk IgG anti-A,
B lebih mungkin terjadi pada serum individu golongan darah O
yang telah peka oleh antigen A atau B. Oleh sebab itu, ibu
golongan darah O lebih cenderung memiliki IgG anti-A, B dalam
serum mereka ketika membawa janin golongan darah A atau B.
Janin ini kemungkinan besar akan menderita penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir dari bentuk IgG anti-A, B dalam
hubungannya dengan IgG anti-A atau anti-B atau dari anti-A, B
saja. Ini harus selalu dipertimbangkan ketika eluat dari sampel
bayi baru lahir diuji inkompatibilitas ABO. Antibodi pada
permukaan eritrosit bayi baru lahir kemungkinan besar yaitu
anti-A, B dan harus dilaporkan demikian.
(5) Anti-H
Anti-H dapat ditemukan sebagai antibodi yang lemah dan
bereaksi dalam temperatur rendah dalam serum grup A1 dan
menjadi individu A1B. Ini juga ditemukan sebagai antibodi NRCS
yang kuat dalam serum orang yang mengekspresikan fenotip
Bombay (Oh). Antigen H yang ada pada individu A1 dan A1B yaitu
yang konsentrasinya paling rendah dari semua golongan darah
ABO. Ini dapat memicu kegagalan dalam untuk mengenali
antigen H sebagai "self" dan untuk membuat antibodi terhadap H.
Hal Ini merupakan penjelasan untuk anti-H yang lemah dimana
terkadang ada dalam serum individu A1 dan A1B.
Reagen dengan aktivitas anti-H dapat dibuat dari tanaman
U. europaeus. Ketika diencerkan dengan benar, lektin ini dapat
berdiferensiasi di antara sel denganberbagai konsentrasi antigen
H dan dapat digunakan untuk menguji status sekretor. Eritrosit
fenotip Bombay ketika diuji dengan anti-H atau U. europaeus
lectin, akan menunjukkan hasil negatif.
J. Acquired Changes
Pada kasus yang jarang terjadi, individu golongan darah A
dapat memperoleh antigen B dan menjadi golongan darah AB,
walaupun antigen B pada umumnya lemah dan ada beberapa
pelemahan antigen A. Pada banyak kasus, fenomena ini terjadi pada
pasien dengan penyakit pada saluran pencernaan, seperti kanker
usus besar. Menurut penjelasan secara umum, adanya antigen B
diakibatkan sebab enzim bakteri dalam darah menghilangkan gugus
asetil dari GalNAc, gula imunodominan antigen A, untuk
menghasilkan galaktosamin, yang cukup mirip dalam strukturnya
dengan Gal, gula antinominan B antigen B, untuk bereaksi saling
silang dengan beberapa anti-B.
Melemahnya antigen A umumnya terjadi pada pasien
golongan darah A dengan leukemia myeloid akut (AML). Pada
beberapa kasus, semua eritrosit menunjukkan kelemahan dari
antigen A, sedang pada populasi lainnya eritrosit A dan O bersifat
jelas (tidak lemah). Perubahan yang berhubungan dengan leukemia
pada antigen B dan H jarang terjadi. Sekitar 17% hingga 37% pasien
dengan leukemia memiliki ekspresi antigenik A, B, atau H yang secara
signifikan lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol yang sehat.
Terkadang, modifikasi antigen ABH muncul sebelum pasien di
diagnosis malignansi/ keganasan dan ini mengindikasikan keadaan
praleukaemia. Efek leukemia ini mungkin berasal dari epigenetik,
yang merupakan hasil dari hipermetilasi daerah promotor ABO.
K. Hubungan Dengan Penyakit dan Aspek Fungsional
Beberapa hubungan lain antara golongan darah ABO dan
penyakit telah dilaporkan, sebagian besar berdasarkan pada
perbedaan frekuensi fenotip ABO yang diamati antara pasien dengan
penyakit lalu dibandingkan dengan orang yang sehat.
Misalnya, individu golongan darah A tampak lebih rentan terhadap
karsinoma lambung dan usus besar daripada golongan darah ABO
lain.
Individu golongan darah O memiliki risiko trombosis yang lebih
rendah dibandingkan dengan fenotip A, B, dan AB. Ini dapat
diakibatkan sebab adanya gula imunodominan A dan B pada faktor
glikoprotein von Willebrand (vWF), faktor koagulasi yang terkait
dengan Faktor VIII, sebagian menghalangi akses ADAMTS13, enzim
yang bertanggung jawab untuk pembersihan vWF dari plasma.
Individu golongan darah O tampaknya relatif tahan terhadap malaria
berat yang dipicu oleh infeksi Plasmodium falciparum,
dibandingkan dengan individu selain golongan darah O.
Hampir tidak ada yang diketahui tentang fungsi antigen ABO,
baik pada eritrosit maupun di bagian tubuh lainnya. Antigen ABH
jumlahnya sangat banyak pada eritrosit. Antigen ABH berkontribusi
pada glikokaliks atau cell coat, yaitu sebuah matriks karbohidrat
ekstraseluler yang melindungi sel dari kerusakan mekanis dan
serangan oleh mikroorganisme patogen.
2.2 GOLONGAN DARAH RHESUS
Golongan darah Rhesus merupakan salah satu golongan darah
paling kompleks pada manusia. Penemuannya dinamakan dari salah
satu jenis monyet, yaitu Rhesus. Sistem Rhesus telah menjadi
golongan darah terpenting kedua sesudah ABO di bidang transfusi
darah. Sistem Rhesus sangat penting dalam bidang obstetri, sebab
menjadi pemicu utama penyakit hemolitik pada bayi baru lahir
atau Hemolytic Disease of the Newborn (HDN).
Kompleksitas antigen golongan darah Rh dimulai dengan gen
yang sangat polimorfik yang menyandikannya. Ada dua gen yang
berhubungan erat, yaitu RHD dan RHCE. Berbagai pengaturan genetik
di antara keduanya telah menghasilkan gen-gen Rh hibrida yang
mengkodekan banyak sekali antigen Rh yang berbeda. Hingga saat ini
diketahui ada 49 antigen Rh.
Golongan darah Rh penting sebab bersifat sangat imunogenik.
Pada kasus antigen D, individu yang tidak memiliki antigen D akan
menghasilkan anti-D jika mereka menemukan antigen D pada
eritrosit yang ditransfusikan, sehingga mengakibatkan reaksi
transfusi hemolitik (HTR) atau pada eritrosit janin akan memicu
HDN. sebab itu, status Rh secara rutin di uji dalam donor darah,
resipien transfusi, dan calon ibu.
A. Sejarah Golongan Darah Rhesus
Sistem golongan darah Rhesus ditemukan di New York pada
tahun 1939. Awalnya ditemukan dalam antibodi pada serumseorang
wanita yang melahirkan bayi dalam keadaan meninggal serta
mengalami reaksi hemolitik sesudah memperoleh transfusi darah dari
suaminya. Levine dan Stetson menemukan bahwa antibodi
menggumpalkan eritrosit suami wanita ini dan 80% donor
darah ABO yang kompatibel. Namun, Levine dan Stetson belum
menyebutkan nama antibodi ini .
Pada tahun 1940, Landsteiner dan Wiener membuat antibodi
dengan menyuntikkan eritrosit monyet rhesus ke tubuh kelinci.
Antibodi ini tidak hanya memicu aglutinasi pada eritrosit
monyet rhesus, namun juga eritrosit dari 85% warga kulit putih New
Yorkdan tampaknya sama dengan antibodi Levine dan Stetson dan
antibodi manusia lainnya yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Namun pada tahun 1962, diketahui bahwa anti-rhesus kelinci dan
marmut bereaksi dengan antibodi lain yang secara genetik tidak
berkaitandengan antibodi manusia, meskipun secara serologis
terkait. sebab itu, antibodi anti-rhesus diubah namanya menjadi
anti-LW, sesudah Landsteiner dan Wiener, dan antibodi manusia tetap
sebagai anti-D dari sistem golongan darah Rh (bukan rhesus). LW
diekspresikan lebih kuat pada eritrosit D+ daripada D−, menjelaskan
kesalahan awal sebab antiserum yang lemah sering gagal
mengaglutinasikan eritrosit D−.
B. Antigen Rh
Sama seperti sistem ABO, antigen Rh terletak di permukaan
eritrosit. Berbeda dengan sistem ABO, antigen Rh utama ditemukan
secara eksklusif pada eritrosit dan bukan pada sel jaringan atau
dalam bentuk larut pada cairan tubuh. Sifat biokimia antigen RhD dan
RhCE berupa protein. Protein berikatan dengan lipid pada membran
eritrosit sebagai penunjang morfologinya. Masing-masing antigen
terdiri dari 416 asam amino. Rangkaian asam amino dililitkan melalui
membran eritrosit dan memperlihatkan lilitan pendek pada bagian
luar. Asam amino aktif bervariasi dengan pengkodean genetik
individu. Antigen Rh merupakan bagian integral dari membran
eritrosit. Teori ini didukung oleh fakta bahwa sel-sel tanpa antigen Rh
(Rhnull), menunjukkan morfologi yang berubah dan penurunan masa
hidup eritrosit.
Glikoprotein yang berhubungan dengan struktur biokimia
sistem Rh telah diidentifikasi. Glikoprotein ini tidak berkaitan dengan
sifat antigenik sistem golongan darah mana pun, namun lebih
berhubungan dengan membran eritrosit. Glikoprotein ini berperan
dalam hubungan RhD dan RhCE dengan membran eritrosit.
Glikoprotein yang berhubungan dengan membran eritrosit ini yaitu
RhAG. Adanya mutasi atau tidak adanya glikoprotein ini dapat
memicu kurangnya ekspresi antigen Rh (Rhnull).
Adanya glikoprotein sebanding dengan yang diidentifikasi
pada otak, hati, ginjal, dan kulit. Glikoprotein ini telah diberi label
RhBG dan RhCG, dan tidak berhubungan dengan antigen golongan
darah tertentu, namun penelitian menunjukkan keterlibatan dengan
transportasi amoniak.
C. Genetika Sistem Golongan Darah Rh
Gen-gen pada sistem Rh terletak pada Kromosom 1. Komposisi
genetik sistem Rh mencakup dua gen yang terletak berdekatan, yaitu
RhD dan RhCE. Gen-gen ini menyandi protein RhD dan RhCE. Protein
RhD membawa antigen D sedang RhCE membawa antigen C dan
E. C dan E dapat hadir dalam berbagai kombinasi (misalnya: CE, ce,
Ce, cE). Tidak ada komponen antitesis untuk antigen RhD. Sehingga,
tidak ada huruf "d". Tidak adanya antigen D menunjukkan absensi
atau delesi di lokasi ini. Ini sesuai dengan fenotip Rh negatif atau D
negatif. Kurangnya material antigenik merupakan pemicu dari
tidak adanya gen RhD.
Gen RhD dan RhCE masing-masing memiliki 10 ekson, dimana
97% identik, dan kemungkinan besar muncul dari duplikasi gen.
Komposisi asam amino RhD dan RhCE berbeda sejumlah 32 hingga 35
dari total 416 asam amino. Perbedaan antigen antitetis (misalnya: C
dan c merupakan antitesis) dihasilkan dari perbedaan asam amino
yang lebih sedikit daripada perbandingan antigen dari golongan
darah alternatif. Fakta ini juga menjelaskan tingkat keasingan yang
besar ketika RhD antigen dimasukkan ke dalam individu RhD negatif.
Sifat antigenik RhD yang sangat antigenik berbeda dengan sistem
antigen lainnya.
Teori Fisher-Race menggambarkan pewarisan Rh yang
dihasilkan dari tiga lokus. Pada teknik molekuler, teori ini merupakan
teori yang paling dekat menggambarkan warisan sistem Rh yang
sebenarnya. Secara historis, Weiner mengusulkan satu gen dengan
salah satunya memiliki dua atau tiga faktor. Nomenklatur Rosenfield
bersifat numerik dan dikembangkan untuk membantu dalam
konversi terminologi dengan menggunakan perangkat lunak
komputer. ISBT merupakan pengembangan dari nomenklatur
Rosenfield. Tata nama penulisan sistem golongan darah Rhesus
menurut Fisher-Race dan Weiner ada pada Tabel 2.8. Penulisan
Weiner jarang digunakan secara rutin, namun terkadang lebih mudah
menggunakan 1 faktor daripada daftar alel individu pada terminologi
Fisher-Race.
ISBT memiliki standarisasi nomenklatur sistem golongan
darah. Enam digit angka telah ditetapkan untuk antigen spesifik
setiap golongan darah. Tiga digit angka pertama mewakili
sistem golongan darah, (misalnya: Rh, Lewis, Duffy, dll.). Sistem
golongan darah Rhesus telah ditetapkan sebagai 004. Tiga angka
dibelakangnya digunakan penomoran Rosenfield untuk antigen
ini . Misalnya: nomor ISBT untuk antigen D yaitu 004001. ISBT
juga menunjuk sistem untuk menyediakan pengidentifikasi
alfanumerik untuk setiap antigen. Pada sistem ini termasuk penulisan
huruf kapital, diikuti oleh nomor spesifik antigen, seperti: RH1
mewakili antigen D. Ini dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Dalam sistem Rhesus, antigen D merupakan antigen primer.
Ketika antigen D ada pada eritrosit, maka individu ini
memiliki "Rh positif". Seseorang dapat mewarisi satu gen D dari
setiap orangtua. Warisan salah satu atau dua gen D akan
menunjukkanindividu ini sebagai "Rh positif". Jumlah individu
dengan Rh positif mencapai 85% pada populasi di Kaukasia, dan 92%
pada populasi Afrika-Amerika. Namun jika tidak ada gen D yang
diwarisi dari salah satu orangtua, maka individu ini disebut "Rh
negatif". Individu Rh negatif jumlahnya sekitar 15% pada populasi
Kaukasia, dan 8% pada populasi di Afrika-Amerika.
Antigen D bersifat sangat antigenik. ada lebih dari 80%
individu Rh negatif (D negatif) yang mendapatkan transfusi darah Rh
positifakan menghasilkan anti-D pada paparan awal. Individu dengan
Rh positif dapat menerima transfusi dengan darah Rh positif atau Rh
negatif. Namun, individu dengan Rh negatif harus selalu menerima
transfusi dengan darah Rh negatif kecuali jika situasinya mengancam
jiwa dan hanya darah Rh positif yang tersedia. Transfusidarah Rh
negatif sangat penting bagi wanita usia subur. Wanita Rh negatif yang
menghasilkan anti-D cenderung memicu Penyakit Hemolitik
Janin dan Bayi Baru Lahir (HDFN) jika bayi dengan Rh positif lahir dari
ibu Rh negatif.
E. Antigen CcEe
Sistem Rh memiliki banyak antigen tambahan. Yang paling
signifikan ialah dua pasang alel, yaitu: Cc dan Ee. Antigen tambahan
mungkin ada pada lokus ini. Antigen-antigen ini jarang ditemukan,
namun dapat memproduksi antibodi atipikal ketika ditransfusikan
pada individu antigen-negatif.
F. Antigen G
Antigen G yaitu antigen yang ada pada setiap eritrosit,
dimana ditemukan antigen C atau D. Ini bukan komponen antigen.
Baik antigen C dan D tidak harus diwariskan agar antigen G dapat
hadir.Anti-G dapat ditemukan pada individu yang memiliki salah satu
antigen ini. sebab nya, antibodi yang terbentuk akan tampak reaktif
dengan kedua antigen C dan D, bahkan jika hanya satu antigen yang
ada pada eritrosit, misalnya: individu Rh positif yang tampak memiliki
anti-D. Anti-G harus dibedakan dari anti-C dan anti-D dengan
pengujian metode adsorpsi dan elusi.
G. Antigen Rh yang Tidak Terdeteksi
(1) Fenotip Rhnull
Rhnull sangat jarang ditemukan. Individu dengan Rhnull pada
permukaan eritrositnya terjadi kekurangan total antigen Rh.
Eritrosit Rhnull ini juga kekurangan Fy dan LW, yang merupakan
antigen dengan frekuensi tinggi dan menunjukkan ekspresi
antigen S/s dan antigen U yang melemah. pemicu fenotip Rhnull
paling umum yaitu sebab adanya mutasi pada gen RHAG. Gen
ini diperlukan untuk ekspresi antigen Rh pada eritrosit. Mutasi
pada gen RHAG akan mempengaruhi ekspresi semua antigen Rh.
Signifikansi klinis fenotip Rhnullmemiliki dua masalah utama,
yaitu:
Kesulitan menemukan darah yang cocok untuk individu Rhnull
yang memiliki banyak antibodi yang kompleks.
Menurunnya masa hidup eritrosit sebab membran eritrosit
yang abnormal. Sehingga memicu meningkatnya
fragilitas osmotik, waktu paruh yang pendek, dan anemia
hemolitik ringan.
(2) Fenotip Rhmod
Fenotip Rhmod mirip dengan Rhnull,.Rhmod memiliki jumlah
antigen Rh yang menurun dalam jumlah besar, sedang Rhnull
sepenuhnya hilang. Sel-sel mengalami penurunan jumlah antigen
RHAG dan ekspresi antigen Rh hanya dapat dideteksi oleh metode
adsorpsi dan elusi. Fenotip Rhmodmerupakan hasil mutasi pada gen
RHAG. Individu ini jugadapat menderita anemia hemolitik sebab
rusaknya membran eritrosit.
H. Antibodi Rh
Bila dibandingkan dengan sistem ABO, individu yang
kekurangan antigen Rh jarang menghasilkan antibodi terhadap
antigen ini tanpa stimulasi dari eritrosit melalui kehamilan atau
transfusi. Antibodi terhadap semua antigen Rh dapat memicu
HDFN dan Reaksi Transfusi Hemolitik (HTR). Karakteristik semua
antibodi Rhsama, terlepas dari antigen yang sesuai. Antibodi Rh
merupakan antibodi IgG yang mengikat masing-masing antigen pada
suhu 37°C. Antibodi ini dapat menimbulkan aglutinasi pada 37°C dan
dalam tahap pengujian AHG. Mereka tidak mengikat komplemen dan
diperbanyak oleh enzim. Karakteristik antibodi dalam golongan darah
Rh ada pada Tabel 2.10.
I. Signifikansi Klinis Antibodi Rh
Antigen Rh bersifat sangat imunogenik, dan sebagian besar
merupakan pemicu terjadinya reaksi transfusi hemolitik dan HDN.
Walaupun sebagian besar golongan darah ditentukan oleh antigen
eritrosit yang berbeda dengan satu atau dua asam amino, golongan
darah Rh mengandung antigen D yang berbeda dari antigen C/c dan
E/e dengan 35 asam amino. Perbedaan jumlah asam amino yang
besar inilah yang memicu antigen Rh memiliki kemampuan
kuat dalam merangsang suatu respon imun. Mayoritas antibodi yang
dibentuk terhadap antigen Rh merupakan jenis IgG, yang mampu
memicu HTR dan HDN yang signifikan. Antibodi Rh jarang, jika
ada, mengikat komplemen, dan sebab nya destruksi eritrosit
diperantai hampir secara eksklusif oleh makrofag di limpa (hemolisis
ekstravaskular). Ada beberapa contoh aloantibodi Rh yang terjadi
secara alami dan dari tipe IgM, namun itu merupakan minoritas.
GOLONGAN DARAH LAIN
Golongan darah ABO dan Rh merupakan sistem golongan
darah yang paling signifikan secara klinis dan paling dikenal, namun
ada sekitar 31 sistem lain yang memiliki relevansi klinis dan
biologis yang beragam. Selain itu juga ada antigen lainnya yang belum
ditentukan menjadi suatu sistem, baik yang frekuensinya sangat
tinggi maupun sangat rendah.
2.3 GOLONGAN DARAH LEWIS
Sistem golongan darah Lewis memiliki 2 antigen utama, yaitu
Lea dan Leb. Antigen ini unik sebab berbeda dengan kebanyakan
sistem golongan darah, seperti ABO dan Rh, antigen Lewis bukan
bagian integral dari membran eritrosit. Antigen ini terbentuk dari
sekresi dan diadsorpsi ke permukaan eritrosit. Bayi baru lahir tidak
memiliki antigen Lewis dengan tipe Le(a-b-). Antigen mulai
berkembang satu minggu sesudah kelahiran, dan terus berkembang
sampai dengan 6 tahun. Perkembangan dari antigen ini mulai dari
Lewis (a-b-) → Lewis (a+b-) → Lewis (a+b+) →
Lewis (a-b+). Tipe antigen akhir ini tidak akan terlihat sampai dengan
usia sekitar enam tahun. Frekuensi antigen Lewis ada pada Tabel
2.11.
Perkembangan antigen Lewis melibatkan interaksi 3 set gen.
Gen-gen ini yaitu H, Secretor (Se), dan Lewis (Le). Produk dari gen
Le, Se, dan H yaitu glycotransferases. Varian amorf dari gen-gen ini
(le, se, dan h) tidak menghasilkan produk yang terdeteksi. Interaksi
gen ini terjadi sebagai berikut:
1. Kode gen Le untuk glycotransferase yang menghasilkan antigen
Lea. Lea awalnya ada di cairan sekresi dan menjadi teradsorpsi ke
permukaan eritrosit. Ini terjadi terlepas dari status sekretor.
2. Gen Se mengkode agar H transferase ada dalam cairan
53
sekresi.
3. Ketika kombinasi Le, H, dan Se ada bersama, Le glycotransferase
akan menyembunyikan antigen H yang tersedia untuk Leb. Leb akan
diadsorpsi ke dalam eritrosit, bukan Lea.
4. Kombinasi gen dan fenotip yang dihasilkan ditunjukkan pada Tabel
2.12
2.4 GOLONGAN DARAH KELL
Golongan darah Kell memiliki antigen yang dinamakan K atau
KEL1, ini merupakan antigen original dari sistem Kell dan antigen
golongan darah pertama yang diidentifikasi sesudah penemuan uji
antiglobulin pada tahun 1946. Kini sistem Kell terdiri dari 35 antigen
yang diberi nomor dari KEL1 - KEL38, dengan 3 obsolete (tidak
terpakai). Enam pasang dan satu triplet dari antigen antithesis Kell
ada pada Tabel 2.13.
Sistem golongan darah Kell kompleks dan mengandung banyak
antigen yang sangat imunogenik. Antigen ini merupakan yang paling
kuat ketiga sesudah golongan darah ABO dan Rh dalam mencetuskan
terjadinya reaksi imunitas tubuh. Antibodi yang menargetkan
antigen Kell dapat memicu reaksi transfusi dan penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir (HDN). Dalam kasus HDN,
inkompatibilitas ABO dan Rh merupakan pemicu yang lebih umum.
Namun, penyakit yang dipicu oleh anti-ABO ibu cenderung
ringan, dan penyakit yang dipicu oleh anti-Rh ibu








