Imunologi 10

 



ostimulatori positif, namun juga ada banyak molekul 

kostimulatori negatif . sesudah  TCR 


mengaktivasi sel T dengan antigen, selanjutnya reseptor sel T (TCR) 

mengaktivasi program sel intrinsik yang memicu  diferensiasi sel T 

menjadi sel T efektor sitotoksik yang dapat membersihkan antigen. Namun 

pembersihan antigen juga dapat berdampak pada ekspansi sel efektor sehingga 

sebagian besar sel T efektor mati, kecuali sejumlah kecil sel T memori. Namun 

saat  sel T yang eksperiense terhadap antigen terpapar antigen secara kronis 

maka dapat berdampak pada kelelahan sel T (disfungsi sel T). Disfungsi sel T 

dapat terjadi pada sel T CD8+, ditandai dengan hilang fungsi efektor seperti 

sitotoksisitas dan proliferasi pada sel ini  (Zhang dkk., 2020). 

Reseptor sel T (TCR) berinteraksi dengan APC yang berasal dari MHC I dan 

MHC II, hal ini dipengaruhi oleh karateristik antigen patogen. MHC kelas II 

dapat berinteraksi dengan sel T CD4 naif sehingga sel ini  menjadi 

teraktivasi. Sel yang telah teraktivasi selanjutnya melakukan pembelahan dan 

diferensiasi, hasil dari mekanisme ini  yaitu  terbentuknya sel T efektor. 

Sel T efektor berupa sel T helper 1 dan T helper 2 (Th-1 dan Th-2). Aktivasi 

kedua sel T ini  bermula dari peningkatan produksi sitokin yang berasal 

dari sistem imunitas innate. Peningkatan produksi sitokin dapat memengaruhi 

perkembangan sel T regulator (Treg). Sel ini  berperan dalam kontrol 

sistem kekebalan tubuh yang berlebihan atau kondisi imunopatologi lain. 

Aktivasi sel T CD4 diperlukan untuk membantu aktivasi sel B dan 

pembentukan generasi sel T sitotoksik (sel T CD8). Sel T CD4 dapat menjadi 

sel T memori dan dapat bertahan dalam jangka panjang, sehingga fungsi 

ini  efektif terutama saat  terjadi infeksi patogen (virus) secara berulang 

(Swain, dkk., 2012). Sel T CD4 dan sel T CD8 yang teraktivasi masing – 

masing dapat berikatan dengan MHC kelas I dan MHC kelas II, sesuai dengan 

klon sel T. Aktivasi sel T naif menjadi sel T teraktivasi sinyal yang dikirim 

oleh CD28, yang merupakan protein homodimer Ig Superfamili (IgSF) dan 

molekul kostimulator prototipikal. Keterlibatan protein imunoglobulin dalam 

sistem imunitas adaptif berkaitan dengan sistem imunitas humoral yang 

diperankan oleh sel B sesudah  terjadi aktivasi sel T dalam mekanisme sistem 

imunitas adaptif 

4.2.2 Mekanisme Aktivasi Sel B 

Sel B terbentuk di sum-sum tulang belakang selanjutnya bermigrasi ke perifer, 

seperti jaringan limpa. Selanjutnya sel B mengalami pematangan di jaringan 

perifer. Sel B yang belum matang berdiferensiasi kemudian menjadi sel B 

matang yang mengekspresikan imunoglobulin (Ig), seperti IgD dan IgM. 

Selanjutnya sel B yang telah matang teraktivasi oleh antigen asing. Sel B yang 

telah teraktivasi kemudian berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk 

mensekresikan antibodi. Sel B dewasa di organ limfoid primer membutuhkan 

dua sinyal. Sinyal pertama berasal dari antigent-coupled B cell receptors 

(BCRs). Sinyal kedua bersumber dari sel TD (T cel-dependent) atau TI (T cell 

independent). Antigen, seperti lipopolisakarida (LPS) dan glikolipid dapat 

memicu  sel plasma berumur pendek, yang memicu  antibodi yang 

dihasilkan memiliki afinitas rendah. respon TD diperantarai oleh pertemuan 

antigen dan interaksi dengan folikular sel T helper (Tfh), sehingga 

memicu  sel B menghasilkan sel plasma berumur pendek atau segera 

memasuki germinal center (GC) untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma atau 

sel B memori dengan afinitas yang lebih tinggi terhadap antigen. Sel plasma 

yang diturunkan dari GC bersirkulasi ke sum-sum tulang dan mengeluarkan 

antibodi yang spesifik dengan antigen, dan menjadi sel plasma berumur 

panjang sehingga dapat memberikan perlindungan jangka panjang terhadap 

antigen spesifik (Tsai dkk., 2019). Pensinyalan yang dimediasi oleh BCR 

dalam kondisi homeostatis tergantung pada ketersediaan antigen dan diatur 

secara hati – hati oleh reseptor co-stimulator dan co-inhibitor. Co-inhibitor 

membatasi pensinyalan BCR untuk mencegah sel B dari hiperaktivasi dan 

mempertahankan homeostatis sel B. Aktivasi dan diferensiasi sel B juga 

bergantung pensinyalan melalui pola pengenalan reseptor dan kemokin. Jalur 

pensinyalan reseptor melalui BCR sedangkan kemokin melalui TLR (Toll-like 

receptor). Kedua jalur pensinyalan ini  dapat berinteraksi melalui molekul 

pensinyalan bersama dan memicu  aktivasi protein, salah satunya STAT 

3. Aktivasi yang dimediasi TLR juga dapat secara cepat menginduksi 

reorganisasi komplek IgM-BCR pada sel B. Beragam pensinyalan dari sel B 

berkaitan dengan mekanisme sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi, 

khususnya dalam sekresi antibodi yang spesifik terhadap antigen patogen 


4.3 Respon Imun Spesifik terhadap 

Infeksi  

4.3.1 Agen pemicu  Infeksi 

Perkembangan penyakit pada vertebrata melibatkan interaksi sistem imunitas 

non spesifik (bawaan/innate) dan spesifik (adaptif). Peristiwa penting selama 

proses infeksi melibatkan interaksi yang kompleks antara patogen dan inang. 

Proses infeksi melibatkan beberapa komponen, yaitu agen infeksius, invasi dan 

kolonisasi jaringan. Pengendalian patogen menular memerlukan sistem imun 

yang berbeda, hal ini tergantung pada jaringan inang yang direplikasi dan 

ukurannya. Selama proses pengembangan kekebalan perlindungan inang, 

sistem imunitas innate dan adaptif bekerjasama untuk menghilangkan agen 

penginfeksi secara efisien. Fungsi utama respon imunitas adaptif terhadap agen 

penginfeksi yaitu  untuk pengenalan antigen ”nonself” yang spesifik sehingga 

sehingga dapat membedakannya dengan ”self” antigen. Patogen spesifik dapat 

dihilangkan melalui mekanisme efektor dan pengembangan dari sel memori 

untuk pencegahan infeksi yang serupa.  

Agen penginfeksi dapat berasal dari ekstraseluler, dan intraseluler 

1. Agen penginfeksi ekstraseluler 

Agen penginfeksi ekstraseluler dapat berreplikasi di luar sel inang. 

Agen penginfeksi dapat berasal dari mikroorganisme patogen yang 

berada di luar tubuh. Selanjutnya, agen ini  dapat2 berreplikasi di 

dalam sirkulasi, lumen saluran pernafasan, usus, dan permukaan 

epitel. Selanjutnya sistem imunitas innate yang merupakan garis 

pertahanan pertama, melalui mekanismenya, akan mengeliminasi 

patogen secara efisien. Peningkatan produksi sitokin yang berasal 

dari mekanisme sistem imunitas innate menstimulasi aktivasi 

komponen yang terlibat dalam sistem imunitas adaptif (spesifik). 

Produksi sitokin dapat memengaruhi aktivasi sel T. Aktivasi sel T 

memicu  pembentukan klon tertentu pada sel T, bergantung 

pada karakteristik patogen ekstraseluler. Sel T naif yang ada  

pada jaringan Timus akan teraktivasi menjadi sel T efektor (jenis 

klon sesuai karakteristik patogen). Sel T berinteraksi dengan 

komponen dari sistem imunitas non spesifik melalui TCR. TCR akan 

berinteraksi secara langsung dengan APC dari MHC. Kemudian 

aktivasi MHC dapat memengaruhi aktivasi sel B. Mekanisme aktivasi 

sel B melibatkan sistem imunitas humoral. Pengenalan patogen yang 

dimediasi antibodi mendorong aktivasi jalur komplemen. Sistem 

komplemen merupakan bagian dari kekebalan yang efektif sebagai 

respon terhadap patogen ekstraseluler. Sistem komplemen 

bertanggungjawab dalam mekanisme efektor bawaan yang ditandai 

dengan fagositosis, sel lisis, dan amplifikasi proses inflamasi.  

2. Agen penginfeksi intraseluler 

Respon imun terhadap patogen intraseluler meliputi serangkaian 

mekanisme efektor berasal dari aktivitas seluler dan humoral inang 

melawan mikroorganisme penyerang. Untuk melanjutkan 

kehidupannya, patogen intraseluler harus menginvasi sel inang. 

Proses ini  memicu  aktivasi beberapa reseptor. Aktivasi 

reseptor bersumber dari produksi sitokin sebagai akibat adanya 

proses infeksi. Pada saat terjadi infeksi awal, sistem imunitas innate 

melalui mekanismenya mengaktivasi sistem imunitas adaptif 

(spesifik). Namun, beberapa patogen dapat bertahan dalam 

mekanisme fagositosis. Patogen yang ada  dalam vesikular sel 

dapat masuk ke dalam mekanisme berikutnya, termasuk presentase 

antigen (APC) melalui molekul MHC kelas II. Selanjutnya terbentuk 

komplek MHC II – Peptida. Komplek ini  akan dikenali oleh sel 

T CD 4. Fagosit yang terinfeksi patogen akan dihancurkan oleh sel T 

CD4+, sebagai respon protektif terhadap patogen intraseluler. 

Beberapa patogen yang mampu berreplikasi di dalam sitoplasma 

seperti patogen yang berasal dari virus atau agen yang lolos dari 

fagosom atau sebagai alternatif pencegahan fagolisosom akan 

dikenali oleh sel T sitotoksik CD8+ (CTL). Mekanisme jalur 

pengenalannya melalui molekul MHC kelas I. APC yang 

dipresentasikan oleh MHC kelas I dikenal oleh CTL, selanjutnya 

CTL melalui reseptornya berinteraksi dengan komplek MHC I-


 

peptida (patogen). Sel T CD 8+ yang teraktivasi memproduksi 

perforin dan granzyme untuk menghancurkan agen penginfeksi. 

4.3.2 Mekanisme Respon Imun Spesifik terhadap Infeksi  

Respon imun terhadap patogen intraseluler meliputi serangkaian mekanisme 

efektor yang berasal dari aktivitas seluler dan humoral inang melawan 

mikroorganisme patogen. saat  patogen menginvasi inang maka jaringan 

yang terinfeksi akan merilis molekul DAMPs (Damage Associated Molecular 

Patterns). Kemudian reseptor TLR teraktivasi, terjadi pengikatan nukleotida 

sitosolik, dan NLRs (Ologimerization Domain (NOD) Like Receptor) pada 

jaringan intraseluler akan menginduksi perakitan kompleks multiprotein yang 

dikenal inflammasome. Reseptor ini  dapat memicu  produksi sitokin 

pro inflamasi dan induksi apoptosis pada sel yang mengalami inflamasi 

(Blander, dkk., 2014). Respon imunitas adaptif diperankan oleh sel T dengan 

antigen spesifik, selanjutnya terjadi aktivasi dan proliferasi, proses ini  

melibatkan APC, dan sel B yang berdiferensiasi menjadi sel plasma untuk 

menghasilkan antibodi (Marshall, dkk., 2018). Respon imunitas adaptif 

berperan penting dalam membatasi inflamasi, memperbaiki kerusakan jaringan 

sesudah  infeksi dan mengembalikan homeostatis sistem imun inang melalui 

sejumlah mekanisme. Apoptosis merupakan mekanisme yang diperlukan 

dalam mengembalikan homeostatis sistem imun inang. Apoptosis pada sel T 

dan peningkatan protein pro apoptosis berkontribusi dalam mekanisme 

penekanan kekebalan pada saat infeksi kronis. Sel T CD4 dan sel T CD8 dapat 

mengalami apoptosis saat  terjadi infeksi. Protein caspase 3 merupakan 

indikator mekanisme terjadinya apoptosis (Brady, dkk., 2020). Apoptosis 

merupakan mekanisme kematian sel terprogram sesudah  terjadi infeksi, dalam 

mekanisme ini, membran sel tetap utuh. Proses ini disertai dengan aktivitas 

fagositosis sel-sel yang mengalami apoptosis. Proses ini  dimediasi 

protease sistein dan caspase. Caspase (efektor, 3, 6, dan 7) dapat diaktifkan 

oleh beberapa reseptor 

Sel limfosit T saat  terjadi infeksi mengekspresikan TCR dan koreseptor CD4 

atau CD8. Selanjutnya terjadi interaksi reseptor dengan kompleks peptida-

MHC. Aktivasi limfosit memicu  sel T berdiferensiasi menjadi banyak 

subset, seperti sel T CD4+, seperti T-helper 1 (Th1), Th2, Th17, follicular 

helper (Tfh), dan sel T regulator (Treg) (Tabel 4.1). Respons sel CD4+ Th1 

memiliki peran protektif dalam infeksi bakteri karena produksi sitokin seperti 

IFN-γ atau TNF-α, yang merekrut dan mengaktifkan sel imun bawaan, seperti 

monosit dan granulosit. Pada mencit yang terinfeksi mikroorganisme, sel T 

CD4+ dan CD8+ teraktivasi patogen, sebagai respon dalam pertahanan tubuh. 

Populasi sel T CD4+ dan CD8+ pada mencit dipengaruhi oleh sumber infeksi 

patogen. Perubahan populasi sel T memengaruhi produksi sitokin pro 

inflamasi selama terjadi infeksi pada mencit. Peningkatan populasi sel limfosit 

T yang disertai dengan stimulasi produksi sitokin dapat membatasi proliferasi 

sel yang berasal dari penginfeksi. Dalam sistem imunitas adaptif, antibodi juga 

berperan penting dalam melawan patogen melalui mekanisme yang ada  

pada sistem imunitas humoral 




Respon Imun Humoral 

 

 

ada  dua tipe respon imun adaptif, yaitu respon imun humoral dan respon 

imun seluler. Kedua tipe respon imun ini dimediasi oleh sel dan molekul yang 

berbeda, serta berperan dalam perlindungan melawan mikroorganisme seluler 

yang berbeda, di mana respon imun humoral melawan mikroorganisme 

ekstraseluler, sedangkan respon imun seluler berperan dalam melawan 

mikroorganisme intraseluler 

Respon imun humoral dimediasi oleh antibodi dan merupakan bagian dari 

respon imun adaptif yang berfungsi untuk menetralisasi dan mengeliminasi 

mikroorganisme ekstraseluler dan toksinnya. Respon imun humoral lebih 

berperan dalam perlindungan melawan mikroorganisme yang memiliki 

dinding sel dari polisakarida dan lipid dan toksin mikroorganisme ini  

dibandingkan dengan respon imun seluler. Hal ini disebabkan karena pada 

respon imun humoral, sel B limfosit memproduksi antibodi spesifik terhadap 

banyak tipe protein, sedangkan sel T yang merupakan mediator pada respon 

imun seluler hanya mampu mengenali dan merespon antigen protein. Antibodi 

diproduksi oleh sel B limfosit dan turunannya. Sel limfosit B naif dapat 

mengenal antigen namun belum mampu menyekresi antibodi melawan antigen 

ini . Proses aktivasi sel-sel ini  mampu menstimulasi diferensiasi 

menjadi sel efektor yang dapat menyekresi antibodi. Pada bab ini, proses dan 


 

mekanisme aktivasi sel limfosit B dan produksi antibodi akan dijelaskan lebih 

detail 

 

5.2 Sel Limfosit B 

Sel limfosit B naif mengekspresikan dua tipe antibodi yaitu imunoglobulin G 

dan imunoglobulin D yang berfungsi sebagai reseptor antigen. Sel B naif akan 

diaktivasi oleh antigen dan sinyal lainnya. Proses aktivasi ini akan 

menghasilkan proliferasi dari sel spesifik antigen dan berdiferensiasi menjadi 

sel efektor yang secara aktif menyekresi antibodi. Antibodi yang tersekresi 

memiliki spesifikasi yang sama dengan reseptor sel B naif yang dapat 

mengenali antigen untuk menginisiasi respon imun. Pada proses diferensiasi, 

beberapa sel B mulai dapat memproduksi beberapa antibodi dengan isotipe 

yang memiliki panjang rantai yang berbeda, yang akan memediasi sel efektor 

yang berbeda dan dapat melawan beberapa jenis mikroorganisme yang 

berbeda 

 

Gambar 5.1: tahap  Respon Imun Humoral 

Respon antibodi terhadap antigen diklasifikasikan berdasarkan kebutuhan 

untuk bantuan sel T, yaitu T-dependent dan T-independent. Sel limfosit B akan 

mendeteksi serta teraktivasi oleh berbagai jenis antigen, termasuk antigen yang 

komposisnya tersusun atas protein, polisakarida, lipid, dan senyawa kimia 

tertentu. Antigen protein akan berikatan dalam APC (antigen presenting cells) 

yang kemudian dikenali oleh sel limfosit T-helper. Antigen memiliki peran 


 

yang sangat penting dalam proses aktivasi sel limfosit B dan merupakan sel 

penginduksi yang kuat dan pematangan afinitas. Tanpa bantuan sel T, antigen 

protein akan memberikan respon antibodi yang lemah atau bahkan tidak 

menghasilkan respon sama sekali. Oleh karena itu, antigen protein, dan respon 

antibodi terhadap antigen ini, disebut "T-dependent". Antigen yang tersusun 

atas polisakarida, lipid, dan antigen non-protein lainnya akan merangsang 

produksi antibodi tanpa bantuan sel T helper, sehingga respon antibodi 

terhadap antigen non-protein disebut "T-independent". Antibodi yang 

dihasilkan sebagai respon terhadap antigen T-independent memperlihatkan 

pematangan afinitas yang relatif lebih rendah 

Respon antibodi terhadap paparan pertama dan selanjutnya terhadap antigen 

berbeda secara kuantitatif dan kualitatif disebut ¬respon primer dan sekunder. 

Kuantitas antibodi yang diproduksi pada respon primer lebih kecil daripada 

jantibodi yang diproduksi pada respon sekunder. Respon sekunder antigen 

protein juga menunjukkan peningkatan pematangan afinitas sebagai akibat 

stimulasi berulang yang memicu  peningkatan jumlah limfosit T helper. 

 

5.3 Perubahan Sel B Limfosit oleh 

Antigen 

Respon imun humoral dimulai saat  antigen dikenali oleh limfosit B spesifik-

antigen dalam folikel limfatik, kelenjar limfe, dan jaringan mukosa limfoid. 

Beberapa antigen mikroorganisme yang masuk ke jaringan atau berada di 

dalam darah akan diangkut ke sel B-limfosit. Limfosit B spesifik antigen 

menggunakan reseptor imunoglobulin (Ig) yang terikat membran untuk 

mengenali antigen dalam bentuk aslinya. Pengenalan antigen memicu jalur 

pensinyalan yang memulai proses aktivasi sel limfosit B. Seperti sel limfosit T, 

aktivasi sel B membutuhkan sinyal lain, yang sebagian besar dihasilkan selama 

respon imun bawaan terhadap mikroorganisme 

 

5.3.1 Respon Sinyal yang Diinduksi oleh Antigen pada Sel 

Pengelompokan reseptor Ig pada membran yang diinduksi oleh antigen akan 

memicu sinyal yang dimediasi oleh molekul pensinyalan yang terkait dengan 

reseptor. Proses aktivasi limfosit B pada dasarnya mirip dengan aktivasi sel T. 

Dalam sel limfosit B, reseptor Ig yang memediasi pensinyalan memerlukan 

kombinasi dua atau lebih molekul reseptor. Tautan silang reseptor terjadi 

saat  dua atau lebih molekul antigen membentuk agregat atau epitop berulang 

dari molekul antigen tunggal, yang kemudian berikatan dengan molekul Ig 

yang berdekatan pada membran sel B. Antigen polisakarida, lipid, dan antigen 

non-protein lainnya sering mengandung beberapa epitop identik pada setiap 

molekul yang dapat berikatan dengan banyak reseptor Ig sel B secara 

bersamaan.  

Sinyal yang diinisiasi oleh ikatan silang reseptor antigen ditransduksi oleh 

reseptor protein. Membran IgM dan IgD merupakan reseptor antigen dari sel 

limfosit B naif dan merupakan protein dengan domain sitoplasma yang 

pendek. Reseptor membran ini mengenali antigen tetapi dapat mentransduksi 

sinyal secara mandiri. Reseptor melekat pada dua protein, yang disebut sebagai 

Igα dan Igβ, yang akan membentuk kompleks reseptor sel B (B cell Receptor, 

BCR). Domain sitoplasma Igα dan Igβ mengandung imunoreseptor berbasis 

tirosin (ITAMs), yang ditemukan dalam subunit pensinyalan dari banyak 

reseptor pengaktif lainnya dalam sistem kekebalan tubuh, misalnya protein 

CD3 kompleks TCR (Janeway et al., 2001).  

5.3.2 Peran Protein Komplemen pada Aktivasi Sel B 

Limfosit B mengekspresikan reseptor untuk protein dari sistem komplemen 

yang memberikan sinyal untuk proses aktivasi sel. Sistem komplemen 

merupakan kumpulan protein plasma yang diaktifkan oleh mikroorganisme 

dan antibodi yang melekat pada mikroorganisme ini . Fungsi dari sistem 

komplemen yaitu sebagai mekanisme efektor pertahanan inang. saat  sistem 

komplemen diaktifkan oleh mikroorganisme, maka mikroorganisme ini  

akan terselubungi oleh produk pemecahan protein komplemen yang paling 

melimpah yaitu C3. Salah satu produk pemecahan ini yaitu  fragmen yang 

disebut C3d. Sel limfosit B mengekspresikan reseptor, yang disebut reseptor 

komplemen tipe 2 (CR2, atau CD21), yang mengikat C3d. Sel B yang spesifik 

untuk antigen mikroba mengenali antigen dengan reseptor Ig dan secara 


 

bersamaan mengenali C3d yang terikat oleh reseptor CR2. Keterlibatan CR2 

akan meningkatkan respon aktivasi sel B yang bergantung pada antigen.  

 

Gambar 5.2: Aktivasi Sel B  

Dengan demikian, protein komplemen memberikan sinyal kedua untuk 

aktivasi sel limfosit B, yang berfungsi bersama dengan antigen untuk memulai 

proses proliferasi dan diferensiasi sel limfosit B. Peran komplemen dalam 

respon imun humoral memberikan yang diperlukan pada proses aktivasi 

limfosit 

5.3.3 Aktivasi Sel B yang Dimediasi Antigen 

Proses di mana sel B diaktifkan oleh antigen akan memicu  sel B mulai 

berkembang biak dan berdiferensiasi, di mana hal ini berguna dalam 

mempersiapkan interaksi antara limfosit B dan limfosit T-helper. Limfosit B 

yang teraktivasi memasuki siklus sel dan mulai berproliferasi, memicu  

peningkatan jumlah antigen spesifik. Sel juga dapat mulai mensintesis lebih 

banyak IgM dan mengeluarkan beberapa IgM ini. Dengan demikian, stimulasi 

antigen menginduksi tahap  awal respon imun humoral. Respon itu paling kuat 

terjadi saat  antigennya multivalen, berikatan dengan beberapa reseptor 

antigen, dan mengaktifkan komplemen dengan kuat. Semua ini umum 

didapatkan pada antigen polisakarida dan antigen T-independen lainnya 

 

Sebagian besar antigen protein tidak mengandung beberapa epitop identik, 

mereka tidak dapat mengikat banyak reseptor sel B, sehingga respons stimulus 

yang dihasilkan lemah. Proses stimulasi antigen menginduksi setidaknya tiga 

perubahan lain pada limfosit B yang dapat meningkatkan kemampuan limfosit 

B untuk berinteraksi dengan limfosit T helper. Sel B yang teraktivasi dapat 

menghasilkan peningkatan ekspresi B7, memberikan sinyal lain dalam proses 

aktivasi sel T. Sel B yang teraktivasi juga dapat mengurangi ekspresi reseptor 

untuk kemokin, yang diproduksi di folikel limfatik dan yang fungsinya untuk 

mempertahankan sel B di dalam folikel. Hal ini memicu  sel B yang 

teraktivasi bermigrasi dari folikel ke dalam kompartemen anatomi tempat sel T 

pembantu terkonsentrasi.  

 

5.4 Peran Sel T-helper pada Respon 

Imun Humoral 

Agar antigen protein dapat merangsang respon antibodi, sel limfosit B dan sel 

limfosit T-helper harus bersatu dalam organ limfoid dan berinteraksi dengan 

cara yang merangsang proliferasi dan diferensiasi sel B. Proses ini terjadi 

secara cepat karena antigen protein akan menimbulkan respon antibodi yang 

sangat baik dalam waktu 3 hingga 7 hari sesudah  paparan antigen. Sel T-helper 

yang telah teraktivasi dan berdiferensiasi menjadi sel efektor berinteraksi 

dengan antigen yang distimulasi oleh sel limfosit B. Sel limfosit T-helper CD4 

naif dirangsang untuk berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel efektor 

penghasil sitokin sebagai hasil dari mengenali antigen pada antigen-presenting 

cells (APC) yang terletak di organ limfoid. Proses aktivasi awal sel T 

membutuhkan pengenalan antigen dan stimulasi bantuan, sehingga proses 

aktivasi sel T paling baik diinduksi oleh antigen mikroba dan antigen protein 

yang diberikan dengan adjuvan untuk merangsang stimulasi bantuan pada 

APC.  

Antigen yang merangsang sel T-helper CD4+ berasal dari mikroba 

ekstraseluler dan protein yang diproses dan ditampilkan terikat pada molekul 

MHC kelas II dari APC. Sel T CD4+ yang mengenali antigen dapat 

berdiferensiasi menjadi sel efektor yang mampu menghasilkan berbagai 

sitokin. Sel T efektor yang terdiferensiasi mulai bermigrasi keluar dari tempat 

tinggal normal mereka dan memasuki sirkulasi peredaran darah, menemukan 

 

antigen mikroba di tempat yang jauh, dan membasmi mikroba dengan reaksi 

imunitas selular. Sel T-helper terdiferensiasi lainnya akan bermigrasi ke tepi 

folikel limfoid pada saat yang sama sel limfosit B yang dirangsang antigen di 

dalam folikel mulai bermigrasi ke luar. Hal inilah yang memicu  migrasi 

sel B dan T didasarkan pada perubahan ekspresi reseptor kemokin tertentu 

pada limfosit aktif dan produksi kemokin yang mengikat reseptor ini di folikel. 

Sel B dan T akan saling bertemu di tepi folikel limfoid (Janeway et al., 2001). 

Membran imunoglobulin sel B merupakan reseptor yang memiliki afinitas 

tinggi sehingga memungkinkan sel B untuk mengikat antigen tertentu bahkan 

saat  konsentrasi antigen ekstraseluler sangat rendah. Selain itu, antigen yang 

terikat oleh membran Ig akan diendositosis dan dikirim ke vesikel endosomal 

intraseluler di mana protein diproses menjadi peptida yang mengikat molekul 

MHC kelas II. Setiap sel B dapat mengikat epitop konformasi antigen protein, 

menginternalisasi dan memproses protein, dan menampilkan beberapa peptida 

protein itu untuk pengenalan sel T. Oleh karena itu, sel B dan sel T akan 

mengenali epitop yang berbeda dari antigen protein yang sama.  

Sel limfosit T-helper yang mengenali antigen akan mengaktifkan sel B dengan 

cara mengekspresikan ligan CD40 (CD40L) dan mengeluarkan sitokin. Proses 

aktivasi limfosit B yang dimediasi sel T-helper melalui proses aktivasi 

makrofag yang dimediasi sel T dalam respon imun seluler. CD40L pada sel T-

helper yang diaktifkan akan berikatan dengan CD40 yang diekspresikan pada 

limfosit B. Keterlibatan CD40 akan memberikan sinyal ke sel limfosit B 

sehingga merangsang proliferasi (ekspansi klonal) dan sintesis serta sekresi 

antibodi. Pada saat yang sama, sitokin yang diproduksi oleh sel T-helper akan 

mengikat reseptor sitokin pada limfosit B dan merangsang lebih banyak 

proliferasi sel B dan produksi imunoglobulin. Sinyal sel T helper juga 

merangsang peralihan kelas rantai berat dan pematangan afinitas, yang 

biasanya terlihat pada respons antibodi terhadap antigen protein T-dependent 


 

5.5 Respon Antibodi terhadap Antigen 

T-dependent 

Polisakarida, lipid, dan antigen non-protein lainnya akan menimbulkan respon 

antibodi tanpa bantuan sel T-helper. Antigen non-protein tidak dapat mengikat 

molekul MHC, sehingga tidak dapat dikenali oleh sel T. Banyak bakteri yang 

dinding selnya mengandung kapsul yang kaya polisakarida, sehingga 

pertahanan terhadap bakteri ini dimediasi sebagian besar oleh antibodi yang 

mengikat polisakarida kapsuler dan menargetkan bakteri untuk difagositosis. 

Antigen polisakarida dan lipid sebagian besar mengandung struktur multivalen 

dari epitop yang sama, sehingga antigen ini mampu berikatan dengan banyak 

reseptor antigen pada sel B. Pengikatan ini dapat mengaktifkan sel B untuk 

memediasi proses proliferasi dan diferensiasi tanpa bantuan dari sel T. Antigen 

yang komposisinya dari protein biasanya memiliki struktur yang tidak 

multivalen, sehingga tidak dapat menginduksi respon sel B secara mandiri 

tetapi harus bergantung pada sel T-helper untuk merangsang produksi antibodi. 

sesudah  limfosit B berdiferensiasi menjadi sel penghasil antibodi dan sel 

memori, sebagian kecil dari sel ini bertahan untuk waktu yang lama, tetapi 

sebagian besar sel B yang teraktivasi akan dihilangkan melalui proses 

apoptosis. Hilangnya sel B aktif secara bertahap ini akan berkontribusi pada 

penurunan fisiologis dalam respon imun humoral. Sel B juga menggunakan 

mekanisme khusus untuk menghentikan produksi antibodi. saat  antibodi 

IgG diproduksi dan beredar di dalam tubuh, antibodi akan mengikat antigen 

yang masih ada dalam darah dan jaringan dan membentuk kompleks imun, di 

mana sel B spesifik antigen dapat mengikat bagian antigenik kompleks imun 

melalui reseptor Ig. Pada saat yang sama, reseptor Fc yang diekspresikan pada 

sel dapat mengenali "ekor" Fc dari antibodi IgG yang menempel. Reseptor Fc 

ini memberikan sinyal negatif yang mematikan sinyal yang diinduksi oleh 

reseptor antigen, sehingga menghentikan respon sel B. Proses ini terjadi saat  

antibodi berikatan dengan antigen, mencegah produksi antibodi lebih lanjut, 

yang dikenal sebagai umpan balik antibodi. Ini berfungsi untuk menghentikan 

respons imun humoral sesudah  jumlah antibodi IgG yang cukup telah 

diproduksi 


 Respon Imun Humoral 59 

 

5.6 Antibodi pada Respon Imun 

Humoral 

Antibodi dapat berfungsi pada tempat yang jauh dari tempat produksinya. 

Antibodi diproduksi sesudah  stimulasi sel limfosit B oleh antigen pada organ 

limfoid perifer (yaitu, kelenjar getah bening, limpa, dan jaringan limfoid 

mukosa). Beberapa sel limfosit B yang dirangsang antigen akan berdiferensiasi 

menjadi sel-sel yang dapat menyekresi antibodi, menyintesis dan 

mengeluarkan antibodi dari isotipe yang berbeda. Antibodi akan memasuki 

darah dan mencapai situs perifer terjadinya infeksi, kemudian menyekresi 

mukosa sehingga mencegah infeksi mikroba yang mencoba masuk melalui 

jaringan epitel. Dengan demikian, antibodi mampu melakukan fungsinya di 

seluruh tubuh 

Antibodi diproduksi selama respon pertama (primer) terhadap mikroba dan 

dalam jumlah yang lebih besar selama respon berikutnya (sekunder. Produksi 

antibodi dimulai dalam minggu pertama sesudah  infeksi atau vaksinasi. 

Beberapa sel plasma yang menyekresi antibodi bermigrasi ke sumsum tulang 

dan hidup di jaringan ini, dan akan terus mengeluarkan antibodi dalam jumlah 

kecil selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Jika mikroba kembali 

mencoba menginfeksi inang, antibodi yang disekresikan terus menerus akan 

memberikan perlindungan secara cepat. Beberapa sel limfosit B yang 

dirangsang oleh antigen berdiferensiasi menjadi sel-sel memori, yang tidak 

mengeluarkan antibodi tetapi menunggu serangan antigen berikutnya. Pada 

serangan mikroba berikutnya, sel-sel memori ini dengan cepat berdiferensiasi 

menjadi sel-sel penghasil antibodi, menghasilkan antibodi dalam jumlah besar 

untuk membantu pertahanan yang lebih efektif terhadap infeksi. Tujuan 

vaksinasi yaitu  untuk merangsang perkembangan sel yang menyekresi 

antibodi berumur panjang dan sel memori 

Antibodi menggunakan daerah pengikatan antigen (Fab) untuk mengikat dan 

memblokir efek berbahaya dari mikroba dan toksinnya, serta menggunakan 

daerah Fc untuk mengaktifkan beragam mekanisme efektor yang berfungsi 

mengeliminasi mikroba dan toksin. Antibodi memblokir efektivitas mikroba 

dan efek merugikan dari toksin mikroba dengan cara mengikat mikroba dan 

toksinnya menggunakan daerah Fab. Fungsi antibodi lainnya membutuhkan 

bantuan komponen pertahanan sel inang, seperti fagosit dan sistem 

komplemen. Pengikatan fagosit yang efektif dan komplemen antibodi terjadi 


 

hanya sesudah  beberapa molekul Ig mengenali dan menjadi melekat pada 

mikroba atau antigen mikroba.  

Pergantian isotipe dan ¬pematangan afinitas akan meningkatkan fungsi 

perlindungan dari antibodi. Peralihan kelas dan pematangan afinitas yaitu  dua 

perubahan yang terjadi pada antibodi yang ¬dihasilkan oleh sel limfosit B yang 

distimulasi antigen, terutama selama respons terhadap antigen protein 

Peralihan isotipe memicu  produksi antibodi yang berbeda dan mampu 

melakukan perubahan fungsi efektor. Proses pematangan afinitas dipicu oleh 

stimulasi antigen yang berkepanjangan atau berulang, sehingga memicu  

produksi antibodi dengan afinitas yang lebih tinggi terhadap antigen. 

Perubahan inilah akan meningkatkan kemampuan anti¬bodi untuk mengikat 

dan menetralisir atau mengeliminasi mikroba, terutama jika mikroba ini  

mampu menginfeksi secara berulang. 

 

  

Respon Imun Seluler 

 

  

Respon imun berperan penting untuk kelangsungan hidup manusia sebagai 

pertahanan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia seringkali terpapar oleh 

sumber infeksi sehingga dapat memicu  berbagai jenis penyakit. Selain 

sebagai pertahanan, respon imun juga dibutuhkan sebagai keseimbangan 

(homeostatis) untuk mengeliminasi sel-sel tubuh yang rusak dan sebagai 

pengawasan untuk mengenali dan menghancurkan sel-sel mutan terutama 

yang dapat berkembang menjadi sel tumor. ada  2 jenis sistem imun di 

dalam tubuh yakni sistem imun non-spesifik dan spesifik. Sistem imun non 

spesifik secara alami ada  di dalam tubuh sebelum terjadinya infeksi dan 

mampu memberikan respon secara langsung sebagai pertahanan pertama, 

sedangkan respon imun spesifik merupakan respon terhadap antigen tertentu 

yang muncul sesudah  terjadi proses infeksi. Sistem imun spesifik juga mampu 

membentuk sel memori sehingga apabila terjadi infeksi dari patogen yang 

sama maka respon imun yang dihasilkan akan lebih cepat dan adekuat. 

Apabila antigen masuk ke dalam tubuh maka akan terjadi 2 macam respon 

imun yaitu (1) respon imun humoral, terdiri dari sel-sel limfosit B yang 

berperan dalam proses pembentukan antibodi; (2) respon imun seluler terdiri 

dari sel-sel limfosit T yang mampu membedakan sel terinfeksi dan sel normal 


 

6.2 Respon Imun Seluler 

Pada umumnya antigen yang dapat menstimulasi respon imun seluler yaitu  

antigen yang menginfeksi sel tubuh secara intraseluler yang berasal dari 

mikroba, virus, jamur, parasit dan sel ganas. Imun seluler sendiri diperankan 

oleh sel limfosit T (sel T) yakni sel-sel yang berasal dari sum-sum tulang yang 

telah mengalami maturasi di kelenjar timus sehingga memiliki kemampuan 

dapat membedakan bahan asing (non-self) dan bukan asing (self). Sel T yang 

telah dewasa berada di kelenjar getah bening dan berfungsi sebagai bagian dari 

pengawasan sistem imun tubuh. Dalam hal ini, sel T bertanggung jawab 

sebagai respon imun adaptif yang bersifat spesifik terhadap antigen tertentu 

dan lebih efektif melawan infeksi karena memiliki sel memori. Sel 

T naif yang yang terpajan dengan kompleks antigen MHC dan dipresentasikan 

oleh antigen presenting cell (APC) atau rangsangan sitokin spesifik yang 

selanjutnya akan berkembang menjadi subset sel T berupa CD4+ dan CD8+ 

dengan fungsi efektor yang berlainan. 

Dibandingkan respon imun humoral, mekanisme respon imun seluler lebih 

kompleks, di mana setiap sel T hanya dapat berinteraksi secara spesifik dengan 

satu jenis antigen yang ada  pada permukaan sel APC dengan molekul 

Major Histocompatibility Complex (MHC) yakni makrofag, sel dendritik, sel 

langerhans, sel kuppffer dan sel mikroglia. Proses respon imun seluler diawali 

pada saat APC menangkap fragmen antigen tertentu dan berikatan dengan 

molekul MHC sehingga dapat dikenali oleh Sel-T. Kemampuan sel T untuk 

mengenali antigen karena adanya kompleks protein yang ada  pada 

permukaan sel T yang disebut sel T-reseptor (TCR). Sel ini menjadi aktif 

sesudah  pengenalan antigen oleh TCR. ada  beberapa tipe sel T di 

antaranya sel T-helper (Th), sel T-cytotoxic (Tc) dan sel T-Suppressor (Ts). 

6.2.1 Sel T-helper (Th) 

Sel T-helper (Th) atau disebut juga sebagai sel T penolong memiliki penanda 

berupa protein CD4+. Sel Th ini diaktivasi oleh antigen tertentu sehingga dapat 

mengaktifkan sel-sel imun lainnya. Dalam regulasi respon imun, proses 


 

pengaktifan limfosit lainnya dari sistem imun oleh sel Th diperlukan 2 sinyal, 

di antaranya sinyal yang berasal dari ikatan reseptor antigen pada permukaan 

sel T dengan kompleks antigen MHC kelas II pada sel APC dan sinyal yang 

berasal dari IL-1 yang dihasilkan oleh sel APC. Kedua sinyal ini  akan 

meningkatkan ekspresi limfokin seperti interferon untuk membantu makrofag 

menghancurkan mikroorganisme asing; dan IL-2 yang berfungsi sebagai 

faktor pertumbuhan autokrin, memacu proliferasi dan diferensiasi sel T-

cytotoxic (CD8+). Sel Th berproliferasi dan berdeferensiasi menjadi Th1 dan 

Th2. Proses ini  dipacu oleh sitokin IL-12 dan IFN-γ sebagai respon 

terhadap mikrorganisme untuk mengaktifkan sel dendritik, makrofag dan sel 

Natural Killer (NK). Proses diferensiasi Th1 melibatkan beberapa reseptor di 

antaranya sel T, IL-2 dan faktor transkripsi (T-bet dan STAT1). Reseptor IL-

12 yang dihasilkan oleh makrofag dan sel dendritik melalui jalur STAT1 

dependen untuk menginduksi perkembangan Th1, sedangkan reseptor T-bet 

sebagai respon terhadap IFN-γ dapat meningkatkan respon Th1 terhadap 

antigen. Sel Th1 dapat menghasilkan sitokin spesifik untuk mengaktifkan sel-

sel yang berhubungan dengan respon imun seluler di antaranya sel makrofag, 

sel CD8 dan NK. Oleh karena itu, sel Th1 memiliki fungsi sebagai pertahanan 

untuk melawan infeksi terutama oleh mikroba intraseluler yang terjadi melalui 

aktivasi makrofag, sel B dan sel neutrofil. Mekanisme fungsi dari sel Th1 

dapat dilihat pada Gambar 6.1. 

 

Gambar 6.1: Fungsi Sel Th1 (Abbas, 2007) 

Berbeda dengan Th1, proses diferensiasi Th2 melibatkan reseptor sel T, IL-4 

dan faktor transkripsi (GATA3 dan STAT6). Proses ini  muncul sebagai 

64 Imunologi Dasar 

 

respon terhadap alergi dan parasit. Dalam hal ini adanya IL-4 mampu 

menstimulasi produksi IgE yang berfungsi untuk opsonisasi parasit dalam 

meningkatkan efisiensi fagositosis. Sel Th2 mampu menghasilkan sitokin 

lainnya seperti IL-13 dan IL-10 yang bersifat antagonis terhadap IFN-γ dengan 

menekan aktivasi makrofag. Oleh karena itu Th2 juga berfungsi sebagai 

regulator fisiologis pada respon imun melalui penghambatan terhadap efek 

yang dapat membahayakan respon Th1. Pertumbuhan yang tidak terkontrol 

dari Th2 berkaitan dengan berkurangnya imunitas seluler terhadap infeksi 

mikroba intraseluler. Pada kondisi lain seperti infeksi cacing parasit, sitokin IL-

4 yang dihasilkan oleh sel mast juga terlibat dalam perkembangan Th2  Mekanisme fungsi dari sel Th2 dapat dilihat pada Gambar 

6.2. 

 

6.2.2 Sel T-cytotoxic (Tc) 

Sel T-cytotoxic merupakan sel efektor dengan penanda CD8⁺ yang aktif dalam 

proses pengenalan antigen spesifik. Sel Tc mampu membunuh sel target 

dengan cara melepaskan granula sitotoksik ke dalam sel target. ada  

beberapa cara sel T sitotoksik menghancurkan sel terinfeksi yaitu dengan 

menggunakan beberapa enzim di antaranya perforin bersifat merusak sel, 

granzime yang menginduksi apoptosis sel dan ranulisin bersifat merobek 

membran sel dan menghancurkan sel. Dalam prosesnya akan terjadi kontak 

secara langsung antara sel Tc dan antigen mikroba intraseluler. Sebagai contoh 

pada sel yang diinfeksi oleh virus, di mana sel Tc melalui molekul MHC akan 

mengikat fragmen antigen virus untuk membentuk molekul kompleks MHC-

Fragmen antigen virus melalui reseptor yang ada  pada permukaan sel, 

kemudian melepaskan limfokin dan enzim perforin sehingga memicu  

terjadinya lesi pada membran sel yang terinfeksi dan pada akhirnya mengalami 

lisis dan apoptosis (Gambar 6.3). Selain sel mikroba intraseluler, sel Tc juga 

dapat mengancurkan sel yang tumbuh tidak terkendali seperti sel tumor atau 

sel kanker melalui pelepasan sitotoksi dan perforin. 

 

Gambar 6.3: Mekanisme Kerja Sel T-Sitotoksik 

6.2.3 Sel T-Suppressor (Ts) 

Sel T-suppressor atau disebut juga sebagai sel T-regulator memiliki fungsi 

menurunkan respon imun jika proses infeksi berhasil diatasi, namun tidak 

memiliki efek sitotoksik. Dalam kerjanya, sel T-regulator mampu 

mengeliminasi mikroba asing dan mencegah terjadinya respon autoimun. Hal 

ini dapat ditunjukkan pada pasien tiroid autoimun memiliki kadar sel T-

regulator lebih rendah dibandingkan normalnya. Pada umumnya sel T-

regulator akan mengalami penurunan sesuai pertambahan usia, di mana sel ini 

akan mengalami maturasi di organ timus lalu masuk ke dalam sirkulasi darah, 

jaringan limfoid dan limfoid mukosa dengan kadar 10-30% dari keseluruhan 

sel T pada awal kehidupan. Selanjutnya akan mengalami penurunan pada usia 

anak-anak dan menjadi 1-8% pada usia dewasa.  

Sel T-regulator memiliki penanda pada permukan sel meliputi CD25, CTLA-

4, GITR, OX4 dan L-selektin (CD62L), sehingga mampu mengekspresikan 

faktor transkripsi Foxp3 sebagai faktor perkembangan sel T-regulator. sesudah  

proses maturasi di organ timus (professional regulatory T cell) kemudian 

terbentuk sel T-regulator periferal (induced regulatory T cells) yang memiliki 

kemampuan dapat mengenali antigen dengan cara mengikat fragmen protein 

asing melalui reseptor di permukaan sel. Fragmen protein ini  yaitu  yaitu 

T-cell receptor (TCR) melalui mekanisme kontak antar sel untuk memberikan 

sinyal yang dapat mengaktifkan sel T-regulator, sehingga akan mempengaruhi 

sel T-regulator mengekspresikan molekul pada permukaan selnya dan 

memberikan respon penekanan. Mekanisme kerja sel T-regulator: (1) Sel T-

regulator melakukan penekanan terhadap sel efektor dengan cara mencegah 

sekresi IL-2 dan menghambat proliferasi sel target melalui kontak antar sel 

tanpa intervensi APC; (2) Sel T-regulator mencegah sekresi IL-2 oleh efektor 

dengan intervensi sel dendritik; (3) Sel dendritik yang telah berinteraksi 

dengan sel T-regulator memiliki daya penekanan terhadap sel efektor sebagai 

tolerogenik (Gambar 6.4). 

 

Gambar 6.4: Mekanisme Kerja sel T-regulator 

 

6.3 Sitokin 

Sitokin merupakan polipeptida yang dapat muncul sebagai respon terhadap 

antigen tertentu sebagai aksi imunologik dan reaksi inflamasi. Sitokin yang 

terlibat dalam sistem imun non spesifik dan spesifik dihasilkan dari berbagai 

sel dan bekerja pada sel atau antigen target yang berbeda-beda. Sitokin yang 

dihasilkan oleh sel makrofag dan sel NK berperan pada proses inflamasi, 

diferensiasi, proliferasi dan aktivasi sel makrofag. Jenis Sitokin yang bekerja 

pada imun non-spesifik di antaranya TNF, IL-1, IL-6, IL-10, IL-12, IFN tipe I, 

IL-15, IL-18, dan IL-33, sedangkan sitokin yang bekerja pada imun spesifik di 

antaranya IL-2, IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, IL-16, IL-17, IL-23, IL-25, IL-31, 

IFN-γ, TGF-β dan limfotoksin.  

Interferon gamma (IFNγ) merupakan salah satu jenis sitokin jenis interferon 

tipe II yang diproduksi oleh sel Th1 dan sel NK dan merupakan sitokin utama 

makrofag activating cytokine (MAC). Sitokin ini  berperan sebagai 

aktivator utama makrofag untuk melawan mikrorganisme intraseluler. INF-γ 

juga dapat merangsang ekspresi MHC-I, MHC-II dan APC, meningkatkan 

diferensiasi sel CD4+ naif kesubset Th1, mencegah proliferasi Th2. INF-γ 

dapat merangsang pembentukan sel B untuk meningkatkan class switching 

dengan menghasilkan IgG2a dan IgG3 serta menghambat class switching yang 

menghasilkan IgG1 dan IgGE. Pada kasus infeksi virus, INF-γ berfungsi 

mengaktifkan gen yang menginduksi sel untuk memproduksi protein anti virus 

penghambat proses translasi virus.  

Interleukin-4 merupakan sitokin anti inflamasi yang menstimulasi respon imun 

humoral untuk melawan patogen ekstraseluler. Sumber utama IL-4 yaitu  sel 

T CD4+ dan Th2. Produksi IL-4 dianggap sebagai kriteria untuk 

mengklasifikasikan sel T dalam golongan sel Th2. IL-4 berfungsi sebagai 

faktor pertumbuhan autokrin bagi sel Th2. IL-4 merangsang sel B 

meningkatkan produksi IgG dan IgE dan meningkatkan ekspresi MHC-II dan 

merangsang isotipe sel B dalam pengalihan IgE. IgE berperan pada reaksi 

alergi, oleh karena itu reaksi alergi akan timbul apabila IL-4 diproduksi 

berlebihan. Aktivitas IL-4 tidak terbatas pada sel B, tetapi juga pada sel T, 

makrofag, granulosit, mastosit, prekursor eritrosit dan megakariosit. IL-4 

merupakan sitokin petanda sel Th2, yang merupakan stimulus utama 

perkembangan Th2 dari sel CD4+ naif. IL-4 dapat berfungsi sebagai faktor 

pertumbuhan sel T dan menginduksi sel T untuk mengekspresikan reseptor IL-

2 dan memproduksi IL-2. Tetapi dapat juga bersifat antagonis bagi IL-2 pada 

beberapa jenis sel lain. Reseptor IL-4 dapat dideteksi pada permukaan sel 

hemopoetik, fibroblast, sel epitel, otot, neuroblast, dan sel stroma. IL-4 

mempunyai efek inhibisi terhadap sitokin proinflamasi melalui supresi IL-1, 

TNF-α, IL-6, IL-8, dan MIP-1α. IL-4 mencegah aktivasi makrofag yang 

diinduksi oleh IFN-γ, sehingga IL-4 mempunyai efek yang berlawanan dengan 

IFN-γ. 

 

6.4 Interaksi Imun Seluler dan Humoral 

Meskipun antara imun seluler dan imun humoral memberikan respon yang 

berbeda, namun keduanya saling bekerjasama dalam mengatasi serangan 

bahan asing yang masuk ke dalam tubuh. Imun seluler bertanggungjawab 

memberikan respon terhadap mikroba intraseluler, sedangkan imun humoral 

memberikan respon terhadap antigen ekstraseluler dalam sistem sirkulasi 

darah. Dalam hal ini sel helper (Th) pada imun seluler yang mampu 

mensekresikan sitokin IL-2 untuk menstimulasi pembentukan sel B pada imun 

humoral. Sel B selanjutnya dapat berdeferensiasi dan berproliferasi menjadi 

antibodi spesifik terhadap antigen tertentu. Interaksi antara imun seluler dan 

humoral disebut juga dengan Antibody Dependent Cell Mediated Cytotoxicity 

(ADCC), karena proses lisis sel (sitolisis) akan terjadi jika sudah terbentuk 

antibodi. ADCC berperan dalam proses eliminasi antigen melalui sel natural 

killer (NK) yang memiliki reseptor terhadap fragmen Fc antibodi, sehingga 

dapat melekat erat pada sel atau antigen target yang kemudian oleh sel NK 

akan dihancurkan melalui aktivitas sitolisis, terutama terhadap sel target yang 

terlalu besar untuk difagositosis seperti sel tumor atau sel yang terinfeksi oleh 

virus. Dalam proses aktivasi sel NK tidak memerlukan adanya paparan antigen 

sebelumnya, secara otomatis sel NK dapat mensekresikan IL-1 untuk 

melisiskan sel target lebih banyak. Begitupula dengan adanya IL-3 yang 

disekresikan oleh sel T dapat merangsang sel NK mensekresikan interferon 

untuk membantu dalam aktivitas sitolisis. Sel NK mampu mengenali molekul 

MHC-I yang diekspresikan baik oleh sel sehat maupun sel terinfeksi. Sel NK 

sendiri merupakan efektor respon imun yang penting. Sel NK juga mampu 

mengenali sel yang terinfeksi meskipun tidak mengekspresikan MHC-I. Hal 

ini dikarenakan Sel NK memiliki reseptor aktivasi yang dapat menghancurkan 

sel yang terinfeksi secara langsung melalui ADCC. 

 

Gambar 6.5: Koordinasi antara Imun Seluler dan Humoral (Radji, 2015) 

Sitokin IL-2 juga dapat meningkatkan aktivitas sel-sel makrofag dalam proses 

fagositosis. Dalam hal ini, makrofag merupakan sel efektor yang juga berperan 

penting dalam respon imun. Aktivitas makrofag dipengaruhi oleh 

makcrophage activating factor (MAF), interferon, IL-3 yang disekresikan oleh 

sel-T. Makrofag memiliki fungsi yaitu (1) Menghancurkan antigen, di mana 

sel makrofag mampu menghancurkan antigen di dalam fagolisosom serta 

mensekresikan enzim dan isi granula ke luar sel; (2) Menyajikan antigen 

Bab 6 Respon Imun Seluler 69 

 

kepada sel limfosit T sebagai Antigen Presenting Cell (APC) untuk 

menimbulkan interaksi dengan sel-sel imun lainnya. Koordinasi antara imun 

seluler dan humoral lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 6.5. 

  


Sel Imuno 

 

  

Kombinasi dari sel sel imun DAN jaringan tubuh yang terlibat melawan 

infeksi yaitu sistem kekebalan. Mekanisme aksi bahan ini  yang 

terkoordinasi melawan mikroba disebut respons imun. Tubuh membutuhkan 

sistem kekebalan untuk mempertahankan integritasnya terhadap penyakit yang 

dapat disebabkan oleh zat-zat di lingkungan 

 

7.2 Sistem imun humoral 

Sel imun dalam peredaran darah berperan dalam kekebalan humoral. 

Kekebalan ini melibatkan pertahanan awal berupa pelepasan sistem 

komplemen, kemokin dan protein C-Reactif (CRP) dan pertahanan spesifik 

seperti diferensiasi dan produksi antibodi. Sistem Komplemen yaitu  suatu 

bahan dari regulasi imun yang ada di peredaran darah dalam keadaan non aktif 

menjadi aktif saat  ada  antigen yang menginfeksi tubuh 

 

7.2.1 Komplemen 

Komplemen yaitu  molekul dari sistem kekebalan yang ada dalam peredaran 

darah dalam bentuk non aktif tetapi dapat diaktifkan saat  ada infeksi dari 

antigen spesifik maupun non spesifik. Berbagai jenis antibodi seperti IgG, 

IgM, dan IgA dapat merangsang aktivasi komplemen. Komponen seperti C3b 

dan C4b bersifat mengopsonisasi antigen kemudian fagosit diaktivasi untuk 

menelan dan kemudian melisiskan sel yang mengelimasi zat-zat penginfeksi 


7.2.2 Sitokin 

Sitokin yaitu  protein yang diproduksi oleh sel dan berperan sebagai sinyal 

mengontrol respon sistem kekebalan tubuh. Sitokin ini utamanya diproduksi 

oleh makrofag dan juga diproduksi oleh limfosit. Sitokin atau kemokin terdiri 

dari beberapa jenis seperti Interferon, Interleukin, dan Tumor Necrosis Factor 

(TNF) (Kalliolias dan Ivashkiv, 2016). Sebagai contoh, interferon (IFN) yaitu  

glikoprotein yang dihasilkan oleh leukosit atau sel lainnya yang memiliki inti 

yang berperan menginhibisi penggandaan jumlah virus dengan merangsang 

produksi enzim antivirus host.  

Menurut jenis sel yang menghasilkan IFN, maka dibedakan menjadi dua yaitu: 

Interferon tipe I seperti IFN alfa (IFNα) yang diproduksi oleh leukosit. Pada 

manusia, IFN tipe q mengandung kode protein sekurang kurangnya subtype 13 

IFN seperti IFN-α1,-α2,-α4,-α5,-α6,-α7,-α8,-α10,-α13,-α14,-α16,-α17 and-

α21 dan IFN beta (IFNβ) dihasilkan oleh fibroblast. Interferon tipe II yaitu  

IFN gamma (IFNγ) dihasilkan oleh limfosit. IFN juga merangsang aktivitas 

dan kapasitas makrofag dalam melisiskan dan mengeliminasi antigen dengan 

menginisiasi pembentukan serta produksi enzim proteolitik (Mitoma, dkk. 

2018). Interleukin (IL) yaitu  sitokin yang diproduksi oleh limposit dan 

monosit dan memiliki berbagai variasi dan perannya dalam regulasi sistem 

imun, termasuk IL-1, IL-2, IL-4, IL-6, IL-10, IL-12, IL-13, IL-14, IL-17, IL-

21, dan IL-22 (Ming Wu, et al., 2014). Tumor necrosis factor (TNF) yaitu  

polipeptida yang diproduksi oleh sel imunokompeten sebagai respon terhadap 

adanya aktivasi sel sel radang (Keneko, dkk. 2019) 

7.2.3 Antibodi 

Antibodi yaitu  protein yang disintesis oleh sel plasma yang bersumber 

melalui perkembangan sel B karena proses yang diakibatkan interaksi dengan 

 

antigen. Antibodi berikatan dengan antigen secara khusus di mana sudah 

terjadi paparan sebelumnya. Berdasarkan perbedaan struktur dan aktivitasnya, 

antibodi dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis yaitu IgM, IgG, IgE, IgA, 

dan IgD 

 

7.3 Sistem imun seluler 

Sel yang terlibat komponen imun seluler terdiri dari sel limfosit dan sel 

imunokompeten 

7.3.1 Sel Limfoid 

Limfosit berjumlah 20% dari leukosit yang ada dalam darah. Sel ini akan 

mengidentifikasi imunogen. Sel limfoid terdiri dari sel T dan sel pembunuh 

alami (sel NK). Limfosit difasilitasi dengan molekul reseptor untuk menandai 

antigen. Hal ini berbeda dengan sel NK (Levani, 2018). Sel limfoid terdiri dari: 

sel T (sel Thelper/Th, sel Tsupresor/Ts, sel Tsitotoksik/Tc) dan sel NK. Sel T 

merupakan sel berperan utama dalam mekanismes respons imun selular. Sel 

Th merupakan sel yang mengaktivasi proliferasi dan diferensiasi sel B aktif 

menjadi sel plasma, meningkatkan aktivitas sel Tc dan sel Ts yang sesuai, dan 

mengaktifkan makrofag. Sel Th dapat dibedakan menjadi sel Th1 dan Th2. Sel 

Th1 berperan sebagai limfosit yang akan melepaskan sitokin yang bersifat 

proinflamasi, sedangkan sel Th2 berperan dalam memproduksi antibodi 

dengan menstimulasi sel B menjadi sel plasma (Harahap, ddk. 2022). Sel 

Tsupresor merupakan sel membatasi dan meninhibisi reaksi imun melalui aksi 

"check and balance" dengan sel lainnya. Sel Ts menekan aktivitas sel T dan sel 

B.  

Sel Th dan Sel Ts akan berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Sel Th secara 

berkesinambungan membantu aktivitas sel Ts dan mengendalikan aktivitas sel 

lainnya. Akhirnya, sel ini dapat menghambat respons imun yang tidak normal 

atau over dan mencegah terjadinya radang (Lebaga, dkk 2021). Sel Tsitotoksik 

merupakan sel yang memiliki kapasitas menghancurkan sel transplantasi dan 

sel yang terinfeksi mikroorganisme seperti virus dengan menunjukkan 

aktivitas respon imun sebelum penggandaan jumlah virus. Sel NK dapat 

mengeliminasi sel terinfeksi virus. Aktivasi sel NK dapat mengeluarkan IL-1 

secara langsung meskipun belum ada paparan sebelumnya. 

 

7.3.2 Sel Fagosit 

Sel Fagosit dibagi menjadi dua yaitu: fagosit mononuklear dan 

polimorfonuklear. Sel fagosit mononuklear dan polimorfonuklear berperan 

sebagai sel yang akan merespon signalisasi dalam respon imun . Fagosit mononuklear sebagai sel imunokompeten yang profesional 

memperkenalkan antigen kepada limfosit (APC) dan dapat memusnahkan 

antigen. Makrofag yaitu  sel yang cepat dalam memberikan respon terhadap 

rangsangan kemotaksis secara aktif, dapat menelan dan mencerna serta 

mengeliminasi bahan penginfeksi . Fagosit sering juga disebut sel 

netrofil dan masuk ke dalam golongan Polymorphonuclear cell (PMN) karena 

memiliki granulosit dengan inti berlobi.  

Sel neutrofil berada di sirkulasi bersama dengan bagian seluler darah lainnya. 

Sel neutrofil termasuk granulosit dengan bentuk inti yang berlobi. Hal ini yang 

memicu  sel ini masuk ke golongan polimorfonuklear. Granulosit jenis 

lainnya seperti basophil, eosinophil akan bersama dengan makrofag dalam 

menagani infeksi, sel polimorfonuklear menjadi barisan pertahanan terutama 

dan pertama dan melindungi tubuh dengan mengeliminasi bahan penginvasi 


 

7.4 Interaksi antara Respon Imun Selular 

dengan Respon Imun Humoral 

Interaksi antara sistem kekebalan seluler dengan sistem kekebalan humoral 

dapat ditunjukkan pada proses berikut. Proses penghancuran sel karena 

eksistensi antibodi melakukan opsonisasi, sehingga sel NK dan sel fagosit 

yang memiliki reseptor pada fragmen Fc antibodi ini  dapat menduduki 

dan menghancurkan antigen ini  melalui mekanisme fagositosis. 

Penghancuran sel target ini  terjadi melalui produksi berbagai enzim yang 

dilepaskan, sitolisin, intermediate oksigen reaktif, dan sitokin langsung pada 

imunogen 



 Sel Imuno 

 

7.5 Leukosit 

Sel-sel leukosit yaitu  unit penting pada pengaturan kekebalan tubuh. Sel sel 

yang berperan dalam kekebalan tubuh ini terbentuk di dalam sumsum tulang 

(granulosit, monosit, dan sedikit limfosit) dan jaringan limfe sebagiannya 

(eritrosit dan sel-sel plasma). sesudah  sel ini  matang, maka sel ini  

akan dikirimkan ke dalam darah untuk didistribusikan ke lokasi tubuh untuk 

digunakan. Manfaat sel ini dibawa atau diangkut menuju lokasi yang 

mengalami luka atau injury yang berat secara khusus memberikan pertahanan 

yang cepat dan kuat terhadap agen atau senyawa bahan penginfeksi yang ada 

Secara normal jumlah leukosit 4.000-11.000 per mikroliter darah manusia. 

Jumlah dominan yaitu  granulosit (leukosit polimorfonuklear, PMN)(AK, 

2018). Kerjasama sel-sel ini menghasilkan pengaturan kekebalan yang baik 

terhadap berbagai jenis infeksi baik mikroorganisme patogen seperti virus, 

bakteri, dan parasit. Meskipun jenis leukosit dan memiliki bentuk yang 

berbeda secara morfologis, tetapi diferensial leukosit ini  dapat bekerja 

dan kerdoordinasi bersama-sama untuk mempertahankan dan melindungi 

tubuh melawan invasi mikroba patogen (Saraswati dan Sumarno, 2018). Sel 

darah yang berperan dalam respons kekebalan berasal dari stem sel 

hematopoietik. Kemudian, stem sel ini mengalami diferensiasi melalui 

jalan/jalur yang berbeda, yaitu sistem mieloid dan sistem limfoid.  

Jalur mieloid terdiri dari granulosit polimorfonuklear seperti basofil/mass cell, 

netrofil, eosinofil, monosit/makrofag, dan megakariosit/platelet, sedangkan 

jalur limfoid terdiri dari limfosit T, limfosit B, dan sel NK (Saraswati dan 

Sumarno, 2018). Limfosit, netrofil, eosinofil, basofil, dan monosit merupakan 

sel yang utama dalam sistem kekebalan tubuh, sehingga disebut juga sebagai 

sel imunokompeten. Sel ini dapat digunakan menjadi parameter kualitas sistem 

kekebalan tubuh. Parameter kekebalan tubuh yang bersifat innate akan 

diwakili oleh basofil, eosinofil, netrofil, dan monosit, sedangkan indikator 

kekebalan tubuh yang didapat DENGAN melihat adanya limfosit . Sebagian besar sel-sel ini dalam aliran darah tidak berfungsi dan hanya 

akan aktif saat  diangkut ke jaringan yang mengalami peradangan secara 

khusus. 


 

7.5.1 Granulosit Monomorfonuklear 

Monosit hanya berada dalam jumlah terntentu dalam darah pada keadaan 

normal. Secara umum, monosit yaitu  sel darah putih terbesar hanya sekitar 

5% dari total leukosit (Christina, dkk. 2016). Monosit berukuran besar dan 

memiliki satu inti dengan sedikit granula dalam sitoplasmanya dan juga jika 

dibandingkan dari limfosit dan neutrofil (Djaelani, dkk. 2020). Monosit berasal 

dari sel punca yang mengalami pematangan di sumsum tulang yang sama 

dengan granulosit, beredar dalam waktu singkat dalam darah, dan kemudian 

masuk ke jaringan untuk menjadi makrofag (Dinata, 2017). Sel-sel ini 

berperan dalam menyajikan antigen kepada sel limfosit yang telah peka 

terhadapnya.  

Makrofag juga berfungsi sebagai sel fagosit profesional serta sebagai sel 

antigen presenting cell (APC) pertama yang ditemukan. Monosit/makrofag 

dan sel dendritik keduanya dapat ditemukan dalam darah dan jaringan bersama 

dengan sel lainnya dengan mekanisme tertentu melawan bahan asing , Sel-sel makrofag akan memfagositosis antigen yang berbentuk 

partikel, kemudian merusak antigen melalui perombakan protein, denaturasi, 

dan modifikasi, dan selanjutnya menyajikan antigen ini  kepada sel T. Sel 

monosit memfagosit agen infeksi bekerja samadan berkoordinasi dengan 

neutrofil di jaringan untuk menghilangkan sel sel yang rusak akibat infeksi 


7.5.2 Granulosit Polimorfonuklear 

Semua sel granulosit memiliki granula sitoplasmik yang mengandung zat 

biologis spesifik, yang terlibat aktif dalam respons alergi dan peradangan. Sel 

PMN dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan pewarnaan granula di dalam 

sitoplasma, yaitu netrofil, basofil, dan eosinofil. PMN sejumlah 60-70% berada 

dalam sirkulasi darah, sedangkan sisanya mengalami ekstravasasi. PMN 

memiliki masa hidup yang singkat, sekitar dua hingga tiga hari. Sel-sel ini  

memainkan mekanisme penting dalam proses radang dan responnya (Jayanti, 

2020). Sel-sel ini akan melakukan fagositosis dan mengganggu protein 

organisme yang dilapisi oleh komplemen dan antibodi. Enzimn akan 

dilepaskan ke luar sel melalui peleburan granula intraseluler yang spesifik 

dengan membran plasma melalui proses eksositosis oleh Eosinofil, basofil, dan 

sel mast 

 

7.6 Eosinofil 

Pada keadaan normal, kadar eosinofil sekitar 1-5% dari jumlah leukosit. 

Eosinofil memiliki granula berwarna oranye yang berisi protein asam dan 

enzim penghancur Hal ini menjadi pmebeda eosinophil dengan sel lainnya. 

Eosinofil juga melakukan fagositosis dan membunuh mikroorganisme. 

Eusinofil sangat efektif mengeliminasi antigen yang menginduksi 

pembentukan IgE karena dapat melekat erat pada antigen yang dilapisi IgE 

(Silalahi dan Dharman, 2016). 

Eosinofil memeiliki role yang besar dalam kerusakan jaringan dan radang. IL-

5 dapat merangsang perkembangan eosinofil yang dihasilkan oleh sel T. 

Aktivasi sel T memicu  penumpukan eusinofil di lokasi terjadinya alergi 

eusinofil menjadi aktif saat  mendapat rangsangan dan terjadi degranulasi. 

Hasilnya berupa pelepasan banyak enzim untuk mengeliminasi berbagai 

perantara atau mediator yang dilepaskan oleh sel ini  

 

7.7 Neutrofil 

Jumlah neutrofil hampir 90% dari granulosit dalam aliran darah. Neutrofil 

yaitu  memiliki granula di pada inti sel. Granula sitoplasma dapat bereaksi 

dengan pewarna acid dan basa. Neutrofil yaitu  jenis sel darah putih di mana 

ada  banyak inti 

Neutrofil meberikan respon cepat terhadap rangsangan, dengan cepat 

bersirkulasi menuju daerah inflamasi dikarenakan adanya faktor kemotaktik 

yang diproduksi oleh sistem komplemen atau akibat aktivasi limposit. Fungsi 

neutrofil secara non spesifik memberikan respon dengan melakukan aktivitas 

fagositosis dan menghilangkan patogen asing yang menginvasi tubuh Seperti 

halnya makrofag,. Fungsi ini akan didukung dan dipperbaiki fungsinya oleh 

adanya sistem komplemen juga antibodi dan neutrofil memiliki reseptor Fc-

IgG untuk mengikat sistem komplemen dan antibodi 

 

7.8 Basofil  

Sel darah basofil menyerupai sel mast yang berukuran besar yang berlokasi 

tepat di samping kapiler. Sel Basofil dan sel mast menunjukkan granula yang 

mirip. Hal yang membedakan yaitu  sel basofil bagian intinya menunjukkan 

pemisahan, sedangkan sel mast intinya berbentuk lingkaran. Jumlah basofil 

sedikit dalam sirkulasi, sekitar 0,2% dari jumlah total leukosit (Wijaya, 2020). 

Sel basofil memiliki granula kasar yang berwarna biru gelap saat  diberikan 

reagen basa dan berwarna cerah saat  diwarnai dengan reagen warna 

metakromatik.  

 

7.9 Mastosit 

Mastosit sangat sering ditemukan lapisan kulit, dan lapisan epitel, memiliki inti 

berlobus tunggal dan basofil dengan granula yang berjumlah banyak dan 

berukuran kecil. Sel-sel ini memiliki reseptor yang sama untuk fragmen Fc 

IgG dan IgE. Reseptor untuk C3b merupakan bagian mastosit. Jika ada alergen 

yang bereaksi dengan IgE yang berikatan pada sel melalui reseptor Fc, maka 

sel ini  menghasilkan berbagai mediator memicu  mekanisme 

anafilaktik. Sel-sel ini dikenal sebagai mastosit yang mengandung histamin 

dalam granulanya dan terlibat dalam terjadinya respon berupa alergi. Basofil 

memiliki fungsi dan sifat biokimia yang serupa baik dalam sirkulasi dan 

jaringan 

 

7.10 limfosit 

Limfosit bertempat dalam kelenjar limfe dan disebutkan ditemukan jaringan 

limfoid, misalnya kelenjar getah bening, lapisan bawah dari saluran 

pencernaan, dan sumsum tulang (Firdaus, dkk. 2016). Kadar limfosit sejumlah 

30% dari total jumlah leukosit. Peningkatan jumlah limfosit terjadi sesudah  

peningkatan jumlah neutrophil umumnya. Keadaan ini terjadi saat mengalami 

stres dan infeksi parah.  

Limfosit memiliki inti yang bulat atau agak membentuk lingkaran dengan 

kromatin yang dapat berubah atau juga dapat tetap. Sitoplasma limfosit terlihat 


 

seperti bulatan yang kecil berwarna sangat biru. Limfosit bersirkulasi secara 

luas sehingga memicu  pertukaran yang terus-menerus antara limfosit 

yang ada di dalam jaringan, cairan limfe, dan peredaran darah (Nurfadillah, 

2023). Jumlah limfosit yang menurun dari jumah normal berkaitan dengan 

infeksi virus dan penggunaan agen imunosupresan Aktivitas kekebalan 

umumnya terjadi di luar peredaran darah. Respons kekebalan biasanya akan 

menunjukkan fenomena atau perubahan yang khusus pada sel yang beredar 

dalam sirkulasi darah 



Antigen 

 

 

Sistem imun merupakan sistem yang berfungsi untuk mencegah terjadinya 

kerusakan tubuh atau timbulnya penyakit. Sistem imun yang berfungsi baik 

mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup seseorang. Semua makhluk 

hidup dapat diserang penyakit, sehingga mengharuskan mengembangkan 

mekanisme pertahanan. Salah satu contoh terjadinya wabah Pandemi Global 

Pneumonia COVID-19 yang masuk ke negara Indonesia. Kejadian ini tidak 

serta-merta terjadi begitu saja, beberapa perubahan yang terjadi di antaranya 

penerapan pembatasan aturan masuk dan keluar baik dalam negeri maupun 

luar negeri, kesadaran PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), kesadaran 

menjaga kesehatan secara mandiri dengan mematuhi protokol kesehatan (Kate 

Rittenhouse-Olson; Ernesto De Nurdin, 2017;Siti Boedina Kresno, 2013). 

Bidang imunologi sampai dengan saat ini terus berkembang dan penelitian di 

berbagai bidang masih terus dilakukan. Perkembangan imunologi khususnya 

bidang klinik berhubungan dengan mikrobiologi sebagai sisa dari era vaksin 

bakteri atau infeksi yang dapat menginduksi komplikasi imun seperti demam 

reumatik. Selain itu kemajuan pesat dalam biologi molekuler dan genetika 

memberikan banyak informasi mengenai jenis sel imun, reseptor, ligan, 

struktur subseluler dan DNA 

 

Pengertian awal imunitas yaitu  perlindungan terhadap penyakit, dan lebih 

spesifik lagi perlindungan terhadap infeksi. Sel dan molekul yang bertanggung 

jawab atas imunitas disebut sistem imun dan respons komponennya secara 

bersama dan terkoordinasi disebut respon imun. Penyakit dapat timbul jika 

mekanisme pertahanan tubuh (penjamu/host/inang) dan agen penginfeksi 

memicu  kerusakan pada tubuh (penjamu/host/inang). Mikroorganisme 

(bakteri/virus) dapat memicu  kerusakan jaringan dengan cara 

melepaskan berbagai racun atau enzim yang merusak 

 

8.2 Antigen dan Imunologi 

Imunologi yaitu  ilmu yang mempelajari tentang reaksi saat  pejamu 

bertemu dengan subtansi asing. Substansi asing yang menimbulkan respons 

disebut antigen. Imunitas yaitu  perbedaaan antara diri dan nondiri dan upaya 

perlindungan dari nondiri sesudahnya. Sintem dalam tubuh yang berhubungan 

dengan respons ini disebut dengan sistem imun 

Keberadaan organisme selalu dihadapkan dengan bahaya yang mengancam 

dari dunia luar. Mekanisme pertahanan tubuh dilakukan dengan beberapa 

tujuan, seperti kompetisi untuk hidup, melindungi diri dari asimilasi, 

melindungi kerusakan organ dan membantu perbaikan, melindungi diri dari 

invasi bakteri dan parasit yang mungkin merupkan ancaman terbesar untuk 

manusia, serta untuk regulasi integritas. Varian atau mutan dapat terjadi oleh 

kontaminasi virus dan modifikasi oleh bahan kimia.  Sistem imun merupakan sistem pertahanan tubuh melawan penyakit 

yang disebabkan oleh mikroorganisme, meliputi sel-sel yang malfungsi dan 

partikel asing. Sistem ini cukup rumit, terdiri dari beberapa tipe sel-sel yang 

menetap, melekat pada jaringan atau yang mampu bergerak yang berinteraksi 

di dalam jaringan limfoid yang tersebar dalam tubuh 

Musuh yaitu  sebuah set sifat kompleks yang saat  diinterpretasikan 

berdasarfkan lingkungan seseorang, membuat sebuah entitas menjadi ”asing” 

dan karenanya merupakan sebuah agens yang berpotensi berbahaya. Sistem 

imun harus dipahami tidak bisa membedakan antigen yang baik dari yang 

buruk dalam banyak situasi, sistem imun justru bereaksi terhadap antigen yang 

tidak berbahaya dan dalam melakukannya, sistem imun memicu  lebih 

banyak kerusakan pada pejamu daripada antigen itu sendiri. Kondisi ini dapat 

dilihat pada kondisi hipersensitivitas dan autoimunitas. Berbagai patogen 

seperti bakteri, virus, jamur atau parasit mengandung berbagai bahan yang 

disebut imunogen atau antigen yang dapat menginduksi respon imun 

Antibodi yaitu  bahan glikoprotein yang diproduksi sel B sebagai respons 

terhadap ransangan imunogen. Respon imun dapat bersifat bawaan 

(nonadaptif) atau adaptif (didapat). Imunitas bawaan bersifat non spesifik dan 

bervariasi sesuai dengan usia dan aktivitas hormonal dan metabolik. 

Mekanisme Imunitas bawaan Imunitas adaptif bersifant spesifik dan diperantai 

oleh antibodi maupun sel limfoid, dibentuk sesudah  adanya pajanan terhadap 

suatu antigen sehingga imunitas ini bersifat aktif atau pasif 


8.2.1 Jenis-Jenis Antigen 

Istilah antigen dahulu diartikan sebagai molekul yang dapat meransang 

pembentukan antibodi, tetapi sekarang istilah antigen digunakan untuk 

menyebut substansi yang mampu bereaksi dengan antibod