ubuh terhadap bakteria piogenik
dan mikrooganisme intraselular. Ada beberapa macam defek genetik
fagosit, 2 di antaranya mempunyai makna klinik penting, yaitu chronic
granulomatous disease (CGD) dan leucocyte adhesion defesiency (LAD)
Disfungsi sel-sel PMN pada CGD disebabkan gangguan metabolisme
oksidatif akibat defisiensi enzim G6PD, ketidakmampuan NADPH-
oksidase untuk bereaksi dengan substrat, gangguan rangsangan
terhadap membran sel atau disfungsi sistem transport elektron dalam
sel. Penderita CGD tidak mampu memproduksi radikal oksigen (O2) dan
hidrogen peroksida, sehingga sel tiu tidak mmapu membunuh kuman
atau jamur yang ditelannya. Akibatya yaitu kuman itu tetap hidupo di
dalam sel fagosit dan mengakibatkanm terjadinya respons imun selular
terhadap mikroba intraselular ini dan terbentuknya granuloma.
Difungsi PMN pada LAD disebabkan adanya gangguan pada reseptor
permukaan fagosit yang dikenal sebagai reseptor komplemen CR3.
reseptor ini kaedaan normal dapat berinteraksi dengan C3b yang melapisi
(opsonisasi) mikroogarnisme dan merupakan poroses yang penting untuk
berlangsungnya fagositosis. Pada LAD terjadi defek pada reseptor ini yang
berakibat infeksi berat terutama pada mulut dan saluran cerna
CR3 terdiri atas rantai polipeptida alfa (CD11b) dan rantai beta (CD
18) dan pada LAD ada defek rantai beta secara genetik. Pada LAD
juga ada defek lymphocyte function associated antigen (LFA-1)
yang merupakan reseptor penting pada proses adhesi sel. Reseptor
ini beriteraksi dengan molekul adhensi interselular (ICAM-1) pada
permukaan sel endetel dan membran lain. Akibat defek LFA-1 fagosit
penderita LAD tidak mampu melekat melekat pada dinding pembuluh
darah tidak dapat menyebar cepat.
Disfungsi fagosit yang lain dapat berupa kelainan intrinsik yan
antara lain disebabkan oleh defisiensi enzim yang diperlukan untuk
pembunuhan kuman. Gangguan pada granula azurofil dalam sel
111
polimorfonuklear (PMN) memicu sel PMN kekurangan enzim-
enzim untuk metabolisme oksidatif, misalnya defisiensi lisozim pada
sindrom Chediak-Higashi, defisiensi dan difisiensi laktoferin. Kelainan
ini disebut defisiensi granula spesifik (specific granules deficiency).
Penyebabnya belum diketahui pasti namun diduga pada penyakit ini faktor
genetik juga memegang peranan penting.
Manifestasi klinik disfungsi fagosit yang umum yaitu infeksi
bakterial berulang kali, baik lokal maupun sistemik terutama infeksi
oleh Staphlococcus aureus, streptococcus hemolyticus atau candida,
dan jarang oleh virus. Pada penderita sering tampak infeksi berat tanpa
peningkatan suhu dan tanpa peningkatan jumlah leukosit, mungkin juga
timbul abses dingin
b. Defesiensi sistem komplemen
Berbagai jenis defesiensi dan gangguan fungsi komplemen sering
dikaitkan dengan peningkatan kepekaan terhadap infeksi, sebab
komplemen diperlukan untuk opsonisasi, pembunuhan kuman dan
terjadinya khemotaksis neutrofil. Walaupun komplemen tidak ada
hubungan dengan kepekaan terhadap infeksi, namun dikaitkan dengan
penyakit-penyakit lain, misalnya kecenderungan penyakit kompleks
imun dan autoimun. Defisiensi komponen-komponen autosomal recessive
trait, kecuali defisiensi properdin yang diturunkan secara X-linked dan
difisiensi inhibitor C1 yang diturunkan secara autosomal dominant
Difisiensi masing-masing komponen dalam sistem komplemen
menunjukkan gejala klinik yang berbeda-beda. Walaupun dakam
kepustakaan telah dilaporkan berbagai jenis penyakit atau sindrom
yang dihubungkan dengan difisinsi komplemen hanya beberapa saja
diantaranya yang relatif sering di jumpai.
Salah satu diataranya yaitu difisiensi inhibitor C1- esterase. Defisiensi
ihibirtor ini mengakibatkan aktivitas C1, C2 dan C4 secara terkendali yang
berlebihan dan berakibat peningkatan permeabilitas dinding kapiler
sehingga terjadi edema non- inflamasi lokal yang timbul berulang kali. Hal
ini dijumpai pada sindrom edema hereditary angioneurotic edema (HAE).
Ada 2 bentuk HAE yang dikenal yaitu tipe I dengan defegen inhibitior C1
sehingga tidak terbentuk transkripnya, sedang pada tipe II terjadi
point mutation pada gen inhibitor C1 sehingga yang terbentuk yaitu
inhibitor-C1 sehingga yang terbentuk yaitu Inhibitor C 1 yang cacat .
112
Difisiensi C1r C4 dan C 2 memicu kegagalan dalam aktivasi
C3 convertase. Kelainan ini adakalanya di jumpai pada penderita SLE.
Hubungan yang pasti antara defisiensi komplemen dengan SLE belum
di ketahui, namun diduga bahwa hal itu disebabkan ketidak mampuan
sistem imun penderita untuk menyingkirkan kompleks antigen-antibodi
yang ada dalam tubuh secara efektif.
Penderita dengan difisiensi C3, C5, C6, C7, C8 dan C9 sering di
jumpai namun pada umumnya penderita itu tampat sehat kecuali
ada peningkatan kepekaan terhadap infeksi Neisseria gonorrhoea dan
Neissieria meningitidis. Defisiensi C3 atau C5 memicu gangguan
opsonisasi mikroorganisme di samping gangguan penglepasan faktor
kemotaktik sehingga proses fagositosis terganggu.
c. Defisiensi Limfosit T
Kelainan ini dapat berupa kelainan intrinsik sel B, kelainan fungsi
sekresi imunoglubulin, atau kelainan intrinsik maupun fungsi sekresi. Ciri
utama kelainan ini yaitu penurunan kadar imunoglobulin serum yang
bervariasi antara defisiensi semua kelas imunoglobulin hinga defisiensi
imunoglobulin selektif .
Defisiensi imunoglobulin terjadi alami pada neonatus, yaitu apabila IgG
yang berasal dari Ibu telah menghilang, dan hal ini terutama berbahaya
bagi bayi yang lahir prematur sebab pada umumnya sistem imun pada
bayi prematur belum berfungsi sempurna. Neonatus pada umumnya
mendapat perlindungan dari Ig yang berasal dari Ibu. IgA, IgM, IgD dan
IgE tidak dapat melewati plasenta, sehingga bila dalam darah neonatus
ada peningkatan kadar IgA atau IgM perlu dipikirkan bahwa Ig ini
dibentuk sendiri oleh neonatus akibat infeksi intrauterin. IgG maternal
mengalami katabolisme dengan waktu peruh sekitar 30 hari. Dalam
waktu 3 bulan, bayi normal sudah mulai membentuk antibodi sendiri,
walaupun antibodi terhadap kapsul polisakarida bakteri tidak terbentuk
dalam jumlah memadai sebelum ia berumur 2 tahun. Pada umur 5- 6
bulan kadar IgG dalam darah bayi umumnya rendah sehingga pada usia
ini bayi sangat peka terhadap infeksi.
Ada kalanya pada usia 5 – 6 bulan bayi mengalami infeksi saluran
nafas berulang kali dan hal ini biasanya dihubungkan dengan defesiensi
IgG. Kelainan ini disebut transient hypogammglobulinemia. atau
hipogamaglobulin fisiologi. Kelainan ini sering kali berubah menjadi
113
normal secara spontan pada umur 4 tahun. Penyebab imunodefisiensi
ini belum diketahui pasti. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa
pada penderita transient hypogammaglobulinemia dijumpai jumlah sel
B yang cukup namun fungsi sel T CD4+. Mungkin ketidak mampuan sel
B membentuk imunoglebulin disebabkan tidak adanya bantuan dari
sel T CD4+. Jumlah dan fungsi set T CD4+ akan kembali normal sesudah
beberapa waktu.
Imunodefisiensi yang paling sering di jumpai yaitu common variabel
immunodeficiency (CVID) yang umumnya baru timbul sesudah penderita
dewasa, baik pria maupun wanita, ditandai dengan infeksi piogenik
berulang kali. Dalam sumsum tulang ada sel B imatur dalam jumla
normal, namun pada sebagian penderita jumlah sel B dalam sirkulasi yang
menampilkan Imunoglobulin permukaan (sIg = Surface immunoglobulin)
menurun. Limfosit B tidak mampu berdiferensiasi menjadi sel plasma
atau tidak mampu menderita ini juga dijumpai kelainan pada limfosit
T. Penyebab brlum diketahui dengan pasti, namun beberapa pakar
menduga kelainan ini disebabkan peningkatan jumlah atau aktivitas sel
Treg atau Ts.
Pada agamaglobulinemia kongenital yang terutama di jumpai pada
anak laki-laki (X- linked agamaglobulinemia), produk imunoglobulin
umumnya tertekan dan dalam kelenjar limfe hanya ada sedikit
folikel limfoid atau sel plasma.
Jumlah sel B dalam sirkulasi berkurang atau bahkan tidak ada sel B
namun sel T biasanya normal. Diduga kelainan ini disebabkan tidak ada
prekursor sel B dalam sumsum tulang sehingga dalam sumsum tulang tidak
ada sel plasma dan dalam darah perifer tidak ada sel B beberapa
peneliti dapat menemukan sel pre B dalam sumsum tulang dan dalam
sirkulasi, namun sel pre B ini tidak mampu mensintesis imunoglobulin.
Respons imun selular umumnya tidak terganggu, sehingga walaupun
pada penderita sering dijumpai infeksi piogensik yang berat, infeksi
dengan virus biasanya dapat diatasi dengan baik. Dalam serum tidak di
jumpai IgA, IgM, IgD maupun IgE, namun IgG dapat dijumpai dengan kadar
yang sangat rendah. Pada umur 6 –12 bulan, penderita dilindungi dengan
IgG yang berasal dari Ibu, yang akan menurun kadarnya sesudah beberapa
bulan, sehingga penderita akan mengalami infeksi piogenik berulang kali.
114
Pada defisiensi imunoglobulin selektif, limfosit B tidak mampu
memproduksi Imunoglobulin kelas tertentu atau Imunoglobulin tertentu
yang diperoduksi tidak berfungsi semestinya. Yang paling sering dijumpai
yaitu defisiensi IgA, dengan ciri infeksi saluran nafas atau saluran cerna.
Umumnya pada kelainan ini tidak dijumpai kelainan imunolgobulin kelas
lain maupun kelainan limfosit T, dan seringkali masih tampak sel B dengan
sIg A. ini berarti bahwa sel B masih mampu memproduksi IgA namun
tidak mampu mensekresikannya. Diduga hal ini disebabkan defisiensi
komponen-komponen sekretorik atau mungkin juga defisiensi sel Th.
Adanya anti- IgA dalam serum penderita memicu dugaan bahwa
anti-IgA berperan dalam proses penyakit ini, meski belum diketahui
apakah anti-IgA menghambat produksi IgA ataukah tidak adanya
IgA memicu hilangnya toleransi sehingga tubuh memproduksi
antibodi terhadap zat eksogen yang secara imunologik mirip IgA.
Disgamaglobulinemia kelas lain misalnya IgM atau sub kelas IgG.
d. Defisiensi Limfosit B
Berbeda dengan penderita defisiensi imunoglobulin yang biasanya
menderita infeksi berulang kali dengan kuman patogen yang berkapsul,
penderita defisiensi limfosit T sangat peka terhadap infeksi virus, jamur
dan kuman yang patogenitasnya rendah atau infeksi aportunistik.
Sindrom di Goerge, Wiskott dan Aldirch dan chronic mucocutaneous
candidiasis termasuk golongan kelainan ini
Sindrom di George ditandai dengan tidak terbentuknya kelenjar thymus
sama sekali (aplasia) atau pembentukan thymus yang tidak lengkap
(hipoplasia) pada saat embriogenesis. sebab itu cikal bakal limfosit
tidak dapat berkembang menjadi limfosit T. Sebaliknya jaringan limfoid
tetap terbentuk walaupun perkembangannya sedikit terganggu. Jumlah
limfosit T dalam sirkulasi sangat sedikit dan fungsinya terganggu. Respon
imun selular terganggu sehingga walaupun penderita dapat mengatasi
infeksi mikroba piogenik, ia tidak mampu mengatasi infeksi virus bahkan
tidak mampu mengatasi vaksinasi BCG. Dalam serum penderita masih
dapat di jumpai imunoglobulin walaupun kadarnya sering berkurang. Hal
ini menandakan bahwa pembentukan imunoglobulin tetap diperlukan
bantuan limfosit T.
115
Pada Sindrom Wiskot-Aldrich dijumpai kelainan pada proses ekspresi
antigen oleh makrofag. Penyakit ini merupakan penyakit imunodefisiensi
yang X-linked dan dijumpai pada pria. Sindrom yang lengkap terdiri atas
eksim, infeksi piogenik, infeksi aportunistik, disertai trombositopenia.
Kadar IgA dan IgE meningkat, kadar IgG normal sedang kadar IgM
umumnya sangat sangat rendah. Dalam serum penderita kadang-kadang
di jumpai antibodi limfositsitotoksik yang selektif terhadap limfosit T.
Fungsi sel T pada penderita terngganggu dan malfungsi ini lama makin
progresif. Pada chronic mucocutaneous candidiasis sering di jumpai
gangguan produksi migration inhibotory facktor (MIF) dan mungkin juga
gangguan produksi lomfokin yang lain
Tabel 8.1 : Penyakit yang disebabkan defisiensi dari komponen-kom-
ponen sistim imun
e. Defesiensi sel induk (stem cell)
Gejala yang ditunjukan oleh defesiensi sel induk limfoid merupakan
kombinasi kelainan limfosit B dan limfosit T yaitu severe combined
imumunodeficiency (SICD). Gejala klinik pada penderita dengan kelainan
ini disebabkan gangguan enzim recombinase yang sangat diperlukan
untuk pembentukan reseptor sel B dan sel T. sebab itu pada kelainan
baik sel B maupun sel T tidak berhasil menjadi sel yang imunokompeten
sehingga terjadilah imunodefisiensi selular maupun humoral. Pada
penderita lain dapat di jumpai gangguan enzim adenosin deaminase
pada sel B maupun T. Jenis lain yang lebih fatal yaitu defisiensi sel
induk pluripoten. Pada keadaan ini baik cikal bakal limfosit maupun cikal
bakal sel mieloid tidak berkembang. Kelainan ini dikenal dengan istilah
disgenesis retikular
116
f. Defisiensi MHC kelas II
Ketidak mampuan mengekspresikan MHC kelas II pada permukaan
sel APC (makrofag dan sel B) diturunkan secara autosom resesif yang
tidak berkaitan dengan lokus histocompatibilitas pada lengan pendek
kromosom 6. anak yang menderita penyakit ini sering terkena infeksi
berulang kali, terutama pada saluran cerna. sebab perkembangan sel T
CD4⁺ bergantung pada seleksi positif oleh MHC kelas II dalam thymus,
defisiensi MHC kelas II menunjukkan defisiensi sel T CD4+, yang juga
mengakibatkan defisiensi antibodi
2. DENFISIENSI IMUN SEKUNDER
Golongan imunodefisiensi sekunder lebih sering dijumpai dan
dapat disebabkan oleh berbagai faktor etiologik, misalnya malnutrisi,
infeksi virus yang bersifat sitotoksik terhadap sel limfosit seperti yang
dijumpai pada AIDS, defisiensi akibat sinar X, obat-obat sitotoksik dan
krotikosteroid. Imunodofesiensi sekunderjufga dapat terjadi akibat
keganasan misalnya pada penyakit Hodgkin, leukemia limfositik kronik,
mieloma dan penyakit Waldestrom, atau sebab adanya hambatan pada
proses imun seperti yang dijumpai pada penyakit lepra lepromatosis
atau malaria. Namun masih banyak kasus imunodefisiensi sekunder yang
belum diketahui sebabnya secara pasti.
Acquired immune deficiency sydrome (AIDS)
Imunodofesiensi sekunder yang paling banyak dibicarakan akhir –
akhir ini yaitu AIDS, yang disebabkan infeksi human immunedeficiency
virus (HIV). Penularan HIV di Afrika terjadi melalui hubungan
heteroseksual namun di bagian dunia yang lain penularan terutama terjadi
melalui hubungan homoseksual walaupun transmisi heteroseksual juga
makin lama makin meningkat. Selain itu penularan HIV dapat terjadi
atara pencadu obat bius intravena dan dari ibu HIV positif kepada janin
melalui transmisi fetomaternal. Segera sesudah infeksi primer, sebanyak
1 diantara 100 sel T CD4+ mengandung virus. Respons imun semua
dapat menurunkan jumlah virus, namun tidak lama virus dapat mengatasi
perlawanan sisten imun dan berkembang dengan cepat dan menginfeksi
lebih banyak sel T. Pengukuran jumlah sel T CD4+ merupakan parameter
terbaik untuk mengetahui pernjalanan penyakit. bila jumlah absolut CD4+
117
kurang dari 600/ ul penderita mulain menunjukkan defisiensi imun selular
dan menderita infeksi oportunistik. Pada awal perkembangan penyakit,
sel B memperlihatkan proferasi poliklonal dan kadar imunoglobulin
meningkat. Hasil pemeriksaan laboratorium yang khas pada penderita
AIDS yaitu penurunan jumlah dan fungsi limfosit T CD4+ peningkatan
jumlah sel limfoid imatur dan aktivitas sel T CD8+ pada stadium akhir
kadar imunoglobulin menurun secara drastis
Beberapa pakar menyatakan bahwa limfosit penderita AIDS kurang
bereaksi terhadap rangsangan mitogen. Unsur yang paling penting
dan sentral dalam patogenesis AIDS yaitu gangguan pada sel TCD4+
khususnya yang tergolong T helper inducer, baik jumlah maupun
fungsinya. HIV, sehingga HIV dapat melekat lalu masuk ke dalam sel dan
merusaknya. sebab itu pada AIDS di jumpai penurunan jumlah limfosit
CD4+ sedang CD8+ meningkat atau normal, sehingga rasio pada
infeksi CD4+ / CD8+ menurun. Berbeda dengan penurunan rasio CD4 /
CD8 yang dijumpai pada infeksi virus lain yang reversibel, penurunan
rasio CD4/CD8 pada AIDS biasanya ireversibel. Penelitian Elvira tahun
2021 diketahui bahwa pada penderita HIV dengan TB, ada hubungan
bermakna antara kadar protein-10 IFN-γ urin sebagai biomarker
diagnosis TB paru aktif pada pasien HIV dengan kadar CD4 serum pada
pasien koinfeksi TB-HIV dengan kekuatan korelasi sedang.
Pada AIDS juga di jumpai gangguan fagosit; dengan demikian
imunidefisiensi selular pada AIDS tidak terbatas pada sel – sel limfoid.
Monosit dan makrofag dapat terinfeksi oleh HIV bahkan sel – sel ini
merupakan resevoir yang stabil bagi virus, sebab sel – sel ini mempunyai
masa hidup yang lama dan menyediakan dirinya untuk replikasi virus
secara terus menerus. Sel – sel ini baru dapat dimusnankan virus kalau
dibantu oleh limfokin yang diproduksi oleh Sel T.
Pada AIDS jumlah sel B yang mensekresi imunoglobulin bertambah.
Hal ini diduga terjadi sebab aktivitas dan proliferasi sel B secara
poliklonal. Namun demikian ternyata imunoglobulin poliklonal yang
diproduksi tidak berfungsi semestinya (qualitatively defective). Diduga
hal ini disebabkan gangguan sel B secara intrinsik .
AIDS merupakan penyakit yang fatal. Kematian biasanya
disebabkan pneumonia, dan 30% disebab oleh gangguan sistem saraf.
Infeksi oportunistik biasaya disebabkan oleh Pneumocystis Carinii,
118
Candida, Cytomegalovirus (CMV) dan Toxoplasma. Penderita AIDS
menunjukkan kepekaan terhadap sarkoma kaposi. Diagnosis ditegakkan
dengan menemukan anti HIV dalam serum dengan cara ELISA yang
dikonfirmasikan dengan cara Western Blott
3. PEMERIKSAAN LABORATURIUM PADA DEFISIENSI IMUN
Salah satu gejala imunodefisiensi yang paling menonjol dan yang
membawa penderita ke dokter yaitu infeksi berulang atau berkelanjutan
yang tidak dapat diatasi dengan terapi yang adekuat. Adanya infeksi berat
tanpa demam disertai leukopenia atau infeksi dengan kumanyang pada
dasarnya apatogen atau infeksi oportunistik, memicu kecurigaan
adanya imunodefisiensi. Namun, sering pula dijumpai jumlah leukosit
yang normal namun tidak berfungsi adekuat, demikian juga gangguan
dalam komponen-komponen lain dalam sistem imun yang tidak dapat
dibedakan satu dengan yang lain secara klinik.
Dalam melakukan pendekatan diagnosis dengan pemeriksaan
laboraturium, ada beberapa aliran di antara para pakar. Ada yang
melakukanpenilaian berdasar imunitas selular atau humoral, namun
adapula yang melakukan pendekatan dengan cara lain. Salah satu di
antaranya yaitu yang dikemukakan pada konferensi di University of
California Los Angeles (UCLA) pada tahun 1988, yang disusun secara tata-urut
(algoritmis)3. Tata-urut pemeriksaan laboraturium mencakup uji penyaring
maupun rencana terinci untuk mempelajari kelainan neutrofil serta uji
penyaring untuk mempelajari fungsi limfosit B, T dan komplemen. Dalam
menentukan tata urut, ruang lingkup rencana kerja disesuaikan dengan
kondisi penderita secara individual, misalnya umur, hasil pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang lain. Pada bagan dibawah disajikan algoritme
pemeriksaan laboraturium pada imunodefisiensi secara umum.
Uji saring
Kedalam kelompok uji penyaring termasuk : hitung leukosit, trombosit,
retikulosit dan hitung jenis leukosit dengan memperhatikan morfologi
eritrosit. dan leukosit, serta biakan kuman. Dari mikroorganisme yang
dijumpai pada sediaan atau biakan seringkali dapat diduga letak gangguan
pada sistem imun. Kuman piogenik biasanya menunjukkan kelainan
fagosit, komplemen dan limfosit B, sedang virus atau jamur umumnya
119
menunjukkan kelainan imunitas selular (limfosit T). pemeriksaan
hemoglobin, morfologi eritrosit dan retikulosit dilakukan dengan maksud
menyaring adanya anemia hemolitik. Kemungkinan defisiensi glucose-
6-phosphate dehydrogenase (G6PD). Pada sindroma Wiskott-Aldrich
sering dijumpai trombositopenia disertai eksim, sedang adanya
neutrofil dengan granula abnormal (giant cytoplasmic granules) disertai
albinisme memicu dugaan sindrom Chediak-Higashi, defisiensi
granula spesifik. Penemuan jumlah neutrofil kurang dari 1800/ul atau
jumlah limfosit absolut kurang dari 1500/ul memicu dugaan ke
arah imunodefisiensi selular dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Bila uji saring diatas tidak menunjukkan kelainan, pemeriksaan
dilanjutkan dengan uji imunitas humoral, yaitu pengukuran kadar
imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgE), titer isohemaglutinin serta kadar
komplemen terutama C3 dan C4, serta uji hemolitik CH50. Penurunan
kadar imunoglobulin merupakan parameter kelainan sel B, sedang
peningkatan kadar IgE menunjukkan sindrom hiper-IgE. Penurunan kadar
dan fungsi komplemen berarti hipokomplementemia yang mungkin juga
disebabkan ko-eksistensi penyakit autoimun disamping imunodefisiensi.
Kelainan sel B dapat juga diamati di tingkat selular, dan pengujiannya
dilakukan pada pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan lanjutan
Bila hasil pengujian humoral normal, pertimbangkan kelainan pada
sel T dengan melakukan uji imunitas selular. Uji kuantitatif saja seringkali
tidak menunjukkan korelasi dengan fungsi sel. Uji imunitas selular
kualitatif yang sering dilakukan yaitu uji kulit dan uji fungsi limfosit,
misalnya uji stimulasi limfosit dengan rangsangan mitogen (transformasi
balst) atau pengujian migration inhibitory factor (MIF). Jumlah sel T
dapat dihitung dengan berbagai cara di antaranya dengan mendeteksi
petanda spesifik pada permukaan sel memakai antibodi monoklonal
dengan prinsip imunofluoresensi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan
memakai mikroskop fluoresensi atau alat yang lebih canggih yang
dapat memilah-milah setiap populasi dan subpopulasi limfosit secara
automatis berdasar penanda permukaannya (CD) yaitu dengan
flowcytometer atau fluorescence activated. Pada penderita defisiensi sel
T dapat di jumpai hasil uji kulit negatif jumlah sel T rendah atau hasil uji
stimulasi negatif.
120
Untuk menguji limfosit B tingkat selular dapat digunakan prinsip yang
sama, misalnya aktivitas dengan mitogen atau antigen, dan mengukur
kadar antibodi yang diproduksi. Pada uji biosintesis ini yang diuji
yaitu kemampuan sel B yang telah distimulasi dan menjadi sel Plasma,
untuk mensintesis atau mensekresi imunoglobulin. Hal ini dilakukan
dengan mengukur kadar imunoglobulin yang disekresikan dengan cara
radioimmunoassay, atau mempelajari imunoglobulin intrasitoplasmik
yang diwarnakan dengan anti- imunoglobulin berlabel fluoresin di bawah
mikroskop UV atau dengan flowcytometer.
Penilaian fungsi fagositosis dapat dilakukan bertahap sesuai dengan tahap
proses fagositosis, seperti diuraikan terdahulu, namun yang paling mudah
yaitu uji nitroblue tetrazolium (NBT). Uji NBT menguji kemampuan
neutrofi untuk mereduksi NBT menjadi formazan yang berwarna biru.
Hal ini menggambarkan kemampuan neutrofil untuk membentuk
H2O2 dan superoksida, dengan demikian menggambarkan kemampuan
membunuh kuman intraselular. Hasil uji NBT yang abnormal antara lain
dijumpai pada chronic granulomatous disease (CGD). Untuk menilai fungsi
neutrofil dapat juga dilakukan uji pembentukan superosiksida dengan cara
chemiluminescence. Uji motilitas atau kemotaksis juga dapat dilakukan baik
in vivo dengan uji Rebuck skin window maunpun un vitro memakai
leukosit serta serum penderita dan serum kontrol. Hasil uji yang abnormal
baik dengan memakai serum penderita maupun serum kontrol
menunjukkan gangguan fagosit primer seperti di jumpai pada defisiensi
granula spesifik. Apabial hasil abnormal hanya dijumpai dengan serum
penderita sedang hasil pengujian denga serum kontrol berhasil normal,
kemungkinannya defisiensi kemotaksis sekunder atau defisiensi komplemen.
Uji fungsi limfosit dapat juga dilakukan dengan mengukur
kecepatan sintesis DNA, yaitu dengan menghitung jumlah serapan
titriated thymidine (3H-Tdr) dengan cara autoradiografi atau dengan
memakai scintillation spectrophotometer. Akhir – akhir ini dapat
digunakan metode flowcytomertry untuk mengukur tingkat proliferasi
sel dengan mendeteksi molekul permukaan pada sel teraktivasi. Penilaian
fungsi limfosit maupun fungsi fagosit umumnya merupakan uji biologik
dan bermacam – macam kelainan intrinsik cara ini umumnya hanya
dapat mendeteksi gangguan yang lengkap, sebab pada kelainan fungsi
yang partial, hasil pengujian ini sulit ditafsirkan. Namun bila dilengkapi
dengna anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, hasil pengujian di
atas dapat digunakan untuk menunjang diagnosis secara lebih seksama.
121
BAB IX
HIPERSENSITIVITAS
Bila seseorang pernah terpapar pada antigen tertentu, maka pemaparan
berikutnya dengan antigen yang sama memicu respons imunologik
sekunder dengan tujuan menyingkirkan antigen ini . Hal ini
merupakan reaksi alami tubuh untuk mempertahankan diri. Namun,
pada keadaan tertentu. Reaksi imunologik dapat berlangsung berlebihan
sehingga memicu kerusakan jaringan. Reaksi itu disebut reaksi
hipersensitivitas. Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi bila jumlah
antigen yang masuk relatif banyak atau bila status imunologik seseorang,
baik selular maupun humoral, meningkat.
berdasar mekanisme reaksi imunologik yang terjadi, Gell dan
Coombs membagi rekasi hipersensitivitas menjadi 4 golongan, yakni
reaksi hipersensitivitas tipe I, II, III, IV, kemudian akhir-akhir ini dikenal
satu golongan lain yang disebut tipe V atau stimulatory hypersensitivity.
Reaksi Tipe I, II, III, dan IV terjadi sebab interaksi antara antigen dengan
reseptor yang ada pada permukaan limfosit sehingga termasuk
reaksi selular. Sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk timbulnya
reaksi, reaksi tipe I, II, III dan IV disebut reaksi tipe segera (immediate),
walaupun reaksi yang satu timbul lebih cepat dari yang lain, yaitu antara
beberapa detik atau menit pada tipe I hingga beberapa jam pada tipe
II dan III. Sebaliknya tipe IV disebut reaksi tipe lambat (delayed type
hupersensitivity reaction) sebab reaksi berlangsung lebih lambat
dibandingkan tipe yang lain, yaitu umumnya lebih dari 12 jam. Walaupun
demikian, dalam praktek, mekanisme reaksi hipersensitivitas tidak selalu
berdiri sendiri atau terpisah satu dari yang lain, namun sering melibatkan
lebih dari satu mekanisme reaksi imunologik.
1. HIPERSENSITIVITAS TIPE I
Hipersensitivitas tipe I atau immediate hypersensitivity yaitu
reaksi yang dipicu oleh paparan ulang terhadap jenis antigen tertentu.
Hipersensitivitat Tipe I berbeda dari tipe II, tipe III dan tipe IV, sebab
paparan oleh agen dapat melalui konsumsi, inhalasi, injeksi, atau kontak
langsung. Kelainan klinis hipersensitivitas tipe I disebut denga istilah
atopi mencakup asma, eksim, hay fever, dan urtikaria.
122
Gejala ini biasanya muncul pada individu dengan anggota keluarga
yang menunjukkan gejala yang sama, yaitu menunjukkan reaksi alergi
segera sesudah terpapar pada antigen lingkungan.
Peran IgE dan mediator lain
Faktor terpenting yang berperan pada reaksi anafilatik yaitu IgE,
yang disebut antibodi homostitotropik atau reagin. IgE mempunyai sifat
khas yang tidak dimiliki oleh imunoglobulin kelas lain yang afinitas yang
tinggi pada mastosit dan basfi melalui reseptor Fc pada permukaan sel
bersangkutan yang mengikat fragmen Fc IgE. Sekali terikat, IgE dapat
melekat pada permukaan mastosit dan basofil selama beberapa minggu dan
IgE yang terikat inilah yang berperan beasr pada reaksi anafilaktik. Selain
IgE, IgG4 diketahui mempunyai kemampuan serupa, namun dengan afinitas
yang jauh lebih rendah. Penelitian- penelitian terakhir mengungkapkan
bahwa berbagai jenis limfokin dan sitokin dengan peran multi fungsi
juga dilepaskan pada reaksi ini sebagai akibat aktivitas mastosit oleh IgE.
IL-3 dan IL-4 mungkin mempunyai dampak autokrin pada sel mestosit
bersangkutan dan substansi ini bersama-sama dengan sitokin yang lain
meningkatkan produksi IgE oleh sel B. disamping itu beberapa jenis sitokin
lain, termasuk produk golongan gen IL-8/IL-9, berperan dalam proses
khemotaksis dan aktiitas sel-sel inflamasi di daerah terjadinya alergi.
Gambar 9.1: Faktor-faktor yang memicu crosslinked dari reseptor
Fcε yang memicu proses degranulasi sel mast (Sumber:
Delves et a.,2017)
123
Apabil IgE yang berikatan dengan reptornya pada mastosit atau basofil,
mengalami pemaparan ulang pada alergen spesifik yang dikenalnya,
maka alergen akan diikat oleh IgE sedemikian rupa sehingga alergen
ini membentuk jembatan antara 2 molekul IgE pada permukaan
sel (crosslinking). Crosslinking hanya terjadi dengan antigen yang bivalen
atau multivalen namun tidak terjadi dengan antigen yang univalen.
Crosslinking yang sama dapat terjadi bila fragmen Fc-IgE berekasi dengan
anti IgE, ataubila reseptor Fc dihubungkan satu dengan lain lain oleh anti
reseptor Fc. Crosslinking merupakan mekanisme awal atau sinyal untuk
degranulasi sel mast atau basofil (gambar 9.1).
Segera sesudah ada sinyal pada membran sel, terjadi serangkaian reaksi
biokimia intraselular secara berurutan menyerupai kaskade, dimulai
dengan aktivitasi enzim metiltransferase dan serine esterase, diiku
dengan perombakan fosfatidilinositol menjadi inositol triphosphat (IP3),
pembentukan diasilgliserol dan peningkatan ion Ca++ intrasitoplasmik.
Reaksi-reaksi biokimia ini memicu terbentuknya zat-zal yang
memudahkan fusi membran granula sehingga terjadi degranulasi.
Degranulasi mengakibatkan penglepasan mediator-mediator yang
sebelumnya telah ada di dalam sel misalnya histamin, heparin, faktor
kemotaktik eosinofil (neutrophil chemotactic factor/NCF), platelet
activating factor (PAF). maupun pembentukan berbagai mediator baru.
Di antara mediator baru yang dibentuk yaitu slow reacting sub stances
of anapltylaxis yang terdiri atas substansi-substansi dengan potensi
spasmogenik dan vasodilalasi yang kuat yaitu leukotrien LTB4, LTC4 dan
LTD4, di samping beberapa jenis prostagiandin dan tromboksan. Mediator-
mediator ini mempunyai dampak langsung pada jaringan, misalnya
histamin memicu vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular,
penyempitan bronkus, edema pada mukosa dan hipersekresi. Jenis mediator
baru yang dibentuk bermacam-macam tergantung populasi mastosit yang
membentuknya, sehingga manifestasi kliniknya juga berbeda-beda .
Peran mastosit dalam reaksi alergi
Diketahui bahwa populasi mastosit merupakan populasi yang
heterogen dan distribusinya dalam berbagai jaringan juga berbeda. Sel
mastosit ada sekitar pembuluh darah dan dalam sebagian besar
jaringan tubuh. Pada manusia sebagian besar mastosit ada dalam
mukosa sepanjang saluran cerna dan pernafasan disebut mucosal mast
cell (MMC) dan di jaringan lainseperti kulit disebut connective tissue mast
124
cell (CTMC). Struktur dan fungsi mastosit antara spesies yang satu dengan
spesies yang lain, maupun mastosit yang berasal dari lokasi berbeda.
Mastosit dalam dinding saluran cerna mempunyai jumlah dan ukuran
granula yang lebih besar dibanding mastosit yang terrdapat pada kulit.
Sel MMC dan CTMC berasal dari sel induk yang sama, yang pada akhir
perkembangannya menunjukkan perbedaan dalam fenotip, bergantung
pada lingkungan lokal.
Granula mastosit mengandung beberapa jenis protease; dua di
antaranya yaitu trypase dan chymase. Protease ini mempunyai makna
klinik cukup penting sebab tryptase terbukti dapat memicu
respons berlebihan pada bronkhus edan chymase dapat merangsang
peningkatan sekresi mukus oleh bronkus; keduanya merupakan ciri asma.
Kedua jenis protease juga dapat merombak peptida intestinal vasoaktif
yang merupakan mediator relaksasi bronkus.
Rangsangan pada mastosit untuk melakukan degranulisi terjadi
bila ada crosslinking IgE oleh pengikatan IgE dengan molekul alersen
atau molekul lain yang memicu agregasi reseptor Fc. Degranulasi
juga terjadi bila ada crosslinking antara reseptor Fc secara langsung,
misalnya oleh pengikatan jenis lectin seperti PHA dan ConA. Hal ini
dapat menjelaskan mengapa urtikaria dapat timbul sesudah menyantap
makanan yang banyak mengandung lectin, misalnya buah strawberi.
Komponen lain yang juga dapat merangsang degranulasi mastosit
yaitu C3a dan C5a, obat-obat seperti ACTH sintetik, kodein dan morfin.
Mastosit yang ada pada mukosa (MMC) memerlukan mediator
untuk maturasi yang dilepaskan oleh sel T, yaitu IL-3 dan IL-4 dan untuk
melepaskan mediator-mediator itu diperlukan interaksi langsung dengan
sel T. Mediator-mediator ini yang diproduksi oleh sel TDTH hanya dapat
mengaktivasi mastosit selama beberapa jam, berbeda dengan IgE yang
dapat mensensitisasi selama beberapa minggu.
Interaksi dengan antigen memicu influks Ca++ ke dalam mastosit
dan hal ini mengakibatkan terjadinya dua proses:
1. Eksositosis isi granula, di antaranya histamin
2. Induksi pembentukan mediator vang merangsang pembentukan
prostaglandin dan leukotrien yang mempunyai dampak langsung
pada jaringan lokal. Pada paru-paru ia segera memicu
konstriksi bronkus, edema dan hipersekresi mukus.
125
Faktor-faktor yang berpengaruh pada alergi
Di samping faktor genetik, ada beberapa faktor lain yang dapat
berpengaruh pada alergi. Salah satu di antaranya yaitu defisiensi
sel T, terutama sel T-supresor. Pada penderita eksim atopik biasanya
dijumpai defisiensi sel T CD3+CD8+. Respons sel T terhadap milogen juga
berkurang pada penderita atopik.
2. HIPERSENSITIVITAS TIPE lI
Hipersensitivitas tipe II disebut Antibody-mediated cytotoxic reaction
(IgG or IgM antibodies). Penggolongan reaksi hipersensitivitas semula
didasarkan atas perbedaan mekanisme kerusakan jaringan yang
diakibatkannya. Baik reaksi tipe II maupun reaksi tipe III melibatkan IgG
dan IgM. Perbedaannya yaitu bahwa pada reaksi tipe II antibodi ditujukan
kepada antigen yang ada pada permukaan sel atau jaringan tertentu,
sedang pada reaksi tipe III antibodi ditujukan kepada antigen yang
terlarut dalam serum. Jadi pada reaksi tipe II, antibodi yang ada
dalam serum bereaksi dengan antigen yang berada pada permukaan
suatu sel atau yang merupakan komponen membran sel.
Seringkali suatu substansi berupa mikroba dan molekul-molekul kecil
lain atau hapten, melekat pada permukaan sel dan bersifat sebagai antigen.
Kompleks antigen-antibodi pada permukaan sel sasaran akan dihancurkan
oleh sel efektor, misalnya oleh makrofag maupun oleh neutrofil dan monosit,
atau limfosit T-sitotoksik dan sel NK sehingga mungkin dapat memicu
kerusakan sel itu sendiri. Pada keadaan ini sulit membedakan antara reaksi
imun yang normal dengan reaksi hipersensitivitas.
Mekanisme kerusakan jaringan
Proses sitolisis dapat terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu:
a. Proses sitolisis oleh sel efektor. Pada proses sitolisis ini perlu ada
kontak antara sel efektor dengan sel sasaran. Kontak ini terjadi
melalui molekul imunoglobulin yang terikat oleh antigen pada
permukaan sel sasaran, yang kemudian berinteraksi dengan
reseptor Fc yang ada pada permukaan sel efektor, misalnya
makrofag, neutrofil, eosinofil dan sel NK. Dengan demikian fragmen
Fc merupakan jembatan antara sel efektor dengan sel sasaran
(opsonicadherence).
126
b. Proses sitolisis oleh komplemen. Proses sitolisis oleh komplemen
terjadi sebab Clq merupakan reseptor Fc yang larut dan
pengikatannya pada kompleks antigen-antibodi yang ada pada
permukaan sel merangsang aktivasi C3. Selanjutnya terjadi aktivasi
komplemen melalui jalur klasik, yaitu aktivasi C5b-9 diikuti lisis sel
sasaran secara langsung.
c. Proses sitolisis oleh sel efektor dengan bantuan komplemen
(immune adherence). Sel sasaran yang dilapisi komplemen dapat
dirusak oleh sel efektor sebab sel efektor memiliki reseptor
untuk C3b dan c3d. Pengikatan C3b dan C3d melalui reseptor C3
pada permukaan sel efektor meningkatkan proses sitolisis oleh sel
efektor.
Subkelas imunoglobulin yang berbeda menunjukkan kemampuan
yang berbeda pula dalam hal interaksi dengan berbagai sel efektor dan
sistem komplemen. Hal ini berkaitan dengan perbedaan karakteristik
pengikatan pada jenis reseptor Fc yang berbeda satu dengan yang lain. Baik
fragmen komplemen maupun IgG dapat bertindak selaku opsonin yang
melapisi permukaan sel mikroba, atau sel lain sehingga sel efektor dapat
lebih mudah menghancurkannya. Opsonisasi meningkatkan aktivitas
lisosom fagosit, dan meningkatkan kemampuannya untuk melepaskan
produk-produk oksigen reaktif, misalnya superoksida, sehingga hal itu
juga meningkatkan kemampoan sel efektor untuk memicu keadaan
imunopatologik pada reaksi hipersensitivitas. Di samping itu antibodi yang
terikat pada reseptor Fc pada permukaan sel efektor merangsang sel itu
untuk melepaskan asam arakhidonik yang menghasilkan prostaglandin
dan leukotrien yang terlibat dalam reaksi inflamasi. Beberapa unsur
lain, misalnya C5a berfungsi sebagai faktor kemotaktik yang menarik sel
efektor ke arah terjadinya inflamasi.
Sebagian besar patogen difagositosis dan dibunuh intralisosom,
namun hal ini tidak mungkin dilakukan terhadap sel sasaran yang
berukuran besar. sebab itu pada keadaan ini, fagosit atau sel efektor
lain melepaskan mediator-mediator tertentu ke sekitarnya, misalnya
protease dan kolagenase yang mampu merusak sel sasaran. Mekanisme
sitolisis dengan bantuan antibodi yang dikenal sebagai ADCC bermanfaat
untuk membantu sel sitotoksik menghancurkan sel sasaran yang
berukuran terlalu besar untuk difagositosis. Selain itu mekanisme
127
sitolisis dengan bantuan antibodi bermanfaat untuk menghancurkan sel
patologis, misalnya sel tumor, terutama apabila antibodi yang terbentuk
justru melindungi permukaan sel sasaran diri serangan sel T sitotok-sik
secara langsung.
Gambar 9.2: Perbedaan mekanisme fagositosis normal dan frustrated
phagocytic pada raksi hipersensitivitas tipe II (Sumber:
Janeway, 2001)
Kerusakan yang dimediasi neutrofil merupakan cerminan dari respon
normal terhadap mikroba, dengan mekanismenya yaitu berikut:
neutrofil mengikat mikroba dengan mengaktifkanreseptor Fc dan C3,
kemudian mikroba difagositosis dan dihancurkan sesudah lisosom
bergabung membentuk fagolisosom. Pada reaksi hipersensitivitas tipe
II, sel host individu yang dilapisi dengan antibodi dapat difagositosis
dengan cara yang sama, namun jarena targetnya luas atau berukuran
besar, misalnya membran basal, maka neutrofil gagal dalam upaya
fagositosis, yang memicu eksositosis dari isi lisosomnya sehingga
memicu kerusakan sel atau jaringan sekitarnya. Hal ini disebut
sebagai frustrated phagocytic. (Gambar 10.2)
128
Kelainan klinis hipersensitivitas tipe II
Beberapa contoh reaksi hipersensitivitas tipe II yaitu kerusakan pada
eritrosit seperti yang terlihat pada reaksi transfusi, hemofytic disease
of the newborn (HDN) akibat ketidaksesuaian faktor Rhesus (Rhesus
Incompatibility), dan anemia hemolitik akibat obat serta kerusakan
jaringan pada penolakan jaringan transplantasi hiperakut akibat interaksi
dengan antibodi yang telah ada sebelumnya pada resipien.
a. Kerusakan pada eritrosit
Transfusi eritrosit kepada resipien yang mengandung antibodi
terhadap eritrosit yang ditransfusikan dapat memicu reaksi
transfusi. Jenis reaksi tergantung pada kelas dan jumlah antibodi
yang terlibat. Antibodi terhadap eritrosit sistem ABO biasanya
terdiri atas antibodi kelas IgM. Antibodi golongan ini memicu
aglutinasi, aktivasi komplemen dan hemolisis intravaskular. Sistem
golongan darah yang lain memicu pembentukan antibodi
kelas IgG dan pada umumnya IgG akan melapisi eritrosit kemudian
menim- bulkan reaksi tipe II. Hal serupa terjadi pada HDN dimana
anti-D IgG yang berasal dan ibu menembus plasenta masuk ke
dalam sirkulasi darah janin dan melapisi permukaan eritrosit janin
kemudian mencetuskan reaksi hipersensitivitas tipe II. HDN
terjadi apabila seorang ibu Rh mengandung janin Rh+. Sensitisasi
pada ibu umumnya terjadi saat persalinan pertama, sebab itu HDN
umumnya tidak timbul pada bayi pertama. Baru pada kehamilan
berikutnya limfosit ibu akan membentuk anti-D IgG yang dapat
menembus plasenta dan mengadakan interaksi dengan faktor Rh
pada permukaan eritrosit janin. Anemia hemolilik autoimun juga
dapat dianggap reaksi hipersensitivitas tipe II sebab eritrosit yang
dilapisi auto antibodi lebih cepat dihancurkan oleh fagosit. Hal
yang sama terjadi pada anemia hemolitik, agranulositosis atau
purpura trombositopenia akibat obat. Pada kasus-kasus ini obat
melekat pada permukaan sel bersangkutan menyusun kompleks
antigen yang dapat menyulut pembentukan antibodi. Kompleks
antigen-antibodi selanjutnya merangsang reaksi hipersensitivitas
tipe II. Reaksi hipersensitivitas terhadap obat dapat timbul dalam
berbagai bentuk. Selain reaksi tipe II, reaksi hipersensitivitas
terhadap obat dapat timbul sebagai reaksi anafilaktik apabila
melibatkan IgE. reaksi tipe III bila obat berinteraksi dengan protein,
atau reaksi tipe IV pada obal yang digunakan topikal.
129
b. Kerusakan jaringan transplantasi hiperakut
Reaksi penolakan jaringan transplantasi secara hiperakut mungkin
terjadi apabila resipien sebelumnya pernah terpapar pada antigen
jaringan transplantasi ini sehingga sudah ada sensitisasi
sebelumnya. Reaksi hiperakut dapat terjadi dalam waktu singkat,
yaitu beberapa menit hingga 48 jam sesudah tindakan transplantasi
selesai. Antibodi yang ada dalam darah resipien dapat segera
bereaksi dengan antigen yang ada pada permukaan jaringan
transplantasi. Antibodi sistem ABO dapat terlibat dalam hal ini
sebab banyak sel jaringan mengandung antigen ABO. Mungkin
juga antibodi yang terlibat yaitu antibodi terhadap antigen MHC
kelas I, bila sebelumnya resipien pernah terpapar pada jaringan
transplantasi yang tidak sesuai (incompatible).
Reaksi ini hanya terjadi pada jaringan transplantasi yang mengalami
revaskularisasi segera sesudah transplantasi, misalnya transplantasi
ginjal. Dalam waktu sam jam sesudah revaskularisasi tampak infiltrasi
neutrofil secara ekstensif dan disusul oleh kerusakan pembuluh
darah glomerulus dan perdarahan. Deposit tromkus ada dalam
arteriol dan jaringan transplantasi mengalami kerusakan ireversibel.
Faktor utama yang berperan dalam kerusakan jaringan yaitu
neutrofil dan trombosit yang berinteraksi dengan sel- sel melalui
reseptor Fc, C3b dan C3d. Sel-sel itu melepaskan berbagai mediator,
misalnya superoksida, enzim dan vasoactive amine, sehingga terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler dan kerusakan jaringan setempat.
3. HIPERSENSITIVITAS TIPE III
Hipersensitivitas tipe III atau Immune complex-mediated reaction
merupakan reaksi antibodi dengan antigen menghasilkan atau
membentuk kompleks imun. Pada keadaan normal kompleks imun ini
dieliminasi oleh jaringan retikuloendotelial melalui proses fagositosis
ole makrofag atau aktivasi komplemen. Namun dalam keadaan penyakit
tertentu dimana kompleks imun terbentuk dalam jumlah besar dan
disimpan dijaringan seperti pembuluh darah dari berbagai bagian
tubuh, maka akan memicu kerusakan jaringan akibat reaksi
hipersensitivitas tipe III.
Faktor-faktor yang memicu pembentukan kompleks imun
dalam jumlah besar yaitu : Akibat kombinasi infeksi kronis ringan dengan
130
respons antibodi yang lemah, sehingga memicu pembentukan
kompleks imun kronis yang dapat mengendap di berbagai jaringan.;
komplikasi dari penyakit autoimun dengan pembentukan autoantibodi
secara terus menerus yang berikatan dengan jaringan self ; kompleks
imun terbentuk pada permukaan tubuh, misalnya dalam paru-paru,
akibat terhirupnya antigen secara berulang kali.
Reaksi hipersensitivitas tipe III terjadi ketika kompleks imun
mengaktifkan komponen C3a dan C5a dari sistem komplemen yang
memicu degranulasi sel mast sehingga melepaskan histamin
yang meningkatkan permeabilitas pembuluh kapiler darah. Hal
ini memicu deposit atau pengendapan kompleks imun pada
dinding pembuluh darah. C5a, C3a dan C5b67 bertindak sebagai faktor
kemotik untuk menarik neutrofil ke pengendapan kompleks imun.
Seperti pada mekanisme hipersensitivitas tipe II, neutrofil tidak mampu
memfagositosis sebab kompleks imun disimpan pada membran basal,
sehingga neutrofil melepaskan enzim lisozim untuk menghancurkan
kompleks imun. Enzim lisozim memicu kerusakan jaringan di
sekitar deposit kompleks imun (gambar 9.3).
Gambar 9.3: Respon inflamasi terhadap kompleks imun yang mengendap
di jaringan pembuluh darah pada hipersensitivitas tipe III
(Sumber: Janeway et al,2001)
131
Kelainan klinis hipersensitivitas tipe III
Manifestasi klinik akibat pembentukan kompleks imun in vivo, bukan
saja bergantung pada jumlah absolut antigen dan antibodi, namun juga
bergantung pada perbandingan relatif antara kadar antigen dengan
antibodi. Dalam suasana antibodi berlebihan atau bila kadar antigen hanya
relatif sedikit lebih tinggi dari antibodi, kompleks imun yang terbentuk
cepat mengendap sehingga reaksi yang ditimbulkannya yaitu kelainan
setempat berupa infiltrasi masif dari sel-sel PMN, agregasi trombosit
dan vasodilatasi yang kemudian memicu eritema dan edema.
Reaksi ini disebut reaksi Arthus. Agregasi trombosit dapat meningkatkan
penglepasan vasoactive-amine atau mungkin juga memicu
milcrotrombus yang berakibat iskemia lokal. Dalam suasana antigen
berlebihan, kompleks yang terbentuk yaitu kompleks yang larut dan
beredar dalam sirkulasi sehingga mungkin memicu reaksi sistemik
yang disebut serum sickness atau terperangkap di berbagai jaringan di
seluruh tubuh dan memicu reaksi inflamasi setempat seperti pada
glomerulo-nefritis dan artritis.
Faktor-faktor yang berpengaruh terbentuknya kompleks imun
a. Ukuran kompleks imun
Untuk memicu kerusakan atau penyakit, kompleks imun harus
mempunyai ukuran yang sesuai. Kompleks imun berukuran besar
biasanya dapat disingkirkan oleh hepar dalam waktu beberapa
menit, namun kompleks imun berukuran kecil dapat beredar dalam
sirkulasi untuk beberapa waktu. Ada dugaan bahwa defek genetik
yang memudahkan produksi antibodi dengan afinitas rendah dapat
memicu pembentukan kompleks imun berukuran kecil, sehingga
individu bersangkutan mudah menderita penyakit kompleks imun.
b. Kelas imunoglobulin
Pembersihan (clearence) kompleks imun juga dipengaruhi oleh
kelas imunoglobulin yang membentuk kompleks. Kompleks IgG
mudah melekat pada eritrosit dan dikeluarkan secara perlahan-
lahan dari sirkulasi, namun tidak demikian halnya dengan IgA yang
tidak mudah melekat pada eritrosit dan dapat disingkirkan cepat
dari sirkulasi, dengan kemungkinan pengendapan dalam berbagai
jaringan misalnya ginjal, paru-paru dan otak.
132
c. Aktivasi komplemen
Salah satu faktor penting lain yang turut menentukan manifestasi
klinik yaitu berfungsinya aktivasi komplemen melalui jalur
klasik. Aktivasi komplemen melalui jalur klasik dapat mencegah
pengendapan kompleks imun sebab C3b yang terbentuk dapat
menghambat pembentukan kompleks yang besar. Kompleks yang
terlihat pada C3b akan melekat pada eritrosit melalui reseptor
C3b, lalu dibawa ke hepar di mana kompleks itu dihancurkan
oleh makrofag. Bila sistem ini terganggu, misalnya pada defisiensi
komplemen, maka kompleks di atas akan membentuk kompleks
yang berukuran besar dan memungkinkan ia terperangkap di
berbagai jaringan atau organ. Telah diketahui bahwa kompleks
imun yang dibentuk dalam suasana antigen berlebihan merupakan
kompleks imun yang paling merusak apabila ia mengendap atau
terperangkap dalam jaringan.
d. Permeabilitas pembuluh darah
Penyulut yang penting untuk pengendapan kompleks imun yaitu
peningkatan permeabilitas vaskular. Peningkatan permeabilitas
vaskular dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya
oleh peningkatan penglepasan vasoactive amine. Semua hal yang
berkaitan dengan penglepasan substansi ini harus dipertimbangkan,
misalnya komplemen, mastosit, basofil dan trombosit yang dapat
memberikan kontribusinya pada peningkatan permeabilias
vaskular.
e. Proses hemodinamik
Pengendapan kompleks imun paling mudah terjadi di tempat-
tempat dengan tekanan darah tinggi dan ada turbulensi. Banyak
kompleks imun mengendap dalam glomerulus di mana tekanan
darah meningkat hingga 4 kali dan dalam dinding pencatangan
arteri dan di tempat-tempat terjadinya filtrasi, seperti pada pleksus
choroid di mana tcrdapat turbulensi.
f. Afinitas antigen pada jaringan
Tersapat beberapa jenis kompleks imun yang memilih mengendap
di tempat-tempat tetentu, misalnya pada SLE sasaran pengendapan
kompleks imun yaitu ginjal. Pada artritis reumatoid kompleks
133
imun lebih suka mengendap dalam sendi dan walaupun selalu ada
kompleks imun dalam sirkulasi, ia tidak mengendap di ginjal. Hal ini
ditentukan oleh afinitas antigen terhadap organ tertentu.
4. HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
Hipersensitivitas tipe IV atau Cell-mediated, delayed hypersensitivity
reaction berbeda dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III,
sebab reaksi ini tidak melibatkan antibodi namun melibatkan sel-sel
limfosit. Pada percobaan binatang, hipersensitivitas jenis ini tidak dapat
dipindahkan dari binatang yang satu kepada binatang yang lain dengan
memindahkan serum, namun pemindahan hipersensitivitas dapat terjadi
dengan memindahkan limfosit T. Limfosit yaitu sel yang imunospesifik
dan pada permukaannya mempunyai berbagai reseptor antigen, baik untuk
antigen jaringan maupun untuk molekul-molekul kecil yang melekat pada
membran sel dan kemudian bersifat sebagai antigen. Reaksi tipe IV yang
juga disebut reaksi tipe lambat pada umumnya timbul lebih dari 12 jam
sesudah pemaparan pada antigen. Dikenal 4 jenis reaksi hipersensilivitas
tipe lambat yaitu reaksi Jones- Mote, reaksi kontak, reaksi tuberkulin dan
reaksi granuloma. Keempat jenis reaksi seringkali timbul secara berurutan
atau tumpang tindih, sehingga seringkali reaksi yang terjadi tidak khas
untuk jenis tertentu.
Kelainan klinis pada hipersensitivitas tipe IV
a. Reaksi Jones Mote
Reaksi Jones-Mote merupakan reaksi yang timbul hanya sebentar,
mencapai puncaknya paling lambat sesudah 24 jam dan kemudian
berkurang atau menghilang. Reaksi Jones- Mote disebut juga
cutaneous basophil hypersen-fitivity, sebab menunjukkan infiltrasi
basofil dalam jumlah besar di kulit. Mekanisme reaksi Jones-Mote
dan manifestasi kliniknya hingga saat ini belum jelas.
b. Reaksi kontak (contact hypersensitivity)
Reaksi kontak ditandai dengan reaksi eksim pada tcmpat terjadinya
kontak dengan alergen yang dapat berupa hapten seperti logam,
zat warna maupun zat kimia. Hapten umumnya terlalu kecil untuk
menjadi antigenik namun pada reaksi hipersensitivitas kontak,
hapten menembus epidermis kemudian mengikat protein yang
134
disebut carrier protein. Hapten yang sejak lama dikenal sering
memicu hipersensitivitas pada hampir setiap individu yaitu
dinitrochlorobenzene (DNCB). Pengenalan oleh sel T yaitu spesifik
untuk konjugat hapten-carrier bersangkutan, dan tidak untuk
masing-masing komponen.
Reaksi kontak terjadi dalam lapisan epidennis (berbeda dengan
reaksi tuberkulin yang terjadi dalam lapisan dermis. Sel APC
yang berperan dalam reaksi ini yaitu sel Langerhans yang
mengekspresikan CD1, MHC kelas II serta reseptor untuk Fe dan
komplemen. Proses sensitisasi pada manusia berlangsung selama
10-14 hari. Segera sesudah diabsorpsi, hapten berikatan dengan
protein dan ditangkap oleh sel Langerhans yang kemudian bergerak
melalui pembuluh limfe menuju bagian parakortikal kelenjar limfe.
Dalam waktu 4 jam sesudah pemaparan dengan DNCB, sel-sel
Langerhans tampak dalam bagian parakortikal kelenjar limfe. Dalam
kelenjar ini ia mempresentasikan konjugat hapten-carrier kepada
limfosil CD4+ yang menghasilkan populasi sel memory. Respons
yang terjadi bergantung pada dosis hapten yang masuk; dosis yang
sangat rendah tidak memicu respons namun sebaliknya dosis
yang melebihi dosis tertentu tidak meningkatkan respon.
Gejala pertama reaksi dapat terlihat sesudah 4-8 jam dan
mencapai puncaknya dalam 48-72 jam. Gejala awal menunjukkan
sel-sel mononuklear sekilar kelenjar peluh, sebasea, folikel dan
pembuluh darah yang mulai menginfiltrasi epidermis. Dalam waklu
48-72 jam jumlah sel yang menginfiltrasi epidermis bertambah
banyak dan terjadi edema. Sebagian besar sel yang ada yaitu
limfosit CD4+, dengan sedikil CD8+. Jumlah sel Langerhans (GDI+)
dalam epidermis bertambah dalam waktu 24-48 jam kemudian ia
terlihat dalam lapisan dermis. Makrofag kemudian masuk ke dalam
infiltrat, demikian pula basofil dan mastosit.
Mekanisme patofisiologik yang mendasari reaksi ini telah banyak
dipelajari. Pada saat sel Langerhans mempresentasikan hapten-
carrier yang telah diproses kepada sel CD4+ memory, terjadilah
transduksi reseptor CD3 pada limfosit T disusul dengan penglepasan
sitokin IL-2, IL-3, IFN-γ dan GM- CSF. Sel Tjuga mengekspresikan
reseptor IL-2. Proliferasi sel T diinduksi oleh pengikatan IL-2 pada
135
reseptornya. IFN- gama dan TNF menginduksi sel-sel keratin dalam
epidermis untuk mengekspresikan molekul adhesi intraselular
(ICAM- 1) dalam waklu 24-48 jam sesudah pemaparan. ICAM-
1 diperlukan untuk lokalisasi limfosit dan makrofag dalam kulit.
IFN-γ merangsang sel keratin untuk mengekspresikan HLA- DR.
Sel keratin yang teraktivasi ini melepaskan IL-1, IL-6 dan GM-
CSF yang meningkatkan respons imun setempat. Reaksi mulai
mereda sesudah 48-72 jam. Penurunan reaksi diduga disebabkan
penglepasan beberapa mediator, di antaranya prostaglandin E yang
menghambat produksi IL-1 dan IL-2 di sampin degradasi konjugat
hapten-protein.
c. Reaksi tuberkulin
Seperti halnya reaksi kontak, reaksi tuberkulin juga mencapai
puncaknya 48-72 jam sesudah pemaparan. Reaksi ini dapat diikuti
dengan reaksi yang lebih lambat yang ditandai dengan agregasi
dan proliferasi makrofag membentuk granuloma yang menetap
selama beberapa minggu. Ditinjau dari segi klinik jenis reaksi
granuloma merupakan jenis reaksi imunologik selular yang paling
patologik Pemaparan ulang sel T memory pada kompleks antigen-
MHC kelas II yang ditampilkan oleh APC merangsang sel T CD4+
untuk melakukan transreseptor merupakan sinyal yang diteruskan
ke dalam sel sebagai instruksi untuk melakukan aktivitas. Ternyata
bahwa sinyal yang sama dapat dicetuskan oleh interaksi antara
antibodi terhadap kelenjar liroid dengan reseptor TSH atau interaksi
antibodi ini dengan salah satu bagian reseptor sehingga
memicu rangsangan yang sama dengan yang dicetuskan
oleh TSH, yaitu stimulasi sel kelenjar untuk berproliferasi dan
memproduksi hormon. sebab itu reaksi semacam ini disebut
stimulatory hypersensitivity.
5. REAKSI HIPERSENSITIVITAS BAWAAN
Selain reaksi-reaksi hipersensitivas di atas, Roitt mengemukakan
reaksi hipersensitivitas yang disebutnya innate hypersensitivity reaction.
Ia menyatakan bahwa aktivasi komplemen secara berlebihan juga dapat
memicu kerusakan jaringan. Pada percobaan binatang terbukti bahwa
endotoksin yang disuntikkan secara intravena mengaktivasi komplemen
demikian rupa hingga C3b yang terbentuk melapisi endotoksin dan
kemudian melekat pada trombosit dengan cara immune-adherence.
Kompleks C5,6,7 yang dibentuk kemudian merusak trombosit sehingga
mengakibaikan aktivasi faktor-faktor pembekuan dan memicu
disseminated intramuscular coagulation (DIC). Hal yang sama dijumpai
pada manusia, yaitu pada septikemia dengan kuman Gram-negatif
atau infeksi ulang dengan virus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) pada
penderita yang telah mempunyai antibodi dengan titer tinggi.
AUTOIMUNITAS
Penyakit automiun yaitu suatu kelainan dengan ciri ketidak mampuan
sistem imun untuk membedakan sel atau jaringan tubuh sendiri (self)
dari sel atau jaringan asing (non-self), sehingga jaringan tubuh sendiri
dianggap antigen asing. Akibatnya timbul respon imun, baik respon
selular, misalnya infiltrasi atau pengrusakan jaringan oleh lomfosit T atau
makrofag, maupun respon imun humoral dengan membentuk antibodi.
Walaupun mekanisme efektor respon imun diatas dapat menjelaskan
terjadinya penyakit autoimun, namun banyak jenis penyakit yang tidak
diketahui mekanismenya.
Perlu ditekankan bahwa walaupun semua individu dapat dinduksi
untuk memicu respons autorekatif, hanya sedikit diantara mereka
yang menderita penyakit autoimun. Ada beberapa penjelasan yang
pernah dikemukakan mengapa pada beberapa orang yang rentan reaksi
autoreaktif itu berlanjut menjadi penyakit autoimun, yaitu :
1. Faktor atau substansi yang menginduksi respons autoreaktif tetap
berada dalam tubuh sehingga terus menerus merangsang sel T,
2. Menyusul kerusakan jaringan, serangkaian reaksi autoreaktif
dirangsang secara terus menerus melalui penglepasan antigen
jaringan dan pemaparan sistem, imun pada antigen ini .
3. Tidak semua sel autoreaktif disingkirkan pada saat perkembangan,
namun sebagian diantaranya dipertahankan dan dikendalikan
secara ketat dalam keadaan anergi. Anergi akan terganggu apabila
ada defek pada sistem pengendaliannya
Sebagian besar penyakit autoimun dikendalikan secara poligenik,
namun tidak pernah ada kepastian bahwa individu dengan gen yang
identik akan sama-sama menderita penyaklit autoimun. Ini berarti bahwa
harus ada faktor luar yang menginduksi penyakit ini.
1. ETIOLOGI AUTOIMUNITAS
Penyebab kelainan ini belum diketahui dengan pasti, namun para
pakar sependapat bahwa penyebabnya merupakan multifaktor. Sebagian
besar kelainan ini diinduksi oleh satu atau lebih substansi asing. Walaupun
demikian, jenis kelainan dikelompokkan dalam satu kelompok sebab
mempunyai berbagai aspek yang sama. Ada beberapa teori yang dianut
mengenai mekanisme terjadinya penyakit ini, antara lain seperti yang
dikemukakan oleh Roitt, Steinberg atau Patrick dan pakar-pakar lain
seperti: teori pemaparan antigen (sequestered antigen), teori gangguan
mekanisme homeostatik, stimulasi imunogenik, dan teori genetik.
Teori pemaparan antigen (sequestered antigen)
Pembentukan antigen didalam organ yang tertutup yang memicu
antigen itu terisolasi atau terkurung dan tidak mempunyai kesempatan
mengadakan kontak dengan sistem limforetikuler. Selama antigen
ini tidak terpapar pada sistem imun, tidak akan terjadi respon imun
terhadapnya. Setiap peristiwa yang mengakibatkan antigen itu keluar
dariorgan danterpapar pada sistemimundapat menyulut terbentuknya
autoantibodi. Untuk beberapa keadaan teori inidapat dipaka, misalnya
untuk pembentukan antibodi terhadap sperma atau antibodi terhadap
lensa mata, namun beberapa penelitian membuktikan bahwa untuk
keadaan lain ternyata bahwa pemaparan sistem imun terhadap estrak
jaringan tertentu tidak segera memicu pembentukan antibodi.
Hal ini terutama berlaku bagi pengenalan antigen yang melibatkan sel T,
yang menunjukkan bahwa pemaparan saja ternyata belum cukup untuk
merangsang sistem imun, namun pemaparan itu harus disertai ekspresi
antigen melalui APC serta berbagai mediator yang terlibat dalam respon
imun.
Teori gangguan mekanisme homeostatik
Teori ini merupakan teori yang banyak dianut pada saat ini. Sel T dam sel
B yang autoreaktif selalu ada dalam keadaan normal namun pada keadaan
normal tubuh mempunyai mekanisme homeostatik yang melindunginya
terhadap rangsangan oleh jaringan tubuh sendiri yang tidak dikehendaki
(self tolerance)
Mekanisme self tolerance dalam keadaan normal yaitu :
1. Penyingkiran sel autoreaktif saat berkembang
2. Penekanan respon yang tidak dikehendaki terjadi di kemudian hari.
Penyingkiran klon (clonal deletion) sel-sel autoreaktif umumnya
terbatas pada klon sel yang mempunyai afinitas tinggi untuk
berinteraksi dengan autoantigen. Namun mungkin saja proses
penyingkiran itu sempurna sehingga sebagian kecil sel dengan afinitas
tinggi terhadap autoantigen itu menetap. Kunci mekanisme ini yaitu
pengendalian terhadap sel T, baik sel Th (helper-inducer) maupun
sel Ts yang autoreaktif ini diatas. Pengendelian dapat terjadi di
timus (sentral) atau di parifer. Pengendalian terhadap sel-sel diatas
dapat terganggu apabila sel T-penolong (helper-inducer) terganggu
atau terkecoh, atau bila ada gangguan dalam pengaturan sistem pekan.
Beberapa hal yang dapat menggangu pengaturan homeostatik yaitu
a. Reaksi silang dan molecular mimicry
Autoantigen dapat berubah apabila terjadi modifikasi struktur
autoantigen, misalnya sebab gangguan sintesis atau perombakan
yang mengakibatkan terbentuknya epitop baru (Neoantigen) shingga
sel Th terpacu untuk melancarkan autoreaktivitas. Perubahan
autoantigen juga dapat terjadi akibat penggabungan autoantigen
dengan substansi dari luar misalnya virus, sehingga memicu
pengenalan asosiatif. Reaksi terjadi bukan saja terhadap virus namun
juga terhadap autoantigen. Dalam hal ini seolah-olah autoantigen
itu suatu hapten yang tidak dapat mencetuskan respons imun tanpa
terikat pada carrier imunongenik. Reakasi sama dapat terjadi apabila
kedalam tubuh masuk antigen yang mempunyai struktur molekul
yang mirip autoantigen (molecular mimicry) sehingga terjadi reaksi
silang. Hal ini misalnya terjadi pada demam reumatik. Antigen
streptokokus diduga memiliki struktur molekul yang mirip dengan
sel-sel jaringan jantung, sehingga dapat merangsang pembentukan
antobodi terhadap berbagai komponen miokard dan katup jantung
yang kemudian memicu kerusakan pada jaringan ini .
b.Gangguan mekanisme pengaturan oleh jaring idiotip anti- idiotip
Telah diketahui bahwa jaringan (network) idiotip-anti idiotip turut
berperan dalam mengatur sistem imun. Pada keadaan normal
jaringan idiotip-anti- idiotip itu merupakan interaksi sef-self dalam
arti mengatur respon imun demikian rupa hingga mekanisme
berfungsi secara tepat, namun mekanisme pengaturan itu dapat
terganggu, misalnya bila ada virus. Reaksi autoimun dapat terjadi
bila epitop pada virus kebetulan menunjukkan struktur yang sama
dengan idiotip pada reseptor T atau B autoreaktif. Hal ini yang sama
juga dapat terjadi bila idiotip pada antibbodi yang pembentukannya
dirangsang oleh virus, menunjukkan struktur yang sama dengan
idiotip pada sel T dan B autoreaktif, atau merupakan anti-idiotip
bagi reseptor T dan B. reaksi autoimun mungkin juga terjadi bila
anti virus merangsang terbentuknya anti idiotip yang bereaksi
sebagai autoantibodi terhadap reseptor virus yang ada pada
permukaan sel.
Virus yang menginfeksi sel yang memproduksi hormon dapat
menyulut pembentukan anti hormon yang dapat merusak sel
bersangkutan. Dia lain pihak anti hormon dapat menyulut
pembentukan anti-idiotip yang dapat merangsang reaksi sitoloksik
yang ditujukan terhadap sel-sel yang memiliki reseptor hormon
ini . Dengan demikian dapat dijelaskan bagaimana virus dapat
menyelut pembentukan anti-idiotip yang bereaksi silang dengan
jaringan normal, sehingga memicu penyakit autoimun.
Mungkin pula molecular mimicry yang diuraikan diatas turut
berperan bersama-sama dengan idiotip dan menghasilkan reaksi
autoimun.
c. Kesalahan ekspresi MHC kelas II
Pada beberapa keadaan, autoantigen leluasa terpapar pada limfosit
dalam sirkulasi. Walaupun demikian, seperti telah disebut diatas,
ternyata pemaparan saja belum cukup untuk memicu reaksi,
namun pemaparan itu harus disertai penampilan antigen melalui
MHC kelas II. Tanpa ditampilkan melalui MHC kelas II, autoantigen
itu tetap tidak dapat dideteksi oleh limfosit sehingga sistem imun
tetap tenang (immunologically silent). Dalam keadaan normal
autoreaktifitas yang potensial inidapat dicegah sebab distribusi
MHC kelas II hanya terbatas pada beberapa jenis sel, misalnya
makrofag, sel B dan sel T, namun ekspresi antigen MHC kelas II
ini dapat diinduksi oleh berbagai faktor. Salah satu diantaranya
yaitu infeksi virus. Apabila oleh salah satu sebab MHC kelas II
diekspresikan di permukaan, maka autoantigen menjadi potensial
untuk merangsang autoimunitas. Dalam berbagai percobaan
terbukti bahwa sel kelenjar tiroid dalam biakan jaringan dapat
dirangsang untuk menampilkan HLA-DR pada permukaan sel.
Percobaan lain menujukkan bahwa sel kelenjar tiroid pada
penderita tirotoksikosis Grave’s dapat bereaksi dengan anti HLA-
DR, yang merupakan bukti bahwa pada penyakit ini HLA-DR
ditampilkan pada permukaan sel
d. Kegagalan mekanisme pengaturan sistem penekanan
Pada dasarnya semua peristiwa yang memicu defek pada
sistem penekanan dapat memicu gangguan pada mekanisme
homeostatik. Kelainan pada sel T-supresor baik yang nonspesifik
maupun spesifik terhadap antigen atau yang spesifik terhadap
idiotip dapat merangsang sel T-helper untuk bereaksi terhadap self.
Rangsangan juga memicu sel T-helper kurang peka terhadap
stimulasi penekanan
Stimulasi imunogenik
Beberapa jenis mitogen dikenal sebagai aktivator poliklonal sebab dapat
merangsang sel B secara nonselekfif. sebab itu stimulasi ini disebut juga
stimulasi nonimunogenik. Berbagai produk yang berasal dari mikroba
misalnya lipopolisakharida, enzim proteolitik demikian pula berbagai
jenis virus termasuk virus Epstein Barr (EBV) ternyata dapat merangsang
limfosit untuk membentuk antibodi poliklonal secara langsung tanpa
memerlukan bantuan sel T penol








