Pandemi penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang diakibatkan
oleh virus SARS-Cov-2, mulai mewabah tahun 2019 di seluruh dunia
sehingga mengakibatkan banyak kematian manusia. Namun Kejadian Luar
Biasa (KLB) yang berasal dari Kota Wuhan, ibukota Hubei, negara Tiongkok
ini juga menyadarkan seluruh manusia mengenai kesehatan sistem imun,
serta mempopulerkan kembali ilmu imunologi. Seluruh negara di dunia
mewajibkan hampir seluruh rakyatnya dengan program vaksinasi Covid-19
dengan tujuan tercapai herd immunity.
Imunologi yaitu ilmu yang mempelajari sistem imun tubuh meliputi jenis
sistem imun, sel-sel dan organ-organ sistem imun, fisiologi dan respon sistem
imun dari cedera akibat serangan berbagai sumber antara lain bakteri dan virus
ataupun zat asing lainnya, reaksi hipersensitivitas, penyakit-penyakit autoimun,
defisiensi imun serta vaksinasi. Imunologi berkaitan erat dengan ilmu anatomi,
fisiologi, biokimia, bakteriologi, virologi, onkologi, dan psikiatri.
Sejarah berkembangnya ilmu imunologi berawal dari tahun 430 SM saat
terjadi wabah Athena di Yunani. Salah satu penyintas wabah yamg bernama
Thucydides menemukan bahwa penderita penyakit yang sembuh dan selamat
tidak terkena penyakit ini lagi. Abad ke-10, seorang dokter
berkebangsaan Iran yang bernama Al Razi (Rhazes) berhasil membedakan
cacar air dan campak. Beliau juga menemukan bahwa demam yaitu
mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap penyakit, sekaligus ilmuwan
pertama yang mencetuskan kemungkinan teori sistem imun adaptif. Abad ke-
11, seorang dokter dan filsuf bernama Ibnu Sina (Avicenna) mencetuskan teori
imunitas adaptif dan dinobatkan sebagai Bapak Kedokteran Modern. Tahun
1546, dokter berkebangsaan Italia bernama Girolamo Fracastoro mengajukan
teori bahwa penularan suatu penyakit disebabkan adanya penyebaran infeksi
oleh benda mirip biji akibat kontak langsung atau tidak langsung sehingga
menjadi epidemi.
Selanjutnya tahun 1796, ilmuwan Inggris bernama Edward Jenner
menemukan vaksinasi cacar air dengan cara menginokulasi seorang manusia
dengan cacar air pada sapi untuk mencegah infeksi cacar air yang sedang
mewabah saat itu. Penemuan ini juga menandai kelahiran ilmu imunologi
Tahun 1862, seorang ilmuwan Jerman bernama Ernest Haeckel menemukan
fagositosis sebagai sifat leukosit. Selanjutnya proses fagositosis ini
dipublikasikan oleh ilmuwan kanada William Osler pada tahun 1876 dan
diberi nama oleh ilmuwan Rusia bernama Ilya Ilyich Metchnikoff pada tahun
1880. Lalu pada tahun 1877, ilmuwan Jerman Paul Ehrlich melakukan
kemajuan lagi di dunia imunologi dengan menemukan mast cells. Tahun 1880,
ilmuwan Perancis Louis Pasteur berkolaborasi dengan ilmuwan Perancis
Emile Roux menginduksi imunitas adaptif menggunakan kultur bakteri
pemicu kolera yang sudah dilemahkan kepada ayam. Sejak saat itu,
perkembangan penelitian mengenai vaksin penyakit-penyakit lain dan
pembuatannya sangat pesat di seluruh dunia,.Tahun 1884, Ilya Mechnikov
mengemukakan teori sistem imun seluler dalam imunologi. Tahun 1888
George Nuttal menemukan aksi bakterisid dari darah.
Tahun 1890, ilmuwan Jerman Emil von Behring berkolaborasi dengan
ilmuwan Jepang Shibasaburo Kitasato mengembangkan serum tetanus yang
berasal dari kultur murni menemukan serum antitoksin tetanus. Mereka juga
mendemonstrasikan pentingnya antitoksin dalam mencegah penyakit dan juga
menemukan imunitas pasif. Selanjutnya tahun 1891 Robert Koch menemukan
hipersensitivitas tipe tertunda (delayed), Paul Ehrlich menemukan teori
pembentukan antibodi pada tahun 1897. Tahun 1899, ilmuwan Belgia Jules
Bordet menemukan hemolisis. Tahun 1894, ilmuwan Jerman Richard Pfeiffer
menemukan bakteriolisis. Selanjutnya sejak tahun 1900 an sampai sekarang,
penelitian imunologi semakin pesat berkembang
Beberapa istilah dalam Imunologi antara lain:
1. Sistem imun, yaitu interaksi sel yang kompleks untuk terhadap zat
asing (bukan diri), memiliki empat karakteristik yaitu spesifisitas,
membedakan, mengenali dan mengingat.
2. Imunitas, yaitu kemampuan tubuh untuk mengenali komponen diri
dan melawan zat asing sebagai perlindungan tubuh dari penyakit
infeksi.
3. Imunisasi, yaitu proses pembentukan imunitas melalui injeksi antigen
atau serum darah yang mengandung antibodi dari individu terpapar
patogen.
4. Imunogenisitas, yaitu kemampuan antigen menginduksi respon imun
spesifik.
5. Imunitas nonspesifik (Innate Imunity), yaitu imunitas alami tubuh
yang bekerja cepat dalam melindungi tubuh dari mikroorganisme
penginfeksi namun tidak spesifik untuk penginfeksi yang berbeda.
6. Imunitas adaptif, yaitu imunitas yang didapat akibat pemaparan
berulang dari suatu antigen, bersifat spesifik terhadap antigen
ini .
7. Imunitas pasif, yaitu imunitas yang didapat dari individu lainnya.
8. Imunitas aktif, yaitu imunitas yang dihasilkan oleh sistem imun,
didapat sesudah terpapar infeksi patogen secara alami ataupun melalui
vaksinasi.
9. Imunitas Humoral, yaitu jenis imunitas aktif yang melibatkan
antibodi yang dihasilkan dari sel limfosit B.
10. Imunitas Seluler (imunitas dimediasi sel), yaitu jenis imunitas aktif
yang melibatkan sel limfosit T.
11. Sel T, yaitu komponen sistem imun yang diproduksi di sumsum
tulang dan dimatangkan di timus.
12. Sel B, yaitu komponen sistem imun yang diproduksi di sumsum
tulang dan dimatangkan di sumsum tulang, yang berfungsi dalam
membuat antibodi dalam melawan antigen.
13. Memori imunologis, yaitu kemampuan sel limfosit B dan T dalam
mengenali antigen dan merespon dengan cepat.
14. Antibodi (Imunoglobulin), yaitu protein berukuran besar yang
disintesa sebagai respon terhadap stimulasi oleh antigen, dan spesifik
dengan antigen ini .
15. Antigen, yaitu protein khas dari suatu sel, yang dapat menginduksi
respon imun jika dipaparkan ke suatu organisme.
16. Reseptor Sel B, yaitu reseptor antigen pada sel B, merupakan
immunoglobulin
17. Reseptor Sel T, yaitu molekul pada sel T yang bertugas mengenali
antigen sebagai peptida yang terikat pada major histocompatibility
complex (MHC)
18. Inflamasi, yaitu mekanisme perlindungan diri dari infeksi
mikroorganisme asing dengan simtom nyeri, merah, panas dan tumor.
19. Hipersensitivitas, yaitu kondisi sistem imun bereaksi berlebihan
terhadap suatu benda atau zat tertentu.
20. Toleransi, yaitu kemampuan sistem imun membedakan protein
antigen diri dengan antigen asing sehingga tidak merusak diri
21. Vaksin, yaitu sediaan mengandung antigen yang dipaparkan ke
individu untuk menginduksi antibodi (Punt et al., 2019).
Sistem imun yaitu gabungan sel, jaringan dan molekul yang berfungsi secara
fisiologis dalam mencegah dan membasmi serangan mikrorganisme,
mencegah pertumbuhan tumor dan kanker, serta memperbaiki kerusakan
jaringan, Di sisi lain sistem imun juga dapat memicu penyakit
hipersensitivitas (alergi), autoimunitas, dan penyakit infalamsi lainnya. Sistem
imun juga dapat menyulitkan proses transplantasi organ dan terapi gen. Sistem
imun terbagi atas 2 bagian besar yaitu sistem imun bawaan (innate) dan sistem
imun adaptif (acquired). Sistem imun adaptif terbagi atas 2 bagian yaitu imun
humoral dan imun selular, diperoleh secara pasif (mendapatkan dari individu
lain) dan aktif (diproduksi oleh diri sendiri).
Sistem Imun Bawaan (Innate
Immunity)
Sisem imun bawaan atau innate immunity yaitu sistem imun yang sudah ada
sejak lahir, merupakan sistem imun garda terdepan baik dalam melawan
serangan mikroorganisme penginfeksi seperti virus, bakteri, jamur, parasit, dan
toksin, maupun bila tubuh terluka atau mengalami trauma. Sistem ini tidak
memiliki memori dan spesifisitas dalam melawan mikroorganisme
penginfeksi. Komponen sistem imun bawaan terdiri dari lapisan epitel kulit,
lapisan epitel mukosa (antara lain di sistem pencernaan, pernafasan, dan
urogenital), zat-zat kimia yang dihasilkan epitel ini , jaringan kelenjar
(antara lain kelenjar saliva, kelenjar air mata dan kelenjar payudara), sel-sel
fagosit (antara lain neutrofil dan makrofag), sel dendritik, sel mast, sel NK
(Natural Killer), dan protein komplemen.
Mekanisme kerja sistem imun bawaan seperti terlihat pada gambar 1.1 berikut.
Gambar 1.1: Mekanisme Kerja Sistem Imun Bawaan (Punt et al., 2019)
Sistem imun bawaan bekerja dengan dua mekanisme, yaitu inflamasi dan
perlawanan terhadap antimikroba. Barier epitel akan mencegah mikroba
masuk ke jaringan. Bila mikroba dapat melewati barier epitel maka sel
dendritik dan sel mast yang merupakan komponen di jaringan akan memicu
6 Imunologi Dasar
aktivitas sel-sel fagosit untuk merusak pathogen dengan memproduksi
berbagai zat seperti sitokin dan neurotransmitter (antara lain histamine) yang
akan memicu pembengkakan sehingga sel sel darah putih (leukosit) yang
mengandng neutrofil dan makrofag, sel natural killer, dan komponen lainnya
dialirkan ke tempat infeksi. Neutrofil dan makrofag akan membasmi
mikroorgnisme penginfeksi, dan sel natural killer akan membunuh sel yang
terinfeksi. Selajutnya sel dendritik akan mengaktivasi sistem imun adaptif
1.3 Sistem Imun Adaptif (Acquired
Immunity)
Sistem imun adaptif atau Acquired Immunity yaitu sistem imun yang
diperoleh sebagai respon paparan mikroorganisme dalam proses kehidupan
individu. Sistem imun adaptif terbagi atas 2 bagian yaitu imun humoral dan
imun selular, diperoleh secara pasif (mendapatkan dari individu lain) antara
lain imunitas yang didapat bayi dari ibunya dan injeksi serum yang
mengandung antibodi, juga dapat diperoleh secara aktif (diproduksi oleh diri
sendiri) antara lain terpapar infeksi akibat mikroorganisme dan vaksinasi.
Sistem imun adaptif memiliki empat karakteristik yaitu spesifik terhadap setiap
mikroorganisme, dapat membedakan mikroorganisme satu dengan yang lain,
dapat mengingat setiap mikroorganisme yang pernah menyerang sehingga
mempercepat respon imun, juga dapat membedakan sel mikroorganisme
dengan sel diri sehingga tidak menyerang sel diri. Komponen sistem imun
adaptif terdiri dari sel limfosit B, sel limfosit T, reseptor sel B, reseptor sel T,
Major Histocompatibility Complex (MHC), immunoglobulin dan protein
komplemen. Imun humoral melibatkan produksi antibodi oleh sel B akibat
sesudah berinteraksi dengan protein zat asing (antigen). Imun selular (disebut
juga respon imun diperantarai sel) melibatkan aktivasi sel limfosit T helper dan
sel T sitotoksik. Fungsi sel B dan sel T dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut.
Gambar 1.2: Komponen sel T dan sel B serta Fungsinya Dalam Sistem Imun
Adaptif
Komponen sisten imun adaptif seperti terlihat pada gambar 1.2 terdiri dari:
1. Sel limfosit B berfungsi dalam proses netralisasi mikroba, fagositosis
dan aktivasi komplemen
2. Sel limfosit T pembantu (T cell helper) berfungsi dalam proses
aktivasi makrofag, inflamasi, proliferasi dan diferensiasi limfosit T
dan limfosit B.
3. Sel limfosit T sitotoksik berfungsi membunuh sel yang terinfeksi.
4. Sel limfosit T pengatur (T cell regulatory) berfungsi menekan kerja
limfosit-limfosit lain.
Bila sistem imun bawaan tidak dapat melawan mikroorganisme yang
menginvasi, maka sel dendritik akan mengaktifkan sistem imun adaptif seperti
terlihat pada gambar 1.1. dengan komponen seperti terlihat pada gambar 1.2.
Sel dendritik mengaktifkan sel imun adaptif melalui fungsinya sebagai
penampil antigen (antigen presenting sel), selanjutnya sel limfosit B mengenali
antigen yang ditampilkan oleh sel dendritik lalu memproduksi antibodi seperti
terlihat pada gambar 1.3. Antibodi atau immunoglobulin memiliki empat
isotipe yaitu IgA, IgD, IgE, IgG dan IgM. Antibodi diproduksi sesuai antigen
yang dikenali dan bersifat spesifik. Setiap ujung komponen antibodi memiliki
struktur yang dapat berikatan dengan struktur di antigen, sehingga sel yang
terinfeksi dapat ditandai dan dibunuh oleh komponen sistem imun lainnya. Sel
8 Imunologi Dasar
limfosit T pembantu (Tcell helper) juga mengenali antigen ini dan
mensekresi sitokin, lalu sitokin ini akan menstimulasi berbagai respon
imun sehingga sel yang terinfeksi dibunuh
Mekanisme kerja sistem imun adaptif dapat dilihat pada gambar 1.2 berikut.
1.4 Kondisi tidak Normal pada Sistem
Imun
Kondisi tidak normal pada sistem imun dapat berupa hipersensitivitas,
autoimunitas dan defisiensi sistem imun.
Hipersensitivitas yaitu respon imun yang berlebihan atau tidak tepat dan
dapat memicu kerusakan jaringan dan kondisi-kondisi patologis.
Hipersensisitvitas terbagi atas 4 tipe yaitu:
1. Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitivitas tipe I disebut juga alergi, yaitu hipersensitivitas
tipe cepat, respon tubuh timbul hitungan menit hingga jam sesudah
terpapar zat yang memicunya atau disebut alergen. Alergen ini dapat
berupa serbuk sari tumbuhan, makanan, obat, racun dari gigitan
serangga, spora, debu dan lainnya. pemicu zat-zat ini menjadi
alergen belum diketahui, dan respon setiap individu dapat berbeda
terhadap masing-masing alergen. Mekanisme terjadinya
hipersensitivitas tipe I diperlihatkan oleh gambar 1.4 berikut.
Gambar 1.4: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe I
Gambar 1.4 menunjukkan immunoglobulin E (IgE) menempel
dengan sel mast, lalu IgE berikatan dengan alergen (sebagai antigen)
yang memicu sel mast melepaskan mediator-mediator inflamasi
antara lain histamin sehingga terjadi reaksi alergi sampai anafilaksis
2. Hipersensitivitas Tipe II
Hipersensitivitas tipe II memiliki respon yang cepat, dimediadi oleh
immunoglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM),
memicu kerusakan pada sel. Mekanisme hipersensitivitas tipe II
terlihat pada gambar 1.5 berikut.
Gambar 1.5: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe II
Gambar 1.5 menunjukkan antigen pada membran sel berikatan
dengan antibody sehingga mengaktifkan komplemen, dan
memicu aksi sitotoksik dari sel natural killer. Hal ini
memicu kerusakan membran sel dan terjadi kematian sel.
Hipersensitivitas ini terjadi antara lain pada anemia hemolisis atau
pada transfusi darah
3. Hipersensitivitas Tipe III
Reaksi antara antigen dan antibodi membentuk kompleks imun yang
akan mengaktifkan komplemen dan neutrofil. Hipersensitivitas tipe
III disebut juga hipersensitivitas kompleks imun, terjadi akibat
adanya pengendapan berlebihan kompleks imun pada jaringan
sehingga akan memicu reaksi inflamasi dan kerusakan jaringan
seperti terlihat pada gambar 1.6 berikut. Pengendapan kompleks imun
ini antara lain terjadi di membran sinovial sendi sehingga
memicu arthritis dan membran glomerular ginjal sehingga
memicu glomerulonefritis
Gambar 1.6: Mekanisme Hipersensitivitas Tipe III
4. Hipersensitivitas Tipe IV
Hipersensitivitas tipe IV termasuk tipe tertunda (delayed-type),
terjadi 1-2 minggu sesudah kontak pertama dengan antigen.
Mekanisme hipersensitivitas tipe IV yaitu terjadi perusakan jaringan
oleh sel T dan makrofag. seperti terlihat pada gambar 1.7 berikut.
Antigen yang ditampilkan oleh antigen presenting cell akan diikat oleh sel
limfost T dan menstimulasi pelepasan sitokin, selanjutnya akan terjadi
rangkaian respon imun sehingga makrofag teraktivasi memicu
pembentukan granuloma (Parija, 2012).
Kondisi tidak normal lain dari sistem imun yaitu autoimunitas, yang terjadi
akibat kegagalan sistem imun membedakan protein antigen diri dengan
antigen asing. Kondisi ini memicu berbagai penyakit antara lain penyakit
lupus (systemic lupus erythematosus atau SLE), penyakit Graves, arthritis
reumatoid dan multiple sclerosis (Abbas, Lichtman and Pillai, 2020). Kondisi
sistem imun dapat mengalami defisiensi, terutama pada sel T, sel b dan sel-sel
fagosit. Kondisi ini dapat terjadi secara genetik sehingga bayi yang terlahir
dengan defisiensi imun mengalami masalah-masalah kesehatan
Organ Imunologi
Tubuh manusia secara konstan terpapar agen-agen infeksius, seperti virus,
parasit, bakteri dan mikroorganisme lain yang berasal dari lingkungan luar
tubuh. Meski demikian dalam kebanyakan kasus kita dapat melawan infeksi
ini tanpa terkena penyakit. Hal ini terjadi karena adanya sistem imun
(sistim kekebalan tubuh). Sistim kekebalan tubuh kita harus bekerja keras
untuk mengeleminasi berbagai antigen yang masuk untuk mempertahankan
tubuh tetap prima. Sistim imun merupakan kumpulan sel, jaringan, dan
molekul yang membantu pertahanan melawan infeksi dan zat asing lainnya.
Respons imun merupakan rangkaian kejadian molekuler dan seluler yang
bertujuan untuk melindungi tubuh dari berbagai ancaman, seperti organisme-
organisme patogenik, zat toksik, debris seluler, atau sel neoplastik dengan cara
pengenalan patogen secara spesifik kemudian membunuh patogen. Fungsi
fisiologis sistim imun yaitu untuk mencegah infeksi dan menghilangkan
infeksi yang telah terjadi dengan cara pengenalan patogen secara spesifik
kemudian membunuh patogen.
Respons imun juga terlibat dalam reaksi penolakan transplantasi organ serta
dalam proses berbagai penyakit inflamasi yang dapat mengakibatkan
mortalitas atau morbiditas yang serius. Imunitas atau kekebalan merupakan
mekanisme pada tubuh yang melindungi terhadap pengaruh biologis yang
berasal dari lingkungan luar tubuh
Sistem imun terdiri dari berbagai komponen yang bekerja sama untuk
mempertahankan tubuh terhadap masuknya partikel asing. Sel-sel yang terlibat
dalam sistim imun ada pada organ dan jaringan yang spesifik, yaitu
jaringan limfoid atau jaringan imun. Struktur jaringan limfoid membentuk
sistim limfoid yang terdiri dari limfosit, sel epitelial dan sel stromal. Sel-sel
ini tersusun dalam organ tersendiri yang berkapsul, atau tersusun
berkelompok dalam jaringan limfoid yang difus. Bagian utama dari sistem
imun yaitu sumsum tulang dan timus, karena semua sel darah berasal dari
sumsum tulang, termasuk sel limfosit T dan B. Limfosit B tetap berada di
sumsum untuk proses pematangan, sedangkan limfosit T bermigrasi ke timus.
Jaringan limfoid tersebar diseluruh tubuh. Organ-organ ini terlibat dalam
proses maturasi, diferensiasi dan proliferasi limfosit. Berdasarkan fungsinya,
organ limfoid dibagi menjadi dua yaitu organ limfoid primer atau organ
limfoepitelial sentral dan organ limfoid sekunder. Organ limfatik primer atau
sentral terdiri dari sumsum tulang belakang dan kelenjar timus. Sedangkan
organ limfatik sekunder terdiri dari limfa, nodus limfa dan tonsil (termasuk
adenoid atau kelenjar gondok). Beberapa literatur menambahkan usus besar,
usus halus, Payer’s patches dan appendiks (usus buntu) sebagai bagian dari
organ limfoid sekunder. Saat limfosit matur dihasilkan pada organ limfoid
primer, sel-sel ini masuk dalam sirkulasi darah dan sistem limfatik yang
merupakan sekumpulan pembuluh yang mengumpulkan cairan dari kapiler ke
jaringan dan kemudian kembali ke darah
2.2 Organ Limfatik Primer
Organ limfatik primer yaitu organ yang mengatur produksi dan diferensiasi
limfosit sekaligus juga menyimpan dan mematangkan limfosit hingga matang.
Limfosit memainkan peran mendasar dalam sistem imunitas tubuh karena
pengaruhnya terhadap respons imun, seperti mikroorganisme infeksius dan
benda asing lainnya. Limfosit berperan dalam sistem imunitas spesifik untuk
melindungi tubuh dari mikroorganisme serta tumor (misalnya myeloma
multipel) dan memicu graft rejection (penolakan jaringan sesudah
transplantasi organ). Limfosit didapatkan di darah dan limfe (cairan tak
berwarna di pembuluh limfatik yang menghubungkan nodus limfatikus di
tubuh satu sama lain melalui aliran darah). Limfosit juga didapatkan pada
organ limfoid, seperti timus, nodus limfatikus, limpa, dan apendiks
Sel limfosit merupakan salah satu bentuk leukosit yang berperan dalam sistim
imun. Sel B, sel T dan sel Natural Killer (NK) merupakan bentuk-bentuk
limfosit. Masing-masing sel ini memainkan peran dasar dalam respons imun
adaptif tubuh. Sel B berperan penting dalam respon imun, secara resmi dikenal
sebagai prekusor sel plasma yang akan menghasilkan antibodi. Sel T berperan
dalam respon imun sitotoksik. Sel T termasuk dalam sistim imun adaptif dan
melakukan beragam fungsi dalam regulasi imun, peradangan, serta respons
imun protektif , yang termasuk
organ limfoid primer yaitu sumsum tulang belakang (bone marrow) dan
kelenjar timus. Limfosit matur yang dihasilkan dari proses hematopoesis
menjadi matur dan berkembang menjadi limfosit yang spesifik untuk antigen
tertentu di dalam organ limfoid primer. Sel limfosit T dihasilkan dari timus
sedamgkan sel B berasal dari sumsum tulang belakang.
2.2.1 Sumsum Tulang Belakang (Bone marrow)
Sumsum tulang belakang merupakan jaringan lunak yang ditemukan pada
rongga interior tulang dan menjadi tempat produksi sebagian besar sel darah
baru. Sumsum tulang belakang banyak ada pada tulang besar. Sumsum
tulang termasuk jaringan limfatik karena memproduksi limfosit muda yang
akan diproses pada timus atau tempat-tempat lainnya menjadi limfosit T dan
limfosit B yang fungsional. Pada manusia, sumsum tulang merupakan tempat
asal dan berkembangnya sel B. Sel B terbentuk dari progenitor limfoid. Sel B
imatur mengalami proliferasi dan diferensiasi di dalam sumsum tulang
belakang. Sel stroma di dalam sumsum tulang belakang berinteraksi secara
langsung dengan sel B dan mensekresikan berbagai sitokin yang diperlukan
untuk perkembangan sel B. Proses seleksi di dalam sumsum tulang belakang
berlangsung dengan mengeliminasi sel B yang memiliki reseptor antibodi
terhadap sel tubuh
Di dalam sumsum tulang terkandung sel-sel punca hematopoetik yang bersifat
pluripotent. Sel punca hematopoietik akan berdiferensiasi menghasilkan dua
jenis sel induk progenitor yang memiliki potensi terbatas (hanya akan
berdiferensiasi menjadi sel tertentu) yaitu myeloid stem cell dan lymphoid
stem cell (atau biasa disebut sebagai common myeloid progenitor dan
common lymphoid progenitor). Myeloid stem cells akan berdiferensiasi lebih
lanjut dan membentuk sel eritrosit, trombosit, granulosit dan monosit.
Sementara lymphoid stem cells akan berdiferensiasi dan membentuk limfosit
B, limfosit T serta sel NK (Natural Killer). Lymphoid stem cells yang
merupakan sel progenitor limfosit akan bermigrasi dari sumsum tulang merah
ke timus, limpa dan nodus limfatikus sebagai organ limfoid tempat terjadinya
diferensiasi dan maturasi limfosit,i
2.2.2 Kelenjar Timus
Kelenjar timus merupakan jaringan limfatik yang terletak di sepanjang trakhea
pada rongga dada bagian atas. Kelenjar timus terletak di belakang tulang dada,
di depan jantung, berupa organ pipih berbentuk segitiga dengan alasnya
menghadap ke leher. Kelenjar timus mengandung banyak sel limfosit T.
Timus terbagi dalam dua lobus dan banyak lobulus yang masing-masing terdiri
atas korteks dan medula Lobus ini tersusun dari dua jenis jaringan yang
berbeda, yaitu jaringan limfoid dan jaringan epitel. Sel-sel limfoid berasal dari
jaringan mesenkim, sedangkan sel epitel berasal dari jaringan endodermal.
Pertumbuhan kelenjar timus dipengaruhi oleh usia, hormon dan adanya
penyakit tertentu. Pertumbuhannya sangat pesat saat lahir sampai usia dua
tahun, melambat mulai usia dua tahun sampai remaja dan saat telah masuk
pada tahap dewasa, digantikan oleh jaringan lemak dan jaringan ikat. Timus
bertanggungjawab untuk memproduksi hormon timosin yang berperan
membantu proliferasi dan diferensiasi sel T. Selain itu, kelenjar timus juga
memiliki fungsi mengaktifkan pertumbuhan badan sehingga pertumbuhan
meningkat pesat saat bayi sampai remaja dan berkurang sesudah mencapai tahap
dewasa
Sel induk pluripoten yang merupakan cikal bakal sel T, masuk ke dalam timus
(pada bagian korteks) lalu berproliferasi menjadi sel yang disebut dengan
timosit (limfosit T muda). Proses diferensiasi limfosit di dalam timus
dipengaruhi oleh epitel timus dan sel dendritik yang berasal dari sumsum
tulang (interdigitating cells). Sel epitel mensekresi faktor soluble seperti
timosin dan timopoeitin yang berperan dalam regulasi dan diferensiasi limfosit
T. Proses diferensiasi limfosit T sampai terjadinya pembentukan gen reseptor
limfosit pada limfosit T dewasa terjadi di dalam timus, sehingga prosesnya
disebut sebagai T cell education, sedangkan timus disebut sebagai school of
thymocytes. Sel dendritik ini mengekspresikan MHC (major histocompability
complex) kelas II dalam jumlah banyak dan diduga berperan dalam mendidik
limfosit T untuk mengenal antigen diri dan bukan dirinya (self and non self
recognition). Dalam proses maturasi ini sel T menjadi imunokompeten. Dua
sampai tiga hari sesudah sel induk masuk ke dalam timus, limfosit
meninggalkan timus lalu masuk ke dalam sirkulasi dan selanjutnya menetap di
dalam organ limfoid perifer
Proses maturasi berlanjut dengan berubahnya sel pre T menjadi sel positif
ganda. Disebut demikian karena pada permukaan sel nya ada penanda sel
T, CD4 dan CD8, jadi sel T belum terdiferensiasi menjadi sel CD4+ atau
CD8+. Pada tahap ini terjadi banyak sekali pembelahan sel positif ganda untuk
selanjutnya dilakukan proses seleksi positif bagi sel-sel ini di bagian korteks
timus. Seleksi positif terjadi saat sel-sel berhadapan dengan sel epitel korteks
timus yang mengekspresikan MHC kelas I dan kelas II. Molekul MHC yang
berikatan dengan sel limfosit T melalui CD4 dan CD8 ini penting dalam
pengenalan antigen oleh sel limfosit T. Sedangkan seleksi negatif terjadi di
medula timus yang terjadi saat sel timosit berhadapan dengan sel epitel
medula timus yang mengekspresikan molekul MHC. Jika sel timosit memiliki
afinitas yang terlalu kuat dengan molekul MHC, maka sel ini akan mengalami
apopotosis. Sel-sel timosit yang bertahan hidup kemudian akan masuk ke
tahapan berikutnya, yaitu berubah menjadi sel positif tunggal. Pada kondisi ini,
sel limfosit hanya akan mengekspresikan CD4 atau CD8 saja. Sel-sel ini
dikeluarkan dari timus menuju jaringan limfoid sekunder untuk berhadapan
dengan antigen. Sel limfosit belum teraktivasi sebelum berikatan dengan
antigen sehingga disebut sel T naive
2.3 Organ Limfatik Sekunder
Organ limfatik sekunder merupakan organ limfoid yang responsif terhadap
stimulasi antigenik atau tempat terjadinya interaksi antara limfosit dan antigen
serta pengaturannya. Beberapa jaringan limfoid dijumpai di sepanjang
pembuluh limfatik dan organ viscera, misalnya pada paru dan usus. Jaringan
limfoid pada paru dan lamina propria dinding usus terdiri dari sekelompok
limfosit dan makrofag. Jaringan limfoid lainnya disusun oleh folikel limfoid,
yang terdiri atas sel limfoid dan non limfoid yang mengelilingi kapiler limfatik.
saat antigen datang, folikel limfoid primer yang terdiri dari sel dendritik dan
sel B naif) menjadi folikel sekunder (terdiri dari beberapa sel limfosit B) aktif
yang mengelilingi suatu area yang disebut pusat germinal. Pusat germinal
merupakan suatu area dengan fokus mengadung sel limfosit B yang sedang
berproliferasi dan area lain terdiri dari sel-sel B yang belum membelah
diselingi beberapa sel TH dengan makrofag dan sel dendritik folikular. Nodus
limfe dan limpa merupakan organ limfoid sekunder utama, yang terdiri dari
tidak hanya folikel limfoid, namun juga region lain yang dikelilingi oleh
kapsul jaringan ikat. Jaringan limfoid lain seperti jaringan limfoid mukosa
(MALT), meliputi bercak peyer (di usus halus), tonsil, dan apendiks, juga
termasuk folikel limfoid di dalam lamina propria usus dan membran mukosa
di sepanjang saluran napas atas, bronkus, dan saluran genitalia.
2.3.1 Limpa
Limpa merupakan organ limfoid berukuran besar, berbentuk ovoid dan terletak
di rongga perut (abdomen) sebelah kiri. Limpa terbagi menjadi dua bagian
yaitu pulpa merah (red pulp) dan pulpa putih (white pulp). Pulpa merah
merupakan jaringan sinusoid yang berisi makrofag, sejumlah eritrosit, dan
sedikit limfosit. Pulpa merah menjadi tempat eritrosit tua yang rusak
dihancurkan dan dikeluarkan. Beberapa makrofag di dalam pulpa merah
menelan eritrosit atau pigmen besi dari pemecahan hemoglobin. Sementara
pulpa putih dikelilingi oleh arteri splenik, membentuk perselubungan limfoid
periarteriolar atau periarteriolar lymphoid sheath (PALS) yang berisi limfosit
T. Folikel limfoid primer yang banyak mengandung sel B ini, menempel pada
PALS. Zona marginal yang berada pada perifer PALS, didominasi oleh
limfosit dan makrofag
Limpa berperan penting dalam merespons antigen di dalam sirkulasi darah.
Limpa bekerja dengan menyaring darah dan menangkap antigen yang dibawa
darah, sehingga penting dalam respons imun terhadap infeksi sistemik.
Antigen dari darah dan limfosit dibawa ke limpa melalui arteri splenik.
Antigen dari darah ditangkap oleh sel dendritik interdigitasi di zona marginal
kemudian dibawa ke PALS. Limfosit dari darah juga memasuki sinus di zona
marginal kemudian menuju PALS. Aktivasi awal sel B dan T terjadi di PALS
yang banyak mengandung sel T. Sel dendritik interdigitasi bersama molekul
MHC II mempresentasikan antigen pada sel TH. Sel TH aktif kemudian
mengaktifkan sel B. Sel B dan sel TH yang aktif ini kemudian menuju folikel
primer di zona marginal, dan saat ada antigen, folikel primer berkembang
menjadi folikel sekunder yang memiliki banyak pusat germinal di mana sel B
membelah aktif dan sel plasma dikelilingi sekelompok sel limfosit
2.3.2 Nodus Limfa dan Pembuluh Limfa
Kelenjar limfa disebut juga nodus limfa, berbentuk bulat lonjong seperti
kacang dengan satu lekukan yang disebut sebagai hilus serta memiliki ukuran
10-15 mm. Kelenjar limfa memiliki jaringan retikuler padat berisi limfosit,
makrofag, dan sel dendritik. Kelenjar limfa memproduksi limfosit dan antibodi
yang kemudian keluar dari pembuluh efferen. Kelenjar limfa tersebar di
seluruh tubuh, banyak ada pada daerah lipatan-lipatan (sela-sela otot)
paha, ketiak, leher dan di dalam abdomen. Pembuluh limpa memiliki cabang
halus yang bagian ujungnya terbuka. Bentuk pembuluh limpa mirip dengan
vena yang memiliki katup banyak. Pembuluh limpa terbagi menjadi 2 bagian,
yaitu limpa kanan (dada kanan) dan limpa kiri (dada kiri). Fungsi pembuluh
limpa kanan sebagai penampung cairan limpa dari kepala, leher, dada, paru,
dan lengan sisi kanan. Sebaliknya, pembuluh limpa kiri menampung cairan
limpa dari kepala, kemudian ke leher, dada, lengan, dan tubuh bagian bawah
sisi kiri 9
Di pembuluh limpa ada cairan yang disebut cairan limpa yang berasal dari
cairan ekstrasel (cairan darah yang meresap dari kapiler darah). Sama seperti
usus, cairan limpa juga mengandung lemak. Lemak yang ada di usus
diangkut oleh pembuluh limpa. Kelenjar limfa fungsinya membawa limfosit
ke bagian organ limfoid dan aliran darah. Kelenjar getah bening mengalir ke
kelenjar getah kapiler. Getah kapiler memiliki lapisan yang tipis dan memiliki
banyak lubang kecil. Lubang kecil inilah yang menjadi jalan gas, nutrisi dan
air lewat masuk disekitarnya. Ada beberapa titik yang sering digunakan getah
bening berkumpul, yaitu dileher, selangkangan, para-aorta dan di axilae.
Tempat-tempat jika terjadi penumpukan memunculkan benjolan hingga ke
permukaan kulit
Limfonodus mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama yaitu untuk penyaringan
bahan-bahan asing seperti partikel sisa fagositik yang bersifat imunogenik
melalui saluran limfe, dan fungsi kedua yaitu sirkulasi limfosit yang dibentuk
dalam organ limfoid primer. Organ ini merupakan struktur limfoid pertama
yang menghadapi antigen dari jaringan. Antigen akan dibawa dan ditangkap
oleh jaringan seluler dari sel fagositik dan sel dendritik (folikular dan
interdigitasi). Keseluruhan struktur kelenjar limfe ini mendukung lingkungan
mikro ideal bagi limfosit untuk menangkap dan merespons antigen ini .
Secara morfologi, kelenjar limfe terbagi atas tiga area, yaitu korteks,
parakorteks, dan medulla. Bagian paling luar korteks mengandung limfosit
(terutama sel B), makrofag, dan sel dendritik folikular di dalam folikel primer.
sesudah ada antigen, folikel primer ini membesar menjadi folikel sekunder.
Lapisan parakorteks mengandung banyak limfosit T dan sel dendritik
interdigitasi yang mengekspresikan molekul MHC kelas II. Sementara bagian
paling dalam medulla, terdiri dari sel-sel limfoid, yang sebagian besarnya
berupa sel plasma yang mensekresikan molekul antibodi
2.3.3 Tonsil dan Adenoid
Tonsil dan adenoid merupakan benteng pertahanan terdepan untuk menangkis
infeksi patogen yang masuk melalui saluran nafas dan saluran cerna. Tonsil
terl, fosa tonsilaris di samping belakang lidah dan di bawah lidah. Sedangkan
adenoid terletak di dinding belakang tengah nasofaring. Secara anatomis, tonsil
terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringealis dan tonsil lingualis. Tonsil palatina
ada pada bagian kanan dan kiri belakang orofaring dapat saat membuka
mulut. Tonsila faringealis ada di belakang atas faring dan tonsil lingualis
terletak di permukaan belakang di dasar lidah. Lokasi tonsil secara bersama
membentuk lingkaran, sehingga sisebut sebagai cincin Waldeyer
Fungsi tonsil yaitu memproduksi sel-sel limfosit dan berperan dalam tahap-
tahap awal kehidupan untuk melawan infeksi pada selaput mukosa. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa tonsil dapat menghasilkan sel B pengekspresi
IgA polimerik yang bermigrasi ke mukosa saluran napas bagian atas, kelenjar
lakrimal dan kelenjar ludah. Oleh karena itu, tonsil juga berfungsi
menghasilkan antibodi yang berperan dalam memproduksi IgA. Berdasarkan
strukturnya, tonsil terdiri dari jaringan limfatik, namun bukan merupakan
kelenjar karena tidak memiliki pembuluh limfatik afferen sehingga tonsil tidak
menyaring cairan limfa. Benda asing dan patogen yang masuk ke tonsil
kemudian dimasukkan ke sel limfosit. Antigen ini akan merangsang ekspansi
klonal sel B
2.3.4 Jaringan Limfoid Lain
Jaringan limfoid lain terdiri dari Gut-Associated Lymphoid Tissue (GALT) dan
Mucosa Associated Lymphoid Tissue (MALT). Peyer’s patch dan apendiks
(usus buntu) keduanya termasuk dalam GALT karena keduanya merupakan
bagian dari saluran cerna. Dalam jaringan limfoid ini, ada bagian yang
aktivitasnya dipengaruhi oleh tonsil. GALT terdiri dari tiga struktur limfoid
mukosa yang berbeda yaitu Peyer’s patches, lamina propria dan epitel. Pada
GALT ada daerah sel T dan sel B, dan daerah sub epitel di mana ada
APC dan sel dendritik yang berakumulasi membentuk folikel pada lamina
propria dari apendiks, Peyer’s patches pada ileum dan pada tonsil, berperan
pada inisiasi respon imun spesifik. Pada permukaan GALT, ada subset sel
mikrofold (sel M) di antara epitel yang berperan sebagai perangkap antigen
dari lumen untuk dieliminasi oleh sel dendrit atau makrofag. Pada lamina
propria ada sel efektor mukosa spesifik, seperti sel T, sel B memori, sel
plasma penghasil IgA terutama IgA2. Imunoglobulin A pada mukosa
merupakan jenis antibodi khusus yang disebut IgA sekretori atau sIgA yang
disekresikan dalam bentuk dimer. Dengan proses eksositosis, sIgA dapat
keluar dari lapisan mukosa menuju lumen. Respon imun mukosa adaptif
dihasilkan melalui peran sel T CD4⁺ yang menghasilkan sitokin untuk
proliferasi dan diferensiasi sel limfosit T dan B
Peyer’s patches (PP) merupakan agregat folikel limfoid di mukosa
gastrointestinal yang ditemukan di seluruh jejenum dan ileum (terbanyak di
ileum terminal). PP merupakan tempat prekursor sel B yang dapat melakukan
switching untuk memproduksi IgA dan membentuk sel T memori yang
kemudian bermigrasi ke mukosa lebih distal dan tempat-tempat non mukosal.
Limfosit B dan T di PP yang antigen reaktif ini kemudian keluar melalui
limfatik eferen dan bermigrasi ke kelenjar limfe mesenterik, lalu ke duktus
torasikus dan akhirnya ke pembuluh darah. Selanjutnya sel-sel ini
mencari tempat-tempat tertentu (homing) di berbagai tempat terutama di
lamina propria berbagai jaringan mukosa. Hal ini melahirkan konsep
umum sistem imun mukosa, bahwa induksi respons imun terhadap antigen
tertentu di traktus gastrointestinal, dapat mengakibatkan penyebaran limfosit
ke jaringan mukosa lain seperti traktus respiratorius atas dan bawah, saluran
kelenjar mammae atau traktus urogenital untuk selanjutnya memberikan
respons terhadap antigen
Gambar 2.8: Gut-associated lymphoid tissue (GALT) dengan Peyer’s patches
yang berada pada Mukosa Saluran Cerna (Darwin dkk., 2021)
Sedangkan MALT ada pada saluran nafas, saluran cerna dan urogenital.
MALT berfungsi untuk memberikan respon imunologis lokal pada permukaan
mukosa. Jaringan limfoid ini selain berisi limfosit juga mengandung sel fagosit
sehingga mampu memberikan respon imun spesifik dan non spesifik. Di
dalam jaringan limfoid sepanjang saluran cerna dan saluran nafas akan
terbentuk IgA sekretorik dan IgE yang disekresikan untuk mempertahankan
tubuh terhadap antigen yang masuk melalui mukosa (Suardana, 2017). Sel
epitel mukosa selain berperan sebagai penghalang fisik dari sistem kekebalan
mukosa usus, juga berperan langsung dalam homeostasis. Rangsangan pada
mukosa seperti adanya infeksi patogen akan mengaktifkan IEL untuk
menghasilkan sitokin dan kemokin yang berperan pada inflamasi sebagai
mekanisme pertahanan. Limfosit T pada lamina propria dengan cepat
merespon sinyal dari lingkungan lumen dan memulai respon inflamasi dan anti
inflamasi
Baik MALT maupun GALT berupa jaringan limfoid tanpa kapsul dan
memiliki tiga fungsi utama yaitu (1) melindungi membran mukosa dari invasi
dan kolonisasi mikroba berbahaya yang mungkin menembus masuk, (2)
melindungi pengambilan (uptake) antigen terdegradasi berupa protein asing
dari makanan yang tercerna, material di udara yang terhirup dan bakteri
komensal, (3) melindungi berkembangnya respons imun yang berpotensi
merugikan
Respon Imun Non Spesifik
Tubuh memiliki mekanisme untuk mempertahankan atau melindungi diri dari
berbagai patogen yang dapat berakibat buruk seperti timbulnya kesakitan dan
kematian. Mekanisme ini dikenal sebagai respon dari sistem imunitas tubuh
melibatkan berbagai sel, organ, protein, jaringan yang ada di seluruh tubuh
dan beberapa komponen seperti leukosit (sel darah putih), limpa, sumsum
tulang, sistem limfatik, timus, amandel, kelenjar gondok, dan usus buntu.
Respon imun bawaan (innate) yaitu pertahanan lini pertama yang tidak
spesifik terhadap patogen yang tidak memerlukan sensitisasi sebelumya.
Pada bab ini akan diuraikan tentang sistem imunitas
bawaan (innate). Imunitas bawaan (innate) bekerja non spesifik. Patogen
memiliki struktur kimia yang memberikan karakteristik bagi dirinya, yang
mengakibatkan kemungkinan terjadi evolusi pada sistem imunitas. Imunitas
bawaan segera diaktifkan pada tahap awal infeksi, untuk membatasi atau
menghambat proliferasi dan penyebaran patogen di dalam tubuh.
Sistem imun tubuh berfungsi untuk mencegah atau membatasi infeksi oleh
mikroorganisme patogen, seperti bakteri, virus, parasit, dan jamur. Sistem imun tubuh juga mengenali dan menanggapi antigen non-diri
secara terkoordinasi. Selain itu, sel yang rusak, sakit dapat dihilangkan oleh
sistem imun tubuh. Hambatan (barrier) pada tubuh ini terdiri dari epitel
Misalnya, sisi dalam vs. luar tubuh, mukosa vs. interstisial, eksokrin (kelenjar
ludah dan sebaceous), urogenital dan ginjal, daerah pernapasan, sinovia sendi
artikulasi, penghalang darah-otak, mata, dan plasenta. Garis pertahanan pertama sistem imun
tubuh terhadap patogen yaitu seperangkat penghalang: seluler, anatomi, dan
kimia.
Secara kolektif disebut sebagai pertahanan imun bawaan , hambatan ini:
1. Tidak spesifik: menghasilkan respons yang sama terhadap berbagai
rangsangan, tidak ada kontrol, bertindak secara refleks, dengan atau
tanpa regulasi oleh sel lain.
2. Tidak ada memori: Kinerja mengalami peningkatan oleh stimulasi
sebelumnya.
3. Keragaman terbatas: memiliki fungsi yang terbatas.
3.2 Imunitas Bawaan (Innate)
Pertahanan imun bawaan (innate) terhadap infeksi umumya didasarkan pada
deteksi pola molekuler pada agen infeksi (patogen), seperti bakteri, jamur atau
virus, yang memberikan sinyal bahaya bagi inang. Pengenalan sinyal patogen
ini mengarah pada aktivasi berbagai jenis sel imun, termasuk, sel pembunuh
alami (NK), monosit, makrofag, neutrofil, sel dendritik dan limfosit T dan B.
Respon multiseluler terhadap agen infeksi ini dibagi menjadi dua tahap yang
berbeda: imun bawaan dan respon imun adaptif. Respon imun bawaan
merupakan tahap awal dari respon imun yang dimediasi oleh pertahanan fisik,
kimia dan seluler.
Semua jenis organisme multiseluler memiliki imunitas bawaan dan merupakan
sistem profilaksis primitif di mana makrofag, neutrofil, dan sel dendritik yang
bertanggung jawab atas fungsinya untuk memberikan respon imun. Imunitas bawaan tidak hanya memainkan peran penting dalam
pembersihan virus secara cepat tetapi juga dapat memicu progresi
penyakit melalui cedera jaringan inang yang dimediasi imunitas
Pertahanan imun bawaan (innate) memiliki karakteristik berikut yang sama:
1. Secara intrinsik ada dengan atau tanpa stimulasi sebelumnya
2. b. Memiliki spesifisitas terbatas untuk mikroba dan struktur seluler
3. Memiliki keragaman terbatas yang tercermin dari sejumlah pola
pengenalan reseptor
4. Aktivitas tidak mengalami peningkatan pada paparan berikutnya
5. Tidak ada sistem memori(ingatan)
Imunitas bawaan yaitu imun yang dimiliki seseorang sejak lahir. Imunitas
bawaan dapat diklasifikasikan sebagai
1. Imunitas individu
Imunitas individu memberikan resistensi terhadap infeksi, individu
dalam ras dan spesies yang sama ditentukan secara genetik.
2. Imunitas rasial
Imunitas rasial menunjukkan adanya perbedaan kerentanan terhadap
infeksi pada ras yang berbeda dalam spesies yang sama. Misalnya,
ras dengan anemia sel sabit kebal terhadap infeksi yang disebabkan
oleh parasit malaria Plasmodium falciparum. Hal ini disebabkan oleh
kelainan genetik eritrosit, eritrosit yang dimiliki berbentuk sabit yang
mencegah parasitisasi oleh Plasmodium falciparum.
3. Imunitas spesies
Imunitas spesies menunjukkan total atau relatif resistensi terhadap
patogen yang ditunjukkan oleh semua anggota spesies tertentu.
Misalnya tikus resisten terhadap Corynebacterium diphtheriae, ayam
resisten terhadap Bacillus anthracis, sedangkan manusia rentan
terhadap bakteri ini.
3.3 Faktor-faktor yang memengaruhi
imunitas bawaan
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi imunitas bawaan inangtermasuk usia
dan status gizi inang.
3.3.1 Usia
Usia ekstrem sangat rentan terhadap berbagai infeksi yang disebabkan
berbagai patogen. Sistem imunitas pada anak-anak belum matang,
memudarnya imunitas pada orang yang lebih tua. Janin biasanya dilindungi
dari infeksi yang berasal daru ibu oleh penghalang plasenta. Namun, Human
Immunodeficiency Virus (HIV), Virus Rubella, Cytomegalo Virus dan
Toxoplasma gondii mampu melintasi penghalang plasenta dan memicu
infeksi bawaan. Penyakit pneumonia rentang pada orang tua dibandingkan
pada usia muda. Campak, gondok, poliomielitis, dan cacar air yaitu penyakit
yang memicu penyakit klinis yang lebih parah pada orang dewasa
daripada pada anak kecil. Respon imun yang lebih aktif pada orang dewasa
kemungkinan memicu kerusakan jaringan yang lebih besar
3.3.2 Status Gizi
Status gizi inang berperan penting dalam imunitas bawaan. Aktivitas neutrofil
berkurang, respon interferon menurun, dan C3 dan faktor B komplemen
menurun pada malnutrisi protein-kalori. Kekurangan vitamin C, vitamin A,
dan asam folat memicu seseorang rentan terhadap infeksi oleh banyak
mikroba patogen.
3.3.3 Tingkat Hormonal
Individu dengan gangguan hormonal tertentu menjadi semakin rentan terhadap
infeksi. Misalnya, individu menderita hipotiroidisme, diabetes mellitus, dan
disfungsi adrenal semakin rentan terhadap infeksi Stafilokokus, infeksi
Streptokokus, Candidiasis, Aspergillosis, Zygomycosis dan banyak infeksi
mikroba lainnya. Demikian pula, wanita hamil lebih rentan terhadap banyak
infeksi karena tingkat steroid yang lebih tinggi selama kehamilan
3.4 Mekanisme Imunitas Bawaan
Imunitas bawaan inang melakukan dua fungsi terpenting: membunuh
mikroorganisme yang menyerang dan mengaktifkan proses imunitas yang
diperoleh (adaptif). Imunitas bawaan tidak seperti imunitas adaptif, tidak
memiliki memori dan tidak membaik sesudah terpapar kembali oleh
mikroorganisme yang sama.
Mekanisme imunitas bawaan pada gambat 2 , yaitu:
1. Peradangan
2. Kemotaksis
3. Opsonisasi
4. Aktivasi sel
5. Lisis patogen
Imunitas bawaan terutama tergantung pada empat jenis hambatan defensif:
1. hambatan anatomi,
2. hambatan fisiologis,
3. fagositosis, dan
4. respons inflamasi.
3.4.1 Hambatan Anatomi
Hambatan anatomi meliputi hambatan oleh kulit dan selaput lendir. Kulit dan
selaput lendir merupakan komponen terpenting dari imunitas bawaan. Mereka
bertindak sebagai penghalang mekanis dan mencegah masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh. Kulit normal yang utuh mencegah masuknya
mikroorganisme patogen. Misalnya, Adanya kerusakan atau kelainan kulit
seperti goresan, luka, atau abrasi dapat memicu infeksi. Gigitan serangga
yang mengandung organisme patogen (misalnya, nyamuk, kutu, kutu, dan lalat
pasir), menjadi vektor mikroorganisme patogen yang dapat ditularkan ke
dalam tubuh dan memicu penyakit infeksi.
Kulit menghasilkan sebum, yang mencegah pertumbuhan beberapa
mikroorganisme. Komposisi sebum terdiri dari asam laktat dan asam lemak
yang dapat menjaga pH kulit antara 3 dan 5. Sebagian besar mikroorganisme
dapat dihambat pertumbuhannya pada pH ini . Selaput lendir dihasilkan
untuk membentuk lapisan yang berfungsi sebagai penutup luar pernapasan,
gastrointestinal, genitourinary, dan banyak saluran lain dari tubuh manusia.
Mekanisme pertahanan nonspesifik mampu mencegah masuknya
mikroorganisme melalui selaput lendir. Air mata, air liur, dan sekresi lendir
cenderung membasuh mikroorganisme patoogen, sehingga mencegah
keterikatan patogen ke situs awal infeksi. Sekresi ini juga mengandung
antibakteri atau antivirus, sel epitel selaput lendir yang menjebak
mikroorganisme yang menyerang.
Saluran pernapasan yaitu sistem yang rumit dan kompleks yang
memfasilitasi pertukaran gas dan oksigenasi darah, sambil membentuk
penghalang fisik dan imunologi antara lingkungan eksternal, darah, dan situs
jaringan. (Mettelman, Allen and Thomas, 2022) Saluran pernapasan bagian
bawah, selaput lendir ditutupi oleh silia, tonjolan seperti rambut dari membran
sel epitel. Sistem imunitas bawaan epitel saluran napas terdiri dari beberapa
komponen termasuk lapisan lendir, pembersihan mukosiliar dari silia, produksi
peptida pertahanan inang, (Myszor and Gudmundsson, 2023). Gerakan silia
yang sinkron mendorong mikroorganisme yang terperangkap oleh lendir dari
saluran ini. Selain itu, organisme nonpatogenik cenderung menjajah sel-sel
epitel permukaan mukosa.
Flora normal ini umumnya bersaing dengan patogen untuk situs perlekatan
pada permukaan sel epitel dan untuk nutrisi yang diperlukan. Candida albicans
yaitu pathobiont jamur yang ada pada sebagian besar individu sehat yang,
dalam keadaan tertentu, dapat menjadi patogen dan memicu segala
sesuatu mulai dari infeksi mukosa ringan hingga penyakit sistemik yang
mengancam jiwa.
3.4.2 Hambatan Fisiologis
Hambatan fisiologis yang berkontribusi untuk imunitas bawaan meliputi:
Keasaman lambung yaitu penghalang fisiologis bawaan untuk infeksi karena
sangat sedikit mikroorganisme yang tertelan dapat bertahan hidup dari pH
rendah isi lambung. Lisozim, interferon, dan komplemen yaitu beberapa
mediator larut imunitas bawaan.
Lisozim memiliki efek antibakteri karena aksinya pada dinding sel bakteri.
Interferon disekresikan oleh sel sebagai respons terhadap produk sel yang
terinfeksi virus. Zat-zat ini memiliki efek antivirus umum dengan mencegah
sintesis protein struktural virus. Lisis memicu kebocoran isi sel yang
ireversibel sesudah kerusakan membran. Dalam kasus bakteri, ini akan
berakibat fatal bagi mikroba. (Playfair and Chain, 2000)
Enzim dan protein yang disekresikan dengan fungsi imunitas tubuh
1. Lisozim
Enzim polisakarida hidrolisis ditemukan pada permukaan sel bakteri
dan dalam air liur.
2. Fosfolipase
Sebuah. Enzim hidrolisis fosfolipid menjadi asam lemak dan zat
lipofilik.
3. Laktoferin: Protein globular pengikat besi.
Disekresikan oleh kelenjar eksokrin dan butiran spesifik dalam
neutrofil. sesudah degranulasi, hampir semua laktoferin serum berasal
dari neutrofil. Bertindak untuk menghilangkan bakteri dari sumber
zat besi.
4. Laktoperoksidase
Oksidoreduktase bakterisida. Disekresikan dari kelenjar mukosa
termasuk kelenjar ludah dan susu. Mengkatalisis oksidasi dan
produksi air menggunakan hidrogen peroksida sebagai donor
elektron.
5. Myeloperoxidase
Oksidoreduktase bakterisida. Dinyatakan dalam neutrofil. Disimpan
dalam butiran azurofilik. Disekresikan sesudah aktivasi. Mengkatalisis
oksidasi ion klorida menggunakan hidrogen peroksida untuk
membentuk asam hipoklorit. Kofaktor katalitik yaitu bagian heme
yang memberikan warna hijau pada nanah.
6. Xantin oksidoreduktase:
a. Oksidoreduktase yang menghasilkan hidrogen peroksida dan air
dari konversi hipoksantin menjadi xantin, yang selanjutnya
dipecah menjadi asam urat dan hidrogen peroksida.
b. Mengubah senyawa alifatik menjadi alkohol alifatik dan dua
radikal superoksida oksigen.
c. Xantin oksidoreduktase secara luas diekspresikan dalam jaringan
dan merupakan konstituen utama gumpalan lemak dalam ASI.
3.4.3 Fagositosis
Fagositosis yaitu mekanisme pertahanan penting lainnya dari imunitas
bawaan. Fagositosis yaitu proses konsumsi bahan partikulat ekstraseluler
oleh sel-sel khusus tertentu, seperti monosit darah, neutrofil, dan makrofag
jaringan. Ini yaitu jenis endositosis di mana mikroorganisme yang
menyerang hadir di lingkungan dicerna oleh sel-sel fagositik. Dalam proses ini,
membran plasma sel mengembang di sekitar bahan partikulat, yang mungkin
termasuk seluruh mikroorganisme patogen untuk membentuk vesikel besar
yang disebut fagosom.
Fagositosis (pemakan sel), Menelan partikel oleh sel. Makrofag dan PMN
(yang dulu disebut mikrofag) yaitu sel fagositik yang paling penting.
Sebagian besar bahan asing yang memasuki jaringan akhirnya dibuang oleh
mekanisme ini. Makrofag dapat membunuh beberapa target (mungkin
termasuk sel-sel tumor) tanpa fagositosis, dan ada berbagai sel lain dengan
kemampuan sitotoksik.
Sel NK (pembunuh alami) Sel mirip limfosit yang mampu membunuh
beberapa target, terutama sel yang terinfeksi virus dan sel tumor, tetapi tanpa
reseptor atau karakteristik spesifisitas halus limfosit sejati
3.4.4 Respon Inflamasi
Kerusakan jaringan yang disebabkan oleh luka atau oleh mikroorganisme
patogen yang menyerang dapat menginduksi urutan peristiwa yang kompleks,
yang secara kolektif dikenal sebagai respons inflamasi. Hasil akhir dari
peradangan mungkin disebabkan aktivasi respon imun spesifik terhadap invasi
atau pembersihan penyerang oleh komponen sistem imunitas tubuh bawaan.
Empat fitur utama dari respon inflamasi yaitu rubor (kemerahan), calor
(kenaikan suhu), Dolor (nyeri), dan Tumor (pembengkakan).
Histamin, kinin, tahap akut Protein, dan Defensin yaitu mediator penting dari
reaksi inflamasi.
1. Histamin
Ini yaitu zat kimia yang diproduksi oleh berbagai sel sebagai
respons terhadap cedera jaringan. Ini mengikat reseptor pada kapiler
dan venula terdekat, memicu vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas.
2. Kinin
Ini yaitu mediator penting lainnya dari respon inflamasi. Mereka
biasanya hadir dalam plasma darah dalam bentuk tidak aktif. Cedera
jaringan mengaktifkan peptida kecil ini, yang kemudian
memicu vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler.
Bradikinin juga merangsang reseptor rasa sakit di kulit. Efek ini
mungkin melayani peran protektif karena rasa sakit biasanya
memicu seseorang untuk melindungi daerah yang terluka.
3. Protein tahap akut
Ini termasuk protein C-reaktif dan protein pengikat mannose yang
membentuk bagian dari imunitas bawaan. Mereka disintesis di hati
sebagai respons terhadap sitokin yang disebut sitokin proinflamasi,
yaitu, interleukin-1 (IL-1), interleukin-6 (IL6), dan faktor nekrosis
jaringan (TNF). Mereka disebut sitokin proinflamasi karena mereka
meningkatkan respon inflamasi.
4. Defensin
Mereka yaitu komponen penting lain dari imunitas bawaan. Mereka
yaitu peptida kationik yang menghasilkan pori-pori di membran
bakteri dan dengan demikian membunuh mereka. Ini hadir terutama
di saluran pernapasan bagian bawah dan saluran pencernaan. Saluran
pernapasan mengandung defensin, sedangkan saluran pencernaan
mengandung defensin. defensins juga menunjukkan aktivitas
antivirus.
3.5 Dampak Aktivitas Imunitas Bawaan
Pada manusia, aktivasi imunitas bawaan yang berlebihan sebagai respons
terhadap infeksi virus atau bakteri sering memicu penyakit parah dan
kematian. Selain itu, mekanisme serupa yang terkait dengan imunitas bawaan
dapat memicu patogenesis dan kematian pada sepsis, trauma masif
(termasuk operasi dan luka bakar), iskemia/reperfusi, beberapa lesi toksik, dan
infeksi virus termasuk COVID-19. Dampak parah seperti itu mungkin
merupakan manifestasi dari strategi bunuh diri terkontrol yang melindungi
seluruh populasi dari penyebaran patogen dan dari patologi berbahaya
daripada hiperstimulasi yang menyimpang dari tanggapan pertahanan.
Imunitas bawaan mungkin terlibat dalam implementasi kematian terprogram
altruistik dari suatu organisme yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan seluruh komunitas.
Respon Imun Spesifik
4.1 Komponen Sistem Imun Spesifik
4.1.1 Maturasi dan Peran Sel dalam Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik atau yang dikenal dengan sistem imunitas adaptif
memiliki dua komponen utama dalam mekanisme pertahanan tubuh. Sistem
imunitas adaptif merupakan garis pertahanan kedua yang diperankan oleh sel
T dan sel B dalam mekanisme pertahanan tubuh. Respon imunitas spesifik
atau adaptif lebih cepat responnya terhadap antigen. Sistem imunitas adaptif
bertanggung jawab dalam menghilangkan patogen di tahap akhir infeksi. Sel T
berasal dari sel induk hematopoetik dalam tulang, sum-sum, dan sesudah
migrasi matang di timus. Sel T tersebar di hampir seluruh jaringan tubuh.
Sebagian besar sel T ditemukan dalam jaringan limfoid, mukosa, dan kulit dan
2%-3% dari total komplemen ada pada darah tepi manusia. Sel T
berdasarkan tahap perkembangannya terbagi menjadi sel T naif (sel T yang
baru terbentuk dan belum terpapar antigen), sel T regulator (ada pada tahap
awal perkembangan sel) dan Sel T memori (sel yang mulai berkembang). Pada
awal perkembangannnya (awal kehidupan/newborn) hingga menjadi sel T
memori (masa kanak-kanak), sel ini berkembang di situs limfoid dan
mukosa utama tubuh (seperti paru-paru dan usus kecil). sesudah terjadi
perkembangan, sel T memori berkembang di subset utama seluruh tubuh,
namun akumulasi sel T memori dalam jaringan limfoid lambat. Sel T dapat
mengekspresikan reseptor yang dapat mengenali beragam antigen dari
patogen, tumor dan lingkungan sekitar serta dapat memelihara memori
imunologis. Sel T juga terlibat dalam reaksi inflamasi dan penyakit autoimun
(Ali dkk., 2020; Kumar, dkk., 2018). sel T naif dalam perkembangannya dapat
menjadi subset sel T memori dan sel T efektor. Sel T efektor terlibat dalam
pengaturan stimulasi antigenik (misal, selama infeksi virus primer). Sel T
efektor berperan dalam menghilangkan virus atau tumor dengan cara yang
berbeda. Sel T memori akan tetap ada, meskipun tanpa stimulasi antigenik
. Dalam kondisi normal, sel T
regulator dapat meredam respon inflamasi dari sel T efektor. Antigen yang
berinteraksi dengan sel T dapat berreaksi dengan reseptor sel B. Selanjutnya
sel B mensintesis dan mensekresikan antibodi (imunoglobulin). Antibodi dapat
menetralkan patogen. Antibodi dapat mengenali molekul secara spesifik.
Molekul ini juga disebut sebagai antigen
Sel B merupakan sel yang bersifat protagonis terhadap sistem imun. Sel B
mengalami diversifikasi dalam sum-sum tulang dan hati janin, kemudian
berkembang menjadi pre-B cells dan selanjutnya berkembang menjadi sel B.
Sel B mengatur imunoglobulin (Ig), heavy (H), dan lokus gen rantai ringan
(L). Sel B berasal dari progenitor limfoid, kemudian berkembang menjadi
beberapa kelas imunoglobulin. Molekul imunoglobulin kemudian berasosiasi
dan membentuk reseptor untuk antigen. Pada awal perkembangan, sel B naif
berinteraksi dengan antigen. Sel B yang belum matang selanjutnya berpindah
ke perifer sebagai sel transisi. Sel B berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh
melalui perannya dalam presentasi antigen, produksi antibodi, dan interaksi
secara langsung dengan antigen melalui reseptor sel B (BCR). Sel B regulator
(Breg) merupakan subset sel B yang baru berkembang. Sel Breg dapat
memediasi penekanan respon inflamasi atau memfasilitasi pemulihan
inflamasi. Berdasarkan kondisi ini , maka sel B dapat berperan dalam
mempertahankan toleransi serta homeostatis sistem imun melalui produksi
sitokin yang berbeda
4.1.2 Reseptor Sel T dan Sel B
Sel limfosit T berperan penting dalam sistem imunitas adaptif (spesifik). Sel T
mengekspresikan serangkaian pengikatan antigen yang spesifik. Proses
pengikatan antigen melalui reseptor yang ada pada membran sel. Sel
ini memiliki reseptor berupa TCR (T Cell Receptor). Permukaan sel T
dapat mengenali antigen yang berasal dari luar sel. Setiap sel T
mengekspresikan satu jenis TCR dan memiliki kemampuan untuk
berkembang biak dengan cepat dan berdiferensiasi jika menerima sinyal yang
sesuai. Molekul TCR dapat berinteraksi dengan APC (biasanya sel dendrit,
makrofag, sel B, fibroblas dan sel epitel). Permukaan APC juga
mengekspresikan sekelompok molekul protein MHC (Molecule
Histocampatibilty Complex). MHC diklasifikasikan menjadi MHC kelas I atau
disebut juga Human Leukocyte Antigent (HLA) A, B, dan C yang ada
pada semua sel berinti. MHC kelas II atau disebut HLA DP, DQ dan DR yang
hanya ada pada sel-sel tertentu dalam sistem kekebalan tubuh, seperti
makrofag, sel dendritik dan sel B. Molekul MHC kelas I ada pada peptida
endogen (intraseluler), sedangkan MHC kelas II ada pada peptida eksogen
(ekstraseluler) yang dipresentasikan melalui APC ke sel T. Protein MHC
menampilkan fragmen antigen (peptida) saat sel terinfeksi dengan patogen
intraseluler, seperti virus yang memfagositosis protein atau organisme asing.
Selanjutnya terjadi pembentukan komplek MHC-antigen yang diaktivasi oleh
TCR. Selanjutnya sel T mensekresi sitokin yang dapat mengontrol respon
imun (Marshall dkk., 2018; Brazin dkk., 2018). Molekul MHC dipresentasikan
oleh APC (Antigen-precenting cells). Reseptor sel T dapat mengenali lebih
dari satu struktur peptida-MHC, ini disebut sebagai reaktivitas silang.
Reaktivitas silang merupakan fenomena sistem kekebalan tubuh yang
kepentingannya masih dalam penyelidikan. Reaktivitas silang dapat
dipengaruhi oleh jumlah peptida patogen, rendahnya keragaman reseptor sel T,
kebutuhan terhadap pengenalan varian antigen lain, dan afinitas ikatan
reseptor-ligan rendah. Reseptor TCR terdiri dari permukaan sel heterodimerik
yang terdiri dari rantai α dan β. Setiap rantai dihasilkan oleh somatik.
Pengenalan sel T terhadap peptida antigenik yang berikatan dengan MHC
kelas I atau MHC kelas II. Interaksi ini merupakan awal mula terjadinya
respon imunitas adaptif (Galina, dkk. 2012). Sel T berperan dalam proliferasi,
pembunuhan sel target, sekresi sitokin, dan dapat diaktifkan atau diatur oleh
molekul multikomponen yang ada pada permukaan sel T. Reseptor sel T
terdiri dari 8 subunit (TCR) dan sebuah co-reseptor (CD4 atau CD8) dan
reseptor kostimulatori (biasanya CD28). Berbagai komponen molekul
permukaan sel, seperti reseptor sitokin dan reseptor penghambat dapat
memengaruhi secara positif atau negatif kekuatan interaksi ini , kualitas
dan durasi aktivasi signal. TCR hanya mengenali antigen sesudah diproses dan
ditampilkan sebagai peptida pendek pada permukaan sel (APC) atau sel target
oleh MHC, hal ini merupakan bagian dari pembatasan MHC. Reseptor
42 Imunologi Dasar
TCR sangat sensitif sehingga dapat memicu fluks kalsium dan pelepasan
sitokin sebagai respon terhadap stimulasi ligan peptida-MHC
Sel B memiliki reseptor berupa BCR (B Cell Receptor). Pembentukan reseptor
diawali dengan proses diferensiasi sel B, ekspresi molekul imonuglobulin,
yang berasosiasi membentuk Igα dan Igβ, yang kemudian membentuk
reseptor sel B. Reseptor ini diperlukan untuk pematangan sel B dan
kelangsungan hidup sel B. Sel B bersirkulasi ulang melalui organ limfoid
sekunder seperti limpa dan kelenjar getah bening. Sel B berada di organ
limfoid sekunder. Sel B naif yang telah matang siap untuk berinteraksi dengan
antigen. Pengenalan antigen melalui BCR. Selanjutnya sel B teraktivasi dan
berdiferensiasi menjadi sel plasma atau prekursor germinal center (GC).
Inisiasi sinyal BCR secara tidak langsung diatur oleh dua molekul yang tidak
berasosiasi dengan reseptor, yaitu B220 dan CSK (C terminal src tirosin
kinase). Aktivasi sel B melalui BCR memicu aktivasi beberapa protein
lain seperti MAPK (Mitogen Activated Kinase) dan Nf-kβ (Nucelar factor
cappa beta). Pensinyalan sel B dapat mengontrol perkembangan atau resistensi
sel B. Pola pensinyalan BCR dapat memengaruhi seleksi sel B selama proses
pengembangan, diferensiasi populasi sel B1, MZ atau Fo. Selanjutnya
kekukatan pensinyalan BCR dapat memengaruhi antigent-induced, aktivasi sel
B, migrasi, dan tingkat ekspresi molkeul ko-stimulator permukaan (Yam-Puc
dkk., 2018). Aktivasi sel B terjadi sesudah adanya signal BCR yang berinteraksi
dengan antigen. Interaksi ini dapat memicu adanya pengelompokan
sel B. Interaksi sel T dan dan sel B melibatkan komponen penting yaitu
ekspresi CD40. CD40L merupakan bagian dari TNF (Tumor Necrosis Factor),
diekspresikan sel T sebagai homotrimer membran dan ekspresi permukaannya
diregulasi sesudah aktivasi sel T. CD40 diekspresikan secara konstitutif pada sel
B matang, sel naif dan germinal center (GC). Luas permukaan interaksi sel GC
B dan sel Tfh meningkat dengan pensinyalan ICOSL-ICOS. ICOSL diregulasi
oleh sel GC B. Kemudian dopamin sebagai faktor sekresi Tfh yang
memengaruhi sel GC B. Keterlibatan CD40-CD40L dapat memengaruhi
kehidupan sel B, diferensiasi dan pensinyalan ekstrinsik
Respon Imun Spesifik 43
4.2 Mekanisme Sistem Imun Spesifik
4.2.1 Mekanisme Mediasi dan Aktivasi Sel T
Aktivasi sel T diatur oleh sinyal ekstraseluler berupa APC (Antigent
Precenting Cell), regulator dan sinyal transduksi intraseluler. Molekul
kostimulator APC sangat penting dalam aktivasi dan pengaturan klon sel-T.
Sel T yang teraktivasi dapat berdiferensiasi menjadi sel T sitotoksik (sel T
CD8+) atau sel T-helper (sel T CD4+). Sel T CD8+ terlibat dalam
penghancuran sel yang terinfeksi agen asing seperti virus dan tumor, sel akan
mengekspresikan antigen yang sesuai. Aktivitas ini melalui interaksi
TCR dengan molekul MHC kelas I. Ekspansi klonal sel T sitotoksik dapat
menghasilkan sel T efektor yang melepaskan zat yang menginduksi apoptosis
sel target. sesudah terjadi infeksi sebagian besar sel efektor mati dan
dibersihkan oleh fagosit. Namun beberapa sel dipertahankan menjadi sel
memori yang dapat dengan cepat berdiferensiasi menjadi sel efektor. CD28
dan ICOS (Inducible Costimulator) merupakan molekul kostimulator yang
penting dalam dalam pengaturan aktivasi dan fungsi sel T.
Banyak sinyal kostimulasi negatif seperti CTLA-4 (cytotoxic Tlymphocyte
antigen-4), PD-1 (Programmed Death-1), dan beberapa molekul kostimulator
lainnya. Aktivasi dan toleransi sel T diatur untuk memastikan eliminasi antigen
asing yang efektif dan disertai dengan upaya pertahanan toleransi imun
terhadap self antigen. Toleransi imunologi sel T dipertahankan melalui
berbagai mekanisme untuk mencegah penyakit autoimun. Proses ini
dimediasi di kelenjar Timus, dalam prosesnya, sel T self-reaktif dihapus
melalui seleksi negatif. Selain itu ada mekanisme toleransi perifer
tambahan untuk mencegah reaksi autoreaktif. Toleransi perifer diatur oleh sel
T regulator dan tolerogenik sel dendritik. Respon yang kuat teradap antigen
yang berasal dari patogen berbeda dengan presentasi self-antigen ke sel T yang
berdampak pada toleransi sel T yang mengakibatkan penghapusan klon sel T
(anergi). Anergi dapat terjadi pada klon sel Th 1 (T-helper 1), seperti saat
TCR (T cell receptor) terlibat dalam kostimulasi, ini dapat berdampak pada
hiporesponsif TCR sekunder. Kondisi ini dapat diatasi dengan model
stimulasi dua sinyal yaitu aktivasi sel T melalui MHC-peptida dan yang kedua
aktivasi sel T melalui mekanisme kostimulatori. Mekanisme ini dapat
memunculkan molekul k









