elah di celup dapat
langsung diminum.
Gambar berikut ini menunjukkan alur singkat dalam membuat
produk teh herbal dari daun belimbing wuluh :
HASIL UJI HEDONIK TEH HERBAL DAUN
BELIMBING WULUH
Uji daya terima merupakan tingkat kesukaan seseorang terhadap
makanan atau minuman yang bertujuan untuk mengetahui tingkat
penerimaan suatu komoditi mengenai sifat sensori tertentu. Uji
penerimaan meliputi uji mutu hedonik dan uji hedonik. Skala hedonik
ditransformasi ke dalam skala numerik menurut tingkat kesukaan.
Dengan data numrik ini dapat dilakukan analisa statistik
Uji mutu hedonik tidak menyatakan suka atau tidak suka tetapi
menyatakan kesan baik atau buruk. Kesan mutu hedonik lebih spesifik
dibandingkan sekedar suka atau tidak suka seperti empuk atau keras
untuk daging, pulen atau keras untuk nasi, dan lain-lain. Oleh sebab
itu, beberapa ahli memasukkan mutu hedonik ke dalam uji hedonik.
Penilaian mutu terhadap suatu produk dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu penilaian secara subjektif dan penilaian secara objektif.
Penilaian subjektif dilakukan dengan melihat fisik, kimia, fisiko-
kimia, mikrobiologi, hitologi, umur simpan sedang penilaian
subjektif dilakukan dengan organoleptik/sensorik atau dengan
menggunakan panca indra.
Untuk melakukan penilaian organoleptik diperlukan panel.
Dalam penilaian suatu mutu atau analisis sifat-sifat sensorik suatu
komoditi, panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Orang yang
menjadi anggota panel disebut panelis. Dalam penilaian organoleptik
dikenal 7 macam panel, yaitu :
1. Panel perseorangan yaitu orang yang sangat ahli dengan
kepekaan spesifik yang sangat tinggi yang diperoleh sebab bakat
atau latihan-latihan yang sangat intensif, keputusan sepenuhnya
ada pada seorang.
2. Panel terbatas terdiri dari 3-5 orang yang mempunyai kepekaan
tinggi sehingga bias lebih dihindari. Panelis ini mengenal dengan
baik faktor-faktor dalam penilaian organoleptik dan mengetahui
cara pengolahan dan pengaruh bahan baku terhadap hasil akhir.
Keputusan diambil berdiskusi di antara anggota- anggotanya.
3. Panel terlatih terdiri dari 15-25 orang yang mempunyai kepekaan
cukup baik. Untuk menjadi terlatih perlu didahului dengan
seleksi dan latihan-latihan. Panelis ini dapat menilai beberapa
rangsangan sehingga tidak terlampau spesifik. Keputusan diambil
sesudah data dianalisis secara bersama.
4. Panel agak terlatih terdiri dari 15-25 orang yang sebelumya
dilatih untuk mengetahui sifat-sifat tertentu. panel agak terlatih
dapat dipilih dari kalangan terbatas dengan menguji datanya
terlebih dahulu. sedang data yang sangat menyimpang boleh
tidak digunakan dalam keputusannya.
5. Panel tidak terlatih terdiri dari 25 orang awam yang dapat
dipilih berdasar jenis suku-suku bangsa, tingkat sosial dan
pendidikan. Panel tidak terlatih hanya diperbolehkan menilai
alat organoleptik yang sederhana seperti sifat kesukaan, tetapi
tidak boleh digunakan dalam uji yang terkait sifat-sifat tertentu.
Untuk itu panel tidak terlatih biasanya dari orang dewasa dengan
komposisi panelis pria sama dengan panelis wanita.
6. Panel konsumen terdiri dari 30 hingga 100 orang yang tergantung
pada target pemasaran komoditi. Panel ini mempunyai sifat yang
sangat umum dan dapat ditentukan berdasar perorangan
atau kelompok tertentu.
7. Panel yang khas yaitu panel yang menggunakan anak-anak
berusia 3-10 tahun. Biasanya anak-anak digunakan sebagai
panelis dalam penilaian produk-produk pangan yang disukai
anak-anak seperti permen, es krim dan sebagainya.
Dalam uji organoleptik dikenal beberapa pengaruh pengujian
seperti :
1. Expectation error
Terjadi sebab panelis telah menerima informasi tentang
pengujian. Oleh sebab itu sebaiknya panel diberikan informasi
tentang pengujian dan sampel diberi kode 3 digit agar tidak dapat
dikenali oleh panelis.
2. Convergen error
Panelis cenderung memberikan penilaian lebih baik atau lebih
buruk apabila didahului pemberian sampel yang lebih baik atau
lebih buruk.
3. Stimulus error
Terjadi sebab penampakan sampel yang tidak seragam sehingga
panel ragu-ragu dalam memberikan penilaian.
4. Logical error
Mirip dengan stimulus error, dimana panelis memberikan
penilaiannya berdasar karakteristik tertentu menurut
logikanya. Karakteristik ini akan berhubungan dengan
karakteristik lainnya.
5. Holo effect
Terjadi sebab evaluasi sampel dilakukan terhadap lebih dari
satu faktor sehingga panelis memberikan kesan umum dari suatu
produk.
6. Efek kontras
Pemberian sampel yang berkualitas lebih baik sebelum sampel
lainnya mengakibatkan penilaian panelis terhadap sampel yang
berikutnya lebih rendah. Panelis cenderung memberi mutu rata-
rata.
7. Motivasi
Respon dari seorang panelis akan mempengaruhi persepsi
sensorinya. Oleh sebab itu penggunaan panelis yang terbaik
(motivasi) dengan pengujian akan memberikan hasil yang lebih
baik.
8. Sugesti
Respon dari seorang panelis akan mempengaruhi panelis lainnya.
Oleh sebab itu pengujian dilakukan secara individu.
9. Posisi bias
Dalam beberapa uji terutama uji segitiga. Gejala in terjadi akibat
kecilnya perbedaan antar sampel sehingga panelis cenderung
memilih sampel yang tengah sebagai sampel yang paling berbeda.
Uji hedonik merupakan uji yang dilakukan untuk menentukan
tingkat kesukaan terhadap produk ini . Uji hedonik teh daun
49BAB V
belimbing wuluh dilakukan di Wilayah Kecamatan Biring Kanaya
pada warga sebanyak 30 orang dari umur 18-59 tahun sebagai
panelis konsumen. Dari setiap hasil daya terima warga di
berikan kode TS (Tidak Suka), KS (Kurang Suka), B (Biasa), S (Suka),
dan SS (Sangat Suka).
Tabel 5.1 Distribusi Panelis Konsumen berdasar Skala Umur dan Jenis
Kelamin
Skala Umur n=30 % Jenis Kelamin n=30 %
18 – 24 tahun 6 20
Laki-laki
perempuan
7
23
23,3
76,7
25-34 tahun 7 23,3
35 - 44 tahun 5 16,7
45 – 59 tahun 12 40
Sumber:sumber data primer, 2022
berdasar tabel 5.1 diketahui jika jumlah panelis konsumen
sebanyak 30 orang dengan laki-laki sebanyak 7 orang dan perempuan
sebanyak 23 orang dengan skala umur 18-59 tahun. Pada data
riskesdas 2018 memulai pendataan prevalensi hipertensi dari umur
18 tahun dan merupakan usia dewasa awal menurut harlock, 45-59
tahun merupakan usia pertengahan (middle age) menurut WHO
dan lansia (lanjut usia) yaitu orang yang berusia 60 tahun ke atas
menurut kemenkes.
Uji organoleptik teh daun belimbing wuluh meliputi warna,
aroma, dan rasa.
1. Warna
Hasil analisis uji hedonik pada warna teh daun belimbing wuluh
pada tabel 5.2 :
Tabel 5.2 Daya Terima Pada Warna Teh Daun Belimbing Wuluh
Formula
Jumlah
panelis
Skor
maksimum
Skor
diperoleh
% Ket. p
F1abc 30 150 94 62,6 B
0,022
F2b 30 150 111 74 S
F3c 30 150 106 70,6 S
F4d 30 150 85 56,6 B
Sumber: data primer, 2022
a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata
(p<0,05)
berdasar tabel 5.2 diketahui bahwa konsumen memilih
Formula 1 dan formula 4 sebagai produk pada tingkat kesukaan
warna kategori biasa dan formula Formula 2 dan 3 sebagai
produk pada tingkat kesukaan warna dengan kategori suka. Hasil
uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,022 yang artinya terdapat
perbedaan warna yang signifikan diantara formula teh daun
belimbing wuluh sehingga dilakukan uji lanjut Mann Whitney
dan diperoleh hasil produk yang tidak berbeda nyata terhadap
warna khas teh yaitu formula 1 dengan formula 4 (p=0,198),
formula 2 dengan 3 (p=0,302), formula 2 dengan formula 4
(p=0,171), dan formula 3 dengan formula 4 (p=0,636).
2. Aroma
Hasil analisis uji hedonik pada aroma teh daun belimbing wuluh
pada tabel 5.3 :
Tabel 5.3 Daya Terima Pada Aroma Teh Daun Belimbing Wuluh
Formula
Jumlah
panelis
Skor
maksimum
Skor
diperoleh
% Ket. p
F1a 30 150 100 66,6 B
0,072
F2b 30 150 94 62,6 B
F3c 30 150 88 58,6 B
F4d 30 150 77 51,3 KS
Sumber: data primer, 2022
51BAB V
a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda
nyata (p<0,05)
berdasar tabel 5.3 diketahui bahwa konsumen memilih
formula 1, formula 2, dan formula 3 sebagai produk pada tingkat
kesukaan aroma kategori biasa dan Formula 4 sebagai produk
pada tingkat kesukaan aroma dengan kategori kurang suka. Hasil
analisis uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,072 yang artinya
tidak terdapat perbedaan aroma yang signifikan antara formula
teh daun belimbing wuluh.
3. Rasa
Hasil analisis uji hedonik pada rasa teh daun belimbing wuluh
pada tabel 5.4 :
Tabel 5.4 Daya Terima Pada Rasa Teh Daun Belimbing Wuluh
Formula
Jumlah
panelis
Skor
maksimum
Skor
diperoleh
% Ket. p
F1ac 30 150 96 64 B
0,000
F2b 30 150 85 70,6 B
F3bc 30 150 63 56,6 KS
F4ab 30 150 63 56,6 KS
Sumber: data primer, 2022
a,b : huruf yang sama menunjukkan hasil yang berbeda
nyata (p<0,05)
berdasar tabel 5.4 diketahui bahwa konsumen memilih
formula 1 dan formula 2 sebagai produk dengan rasa teh kategori
biasa dan formula Formula 3 dan 4 sebagai produk pada tingkat
kesukaan rasa dengan kategori kurang suka. berdasar analisis
statistic uji Kruskal Wallis diperoleh nilai p=0,000 yang artinya
terdapat perbedaan rasa teh yang signifikan diantara formula
teh daun belimbing wuluh seinggal dilakukan uji lanjut Mann
Whitney dan diperoleh hasil produk yang tidak berbeda nyata
terhadap daya terima warga yaitu formula 1 dengan
formula 2 (p=0,371) dan formula 3 dengan formula 4 (p=0,678).
4. Keseluruhan
Hasil analisis daya terima berdasar beberapa indikator uji
hedonik pada panelis konsumen, secara keseluruhan diperoleh:
Tabel 5.5 Daya Terima Teh Daun Belimbing Wuluh Secara Keseluruhan
Formula
Warna khas
teh
Aroma khas
teh
Rasa pahit/
asing
Keseluruhan Ket.
Formula 1 62,6% 66,6% 64% 64,4% B
Formula 2 74% 62,6% 56,6% 64,4% B
Formula 3 70,6% 58,1% 42% 56,9% B
Formula 4 56,6% 51,3% 42% 49,9% KS
Sumber: data primer, 2022
berdasar tabel 5.5 diketahui jika hasil analisis secara
keseluruhan dari nilai rata-rata tiap indikator warna, aroma, dan
rasa dari uji mutu hedonik diperoleh hasil jika hanya formula
4 yang termasuk kategori kurang suka kemudian berdasar
persentasenya formula 1 dan formula 2 dengan nilai tertinggi
yang paling banyak diminati.
MASA SIMPAN TEH HERBAL DAUN BELIMBING
WULUH
Umur masa simpan/umur simpan yaitu lamanya masa penyimpanan
produk (pada kondisi penyimpanan yang normal/sesuai dengan yang
disarankan), dimana produk masih memiliki/memberikan daya guna
seperti yang dijanjikan.
Pengujian umur simpan akan menggambarkan seberapa lama
produk dapat bertahan pada kualitas yang sama selama proses
penyimpanan. Selama rentang waktu umur simpan produk harus
memiliki kandungan gizi sesuai dengan yang tertera pada kemasan,
tetap terjaga tampilan, bau, tekstur, rasa, fungsinya, dan produk
harus aman dikonsumsi. Nilai umur simpan terhitung sejak produk
diproduksi/ dikemas. Umur simpan menjadi salah satu parameter
yang harus ada dalam kemasan produk pangan. Informasi tentang
umur simpan dimaksudkan untuk menjamin kualitas produk dalam
keadaan baik saat dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan
konsumen
Umur simpan produk pangan yaitu pada selang waktu antara
saat produksi hingga konsumsi, dimana produk berada dalam konsisi
memuaskan untuk sifat penampakan, rasa, aroma, tekstur, dan gizi.
Umur simpan yaitu periode waktu bagi produk yang secara sensorik
dan kandungan gizi masih bisa diterima dan aman dikonsumsi. Studi
umur simpan sangat penting, terutama bagi produk pangan yang
cepat dan mudah rusak
Analisis untuk mengetahui masa simpan menggunakan metode
Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius. Sampel
disimpan pada inkubator dengan 3 suhu yang berbeda yaitu suhu 25°C,
35°C dan 45°C. Selanjutnya data yang diperoleh dari uji sensoris dirata-
rata kemudian diplot dalam grafik hubungan antara waktu (sumbu x)
dengan rata-rata skor sensoris pada masing masing suhu penyimpanan
(sumbu y) (Rizkianiputri et al., 2016). Prediksi umur simpan dilihat pada
nilai laju reaksi k pada suhu tertentu ditentukan dengan memasukkan
nilai suhu 1/T (oK) kedalam persamaan Arrhenius.
1. Kadar air
Tabel 5.6 Hasil Analisis Kadar Air Teh Daun Belimbing Wuluh
Hari ke
Kadar Air (%)
Suhu 25oC Suhu 35oC Suhu 45oC
0 4,0 4,1 4,6
4 5,0 4,2 5,4
7 4,2 3,3 4,7
11 3,9 4,6 3,5
14 3,5 3,2 3,4
berdasar tabel 5.6, hasil kadar air teh daun belimbing
wuluh menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar air total
pada teh daun belimbing wuluh yang disimpan dari masa
penyimpanan 0 hari sampai penyimpanan 14 hari pada inkubator
dengan suhu 25oC, 35oC, dan 45oC. Penurunan kadar air tetinggi
berada pada penyimpanan dengan suhu 45oC yaitu sebesar 1,2%.
sedang pada suhu 35oC memiliki persen penurunan kadar air
sebesar 0.9%, selanjutnya penurunan kadar air terendah berada
pada suhu 25oC yaitu sebesar 0,5%.
Aktivitas air (aw) menggambarkan derajat aktivitas air dalam
bahan pangan, baik kimia dan biologis. Aktivitas air sangat erat
kaitannya dengan kadar air dalam bahan terhadap daya simpan.
Semakin besar nilai aktivitas air maka semakin kecil daya tahan
bahan makanan begitu pula sebaliknya semakin kecil nilai
aktivitas air maka semakin lama daya simpan bahan makanan
ini . Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi
daya tahan bahan makanan terhadap serangan mikroba yang
dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhannya
. berdasar data yang telah
diperoleh kadar air pada produk teh herbal daun belimbing wuluh
menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar air total selama 14
hari penyimpanan. Pada suhu 250C kadar air awalnya yaitu 4,0%
kemudian turun pada hari ke-14 yaitu sebesar 3,5%. Begitupun
pada suhu 350C dan 450C mengalami penurunan 0,9% dan
1,2%. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa kadar air kurang
dari batas standar yang telah ditetapkan, dimana menurut SNI
3836:2013 syarat mutu teh kering kemasan berdasar kadar
airnya yaitu sebesar 8%, ini artinya kadar air dari teh herbal yang
dibuat sudah memenuhi standar SNI.
Proses penyimpanan dan kenaikan suhu akan meyebabkan
terjadinya penurunan kadar air. Perubahan kadar air dapat
disebabkan oleh kelembapan udara dari ruang penyimpanan
(Pertiwi dkk, 2020). Nilai kadar air yang rendah akan memiliki
umur simpan yang lebih lama sebab pertumbuhan mikroba
dan aktivitas enzim yang dapat merusak mutu pangan ini
dapat terhambat (Lisa dkk, 2015). Sebaliknya Kadar air yang
tinggi tentunya dapat menurunkan mutu pangan, baik dari segi
organoleptik maupun mikrobiologisnya. kadar air yang tinggi
akan mudah bagi kapang untuk tumbuh. Artinya stabilitas
mutu dan daya awet pangan sangat dipengaruhi oleh kadar air.
Selain itu Semakin rendah kadar air mengakibatkan semakin
tinggi kadar protein. (Normilawati et al., 2019)
2. Total mikroba
Tabel 5.7 Hasil Analisis Total Mikroba Teh Daun Belimbing Wuluh
Hari ke
Total Mikroba (CPU/gr atau mL)
Suhu 25oC Suhu 35oC Suhu 45oC
0 1,3 x 103 2,0 x 103 2,4 x 103
14 1,1 x 103 1.2 x 103 1,3 x 103
berdasar tabel 5.7, hasil analisis total mikroba teh daun
belimbing wuluh menunjukkan bahwa terjadi penurunan total
mikroba pada teh daun belimbing wuluh yang disimpan dari
masa penyimpanan 0 hari sampai penyimpanan 14 hari pada
inkubator dengan suhu 25oC, 35oC, dan 45oC. Penurunan total
mikroba tertinggi berada pada suhu 45oC yaitu sebesar 1,2 x 103.
sedang pada suhu 35oC terjadi penurunan total mikroba yaitu
sebesar 0,8 x 103. Kemudian penurunan total mikroba terendah
berada pada suhu 25oC yaitu terjadi penurunan sebesar 0,2 x 103.
Kapang termasuk salah satu jenis mikroba yang sering
ditemui pada hasil produk olahan, oleh sebab itu kapang
menjadi salah satu parameter untuk menentukan mutu dari
produk. Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapa
menghambat pertumbuhan organisme lainnya. Komponen ini
disebut antibiotik, misalnya penisilin yang diproduksi oleh
Penicillium chrysogenum, dan clavasin yang diproduksi
oleh Aspergillus clavatus. Sebaliknya, beberapa komponen
lain bersifat mikostatik atau fungistatik, yaitu menghambat
pertumbuhan kapang, misalnya asam sorbat, propionat dan
asetat, atau bersifat fungisidal yaitu membunuh kapang berdasar data hasil penelitian yang diperoleh
menunjukkan bahwa produk teh herbal daun belimbing
wuluh mengalami penurunan total mikroba yang disimpan
pada suhu berbeda yaitu 250 C, 350 C, dan 450 C selama 14
hari penyimpanan. Penurunan total mikroba tertinggi berada
pada penyimpanan dengan suhu 450 C yaitu sebesar 0,8 x
102. sedang penurunan total mikroba terendah berada
pada suhu 250 C yaitu terjadi penurunan sebesar 0,5 x 102.
Adapun pada suhu 350 C terjadi penurunan total mikroba yaitu
sebesar 0,7 x 102. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa
total mikroba pada teh herbal daun belimbing wuluh telah
memenuhi standar BPOM tahun 2019 dimana standar yang
ditetapkan yaitu sebesar 1x104 koloni/ml.
Penurunan kadar mikroba selama penyimpanan pada suhu
yang sama disebabkan sebab kapang/khamir bersifat aerob
artinya membutuhkan adanya oksigen untuk pertumbuhan.
Kondisi kemasan yang merupakan kondisi atmosfir dimodifikasi
dengan penambahan gas nitrogen memicu kandungan
oksigen di dalam kemasan menjadi hampir tidak ada sama
sekali. Hal ini memicu kapang/khamir yang ada pada teh
menjadi tidak dapat tumbuh
Hasil ini juga terjadi dengan penelitian Ismail dkk (2013) yang
menyatakan bahwa angka kapang dan khamir pada biji kopi
liberika mengalami penurunan selama 8 bulan penyimpanan.
Mengendalikan pertumbuhan dan kegiatan mikroba dapat
dilakukan dengan menggunakan perlakuan suhu tinggi. Pada
perlakuan ini , suhu maksimum pertumbuhan mikroba
akan bersifat mematikan dan semakin tinggi suhunya akan
semakin tinggi laju kematiannya
3. Penentuan masa simpan
Tabel 5.8 Masa Simpan Produk Teh Daun Belimbing Wuluh
Suhu (oC) Masa simpan (Hari)
25 112,0
35 60,74
45 39,67
berdasar tabel 5.8, menunjukkan hasil bahwa pada suhu
250C memiliki masa simpan 112 hari, sedang pada suhu
350C memiliki masa simpan selama 60 hari. Adapun produk
yang disimpan pada suhu 450C memiiliki masa simpan selama
39 hari. Penentuan umur simpan pada produk teh herbal
daun belimbing wuluh menggunakan metode akselerasi atau
ASLT model Arrhenius, yaitu produk dikemas menggunakan
aluminium foil dan disimpan dalam inkubator pada suhu
25ºC, 35ºC dan 45oC (298 K, 308 K dan 318 K) selama 14
hari. sesudah itu dilakukan pengamatan kadar air dan yang
dilakukan setiap hari ke- 4 untuk setiap suhu penyimpanan.
Kemasan aluminium foil dipilih sebab memiliki permeabilitas
dan kerapatan yang paling baik. Sifat-sifat yang dimiliki
alumunium foil memiliki densitas 2,7 g/cm paling baik untuk
bahan penghalang dari udara, cahaya, lemak, dan uap air,
memiliki sifat mekanis yang baik, memiliki sisi kilap dan
buram, rentan terlipat dan keriput, mudah dibentuk, konduktor
yang baik, bebas dari bau, dan suhu tinggi Kemasan alumunium foil pada serbuk wedang uwuh
memiliki permeabilitas uap air yang rendah dan mempunyai
kemampuan yang paling baik sebab laju peningkatan kadar
airnya paling kecil, sehingga alumunium foil merupakan
kemasan yang mampu mempertahankan umur simpan paling
lama dibandingkan dengan kemasan lainnya
Pendugaan umur simpan dilakukan dengan menghitung
energi aktivasi (E) yang diperoleh dari persamaan regresi
linier. Dengan persamaan Arrhenius yang didapat, maka dapat
dihitung nilai konstanta Arrhenius dengan masing-masing suhu
penyimpanan. Parameter yang memiliki nilai energi aktivasi
yang terendah merupakan parameter kunci. Selanjutnya umur
simpan dihitung menggunakan persamaan reaksi berdasar
orde reaksi terpilih. Selanjutnya memasukkan nilai suhu ke
dalam persamaan ln k (1/T). Nilai k yang didapat dimasukkan
dalam persamaan orde reaksi untuk mendapatkan umur simpan
berdasar data hasil perhitungan yang diperoleh
menunjukkan hasil bahwa pada suhu 250C memiliki masa
simpan 112 hari, sedang pada suhu 350C memiliki masa
simpan selama 60 hari. Adapun produk yang disimpan pada
suhu 450 C memiiliki masa simpan selama 39 hari. Dari hasil
ini dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu penyimpanan
semakin pendek umur simpan produk teh daun belimbing
wuluh. Hal ini menunjukkan kenaikan suhu memicu
semakin cepatnya laju reaksi yang memicu teh cepat
rusak sehingga umur simpannya semakin pendek. Laju reaksi
kimia semakin cepat pada suhu lebih tinggi yang berarti
penurunan mutu produk semakin cepat
Hal ini juga terjadi pada penelitian yang dilakukan
oleh Nuraini dan widanti (2020), dimana kue tradisional
Kembang goyang memiliki umur simpan paling lama
pada suhu 350 C dibandingkan suhu 450 C. Hasil ini
disebab kan tingkat kecepatan kerusakan kimiawi sebab
peningkatan belum terjadi pada penyimpanan suhu 350 C.
Kenaikan suhu dari ruang penyimpanan dingin ke suhu kamar
cenderung meningkatkan penguapan air. Akan tetapi, pada
suhu 450 C suhu sudah mempengaruhi percepatan kerusakan
kimia sehingga menjadi lebih cepat. Hal ini memicu
daya simpan sampel kembang goyang mengalami penurunan
pada suhu 450 C.
Teh herbal daun belimbing wuluh memiliki umur simpan
yang lebih pendek dibandingkan teh kantong kemasan yang
memiliki rata-rata umur simpan selama 6-8 bulan penyimpanan.
Hal ini diduga disebab kan nilai Energi Aktivasi teh daun
belimbing wuluh mempunyai nilai Energi Aktivasi yang tinggi.
Semakin tinggi nilai Ea menunjukan penurunan mutu lebih
cepat. Hasil energi aktivasi dapat dipengaruhi oleh adanya
faktor luar (suhu lingkungan dan lama penyimpanan) yang dapat
memicu perubahan kondisi, perubahan laju reaksi atau
menghasilkan reaksi yang tidak sempurna. Perubahan kondisi
ini dapat memicu terjadinya variasi terhadap nilai
energi aktivasi yang dimati
Terdapat tiga jenis zat gizi mikro yang diperiksa dalam produk
the dauh belimbing wuluh yakni kalsium (Ca), Kalium (K) dan
Vitamin C. Penentuan kadar mineral (kalium dan kalsium) teh daun
belimbing wuluh dilakukan dengan metode AAS (Atomic Absorbtion
Spektrofotometer) dan dilakukan Duplo (2x percobaan) dengan
tahap-tahap yaitu cawan porselin yang telah bersih diovenkan pada
suhu 105ºC selama 2 jam. Lalu dinginkan cawan dalam desikator
selama ½ jam kemudian ditimbang (a gram). Masukkan sampel
kedalam cawan porselen sebanyak 5 gram. Cawan porselin bersama
sampel dalam penetapan kadar air dimasukkan ke dalam tanur listrik.
Suhu tanur diatur hingga 600ºC, kemudian dibiarkan 3 jam sampai
menjadi abu. Biarkan agak dingin kemudian masukkan ke dalam
disekator selama ½ jam. Abu dalam cawan porselin pada penetapan
kadar abu ditambahkan 3-5 ml HCL pekat. Kemudian encerkan
dengan air suling hingga volume mendekati bibir cawan dan biarkan
bermalam. Tuang ke dalam labu ukur 100 ml. Bilas dengan air suling
hingga tanda garis lalu kocok hingga homogen (siap untuk penetapan
mineral). Lalu saring menggunakan kertas saring. Kemudian injekkan
ke alat AAS dan buat kurva standar sesuai logam yang akan di analisis.
Penentuan kadar Vitamin C teh daun belimbing wuluh
dilakukan dengan metode iodofotometri dan juga dilakukan Duplo
(2x percobaan) dengan tahap-tahap yaitu timbang ± 10 g sampel dan
masukkan kedalam labu ukur 100 ml. Tambahkan aquadest hingga
tanda garis 100 ml lalu kocok dan diamkan selama 30 menit lalu saring
larutan ini . Pipet 5-25 ml filtratnya lalu masukkan kedalam
erlenmeyer 125 ml. Tambahkan 2 ml amilum 1% dan tambahkan 20
ml aquadest jika perlu. Lalu titrasi dengan yodium 0.01 N.
Berikut yaitu hasil analisis kandungan gizi mikro produk the
herbal daun belimbing wuluh :
1. Kadar Kalsium (Ca)
Tabel 5.9 Hasil Analisis Kadar Kalsium (Ca) Pada Teh Herbal Daun
Belimbing Wuluh Per 100 Gr
Parameter Satuan
Percobaan
1 2
Kalsium Gram 1,49 1,56
Rata-Rata Gram 1,525
Kalsium (Penelitian Terdahulu) Gram 0,135
Tabel 5.9 menunjukkan kadar kalsium (ca) yang menggunakan
satu sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo)
secara berturut-turut yaitu 1,49% dan 1,56%. Rata-rata kadar
kalsium pada teh herbal daun belimbing wuluh yaitu 1,525%.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Iwansyah dkk tahun
2021 menunjukkan kadar kalsium pada daun belimbing wuluh
sebesar 0.135%, artinya kadar kalsium pada teh herbal daun
belimbing wuluh lebih tinggi dibandingkan dari kadar kalsium
pada penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah dkk.
Kalsium yaitu mineral yang paling berlimpah di dalam
tubuh, terutama ada di kerangka atau tulang. Makanan sumber
kalsium diantaranya yaitu susu dan beberapa kalsium juga
berasal dari hewan dan tumbuhan. Sumber kalsiumhewani seperti
sarden, ikan yang dimakan dengan tulang, termasuk ikan kering
merupakan sumber kalsium yang baik. Sumber kalsiumnabati
seperti serealia, kacang-kacangan,dan hasil olahan kacang-
kacangan seperti tempe dan tahu serta sayuran hijau merupakan
sumber kalsium yang baik pula (Wijayanti dkk, 2014).
Kadar kalsium dalam penelitian diperoleh dengan
menggunakan metode AAS (Atomic Absorbtion
Spektrofotometer). berdasar hasil analisis pada tabel 5.9
menunjukkan kadar rata-rata kalsium yang terkandung dalam
teh herbal daun belimbing wuluh yaitu 152,5 mg per 100
gram atau 10,67 mg dalam setiap sajian formula terpilih (7
gram). Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, kadar
kalsium pada analisis lab lebih tinggi daripada penelitian yang
dilakukan oleh Iwansyah (2021). Penelitian yang dilakukan oleh
Iwansyah mendapatkan kadar kalsium sebanyak 13,56 mg per
100 gram. Hasil ini memiliki selisih sebesar 138,94 gram
dan merupakan selisih yang signifikan dengan hasil analisis
kandungan kalsium pada penelitian ini.
Perbedaan kadar kalsium pada teh herbal daun belimbing
wuluh ini dapat dipengaruhi pada proses pembuatan. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah (2021) daun belimbing
wuluh buat menjadi ekstrak bubuk daun belimbing wuluh
yang melalui perendaman ethanol 96% selama 24 jam (3
kali), pengeringan pada suhu 50°C serta evaporasi pada suhu
4°C. sedang dalam penelitian ini daun belimbing wuluh
hanya melalui pengeringan dengan suhu 55°C sebanyak 1 kali.
Untuk proses analisis kalsium pada penelitian Iwansyah (2021)
menggunakan metode yang sama dengan penelitian ini yaitu
dengan metode AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotometer).
Kadar kalsium dalam suatu bahan dapat berkurang pada
saat perendaman menggunakan ethanol selama 24 jam (3 kali).
Waktu perendaman berpengaruh terhadap penurunan kadar
kalsium suatu bahan. Semakin lama bahan ini direndam,
maka tekanan air pada dinding sel suatu bahan akan semakin
meningkat sehingga kristal kalsium didalam sel terdesak keluar
dan terlarut dalam larutan perendam kemudian ikut terbuang
bersama air rendaman
Dalam metode penetapan kadar mineral dibutuhkan metode
dengan pengoksidasian yang tepat. Metode AAS merupakan
salah satu metode yang sering digunakan dalam analisis mineral.
Metode ini sering digunakan sebab pengerjaannya yang relatif
sederhana, sensitif, akurat dan analisisnya teliti dan cepat
Dalam penelitian Iwansyah
maupun penelitian ini sama-sama menggunakan metode AAS
untuk penetapan kadar kalsium dalam daun belimbing wuluh.
Secara keseluruhan teh herbal daun belimbing wuluh
ini hanya memenuhi kebutuhan kalsium harian sebanyak
0,95%. Teh herbal daun belimbing wuluh tidak bisa memenuhi
kebutuhan kalsium meskipun dikonsumsi 2-3x perharinya. Teh
63BAB V
herbal daun belimbing wuluh tidak dapat dijadikan sebagai
sumber utama kebutuhan kalsium harian sehingga dalam
pemenuhannya kalsium dapat diperoleh dari bahan pangan
lainnya. Misalnya konsumsi susu ataupun sayuran hijau.
Diperlukan kadar kalium yang cukup setiap harinya agar dapat
menjaga tekanan darah. Kekurangan kalsium yang terlalu lama
memicu dikeluarkannya kalium dari jaringan otot sehingga
memicu manifestasi keluar dari otot jantung memicu
melemahnya kontraksi otot jantung dan menurunnya volume
sekuncup, sehingga aliran darah akan menurun, keluar dari otot
pembuluh darah akan memicu kontraksi, vasokontriksi
dan meningkatkan tekanan darah tinggi (Bingan, 2019).
2. Kadar Kalium (K)
Tabel 5.10 menunjukkan kadar kalium yang menggunakan satu
sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo)
secara berturut-turut yaitu 152 mg dan 145 mg per 100 gram
sampel. Rata-rata kadar kalium pada teh herbal daun belimbing
wuluh yaitu 148,5 mg per 100 gram sampel. Penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh Iwansyah dkk tahun 2021 menunjukkan
kadar kalium pada daun belimbing wuluh sebesar 110,69 mg
per 100 gram sampel, artinya kadar kalium pada teh herbal daun
belimbing wuluh lebih tinggi dari kadar kalium pada penelitian
yang dilakukan oleh Iwansyah dkk, 2021.
Tabel 5.10 Hasil Analisis Kadar Kalium (K) Pada Teh Herbal Daun
Belimbing Wuluh Per 100 Gr
Parameter Satuan
Percobaan
1 2
Kalium Mg 152 145
Rata-Rata Mg 148,5
Kalium (Penelitian Terdahulu) Mg 110,69
Kadar kalium dalam penelitian ini hanya memenuhi 0,22%
kebutuhan kalium harian. Teh herbal daun belimbing wuluh
tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun dikonsumsi
2-3x perharinya. Oleh sebab itu, dalam memenuhi kebutuhan
kalium dibutuhkan konsumsi bahan makanan yang lain seperti
sayuran dan buah-buahan. Teh herbal daun belimbing wuluh
tidak dapat dijadikan sebagai sumber utama kebutuhan kalium
sebab kandungannya yang sangat kecil tiap sajiannya.
Kalium merupakan salah satu elektrolit yang berperan
penting dalam tubuh. Kalium yaitu ion bermuatan positif
dan terdapat di dalam sel. Kalium diabsorpsi di usus halus dan
sebanyak 80-90% kalium yang dikonsumsi diekskresi melalui
urin, sisanya dikeluarkan melalui feses, keringat dan cairan
lambung. Kalium berfungsi dalam pemeliharaan keseimbangan
cairan dan elektrolit, keseimbangan asam basa, transmisi saraf
dan relaksasi otot. Kalium banyak terdapat dalam bahan makanan
mentah atau segar
Kadar kalium dalam penelitian diperoleh dengan menggunakan
metode AAS (Atomic Absorbtion Spektrofotometer). berdasar
hasil analisis pada tabel 5.10 menunjukkan kadar rata-rata
kalium yang terkandung dalam teh herbal daun belimbing
wuluh yaitu 148,5 per 100 gram atau 10,39 mg dalam setiap
sajian formula terpilih (7 gram). Jika dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya, kadar kalium pada analisis laboratorium
lebih tinggi daripada penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah
(2021). Penelitian yang dilakukan oleh Iwansyah mendapatkan
kadar kalium sebanyak 110,69 mg per 100 gram. Hasil ini
memiliki selisih sebesar 37,81 mg dan merupakan selisih yang
signifikan dengan hasil analisis kandungan kalsium pada
penelitian ini. Namun, selisih hasil analisis kalium ini jauh lebih
rendah daripada hasil analisis kalsium.
Kadar kalium pada suatu bahan dapat berkurang sebab
adanya perbedaan proses pada saat pembuatan bubuk daun
belimbing wuluh.
merendam bahan dengan ethanol 96% selama 24 jam (3 kali).
kadar kalium dalam bahan makanan dapat mengalami
penurunan jika direndam. Semakin lama waktu yang digunakan
untuk merendam maka semakin kecil pula kadar kalium
yang tersisa dalam bahan makanan ini . Hal ini terjadi
sebab kalium memiliki sifat yang mudah larut dan teroksidasi
(Setyarini dkk, 2013). Perendaman bahan makanan dapat
mengakibatkan terjadinya pemutusan interaksi mineral dengan
komponen pangan lain seperti protein, karbohidrat, lemak, serat
vitamin dan komponen kimia lainnya. Kelarutan mineral dapat
meningkat atau menurun tergantung pada prosesnya
Kadar kalium berpengaruh terhadap tekanan darah jika
kadar natrium di dalam tubuh meningkat tetapi jika kadar
natrium normal atau kurang di dalam tubuh maka tidak
berpengaruh. Mekanisme penurunan tekanan darah oleh kalium
yaitu: pertama, kalium dapat menurunkan tekanan darah dengan
vasodilatasi sehingga memicu penurunan retensi perifer
total dan meningkatkan output jantung. Kedua, kalium dapat
menurunkan tekanan darah dengan kasiat sebagai diuretik,
sehingga pengeluaran natrium dan cairan meningkat. Ketiga,
kaium dapat mengubah aktivitas renin angiotensin. Kalium
dapat mengurangi sekresi renin yang memicu penurunan
angiotensin II sehingga vasokonstriksi pembuluh darah berkurang
dan menurunnya aldosteron sehingga reabsorpsi natrium dan air
ke dalam darah berkurang. Kalium juga mempunyai efek dalam
pompa Na-K yaitu kalium dipompa dari cairan ekstra selular ke
dalam sel, dan natrium dipompa keluar. Sehingga kalium dapat
menurunkan tekanan darah. Keempat, kalium dapat mengatur
saraf perifer dan sentral dan mempengaruhi tekanan darah
3. Kadar Vitamin C
Tabel 5.11 menunjukkan kadar vitamin C yang menggunakan
satu sampel dan mendapat perlakuan uji selama dua kali (duplo)
yaitu 13 mg per 100 gram sampel. Rata-rata kadar vitamin C
pada teh herbal daun belimbing wuluh yaitu 13 mg per 100
gram sampel. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kumar
dkk tahun 2013 menunjukkan kadar vitamin C pada daun
belimbing wuluh sebesar 0.30 mg per 100 gram sampel, artinya
kadar vitamin C pada teh herbal daun belimbing wuluh lebih
tinggi dibandingkan dari kadar kalsium pada penelitian yang
dilakukan oleh Kumar dkk, 2011.
Tabel 5.11 Hasil Analisis Kadar Vitamin C (Ca) Pada Teh Herbal Daun
Belimbing Wuluh Per 100 Gr
Parameter Satuan
Percobaan
1 2
Vitamin C mg 13 13
Rata-Rata mg 13
Kalsium (Penelitian Terdahulu) mg 0,30
Teh herbal daun belimbing wuluh hanya memenuhi 1,01%-
1,21% kebutuhan vitamin C harian. Teh herbal daun belimbing
wuluh tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun
dikonsumsi 2-3x perharinya. Oleh, sebab itu dalam pemenuhan
kebutuhan vitamin C harian diperlukan kombinasi dari bahan
pangan lain sebab teh herbal daun belimbing wuluh pada
penelitian ini tidak bisa menjadi sumber utama pemenuhan
kebutuhan vitamin C harian.
67BAB V
Kadar vitamin C suatu bahan dapat berkurang sebab adanya
perbedaan proses pengolahan pada saat pembuatan bubuk daun
belimbing wuluh. merendam bahan dengan ethanol 96% selama 24 jam (3
kali). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Evi dan Hanifa
(2020) vitamin C memiliki sifat yang mudah larut dalam air
dan juga mudah teroksidasi oleh udara luar maupun terkena
panas. Vitamin C mudah larut dalam air pada waktu mengalami
proses pengirisan, pencucian, dan perebusan bahan yang akan
memicu penurunan kadar vitamin C. Kandungan vitamin
C dalam buah dan makanan akan rusak sebab proses oksidasi
oleh udara dari luar, terutama jika dipanaskan
Vitamin C yaitu vitamin yang berperan penting dalam
antioksidan yang mampu menetralkan radikal bebas di seluruh
tubuh. Adapun sumber vitamin C umumnya terdapat pada bahan
pangan nabati, misalkan sayuran dan buah-buahan (Kurniawati
and Riandini, 2019). Vitamin C yaitu vitamin yang tergolong
vitamin yang larut dalam air. Asupan gizi rata-rata sehari sekitar
30 sampai 100 mg vitamin C yang dianjurkan untuk orang
dewasa. Namun, terdapat variasi kebutuhan dalam individu yang
berbeda
Kadar vitamin C dalam penelitian ini diperoleh dengan
mengunakan metode Iodofotometri. berdasar hasil analisis
pada tabel 5.11 menunjukkan kadar rata-rata vitamin C yang
terkandung dalam teh herbal daun belimbing wuluh yaitu
13 mg per 100 gram atau 0,91 mg dalam 0,91 mg dalam setiap
sajian formula terpilih (7 gram). Jika dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya, kadar vitamin C pada analisis lab lebih
tinggi daripada penelitian yang dilakukan
mendapatkan kadar vitamin C sebesar 0,30 mg per 100 gram.
Hasil ini memiliki selisih sebesar 12,7 mg dan merupakan
selisih yang signifikan dengan hasil analisis kandungan kalsium
pada penelitian ini.
Vitamin yaitu senyawa organik yang termasuk bahan
makanan esensial yang diperlukan oleh tubuh, tetapi tubuh
sendiri tidak dapat mensintesisnya. Vitamin dapat dikelompokan
menjadi dua golongan yaitu vitamin yang dapat larut dalam air
dan vitamin yang larut dalam lemak. Jenis vitamin yang larut
dalam dalam air terdiri dari vitamin B dan vitamin C. Vitamin
yang dapat larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E dan K.
Vitamin-vitamin yang larut dalam air bergerak bebas dalam
badan, darah dan limpa. Sifatnya yang mudah larut dalam air
memicu vitamin ini mudah rusak dalam pengolahan dan
mudah hilang sebab tercuci atau terlarut oleh air
Kandungan vitamin C merupakan salah satu antioksidan
yang dapat menurunkan tekanan darah sekitar 5 mmHg, melalui
perannya memperbaiki kerusakan arteri sebab hipertensi.
Vitamin C membantu menjaga tekanan darah normal dengan
cara meningkatkan pengeluaran timah dari tubuh dan membuat
pembuluh darah menjadi elastis (Huwae et al., 2021).
Teh herbal daun belimbing wuluh hanya memenuhi 1,01%-
1,21% kebutuhan vitamin C harian. Teh herbal daun belimbing
wuluh tidak bisa memenuhi kebutuhan kalium meskipun
dikonsumsi 2-3x perharinya. Oleh, sebab itu dalam pemenuhan
kebutuhan vitamin C harian diperlukan kombinasi dari bahan
pangan lain sebab teh herbal daun belimbing wuluh pada
penelitian ini tidak bisa menjadi sumber utama pemenuhan
kebutuhan vitamin C harian.
4. Perbandingan
Data pada tabel 5.12 menunjukkan dalam 7 gram teh herbal daun
belimbing wuluh mengandung kalsium sebesar 10,67 mg, kalium
sebesar 7,74 mg dan vitamin C sebesar 0,91 mg. Adapun menurut
Angka Kecukupan Gizi tahun 2019 diketahui kebutuhan harian
untuk mineral kalsium dan kalium berturut-turut yaitu 1120
mg dan 4700 mg serta kebutuhan vitamin C harian sebesar 90
mg untuk laki-laki dan 75 mg untuk perempuan. Teh herbal
daun belimbing wuluh memenuhi kebutuhan harian mineral
kalsium dan kalium sebanyak 0,95% dan 0,16% sedang
untuk kebutuhan vitamin C harian teh herbal belimbing wuluh
memenuhi sebanyak 1,01% untuk laki-laki dan 1,21% untuk
perempuan.
Tabel 5.12 Analisis Zat Gizi Mikro (Ca,K dan Vitamin C) Pada Teh
Herbal Daun Belimbing Wuluh Per Sajian (7 Gram Formula
Terpilih).
Parameter Satuan
Hasil
Lab
Per
Sajian
%Kebutuhan Harian (AKG 2019)
L P
Ca mg 152,5 10,67 0,95% 0,95%
K mg 148,5 10,39 0,22% 0,22%
Vitamin C mg 13 0,91 1,01% 1,21%
Sumber : Data Primer, 2022
Kalium merupakan elektrolit intraseluler yang utama,
sebanyak 98% kalium tubuh berada dalam sel dan 2% sisanya
untuk fungsi neuromuskuler. Kalium mempengaruhi aktivitas
baik otot skeletal maupun otot jantung. Kalium berfungsi
sebagai pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta
keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan
dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium
berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik,
terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan
protein.
Kandungan kalium sendiri diketahui dapat menurunkan
tekanan darah dengan mengurangi kandungan natrium dalam
urine dan air dengan cara yang sama seperti diuretik. Penelitian
epidemiologi menunjukkan bahwa asupan rendah Kalium akan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah
Beberapa mekanisme bagaimana kalium dapat menurunkan
tekanan darah sebagai berikut : Kalium dapat menurunkan
tekanan darah dengan vasodilatasi sehingga memicu
penurunan retensi perifer total dan meningkatkan output
jantung. Penurunan tekanan darah terjadi sebab kandungan
kalium yang memicu penghambatan pada Sistem Renin
Angiotensin juga memicu terjadinya penurunan sekresi
aldosteron, sehingga terjadi penurunan reabsorpsi natrium dan
air di tubulus ginjal. Akibat dari mekanisme ini , maka
terjadi peningkatan diuresis yang memicu berkurangnya
volume darah, sehingga tekanan darah pun menjadi turun
Kalsium yaitu unsur terbanyak penyusun di dalam tubuh
manusia pada urutan kelima, yakni sebesar 1,5 - 2 % per berat
tubuh . Keperluan kalsium dalam
tubuh biasanya dihitung dengan keseimbangan nitrogen. Orang
dewasa memerlukan 700 mg (0,7 g) kalsium/hari Peranan kalsium dalam tubuh manusia pada
umumnya dapat dibagi 2, yaitu membantu membentuk tulang
dan gigi dan mengukur proses biologis dalam tubuh. Selain itu
kalsium juga memegang peranan penting pada berbagai proses
fisiologik dan biokemik dalam tubuh, seperti pada pembekuan
darah, eksitabilitas syaraf otot, kerekatan seluler, transmisi
impuls syaraf, memelihara dan meningkatkan fungsi membran
sel, mengaktifkan reaksi enzim dan sekresi hormon
Kalsium juga mempunyai peran terhadap regulasi tekanan
darah, diantaranya yaitu menurunkan aktivitas sistem renin-
angiotensin, meningkatkan keseimbangan natrium dan kalium,
serta menghambat konstriksi pembuluh darah. Jika asupan
kalsium kurang dari kebutuhan tubuh maka untuk menjaga
keseimbangan kalsium dalam darah, hormon paratiroid
menstimulasi pengeluaran kalsium dari tulang dan masuk ke
darah
Kalsium menurunkan tekanan darah dengan mekanisme
seperti kalsium antagonis. Antagonis kalsium yang bekerja
menurunkan tekanan darah dengan memblokade masukknya
kalsium ke dalam darah. Sehingga dengan menghambat
kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah, pembuluh
darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan
tekanan darah akan menurun (Misnawati et al., 2021). Kalsium
yang rendah pemicu tekanan darah tinggi yang dipicu oleh
pelepasan hormon paratiroid atau renin yang memicu
peningkatan kalsium intraseluler pada vascular smooth muscle
dan memicu vasokontriksi
PENGARUH PEMBERIAN TEH HERBAL
DAUN BELIMBING WULUH TERHADAP
TEKANAN DARAH
METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dalam hal
ini quasi experimental dengan the non randomized pre-test post test
with control group desaign. Quasi experimental mempunyai kelompok
control, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol
variabel – variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.
Populasi dalam penelitian ini yaitu penderita hipertensi yang
memiliki tekanan darah ≥ 140/90mmHg yang tercatat di wilayah kerja
Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar Tahun 2021. Selanjutnya
sampel penelitian ini yaitu semua pasien hipertensi yang tercatat
di Wilayah Kerja Puskesmas Paccerakkang Kota Makassar serta
memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu
50 orang penderita hipertensi yang dibagi kedalam 2 kelompok
perlakuan yakni kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sampel
dipilih menggunakan metode purposive sampling yaitu penentuan
sampel berdasar kriteria inklusi dan ekslusi.
73
Adapun kriteria inklusi dan kriteria eksklusi penelitian yaitu
sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi sebagai berikut:
a. Memiliki tekanan darah ≥ 140/90mmHg - 180/110 mmHg
b. Responden yang berusia 30 - 65 tahun.
c. Bisa berkomunikasi dengan baik
d. Menetap di Kota Makassar
e. Bersedia diberikan teh belimbing wuluh selama 14 hari
2. Kriteria Eksklusi sebagai berikut:
a. Responden yang tidak berpartisipasi secara penuh dalam
peneltian
b. Memiliki penyakit komplikasi (Misal : ginjal, jantung, sroke,
DM, Ginjal)
c. Pasien dengan hipertensi berat ≥180/110 mmHg.
3. Kriteria dropout :
a. Tidak bersedia melanjutkan penelitian
b. Meninggal dunia
c. Mengalami perawatan di rumah sakit
d. Tidak mengonsumsi teh herbal sebanyak lebih dari 3 hari
Berikut yaitu penjelasan rinci terkait pemberian intervensi
disetiap kelompok perlakuan :
1. Kelompok Intervensi
a. Setiap responden yang masuk kelompok intervensi diberikan
Teh daun belimbing wuluh 14 kemasan untuk dikonsumsi
satu kali sehari selama 14 hari, kemudian diberikan pelatihan
cara membuat teh daun belimbing wuluh.
b. Setiap responden akan di lakukan pengukuran tekanan darah
2 kali pada sebelum intervensi dan sesudah intervensi pada
hari ke 15, diberikan edukasi mengenai diet dan aktifitas
fisik pencegahan hipertensi selama 1 kali pada saat awal
intervensi. Edukasi dilakukan secara individu dan diberikan
leaflet.
c. Responden diberikan kartu kontrol minum teh herbal daun
belimbing wuluh agar di isi setiap kali responden minum yang
berisi hari dan tanggal waktu meminum serta banyaknya teh
herbal yang diminum. Responden ditekankan untuk hanya
mengisi kartu kontrol ini ketika hanya meminum teh
daun belimbing wuluh.
2. Kelompok Kontrol
Setiap responden dilakukan pengukuan tekanan darah 2 kali
sebelum diberikan edukasi dan sesudah hari ke 15 intervensi,
diberikan edukasi mengenai diet dan aktifitas fisik pengendalian
hipertensi selama 1 kali pada saat awal intervensi. Edukasi
dilakukan secara individu dan diberikan leaflet.
Intervensi edukasi pada semua kelompok hanya diberikan pada
awal penelitian dengan metode edukasi perorangan dan diberikan
leaflet pengetahuan mengenai hipertensi dan dietnya. Untuk
monitoring kepatuhan minum responden pada kelompok yang
diberikan intervensi teh daun belimbing wuluh 7 gram (1 kali sehari)
peneliti mengunjungi rumah responden satu kali sebelum pemberian
intervensi untuk memberikan teh daun belimbing wuluh dan
mengukur tekanan darah. Untuk memantau responden meminum
teh daun belimbing wuluh dan mengisi lembar monitoring, peneliti
memonitoring melalui panggilan telepon atau via whatsapp grup.
Pada saat melakukan pemeriksaan tekanan darah, responden
juga melakukan pengukuran antropometri yaitu penimbangan berat
badan (BB) dan Tinggi badan (TB) serta dilakukan recall 24 jam.
Hari berikutnya kelompok intervensi mulai meminum teh daun
belimbing sampai 14 hari begitu juga dengan kelompok kontrol
seluruh responden mulai diberikan edukasi gizi. sesudah masuk hari
ke 15 responden dilakukan pengukuran tekanan darah, pengukuran
antropometri sekalikus melakukan recall 24 jam pada kedua
kelompok.
Dalam penelitian ini juga dilakukan control kualitas yang
dimaksudkan untuk melakukan monitoring terhadap semua tahapan
proses penelitian yang memungkinkan mendekati keadaan yang
sebenarnya dan memperoleh teori yang baik sebagai dasar kajian
ilmiah. Sebelum diberikan intervensi terhadap responden, responden
diukur terlebih dahulu tekanan darah. Penggunaan alat ukur yang
tidak rusak dan siap dipakai. Selain itu, alat ukur ini sudah diuji
kalibrasi dan reabilitasnya yang mencakup dua hal yaitu Stabilitas
dan Kesamaan. Stabilitas yaitu konsistensi hasil pengukuran
satu ke pengukuran lainnya oleh seorang pengamat dan terhadap
subjek penelitian yang sama dan dengan instrument yang sama pula
(konsistensi pengamat).
Peneliti menggunakan food recall dan checklist yang diisi oleh
keluarga atau pengawas pendamping teh herbal untuk mendapatkan
hasil apakah pemberian intervensi diminum atau tidak.Selanjutnya,
untuk memudahkan proses penelitian, peneliti juga memperlihatkan
kode etik persetujuan penelitian efek teh daun belimbing
wuluh terhadap responden. Sehingga pasien bisa lebih percaya
menandatangani informed consent (persetujuan untuk mengikuti
penelitian).
Dalam penelitian ini dilakukan 2 jenis analisis yakni
analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat untuk
menderskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti
meliputi karakteristik responden, variabel bebas, dan variabel terikat
dalam penelitian. Analisis bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen. Sebelum melakukan
uji statistik untuk menguji hipotesis, dilakukan uji normalitas
menggunakan uji Shapiro-Wilk. Untuk melihat pengaruh sebelum
dan sesudah intervensi digunakan uji berpasangan. Untuk variabel
tekanan darah tidak terdistribusi normal sehingga digunakan uji
Wilcoxon sedang variabel asupan terdistribusi normal sehingga
digunakan uji Independent Sampel T-test.
HASIL INTERVENSI PEMBERIAN TEH HERBAL
DAUN BELIMBING WULUH
Hasil uji coba pemberian produk teh herbal daun belimbing wuluh
pada lansia penderita hipertensi dapat dilihat pada beberapa tabel
berikut :
Tabel 6.1 Karakteristik Responden Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok
Kontrol
Variabel
Intervensi Kontrol
pvaluen
(n=25)
% n (n=25) %
Umur (Tahun)
30 – 40 3 12.0 4 16.0
0.380
41 – 50 10 40.0 4 16.0
51 – 60 10 40.0 16 64.0
> 60 2 8.0 1 4.0
Jenis Kelamin
Laki-Laki 3 12.0 4 16.0
0.684
Perempuan 22 88.0 21 84.0
Indeks Massa Tubuh
Kurus 0 0 3 12.0
0.200Normal 19 76.0 18 72.0
Gemuk 6 24.0 4 16.0
77BAB VI
Variabel
Intervensi Kontrol
pvaluen
(n=25)
% n (n=25) %
Pekerjaan
Tidak bekerja/IRT 20 80.0 14 56.0
0.335
PNS/TNI/Polri/
BUMN
3 12.0 6 24.0
Pegawai Swasta 1 4.0 3 12.0
Pedagang/Wiraswasta 1 4.0 2 8.0
Pendidikan
Tidak sekolah 2 8.0 1 4.0
0.861
SD 6 24.0 4 16.0
SMP 7 28.0 8 32.0
SMA 7 28.0 7 28.0
Tamat Perguruan
Tinggi (D3/S1/S2/S3)
3 12.0 5 20.0
Riwayat Hipertensi
(Tahun)
≤ 1 4 16.0 3 12.0
0.892
1 - 2 17 68.0 18 72.0
3 - 4 3 12.0 3 12.0
≥5 1 4.0 1 4.0
Konsumsi Buah dan
Sayur
Ya 19 76.0 15 60.0
0.225
Tidak 6 24.0 10 40.0
Konsumsi Obat
Ya 8 32.0 4 16.0
0.185
Tidak 17 68.0 21 84.0
Tabel 6.1 menunjukan bahwa responden terbanyak berada pada
umur 51-50 tahun dan 51-60 tahun (40%) kelompok intervensi dan
pada kelompok kontrol yaitu umur 51-60 tahun (64%). Sebagian
besar responden berjenis kelamin perempuan baik pada kelompok
intervensi (88%) maupun kelompok kontrol (84%). Dalam hal status
gizi berdasar nilai Indeks Massa Tubuh, paling banyak responden
masuk kategori normal. Sebagian besar responden tidak bekerja dan
memiliki tingkat Pendidikan sampai Tamat SMP maupun SMA.
Responden telah menderita hipertensi sekitar 1-2 tahun baik pada
kelompok intervensi (68%) maupun pada kelompok control (72%).
berdasar konsumsi sayur dan buah terbanyak kategori Ya pada
kelompok intervensi sebesar 76% dan pada kelompok kontrol sebesar
60%. berdasar konsumsi obat hipertensi terbanyak pada kategori
tidak mengonsumsi baik pada kelompok intervensi 68% maupum
kelompok kontrol 84%. berdasar Tabel 6.1 diketahui bahwa tidak
terdapat perbedaan signifikan terkait karakteristik kedua kelompok
perlakuan (p>0.05) dalam artian, kelompok intervensi maupun
kelompok kontrol memiliki karakteristik yang mirip.
Tabel 6.2 Hasil Analisis Perbedaan Rata-Rata (Δ) Asupan Responden Sebelum
dan Sesudah Intervensi
Variabel
Sebelum
(mean±SD)
Sesudah
(mean±SD)
pvaluea (D) pvalueb
Energi (kkal)
Intervensi(n=25) 1065.8±407.9 876.3±220.6 0.069 -189.4±460.9
0.854
Kontrol (n=25) 1242.6±455.7 1022.3±291.8 0.078 -220.1±529.8
Kabrohidrat (g)
Intervensi(n=25) 142.2±65.9 122.4±26.8 0.156 -20.0±68.5
0.248
Kontrol (n=25) 162.8 + 85.5 133.0±46.1 0.078 -29.7±84.2
Protein (g)
Intervensi(n=25) 46.3±20.0 37.1±9.8 0.040 -9.1±21.1
0.839
Kontrol (n=25) 62.3±50.9 56.0±61.2 0.476 -6.2±76.2
Lemak (g)
Intervensi(n=25) 34.4±23.4 26.2±13.3 0.253 -8.2±27.2
0.977
Kontrol (n=25) 36.0±22.3 28.4±14.8 0.127 -7.5±23.8
Serat (mg)
Intervensi(n=25) 5.4±3.0 4.9±2.9 0.532 -0.5±4.1
0.977
Kontrol (n=25) 5.4±3.1 4.6±2.1 0.326 -0.7±3.8
Natrium (mg)
Intervensi(n=25) 196.9±218.6 158.4±137.9 0.882 -38.4±260.3
0.541
Kontrol (n=25) 158.4±137.9 229.2±264.0 0.313 -98.4±429.0
Kalium (mg)
Intervensi(n=25) 1238.7±589.1 969.8±381.9 0.040 -268.9±617.7
0.677
Kontrol (n=25) 1330.8±824.8 1010.9±542.2 0.137 319.9±1040.0
aWilcoxon Signed Rank Test, b Mann-Whitney Test
Hasil Uji analisis pada asupan makan terlihat pada tabel
6.2 menunjukkan perbedaan sesudah intervensi pada kelompok
intervensi dan kelompok kontrol asupan zat gizi makro energi (kcal)
masing-masing p=0.069 dan p=0.078, Asupan karbohidrat dengan
nilai p=0.156 dan p=0.078, Asupan protein dengan nilai p=0.040 dan
p=0.476. Asupan lemak dengan nilai p= 0.235 dan p=0.127. Pada zat
gizi mikro Asupan serat dengan nilai p=0.532 dan p=0.326, Asupan
natrium dengan nilai p=0.882 dan p=0.313, Asupan kalium dengan
nilai p=0.040 dan p=0.137. Tabel 6.2 tidak terdapat perbedaan selisih
asupan zat gizi makro yang signifikan antara kelompok intervensi
dan kelompok kontrol pada energy, karbohidrat,protein dan lemak
sesudah dilakukan intervensi dengan nilai p>0.05. Pada asupan zat gizi
mikro tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih rata -rata
asupan , serat, natrium dan kalium dengan nilai p>0.05.
Tabel 6.3 Hasil analisis Perbedaan Rata-Rata (Δ) Tekanan darah Sebelum dan
Sesudah Intervensi
Variabel
Sebelum
(mean±SD)
Sesudah
(mean±SD)
pvaluea (D) pvalueb
Sistolik (mmHg)
Intervensi (n=25) 158,1±6,6 138.24±8,8 0.000 -19,9±9,2
0,000
Kontrol (n=25) 156,6±9,1 154.84±8,4 0.001 -1,7±2,2
pvalue 0,201 0,000
Diastolik (mmHg)
Intervensi (n=25) 94,3±4,2 84,6±3,9 0.000 -9,6±5,1
0,000
Kontrol (n=25) 94,5±4,7 92,7±3,8 0.007 -1,8±3,5
pvalue 0,937 0,000
a Wilcoxon Signed Rank Test, b Mann-Whitney Test
berdasar Tabel 6.3 menunjukkan bahwa tekanan darah
sistolik pada kelompok intervensi mengalami penurunan sesudah
diberikan teh herbal daun belimbing wuluh dari 158,1 mmHg menjadi
13,.24 mmHg (p=0.000). Tekanan darah sistolik pada kelompok
control juga mengalami penuruhan dari 156.60 mmHg menjadi
154.84 mmHg (p=0.000). Selanjutnya, tekanan darah diastolic juga
mengalami penurunan baik pada kelompok intervensi (94.32 mmHg
menjadi 84.68 mmHg) maupun pada kelompok control (94.56
mmHg menjadi 92.76 mmHg). Pada Tabel 6.3 juga terlihat bahwa
rata-rata tekanan darah baik sistolik maupun diastolic sebelum
pemberian intervensi tidak berbeda signifikan antara kelompok
intervensi dan juga kelompok control. Akan tetapi sesudah pemberian
the daun herbal belimbing wuluh selama 14 hari, terdapat perbedaan
signifikan antara rata-rata tekanan darah kelompok intervensi dan
kelompok kontrol.
Penelitian ini menyatakan bahwa teh herbal daun belimbing
wuluh sangat baik untuk diberikan kepada penderita hipertensi,
sebab terbukti mampu menurunkan tekanan darah penderita
hipertensi, baik tekanan darah sistolik maupun diastolik. Penurunan
tekanan darah pada kelompok perlakuan sendiri terjadi sebab pasien
hipertensi mau meminum teratur selama 7 hari sesuai dengan cara
dan jumlah takaran yang telah direkomendasikan . Hasil penelitian pengaruh teh herbal terhadap tekanan darah
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan. Hal ini disebabkan
terdapat kandungan flavanoid dan kalium dalam teh herbal daun
belimbing wukuh yang berfungsi dalam menurunkan tekanan darah
Penelitian yang dilakukan oleh Dhonna 2018
menyatakan bahwa Pemberian air rebusan daun belimbing wuluh
selama 1 bulan dapat menurunkan tekanan darah pada ibu hamil
yang hipertensi dengan nilai p=0.005
Pada hasil penelitian kebiasaan makan yang berhubungan dengan
kejadian hipertensi yaitu konsumsi buah dan sayur dan minuman
beralkohol. Kebiasaan pola makan dapat dilihat dari informasi
recall 24 jam sebelum dan sesudah intervensi. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah bisa dicegah dengan
mengkonsumsi antioksidan sejak dini Dalam hal
ini, antioksidan mampu menangkap radikal bebas dan mencegah
dimulainya proses kerusakan pembuluh darah. Radikal bebas yaitu
suatu molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki
elektron yang tidak berpasangan. Mengkonsumsi sayur-sayuran
dan buah-buahan dalam porsi yang memadai akan menjadi sumber
asupan antioksidan bagi tubuh
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh
darah bisa dicegah dengan mengkonsumsi antioksidan sejak dini.
Dalam hal ini, antioksidan mampu menangkap radikal bebas
dan mencegah dimulainya proses kerusakan pembuluh darah.
Radikal bebas yaitu suatu molekul oksigen dengan atom pada
orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. sebab
kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar,
dan radikal. Dalam hal ini, antioksidan mampu menstabilkan radikal
bebas dengan melengkapi kekurangan elektronnya dan menghambat
terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat
memicu stress oksidatif
Antioksidan terbagi atas dua jenis, yakni antioksidan endogen
dan eksogen. Antioksidan endogen berupa enzim dalam tubuh,
misalnya superoksida dismutase (SOD), glutathion, dan katalase.
sedang , antioksidan eksogen mencakup beta karoten, vitamin
C, vitamin E, zinc (Zn), dan selenium (Se). Mengkonsumsi sayur-
sayuran dan buah-buahan dalam porsi yang memadai akan menjadi
sumber asupan antioksidan bagi tubuh
Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang
dibutuhkan tubuh. Oleh sebab itu, tidak ada penetapan kebutuhan
natrium sehari. Taksiran kebutuhan natrium sehari untuk orang
dewasa yaitu sebanyak 500 mg. menganjurkan
pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (ekivalen
dengan 2400 mg natrium). Pembatasan ini dilakukan sebab peranan
potensial natrium dalam memicu tekanan darah tinggi
Kalium merupakan ion bermuatan positif, akan tetapi berbeda
dengan natrium, kalium terutama terdapat didalam sel, sebanyak
95% kalium berada di dalam cairan intraseluler
Peranan kalium mirip dengan natrium, yaitu kalium bersama
sama dengan klorida membantu menjaga tekanan osmotis dan
keseimbangan asam basa. Bedanya, kalium menjaga tekanan osmotik
dalam cairan intraselular. Kalium merupakan bagian essensial
semua sel hidup. sehingga banyak terdapat dalam bahan makanan.
Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari.
Kalium terdapat dalam semua makanan mentah/segar, terutama
buah, sayuran dan kacang - kacangan (Almatsier, 2010).
Disamping itu, konsumsi garam dalam jumlah yang tinggi dapat
mengecilkan diameter dari arteri sehingga jantung harus memompa
lebih keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui
ruang yang semakin sempit dan akibatnya yaitu hipertensi.
Konsumsi garam yang berlebih memicu konsentrasi natrium
di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya
cairan intraseluler ditarik ke luar sehingga volume cairan ekstraseluler
meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler ini
memicu meningkatnya volume darah, sehingga berdampak
kepada timbulnya hipertensi.
Edukasi dalam penelitian ini berupa leaflet, melalui edukasi ini
dapat memotivasi seseorang untuk menerima informasi kesehatan
serta berbuat sesuai dengan informasi ini agar mereka menjadi
lebih tahu dan bersikap lebih positif Hasil
penelitian pengaruh edukasi terhadap tekanan darah menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tekanan darah
sebelum dan sesudah pemberian edukasi. Hal ini disebabkan pada
saat pemberian edukasi gizi yang pertama, sebagian besar responden
belum memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik dalam
menjaga pola makan untuk mengendalikan hipertensi yang diderita.
Keinginan untuk mencegah tekanan darahnya meningkat sudah ada
namun untuk pelaksanaannya masih kurang
penelitian mengenai pemberian edukasi dan konseling, di mana
diharapkan terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan
yang cukup signifikan p<0.05 pada pasien hipertensi.
Pengetahuan menjadi dasar respon batin atau sikap seseorang
terhadap suatu hal. Edukasi merupakan metode untuk meningkatkan
pengetahuan. sedang konseling akan memberikan skill dan
motivasi serta memfasilitasi seseorang untuk langkah perubahan
perilaku ,Edukasi dan konseling diberikan dengan
harapan pasien akan memiliki tambahan pengetahuan, keinginan
berubah, kemampuan untuk berubah, optimis mefasilitasi stimulasi
mendorong perubahan Edukasi gizi sebagai suatu
komunikasi interpersonal antara responden dan petugas lapangan
dalam memberikan informasi gizi berkaitan pencegahan dan
pengobatan hipertensi turut berperan dalam membantu responden
dalam dukungan untuk menjaga pola makan dan gaya hidupnya.
Meskipun beberapa responden sesudah intervensi masih ada yang
tetap berada pada kebiasaan lama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang
signifikan tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik
sebelum dan sesudah pemberian edukasi gizi pada kelompok
kontrol. Perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah edukasi
gizi secara signifikan (p=0,000) dengan beda mean 156,60 mmHg
menjadi 154,84 mmHg. sedang tekanan darah diastolik sebelum
dan sesudah pemberian edukasi gizi pada kelompok kontrol rata-
rata tekanan darah diastolik sesudah edukasi gizi secara signifikan
(p=0,007) dengan beda mean 94,56 mmHg menjadi 92,76 mmHg.
Hal ini disebabkan pada saat pemberian edukasi gizi yang
pertama, sebagian besar responden belum memiliki pemahaman dan
kesadaran yang baik dalam menjaga pola makan untuk mengendalikan
hipertensi yang diderita. Keinginan untuk mencegah tekanan
darahnya meningkat sudah ada namun untuk pelaksanaannya masih
kurang. sesudah edukasi gizi peneliti kembali memberikan informasi
dan pendidikan gizi untuk penurunan tekanan darah dengan
melakukan pendekatan pemicu masalah hipertensi yang di bantu
oleh tim petugas kesehatan Puskesmas Paccerakkang, responden juga
telah memiliki keterbukaan sehingga komunikasi dan penyerapan
informasi yang diharapkan dapat tercapai. Ada beberapa responden
yang telah mengikuti anjuran yang diberikan dalam penerapan pola
makan dan gaya hidup yang sehat.
Penelitian yang dilakukan oleh Ruhana, (2011) yaitu penelitian
mengenai pemberian edukasi dan konseling, di mana diharapkan
terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan kepatuhan yang cukup
signifikan pada pasien hipertensi. Pengetahuan menjadi dasar
respon batin atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Dalam hal
ini pengetahuan mengenai hipertensi meningkat dan juga terdapat
peningkatan sikap. Namun perlu disadari perubahan perilaku hanya
akan terjadi saat seseorang siap untuk berubah. Faktor lain yang
mendukung perubahan perilaku yaitu dukungan keluarga yang
dapat meningkatkan derajat kesehatan. Oleh sebab itu sebaiknya
keluarga juga dilibatkan dalam pemberian konseling untuk
meningkatkan efektifitas dengan membantu memenuhi kebutuhan
pasien, mendukung kepatuhan, dan mengetahui waktu saat pasien
membutuhkan pertolongan dari petugas kesehatan. Selain terapi
diet, dalam melakukan perubahan perilaku konsumsi untuk pasien
hipertensi edukasi dan konseling juga menjadi salah satu cara terapi
gizi untuk pasien hipertensi. Edukasi merupakan metode untuk
meningkatkan pengetahuan. sedang konseling akan memberikan
skill dan motivasi serta memfasilitasi seseorang untuk langkah
perubahan perilaku. Edukasi dan konseling diberikan dengan
harapan pasien akan memiliki tambahan pengetahuan, keinginan
berubah, kemampuan untuk berubah, optimis mefasilitasi stimulasi
mendorong perubahan
Edukasi gizi sebagai suatu komunikasi interpersonal antara
responden dan petugas lapangan dalam memberikan informasi gizi
berkaitan pencegahan dan pengobatan hipertensi turut berperan
dalam membantu responden dalam dukungan untuk menjaga pola
makan dan gaya hidupnya. Meskipun beberapa responden sesudah
intervensi masih ada yang tetap berada pada kebiasaan lama.
Hipertensi/tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu
masalah gizi kesehatan warga yang membutuhkan
penanganan serius saat ini, mengingat dampak buruk yang dapat
timbul sebab adanya hipertensi. Upaya penanggulangan hipertensi
dengan penggunaan obat-obatan dianggap tidak terlalu efektif sebab
tingkat kepatuhan yang cukup rendah dari penderita hipertensi.
Banyak penderita yang tidak lagi mengonsumsi obat-obatan yang
telah diresepkan oleh tenaga Kesehatan dengan alasan sudah merasa
sehat, serta jarangnya mengunjungi fasyankes. Melihat fakta ini, perlu
dicari sebuah solusi lain untuk mengurangi prevalensi hipertensi
selain menggunakan obat kimia.
Pemanfaatan tanaman herbal untuk dalam penanganan/
pengobatan hipertensi terutama pada kelompok lansia bisa menjadi
salah satu alternatif pilihan. Berbagai tanaman herbal selama ini
diketahui mempunyai dampak positif dalam menurunkan tekanan
darah penderita hipertensi. Salah satunya yaitu tanaman daun
belimbing wuluh. Pemanfaatan tanaman daun belimbing wuluh
dengan cara direbus telah lama digunakan oleh beberapa kelompok
warga dalam mengobati hipertensi. Akan tetapi, prosedur
penyiapan rebusan daun belimbing wuluh untuk pengobatan
hipertensi dinilai cukup merepotkan bagi beberapa orang.
87
Kehadiran daun belimbing wuluh yang dikemas dalam bentuk
teh celup diharapkan lebih memudahkan penderita hipertensi
khususnya lansia dalam mengobati tekanan darah yang dideritanya.
Minum teh sudah menjadi budaya dikalangan warga negara kita ,
tidak melihat status sosial maupun ekonominya. Terlihat dari rata-
rata disetiap rumah tangga selalu menyediakan teh di rumahnya
dan teh menjadi salah satu minuman favorit selain kopi. Hal ini
disebabkan oleh senyawa-senyawa yang terkandung dalam teh dapat
memberikan kepuasan kepada penikmatnya sebab mempunyai
warna, rasa dan aroma yang khas seperti senyawa kafein bersama
sama dengan polifenol dapat memberikan rasa menyegarkan. Selain
nikmat untuk diminum, teh juga mempunyai kandungan yang sangat
bermanfaat untuk kesehatan seperti: kafein, polyphenol, catechin,
dan minyak essensial. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam
teh, terutama fluorida juga dipercaya dapat memperkuat struktur gigi
dan tulang
Teh herbal daun belimbing wuluh sangat praktis dan dapat
disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hasil penelitian
menunjukkan teh herbal daun belimbing wuluh dapat disimpan
sampai 112 hari pada suhu 250C, 60 hari pada suhu 350C dan 39 hari
pada suhu 450 C. Penurunan total mikroba tertinggi berada pada
suhu 45oC dan terendah berada pada suhu 250C. Total mikroba pada
produk teh herbal daun belimbing wuluh telah memenuhi standar
BPOM pada tahun 2019 sebab kurang dari 1x104 koloni/ml. Kadar
air tertinggi pada produk teh herbal daun belimbing wuluh berada
pada penyimpanan dengan suhu 450C, sedang kadar air terendah
berada pada suhu 250C. Kadar air kurang dari batas standar yang
telah ditetapkan, SNI 3836:2013 yaitu sebesar 8%.
Selain itu teh daun herbal belimbing wuluh juga memiliki
beberapa kandungan zat gizi mikro seperti kalsium (10,67 mg),
kalium (7,74 mg), dan vitamin C (0,91 mg) serta zat antioksidan yang
memiliki peran dalam penurunan tekanan darah. Adapun menurut
Angka Kecukupan Gizi tahun 2019 diketahui kebutuhan harian
untuk mineral kalsium dan kalium berturut-turut yaitu 1120 mg
dan 4700 mg serta kebutuhan vitamin C harian sebesar 90 mg untuk
laki-laki dan 75 mg untuk perempuan. Teh herbal daun belimbing
wuluh memenuhi kebutuhan harian mineral kalsium dan kalium
sebanyak 0,95% dan 0,16% sedang untuk kebutuhan vitamin C
harian teh herbal belimbing wuluh memenuhi sebanyak 1,01% untuk
laki-laki dan 1,21% untuk perempuan.
Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa konsumsi teh herbal
daun belimbing wuluh selama 15 hari berturut-turut telah mampu
menurunkan tekanan darah penderita hipertensi baik tenakan darah
sistolik (TDS) maupun tekanan darah diastolic (TDD). Penurunan
tekanan darah ini lebih baik ditemukan pada pasien yang diberikan
teh herbal dan juga edukasi gizi dibandingkan dengan pasien yang
hanya diberikan edukasi gizi.
Pada uji daya terima produk, juga menunjukkan bahwa
warga menyukai produk teh daun belimbing wuluh terutama
yang memiliki berat 7 gram dalam setiap kemasan dibandingkan
formula yang lainnya. Meskipun demikian, dalam penelitian ini juga
didapatkan beberapa keluhan pasien hipertensi yang merasakan
rasa asing/pahit yang dihasilkan dari produk teh masih kuat
sehingga diperlukan bahan tambahan lain seperti gula/madu untuk
menutupinya, juga dapat dikombinasikan dengan melati untuk
menambah nilai aromatik.









