i yang diproduksi
oleh sel B atas ransangan imunogen, tanpa mempertimbangkan apakah antigen
itu sendiri bersifat imunogenik. Sehingga semua imunogen yaitu antigen,
tetapi tidak semua antigen merupakan imunogen. Antigen lengkap yaitu
antigen yang menginduksi baik respons imun maupun bereaksi dengan
produknya. Yang disebut antigen inkomplit atau hapten, tidak dapat dengan
sendiri menginduksi respons imun, tetapi dapat bereaksi dengan produknya
seperti antibodi. Hapten dapat dijadikan imunogen melalui ikatan dengan
molekul besar yang disebut molekul atau protein pembawa Antigen dapat dibagi menurut epitop,
spesifisitas, ketergantungan terhadap sel T dan sifat kimiawi.
Tabel 8.1: Pembagian Antigen (Karnen Garna Baratawidjaja; Iris Rengganis,
2014)
No.
Jenis-Jenis Antigen
Dasar
Pembagian Jenis Antigen
1. Epitop Undeterminan, univalent
Hanya satu jenis determinan/epitope pada satu
84 Imunologi Dasar
No.
Jenis-Jenis Antigen
Dasar
Pembagian Jenis Antigen
2.
molekul
Undeterminan, multivalent
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau
lebih determinan ini ditemukan pada satu
molekul
Multideterminan, univalent
Banyak epitope yang bermacam-macam tetapi
hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan
protein)
Multideterminan, multivalent
Banyak macam determinan dan banyak dari
setiap macam pada satu molekul
2. Spesifisitas Heteroantigen
Dimiliki oleh banyak spesies
Xenoantigen
Hanya dimiliki spesies tertentu
Aloantigen (isoantigen)
Spesifik untuk individu dalam satu spesies
Antigen organ spesifik
Hanya dimiliki organ tertentu
Autoantigen
Dimiliki oleh tubuh sendiri
3. Ketergantungan
terhadap sel T
T dependen
Memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih
dahulu untuk dapat menimbulkan respons
antibody. Kebanyakan antigen protein
termasuk dalam golongan ini
T independent
Dapat meransang sel B tanba bantuan sel T
untuk membentuk antibody. Kebanyakan
antigen golongan ini berupa molekul besar
polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara
perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida,
ficoll, dekstran, levan dan flagellin polimerik
bakteri
No.
Jenis-Jenis Antigen
Dasar
Pembagian Jenis Antigen
4. Sifat Kimiawi Hidran arang (Polisakarida)
Umumnya imunogenik, glikoprotein yang
merupakan bagian permukaan sel banyak
mikroorganisme dapat menimbulkan respons
imun terutama pembentukan antibody. Contoh
lain yaitu respons imun yang ditimbulkan
golongan darah ABO, sifat antigen dan
spesivitas imunnya berasal dari polisakarida
pada permukaan sel darah merah
Lipid
Biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi
imunogenik bila diikat protein pembawa. Lipid
dianggap sebagai hapten, contohya yaitu
sfingolipid
Asam Nukleat
Tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi
imunogenik bila diikat protein molekul
pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya
biasanya tidak imunogenik. Respons imun
terhadap DNA terjadi pada penderita dengan
LES
Protein
Kebanyakan protein yaitu imunogenik dan
pada umumnya multideterminant dan univalen
Antigen yaitu molekul merupakan bagian dari benda asing bagi tubuh. Tubuh
menggunakan antibodi untuk mengenali benda asing dengan antigennya dan
merangsang respons kekebalan, mengaktifkan sel darah putih untuk
menghasilkan lebih banyak antibodi dan jalur kekebalan lainnya. Antigen
dapat berupa protein atau gula yang terletak di permukaan luar sel patogen.
Semua sel memiliki antigen termasuk yang ada di dalam tubuh, bakteri, dan
bahkan virus. Antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan disesuaikan
dengan antigen yang awalnya merangsang respons kekebalan. Antibodi
memiliki situs pengenalan antigen (paratope) yang afinitasnya sangat spesifik
untuk suatu daerah pada antigen yang disebut epitop
8.2.2 Imunogenitas
Imunogenitas yaitu kemampuan untuk menginduksi respons imun humoral
atau selular. Meskipun suatu bahan yang dapat menginduksi respons imun
spesifik disebut antigen, tetapi lebih tepat disebut antigen, tetapi lebih tepat
disebut imunogen. Semua molekul dengan sifat imunogenesitas juga memiliki
sifat antigenesitas, namun tidak demikian sebaliknya.
Ciri-ciri antigen yang sebagian besar menentukan Imunogenisitas respons
imun yaitu :
1. Keasingan
Umumnya molekul yang dikenali sebagai bagian tubuh pejamu (self)
tidak bersifat imunogenik; agar bersifat imunogenik, molekul harus
dikenal sebagai non self.
2. Ukuran Molekular
Imunogen yang paling poten biasanya yaitu protein berukuran
besar. Secara umum, molekul dengan berat molekular kurang dari
10.000 mempunyai sifat imunogenik yang lemah, dan molekul yang
sangat kecil (misal, asam amino) bersifat non imunogenik. Molekul
kecil tertentu (misal, hapten) dapat menjadi imunogenik hanya bila
berikatan dengan protein karier.
3. Kompleksitas Struktural Dan Kimiawi
Diperlukan sejumlah kompleksitas kimiawi tertentu misalnya,
homopolimer asam amino kurang bersifat imunogenik dibandingkan
dengan heteropolimer yang mengandung dua atau tiga asam amino
yang berbeda.
4. Determinan Antigen (Epitop)
Unit terkecil dari suatu antigen kompleks yang mampu berikatan
dengan antibodi dikena sebagai determinan antigenik, atau epitop.
Antigen dapatmemiliki satu determinan atau lebih, secara umum
terdiri dari lima asam amino atau gula.
5. Konstitusi Genetik Pejamu
Dua strain spesies hewan yang sama mungkin memberikan respons
yang berbeda terhadap antigen yang sama karena komposisi gen
respons imun yang berbeda-beda pula.
6. Dosis,Rute, Dan Waktu Pemberian Antigen
Derajat respons imun bergantung pada jumlah antigen yang
diberikan, respons imun dapat dioptimalkan dengan cara menentukan
dosisnya secara cermat (termasuk jumlah dosis), cara pemberian, dan
waktu pemberian (termasuk interval antara dosis satu dengan dosis
berikutnya).
Imunogenitas suatu zat dapat ditingkatkan dengan cara mencampurkannya
dengan suatu ajuvan. Ajuvan yaitu zat yang meransang respons imun,
misalnya dengan cara mempermudah ambilan ke dalam sel penyaji antigen
8.3 Reaksi Antigen dan Antibodi
Antigen merupakan bahan yang dapat diikat molekul antibodi atau molekul
reseptor secara spesifik pada sel T. Antibodi mampu mengenal hampir semua
molekul biologik sebagai antigen seperti hasil metabolik lipid, hormon, hidrat
arang, protein, asam nukleat dan fosfolipid. Antigen dikenal antibodi melalui
ikatan nonkovalen dan irreversibel. Kekuatan ikatan antar epitop dan antibodi
disebut sebagai afinitas antibodi. Epitop pada permukaan sel akan membentuk
ikatan tunggal dengan molekul antibodi
Respon terhadap infeksi beberapa jam pertama, penelanan mikroorganisme
oleh makrofag (fagositosis) dan aktivasi komplemen melalui jalur alternatif
merupakan respon pejamu nonspesifik yang penting. Respon yang bersifat non
adaptif seperti pelepasan sitokin dari makrofag dan pelepasan nediator lain
akan memacu reaksi inflamasi merupakan tahap selanjutnya yang akan terjadi.
Respon ini akan berlangsung dengan cepat dan bertanggungjawab
menghambat penyebaran patogen sampai respon adaptif spesifik dimulai (Siti
Boedina Kresno, 2013).
Respon adaptif diperantarai oleh antibodi selular dan humoral atau keduanya.
Patogen yang masuk kedalam tubuh pejamu ditangkap oleh sel penyaji antigen
(APC, Antigen Precenting Cells) seperti makrofag. Respon imunitas yang
diperantarai oleh antibodi, limfosit T helper (CD4) mengenali antigen patogen
yang bergabung dengan protein MHC kelas II pada permukaan APC.
Akibatnya sitokin akan diproduksi yang mengaktivasi antibodi. Sel B
mengalami proliferasi klonal dan berdiferensiasi membentuk sel plasma dan
imunoglobulin spesifik terbentuk (antibodi)
8.3.1 Sel T
Sel T yaitu limfosit yang memerlukan maturasi dalam timus dan membentuk
beberapa subkelas dengan fungsi spesifik. Sel T mampu mengekspresikan
molekul CD 4 dan molekul CD8. Sel T memiliki kemampuan unik yaitu
mampu membedakan sel sehat dengan sel abnormal seperti sel terinfeksi atau
kanker. Semua sel T memiliki reseptor sel T yang selalu terikat pada membran
sel. Reseptor sel T mampu mengenal antigen peptida yang dipresentasikan
molekul MHC pada permukaan sel lain.
Sel T mempunyai fungsi sebagai efektor maupun regulator.
1. Fungsi Regulasi
Sel T berperan dalam regulasi imunitas selular dan imunitas humoral.
Imunitas selular diperantai oleh sel sedangkan imunitas humoral
diperantarai oleh antibodi. Respon sel B terhadap antigen bergantung
pada sel T, dan harus mempunyai spesifisitas MHC kelas II yang
sama. Antigen berinteraksi dengan Ig M pada permukaan sel B, lalu
mengalami internalisasi dan diproses. Fragmen antigen kemudian
berikatan dengan molekul MHC kelas II dan dipresentasikan ke
permukaan sel B. Fragmen selanjutnya berinteraksi dengan sel T
helper yang mengeluarkan sitokin yang meransang pemisahan sel B
sehingga berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan
antibodi. Respon imun yang diperantarai sel lain, antigen diproses
oleh makrofag. Fragmen diikat molekul MHC kelas II, lalu
berinteraksi dengan sel T helper yang menghasilkan sitokin untuk
menstimulasi pertumbuhan sel CD4 (T helper) yang sesuai.
2. Fungsi Efektor
Imunitas yang diperantarai oleh sel dan reaksi hipersensitivitas
lambat dihasilkan terutama untuk melawan antigen parasit
intraselular. Sel CD4+ dapat mengenali antigen dan molekul MHC
kelas II asing lalu mengaktifkannya. Sel T sitotoksik CD8+ memberi
respon terhadap sitokin yang diproduksi oleh sel CD4, mengenali
molekul MHC kelas I pada sel asing dan menghancurkan sel ini
8.3.2 MHC (Major Histocompatibility Complex)
Kompleks histokompatibilitas mayor (Major Histocompatibility Complex,
MHC) yaitu sebuah region yang dibentuk oleh lokus genetik yang ditemukan
saat penelitian tentang penolakan jaringan asing, sehingga diberi nama histo
(jaringan) kompatibilitas. Regio genetik ini memainkan peran sentral baik pada
imunitas humoral maupun pada imnunitas yang diperantarai oleh sel. Molekul
MHC diketahui mengikat antigen peptide dan menyajikannya ke sel-sel T,
sehingga antigen transplantasi ini memicu pengenalan antigen oleh
reseptor sel T. Reseptor sel T berbeda dengan antibody, molekul antibody
berinteraksi dengan antigen secara langsung; reseptor sel T hanya mengenali
antigen yang dipresentasikan oleh molekul MHC pada sel lain yaitu sel penyaji
antigen. Reseptor sel T bersifat spesifik untuk suatu antigen, tetapi antigen
harus disajikan pada molekul MHC yang berasal dari bagian tubuhnya sendiri
(self). Reseptor sel T juga spesifik untuk molekul MHC
Pada manusia, MHC yaitu sekelompok gen yang dipelajari secara luas yang
terletak pada kromososm 6. Di antara gen-gen penting pada MHC manusia,
tang juga dikenal sebagai HLA (Human Leucocyte Antigen) yaitu gen-gen
yang menyandi protein mHC kelas I, kelas II, dan kelas III.
Tabel 8.2: Gambaran penting beberapa produk Gen MHC pada Manausia
Tipe Molekul
MHC
Kelas I Kelas II
Lokus genetik
(daftar parsial)
HLA-A, HLA-
B, dan HLA-C
HLA-DP, HLA-DQ, dan HLA-DR
Komposisi
polipeptida
BM 45.000 + β2-
M (BM 12.000)
Rantai α (BM 33.000), rantai β
(BM 29.000) rantai Ii (BM 30.000)
Distribusi sel Semua sel
somatik
bernukleus
Sel-sel penyaji antigen (monosit-
makrogfag, sel B, sel dendritik), sel
T manusia yang teraktivasi
90 Imunologi Dasar
Menyajikan antigen
peptida ke
Sel T sitotoksik
CD8+
Sel T helper CD4+
Ukuran ikatan
peptida
8-11 residu 10-30 residu atau lebih
Antigen
ditambahkan pada
MHC di dalam
Golgi Kompartemen endosomal sesudah
trantai invarian disingkirkan
Pada tabel diatas menunjukkan protein kelas I disandi oleh gen HLA-A, HLA-
B, dan HLA-C. Protein-protein ini tersusun atas dua rantai:
1. glikoprotein transmembran dengan BM 45.000 yang secara
nonkovalen berhubungan
2. polipeptida yang tidak disandi oleh molekul MHC, dengan BM
12.000 dan dikenal sebagai β2-mikroglobulin.
Molekul kelasi I ditemukan pada hampir semua sel-sel berinti dalam tubuh.
Protein kelas II disandi oleh regio HLA-D, lokus ini mempertahankan
pengendalian respon imun. Protein-protein yang dikode oleh lokus HLA-D
tersusun atas dua glikoprotein transmembran dengan BM 33.000 dan BM
29.000 yang berikatan secara nonkovalen
8.3.3 Pengikatan Antigen
Antigen yang diambil oleh sel penyaji antigen seperti sel makrofag atau sel
dendritik cenderung menjadi imunogen kuat; namun antigen yang tetap berada
di dalam larutan biasanya merupakan imunogen yang lemah. Sel T dari
seseorang yang imun terhadap mikroorganisme tidak akan berikatan langsung
dengan mikroorganisme ini tetapi akan berikatan dengan sel panyaji
antigen yang telah mencerna organisme ini (penyajian kelas II) atau yang
telah terinfeksi oleh organisme ini (penyaji kelas I). Ini memberi kesan
walaupun sel T penting untuk respons imun terhadap antigen tertentu, peran
mereka dalam mengenali antigen berbeda dari peran sel-sel yang menghadapi
antigen pertama kali. Pemrosesan dan penyajian antigen merupakan
mekanisme yang terdiri dari serangkaian peristiwa biokimia dan selular
penting yang mengaktifkan sel T CD4+ dan CD8+ sesudah sebuah sel penyaji
antigen atau sel aksesori berikatan dengan antigen tertentu,
menginternalisasinya, memrosesnya secara biokimia, dan kemudian
menyajikannya ke sel T
Antigen-antigen endogen seperti protein-protein virus sitosolik yang disintesis
dalam sel yang terinfeksi diproses untuk dipresentasikan oleh molekul MHC
kelas I. Beberapa langkah yang terlibat dalam proses ini digambarkan Gambar
8.1.
Protein sitosolik dihancurkan oleh kompleks peptidase yang dikenal sebagai
proteasom. Peptida sitosol mendapatkan akses ke molekul MHC kelas I yang
baru muncul dalam retikulum endoplasma kasar melalui sistem transporter
peptida (transporter terkait dengan pemrosesan antigen; TAP). Gen-gen TAP
juga disandi dalam MHC. Dalam lumen retikulum endoplasma, antigen
peptida dengan panjang sekitar8-11 residu membentuk kompleks dengan
protein MHC kelas I yang baru muncul dan bekerja sama dengan β2-
mikroglobulin untuk membentuk kompleks antigen peptida-MHC kelas I yang
seluruhnya terlipat yang kemudian dibawa ke permukaan sel agar terlihat dan
dikenali oleh sel-sel T sitotoksik CD8
Alur pengikatan molekul kelas I lebih sempit dibandingkan dengan molekul
kelas II, sehingga peptida yang lebih pendek lebih sering ditemukan pada kelas
I daripada molekul MHC kelas II. Meskipun molekul MHC kelas I dan II
mengikuti mekanisme yang serupa di seluruh pemrosesan dan penyajian
antigen, interaksi peptida sengan MHC kelas I dan kelas II terjadi pada lokasi
yang berbeda di dalam sel. Sintesis di dalam RER retikulum endoplasma kasar
diikuti, kemudian dipindahkan ke kompartemen Golgi dan molekul MHC
kelas I dan II berpisah. Molekul MHC kelas I berinteraksi dengan peptida
antigen; peptida yang memenuhi persyaratan untuk masuk dengan pas ke
dalam alur ikatan akan berkombinasi dengan molekul-molekul MHC, dan
kompleks MHC-peptida bergerak secara langsung ke permukaaan sel untuk
penyajian antigen
Dasar Imunitas Mukosa
9.1 Sistem Imun Mukosa
Sistem imun tubuh merupakan mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk
mempertahankan keutuhannya dari bahaya yang ditimbulkan akibat paparan
dari berbagai patogen yang berada di lingkungan. Sistem imun tubuh terdiri
dari sistem imun tubuh non-spesifik (natural/innate) dan spesifik
(adaptive/acquired). Mekanisme imunitas non-spesifik merupakan komponen
normal di dalam tubuh yang tidak memerlukan paparan atau induksi dari luar
dan telah terbentuk sejak lahir. Mekanisme ini tidak menunjukkan spesivitas
terhadap patogen tertentu. Sedangkan sistem imun spesifik yaitu sistem imun
tubuh yang memiliki kemampuan spesifik dalam mengenali benda atau bahan
yang dianggap asing oleh tubuh. Sistem kekebalan tubuh merupakan suatu
sistem organ yang terdistribusi di seluruh tubuh untuk memeberikan
pertahanan terhadap tuan rumah terhadap patogen yang masuk. Sistem
kekebalan dibedakan berdasarkan struktur anatominya. Hal ini dimaksudkan
agar masing-masing bagian dapat merespon patogen di jaringan tertentu sesuai
dengan anatominya. Kelenjar getah bening dan limpa merupakan organ dari
sistem imun adaptif yang berfungsi untuk merespon antigen yang masuk ke
jaringan dan menyebar di dalam darah
Mukosa juga merupakan organ imun adaptif yang sangat rentan terhadap
infeksi. Mukosa merupakan penghalang fisik yang tipis yang permeabel dan
melapisi permukaan tubuh bagian dalam. Mukosa merupakan jaringan yang
melapisi semua rongga tubuh dan mengelilingi organ internal. Jaringan ini
terlibat dalam proses absorbsi dan sekresi. Jaringan mukosa ada di saluran
pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran reproduksi tubuh. Mukosa di
dalam tubuh kita juga rentan terkena infeksi walaupun terletak di tubuh bagian
dalam karena rentan terpapar mikroba maupun patogen pemicu penyakit
dari luar tubuh karena aktivitas fisiologisnya dalam pertukaran gas (paru-paru),
penyerapan makanan (usus), aktivitas sensorik (mata, hidung, mulut, dan
tenggorokan), dan juga reproduksi (Rahim dan vagina)
Sistem imunitas mukosa juga sering disebut dengan (mucosal associated
lymphoid tissue/MALT) merupakan bagian dari sistem imun spesifik. Sistem
imunitas mukosa ada di saluran pencernaan (GALT), saluran pernapasan
(BALT), saluran urogenital, dan kelenjar mammae. Sistem imun mukosa
memiliki fungsi utama (1) melindungi jaringan mukosa dari invasi dan
kolonisasi patogen berbahaya yang menembus masuk ke dalam tubuh, (2)
melindungi tubuh dari absorbsi atau uptake antigen berupa protein asing yang
berasal dari makanan yang masuk ke dalam saluran cerna, (3) melindungi
berkembangnya respons imun yang berpotensi merugikan. Sistem imun
mukosa secara fungsional terdiri dari dua komponen, yaitu jaringan limfoid
mukosa yang terorganisir dan sistem imun mukosa yang tersebar
Sistem imun mukosa memiliki sifat yang khas berbeda dengan sistem imun
lainnya di mana sistem imun mukosa dapat membedakan antigen yang bersifat
patogen dan antigen yang tidak berbahaya. Untuk antigen yang berbahaya bagi
tubuh sistem imun mukosa akan menghasilkan respon imun yang protektif
dengan tujuan untuk melindungi tubuh sedangkan untuk antigen yang tidak
berbahaya sistem imun mukosa akan bertindak dalam menekan imunitas
(toleransi) agar tidak timbul respon imun. Hal ini dikarenakan mukosa akan
berhubungan langsung dengan antigen yang berasal dari bakteri komensal dan
antigen dari makanan dalam jumlah yang besar sehingga respon imun harus
ditekan agar tidak menimbulkan respon terhadap antigen yang tidak berbahaya
ini
Dalam menjalankan fungsinya sistem imun mukosa memiliki dua mekanisme
pertahanan adaptif, yaitu antigen exclusion dan mekanisme supresif.
Mekanisme antigen exclusion diperankan oleh sIgA dan sIgM yang berperan
dalam menghambat perlekatan dan kolonisasi mikroorganisme sehingga
mencegah penetrasi dari antigen yang berbahaya. Mekanisme supresif atau
sering juga disebut toleransi diaktifkan dengan tujuan untuk menghindari
reaksi yang berlebihan terhadap kontak antigen yang tidak berbahaya pada
permukaan mukosa. Antigen yang tidak berbahaya dicegah untuk berikatan
dan menempel pada mukosa dengan bantuan IgA, barrier fisik, kimiawi, dan
enzim dari mukosa. Untuk antigen yang berhasil masuk ke mukosa akan
dieliminasi oleh sel-sel imun yang diaktifkan oleh sel imun regulator dengan
tujuan untuk mencegah terjadinya respon imun yang berlebihan akibat paparan
antigen yang sebenarnya tidak berbahaya ini
Sistem imun sistemik berbeda dengan sistem imun mukosa. Sistem imun
mukosa berhadapan dengan lingkungan eksternal tanpa penghalang dan
bertugas menseleksi dengan spesifik antigen yang berpotensi merugikan dan
tidak merugikan. Beberapa perbedaan respon imun sistemik dan mukosa
yaitu (1) sistem imun mukosa memiliki IgA yang merupakan
immunoglobulin yang terikat dengan mukosa, (2) memiliki komponen sel T
(T-Regulator) yang memiliki kemampuan mengatur dan juga sel yang
bertindak (efektor), (3) memiliki sistem peredaran berorientasi pada mukosa
yang pada awalnya dipusatkan di folikel mukosa yang kemudian bermigrasi ke
jaringan limfoid yang tersebar dibawah epitel mukosa di seluruh tubuh
9.2 Struktur Sistem Imun Mukosa
Sistem imun mukosa secara anatomis dan fungsional dibagi menjadi 2 bagian
penting yaitu jaringan induktif dan jaringan efektor.
9.2.1 Jaringan Induktif
Suatu daerah di dalam mukosa pencernaan (GALT) yang merupakan tempat
untuk menginduksi respon imun yaitu Peyer Patch. Peyer Patch terletak di
usus halus, usus besar, usus buntu, dan rectum yang berfungsi sebagai tempat
dimulainya respon imun adaptif dan humoral. Pada usus halus peyer patch
memiliki struktur yang khas berbentuk kubah yang memanjang ke dalam
lumen usus halus dengan bagian atas yang tersusun atas epitel khusus yang
berhubungan langsung dengan folikel yang mengandung sel limfosit T yang
sudah matur. Peyer patch memiliki lipatan mikro pada permukaan lumennya
96 Imunologi Dasar
yang disebut dengan sel M. Sel M memiliki permukaan yang tebal dan tidak
mensekresi secret atau lendil. Hal ini dimaksudkan karena sel M khusus
diadaptasi untuk berinteraksi langsung dengan antigen berupa molekul dan
partikel di dalam lumen usus. Sel M sering juga disebut sel mikrofold
merupakan sel epitel khusus yang berfungsi untuk mengambil sampel antigen
yang ditemukan di dalam epitel terkait folikel pada Peyer patch
Gambar 9.1: Sel M (Mikrofold cells) di dalam Usus Halus
Pada mukosa saluran pernapasan atas (NALT) juga ada tempat induksi
respon imun terkait mukosa. Jaringan mukosa pada NALT yang merupakan
tempat induksi respon imun yaitu adenoid dan tonsil yang berfungsi untuk
melawan antigen berbahaya yang tertelan atau terhidup. Adenoid dan tonsil
bertindak sama dengan peyer patch yang merupakan jaringan limfoid. Jaringan
limfoid ini juga mengandung limfosit T dan limfosit B yang akan memberi
jalan untuk menginduksi respon imun untuk menuju jaringan efektor yang
letaknya jauh
9.2.2 Jaringan Efektor
Jaringan efektor pada mukosa yaitu lamina propria di sepanjang saluran
pencernaan, saluran pernapasan, saluran perkemihan, dan juga kelenjar
(kelenjar saliva dan mammae) yang akan mensekresi sIgA. Perjalanan respon
imun sebelum mencapai jaringan efektor yaitu sesudah adanya induksi respon
imun maka sel spesifik limfosit B dan limfosit T akan meninggalkan daerah
induksi menuju jaringan limfatik eferen selanjutnya melalui duktus torasikus
ditransport ke sirkulasi sistemik menuju ke jaringan efektor di mukosa, yaitu
lamina propria
Respon imun mukosa memiliki ciri yang spesifik di mana jalur penyebaran
dari limfosit B dan limfosit T akan menghasilkan penyebaran sIgA secara
menyeluruh yang menghasilkan proteksi diseluruh permukaan mukosa.
Misalnya, stimulasi pada daerah induksi di saluran pencernaan (GALT) akan
memberikan proteksi secara keseluruhan juga pada mukosa nasofaring dan
juga saluran urogenital. Begitu juga dengan sIgA yang ada di dalam ASI
ibu. ASI yang diberikan kepada bayi melalui oral akan memberikan
perlindungan pada saluran pencernaan dan pernapasan bayi
9.3 Mekanisme Regulasi Sistem Imun
Mukosa
Sistem imun mukosa memiliki mekanisme toleransi yang unik untuk menjaga
dan memelihara kondisi yang tetap seimbang terhadap self-antigen dan juga
mikroflora yang ada di dalam makanan dan di udara yang terhirup melalui
sistem pernapasan. ada beberapa mekanisme toleransi mukosa seperti
induksi aktivasi sel anti-inflamasi, penekanan respon imun tubuh, dan yang
paling penting yaitu menginduksi aktifnya sel T-Regulator.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui ada empat jenis sel
T yang mengatur toleransi, yaitu Th 2 yang menghasilkan sitokin anti-
inflamasi IL-4 dan IL-10 yang bertindak melawan sel efektor inflamasi, sel
Trl-1 yang memproduksi IL-10 sebagai sitokin anti-inflamasi, TGF-β yang
dihasilkan sel T untuk menekan respon imun, dan yang paling penting yaitu
pengaktifan sel T-regulator. Sel T-reg berfungsi untuk menekan proliferasi dari
sel-sel efektor akibat respon imun karena kontak dengan self-antigen.
Perlindungan mukosa dari autodigestif dan alergi sebenarnya juga melibatkan
beberapa lapisan regulasi. Selain sistem imun adaptif yang berperan dalam
toleransi mukosa, sel imun perifer, yaitu sel dendritic juga berperan sangat
penting dalam toleransi mukosa. Sel dendritic yang bertindak sebagai Antigen
Precenting Cell (APC) berfungsi dalam mengatur aktivasi, ekspansi, dan juga
kelangsungan hidup dari sel-sel efektor. Sel dendritic hidup di Peyer Patch,
kelenjar getah bening mesentrika, dan vili usus halus. Sel ini juga memiliki
sifat dan rangsangan yang berbeda-beda bergantung lokasi jaringan tempat
berada, garis keturunan, dan sifat rangsangan pematangan sel. Hal ini
bertujuan untuk menentukan karakteristik dari respon imun selanjutnya.
Maksudnya disini yaitu apakah sel ini akan menginduksi repon imun
terhadapa antigen yang berbahaya atau menginduksi adanya tolerasi terhadap
antigen yang tidak berbahaya
9.4 Imunoglobulin A (Secretory IgA)
Pada Sistem Imun Mukosa
Permukaan mukosa tubuh berfungsi memberikan penghalang fisik terhadap
patogen asing yang masuk ke dalam tubuh dan juga mengaktifkan mekanisme
toleransi terhadap mikrobiota dan antigen makanan yang tidak berbahaya bagi
tubuh. Perlindungan yang diberikan ini termasuk ke dalam sistem kekebalan
mukosa (MALT). Sisem kekebalan mukosa (MALT) terdiri dari lapisan epitel
berlendir disertai dengan jaringan limfoid dan sel imun pada lapisan lamina
propria.
Imunoglobulin A merupakan isotope dari antibody yang ada pada mukosa
tubuh di saluran pencernaan, pernapasan, saluran reproduski, air mata, air liur,
dan di dalam ASI ibu. Imunoglobulin A di dalam darah memiliki struktur
monomer sedangkan immunoglobulin A yang ada pada mukosa memiliki
struktur polimer dengan rantai J sering juga disebut sebagai secretory IgA
(sIgA). Struktur dari sIgA yaitu terdiri dari dua monomer IgA dengan rantai J
sebagai penghubung. Sistem imun mukosa dapat mempertahankan
keseimbangan terhadap mikrobiota dan patogen karena adanya kontribusi dari
sIgA. Colostrum di dalam ASI ibu mengandung sIgA yang merupakan
komponen immunoglobulin utama yang berfungsi memberikan perlindungan
besar terhadap sistem kekebalan ibu dan anak
9.5 Induksi Sekresi IgA
Sistem imunitas mukosa pada prinsipnya dibagi menjadi dua bagaian, yaitu
daerah induksi dan daerah efektor. Daerah induksi untuk efektor sIgA yaitu
di jaringan limfoit terkait usus (GALT) yang termasuk Peyer Patch, folikel
limfoid terisolasi, dan kelenjar limfa mesentrika, jaringan limfoid terkait
nasofaring (NALT), dan jaringan limfoid terkait bronkus (BALT). Daerah
efektor pada GALT akan mengandung 90% sIgA dari seluruh tubuh atau
sekitar 3 g sIgA akan dikeluarkan ke lumen usus manusia setiap harinya.
Induksi dari sIgA dipengaruhi oleh beberapa mekanisme seperti presentasi
antigen oleh sel dendritic yang ada di daerah sub epitel peyer patch
tepatnya disisi bawah dari sel M. Antigen akan ditangkap oleh sel dendritic
atau melalui transitosis oleh sel M. Selanjutnya antigen yang berhasil masuk ke
dalam jaringan mukosa akan memperesentasikan antigen langsung ke sel T
dan B yang ada di lamina propria dan akan terjadi rekombinasi IgA oleh
sel limfosit B yang pada akhirnya sIgA akan di seklesikan ke permukaan
mukosa. Selain itu, mekanisme dari sel T-dependent dan sel T-independent
juga akan memicu induksi dari sIgA. Mekanisme sel T-independent dalam
memproduksi sIgA dimulai dari interaksi antara reseptor CD40 pada
permukaan sel limfosit B dengan ligannya, yaitu CD40L yang berasal dari sel
T. Proses ini dikenal dengan antigen switching yang akan menghasilkan dan
memproduksi IgA yang spesifik dan berafinitas tinggi untuk menetralkan
patogen berbahaya. Selanjutnya untuk mekanisme sel T-Independent untuk
memproduksi IgA spesifik dan reaktif melalui sel imun bawaan dengan
bantuan factor BAFF (B-cell activating factor) dan APRIL (ligan yang
menginduksi proliferasi) yang bertanggung jawab untuk merangsang sel B
untuk menghasilkan IgA atau IgG pada manusia
9.6 Fungsi sIgA
Immunoglobulin A (sIgA) lebih banyak diproduksi daripada semua kelas
immunoglobulin lainnya yang menghabiskan sejumlah besar energi dari
sistem kekebalan tubuh manusia. Jumlah serum IgA yaitu sekitar 2-3 mg/mL
dan merupakan immunoglobulin paling banyak sesudah IgG dalam sekresi
eksternal pada permukaan mukosa. Dalam tubuh manusia per hari diproduksi
rata-rata 60 mg IgA per kilogram berat badan yang sebagian besar terlokalisasi
pada permukaan mukosa. Immunoglobulin A banyak ada di permukaan
mukosa dikarenakan permukaan mukosa orang dewasa memiliki luas sekitar
400 m2 yang merupakan tempat utama kerentanan terpapar oleh lingkungan
yang mengandung antigen dan memerankan peranan penting dalam
perlindungannya terhadap serangan dari patogen
Secretory IgA (sIgA) berfungsi sebagai garis pertahanan terdepan dalam
melindungi epitel usus dari toksin enteric dan berbagai mikroorganisme
patogen. Kemampuan sIgA dalam mengenali epitope antigenic protein pada
permukaan virus, bakteri, dan patogen dikenal dengan ekslusi imun.
Imunoglobulin A (sIgA) memicu penghancuran antigen dan mikroorganisme
dari lumen usus dengan cara menghalangi perlekatan patogen dengan reseptor
pada sel epitel mukosa, menangkap patogen dengan lendir yang disekresi oleh
mukosa, dan memfasilitasi penghancuran dengan adanya mukosiliar dan
gerakan peristaltik. Imunoglobulin A (sIgA) telah diidentifikasi secara
langsung dapat menurunkan factor virulensi bakteri, memengaruhi komposisi
mikrobiota usus dengan mekanisme bergantung Fab dan tidak bergantung Fab,
mempromosikan retrotransport antigen melintasi epitel usus menuju sel
dendritic di dalam jaringan limfoid terkaid usus
9.7 Mekanisme sIgA Menetralisir
Antigen Pada Permukaan Mukosa
ada berbagai mekanisme pertahanan tubuh yang termasuk sisitem
kekebalan mukosa yang diperankan oleh sIgA dalam menteralisir antigen yang
ada pada permukaan mukosa.
9.7.1 Memblokir Perlekatan Antigen Ke Sel Epitel Mukosa
Secretory IgA (sIgA) bertugas memberikan pertahan paling depan agar racun
dan patogen tidak melekat pada permukaan mukosa dengan cara memblokir
racun dan patogen ini sebelum melekat pada mukosa. Salah satu
contohnya yaitu toksin yang dihasilkan oleh bakteri vibrio cholera yang
mengakibatkan diare parah. Toxin ini dapat ditangkap dan dinetralkan oleh
sIgA. Hal ini menunjukkan bahwa sIgA sangat penting dalam melindungi
epitel usus dari paparan toksin yang dihasilkan oleh patogen luminal.
Disamping itu, sIgA terlah terbukti mampu memblokir patogen dengan cara
mengenali domain reseptor permukaan patogen dan mengikatnya sehingga
perlekatannya dengan permukaan mukosa dapat dicegah
9.7.2 Ekslusi Imun: Aglutinasi, Jebakan, Pembersihan
Aglutinasi yaitu pembentukan gumpalan mikroskopik dari antigen baik
bakteri maupun virus sebagai hasil reaksi dari antigen-antibodi. Protein yang
berasal dari antigen baik bakteri dan virus akan dikenali oleh sIgA yang
selanjutnya akan ditangkap oleh sIgA dan terjadi reaksi silang antigen-antibodi
secara spesifik membentuk gumpalan. Mekanisme aglutinasi ini akan
mencegah antigen melekat pada permukaan mukosa. Selain itu, ada
mekanisme lainnya, yaitu menangkap antigen dengan lendir yang dihasilkan
mukosa, namun mekanime ini masih membutuhkan bantuan mekanisme
lainnya karena antigen yang terperangkap di lendir hanya akan dikurangi atau
memblokir perlekatannya tidak mengeliminasinya. Contohnya pada rotavirus,
lendir yang dihasilkan oleh mukosa usus tidak cukup untuk memblok infeksi
dari virus ini sehingga membutuhkan mekanisme lainnya seperti aglutinasi dan
peristaltic untuk mengeluarkan antigen
9.7.3 Efek Langsung sIgA pada Virulensi Bakteri
Imunoglobulin A (sIgA) telah diketahui memiliki efek secara langsung
terhadap virulensi bakteri seperti pada bakteri vibrio cholerae, IgA secara
langsung melawan antigen O dari bakteri ini . Pengikatan IgA ke antigen
O (IgAC5) mengakibatkan terjadinya penekanan pada aktivitas sistem sekresi
tipe 3 pada bakteri ini . Di mana aktivitas sistem sekresi tipe 3 ini
sangat penting bagi bakteri untuk masuk ke epitel usus. Efek penekanan
terhadap IgAC5 pada aktivitas sekresi tipe 3 akan memberikan penurunan
potensial membran pada bakteri dan ATP intraseluler sehingga efek virulensi
dari bakteri ini dapat ditekan dan bajteri tidak dapat invasi ke permukaan
mukosa
9.8 sIgA dan vaksinasi
Dasar vaksinasi mukosa yaitu adanya hubungan antara daerah induksi dan
efektor pada imunitas mukosa dengan melibatkan sIgA. Vaksinasi yang
diberikan melalui mukosa memiliki alasan khusus karena infeksi masuk
melalui permukaan mukosa. Vaksinasi mukosa diharapkan akan memberikan
perlindungan dengan cara mencegah penempelan dan kolonisasi patogen pada
permukaan mukosa, mencegah toxsin melekat pada permukaan epitel mukosa,
dan mencagah penetrasi dan kolonisasi patogen pada epitel mukosa. Adanya
imunitas mukosa merupakan dasar perkembangan vasin per-oral. Di mana
vaksin yang diberikan per-oral dapat memberikan proteksi pada seluruh
permukaan mukosa dan kelenjar. Namun, hingga saat ini masih ada beberapa
kesulitan dalam mengembangkan vaksin mukosa yang menginduksi jumlah
antibodi sIgA yang cukup memadai. Beberapa sifat yang memengaruhi
keberhasilan dari vaksinasi mukosa, yaitu vaksin harus dapat terlindungi dari
eliminasi fisik dan enzim pencernaan, target masuk vaksin yaitu pasa
membran mukosa atau sel M, vaksi harus dapat melawan infeksi,
menstimulasi secara tepat imunitas bawaan yang akan mengaktifkan sistem
imun adaptif. Keberhasilan dari suatu vaksin juga dipengaruhi oleh sistem
penghantaran antigen pada vaksin atau adjuvant (bahan yang ditambahkan ke
dalam vaksin dengan tujuan meningkatkan imunogenitas) yang baik
Imuno Hematologi
Imunologi merupakan salah satu cabang ilmu Kesehatan yag mempelajari
tentang konsep dan klinis manusia yang berhubungan dengan teknik dan terapi
transfusi modern. Upaya penyelamatan manusia telah dikembangkan dan
dicatat selama beberapa abad. Era dimulainya penggambaran sirkulasi darah
benar-benar dimulai pada Tahun 1665 seorang fisiologis inggris Richard
Lower, berhasil melakukan Transfusi darah melalui percobaan hewan
peliharaannya. Pada Tahun 1667 Jean Bapiste Dennys, mentransfusikan darah
melalui arteri karotis seekor domba ke dalam pembuluh darah seorang pemuda
pada percobaan pertama berhasil namun, sesudah transfusi ketiga dilakukan
dengan darah domba, pria itu mengalami reaksi dan meninggal. Dennys juga
melakukan percobaan beberapa kali dengan beberapa darah hewan namun
tidak berhasil. Dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin dapat mentransfusi
darah dari satu spesies ke spesies lain
Tahun 1667-1818 saat James Blundell dari Inggris berhasil mentransfusi
darah manusia ke Wanita yang mengalami pendaran pada saat melahirkan.
transfusi darah terus menghasilkan result yang tidak dapat diprediksi sampai
Cart Lensteiner menemukan golongan darah ABO pada Tahun 1900 yang
memperkenalkan era imunologis transfusi darah menjadi jelas bahwa
ketidakcocokan transfusi disebabkan oleh faktor-faktor tertentu pada sel darah
merah yang dikenal sebagai antigen.oleh karna itu ilmu imunohematologi terus
dikembangkan sampai saat ini
10.2 Dasar-dasar Imunohematologi
10.2.1 Batasan Sistem Imunitas Tubuh
Sistem kekebalan mencakup seluruh proses yang dimanfaatkan tubuh untuk
melindungi seluruh tubuh sebagai penjaga akan potensi ancaman lingkungan.
Beraneka ragam mencakup organic dan anorganik, baik yang hidup maupun
yang mati berasal dari hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasite dan
debu dalam polusi. Zat ini masuk ke dalam tubuh dan memicu
berbagai penyakit bahkan kerusakan jaringan. Selain itu, sel-sel tubuh bisa
menua seiring bertumbuhnya usia yang memengaruhi sel dan bermutasi
menjadi ganas sehingga harus disingkirkan
Kesanggupan tubuh untuk mengeliminasi antigen yang masuk ke dalam tubuh
bergantung kesanggupan system kekebalan tubuh untuk mengenali unsur asing
atau antigen pada permukaan antigen ini dan melaksanakan proses yang
benar untuk mengeliminasi antigen ini . Kesanggupan ini dimiliki oleh
anggota system kekebalan tubuh yang ada pada jaringan limforetikuler di
semua bagian anggota tubuh, antara lain sumsum tulang, kelenjar getah
bening, timus, sistem pernapasan, saluran pencernaan, dan organ lainnya. Sel-
sel yang ada dalam folikel ini bermula dari sel sentral sumsum tulang yang
berpisah menjadi beraneka ragam sel dan bersirkulasi dalam tubuh melalui
darah, system limfatik, serta organ limfoid yang terdiri dari timus dan organ
limfoid primer, sekunder yang menandakan jawaban terhadap suatu
rangsangan searah dengan sifat dan manfaatnya
10.2.2 Pembagian Sistem Imun
Terdiri dari dua system imun yaitu imun spesifik dan nonspesifik yang bekerja
sama dan tidak terpisahkan yang berasal dari sel leukosit
1. Sistem imun spefisik, butuh beberapa waktu untuk mengenali antigen
sebelum dapat bereaksi terhadap ketahanan tubuh manusia. Respon
terhadap sel disebut dengan fagositosis dengan cara membunuh sel
yang sudah dikenal sebelumnya. Sistem imun spesifik berasal dari
sel-sel limfosit T dan limfosit B.
a. Gambaran sel limfosit
Limfosit Jumlahnya meningkat pada orang dengan infeksi akut.
Ukuran limfosit kecil 7-18 µm dan untuk limfosit besar 9-12 µm,
kromatin kasar, rasio nukleus terhadap sitoplasma sangat tinggi,
oleh karena itu sitoplasma sulit terlihat. Basofilik, bening, besar,
inti agak bulat, tetapi ada juga yang melengkung.
Gambar 10.1: Gambaran Sel Limfosit (Bain, 2017)
b. System imun spesifik humoral (Limfosit B), membentuk
antibody yang berguna sebagai perlindungan akan infeksi
ekstravaskuler virus dan bakteri.
c. System imun spesifik seluler (Limfosit T), sebagai perlindungan
akan bakteri yang tumbuh intraseluler, virus, jamur, parasite dan
keganasan.
2. Sistem imun non spesifik, system ini berperan sejak awal yang
membentuk perlindungan tubuh awal dalam melawan serangan
beberapa mikroba, serta menyampaikan jawaban langsung atas
antigen. Sel-selnya berasal dari sel makrofag, sel NK (Natural Killer)
dan sel mediator.
10.2.3 Alur Silang Sel Limfosit
Sel limfosit berdeferensiasi dan menjadi sempurna dalam sel limfoid primer
yang seterusnya masuk dalam peredaran darah. Limfosid B akan dihasilkan
dan menjadi sempurna pada sumsum tulang sebelum masuk di dalam darah
dan organ limfosit sekunder. Pencetus limfosid T melewati sumsum tulang
menjadi sempurna dalam timus sebelum pindah keorgan limfoid sekunder
Limfoid yang telah tersedia dalam sel limfoid sekunder akan bergerak ke
limfoid lain di mana pendistribusian ini secara berkesinambungan. Manfaat
dari pendistribusian ini kembali yaitu selama terjadinya infeksi alamiah, akan
banyak limfosit yang berpapasan dengan antigen dari mikroorganisme,
Manfaat lain ialah kalau ada organ yang terdefisit karna infeksi, radiasi atau
trauma, limfosit yang beredar dalam sirkulasi akan dikerahkan menuju sumber
defisit ini .
Keadaan umum, lintas limfosid akan berkesinambungan secara aktif melewati
kelenjar limfe, tetapi bila ada antigen menembus arus limfosit dalam kelenjar
limfe akan berhenti sementara. Sel yang spesifik terhadap antigen akan ditahan
untuk menghadapi antigen ini dan hal ini akan menimbulkan kelenjar
bengkak yang sering terjadi infeksi.
10.2.4 Sitokin dan Interleukin
Pada reaksi imunologi banyak substansi hormon yang bekerja sama serupa
hormon yang dilepaskan oleh sel leukosit lainnya, yang berfungsi sebagai
sinyal interseluler yang mengatur respon imunologi sistematik terhadap
rangsangan luar. Substansi ini secara umum dapat dikenal dengan sitokin,
yang kemudian pada Tahun 1979 nama sitokin disepakati dengan interleukin
(IL) yang berarti adanya komunikasi antar sel leukosit.
Sitokin dihasilkan dan berfungsi sebagai perantara pada pertahanan tubun non
spesifik yang ada pada IFN (Interferon), TNF (Tumor Neurotic Factor)
dan IL-1 dan yang lain berkerja dalan imunitas spesifik. Pada puncaknya
sitokin berfungsi sebagai pengontrol mobilisasi, ploriferasi dan diferensiasi sel.
Penghasilan sel system imun diatur oleh sitokin yang juga mengatur
hemopoiesis yang secara kolektif disebut dengan colony stimulating factor
(CSF) sitokin pada CSF bekerja sebagai pembawa pesan kimia atau
penghubung dalam hubungan interseluler yang sangat jelas
Sitokin mengendalikan homeostasis dalam tubuh dan Bersama-sama mengatur
sel-sel kekebalan. Rotasi pengenalan sitokin melibatkan banyak pos
pemeriksaan untuk peradangan. Sitokin proinflamasi terlibat dalam pertahanan
dan proses imunitas atas kemampuan infeksi atau kerusakan. Gangguan
penghasilan sitokin dapat mengakibatkan bermacam penyakit imunopatologis,
termasuk penyakit autoinflamasi dan autoimun, dan dalam beberapa kasus
kanker.
Di bidang dermatologi, semua penyakit kulit, terlepas dari apakah disebabkan
oleh sistem kekebalan sendiri atau oleh infeksi, terkait dengan sitokin. Oleh
sebab itu, tidak mengherankan bahwa selama 25 tahun terakhir sitokin sudah
memerankan bagian pokok dari kesuksesan pengembangan teknik diagnostik,
terapeutik, dan prognostik untuk pasien. Regulasi sitokin dianggap sebagai
target terapi potensial pada berbagai penyakit kulit. Regulasi sitokin dapat
dicapai dengan membatasi hasilnya, menghindari pengikatan antara sitokin
dan reseptor sel target, atau mengganggu jalur pensinyalan yang
ditimbulkannya. Berbagai langkah yang dapat diambil untuk mengatur sitokin
ini dikembangkan tak terbatas untuk kemampuan terapeutiknya, termasuk
pengobatan bermacam kelainan yang kita hadapi. Oleh sebab itu, sangat
berguna bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk mengenali sitokin dan
perannya.
10.3 Pekembangan Imunohematologi
10.3.1 Konsep Baru Sistem Imun
Sebelum menjadi konsep baru adanya fakta-fakta yang menunjang hipotesis
yang menjelaskan tentang system kekebalan tidak hanya berguna sebagai
pertahanan tubuh tetapi system kekebalan juga sebagai pengawas susunan
saraf pusat yang berfungsi sama dengan system persyarafan untuk menjaga
hemostasis. Kurang lebih 100 Tahun lalu ilmuan fisiologi dari Perancis Claude
Bernard mengamati hipotesis ini , selanjutnya ilmuan Amerika Walter B
Cannon Tahun1939 mendefinisikan homeostasis sebagai proses fisologi dalam
tubuh yang disambungkan oleh system saraf pusat untuk mengatur mobilisasi
dari struktur cairan, perkembangan dan penyempurnaan jaringan, penggunaan
energi dan melindungi supaya suhu tubuh stabil dan sering disebut dengan
cybernetics.
10.3.2 Regulasi Sistem Imun dan Neuendokrin
Susunan saraf pusat berpengaruh atas fungsi system imun langsung dan tidak
langsung melalui system endokrin atau hormon di antaranya:
1. Intervasi jaringan limfoid
Timus, limpa dan kelenjar limfe menerima inervasi simpatetik non
adrenergic yaitu mengontrol aliran darah melalui jaringan limfoid,
yang spontan akan memengaruhi arus lintas limfosit (system imun
spesifik)
2. Pituitrin/aksis Adrenal
Pengelepasan hormon adrenakortikotropik (ACTH) dapat
dipengaruhi oleh stress yang ada pada pituitrin yang akan
membebaskan glukokortikoid yang bekerja imunosupresif. Limfosit
ini menghasilkan steroid sebagai respon terhadap cortocottrophin
releasing faktor, dan medulla adrenal melepaskan katekolamin yang
dapat merubah paparan perpindahan leukosit dan respon limfosit.
3. Endokrin
Limfosit mempunyai reseptor akan banyak hormon seperti insulin,
tiroksin, growth hormon dan somastostanin. Hormon-hormon
ini dilepaskan selama stress memodifikasi fingsi sel T dan sel B
yang kompleks yang tergantung dari kadar mediator.
10.3.3 Interaksi antara Sistem Imun dan Neuroendokrin
Berlangsung 2 Arah
Hormon dan neurotransmiter yaitu molekul pembawa pesan yang mencapai
sistem kekebalan sistem neoendokrin sebagai respons terhadap perubahan
lingkungan, seperti stres. Di sisi lain, sistem sitokin bertindak mirip dengan
sistem kekebalan terhadap sistem neoendokrin saat mikroorganisme
ditantang dengan antigen, seperti pada tikus C 57, jenis yang resisten terhadap
infeksi protozoa utama Leishmania. sistem kekebalan spesifik sel diperlukan
untuk pelepasan sitokin dalam bentuk interleukin-2 dan interferon-gamma dari
limfosit-T, dan tikus ini telah terbukti menjadi tipe dengan respons rendah
terhadap hormon kortikosteroid dan sebaliknya BALB. Tikus sangat sensitif
terhadap infeksi parasit ini karena tikus ini terbukti memiliki respon yang
tinggi terhadap hormon kortikosteroid hormon ini, yang justru memicu
sistem imun seluler tertekan, sehingga tidak dihasilkan zat sitokin
10.4 Imunoglobulin
Imunoglobulin (Ig) atau antibodi yaitu glikoprotein yang dihasilkan oleh sel
plasma. Imunogen spesifik, seperti protein bakteri, mengarahkan sel B untuk
memisahkan menghasilkan sel plasma. Sel plasma yaitu sel penghasil protein
yang akan terlibat dalam respons imun humoral terhadap bakteri, virus, jamur,
parasit, antigen seluler, bahan kimia, dan agen sintetis. Imunoglobulin
merupakan sekitar 20% dari protein dalam plasma
Imunogen atau antigen bereaksi dengan reseptor sel-B (BCR) pada permukaan
limfosit-B, menghasilkan lambang yang mengarahkan mobilisasi komponen
transkripsi untuk menstimulasi sintesis antibodi yang spesifik untuk imunogen
yang merangsang sel-B. Kemudian, sel B klonal menghasilkan imunoglobulin
(spesifisitas). Sistem kekebalan mengenali antigen yang menimbulkan proses
sebelumnya (memori) karena perubahan sel B memori. sel B menengah dan
tidak berdiferensiasi yang dapat dengan cepat berubah menjadi sel plasma.
Antibodi dalam aliran darah mengenali antigen dalam cairan jaringan dan
serum.
10.4.1 Struktur dan Fungsi Imunoglobulin Dasar
Antibodi atau imunoglobulin menyimpan dua rantai ringan dan dua rantai
berat dalam susunan struktur ringan-berat-berat-ringan. Rantai berat berbeda di
antara kelas. Mereka memiliki satu wilayah Fc yang memediasi fungsi biologis
(misalnya, kapasitas pengikatan pada reseptor seluler) dan wilayah Fab yang
mengandung tempat pengikatan antigen. Rantai dilipat menjadi wilayah yang
disebut domain. Ada 4 atau 5 domain dalam rantai berat, tergantung kelasnya,
dan dua domain dalam rantai ringan. Daerah hipervariabel (HRR) berisi situs
pengikatan antigen. Ada tiga HRR di domain V dari setiap rantai ringan dan
berat. Lipatan ini menjadi daerah yang menghasilkan dua tempat pengikatan
antigen di ujung setiap monomer. Semua antibodi memperlihatkan satu atau
lebih fungsi (bifungsional), termasuk aktivasi sistem komplemen,
Berikut ini yaitu lima jenis imunoglobulin pada manusia:
1. IgM
IgM memiliki molekul relatif 970 Kd dan konsentrasi serum rata-rata
1,5 mg/ml. Ini terutama diproduksi dalam respon imun primer
terhadap agen infeksius atau antigen. Ini yaitu pentamer dan
mengaktifkan jalur klasik dari sistem komplemen. IgM dianggap
sebagai aglutinin kuat (misalnya, isoagglutinin anti-A dan anti-B
yang masing-masing terkandung pada darah tipe B dan tipe A), dan
monomer IgM digunakan sebagai reseptor sel B (BCR). (Angel A.,
2023)
2. IgG
IgG memiliki molekul relatif 146 Kd dan konsentrasi serum 9,0
mg/mL. IgG dikatakan divalen, yaitu memiliki dua tempat pengikatan
antigen identik yang berasal dari 2 rantai L dan 2 rantai H yang
disambungkan oleh rangkaian disulfida. IgG disintesis sebagian besar
dalam respon imun sekunder terhadap patogen. IgG dapat
mengaktifkan jalur klasik sistem komplemen, dan juga sangat
protektif. Empat subkelas IgG termasuk IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4.
IgG1 yaitu sekitar 65% dari total IgG. IgG2 membentuk pertahanan
inang yang penting terhadap bakteri yang dienkapsulasi. IgG
merupakan imunoglobulin yang melintasi plasenta disebabkan bagian
Fc-nya berhubungan dengan reseptor di plasenta, melindungi
neonatus dari penyakit menular. IgG dengan demikian merupakan
antibodi paling banyak yang ada pada bayi baru lahir.
3. IgA
IgA muncul dalam 2 struktur molekul yang berbeda: monomer
(serum) dan struktur dimer (sekretori). IgA serum memiliki molekul
relatif 160 Kd dan konsentrasi serum 3 mg/mL. Secretory IgA (sIgA)
memiliki b molekul relatif 385 Kd dan konsentrasi serum rata-rata
0,05 mg/mL. IgA yaitu antibodi utama dalam sekresi yang
ditemukan dalam air liur, air mata, kolostrum, usus, saluran kelamin,
dan sekresi pernapasan. Tampaknya di membran mukosa sebagai
dimer (dengan rantai J saat disekresikan) dan melindungi permukaan
epitel sistem pencernaan, pernapasan, dan genitourinari. IgA
memiliki komponen sekretori yang mencegah pencernaan
enzimatiknya. Ini mengaktifkan jalur alternatif aktivasi sistem
komplemen.
4. IgE
IgE yaitu monomer. Ini memiliki molekul relatif 188 Kd dan
konsentrasi serum 0,00005 mg/mL. Ini melindungi terhadap parasit
dan berhubungan dengan reseptor afinitas tinggi pada sel mast dan
basofil, memicu reaksi alergi. IgE dianggap sebagai pertahanan
inang yang paling penting terhadap infeksi parasit yang berbeda,
termasuk Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Ascaris
lumbricoides, dan cacing tambang
5. IgD
IgD yaitu monomer dengan molekul relatif 184 Kd. IgD hadir
dalam jumlah yang sedikit dalam serum (0,03 mg/mL) dan memiliki
fungsi yang tidak diketahui melawan patogen. Itu dianggap sebagai
BCR. IgD mungkin memainkan peran penting dalam diferensiasi
limfosit yang dipicu antigen.
10.4.2 Glikoprotein dan Fungsinya
Glikoprotein merupakan unsur yang memiliki kandungan sebagian protein dan
karbohidrat. Glikoprotein biasanya dalam biologi membuat beraneka ragam
manfaat sebagai bagian sistem sel, enzim, hormon. Karbohidrat sendiri yaitu
unsur dalam kimia organik dan biologi karbohidrat yang memiliki kandungan
banyak unsur, tapi semua mengandung karbon, hidrogen, atom dan oksigen
serta protein. Karbohidrat berasal dari golongan yang berbeda disebut dengan
asam Amino. Membran sel mengandung protein yang bebas mengapung di
dalam atau di dekat membran. Mereka mungkin bergerak dan terlibat dengan
lingkungan sel. Dalam sains, awalan "gliko" yaitu singkatan dari "gula".
Setiap molekul protein dengan karbohidrat yang melekat dikenal sebagai
glikoprotein. Rantai samping polipeptida protein secara kovalen bergabung
dengan karbohidrat, rantai oligosakarida (glikan). Entah proses ini terjadi
selama translasi protein, atau terjadi pasca-translasi melalui glikosilasi.
Gliko konjugat terbentuk saat karbohidrat dihubungkan dengan protein dan
lipid. Mereka ada dalam tiga bentuk: glikoprotein, glikolipid dan proteoglikan.
Glikoprotein terbentuk saat komponen protein mendominasi dalam
kombinasi karbohidrat dan protein. Ini disebut sebagai proteoglikan jika
ikatannya terdiri lebih banyak karbohidrat daripada protein. Glikolipid
terbentuk saat karbohidrat bergabung dengan lipid.
Karbohidrat melekat di bagian nitrogen (N) dari gugus amino (-NH2) dan
gugus R asam amino asparagin dalam glikoprotein terkait-N. Rantai samping
amida asparagin sering berfungsi sebagai gugus R. Proses ikatan dikenal
sebagai N-glikosilasi. Membran retikulum endoplasma (ER) menyediakan
gula untuk glikoprotein terkait-N, yang kemudian ditransfer ke kompleks
Golgi untuk diproses. Molekul hidroksilisin atau hidroksiprolin juga dapat
membentuk koneksi dengan karbohidrat terkait-O. Tindakan ini dikenal
sebagai O-glikosilasi. Di kompleks Golgi, gula terikat pada glikoprotein
terkait-O
Hampir semua proses seluler melibatkan glikoprotein. Mereka memainkan
berbagai peran dalam tubuh kita, termasuk yang terkait dengan sistem
kekebalan kita, perlindungan fisik, komunikasi sel-ke-sel, dan sistem
reproduksi
1. Glikoprotein hadir pada lipid bilayer membran sel. Mereka dapat
beroperasi di lingkungan berair karena karakter hidrofiliknya, yang
berperan dalam ikatan kimia dan pengenalan sel-sel.
2. Glikoprotein permukaan organ sangat berguna untuk protein
penghubung silang (seperti kolagen) dan sel untuk memperkuat dan
menstabilkan membran.
3. Tumbuhan dapat melawan gravitasi karena glikoprotein ditemukan di
selnya.
4. Sel darah putih menjaga arteri darah saat mereka mencari calon
penyerbu. Mereka menggunakan glikoprotein tipe lektin untuk
menempel pada lapisan pembuluh darah.
5. Glikoprotein ada pada otak, di mana glikoprotein akan berkolaborasi
dengan sinaptosom dan akson.
6. Glikoprotein trombin, protrombin, dan fibrinogen diperlukan untuk
pembekuan darah.
7. Sel darah merah juga bergantung pada glikoprotein untuk fungsinya.
Sel darah merah dengan golongan darah A memiliki antigen A atau
glikoprotein A. Akibatnya, tubuh mengetahui bahwa darah yaitu
bagian dari diri sendiri dan diperintahkan untuk tidak melawannya.
8. Karena kemampuannya untuk memfasilitasi perlekatan sel sperma ke
sel telur, glikoprotein sangat penting untuk reproduksi.
9. Glikoprotein yang disebut musin ada pada lendir di mana
glikoprotein menjaga permukaan epitel halus di saluran pencernaan,
reproduksi, kemih, dan pernapasan.
10. Glikoprotein mendukung respon imunologi. Antigen spesifik yang
dapat diikat oleh antibodi (atau glikoprotein) bergantung pada
karbohidrat yang dikandungnya. Glikoprotein permukaan pada sel B
dan T juga mengikat antigen.
11. Glikoprotein juga menjaga kesehatan kulit kita. Sel epitel yang
membentuk kulit memiliki glikoprotein di permukaannya—ini
membantu mengikat sel kulit di tubuh kita, menciptakan penghalang
yang kuat untuk melindunginya.
12. Glikoprotein lain yang membantu stabilitas kulit manusia yaitu
cadherin.








