Imunologi 11



 i yang diproduksi 

oleh sel B atas ransangan imunogen, tanpa mempertimbangkan apakah antigen 

itu sendiri bersifat imunogenik. Sehingga semua imunogen yaitu  antigen, 

tetapi tidak semua antigen merupakan imunogen. Antigen lengkap yaitu  

antigen yang menginduksi baik respons imun maupun bereaksi dengan 

produknya. Yang disebut antigen inkomplit atau hapten, tidak dapat dengan 

sendiri menginduksi respons imun, tetapi dapat bereaksi dengan produknya 

seperti antibodi. Hapten dapat dijadikan imunogen melalui ikatan dengan 

molekul besar yang disebut molekul atau protein pembawa  Antigen dapat dibagi menurut epitop, 

spesifisitas, ketergantungan terhadap sel T dan sifat kimiawi. 

Tabel 8.1: Pembagian Antigen (Karnen Garna Baratawidjaja; Iris Rengganis, 

2014) 

No. 

Jenis-Jenis Antigen 

Dasar 

Pembagian Jenis Antigen 

1.  Epitop Undeterminan, univalent 

Hanya satu jenis determinan/epitope pada satu 

84 Imunologi Dasar 

 

No. 

Jenis-Jenis Antigen 

Dasar 

Pembagian Jenis Antigen 

 

2. 

molekul 

Undeterminan, multivalent 

Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau 

lebih determinan ini  ditemukan pada satu 

molekul  

Multideterminan, univalent 

Banyak epitope yang bermacam-macam tetapi 

hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan 

protein) 

Multideterminan, multivalent 

Banyak macam determinan dan banyak dari 

setiap macam pada satu molekul  

2.  Spesifisitas Heteroantigen 

Dimiliki oleh banyak spesies 

Xenoantigen 

Hanya dimiliki spesies tertentu 

Aloantigen (isoantigen) 

Spesifik untuk individu dalam satu spesies 

Antigen organ spesifik 

Hanya dimiliki organ tertentu  

Autoantigen 

Dimiliki oleh tubuh sendiri 

3.  Ketergantungan 

terhadap sel T 

T dependen 

Memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih 

dahulu untuk dapat menimbulkan respons 

antibody. Kebanyakan antigen protein 

termasuk dalam golongan ini 

T independent 

Dapat meransang sel B tanba bantuan sel T 

untuk membentuk antibody. Kebanyakan 

antigen golongan ini berupa molekul besar 

polimerik yang dipecah di dalam tubuh secara 

perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, 

ficoll, dekstran, levan dan flagellin polimerik 

bakteri 


 

No. 

Jenis-Jenis Antigen 

Dasar 

Pembagian Jenis Antigen 

4.  Sifat Kimiawi Hidran arang (Polisakarida) 

Umumnya imunogenik, glikoprotein yang 

merupakan bagian permukaan sel banyak 

mikroorganisme dapat menimbulkan respons 

imun terutama pembentukan antibody. Contoh 

lain yaitu  respons imun yang ditimbulkan 

golongan darah ABO, sifat antigen dan 

spesivitas imunnya berasal dari polisakarida 

pada permukaan sel darah merah 

Lipid 

Biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi 

imunogenik bila diikat protein pembawa. Lipid 

dianggap sebagai hapten, contohya yaitu  

sfingolipid 

Asam Nukleat 

Tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi 

imunogenik bila diikat protein molekul 

pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya 

biasanya tidak imunogenik. Respons imun 

terhadap DNA terjadi pada penderita dengan 

LES 

Protein 

Kebanyakan protein yaitu  imunogenik dan 

pada umumnya multideterminant dan univalen 

Antigen yaitu  molekul merupakan bagian dari benda asing bagi tubuh. Tubuh 

menggunakan antibodi untuk mengenali benda asing dengan antigennya dan 

merangsang respons kekebalan, mengaktifkan sel darah putih untuk 

menghasilkan lebih banyak antibodi dan jalur kekebalan lainnya. Antigen 

dapat berupa protein atau gula yang terletak di permukaan luar sel patogen. 

Semua sel memiliki antigen termasuk yang ada di dalam tubuh, bakteri, dan 

bahkan virus. Antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan disesuaikan 

dengan antigen yang awalnya merangsang respons kekebalan. Antibodi 

memiliki situs pengenalan antigen (paratope) yang afinitasnya sangat spesifik 

untuk suatu daerah pada antigen yang disebut epitop 

 

8.2.2 Imunogenitas 

Imunogenitas yaitu  kemampuan untuk menginduksi respons imun humoral 

atau selular. Meskipun suatu bahan yang dapat menginduksi respons imun 

spesifik disebut antigen, tetapi lebih tepat disebut antigen, tetapi lebih tepat 

disebut imunogen. Semua molekul dengan sifat imunogenesitas juga memiliki 

sifat antigenesitas, namun tidak demikian sebaliknya. 

Ciri-ciri antigen yang sebagian besar menentukan Imunogenisitas respons 

imun yaitu : 

1. Keasingan  

Umumnya molekul yang dikenali sebagai bagian tubuh pejamu (self) 

tidak bersifat imunogenik; agar bersifat imunogenik, molekul harus 

dikenal sebagai non self. 

2. Ukuran Molekular 

Imunogen yang paling poten biasanya yaitu  protein berukuran 

besar. Secara umum, molekul dengan berat molekular kurang dari 

10.000 mempunyai sifat imunogenik yang lemah, dan molekul yang 

sangat kecil (misal, asam amino) bersifat non imunogenik. Molekul 

kecil tertentu (misal, hapten) dapat menjadi imunogenik hanya bila 

berikatan dengan protein karier. 

3. Kompleksitas Struktural Dan Kimiawi 

Diperlukan sejumlah kompleksitas kimiawi tertentu misalnya, 

homopolimer asam amino kurang bersifat imunogenik dibandingkan 

dengan heteropolimer yang mengandung dua atau tiga asam amino 

yang berbeda. 

4. Determinan Antigen (Epitop) 

Unit terkecil dari suatu antigen kompleks yang mampu berikatan 

dengan antibodi dikena sebagai determinan antigenik, atau epitop. 

Antigen dapatmemiliki satu determinan atau lebih, secara umum 

terdiri dari lima asam amino atau gula. 

5. Konstitusi Genetik Pejamu 

Dua strain spesies hewan yang sama mungkin memberikan respons 

yang berbeda terhadap antigen yang sama karena komposisi gen 

respons imun yang berbeda-beda pula. 


 

6. Dosis,Rute, Dan Waktu Pemberian Antigen 

Derajat respons imun bergantung pada jumlah antigen yang 

diberikan, respons imun dapat dioptimalkan dengan cara menentukan 

dosisnya secara cermat (termasuk jumlah dosis), cara pemberian, dan 

waktu pemberian (termasuk interval antara dosis satu dengan dosis 

berikutnya).  

Imunogenitas suatu zat dapat ditingkatkan dengan cara mencampurkannya 

dengan suatu ajuvan. Ajuvan yaitu  zat yang meransang respons imun, 

misalnya dengan cara mempermudah ambilan ke dalam sel penyaji antigen 


8.3 Reaksi Antigen dan Antibodi 

Antigen merupakan bahan yang dapat diikat molekul antibodi atau molekul 

reseptor secara spesifik pada sel T. Antibodi mampu mengenal hampir semua 

molekul biologik sebagai antigen seperti hasil metabolik lipid, hormon, hidrat 

arang, protein, asam nukleat dan fosfolipid. Antigen dikenal antibodi melalui 

ikatan nonkovalen dan irreversibel. Kekuatan ikatan antar epitop dan antibodi 

disebut sebagai afinitas antibodi. Epitop pada permukaan sel akan membentuk 

ikatan tunggal dengan molekul antibodi 

Respon terhadap infeksi beberapa jam pertama, penelanan mikroorganisme 

oleh makrofag (fagositosis) dan aktivasi komplemen melalui jalur alternatif 

merupakan respon pejamu nonspesifik yang penting. Respon yang bersifat non 

adaptif seperti pelepasan sitokin dari makrofag dan pelepasan nediator lain 

akan memacu reaksi inflamasi merupakan tahap selanjutnya yang akan terjadi. 

Respon ini akan berlangsung dengan cepat dan bertanggungjawab 

menghambat penyebaran patogen sampai respon adaptif spesifik dimulai (Siti 

Boedina Kresno, 2013). 

Respon adaptif diperantarai oleh antibodi selular dan humoral atau keduanya. 

Patogen yang masuk kedalam tubuh pejamu ditangkap oleh sel penyaji antigen 

(APC, Antigen Precenting Cells) seperti makrofag. Respon imunitas yang 

diperantarai oleh antibodi, limfosit T helper (CD4) mengenali antigen patogen 

yang bergabung dengan protein MHC kelas II pada permukaan APC. 

Akibatnya sitokin akan diproduksi yang mengaktivasi antibodi. Sel B 


 

mengalami proliferasi klonal dan berdiferensiasi membentuk sel plasma dan 

imunoglobulin spesifik terbentuk (antibodi) 

8.3.1 Sel T 

Sel T yaitu  limfosit yang memerlukan maturasi dalam timus dan membentuk 

beberapa subkelas dengan fungsi spesifik. Sel T mampu mengekspresikan 

molekul CD 4 dan molekul CD8. Sel T memiliki kemampuan unik yaitu 

mampu membedakan sel sehat dengan sel abnormal seperti sel terinfeksi atau 

kanker. Semua sel T memiliki reseptor sel T yang selalu terikat pada membran 

sel. Reseptor sel T mampu mengenal antigen peptida yang dipresentasikan 

molekul MHC pada permukaan sel lain.  

Sel T mempunyai fungsi sebagai efektor maupun regulator. 

1. Fungsi Regulasi 

Sel T berperan dalam regulasi imunitas selular dan imunitas humoral. 

Imunitas selular diperantai oleh sel sedangkan imunitas humoral 

diperantarai oleh antibodi. Respon sel B terhadap antigen bergantung 

pada sel T, dan harus mempunyai spesifisitas MHC kelas II yang 

sama. Antigen berinteraksi dengan Ig M pada permukaan sel B, lalu 

mengalami internalisasi dan diproses. Fragmen antigen kemudian 

berikatan dengan molekul MHC kelas II dan dipresentasikan ke 

permukaan sel B. Fragmen selanjutnya berinteraksi dengan sel T 

helper yang mengeluarkan sitokin yang meransang pemisahan sel B 

sehingga berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan 

antibodi. Respon imun yang diperantarai sel lain, antigen diproses 

oleh makrofag. Fragmen diikat molekul MHC kelas II, lalu 

berinteraksi dengan sel T helper yang menghasilkan sitokin untuk 

menstimulasi pertumbuhan sel CD4 (T helper) yang sesuai. 

2. Fungsi Efektor 

Imunitas yang diperantarai oleh sel dan reaksi hipersensitivitas 

lambat dihasilkan terutama untuk melawan antigen parasit 

intraselular. Sel CD4+ dapat mengenali antigen dan molekul MHC 

kelas II asing lalu mengaktifkannya. Sel T sitotoksik CD8+ memberi 

respon terhadap sitokin yang diproduksi oleh sel CD4, mengenali 

molekul MHC kelas I pada sel asing dan menghancurkan sel ini  


8.3.2 MHC (Major Histocompatibility Complex) 

Kompleks histokompatibilitas mayor (Major Histocompatibility Complex, 

MHC) yaitu  sebuah region yang dibentuk oleh lokus genetik yang ditemukan 

saat penelitian tentang penolakan jaringan asing, sehingga diberi nama histo 

(jaringan) kompatibilitas. Regio genetik ini memainkan peran sentral baik pada 

imunitas humoral maupun pada imnunitas yang diperantarai oleh sel. Molekul 

MHC diketahui mengikat antigen peptide dan menyajikannya ke sel-sel T, 

sehingga antigen transplantasi ini  memicu  pengenalan antigen oleh 

reseptor sel T. Reseptor sel T berbeda dengan antibody, molekul antibody 

berinteraksi dengan antigen secara langsung; reseptor sel T hanya mengenali 

antigen yang dipresentasikan oleh molekul MHC pada sel lain yaitu sel penyaji 

antigen. Reseptor sel T bersifat spesifik untuk suatu antigen, tetapi antigen 

harus disajikan pada molekul MHC yang berasal dari bagian tubuhnya sendiri 

(self). Reseptor sel T juga spesifik untuk molekul MHC 

Pada manusia, MHC yaitu  sekelompok gen yang dipelajari secara luas yang 

terletak pada kromososm 6. Di antara gen-gen penting pada MHC manusia, 

tang juga dikenal sebagai HLA (Human Leucocyte Antigen) yaitu  gen-gen 

yang menyandi protein mHC kelas I, kelas II, dan kelas III. 

Tabel 8.2: Gambaran penting beberapa produk Gen MHC pada Manausia 

Tipe Molekul 

MHC 

Kelas I Kelas II 

Lokus genetik 

(daftar parsial) 

HLA-A, HLA-

B, dan HLA-C 

HLA-DP, HLA-DQ, dan HLA-DR 

Komposisi 

polipeptida 

BM 45.000 + β2-

M (BM 12.000) 

Rantai α (BM 33.000), rantai β 

(BM 29.000) rantai Ii (BM 30.000) 

Distribusi sel Semua sel 

somatik 

bernukleus 

Sel-sel penyaji antigen (monosit-

makrogfag, sel B, sel dendritik), sel 

T manusia yang teraktivasi 

90 Imunologi Dasar 

 

Menyajikan antigen 

peptida ke 

Sel T sitotoksik 

CD8+ 

Sel T helper CD4+ 

Ukuran ikatan 

peptida 

8-11 residu 10-30 residu atau lebih 

Antigen 

ditambahkan pada 

MHC di dalam 

Golgi Kompartemen endosomal sesudah  

trantai invarian disingkirkan 

Pada tabel diatas menunjukkan protein kelas I disandi oleh gen HLA-A, HLA-

B, dan HLA-C. Protein-protein ini  tersusun atas dua rantai: 

1. glikoprotein transmembran dengan BM 45.000 yang secara 

nonkovalen berhubungan 

2. polipeptida yang tidak disandi oleh molekul MHC, dengan BM 

12.000 dan dikenal sebagai β2-mikroglobulin. 

Molekul kelasi I ditemukan pada hampir semua sel-sel berinti dalam tubuh. 

Protein kelas II disandi oleh regio HLA-D, lokus ini mempertahankan 

pengendalian respon imun. Protein-protein yang dikode oleh lokus HLA-D 

tersusun atas dua glikoprotein transmembran dengan BM 33.000 dan BM 

29.000 yang berikatan secara nonkovalen 

8.3.3 Pengikatan Antigen  

Antigen yang diambil oleh sel penyaji antigen seperti sel makrofag atau sel 

dendritik cenderung menjadi imunogen kuat; namun antigen yang tetap berada 

di dalam larutan biasanya merupakan imunogen yang lemah. Sel T dari 

seseorang yang imun terhadap mikroorganisme tidak akan berikatan langsung 

dengan mikroorganisme ini  tetapi akan berikatan dengan sel panyaji 

antigen yang telah mencerna organisme ini  (penyajian kelas II) atau yang 

telah terinfeksi oleh organisme ini  (penyaji kelas I). Ini memberi kesan 

walaupun sel T penting untuk respons imun terhadap antigen tertentu, peran 

mereka dalam mengenali antigen berbeda dari peran sel-sel yang menghadapi 

antigen pertama kali. Pemrosesan dan penyajian antigen merupakan 

mekanisme yang terdiri dari serangkaian peristiwa biokimia dan selular 

penting yang mengaktifkan sel T CD4+ dan CD8+ sesudah  sebuah sel penyaji 

 

antigen atau sel aksesori berikatan dengan antigen tertentu, 

menginternalisasinya, memrosesnya secara biokimia, dan kemudian 

menyajikannya ke sel T

Antigen-antigen endogen seperti protein-protein virus sitosolik yang disintesis 

dalam sel yang terinfeksi diproses untuk dipresentasikan oleh molekul MHC 

kelas I. Beberapa langkah yang terlibat dalam proses ini digambarkan Gambar 

8.1. 

 

Protein sitosolik dihancurkan oleh kompleks peptidase yang dikenal sebagai 

proteasom. Peptida sitosol mendapatkan akses ke molekul MHC kelas I yang 

baru muncul dalam retikulum endoplasma kasar melalui sistem transporter 

peptida (transporter terkait dengan pemrosesan antigen; TAP). Gen-gen TAP 

juga disandi dalam MHC. Dalam lumen retikulum endoplasma, antigen 

peptida dengan panjang sekitar8-11 residu membentuk kompleks dengan 

protein MHC kelas I yang baru muncul dan bekerja sama dengan β2-

mikroglobulin untuk membentuk kompleks antigen peptida-MHC kelas I yang 

seluruhnya terlipat yang kemudian dibawa ke permukaan sel agar terlihat dan 

dikenali oleh sel-sel T sitotoksik CD8 

 

Alur pengikatan molekul kelas I lebih sempit dibandingkan dengan molekul 

kelas II, sehingga peptida yang lebih pendek lebih sering ditemukan pada kelas 

I daripada molekul MHC kelas II. Meskipun molekul MHC kelas I dan II 

mengikuti mekanisme yang serupa di seluruh pemrosesan dan penyajian 

antigen, interaksi peptida sengan MHC kelas I dan kelas II terjadi pada lokasi 

yang berbeda di dalam sel. Sintesis di dalam RER retikulum endoplasma kasar 

diikuti, kemudian dipindahkan ke kompartemen Golgi dan molekul MHC 

kelas I dan II berpisah. Molekul MHC kelas I berinteraksi dengan peptida 

antigen; peptida yang memenuhi persyaratan untuk masuk dengan pas ke 

dalam alur ikatan akan berkombinasi dengan molekul-molekul MHC, dan 

kompleks MHC-peptida bergerak secara langsung ke permukaaan sel untuk 

penyajian antigen 





Dasar Imunitas Mukosa 

 


9.1 Sistem Imun Mukosa 

Sistem imun tubuh merupakan mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk 

mempertahankan keutuhannya dari bahaya yang ditimbulkan akibat paparan 

dari berbagai patogen yang berada di lingkungan. Sistem imun tubuh terdiri 

dari sistem imun tubuh non-spesifik (natural/innate) dan spesifik 

(adaptive/acquired). Mekanisme imunitas non-spesifik merupakan komponen 

normal di dalam tubuh yang tidak memerlukan paparan atau induksi dari luar 

dan telah terbentuk sejak lahir. Mekanisme ini tidak menunjukkan spesivitas 

terhadap patogen tertentu. Sedangkan sistem imun spesifik yaitu  sistem imun 

tubuh yang memiliki kemampuan spesifik dalam mengenali benda atau bahan 

yang dianggap asing oleh tubuh. Sistem kekebalan tubuh merupakan suatu 

sistem organ yang terdistribusi di seluruh tubuh untuk memeberikan 

pertahanan terhadap tuan rumah terhadap patogen yang masuk. Sistem 

kekebalan dibedakan berdasarkan struktur anatominya. Hal ini dimaksudkan 

agar masing-masing bagian dapat merespon patogen di jaringan tertentu sesuai 

dengan anatominya. Kelenjar getah bening dan limpa merupakan organ dari 

sistem imun adaptif yang berfungsi untuk merespon antigen yang masuk ke 

jaringan dan menyebar di dalam darah 

Mukosa juga merupakan organ imun adaptif yang sangat rentan terhadap 

infeksi. Mukosa merupakan penghalang fisik yang tipis yang permeabel dan 

melapisi permukaan tubuh bagian dalam. Mukosa merupakan jaringan yang 

melapisi semua rongga tubuh dan mengelilingi organ internal. Jaringan ini 

terlibat dalam proses absorbsi dan sekresi. Jaringan mukosa ada  di saluran 

pencernaan, saluran pernapasan, dan saluran reproduksi tubuh. Mukosa di 

dalam tubuh kita juga rentan terkena infeksi walaupun terletak di tubuh bagian 

dalam karena rentan terpapar mikroba maupun patogen pemicu  penyakit 

dari luar tubuh karena aktivitas fisiologisnya dalam pertukaran gas (paru-paru), 

penyerapan makanan (usus), aktivitas sensorik (mata, hidung, mulut, dan 

tenggorokan), dan juga reproduksi (Rahim dan vagina) 

Sistem imunitas mukosa juga sering disebut dengan (mucosal associated 

lymphoid tissue/MALT) merupakan bagian dari sistem imun spesifik. Sistem 

imunitas mukosa ada  di saluran pencernaan (GALT), saluran pernapasan 

(BALT), saluran urogenital, dan kelenjar mammae. Sistem imun mukosa 

memiliki fungsi utama (1) melindungi jaringan mukosa dari invasi dan 

kolonisasi patogen berbahaya yang menembus masuk ke dalam tubuh, (2) 

melindungi tubuh dari absorbsi atau uptake antigen berupa protein asing yang 

berasal dari makanan yang masuk ke dalam saluran cerna, (3) melindungi 

berkembangnya respons imun yang berpotensi merugikan. Sistem imun 

mukosa secara fungsional terdiri dari dua komponen, yaitu jaringan limfoid 

mukosa yang terorganisir dan sistem imun mukosa yang tersebar 

Sistem imun mukosa memiliki sifat yang khas berbeda dengan sistem imun 

lainnya di mana sistem imun mukosa dapat membedakan antigen yang bersifat 

patogen dan antigen yang tidak berbahaya. Untuk antigen yang berbahaya bagi 

tubuh sistem imun mukosa akan menghasilkan respon imun yang protektif 

dengan tujuan untuk melindungi tubuh sedangkan untuk antigen yang tidak 

berbahaya sistem imun mukosa akan bertindak dalam menekan imunitas 

(toleransi) agar tidak timbul respon imun. Hal ini dikarenakan mukosa akan 

berhubungan langsung dengan antigen yang berasal dari bakteri komensal dan 

antigen dari makanan dalam jumlah yang besar sehingga respon imun harus 

ditekan agar tidak menimbulkan respon terhadap antigen yang tidak berbahaya 

ini  

Dalam menjalankan fungsinya sistem imun mukosa memiliki dua mekanisme 

pertahanan adaptif, yaitu antigen exclusion dan mekanisme supresif. 

Mekanisme antigen exclusion diperankan oleh sIgA dan sIgM yang berperan 

dalam menghambat perlekatan dan kolonisasi mikroorganisme sehingga 

mencegah penetrasi dari antigen yang berbahaya. Mekanisme supresif atau 

sering juga disebut toleransi diaktifkan dengan tujuan untuk menghindari 

reaksi yang berlebihan terhadap kontak antigen yang tidak berbahaya pada 

permukaan mukosa. Antigen yang tidak berbahaya dicegah untuk berikatan 

dan menempel pada mukosa dengan bantuan IgA, barrier fisik, kimiawi, dan 

enzim dari mukosa. Untuk antigen yang berhasil masuk ke mukosa akan 

dieliminasi oleh sel-sel imun yang diaktifkan oleh sel imun regulator dengan 

tujuan untuk mencegah terjadinya respon imun yang berlebihan akibat paparan 

antigen yang sebenarnya tidak berbahaya ini  

Sistem imun sistemik berbeda dengan sistem imun mukosa. Sistem imun 

mukosa berhadapan dengan lingkungan eksternal tanpa penghalang dan 

bertugas menseleksi dengan spesifik antigen yang berpotensi merugikan dan 

tidak merugikan. Beberapa perbedaan respon imun sistemik dan mukosa 

yaitu  (1) sistem imun mukosa memiliki IgA yang merupakan 

immunoglobulin yang terikat dengan mukosa, (2) memiliki komponen sel T 

(T-Regulator) yang memiliki kemampuan mengatur dan juga sel yang 

bertindak (efektor), (3) memiliki sistem peredaran berorientasi pada mukosa 

yang pada awalnya dipusatkan di folikel mukosa yang kemudian bermigrasi ke 

jaringan limfoid yang tersebar dibawah epitel mukosa di seluruh tubuh 


 

9.2 Struktur Sistem Imun Mukosa 

Sistem imun mukosa secara anatomis dan fungsional dibagi menjadi 2 bagian 

penting yaitu jaringan induktif dan jaringan efektor. 

9.2.1 Jaringan Induktif 

Suatu daerah di dalam mukosa pencernaan (GALT) yang merupakan tempat 

untuk menginduksi respon imun yaitu  Peyer Patch. Peyer Patch terletak di 

usus halus, usus besar, usus buntu, dan rectum yang berfungsi sebagai tempat 

dimulainya respon imun adaptif dan humoral. Pada usus halus peyer patch 

memiliki struktur yang khas berbentuk kubah yang memanjang ke dalam 

lumen usus halus dengan bagian atas yang tersusun atas epitel khusus yang 

berhubungan langsung dengan folikel yang mengandung sel limfosit T yang 

sudah matur. Peyer patch memiliki lipatan mikro pada permukaan lumennya 

96 Imunologi Dasar 

 

yang disebut dengan sel M. Sel M memiliki permukaan yang tebal dan tidak 

mensekresi secret atau lendil. Hal ini dimaksudkan karena sel M khusus 

diadaptasi untuk berinteraksi langsung dengan antigen berupa molekul dan 

partikel di dalam lumen usus. Sel M sering juga disebut sel mikrofold 

merupakan sel epitel khusus yang berfungsi untuk mengambil sampel antigen 

yang ditemukan di dalam epitel terkait folikel pada Peyer patch 

Gambar 9.1: Sel M (Mikrofold cells) di dalam Usus Halus 

Pada mukosa saluran pernapasan atas (NALT) juga ada  tempat induksi 

respon imun terkait mukosa. Jaringan mukosa pada NALT yang merupakan 

tempat induksi respon imun yaitu  adenoid dan tonsil yang berfungsi untuk 

melawan antigen berbahaya yang tertelan atau terhidup. Adenoid dan tonsil 

bertindak sama dengan peyer patch yang merupakan jaringan limfoid. Jaringan 

limfoid ini juga mengandung limfosit T dan limfosit B yang akan memberi 

jalan untuk menginduksi respon imun untuk menuju jaringan efektor yang 

letaknya jauh 

9.2.2 Jaringan Efektor 

Jaringan efektor pada mukosa yaitu  lamina propria di sepanjang saluran 

pencernaan, saluran pernapasan, saluran perkemihan, dan juga kelenjar 

(kelenjar saliva dan mammae) yang akan mensekresi sIgA. Perjalanan respon 

imun sebelum mencapai jaringan efektor yaitu  sesudah  adanya induksi respon 

imun maka sel spesifik limfosit B dan limfosit T akan meninggalkan daerah 

induksi menuju jaringan limfatik eferen selanjutnya melalui duktus torasikus 

ditransport ke sirkulasi sistemik menuju ke jaringan efektor di mukosa, yaitu 

lamina propria 

Respon imun mukosa memiliki ciri yang spesifik di mana jalur penyebaran 

dari limfosit B dan limfosit T akan menghasilkan penyebaran sIgA secara 

menyeluruh yang menghasilkan proteksi diseluruh permukaan mukosa. 

Misalnya, stimulasi pada daerah induksi di saluran pencernaan (GALT) akan 

memberikan proteksi secara keseluruhan juga pada mukosa nasofaring dan 

juga saluran urogenital. Begitu juga dengan sIgA yang ada  di dalam ASI 

ibu. ASI yang diberikan kepada bayi melalui oral akan memberikan 

perlindungan pada saluran pencernaan dan pernapasan bayi 

 

9.3 Mekanisme Regulasi Sistem Imun 

Mukosa 

Sistem imun mukosa memiliki mekanisme toleransi yang unik untuk menjaga 

dan memelihara kondisi yang tetap seimbang terhadap self-antigen dan juga 

mikroflora yang ada  di dalam makanan dan di udara yang terhirup melalui 

sistem pernapasan. ada  beberapa mekanisme toleransi mukosa seperti 

induksi aktivasi sel anti-inflamasi, penekanan respon imun tubuh, dan yang 

paling penting yaitu  menginduksi aktifnya sel T-Regulator. 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui ada  empat jenis sel 

T yang mengatur toleransi, yaitu Th 2 yang menghasilkan sitokin anti-

inflamasi IL-4 dan IL-10 yang bertindak melawan sel efektor inflamasi, sel 

Trl-1 yang memproduksi IL-10 sebagai sitokin anti-inflamasi, TGF-β yang 

dihasilkan sel T untuk menekan respon imun, dan yang paling penting yaitu  

pengaktifan sel T-regulator. Sel T-reg berfungsi untuk menekan proliferasi dari 

sel-sel efektor akibat respon imun karena kontak dengan self-antigen. 

Perlindungan mukosa dari autodigestif dan alergi sebenarnya juga melibatkan 

beberapa lapisan regulasi. Selain sistem imun adaptif yang berperan dalam 

toleransi mukosa, sel imun perifer, yaitu sel dendritic juga berperan sangat 

penting dalam toleransi mukosa. Sel dendritic yang bertindak sebagai Antigen 

Precenting Cell (APC) berfungsi dalam mengatur aktivasi, ekspansi, dan juga 

kelangsungan hidup dari sel-sel efektor. Sel dendritic hidup di Peyer Patch, 


kelenjar getah bening mesentrika, dan vili usus halus. Sel ini juga memiliki 

sifat dan rangsangan yang berbeda-beda bergantung lokasi jaringan tempat 

berada, garis keturunan, dan sifat rangsangan pematangan sel. Hal ini 

bertujuan untuk menentukan karakteristik dari respon imun selanjutnya. 

Maksudnya disini yaitu  apakah sel ini akan menginduksi repon imun 

terhadapa antigen yang berbahaya atau menginduksi adanya tolerasi terhadap 

antigen yang tidak berbahaya 

 

9.4 Imunoglobulin A (Secretory IgA) 

Pada Sistem Imun Mukosa 

Permukaan mukosa tubuh berfungsi memberikan penghalang fisik terhadap 

patogen asing yang masuk ke dalam tubuh dan juga mengaktifkan mekanisme 

toleransi terhadap mikrobiota dan antigen makanan yang tidak berbahaya bagi 

tubuh. Perlindungan yang diberikan ini termasuk ke dalam sistem kekebalan 

mukosa (MALT). Sisem kekebalan mukosa (MALT) terdiri dari lapisan epitel 

berlendir disertai dengan jaringan limfoid dan sel imun pada lapisan lamina 

propria. 

 

 

Imunoglobulin A merupakan isotope dari antibody yang ada  pada mukosa 

tubuh di saluran pencernaan, pernapasan, saluran reproduski, air mata, air liur, 

dan di dalam ASI ibu. Imunoglobulin A di dalam darah memiliki struktur 

monomer sedangkan immunoglobulin A yang ada  pada mukosa memiliki 

struktur polimer dengan rantai J sering juga disebut sebagai secretory IgA 

(sIgA). Struktur dari sIgA yaitu  terdiri dari dua monomer IgA dengan rantai J 

sebagai penghubung. Sistem imun mukosa dapat mempertahankan 

keseimbangan terhadap mikrobiota dan patogen karena adanya kontribusi dari 

sIgA. Colostrum di dalam ASI ibu mengandung sIgA yang merupakan 

komponen immunoglobulin utama yang berfungsi memberikan perlindungan 

besar terhadap sistem kekebalan ibu dan anak 

 

9.5 Induksi Sekresi IgA 

Sistem imunitas mukosa pada prinsipnya dibagi menjadi dua bagaian, yaitu 

daerah induksi dan daerah efektor. Daerah induksi untuk efektor sIgA yaitu  

di jaringan limfoit terkait usus (GALT) yang termasuk Peyer Patch, folikel 

limfoid terisolasi, dan kelenjar limfa mesentrika, jaringan limfoid terkait 

nasofaring (NALT), dan jaringan limfoid terkait bronkus (BALT). Daerah 

efektor pada GALT akan mengandung 90% sIgA dari seluruh tubuh atau 

sekitar 3 g sIgA akan dikeluarkan ke lumen usus manusia setiap harinya. 

Induksi dari sIgA dipengaruhi oleh beberapa mekanisme seperti presentasi 

antigen oleh sel dendritic yang ada  di daerah sub epitel peyer patch 

tepatnya disisi bawah dari sel M. Antigen akan ditangkap oleh sel dendritic 

atau melalui transitosis oleh sel M. Selanjutnya antigen yang berhasil masuk ke 

dalam jaringan mukosa akan memperesentasikan antigen langsung ke sel T 

dan B yang ada  di lamina propria dan akan terjadi rekombinasi IgA oleh 

sel limfosit B yang pada akhirnya sIgA akan di seklesikan ke permukaan 

mukosa. Selain itu, mekanisme dari sel T-dependent dan sel T-independent 

juga akan memicu induksi dari sIgA. Mekanisme sel T-independent dalam 

memproduksi sIgA dimulai dari interaksi antara reseptor CD40 pada 

permukaan sel limfosit B dengan ligannya, yaitu CD40L yang berasal dari sel 

T. Proses ini dikenal dengan antigen switching yang akan menghasilkan dan 

memproduksi IgA yang spesifik dan berafinitas tinggi untuk menetralkan 

patogen berbahaya. Selanjutnya untuk mekanisme sel T-Independent untuk 

memproduksi IgA spesifik dan reaktif melalui sel imun bawaan dengan 

bantuan factor BAFF (B-cell activating factor) dan APRIL (ligan yang 

menginduksi proliferasi) yang bertanggung jawab untuk merangsang sel B 

untuk menghasilkan IgA atau IgG pada manusia 

 

9.6 Fungsi sIgA 

Immunoglobulin A (sIgA) lebih banyak diproduksi daripada semua kelas 

immunoglobulin lainnya yang menghabiskan sejumlah besar energi dari 

sistem kekebalan tubuh manusia. Jumlah serum IgA yaitu  sekitar 2-3 mg/mL 

dan merupakan immunoglobulin paling banyak sesudah  IgG dalam sekresi 

eksternal pada permukaan mukosa. Dalam tubuh manusia per hari diproduksi 

rata-rata 60 mg IgA per kilogram berat badan yang sebagian besar terlokalisasi 

pada permukaan mukosa. Immunoglobulin A banyak ada  di permukaan 

mukosa dikarenakan permukaan mukosa orang dewasa memiliki luas sekitar 

400 m2 yang merupakan tempat utama kerentanan terpapar oleh lingkungan 

yang mengandung antigen dan memerankan peranan penting dalam 

perlindungannya terhadap serangan dari patogen 

Secretory IgA (sIgA) berfungsi sebagai garis pertahanan terdepan dalam 

melindungi epitel usus dari toksin enteric dan berbagai mikroorganisme 

patogen. Kemampuan sIgA dalam mengenali epitope antigenic protein pada 

permukaan virus, bakteri, dan patogen dikenal dengan ekslusi imun. 

Imunoglobulin A (sIgA) memicu penghancuran antigen dan mikroorganisme 

dari lumen usus dengan cara menghalangi perlekatan patogen dengan reseptor 

pada sel epitel mukosa, menangkap patogen dengan lendir yang disekresi oleh 

mukosa, dan memfasilitasi penghancuran dengan adanya mukosiliar dan 

gerakan peristaltik. Imunoglobulin A (sIgA) telah diidentifikasi secara 

langsung dapat menurunkan factor virulensi bakteri, memengaruhi komposisi 

mikrobiota usus dengan mekanisme bergantung Fab dan tidak bergantung Fab, 

mempromosikan retrotransport antigen melintasi epitel usus menuju sel 

dendritic di dalam jaringan limfoid terkaid usus 

 

9.7 Mekanisme sIgA Menetralisir 

Antigen Pada Permukaan Mukosa 

ada  berbagai mekanisme pertahanan tubuh yang termasuk sisitem 

kekebalan mukosa yang diperankan oleh sIgA dalam menteralisir antigen yang 

ada  pada permukaan mukosa. 

9.7.1 Memblokir Perlekatan Antigen Ke Sel Epitel Mukosa 

Secretory IgA (sIgA) bertugas memberikan pertahan paling depan agar racun 

dan patogen tidak melekat pada permukaan mukosa dengan cara memblokir 

racun dan patogen ini  sebelum melekat pada mukosa. Salah satu 

contohnya yaitu  toksin yang dihasilkan oleh bakteri vibrio cholera yang 

mengakibatkan diare parah. Toxin ini dapat ditangkap dan dinetralkan oleh 

sIgA. Hal ini menunjukkan bahwa sIgA sangat penting dalam melindungi 

epitel usus dari paparan toksin yang dihasilkan oleh patogen luminal. 

Disamping itu, sIgA terlah terbukti mampu memblokir patogen dengan cara 

mengenali domain reseptor permukaan patogen dan mengikatnya sehingga 

perlekatannya dengan permukaan mukosa dapat dicegah 

9.7.2 Ekslusi Imun: Aglutinasi, Jebakan, Pembersihan 

Aglutinasi yaitu  pembentukan gumpalan mikroskopik dari antigen baik 

bakteri maupun virus sebagai hasil reaksi dari antigen-antibodi. Protein yang 

berasal dari antigen baik bakteri dan virus akan dikenali oleh sIgA yang 

selanjutnya akan ditangkap oleh sIgA dan terjadi reaksi silang antigen-antibodi 

secara spesifik membentuk gumpalan. Mekanisme aglutinasi ini akan 

mencegah antigen melekat pada permukaan mukosa. Selain itu, ada 

mekanisme lainnya, yaitu menangkap antigen dengan lendir yang dihasilkan 

mukosa, namun mekanime ini masih membutuhkan bantuan mekanisme 

lainnya karena antigen yang terperangkap di lendir hanya akan dikurangi atau 

memblokir perlekatannya tidak mengeliminasinya. Contohnya pada rotavirus, 

lendir yang dihasilkan oleh mukosa usus tidak cukup untuk memblok infeksi 

dari virus ini sehingga membutuhkan mekanisme lainnya seperti aglutinasi dan 

peristaltic untuk mengeluarkan antigen 

 

9.7.3 Efek Langsung sIgA pada Virulensi Bakteri 

Imunoglobulin A (sIgA) telah diketahui memiliki efek secara langsung 

terhadap virulensi bakteri seperti pada bakteri vibrio cholerae, IgA secara 

langsung melawan antigen O dari bakteri ini . Pengikatan IgA ke antigen 

O (IgAC5) mengakibatkan terjadinya penekanan pada aktivitas sistem sekresi 

tipe 3 pada bakteri ini . Di mana aktivitas sistem sekresi tipe 3 ini  

sangat penting bagi bakteri untuk masuk ke epitel usus. Efek penekanan 

terhadap IgAC5 pada aktivitas sekresi tipe 3 akan memberikan penurunan 

potensial membran pada bakteri dan ATP intraseluler sehingga efek virulensi 

dari bakteri ini  dapat ditekan dan bajteri tidak dapat invasi ke permukaan 

mukosa 

 

9.8 sIgA dan vaksinasi 

Dasar vaksinasi mukosa yaitu  adanya hubungan antara daerah induksi dan 

efektor pada imunitas mukosa dengan melibatkan sIgA. Vaksinasi yang 

diberikan melalui mukosa memiliki alasan khusus karena infeksi masuk 

melalui permukaan mukosa. Vaksinasi mukosa diharapkan akan memberikan 

perlindungan dengan cara mencegah penempelan dan kolonisasi patogen pada 

permukaan mukosa, mencegah toxsin melekat pada permukaan epitel mukosa, 

dan mencagah penetrasi dan kolonisasi patogen pada epitel mukosa. Adanya 

imunitas mukosa merupakan dasar perkembangan vasin per-oral. Di mana 

vaksin yang diberikan per-oral dapat memberikan proteksi pada seluruh 

permukaan mukosa dan kelenjar. Namun, hingga saat ini masih ada beberapa 

kesulitan dalam mengembangkan vaksin mukosa yang menginduksi jumlah 

antibodi sIgA yang cukup memadai. Beberapa sifat yang memengaruhi 

keberhasilan dari vaksinasi mukosa, yaitu vaksin harus dapat terlindungi dari 

eliminasi fisik dan enzim pencernaan, target masuk vaksin yaitu  pasa 

membran mukosa atau sel M, vaksi harus dapat melawan infeksi, 

menstimulasi secara tepat imunitas bawaan yang akan mengaktifkan sistem 

imun adaptif. Keberhasilan dari suatu vaksin juga dipengaruhi oleh sistem 

penghantaran antigen pada vaksin atau adjuvant (bahan yang ditambahkan ke 

dalam vaksin dengan tujuan meningkatkan imunogenitas) yang baik 


Imuno Hematologi 

 

 

Imunologi merupakan salah satu cabang ilmu Kesehatan yag mempelajari 

tentang konsep dan klinis manusia yang berhubungan dengan teknik dan terapi 

transfusi modern. Upaya penyelamatan manusia telah dikembangkan dan 

dicatat selama beberapa abad. Era dimulainya penggambaran sirkulasi darah 

benar-benar dimulai pada Tahun 1665 seorang fisiologis inggris Richard 

Lower, berhasil melakukan Transfusi darah melalui percobaan hewan 

peliharaannya. Pada Tahun 1667 Jean Bapiste Dennys, mentransfusikan darah 

melalui arteri karotis seekor domba ke dalam pembuluh darah seorang pemuda 

pada percobaan pertama berhasil namun, sesudah  transfusi ketiga dilakukan 

dengan darah domba, pria itu mengalami reaksi dan meninggal. Dennys juga 

melakukan percobaan beberapa kali dengan beberapa darah hewan namun 

tidak berhasil. Dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin dapat mentransfusi 

darah dari satu spesies ke spesies lain 

Tahun 1667-1818 saat  James Blundell dari Inggris berhasil mentransfusi 

darah manusia ke Wanita yang mengalami pendaran pada saat melahirkan. 

transfusi darah terus menghasilkan result yang tidak dapat diprediksi sampai 

Cart Lensteiner menemukan golongan darah ABO pada Tahun 1900 yang 

memperkenalkan era imunologis transfusi darah menjadi jelas bahwa 

ketidakcocokan transfusi disebabkan oleh faktor-faktor tertentu pada sel darah 

merah yang dikenal sebagai antigen.oleh karna itu ilmu imunohematologi terus 

dikembangkan sampai saat ini  

 

10.2 Dasar-dasar Imunohematologi 

10.2.1 Batasan Sistem Imunitas Tubuh 

Sistem kekebalan mencakup seluruh proses yang dimanfaatkan tubuh untuk 

melindungi seluruh tubuh sebagai penjaga akan potensi ancaman lingkungan. 

Beraneka ragam mencakup organic dan anorganik, baik yang hidup maupun 

yang mati berasal dari hewan, tumbuhan, jamur, bakteri, virus, parasite dan 

debu dalam polusi. Zat ini  masuk ke dalam tubuh dan memicu  

berbagai penyakit bahkan kerusakan jaringan. Selain itu, sel-sel tubuh bisa 

menua seiring bertumbuhnya usia yang memengaruhi sel dan bermutasi 

menjadi ganas sehingga harus disingkirkan 

Kesanggupan tubuh untuk mengeliminasi antigen yang masuk ke dalam tubuh 

bergantung kesanggupan system kekebalan tubuh untuk mengenali unsur asing 

atau antigen pada permukaan antigen ini  dan melaksanakan proses yang 

benar untuk mengeliminasi antigen ini . Kesanggupan ini dimiliki oleh 

anggota system kekebalan tubuh yang ada pada jaringan limforetikuler di 

semua bagian anggota tubuh, antara lain sumsum tulang, kelenjar getah 

bening, timus, sistem pernapasan, saluran pencernaan, dan organ lainnya. Sel-

sel yang ada dalam folikel ini bermula dari sel sentral sumsum tulang yang 

berpisah menjadi beraneka ragam sel dan bersirkulasi dalam tubuh melalui 

darah, system limfatik, serta organ limfoid yang terdiri dari timus dan organ 

limfoid primer, sekunder yang menandakan jawaban terhadap suatu 

rangsangan searah dengan sifat dan manfaatnya 

10.2.2 Pembagian Sistem Imun 

Terdiri dari dua system imun yaitu imun spesifik dan nonspesifik yang bekerja 

sama dan tidak terpisahkan yang berasal dari sel leukosit 

1. Sistem imun spefisik, butuh beberapa waktu untuk mengenali antigen 

sebelum dapat bereaksi terhadap ketahanan tubuh manusia. Respon 

terhadap sel disebut dengan fagositosis dengan cara membunuh sel 

yang sudah dikenal sebelumnya. Sistem imun spesifik berasal dari 

sel-sel limfosit T dan limfosit B. 

a. Gambaran sel limfosit  

Limfosit Jumlahnya meningkat pada orang dengan infeksi akut. 

Ukuran limfosit kecil 7-18 µm dan untuk limfosit besar 9-12 µm, 

kromatin kasar, rasio nukleus terhadap sitoplasma sangat tinggi, 

oleh karena itu sitoplasma sulit terlihat. Basofilik, bening, besar, 

inti agak bulat, tetapi ada juga yang melengkung. 

 

Gambar 10.1: Gambaran Sel Limfosit (Bain, 2017) 

b. System imun spesifik humoral (Limfosit B), membentuk 

antibody yang berguna sebagai perlindungan akan infeksi 

ekstravaskuler virus dan bakteri.  

c. System imun spesifik seluler (Limfosit T), sebagai perlindungan 

akan bakteri yang tumbuh intraseluler, virus, jamur, parasite dan 

keganasan. 

2. Sistem imun non spesifik, system ini berperan sejak awal yang 

membentuk perlindungan tubuh awal dalam melawan serangan 

beberapa mikroba, serta menyampaikan jawaban langsung atas 

antigen. Sel-selnya berasal dari sel makrofag, sel NK (Natural Killer) 

dan sel mediator. 

10.2.3 Alur Silang Sel Limfosit 

Sel limfosit berdeferensiasi dan menjadi sempurna dalam sel limfoid primer 

yang seterusnya masuk dalam peredaran darah. Limfosid B akan dihasilkan 

dan menjadi sempurna pada sumsum tulang sebelum masuk di dalam darah 

dan organ limfosit sekunder. Pencetus limfosid T melewati sumsum tulang 

menjadi sempurna dalam timus sebelum pindah keorgan limfoid sekunder 

Limfoid yang telah tersedia dalam sel limfoid sekunder akan bergerak ke 

limfoid lain di mana pendistribusian ini secara berkesinambungan. Manfaat 

dari pendistribusian ini kembali yaitu  selama terjadinya infeksi alamiah, akan 

banyak limfosit yang berpapasan dengan antigen dari mikroorganisme, 

Manfaat lain ialah kalau ada organ yang terdefisit karna infeksi, radiasi atau 

trauma, limfosit yang beredar dalam sirkulasi akan dikerahkan menuju sumber 

defisit ini . 

Keadaan umum, lintas limfosid akan berkesinambungan secara aktif melewati 

kelenjar limfe, tetapi bila ada antigen menembus arus limfosit dalam kelenjar 

limfe akan berhenti sementara. Sel yang spesifik terhadap antigen akan ditahan 

untuk menghadapi antigen ini  dan hal ini akan menimbulkan kelenjar 

bengkak yang sering terjadi infeksi. 

10.2.4 Sitokin dan Interleukin 

Pada reaksi imunologi banyak substansi hormon yang bekerja sama serupa 

hormon yang dilepaskan oleh sel leukosit lainnya, yang berfungsi sebagai 

sinyal interseluler yang mengatur respon imunologi sistematik terhadap 

rangsangan luar. Substansi ini  secara umum dapat dikenal dengan sitokin, 

yang kemudian pada Tahun 1979 nama sitokin disepakati dengan interleukin 

(IL) yang berarti adanya komunikasi antar sel leukosit. 

Sitokin dihasilkan dan berfungsi sebagai perantara pada pertahanan tubun non 

spesifik yang ada  pada IFN (Interferon), TNF (Tumor Neurotic Factor) 

dan IL-1 dan yang lain berkerja dalan imunitas spesifik. Pada puncaknya 

sitokin berfungsi sebagai pengontrol mobilisasi, ploriferasi dan diferensiasi sel. 

Penghasilan sel system imun diatur oleh sitokin yang juga mengatur 

hemopoiesis yang secara kolektif disebut dengan colony stimulating factor 

(CSF) sitokin pada CSF bekerja sebagai pembawa pesan kimia atau 

penghubung dalam hubungan interseluler yang sangat jelas 

Sitokin mengendalikan homeostasis dalam tubuh dan Bersama-sama mengatur 

sel-sel kekebalan. Rotasi pengenalan sitokin melibatkan banyak pos 

pemeriksaan untuk peradangan. Sitokin proinflamasi terlibat dalam pertahanan 

dan proses imunitas atas kemampuan infeksi atau kerusakan. Gangguan 

penghasilan sitokin dapat mengakibatkan bermacam penyakit imunopatologis, 

termasuk penyakit autoinflamasi dan autoimun, dan dalam beberapa kasus 

kanker. 

Di bidang dermatologi, semua penyakit kulit, terlepas dari apakah disebabkan 

oleh sistem kekebalan sendiri atau oleh infeksi, terkait dengan sitokin. Oleh 

sebab itu, tidak mengherankan bahwa selama 25 tahun terakhir sitokin sudah 

memerankan bagian pokok dari kesuksesan pengembangan teknik diagnostik, 

terapeutik, dan prognostik untuk pasien. Regulasi sitokin dianggap sebagai 

target terapi potensial pada berbagai penyakit kulit. Regulasi sitokin dapat 

dicapai dengan membatasi hasilnya, menghindari pengikatan antara sitokin 

dan reseptor sel target, atau mengganggu jalur pensinyalan yang 

ditimbulkannya. Berbagai langkah yang dapat diambil untuk mengatur sitokin 

ini dikembangkan tak terbatas untuk kemampuan terapeutiknya, termasuk 

pengobatan bermacam kelainan yang kita hadapi. Oleh sebab itu, sangat 

berguna bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk mengenali sitokin dan 

perannya. 

 

10.3 Pekembangan Imunohematologi 

10.3.1 Konsep Baru Sistem Imun 

Sebelum menjadi konsep baru adanya fakta-fakta yang menunjang hipotesis 

yang menjelaskan tentang system kekebalan tidak hanya berguna sebagai 

pertahanan tubuh tetapi system kekebalan juga sebagai pengawas susunan 

saraf pusat yang berfungsi sama dengan system persyarafan untuk menjaga 

hemostasis. Kurang lebih 100 Tahun lalu ilmuan fisiologi dari Perancis Claude 

Bernard mengamati hipotesis ini , selanjutnya ilmuan Amerika Walter B 

Cannon Tahun1939 mendefinisikan homeostasis sebagai proses fisologi dalam 

tubuh yang disambungkan oleh system saraf pusat untuk mengatur mobilisasi 

dari struktur cairan, perkembangan dan penyempurnaan jaringan, penggunaan 

energi dan melindungi supaya suhu tubuh stabil dan sering disebut dengan 

cybernetics. 

10.3.2 Regulasi Sistem Imun dan Neuendokrin 

Susunan saraf pusat berpengaruh atas fungsi system imun langsung dan tidak 

langsung melalui system endokrin atau hormon di antaranya: 

1. Intervasi jaringan limfoid 

Timus, limpa dan kelenjar limfe menerima inervasi simpatetik non 

adrenergic yaitu mengontrol aliran darah melalui jaringan limfoid, 

yang spontan akan memengaruhi arus lintas limfosit (system imun 

spesifik) 

2. Pituitrin/aksis Adrenal 

Pengelepasan hormon adrenakortikotropik (ACTH) dapat 

dipengaruhi oleh stress yang ada  pada pituitrin yang akan 

membebaskan glukokortikoid yang bekerja imunosupresif. Limfosit 

ini menghasilkan steroid sebagai respon terhadap cortocottrophin 

releasing faktor, dan medulla adrenal melepaskan katekolamin yang 

dapat merubah paparan perpindahan leukosit dan respon limfosit. 


3. Endokrin 

Limfosit mempunyai reseptor akan banyak hormon seperti insulin, 

tiroksin, growth hormon dan somastostanin. Hormon-hormon 

ini  dilepaskan selama stress memodifikasi fingsi sel T dan sel B 

yang kompleks yang tergantung dari kadar mediator. 

10.3.3 Interaksi antara Sistem Imun dan Neuroendokrin 

Berlangsung 2 Arah 

Hormon dan neurotransmiter yaitu  molekul pembawa pesan yang mencapai 

sistem kekebalan sistem neoendokrin sebagai respons terhadap perubahan 

lingkungan, seperti stres. Di sisi lain, sistem sitokin bertindak mirip dengan 

sistem kekebalan terhadap sistem neoendokrin saat  mikroorganisme 

ditantang dengan antigen, seperti pada tikus C 57, jenis yang resisten terhadap 

infeksi protozoa utama Leishmania. sistem kekebalan spesifik sel diperlukan 

untuk pelepasan sitokin dalam bentuk interleukin-2 dan interferon-gamma dari 

limfosit-T, dan tikus ini telah terbukti menjadi tipe dengan respons rendah 

terhadap hormon kortikosteroid dan sebaliknya BALB. Tikus sangat sensitif 

terhadap infeksi parasit ini karena tikus ini terbukti memiliki respon yang 

tinggi terhadap hormon kortikosteroid hormon ini, yang justru memicu  

sistem imun seluler tertekan, sehingga tidak dihasilkan zat sitokin 

 

10.4 Imunoglobulin 

Imunoglobulin (Ig) atau antibodi yaitu  glikoprotein yang dihasilkan oleh sel 

plasma. Imunogen spesifik, seperti protein bakteri, mengarahkan sel B untuk 

memisahkan menghasilkan sel plasma. Sel plasma yaitu  sel penghasil protein 

yang akan terlibat dalam respons imun humoral terhadap bakteri, virus, jamur, 

parasit, antigen seluler, bahan kimia, dan agen sintetis. Imunoglobulin 

merupakan sekitar 20% dari protein dalam plasma 

Imunogen atau antigen bereaksi dengan reseptor sel-B (BCR) pada permukaan 

limfosit-B, menghasilkan lambang yang mengarahkan mobilisasi komponen 

transkripsi untuk menstimulasi sintesis antibodi yang spesifik untuk imunogen 

yang merangsang sel-B. Kemudian, sel B klonal menghasilkan imunoglobulin 

(spesifisitas). Sistem kekebalan mengenali antigen yang menimbulkan proses 

sebelumnya (memori) karena perubahan sel B memori. sel B menengah dan 

tidak berdiferensiasi yang dapat dengan cepat berubah menjadi sel plasma. 

Antibodi dalam aliran darah mengenali antigen dalam cairan jaringan dan 

serum. 

10.4.1 Struktur dan Fungsi Imunoglobulin Dasar 

Antibodi atau imunoglobulin menyimpan dua rantai ringan dan dua rantai 

berat dalam susunan struktur ringan-berat-berat-ringan. Rantai berat berbeda di 

antara kelas. Mereka memiliki satu wilayah Fc yang memediasi fungsi biologis 

(misalnya, kapasitas pengikatan pada reseptor seluler) dan wilayah Fab yang 

mengandung tempat pengikatan antigen. Rantai dilipat menjadi wilayah yang 

disebut domain. Ada 4 atau 5 domain dalam rantai berat, tergantung kelasnya, 

dan dua domain dalam rantai ringan. Daerah hipervariabel (HRR) berisi situs 

pengikatan antigen. Ada tiga HRR di domain V dari setiap rantai ringan dan 

berat. Lipatan ini menjadi daerah yang menghasilkan dua tempat pengikatan 

antigen di ujung setiap monomer. Semua antibodi memperlihatkan satu atau 

lebih fungsi (bifungsional), termasuk aktivasi sistem komplemen,  

Berikut ini yaitu  lima jenis imunoglobulin pada manusia: 

1. IgM 

IgM memiliki molekul relatif 970 Kd dan konsentrasi serum rata-rata 

1,5 mg/ml. Ini terutama diproduksi dalam respon imun primer 

terhadap agen infeksius atau antigen. Ini yaitu  pentamer dan 

mengaktifkan jalur klasik dari sistem komplemen. IgM dianggap 

sebagai aglutinin kuat (misalnya, isoagglutinin anti-A dan anti-B 

yang masing-masing terkandung pada darah tipe B dan tipe A), dan 

monomer IgM digunakan sebagai reseptor sel B (BCR). (Angel A., 

2023) 

2. IgG 

IgG memiliki molekul relatif 146 Kd dan konsentrasi serum 9,0 

mg/mL. IgG dikatakan divalen, yaitu memiliki dua tempat pengikatan 

antigen identik yang berasal dari 2 rantai L dan 2 rantai H yang 

disambungkan oleh rangkaian disulfida. IgG disintesis sebagian besar 

dalam respon imun sekunder terhadap patogen. IgG dapat 

mengaktifkan jalur klasik sistem komplemen, dan juga sangat 

protektif. Empat subkelas IgG termasuk IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. 

IgG1 yaitu  sekitar 65% dari total IgG. IgG2 membentuk pertahanan 

inang yang penting terhadap bakteri yang dienkapsulasi. IgG 

merupakan imunoglobulin yang melintasi plasenta disebabkan bagian 

Fc-nya berhubungan dengan reseptor di plasenta, melindungi 

neonatus dari penyakit menular. IgG dengan demikian merupakan 

antibodi paling banyak yang ada pada bayi baru lahir. 

3. IgA 

IgA muncul dalam 2 struktur molekul yang berbeda: monomer 

(serum) dan struktur dimer (sekretori). IgA serum memiliki molekul 

relatif 160 Kd dan konsentrasi serum 3 mg/mL. Secretory IgA (sIgA) 

memiliki b molekul relatif 385 Kd dan konsentrasi serum rata-rata 

0,05 mg/mL. IgA yaitu  antibodi utama dalam sekresi yang 

ditemukan dalam air liur, air mata, kolostrum, usus, saluran kelamin, 

dan sekresi pernapasan. Tampaknya di membran mukosa sebagai 

dimer (dengan rantai J saat disekresikan) dan melindungi permukaan 

epitel sistem pencernaan, pernapasan, dan genitourinari. IgA 

memiliki komponen sekretori yang mencegah pencernaan 

enzimatiknya. Ini mengaktifkan jalur alternatif aktivasi sistem 

komplemen. 

4. IgE 

IgE yaitu  monomer. Ini memiliki molekul relatif 188 Kd dan 

konsentrasi serum 0,00005 mg/mL. Ini melindungi terhadap parasit 

dan berhubungan dengan reseptor afinitas tinggi pada sel mast dan 

basofil, memicu  reaksi alergi. IgE dianggap sebagai pertahanan 

inang yang paling penting terhadap infeksi parasit yang berbeda, 

termasuk Strongyloides stercoralis, Trichinella spiralis, Ascaris 

lumbricoides, dan cacing tambang 

5. IgD 

IgD yaitu  monomer dengan molekul relatif 184 Kd. IgD hadir 

dalam jumlah yang sedikit dalam serum (0,03 mg/mL) dan memiliki 

fungsi yang tidak diketahui melawan patogen. Itu dianggap sebagai 

BCR. IgD mungkin memainkan peran penting dalam diferensiasi 

limfosit yang dipicu antigen. 

10.4.2 Glikoprotein dan Fungsinya 

Glikoprotein merupakan unsur yang memiliki kandungan sebagian protein dan 

karbohidrat. Glikoprotein biasanya dalam biologi membuat beraneka ragam 

manfaat sebagai bagian sistem sel, enzim, hormon. Karbohidrat sendiri yaitu  

unsur dalam kimia organik dan biologi karbohidrat yang memiliki kandungan 

banyak unsur, tapi semua mengandung karbon, hidrogen, atom dan oksigen 

serta protein. Karbohidrat berasal dari golongan yang berbeda disebut dengan 

asam Amino. Membran sel mengandung protein yang bebas mengapung di 

dalam atau di dekat membran. Mereka mungkin bergerak dan terlibat dengan 

lingkungan sel. Dalam sains, awalan "gliko" yaitu  singkatan dari "gula". 

Setiap molekul protein dengan karbohidrat yang melekat dikenal sebagai 

glikoprotein. Rantai samping polipeptida protein secara kovalen bergabung 

dengan karbohidrat, rantai oligosakarida (glikan). Entah proses ini  terjadi 

selama translasi protein, atau terjadi pasca-translasi melalui glikosilasi.  

Gliko konjugat terbentuk saat  karbohidrat dihubungkan dengan protein dan 

lipid. Mereka ada dalam tiga bentuk: glikoprotein, glikolipid dan proteoglikan. 

Glikoprotein terbentuk saat  komponen protein mendominasi dalam 

kombinasi karbohidrat dan protein. Ini disebut sebagai proteoglikan jika 

ikatannya terdiri lebih banyak karbohidrat daripada protein. Glikolipid 

terbentuk saat  karbohidrat bergabung dengan lipid. 

Karbohidrat melekat di bagian nitrogen (N) dari gugus amino (-NH2) dan 

gugus R asam amino asparagin dalam glikoprotein terkait-N. Rantai samping 

amida asparagin sering berfungsi sebagai gugus R. Proses ikatan dikenal 

sebagai N-glikosilasi. Membran retikulum endoplasma (ER) menyediakan 

gula untuk glikoprotein terkait-N, yang kemudian ditransfer ke kompleks 

Golgi untuk diproses. Molekul hidroksilisin atau hidroksiprolin juga dapat 

membentuk koneksi dengan karbohidrat terkait-O. Tindakan ini dikenal 

sebagai O-glikosilasi. Di kompleks Golgi, gula terikat pada glikoprotein 

terkait-O 

Hampir semua proses seluler melibatkan glikoprotein. Mereka memainkan 

berbagai peran dalam tubuh kita, termasuk yang terkait dengan sistem 

kekebalan kita, perlindungan fisik, komunikasi sel-ke-sel, dan sistem 

reproduksi 

1. Glikoprotein hadir pada lipid bilayer membran sel. Mereka dapat 

beroperasi di lingkungan berair karena karakter hidrofiliknya, yang 

berperan dalam ikatan kimia dan pengenalan sel-sel.  

2. Glikoprotein permukaan organ sangat berguna untuk protein 

penghubung silang (seperti kolagen) dan sel untuk memperkuat dan 

menstabilkan membran.  

3. Tumbuhan dapat melawan gravitasi karena glikoprotein ditemukan di 

selnya.  

4. Sel darah putih menjaga arteri darah saat mereka mencari calon 

penyerbu. Mereka menggunakan glikoprotein tipe lektin untuk 

menempel pada lapisan pembuluh darah. 

5. Glikoprotein ada pada otak, di mana glikoprotein akan berkolaborasi 

dengan sinaptosom dan akson.  

6. Glikoprotein trombin, protrombin, dan fibrinogen diperlukan untuk 

pembekuan darah.  

7. Sel darah merah juga bergantung pada glikoprotein untuk fungsinya. 

Sel darah merah dengan golongan darah A memiliki antigen A atau 

glikoprotein A. Akibatnya, tubuh mengetahui bahwa darah yaitu  

bagian dari diri sendiri dan diperintahkan untuk tidak melawannya.  

8. Karena kemampuannya untuk memfasilitasi perlekatan sel sperma ke 

sel telur, glikoprotein sangat penting untuk reproduksi.  

9. Glikoprotein yang disebut musin ada pada lendir di mana 

glikoprotein menjaga permukaan epitel halus di saluran pencernaan, 

reproduksi, kemih, dan pernapasan.  

10. Glikoprotein mendukung respon imunologi. Antigen spesifik yang 

dapat diikat oleh antibodi (atau glikoprotein) bergantung pada 

karbohidrat yang dikandungnya. Glikoprotein permukaan pada sel B 

dan T juga mengikat antigen.  

11. Glikoprotein juga menjaga kesehatan kulit kita. Sel epitel yang 

membentuk kulit memiliki glikoprotein di permukaannya—ini 

membantu mengikat sel kulit di tubuh kita, menciptakan penghalang 

yang kuat untuk melindunginya. 

12. Glikoprotein lain yang membantu stabilitas kulit manusia yaitu  

cadherin.