Pada saat ilmu Imunologi belum berkembang, nenek moyang bangsa Cina membuat
puder (bubuk) dari serpihan kulit penderita cacar untuk melindungi anak-anak mereka dari
penyakit ini . Puder ini selanjutnya dipaparkan pada anak-anak dengan cara
dihirup. Cara yang mereka lakukan berhasil mencegah penularan infeksi cacar dan mereka
kebal walaupun hidup pada lingkungan yang menjadi wabah. Saat itu belum ada ilmuwan yang
dapat memberikan penjelasan, mengapa anak-anak yang menghirup puder dari serpihan kulit
penderita cacar menjadi imun (kebal) terhadap penyakit itu. Imunologi tergolong ilmu yang
baru berkembang
Ilmu tentang imunologi sebenarnya berawal dari penemuan vaksin oleh seorang ilmuan
yang bernama Edward Jenner pada tahun 1796. Edward Jenner dengan ketekunannya telah
menemukan vaksin penyakit cacar menular, smallpox. Pemberian vaksin terhadap individu
sehat selanjutnya dikenal dengan istilah vaksinasi. Vaksin yang digunakan berupa strain yang
telah dilemahkan dan tidak mempunyai potensi menimbulkan penyakit bagi individu yang
sehat. Penemuan oleh Jenner ini tergolong dalam penemuan yang besar dan sangat sukses
untuk mencegah berkembangnya penyakit cacar yang semakin meluas, namun diperlukan
waktu sekitar dua abad untuk memusnahkan wabah penyakit cacar di seluruh dunia setelah
penemuan besar ini
Penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner bermula pada tahun 1796, janner menduga
penyakit kuda, yang disebut "grease" yaitu sumber awal infeksi yang dipindahkan oleh
pekerja pertanian ke sekumpulan ternak yang diubah dan kemudian dinyatakan sebagai cacar
sapi. Vaksin pertama oleh Jenner berupa vaksin cacar, dengan menginokulasi pada seorang
anak dari pekerja peternakan yang bernama James Phipps berusia 8 tahun pada dengan cacar
sapi. Virus yang yang di inokulasikan mirip dengan cacar, dengan tujuan untuk menciptakan
kekebalan. Penelitian oleh Jenner dilakukan dengan memasukkan nanah yang diambil dari
cacar sapi ke dalam sayatan di lengan bocah itu, kemudian yang terjadi didapatkan reaksi
pada Phipps berupa demam dan gelisah, namun tidak terjadi infeksi lengkap (BBC, 2014).
Jenner tidak berhenti pada penelitiannya, iamelakukan percobaan lagi dengan
menyuntik Phipps dengan berbagai bahan yang bervariasi (pada jsaat itu sering disebut
metode imunisasi rutin) dengan hasil menunjukkan bahwa tidak ada penyakit yang terjadi
pada Phipps. James ingin mengembangkan penemuannya dengan menantang bocah itu untuk
diberi berbagai bahan dan sekali lagi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Berdasarkan
hasil dari beberapa experimen yang telah dilakukkan, Jenner menyimpulkan bahwa jika
variolasi setelah infeksi dengan cacar sapi gagal menghasilkan infeksi cacar maka kekebalan
terhadap cacar telah tercapai dengan ditandai dengan tidak terjadinya infeksi
Janner terus mengambangkan penelitiannya dengan tidak hanya berhenti pada uji coba
virus langsung dari hewan ternak ke manusia, janner melakukan uji coba baru berupa nanah
yang mengandung cacar sapi yang diinokulasi secara efektif dari orang ke orang. Dia menguji
teorinya, yang diambil dari cerita rakyat pedesaan bahwa pelayan susu yang menderita
penyakit cacar sapi ringan tidak pernah tertular cacar, yang merupakan salah satu pembunuh
terbesar pada masa itu terutama di kalangan anak-anak. Jenner berhasil menguji hipotesisnya
pada 23 subjek tambahan, termasuk putranya sendiri yang masih berumur 11 bulan bernama
Robert, dengan hasil yang sama bahwa pada subjek percobaannya tidak ada yang terkena
cacar maupun infeksi. Sekarang ini dengan semakin modernya perkembangan teknologi
metode mikrobiologis dan mikroskopis modern akan membuat studi Jenner lebih mudah
untuk direproduksi secara masal. Untuk mendapatkan pengakuan Lembaga medis berunding
panjang lebar atas temuan Jenner sebelum menerimanya, akhirnya hasil penemuan tentang
vaksinasi diterima dan pada tahun 1840 pemerintah Inggris melarang variolasi dan
memberikan vaksinasi dengan memakai cacar sapi secara gratis pada semua warga
World Health Organization (WHO) menyatakan virus yang memicu wabah
Smallpox musnah pada tahun 1979. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Jenner
belum bisa menjelaskan perihal smallpox dengan baik. saat Jenner menemukan vaksin
untuk smallpox, Jenner sendiri tidak mampu menemukan dan menjelaskan mengenai apa
pemicu penyakit yang mematikan itu. Barulah pada abad 19 seorang ilmuan bernama
Robert Koch bisa menjelaskan pemicu smallpox, bahwa adanya beberapa agen penginfeksi
berupa mikroorganisme yang menimbulkan penyakit. Mikroorganisme yang dimaksud
meliputi, virus, bakteri, fungi, dan beberapa eukariotik yang selanjutnya disebut parasit
Ilmuan yang mampu menjelaskan pemicu penyakit berasal dari mikroorganisme
yaitu, Heinrich Hermann Robert Koch berprofesi seorang dokter di Jerman. Robert Koch
menjadi terkenal setelah penemuannya tentang virus Anthrax bacillus (1877), Tubercle
bacillus (1882), dan Kolera bacillus (1883) dan pengembangan postulat Koch
Penemuan yang telah dihasilkan oleh Robert Koch sangat besar kontribusinya dalam
dunia kesehatan, maka diberikannya penghargaan nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada
1905 dan dianggap sebagai pendiri ilmu bakteriologi. Perjalanan hidup seorang Robert Koch
yang lahir pada 11 Desember 1843 di Clausthal, Jerman sebagai seorang anak dari pejabat
pertambangan. Dia belajar medis dibawah Jacob Henle di Universitas Gottingen dan tamat
pada tahun 1866, kemudian bekerja di Perang Perancis-Prusia dan kemudian menjadi opsir
medis di distrik Wollstein. Bekerja dengan alat yang sangat terbatas, dia menjadi salah satu
pendiri ilmu bakteriologi.
Penelitian mengenai virus anthrax bermula oleh seorang Casimir Davaine yang
menunjukkan transmisi langsung anthrax bacilus di antara sapi, selanjutnya Koch mempelajari
anthrax lebih dekat lagi. Dia menemukan metode untuk memurnikan basilus dari sampel
darah dan mengembangkan kultur murni. Dia menemukan bahwa anthrax tidak dapat hidup
di luar inang atau hospes dalam waktu yang lama, namun dapat membuat spora yang dapat
hidup bertahan lama. Penyebaran virus anthrax menjadi pertanyaan besar hingga
ditemukannya berbagai spora tertanam dalam tanah di ladang rumput yang memicu
merebaknya anthraks yang spontan dan tidak dapat dijelaskan
Untuk menggembangkan penelitiannya Koch membudidayakan organisme antraks di
media yang sesuai pada slide mikroskop yang menunjukkan pertumbuhannya menjadi filamen
panjang dan menemukan formasi di dalamnya berupa tubuh oval tembus cahaya berupa
spora yang tidak aktif. Koch menemukan bahwa spora kering dapat tetap hidup lama selama
bertahun-tahun bahkan dalam kondisi terbuka. Temuan ini menjelaskan kekambuhan
penyakit di padang rumput yang lama tidak digunakan untuk merumput, sebab spora yang
tidak aktif namun dalam kondisi yang tepat, mampu berkembang menjadi bakteri berbentuk
batang (basil) yang mampu memicu antraks dan menyebarkannya
Koch mempublikasikan hasil penemuannya mengenai anthrax pada tahun 1876 dan
dihargai di "Kantor Kesehatan Istana" di Berlin pada 1880. Di Berlin dia meningkatkan metode
yang dia pakai di Wollstein, termasuk teknik pencemaran dan pemurnian, dan media
pertumbuhan bakteri, termasuk piring agar dan cawan petri (dinamakan setelah J.R. Petri),
keduanya masih digunakan sampai sekarang.
Organisme parasit masih menjadi pekerjaan yang sulit bagi para ilmuan. Salah satu
penyakit akibat organisme parasit yaitu penyakit malaria yang ditimbulkan oleh plasmodium
kaki gajah oleh Wuchereria bancrofti yang masih merambah di belahan bumi ini terutama di
daerah tropis. Penemuan oleh Robert Koch dan penemuan besar lain pada abat 19 telah
mengilhami penemuan-penemuan lain mengenai vaksin beberapa penyakit, sehingga penyalit
aibat mikroorganisme dapat dikendalikan
Hasil penemuan Koch lainnya yaitu penemuan mengenai bakteri yang memicu
tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis) pada 1882 (penemuan dipublikasikan pada 24
Maret). Tuberkolosis yaitu pemicu dari satu dalam tujuh kematian di pertengahan abad
ke-19. Pada saat itu secara luas diyakini bahwa TBC yaitu penyakit bawaan. Namun Koch
yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh bakteri dan menular, lalu dia menguji empat
postulatnya memakai kelinci percobaan. Melalui eksperimen ini ditemukan bahwa hasil
eksperimennya tentang TBC, agen pemicu penyakit ini yaitu Mycobacterium
tuberculosis yang tumbuh lambat.
Pentingnya penemuannya meningkatkan posisi Koch menjadi setaraf dengan Louis
Pasteur dalam riset bakteriologi. Pada 1883, Koch bekerja dengan tim riset dari Prancis di
Alexandria, Mesir, mempelajari tentang virus kolera. Koch mengidentifikasi bakterium vibrio
yang memicu kolera, meskipun dia tidak pernah membuktikannya dalam eksperimen.
Pada 1885 dia menjadi profesor higinitas di Universitas Berlin, kemudian pada 1891 menjadi
direktur di Institut Penyakit Menular (Institute of Infectious Diseases) yang baru didirikan, dia
mundur dari posisi ini pada 1904. Robert Koch meninggal di Baden-Baden, Jerman pada
tanggal 27 Mei 1910 (Blevins, 2010).
Pada tahun 1880 Louis Pasteur yang merupakan seorang ilmuwan kimiawan dan ahli
mikrobiologi kelahiran Perancis, terkenal sebab penemuannya tentang prinsip vaksinasi
fermentasi mikroba dan pasteurisasi (cara mencegah pembusukan makanan hingga beberapa
waktu lamanya dengan proses pemanasan). Dia dikenal sebab terobosan yang luar biasa
dalam hal pemicu dan pencegahan suatu penyakit. Dari hasil penemuannya ia telah
menyelamatkan hidup orang banyak, dengan dibuktikan dengan menurunnya angka kematian
dari demam nifas dan menciptakan vaksin pertama untuk rabies dan antraks (Ullmann, 2011).
Virus rabies yang dikembang biakan oleh Louis Pasteur didalam jaringan saraf kelinci,
kemudian jaringan saraf yang terinfeksi ini digerus dan dibuatkan larutan chlorida sebagai
vaksin anti rabies yang pertama. Penemuan medisnya memberikan dukungan langsung untuk
teori kuman penyakit dan penerapannya dalam klinis kedokteran. Ia dianggap sebagai salah
satu dari tiga pendiri utama bakteriologi, bersama dengan Ferdinand Cohn dan Robert Koch,
dan dikenal sebagai “bapak mikrobiologi”.
Pasteur diangkat sebagai profesor kimia di University of Lille, fakultas yang mengajarkan
ilmu kimia dan berkewajiban untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah kimia untuk
diterapkan pada kegiatan industri lokal saat itu. Penemuan yang paling berpengaruh yaitu
tentang fermentasi pembuatan minuman beralkohol. Pasteur sangat termotivasi untuk
menyelidiki fermentasi saat bekerja di Lille. Pada tahun 1856 sebuah pabrik anggur lokal. M.
Bigot yang putra pemilik pabrik merupakan salah satu murid Pasteur, meminta nasehatnya
tentang masalah pembuatan alkohol bit dan asam (SCIHI, 2018).
Hasil penelitian Pasteur mampu menunjukkan bahwa organisme seperti bakteri yang
bertanggung jawab untuk souring anggur dan bir, selanjutnya dia memperpanjang studinya
untuk membuktikan pada susu yang hasilnya sama. Pada Agustus 1857 Pasteur mengirim
sebuah makalah tentang fermentasi asam laktat ke Société des Sciences de Lille, namun
makalah itu dibaca tiga bulan kemudian. Lalu dia mengembangkan gagasannya yang
menyatakan bahwa gula terurai menjadi alkohol dan asam karbonat, demikian juga ada
fermentasi khusus, ragi laktat selalu hadir saat gula menjadi asam laktat. Pasteur melengkapi
koleksi penelitiannya dengan juga menulis tentang fermentasi alkohol. Pasteur menunjukkan
bahwa bahwa ragi bertanggung jawab atas fermentasi untuk menghasilkan alkohol dari gula.
Ia juga menunjukkan bahwa, saat mikroorganisme yang berbeda mencemari anggur, asam
laktat diproduksi membuat anggur menjadi asam. Pada tahun 1861 Pasteur mengamati bahwa
lebih sedikit gula yang difermentasi per bagian ragi saat ragi terpapar ke udara. Tingkat
fermentasi yang lebih rendah secara aerobik dikenal sebagai efek Pasteur.
Penelitian oleh Pasteur menunjukkan bahwa pertumbuhan mikroorganisme
bertanggung jawab atas rusaknya minuman seperti bir, anggur, dan susu. sebab
pertumbuhan mikroorganisme maka Pasteur menemukan suatu proses di mana cairan seperti
susu yang dipanaskan hingga suhu antara 60 dan 100 ° C, mampu membunuh sebagian besar
bakteri dan jamur yang ada di dalamnya. Pasteur mematenkan hasil penemuannya ini
untuk melawan "penyakit" anggur pada tahun 1865. Metode pemanasan ini dikenal sebagai
pasteurisasi dan diterapkan untuk pembuatan bir dan susu
Penelitian Pasteur tidak berhenti pada cara memusnahkan mikroorganisme, dia terus
mengembangkan penelitiannya dengan melakukan percobaan untuk menemukan di mana
bakteri berasal. Pasteur mampu menemukan mikroorganisme parasit diperkenalkan dari
lingkungan. Pada awalnya hal ini diperdebatkan oleh para ilmuwan yang percaya bahwa
mereka secara spontan bisa menghasilkan, hingga pada tahun 1864 Akademi Ilmu
Pengetahuan Perancis bisa menerima hasil penelitian yang dikemukakan Pasteur. Pada tahun
1865 Pasteur menjadi direktur penelitian ilmiah di École Normale, di mana ia pernah
belajar. Penemuan selanjutnya tentang infeksi penyakit yang bermula dari Pasteur yang
diminta untuk membantu industri sutra di Perancis selatan, dimana disana terjadi epidemi
pada ulat sutra. Tanpa pengalaman subjek Pasteur berhasil mengidentifikasi bahwa infeksi
parasit sebagai pemicu nya dan menganjurkan bahwa hanya telur bebas penyakit harus
dipilih untuk menghentikan epidemi infeksi.
Berbagai investigasi yang berhasil Pasteur lakukan meyakinkannya akan kebenaran dari
teori kuman penyakit, yang menyatakan bahwa kuman menyerang tubuh dari luar. Awalnya
banyak yang menganggap bahwa organisme yang kecil seperti kuman tidak mungkin
membunuh mahluk yang lebih besar seperti manusia. Pasteur akhirnya menjabarkan teori ini
untuk menjelaskan pemicu banyak penyakit termasuk kedalam tubuh diantaranya
mikroorganisme pemicu penyakit antraks, kolera, TBC dan cacar serta pencegahannya
dengan pemberian vaksinasi (SCIHI, 2018).
Semakin berkembangnya ilmu imunologi tidak lepas dari kontribusi para ilmuan,
imuwan lain yang berjasa dalam bidang ilmu Imunologi yaitu Emil von Behring. Dia di kenal
dengan penemuannya tentang serum untuk melawan penyakit difteri sehingga membawanya
mendapat penghargaan Nobel. Kala itu difteri menjadi penyakit yang telah banyak menelan
korban jiwa di Jerman, dengan korban terbanyak yaitu anak-anak. Langkah Emil dimulai saat
menjadi asisten Robert Koch pada tahun 1888 di Universitas Berlin.
Penelitian oleh Emil pada saat itu dimulai dari percobaannya pada berbagai senyawa
golongan antiseptik seperti iodoform, merkuri, dan asetilen untuk membunuh bakteri
pemicu penyakit difteri. namun sayang usaha awal Emil belum berhasil, yang kemudian
dilanjutkan oleh ilmuan lain. Peneliti asal Prancis Roux yang mengungkapkan cara menangani
penyakit difteri, pemicu penyakit difteri bukan bakteri difterinya langsung melainkan racun
yang dihasilkan oleh bakteri. Filtrat dari kultur difteri yang tidak mengandung basil
mengandung zat yang mereka sebut racun yang diproduksi saat disuntikkan ke hewan.
Kultur diphtheria bacilli, berupa zat beracun yang mereka sebut toxalbumin dimana saat
disuntikkan dalam dosis yang sesuai ke marmut mampu mengimunisasi hewan-hewan ini dari
difteri. Dengan terungkapnya fakta ini , Emil kemudian melakukan serangkaian
percobaan untuk menemukan cara melawan difteri dengan terapi serum
Pertama Emil membuat kultur bakteri difteri dengan iodin triklorida. Kultur ini kemudian
disuntikan ke babi guinea. Hasilnya, babi guinea menjadi kebal terhadap difteri. Kemudian,
serum darah dari babi guinea ini disuntikkan ke babi guinea kedua dan ternyata babi
guinea kedua juga menjadi kebal terhadap difteri. Atas penemuannya ini Emil kemudian
dikenal sebagai pelopor/penemu terapi serum.
Behring menemukan bahwa kekebalan terhadap difteri dapat diproduksi dengan
menyuntikkan racun difteri yang dinetralkan oleh difteri antitoksin ke dalam binatang.
produksinya dari campuran ini selanjutnya dimodifikasi dan pemurnian campuran yang
semula diproduksi oleh Behring menghasilkan metode imunisasi modern yang sebagian besar
telah meilangkan difteri dari momok kematian pada umat manusia. Sebenarnya, ide terapi
serum yang dikemukakan oleh Emil Von Behring melibatkan kerja beberapa orang yang juga
memberi kontribusi cukup besar. Salah seorang rekannya yaitu seorang peneliti asal Jepang
yang bernama Shibasaburo Kitasato.
Bersama Kitasato, Emil menciptakan serum untuk melawan penyakit tetanus. Bahkan,
publikasi penemuan serum anti tetanus ini dilakukan seminggu sebelum Emil
mempublikasikan terapi serum untuk melawan penyakit difteri
Jules Jean Baptiste Vincent Bordet (1961) yaitu seorang ahli imunologi dan
mikrobiologi dari Belgia, penerima Penghargaan nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada
tahun 1919. Karyanya pada pengembangan bakteri tak seimbang dalam medium sintesis. Pada
tahun 1893 ia merupakan salah satu anggota asosiasi dokter di "Roger de Grimberghe
Martitiem Hospitaal" di Middelkerke (Belgia). Di Institut Pasteur Paris, ia bekerja di
laboratorium Elie Metchnikoff yang telah menemukan mekanisme fagosit, yaitu melalui
mekanisme sel darah putih yang menghilangkan infeksi dengan sara memasukkan dan
membunuh mikroorganisme penyerang yang ada pada tubuh. Dengan ini Metchnikoff
meletakkan dasar kekebalan sel
Penelitian oleh Bordet terus berlanjut hingga menemukan dasar kekebalan humoral,
yakni pertahanan organisme berdasar pada zat dalam serum yang hadir dalam cara alami atau
yang didapatkan sebagai tanggapan untuk pembukaan pada kuman atau tubuh asing dalam
dalam organisme. Saat Bordet memulai bekerja di laboratorium Metchnikoff. Pfeiffer seorang
ilmuwan Jerman yang telah menemukan serum dari kolera yang dicacar pada marmut mampu
membunuh vibrio kolera saat diberikan secara intraperitoneal pada marmut terinfeksi
nonvaksinasi (GENI, 2014).
Bagaimanapun, saat percobaan dilakukan dengan cara dibawa keluar binatang (dalam
pipa tes), Bordet melihat bahwa serum marmut yang divaksinasi tidak mampu membasmi
kuman namun hanya menggumpal menjadi formasi butiran kecil. Berdasarkan hal ini
Bordet menunjukkan pada tahun 1899 melalui contoh kecil yang merupakan hasil penelitian
ahwa organisme hewan bereaksi pada pengenalan kuman, sel atau bahan asing dengan
membentuk molekul. Molekul-molekul hasil reaksi dengan kuman yang disebut sebagai
antibodi mampu membuat ikatan spesifik pada benda asing dan membuatnya peka pada
molekul lain (disebut aleksin oleh Bordet, dinamai komplimen, molekul-molekul itu sudah
hadir dalam serum normal). Komplimen dengan berubah sanggup menghancurkan benda
asing. Mikroba, sel, atau senyawa kimia yang membuat berkembang pada antibodi yang
demikian disebut antigen.
Kekebalan humoral sampai saat itu berdasar pada kemampuan organisme hidup
membentuk antibodi tertentu pada antigen asing. Antibodi khusus itu mengikat antigen dan
membuatnya peka sebagai pelengkap, yang dalam perubahan mengikat kompleks antibodi
antigen dalam reaksi fiksasi pelengkap.
Imunitas humoral yang ditemukan oleh Bordet merupakan imunitas yang dimediasi oleh
makromolekul yang ditemukan dalam cairan ekstraseluler seperti antibodi yang disekresikan,
protein pelengkap, dan peptida antimikroba tertentu. Disebut kekebalan humoral sebab
melibatkan zat yang ditemukan dalam humor atau cairan tubuh, hal ini kontras dengan
imunitas yang diperantarai oleh sel. Aspek-aspeknya yang melibatkan antibodi sering disebut
kekebalan yang diperantarai antibodi.
Imunitas humoral mengacu pada produksi antibodi dan proses aksesori yang
menyertainya, termasuk ktivasi Th2 dan produksi sitokin, pembentukan pusat germinal dan
pengalihan isotipe, pematangan afinitas dan generasi sel memori. Ini juga mengacu pada
fungsi efektor dari antibodi, yang meliputi netralisasi patogen dan toksin, aktivasi komplemen
klasik, dan promosi opsonin untuk fagositosis dan eliminasi patogen.
Penemuan karakteristik fundamental pada kekebalan humoral membuktikan
kepentingan yang jelas pada kedokteran. Saat menunjukkan serum pada pasien untuk
patogen yang dikenal, orang dapat menyingkap kehadiran dalam serum antibodi khusus pada
kuman-kuman itu. Ini membuktikan adanya infeksi yang disebabkan kuman itu dengan pasien.
Reaksi fiksasi pelengkap juga memungkinkan diagnosis penyakit menular. Komplemen hanya
memutuskan kompleks antibodi khusus kuman. Pada saat itu jika serum dari pasien itu
(ditunjukkan pada kuman) membentuk kompleks yang mampu menentukan pelengkap,
serum ini memuat antibodi khusus pada kuman yang sama, menandakan kehadiran
sesungguhnya atau lalu saja pada kuman dalam pasien
Ringkasan
Pada saat ilmu Imunologi belum berkembang, nenek moyang bangsa Cina membuat
puder (bubuk) dari serpihan kulit penderita cacar untuk melindungi anak-anak mereka dari
penyakit ini . Puder ini selanjutnya dipaparkan pada anak-anak dengan cara
dihirup. Diikuti Edward Jenner dengan ketekunannya telah menemukan vaksin penyakit cacar
menular, smallpox. Pemberian vaksin terhadap individu disebut vaksinasi, Vaksin pertama
oleh Jenner berupa vaksin cacar, dengan menginokulasi pada seorang anak dengan cacar sapi,
namun tidak terjadi infeksi lengkap. Pada masa Jenner belum bisa menjelaskan perihal
smallpox dengan baik. Baru abad 19 Robert Koch bisa menjelaskan adanya beberapa agen
penginfeksi berupa atau parasit Dia menemukan bahwa, anthrax tidak dapat hidup di luar
inang atau hospes dalam waktu yang lama, namun dapat membuat spora yang dapat bertahan
lama. Spora-spora ini, tertanam dalam tanah sehingga memicu merebaknya anthraks.
Selain itu juga dikemukakan penyakit malaria yang ditimbulkan oleh plasmodium, kaki gajah
oleh Wuchereria bancrofti, masih merambah di belahan bumi ini terutama di daerah tropis.
Robert Koch juga memaparkan penemuan mengenai bakteri yang memicu tuberkulosis
yaitu Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1880, Louis Pasteur seorang ilmuwan,
kimiawan dan ahli mikro-biologi kelahiran Perancis dengan penemuannya tentang prinsip
vaksinasi, fermentasi mikroba dan pasteurisasi (cara mencegah pembusukan makanan hingga
beberapa waktu lamanya dengan proses pemanasan), dengan terobosan yang luar biasa
dalam menguak pemicu dan pencegahan suatu penyakit dan menciptakan vaksin pertama
untuk rabies dan antraks. Pasteur juga mampu membuktikan bahwa kuman penyakit, yang
menyatakan bahwa kuman menyerang tubuh dari luar (lingkungan). Diikuti olehh Emil Von
Behring yang mencoba berbagai senyawa golongan antiseptik, seperti iodoform, merkuri, dan
asetilen untuk membunuh bakteri pemicu penyakit difteri, lalu kekebalan terhadap difteri
diproduksi dengan menyuntikkan racun difteri yang dinetralkan oleh difteri antitoksin ke
dalam binatang. Roux menjelaskan bahwa pemicu penyakit difteri bukan bakteri difterinya
langsung melainkan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Bersama Kitasato, Emil menciptakan
serum untuk melawan penyakit tetanus. Selanjutnya Jules Jean Baptiste Vincent Bordet
dengan karyanya pada pengembangan bakteri tak seimbang dalam medium sintesis, yang
telah menemukan mekanisme fagosit, melalui yang sel darah putih menghilangkan infeksi
dengan memasukkan dan membunuh mikroorganisme penyerang.
Sistem Imunologi
Istilah Imunologi berasal dari bahasa latin yaitu Imunis dan Logos, Imun yang berarti
kebal dan logos yang berarti ilmu. Imunologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang
mekanisme kekebalan tubuh. Imunitas yaitu perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit
infeksi. Sel-sel dan molekul-molekul dalam tubuh manusia yang terlibat di dalam mekanisme
perlindungan akan mengaktifkan respon kekebalan dengan cara membentuk sistem imun.
Sedangkan respon yang terjadi untuk menyambut paparan benda asing disebut respon imun.
Imunologi yaitu suatu cabang ilmu yang luas dari biomedis yang mencakup kajian mengenai
semua aspek sistem imun (kekebalan) pada semua organisme
Jika sistem kekebalan tubuh manusia dapat bekerja dengan benar, sistem ini akan
mampu melindungi tubuh terhadappaparan infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan
sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Hal yang akan terjadi jika sistem kekebalan
kurang optimal atau melemah dalam bekerja, maka akan didapatkan kemampuannya dalam
melakukan proses perlindungan terhadap tubuh yang berkurang optimal, sehingga potensial
sekali untuk memicu patogen baik itu kuman, parasit maupun virus dapat berkembang
dalam tubuh. Selain sebagai perlindungan terhadap kuman, parasit dan virus, sistem
kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap perkembangan dan munculnya sel tumor.
jika sistem imun mengalami hambatan dalam berkerja, maka dapat meningkatkan resiko
timbulnya beberapa jenis tumor dalam tubuh baik yang bersifat jinak maupun ganas
Pengetahuan imunologi yang maju telah dapat dikembangkan untuk menerangkan
patogenesis serta menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sebelumnya masih kabur.
Kemajuan dicapai dalam pengembangan berbagai vaksin dan obat-obat yang digunakan dalam
memperbaiki fungsi sistem imun dalam memerangi infeksi dan keganasan, atau sebaliknya
digunakan untuk menekan inflamasi dan fungsi sistem imun yang berlebihan pada penyakit
hipersensitivitas
Fungsi dari sistem imun yaitu satu sistem terpenting yang terus menerus melakukan
tugas dan kegiatan dan tidak pernah melalaikan tugasnya dalam menjaga kekebalan tubuh.
Sistem ini melindungi tubuh sepanjang waktu dari semua jenis penyerang atau benda asing
yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit pada tubuh kita. Ia bekerja bagi tubuh
bagaikan pasukan tempur yang mempunyai persenjataan lengkap
Setiap sistem, organ, atau kelompok sel di dalam tubuh mewakili keseluruhan di dalam
suatu pembagian kerja yang sempurna. Setiap kegagalan dalam sistem akan menghancurkan
tatanan ini. Sistem imun sangat sangat diperlukan bagi tubuh kita. Sistem imun yaitu
sekumpulan sel, jaringan, dan organ yang terdiri atas sistem pertahanan yang dibedakan
berdasarkan bagian yang dapat dilihat oleh tubuh atau permukaan tubuh manusia sepeti kulit,
air mata, air liur, bulu hidung, keringat, cairan mukosa, rambut. Selain itu ada bagian yang
tidak dapat dilihat dari luar tubuh sebab terletak didalam tubuh seperti timus, limpa, sistem
limfatik, sumsum tulang, sel darah putih/leukosit, antibodi, dan hormon. Semua bagian sistem
imun ini bekerja sama dalam melawan masuknya virus, bakteri, jamur, cacing, dan parasit lain
yang memasuki tubuh melalui kulit, hidung, mulut, atau bagian tubuh lain
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa fungsi sistem imun merupakan suatu rangkaian
sistem untuk melindungi tubuh dari invasi pemicu penyakit dengan cara menghancurkan
dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus,
serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh. Selain berfungsi menghilangkan mikroorganisme,
sistem imun mampu untuk menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk
selanjutnya dilakukan perbaikan jaringan dan mengenali dan menghilangkan sel yang
abnormal
Peran dan fungsi sistem imun dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat
mengganggunya, antara lain yaitu seperti faktor genetik (keturunan), fisiologis, stres, usia,
hormon, olahraga, tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya dan penggunaan obat-obatan. Faktor
genetik yaitu timbulnya kerentanan terhadap suatu penyakit terjadi sebab ada riwayat
genetik atau keturunan yang dominan. Contohnya, seseorang dengan riwayat keluarga
diabetes melitus akan lebih beresiko menderita penyakit ini dalam hidupnya. ada
beberapa penyakit yang dipengaruhi oleh faktor genetik yaitu kanker, alergi, penyakit jantung,
penyakit ginjal dan penyakit mental.
Faktor fisiologis berperan dalam mempengaruhi kerja sistem pertahanan tubuh dengan
melibatkan beberapa fungsi dari berbagai organ yang ada pada tubuh. Organ di dalam tubuh
saling berkaitan membentuk suatu sistem, dimana jika salah satu fungsi organ yang
terganggu akan mempengaruhi kerja organ yang lain. Contohnya, berat badan yang
berlebihan akan menghambat sirkulasi darah kurang lancar sehingga dapat meningkatkan
kerentanan terhadap beberapa penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi dan berbagai
penyakit lain.
Dewasa ini semakin peliknya kehidupan dengan berbagai stresor yang ada menjadikan
faktor stres dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mempengaruhi kerja dari
hormone yang ada pada tubuh. Dalam kondisis stress tubuh akan melepaskan hormon seperti
neuroedokrin, glukokortikoid, dan katekolamin. Adanya peningkatan hormon berdampak
pada penurunan jumlah produksi sel darah putih dan berdampak buruk pada produksi
antibodi. Faktor Usia, dapat meningkatkan atau menurunkan kerentanan terhadap penyakit
tertentu. Contohnya bayi yang lahir secara prematur butuh perawatan lebih sebab lebih
rentan terhadap infeksi dari pada bayi yang normal. Pada usia 45 tahun atau lebih
meningkatkan resiko timbulnya penyakit kanker.
Faktor Hormon dalam mempengaruhi kerja sistem pertahanan tubuh bergantung pada
jenis kelamin. Wanita memproduksi hormon estrogen. Sedangkan pria memproduksi hormon
androgen yang bersifat memperkecil resiko penyakit autoimun, sehingga penyakit lebih sering
dijumpai pada wanita. Faktor aktifitas dalam mempengaruhi sistem pertahanan tergantung
dari pola aktifitas keseharian. Jika dilakukan secara teratur seperti melakukan olah raga akan
membantu meningkatkan aliran darah dan membersihkan tubuh dari racun. Namun, olahraga
yang berlebihan meningkatkan kebutuhan suplai oksigen sehingga memicu timbulnya radikal
bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh.
Pola istirahat tidur juga mempengaruhi kerja sistem pertahanan, pada saat tidur tubuh
akan beregenerasi memperbaiki sistem di ldalam tubuh. Gangguan pola istirahat tidur yang
terjadi pada seseorang akan memicu perubahan pada jaringan sitokin yang dapat
menurunkan imunitas seluler, sehingga kekebalan tubuh menjadi melemah.
Asupan nutrisi merupakan hal yang penting dalam sistem imun tubuh, contohnya
asupan nutrisi seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam pengaturan sistem imunitas. DHA
(docosahexaeonic acid) dan asam arakidonat mempengaruhi maturasi (pematangan) sel T.
Protein diperlukan dalam pembentukan imunoglobulin dan komplemen. Namun, kadar
kolesterol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri oleh makrofag.
Pajanan zat berbahaya, contohnya bahan radioaktif, peptisida, rokok, minuman beralkohol
dan bahan pembersih kimia mampu menurunkan fungsi imun tubuh. Penggunaan obat-
obatan tertentu, seperti penggunaan antibiotik yang berlebihan atau teratur, memicu
bakteri lebih resisten, sehingga saat bakteri menyerang lagi maka sistem kekebalan tubuh
akan gagal melawannya
Sistem imun seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor, dengan sistem tubuh
manusia yang memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks, sehingga mampu
mempertahankan tubuh pada keadaan sehat. Sistem imun seseorang dapat dibagi menjadi
sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif. Sistem imun bawaan membentuk pertahanan
awal yang melibatkan penghalang berupa organ tubuh permukaan, dengan reaksi
peradangan, sistem komplemen, dan komponen seluler. Sistem imun adaptif berkembang
sebab diaktifkan oleh sistem imun bawaan dan memerlukan waktu untuk dapat
mengaktifkan respons pertahanan yang lebih kuat dan spesifik. Imunitas adaptif (atau
dapatan) membentuk memori imunologis setelah respons awal terhadap patogen dan
membuat perlindungan yang lebih ditingatkan pada pertemuan dengan patogen yang sama
berikutnya. Proses imunitas dapatan ini menjadi dasar dari vaksinasi.
Gangguan pada sistem imun mengakibatkan terjadinya imunodefisiensi, penyakit yang
diakibatkan sebab proses imunodefisiensi yaitu autoimun, penyakit inflamasi, dan kanker.
Imunodefisiensi dapat terjadi saat sistem imun kurang aktif sehingga dapat menimbulkan
infeksi berulang sehingga dapat mengancam jiwa. Kemampuan sistem imun untuk merespons
patogen dipengarui usia, pada anak-anak dan orang tuaimunitas seseorang berkurang, pada
kasus orang tua disebabkan oleh imunosenesens. Kondisi suatu negara memepengaruhi
imunitas seseorang dimana di negara-negara berkembang melemahnya sistem imun
disebabkan oleh obesitas, penyalah gunaan alkohol, dan penggunaan obat. Berbanding
terbalik pada negara berkembang pemicu utama kejadian imunodefisiensi yaitu
malnutrisi, diet dengan protein yang tidak mencukupi dikaitkan dengan gangguan imunitas
seluler, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibodi IgA, dan produksi sitokin.
Selain itu, ketiadaan timus pada usia dini melalui mutasi genetik atau pengangkatan melalui
operasi mengakibatkan imunodefisiensi yang parah dan kerentanan tinggi terhadap infeksi.
Imunodefisiensi juga bisa muncul akibat faktor turunan atau perolehan (didapat). Penyakit
granuloma kronis merupakan penyakit dengan rendahnya kemampuan fagosit untuk
menghancurkan patogen, yaitu contoh dari imunodefisiensi turunan, seperti sindrom
defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV
Penyakit autoimun yaitu penyakit yang timbul sebab kegagalan sistem imunitas untuk
membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang tubuh sendiri.
Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti
bakteri atau virus. Seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya
melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga sistem kekebalan tubuh akan
melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat.
Pada keadaan kondisi yang normal, banyak sel T dan antibodi bereaksi dengan peptida self.
ada sel khusus (terletak di timus dan sumsum tulang) yang menyajikan limfosit muda
dengan antigen self yang dihasilkan pada tubuh dan untuk membunuh sel yang dianggap
antigen self, akhirnya mencegah autoimunitas. Contohnya pada penyakit lupus didapatkan
gangguan pada hampir semua sistem organ, ditandai dengan munculnya gejala seperti
demam, nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala,
kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan. Contoh lain pada penyakit autoimun
yaitu artritis rematoid, diabetes melitus tipe 1, penyakit Hashimoto, dan lupus eritematosus
sistemik
Sering kita menemukan dalam kehidupan sehari- hari beberapa orang disekitar kita
mengalami gatal ruam pada kulit sebab paparan suhu dingin, hal ini merupakan salah satu
gangguan imun hiipersensitifitas. Hipersensitivitas merupakan peningkatan reaksi terhadap
paparan suatu antigen tertentu, berupa respons imun yang berlebihan sehingga merugikan
tubuh dengan merusak jaringan tubuh sendiri. Antigen yang memicu alergi disebut
sebagai allergen, dimana jika terpapar allergen dapat mengakibatkan tubuh menjadi
sensitif sehingga saat terkena lagi akan mengakibatkan reaksi alergi. Gejala alergi beraneka
macam dapat berupa gatal-gatal, ruam kemerahan dikulit, mata merah atau kesulitan
bernapas.
Hipersensitivitas terbagi menjadi empat kelas (Tipe I-IV) yang dibedakan berdasarkan
mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif. Hipersensitivitas tipe I atau
reaksi segera atau reaksi anafilaksis sering dikaitkan dengan alergi. Gejala yang ditimbulkan
akibat hipersensitifitas sangat bervariasi mulai dari ketidak nyamanan sampai kematian.
Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh IgE, yang memicu degranulasi sel mast dan basofil
saat IgE berikatan silang dengan antigen. Hipersensitivitas tipe II terjadi saat antibodi mengikat
antigen sel inang dan menandai mereka untuk penghancuran. Jenis ini juga disebut
hipersensitivitas sitotoksik, dan diperantarai oleh antibodi IgG dan IgM. Kompleks imun
(kompleks antara antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) terkumpul pada
berbagai jaringan yang memicu reaksi hipersensitivitas tipe III. Hipersensitivitas tipe IV
(dikenal juga sebagai hipersensitivitas diperantarai sel atau hipersensitivitas jenis tertunda)
biasanya membutuhkan waktu antara dua sampai tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV
ikut serta dalam berbagai penyakit autoimun dan penyakit infeksi, namun juga dalam ikut serta
dalam dermatitis kontak (misalnya disebabkan oleh racun tumbuhan jelatang). Reaksi
ini diperantarai oleh sel T, monosit, dan makrofag (Uzzaman, 2012).
Karakteristik dari suatu patogen, yaitu dapat berevolusi secara cepat dan mudah
beradaptasi agar terhindar dari identifikasi dan penghancuran oleh sistem imun tubuh,
dengan melakukan mekanisme pertahanan tubuh dengan berevolusi untuk mengenali dan
menetralkan patogen. Bahkan organisme uniseluler seperti bakteri juga memiliki sistem imun
sederhana dalam bentuk enzim yang melindunginya dari infeksi bakteriofag. Mekanisme imun
lainnya terbentuk melalui evolusi pada eukariota kuno namun masih ada hingga sekarang
seperti pada tumbuhan dan invertebrata (White, 2016).
Banyaknya penyakit yang disebabkan sebab gangguan sistem imun, maka pentingnya
kesadaran masing-masing individu untuk menjaga sistem imun tuhuh. Pertanyaan yang sering
muncul yaitu bagaimana meningkatkan sistem imun pada tubuh, hal dapat dilakukan yaitu
dengan menghindari faktor yang memicu penurunan sistem imun. Selain itu beberapa cara
meningkatkan sistem imun tubuh yang disarankan yaitu dengan melakukan olahraga teratur
selain mampu meningkatkan sistem imun. Tak perlu aktivitas olahraga yang berat, cukup yang
ringan namun dilakukan secara teratur, misalnya dengan jalan santai di pagi hari atau yoga
saja sudah bisa membuat sistem kekebalan tubuh mengalami peningkatan kualitas. Berbagai
penelitian menunjukkan berolahraga selama 30 menit setiap hari, efektif untuk meningkatkan
sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Salah satu olahraga yang murah dan mudah
untuk dilakukan yaitu berjalan kaki.
Istirahat yang cukup merupakan suatu keadaan dinama tubuh mendapatkan kecukupan
dalam hal istirahat salah satunya dengan tidur, sejumlah ahli medis sepakat bahwasanya
istirahat yang memadai efetkif untuk meningkatkan sistem imun. Hal sebaliknya terjadi
jika tidak memiliki waktu istirahat yang benar, yakni menurunnya kualitas sistem
kekebalan tubuh disebab kan tubuh tidak mampu melakukan regenerasi sel imun dalam
tubuh yang diproses saat tubuh istirahat tidur. Penting untuk mencukupi kebutuhan tidur
sesuai dengan usia. Kecukupan waktu istirahat tidur masing- masing individu berbeda sesuai
dengan usia, seperti pada orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar 7-8 jam, dan pada
remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 9-10 jam sedangkan anak- anak lebih banyak
membutuhkan waktu tidur.
Sinar matahari pagi sangat baik bagi kesehatan tubuh sebab sinar matahari pagi
merupakan sumber utama vitamin D, dengan berjemur di bawah sinar matahari matahari
mampu meningkatkan imun dalam tubuh. Utamanya jika sistem kekebalan tubuh sedang
mengalami penurunan, seperti saat sedang sakit misalnya atau pada bayi yang terpapar sinar
matahari pagi akan meningkatkan sistem imun pada tubuhnya.
Makanan yang kita konsumsi akan menentukan derajat kesehatan seseorang, nutrisi
merupakan hal penting yang dibutuhkan seseorang untuk keberlangsungan sistim imun dalam
tubuh. Meningkatkan sistem imun bisa dilakukan dengan konsumsi buah dan sayuran tak
dapat dielakkan, jika buah dan sayuran yaitu cara meningkatkan sistem imun tubuh terbaik
yang bisa dilakukan. Penelitian menunjukkan, orang yang banyak mengonsumsi buah dan
sayur, cenderung tidak mudah sakit. Hal ini sebab vitamin dan mineral yang terkandung
dalam sayur dan buah mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus dan
bakteri pemicu penyakit. Kandungan serta dan mineral dalam buah dan sayur kaya anti
oksidan yang baik untuk sistem regenerasi dan pertahanan imun. Konsumsi buah dan sayur
tidak terbatas pada jenisnya, semua jenis buah dan sayurn pastikan selalu ada di dalam menu
sehari-hari supaya sistem imun selalu berada di dalam kondisi terbaiknya.
Dalam hidup memang kita tdak bisa lepas dari stres, namun kita dapat menghindarinya.
Stres yang berlebihan dan tidak terkendali bisa meningkatkan produksi hormon kortisol,
berupa hormon jahat yang ada di dalam tubuh. Dalam jangka panjang, peningkatan hormon
kortisol dapat mengakibatkan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Perlu pengelolaan stres
dengan baik untuk menghindari penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Hindari rokok dan alkohol sebab paparan asap rokok dan alkohol secara berlebih dapat
merusak sistem kekebalan tubuh. Zat yang terkandung dalam rokok dan asapnya beresiko
tinggi memicu infeksi paru, seperti bronkitis dan pneumonia. Sementara untuk pecandu
alkohol, risiko untuk terkena infeksi pada beberapa bagian tubuh dan menurunkan sistem
kekebalan sebab kandungan alkohol yang mampu menurunkan sistem imun tubuh sehingga
memudahkan beberapa penyakit lain untuk masuk menyerang tubuh. Konsumsi air mineral
sesuai anjuran 2 liter per hari lebih baik untuk menjaga metabolisme tubuh (
Imunologi berasal dari bahasa latin yaitu Imunis dan Logos, Imun yang berarti kebal dan
logos yang berarti ilmu. Imunologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang mekanisme
kekebalan tubuh. Imunitas yaitu perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi.
Sistem imun yaitu sekumpulan sel, jaringan, dan organ yang terdiri atas pertahanan bagian
yang dapat dilihat oleh tubuh dan berada pada permukaan tubuh manusia sepeti kulit, air
mata, air liur, bulu hidung, keringat, cairan mukosa, rambut. Selain itu ada bagiyang tidak
dapat dilihat dari luar tubuh sebab terletak didalam tubuh seperti timus, limpa, sistem
limfatik, sumsum tulang, sel darah putih/leukosit, antibodi, dan hormon. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kerja pada sistem pertahanan tubuh seperti faktor genetik (keturunan),
fisiologis, stres, usia, hormon, olahraga,tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya dan penggunaan
obat-obatan. Pola istirahat tidur juga mempengaruhi kerja sistem pertahanan. Pola asupan
Nutrisi, seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam pengaturan sistem imunitas. DHA
(docosahexaeonic acid) dan asam arakidonat mempengaruhi maturasi (pematangan) sel T.
Protein diperlukan dalam pembentukan imunoglobulin dan komplemen. Namun, kadar
kolesterol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri oleh makrofag.
Gangguan pada sistem imun mengakibatkan terjadinya imunodefisiensi, penyakit autoimun,
penyakit inflamasi, dan kanker. Imunodefisiensi dapat terjadi saat sistem imun kurang aktif
seperti pada penyakit AIDS. Penyakit autoimun yaitu penyakit yang timbul sebab kegagalan
sistem imunitas untuk membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas
menyerang tubuh sendiri. contoh penyakit autoimun yaitu artritis rematoid, diabetes melitus
tipe 1, penyakit Hashimoto, dan lupus eritematosus sistemik. Hipersensitivitas merupakan
peningkatan reaksi terhadap antigen tertentu atu respons imun yang berlebihan sehingga
dapat merusak jaringan tubuh sendiri. Gejala alergi dapat berupa gatal-gatal, ruam kemerahan
dikulit, mata merah atau kesulitan bernapas.
Meningkatkan sistem imun pada tubuh dapat dilakukan dengan menghindari faktor
yang memicu penurunan sistem imun, selain itu beberapa cara meningkatkan sistem imun
tubuh antara lain yaitu dengan melakukan olahraga teratur, Istirahat yang cukup, Berjemur di
bawah sinar matahari, konsumsi buah dan sayuran, hindari stres, dan hindari rokok dan
alkohol.
Belajar mengenai imunologi maka kita akan membahas tentang respon imun tubuh,
komponen yang menyusun sistem imun diantaranya yaitu atibodi (Ab) akan distimulus oleh
substani asing yang mampu merangsang respon imun tubuh yang sering disebut dengan
imunogen. Penggunaan istilah imunogen dan antigen (Ag) secara teori sedikit berbeda, sebab
penggunaan istilah Ag sudah digunakan secara luas maka Ag dianggap sama dengan
imunogen. Hal ini berarti Ag yang dimaksud pada modul ini yaitu Ag yang bersifat
imunogenik dan dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab.Sebagai contoh, sel
netrofil akan teraktivasi jika ada bakteri masuk ke dalam tubuh dan dapat menghasilkan Ab.
Dalam hal ini, unsur bakteri merupakan Ag yang merangsang respon imun (Arlita, 2017).
Ag merupakan unsur biologis yang mempunyai bentuk dengan struktur kimia yang
kompleks dan mempunyai berat molekul cukup besar untuk menstimulus Ab. Oleh sebab itu,
umumnya jenis Ag berasal dari molekul protein. Epitop (antigen determinan) merupakan
bagian dari Ag yang bereaksi dengan Ab atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T. Bentuk
epitop biasanya kecil dengan berat molekul ± 10.000 Da. Epitop ini berada pada molekul
pembawa sel darah merah, sehingga pada permukaan membran sel darah merah, ada
banyak epitop yang menentukan spesifisitas dan kekuatan reaksi Ag dan Ab, seperti terlihat
pada Gambar 1.24
Suatu substrat dengan berat molekul < 10.000 Da, memiliki karakteristik yang hampir
sama seperti obat antibiotik umumnya tidak imunogenik, namun bila diikat pada protein
pembawa yang cukup besar maka akan membentuk suatu kompleks yang dapat merangsang
respon imun untuk memproduksi Ab pada molekul ini . Substan dalam hal ini merupakan
hapten yang bentuk kompleksnya dapat bereaksi dengan Ab, namun ia sendiri tidak
imunogenik. Ilustrasi hapten dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.
Sistem Human Leucocyte Antigen(HLA) diketahui juga sebagai major histocompatibility
complex (MHC). HLA merupakan produk dari ekspresi gen HLA-A, -B, -C, -DR, -DQ, dan gen –
DP di kromosom 6. HLA diekspresikan di membran sel berinti yaitu sel limfosit, granulosit,
monosit, trombosit, dan beberapa organ, walaupun diketahui trombosit tidak mempunyai inti
sel. Berdasarkan struktur biokimianya, HLA dikategorikan menjadi HLA kelas I dan II. HLA kelas
I terdiri atas: HLA-A, -B, -C. HLA jenis ini berada di sel darah berinti di peredaran darah tepi
dan trombosit. HLA kelas II terdiri atas : HLA-DR, -DQ dan HLA-DP. HLA kelas II ada di
monosit dan limfosit B
HLA bersifat sangat imunogenik yang memicu untuk timbulnya respon imun dalam
tubuh. Pada proses transfusi, kehamilan dan transplantasi organ individu normal dapat
membentuk Ab terhadap HLA. Oleh sebab itu pada tindakan transplantasi organ, untuk
menghindari proses penolakan organ di tubuh pasien, dilakukan terlebih dulu pemeriksaan
HLA typing yang bertujuan untuk menentukan kecocokan donor dan pasien.
Sebagai upaya pencegahan pada proses transfusi untuk menghindari reaksi transfusi
sebab ketidakcocokan HLA donor dan pasien, maka komponen darah yang ditransfusikan
dihilangkan sel lekositnya dengan cara disaring memakai filter khusus untuk lekosit.
Komponen darah ini disebut dengan leukoreduction atau leucopoor.
Reaksi ketidakcocokan HLA dapat menghasilkan Ab terhadap HLA. Ab HLA biasanya
ada pada wanita yang mempunyai riwayat sering melahirkan. Jenis Ab ini dapat
ditemukan pada reaksi transfusi yang diberi nama transfusion related acute lung injury (TRALI)
yang akan dibahas di Bab 4. Selain HLA, ada juga jenis Ag lekosit yaitu Human Netrofil
Antigen/HNA di sel netrofil. Reaksi Ag dan Ab netrofil dapat memicu kondisi penurunan
sel netrofil (neutropenia) pada bayi baru lahir dan penyakit TRALI (Gordon & Jon, 2012).
Human Platelet Antigen (HPA) pada membran trombosit juga ada Ag khusus yang
diberi nama Human PlateletAntigen (HPA). Sebanyak 33 jenis HPA yang terletak di glikoprotein
membran trombosit telahvdiidentifikasi. Adanya ketidakcocokan HPA menimbulkan Ab
terhadap HPA. Antibodi (Ab) terhadap HPA memicu penurunan jumlah trombosit
(trombositopenia)
Penurunan jumlah trombosit sebab Ab terhadap HPA dapat terjadi pada janin ataupun
pada bayi baru lahir. Kondisi ini disebut dengan Fetomaternal/ neonatal
alloimunethrombocytopenia (FNAIT/NAIT). Selain itu, anti HPA juga dapat memicu
reaksi transfusi yang ditandai dengan kegagalan untuk meningkatkan jumlah trombosit
setelah transfusi darah dan dapat disertai dengan perdarahan dan timbulnya bintik/ bercak
merah (purpura)
Antigen pada sel darah merah diklasifikasikan di sistem golongan darah (ABO, Rh Lewis,
Kell, Kid, Duffy, dsb). Antigen pada sel lekosit diklasifikasikanmenjadi beberapa bagian sistem
HLA dan HNA. Sedangkan antigen pada trombosit diklasifikasikan ke dalam sistem HPA. Jenis
Ag ini tidak murni hanya berada di satu jenis sel darah saja, terkadang ada beberapa jenis
Ag sel darah merah yang ada di sel darah lain seperti trombosit, contohnya seperti ABO
atau HLA yang juga ada di trombosit.
Sitokin merupakan bagian dari sistem imun berupa protein yang dihasilkan oleh sel dan
mempunyai fungsi terhadap sel itu sendiri maupun sel-sel lain di sekitarnya. Sitokin ini
berperan dalam aktivasi sel-sel imun (baik non spesifik maupun spesifik), mengatur
hematopoiesis dan membantu terjadinya proses peradangan (inflamasi).
Sitokin memiliki beberapa nama lain yang diklasifikasikan berdasarkan jenis sel
penghasil, sel target dan cara kerja sitokin ini . Monokin yaitu sel yang dihasilkan oleh
makrofag, limfokin yaitu sitokin yang dihasilkan oleh limfosit, interleukin yaitu sitokin yang
dihasilkan oleh dan berfungsi untuk sel leukosit. Dalam menjalankan sisyem pertahanan
kemokin yaitu sitokin yang berfungsi untuk menstimulasi pergerakan sel-sel leukosit ke
tempat infeksi
ada 3 cara kerja sitokin dalam mekanisme pertahanan tubuh yaitu autokrin,
parakrin dan endokrin. Autokrin yaitu cara kerja sitokin dimana sitokin yang dihasilkan akan
bekerja sendiri terhadap yang memproduksinya. Parakrin merupakan cara kerja sitokin
dimana sitokin ini akan berperan pada sel-sel yang ada di sekitar sel penghasil
sitokin. Terakhir yaitu endokrin, yaitu jika sitokin akan mengikuti aliran darah dan
berperan pada sel-sel yang letaknya cukup jauh dari sel penghasilsitokin. Contoh sitokin yang
memiliki cara kerja endokrin yaitu hormon. Sitokrin yang dihasilkan dan bekerja dengan cara
autokrin, parakrin maupun sitokrin akan ditangkap oleh reseptor pada sel target
ada beberapa kemampuan kerja sitokin yaitu pleiotropisme, redundansi, sinergi
dan antagonism (Gambar 1.30). Pleiotropisme yaitu kemampuan satu sitokin untuk bekerja
pada beberapa jenis sel target. Redundansi yaitu kemampuan beberapa sitokin yang dapat
menghasilkan respon yang sama. Sinergi merupakan cara kerja beberapa sitokin yang saling
bekerja sama untuk menghasilkan satu jenis respon. Sedangkan antagonism yaitu
kemampuan satu jenis sitokin yang dapat menghambat sitokin lain
Karakteristik sitokin juga cukup khas, ada 5 karakteristik sitokin diantaranya yaitu
(1) akan diproduksi oleh-sel yang teraktivasi sebab mengenal patogen, (2) sitokin yang
diproduksi kemudian akan berikatan dengan reseptor yang ada di permukaan sel target, (3)
ekspresi reseptor sitokin ini akan diatur oleh sinyal eksternal, (4) sitokin yang sudah mencapai
sel target dapat mengubah ekspresi gen sel target, sehingga akan terjadi perubahan sifat dan
perbanyakan sel target, (5) produksi sitokin juga akan diatur sehingga produksitidak terlalu
banyak pada tubuh (feedback mechanism)
Sitokin juga bisa berperan dalam pengaturan respon imun non spesifik, spesifik,
hematopoiesis dan peradangan atau inflamasi. Pada pengaturan respon non spesifik, sitokin
akan mengaktivasi sel-sel respon imun non seluler. Sitokin jenis ini banyak dihasilkan oleh sel
makrofag dan sel dendritik. Contohnya yaitu TNFα (Tumor Necrosis Factor-α) dan IL-12
(Interleukin-12). Tumor Necrosis Factor-α yaitu sitokin yang berperan dalam stimulasi
leukosit ke tempat infeksi, menghasilkan peradangan dan menghilangkan patogen. Sedangkan
IL-12 akan berperan dalam menstimulasi sel NK dan sel limfosit T untuk menghasilkan IFNγ.
Sitokin IFNγ sendiri akan mengaktifkan makrofag untuk berfagositosis. Aktivitas sitotoksik dari
sel NK dan sel T CD8+ ditingkatkan oleh sitokin IL-12 ini. Selain itu IL- 12bersama-sama IFNγ
berperanmembantu diferensiasi sel limfosit T menjadi sel TH1.
Selain membantu respon imun non spesifik, sitokin juga bisa membantu respon imun
spesifik. Untuk kelompok pembatu respon imun spesifik sitokin ini banyak diproduksi oleh sel-
sel limfosit T. Contoh sitokin yang berperan yaitu IL-2 dan IFNγ. Untuk sitokin IL-2 memiliki
peran dalam membantu pertumbuhan, daya tahan, perbanyakan dan diferensiasi sel-sel
limfosit T. Selain itu juga berperan dalam perbanyakan dan diferensiasi sel NK serta
meningkatkan aktivitas sitotoksiknya. Sitokin IFNγ sangat penting dalam mengaktivasi
makrofag untuk melakukan fagositosis, diferensiasi sel T helper menjadi TH1, menstimulasi
produksi IgG dari sel limfosit B dan meningkatkan ekspresi MHC (Major Histocompatibility
Complex) dalam pengenalan antigen. Sitokin juga berperan dalam stimulasi hematopoiesis.
Contoh sitokin dengan fungsi ini antara lain IL-7 dan GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony
Stimulating Factor). Interleukin-7 akan menstimulasi pembentukan sel limfosit T dan B dari
progenitor limfoid, sedangkan GM-CSF akan membantu pembentukan sel dendritik dan
monosit yang berada pada sumsum tulang
Istilah imunogen dan antigen (Ag) atau sering disebut Imunoglobulin (Ig)secara teori
sedikit berbeda, akan namun sebab istilah Ag sudah digunakan secara luas, maka Ag dianggap
sama dengan imunogen. Hal ini berarti, Ag yang dimaksud pada modul ini yaitu Ag yang
bersifat imunogenik yang dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab. Sebagai
contoh, sel netrofil akan teraktivasi jika ada bakteri masuk ke dalam tubuh dan dapat
menghasilkan Ab. Dalam hal ini, unsur bakteri merupakan Ag yang merangsang respon imun.
Ag merupakan unsur biologis yang mempunyai bentuk dengan struktur kimia yang
kompleks dan mempunyai berat molekul cukup besar untuk menstimulus Ab. Oleh sebab itu,
umumnya jenis Ag berasal dari molekul protein. Epitop (antigen determinan) merupakan
bagian dari Ag yang bereaksi dengan Ab atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T. Epitop
ini berada pada molekul pembawa sel darah merah, ada banyak epitop yang menentukan
spesifisitas dan kekuatan reaksi Ag dan Ab,Suatu substan dengan berat molekul < 10.000 Da,
seperti obat antibiotik umumnya tidak imunogenik, namun bila diikat pada protein pembawa
yang cukup besar, maka akan membentuk suatu kompleks yang dapat merangsang respon
imun untuk memproduksi Ab terhadap molekul ini . Substan ini yaitu hapten,
yang bentuk kompleksnya dapat bereaksi dengan Ab, namun ia sendiri tidak imunogenik
Selain imunogen dan hapten, dikenal pula Sistem Human Leucocyte Antigen (HLA) atau
sering disebut juga sebagai Major HIstocompatibility Complex (MHC). HLA diekspresikan di
membran sel berinti, yaitu sel limfosit, granulosit, monosit, trombosit, dan beberapa organ,
walaupun diketahui trombosit tidak mempunyai inti sel. Berdasarkan struktur biokimianya,
HLA dikategorikan menjadi HLA kelas I dan II. HLA bersifat sangat imunogenik. Pada proses
transfusi, kehamilan dan transplantasi organ, individu normal dapat membentuk Ab terhadap
HLA. Oleh sebab itu, pada transplantasi organ, untuk menghindari proses penolakan organ di
tubuh pasien, dilakukan terlebih dulu pemeriksaan HLA typing, untuk menentukan kecocokan
donor dan pasien. Pada proses transfusi, untuk menghindari reaksi transfusi sebab
ketidakcocokan HLA donor dan pasien, maka komponen darah yang ditransfusikan
dihilangkan sel lekositnya dengan cara disaring atau disebut dengan leukoreduction atau
leucopoor.
Reaksi ketidakcocokan HLA dapat menghasilkan Ab terhadap HLA. Ab HLA biasanya
ada pada wanita yang mempunyai riwayat sering melahirkan. Jenis Ab ini dapat
ditemukan pada reaksi transfusi yang diberi nama “transfusion related acute lung injury”.
Selain HLA, ada juga jenis Ag lekosit yaitu Human Netrofil Antigen/HNA di sel netrofil.
Pada membran trombosit juga ada Ag khusus yang diberi nama Human Platelet Antigen
(HPA). Adanya ketidakcocokan HPA menimbulkan Ab terhadap HPA. Antibodi (Ab) terhadap
HPA memicu penurunan jumlah trombosit (trombositopenia).
Antigen pada sel darah merah diklasifikasikan di sistem golongan darah(ABO, Rh Lewis,
Kell, Kid, Duffy, dsb). Antigen pada sel lekosit diklasifikasikan pada sistem HLA, HNA. Antigen
pada trombosit diklasifikasikan ke dalam sistem HPA. Jenis Ag ini tidak murni hanya berada di
satu jenis sel darah saja, terkadang ada beberapa jenis Ag sel darah merah yang ada
di sel darah lain seperti trombosit, contohnya yaitu ABO atau HLA yang juga ada di
trombosit.
Aktifitas sistem kekebalan juga melibatkan kerja Sitokin yaitu protein yang dihasilkan
oleh sel dan berfungsi terhadap sel itu sendiri maupun sel-sel lain di sekitarnya Sitokin ini
berperan dalam aktivasi sel-sel imun (baik non spesifik maupun spesifik), mengatur
hematopoiesis maupun membantu terjadinya peradangan (inflamasi). Sitokin memiliki
beberapa nama lain yang dihubungkan dengan jenis sel penghasil, sel target dan cara kerja
sitokin ini monokin, interleukin, kemokin. ada tiga cara kerja sitokin dalam
mekanisme pertahanan tubuh, yaitu autokrin, parakrin dan endokrin. Contoh sitokin yang
memiliki cara kerja endokrin yaitu hormon. Sitokin yang dihasilkan dan bekerja dengan cara
autokrin, parakrin maupun sitokrin akan ditangkap oleh reseptor pada sel target
ada beberapa kemampuan kerja sitokin yaitu pleiotropisme, redundansi, sinergi
dan antagonism. Karakteristik sitokin juga cukup khas, diantaranya akan diproduksi oleh-sel
yang teraktivasi sebab mengenal patogen, sitokin yang diproduksi kemudian akan berikatan
dengan reseptor yang ada di permukaan sel target, ekspresi reseptor sitokin ini akan diatur
oleh sinyal eksternal, sitokin yang sudah mencapai sel target dapat mengubah ekspresi gen
sel target, sehingga akan terjadi perubahan sifat dan perbanyakan sel target, produksi sitokin
juga akan diatur sehingga tidak terlalu banyak pada tubuh (feedback mechanism).
Sitokin juga bisa berperan dalam pengaturan respon imun non spesifik, spesifik,
hematopoiesis dan peradangan atau inflamasi. Pada pengaturan respon non spesifik, sitokin
akan mengaktivasi sel-sel respon imun non seluler. Selain membantu respon imun non
spesifik, sitokin juga bisa membantu respon imun spesifik.
Glosarium
Antibodi : Zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri virus atau
untuk melawan toksin yang dihasilkan oleh bakteri.
Antibiotik : Zat kimia yang dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme, bakteri tertentu,
fungsi, dan aktinomisetet yang dalam kadar rendah sudah mempunyai
kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau menghancurkan
bakteri atau berbagai mikroorganisme yang lain (misalnya penisilin,
streptomisin, dan tetrasilin).
Bakteriologi : Ilmu tentang berbagai segi yang menyangkut bakteri.
Biokimia : Ilmu yang mempelajari tentang peranan berbagai molekul dalam reaksi
dan proses kimia yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup.
Diferensiasi : Proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan; perkembangan
tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit, dari homogen ke heterogen
Eksternal : Menyangkut bagian luar (tubuh, diri, mobil, dan sebagainya).
Fisiologis : Bersifat fisiologi; berkenaan dengan fisiologi.
Fogosit : Sel-sel yang berfungsi mematikan mikroorganisme asing di sekitarnya
dengan cara meluluhkannya ke dalam plasma selnya, misalnya sel darah
putih memakan kuman.
Granulosit : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma.
Hiperseneitivitas : Reaksi berlebihan, tidak diinginkan sebab terlalu senisitifnya respon imun
(merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan terkadang berakibat fatal)
yang dihasilkan oleh sistem imun.
Hemopoesis : Sering juga dikenal dengan hematopoiesis yaitu peristiwa pembuatan sel
darah
Hospes : (inang, hewan penjamu) hewan yang menderita kerugian.
Hormon : Zat yang dibentuk oleh bagian tubuh tertentu (misalnya kelenjar gondok)
dalam jumlah kecil dan dibawa ke jaringan tubuh lainnya serta mempunyai
pengaruh khas (merangsang dan menggiatkan kerja alat-alat tubuh).
Imun : Kekebalan terhadap suatu penyakit.
Inflamasi : Reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang ditandai oleh
panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh.
Infeksi : Terkena hama; kemasukan bibit penyakit; ketularan penyakit; peradangan
pengembangan pe-nyakit (parasit).
Inang : Organisme tempat parasit tumbuh dan makan.
Leukosit : Sel darah tanpa warna (berfungsi untuk membinasakan bakteri yang
memasuki tubuh); sel darah putih.
Leukoreduction : Juga dikenal sebagai Leukodepletion yaitu pengangkatan sel darah putih
dari produk darah oleh filtrasi.
Limfosit : Leukosit yang berinti satu, tidak bersegmen, pada umumnya tidak
bergranula, berperan pada imunitas humoral(sel B) dan imunitas sel (sel T)
Makrofag : Jenis leukosit yang membersihkan tubuh dari sampah yang tidak diinginkan
seperti bakteri dan sel-sel mati.
Molekul : Bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat
secara kimia. Bagian terkecil senyawa yang masih sanggup
memperlihatkan sifat-sifat dari senyawa itu.
Monosit : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma.
Organ : Alat yang mempunyai tugas tertentu di dalam tubuh manusia (binatang
dan sebagainya).
Organisme : Segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, hewan, dan sebagainya); susunan
yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan
tertentu.
Parasit : Benalu; pasilan; organisme yang hidup dan mengisap makanan dari
organisme lain yang ditempelinya.
Patogen : Parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya.
Prematur : Belum (waktunya) masak (matang); sebelum waktunya; belum cukup
bulan.
Resistensi : Ketahanan
Radioaktif : Berkenaan atau menunjukkan radioaktivitas.
Reseptor : Ujung saraf yang peka terhadap rangsangan pancaindra; penerima.
Sel : Bagian atau bentuk terkecil dari organisme, terdiri atas satu atau lebih inti,
protoplasma, dan zat-zat mati yang dikelilingi oleh selaput sel.
Stimulasi : Drongan; rangsangan.
Spora : Alat perbanyakan yang terdiri atas satu atau beberapa sel yang dihasilkan
dengan berbagai cara pada tumbuhan rendah, Cryptogamae, berukuran
sangat halus, mudah tersebar oleh angin, air, binatang dan sebagainya, dan
dapat tumbuh langsung pada kapang (bakteri dan sebagainya) atau tidak
langsung pada paku-pakuan menjadi individu baru.
Transplantasi : Pemindahan jaringan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain (seperti
menutup luka yang tidak berkulit dengan jaringan kulit dari bagian tubuh
yang lain).
TRALI : (Transfusion-Related Acute Lung Injury) reaksi transfusi yang terjadi
beberapa jam setelah transfusi darah.
Trombosit : Keping-keping darah, mempunyai bentuk yang tidak teratur dan tidak
mempunyai inti.
Vaksin : Bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk
vaksinasi.
Vaksinasi : Penanaman bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan ke
dalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau
menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap
penyakit ini .
KOMPONEN SISTEM IMUN
elamat anda telah selesai mempelajari bab 1 dan dianggap sudah menguasai serta
memahami konsep dasar Imunologi dan saat ini anda diharapkan mempelajari bab dua.
pada bab dua ini kita akan membahas tentang komponen yang ada pada sistem
imun meliputi sistem imun nonspesifik dan spesifik.
Sistem imun non spesifik memiliki kemampuan untuk menyerang semua organisme
patogen. Organisme patogen dapat berupa virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing yang
menyerang tubuh tubuh manusia. Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier
(pertahanan) yaitu mekanik, humoral, seluler dan kimia. Sedangkan sistem imun spesifik
humoral tersusun dari limfosit B atau sel B yang berasal dari sistem sel. Fungsi utama limfosit
B yaitu mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin.
Sistem imun spesifik selular terbentuk di sumsum tulang dan sering disebut sel T. Fungsi utama
sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan terhadap bakteri, virus, jamur dan
keganasan di intra seluler.
Setelah mempelajari bab kedua ini, Mahasiswa RPL program studi DIII teknologi bank
darah mampu menjelaskan komponen dalam sistem imun. Untuk memudahkan terwujudnya
capaian pembelajaran yang diharapkan bagi anda, maka pada bab ke dua ini diberikan materi
yang terbagi menjadi dua topik yaitu pada topik satu menguraikan tentang kekebalan non
spesifik dan topik dua dibahas tentang kekebalan non spesifik.
Untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman anda dalam mempelajari bab ini,
disarankan anda mengerjakan latihan dan menjawab soal soal di akhir bab tanpa m








