Imunologi 12

 



Pada saat ilmu Imunologi belum berkembang, nenek moyang bangsa Cina membuat 

puder (bubuk) dari serpihan kulit penderita cacar untuk melindungi anak-anak mereka dari 

penyakit ini . Puder ini  selanjutnya dipaparkan pada anak-anak dengan cara 

dihirup. Cara yang mereka lakukan berhasil mencegah penularan infeksi cacar dan mereka 

kebal walaupun hidup pada lingkungan yang menjadi wabah. Saat itu belum ada ilmuwan yang 

dapat memberikan penjelasan, mengapa anak-anak yang menghirup puder dari serpihan kulit 

penderita cacar menjadi imun (kebal) terhadap penyakit itu. Imunologi tergolong ilmu yang 

baru berkembang

Ilmu tentang imunologi sebenarnya berawal dari penemuan vaksin oleh seorang ilmuan 

yang bernama Edward Jenner pada tahun 1796. Edward Jenner dengan ketekunannya telah 

menemukan vaksin penyakit cacar menular, smallpox. Pemberian vaksin terhadap individu 

sehat selanjutnya dikenal dengan istilah vaksinasi. Vaksin yang digunakan berupa strain yang 

telah dilemahkan dan tidak mempunyai potensi menimbulkan penyakit bagi individu yang 

sehat. Penemuan oleh Jenner ini tergolong dalam penemuan yang besar dan sangat sukses 

untuk mencegah berkembangnya penyakit cacar yang semakin meluas, namun diperlukan 

waktu sekitar dua abad untuk memusnahkan wabah penyakit cacar di seluruh dunia setelah 

penemuan besar ini  

 

Penemuan vaksin cacar oleh Edward Jenner bermula pada tahun  1796, janner menduga 

penyakit kuda, yang disebut "grease" yaitu  sumber awal infeksi yang dipindahkan oleh 

pekerja pertanian ke sekumpulan ternak yang diubah dan kemudian dinyatakan sebagai cacar 

sapi. Vaksin  pertama oleh Jenner berupa vaksin cacar, dengan menginokulasi pada seorang 

anak dari pekerja peternakan yang bernama James Phipps berusia 8 tahun pada dengan cacar 

sapi. Virus yang yang di inokulasikan mirip dengan cacar, dengan tujuan untuk menciptakan 

kekebalan. Penelitian oleh Jenner dilakukan dengan memasukkan nanah yang diambil dari 

cacar sapi ke dalam sayatan di lengan bocah itu, kemudian yang terjadi didapatkan  reaksi 

pada Phipps berupa demam dan gelisah, namun  tidak terjadi infeksi lengkap (BBC, 2014). 

Jenner tidak berhenti pada penelitiannya, iamelakukan percobaan lagi dengan  

menyuntik Phipps dengan berbagai bahan yang bervariasi (pada jsaat itu sering disebut 

metode imunisasi rutin) dengan hasil menunjukkan bahwa tidak ada penyakit yang terjadi 

pada Phipps. James ingin mengembangkan penemuannya dengan menantang bocah itu untuk 

diberi berbagai bahan dan sekali lagi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Berdasarkan 

hasil dari beberapa experimen yang telah dilakukkan, Jenner menyimpulkan bahwa jika 

variolasi setelah infeksi dengan cacar sapi gagal menghasilkan infeksi cacar maka kekebalan 

terhadap cacar telah tercapai dengan ditandai dengan tidak terjadinya infeksi 

 

Janner terus mengambangkan penelitiannya dengan tidak hanya berhenti pada uji coba 

virus langsung dari hewan ternak ke manusia, janner melakukan uji coba baru berupa nanah 

yang mengandung cacar sapi yang diinokulasi secara efektif dari orang ke orang. Dia menguji 

teorinya, yang diambil dari cerita rakyat pedesaan bahwa pelayan susu yang menderita 

penyakit cacar sapi ringan tidak pernah tertular cacar, yang merupakan salah satu pembunuh 

terbesar pada masa itu terutama di kalangan anak-anak. Jenner berhasil menguji hipotesisnya 

pada 23 subjek tambahan, termasuk putranya sendiri yang masih berumur 11 bulan bernama 

Robert, dengan hasil yang sama bahwa pada subjek percobaannya tidak ada yang terkena 

cacar maupun infeksi. Sekarang ini dengan semakin modernya perkembangan teknologi 

metode mikrobiologis dan mikroskopis modern akan membuat studi Jenner lebih mudah 

untuk direproduksi secara masal. Untuk mendapatkan pengakuan Lembaga medis berunding 

panjang lebar atas temuan Jenner sebelum menerimanya, akhirnya hasil penemuan tentang 

vaksinasi diterima dan pada tahun 1840 pemerintah Inggris melarang variolasi dan 

memberikan vaksinasi dengan memakai  cacar sapi secara gratis pada semua warga  

World Health Organization (WHO) menyatakan virus yang memicu  wabah 

Smallpox musnah pada tahun 1979. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Jenner 

belum bisa menjelaskan perihal smallpox dengan baik. saat  Jenner menemukan vaksin 

untuk smallpox, Jenner sendiri tidak mampu menemukan dan menjelaskan mengenai apa 

pemicu  penyakit yang mematikan itu. Barulah pada abad 19 seorang ilmuan bernama 

Robert Koch bisa menjelaskan pemicu  smallpox, bahwa adanya beberapa agen penginfeksi 

berupa mikroorganisme yang menimbulkan penyakit. Mikroorganisme yang dimaksud 

meliputi, virus, bakteri, fungi, dan beberapa eukariotik yang selanjutnya disebut parasit  

Ilmuan yang mampu menjelaskan pemicu  penyakit berasal dari mikroorganisme 

yaitu, Heinrich Hermann Robert Koch berprofesi seorang dokter di Jerman. Robert Koch 

menjadi terkenal setelah penemuannya tentang virus Anthrax bacillus (1877), Tubercle 

bacillus (1882), dan Kolera bacillus (1883) dan pengembangan postulat Koch 

Penemuan yang telah dihasilkan oleh Robert Koch sangat besar kontribusinya dalam 

dunia kesehatan, maka diberikannya penghargaan nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada 

1905 dan dianggap sebagai pendiri ilmu bakteriologi. Perjalanan hidup seorang Robert Koch 

yang lahir pada 11 Desember 1843 di Clausthal, Jerman sebagai seorang anak dari pejabat 

pertambangan. Dia belajar medis dibawah Jacob Henle di Universitas Gottingen dan tamat 

pada tahun 1866, kemudian bekerja di Perang Perancis-Prusia dan kemudian menjadi opsir 

medis di distrik Wollstein. Bekerja dengan alat yang sangat terbatas, dia menjadi salah satu 

pendiri ilmu bakteriologi. 

Penelitian mengenai virus anthrax bermula oleh seorang Casimir Davaine yang  

menunjukkan transmisi langsung anthrax bacilus di antara sapi, selanjutnya Koch mempelajari 

anthrax lebih dekat lagi. Dia menemukan metode untuk memurnikan basilus dari sampel 

darah dan mengembangkan kultur murni. Dia menemukan bahwa anthrax tidak dapat hidup 

di luar inang atau hospes dalam waktu yang lama, namun dapat membuat spora yang dapat 

hidup bertahan lama. Penyebaran virus anthrax menjadi pertanyaan besar hingga 

ditemukannya berbagai spora tertanam dalam tanah di ladang rumput yang memicu  

merebaknya anthraks yang spontan dan tidak dapat dijelaskan 

Untuk menggembangkan penelitiannya Koch membudidayakan organisme antraks di 

media yang sesuai pada slide mikroskop yang menunjukkan pertumbuhannya menjadi filamen 

panjang dan menemukan formasi di dalamnya berupa tubuh oval tembus cahaya berupa 

spora yang tidak aktif. Koch menemukan bahwa spora kering dapat tetap hidup lama selama 

bertahun-tahun bahkan dalam kondisi terbuka. Temuan ini menjelaskan kekambuhan 

penyakit di padang rumput yang lama tidak digunakan untuk merumput, sebab  spora yang 

tidak aktif namun dalam kondisi yang tepat, mampu berkembang menjadi bakteri berbentuk 

batang (basil) yang mampu memicu  antraks dan menyebarkannya 

Koch mempublikasikan hasil penemuannya mengenai anthrax pada tahun 1876 dan 

dihargai di "Kantor Kesehatan Istana" di Berlin pada 1880. Di Berlin dia meningkatkan metode 

yang dia pakai di Wollstein, termasuk teknik pencemaran dan pemurnian, dan media 

pertumbuhan bakteri, termasuk piring agar dan cawan petri (dinamakan setelah J.R. Petri), 

keduanya masih digunakan sampai sekarang. 

Organisme parasit masih menjadi pekerjaan yang sulit bagi para ilmuan. Salah satu 

penyakit akibat organisme parasit yaitu penyakit malaria yang ditimbulkan oleh plasmodium 

kaki gajah oleh Wuchereria bancrofti yang masih merambah di belahan bumi ini terutama di 

daerah tropis. Penemuan oleh Robert Koch dan penemuan besar lain pada abat 19 telah 

mengilhami penemuan-penemuan lain mengenai vaksin beberapa penyakit, sehingga penyalit 

aibat mikroorganisme dapat dikendalikan 

 

Hasil penemuan Koch lainnya yaitu penemuan mengenai bakteri yang  memicu  

tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis) pada 1882 (penemuan dipublikasikan pada 24 

Maret). Tuberkolosis yaitu  pemicu  dari satu dalam tujuh kematian di pertengahan abad 

ke-19. Pada saat itu secara luas diyakini bahwa TBC yaitu  penyakit bawaan. Namun Koch 

yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh bakteri dan menular, lalu dia  menguji empat 

postulatnya memakai  kelinci percobaan. Melalui eksperimen ini ditemukan bahwa hasil 

eksperimennya tentang TBC, agen pemicu  penyakit ini  yaitu  Mycobacterium 

tuberculosis yang tumbuh lambat. 

Pentingnya penemuannya meningkatkan posisi Koch menjadi setaraf dengan Louis 

Pasteur dalam riset bakteriologi. Pada 1883, Koch bekerja dengan tim riset dari Prancis di 

Alexandria, Mesir, mempelajari tentang virus kolera. Koch mengidentifikasi bakterium vibrio 

yang memicu  kolera, meskipun dia tidak pernah membuktikannya dalam eksperimen. 

Pada 1885 dia menjadi profesor higinitas di Universitas Berlin, kemudian pada 1891 menjadi 

direktur di Institut Penyakit Menular (Institute of Infectious Diseases) yang baru didirikan, dia 

mundur dari posisi ini  pada 1904. Robert Koch meninggal di Baden-Baden, Jerman pada 

tanggal 27 Mei 1910 (Blevins, 2010).  

Pada tahun 1880 Louis Pasteur yang merupakan seorang ilmuwan kimiawan dan ahli 

mikrobiologi kelahiran Perancis, terkenal sebab  penemuannya tentang prinsip vaksinasi 

fermentasi mikroba dan pasteurisasi (cara mencegah pembusukan makanan hingga beberapa 

waktu lamanya dengan proses pemanasan). Dia dikenal sebab  terobosan yang luar biasa 

dalam hal pemicu  dan pencegahan suatu penyakit. Dari hasil penemuannya ia telah 

menyelamatkan hidup orang banyak, dengan dibuktikan dengan menurunnya angka kematian 

dari demam nifas dan menciptakan vaksin pertama untuk rabies dan antraks (Ullmann, 2011). 

Virus rabies yang dikembang biakan oleh Louis Pasteur didalam jaringan saraf kelinci, 

kemudian jaringan saraf yang terinfeksi ini digerus dan dibuatkan larutan chlorida sebagai 

vaksin anti rabies yang pertama. Penemuan medisnya memberikan dukungan langsung untuk 

teori kuman penyakit dan penerapannya dalam klinis kedokteran. Ia dianggap sebagai salah 

satu dari tiga pendiri utama bakteriologi, bersama dengan Ferdinand Cohn dan Robert Koch, 

dan dikenal sebagai “bapak mikrobiologi”. 

Pasteur diangkat sebagai profesor kimia di University of Lille, fakultas yang mengajarkan 

ilmu kimia dan berkewajiban  untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah kimia untuk 

diterapkan pada kegiatan industri lokal saat itu. Penemuan yang paling berpengaruh yaitu 

tentang fermentasi pembuatan minuman beralkohol. Pasteur sangat termotivasi untuk 

menyelidiki fermentasi saat bekerja di Lille. Pada tahun 1856 sebuah pabrik anggur lokal. M. 

Bigot yang putra pemilik pabrik merupakan salah satu murid Pasteur, meminta nasehatnya 

tentang masalah pembuatan alkohol bit dan asam (SCIHI, 2018). 

Hasil penelitian Pasteur mampu menunjukkan bahwa organisme seperti bakteri yang 

bertanggung jawab untuk souring anggur dan bir, selanjutnya dia memperpanjang studinya 

untuk membuktikan pada susu yang hasilnya sama. Pada Agustus 1857 Pasteur mengirim 

sebuah makalah tentang fermentasi asam laktat ke Société des Sciences de Lille, namun  

makalah itu dibaca tiga bulan kemudian. Lalu dia mengembangkan gagasannya yang 

menyatakan  bahwa gula terurai menjadi alkohol dan asam karbonat, demikian juga ada 

fermentasi khusus, ragi laktat selalu hadir saat  gula menjadi asam laktat. Pasteur melengkapi 

koleksi penelitiannya dengan juga menulis tentang fermentasi alkohol. Pasteur menunjukkan 

bahwa bahwa ragi bertanggung jawab atas fermentasi untuk menghasilkan alkohol dari gula. 

Ia juga menunjukkan bahwa, saat  mikroorganisme yang berbeda mencemari anggur, asam 

laktat diproduksi membuat anggur menjadi asam. Pada tahun 1861 Pasteur mengamati bahwa 

lebih sedikit gula yang difermentasi per bagian ragi saat  ragi terpapar ke udara. Tingkat 

fermentasi yang lebih rendah secara aerobik dikenal sebagai efek Pasteur. 

Penelitian oleh Pasteur menunjukkan bahwa pertumbuhan mikroorganisme 

bertanggung jawab atas rusaknya minuman seperti bir, anggur, dan susu. sebab  

pertumbuhan mikroorganisme maka Pasteur menemukan suatu proses di mana cairan seperti 

susu yang dipanaskan hingga suhu antara 60 dan 100 ° C, mampu membunuh sebagian besar 

bakteri dan jamur yang ada di dalamnya. Pasteur mematenkan hasil penemuannya ini  

untuk melawan "penyakit" anggur pada tahun 1865. Metode pemanasan ini dikenal sebagai 

pasteurisasi dan diterapkan untuk pembuatan bir dan susu 

Penelitian Pasteur tidak berhenti pada cara memusnahkan mikroorganisme, dia terus 

mengembangkan penelitiannya dengan melakukan percobaan untuk menemukan di mana 

bakteri berasal.  Pasteur mampu menemukan mikroorganisme parasit diperkenalkan dari 

lingkungan. Pada awalnya hal ini diperdebatkan oleh para ilmuwan yang percaya bahwa 

mereka secara spontan bisa menghasilkan, hingga pada tahun 1864 Akademi Ilmu 

Pengetahuan Perancis bisa menerima hasil penelitian yang dikemukakan Pasteur. Pada tahun 

1865 Pasteur menjadi direktur penelitian ilmiah di École Normale, di mana ia pernah 

belajar. Penemuan selanjutnya tentang infeksi penyakit yang bermula dari Pasteur yang 

diminta untuk membantu industri sutra di Perancis selatan, dimana disana terjadi epidemi 

pada ulat sutra. Tanpa pengalaman subjek Pasteur berhasil mengidentifikasi bahwa infeksi 

parasit sebagai pemicu nya dan menganjurkan bahwa hanya telur bebas penyakit harus 

dipilih untuk menghentikan epidemi infeksi. 

Berbagai investigasi yang berhasil Pasteur lakukan meyakinkannya akan kebenaran dari 

teori kuman penyakit, yang menyatakan bahwa kuman menyerang tubuh dari luar. Awalnya 

banyak yang menganggap bahwa organisme yang kecil seperti kuman tidak mungkin 

membunuh mahluk yang lebih besar seperti manusia. Pasteur akhirnya menjabarkan teori ini 

untuk menjelaskan pemicu  banyak penyakit termasuk kedalam tubuh diantaranya 

mikroorganisme pemicu  penyakit antraks, kolera, TBC dan cacar serta pencegahannya 

dengan pemberian vaksinasi (SCIHI, 2018). 

Semakin berkembangnya ilmu imunologi tidak lepas dari kontribusi para ilmuan, 

imuwan lain yang berjasa dalam bidang ilmu Imunologi yaitu  Emil von Behring. Dia di kenal 

dengan penemuannya tentang serum untuk melawan penyakit difteri sehingga membawanya 

mendapat penghargaan Nobel. Kala itu difteri menjadi penyakit yang telah banyak menelan 

korban jiwa di Jerman, dengan korban terbanyak yaitu  anak-anak. Langkah Emil dimulai saat 

menjadi asisten Robert Koch pada tahun 1888 di Universitas Berlin. 

Penelitian oleh Emil pada saat itu dimulai dari percobaannya pada berbagai senyawa 

golongan antiseptik seperti iodoform, merkuri, dan asetilen untuk membunuh bakteri 

pemicu  penyakit difteri. namun  sayang usaha awal Emil belum berhasil, yang kemudian 

dilanjutkan oleh ilmuan lain. Peneliti asal Prancis Roux yang mengungkapkan cara menangani 

penyakit difteri, pemicu  penyakit difteri bukan bakteri difterinya langsung melainkan racun 

yang dihasilkan oleh bakteri. Filtrat dari kultur difteri yang tidak mengandung basil 

mengandung zat yang mereka sebut racun yang diproduksi saat  disuntikkan ke hewan. 

Kultur diphtheria bacilli, berupa zat beracun yang mereka sebut toxalbumin dimana saat  

disuntikkan dalam dosis yang sesuai ke marmut mampu mengimunisasi hewan-hewan ini dari 

difteri. Dengan terungkapnya fakta ini , Emil kemudian melakukan serangkaian 

percobaan untuk menemukan cara melawan difteri dengan terapi serum 

Pertama Emil membuat kultur bakteri difteri dengan iodin triklorida. Kultur ini kemudian 

disuntikan ke babi guinea. Hasilnya, babi guinea menjadi kebal terhadap difteri. Kemudian, 

serum darah dari babi guinea ini  disuntikkan ke babi guinea kedua dan ternyata babi 

guinea kedua juga menjadi kebal terhadap difteri. Atas penemuannya ini Emil kemudian 

dikenal sebagai pelopor/penemu terapi serum. 

Behring menemukan bahwa kekebalan terhadap difteri dapat diproduksi dengan 

menyuntikkan racun difteri yang dinetralkan oleh difteri antitoksin ke dalam binatang. 

produksinya dari campuran ini selanjutnya dimodifikasi dan pemurnian campuran yang 

semula diproduksi oleh Behring menghasilkan metode imunisasi modern yang sebagian besar 

telah meilangkan difteri dari momok kematian pada umat manusia. Sebenarnya, ide terapi 

serum yang dikemukakan oleh Emil Von Behring melibatkan kerja beberapa orang yang juga 

memberi kontribusi cukup besar. Salah seorang rekannya yaitu  seorang peneliti asal Jepang 

yang bernama Shibasaburo Kitasato. 

 

Bersama Kitasato, Emil menciptakan serum untuk melawan penyakit tetanus. Bahkan, 

publikasi penemuan serum anti tetanus ini dilakukan seminggu sebelum Emil 

mempublikasikan terapi serum untuk melawan penyakit difteri 

Jules Jean Baptiste Vincent Bordet (1961) yaitu  seorang ahli imunologi dan 

mikrobiologi dari Belgia, penerima Penghargaan nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada 

tahun 1919. Karyanya pada pengembangan bakteri tak seimbang dalam medium sintesis. Pada 

tahun 1893 ia merupakan salah satu anggota asosiasi dokter di "Roger de Grimberghe 

Martitiem Hospitaal" di Middelkerke (Belgia). Di Institut Pasteur Paris, ia bekerja di 

laboratorium Elie Metchnikoff yang telah menemukan mekanisme fagosit, yaitu melalui 

mekanisme sel darah putih yang menghilangkan infeksi dengan sara memasukkan dan 

membunuh mikroorganisme penyerang yang ada pada tubuh. Dengan ini Metchnikoff 

meletakkan dasar kekebalan sel 

Penelitian oleh Bordet terus berlanjut hingga menemukan dasar kekebalan humoral, 

yakni pertahanan organisme berdasar pada zat dalam serum yang hadir dalam cara alami atau 

yang didapatkan sebagai tanggapan untuk pembukaan pada kuman atau tubuh asing dalam 

dalam organisme. Saat Bordet memulai bekerja di laboratorium Metchnikoff. Pfeiffer seorang 

ilmuwan Jerman yang telah menemukan serum dari kolera yang dicacar pada marmut mampu 

membunuh vibrio kolera saat diberikan secara intraperitoneal pada marmut terinfeksi 

nonvaksinasi (GENI, 2014). 

Bagaimanapun, saat percobaan dilakukan dengan cara dibawa keluar binatang (dalam 

pipa tes), Bordet melihat bahwa serum marmut yang divaksinasi tidak mampu membasmi 

kuman namun  hanya menggumpal menjadi formasi butiran kecil. Berdasarkan hal ini   

Bordet menunjukkan pada tahun 1899 melalui contoh kecil yang merupakan hasil  penelitian 

ahwa organisme hewan bereaksi pada pengenalan kuman, sel atau bahan asing dengan 

membentuk molekul. Molekul-molekul hasil reaksi dengan kuman yang disebut sebagai  

antibodi mampu membuat ikatan spesifik pada benda asing dan membuatnya peka pada 

molekul lain (disebut aleksin oleh Bordet, dinamai komplimen, molekul-molekul itu sudah 

hadir dalam serum normal). Komplimen dengan berubah sanggup menghancurkan benda 

asing. Mikroba, sel, atau senyawa kimia yang membuat berkembang pada antibodi yang 

demikian disebut antigen. 

Kekebalan humoral sampai saat itu berdasar pada kemampuan organisme hidup 

membentuk antibodi tertentu pada antigen asing. Antibodi khusus itu mengikat antigen dan 

membuatnya peka sebagai pelengkap, yang dalam perubahan mengikat kompleks antibodi 

antigen dalam reaksi fiksasi pelengkap. 

Imunitas humoral yang ditemukan oleh Bordet merupakan imunitas yang dimediasi oleh 

makromolekul yang ditemukan dalam cairan ekstraseluler seperti antibodi yang disekresikan, 

protein pelengkap, dan peptida antimikroba tertentu. Disebut kekebalan humoral sebab  

melibatkan zat yang ditemukan dalam humor atau cairan tubuh, hal ini kontras dengan 

imunitas yang diperantarai oleh sel. Aspek-aspeknya yang melibatkan antibodi sering disebut 

kekebalan yang diperantarai antibodi. 

Imunitas humoral mengacu pada produksi antibodi dan proses aksesori yang 

menyertainya, termasuk ktivasi Th2 dan produksi sitokin, pembentukan pusat germinal dan 

pengalihan isotipe, pematangan afinitas dan generasi sel memori. Ini juga mengacu pada 

fungsi efektor dari antibodi, yang meliputi netralisasi patogen dan toksin, aktivasi komplemen 

klasik, dan promosi opsonin untuk fagositosis dan eliminasi patogen. 

Penemuan karakteristik fundamental pada kekebalan humoral membuktikan 

kepentingan yang jelas pada kedokteran. Saat menunjukkan serum pada pasien untuk 

patogen yang dikenal, orang dapat menyingkap kehadiran dalam serum antibodi khusus pada 

kuman-kuman itu. Ini membuktikan adanya infeksi yang disebabkan kuman itu dengan pasien. 

Reaksi fiksasi pelengkap juga memungkinkan diagnosis penyakit menular. Komplemen hanya 

memutuskan kompleks antibodi khusus kuman. Pada saat itu jika serum dari pasien itu 

(ditunjukkan pada kuman) membentuk kompleks yang mampu menentukan pelengkap, 

serum ini memuat antibodi khusus pada kuman yang sama, menandakan kehadiran 

sesungguhnya atau lalu saja pada kuman dalam pasien  

Ringkasan 

 

Pada saat ilmu Imunologi belum berkembang, nenek moyang bangsa Cina membuat 

puder (bubuk) dari serpihan kulit penderita cacar untuk melindungi anak-anak mereka dari 

penyakit ini . Puder ini  selanjutnya dipaparkan pada anak-anak dengan cara 

dihirup. Diikuti Edward Jenner dengan ketekunannya telah menemukan vaksin penyakit cacar 

menular, smallpox. Pemberian vaksin terhadap individu disebut  vaksinasi, Vaksin  pertama 

oleh Jenner berupa vaksin cacar, dengan menginokulasi pada seorang anak dengan cacar sapi, 

namun  tidak terjadi infeksi lengkap. Pada masa Jenner belum bisa menjelaskan perihal 

smallpox dengan baik. Baru abad 19 Robert Koch bisa menjelaskan adanya beberapa agen 

penginfeksi berupa atau parasit  Dia menemukan bahwa, anthrax tidak dapat hidup di luar 

inang atau hospes dalam waktu yang lama, namun dapat membuat spora yang dapat bertahan 

lama. Spora-spora ini, tertanam dalam tanah sehingga  memicu  merebaknya anthraks. 

Selain itu juga dikemukakan penyakit malaria yang ditimbulkan oleh plasmodium, kaki gajah 

oleh Wuchereria bancrofti, masih merambah di belahan bumi ini terutama di daerah tropis. 

Robert Koch juga memaparkan penemuan mengenai bakteri yang memicu  tuberkulosis 

yaitu Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1880, Louis Pasteur seorang ilmuwan, 

kimiawan dan ahli mikro-biologi kelahiran Perancis dengan penemuannya tentang prinsip 

vaksinasi, fermentasi mikroba dan pasteurisasi (cara mencegah pembusukan makanan hingga 

beberapa waktu lamanya dengan proses pemanasan), dengan terobosan yang luar biasa 

dalam menguak pemicu  dan pencegahan suatu penyakit dan menciptakan vaksin pertama 

untuk rabies dan antraks. Pasteur juga mampu membuktikan bahwa kuman penyakit, yang 

menyatakan bahwa kuman menyerang tubuh dari luar (lingkungan). Diikuti olehh Emil Von 

Behring yang mencoba berbagai senyawa golongan antiseptik, seperti iodoform, merkuri, dan 

asetilen untuk membunuh bakteri pemicu  penyakit difteri, lalu kekebalan terhadap difteri 

diproduksi dengan menyuntikkan racun difteri yang dinetralkan oleh difteri antitoksin ke 

dalam binatang. Roux menjelaskan bahwa pemicu  penyakit difteri bukan bakteri difterinya 

langsung melainkan racun yang dihasilkan oleh bakteri. Bersama Kitasato, Emil menciptakan 

serum untuk melawan penyakit tetanus. Selanjutnya Jules Jean Baptiste Vincent Bordet 

dengan karyanya pada pengembangan bakteri tak seimbang dalam medium sintesis, yang 

telah menemukan mekanisme fagosit, melalui yang sel darah putih menghilangkan infeksi 

dengan memasukkan dan membunuh mikroorganisme penyerang. 

 

 

Sistem Imunologi 

 

Istilah Imunologi berasal dari bahasa latin yaitu Imunis dan Logos, Imun yang berarti 

kebal dan logos yang berarti ilmu. Imunologi yaitu  ilmu yang mempelajari tentang 

mekanisme kekebalan tubuh. Imunitas yaitu  perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit 

infeksi. Sel-sel dan molekul-molekul dalam tubuh manusia  yang terlibat di dalam mekanisme 

perlindungan akan mengaktifkan respon kekebalan dengan cara membentuk sistem imun. 

Sedangkan respon yang terjadi  untuk menyambut paparan benda asing disebut respon imun. 

Imunologi yaitu  suatu cabang ilmu yang luas dari biomedis yang mencakup kajian mengenai 

semua aspek sistem imun (kekebalan) pada semua organisme 

Jika sistem kekebalan tubuh manusia dapat bekerja dengan benar, sistem ini akan 

mampu melindungi tubuh terhadappaparan infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan 

sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Hal yang akan terjadi jika  sistem kekebalan 

kurang optimal atau melemah dalam bekerja, maka akan didapatkan kemampuannya dalam 

melakukan proses perlindungan terhadap tubuh yang berkurang optimal, sehingga potensial 

sekali untuk memicu  patogen baik itu kuman, parasit maupun virus dapat berkembang 

dalam tubuh. Selain sebagai perlindungan terhadap kuman, parasit dan virus, sistem 

kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap perkembangan dan munculnya sel tumor. 

jika  sistem imun mengalami hambatan dalam berkerja, maka dapat meningkatkan resiko 


 

timbulnya beberapa jenis tumor dalam tubuh baik yang bersifat jinak maupun ganas 

Pengetahuan imunologi yang maju telah dapat dikembangkan untuk menerangkan 

patogenesis serta menegakkan diagnosis berbagai penyakit yang sebelumnya masih kabur. 

Kemajuan dicapai dalam pengembangan berbagai vaksin dan obat-obat yang digunakan dalam 

memperbaiki fungsi sistem imun dalam memerangi infeksi dan keganasan, atau sebaliknya 

digunakan untuk menekan inflamasi dan fungsi sistem imun yang berlebihan pada penyakit 

hipersensitivitas 

Fungsi dari sistem imun yaitu  satu sistem terpenting yang terus menerus melakukan 

tugas dan kegiatan dan tidak pernah melalaikan tugasnya dalam menjaga kekebalan tubuh. 

Sistem ini melindungi tubuh sepanjang waktu dari semua jenis penyerang atau benda asing 

yang berpotensi menimbulkan berbagai  penyakit pada tubuh kita. Ia bekerja bagi tubuh 

bagaikan pasukan tempur yang mempunyai persenjataan lengkap 

Setiap sistem, organ, atau kelompok sel di dalam tubuh mewakili keseluruhan di dalam 

suatu pembagian kerja yang sempurna. Setiap kegagalan dalam sistem akan menghancurkan 

tatanan ini. Sistem imun sangat sangat diperlukan bagi tubuh kita. Sistem imun yaitu  

sekumpulan sel, jaringan, dan organ yang terdiri atas sistem pertahanan yang dibedakan 

berdasarkan bagian yang dapat dilihat oleh tubuh atau permukaan tubuh manusia sepeti kulit, 

air mata, air liur, bulu hidung, keringat, cairan mukosa, rambut. Selain itu ada bagian yang 

tidak dapat dilihat dari luar tubuh sebab  terletak didalam tubuh seperti timus, limpa, sistem 

limfatik, sumsum tulang, sel darah putih/leukosit, antibodi, dan hormon. Semua bagian sistem 

imun ini bekerja sama dalam melawan masuknya virus, bakteri, jamur, cacing, dan parasit lain 

yang memasuki tubuh melalui kulit, hidung, mulut, atau bagian tubuh lain 

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa fungsi sistem imun merupakan suatu rangkaian 

sistem untuk melindungi tubuh dari invasi pemicu  penyakit dengan cara menghancurkan 

dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, 

serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh. Selain berfungsi menghilangkan mikroorganisme, 

sistem imun mampu untuk menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk 

selanjutnya dilakukan perbaikan jaringan dan mengenali dan menghilangkan sel yang 

abnormal 

Peran dan fungsi sistem imun dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat 

mengganggunya,  antara lain yaitu seperti faktor genetik (keturunan), fisiologis, stres, usia, 

hormon, olahraga, tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya dan penggunaan obat-obatan.  Faktor 

genetik yaitu timbulnya kerentanan terhadap suatu penyakit terjadi sebab  ada riwayat 

genetik atau keturunan yang dominan. Contohnya, seseorang dengan riwayat keluarga 

diabetes melitus akan lebih beresiko menderita penyakit ini  dalam hidupnya. ada  

beberapa penyakit yang dipengaruhi oleh faktor genetik yaitu kanker, alergi, penyakit jantung, 

penyakit ginjal dan penyakit mental. 


Faktor fisiologis berperan dalam mempengaruhi kerja sistem pertahanan tubuh dengan 

melibatkan beberapa fungsi dari berbagai organ yang ada pada tubuh. Organ di dalam tubuh 

saling berkaitan membentuk suatu sistem, dimana jika  salah satu fungsi organ yang 

terganggu akan mempengaruhi kerja organ yang lain. Contohnya, berat badan yang 

berlebihan akan menghambat sirkulasi darah kurang lancar sehingga dapat meningkatkan 

kerentanan terhadap beberapa penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi dan berbagai 

penyakit lain. 

 


 

Dewasa ini semakin peliknya kehidupan dengan berbagai stresor yang ada menjadikan 

faktor stres dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mempengaruhi kerja dari 

hormone yang ada pada tubuh. Dalam kondisis stress tubuh akan melepaskan hormon seperti 

neuroedokrin, glukokortikoid, dan katekolamin. Adanya peningkatan hormon berdampak 

pada penurunan jumlah produksi sel darah putih dan berdampak buruk pada produksi 

antibodi. Faktor Usia, dapat meningkatkan atau menurunkan kerentanan terhadap penyakit 

tertentu. Contohnya bayi yang lahir secara prematur butuh perawatan lebih sebab  lebih 

rentan terhadap infeksi dari pada bayi yang normal. Pada usia 45 tahun atau lebih 

meningkatkan resiko timbulnya penyakit kanker. 

Faktor Hormon dalam mempengaruhi kerja sistem pertahanan tubuh bergantung pada 

jenis kelamin. Wanita memproduksi hormon estrogen. Sedangkan pria memproduksi hormon 

androgen yang bersifat memperkecil resiko penyakit autoimun, sehingga penyakit lebih sering 

dijumpai pada wanita. Faktor aktifitas dalam mempengaruhi sistem pertahanan tergantung 

dari pola aktifitas keseharian. Jika dilakukan secara teratur seperti melakukan olah raga  akan 

membantu meningkatkan aliran darah dan membersihkan tubuh dari racun. Namun, olahraga 

yang berlebihan meningkatkan kebutuhan suplai oksigen sehingga memicu timbulnya radikal 

bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh. 

Pola istirahat tidur juga mempengaruhi kerja sistem pertahanan, pada saat tidur tubuh 

akan beregenerasi memperbaiki sistem di ldalam tubuh. Gangguan pola istirahat tidur yang 

terjadi pada seseorang akan memicu  perubahan pada jaringan sitokin yang dapat 

menurunkan imunitas seluler, sehingga kekebalan tubuh menjadi melemah. 

Asupan nutrisi merupakan hal yang penting dalam sistem imun tubuh, contohnya 

asupan nutrisi seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam pengaturan sistem imunitas. DHA 

(docosahexaeonic acid) dan asam arakidonat mempengaruhi maturasi (pematangan) sel T. 

Protein diperlukan dalam pembentukan imunoglobulin dan komplemen. Namun, kadar 

kolesterol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri oleh makrofag. 

Pajanan zat berbahaya, contohnya bahan radioaktif, peptisida, rokok, minuman beralkohol 

dan bahan pembersih kimia mampu menurunkan fungsi imun tubuh. Penggunaan obat-

obatan tertentu, seperti penggunaan antibiotik yang berlebihan atau teratur, memicu  

bakteri lebih resisten, sehingga saat  bakteri menyerang lagi maka sistem kekebalan tubuh 

akan gagal melawannya 

Sistem imun seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor, dengan sistem tubuh 

manusia yang memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks, sehingga mampu 

mempertahankan tubuh pada keadaan sehat. Sistem imun seseorang dapat dibagi menjadi 

sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif. Sistem imun bawaan membentuk pertahanan 

awal yang melibatkan penghalang berupa organ tubuh permukaan, dengan reaksi 

peradangan, sistem komplemen, dan komponen seluler. Sistem imun adaptif berkembang 

sebab  diaktifkan oleh sistem imun bawaan dan memerlukan waktu untuk dapat 

mengaktifkan respons pertahanan yang lebih kuat dan spesifik. Imunitas adaptif (atau 

dapatan) membentuk memori imunologis setelah respons awal terhadap patogen dan 

membuat perlindungan yang lebih ditingatkan pada pertemuan dengan patogen yang sama 

berikutnya. Proses imunitas dapatan ini menjadi dasar dari vaksinasi. 

Gangguan pada sistem imun mengakibatkan terjadinya imunodefisiensi, penyakit yang 

diakibatkan sebab  proses imunodefisiensi yaitu autoimun, penyakit inflamasi, dan kanker. 

Imunodefisiensi dapat terjadi saat  sistem imun kurang aktif sehingga dapat menimbulkan 

infeksi berulang sehingga dapat mengancam jiwa. Kemampuan sistem imun untuk merespons 

patogen dipengarui usia, pada anak-anak dan orang tuaimunitas seseorang berkurang, pada 

kasus orang tua disebabkan oleh imunosenesens. Kondisi suatu negara memepengaruhi 

imunitas seseorang dimana di negara-negara berkembang melemahnya sistem imun 

disebabkan oleh obesitas, penyalah gunaan alkohol, dan penggunaan obat. Berbanding 

terbalik pada negara berkembang pemicu  utama kejadian imunodefisiensi yaitu  

malnutrisi, diet dengan protein yang tidak mencukupi dikaitkan dengan gangguan imunitas 

seluler, aktivitas komplemen, fungsi fagosit, konsentrasi antibodi IgA, dan produksi sitokin. 

Selain itu, ketiadaan timus pada usia dini melalui mutasi genetik atau pengangkatan melalui 

operasi mengakibatkan imunodefisiensi yang parah dan kerentanan tinggi terhadap infeksi. 

Imunodefisiensi juga bisa muncul akibat faktor turunan atau perolehan (didapat). Penyakit 

granuloma kronis merupakan penyakit dengan rendahnya kemampuan fagosit untuk 

menghancurkan patogen, yaitu  contoh dari imunodefisiensi turunan, seperti sindrom 

defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV 

 

Penyakit autoimun yaitu  penyakit yang timbul sebab  kegagalan sistem imunitas untuk 

membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang tubuh sendiri. 

Normalnya, sistem kekebalan tubuh menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti 

bakteri atau virus. Seseorang yang menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuhnya 

melihat sel tubuh yang sehat sebagai organisme asing. Sehingga sistem kekebalan tubuh akan 

melepaskan protein yang disebut autoantibodi untuk menyerang sel-sel tubuh yang sehat. 

Pada keadaan kondisi yang normal, banyak sel T dan antibodi bereaksi dengan peptida self. 

ada  sel khusus (terletak di timus dan sumsum tulang) yang menyajikan limfosit muda 

dengan antigen self yang dihasilkan pada tubuh dan untuk membunuh sel yang dianggap 

antigen self, akhirnya mencegah autoimunitas. Contohnya pada  penyakit lupus didapatkan 

gangguan pada hampir semua sistem organ, ditandai dengan munculnya gejala seperti 

demam, nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, 

kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan. Contoh lain pada penyakit autoimun 

yaitu artritis rematoid, diabetes melitus tipe 1, penyakit Hashimoto, dan lupus eritematosus 

sistemik 

 

Sering kita menemukan dalam kehidupan sehari- hari beberapa orang disekitar kita 

mengalami gatal ruam pada kulit sebab  paparan suhu dingin, hal ini merupakan salah satu 

gangguan imun hiipersensitifitas. Hipersensitivitas merupakan peningkatan reaksi terhadap 

paparan suatu antigen tertentu, berupa respons imun yang berlebihan sehingga merugikan 

tubuh dengan merusak jaringan tubuh sendiri. Antigen yang memicu  alergi disebut 

sebagai allergen, dimana jika  terpapar allergen dapat mengakibatkan tubuh menjadi 

sensitif sehingga saat  terkena lagi akan mengakibatkan reaksi alergi. Gejala alergi beraneka 

macam dapat berupa gatal-gatal, ruam kemerahan dikulit, mata merah atau kesulitan 

bernapas. 

 

Hipersensitivitas terbagi menjadi empat kelas (Tipe I-IV) yang dibedakan berdasarkan 

mekanisme yang ikut serta dan lama waktu reaksi hipersensitif. Hipersensitivitas tipe I atau 

reaksi segera atau reaksi anafilaksis sering dikaitkan dengan alergi. Gejala yang ditimbulkan 

akibat hipersensitifitas sangat bervariasi mulai dari ketidak nyamanan sampai kematian. 

Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh IgE, yang memicu degranulasi sel mast dan basofil 

saat IgE berikatan silang dengan antigen. Hipersensitivitas tipe II terjadi saat antibodi mengikat 

antigen sel inang dan menandai mereka untuk penghancuran. Jenis ini juga disebut 

hipersensitivitas sitotoksik, dan diperantarai oleh antibodi IgG dan IgM. Kompleks imun 

(kompleks antara antigen, protein komplemen dan antibodi IgG dan IgM) terkumpul pada 

berbagai jaringan yang memicu reaksi hipersensitivitas tipe III. Hipersensitivitas tipe IV 

(dikenal juga sebagai hipersensitivitas diperantarai sel atau hipersensitivitas jenis tertunda) 

biasanya membutuhkan waktu antara dua sampai tiga hari untuk berkembang. Reaksi tipe IV 

ikut serta dalam berbagai penyakit autoimun dan penyakit infeksi, namun  juga dalam ikut serta 

dalam dermatitis kontak (misalnya disebabkan oleh racun tumbuhan jelatang). Reaksi 

ini  diperantarai oleh sel T, monosit, dan makrofag (Uzzaman, 2012).  

Karakteristik dari suatu patogen, yaitu dapat berevolusi secara cepat dan mudah 

beradaptasi agar terhindar dari identifikasi dan penghancuran oleh sistem imun tubuh, 

dengan melakukan mekanisme pertahanan tubuh dengan berevolusi untuk mengenali dan 

menetralkan patogen. Bahkan organisme uniseluler seperti bakteri juga memiliki sistem imun 

sederhana dalam bentuk enzim yang melindunginya dari infeksi bakteriofag. Mekanisme imun 

lainnya terbentuk melalui evolusi pada eukariota kuno namun  masih ada hingga sekarang 

seperti pada tumbuhan dan invertebrata (White, 2016). 

Banyaknya penyakit yang disebabkan sebab  gangguan sistem imun, maka pentingnya 

kesadaran masing-masing individu untuk menjaga sistem imun tuhuh. Pertanyaan yang sering 

muncul yaitu bagaimana meningkatkan sistem imun pada tubuh, hal dapat dilakukan yaitu 

dengan menghindari faktor yang memicu penurunan sistem imun. Selain itu beberapa cara 

meningkatkan sistem imun tubuh yang disarankan yaitu dengan melakukan olahraga teratur 

selain mampu meningkatkan sistem imun. Tak perlu aktivitas olahraga yang berat, cukup yang 

ringan namun dilakukan secara teratur, misalnya dengan jalan santai di pagi hari atau yoga 

saja sudah bisa membuat sistem kekebalan tubuh mengalami peningkatan kualitas. Berbagai 

penelitian menunjukkan berolahraga selama 30 menit setiap hari, efektif untuk meningkatkan 

sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi. Salah satu olahraga yang murah dan mudah 

untuk dilakukan yaitu  berjalan kaki. 

 

 

Istirahat yang cukup merupakan suatu keadaan dinama tubuh mendapatkan kecukupan 

dalam hal istirahat salah satunya dengan tidur, sejumlah ahli medis sepakat bahwasanya 

istirahat yang memadai efetkif untuk meningkatkan sistem imun. Hal sebaliknya terjadi 

jika  tidak memiliki waktu istirahat yang benar, yakni menurunnya kualitas sistem 

kekebalan tubuh disebab kan tubuh tidak mampu melakukan regenerasi sel imun dalam 

tubuh yang diproses saat  tubuh istirahat tidur. Penting untuk mencukupi kebutuhan tidur 

sesuai dengan usia. Kecukupan waktu istirahat tidur masing- masing individu berbeda sesuai 

dengan usia, seperti pada orang dewasa membutuhkan waktu tidur sekitar 7-8 jam, dan pada 

remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 9-10 jam sedangkan anak- anak lebih banyak 

membutuhkan waktu tidur. 

 Sinar matahari pagi sangat baik bagi kesehatan tubuh sebab  sinar matahari pagi 

merupakan sumber utama vitamin D, dengan berjemur di bawah sinar matahari matahari 

mampu meningkatkan imun dalam tubuh. Utamanya jika sistem kekebalan tubuh sedang 

mengalami penurunan, seperti saat sedang sakit misalnya atau pada bayi yang terpapar sinar 

matahari pagi akan meningkatkan sistem imun pada tubuhnya.  

Makanan yang kita konsumsi akan menentukan derajat kesehatan seseorang, nutrisi 

merupakan hal penting yang dibutuhkan seseorang untuk keberlangsungan sistim imun dalam 

tubuh. Meningkatkan sistem imun bisa dilakukan dengan konsumsi buah dan sayuran tak 

dapat dielakkan, jika buah dan sayuran yaitu  cara meningkatkan sistem imun tubuh terbaik 

yang bisa dilakukan. Penelitian menunjukkan, orang yang banyak mengonsumsi buah dan 

sayur, cenderung tidak mudah sakit. Hal ini sebab  vitamin dan mineral yang terkandung 

dalam sayur dan buah mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus dan 

bakteri pemicu  penyakit. Kandungan serta dan mineral dalam buah dan sayur kaya anti 

oksidan yang baik untuk sistem regenerasi dan pertahanan imun. Konsumsi buah dan sayur 

 

 

tidak terbatas pada jenisnya, semua jenis buah dan sayurn pastikan selalu ada di dalam menu 

sehari-hari supaya sistem imun selalu berada di dalam kondisi terbaiknya. 

 

 

Dalam hidup memang kita tdak bisa lepas dari stres, namun kita dapat menghindarinya. 

Stres yang berlebihan dan tidak terkendali bisa meningkatkan produksi hormon kortisol, 

berupa hormon jahat yang ada di dalam tubuh. Dalam jangka panjang, peningkatan hormon 

kortisol dapat mengakibatkan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Perlu pengelolaan stres 

dengan baik untuk menghindari penurunan fungsi kekebalan tubuh. 

Hindari rokok dan alkohol sebab  paparan asap rokok dan alkohol secara berlebih dapat 

merusak sistem kekebalan tubuh. Zat yang terkandung dalam rokok dan asapnya beresiko 

tinggi memicu  infeksi paru, seperti bronkitis dan pneumonia. Sementara untuk pecandu 

alkohol, risiko untuk terkena infeksi pada beberapa bagian tubuh dan menurunkan sistem 

kekebalan sebab  kandungan alkohol yang mampu menurunkan sistem imun tubuh sehingga 

memudahkan beberapa penyakit lain untuk masuk menyerang tubuh. Konsumsi air mineral 

sesuai anjuran 2 liter per hari lebih baik untuk menjaga metabolisme tubuh (

 

Imunologi berasal dari bahasa latin yaitu Imunis dan Logos, Imun yang berarti kebal dan 

logos yang berarti ilmu. Imunologi yaitu  ilmu yang mempelajari tentang mekanisme 

kekebalan tubuh. Imunitas yaitu  perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi. 

Sistem imun yaitu  sekumpulan sel, jaringan, dan organ yang terdiri atas pertahanan bagian 

yang dapat dilihat oleh tubuh dan berada pada permukaan tubuh manusia sepeti kulit, air 

mata, air liur, bulu hidung, keringat, cairan mukosa, rambut.  Selain itu ada bagiyang tidak 

dapat dilihat dari luar tubuh sebab  terletak didalam tubuh seperti timus, limpa, sistem 

limfatik, sumsum tulang, sel darah putih/leukosit, antibodi, dan hormon. Ada beberapa faktor 

yang mempengaruhi kerja pada sistem pertahanan tubuh seperti faktor genetik (keturunan), 

fisiologis, stres, usia, hormon, olahraga,tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya dan penggunaan 

obat-obatan. Pola istirahat tidur juga mempengaruhi kerja sistem pertahanan. Pola asupan 

Nutrisi, seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam pengaturan sistem imunitas. DHA 

(docosahexaeonic acid) dan asam arakidonat mempengaruhi maturasi (pematangan) sel T. 

Protein diperlukan dalam pembentukan imunoglobulin dan komplemen. Namun, kadar 

kolesterol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri oleh makrofag. 

Gangguan pada sistem imun mengakibatkan terjadinya imunodefisiensi, penyakit autoimun, 

penyakit inflamasi, dan kanker. Imunodefisiensi dapat terjadi saat  sistem imun kurang aktif 

seperti pada penyakit AIDS. Penyakit autoimun yaitu  penyakit yang timbul sebab  kegagalan 

sistem imunitas untuk membedakan sel tubuh dengan sel asing sehingga sistem imunitas 

menyerang tubuh sendiri. contoh penyakit autoimun yaitu artritis rematoid, diabetes melitus 

tipe 1, penyakit Hashimoto, dan lupus eritematosus sistemik. Hipersensitivitas merupakan 

peningkatan reaksi terhadap antigen tertentu atu respons imun yang berlebihan sehingga 

dapat merusak jaringan tubuh sendiri. Gejala alergi dapat berupa gatal-gatal, ruam kemerahan 

dikulit, mata merah atau kesulitan bernapas. 

Meningkatkan sistem imun pada tubuh dapat dilakukan dengan menghindari faktor 

yang memicu penurunan sistem imun, selain itu beberapa cara meningkatkan sistem imun 

tubuh antara lain yaitu dengan melakukan olahraga teratur, Istirahat yang cukup, Berjemur di 

bawah sinar matahari, konsumsi buah dan sayuran, hindari stres, dan hindari rokok dan 

alkohol. 

 


Belajar mengenai imunologi maka kita akan membahas tentang respon imun tubuh, 

komponen yang menyusun sistem imun diantaranya yaitu atibodi (Ab) akan distimulus oleh 

substani asing yang mampu merangsang respon imun tubuh yang sering  disebut dengan 

imunogen. Penggunaan istilah imunogen dan antigen (Ag) secara teori sedikit berbeda, sebab  

penggunaan istilah Ag sudah digunakan secara luas maka Ag dianggap sama dengan 

imunogen. Hal ini berarti Ag yang dimaksud pada modul ini yaitu  Ag yang bersifat 

imunogenik dan dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab.Sebagai contoh, sel 

netrofil akan teraktivasi jika ada bakteri masuk ke dalam tubuh dan dapat menghasilkan Ab. 

Dalam hal ini, unsur bakteri merupakan Ag yang merangsang respon imun (Arlita, 2017). 

Ag merupakan unsur biologis yang mempunyai bentuk dengan struktur kimia yang 

kompleks dan mempunyai berat molekul cukup besar untuk menstimulus Ab. Oleh sebab  itu, 

umumnya jenis Ag berasal dari molekul protein. Epitop (antigen determinan) merupakan 

bagian dari Ag yang bereaksi dengan Ab atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T. Bentuk 

epitop biasanya kecil dengan berat molekul ± 10.000 Da. Epitop ini berada pada molekul 

pembawa sel darah merah, sehingga pada permukaan membran sel darah merah, ada  

banyak epitop yang menentukan spesifisitas dan kekuatan reaksi Ag dan Ab, seperti terlihat 

pada Gambar 1.24 

 

Suatu substrat dengan berat molekul < 10.000 Da, memiliki karakteristik yang hampir 

sama seperti obat antibiotik umumnya tidak imunogenik, namun  bila diikat pada protein 

pembawa yang cukup besar maka akan membentuk suatu kompleks yang dapat merangsang 

respon imun untuk memproduksi Ab pada molekul ini . Substan dalam hal ini merupakan 

hapten yang bentuk kompleksnya dapat bereaksi dengan Ab, namun  ia sendiri tidak 

imunogenik. Ilustrasi hapten dapat dilihat pada Gambar dibawah ini. 


Sistem Human Leucocyte Antigen(HLA) diketahui juga sebagai major histocompatibility 

complex (MHC). HLA merupakan produk dari ekspresi gen HLA-A, -B, -C, -DR, -DQ, dan gen –

DP di kromosom 6. HLA diekspresikan di membran sel berinti yaitu sel limfosit, granulosit, 

monosit, trombosit, dan beberapa organ, walaupun diketahui trombosit tidak mempunyai inti 

sel. Berdasarkan struktur biokimianya, HLA dikategorikan menjadi HLA kelas I dan II. HLA kelas 

I terdiri atas: HLA-A, -B, -C. HLA jenis ini berada di sel darah berinti di peredaran darah tepi 

dan trombosit. HLA kelas II terdiri atas : HLA-DR, -DQ dan HLA-DP. HLA kelas II ada  di 

monosit dan limfosit B 

 

HLA bersifat sangat imunogenik yang memicu untuk timbulnya respon imun dalam 

tubuh. Pada proses transfusi, kehamilan dan transplantasi organ individu normal dapat 

membentuk Ab terhadap HLA. Oleh sebab  itu pada tindakan transplantasi organ, untuk 

menghindari proses penolakan organ di tubuh pasien, dilakukan terlebih dulu pemeriksaan 

HLA typing yang bertujuan untuk menentukan kecocokan donor dan pasien. 

Sebagai upaya pencegahan pada proses transfusi untuk menghindari reaksi transfusi 

sebab  ketidakcocokan HLA donor dan pasien, maka komponen darah yang ditransfusikan 

dihilangkan sel lekositnya dengan cara disaring memakai  filter khusus untuk lekosit. 

Komponen darah ini disebut dengan leukoreduction atau leucopoor. 

Reaksi ketidakcocokan HLA dapat menghasilkan Ab terhadap HLA. Ab HLA biasanya 

ada  pada wanita yang mempunyai riwayat sering melahirkan. Jenis Ab ini dapat 

ditemukan pada reaksi transfusi yang diberi nama transfusion related acute lung injury (TRALI) 

yang akan dibahas di Bab 4. Selain HLA, ada  juga jenis Ag lekosit yaitu Human Netrofil 

Antigen/HNA di sel netrofil. Reaksi Ag dan Ab netrofil dapat memicu  kondisi penurunan 

sel netrofil (neutropenia) pada bayi baru lahir dan penyakit TRALI (Gordon & Jon, 2012). 

Human Platelet Antigen (HPA) pada membran trombosit juga ada  Ag khusus yang 

diberi nama Human PlateletAntigen (HPA). Sebanyak 33 jenis HPA yang terletak di glikoprotein 

membran trombosit telahvdiidentifikasi. Adanya ketidakcocokan HPA menimbulkan Ab 

terhadap HPA. Antibodi (Ab) terhadap HPA memicu  penurunan jumlah trombosit 

(trombositopenia) 

Penurunan jumlah trombosit sebab  Ab terhadap HPA dapat terjadi pada janin ataupun 

pada bayi  baru  lahir.  Kondisi  ini  disebut  dengan  Fetomaternal/ neonatal  

alloimunethrombocytopenia (FNAIT/NAIT). Selain itu, anti HPA juga dapat memicu  

reaksi transfusi yang ditandai dengan kegagalan untuk meningkatkan jumlah trombosit 

setelah transfusi darah dan dapat disertai dengan perdarahan dan timbulnya bintik/ bercak 

merah (purpura) 

Antigen pada sel darah merah diklasifikasikan di sistem golongan darah (ABO, Rh Lewis, 

Kell, Kid, Duffy, dsb). Antigen pada sel lekosit diklasifikasikanmenjadi beberapa bagian  sistem 

HLA dan HNA. Sedangkan antigen pada trombosit diklasifikasikan ke dalam sistem HPA. Jenis 

Ag ini tidak murni hanya berada di satu jenis sel darah saja, terkadang ada  beberapa jenis 

Ag sel darah merah yang ada  di sel darah lain seperti trombosit, contohnya seperti ABO 

atau HLA yang juga ada  di trombosit. 

Sitokin merupakan bagian dari sistem imun berupa protein yang dihasilkan oleh sel dan 

mempunyai fungsi terhadap sel itu sendiri maupun sel-sel lain di sekitarnya. Sitokin ini 

berperan dalam aktivasi sel-sel imun (baik non spesifik maupun spesifik), mengatur 

hematopoiesis dan membantu terjadinya proses peradangan (inflamasi). 

 

 

Sitokin memiliki beberapa nama lain yang diklasifikasikan berdasarkan jenis sel 

penghasil, sel target dan cara kerja sitokin ini . Monokin yaitu  sel yang dihasilkan oleh 

makrofag, limfokin yaitu  sitokin yang dihasilkan oleh limfosit, interleukin yaitu  sitokin yang 

dihasilkan oleh dan berfungsi untuk sel leukosit. Dalam menjalankan sisyem pertahanan 

kemokin yaitu  sitokin yang berfungsi untuk menstimulasi pergerakan sel-sel leukosit ke 

tempat infeksi 

ada  3 cara kerja sitokin dalam mekanisme pertahanan tubuh yaitu autokrin, 

parakrin dan endokrin. Autokrin yaitu  cara kerja sitokin dimana sitokin yang dihasilkan akan 

bekerja sendiri terhadap yang memproduksinya. Parakrin merupakan cara kerja sitokin 

dimana sitokin ini  akan berperan pada sel-sel yang ada  di sekitar sel penghasil 

sitokin. Terakhir yaitu  endokrin, yaitu jika  sitokin akan mengikuti aliran darah dan 

berperan pada sel-sel yang letaknya cukup jauh dari sel penghasilsitokin. Contoh sitokin yang 

memiliki cara kerja endokrin yaitu  hormon. Sitokrin yang dihasilkan dan bekerja dengan cara 

autokrin, parakrin maupun sitokrin akan ditangkap oleh reseptor pada sel target 

 

ada  beberapa kemampuan kerja sitokin yaitu pleiotropisme, redundansi, sinergi 

dan antagonism (Gambar 1.30). Pleiotropisme yaitu  kemampuan satu sitokin untuk bekerja 

pada beberapa jenis sel target. Redundansi yaitu  kemampuan beberapa sitokin yang dapat 

menghasilkan respon yang sama. Sinergi merupakan cara kerja beberapa sitokin yang saling 

bekerja sama untuk menghasilkan satu jenis respon. Sedangkan antagonism yaitu  

kemampuan satu jenis sitokin yang dapat menghambat sitokin lain 

Karakteristik sitokin juga cukup khas, ada  5 karakteristik sitokin diantaranya yaitu  

(1) akan diproduksi oleh-sel yang teraktivasi sebab  mengenal patogen, (2) sitokin yang 

diproduksi kemudian akan berikatan dengan reseptor yang ada di permukaan sel target, (3) 

ekspresi reseptor sitokin ini akan diatur oleh sinyal eksternal, (4) sitokin yang sudah mencapai 

sel target dapat mengubah ekspresi gen sel target, sehingga akan terjadi perubahan sifat dan 

perbanyakan sel target, (5) produksi sitokin juga akan diatur sehingga produksitidak terlalu 

banyak pada tubuh (feedback mechanism) 

Sitokin juga bisa berperan dalam pengaturan respon imun non spesifik, spesifik, 

hematopoiesis dan peradangan atau inflamasi. Pada pengaturan respon non spesifik, sitokin 

akan mengaktivasi sel-sel respon imun non seluler. Sitokin jenis ini banyak dihasilkan oleh sel 

makrofag dan sel dendritik. Contohnya yaitu  TNFα (Tumor Necrosis Factor-α) dan IL-12 

(Interleukin-12). Tumor Necrosis Factor-α yaitu  sitokin yang berperan dalam stimulasi 

leukosit ke tempat infeksi, menghasilkan peradangan dan menghilangkan patogen. Sedangkan 

IL-12 akan berperan dalam menstimulasi sel NK dan sel limfosit T untuk menghasilkan IFNγ. 

Sitokin IFNγ sendiri akan mengaktifkan makrofag untuk berfagositosis. Aktivitas sitotoksik dari 

sel NK dan sel T CD8+ ditingkatkan oleh sitokin IL-12 ini. Selain itu IL- 12bersama-sama IFNγ 

berperanmembantu diferensiasi sel limfosit T menjadi  sel TH1. 


Selain membantu respon imun non spesifik, sitokin juga bisa membantu respon imun 

spesifik. Untuk kelompok pembatu respon imun spesifik sitokin ini banyak diproduksi oleh sel-

sel limfosit T. Contoh sitokin yang berperan yaitu  IL-2 dan IFNγ. Untuk sitokin IL-2 memiliki 

peran dalam membantu pertumbuhan, daya tahan, perbanyakan dan diferensiasi sel-sel 

limfosit T. Selain itu juga berperan dalam perbanyakan dan diferensiasi sel NK serta 

meningkatkan aktivitas sitotoksiknya. Sitokin IFNγ sangat penting dalam mengaktivasi 

makrofag untuk melakukan fagositosis, diferensiasi sel T helper menjadi TH1, menstimulasi 

produksi IgG dari sel limfosit B dan meningkatkan ekspresi MHC (Major Histocompatibility 

Complex) dalam pengenalan antigen. Sitokin juga berperan dalam stimulasi hematopoiesis. 

Contoh sitokin dengan fungsi ini antara lain IL-7 dan GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony 

Stimulating Factor). Interleukin-7 akan menstimulasi pembentukan sel limfosit T dan B dari 

progenitor limfoid, sedangkan GM-CSF akan membantu pembentukan sel dendritik dan 

monosit yang berada pada sumsum tulang 


Istilah imunogen dan antigen (Ag) atau sering disebut Imunoglobulin (Ig)secara teori 

sedikit berbeda, akan namun  sebab  istilah Ag sudah digunakan secara luas, maka Ag dianggap 

sama dengan imunogen. Hal ini berarti, Ag yang dimaksud pada modul ini yaitu Ag yang 

bersifat imunogenik yang dapat merangsang respon imun untuk memproduksi Ab. Sebagai 

contoh, sel netrofil akan teraktivasi jika ada bakteri masuk ke dalam tubuh dan dapat 

menghasilkan Ab. Dalam hal ini, unsur bakteri merupakan Ag yang merangsang respon imun. 

Ag merupakan unsur biologis yang mempunyai bentuk dengan struktur kimia yang 

kompleks dan mempunyai berat molekul cukup besar untuk menstimulus Ab. Oleh sebab  itu, 

umumnya jenis Ag berasal dari molekul protein. Epitop (antigen determinan) merupakan 

bagian dari Ag yang bereaksi dengan Ab atau dengan reseptor spesifik pada limfosit T. Epitop 

ini berada pada molekul pembawa sel darah merah, ada  banyak epitop yang menentukan 

spesifisitas dan kekuatan reaksi Ag dan Ab,Suatu substan dengan berat molekul < 10.000 Da, 

seperti obat antibiotik umumnya tidak imunogenik, namun  bila diikat pada protein pembawa 

yang cukup besar, maka akan membentuk suatu kompleks yang dapat merangsang respon 

imun untuk memproduksi Ab terhadap molekul ini . Substan ini  yaitu  hapten, 

yang bentuk kompleksnya dapat bereaksi dengan Ab, namun  ia sendiri tidak imunogenik 

Selain imunogen dan hapten, dikenal pula Sistem Human Leucocyte Antigen (HLA) atau 

sering disebut juga sebagai Major HIstocompatibility Complex (MHC). HLA diekspresikan di 

membran sel berinti, yaitu sel limfosit, granulosit, monosit, trombosit, dan beberapa organ, 

walaupun diketahui trombosit tidak mempunyai inti sel. Berdasarkan struktur biokimianya, 

HLA dikategorikan menjadi HLA kelas I dan II. HLA bersifat sangat imunogenik. Pada proses 

transfusi, kehamilan dan transplantasi organ, individu normal dapat membentuk Ab terhadap 

HLA. Oleh sebab  itu, pada transplantasi organ, untuk menghindari proses penolakan organ di 

tubuh pasien, dilakukan terlebih dulu pemeriksaan HLA typing, untuk menentukan kecocokan 

donor dan pasien. Pada proses transfusi, untuk menghindari reaksi transfusi sebab  

ketidakcocokan HLA donor dan pasien, maka komponen darah yang ditransfusikan 

dihilangkan sel lekositnya dengan cara disaring atau disebut dengan leukoreduction atau 

leucopoor. 

Reaksi ketidakcocokan HLA dapat menghasilkan Ab terhadap HLA. Ab HLA biasanya 

ada  pada wanita yang mempunyai riwayat sering melahirkan. Jenis Ab ini dapat 

ditemukan pada reaksi transfusi yang diberi nama “transfusion related acute lung injury”. 

Selain HLA, ada  juga jenis Ag lekosit yaitu Human Netrofil Antigen/HNA di sel netrofil. 

Pada membran trombosit juga ada  Ag khusus yang diberi nama Human Platelet Antigen 

(HPA). Adanya ketidakcocokan HPA menimbulkan Ab terhadap HPA. Antibodi (Ab) terhadap 

HPA memicu  penurunan jumlah trombosit (trombositopenia). 


Antigen pada sel darah merah diklasifikasikan di sistem golongan darah(ABO, Rh Lewis, 

Kell, Kid, Duffy, dsb). Antigen pada sel lekosit diklasifikasikan pada sistem HLA, HNA. Antigen 

pada trombosit diklasifikasikan ke dalam sistem HPA. Jenis Ag ini tidak murni hanya berada di 

satu jenis sel darah saja, terkadang ada  beberapa jenis Ag sel darah merah yang ada  

di sel darah lain seperti trombosit, contohnya yaitu  ABO atau HLA yang juga ada  di 

trombosit. 

Aktifitas sistem kekebalan juga melibatkan kerja  Sitokin yaitu  protein yang dihasilkan 

oleh sel dan berfungsi terhadap sel itu sendiri maupun sel-sel lain di sekitarnya Sitokin ini 

berperan dalam aktivasi sel-sel imun (baik non spesifik maupun spesifik), mengatur 

hematopoiesis maupun membantu terjadinya peradangan (inflamasi). Sitokin memiliki 

beberapa nama lain yang dihubungkan dengan jenis sel penghasil, sel target dan cara kerja 

sitokin ini  monokin, interleukin, kemokin. ada  tiga cara kerja sitokin dalam 

mekanisme pertahanan tubuh, yaitu autokrin, parakrin dan endokrin. Contoh sitokin yang 

memiliki cara kerja endokrin yaitu  hormon. Sitokin yang dihasilkan dan bekerja dengan cara 

autokrin, parakrin maupun sitokrin akan ditangkap oleh reseptor pada sel target  

ada  beberapa kemampuan kerja sitokin yaitu pleiotropisme, redundansi, sinergi 

dan antagonism.  Karakteristik sitokin juga cukup khas, diantaranya  akan diproduksi oleh-sel 

yang teraktivasi sebab  mengenal patogen, sitokin yang diproduksi kemudian akan berikatan 

dengan reseptor yang ada di permukaan sel target,  ekspresi reseptor sitokin ini akan diatur 

oleh sinyal eksternal, sitokin yang sudah mencapai sel target dapat mengubah ekspresi gen 

sel target, sehingga akan terjadi perubahan sifat dan perbanyakan sel target, produksi sitokin 

juga akan diatur sehingga tidak terlalu banyak pada tubuh (feedback mechanism). 

Sitokin juga bisa berperan dalam pengaturan respon imun non spesifik, spesifik, 

hematopoiesis dan peradangan atau inflamasi. Pada pengaturan respon non spesifik, sitokin 

akan mengaktivasi sel-sel respon imun non seluler. Selain membantu respon imun non 

spesifik, sitokin juga bisa membantu respon imun spesifik. 

 


Glosarium 

 

Antibodi :  Zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri virus atau 

untuk melawan toksin yang dihasilkan oleh bakteri. 

Antibiotik  :  Zat kimia yang dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme, bakteri tertentu, 

fungsi, dan aktinomisetet yang dalam kadar rendah sudah mempunyai 

kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau menghancurkan 

bakteri atau berbagai mikroorganisme yang lain (misalnya penisilin, 

streptomisin, dan tetrasilin). 

Bakteriologi  :  Ilmu tentang berbagai segi yang menyangkut bakteri. 

Biokimia :  Ilmu yang mempelajari tentang peranan berbagai molekul dalam reaksi 

dan proses kimia yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup. 

Diferensiasi :  Proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan;  perkembangan 

tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit, dari homogen ke heterogen 

Eksternal  :  Menyangkut bagian luar (tubuh, diri, mobil, dan sebagainya). 

Fisiologis  :  Bersifat fisiologi; berkenaan dengan fisiologi.  

Fogosit  :  Sel-sel yang berfungsi mematikan mikroorganisme asing di sekitarnya 

dengan cara meluluhkannya ke dalam plasma selnya, misalnya sel darah 

putih memakan kuman.  

Granulosit :  Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma. 

Hiperseneitivitas :  Reaksi berlebihan, tidak diinginkan sebab  terlalu senisitifnya respon imun 

(merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan terkadang berakibat fatal) 

yang dihasilkan oleh sistem imun. 

Hemopoesis :  Sering juga dikenal dengan hematopoiesis yaitu  peristiwa pembuatan sel 

darah 

Hospes  :  (inang, hewan penjamu) hewan yang menderita kerugian. 

Hormon  :  Zat yang dibentuk oleh bagian tubuh tertentu (misalnya kelenjar gondok) 

dalam jumlah kecil dan dibawa ke jaringan tubuh lainnya serta mempunyai 

pengaruh khas (merangsang dan menggiatkan kerja alat-alat tubuh). 

Imun  :  Kekebalan terhadap suatu penyakit. 

Inflamasi  :  Reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang ditandai oleh 

panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh. 

Infeksi  :  Terkena hama; kemasukan bibit penyakit; ketularan penyakit; peradangan 

pengembangan pe-nyakit (parasit). 

Inang :  Organisme tempat parasit tumbuh dan makan. 

Leukosit  :  Sel darah tanpa warna (berfungsi untuk membinasakan bakteri yang 

memasuki tubuh); sel darah putih. 

Leukoreduction :  Juga dikenal sebagai Leukodepletion yaitu pengangkatan sel darah putih 

dari produk darah oleh filtrasi. 

Limfosit  : Leukosit yang berinti satu, tidak bersegmen, pada umumnya tidak 

bergranula, berperan pada imunitas humoral(sel B) dan imunitas sel (sel T) 

Makrofag  :  Jenis leukosit yang membersihkan tubuh dari sampah yang tidak diinginkan 

seperti bakteri dan sel-sel mati. 

Molekul  : Bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat 

secara kimia. Bagian terkecil senyawa yang masih sanggup 

memperlihatkan sifat-sifat dari senyawa itu. 

Monosit  :  Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma. 

Organ   :  Alat yang mempunyai tugas tertentu di dalam tubuh manusia (binatang 

dan sebagainya). 

Organisme  :  Segala jenis makhluk hidup (tumbuhan, hewan, dan sebagainya); susunan 

yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan 

tertentu. 

Parasit : Benalu; pasilan; organisme yang hidup dan mengisap makanan dari 

organisme lain yang ditempelinya. 

Patogen  :  Parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya. 

Prematur : Belum (waktunya) masak (matang); sebelum waktunya; belum cukup 

bulan. 

Resistensi  :  Ketahanan 

Radioaktif :  Berkenaan atau menunjukkan radioaktivitas. 

Reseptor  :  Ujung saraf yang peka terhadap rangsangan pancaindra; penerima. 

Sel  : Bagian atau bentuk terkecil dari organisme, terdiri atas satu atau lebih inti, 

protoplasma, dan zat-zat mati yang dikelilingi oleh selaput sel. 

Stimulasi  :  Drongan; rangsangan. 

Spora :  Alat perbanyakan yang terdiri atas satu atau beberapa sel yang dihasilkan 

dengan berbagai cara pada tumbuhan rendah, Cryptogamae, berukuran 

sangat halus, mudah tersebar oleh angin, air, binatang dan sebagainya, dan 

dapat tumbuh langsung pada kapang (bakteri dan sebagainya) atau tidak 

langsung pada paku-pakuan menjadi individu baru. 

Transplantasi : Pemindahan jaringan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain (seperti 

menutup luka yang tidak berkulit dengan jaringan kulit dari bagian tubuh 

yang lain).  

TRALI : (Transfusion-Related Acute Lung Injury) reaksi transfusi yang terjadi 

beberapa jam setelah transfusi darah.  

Trombosit : Keping-keping darah, mempunyai bentuk yang tidak teratur dan tidak 

mempunyai inti.  

Vaksin  : Bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk 

vaksinasi. 

Vaksinasi : Penanaman bibit penyakit (misalnya cacar) yang sudah dilemahkan ke 

dalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau 

menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap 

penyakit ini . 

 

KOMPONEN SISTEM IMUN 

 

 

elamat anda telah selesai mempelajari bab 1 dan dianggap sudah menguasai serta 

memahami konsep dasar Imunologi dan saat ini anda diharapkan mempelajari bab dua.  

pada bab dua ini kita akan membahas tentang komponen yang ada  pada sistem 

imun meliputi sistem imun nonspesifik dan spesifik.  

Sistem imun non spesifik memiliki kemampuan untuk menyerang semua organisme 

patogen. Organisme patogen dapat berupa virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing yang 

menyerang tubuh tubuh manusia. Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier 

(pertahanan) yaitu mekanik, humoral, seluler dan kimia. Sedangkan sistem imun spesifik 

humoral tersusun dari limfosit B atau sel B yang berasal dari sistem sel. Fungsi utama limfosit 

B yaitu  mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. 

Sistem imun spesifik selular terbentuk di sumsum tulang dan sering disebut sel T. Fungsi utama 

sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan terhadap bakteri, virus, jamur dan 

keganasan di intra seluler. 

Setelah mempelajari bab kedua ini, Mahasiswa RPL program studi DIII teknologi bank 

darah mampu menjelaskan komponen dalam sistem imun. Untuk memudahkan terwujudnya 

capaian pembelajaran yang diharapkan bagi anda, maka pada bab ke dua ini diberikan materi 

yang terbagi menjadi dua topik yaitu pada topik satu menguraikan tentang kekebalan non 

spesifik dan topik dua dibahas tentang kekebalan non spesifik.  

Untuk mengevaluasi sejauh mana pemahaman anda dalam mempelajari bab ini, 

disarankan anda mengerjakan latihan dan menjawab soal soal di akhir bab tanpa m