elihat
bahan pembelajaran.
Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan suatu sistem perlindungan secara
biologis yang ada dalam tubuh manusia untuk menangkal radikal bebas yang menyerang
dengan cara mengusir organisme pemicu penyakit (patogen), sehingga seorang individu
akan terhindar dari suatu penyakit. jika sistem ini bekerja dengan baik, maka seseorang
akan terhindar dari serangan virus ataupun bakteri, sebaliknya jika sistem ini tidak bekerja
dengan baik atau sedang dalam kondisi yang lemah, maka kekebalan tubuh individu ini
akan mudah terserang penyakit. Hal ini dapat kita ibaratkan seperti saat pergantian cuaca
yang ekstream dan teman kita banyak yang terkena flu dengan tidak menutup mulut dan
hidung saat batuk. Bila sistem imun kita berkerja dengan baik maka kita tidak akan tertular
flu, namun bila sistem imun sedang lemah maka kita akan terkena flu.
Sistem imun pada seorang individu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu sistem imun
spesifik dan sistem imun non spesifik. Mekanisme perlindungan tubuh yang tidak spesifik
yatau lebih dikenal sebagai sistem imun non spesifik berkerja dengan cara mengusir semua
mikroorganisme secara merata menghalangi masuknya organisme dan menghalaginya untuk
mengberkembang biak di dalam tubuh, selain itu juga membantu menghilangkan sel-sel
abnormal tubuh yang nantinya akan berkembang menjadi kanker. Dapat diambil kesimpulan
bahwa sistem imun non spesifik akan menyerang semua jenis patogen. Dalam sistem imun
yang dimaksud patogen berupa virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing yang menyerang
kekebalan dalam tubuh tanpa terkecuali
Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier atau mekanisme perlindungan
yang akan dijelaskan dalam bab ini, sebagai berikut:
A. PERTAHANAN FISIK/MEKANIK
Sistem pertahanan fisik atau mekanik merupakan barier pertahanan awal yang masih
terlihat oleh mata, yang terdiri dari kulit, selaput lendir, silia pada saluran pernapasan yang
termasuk dalam sistem imun non spesifik yang mampu melindungi tubuh yang sulit untuk
ditembus oleh sebagian besar zat yang dapat menginfeksi tubuh. Kulit merupakan barier
pertahanan yang tidak bisa di tembus sebab ada keratinosit dan lapisan epidermis kulit
sehat dan epitel mukosa yang utuh sehingga tidak dapat ditembus oleh kebanyakan mikroba
yang akan menginfeksi tubuh (Baratawidjaja, 2012).
Barier pertahanan tubuh terbesar dan mudah dilihat oleh kita yaitu kulit. Secara
normal, kulit tidak akan mampu untuk ditembus oleh patogen kecuali jika ada kerusakan
jaringan (misalnya terjadi luka), maka bakteri atau virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui
jalan ini. Jika kulit dapat ditembus oleh patogen, maka pada bagian ini akan terjadi
infeksi penyakit ditandai dengan adanya peradangan
Sistem barier pertahanan non spesifik lainnya yaitu membran mukosa yang tersusun
oleh kelenjar yang menghasilkan sekresi berupa lendir. Membran mukosa melapisi beberapa
organ dalam tubuh seperti paru-paru, saluran pencernaan. Membran mukosa tidak hanya
melapisi organ dalam tubuh namun juga melapisi beberapa bagian tubuh yang terpapar
lingkungan luar seperti telinga, kelopak mata, dan lubang hidung. Air mata juga termasuk
kedalam pertahanan nonspesifik eksternal sebab air mata membuang segala macam partikel
asing yang masuk ke mata, contohnya saja saat kita terlalu lama di depan komputer maka
mata kita akan kering terjadi iritasi maka otomatis mata akan mengeluarkan air mata untuk
melindungi mata
Selain itu reflek batuk atau bersin yang merupakan reflek fisiologis terjadi bila ada benda
asing masuk kedalam saluran pernafasan, reflek ini merupakan salah satu pertahanan tubuh
non spesifik yang berfungsi mencegah debu masuk ke dalam paru-paru sehingga mencegah
terjadinya infeksi pada saluran nafas atau ataupun saluran nafas bawah
B. PERTAHANAN HUMORAL
Mekanisme imun yang terjadi jika barier tubuh dapat di tembus oleh suatu
mikroorganisme, maka hal ini akan mengaktifkan sistem imun nonspesifik lainnya untuk
bekerja, antara lain yaitu inflamasi akut. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik humoral yang
dikenal dengan sistem komplemen bertindak sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh
bawaan, dan dapat bekerja dengan sistem kekebalan adaptif jika diperlukan
Pertahanan Humoral Sistem imun nonspesifik ini memakai berbagai molekul larut
tertentu yang diproduksi di tempat infeksi dan berfungsi mengatasi masalah lokal hanya pada
bagian ini , misalnya peptida antimikroba (defensin, katelisidin, dan IFN dengan efek
antiviral). Namun juga ada faktor larut lainnya yang diproduksi di tempat yang lebih jauh dan
dikerahkan ke jaringan sasaran melalui sirkulasi seperti komplemen dan PFA (Protein Fase
Akut). Pertahanan humoral tersusun oleh komplemen, interferon dan CRP (C Reaktif
Protein/protein fase akut), kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin) yang dijabarkan sebagai
berikut:
1. Komplemen
Komplemen berfungsi mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan
parasit sebab komplemen dapat menghancurkan sel membran bakteri. Komplemen
merupakan faktor kemotaktik yang mengarahkan makrofag ke tempat bakteri, komponen
yang mengendap pada permukaan bakteri sehingga memudahkan makrofag untuk mengenal
dan memfagositosis (opsonisasi).
2. Interferon
Interferon yaitu suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia yang
mengandung nukleus dan dilepaskan sebagai respons terhadap infeksi virus. Interveron
mempunyai sifat anti virus dengan cara menginduksi sel-sel yang berada disekitar sel yang
terinfeksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus. Disamping itu, interveron juga dapat
mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan
menunjukkan perubahan pada permukaannya. Perubahan ini akan dikenal oleh sel NK
yang kemudian akan dibunuhnya, dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah.
3. Reactive Protein (CRP)
Peranan CRP yaitu sebagai opsonin dan mengaktifkan komplemen. CRP dibentuk oleh
badan pada saat infeksi. CRP merupakan protein yang kadarnya cepat meningkat setelah
infeksi atau inflamasi akut. CRP berperanan pada imunitas non spesifik, sebab dengan
bantuan Ca++ dapat mengikat berbagai molekul yang ada pada banyak bakteri dan
jamur.
4. Kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin)
Lektin mannose binding (MBL), juga disebut protein mannose binding protein atau
mannan binding (MBP), merupakan lektin yang berperan dalam kekebalan bawaan. MBL milik
kelas collectins dalam tipe C lektin superfamili, yang fungsinya megenali pola pada baris
pertama pertahanan dalam host pra-imun. MBL mengakui pola karbohidrat, ditemukan pada
permukaan sejumlah besar patogen mikro- organisme, termasuk bakteri, virus, protozoa dan
jamur. Pengikatan MBL ke mikro-organisme hasil di aktivasi jalur lektin dari sistem
komplemen. Fungsi lain MBL yaitu saling mengikat pada permukaan patogen, yang
kemudian mengikat reseptor komplemen yang ada pada fagosit
Sistem pertahanan non spesifik humoral tersusun dari berbagai protein yang, saat
tidak aktif akan bersirkulasi dalam darah. saat diaktifkan, protein ini bergabung untuk
memulai menyusun pertahanan komplemen
Langkah-langkah
pertahanan tubuh humoral nonspesifik melalui beberapa proses, sebagai berikut:
1. Opsonisasi
opsonisasi sel-sel bakteri terjadi jika seluruh sistem komplemen teraktivasi maka
akan meningkatkan permiabilitas pembuluh darah. Opsonisasi yaitu proses di mana partikel
asing yang berasal dari luar tubuh ditandai untuk dilakukan pemusnahan dengan cara
fagositosis. Semua jalur dalam tubuh membutuhkan antigen untuk memberi sinyal bahwa ada
ancaman yang terdeteksi. Opsonisasi menandai sel yang terinfeksi dan mengidentifikasi
patogen yang bersirkulasi yang mengekspresikan antigen yang sama.
2. Chemotaxis
Chemotaxis yaitu proses daya tarik dan pergerakan makrofag menuju ke sinyal kimia.
Chemotaxis memakai sitokin dan kemokin untuk menarik makrofag dan neutrofil ke
lokasi infeksi, memastikan bahwa patogen di daerah itu akan dihancurkan. Dengan membawa
sel-sel kekebalan ke suatu daerah dengan patogen yang diidentifikasi, maka akan
memudahkan sistem imun mengenali patogen sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa
ancaman akan dihancurkan dan infeksi akan diobati.
3. Sel Lisis
Setelah makrofag tertarik di lokasi inflamasi maka makrofag akan mengalami lisis. Lisis
yaitu pemecahan atau penghancuran membran sel. Protein dari sistem komplemen
menusuk selaput sel asing, sehingga menghancurkan integritas patogen. Menghancurkan
membran sel asing atau patogen, melemahkan kemampuan mereka untuk berkembang biak,
dan membantu menghentikan penyebaran infeksi.
4. Aglutinasi
Patogen akan dihancurkan selanjutnya akan meningkatkan kerja dengan proses
aglutinasi. Aglutinasi memakai antibodi untuk mengelompokkan dan mengikat patogen
bersama-sama, mirip seperti koboi yang mengumpulkan ternaknya. Dengan menyatukan
patogen di area yang sama, sel-sel sistem kekebalan tubuh dapat meningkatkan serangan dan
melemahkan infeksi. Sel-sel sistem kekebalan tubuh bawaan lainnya terus beredar di seluruh
tubuh untuk melacak patogen lain yang belum terkumpul dan terikat untuk dihancurkan
Sistem kekebalan bawaan bekerja untuk melawan patogen sebelum mereka dapat
memulai infeksi aktif. Untuk beberapa kasus, respon imun bawaan tidak cukup, atau patogen
mampu mengeksploitasi respon imun bawaan untuk jalan ke sel inang. Dalam situasi seperti
itu, sistem kekebalan tubuh bawaan bekerja dengan sistem kekebalan adaptif untuk
mengurangi keparahan infeksi, dan untuk melawan penyerang tambahan sementara sistem
kekebalan adaptif sibuk menghancurkan infeksi awal
C. PERTAHANAN BIOKIMIA
Pertahanan biokimia merupakan barier pertahanan yang dilakukan oleh tubuh dalam
melawan patogen dengan melibatkan zat kimia dalam tubuh. Misalnya, sekresi oleh kelenjar
lemak dan kelenjar keringat pada kulit meningkatkan keasaman (pH) permukaan kulit, asam
lemak yang dilepaskan oleh kulit mempunyai efek denaturasi terhadap protein membran sel
yang mencegah banyaknya mikroorganisme berkoloni di kulit kita, sehingga tidak terjadi
infeksi
Air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan
mukosa dapat melenyapkan banyak bibit penyakit yang potensial menyerang sistem imun
tubuh. Pada lapisan mukosa tubuh mata dan saliva mengandung lisozim dan fosfolipase yang
mampu melisiskan lapisan peptidoglikan dinding bakteri, sehingga bakteri yang masuk akan
lemah. Selain itu, bakteri flora normal tubuh pada epitel dan mukosa dapat juga mencegah
koloni bakteri patogen.
Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu dalam usus
halus membantu menciptakan lingkungan yang asam suhingga dapat mencegah infeksi oleh
mikroba. Contohnya sistem pertahanan yang dilakukan lambung untuk mencegah
perkembangan mikroorganisme yaitu dengan memproduksi asam lambung (HCl) untuk
membunuh kuman-kuman yang masuk bersama makanan yang kita makan, gerakan
peristaltik pada usus yang mendorong bibit penyakit yang ada di dalam usus sehingga segera
dapat keluar bersama feses atau kotoran pada proses ekskresi. Tidak lupa keasaman pada
vagina dan urin berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bibit penyakit tertentu.
D. PERTAHANAN SELULER
Pertahanan seluler merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh non spesifik yang
mempunyai fungsi utama untuk melakukan fagositosis. Membahas mengenai fagositosis tidak
lepas dari peran serta sel darah putih atau leukosit, yang berfungsi untuk mempertahankan
dan melindungi tubuh manusia pada sistem peredaran darah
Dalam pertahana seluler, ada beberapa sel-sel yang menyokong leukosit dari
sistem kekebalan tubuh bawaan diantaranya, yaitu:
1. Sel-sel Fagosit (Monosit & makrofag)
Fagositosis atau sel fagositosis berasal dari kata phagocyte yang mempunyai arti "sel
makan", fagositosis menggambarkan peran yang dilakukan oleh fagosit dalam respon imun.
Fagosit beredar di seluruh tubuh, mencari potensi ancaman seperti bakteri dan virus yang
berada dalam tubuh untuk dimakan dan lalu dihancurkan. Fagosit dapat dianganggap sebagai
penjaga keamanan yang sedang berpatroli di seluruh tubuh.
Sel fagosit dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu fagosit mononuklear dan polimorfonuklear.
Fagosit mononuklear contohnya yaitu monosit yang berada di darah dan jika bermigrasi ke
jaringan akan menjadi makrofag. Contoh dari fagosit polimorfonuklear yaitu granulosit, yaitu
netrofil, eusinofil, basofil dan cell mast (di jaringan). Supaya proses fagosit ini bisa terjadi,
maka suatu mikroorgansime harus berjarak dekat dengan sel fagositnya
fagositosis yaitu mekanisme utama untuk menghilangkan patogen dan serpihan sel
seperti bakteri, sel jaringan yang sudah mati, dan partikel mineral kecil. Proses fagositosis
melalui beberapa langkah, sebagai berikut:
a. Pengenalan (recognition), yaitu proses dimana sel-sel fagosit mengenali mendeteksi
patogen berupa mikroorganisme/ partikel asing yang tersebar di dalam tubuh.
b. Pergerakan (chemotaxis), setelah suatu partikel mikroorganisme dikenali selanjutnya sel
fagosit akan bergerak menuju partikel yang telah dikenali ini . Proses ini terjadi
sebab bakteri/mikroorganisme mengeluarkan semacam zat chemo-attract seperti
kemokin yang dapat memikat sehingga mampu menarik sel hidup seperti fagosit untuk
menghampirinya.
c. Perlekatan (adhesion), setelah sel fagosit bergerak menuju partikel asing, partikel
ini akan melekat dengan reseptor pada membran sel fagosit. Proses ini akan
dipemudah jika mikroorganisme ini berlekatan dengan mediator komplemen
seperti opsonin (opsonisasi).
d. Penelanan (ingestion), saat partikel asing telah berikatan dengan reseptor di membran
plasma sel fagosit, sesaat membran sel fagosit ini akan menyelubungi seluruh
permukaan partikel asing dan menelannya hidup-hidup ke dalam sitoplasma. Sekali
telan, partikel ini akan masuk ke sitoplasma di dalam sebuah gelembung mirip
vakuola yang disebut fagosom.
e. Pencernaan (digestion) fagosom yang berisi partikel asing di dalam sitoplasma sel
fagosit, dengan segera mengundang kedatangan lisosom. Lisosom yang berisi enzim-
enzim penghancur seperti acid hydrolase dan peroksidase, berfusi dengan fagosom
membentuk fagolisosom. Enzim-enzim akan tumpah ke dalam fagosom dan mencerna
seluruh permukaan partikel asing hingga hancur berkeping-keping. Sebagian epitop
yang merupakan bagian dari partikel asing ini akan berikatan dengan sebuah
molekul kompleks yang bertugas mempresentasikan epitop ini ke permukaan,
molekul ini dikenal dengan MHC (major histocompatibility complex) untuk dikenali oleh
sistem imunitas spesifik sehingga dimasa mendatang sistem imun akan langsung
memusnahkan mikroorganisme yang sama.
f. Pengeluaran (releasing) produk sisa partikel asing yang tidak dicerna akan dikeluarkan
oleh sel fagosit
Makrofag dalam dunia mikrobiologi biasa disingkat “Mφ” berasal dari bahasa Yunani
yang berarti “pemakan sel yang besar”. Sel makrofag merupakan sel fagositik yang efisien
dalam meninggalkan sistem peredaran darah dengan bergerak melintasi dinding pembuluh
kapiler. Kemampuan untuk berkeliaran di luar sistem peredaran darah merupakan
kemampuan yang sangat penting, sebab memungkinkan makrofag untuk berburu patogen
dengan batasan yang lebih sedikit, sehingga diharapkan tidak ada patogen yang menyerang
tubuh. Makrofag juga dapat melepaskan sitokin untuk memberi sinyal dan merekrut sel lain
ke daerah yang teridentifikasi adanya patogen. Makrofag tersusun atas leukosit fagositik yang
besar, yang mempunyai kemampu an bergerak hingga keluar sistem vaskuler dengan
menyebrang membran sel dari pembuluh kapiler dan memasuki area antara sel yang sedang
diincar oleh patogen. Dalam jaringan, makrofag organ-spesifik yang terdiferensiasi dari sel
fagositik yang ada dengan darahnya yang disebut monosit. Makrofag yaitu fagosit yang
paling efisien dengan kemampuan bisa mencerna sejumlah besar bakteri atau sel lainnya.
Pengikatan molekul bakteri ke reseptor permukaan makrofag memicu proses penelanan dan
penghancuran bakteri melalui "serangan respiratori", sehingga memicu pelepasan
bahan oksigen reaktif. Patogen juga menstimulasi makrofag untuk menghasilkan kemokin,
akan memanggil sel fagosit lain di sekitar wilayah terinfeksi
Makrofag merupakan hasil dari diferensiasi monosit yang berimigrasi kejaringan,
makrofag ini akan terus hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen. Ada makrofak yang
disebut sebagai Sel kupffer merupakan jenis dari makrofag yang berada dalam hati, histiosit
dalam jaringan ikat, dll
2. Basofil dan sel Mast
Sel mast banyak ditemukan ada dalam selaput lendir dan jaringan ikat. Sel must
berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan pertahanan terhadap patogen melalui
respons inflamasi. saat sel mast diaktifkan, maka akan melepaskan sitokin dan butiran yang
mengandung molekul kimia untuk membentuk suatu petahanan yang disebut kaskade
inflamasi. Pada proses inflamasi akan melepaskan mediator kimia seperti histamin yang
berfungsi melebarkan pembuluh darah, meningkatkan aliran darah dan sistem perdagangan
sel ke area infeksi. Sitokin yang dilepaskan selama proses ini bertindak sebagai layanan kurir,
dengan menyalurkan informasi memperingatkan sel-sel kekebalan yang lainnya, seperti
neutrofil dan makrofag untuk membuat jalan mereka ke daerah infeksi, dengan tujuan
meningkatkan kewaspadaan dari ancaman yang beredar.
Neutrofil yaitu sel fagosit yang juga diklasifikasikan sebagai granulosit sebab
mengandung granula dalam sitoplasma mereka. Butiran yang ada pada neutrofil sangat
beracun bagi bakteri dan jamur, dengan tujuan memicu patogen berhenti berkembang
biak atau mati saat kontak dengan neutrofil. Neutrofil terbentuk di sumsum tulang, pada
orang dewasa yang sehat dapat menghasilkan sekitar 100 miliar neutrofil baru per hari.
Neutrofil menjadi sel pertama yang akan tiba di lokasi infeksi sebab ada begitu banyak sel
yang beredar pada kurun waktu tertentu.
Dalam sistem perlindungan imun non spesifik eosinofil berperan sebagai target
granulosit parasit multiseluler. Eosinofil mengeluarkan sejumlah protein yang sangat beracun
dan radikal bebas yang membunuh bakteri dan parasit. Penggunaan protein beracun dan
radikal bebas juga memicu kerusakan jaringan selama reaksi alergi, sehingga aktivasi
dan pelepasan toksin oleh eosinofil sangat diatur untuk mencegah adanya kerusakan jaringan
yang tidak perlu. Sementara eosinofil hanya membentuk 1-6% dari sel darah putih, mereka
ditemukan di banyak lokasi, termasuk timus, saluran pencernaan bagian bawah, ovarium,
uterus, limpa, dan kelenjar getah bening.
Sebagai salah satu sistem pertahanan non spesifik seluler, basofil termasuk dalam
dolongan granulosit yang berfungsi menyerang parasit multiseluler. Basofil akan melepaskan
histamin, seperti sel mast pada daerah yang mengalami infeksi. Penglepasan histamin pada
daerah infeksi membuat basofil dan sel mast sebagai pemegang kunci utama dalam
pemasangan respons alergi.
Sel dendrit memegang peran sebagai penyaji antigen yang terletak di jaringan, kelebihan
lainnya sel dendrit dapat menghubungi lingkungan eksternal melalui kulit, lapisan mukosa
bagian dalam hidung, paru-paru, perut, dan usus. sebab sel-sel dendrit terletak di jaringan
yang merupakan titik umum untuk infeksi awal, mereka dapat mengidentifikasi ancaman dan
bertindak sebagai pembawa pesan untuk seluruh sistem kekebalan tubuh dengan presentasi
antigen. Sel dendritik juga bertindak sebagai jembatan penghubung antara sistem kekebalan
tubuh bawaan dan sistem kekebalan adaptif
3. Sel NK
Sel Natural Killer (sel NK) merupakan salah satu sel pertahanan tubuh tidak langsung
menyerang patogen. Sebaliknya sel pembunuh alami menghancurkan sel inang yang terinfeksi
untuk menghentikan penyebaran infeksi. Sel inang yang terinfeksi atau dikompromikan dapat
memberi sinyal sel pembunuh alami untuk dihancurkan melalui ekspresi reseptor spesifik dan
presentasi antigen
Natural killer cells (NKC) secara spontan mampu melisiskan dan menghancurkan sel yang
terinfeksi virus atau sel-sel kanker secara langsung pada saat pertama kali dikenali sebagai
bahan asing. NKC yaitu pembunuh alamiah yang merupakan limfosit besar sering disebut
juga dengan limfosit non-T dan limfosit non-B. Cara kerja dan sasaran utama sel ini serupa
dengan sel T sitotoksik, bedanya dengan sel T sitotoksik hanya pada fungsi mematikan sel-sel
yang terinfeksi virus yang sejenis atau sel kanker jenis tertentu yang sudah pernah dikenali
terlebih dahulu. Selain itu setelah terpapar, sel T sitotoksik memerlukan periode pematangan
sebelum mampu melisiskan sel. NKC membentuk lini pertahanan yang berisfat nonspesifik
dan segera terhadap sel yang terinfeksi virus atau sel kanker sebelum sel T sitotoksik yang
lebih spesifik sehingga dapat menjalankan berfungsinya.
Didalam tubuh banyak sekali ditemukan populasi limfosit yang digolongkan sebagai sel
NK dan antibodI dependent killer cell yang memiliki fungsi dalam pengawasan tumor tertentu
dan infeksi virus. Kebanyakan sel NK merupakan large granular lymphocyte (LGL). Membran
sel ini menunjukan ciri-ciri antara sel limfosit dan monosit. Sel NK dapat menghancurkan
sel yang mengandung virus atau sel neoplasma dan interferon yang mempunyai pengaruh
dalam mempercepat pematangan dan efek sitolitik sel NK
Sel NK dan sel T sitotoksik dapat membunuh sel yang terinfeksi dengan menginduksi
apoptosis pada proses yang disebut sitotoksisitas seluler. Mekanismenya bergantung pada
granula, dimana granul yang sudah ada sebelumnya (sel NK) atau yang baru dihasilkan (CTL)
menyimpan molekul yang dapat memicu apoptosis. Dalam hal ini termasuk perforin yang
dapat berpolimerisasi untuk membentuk pori-pori di membran sel target dan memungkinkan
molekul seperti granzymes untuk memasuki sitosol di mana mereka memicu apoptosis. Sel T
sitotoksik dan NKsel juga dapat mengekspresikan molekul permukaan sel seperti ligan Fas
yang jika mereka berikatan dengan Fas pada sel target, maka akan memulai mekanisme
apoptosis didalam sel target
E. REAKSI INFLAMASI
Reaksi inflamasi tidak akan meninggalkan proses pemicu nya yaitu adanya
mikroorganisme, dimana reaksi inflamasi merupakan respon yang terjadi untuk melindungi
tubuh dari pemicu kerusakan sel, seperti mikroba atau toksin, dan konsekuensi dari
kerusakan sel ini , seperti nekrosis sel atau jaringan. Respon inflamasi terjadi pada
jaringan ikat yang mempunyai pembuluh darah, dan melibatkan pembuluh darah, plasma dan
sel-sel dalam sirkulasi. Reaksi inflamasi juga akan melibatkan matriks ekstra seluler di jaringan,
seperti protein yang berstruktur serat (kolagen dan elastin), molekul adhesi dan proteoglikan
sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh
Proses inflamasi merupakan bagian dari respon imun (sistem kekebalan tubuh),
mekanisme ini hanya akan terjadi dalam kondisi tertentu dalam waktu yang tidak lama.
Misalnya saat terjatuh maka suatu bagian tubuh mengalami luka terbuka, mekanisme
inflamasi akan membantu menghilangkan sel yang rusak dan mempercepat proses
penyembuhan. Sebaliknya, saat inflamasi terjadi dalam kurun waktu yang lebih lama dari yang
dibutuhkan, maka hal ini akan menimbulkan berbagai masalah yang cenderung bersifat
merugikan (DiCorleto, 2014).
Proses inflamasi akan menimbulkan beberapa tanda inflamasi atau pertahanan oleh
tubuh, yaitu dolor (nyeri), rubor (kemerahan), kalor (panas) dan tumor (bengkak). Tanda
inflamasi muncul sebab terjadinya proses dilatasi pembuluh darah setempat memicu
aliran darah meningkat dan menghasilkan rubor dan calor, sedangkan peningkatan
permeabilitas kapiler memicu cairan keluar dari sel dan pembuluh darah, begitu juga
dengan leukosit, terutama netrofil, makrofag dan monosit, sehingga menghasilkan dolor dan
tumor
Inflamasi merupakan proses pertahanan tubuh yang dilakukan tubuh, proses terjadinya
inflamasi dijelaskan sebagai berikut:
1. Signalling
saat mikroba masuk ke dalam jaringan yang berada di sekitar pembuluh darah, hal
yang pertama kali terangsang di jaringan yaitu makrofag. Makrofag ini kemudian akan segera
membentuk sistem pertahanan dengan menegeluarkan mediator inflamasi yaitu interleukin-
1 (IL-1) dan tumour necrosis factor(TNF). Kedua molekul mediator ini menginduksi sel endotel
pembuluh darah untuk mengekresikan molekul adhesi yaitu selectin-E (CD62E) dan selectin-
P. Selain kedua jenis selectin ini ada lagi jenis molekul adhesi yang diekspresikan endotel
yaitu Immunoglobulin superfamily, seperti ICAM dan VCAM. Molekul adhesi ini akan menarik
leukosit yang mengekspresikan molekul adhesinya yaitu selectin-L (CD62L) (Molekul adhesi
leukosit lain bisa berupa integrin LFA-1, Mac-1, dll). saat leukosit lewat di sekitar endotel
yang mengekspresikan selectin-E dan selectin-P ini, selectin-L di leukosit ini akan
menimbulkan perlekatan yang lemah dengan kedua molekul ini , sehingga leukosit
perlahan akan melekat dengan endotel.
2. Rolling
Setelah terjadi perlekatan lemah antara leukosit dan endotel, perlahan-lahan ikatan ini
menjadi kuat dan semakin kuat. Sehingga aliran darah tidak dapat melepaskan ikatan ini.
Leukosit pun akan menyebar di sepanjang endotel pembuluh darah. Perlekatan antara
leukosit dan endotel menjadi semakin kuat sebab aktivasi oleh faktor kemotaktik seperti
leukotrin B4, platelet activating factor dean Interleukin-8 dengan cara kerja meningkatkan
afinitas molekul adhesi leukosit untuk molekul adhesi endotel.
3. Emigrasi
Setelah terjadi perlekatan yang lebih kuat antara leukosit dengan endotel, sel leukosit
pun berhenti menggelinding. Sesaat , leukosit menembus dinding endotel ini dengan
proses diapedesis melalui celah antar sel endotel.
4. Kemotaksis
saat sel leukosit yang berupa granulosit seperti netrofil dan eosinofil telah bermigrasi
ke ekstrasel dari pembuluh darah, selanjutnya akan bergerak ke arah jaringan yang diserang
oleh mikroba tadi sebab terangsang oleh zat chemo-attract tertentu yang dihasilkan oleh
mikroba (sama seperti pengenalan sel di proses fagositosis).
5. Fagositosis
saat sel leukosit telah bertemu dengan mikroba pemicu kerusakan sel ini , ia
akan memfagositnya. Produk dari fagositosis akan menghasilkan bermacam eksudat sehingga
jaringan di sekitar area ini akan membengkak. Bisa juga jika leukosit ini mati,
ia akan berubah menjadi abses atau nanah.
6. Penglepasan Mediator Inflamasi
Sel leukosit yang telah bermigrasi ke jaringan akan berubah fungsi menjadi sel mast.
Granul-granul di dalam sel mast segera dilepaskan ke area sekitar daerah inflamais. Granul
ini mengandung zat-zat mediator inflamasi (cell derived mediator), yang dalam hal ini
yaitu histamin dan serotonin. Keduanya akan memicu dilatasi pembuluh darah dan
meningkatkan permeabilitas vaskuler supaya leukosit mudah bermigrasi ke area ini .
Selain dua contoh mediator di atas, ada lagi zat mediator inflamasi lainnya yaitu plasma
derived mediator yang dihasilkan oleh komplemen. Contohnya yaitu anafilatoksin yang
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, opsonin yang mempermudah fagositosis
mikroba, kinin yang berefek vasodilatasi, dan lain-lain.
7. Pemulihan
Proses ini merupakan tahapan akhir dari reaksi inflamasi dimana saat semua agen
mikroba telah mati, inflamasi pun berakhir perlahan. Biasanya jika inflamasi terjadi di bawah
kulit, ia akan pecah keluar kulit dan menumpahkan derivat inflamasi yang ada
Inflamasi dimulai saat sel tubuh mengalami kerusakan dan terjadi pelepasan zat kimia
tubuh sebagai tanda bagi sistem imun. Inflamasi sebagai respon imun pertama bertujuan
untuk merusak zat atau objek asing yang dianggap merugikan, baik itu sel yang rusak, bakteri,
atau virus.
Pentingnya proses inflamasi sebab sangat dibutuhkan tubuh untuk menghilangkan zat
atau objek asing ini penting untuk memulai proses penyembuhan. Dengan melalui
berbagai mekanisme lainnya, sel inflamasi dalam pembuluh darah memicu pembengkakan
pada area tubuh yang mengalami kerusakan dan memicu pembengkakan, warna
kemerahan, dan rasa nyeri. Proses inflamasi memang akan menimbulkan rasa tidak nyaman,
namun hal ini penting dalam proses penyembuhan.
Mekanisme inflamasi diawali dengan adanya iritasi, di mana sel tubuh memulai proses
perbaikan sel tubuh yang rusak. Sel rusak dan yang terinfeksi oleh bakteri dikeluarkan dalam
bentuk nanah. Kemudian diikuti dengan proses terbentuknya jaringan-jaringan baru untuk
menggantikan yang rusak
Respon imun berupa reaksi inflamasi ini jika terjadi dalam waktu yang lama dapat
merusak tubuh. Hal ini disebab kan zat atau organisme pemicu inflamasi dapat bertahan lama
pada pembuluh darah dan mengakibatkan penumpukan plak. Plak dalam pembuluh darah
ini justru dianggap sebagai zat berbahaya dan berakibat pada reaksi dari proses
inflamasi kembali terjadi. Akhirnya terjadilah kerusakan pembuluh darah yang berakibat
semakin buruk. Kerusakan akibat adanya sel inflamasi dapat terjadi pada pembuluh darah
tubuh, jantung hingga otak.
Inflamasi berdasarkan lama waktunya dibedakan menkjadi 2 yaitu dapat terjadi secara
akut dalam waktu singkat atau terjadi secara kronis, yaitu menetap dalam waktu yang lama.
Inflamasi akut dimulai dalam hitungan detik atau menit saat suatu jaringan mengalami
kerusakan. Baik itu akibat luka fisik, infeksi, atau respon imun (DiCorleto, 2014).
Inflamasi pada radang akut yaitu respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang
didesain untuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan sebagai
mikroba yang menginvansi dan memulai proses pembongkaran jaringan nekrotik. ada
dua komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan structural
dari pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah
akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada
pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan
sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan
selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera.
Proses infilatasi juga memberikan dampak pada arteriol lokal yang mungkin didahului
oleh vasokontriksi singkat, dimana sfingter prakapiler membuka dengan akibat aliran darah
dalam kapiler yang telah berfungsi meningkat dan juga dibukanya anyaman kapiler yang
sebelumnya inaktif. Akibatnya anyaman venular pasca kapiler melebar dan diisi darah yang
mengalir deras. Dengan demikian, mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan berisi darah
terbendung. Kecuali pada jejas yang sangat ringan, bertambahnya aliran darah (hiperemia)
pada tahap awal akan disusul oleh perlambatan aliran darah, perubahan tekanan intravaskular
dan perubahan pada orientasi unsur-unsur berbentuk darah terhadap dinding pembuluhnya.
Perubahan pembuluh darah dilihat dari segi waktu, sedikit banyak tergantung dari parahnya
jejas. Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit setelah jejas. Perlambatan dan bendungan
tampak setelah 10-30 menit.
Peningkatan permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel darah
putih ke dalam jaringan ini eksudasi dan merupakan gambaran utama reaksi radang
akut. Vaskulatur-mikro pada dasarnya terdiri dari saluran-saluran yang berkesinambungan
berlapis endotel yang bercabang-cabang dan mengadakan anastomosis. Sel endotel dilapisi
oleh selaput basalis yang berkesinambungan
Pada ujung arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan keluar ke
dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini berakibat meningkatnya
konsentrasi protein plasma dan memicu tekanan osmotik koloid bertambah besar,
dengan menarik kembali cairan pada pangkal kapiler venula. Pertukaran normal ini akan
menyisakan sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir dari ruang jaringan melalui
saluran limfatik. Umumnya, dinding kapiler dapat dilalui air, garam, dan larutan sampai berat
jenis 10.000 dalton. Inflamasi akut dapat dipicu oleh beberapa kondisi seperti bronkitis akut,
radang tenggorokan atau mengalami flu, kulit lecet, cedera, olahraga berat, dermatitis akut,
tonsillitis akut (penyakit amandel), sinusitis akut.
Sedangkan bedanya dengan inflamasi akut yaitu, inflamasi kronis terjadi dengan
mekanisme yang lebih rumit sehingga dapat bertahan dalam hitungan tahun hingga bulan.
Inflamasi kronis bisa terjadi saat tubuh tidak dapat menghilangkan pemicu inflamasi akut,
paparan pemicu inflamasi secara terus-menerus berada di dalam tubuh, dan juga bentuk
respon autoimun di mana sistem imun menyerang jaringan yang sehat. Contoh beberapa
penyakit yang sering berkaitan dengan inflamasi kronis diantaranya: asma, tuberkulosis,
periodontitis kronis, ulcerative colitis dan penyakit crohn, sinusitis kronis, hepatitis kronis, dan
inflamasi berulang (DiCorleto, 2014).
Radang kronis dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang (berminggu-
minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera
jaringan, dan penyembuhan. Perbedaannya dengan radang akut, dimana jika radang akut
ditandai dengan perubahn vaskuler, edema, dan inflitrasi neutrofil dalam jumlah besar,
sedangkan radang kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit,
dan sel plasma), destruksi jaringan, dan perbaikan (meliputi proliferasi pembuluh darah
baru/angiogenesis dan fibrosis).
Radang kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul radang
akut, atu responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut menjadi kronik
berlangsung bila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen pemicu jejas yang
menetap atau ada gangguan pada proses penyembuhan normal. Ada kalanya radang
kronik sejak awal merupakan proses promer. Sering pemicu jejas memiliki toksitas rendah
dibandingkan dengan pemicu yang menimbulkan radang akut. Terhadap 3 kelompok besar
yang menjadi pemicu nya, yaitu infeksi persisten oleh mikroorganisme intrasel tertentu
(seperti basil tuberkel, Treponema palidum, dan jamur-jamur tertentu), kontak lama dengan
bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika), yang menjadi penyakit reaksi autonium. Bila
suatu radang berlangsung lebih lama dari empat atau enam minggu maka disebut sebagai
peradangan kronik. namun sebab banyak kebergantungan respon efektif tuan rumah dan sifat
alami jejas, maka batasan waktu tidak banyak artinya. Perbedaan antara akut dan kronik
sebaiknya berdasarkan pola morfologi reaksi yang ditimbulkan.
Mekanisme reaksi inflamasi kronis umumnya dimulai dari suatu agen pencidera yang
akan menghasilkan antigen yang mana antigen ini akan merangsang pembentukan proses
perubahan Limfosit T yang menjadi sel T efktor yang berakumulasi membentuk respon sel T
sitotoksik yang berperan dalam lisis sel (selular imuniti). Sel T ini berpengaruh dalam
pembentukan granuloma epiteloid dirangsang oleh sikotin. Sel T sitotoksik juga berpengaruh
dalam perubahan limfosit B menjadi sel plasma, yang akhirnya berpern dalam pembentukan
antibodi untuk melemahkan antigen (humoral imuniti). Makrofag yang telah memakan
antigen, dalam proses kronis akan membentuk granuloma awal, yang dalam keadaan infeksius
membentuk jaringan granuloma epiteloid kaseosa, dan pada keadaan noninfeksius
menghasilkan granuloma epitoloid nonkaseosa. Yang pada proses penyembuhan membentuk
jaringan fibrosis
Inflamasi akut dapat dipicu oleh beberapa kondisi seperti bronkitis akut, radang
tenggorokan atau mengalami flu, kulit lecet, cedera, olahraga berat, dermatitis akut, tonsillitis
akut (penyakit amandel), sinusitis akut.
Reaksi inflamasi bisa memicu adanya reaksi inflamasi berulang yang dapat
disebabkan oleh kondisi autoimun seperti, rheumatoid arthritis. Rheumatoid artritis yaitu
inflamasi pada jaringan persendian dan sekitarnya yang terkadang bisa saja terjadi pada organ
tubuh lainnya. Selain itu ada pula ankylosing spondylitis yaitu inflamasi pada tulang belakang,
otot dan jaringan penghubung antar tulang, penyakit celiacinflamasi dan kerusakan dinding
usus halus, fibrosis paru idiopatik inflamasi pada alveoli paru, psoriasis inflamasi pada kulit,
diabetes tipe 1 berupa inflamasi pada berbagai bagian tubuh saat diabetes tidak terkendali
dan alergi semua alergi yang dialami bagian tubuh memicu terjadinya mekanisme
inflamasi
Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan suatu sistem perlindungan secara
biologis untuk menangkal radikal bebas dengan cara mengusir organisme pemicu penyakit
(patogen), sehingga seorang individu akan terhindar dari suatu penyakit. Sistem imun pada
seorang individu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu sistem imun spesifik dan sistem imun
non spesifik. Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier yaitu, pertahanan fisik/
mekanik berupa kulit, selaput lendir, silia saluran pernapasan termasuk reflek batuk atau
bersin ada pula sekresi air mata.
Pertahanan humoral barier tubuh dapat di tembus oleh mikroorganisme, hal ini akan
mengaktifkan sistem imun nonspesifik berupa inflamasi akut, dengan memakai berbagai
molekul larut tertentu yang diproduksi di tempat infeksi dan berfungsi lokal, misalnya peptida
antimikroba (defensin, katelisidin, dan IFN dengan efek antiviral). Selain itu faktor larut lainnya
yang diproduksi di tempat yang lebih jauh dan dikerahkan ke jaringan sasaran melalui sirkulasi
seperti komplemen dan PFA (Protein Fase Akut).
Pertahanan humoral tersusun oleh komplemen, interferon dan CRP (C Reaktif
Protein/protein fase akut), kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin). Langkah-langkah
pertahanan tubuh humoral nonspesifik melalui beberapa proses, sebagai berikut opsonisasi,
chemotaxis, sel Lisis, dan aglutinasi.
Pertahanan biokimia merupakan barier yang dilakukan oleh tubuh melawan patogen
dengan melibatkan zat kimia dalam tubuh. Misalnya, sekresi oleh kelenjar, air liur, air mata
dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan mukosa dapat melenyapkan
banyak bibit penyakit yang potensial.
Pertahanan seluler membahas mengenai fagositosis yang berfungsi untuk
mempertahankan dan melindungi tubuh manusia. Sel-sel yang menyokong leukosit dari
sistem kekebalan tubuh yaitu, sel-sel Fagosit (Monosit & makrofag).
Sel mast ada dalam selaput lendir dan jaringan ikat, berperan penting dalam proses
penyembuhan luka dan pertahanan terhadap patogen melalui respons inflamasi. Inflamasi
merupakan respon yang terjadi untuk melindungi tubuh dari pemicu kerusakan sel, seperti
mikroba atau toksin, dan konsekuensi dari kerusakan sel ini , seperti nekrosis sel atau
jaringan. Tanda inflamasi atau pertahanan oleh tubuh, yaitu dolor (nyeri), rubor (kemerahan),
kalor (panas) dan tumor (bengkak). Proses terjadinya inflamasi yaitu, signalling, rolling,
emigrasi, kemotaksis, fagositosi, penglepasan mediator inflamasi, dan pemulihan. Inflamasi
bertujuan untuk merusak zat atau objek asing yang dianggap merugikan, baik itu sel yang
rusak, bakteri, atau virus, sangat dibutuhkan tubuh untuk menghilangkan zat atau objek asing
ini penting untuk memulai proses penyembuhan.
Sistem Imun Spesifik
Respons imun spesifik muncul untuk menyerang jenis patogen tertentu yang menyerang
tubuh. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun
spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun. Bila sel sistem imun ini
berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan
dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan olehnya. Oleh sebab sistem ini hanya dapat
menghancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistm ini disebut spesifik
(Darwin, 2010). Sebagai contoh campak atau cacar air, penyakit ini biasanya hanya
menjangkiti manusia sekali dalam seumur hidupnya. Saat kita kecil terkena cacar air, setelah
dewasa meskipun kita terkena virus cacar air kita tidak sakit sebab tubuh kita sudah pernah
terpapar virus cacar air, sistem pertahanan tubuh kita sudah kenal dengan virus ini
sehingga adanya pertahanan tubuh untuk melemahkannya.
Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang
berbahaya, namun umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi, komplemen, fagosit
dan antara sel T makrofag. Sistem imun Spesifik diperlukan untuk melawan antigen dari
imunitas nonspesifik. Antigen merupakan substansi berupa protein dan polisakarida yang
mampu merangsang munculnya sistem kekebalan tubuh (antibodi). Mikroba yang sering
menginfeksi tubuh juga mempunyai antigen. Selain itu, antigen ini juga dapat berasal dari sel
asing atau sel kanker
Tubuh kita seringkali dapat membentuk sistem imun (kekebalan) dengan sendirinya.
Setelah mempunyai kekebalan, tubuh akan kebal terhadap penyakit ini walaupun tubuh
telah terinfeksi beberapa kali. Hal ini sebab tubuh telah membentuk kekebalan primer.
Kekebalan primer diperoleh dari B limfosit dan T limfosit. Sistem imun spesifik ini dibedakan
menjadi 2 yaitu:
A. SISTEM IMUN SPESIFIK HUMORAL
Di dalam imunitas humoral yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu
limfosit B atau sel B, yang berasal dari sistem sel. Fungsi utama limfosit B yaitu
mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. Limfosit
B diproses pada sumsum tulang yaitu sel batang yang sifatnya pluripotensi (pluripotent stem
cells) dan dimatangkan di sumsum tulang. Limfosit B menyerang antigen yang ada di cairan
antar sel. Limfosit B berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi 3 jenis sel yaitu : limfosit B
plasma yang memproduksi antibodi, limfosit B yang melakukan pembelah sehingga
menghasilkan limfosit dalam jumlah banyak secara cepat, dan limfosit B yang mempunyai
fungsi memori untuk mengingat antigen yang pernah masuk ke tubuh.
Setelah pembentukan dan pematangan di dalam sumsum tulang sel-sel B pindah ke
sistem limfatik untuk bersirkulasi ke seluruh tubuh. Dalam sistem limfatik, sel B bertemu
dengan antigen, yang memulai proses pematangan untuk sel B. Sel B masing-masing memiliki
satu dari jutaan reseptor spesifik antigen permukaan yang berbeda yang melekat pada DNA
organisme. Misalnya pada sel B naif mengekspresikan antibodi pada permukaan selnya, yang
juga bisa disebut antibodi terikat-membran
saat sel B bertemu dengan antigen yang cocok atau cocok dengan antibodi yang
terikat membran, ia dengan cepat akan membelah untuk menjadi sel B memori atau sel B
efektor, yang juga disebut sel plasma. Sehingga antibodi dapat berikatan dengan antigen
secara langsung.
Pada proses pertahanan imun antigen harus secara efektif mengikat dengan antibodi
terikat sel B yang naif untuk memicu diferensiasi, atau proses menjadi salah satu bentuk baru
dari sel B
Sel-sel memori B akan mengekspresikan antibodi, yang mengikat membran sama
dengan sel B asli, atau lebih dikenal sebagai sel B induk. Sel B plasma menghasilkan antibodi
yang sama dengan sel B induk, namun mereka tidak bisa berikatan dengan membran.
Sebaliknya, sel-sel B plasma dapat mengeluarkan antibodi. Dimana antibodi yang disekresikan
bekerja untuk mengidentifikasi patogen bebas yang beredar di seluruh tubuh. saat sel B
membelah dan berdiferensiasi, baik sel plasma maupun sel B memori yang dibuat membentuk
reseptor khusus.
Sel B juga mengekspresikan reseptor khusus, yang seringkali disebut sebagai reseptor
sel B (BCR). Reseptor sel B membantu dengan cara pengikatan antigen, serta internalisasi dan
pemrosesan antigen. Reseptor sel B juga memainkan peran penting dalam memberi sinyal
jalur. Setelah antigen diinternalisasi dan diproses, sel B dapat memulai jalur pensinyalan,
seperti pelepasan sitokin yang bertujuab untuk berkomunikasi dengan sel-sel lain dari sistem
kekebalan tubuh (Gordon & Jon, 2012).
Sel B yang ada pada tubuh bila dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi dan
berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepaskan
akan ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini yaitu mampu melakukan
pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan bakteri serta menetralisir toksinnya
Sel Th 2 juga mempunyai kontribusi didalam sistem imunitas ini. Th 2 akan memproduksi
Il-4, Il-5, Il-6 yang merangsang sel B untuk menghasilkan immunoglobulin (Ig), menekan kerja
monosit/ makrofag dan respon imun seluler pembentukan Immunoglobulin (Ig) oleh sel
plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat dari kontak langsung dengan antigen. Antibodi
yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis dengan
dirinya. Bila serum protein ini dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka IgG
ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin alfa dan beta
Antibodi yang ditemukan dalam tubuh manusia ada lima jenis yaitu IgG yaitu IgG,
IgA, IgM, IgD, IgE. Jenis antibodi ini yaitu :
1. IgG yang merupakan komponen utama didalam Ig serum dengan kadar di dalam darah
yang terbesar sebanyak 75 % dari semua immunoglobulin. Ig G mampu melapisi mikroba
yang masuk dalam tubuh, mempercepat penyerapannya oleh sel-sel lain dalam sistem
kekebalan tubuh. IgG berkerja secara efektif dalam menembus plasenta dan masuk ke
fetus dan berperan dalam imunitas bayi sampai dengan bayi berusia berusia 6-9 bulan.
IgG dan komplemen bekerja saling membantu di dalam opsonin pada pemusnahan
antigen. Selain itu IgG juga berperan di dalam imunitas sellular.
2. IgA ditemukan dalam jumlah yang sedikit didalam darah. IgA di dalam serum berperan
dalam proses aglutinasi kuman, dengan cara mengganggu motilitasnya
hingga memudahkan fagositosis oleh sel PMN. Ig A banyak ditemukan dalam cairan
tubuh misalnya saja pada air mata, air liur, sekresi pernapasan, saluran imunoglobulin
dan saluran pencernaan yang tugasnya menjaga pintu masuknya patogen kedalam
tubuh.
3. IgM merupakan antibodi dalam respon imun primer berperan terhadap kebanyakan
antigen yang efektif dalam membunuh bakteri. IgM berperan dalam sistem imun dengan
cara mencegah gerakan mikroorganisme patogen, sehingga memudahkan fagositosis
dan merupakan aglutinator poten protein.
4. IgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah didalam sirkulasi. Terhitung banyaknya
IgD sebesar 1% dari total immunoglobulin dan banyak ditemukan. Peran membran sel B
bersama IgM yaitu berfungsi sebagai reseptor pada aktivasi sel B.
5. IgE mempunyai fungsi utama untuk melindungi dari infeksi parasit. Infeksi parasit yang
dimaksud yaitu penjahat yang bertanggung jawab atas gejala alergi. Ig E berupa serum
dengan kadar yang rendah di tubuh dan akan meningkat jika adanya paparan
patogen dalam tubuh seperti penyakit alergi, infeksi cacing.
Respon imun primer terjadi pada paparan pertama pada antigen. Karakteristiknya yaitu
dibutuhkan sel B spesifik dalam melawan antigen untuk berproliferasi dan berdifferensiasi
menjadi plasma sel. Jika seseorang terpapar untuk kedua kalinya dengan antigen yang sama
respon imun sekunder terjadi. Respon ini lebih cepat dan lebih efektif sebab sistem imun
sudah disiapkan melawan antigen ini sehingga respon cepat terjasi untuk mencegah
terjasinya gangguan imun dalam tubuh
Walaupun antibodi tidak dapat menghancurkan antigen secara langsung namun dapat
menginaktifkan dan menandainya untuk dihancurkan. Yang terjadi di dalam interaksi antigen-
antibodi yaitu suatu formasi kompleks antigen-antibodi.
B. SISTEM IMUN SPESIFIK SELULAR
Sistem imunitas seluler terbentuk di sumsum tulang, sel-sel progenitor T bermigrasi ke
timus (maka namanya disebut dengan "sel T") menjadi matang dan menjadi sel-sel T. Di dalam
imunitas seluler yang berperan yaitu limfosit T atau sel T dengan fungsi menyerang antigen
yang berada di dalam sel. Fungsi utama sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan
terhadap paparan patogen seperti bakteri, virus, jamur dan keganasan di intra seluler. Yang
berperan disini yaitu limfosit T atau sel T
Sel T atau limfosit T yaitu kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama
pada kekebalan seluler. Sel T memiliki reseptor pada seluruh permukaannya dengan cara
mengikat antigen virus. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan
berevolusi sepanjang waktu demi mempertahankan sistem kekebalan pada tubuh setiap kali
tubuh terpapar patogen
Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari sumsum
tulang menuju kelenjar timus, tempat sel punca ini mengalami rekombinasi VDJ pada
rantai-beta reseptornya. "T" pada kata sel T yaitu singkatan dari kata timus yang merupakan
organ penting tempat sel T tumbuh dan menjadi matang
Sel T ada dalam jumlah yang banyak didalam jaringan submukosa jalan nafas dan
dinding alveoli. Sedangkan jumlah sel T yang paling sedikit didalam lumen bronkus. Sel T akan
melakukan migrasi ke jaringan lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa limfosit dapat melakukan
resirkulasi dari darah ke jaringan limpoid dan kembali ke darah. Sel B ada dalam jumlah
yang sedikit di dalam lamina propria dari saluran nafas. Konsisten dengan observasi, sejumlah
kecil IgA ada di dalam sekresi jalan nafas seperti pada sputum. IgG juga didapat dalam
lumen bronkus. Pada keadaan penyakit atopik sel B juga memproduksi IgE yang didapati
disekresi saluran nafas. Fungsi respon imun seluler yaitu, Sel CD8 mematikan secara langsung
pada sel sasaran, Sel T memicu reaksi hipersensitifitas yang lambat, Sel T memiliki
kemampuan menghasilkan sel pengingat, dan Sel T sebagai pengendali CD4 dan CD8
memfasilitasi dan menekan respon imun seluler dan humoral.
Sel T bermacam-macam jenisnya, berdasarkan fungsinya secara umum ada tiga
golongan utama dari sel T. Sel T yang mempunyai fungsi sebagai sel efektor dari killing sel
yaitu sel sitotoksik (Tc), dua golongan lagi termasuk di dalam sel regulasi yaitu sel T helper
(Th) dikenal juga sebagai CD4 dan sel T suppressor (Ts) dikenal juga sebagai CD8. Th
mempunyai fungsi yang berbeda berdasarkan kemampuan sitokin yang diproduksi, terbagi
menjadi Th1 ( yang mempunyai fungsi kontribusi dalam imunitas humoral) dan Th2.
Tidak seperti antibodi, yang dapat berikatan langsung dengan antigen, reseptor sel T
hanya dapat mengenali antigen yang terikat pada molekul reseptor tertentu, yang disebut
Major Histocompatibility Complex kelas 1 (MHCI) dan kelas 2 (MHCII). Molekul MHC ini yaitu
reseptor permukaan yang terikat membran pada sel penyaji antigen, seperti sel dendritik dan
makrofag. CD4 dan CD8 berperan dalam pengenalan dan aktivasi sel T dengan cara kerja
mengikat MHCI atau MHCII
Reseptor sel T harus menjalani proses yang disebut pengaturan ulang, sehingga
memicu rekombinasi gen yang hampir tak terbatas dalam proses mengekspresikan
reseptor sel T. Proses penataan ulang memungkinkan banyak keanekaragaman yang terjasi
saat proses mengikat. Keragaman ini berpotensi memicu seranganyang tidak disengaja
terhadap sel dan molekul diri sebab beberapa konfigurasi penataan ulang dapat secara tidak
sengaja meniru molekul dan protein itu sendiri. Sel T yang matang harus dapat mengenali
hanya antigen asing yang dikombinasikan dengan molekul MHC sendiri untuk menghasilkan
respons pertahanan imun yang tepat
Untuk memastikan sel T akan bekerja dengan baik setelah mereka matang dan telah siap
untuk dilepaskan dari timus, mereka menjalani dua proses seleksi yaitu dengan seleksi positif
untuk memastikan pembatasan MHC dengan menguji kemampuan MHCI dan MHCII dalam
membedakan antara protein self dan nonself. Untuk melewati proses seleksi positif, sel harus
mampu mengikat hanya molekul self-MHC. Jika sel-sel ini mengikat molekul nonself dan bukan
molekul self-MHC, mereka gagal dalam proses seleksi positif dan dihilangkan dengan
apoptosis.
Sedangkan pasa tes seleksi negatif bertujuan untuk toleransi diri. Seleksi negatif menguji
kemampuan pengikatan CD4 dan CD8 secara khusus. Contoh ideal toleransi diri yaitu saat
sel T hanya akan mengikat molekul self-MHC yang menghadirkan antigen asing. Jika sel T
mampu mengikat, melalui CD4 atau CD8, molekul self-MHC yang tidak menghadirkan antigen,
atau molekul self-MHC yang menghadirkan antigen sendiri itu akan gagal dalam seleksi negatif
dan dihilangkan dengan cara apoptosis.
Proses seleksi tes positif dan negatif dilakukan untuk melindungi sel dan jaringan pada
diri sendiri terhadap respons imun sendiri. Tanpa proses tahapan seleksi ini, maka penyakit
autoimun akan jauh lebih umum terjadi pada setiap orang
1. Peran Sel T Helper (CD4)
Sel T helper atau yang lebih umum disebut sebagai Th mempunyai berperan dalam
menolong sel B dalam proses differensiasi dan memproduksi antibodi. Sel Th1 bertugas untuk
memproduksi mediator interleukin-2 (IL-2) dan interferon gamma (IFN-ý) yang memegang
peranan penting proteksi dengan meningkatkan kemampuan makrofag untuk fagositosis dan
mencerna kuman. Sel Th berinteraksi secara langsung dengan sel B yang banyak mengandung
fragmen antigen pada permukaannya sehingga saat berikatan dengan reseptor MHC II akan
memacunya untuk cepat membelah dan memberi sinyal untuk antibodi memulai fungsinya.
saat sel Th berikatan dengan sel B, maka sel T IL 2 dan limpokin lainnya akan dilepaskan
oleh sel Th, sehingga tidak hanya memobilisasi sel imun dan makrofag namun juga menarik
sel darah putih seperti neutropil untuk memperkuat pertahanan non spesifik. Fungsi sel CD4
dalam proses perlindundungan tubuh yaitu:
a. Pengendali, sebagai sistem pengendali maka akan mengaitkan sistem monosit-makrofag
ke sistem limfoid berinteraksi dengan sel penyaji antigen untuk mengendalikan Ig
b. Menghasilkan sitokin yang memungkin tumbuhnya sel CD4 dan CD8
c. Berkembang menjadi sel T memory
2. Peran Sel T Sitotoksik (Tc)
Sel T sitotoksik juga dikenal sebagai sel T killer (pemusnah), merupakan satu-satunya sel
T yang dapat langsung menyerang dan membunuh sel yang di rasa mengancam lainnya. Target
utamanya yaitu sel yang terinfeksi virus, dan menyerang jaringan lain yang terinfeksi oleh
bakteri intraseluler, parasit, sel kanker, dan sel asing lainnya yang memasuki tubuh melalui
transfusi darah maupun transplantasi organ. Terlibat dalam penghancuran langsung sel-sel
yang telah menjadi kanker atau terinfeksi virus. (Pengajar Fakultas Kedokteran UI, 2010).
Sel T sitotoksik mengandung butiran (kantung yang berisi enzim pencernaan atau zat
kimia lainnya) sehingga mereka memanfaatkan untuk menjadikan sel target untuk pecah
dalam proses yang disebut apoptosis
3. Peran Sel T Suppressor (Ts) (CD8)
Seperti sel Th, sel Ts juga mampu untuk melakukan sel regulasi. Mekanisme aksinya
dengan melakukan inhibisi sebab ia melepaskan limpokin yang dapat menekan aktivitas dari
sel T dan sel B. Sel Ts akan menghentikan respon imun setelah sukses menginaktifkan dan
menghancurkan antigen. Hal ini akan sangat membantu dalam mencegah tidak terkontrolnya
dan tidak dibutuhkannnya lagi kerja dari sistem imun
Ringkasan
Respons imun spesifik muncul untuk menyerang jenis patogen tertentu, benda asing
yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga
terjadi sensitasi sel-sel sistem imun sehingga jika sel sistem imun ini berpapasan
kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih
cepat kemudian dihancurkan. Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk
menghancurkan benda asing yang berbahaya, namun umumnya terjalin kerjasama yang baik
antara antibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T makrofag. Sistem imun Spesifik
diperlukan untuk melawan antigen dari imunitas nonspesifik. Kekebalan primer diperoleh dari
B limfosit dan T limfosit. Sistem imun ini dibagi menjadi 2 yaitu sistem imunspesifik humoral
dan seluler.
Sistem imun spesifik humoral yang berperan yaitu limfosit B atau sel B yang berasal
dari sistem sel. Fungsi utama limfosit B yaitu mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri,
virus dan melakukan netralisasi toksin, diproses pada sumsum tulang yaitu sel batang yang
sifatnya pluripotensi (pluripotent stem cells) dan dimatangkan di sumsum tulang. Limfosit B
menyerang antigen yang ada di cairan antar sel. ada 3 jenis sel limfosit B yaitu : limfosit
B plasma memproduksi antibodi, limfosit B melakukan pembelah sehingga menghasilkan
limfosit dalam jumlah banyak secara cepat, dan limfosit B mempunyai fungsi memori
mengingat antigen. Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru
lainnya yang sejenis. Bila serum protein ini dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka
IgG ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin alfa dan beta, ada lima jenis IgG yaitu IgG, IgA,
IgM, IgD, IgE.
Sistem imun spesifik selular terbentuk di sumsum tulang, sel-sel progenitor T bermigrasi
ke timus fungsi menyerang antigen yang berada di dalam sel, untuk pertahanan terhadap
bakteri, virus, jamur dan keganasan di intra seluler. Ada tiga golongan utama dari sel T yaitu,
sel efektor dari killing sel sel sitotoksik (Tc), dua golongan lagi termasuk di dalam sel regulasi
yaitu sel T helper (Th) dikenal juga sebagai CD4 dan sel T suppressor (Ts) dikenal juga sebagai
CD8.
Peran sel T helper (CD4) berperan menolong sel B dalam differensiasi dan memproduksi
antibodi. Fungsi sel CD4 dalam proses perlindundungan tubuh yaitu, pengendali, mengaitkan
sistem monosit-makrofag ke sistem limfoid, menghasilkan sitokin dan berkembang menjadi
sel T memory.
Peran sel T sitotoksik (Tc) atau sel T killer (pemusnah) yaitu satu-satunya sel T yang
dapat langsung menyerang dan membunuh sel lainnya. Peran sel T suppressor (Ts) (CD8) atau
sel regulasi, dengan inhibisi sebab ia melepaskan limpokin yang dapat menekan aktivitas dari
sel T dan sel B. Sel Ts akan menghentikan respon imun setelah sukses menginaktifkan dan
menghancurkan antigen.
Glosarium
Adaptif : Mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan.
Adhesi : Keadaan melekat pada benda lain; gaya atau kakas tarik-
menarik antarmolekul yang tidak sejenis.
Alergi : Kondisi saat sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap
sesuatu yang biasanya tidak berbahaya. Pemicu alergi yang
sebut alergen, dapat mencakup serbuk sari, jamur, bulu
binatang, makanan tertentu, dan hal-hal yang mengiritasi.
Anafilatoksin : Fragmen protein yang terbentuk saat sistem komplemen
teraktivasi dan terdiri dari C3a, C4a, C5a. Mampu memicu
degranulasi pada sel endotelial, mastosit dan fagosit, yang lebih
lanjut memicu respon peradangan.
Antibodi : Zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri
virus atau untuk melawan toksin yang dihasilkan oleh bakteri.
Apoptosis : Mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian
sel terprogram. Apoptosis digunakan oleh organisme multisel
untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh.
Asam : Senyawa kimia yang dapat larut di dalam air, membuat pH air
menjadi lebih kecil dari 7, zat yang memberikan proton atau ion
H+ kepada zat lain.
Bakteri : Bibit penyakit, makhluk hidup terkecil bersel tunggal, ada di
mana-mana, dapat berkembang biak dengan kecepatan luar
biasa dengan jalan membelah diri, ada yang berbahaya dan ada
yang tidak, dapat memicu peragian, pembusukan, dan
penyakit.
Barier : Penghalang; pencegah, pertahanan
Denaturasi : Sebuah proses di mana protein atau asam nukleat kehilangan
struktur tersier dan struktur sekunder dengan penerapan
beberapa tekanan eksternal atau senyawa, seperti asam kuat
atau basa, garam anorganik terkonsentrasi, sebuah misalnya
pelarut organik (alkohol atau kloroform), atau panas.
Diferensiasi : Proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan;
perkembangan tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit,
dari homogen ke heterogen
Eksternal : Menyangkut bagian luar (tubuh, diri, mobil, dan sebagainya).
Elastin : Serat protein dengan keelastikan dan daya memanjang yang
tinggi yang ditemukan di dalam jaringan penghubung vertebrata.
Endotel : Lapisan sel gepeng yang melapisi permukaan dalam pembuluh
darah, pembuluh limfa, dan rongga tubuh.
Epidermis : Lapisan luar kulit untuk pelindung, tidak peka, dan tidak
berpembuluh darah; kulit ari.
Epitel : Istilah medis untuk selaput lendir.
Epitop : Area tertentu pada molekul antigenik, yang mengikat antibodi
atau pencerap sel B maupun sel T.
Fogosit : Sel-sel yang berfungsi mematikan mikroorganisme asing di
sekitarnya dengan cara meluluhkannya ke dalam plasma selnya,
misalnya sel darah putih memakan kuman.
fosfolipase : Enzim yang memecah fosfolipid menjadi gliserol, asam lemak,
asam fosfat dan kolin.
Granulosit : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma.
Hiperseneitivitas : Reaksi berlebihan, tidak diinginkan sebab terlalu senisitifnya
respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan
terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem imun.
Imun : Kekebalan terhadap suatu penyakit.
Inang : Organisme tempat parasit tumbuh dan makan.
Infeksi : Terkena hama; kemasukan bibit penyakit; ketularan penyakit;
peradangan pengembangan penyakit (parasit).
Inflamasi : Reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang
ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ
tubuh.
Inhibisi : Hambatan bagi otot-otot dalam bekerja.
Kemokin : Keluarga sitokin kecil, atau protein pemberi sinyal yang
disekresikan oleh sel.
Keratinosit : Sel-sel yang tersusun rapi untuk membentuk lapisan epidermis
kulit atau disebut sebagai sel utama epidermis. Sel ini memiliki
fungi utama untuk menghasilka keratin.
Kolagen : Protein perekat yang ada dalam tulang dan tulang rawan.
Leukosit : Sel darah tanpa warna (berfungsi untuk membinasakan bakteri
yang memasuki tubuh); sel darah putih.
Limfosit : Leukosit yang berinti satu, tidak bersegmen, pada umumnya
tidak bergranula, berperan pada imunitas humoral (sel B) dan
imunitas sel (sel T)
Lisozim : Protein yang ditemukan dalam air mata, air liur, dan cairan
lainnya. Lisozim ini dapat menurunkan dinding sel beberapa jenis
bakteri dan bertindak sebagai antibiotik alami.
Makrofag : Jenis leukosit yang membersihkan tubuh dari sampah yang tidak
diinginkan seperti bakteri dan sel-sel mati.
Mikroorganisme : Mahluk hidup yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan
mikroskop.
Mikroorganisme/mikroba : Organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk
mengamatinya diperlukan alat bantuan.
Molekul : Bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom
yang terikat secara kimia. Bagian terkecil senyawa yang masih
sanggup memperlihatkan sifat-sifat dari senyawa itu.
Monosit : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma.
Monosit : Sel darah putih yang berukuran besar, inti selnya berbentuk
bulat telur, ada pada darah manusia dan hewan vertebrata.
Mukosa : Lapisan jaringan yang membatasi rongga saluran cerna dan
saluran napas; selaput lendir.
Mukus : Cairan lengket dan tebal yang disekresikan oleh membran dan
kelenjar mukosa.
Multiselular : Istilah biologi untuk organisme yang mempunyai banyak sel,
kontras dengan organisme uniselular yang hanya mempunyai
satu sel.
netralisasi : Reaksi dimana asam dan basa bereaksi dalam larutan berair
untuk menghasilkan garam dan air.
Opsin : Protein transmembran yang sensitif terhadap cahaya, yang
terikat pada aldehida vitamin A. Secara umum ada dua jenis
protein yang disebut opsin.
Opsonin : Molekul apa saja yang membantu meningkatkan sel fagosit
dalam kegiatan fagositosis
Parasit : Benalu; pasilan; organisme yang hidup dan mengisap makanan
dari organisme lain yang ditempelinya.
Patogen : Parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya.
Penyakit : Suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
memicu ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran
terhadap orang yang dipengaruhinya.
Plasma : Barang cair tidak berwarna yang menjadi bagian darah, dalam
keadaan normal volumenya kira-kira 5% dari berat badan.
Pluripotensi : Sel-sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel dalam
tubuh, namun tidak dapat membentuk suatu organisme.
Polisakarida : Polimer yang tersusun dari ratusan hingga ribuan satuan
monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik.
Prematur : Belum (waktunya) masak (matang); sebelum waktunya; belum
cukup bulan.
Proliferasi : Fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan.
Protein : Senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer asam amino yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida.
Protozoa : Jasad renik hewani yang terdiri atas satu sel, seluruh fungsi
protozoa dilakukan oleh sel satu itu.
Transplantasi : Pemindahan jaringan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain
(seperti menutup luka yang tidak berkulit dengan jaringa








