Imunologi 13



 elihat 

bahan pembelajaran. 


Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan suatu sistem perlindungan secara 

biologis yang ada dalam tubuh manusia untuk menangkal radikal bebas yang menyerang 

dengan cara mengusir organisme pemicu  penyakit (patogen), sehingga seorang individu 

akan terhindar dari suatu penyakit. jika  sistem ini bekerja dengan baik, maka seseorang 

akan terhindar dari serangan virus ataupun bakteri, sebaliknya jika sistem ini tidak bekerja 

dengan baik atau sedang dalam kondisi yang lemah, maka kekebalan tubuh individu ini  

akan mudah terserang penyakit. Hal ini dapat kita ibaratkan seperti saat  pergantian cuaca 

yang ekstream dan teman kita banyak yang terkena flu dengan tidak menutup mulut dan 

hidung saat  batuk. Bila sistem imun kita berkerja dengan baik maka kita tidak akan tertular 

flu, namun bila sistem imun sedang lemah maka kita akan terkena flu. 

 

 

Sistem imun pada seorang individu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu sistem imun 

spesifik dan sistem imun non spesifik. Mekanisme perlindungan tubuh yang tidak spesifik 

yatau lebih dikenal sebagai sistem imun non spesifik berkerja dengan cara mengusir semua 

mikroorganisme secara merata menghalangi masuknya organisme dan menghalaginya untuk 

mengberkembang biak di dalam tubuh, selain itu juga membantu menghilangkan sel-sel 

abnormal tubuh yang nantinya akan berkembang menjadi kanker. Dapat diambil kesimpulan 

bahwa sistem imun non spesifik akan menyerang semua jenis patogen. Dalam sistem imun 

yang dimaksud patogen berupa virus, bakteri, jamur, protozoa, dan cacing yang menyerang 

kekebalan dalam tubuh tanpa terkecuali 

 

Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier atau mekanisme perlindungan 

yang akan dijelaskan dalam bab ini, sebagai berikut: 

 

A. PERTAHANAN FISIK/MEKANIK 

 

Sistem pertahanan fisik atau mekanik merupakan barier pertahanan awal yang masih 

terlihat oleh mata, yang terdiri dari kulit, selaput lendir, silia pada saluran pernapasan yang 

termasuk dalam sistem imun non spesifik yang mampu melindungi tubuh yang sulit untuk 

ditembus oleh sebagian besar zat yang dapat menginfeksi tubuh. Kulit merupakan barier 

pertahanan yang tidak bisa di tembus sebab  ada  keratinosit dan lapisan epidermis kulit 

sehat dan epitel mukosa yang utuh sehingga tidak dapat ditembus oleh kebanyakan mikroba 

yang akan menginfeksi tubuh (Baratawidjaja, 2012). 

Barier pertahanan tubuh terbesar dan mudah dilihat oleh kita yaitu  kulit. Secara 

normal, kulit tidak akan mampu untuk ditembus oleh patogen kecuali jika ada kerusakan 

jaringan (misalnya terjadi luka), maka bakteri atau virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui 

jalan ini. Jika kulit dapat ditembus oleh patogen, maka pada bagian ini  akan terjadi 

infeksi penyakit ditandai dengan adanya peradangan 

 

Sistem barier pertahanan non spesifik lainnya yaitu membran mukosa yang tersusun 

oleh kelenjar yang menghasilkan sekresi berupa lendir. Membran mukosa melapisi beberapa 

organ dalam tubuh seperti paru-paru, saluran pencernaan. Membran mukosa tidak hanya 

melapisi organ dalam tubuh namun juga melapisi beberapa bagian tubuh yang terpapar 


 

lingkungan luar seperti telinga, kelopak mata, dan lubang hidung. Air mata juga termasuk 

kedalam pertahanan nonspesifik eksternal sebab  air mata membuang segala macam partikel 

asing yang masuk ke mata, contohnya saja saat  kita terlalu lama di depan komputer maka 

mata kita akan kering terjadi iritasi maka otomatis mata akan mengeluarkan air mata untuk 

melindungi mata 

 

Selain itu reflek batuk atau bersin yang merupakan reflek fisiologis terjadi bila ada benda 

asing masuk kedalam saluran pernafasan, reflek ini merupakan salah satu pertahanan tubuh 

non spesifik yang berfungsi mencegah debu masuk ke dalam paru-paru sehingga mencegah 

terjadinya infeksi pada saluran nafas atau ataupun saluran nafas bawah

 

B. PERTAHANAN HUMORAL 

 

Mekanisme imun yang terjadi jika  barier tubuh dapat di tembus oleh suatu 

mikroorganisme, maka hal ini akan mengaktifkan sistem imun nonspesifik lainnya untuk 

bekerja, antara lain yaitu  inflamasi akut. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik humoral yang 

dikenal dengan sistem komplemen bertindak sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh 

bawaan, dan dapat bekerja dengan sistem kekebalan adaptif jika diperlukan 

Pertahanan Humoral Sistem imun nonspesifik ini memakai  berbagai molekul larut 

tertentu yang diproduksi di tempat infeksi dan berfungsi mengatasi masalah lokal hanya pada 

bagian ini , misalnya peptida antimikroba (defensin, katelisidin, dan IFN dengan efek 

antiviral). Namun juga ada faktor larut lainnya yang diproduksi di tempat yang lebih jauh dan 

dikerahkan ke jaringan sasaran melalui sirkulasi seperti komplemen dan PFA (Protein Fase 

Akut). Pertahanan humoral tersusun oleh komplemen, interferon dan CRP (C Reaktif 

 

 

Protein/protein fase akut), kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin) yang dijabarkan sebagai 

berikut: 

1. Komplemen  

Komplemen berfungsi mengaktifkan fagosit dan membantu destruktif bakteri dan 

parasit sebab  komplemen dapat menghancurkan sel membran bakteri. Komplemen 

merupakan faktor kemotaktik yang mengarahkan makrofag ke tempat bakteri, komponen 

yang mengendap pada permukaan bakteri sehingga memudahkan makrofag untuk mengenal 

dan memfagositosis (opsonisasi).  

2. Interferon 

Interferon yaitu  suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia yang 

mengandung nukleus dan dilepaskan sebagai respons terhadap infeksi virus. Interveron 

mempunyai sifat anti virus dengan cara menginduksi sel-sel yang berada disekitar sel yang 

terinfeksi virus sehingga menjadi resisten terhadap virus. Disamping itu, interveron juga dapat 

mengaktifkan Natural Killer cell (sel NK). Sel yang diinfeksi virus atau menjadi ganas akan 

menunjukkan perubahan pada permukaannya. Perubahan ini  akan dikenal oleh sel NK 

yang kemudian akan dibunuhnya, dengan demikian penyebaran virus dapat dicegah. 

3. Reactive Protein (CRP)  

Peranan CRP yaitu  sebagai opsonin dan mengaktifkan komplemen. CRP dibentuk oleh 

badan pada saat infeksi. CRP merupakan protein yang kadarnya cepat meningkat setelah 

infeksi atau inflamasi akut. CRP berperanan pada imunitas non spesifik, sebab  dengan 

bantuan Ca++ dapat mengikat berbagai molekul yang ada  pada banyak bakteri dan 

jamur. 

4. Kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin) 

Lektin mannose binding (MBL), juga disebut protein mannose binding protein atau 

mannan binding (MBP), merupakan lektin yang berperan dalam kekebalan bawaan. MBL milik 

kelas collectins dalam tipe C lektin superfamili, yang fungsinya megenali pola pada baris 

pertama pertahanan dalam host pra-imun. MBL mengakui pola karbohidrat, ditemukan pada 

permukaan sejumlah besar patogen mikro- organisme, termasuk bakteri, virus, protozoa dan 

jamur. Pengikatan MBL ke mikro-organisme hasil di aktivasi jalur lektin dari sistem 

komplemen. Fungsi lain MBL yaitu  saling mengikat pada permukaan patogen, yang 

kemudian mengikat reseptor komplemen yang ada  pada fagosit 

 

Sistem pertahanan non spesifik humoral tersusun dari berbagai protein yang, saat  

tidak aktif akan bersirkulasi dalam darah. saat  diaktifkan, protein ini bergabung untuk 

memulai menyusun pertahanan komplemen 

 Langkah-langkah 

pertahanan tubuh humoral nonspesifik melalui beberapa proses, sebagai berikut: 

 

 

1. Opsonisasi 

opsonisasi sel-sel bakteri terjadi jika  seluruh sistem komplemen teraktivasi maka 

akan meningkatkan permiabilitas pembuluh darah. Opsonisasi yaitu  proses di mana partikel 

asing yang berasal dari luar tubuh ditandai untuk dilakukan pemusnahan dengan cara 

fagositosis. Semua jalur dalam tubuh membutuhkan antigen untuk memberi sinyal bahwa ada 

ancaman yang terdeteksi. Opsonisasi menandai sel yang terinfeksi dan mengidentifikasi 

patogen yang bersirkulasi yang mengekspresikan antigen yang sama. 

2. Chemotaxis 

Chemotaxis yaitu  proses daya tarik dan pergerakan makrofag menuju ke sinyal kimia. 

Chemotaxis memakai  sitokin dan kemokin untuk menarik makrofag dan neutrofil ke 

lokasi infeksi, memastikan bahwa patogen di daerah itu akan dihancurkan. Dengan membawa 

sel-sel kekebalan ke suatu daerah dengan patogen yang diidentifikasi, maka akan 

memudahkan sistem imun mengenali patogen sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa 

ancaman akan dihancurkan dan infeksi akan diobati. 

3. Sel Lisis 

Setelah makrofag tertarik di lokasi inflamasi maka makrofag akan mengalami lisis. Lisis 

yaitu  pemecahan atau penghancuran membran sel. Protein dari sistem komplemen 

menusuk selaput sel asing, sehingga menghancurkan integritas patogen. Menghancurkan 

membran sel asing atau patogen, melemahkan kemampuan mereka untuk berkembang biak, 

dan membantu menghentikan penyebaran infeksi. 

4. Aglutinasi 

Patogen akan dihancurkan selanjutnya akan meningkatkan kerja dengan proses 

aglutinasi. Aglutinasi memakai  antibodi untuk mengelompokkan dan mengikat patogen 

bersama-sama, mirip seperti koboi yang mengumpulkan ternaknya. Dengan menyatukan 

patogen di area yang sama, sel-sel sistem kekebalan tubuh dapat meningkatkan serangan dan 

melemahkan infeksi. Sel-sel sistem kekebalan tubuh bawaan lainnya terus beredar di seluruh 

tubuh untuk melacak patogen lain yang belum terkumpul dan terikat untuk dihancurkan  

 

 

Sistem kekebalan bawaan bekerja untuk melawan patogen sebelum mereka dapat 

memulai infeksi aktif. Untuk beberapa kasus, respon imun bawaan tidak cukup, atau patogen 

mampu mengeksploitasi respon imun bawaan untuk jalan ke sel inang. Dalam situasi seperti 

itu, sistem kekebalan tubuh bawaan bekerja dengan sistem kekebalan adaptif untuk 

mengurangi keparahan infeksi, dan untuk melawan penyerang tambahan sementara sistem 

kekebalan adaptif sibuk menghancurkan infeksi awal 

 

C. PERTAHANAN BIOKIMIA  

 

Pertahanan biokimia merupakan barier pertahanan yang dilakukan oleh tubuh dalam 

melawan patogen dengan melibatkan zat kimia dalam tubuh. Misalnya, sekresi oleh kelenjar 

lemak dan kelenjar keringat pada kulit meningkatkan keasaman (pH) permukaan kulit, asam 

lemak yang dilepaskan oleh kulit mempunyai efek denaturasi terhadap protein membran sel 

yang mencegah banyaknya mikroorganisme berkoloni di kulit kita, sehingga tidak terjadi 

infeksi 

 

Air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan 

mukosa dapat melenyapkan banyak bibit penyakit yang potensial menyerang sistem imun 

tubuh. Pada lapisan mukosa tubuh mata dan saliva mengandung lisozim dan fosfolipase yang 

mampu melisiskan lapisan peptidoglikan dinding bakteri, sehingga bakteri yang masuk akan 

lemah. Selain itu, bakteri flora normal tubuh pada epitel dan mukosa dapat juga mencegah 

koloni bakteri patogen. 

Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu dalam usus 

halus membantu menciptakan lingkungan yang asam suhingga dapat mencegah infeksi oleh 

mikroba. Contohnya sistem pertahanan yang dilakukan lambung untuk mencegah 

perkembangan mikroorganisme yaitu dengan memproduksi asam lambung (HCl) untuk 

membunuh kuman-kuman yang masuk bersama makanan yang kita makan, gerakan 

peristaltik pada usus yang mendorong bibit penyakit yang ada di dalam usus sehingga segera 

dapat keluar bersama feses atau kotoran pada proses ekskresi. Tidak lupa keasaman pada 

vagina dan urin berfungsi untuk  menghambat pertumbuhan bibit penyakit tertentu. 


 

D. PERTAHANAN SELULER  

 

Pertahanan seluler merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh non spesifik yang 

mempunyai fungsi utama untuk melakukan fagositosis. Membahas mengenai fagositosis tidak 

lepas dari peran serta sel darah putih atau leukosit, yang berfungsi untuk mempertahankan 

dan melindungi tubuh manusia pada sistem peredaran darah 

Dalam pertahana seluler, ada  beberapa sel-sel yang menyokong leukosit dari 

sistem kekebalan tubuh bawaan diantaranya, yaitu: 

1. Sel-sel Fagosit (Monosit & makrofag) 

Fagositosis atau sel fagositosis berasal dari kata phagocyte yang mempunyai arti "sel 

makan", fagositosis menggambarkan peran yang dilakukan oleh fagosit dalam respon imun. 

Fagosit beredar di seluruh tubuh, mencari potensi ancaman seperti bakteri dan virus yang 

berada dalam tubuh untuk dimakan dan lalu dihancurkan. Fagosit dapat dianganggap sebagai 

penjaga keamanan yang sedang berpatroli di seluruh tubuh. 

Sel fagosit dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu fagosit mononuklear dan polimorfonuklear. 

Fagosit mononuklear contohnya yaitu  monosit yang berada di darah dan jika bermigrasi ke 

jaringan akan menjadi makrofag. Contoh dari fagosit polimorfonuklear yaitu  granulosit, yaitu 

netrofil, eusinofil, basofil dan cell mast (di jaringan). Supaya proses fagosit ini bisa terjadi, 

maka suatu mikroorgansime harus berjarak dekat dengan sel fagositnya 

 

fagositosis yaitu  mekanisme utama untuk menghilangkan patogen dan serpihan sel 

seperti bakteri, sel jaringan yang sudah mati, dan partikel mineral kecil. Proses fagositosis 

melalui beberapa langkah, sebagai berikut: 

a. Pengenalan (recognition), yaitu proses dimana sel-sel fagosit mengenali mendeteksi 

patogen berupa mikroorganisme/ partikel asing  yang tersebar di dalam tubuh. 

b. Pergerakan (chemotaxis), setelah suatu partikel mikroorganisme dikenali selanjutnya sel 

fagosit akan bergerak menuju partikel yang telah dikenali ini . Proses ini terjadi 

sebab  bakteri/mikroorganisme mengeluarkan semacam zat chemo-attract seperti 

kemokin yang dapat memikat sehingga mampu menarik sel hidup seperti fagosit untuk 

menghampirinya. 

c. Perlekatan (adhesion), setelah sel fagosit bergerak menuju partikel asing, partikel 

ini  akan melekat dengan reseptor pada membran sel fagosit. Proses ini akan 

dipemudah jika  mikroorganisme ini  berlekatan dengan mediator komplemen 

seperti opsonin (opsonisasi). 

d. Penelanan (ingestion), saat  partikel asing telah berikatan dengan reseptor di membran 

plasma sel fagosit, sesaat  membran sel fagosit ini  akan menyelubungi seluruh 

permukaan partikel asing dan menelannya hidup-hidup ke dalam sitoplasma. Sekali 

telan, partikel ini  akan masuk ke sitoplasma di dalam sebuah gelembung mirip 

vakuola yang disebut fagosom. 

e. Pencernaan (digestion) fagosom yang berisi partikel asing di dalam sitoplasma sel 

fagosit, dengan segera mengundang kedatangan lisosom. Lisosom yang berisi enzim-

enzim penghancur seperti acid hydrolase dan peroksidase, berfusi dengan fagosom 

membentuk fagolisosom. Enzim-enzim akan tumpah ke dalam fagosom dan mencerna 

seluruh permukaan partikel asing hingga hancur berkeping-keping. Sebagian epitop 

yang merupakan bagian dari partikel asing ini  akan berikatan dengan sebuah 

molekul kompleks yang bertugas mempresentasikan epitop ini  ke permukaan, 

molekul ini dikenal dengan MHC (major histocompatibility complex) untuk dikenali oleh 

sistem imunitas spesifik sehingga dimasa mendatang sistem imun akan langsung 

memusnahkan mikroorganisme yang sama.  

f. Pengeluaran (releasing) produk sisa partikel asing yang tidak dicerna akan dikeluarkan 

oleh sel fagosit 

 

Makrofag dalam dunia mikrobiologi biasa disingkat “Mφ” berasal dari bahasa Yunani 

yang berarti “pemakan sel yang besar”. Sel makrofag merupakan sel fagositik yang efisien 

dalam meninggalkan sistem peredaran darah dengan bergerak melintasi dinding pembuluh 

kapiler. Kemampuan untuk berkeliaran di luar sistem peredaran darah merupakan 

kemampuan yang sangat penting, sebab  memungkinkan makrofag untuk berburu patogen 

dengan batasan yang lebih sedikit, sehingga diharapkan tidak ada patogen yang menyerang 

tubuh. Makrofag juga dapat melepaskan sitokin untuk memberi sinyal dan merekrut sel lain 

ke daerah yang teridentifikasi adanya patogen. Makrofag tersusun atas leukosit fagositik yang 

besar, yang mempunyai kemampu an bergerak hingga keluar sistem vaskuler dengan 

menyebrang membran sel dari pembuluh kapiler dan memasuki area antara sel yang sedang 

diincar oleh patogen. Dalam jaringan, makrofag organ-spesifik yang terdiferensiasi dari sel 

fagositik yang ada dengan darahnya yang disebut monosit. Makrofag yaitu  fagosit yang 

paling efisien dengan kemampuan bisa mencerna sejumlah besar bakteri atau sel lainnya. 

Pengikatan molekul bakteri ke reseptor permukaan makrofag memicu proses penelanan dan 

penghancuran bakteri melalui "serangan respiratori", sehingga memicu  pelepasan 

bahan oksigen reaktif. Patogen juga menstimulasi makrofag untuk menghasilkan kemokin, 


 

akan memanggil sel fagosit lain di sekitar wilayah terinfeksi 

Makrofag merupakan hasil dari diferensiasi monosit yang berimigrasi kejaringan, 

makrofag ini akan terus hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen. Ada makrofak yang 

disebut sebagai Sel kupffer merupakan jenis dari makrofag yang berada dalam hati, histiosit 

dalam jaringan ikat, dll 


2. Basofil dan sel Mast 

Sel mast banyak ditemukan ada  dalam selaput lendir dan jaringan ikat. Sel must 

berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan pertahanan terhadap patogen melalui 

respons inflamasi. saat  sel mast diaktifkan, maka akan melepaskan sitokin dan butiran yang 

mengandung molekul kimia untuk membentuk suatu petahanan yang disebut kaskade 

inflamasi. Pada proses inflamasi akan melepaskan mediator kimia seperti histamin yang 

berfungsi melebarkan pembuluh darah, meningkatkan aliran darah dan sistem perdagangan 

sel ke area infeksi. Sitokin yang dilepaskan selama proses ini bertindak sebagai layanan kurir, 

dengan menyalurkan informasi memperingatkan sel-sel kekebalan yang lainnya, seperti 

neutrofil dan makrofag untuk membuat jalan mereka ke daerah infeksi, dengan tujuan 

meningkatkan kewaspadaan dari ancaman yang beredar. 

Neutrofil yaitu  sel fagosit yang juga diklasifikasikan sebagai granulosit sebab  

mengandung granula dalam sitoplasma mereka. Butiran yang ada pada neutrofil sangat 

beracun bagi bakteri dan jamur, dengan tujuan memicu  patogen berhenti berkembang 

biak atau mati saat kontak dengan neutrofil. Neutrofil terbentuk di sumsum tulang, pada 

orang dewasa yang sehat dapat menghasilkan sekitar 100 miliar neutrofil baru per hari. 

Neutrofil menjadi sel pertama yang akan tiba di lokasi infeksi sebab  ada begitu banyak sel 

yang beredar pada kurun waktu tertentu. 

 

 

Dalam sistem perlindungan imun non spesifik eosinofil berperan sebagai target 

granulosit parasit multiseluler. Eosinofil mengeluarkan sejumlah protein yang sangat beracun 

dan radikal bebas yang membunuh bakteri dan parasit. Penggunaan protein beracun dan 

radikal bebas juga memicu  kerusakan jaringan selama reaksi alergi, sehingga aktivasi 

dan pelepasan toksin oleh eosinofil sangat diatur untuk mencegah adanya kerusakan jaringan 

yang tidak perlu. Sementara eosinofil hanya membentuk 1-6% dari sel darah putih, mereka 

ditemukan di banyak lokasi, termasuk timus, saluran pencernaan bagian bawah, ovarium, 

uterus, limpa, dan kelenjar getah bening. 


Sebagai salah satu sistem pertahanan non spesifik seluler, basofil termasuk dalam 

dolongan granulosit yang berfungsi menyerang parasit multiseluler. Basofil akan melepaskan 

histamin, seperti sel mast pada daerah yang mengalami infeksi. Penglepasan histamin pada 

daerah infeksi membuat basofil dan sel mast sebagai pemegang kunci utama dalam 

pemasangan respons alergi. 

 

 

Sel dendrit memegang peran sebagai penyaji antigen yang terletak di jaringan, kelebihan 

lainnya sel dendrit dapat menghubungi lingkungan eksternal melalui kulit, lapisan mukosa 

bagian dalam hidung, paru-paru, perut, dan usus. sebab  sel-sel dendrit terletak di jaringan 

yang merupakan titik umum untuk infeksi awal, mereka dapat mengidentifikasi ancaman dan 


 

bertindak sebagai pembawa pesan untuk seluruh sistem kekebalan tubuh dengan presentasi 

antigen. Sel dendritik juga bertindak sebagai jembatan penghubung antara sistem kekebalan 

tubuh bawaan dan sistem kekebalan adaptif 

 

3. Sel NK 

Sel Natural Killer (sel NK) merupakan salah satu sel pertahanan tubuh tidak langsung 

menyerang patogen. Sebaliknya sel pembunuh alami menghancurkan sel inang yang terinfeksi 

untuk menghentikan penyebaran infeksi. Sel inang yang terinfeksi atau dikompromikan dapat 

memberi sinyal sel pembunuh alami untuk dihancurkan melalui ekspresi reseptor spesifik dan 

presentasi antigen 

Natural killer cells (NKC) secara spontan mampu melisiskan dan menghancurkan sel yang 

terinfeksi virus atau sel-sel kanker secara langsung pada saat pertama kali dikenali sebagai 

bahan asing. NKC yaitu  pembunuh alamiah yang merupakan limfosit besar sering disebut 

juga dengan limfosit non-T dan limfosit non-B. Cara kerja dan sasaran utama sel ini serupa 

dengan sel T sitotoksik, bedanya dengan sel T sitotoksik hanya pada fungsi mematikan sel-sel 

yang terinfeksi virus yang sejenis atau sel kanker jenis tertentu yang sudah pernah dikenali 

terlebih dahulu. Selain itu setelah terpapar, sel T sitotoksik memerlukan periode pematangan 

sebelum mampu melisiskan sel. NKC membentuk lini pertahanan yang berisfat nonspesifik 

dan segera terhadap sel yang terinfeksi virus atau sel kanker sebelum sel T sitotoksik yang 

lebih spesifik sehingga dapat menjalankan berfungsinya.  

Didalam tubuh banyak sekali ditemukan populasi limfosit yang digolongkan sebagai sel 

NK dan antibodI dependent killer cell yang memiliki fungsi dalam pengawasan tumor tertentu 

dan infeksi virus. Kebanyakan sel NK merupakan large granular lymphocyte (LGL). Membran 

sel ini  menunjukan ciri-ciri antara sel limfosit dan monosit. Sel NK dapat menghancurkan 


 

sel yang mengandung virus atau sel neoplasma dan interferon yang mempunyai pengaruh 

dalam mempercepat pematangan dan efek sitolitik sel NK 

Sel NK dan sel T sitotoksik dapat membunuh sel yang terinfeksi dengan menginduksi 

apoptosis pada proses yang disebut sitotoksisitas seluler. Mekanismenya bergantung pada 

granula, dimana granul yang sudah ada sebelumnya (sel NK) atau yang baru dihasilkan (CTL) 

menyimpan molekul yang dapat memicu apoptosis. Dalam hal ini termasuk perforin yang 

dapat berpolimerisasi untuk membentuk pori-pori di membran sel target dan memungkinkan 

molekul seperti granzymes untuk memasuki sitosol di mana mereka memicu apoptosis. Sel T 

sitotoksik dan NKsel juga dapat mengekspresikan molekul permukaan sel seperti ligan Fas 

yang jika  mereka berikatan dengan Fas pada sel target, maka akan memulai mekanisme 

apoptosis didalam sel target 

E. REAKSI INFLAMASI  

 

Reaksi inflamasi tidak akan meninggalkan proses pemicu nya yaitu adanya 

mikroorganisme, dimana reaksi inflamasi merupakan respon yang terjadi untuk melindungi 

tubuh dari pemicu  kerusakan sel, seperti mikroba atau toksin, dan konsekuensi dari 

kerusakan sel ini , seperti nekrosis sel atau jaringan. Respon inflamasi terjadi pada 

jaringan ikat yang mempunyai pembuluh darah, dan melibatkan pembuluh darah, plasma dan 

sel-sel dalam sirkulasi. Reaksi inflamasi juga akan melibatkan matriks ekstra seluler di jaringan, 

 

 

seperti protein yang berstruktur serat (kolagen dan elastin), molekul adhesi dan proteoglikan 

sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh 

Proses inflamasi merupakan bagian dari respon imun (sistem kekebalan tubuh), 

mekanisme ini hanya akan terjadi dalam kondisi tertentu dalam waktu yang tidak lama. 

Misalnya saat  terjatuh maka suatu bagian tubuh mengalami luka terbuka, mekanisme 

inflamasi akan membantu menghilangkan sel yang rusak dan mempercepat proses 

penyembuhan. Sebaliknya, saat inflamasi terjadi dalam kurun waktu yang lebih lama dari yang 

dibutuhkan, maka hal ini  akan menimbulkan berbagai masalah yang cenderung bersifat 

merugikan (DiCorleto, 2014). 

Proses inflamasi akan menimbulkan beberapa tanda inflamasi atau pertahanan oleh 

tubuh, yaitu dolor (nyeri), rubor (kemerahan), kalor (panas) dan tumor (bengkak). Tanda 

inflamasi muncul sebab  terjadinya proses dilatasi pembuluh darah setempat memicu  

aliran darah meningkat dan menghasilkan rubor dan calor, sedangkan peningkatan 

permeabilitas kapiler memicu  cairan keluar dari sel dan pembuluh darah, begitu juga 

dengan leukosit, terutama netrofil, makrofag dan monosit, sehingga menghasilkan dolor dan 

tumor 

Inflamasi merupakan proses pertahanan tubuh yang dilakukan tubuh, proses terjadinya 

inflamasi dijelaskan sebagai berikut: 

1. Signalling 

saat  mikroba masuk ke dalam jaringan yang berada di sekitar pembuluh darah, hal 

yang pertama kali terangsang di jaringan yaitu  makrofag. Makrofag ini kemudian akan segera 

membentuk sistem pertahanan dengan menegeluarkan mediator inflamasi yaitu interleukin-

1 (IL-1) dan tumour necrosis factor(TNF). Kedua molekul mediator ini menginduksi sel endotel 

pembuluh darah untuk mengekresikan molekul adhesi yaitu selectin-E (CD62E) dan selectin-


 

P. Selain kedua jenis selectin ini ada lagi jenis molekul adhesi yang diekspresikan endotel 

yaitu Immunoglobulin superfamily, seperti ICAM dan VCAM. Molekul adhesi ini akan menarik 

leukosit yang mengekspresikan molekul adhesinya yaitu selectin-L (CD62L) (Molekul adhesi 

leukosit lain bisa berupa integrin LFA-1, Mac-1, dll). saat  leukosit lewat di sekitar endotel 

yang mengekspresikan selectin-E dan selectin-P ini, selectin-L di leukosit ini  akan 

menimbulkan perlekatan yang lemah dengan kedua molekul ini , sehingga leukosit 

perlahan akan melekat dengan endotel. 

2. Rolling 

Setelah terjadi perlekatan lemah antara leukosit dan endotel, perlahan-lahan ikatan ini 

menjadi kuat dan semakin kuat. Sehingga aliran darah tidak dapat melepaskan ikatan ini. 

Leukosit pun akan menyebar di sepanjang endotel pembuluh darah. Perlekatan antara 

leukosit dan endotel menjadi semakin kuat sebab  aktivasi oleh faktor kemotaktik seperti 

leukotrin B4, platelet activating factor dean Interleukin-8 dengan cara kerja meningkatkan 

afinitas molekul adhesi leukosit untuk molekul adhesi endotel. 

3. Emigrasi 

Setelah terjadi perlekatan yang lebih kuat antara leukosit dengan endotel, sel leukosit 

pun berhenti menggelinding. Sesaat , leukosit menembus dinding endotel ini  dengan 

proses diapedesis melalui celah antar sel endotel. 

4. Kemotaksis 

saat  sel leukosit yang berupa granulosit seperti netrofil dan eosinofil telah bermigrasi 

ke ekstrasel dari pembuluh darah, selanjutnya akan bergerak ke arah jaringan yang diserang 

oleh mikroba tadi sebab  terangsang oleh zat chemo-attract tertentu yang dihasilkan oleh 

mikroba (sama seperti pengenalan sel di proses fagositosis). 

5. Fagositosis 

saat  sel leukosit telah bertemu dengan mikroba pemicu  kerusakan sel ini , ia 

akan memfagositnya. Produk dari fagositosis akan menghasilkan bermacam eksudat sehingga 

jaringan di sekitar area ini  akan membengkak. Bisa juga jika  leukosit ini  mati, 

ia akan berubah menjadi abses atau nanah. 

6. Penglepasan Mediator Inflamasi 

Sel leukosit yang telah bermigrasi ke jaringan akan berubah fungsi menjadi sel mast. 

Granul-granul di dalam sel mast segera dilepaskan ke area sekitar daerah inflamais. Granul 

ini  mengandung zat-zat mediator inflamasi (cell derived mediator), yang dalam hal ini 

yaitu  histamin dan serotonin. Keduanya akan memicu  dilatasi pembuluh darah dan 

meningkatkan permeabilitas vaskuler supaya leukosit mudah bermigrasi ke area ini . 

Selain dua contoh mediator di atas, ada lagi zat mediator inflamasi lainnya yaitu plasma 

derived mediator yang dihasilkan oleh komplemen. Contohnya yaitu  anafilatoksin yang 

meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, opsonin yang mempermudah fagositosis 

mikroba, kinin yang berefek vasodilatasi, dan lain-lain. 

7. Pemulihan 

Proses ini merupakan tahapan akhir dari reaksi inflamasi dimana saat  semua agen 

mikroba telah mati, inflamasi pun berakhir perlahan. Biasanya jika inflamasi terjadi di bawah 

kulit, ia akan pecah keluar kulit dan menumpahkan derivat inflamasi yang ada 

 

Inflamasi dimulai saat  sel tubuh mengalami kerusakan dan terjadi pelepasan zat kimia 

tubuh sebagai tanda bagi sistem imun.  Inflamasi sebagai respon imun pertama bertujuan 

untuk merusak zat atau objek asing yang dianggap merugikan, baik itu sel yang rusak, bakteri, 

atau virus. 

Pentingnya proses inflamasi sebab  sangat dibutuhkan tubuh untuk menghilangkan zat 

atau objek asing ini  penting untuk memulai proses penyembuhan. Dengan melalui 

berbagai mekanisme lainnya, sel inflamasi dalam pembuluh darah memicu pembengkakan 

pada area tubuh yang mengalami kerusakan dan memicu  pembengkakan, warna 

kemerahan, dan rasa nyeri. Proses inflamasi memang akan menimbulkan rasa tidak nyaman, 

namun  hal ini  penting dalam proses penyembuhan. 


 

Mekanisme inflamasi diawali dengan adanya iritasi, di mana sel tubuh memulai proses 

perbaikan sel tubuh yang rusak. Sel rusak dan yang terinfeksi oleh bakteri dikeluarkan dalam 

bentuk nanah. Kemudian diikuti dengan proses terbentuknya jaringan-jaringan baru untuk 

menggantikan yang rusak 

Respon imun berupa reaksi inflamasi ini jika terjadi dalam waktu yang lama dapat 

merusak tubuh. Hal ini disebab kan zat atau organisme pemicu inflamasi dapat bertahan lama 

pada pembuluh darah dan mengakibatkan penumpukan plak. Plak dalam pembuluh darah 

ini  justru dianggap sebagai zat berbahaya dan berakibat pada reaksi dari proses 

inflamasi kembali terjadi. Akhirnya terjadilah kerusakan pembuluh darah yang berakibat 

semakin buruk. Kerusakan akibat adanya sel inflamasi dapat terjadi pada pembuluh darah 

tubuh, jantung hingga otak. 

Inflamasi berdasarkan lama waktunya dibedakan menkjadi 2 yaitu dapat terjadi secara 

akut dalam waktu singkat atau terjadi secara kronis, yaitu menetap dalam waktu yang lama. 

Inflamasi akut dimulai dalam hitungan detik atau menit saat  suatu jaringan mengalami 

kerusakan. Baik itu akibat luka fisik, infeksi, atau respon imun (DiCorleto, 2014). 

Inflamasi pada radang akut yaitu  respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang 

didesain untuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan sebagai 

mikroba yang menginvansi dan memulai proses pembongkaran jaringan nekrotik. ada  

dua komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan structural 


 

dari pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit. Perubahan penampang pembuluh darah 

akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada 

pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan 

sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan 

selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera. 

Proses infilatasi juga memberikan dampak pada arteriol lokal yang mungkin didahului 

oleh vasokontriksi singkat, dimana sfingter prakapiler membuka dengan akibat aliran darah 

dalam kapiler yang telah berfungsi meningkat dan juga dibukanya anyaman kapiler yang 

sebelumnya inaktif. Akibatnya anyaman venular pasca kapiler melebar dan diisi darah yang 

mengalir deras. Dengan demikian, mikrovaskular pada lokasi jejas melebar dan berisi darah 

terbendung. Kecuali pada jejas yang sangat ringan, bertambahnya aliran darah (hiperemia) 

pada tahap awal akan disusul oleh perlambatan aliran darah, perubahan tekanan intravaskular 

dan perubahan pada orientasi unsur-unsur berbentuk darah terhadap dinding pembuluhnya. 

Perubahan pembuluh darah dilihat dari segi waktu, sedikit banyak tergantung dari parahnya 

jejas. Dilatasi arteriol timbul dalam beberapa menit setelah jejas. Perlambatan dan bendungan 

tampak setelah 10-30 menit. 

Peningkatan permeabilitas vaskuler disertai keluarnya protein plasma dan sel-sel darah 

putih ke dalam jaringan ini  eksudasi dan merupakan gambaran utama reaksi radang 

akut. Vaskulatur-mikro pada dasarnya terdiri dari saluran-saluran yang berkesinambungan 

berlapis endotel yang bercabang-cabang dan mengadakan anastomosis. Sel endotel dilapisi 

oleh selaput basalis yang berkesinambungan 

Pada ujung arteriol kapiler, tekanan hidrostatik yang tinggi mendesak cairan keluar ke 

dalam ruang jaringan interstisial dengan cara ultrafiltrasi. Hal ini berakibat meningkatnya 

konsentrasi protein plasma dan memicu  tekanan osmotik koloid bertambah besar, 

dengan menarik kembali cairan pada pangkal kapiler venula. Pertukaran normal ini  akan 

menyisakan sedikit cairan dalam jaringan interstisial yang mengalir dari ruang jaringan melalui 

saluran limfatik. Umumnya, dinding kapiler dapat dilalui air, garam, dan larutan sampai berat 

jenis 10.000 dalton. Inflamasi akut dapat dipicu oleh beberapa kondisi seperti bronkitis akut, 

radang tenggorokan atau mengalami flu, kulit lecet, cedera, olahraga berat, dermatitis akut, 

tonsillitis akut (penyakit amandel), sinusitis akut. 

Sedangkan bedanya dengan inflamasi akut yaitu, inflamasi kronis terjadi dengan 

mekanisme yang lebih rumit sehingga dapat bertahan dalam hitungan tahun hingga bulan. 

Inflamasi kronis bisa terjadi saat  tubuh tidak dapat menghilangkan pemicu  inflamasi akut, 

paparan pemicu  inflamasi secara terus-menerus berada di dalam tubuh, dan juga bentuk 

respon autoimun di mana sistem imun menyerang jaringan yang sehat. Contoh beberapa 

penyakit yang sering berkaitan dengan inflamasi kronis diantaranya: asma, tuberkulosis, 

periodontitis kronis, ulcerative colitis dan penyakit crohn, sinusitis kronis, hepatitis kronis, dan 

inflamasi berulang (DiCorleto, 2014).  

Radang kronis dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang (berminggu-

minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera 

jaringan, dan penyembuhan. Perbedaannya dengan radang akut, dimana jika  radang akut 

ditandai dengan perubahn vaskuler, edema, dan inflitrasi neutrofil dalam jumlah besar, 

sedangkan radang kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit, 

dan sel plasma), destruksi jaringan, dan perbaikan (meliputi proliferasi pembuluh darah 

baru/angiogenesis dan fibrosis). 

Radang kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul radang 

akut, atu responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut menjadi kronik 

berlangsung bila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen pemicu  jejas yang 

menetap atau ada  gangguan pada proses penyembuhan normal. Ada kalanya radang 

kronik sejak awal merupakan proses promer. Sering pemicu  jejas memiliki toksitas rendah 

dibandingkan dengan pemicu  yang menimbulkan radang akut. Terhadap 3 kelompok besar 

yang menjadi pemicu nya, yaitu infeksi persisten oleh mikroorganisme intrasel tertentu 

(seperti basil tuberkel, Treponema palidum, dan jamur-jamur tertentu), kontak lama dengan 

bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika), yang menjadi penyakit reaksi autonium. Bila 

suatu radang berlangsung lebih lama dari empat atau enam minggu maka disebut sebagai 

peradangan kronik. namun  sebab  banyak kebergantungan respon efektif tuan rumah dan sifat 

alami jejas, maka batasan waktu tidak banyak artinya. Perbedaan antara akut dan kronik 

sebaiknya berdasarkan pola morfologi reaksi yang ditimbulkan. 

Mekanisme reaksi inflamasi kronis umumnya dimulai dari suatu agen pencidera yang 

akan menghasilkan antigen yang mana antigen ini akan merangsang pembentukan proses 

perubahan Limfosit T yang menjadi sel T efktor yang berakumulasi membentuk respon sel T 

sitotoksik yang berperan dalam lisis sel (selular imuniti). Sel T ini  berpengaruh dalam 

pembentukan granuloma epiteloid dirangsang oleh sikotin. Sel T sitotoksik juga berpengaruh 

dalam perubahan limfosit B menjadi sel plasma, yang akhirnya berpern dalam pembentukan 

antibodi untuk melemahkan antigen (humoral imuniti). Makrofag yang telah memakan 

antigen, dalam proses kronis akan membentuk granuloma awal, yang dalam keadaan infeksius 

membentuk jaringan granuloma epiteloid kaseosa, dan pada keadaan noninfeksius 

menghasilkan granuloma epitoloid nonkaseosa. Yang pada proses penyembuhan membentuk 

jaringan fibrosis 

 

Inflamasi akut dapat dipicu oleh beberapa kondisi seperti bronkitis akut, radang 

tenggorokan atau mengalami flu, kulit lecet, cedera, olahraga berat, dermatitis akut, tonsillitis 

akut (penyakit amandel), sinusitis akut. 

Reaksi inflamasi bisa memicu  adanya reaksi inflamasi berulang yang dapat 

disebabkan oleh kondisi autoimun seperti, rheumatoid arthritis. Rheumatoid artritis yaitu 

inflamasi pada jaringan persendian dan sekitarnya yang terkadang bisa saja terjadi pada organ 

tubuh lainnya. Selain itu ada pula ankylosing spondylitis yaitu inflamasi pada tulang belakang, 

otot dan jaringan penghubung antar tulang, penyakit celiacinflamasi dan kerusakan dinding 

usus halus, fibrosis paru idiopatik inflamasi pada alveoli paru, psoriasis inflamasi pada kulit, 

diabetes tipe 1 berupa inflamasi pada berbagai bagian tubuh saat  diabetes tidak terkendali 

dan alergi semua alergi yang dialami bagian tubuh memicu  terjadinya mekanisme 

inflamasi 

 

Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan suatu sistem perlindungan secara 

biologis untuk menangkal radikal bebas dengan cara mengusir organisme pemicu  penyakit 

(patogen), sehingga seorang individu akan terhindar dari suatu penyakit. Sistem imun pada 

seorang individu sendiri dibedakan menjadi dua yaitu sistem imun spesifik dan sistem imun 

non spesifik. Sistem imun non spesifik terdiri dari berbagai jenis barier yaitu, pertahanan fisik/ 

mekanik berupa kulit, selaput lendir, silia saluran pernapasan termasuk reflek batuk atau 

bersin ada pula sekresi air mata.  

Pertahanan humoral barier tubuh dapat di tembus oleh mikroorganisme, hal ini akan 

mengaktifkan sistem imun nonspesifik berupa inflamasi akut, dengan memakai  berbagai 

molekul larut tertentu yang diproduksi di tempat infeksi dan berfungsi lokal, misalnya peptida 

antimikroba (defensin, katelisidin, dan IFN dengan efek antiviral). Selain itu faktor larut lainnya 

yang diproduksi di tempat yang lebih jauh dan dikerahkan ke jaringan sasaran melalui sirkulasi 

seperti komplemen dan PFA (Protein Fase Akut). 

 Pertahanan humoral tersusun oleh komplemen, interferon dan CRP (C Reaktif 

Protein/protein fase akut), kolektin MBL 9 (Manan Binding Lectin). Langkah-langkah 

 

 

pertahanan tubuh humoral nonspesifik melalui beberapa proses, sebagai berikut opsonisasi, 

chemotaxis, sel Lisis, dan aglutinasi.  

Pertahanan biokimia merupakan barier yang dilakukan oleh tubuh melawan patogen 

dengan melibatkan zat kimia dalam tubuh. Misalnya, sekresi oleh kelenjar, air liur, air mata 

dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan mukosa dapat melenyapkan 

banyak bibit penyakit yang potensial.  

Pertahanan seluler membahas mengenai fagositosis yang berfungsi untuk 

mempertahankan dan melindungi tubuh manusia. Sel-sel yang menyokong leukosit dari 

sistem kekebalan tubuh yaitu, sel-sel Fagosit (Monosit & makrofag). 

Sel mast ada  dalam selaput lendir dan jaringan ikat, berperan penting dalam proses 

penyembuhan luka dan pertahanan terhadap patogen melalui respons inflamasi. Inflamasi 

merupakan respon yang terjadi untuk melindungi tubuh dari pemicu  kerusakan sel, seperti 

mikroba atau toksin, dan konsekuensi dari kerusakan sel ini , seperti nekrosis sel atau 

jaringan. Tanda inflamasi atau pertahanan oleh tubuh, yaitu dolor (nyeri), rubor (kemerahan), 

kalor (panas) dan tumor (bengkak). Proses terjadinya inflamasi yaitu, signalling, rolling, 

emigrasi, kemotaksis, fagositosi, penglepasan mediator inflamasi, dan pemulihan. Inflamasi 

bertujuan untuk merusak zat atau objek asing yang dianggap merugikan, baik itu sel yang 

rusak, bakteri, atau virus, sangat dibutuhkan tubuh untuk menghilangkan zat atau objek asing 

ini  penting untuk memulai proses penyembuhan. 

 


Sistem Imun Spesifik 

 

Respons imun spesifik muncul untuk menyerang jenis patogen tertentu yang menyerang 

tubuh. Benda asing yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun 

spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imun. Bila sel sistem imun ini  

berpapasan kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan 

dikenal lebih cepat, kemudian dihancurkan olehnya. Oleh sebab  sistem ini  hanya dapat 

menghancurkan benda asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistm ini disebut spesifik 

(Darwin, 2010). Sebagai contoh campak atau cacar air, penyakit ini biasanya hanya 

menjangkiti manusia sekali dalam seumur hidupnya. Saat kita kecil terkena cacar air, setelah 

dewasa meskipun kita terkena virus cacar air kita tidak sakit sebab  tubuh kita sudah pernah 

terpapar virus cacar air, sistem pertahanan tubuh kita sudah kenal dengan virus ini  

sehingga adanya pertahanan tubuh untuk melemahkannya.  

 

 

Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang 

berbahaya, namun  umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi, komplemen, fagosit 

dan antara sel T makrofag. Sistem imun Spesifik diperlukan untuk melawan antigen dari 

imunitas nonspesifik. Antigen merupakan substansi berupa protein dan polisakarida yang 

mampu merangsang munculnya sistem kekebalan tubuh (antibodi). Mikroba yang sering 

menginfeksi tubuh juga mempunyai antigen. Selain itu, antigen ini juga dapat berasal dari sel 

asing atau sel kanker 

 

Tubuh kita seringkali dapat membentuk sistem imun (kekebalan) dengan sendirinya. 

Setelah mempunyai kekebalan, tubuh akan kebal terhadap penyakit ini  walaupun tubuh 

telah terinfeksi beberapa kali. Hal ini sebab  tubuh telah membentuk kekebalan primer. 

Kekebalan primer diperoleh dari B limfosit dan T limfosit.  Sistem imun spesifik ini dibedakan 

menjadi 2 yaitu:  

 

A. SISTEM IMUN SPESIFIK HUMORAL 

 

Di dalam imunitas humoral yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh yaitu  

limfosit B atau sel B, yang berasal dari sistem sel. Fungsi utama limfosit B yaitu  

mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri, virus dan melakukan netralisasi toksin. Limfosit 

B diproses pada sumsum tulang yaitu sel batang yang sifatnya pluripotensi (pluripotent stem 

cells) dan dimatangkan di sumsum tulang.  Limfosit B menyerang antigen yang ada di cairan 

antar sel. Limfosit B berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi 3 jenis sel yaitu : limfosit B 

plasma yang memproduksi antibodi, limfosit B yang melakukan pembelah sehingga 

menghasilkan limfosit dalam jumlah banyak secara cepat, dan limfosit B yang mempunyai 

fungsi memori untuk mengingat antigen yang pernah masuk ke tubuh. 

Setelah pembentukan dan pematangan di dalam sumsum tulang sel-sel B pindah ke 

sistem limfatik untuk bersirkulasi ke seluruh tubuh. Dalam sistem limfatik, sel B bertemu 

dengan antigen, yang memulai proses pematangan untuk sel B. Sel B masing-masing memiliki 

satu dari jutaan reseptor spesifik antigen permukaan yang berbeda yang melekat pada DNA 

organisme. Misalnya pada  sel B naif mengekspresikan antibodi pada permukaan selnya, yang 

juga bisa disebut antibodi terikat-membran 

 

saat  sel B bertemu dengan antigen yang cocok atau cocok dengan antibodi yang 

terikat membran, ia dengan cepat akan membelah untuk menjadi sel B memori atau sel B 

efektor, yang juga disebut sel plasma. Sehingga antibodi dapat berikatan dengan antigen 

secara langsung. 

 


Pada proses pertahanan imun antigen harus secara efektif mengikat dengan antibodi 

terikat sel B yang naif untuk memicu diferensiasi, atau proses menjadi salah satu bentuk baru 

dari sel B 

 

Sel-sel memori B akan mengekspresikan antibodi, yang mengikat membran sama 

dengan sel B asli, atau lebih dikenal sebagai sel B induk. Sel B plasma menghasilkan antibodi 

yang sama dengan sel B induk, namun  mereka tidak bisa berikatan dengan  membran. 

Sebaliknya, sel-sel B plasma dapat mengeluarkan antibodi. Dimana antibodi yang disekresikan 

bekerja untuk mengidentifikasi patogen bebas yang beredar di seluruh tubuh. saat  sel B 

membelah dan berdiferensiasi, baik sel plasma maupun sel B memori yang dibuat membentuk 

reseptor khusus. 

Sel B juga mengekspresikan reseptor khusus, yang seringkali disebut sebagai reseptor 

sel B (BCR). Reseptor sel B membantu dengan cara pengikatan antigen, serta internalisasi dan 

pemrosesan antigen. Reseptor sel B juga memainkan peran penting dalam memberi sinyal 

jalur. Setelah antigen diinternalisasi dan diproses, sel B dapat memulai jalur pensinyalan, 

seperti pelepasan sitokin yang bertujuab untuk berkomunikasi dengan sel-sel lain dari sistem 

kekebalan tubuh (Gordon & Jon, 2012). 

Sel B yang ada pada tubuh bila dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi dan 

berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepaskan 

akan ditemukan di dalam serum. Fungsi utama antibodi ini yaitu  mampu melakukan 

pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan bakteri serta menetralisir toksinnya 

Sel Th 2 juga mempunyai kontribusi didalam sistem imunitas ini. Th 2 akan memproduksi 

Il-4, Il-5, Il-6 yang merangsang sel B untuk menghasilkan immunoglobulin (Ig), menekan kerja 

monosit/ makrofag dan respon imun seluler pembentukan Immunoglobulin (Ig) oleh sel 

plasma yang berasal dari proliferasi sel B akibat dari kontak langsung dengan antigen. Antibodi 

yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis dengan 

dirinya. Bila serum protein ini  dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka IgG 

ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin alfa dan beta 

Antibodi yang ditemukan dalam tubuh manusia ada  lima jenis yaitu IgG yaitu IgG, 

IgA, IgM, IgD, IgE. Jenis antibodi ini  yaitu : 

1. IgG yang merupakan komponen utama didalam Ig serum dengan kadar di dalam darah 

yang terbesar sebanyak 75 % dari semua immunoglobulin. Ig G mampu melapisi mikroba 

yang masuk dalam tubuh, mempercepat penyerapannya oleh sel-sel lain dalam sistem 

kekebalan tubuh. IgG berkerja secara efektif dalam menembus plasenta dan masuk ke 

fetus dan berperan dalam imunitas bayi sampai dengan bayi berusia berusia 6-9 bulan. 

IgG dan komplemen bekerja saling membantu di dalam opsonin pada pemusnahan 

antigen. Selain itu IgG juga berperan di dalam imunitas sellular. 

2. IgA ditemukan dalam jumlah yang sedikit didalam darah. IgA di dalam serum berperan 

dalam proses aglutinasi kuman, dengan cara mengganggu motilitasnya 

hingga  memudahkan fagositosis oleh sel PMN.  Ig A banyak ditemukan  dalam cairan 

tubuh misalnya saja pada air mata, air liur, sekresi pernapasan, saluran imunoglobulin 

dan saluran pencernaan yang tugasnya menjaga pintu masuknya patogen kedalam 

tubuh. 

3. IgM merupakan antibodi dalam respon imun primer berperan terhadap kebanyakan 

antigen yang efektif dalam membunuh bakteri. IgM berperan dalam sistem imun dengan 

cara mencegah gerakan mikroorganisme patogen, sehingga memudahkan fagositosis 

dan merupakan aglutinator poten protein.  

4. IgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah didalam sirkulasi. Terhitung banyaknya 

IgD sebesar 1% dari total immunoglobulin dan banyak ditemukan. Peran membran sel B 

bersama IgM yaitu  berfungsi sebagai reseptor pada aktivasi sel B. 

5. IgE mempunyai fungsi utama untuk melindungi dari infeksi parasit. Infeksi parasit yang 

dimaksud yaitu penjahat yang bertanggung jawab atas gejala alergi. Ig E berupa serum 

dengan kadar yang rendah di tubuh dan akan meningkat jika  adanya paparan 

patogen dalam tubuh  seperti  penyakit alergi, infeksi cacing.  

 

Respon imun primer terjadi pada paparan pertama pada antigen. Karakteristiknya yaitu 

dibutuhkan sel B spesifik dalam melawan antigen untuk berproliferasi dan berdifferensiasi 

menjadi plasma sel. Jika seseorang terpapar untuk kedua kalinya dengan antigen yang sama 

respon imun sekunder terjadi. Respon ini lebih cepat dan lebih efektif sebab  sistem imun 

sudah disiapkan melawan antigen ini  sehingga respon cepat terjasi untuk mencegah 

terjasinya gangguan imun dalam tubuh 

Walaupun antibodi tidak dapat menghancurkan antigen secara langsung namun  dapat 

menginaktifkan dan menandainya untuk dihancurkan. Yang terjadi di dalam interaksi antigen-

antibodi yaitu  suatu formasi kompleks antigen-antibodi. 

 

B. SISTEM IMUN SPESIFIK SELULAR 

 

Sistem imunitas seluler terbentuk di sumsum tulang, sel-sel progenitor T bermigrasi ke 

timus (maka namanya disebut dengan "sel T") menjadi matang dan menjadi sel-sel T. Di dalam 

imunitas seluler yang berperan yaitu  limfosit T atau sel T dengan fungsi menyerang antigen 

yang berada di dalam sel. Fungsi utama sistem imun spesifik seluler ialah untuk pertahanan 

terhadap paparan patogen seperti bakteri, virus, jamur dan keganasan di intra seluler. Yang 

berperan disini yaitu  limfosit T atau sel T 

Sel T atau limfosit T yaitu  kelompok sel darah putih yang memainkan peran utama 

pada kekebalan seluler. Sel T memiliki reseptor pada seluruh permukaannya dengan cara 

mengikat antigen virus. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan 

berevolusi sepanjang waktu demi mempertahankan sistem kekebalan pada tubuh setiap kali 

tubuh terpapar patogen 

 

Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari sumsum 

tulang menuju kelenjar timus, tempat sel punca ini  mengalami rekombinasi VDJ pada 

rantai-beta reseptornya. "T" pada kata sel T yaitu  singkatan dari kata timus yang merupakan 

organ penting tempat sel T tumbuh dan menjadi matang 

 

Sel T ada  dalam jumlah yang banyak didalam jaringan submukosa jalan nafas dan 

dinding alveoli. Sedangkan jumlah sel T yang paling sedikit didalam lumen bronkus. Sel T akan 

melakukan migrasi ke jaringan lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa limfosit dapat melakukan 

resirkulasi dari darah ke jaringan limpoid dan kembali ke darah. Sel B ada  dalam jumlah 

yang sedikit di dalam lamina propria dari saluran nafas. Konsisten dengan observasi, sejumlah 

kecil IgA ada  di dalam sekresi jalan nafas seperti pada sputum. IgG juga didapat dalam 

lumen bronkus. Pada keadaan penyakit atopik sel B juga memproduksi IgE yang didapati 

disekresi saluran nafas. Fungsi respon imun seluler yaitu, Sel CD8 mematikan secara langsung 

pada sel sasaran, Sel T memicu  reaksi hipersensitifitas yang lambat, Sel T memiliki 

kemampuan menghasilkan sel pengingat, dan Sel T sebagai pengendali CD4 dan CD8 

memfasilitasi dan menekan respon imun seluler dan humoral. 


Sel T bermacam-macam jenisnya, berdasarkan fungsinya secara umum ada tiga 

golongan utama dari sel T. Sel T yang mempunyai fungsi sebagai sel efektor dari killing sel 

yaitu  sel sitotoksik (Tc), dua golongan lagi termasuk di dalam sel regulasi yaitu sel T helper 

(Th) dikenal juga sebagai CD4 dan sel T suppressor (Ts) dikenal juga sebagai CD8. Th 

mempunyai fungsi yang berbeda berdasarkan kemampuan sitokin yang diproduksi, terbagi 

menjadi Th1 ( yang mempunyai fungsi kontribusi dalam imunitas humoral) dan Th2. 

Tidak seperti antibodi, yang dapat berikatan langsung dengan antigen, reseptor sel T 

hanya dapat mengenali antigen yang terikat pada molekul reseptor tertentu, yang disebut 

Major Histocompatibility Complex kelas 1 (MHCI) dan kelas 2 (MHCII). Molekul MHC ini yaitu  

reseptor permukaan yang terikat membran pada sel penyaji antigen, seperti sel dendritik dan 

makrofag. CD4 dan CD8 berperan dalam pengenalan dan aktivasi sel T dengan cara kerja 

mengikat MHCI atau MHCII 

Reseptor sel T harus menjalani proses yang disebut pengaturan ulang, sehingga 

memicu  rekombinasi gen yang hampir tak terbatas dalam proses mengekspresikan 

reseptor sel T. Proses penataan ulang memungkinkan banyak keanekaragaman yang terjasi 

saat proses mengikat. Keragaman ini berpotensi memicu  seranganyang tidak disengaja 

terhadap sel dan molekul diri sebab  beberapa konfigurasi penataan ulang dapat secara tidak 

sengaja meniru molekul dan protein itu sendiri. Sel T yang matang harus dapat mengenali 

hanya antigen asing yang dikombinasikan dengan molekul MHC sendiri untuk menghasilkan 

respons pertahanan imun yang tepat 

Untuk memastikan sel T akan bekerja dengan baik setelah mereka matang dan telah siap 

untuk dilepaskan dari timus, mereka menjalani dua proses seleksi yaitu dengan seleksi positif 

untuk memastikan pembatasan MHC dengan menguji kemampuan MHCI dan MHCII dalam 

membedakan antara protein self dan nonself. Untuk melewati proses seleksi positif, sel harus 

mampu mengikat hanya molekul self-MHC. Jika sel-sel ini mengikat molekul nonself dan bukan 

molekul self-MHC, mereka gagal dalam proses seleksi positif dan dihilangkan dengan 

apoptosis. 

Sedangkan pasa tes seleksi negatif bertujuan untuk toleransi diri. Seleksi negatif menguji 

kemampuan pengikatan CD4 dan CD8 secara khusus. Contoh ideal toleransi diri yaitu  saat  

sel T hanya akan mengikat molekul self-MHC yang menghadirkan antigen asing. Jika sel T 

mampu mengikat, melalui CD4 atau CD8, molekul self-MHC yang tidak menghadirkan antigen, 

atau molekul self-MHC yang menghadirkan antigen sendiri itu akan gagal dalam seleksi negatif 

dan dihilangkan dengan cara apoptosis. 

Proses seleksi tes positif dan negatif dilakukan untuk melindungi sel dan jaringan pada 

diri sendiri terhadap respons imun sendiri. Tanpa proses tahapan seleksi ini, maka penyakit 

autoimun akan jauh lebih umum terjadi pada setiap orang 

 

1. Peran Sel T Helper (CD4) 

Sel T helper atau yang lebih umum disebut sebagai Th mempunyai berperan dalam 

menolong sel B dalam proses differensiasi dan memproduksi antibodi. Sel Th1 bertugas untuk 

memproduksi mediator interleukin-2 (IL-2) dan interferon gamma  (IFN-ý) yang memegang 

peranan penting proteksi dengan meningkatkan kemampuan makrofag untuk fagositosis dan 

mencerna kuman. Sel Th berinteraksi secara langsung dengan sel B yang banyak mengandung 

fragmen antigen pada permukaannya sehingga saat berikatan dengan reseptor MHC II akan 

memacunya untuk cepat membelah dan memberi sinyal  untuk antibodi memulai fungsinya. 

saat  sel Th berikatan dengan sel B, maka sel T IL 2 dan limpokin lainnya akan  dilepaskan 

oleh sel Th, sehingga tidak hanya memobilisasi sel imun dan makrofag namun juga menarik 

sel darah putih seperti neutropil untuk memperkuat pertahanan non spesifik.  Fungsi sel CD4 

dalam proses perlindundungan tubuh yaitu: 

a. Pengendali, sebagai sistem pengendali maka akan mengaitkan sistem monosit-makrofag 

ke sistem limfoid berinteraksi dengan sel penyaji antigen untuk mengendalikan Ig 

b. Menghasilkan sitokin yang memungkin tumbuhnya sel CD4 dan CD8 

c. Berkembang menjadi sel T memory  

 

2. Peran Sel T Sitotoksik (Tc)  

Sel T sitotoksik juga dikenal sebagai sel T killer (pemusnah), merupakan satu-satunya sel 

T yang dapat langsung menyerang dan membunuh sel yang di rasa mengancam lainnya. Target 

utamanya yaitu  sel yang terinfeksi virus, dan menyerang jaringan lain yang terinfeksi oleh 

bakteri intraseluler, parasit, sel kanker, dan sel asing lainnya yang memasuki tubuh melalui 

transfusi darah maupun transplantasi organ. Terlibat dalam penghancuran langsung sel-sel 

yang telah menjadi kanker atau terinfeksi virus. (Pengajar Fakultas Kedokteran UI, 2010). 

Sel T sitotoksik mengandung butiran (kantung yang berisi enzim pencernaan atau zat 

kimia lainnya) sehingga mereka memanfaatkan untuk menjadikan sel target untuk pecah 

dalam proses yang disebut apoptosis 

 

3. Peran Sel T Suppressor (Ts) (CD8) 

Seperti sel Th, sel Ts juga mampu untuk melakukan sel regulasi. Mekanisme aksinya 

dengan melakukan inhibisi sebab  ia melepaskan limpokin yang dapat menekan aktivitas dari 

sel T dan sel B. Sel Ts akan menghentikan respon imun setelah sukses menginaktifkan dan 

menghancurkan antigen. Hal ini akan sangat membantu dalam mencegah tidak terkontrolnya 

dan tidak dibutuhkannnya lagi kerja dari sistem imun 


Ringkasan 

 

Respons imun spesifik muncul untuk menyerang jenis patogen tertentu, benda asing 

yang pertama kali muncul dalam badan segera dikenal oleh sistem imun spesifik sehingga 

terjadi sensitasi sel-sel sistem imun sehingga jika  sel sistem imun ini  berpapasan 

kembali dengan benda asing yang sama, maka benda asing yang terakhir ini akan dikenal lebih 

cepat kemudian dihancurkan. Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk 

menghancurkan benda asing yang berbahaya, namun  umumnya terjalin kerjasama yang baik 

antara antibodi, komplemen, fagosit dan antara sel T makrofag. Sistem imun Spesifik 

diperlukan untuk melawan antigen dari imunitas nonspesifik. Kekebalan primer diperoleh dari 

B limfosit dan T limfosit.  Sistem imun ini dibagi menjadi 2  yaitu sistem imunspesifik humoral 

dan seluler.  

Sistem imun spesifik humoral yang berperan yaitu  limfosit B atau sel B yang berasal 

dari sistem sel. Fungsi utama limfosit B yaitu  mempertahankan tubuh dari infeksi bakteri, 

virus dan melakukan netralisasi toksin, diproses pada sumsum tulang yaitu sel batang yang 

sifatnya pluripotensi (pluripotent stem cells) dan dimatangkan di sumsum tulang.  Limfosit B 

menyerang antigen yang ada di cairan antar sel. ada  3 jenis sel limfosit B yaitu : limfosit 

B plasma memproduksi antibodi, limfosit B melakukan pembelah sehingga menghasilkan 

limfosit dalam jumlah banyak secara cepat, dan limfosit B mempunyai fungsi memori 

mengingat antigen. Antibodi yang terbentuk secara spesifik ini akan mengikat antigen baru 

lainnya yang sejenis. Bila serum protein ini  dipisahkan dengan cara elektroforesis, maka 

IgG ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin alfa dan beta, ada lima jenis IgG yaitu IgG, IgA, 

IgM, IgD, IgE. 

Sistem imun spesifik selular terbentuk di sumsum tulang, sel-sel progenitor T bermigrasi 

ke timus fungsi menyerang antigen yang berada di dalam sel, untuk pertahanan terhadap 

bakteri, virus, jamur dan keganasan di intra seluler. Ada tiga golongan utama dari sel T yaitu,  

sel efektor dari killing sel sel sitotoksik (Tc), dua golongan lagi termasuk di dalam sel regulasi 

yaitu sel T helper (Th) dikenal juga sebagai CD4 dan sel T suppressor (Ts) dikenal juga sebagai 

CD8.  

Peran sel T helper (CD4) berperan menolong sel B dalam differensiasi dan memproduksi 

antibodi. Fungsi sel CD4 dalam proses perlindundungan tubuh yaitu, pengendali, mengaitkan 

sistem monosit-makrofag ke sistem limfoid, menghasilkan sitokin dan berkembang menjadi 

sel T memory.  

Peran sel T sitotoksik (Tc) atau sel T killer (pemusnah) yaitu  satu-satunya sel T yang 

dapat langsung menyerang dan membunuh sel lainnya. Peran sel T suppressor (Ts) (CD8) atau 

sel regulasi, dengan inhibisi sebab  ia melepaskan limpokin yang dapat menekan aktivitas dari 

sel T dan sel B. Sel Ts akan menghentikan respon imun setelah sukses menginaktifkan dan 

menghancurkan antigen. 


Glosarium 

 

Adaptif  :  Mudah menyesuaikan (diri) dengan keadaan. 

Adhesi  :  Keadaan melekat pada benda lain;  gaya atau kakas tarik-

menarik antarmolekul yang tidak sejenis.  

Alergi  :  Kondisi saat  sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap 

sesuatu yang biasanya tidak berbahaya. Pemicu alergi yang 

sebut alergen, dapat mencakup serbuk sari, jamur, bulu 

binatang, makanan tertentu, dan hal-hal yang mengiritasi.  

Anafilatoksin : Fragmen protein yang terbentuk saat sistem komplemen 

teraktivasi dan terdiri dari C3a, C4a, C5a. Mampu memicu 

degranulasi pada sel endotelial, mastosit dan fagosit, yang lebih 

lanjut memicu respon peradangan. 

Antibodi : Zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri 

virus atau untuk melawan toksin yang dihasilkan oleh bakteri. 

Apoptosis  : Mekanisme biologi yang merupakan salah satu jenis kematian 

sel terprogram. Apoptosis digunakan oleh organisme multisel 

untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. 

Asam  : Senyawa kimia yang dapat larut di dalam air, membuat pH air 

menjadi lebih kecil dari 7, zat yang memberikan proton atau ion 

H+ kepada zat lain. 

Bakteri  : Bibit penyakit, makhluk hidup terkecil bersel tunggal, ada  di 

mana-mana, dapat berkembang biak dengan kecepatan luar 

biasa dengan jalan membelah diri, ada yang berbahaya dan ada 

yang tidak, dapat memicu  peragian, pembusukan, dan 

penyakit.  

Barier : Penghalang; pencegah, pertahanan  

Denaturasi  : Sebuah proses di mana protein atau asam nukleat kehilangan 

struktur tersier dan struktur sekunder dengan penerapan 

beberapa tekanan eksternal atau senyawa, seperti asam kuat 

atau basa, garam anorganik terkonsentrasi, sebuah misalnya 

pelarut organik (alkohol atau kloroform), atau panas. 

Diferensiasi : Proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan;  

perkembangan tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit, 

dari homogen ke heterogen 

Eksternal  : Menyangkut bagian luar (tubuh, diri, mobil, dan sebagainya). 

Elastin  : Serat protein dengan keelastikan dan daya memanjang yang 

tinggi yang ditemukan di dalam jaringan penghubung vertebrata.  

Endotel  : Lapisan sel gepeng yang melapisi permukaan dalam pembuluh 

darah, pembuluh limfa, dan rongga tubuh.  

Epidermis : Lapisan luar kulit untuk pelindung, tidak peka, dan tidak 

berpembuluh darah; kulit ari.  

Epitel : Istilah medis untuk selaput lendir. 

Epitop  : Area tertentu pada molekul antigenik, yang mengikat antibodi 

atau pencerap sel B maupun sel T.  

Fogosit  : Sel-sel yang berfungsi mematikan mikroorganisme asing di 

sekitarnya dengan cara meluluhkannya ke dalam plasma selnya, 

misalnya sel darah putih memakan kuman.  

fosfolipase  : Enzim yang memecah fosfolipid menjadi gliserol, asam lemak, 

asam fosfat dan kolin. 

Granulosit : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma. 

Hiperseneitivitas  : Reaksi berlebihan, tidak diinginkan sebab  terlalu senisitifnya 

respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan, dan 

terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem imun. 

Imun  : Kekebalan terhadap suatu penyakit. 

Inang : Organisme tempat parasit tumbuh dan makan. 

Infeksi  : Terkena hama; kemasukan bibit penyakit; ketularan penyakit; 

peradangan pengembangan penyakit (parasit). 

Inflamasi  : Reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang 

ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ 

tubuh. 

Inhibisi  : Hambatan bagi otot-otot dalam bekerja. 

Kemokin  : Keluarga sitokin kecil, atau protein pemberi sinyal yang 

disekresikan oleh sel. 

Keratinosit : Sel-sel yang tersusun rapi untuk membentuk lapisan epidermis 

kulit atau disebut sebagai sel utama epidermis. Sel ini memiliki 

fungi utama untuk menghasilka keratin. 

Kolagen  : Protein perekat yang ada  dalam tulang dan tulang rawan.  

Leukosit  : Sel darah tanpa warna (berfungsi untuk membinasakan bakteri 

yang memasuki tubuh); sel darah putih. 

Limfosit  : Leukosit yang berinti satu, tidak bersegmen, pada umumnya 

tidak bergranula, berperan pada imunitas humoral (sel B) dan 

imunitas sel (sel T) 


 

Lisozim  : Protein yang ditemukan dalam air mata, air liur, dan cairan 

lainnya. Lisozim ini dapat menurunkan dinding sel beberapa jenis 

bakteri dan bertindak sebagai antibiotik alami. 

Makrofag  : Jenis leukosit yang membersihkan tubuh dari sampah yang tidak 

diinginkan seperti bakteri dan sel-sel mati. 

Mikroorganisme  : Mahluk hidup yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan 

mikroskop.  

Mikroorganisme/mikroba  : Organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk 

mengamatinya diperlukan alat bantuan.  

Molekul  : Bagian terkecil senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom 

yang terikat secara kimia. Bagian terkecil senyawa yang masih 

sanggup memperlihatkan sifat-sifat dari senyawa itu. 

Monosit  : Sel yang terdiri atas butir-butir kecil berisi sitoplasma. 

Monosit : Sel darah putih yang berukuran besar, inti selnya berbentuk 

bulat telur, ada  pada darah manusia dan hewan vertebrata. 

Mukosa  : Lapisan jaringan yang membatasi rongga saluran cerna dan 

saluran napas; selaput lendir.  

Mukus : Cairan lengket dan tebal yang disekresikan oleh membran dan 

kelenjar mukosa.  

Multiselular  : Istilah biologi untuk organisme yang mempunyai banyak sel, 

kontras dengan organisme uniselular yang hanya mempunyai 

satu sel. 

netralisasi  : Reaksi dimana asam dan basa bereaksi dalam larutan berair 

untuk menghasilkan garam dan air. 

Opsin : Protein transmembran yang sensitif terhadap cahaya, yang 

terikat pada aldehida vitamin A. Secara umum ada dua jenis 

protein yang disebut opsin. 

Opsonin : Molekul apa saja yang membantu meningkatkan sel fagosit 

dalam kegiatan fagositosis 

Parasit : Benalu; pasilan; organisme yang hidup dan mengisap makanan 

dari organisme lain yang ditempelinya. 

Patogen  : Parasit yang mampu menimbulkan penyakit pada inangnya. 

Penyakit : Suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang 

memicu  ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran 

terhadap orang yang dipengaruhinya.  

Plasma : Barang cair tidak berwarna yang menjadi bagian darah, dalam 

keadaan normal volumenya kira-kira 5% dari berat badan.  


Pluripotensi  : Sel-sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel dalam 

tubuh, namun tidak dapat membentuk suatu organisme. 

Polisakarida  : Polimer yang tersusun dari ratusan hingga ribuan satuan 

monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. 

Prematur : Belum (waktunya) masak (matang); sebelum waktunya; belum 

cukup bulan. 

Proliferasi  : Fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan. 

Protein  : Senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang 

merupakan polimer dari monomer asam amino yang 

dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. 

Protozoa   : Jasad renik hewani yang terdiri atas satu sel, seluruh fungsi 

protozoa dilakukan oleh sel satu itu. 

Transplantasi : Pemindahan jaringan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain 

(seperti menutup luka yang tidak berkulit dengan jaringa