Imunologi 16

 



wa dalam getah bening, yang mengarah ke respon adaptif 

humoral. Dalam kedua kasus, aktivasi bersamaan dari sel T helper biasanya diperlukan untuk 

memastikan respons keseluruhan yang efektif 

 

3. Memori Kekebalan Tubuh 

Penting untuk dicatat bahwa respons adaptif primer yang efektif (misalnya terkait 

dengan patogen yang belum pernah ditemukan sebelumnya) membutuhkan waktu untuk 

berkembang, sebab  hanya sejumlah kecil sel B- dan T target-spesifik yang hadir pada awalnya 

dan, setelah Jika diaktifkan, mereka pertama-tama harus berproliferasi melalui proses yang 

dikenal sebagai seleksi klon, untuk membentuk sel-sel efektor. Sebagian dari sel-sel efektor 

ini terus membentuk stok sel-sel memori berumur panjang memastikan bahwa jika patogen 

tertentu ditemui lagi, setiap respon adaptif sekunder berikutnya (atau respon memori) 

berkembang lebih cepat dan dengan demikian lebih efektif (Cruse JM, 2006). 

 

4. Disfungsi Kekebalan Tubuh 

Patologi penting dapat terjadi akibat disfungsi imun. Kekurangan kekebalan tubuh 

bawaan (bawaan), dengan dasar genetik, dapat menonaktifkan semua, atau bagian, dari 

respons kekebalan (baik bawaan maupun adaptif) - yang mengakibatkan kerentanan terhadap 

infeksi atau kanker. Contohnya termasuk imunodefisiensi kombinasi parah (SCID) dan variabel 

imunodefisiensi umum (CVID). Selain itu, autoimunitas terjadi saat  sistem kekebalan tubuh 

secara keliru menargetkan jaringan sendiri, yang mengakibatkan kondisi peradangan kronis 

dan kerusakan jaringan. Contohnya termasuk diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, dan 

multiple sclerosis (Cruse JM, 2006). 

 

5. Ilmu Transplantasi 

Identifikasi peran penting MHC dalam memungkinkan tubuh untuk membedakan antara 

diri/jaringan tanpa diri sangat meningkatkan keberhasilan transplantasi jaringan dan organ, 

dengan memungkinkan pencocokan jaringan. Ini telah dibantu oleh pengembangan obat 

imunosupresif yang menjadi semakin canggih saat  kami mengidentifikasi unsur-unsur yang 

lebih spesifik dalam sistem kekebalan untuk ditargetkan 

 

B. KOMPONEN 

 

Komponen respon imun adaptif dibagi menjadi 2, yaitu respon seluler dan respon 

humoral. Komponen respon seluler terdiri dari sel-sel limfosit T, sedangkan komponen respon 

humoral merupakan antibodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B seperti yang dicontohkan 

pada gambar 4.7. 

 

 

 

Respon Seluler terdiri dari sel-sel limfosit T. Sel Limfosit T merupakan sel-sel yang 

berasal dari sumsum tulang dan mengalami maturasi atau pematangan di timus (gambar 4.8). 

Maturasi berfungsi untuk memberikan kemampuan pada sel limfosit T agar dapat 

membedakan sel terinfeksi dan sel normal. Limfosit T atau sel T berperan pada sistem imun 

spesifik selular. Sel ini  juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada orang 

dewasa sel T dibentuk didalam sumsum tulang, namun  proliferasi dan diferensiasinya terjadi 

didalam kelenjar timus atau pengaruh berbagaifaktor asal timus. 90-95% dari semua sel T dala 

timusini  mati dan hanya 5-10% menjadi matang dan selanjutnya meninggalkan timus 

untuk masuk kedalam sirkulasi. 

Faktor timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai 

hormon asli dan dapat mempengaruhi diferensiasi sel T di perifer. Berbeda dengan sel B, sel t 

terdiri atas beberapa subsset dengan fungsi yang berlainan yaitu sel CD4⁺ (Th1, Th2), CD8⁺ 

atau CTL atau Tc dan Ts atau sel Tr atau Th3. Fungsi utama sistem imun spesifik selular ialah 

pertahanan terhadap bakter yang hidup intraselular, virus, jamur, parasit dan keganasan. Sel 

CD4⁺mengaktifkan sel Th1 yang selanjutnya mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan 

mikroba. Sel CD8⁺ memusnahkan sel terinfeksi. Perbedaan imunitas speifik humoral dan 

selular. Sel-sel tubuh secara terus-menerus memproses protein yang berasal dari lingkungan 

seluler internal dan mempresentasikannya dalam kaitannya dengan reseptor MHC kelas I. Ini 

biasanya akan menjadi 'antigen' sendiri (yang diabaikan oleh sistem kekebalan tubuh), namun  

juga dapat berupa peptida yang berasal dari virus atau bakteri yang menginfeksi, atau peptida 

kanker yang menyimpang. Sel T sitotoksik teraktivasi dari spesifisitas tertentu berkembang 

biak di getah bening dan kemudian bermigrasi ke tempat infeksi di mana mereka memantau 

tanda-tanda tubuh untuk tanda-tanda infeksi intraseluler atau protein mandiri yang 

menyimpang yang terkait dengan kanker - disajikan pada molekul MHC kelas I - memakai  

TCR mereka. Jika mereka menemukan antigen yang mereka kenali, ini menunjukkan infeksi 

atau keganasan, dan mereka kemudian dapat menginduksi apoptosis (autodestruction) sel-

sel tubuh yang ditargetkan. Ini merupakan respons adaptif seluler 

 

Sel limfosit T memiliki 2 macam yaitu sel limfosit T helper (sel T CD4+) dan sel limfosit T 

sitotoksik (sel T CD8+) (Antari, 2017). 

Sel limfosit T helper mengekspresikan molekul CD4 pada permukaan sel nya, sehingga 

sering disebut sel T CD4+. Molekul CD4 berperan sebagai penanda sel dan dalam pengenalan 

antigen (Gambar 4.5). Sel limfosit T CD4+ memiliki fungsi yang cukup banyak antara lain 

menghasilkan sitokin untuk mengaktifkan sel limfosit B dalam pembentukan antibodi, untuk 

mengaktifkan makrofag, untuk proses peradangan/inflamasi dan berperan dalam 

pembentukan sel limfosit T sitotoksik 

 

Sel limfosit T sitotoksik mengekspresikan molekul CD8+ pada permukaan selnya yang 

juga berperan sebagai penanda sel (Gambar 4.9). Molekul CD8+ juga aktif dalam proses 

pengenalan antigen. Fungsi dari sel limfosit T sitotoksik yaitu  sebagai pembunuh sel yang 

terinfeksi, membunuh sel-sel tumor dan sel-sel pada jaringan transplantasi. Sel T sitotoksik 

membunuh sel terinfeksi yaitu  dengan memakai  beberapa enzim, yaitu enzim perforin 

yang bersifat merusak sel, granzime yang menginduksi apoptosis sel dan granulisin yang 

bersifat seperti “pisau”, merobek membran sel dan menghancurkannya. Aspek penting sel T 

dari sistem kekebalan yaitu  untuk mengenali sel inang yang terinfeksi oleh virus, bakteri 

intraseluler atau parasit intraseluler lainnya. Sel T telah mengembangkan mekanisme elegan 

yang mengenali antigen asing bersama dengan antigen diri sebagai molekul kompleks. 

Persyaratan bahwa sel T mengenali struktur diri dan antigen asing membuat kebutuhan sel-

sel ini untuk mempertahankan toleransi diri sangat penting 

 

Respon humoral ada  produksi antibodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B (sel 

plasma). Antibodi sendiri terdiri dari 5 kelas, yaitu IgA (Immunoglobulin A), IgG, IgM, IgD dan 

IgE. Masing-masing memiliki struktur molekul yang khas. Seperti yang telah dinyatakan, sel B 

dapat mengenali antigen melalui pengenalan langsung antigen melalui BCR mereka, tanpa 

perlu proses sebelumnya atau presentasi melalui reseptor - sehingga mereka yaitu  kunci 

untuk mengidentifikasi patogen ekstraseluler (misalnya bakteri dalam getah bening). Setelah 

diaktifkan, sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu mengeluarkan molekul 

antibodi ke dalam sirkulasi (molekul kecil yang sesuai dengan spesifisitas individu dari sel 

 

induk) yang kemudian dapat menemukan target mereka di tempat lain di dalam tubuh. 

Setelah terikat pada target, molekul antibodi dapat mengaktifkan jalur klasik sistem 

komplemen, dengan demikian mengarahkannya untuk menetralisir targetnya dengan sangat 

spesifik. Mengikat antibodi juga meningkatkan fagositosis. Antibodi mampu mengeliminasi 

patogen dengan beberapa cara, yaitu netralisasi, opsonisasi dan bekerjasama dengan 

komplemen (Gambar 4.10) 

 

Netralisasi mengeliminasi patogen dengan cara pencegahan antigen oleh antibodi yang 

berikatan dengan reseptor pada sel target. Sedangkan pada opsonisasi, antibodi akan 

membantu proses fagositosis patogen. Antibodi akan bekerja sama dengan komplemen 

untuk menghancurkan patogen dengan cara merusak sel patogen dan hal ini akan lebih 

mengefektifkan fagositosis patogen. Ketiga cara ini dilakukan oleh antibodi untuk merusak 

patogen dan dapat menghilangkan patogen dari tubuh 

Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral yaitu  limfosit B atau sel B. Humor 

berarti cairan tubuh. Sel B berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Pada unggas, sel 

yang disebut Bursal cell atau sel B akan berdiferensiasi menjadi sel B yang matang dalam alat 

yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Pada manusia diferensiasi ini  

terjadi dalam sumsum tulang 

 

Sel B yang dirangsang oleh benda asing akan berproliferas, berdiferensiasi dan 

berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas dapat 

ditemukan dalam serum. Fungsi utama antibodi ialah pertahanan terhadap infeksi 

ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralkan toksinnya 

Struktur antibodi seperti huruf Y dan memiliki bagian Fab dan Fc. Bagian Fab pada 

antibodi akan berikatan dengan antigen, sedangkan Fc akan berikatan dengan protein 

komplemen (Gambar 4.11) 

 

IgA (Imunoglobulin A) memiliki struktur molekul yang berupa dimerik sedangkan pada 

IgM berstruktur pentamerik. IgG merupakan antibodi yang pertama kali terbentuk pada saat 

infeksi, dan banyak ada  pada darah. Sedangkan IgM merupakan antibodi yang paling 

efektif dalam proses opsonisasi dan aktivasi komplemen. IgM juga banyak ada  pada 

darah. Untuk IgA banyak ada  pada lapisan epitel baik pada saluran pencernaan, 

pernafasan maupun resproduksi. Antibodi ini sangat efektif dalam proses netralisasi. Antibodi 

yang ada  dalam darah dengan titer kecil yaitu  IgE. Antibodi ini diketahui dapat 

menstimulasi sel mast untuk memproduksi mediator kimiawi yang merangsang  reaksi batuk, 

 

 

 

bersin dan muntah. Kelas antibodi yang terakhir, yaitu IgD ada  pada permukaan sel 

limfosit B yang belum matur. Fungsinya belum diketahui dengan jelas, namun pada penelitian 

terlihat adanya peran antibodi ini dalam proses inflamasi (Gambar 4.12) 

 

Respon antibodi terhadap antigen memiliki dinamika. Hal ini terlihat pada saat infeksi 

primer dan sekunder. Infeksi primer yaitu  infeksi patogen yang pertama kali menyerang 

tubuh, sedangkan infeksi sekunder yaitu  infeksi berulang dari patogen yang sama. Pada saat 

infeksi primer, antibodi yang pertama kali muncul yaitu  IgM, kemudian diikuti oleh IgG dan 

IgA. Kemunculan antibodi ini cukup lama, yaitu dalam jangka waktu berhari-hari bahkan 

berminggu-minggu dari awal infeksi. Pada saat terjadi infeksi sekunder, respon antibodi yang 

dihasilkan akan lebih cepat dan titernya juga lebih tinggi (Gambar 4.13) 

 

1. Organ dan Sistem Limfatik 

 

a.  Organ limfatik 

Sejumlah organ limfoid dan jaringan yang morfologis dan fungsional berlainan berperan 

dalam respons imun. Organ limfoid ini  dapat dibagi menjadi organ primer dan sekunder. 

Timus dan sumsum tulang yaitu  organ primer yang merupakan organ limfoid tempat 

pematangan limfosit.  

 

b.  Organ limfoid primer 

Organ limfoid primer atau sentral terdiri atas sumsum tulang dan timus. Sumsum tulang 

merupakan jaringan kompleks tempat hematopoiesis dan depot lemak. Lemak merupakan 

50% atau lebih dari komprtemen rongga sumsum tulang. Organ limfoid primer diperlukan 

untuk pematangan, diferensiasi dan proliferas sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang 

dapat mengenal antigen. sebab  itu organ ini  berisikan limfosit dalam berbagai fase 

diferensiasi. Sel hematopoietik yang diproduksi di sumsum tulang menembus dinding 

pembuluh darah dan masuk ke dalam sirkulasi dan didistribusikan ke berbagai bagian tubuh. 

Sumsum Tulang merupakan tempat pembentukan dan pematangan limfosit B dan tempat 

pembentukan Limfosit Tsedangkan timus merupakan tempat pematangan limfost T.  

 

c.  Organ limfoid sekunder 

Organ Limfoid Sekunder terdiri dari limpa dan kelenjar limfe disebut juga organ sistemik 

sebab  memberi respon terhadap antigen yang ada dalam sirkulasi darah dan limfe yang 

berasal dari seluruh tubuh. Dan Sistem Mukosa (Malt) Jaringan limfoid yang ada  pada 

 

 

 

permukaan yang melapisi saluran cerna (Galt) dan saluran napas (Balt). Mekanisme utama 

yaitu  melalui s Ig A. Pada saluran cerna ada  sebagai Peyers Patches. Disamping sistem 

Malt, sejumlah besar limfosit ada  dalam Jaringan Ikat Lamina Propria (Lamina Propria 

Lymphocyte, LPL) Dan Dalam Lapisan Epitel (Intra-Epitel). Limpa dan kelenjar getah bening 

(KGB) merupakan organ limfoid sekunder yang teroganisasi tinggi. Yang akhir ditemukan 

sepanjang sistem pembuluh limfe. Jaringan limfoid yang kurang terorganisasi secara kolektif 

disebut mucosa-associated lymphoid tissue (MALT) yang ditemukan di berbagai tempat di 

tubuh. MALT meliputi jaringan limfoid ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa di 

berbagai lokasi, seperti skin-associated lymphoid tissue (SALT) di kulit, bronchus-associated 

lymphoid tissue (BALT) di bronkus, gut-associated lymphoid tissue (GALT) di saluran cerna yang 

meliputi Plak Peyer di usus kecil, apendiks, berbagai folikel limfoid dalam lamina propria usus, 

mukosa hidung, tonsil, mame, serviks uterus, membran mukosa saluran napas atas, bronkus 

dan saluran kemih. Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel darah mempresentasikan 

antigen yang ditangkapnya di bagian lain tubuh ke sel T yang memacunya untuk proliferasi 

dan diferensiasi limfosit.  

 

d.  Limpa 

Seperti halnya dengan kelenjar getah bening, limpa terdiri atas zona sel T atau senter 

germinal dan zona sel B atau zona folikel. Arteriol berakhir dalam sinusoid vaskuler yang 

mengandung sejumlah eritrosit, makrofag, sel dendritik, limfosit dan sel plasma. Antigen 

dibawa antigen pressenting cell (APC) masuk ke dalam limpa melalui sinusoid vaskuler. Limpa 

merukan tempat respon imun utama yang merupakan saringan terhadap antigen asal darah. 

Mikroba dalam darah dibersihkan makrofag dalam limpa. Limpa merukan tempat utama 

fagosit memakan mikroba yang diikat antibodi (opsonisasi). Individu tanpa limpa akan menjadi 

rentan terhadap infeksi bakteri berkapsul seperti pneumokok dan meningokok, oleh sebab  

mikroba ini  biasanya hanya disingkirkan melalui opsonisasi dan fungsi fagositosis akan 

terganggu bila limpa tidak ada.  

 

e.  Kelenjar getah bening 

Kelenjar getah bening (KGB) yaitu  agegat nodular jaringan limfoid yang terletak 

sepanjang jalur limfe di seluruh tubuh. Sel dendritik membawa antigen mikroba dari epitel da 

mengantarkannya ke kelenjar getah bening yang akhirnya dikonsentrasikan di KGB. Dalam 

KGB ditemukan peningakatan limfosit berupa nodus tempat proliferasi limfosit sebagai 

respons terhadap antigen.  

 


 

f.  Skin-Associated Lymphoid Tissue 

Skin-Associated Lymphoid Tissue (SALT) merupakan alat tubuh terluas yang berperan 

dalam sawar fisik terhadap lingkungan. Kulit juga berpartisipasi dalam pertahanan pejamu, 

dalam reaksi imun dan inflamasi lokal. Banyak antigen asing masuk tubuh melalui kulit dan 

banyak respon imun sudah diawali di kulit.  

Respon imun memori pada respon imun yaitu  respon imun spesifik yang tetap 

terbentuk setelah beberapa waktu terkena infeksi. Contohnya ada  pada proses 

imunisasi. Dalam proses imunisasi, respon memori bekerja sehingga ada  respon imun 

spesifik yang cukup adekuat untuk melawan patogen tertentu. Respon memori ada  pada 

sel limosit B dan sel T. Sel limfosit B memori memiliki penanda CD27 yang tidak dimiliki oleh 

sel limfosit B lainnya. Sel B memori ini banyak ada  pada limpa dan kelenjar getah bening. 

Peranan sel B memori ini ada pada respon imun terhadap infeksi sekunder. Dimana responnya 

lebih cepat dengan titer yang lebih tinggi. Daya ikat (afinitas) antibodi dari sel B memori 

terhadap antigen juga lebih tinggi dibandingkan dengan antibodi dari sel B naïve (sel B 

umumnya). Pada sel limfosit T, kelompok sel memori memiliki molekul permukaan CD44, 

CD45RO dan CD45RA. Sel T memori ini juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan sel T 

naïve, yaitu jumlahnya yang relatif persisten seumur hidup. Sehingga respon terhadap infeksi 

sekunder dan seterusnya relatif lebih cepat, dan berakibat patogen cepat tereliminasi dari 

tubuh.  

 

2. Sitokin dan Kemokin 

Sitokin membentuk keluarga protein penting yang berfungsi sebagai mediator imun dan 

memiliki peran penting selama respons imun - sitokin dapat berfungsi untuk menstimulasi 

atau menghambat diferensiasi, proliferasi, atau aktivitas sel-sel imun. Subset sitokin, kemokin, 

memainkan peran penting dalam memandu sel-sel kekebalan tubuh ke tempat-tempat infeksi 

dengan membentuk 'jejak' kimiawi 


Ringkasan 

 

Jenis respon imun adaptif atau spesifik ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu baru 

akan terbentuk setelah adanya stimulasi antigen/patogen, atau dengan kata lain setelah 

terjadinya infeksi. Oleh sebab  itu, respon imun ini bersifat sangat spesifik terhadap jenis 

patogen yang menginfeksi, contohnya pada kejadian infeksi virus polio di dalam tubuh. Maka 

respon imun spesifik yang terbentuk akan bersifat spesifik terhadap virus polio saja, tidak 

dapat bekerja untuk patogen yang lain. 

Selain bersifat spesifik, respon imun ini juga dapat bertahan lama di dalam tubuh, 

bahkan dapat menetap seumur hidup. Prinsip inilah yang digunakan dalam proses vaksinasi. 

Komponen respon imun ini terdiri dari sel-sel limfosit T, baik limfosit T helper dan 

sitotoksik, juga antibodi yang sering sering disebut respon imun humoral. Antibodi terdiri dari 

beberapa kelas yaitu IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE yang masing- masing memiliki kekhasan 

struktur dan fungsi. Antibodi memiliki dinamika kerja yang khusus untuk kejadian infeksi 

primer dan sekunder. 

Respon imun memori merupakan kemampuan khas yang dimiliki oleh respon imun 

spesifik, sehingga tubuh dapat lebih cepat bereaksi dalam mengeliminasi patogen dari tubuh. 

Respon imun memori ada  pada sel T dan antibodi. 

Sistem imun bawaan dan adaptif sering digambarkan sebagai kontras, lengan yang 

terpisah dari respons inang; Namun, mereka biasanya bertindak bersama-sama, dengan 

respon bawaan yang mewakili garis pertahanan pertama dan dengan respons adaptif menjadi 

menonjol setelah beberapa hari, sebab  sel T dan B spesifik antigen telah mengalami ekspansi 

klon. Komponen sistem bawaan berkontribusi pada aktivasi sel antigen-spesifik. Selain itu, sel-

sel antigen spesifik menguatkan respons mereka dengan merekrut mekanisme efektor 

bawaan untuk menghasilkan kontrol lengkap mikroba penyerang. Jadi, sementara respon 

imun bawaan dan adaptif pada dasarnya berbeda dalam mekanisme aksi mereka, sinergi di 

antara mereka sangat penting untuk respon imun yang utuh dan efektif sepenuhnya. 

 

 

Glosarium 

 

Antibodi (Ab) : Suatu protein yang dihasilkan sebagai akibat interaksi dengan suatu 

antigen. Protein ini mampu bergabung dengan antigen yang 

menstimulasi produksinya.  

Antigen (Ag) : Suatu zat yang dapat bereaksi dengan antibodi. 

Imunodefisiensi : yaitu  istilah umum yang merujuk pada suatu kondisi di mana 

kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit dan infeksi 

mengalami gangguan atau melemah. 

Endotoksin : Toksin bakteri yang dilepaskan dari sel-sel yang rusak. 

Histokompatibilitas : Memiliki antigen transplantasi yang sama. 

Imunitas adaptif : Proteksi yang diperoleh dengan memasukkan antigen secara 

sengaja ke dalam suatu pejamu yang responsif. Imunitas aktif 

bersifat spesifik dan diperantarai oleh antibodi atau sel limfoid atau 

keduanya. 

Imunitas Bawaan : Resistansi nonspesifik yang tidak didapat melaui kontak dengan 

suatu antigen. Imunitas ini  melalui sawar kulit dan selaput 

lendir terhadap agen-agen infeksius dan berbagai faktor imunologi 

nonspesifik , dan bervariasi sesuai dengan usia dan aktivitas 

hormonal dan metabolik. 

Inflamasi : reaksi tubuh thd mikroorganisme dan benda asing yang ditandai 

oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh. 

Interferon : Sel mononuklear berdiameter 7-12 µm yang mengandung nukleus 

dengan kromatin padat dan lingkaran kecil sitoplasma. Limfosit 

meliputi sel T dan B, yang mempunyai peran primer pada imunitas. 

Kemokin : Protein dengan berat molekul rendah yang merangsang gerakan 

leukosit. 

Komplemen : Suatu set protein plasma yang merupakan mediator primer reaksi-

reaksi antigen-antibodi. 

Makrofag : Sel mononuklear fagositik yang berasal dari monosit sumsum 

tulang dan ditemukan dalam jaringan serta tempat peradangan. 

Makrofag berperan sebagai pembantu dalam imunitas, terutama 

sebagai sel penyaji antigen (antigen presenting cell, APC) 

Monosit : Sel darah fagositik dalam sirkulasi yang akan menjadi makrofag 

jaringan. 

 

 

Pus : Pus (nanah) yaitu  suatu cairan hasil proses peradangan yang 

terbentuk dari sel-sel leukosit (Levinson, 2004). Pus merupakan 

suatu campuran neutrofil dan bakteri (yang hidup, dalam proses 

mati, dan yang mati), debris seluler, dan gelembung minyak. 

Respon imun : Terjadinya resistensi (imunitas) terhadap zat asing misalnya agen 

infeksius. Respons imun dapat diperantarai antibodi (humoral), 

diperantarai sel (selular), atau keduanya.  

Sebum : Minyak yang dihasilkan oleh sebaceous glands atau kelenjar minyak 

yang ada  pada seluruh tubuh kita, kecuali di telapak tangan 

dan kaki kita. 

Sel B (limfosit B) : Dalam artian sempit, suatu sel yang berasal dari bursa pada spesies 

burung dan, dengan memakai  analogi ini , juga berlaku 

untuk sel yang berasal dari organ yang sama dengan bursa pada 

spesies bukan burung. Sel B yaitu  prekursor sel plasma yang 

menghasilkan antibodi. 

Sel Mast : Sel yang kaya dengan granula berisi berbagai macam enzim, 

Histamin dan berbagai jenis mediator kimia lain yang bertanggung 

jawab terhadap terjadinya inflamasi pada daerah sekitar luka. 

Bahan aktif yang dilepaskannya akan memicu serangkaian proses 

yang memicu  peningkatan permeabilitas pembuluh darah 

sehingga sel monosit bisa dengan mudah bermigrasi kedalam 

jaringan yang luka. 

Sel T Sitotoksik : Sel-sel T yang dapat membunuh sel lain, misal, sel-sel yang 

terinfeksi patogen intraseluler. 

Trombosit : Fragmen sitoplasma megakariosit yang tidak berinti dan terbentuk 

di sumsum tulang. Trombosit matang berukuran 2-4 µm, berbentuk 

cakram bikonveks dengan volume 5-8 fl. Trombosit setelah keluar 

dari sumsum tulang, sekitar 20-30% trombosit mengalami 

sekuestrasi di limpa. 

 

 

 

 

 

UJI IMMUNOASSAY 

 

 

ita bisa hidup sehat sebab  tubuh mempunyai sistem imun. Sistem imun dapat 

mengenali antigen asing di sekitar dalam bentuk mikroorganisme seperti bakteri, 

virus, jamur maupun parasit sehingga jika antigen asing ini  masuk ke dalam 

tubuh maka tubuh akan berespon baik secara humoral melalui antibodi maupun sitokin yang 

lain atau secara seluler melalui sel-sei imun. 

Imunitas yaitu  resistensi terhadap penyakit utama infeksi. Gabungan sel, molekul dan 

jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. Sistem imun 

diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat 

ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Berbagai pemeriksaan komponen 

sistem imun telah dapat dikerjakan dan diperlukan dalam subklasifikasi penyakit dengan 

komplikasi yang bervariasi. 

Tes laboratorium berbeda dalam sensitivitas dan spesifitas. Untuk memperoleh hasil 

optimal, setiap hasil asai di atas cut off point dianggap positif tidak ada penderita dengan 

penyakit yang menunjukkan hasil tes negatif (hasil negatif semu) dan sedikit mungkin individu 

tanpa penyakit yang menunjukkan tes positif (positif semu). Sensitivitas suatu tes yaitu  

proporsi penderita dengan penyakit yang menunjukkan tes positif. Hasil negatif dapat 

digunakan untuk menyingkirkan penyakit relevan. Sedangkan spesifitas tes yaitu  proporsi 

individu tanpa penyakit tertentu dengan tes negatif. Tes positif hanya terbatas pada penyakit 

yang dipermasalahkan dan tes dengan spesifitas tinggi, seperti AMA digunakan untuk 

memastikan diagnosis klinis. 


Perkembangan Immunoassay 

 


 

 

Banyak teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium riset dan 

klinis berdasarkan antibodi. Di samping itu banyak teknik modern biologi molekular telah 

memberikan banyak informasi berharga mengenai sistem imun. Semua metode kuantitatif 

imunokimiawi modern berdasarkan atas antigen murni atau antibodi yang jumlahnya dapat 

diukur dengan molekul indikator. Bila molekul indikator dilabel dengan radioisotop, asai 

disebut RIA. Bila molekul indikator diikat secara kovalen dengan enzim, dengan 

spektrofotometer dapat ditentukan secara kuantitatif kecepatan konversi substrat jernih 

menjadi produk yang berwarna. Asai ini disebut ELISA.  

Oleh sebab  antibodi (monoklonal) sudah dapat dipropduksi terhadap setiap jenis 

makromolekul dan kimiawi kecil, pemeriksaan yang berdasarkan teknik antibodi dapat 

digunakan terhadap setiap molekul dalam larutan atau dalam sel. Antibodi monoklonal yaitu  

antibodi homogen (limfosit B) yang dihasilkan dari antibodi dengan spesifitas klon tunggal. 

Namun, sel B normal tidak tumbuh untuk jangka waktu yang tak terbatas. Jika sel-sel B 

dileburkan dengan sel mieloma melalui hibridisasi sel somatik, dan akhirnya didapatkan sel 

berfusi yang menyekresikan antibodi dengan spesifitas yang diinginkan, akan dihasilkan suatu 

lini sel penghasil antibodi yang tahan lama, dikenal sebagai hibridoma yaitu sel yang dihasilkan 

dengan menyatukan dua sel yang berlainan, dan sel-sel hibrid ini memproduksi antibodi 

monoklonal (Gambar 5.1). Dengan teknik imunofluoresensi yang memakai  antibodi 

monoklonal, jumlah sel B, sel T dan subset sel T, dapat dibedakan satu dari yang lainnya dan 

dihitung di bawah mikroskop fluoresen atau cell sorter 

 

B. DEFINISI 

 

Immunoassay yaitu  suatu cara pemeriksaan metode bioanalitik untuk mengukur 

secara kuantitatif analitik tergantung pada reaksi derajat imunitas atau kadar antibodi dan 

antigen dalam cairan tubuh atau serum seseorang. Immunoassay telah banyak digunakan 

dalam banyak bidang penting dari analisis kesehatan seperti diagnosis penyakit, pemantauan 

obat terapeutik, farmakokinetik klinis dan studi bioekivalensi dalam penemuan obat dan 

industri farmasi. 

Immunoassay memanfaatkan kekhususan pengikatan antibodi-antigen yang ditemukan 

secara alami dalam sistem kekebalan tubuh. Uji Immunoassay dapat digunakan untuk 

mengidentifikasi keberadaan patogen dalam sampel klinis, atau dapat digunakan untuk 

mengukur jumlah biomolekul target. Jika tujuan immunoassay yaitu  untuk mengisolasi 

molekul tertentu maka diperlukan sistem pemisahan. Partikel yang paling umum digunakan 

dalam pengujian ini terbuat dari inti magnetik yang dilapisi dengan bahan yang kompatibel 

secara biologis, dan dimodifikasi secara kimia dengan menempelnya antibodi. Namun, 

sebelum merancang partikel magnetik untuk immunoassay kita harus memutuskan jenis 

immunoassay mana yang paling sesuai dengan tujuan percobaan (Gambar 5.2) 


Gambar 5.2 

Diagram Konfigurasi Pengikatan Immunoassay 

 

Pentingnya dan meluasnya metode immunoassay dalam laboratorium dikaitkan dengan 

kekhususan yang melekat, throughput yang tinggi, dan sensitivitas yang tinggi untuk analisis 

berbagai analit dalam sampel biologis. Baru-baru ini, peningkatan yang nyata dicapai dalam 

bidang pengembangan immunoassay untuk keperluan diagnosa penyakit dengan uji 

laboratorium. Metodologi dasar dan kemajuan terbaru dalam metode immunoassay 

diterapkan dalam berbagai bidang laboratorium telah ditinjau (Roitt, 2008). 

Immunoassay dapat dibagi menjadi 2 kelompok menurut jenisnya, yaitu immunoassay 

tak berlabel dan immunoassay berlabel. Immunoassay tak berlabel terdiri dari beberapa 

teknik (Gambar 5.3), yaitu uji presipitasi, uji aglutinasi, uji hemaglutinasi, lisis imun dan fiksasi 

komplemen, serta uji netralisasi. Sedangkan immunoassay berlabel juga terdiri dari beberapa 

teknik (Gambar 5.4) yaitu asai berlabel fluoresens (Fluorescent Immunoassay atau FIA), asai 

berlabel radioisotop (Radioimmunoassay atau RIA), asai berlabel luminescent (Luminescent 

Immunoassay atau LIA), asai berlabel enzim (Enzyme Immunoassay atau EIA), 

Immunochromatographic Assay atau ICA dan uji imunoperoksidase 

 

C. PRINSIP 

 

Berbagai pemeriksaan komponen sistem imun telah dapat dikerjakan. Pada umumnya, 

biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan ini  masih tinggi. Oleh sebab  itu perlu 

mengetahui dasar teknik pemeriksaan imunologi, agar dapat memilih jenis pemeriksaan yang 

diperlukan. Ada pemeriksaan yang mutlak untuk diagnosis atau pemantauan penyakit. Banyak 

teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium.  

Pemeriksaan immunoassay yaitu  mutlak untuk penderita dengan infeksi berat dan 

berulang. Selanjutnya diperlukan juga untuk mengetahui gamopati monoklonal IgG, IgA atau 

IgM yang membedakan perubahan sementara yang terjadi sebab  luka bakar atau defisiensi 

imun primer, mengukur kadar IgA pada penderita dengan infeksi permukaan mukosa atau IgE 

pada penderita alergi (Baratawidjaja KG, 2013). 

Prinsip dari Immunoassay itu sendiri yaitu  reaksi ikatan spesifik antibodi-antigen 

membentuk kompleks antigen-antibodi. Pada deteksi antigen perlu adanya Antibodi 

(monoklonal ataupun polikonal) sehingga membentuk kompleks Imun (Ag-Ab). Kompleks 

imun dapat diukur secara kualitatif atau kuantitatif. Maka dibutuhkannya uji (test) serologi 

sebagai metode untuk mendeteksi dan mengukur titer antibodi dalam serum darah dengan 

menambahkan antigen spesifiknya. Ada 2 tipe Antibodi yang digunakan dalam immunoassay 

yaitu poliklonal dan monoklonal. 

Antibodi monoklonal merupakan antibodi yang homogen atau mempunyai sifat yang 

spesifik sebab  dapat mengikat 1 epitop antigen dan dapat dibuat dalam jumlah tidak 

terbatas. Antibodi monoklonal dibuat dengan cara penggabungan atau fusi dua jenis sel yaitu 

sel limposit B yang memproduksi antibodi dengan sel kanker (sel mieloma) yang dapat hidup 

dan membelah terus menerus. Sedangkan antibodi poliklonal yaitu  campuran antibodi 

heterogen yang berikatan terhadap berbagai epitop dari antigen sama. Antibodi ini dihasilkan 

oleh klon sel B yang berbeda 

 

D. KOMPONEN PENTING DALAM IMMUNOASSAY 

 

Dalam pemeriksaan uji Immunoassay, menurut Abbas (2010) ada  komponen 

penting yang perlu diperhatikan. Komponen penting ini  meliputi:  

 

1. Spesifitas Antibodi 

Spesifisitas respon imun telah membantu sebagai dasar untuk reaksi serologi, dimana 

spesifisitas antibodi digunakan untuk determinasi antigen secara kualitatif dan kuantitatif. 

Ikatan diantara antigen dan antibodi bersifat spesifik dan tidak mutlak. Hal ini  

diibaratkan seperti “lock and key”, namun terkadang terjadi reaksi silang yaitu antibodi 

 


 

berikatan dengan antigen lain yang memiliki struktur mirip, hal ini terjadi jika kemurnian 

antigen rendah. Antibodi yang sangat spesifik memiliki binding site yang hanya dimiliki oleh 

antigen dengan struktur molekul yang unik. Spesifitas Ag-Ab dipengaruhi oleh spesifitas 

antibodi yang ditambahkan pada sampel dan kemurnian antigen yang tidak terkontaminasi 

dari antigen lain. 

 

2. Valensi Antibodi 

Valensi antibodi yaitu  Jumlah “binding site” yang potensial dari antibodi terhadap 

antigen spesifik. Valensi dari antibodi minimal sebanyak 2 buah. Jadi, sebagian besar antibodi 

yaitu  bivalen/multivalen, akan namun  jika  antibodi ini  digunakan dalam konsentrasi 

yang sangat kecil (dengan pengenceran yang sangat besar), maka antibodi ini  dapat 

bereaksi sebagai komponen monovalen. 

 

3. Aviditas Antibodi 

Aviditas antibodi yaitu  besarnya kemampuan antibodi untuk mengikat antigen. 

Aviditas merupakan refleksi dari afinitas (besarnya daya ikat) dan jumlah binding site (valensi). 

Jadi, antibodi dengan aviditas yang besar akan menunjukkan tendensi untuk mengikat antigen 

yang banyak. 

 

4. Ukuran Kuantitas Reaksi Ag-Ab 

Derajat imunitas, kadar antibodi atau bahan tertentu dalam serum harus dapat diukur 

yang dinyatakan dalam suatu satuan/unit tertentu. Ada beberapa cara penentuan dalam 

mengukur antigen-antibodi, yaitu secara kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk ada atau 

tidaknya suatu bahan baik antibodi atau antigen dalam serum, secara semikuantitatif yang 

dinyatakan dalam bentuk kadar titer antigen atau antibodi pada serum dengan cara 

pengenceran serum yang progresif, dan secara kuantitatif yaitu kadar antibodi ditentukan 

dengan membuat kurva baku standar terlebih dahulu terhadap kekeruhan (OD) dan 

dinyatakan dalam bentuk nilai korelasi. 

 


 

Ringkasan 

 

Banyaknya teknik laboratorium terkait uji Immunoassay yang digunakan secara rutin 

dalam laboratorium klinis. Peningkatan yang nyata dicapai dalam bidang pengembangan 

Immunoassay untuk keperluan diagnosa penyakit dengan diagnosa penunjang dari 

laboratorium. Immunoassay merupakan pemeriksaan metode bioanalitik untuk mengukur 

secara kuantitatif analitik tergantung pada reaksi derajat imunitas atau kadar antibodi dan 

antigen dalam cairan tubuh atau serum seseorang. 

Immunoassay dapat dibagi menjadi 2 kelompok menurut jenisnya, yaitu: 

a. Imunoassay tak berlabel terdiri dari beberapa teknik yaitu uji presipitasi, uji aglutinasi,uji 

hemaglutinasi, lisis imun, fiksasi komplemen, uji netralisasi 

b. Immunoassay berlabel, terdiri dari beberapa teknik yaitu Assay berlabel fluoresens 

(Fluorescent Immunoassay atau FIA), Assay berlabel radioisotop (Radioimmunoassay 

atau RIA), Assay berlabel luminescent (Luminescent Immunoassay atau LIA), Assay 

berlabel enzim (Enzyme Immunoassay atau EIA), Immunochromatographic Assay atau 

ICA, Uji imunoperoksidase. 

 

Prinsip dari Immunoassay yaitu  reaksi ikatan spesifik antibodi-antigen membentuk 

kompleks antigen-antibodi yang bereaksi dengan konsentrasi tepat. Komponen penting dalam 

Immunoassay yang perlu diperhatikan meliputi spesifitas antibodi, valensi antibodi, aviditas 

antibodi, dan ukuran kuantitas reaksi Ag-Ab. 

 

 

 

Jenis Immunoassay Tanpa Label 

 

 

 

Berdasarkan dari jenisnya, ada 2 (dua) metode pemeriksaan uji Immunoassay yang salah 

satunya yaitu  Immunoassay tanpa label. Berdasarkan kenyataan bahwa jika  tubuh 

terpapar antigen maka tubuh membentuk antibodI spesifik terhadap antigen ini . Dalam 

hal ini dibutuhkan metode pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen 

bakteri, virus, jamur atau parasit tertentu dapat dipakai untuk menentukan diagnosis berbagai 

jenis penyakit (Mengko R, 2013). 

Walaupun diagnosis serologi pada penyakit infeksi terutama yang akut seringkali 

terlambat untuk menentukan terapi, namun ada kalanya bagian tubuh yang terkena infeksi 

tidak dapat ditemukan mikroorganisme atau dibiakkan sehingga pada keadaan ini salah satu 

cara untuk menunjang diagnosis yaitu  uji (test) serologi. Uji serologi yaitu  untuk 

menentukan antigen atau adanya antibodi terhadap mikroorganisme pemicu  infeksi. 

Adanya antibodi terhadap mikroorganisme atau komponen mikroorganisme menunjukkan 

seseorang pernah terinfeksi atau pernah divaksinasi dengan mikroorganisme ini  


 

B. UJI PRESIPITASI 

 

Presipitasi yaitu  salah satu metode yang paling sederhana untuk mendeteksi adanya 

reaksi antigen-antibodi, sebab  sebagian besar antigen yaitu  multivalen sehingga memiliki 

kemampuan untuk membentuk agregat jika ditambahkan suatu antibodi yang sesuai. Pada 

prinsipnya, reaksi presipitasi dapat terjadi bila antibodi (biasanya IgG atau IgM) bereaksi 

dengan antigen yang larut, menghasilkan suatu agregat yang dapat dilihat secara 

makroskopis. Bila reaksi terjadi dengan bantuan medium/agar, akan terbentuk lengkung/garis 

presipitasi (Mengko, 2013). 

Tes presipitasi dilakukan dengan cara Ouchterlony, insensitif namun  murah dibanding 

dengan immunoassay. Ekstrak antigen relevan ditempatkan di sumur luar dan serum 

penderita di sumur sentral. Setelah beberapa hari, hasil diperiksa untuk presipitasi yang 

dibentuk oleh antibodi dengan antigen dijelaskan pada gambar 5.5 (

Gambar 5.5 Beberapa macam cara pemeriksaan/uji presipitas yang sering dipakai: 

1. Uji presipitasi slide 

2. Uji presipitasi tabung 

3. Uji presipitasi tabung kapiler 

4. Uji presipitasi cincin 

5. Imunoelektroforesis  

 

 

 

 

C. UJI AGLUTINASI 

 

Reaksi atau uji aglutinasi yaitu  reaksi yang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi 

dalam serum melalui ikatan yang terjadi antara antibodi-antigen. Reaksi aglutinasi dilakukan 

untuk antigen yang tidak larut, berbentuk partikel atau antigen yang larut tapi terikat dengan 

partikel atau sel. Reaksi aglutinasi terjadi bila antigen yang berbentuk partikel direaksikan 

dengan antibodi spesifik. Mekanisme terjadinya reaksi aglutinasi terjadi pada antigen binding 

site (M. Radji, 2006). 

Uji Aglutinasi terdiri dari beberapa macam meliputi Uji aglutinasi secara langsung 

(direk), uji aglutinasi secara tidak langsung (indirek), uji hambatan aglutinasi (inhibisi) dan 

Hemaglutinasi. Uji aglutinasi secara langsung dilakukan untuk menentukan antigen seluler 

yang ada  pada sel darah merah, bakteri dan jamur. Uji aglutinasi tidak langsung 

merupakan bentuk modifikasi teknik aglutinasi dengan melibatkan carrier. Jenis carrier yang 

biasa digunakan yaitu  sel darah merah atau partikel lateks. Bila memakai  sel darah 

merah, maka akan disebut dengan uji hemaglutinasi. Uji hemaglutinasi akan menghasilkan 

reaksi hemaglutinasi yang merupakan rekasi antara antigen yang ada  pada permukaan 

sel darah merah dengan antibodi yang komplementer. Beberapa virus antara lain virus 

influenza, mumps dan measles dapat mengaglutinasi sel darah merah meski tanpa melalui 

reaksi antigen antibodi (Mengko, 2013). 

Pengujian berdasarkan aglutinasi merupakan metode klasik untuk penetapan antibodi. 

Menurut Martini (2018) reaksi aglutinasi berlangsung dalam 2 tahap, yaitu  

1. Antibodi dengan salah satu reseptornya bereaksi dengan antigen. 

 Hal ini disebab kan antibodi pada umumnya mempunyai lebih dari satu reseptor. 

2. Antibodi dengan perantaraan reseptornya yang lain. 

 Antibodi bereaksi dengan molekul antigen lain yang mungkin sudah berikatan dengan 

antibodi sehingga dengan demikian terbentuk gumpalan kompleks antigen-antibodi 

(Gambar 5.6). Reaksi aglutinasi lebih mudah terjadi dengan antibodi kelas IgM yang 

berbentuk pentamer daripada dengan IgG atau IgA yang mempunyai reseptor lebih 

sedikit (Gambar 5.7). 

 

 

 

Pada permukaan sel (bakteri atau sel lainnya) mempunyai beberapa macam 

antigen/epitop. Suatu antigen atau epitop yang serupa atau hampir serupa dapat ditemukan 

pada sel atau antigen yang berlainan. Serum yang mengandung antibodi terhadap reaksi 

aglutinasi dengan suatu jenis kuman, namun memberikan reaksi aglutinasi dengan kuman 

lainnya disebut aglutinasi silang. Antiserum yang ditimbulkan sebagai reaksi terhadap suatu 

antigen, mungkin saja dapat bereaksi dengan antigen lain yang mempunyai satu atau lebih 

determinan antigenik yang serupa dengan antigen pertama. Determinan antigenik yaitu  

bagian spesifik makromolekul dari antigen yang dapat berikatan dengan antibodi (Gambar 

5.8). Reaksi silang mempersulit diagnosis kuman dengan cara aglutinasi sehingga dalam 

pengembangan reagen diperlukan antibodi tunggal (monoklonal) terhadap suatu antigen 

spesifik pada suatu jenis kuman tertentu sehingga kuman dapat dibeda-bedakan dengan baik. 

 

 

 

Keterangan: 

1. Ag1 dengan dua determinan identik yang dapat bereaksi dengan antibodi 

2. Ag2 mempunyai satu determinan antigen yang bereaksi dengan antibodi  

3. Ag3 mempunyai determinan yang serupa walaupun tidak sama dengan Ag1, dapat 

bereaksi dengan antibodi ini  walau ikatannya lebih lemah dari reaksi yang 

pertama. Hal ini yang disebut reaksi silang.  

4. Ag4 sama sekali tidak mempunyai determinan antigenik yang serupa dengan Ag1 

sehingga tidak dapat bereaksi dengan antibodi ini .  

 

 

Hal di atas inilah yang menandakan spesifisitas suatu antiserum. Interaksi antigen-

antibodi dapat digunakan sebagai dasar pemeriksaan laboratorium, baik untuk menilai respon 

imunologik seluler dan humoral maupun untuk menunjang diagnosis penyakit nonimunologik. 

Salah satu syarat untuk reaksi untuk reaksi aglutinasi yaitu  bahwa antigen harus berupa sel 

atau partikel, sehingga jika direaksikan dengan antibodi spesifik terjadi gumpalan dari partikel 

atau sel ini . Cara ini disebut aglutinasi direk (Gambar 5.9) seperti yang dipakai pada 

reaksi widal, Weil felix, penetapan golongan darah dan lain-lain 

 

Keterangan:  

1. Hasil positif bila terjadi aglutinasi (gumpalan) 

2. Hasil negatif bila tidak ada aglutinasi (gumpalan)  

 

 Pada teknik tertentu, cara aglutinasi dapat juga dipakai untuk menentukan antibodi 

terhadap antigen yang larut, dengan terlebih dahulu melekatkan antigen ini pada suatu 

partikel yang disebut carrier. Beberapa jenis partikel yang dapat digunakan diantaranya 

eritrosit, lateks, bentonit, carbon (Charcoal). Cara ini disebut aglutinasi indirek atau pasif 

(Gambar 5.10) 

Keterangan: 

1. Hasil positif bila terjadi aglutinasi  

2. Hasil negatif bila tidak ada aglutinasi  

 

Selain untuk mendeteksi antibodi, cara aglutinasi ini dapat digunakan untuk 

menetapkan antigen, yaitu dengan melekatkan antibodi spesifik pada carrier, kemudian 

mereaksikannya dengan antigen terlarut. Cara ini disebut aglutinasi pasif terbalik. Suatu 

modifikasi cara aglutinasi untuk mendeteksi antigen yang larut yaitu  test hambatan 

aglutinasi (agglutination inhibition). Pada cara ini serum atau cairan yang akan diperiksa 

direaksikan lebih dahulu dengan antibodi spesifik. Selanjutnya baru direaksikan dengan 

antigen yang dilekatkan pada suatu aprtikel . Antigen yang ada dalam serum atau cairan yang 

diperiksa akan mengikat antibodi spesifik, sehingga antibodi tidak mampu lagi bereaksi 

dengan antigen pada permukaan partikel hingga terjadi hambatan aglutinasi (hasil positif). 

jika  dalam serum atau cairan yang diperiksa tidak ada  antigen, maka antibodi yang 

bebas dapat bereaksi dengan antigen yang melekat pada permukaan partikel dan 

menimbulkan aglutinasi (hasil negatif) 

Keterangan: 

1. Hasil positif bila tidak ada aglutinasi 

2. Hasil negatif bila terjadi aglutinasi  

 

Pada reaksi hemaglutinasi (HA), HA merupakan cara untuk menemukan antibodi atas 

dasar aglutinasi sel darah merah. Sebagai antigen dapat digunakan sel darah merah atau 

antigen yang mensensitisasi sel darah merah. Uji Coombs direk merupakan cara untuk 

menemukan antibodi yang dapat mengaglutinasikan sel darah merah dengan efektif. Bila 

antibodi dicampur dengan sel darah merah, aglutinasi terjadi segera dijelaskan pada gambar 

5.12. Sedangkan uji Coombs indirek merupakan cara untuk menemukan antibodi yang tidak 

begitu efektif mengaglutinasikan sel darah merah. Mungkin pada permukaan sel ini  

tidak tersedia antigen dengan cukup yang dapat mengikat antibodi. Cara ini dapat pula 

dipergunakan untuk mencari antigen yang bukan berasal dari sel darah merah. Pada 

hemaglutinasi direk, antigen merupakan komponen intrinsik sel darah merah. IgM dalam 

cairan biologis akan diikat oleh antigen spesifik pada sel darah merah meskipun ada muatan 

negative pada sel darah merah oleh sebab  jarak potensial maksimal antara dua tempat ikatan 

antigen tidak dicegah (Gambar 5.13) 

 

Pada reaksi aglutinasi diperlukan perbandingan yang sesuai antara antigen dengan 

antibodi agar terjadi kompleks antigen-antibodi yang besar dan terlihat sebagai aglutinasi. Bila 

antigen berlebihan disebut dengan prozone yang memperlihatkan hasil anyaman menjadi 

negatif sebab  kompleks yang terbentuk kecil. Demikian juga bila antibodi berlebih maka akan 

timbul reaksi postzone yang memperlihatkan reaksi negatif (kompleks kecil) (Gambar 5.14) 


 

Keterangan: 

1. Reaksi postzone: perbandingan jumlah antibodi terlalu banyak dibanding antigen 

memicu  komplek kecil dan hasil terlihat negative 

2. Konsentrasi seimbang (equivalent zone): perbandingan jumlah antibodi seimbang 

dengan antigen memicu  komplek besar dan hasil terlihat positif 

3. Reaksi prozone: perbandingan jumlah antigen terlalu banyak dibanding antibodi 

memicu  komplek kecil dan hasil terlihat negatif 

 

D. FIKSASI KOMPLEMEN 

 

Uji fiksasi komplemen atau Complement Fixation Test (CFT) merupakan cara untuk 

menemukan antigen atau antibodi yang hanya bereaksi bila ada komplemen sehingga terjadi 

aktivasi sistem komplemen.  Pengujian ini didasarkan atas reaksi yang terdiri atas 2 (dua) 

tahap, yaitu tahap pertama dimana sejumlah tertentu komplemen oleh suatu kompleks 

antigen-antibodi, dan tahap kedua dimana komplemen yang tersisa (bila ada) menghancurkan 

eritrosit yang telah dilapisi hemolisin. Prinsip dasar pemeriksaan ini yaitu  bila antigen 

dicampur dengan serum penderita yang mengandung antibodi yang homolog, dan 

komplemen, maka komplemen akan diikat oleh kompleks antigen-antibodi ini  sehingga 

tidak ada sisa komplemen yang bebas. Bila kemudian ditambahkan sel darah merah yang telah 

  

 

disensitisasi dengan sel darah merah lain tidak terjadi hemolisis, maka tes dikatakan positif. 

Sebaliknya bila dalam serum tidak ada  antibodi yang sesuai (homolog) dengan antigen, 

maka tidak akan terjadi ikatan antigen-antibodi, sehingga komplemen dalam keadaan bebas. 

Bila selanjutnya ditambahkan sel darah merah yang tersensitisasi, maka sel darah merah 

ini  dilisiskan oleh komplemen dan tes dikatakan negatif.  

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, semua reaktan yang diperlukan untuk uji fiksasi 

komplemen harus disesuaikan antara satu dengan yang lain dan berada dalam jumlah atau 

titer yang optimal. Oleh sebab  itu sebelum melaksanakan pemeriksaan pada sampel 

penderita, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan untuk menstandarisasi titer hemolisin 

dan titer komplemen yang dipakai pada sistem uji ini. Titer hemolisin ditentukan oleh 

pengenceran tertinggi hemolisin yang masih dapat melisiskan eritrosit berkonsentrasi 2% 

secara lengkap, bila ada komplemen. Titer hemolisin ini disebut 1 unit dan untuk pemeriksaan 

sampel penderita dipakai 2 unit. Oleh sebab  uji fiksasi komplemen melibatkan suatu sistem 

yang terdiri atas berbagai reaktan, disamping titrasi hemolisin dan komplemen diatas, setiap 

reaktan harus diuji terhadap ada tidaknya faktor penghambat atau faktor yang meningkatkan 

aktivasikomplemen (antikomplemen atau prokomplemen) (Gambar 5.15) 

 

Pada saat terjadi infeksi, protein pertama dalam rangkaian protein komplemen 

diaktifkan, selanjutnya memicu serangkaian aktivasi protein komplemen berikutnya (jalur 

berantai atau cascade). Antibodi yang mengikat komplemen akan diaktivasi melalui “jalur 

klasik”. Efek dari fiksasi komplemen menurut Roitt (2008), yaitu:  

1. Opsonisasi 

 Partikel antigen diselubungi oleh antibodi atau komplemen yang dapat meningkatkan 

pertautan makrofag ke mikroorganisme sehingga memfasilitasi dan meningkatkan 

fagositosis. 

2. Sitolisis 

 Kombinasi dari faktor-faktor komplemen dapat menghancurkan lapisan polisakarida 

dinding sel patogen, sehingga berbentuk lubang-lubang akibat ruptur pada membran 

sel, yang memicu  lisozim dapat masuk, sitoplasma keluar, dan sel patogen akan 

hancur (lisis).  

3. Inflamasi 

 Produk komplemen berkontribusi dalam inflasi melalui aktivasi sel mast, basofil dan 

trombosit darah. 

 


 

Ringkasan 

 

Dibutuhkan uji serologi untuk menunjang diagnosis penyakit infeksi sebab  uji serologi 

merupakan reaksi untuk menentukan antigen atau adanya antibodi terhadap mikroorganisme 

pemicu  infeksi. Adanya antibodi terhadap mikroorganisme atau komponen 

mikroorganisme menunjukkan seseorang pernah terinfeksi atau pernah divaksinasi dengan 

mikroorganisme ini . Uji Immunoassay tanpa label ini terdiri dari uji presipitasi, uji 

aglutinasi, dan fiksasi komplemen. 

Presipitasi yaitu  salah satu metode yang paling sederhana untuk mendeteksi adanya 

reaksi antigen-antibodi yang dapat terjadi bila antibodi (biasanya IgG atau IgM) bereaksi 

dengan antigen yang larut, menghasilkan suatu agregat yang dapat dilihat secara 

makroskopis. Beberapa macam cara pemeriksaan/uji presipitas yang sering dipakai terdiri dari 

uji presipitasi slide, tabung, tabung kapiler, cincin, dan imunoelektoforesis. 

Reaksi atau uji aglutinasi yaitu  reaksi yang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi 

dalam serum melalui ikatan yang terjadi antara antibodi-antigen. Reaksi aglutinasi dilakukan 

untuk antigen yang tidak larut, berbentuk partikel atau antigen yang larut tapi terikat dengan 

partikel atau sel. Uji Aglutinasi terdiri dari beberapa macam meliputi Uji aglutinasi secara 

langsung (direk), uji aglutinasi secara tidak langsung (indirek), uji hambatan aglutinasi (inhibisi) 

dan Hemaglutinasi. 

Uji fiksasi komplemen atau Complement Fixation Test (CFT) merupakan cara untuk 

menemukan antigen atau antibodi yang hanya bereaksi bila ada komplemen sehingga terjadi 

aktivasi sistem komplemen. Pada saat terjadi infeksi, protein pertama dalam rangkaian 

protein komplemen diaktifkan, selanjutnya memicu serangkaian aktivasi protein komplemen 

berikutnya (jalur berantai atau cascade). Antibodi yang mengikat komplemen akan diaktivasi 

melalui “jalur klasik”. Efek dari fiksasi komplemen yaitu opsonisasi, sitolisis, dan inflamasi. 

 


Jenis Immunoassay Dengan Label 

 


Metode yang kedua berdasarkan jenisnya pada pemeriksaan uji Immunoassay yaitu 

Immunoassay dengan label. Berdasarkan kenyataan klinis, jika  tubuh terpapar antigen 

maka tubuh membentuk antibodI spesifik terhadap antigen ini . Dalam hal ini 

dibutuhkan metode pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen 

bakteri, virus, jamur atau parasit tertentu dapat dipakai untuk menentukan diagnosis berbagai 

jenis penyakit. 

Banyak teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium. Pada 

pembahasan topik sebelumnya yaitu immunoassay tidak berlabel seperti aglutinasi, 

presipitasi dan fiksasi komplemen. Pengujian berdasarkan aglutinasi merupakan metode 

klasik (konvensional) untuk penetapan antibodi atau antigen. Banyaknya tempat pengikatan 

pada antibodi dan antigen memicu  terbentuknya kompleks besar saat  antibodi dan 

antigen bereaksi pada konsentrasi yang tepat. Sedangkan pengembangan teknik pemeriksaan 

dalam bidang imunoserologi dengan label ini memakai  metode yang lebih canggih 


 

B. ASAI BERLABEL FLUORESENS (FLUORESCENT IMMUNOASSAY ATAU FIA) 

 

Imunoasai Fluoresens yaitu  tipe immunoassay yang berbeda. Metode ini 

memakai  teknik biokimia yang digunakan untuk mendeteksi pengikatan deteksi antibodi 

dan molekul analit. Keuntungan dari sistem pendeteksian Fluorescent telah dikenal selama 

bertahun-tahun. Metode ini termasuk deteksi sensitivitas yang lebih tinggi dari analit, pereaksi 

yang disederhanakan dan desain pengujian yang lebih sederhana. Beberapa penelitian telah 

dilakukan selama beberapa tahun terakhir yang memungkinkan penerapan sistem 

immunoassay berbasis fluorescent di titik perawatan.  

Immunoassay berbasis fluoresen modern digunakan sebagai pendeteksi senyawa 

fluoresen yang menyerap cahaya atau energi (energi eksitasi) pada panjang gelombang 

tertentu dan kemudian memancarkan cahaya atau energi pada panjang gelombang yang 

berbeda. Perbedaan antara panjang gelombang cahaya eksitasi dan cahaya emisi disebut 

pergeseran Stokes. Semakin besar pergeseran atau perbedaan dalam panjang gelombang, 

semakin sedikit gangguan pada senyawa yang memiliki cahaya eksitasi yang terdeteksi sebagai 

bagian dari cahaya emisi. Baru-baru ini sejumlah perbaikan teknis telah terjadi yang 

 

 

memungkinkan penerapan sistem immunoassay sensitivitas tinggi. Hal ini termasuk 

ketersediaan sumber cahaya dengan biaya rendah dengan panjang gelombang yang sempit, 

fluorofor yang lebih baru dan lebih stabil yang memiliki pergeseran Stokes yang sangat luas, 

detektor cahaya dengan keadaan padat yang stabil, dan mikroprosesor untuk memproses dan 

menganalisis data dari setiap pengujian. saat  sistem pendeteksian fluoresen dikaitkan 

dengan uji aliran lateral dan dicocokkan dengan penganalisa kuat, hasil yang diperoleh yaitu  

peningkatan kinerja pengujian. Peluang untuk pengujian berjalan seiring dengan penghapusan 

salah tafsir yang sering dikaitkan dengan tes point-of-care yang dibaca secara visual 

Intensitas fluoresensi yaitu  jumlah foton yang diemisikan per unit waktu (s) per unit 

volume larutan (l) dalam mol atau ekivalensinya dalam Einstein, dimana 1 Einstein = 1 foton 

mol. Intensitas fluoresensi dalam unit volume larutan (medium) yang tereksitasi terjadi dalam 

selang waktu transisi (lifetime). Intensitas fluoresensi ini  merupakan hasil emisi de-

eksitasi sehingga lifetime pada S1 akan berpengaruh terhadap besarnya intensitas fluoresensi 

Dengan memakai  mikroskop fluoresen dan antibodi yang dilabel dengan molekul 

fluoresen, potongan jaringan dapat diperiksa untuk sel yang mengekspresikan antigen 

spesifik. Teknik direk dan indirek dapat mengevaluasi secara kualitatif dan kuantitatif berbagai 

sel yang berhubungan dengan molekul pada waktu yang sama (Gambar 5.16).  

Ada beberapa macam cara FIA (Fluorescent Immunoassay) menurut Baratawidjaja KG 

(2013) yaitu: 

1. Direk (langsung) 

 Cara langsung digunakan untuk menemukan antigen, immunoglobulin atau komplemen, 

yang melekat pada sel jaringan penderita. 

2. Indirek (tidak langsung) 

 Cara indirek lebih banyak digunakan untuk menemukan antibodi. Pada cara ini, serum 

penderita direaksikan dengan sel atau jaringan, kemudian ditambahkan anti-antibodi 

yang bertanda fluoresen dan diperiksa di bawah mikroskop ultraviolet. Cara ini dapat 

segera memberikan hasil. Kadang ada  fluoresen intrinsik yang berasal dari bahan 

yang diperiksa. 

 

 

C. ASAI BERLABEL RADIOISOTOP (RADIOIMMUNOASSAY ATAU RIA) 

 

1. Sejarah 

Yalow dan Berson mengembangkan teknik radioisotop pertama yang mempelajari 

volume darah dan metabolisme yodium. Mereka kemudian mengadaptasi metode untuk 

mempelajari bagaimana tubuh memakai  hormon, terutama insulin, yang mengatur kadar 

gula dalam darah. Para peneliti membuktikan bahwa Tipe II (onset dewasa) diabetes 

disebabkan oleh tidak efisiennya penggunaan insulin. Sebelumnya, ia berpikir bahwa diabetes 

hanya disebabkan oleh kurangnya insulin.  

 

 

Pada tahun 1959 Yalow dan Berson menyempurnakan teknik pengukuran dan 

menamakannya radioimmunoassay (RIA). RIA sangat sensitif. Hal ini dapat mengukur 1012 

gram bahan per mililiter darah. sebab  sampel yang kecil diperlukan untuk pengukuran, RIA 

cepat menjadi alat laboratorium standar. Keuntungan utama dari RIA dibandingkan dengan 

immunoassay lainnya yaitu  sensitivitas yang lebih tinggi, deteksi sinyal mudah dan mapan, 

serta tes cepat. Kelemahan utama yaitu  risiko kesehatan dan keselamatan yang ditimbulkan 

oleh penggunaan radiasi dan waktu dan biaya yang terkait dengan mempertahankan 

keselamatan radiasi berlisensi dan program pembuangan. Untuk alasan ini, RIA telah 

digantikan dalam praktek laboratorium klinis rutin dengan immunoassay enzim. Pada 

dasarnya setiap substansi biologis yang ada antibodi spesifik dapat diukur, bahkan dalam 

konsentrasi menit. Berbagai radioisotop dimanfaatkan dalam pemeriksaan RIA, I125, H3, C14. 

Baik CL dan EIA memiliki keunggulan pada reagen yang lebih stabil dan dapat memiliki batas 

deteksi yang lebih sensitif, serta tidak ada masalah dengan pembuangan limbah berbahaya 


 

2. Definisi 

Radioimmunoassay (RIA) yaitu  metode yang mengukur adanya antigen dengan 

sensitivitas yang sangat tinggi untuk mengukur jumlah yang sangat kecil dari suatu zat dalam 

darah. Pada dasarnya, semua prinsip-prinsip desain assay EIA didasarkan pada kesimpulan 

yang diambil dari penggunaan RIA. Meskipun RIA masih merupakan teknik yang layak, namun 

sebagian besar telah digantikan oleh CL dan EIA di sebagian besar laboratorium klinis. Versi 

 

 

radioaktif suatu zat, atau isotop dari substansi, dicampur dengan antibodi dan dimasukkan 

dalam sampel darah pasien. Substansi non-radioaktif yang sama dalam darah mengambil 

tempat isotop dalam antibodi, sehingga meninggalkan zat radioaktif gratis. Jumlah isotop 

gratis kemudian diukur untuk melihat berapa banyak bahan asli dalam darah.  

RIA digunakan dalam diagnosis untuk menemukan antigen tunggal atau antibodi dalam 

cairan biologis. Asai imun dapat dibagi sebagai kompetitif dan nonkompetitif (Gambar 5.18). 

Asai imun biasanya memakai  fase padat untuk mengikat atau antigen atau antibodi. Bila 

antibodi yang diikat dengan fase padat, absorpsi terjadi melalui region Fc sehingga fraksi Fab 

bebas untuk mengikat antigen. 

 

 

Gambar 5.18 

Klarifikasi Asai Imun 

 

Kadar antigen atau antibodi spesifik dalam larutan dapat diperiksa dengan RIA atau 

ELISA. RIA merupakan suatu teknik pemeriksaan untuk menentukan antibodi atau antigen 

dengan memakai  reagen bertanda zat radioaktif (Gambar 5.19) 

 

Gambar 5.19 

Radioimmunoassay (RIA) 

 

3. Prinsip 

Prinsip dasar metode Radioimmunoassay (RIA) didasarkan pada reaksi antara antibodi 

(dalam konsentrasi terbatas) dengan berbagai konsentrasi antigen. Digunakan untuk 

menemukan antigen tunggal atau antibodi dalam cairan biologis tunggal dan teknik 

pemeriksaan untuk menentukan antibodi atau antigen dengan reagen yang bertanda zat 

radioaktif (Gambar 5.20) (Handoyo, 2003). 

 

 

 

4. Metode 

Target antigen diberi label radioaktif dan terikat ke antibodi spesifik (jumlah terbatas 

dan dikenal dari antibodi spesifik harus ditambahkan). Sampel A, misalnya darah serum, 

kemudian ditambahkan untuk memulai reaksi kompetitif antigen berlabel dari persiapan, dan 

antigen berlabel dari serum sampel dengan spesifik.  

Radioimmunoassay yaitu  teknik assay tua namun  masih digunakan sebagai alat tes 

secara luas dan terus menawarkan keuntungan yang berbeda dalam hal kesederhanaan dan 

sensitivitas. 

Bahan dan peralatan yang dibutuhkan menurut Mengko (2013) antara lain 

a. Antiserum spesifik terhadap antigen yang akan diukur. 

b. Ketersediaan bentuk berlabel radioaktif antigen. 

c. Sebuah metode di mana pelacak antibodi terikat dapat dipisahkan dari pelacak terikat. 

d. Instrumen untuk menghitung radioaktivitas. 

 

D. ASAI BERLABEL ENZIM (ENZYME IMMUNOASSAY ATAU EIA) 

 

1. Definisi 

Enzyme Immunoassay (EIA) yaitu  tes untuk mendeteksi antigen atau antibodi dengan 

penambahan enzim yang dapat mengkatalisa substrat sehingga terjadi perubahan warna. 

Untuk dapat digunakan pada EIA, enzim harus memenuhi kriteria yaitu memiliki stabilitas 

tinggi, spesifitas tinggi, tidak mengandung antigen atau antibodi, tidak ada perubahan oleh 

inhibitor dalam sistem. 

 


Enzim berlabel yang sering digunakan yaitu horseradish peroxidase, alkaline 

phosphatase, Glocose-6-phosphatase dehydrogenase dan β-galactosidase. Keuntungan dan 

kerugian, Enzyme Immunoassay (EIA) menurut Turgeon (2009) yaitu. 

a. Keuntungan 

1) Tes yang sensitif dapat diperoleh dengan efek penguatan dari enzim. 

2) Reagen relatif murah dan jangka waktunya panjang. 

3) Dapat menghasilkan tes multiple secara simultan. 

4) Dapat menghasilkan konfigurasi tes dengan variasi yang luas. 

5) Tidak ada bahaya radiasi selama pemberian label atau pembuangan sampah. 

 

b. Kerugian 

1) Pengukuran aktivitas enzim dapat lebih kompleks dibandingkan dengan 

pengukuran dengan beberapa tipe radioisotop. 

2) Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh konstitusi plasma. 

3) Pada saat ini tes homogen memiliki sensitivitas 10-9M dan tidak sesensitif 

radioimmunoassay. 

4) EIA homogen untuk protein yang besar dapat dihasilkan namun  membutuhkan 

reagen imunokimia yang kompleks. 

 

2. Metode 

Metode EIA memakai  sifat katalisa dari enzim untuk mendeteksi dan menghitung 

jumlah reaksi imunologi. Gabungan antibodi berlabel enzim atau antigen berlabel enzim 

digunakan pada pemeriksaan imunologi. Enzim dan substratnya mendeteksi keberadaan dan 

jumlah antigen atau antibodi yang ada  pada sampel pasien.  

Hasil pada tes EIA dapat juga dinilai dengan membandingkan hasil spektofometer serum 

pasien dengan referensi serum kontrol. Keunggulan tes secara objektif yaitu  hasilnya tidak 

tergantung dari interpretasi teknisi. Pada umumnya prosedur EIA lebih cepat dan pekerjaan 

laboratorium lebih sedikit dibandingkan dengan metode serupa.  

 

3. Tipe Enzim Immunoassays menurut Turgeon ML (2009) 

 

a. Deteksi Antigen 

EIA tipe deteksi antigen terdiri atas 4 langkah (Gambar 5.21) yaitu 

1) Antibodi yang spesifik terhadap antigen dilekatkan pada suatu permukaan fase 

padat (a solid-phase surface) atau suatu manik-manik plastik. 

2) Ditambahkan serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung 

antigen. 

 

 

3) Ditambahkan suatu antibodi yang spesifik terhadap antigen tertentu yang berlabel 

enzim (conjugate). 

4) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada  

enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antigen yang ada  pada 

sampel pasien.  

 

 

Gambar 5.21 

Langkah-langkah Pemeriksaan EIA Tipe Antigen Detection 

 

b.  Deteksi Antibodi 

EIA antibody detection terdiri dari 3 tipe yaitu noncompetitive EIA, competitive EIA dan 

capture EIA. 

• Noncompetitive EIA (Gambar 5.22) 

1) Antigen yang spesifik dilekatkan pada suatu permukaan fase padat (manik-manik 

plastik atau sumur mikrotiter). 


 

2) Ditambahkan serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung 

antibodi. 

3) Ditambahkan antibodi yang spesifik terhadap antibodi sebelumnya yang telah 

dilabel dengan enzim (conjugate). 

4) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada  

enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antibodi yang ada  pada 

sampel pasien. 

 

 

Gambar 5.22 

Langkah-langkah Pemeriksaan Noncompetitive EIA 

 

• Competitive EIA (Gambar 5.23) 

1) Antigen yang spesifik dilekatkan pada suatu permukaan fase padat (manik-manik 

plastik atau sumur mikrotiter). 

2) Serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung antibodi 

ditambahkan ke dalam plate bersama-sama dengan penambahan antibodi 

 

 

berlabel enzim (conjugate) yang akan berkompetisi untuk memperebutkan 

antigen yang sama. 

3) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada  

enzim. Jumlah warna yang terjadi berbanding terbalik dengan jumlah antibodi 

yang ada  pada sampel pasien. 

 

 

Gambar 5.23 

Langkah-langkah Pemeriksaan Competitive EIA 

 

• Capture EIA (Gambar 5.24) 

Sebuah capture EIA dirancang untuk mendeteksi tipe spesifik dari antibodi, seperti IgG 

atau IgM. 

1) Antibodi yang spesifik terhadap IgG atau IgM dilekatkan pada suatu permukaan 

fase padat (manik-manik plastik atau sumur mikrotiter). 

2) Sampel pasien yang mengandung IgG atau IgM ditambahkan. 

  

 

3) Ditambahkan antigen yang spesifik. 

4) Ditambahkan sebuah antibodi yang spesifik terhadap antigen yang berlabel enzim 

(conjugate). 

5) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada  

enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antigen yang spesifik 

terhadap IgG atau IgM yang ada  pada sampel pasien. 

 

 

 

E. ASAI IMUNOKROMATOGRAFI (IMMUNOCHROMATOGRAPHIC ASSAY 

ATAU ICA) 

 

1. Definisi 

Pengembangan teknik pemeriksaan dalam bidang imunoserologi yaitu  

imunokromatografi, yang berasal dari kata “imunologi” dan “kromatografi”. Imunologi yaitu  

cabang ilmu kesehatan yang mencakup studi tentang semua aspek dari sistem kekebalan 

tubuh terutama dalam pemeriksan yaitu  mengidentifikasi antigen atau antibodi. Sedangkan 

kromatografi yaitu  teknik dalam memisahkan molekul berdasarkan perbedaan berat pola 

pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) 

yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati membran 

nitroselulosa/kolom sebagai fase diam. Sehingga imunokromatografi yaitu  teknik untuk 

memisahkan dan mengidentifikasi antigen atau antibodi yang terlarut dalam sampel atau 

disebut juga aliran samping (lateral flow test) atau dengan singkat disebut uji strip (strip test) 

(Gambar 5.25) 

 

Komponen pada imunokromatografi yang meliputi   

a. Sample pad bertindak sebagai spons dan menyimpan kelebihan cairan sampel.  

b. Conjugate (detektor) pad  

c. Membran selulosa  

d. Garis test  

e. Garis kontrol  

f. Absorbing pad 

 

Keuntungan dan kekurangan metode ini yaitu  :  

a. Format yang disukai oleh pemakai (teknisi laboratorium). 

b. Pembacaan secara makroskopik. 

c. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tes sangat singkat  

d. Stabil untuk jangka panjang dengan berbagai iklim. 

e. Kerja secara sangat praktis. 

f. Hasil pemeriksaan hanya dapat dinyatakan kualitatif belum dapat menyatakan 

kuantitatif.  

 

 

2. Prinsip 

Prinsip kerja dari imunokromatografi pada penentuan antigen menurut Martini (2018) 

yaitu 

a. Sampel cair dijatuhkan atau diteteskan pada tempat sampel pad, kemudian antigen 

dalam sampel akan bergerak membentuk imunokompleks dengan antibodi berlabel 

emas koloid (colloidal gold labeled antibody). 

b. Senyawa kompleks ini  bergerak bersama dengan cairan sampel, dan saat  terjadi 

kontak dengan antibodi yang menempel pada membran, selanjutnya akan membentuk 

senyawa immunokompleks dengan antibodi bergerak menghasilkan garis berwarna 

ungu merah. 

c. Pemeriksaan dikatakan valid bila muncul garis pada kontrol, baik dengan garis test 

berwarna (positif) atau garis test tidak timbul warna (negatif). Bila tidak muncul garis 

pada kontrol, pemeriksaan dikatakan invalid dan harus diulang. Terbentuknya garis ungu 

pada area tes menunjukkan hasil positif (Gambar 5.26 dan Gambar 5.27). 

 

 

Keterangan : 

• Positif   = jika  garis kontrol berwarna dan garis tes berwarna. 

• Negatif = jika  tidak muncul warna atau warna lemah di