wa dalam getah bening, yang mengarah ke respon adaptif
humoral. Dalam kedua kasus, aktivasi bersamaan dari sel T helper biasanya diperlukan untuk
memastikan respons keseluruhan yang efektif
3. Memori Kekebalan Tubuh
Penting untuk dicatat bahwa respons adaptif primer yang efektif (misalnya terkait
dengan patogen yang belum pernah ditemukan sebelumnya) membutuhkan waktu untuk
berkembang, sebab hanya sejumlah kecil sel B- dan T target-spesifik yang hadir pada awalnya
dan, setelah Jika diaktifkan, mereka pertama-tama harus berproliferasi melalui proses yang
dikenal sebagai seleksi klon, untuk membentuk sel-sel efektor. Sebagian dari sel-sel efektor
ini terus membentuk stok sel-sel memori berumur panjang memastikan bahwa jika patogen
tertentu ditemui lagi, setiap respon adaptif sekunder berikutnya (atau respon memori)
berkembang lebih cepat dan dengan demikian lebih efektif (Cruse JM, 2006).
4. Disfungsi Kekebalan Tubuh
Patologi penting dapat terjadi akibat disfungsi imun. Kekurangan kekebalan tubuh
bawaan (bawaan), dengan dasar genetik, dapat menonaktifkan semua, atau bagian, dari
respons kekebalan (baik bawaan maupun adaptif) - yang mengakibatkan kerentanan terhadap
infeksi atau kanker. Contohnya termasuk imunodefisiensi kombinasi parah (SCID) dan variabel
imunodefisiensi umum (CVID). Selain itu, autoimunitas terjadi saat sistem kekebalan tubuh
secara keliru menargetkan jaringan sendiri, yang mengakibatkan kondisi peradangan kronis
dan kerusakan jaringan. Contohnya termasuk diabetes tipe 1, rheumatoid arthritis, dan
multiple sclerosis (Cruse JM, 2006).
5. Ilmu Transplantasi
Identifikasi peran penting MHC dalam memungkinkan tubuh untuk membedakan antara
diri/jaringan tanpa diri sangat meningkatkan keberhasilan transplantasi jaringan dan organ,
dengan memungkinkan pencocokan jaringan. Ini telah dibantu oleh pengembangan obat
imunosupresif yang menjadi semakin canggih saat kami mengidentifikasi unsur-unsur yang
lebih spesifik dalam sistem kekebalan untuk ditargetkan
B. KOMPONEN
Komponen respon imun adaptif dibagi menjadi 2, yaitu respon seluler dan respon
humoral. Komponen respon seluler terdiri dari sel-sel limfosit T, sedangkan komponen respon
humoral merupakan antibodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B seperti yang dicontohkan
pada gambar 4.7.
Respon Seluler terdiri dari sel-sel limfosit T. Sel Limfosit T merupakan sel-sel yang
berasal dari sumsum tulang dan mengalami maturasi atau pematangan di timus (gambar 4.8).
Maturasi berfungsi untuk memberikan kemampuan pada sel limfosit T agar dapat
membedakan sel terinfeksi dan sel normal. Limfosit T atau sel T berperan pada sistem imun
spesifik selular. Sel ini juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Pada orang
dewasa sel T dibentuk didalam sumsum tulang, namun proliferasi dan diferensiasinya terjadi
didalam kelenjar timus atau pengaruh berbagaifaktor asal timus. 90-95% dari semua sel T dala
timusini mati dan hanya 5-10% menjadi matang dan selanjutnya meninggalkan timus
untuk masuk kedalam sirkulasi.
Faktor timus yang disebut timosin dapat ditemukan dalam peredaran darah sebagai
hormon asli dan dapat mempengaruhi diferensiasi sel T di perifer. Berbeda dengan sel B, sel t
terdiri atas beberapa subsset dengan fungsi yang berlainan yaitu sel CD4⁺ (Th1, Th2), CD8⁺
atau CTL atau Tc dan Ts atau sel Tr atau Th3. Fungsi utama sistem imun spesifik selular ialah
pertahanan terhadap bakter yang hidup intraselular, virus, jamur, parasit dan keganasan. Sel
CD4⁺mengaktifkan sel Th1 yang selanjutnya mengaktifkan makrofag untuk menghancurkan
mikroba. Sel CD8⁺ memusnahkan sel terinfeksi. Perbedaan imunitas speifik humoral dan
selular. Sel-sel tubuh secara terus-menerus memproses protein yang berasal dari lingkungan
seluler internal dan mempresentasikannya dalam kaitannya dengan reseptor MHC kelas I. Ini
biasanya akan menjadi 'antigen' sendiri (yang diabaikan oleh sistem kekebalan tubuh), namun
juga dapat berupa peptida yang berasal dari virus atau bakteri yang menginfeksi, atau peptida
kanker yang menyimpang. Sel T sitotoksik teraktivasi dari spesifisitas tertentu berkembang
biak di getah bening dan kemudian bermigrasi ke tempat infeksi di mana mereka memantau
tanda-tanda tubuh untuk tanda-tanda infeksi intraseluler atau protein mandiri yang
menyimpang yang terkait dengan kanker - disajikan pada molekul MHC kelas I - memakai
TCR mereka. Jika mereka menemukan antigen yang mereka kenali, ini menunjukkan infeksi
atau keganasan, dan mereka kemudian dapat menginduksi apoptosis (autodestruction) sel-
sel tubuh yang ditargetkan. Ini merupakan respons adaptif seluler
Sel limfosit T memiliki 2 macam yaitu sel limfosit T helper (sel T CD4+) dan sel limfosit T
sitotoksik (sel T CD8+) (Antari, 2017).
Sel limfosit T helper mengekspresikan molekul CD4 pada permukaan sel nya, sehingga
sering disebut sel T CD4+. Molekul CD4 berperan sebagai penanda sel dan dalam pengenalan
antigen (Gambar 4.5). Sel limfosit T CD4+ memiliki fungsi yang cukup banyak antara lain
menghasilkan sitokin untuk mengaktifkan sel limfosit B dalam pembentukan antibodi, untuk
mengaktifkan makrofag, untuk proses peradangan/inflamasi dan berperan dalam
pembentukan sel limfosit T sitotoksik
Sel limfosit T sitotoksik mengekspresikan molekul CD8+ pada permukaan selnya yang
juga berperan sebagai penanda sel (Gambar 4.9). Molekul CD8+ juga aktif dalam proses
pengenalan antigen. Fungsi dari sel limfosit T sitotoksik yaitu sebagai pembunuh sel yang
terinfeksi, membunuh sel-sel tumor dan sel-sel pada jaringan transplantasi. Sel T sitotoksik
membunuh sel terinfeksi yaitu dengan memakai beberapa enzim, yaitu enzim perforin
yang bersifat merusak sel, granzime yang menginduksi apoptosis sel dan granulisin yang
bersifat seperti “pisau”, merobek membran sel dan menghancurkannya. Aspek penting sel T
dari sistem kekebalan yaitu untuk mengenali sel inang yang terinfeksi oleh virus, bakteri
intraseluler atau parasit intraseluler lainnya. Sel T telah mengembangkan mekanisme elegan
yang mengenali antigen asing bersama dengan antigen diri sebagai molekul kompleks.
Persyaratan bahwa sel T mengenali struktur diri dan antigen asing membuat kebutuhan sel-
sel ini untuk mempertahankan toleransi diri sangat penting
Respon humoral ada produksi antibodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B (sel
plasma). Antibodi sendiri terdiri dari 5 kelas, yaitu IgA (Immunoglobulin A), IgG, IgM, IgD dan
IgE. Masing-masing memiliki struktur molekul yang khas. Seperti yang telah dinyatakan, sel B
dapat mengenali antigen melalui pengenalan langsung antigen melalui BCR mereka, tanpa
perlu proses sebelumnya atau presentasi melalui reseptor - sehingga mereka yaitu kunci
untuk mengidentifikasi patogen ekstraseluler (misalnya bakteri dalam getah bening). Setelah
diaktifkan, sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu mengeluarkan molekul
antibodi ke dalam sirkulasi (molekul kecil yang sesuai dengan spesifisitas individu dari sel
induk) yang kemudian dapat menemukan target mereka di tempat lain di dalam tubuh.
Setelah terikat pada target, molekul antibodi dapat mengaktifkan jalur klasik sistem
komplemen, dengan demikian mengarahkannya untuk menetralisir targetnya dengan sangat
spesifik. Mengikat antibodi juga meningkatkan fagositosis. Antibodi mampu mengeliminasi
patogen dengan beberapa cara, yaitu netralisasi, opsonisasi dan bekerjasama dengan
komplemen (Gambar 4.10)
Netralisasi mengeliminasi patogen dengan cara pencegahan antigen oleh antibodi yang
berikatan dengan reseptor pada sel target. Sedangkan pada opsonisasi, antibodi akan
membantu proses fagositosis patogen. Antibodi akan bekerja sama dengan komplemen
untuk menghancurkan patogen dengan cara merusak sel patogen dan hal ini akan lebih
mengefektifkan fagositosis patogen. Ketiga cara ini dilakukan oleh antibodi untuk merusak
patogen dan dapat menghilangkan patogen dari tubuh
Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral yaitu limfosit B atau sel B. Humor
berarti cairan tubuh. Sel B berasal dari sel asal multipoten di sumsum tulang. Pada unggas, sel
yang disebut Bursal cell atau sel B akan berdiferensiasi menjadi sel B yang matang dalam alat
yang disebut Bursa Fabricius yang terletak dekat kloaka. Pada manusia diferensiasi ini
terjadi dalam sumsum tulang
Sel B yang dirangsang oleh benda asing akan berproliferas, berdiferensiasi dan
berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang dilepas dapat
ditemukan dalam serum. Fungsi utama antibodi ialah pertahanan terhadap infeksi
ekstraselular, virus dan bakteri serta menetralkan toksinnya
Struktur antibodi seperti huruf Y dan memiliki bagian Fab dan Fc. Bagian Fab pada
antibodi akan berikatan dengan antigen, sedangkan Fc akan berikatan dengan protein
komplemen (Gambar 4.11)
IgA (Imunoglobulin A) memiliki struktur molekul yang berupa dimerik sedangkan pada
IgM berstruktur pentamerik. IgG merupakan antibodi yang pertama kali terbentuk pada saat
infeksi, dan banyak ada pada darah. Sedangkan IgM merupakan antibodi yang paling
efektif dalam proses opsonisasi dan aktivasi komplemen. IgM juga banyak ada pada
darah. Untuk IgA banyak ada pada lapisan epitel baik pada saluran pencernaan,
pernafasan maupun resproduksi. Antibodi ini sangat efektif dalam proses netralisasi. Antibodi
yang ada dalam darah dengan titer kecil yaitu IgE. Antibodi ini diketahui dapat
menstimulasi sel mast untuk memproduksi mediator kimiawi yang merangsang reaksi batuk,
bersin dan muntah. Kelas antibodi yang terakhir, yaitu IgD ada pada permukaan sel
limfosit B yang belum matur. Fungsinya belum diketahui dengan jelas, namun pada penelitian
terlihat adanya peran antibodi ini dalam proses inflamasi (Gambar 4.12)
Respon antibodi terhadap antigen memiliki dinamika. Hal ini terlihat pada saat infeksi
primer dan sekunder. Infeksi primer yaitu infeksi patogen yang pertama kali menyerang
tubuh, sedangkan infeksi sekunder yaitu infeksi berulang dari patogen yang sama. Pada saat
infeksi primer, antibodi yang pertama kali muncul yaitu IgM, kemudian diikuti oleh IgG dan
IgA. Kemunculan antibodi ini cukup lama, yaitu dalam jangka waktu berhari-hari bahkan
berminggu-minggu dari awal infeksi. Pada saat terjadi infeksi sekunder, respon antibodi yang
dihasilkan akan lebih cepat dan titernya juga lebih tinggi (Gambar 4.13)
1. Organ dan Sistem Limfatik
a. Organ limfatik
Sejumlah organ limfoid dan jaringan yang morfologis dan fungsional berlainan berperan
dalam respons imun. Organ limfoid ini dapat dibagi menjadi organ primer dan sekunder.
Timus dan sumsum tulang yaitu organ primer yang merupakan organ limfoid tempat
pematangan limfosit.
b. Organ limfoid primer
Organ limfoid primer atau sentral terdiri atas sumsum tulang dan timus. Sumsum tulang
merupakan jaringan kompleks tempat hematopoiesis dan depot lemak. Lemak merupakan
50% atau lebih dari komprtemen rongga sumsum tulang. Organ limfoid primer diperlukan
untuk pematangan, diferensiasi dan proliferas sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang
dapat mengenal antigen. sebab itu organ ini berisikan limfosit dalam berbagai fase
diferensiasi. Sel hematopoietik yang diproduksi di sumsum tulang menembus dinding
pembuluh darah dan masuk ke dalam sirkulasi dan didistribusikan ke berbagai bagian tubuh.
Sumsum Tulang merupakan tempat pembentukan dan pematangan limfosit B dan tempat
pembentukan Limfosit Tsedangkan timus merupakan tempat pematangan limfost T.
c. Organ limfoid sekunder
Organ Limfoid Sekunder terdiri dari limpa dan kelenjar limfe disebut juga organ sistemik
sebab memberi respon terhadap antigen yang ada dalam sirkulasi darah dan limfe yang
berasal dari seluruh tubuh. Dan Sistem Mukosa (Malt) Jaringan limfoid yang ada pada
permukaan yang melapisi saluran cerna (Galt) dan saluran napas (Balt). Mekanisme utama
yaitu melalui s Ig A. Pada saluran cerna ada sebagai Peyers Patches. Disamping sistem
Malt, sejumlah besar limfosit ada dalam Jaringan Ikat Lamina Propria (Lamina Propria
Lymphocyte, LPL) Dan Dalam Lapisan Epitel (Intra-Epitel). Limpa dan kelenjar getah bening
(KGB) merupakan organ limfoid sekunder yang teroganisasi tinggi. Yang akhir ditemukan
sepanjang sistem pembuluh limfe. Jaringan limfoid yang kurang terorganisasi secara kolektif
disebut mucosa-associated lymphoid tissue (MALT) yang ditemukan di berbagai tempat di
tubuh. MALT meliputi jaringan limfoid ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa di
berbagai lokasi, seperti skin-associated lymphoid tissue (SALT) di kulit, bronchus-associated
lymphoid tissue (BALT) di bronkus, gut-associated lymphoid tissue (GALT) di saluran cerna yang
meliputi Plak Peyer di usus kecil, apendiks, berbagai folikel limfoid dalam lamina propria usus,
mukosa hidung, tonsil, mame, serviks uterus, membran mukosa saluran napas atas, bronkus
dan saluran kemih. Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel darah mempresentasikan
antigen yang ditangkapnya di bagian lain tubuh ke sel T yang memacunya untuk proliferasi
dan diferensiasi limfosit.
d. Limpa
Seperti halnya dengan kelenjar getah bening, limpa terdiri atas zona sel T atau senter
germinal dan zona sel B atau zona folikel. Arteriol berakhir dalam sinusoid vaskuler yang
mengandung sejumlah eritrosit, makrofag, sel dendritik, limfosit dan sel plasma. Antigen
dibawa antigen pressenting cell (APC) masuk ke dalam limpa melalui sinusoid vaskuler. Limpa
merukan tempat respon imun utama yang merupakan saringan terhadap antigen asal darah.
Mikroba dalam darah dibersihkan makrofag dalam limpa. Limpa merukan tempat utama
fagosit memakan mikroba yang diikat antibodi (opsonisasi). Individu tanpa limpa akan menjadi
rentan terhadap infeksi bakteri berkapsul seperti pneumokok dan meningokok, oleh sebab
mikroba ini biasanya hanya disingkirkan melalui opsonisasi dan fungsi fagositosis akan
terganggu bila limpa tidak ada.
e. Kelenjar getah bening
Kelenjar getah bening (KGB) yaitu agegat nodular jaringan limfoid yang terletak
sepanjang jalur limfe di seluruh tubuh. Sel dendritik membawa antigen mikroba dari epitel da
mengantarkannya ke kelenjar getah bening yang akhirnya dikonsentrasikan di KGB. Dalam
KGB ditemukan peningakatan limfosit berupa nodus tempat proliferasi limfosit sebagai
respons terhadap antigen.
f. Skin-Associated Lymphoid Tissue
Skin-Associated Lymphoid Tissue (SALT) merupakan alat tubuh terluas yang berperan
dalam sawar fisik terhadap lingkungan. Kulit juga berpartisipasi dalam pertahanan pejamu,
dalam reaksi imun dan inflamasi lokal. Banyak antigen asing masuk tubuh melalui kulit dan
banyak respon imun sudah diawali di kulit.
Respon imun memori pada respon imun yaitu respon imun spesifik yang tetap
terbentuk setelah beberapa waktu terkena infeksi. Contohnya ada pada proses
imunisasi. Dalam proses imunisasi, respon memori bekerja sehingga ada respon imun
spesifik yang cukup adekuat untuk melawan patogen tertentu. Respon memori ada pada
sel limosit B dan sel T. Sel limfosit B memori memiliki penanda CD27 yang tidak dimiliki oleh
sel limfosit B lainnya. Sel B memori ini banyak ada pada limpa dan kelenjar getah bening.
Peranan sel B memori ini ada pada respon imun terhadap infeksi sekunder. Dimana responnya
lebih cepat dengan titer yang lebih tinggi. Daya ikat (afinitas) antibodi dari sel B memori
terhadap antigen juga lebih tinggi dibandingkan dengan antibodi dari sel B naïve (sel B
umumnya). Pada sel limfosit T, kelompok sel memori memiliki molekul permukaan CD44,
CD45RO dan CD45RA. Sel T memori ini juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan sel T
naïve, yaitu jumlahnya yang relatif persisten seumur hidup. Sehingga respon terhadap infeksi
sekunder dan seterusnya relatif lebih cepat, dan berakibat patogen cepat tereliminasi dari
tubuh.
2. Sitokin dan Kemokin
Sitokin membentuk keluarga protein penting yang berfungsi sebagai mediator imun dan
memiliki peran penting selama respons imun - sitokin dapat berfungsi untuk menstimulasi
atau menghambat diferensiasi, proliferasi, atau aktivitas sel-sel imun. Subset sitokin, kemokin,
memainkan peran penting dalam memandu sel-sel kekebalan tubuh ke tempat-tempat infeksi
dengan membentuk 'jejak' kimiawi
Ringkasan
Jenis respon imun adaptif atau spesifik ini memiliki karakteristik yang khas, yaitu baru
akan terbentuk setelah adanya stimulasi antigen/patogen, atau dengan kata lain setelah
terjadinya infeksi. Oleh sebab itu, respon imun ini bersifat sangat spesifik terhadap jenis
patogen yang menginfeksi, contohnya pada kejadian infeksi virus polio di dalam tubuh. Maka
respon imun spesifik yang terbentuk akan bersifat spesifik terhadap virus polio saja, tidak
dapat bekerja untuk patogen yang lain.
Selain bersifat spesifik, respon imun ini juga dapat bertahan lama di dalam tubuh,
bahkan dapat menetap seumur hidup. Prinsip inilah yang digunakan dalam proses vaksinasi.
Komponen respon imun ini terdiri dari sel-sel limfosit T, baik limfosit T helper dan
sitotoksik, juga antibodi yang sering sering disebut respon imun humoral. Antibodi terdiri dari
beberapa kelas yaitu IgA, IgG, IgM, IgD dan IgE yang masing- masing memiliki kekhasan
struktur dan fungsi. Antibodi memiliki dinamika kerja yang khusus untuk kejadian infeksi
primer dan sekunder.
Respon imun memori merupakan kemampuan khas yang dimiliki oleh respon imun
spesifik, sehingga tubuh dapat lebih cepat bereaksi dalam mengeliminasi patogen dari tubuh.
Respon imun memori ada pada sel T dan antibodi.
Sistem imun bawaan dan adaptif sering digambarkan sebagai kontras, lengan yang
terpisah dari respons inang; Namun, mereka biasanya bertindak bersama-sama, dengan
respon bawaan yang mewakili garis pertahanan pertama dan dengan respons adaptif menjadi
menonjol setelah beberapa hari, sebab sel T dan B spesifik antigen telah mengalami ekspansi
klon. Komponen sistem bawaan berkontribusi pada aktivasi sel antigen-spesifik. Selain itu, sel-
sel antigen spesifik menguatkan respons mereka dengan merekrut mekanisme efektor
bawaan untuk menghasilkan kontrol lengkap mikroba penyerang. Jadi, sementara respon
imun bawaan dan adaptif pada dasarnya berbeda dalam mekanisme aksi mereka, sinergi di
antara mereka sangat penting untuk respon imun yang utuh dan efektif sepenuhnya.
Glosarium
Antibodi (Ab) : Suatu protein yang dihasilkan sebagai akibat interaksi dengan suatu
antigen. Protein ini mampu bergabung dengan antigen yang
menstimulasi produksinya.
Antigen (Ag) : Suatu zat yang dapat bereaksi dengan antibodi.
Imunodefisiensi : yaitu istilah umum yang merujuk pada suatu kondisi di mana
kemampuan sistem imun untuk melawan penyakit dan infeksi
mengalami gangguan atau melemah.
Endotoksin : Toksin bakteri yang dilepaskan dari sel-sel yang rusak.
Histokompatibilitas : Memiliki antigen transplantasi yang sama.
Imunitas adaptif : Proteksi yang diperoleh dengan memasukkan antigen secara
sengaja ke dalam suatu pejamu yang responsif. Imunitas aktif
bersifat spesifik dan diperantarai oleh antibodi atau sel limfoid atau
keduanya.
Imunitas Bawaan : Resistansi nonspesifik yang tidak didapat melaui kontak dengan
suatu antigen. Imunitas ini melalui sawar kulit dan selaput
lendir terhadap agen-agen infeksius dan berbagai faktor imunologi
nonspesifik , dan bervariasi sesuai dengan usia dan aktivitas
hormonal dan metabolik.
Inflamasi : reaksi tubuh thd mikroorganisme dan benda asing yang ditandai
oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ tubuh.
Interferon : Sel mononuklear berdiameter 7-12 µm yang mengandung nukleus
dengan kromatin padat dan lingkaran kecil sitoplasma. Limfosit
meliputi sel T dan B, yang mempunyai peran primer pada imunitas.
Kemokin : Protein dengan berat molekul rendah yang merangsang gerakan
leukosit.
Komplemen : Suatu set protein plasma yang merupakan mediator primer reaksi-
reaksi antigen-antibodi.
Makrofag : Sel mononuklear fagositik yang berasal dari monosit sumsum
tulang dan ditemukan dalam jaringan serta tempat peradangan.
Makrofag berperan sebagai pembantu dalam imunitas, terutama
sebagai sel penyaji antigen (antigen presenting cell, APC)
Monosit : Sel darah fagositik dalam sirkulasi yang akan menjadi makrofag
jaringan.
Pus : Pus (nanah) yaitu suatu cairan hasil proses peradangan yang
terbentuk dari sel-sel leukosit (Levinson, 2004). Pus merupakan
suatu campuran neutrofil dan bakteri (yang hidup, dalam proses
mati, dan yang mati), debris seluler, dan gelembung minyak.
Respon imun : Terjadinya resistensi (imunitas) terhadap zat asing misalnya agen
infeksius. Respons imun dapat diperantarai antibodi (humoral),
diperantarai sel (selular), atau keduanya.
Sebum : Minyak yang dihasilkan oleh sebaceous glands atau kelenjar minyak
yang ada pada seluruh tubuh kita, kecuali di telapak tangan
dan kaki kita.
Sel B (limfosit B) : Dalam artian sempit, suatu sel yang berasal dari bursa pada spesies
burung dan, dengan memakai analogi ini , juga berlaku
untuk sel yang berasal dari organ yang sama dengan bursa pada
spesies bukan burung. Sel B yaitu prekursor sel plasma yang
menghasilkan antibodi.
Sel Mast : Sel yang kaya dengan granula berisi berbagai macam enzim,
Histamin dan berbagai jenis mediator kimia lain yang bertanggung
jawab terhadap terjadinya inflamasi pada daerah sekitar luka.
Bahan aktif yang dilepaskannya akan memicu serangkaian proses
yang memicu peningkatan permeabilitas pembuluh darah
sehingga sel monosit bisa dengan mudah bermigrasi kedalam
jaringan yang luka.
Sel T Sitotoksik : Sel-sel T yang dapat membunuh sel lain, misal, sel-sel yang
terinfeksi patogen intraseluler.
Trombosit : Fragmen sitoplasma megakariosit yang tidak berinti dan terbentuk
di sumsum tulang. Trombosit matang berukuran 2-4 µm, berbentuk
cakram bikonveks dengan volume 5-8 fl. Trombosit setelah keluar
dari sumsum tulang, sekitar 20-30% trombosit mengalami
sekuestrasi di limpa.
UJI IMMUNOASSAY
ita bisa hidup sehat sebab tubuh mempunyai sistem imun. Sistem imun dapat
mengenali antigen asing di sekitar dalam bentuk mikroorganisme seperti bakteri,
virus, jamur maupun parasit sehingga jika antigen asing ini masuk ke dalam
tubuh maka tubuh akan berespon baik secara humoral melalui antibodi maupun sitokin yang
lain atau secara seluler melalui sel-sei imun.
Imunitas yaitu resistensi terhadap penyakit utama infeksi. Gabungan sel, molekul dan
jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun. Sistem imun
diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat
ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Berbagai pemeriksaan komponen
sistem imun telah dapat dikerjakan dan diperlukan dalam subklasifikasi penyakit dengan
komplikasi yang bervariasi.
Tes laboratorium berbeda dalam sensitivitas dan spesifitas. Untuk memperoleh hasil
optimal, setiap hasil asai di atas cut off point dianggap positif tidak ada penderita dengan
penyakit yang menunjukkan hasil tes negatif (hasil negatif semu) dan sedikit mungkin individu
tanpa penyakit yang menunjukkan tes positif (positif semu). Sensitivitas suatu tes yaitu
proporsi penderita dengan penyakit yang menunjukkan tes positif. Hasil negatif dapat
digunakan untuk menyingkirkan penyakit relevan. Sedangkan spesifitas tes yaitu proporsi
individu tanpa penyakit tertentu dengan tes negatif. Tes positif hanya terbatas pada penyakit
yang dipermasalahkan dan tes dengan spesifitas tinggi, seperti AMA digunakan untuk
memastikan diagnosis klinis.
Perkembangan Immunoassay
Banyak teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium riset dan
klinis berdasarkan antibodi. Di samping itu banyak teknik modern biologi molekular telah
memberikan banyak informasi berharga mengenai sistem imun. Semua metode kuantitatif
imunokimiawi modern berdasarkan atas antigen murni atau antibodi yang jumlahnya dapat
diukur dengan molekul indikator. Bila molekul indikator dilabel dengan radioisotop, asai
disebut RIA. Bila molekul indikator diikat secara kovalen dengan enzim, dengan
spektrofotometer dapat ditentukan secara kuantitatif kecepatan konversi substrat jernih
menjadi produk yang berwarna. Asai ini disebut ELISA.
Oleh sebab antibodi (monoklonal) sudah dapat dipropduksi terhadap setiap jenis
makromolekul dan kimiawi kecil, pemeriksaan yang berdasarkan teknik antibodi dapat
digunakan terhadap setiap molekul dalam larutan atau dalam sel. Antibodi monoklonal yaitu
antibodi homogen (limfosit B) yang dihasilkan dari antibodi dengan spesifitas klon tunggal.
Namun, sel B normal tidak tumbuh untuk jangka waktu yang tak terbatas. Jika sel-sel B
dileburkan dengan sel mieloma melalui hibridisasi sel somatik, dan akhirnya didapatkan sel
berfusi yang menyekresikan antibodi dengan spesifitas yang diinginkan, akan dihasilkan suatu
lini sel penghasil antibodi yang tahan lama, dikenal sebagai hibridoma yaitu sel yang dihasilkan
dengan menyatukan dua sel yang berlainan, dan sel-sel hibrid ini memproduksi antibodi
monoklonal (Gambar 5.1). Dengan teknik imunofluoresensi yang memakai antibodi
monoklonal, jumlah sel B, sel T dan subset sel T, dapat dibedakan satu dari yang lainnya dan
dihitung di bawah mikroskop fluoresen atau cell sorter
B. DEFINISI
Immunoassay yaitu suatu cara pemeriksaan metode bioanalitik untuk mengukur
secara kuantitatif analitik tergantung pada reaksi derajat imunitas atau kadar antibodi dan
antigen dalam cairan tubuh atau serum seseorang. Immunoassay telah banyak digunakan
dalam banyak bidang penting dari analisis kesehatan seperti diagnosis penyakit, pemantauan
obat terapeutik, farmakokinetik klinis dan studi bioekivalensi dalam penemuan obat dan
industri farmasi.
Immunoassay memanfaatkan kekhususan pengikatan antibodi-antigen yang ditemukan
secara alami dalam sistem kekebalan tubuh. Uji Immunoassay dapat digunakan untuk
mengidentifikasi keberadaan patogen dalam sampel klinis, atau dapat digunakan untuk
mengukur jumlah biomolekul target. Jika tujuan immunoassay yaitu untuk mengisolasi
molekul tertentu maka diperlukan sistem pemisahan. Partikel yang paling umum digunakan
dalam pengujian ini terbuat dari inti magnetik yang dilapisi dengan bahan yang kompatibel
secara biologis, dan dimodifikasi secara kimia dengan menempelnya antibodi. Namun,
sebelum merancang partikel magnetik untuk immunoassay kita harus memutuskan jenis
immunoassay mana yang paling sesuai dengan tujuan percobaan (Gambar 5.2)
Gambar 5.2
Diagram Konfigurasi Pengikatan Immunoassay
Pentingnya dan meluasnya metode immunoassay dalam laboratorium dikaitkan dengan
kekhususan yang melekat, throughput yang tinggi, dan sensitivitas yang tinggi untuk analisis
berbagai analit dalam sampel biologis. Baru-baru ini, peningkatan yang nyata dicapai dalam
bidang pengembangan immunoassay untuk keperluan diagnosa penyakit dengan uji
laboratorium. Metodologi dasar dan kemajuan terbaru dalam metode immunoassay
diterapkan dalam berbagai bidang laboratorium telah ditinjau (Roitt, 2008).
Immunoassay dapat dibagi menjadi 2 kelompok menurut jenisnya, yaitu immunoassay
tak berlabel dan immunoassay berlabel. Immunoassay tak berlabel terdiri dari beberapa
teknik (Gambar 5.3), yaitu uji presipitasi, uji aglutinasi, uji hemaglutinasi, lisis imun dan fiksasi
komplemen, serta uji netralisasi. Sedangkan immunoassay berlabel juga terdiri dari beberapa
teknik (Gambar 5.4) yaitu asai berlabel fluoresens (Fluorescent Immunoassay atau FIA), asai
berlabel radioisotop (Radioimmunoassay atau RIA), asai berlabel luminescent (Luminescent
Immunoassay atau LIA), asai berlabel enzim (Enzyme Immunoassay atau EIA),
Immunochromatographic Assay atau ICA dan uji imunoperoksidase
C. PRINSIP
Berbagai pemeriksaan komponen sistem imun telah dapat dikerjakan. Pada umumnya,
biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan ini masih tinggi. Oleh sebab itu perlu
mengetahui dasar teknik pemeriksaan imunologi, agar dapat memilih jenis pemeriksaan yang
diperlukan. Ada pemeriksaan yang mutlak untuk diagnosis atau pemantauan penyakit. Banyak
teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium.
Pemeriksaan immunoassay yaitu mutlak untuk penderita dengan infeksi berat dan
berulang. Selanjutnya diperlukan juga untuk mengetahui gamopati monoklonal IgG, IgA atau
IgM yang membedakan perubahan sementara yang terjadi sebab luka bakar atau defisiensi
imun primer, mengukur kadar IgA pada penderita dengan infeksi permukaan mukosa atau IgE
pada penderita alergi (Baratawidjaja KG, 2013).
Prinsip dari Immunoassay itu sendiri yaitu reaksi ikatan spesifik antibodi-antigen
membentuk kompleks antigen-antibodi. Pada deteksi antigen perlu adanya Antibodi
(monoklonal ataupun polikonal) sehingga membentuk kompleks Imun (Ag-Ab). Kompleks
imun dapat diukur secara kualitatif atau kuantitatif. Maka dibutuhkannya uji (test) serologi
sebagai metode untuk mendeteksi dan mengukur titer antibodi dalam serum darah dengan
menambahkan antigen spesifiknya. Ada 2 tipe Antibodi yang digunakan dalam immunoassay
yaitu poliklonal dan monoklonal.
Antibodi monoklonal merupakan antibodi yang homogen atau mempunyai sifat yang
spesifik sebab dapat mengikat 1 epitop antigen dan dapat dibuat dalam jumlah tidak
terbatas. Antibodi monoklonal dibuat dengan cara penggabungan atau fusi dua jenis sel yaitu
sel limposit B yang memproduksi antibodi dengan sel kanker (sel mieloma) yang dapat hidup
dan membelah terus menerus. Sedangkan antibodi poliklonal yaitu campuran antibodi
heterogen yang berikatan terhadap berbagai epitop dari antigen sama. Antibodi ini dihasilkan
oleh klon sel B yang berbeda
D. KOMPONEN PENTING DALAM IMMUNOASSAY
Dalam pemeriksaan uji Immunoassay, menurut Abbas (2010) ada komponen
penting yang perlu diperhatikan. Komponen penting ini meliputi:
1. Spesifitas Antibodi
Spesifisitas respon imun telah membantu sebagai dasar untuk reaksi serologi, dimana
spesifisitas antibodi digunakan untuk determinasi antigen secara kualitatif dan kuantitatif.
Ikatan diantara antigen dan antibodi bersifat spesifik dan tidak mutlak. Hal ini
diibaratkan seperti “lock and key”, namun terkadang terjadi reaksi silang yaitu antibodi
berikatan dengan antigen lain yang memiliki struktur mirip, hal ini terjadi jika kemurnian
antigen rendah. Antibodi yang sangat spesifik memiliki binding site yang hanya dimiliki oleh
antigen dengan struktur molekul yang unik. Spesifitas Ag-Ab dipengaruhi oleh spesifitas
antibodi yang ditambahkan pada sampel dan kemurnian antigen yang tidak terkontaminasi
dari antigen lain.
2. Valensi Antibodi
Valensi antibodi yaitu Jumlah “binding site” yang potensial dari antibodi terhadap
antigen spesifik. Valensi dari antibodi minimal sebanyak 2 buah. Jadi, sebagian besar antibodi
yaitu bivalen/multivalen, akan namun jika antibodi ini digunakan dalam konsentrasi
yang sangat kecil (dengan pengenceran yang sangat besar), maka antibodi ini dapat
bereaksi sebagai komponen monovalen.
3. Aviditas Antibodi
Aviditas antibodi yaitu besarnya kemampuan antibodi untuk mengikat antigen.
Aviditas merupakan refleksi dari afinitas (besarnya daya ikat) dan jumlah binding site (valensi).
Jadi, antibodi dengan aviditas yang besar akan menunjukkan tendensi untuk mengikat antigen
yang banyak.
4. Ukuran Kuantitas Reaksi Ag-Ab
Derajat imunitas, kadar antibodi atau bahan tertentu dalam serum harus dapat diukur
yang dinyatakan dalam suatu satuan/unit tertentu. Ada beberapa cara penentuan dalam
mengukur antigen-antibodi, yaitu secara kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk ada atau
tidaknya suatu bahan baik antibodi atau antigen dalam serum, secara semikuantitatif yang
dinyatakan dalam bentuk kadar titer antigen atau antibodi pada serum dengan cara
pengenceran serum yang progresif, dan secara kuantitatif yaitu kadar antibodi ditentukan
dengan membuat kurva baku standar terlebih dahulu terhadap kekeruhan (OD) dan
dinyatakan dalam bentuk nilai korelasi.
Ringkasan
Banyaknya teknik laboratorium terkait uji Immunoassay yang digunakan secara rutin
dalam laboratorium klinis. Peningkatan yang nyata dicapai dalam bidang pengembangan
Immunoassay untuk keperluan diagnosa penyakit dengan diagnosa penunjang dari
laboratorium. Immunoassay merupakan pemeriksaan metode bioanalitik untuk mengukur
secara kuantitatif analitik tergantung pada reaksi derajat imunitas atau kadar antibodi dan
antigen dalam cairan tubuh atau serum seseorang.
Immunoassay dapat dibagi menjadi 2 kelompok menurut jenisnya, yaitu:
a. Imunoassay tak berlabel terdiri dari beberapa teknik yaitu uji presipitasi, uji aglutinasi,uji
hemaglutinasi, lisis imun, fiksasi komplemen, uji netralisasi
b. Immunoassay berlabel, terdiri dari beberapa teknik yaitu Assay berlabel fluoresens
(Fluorescent Immunoassay atau FIA), Assay berlabel radioisotop (Radioimmunoassay
atau RIA), Assay berlabel luminescent (Luminescent Immunoassay atau LIA), Assay
berlabel enzim (Enzyme Immunoassay atau EIA), Immunochromatographic Assay atau
ICA, Uji imunoperoksidase.
Prinsip dari Immunoassay yaitu reaksi ikatan spesifik antibodi-antigen membentuk
kompleks antigen-antibodi yang bereaksi dengan konsentrasi tepat. Komponen penting dalam
Immunoassay yang perlu diperhatikan meliputi spesifitas antibodi, valensi antibodi, aviditas
antibodi, dan ukuran kuantitas reaksi Ag-Ab.
Jenis Immunoassay Tanpa Label
Berdasarkan dari jenisnya, ada 2 (dua) metode pemeriksaan uji Immunoassay yang salah
satunya yaitu Immunoassay tanpa label. Berdasarkan kenyataan bahwa jika tubuh
terpapar antigen maka tubuh membentuk antibodI spesifik terhadap antigen ini . Dalam
hal ini dibutuhkan metode pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen
bakteri, virus, jamur atau parasit tertentu dapat dipakai untuk menentukan diagnosis berbagai
jenis penyakit (Mengko R, 2013).
Walaupun diagnosis serologi pada penyakit infeksi terutama yang akut seringkali
terlambat untuk menentukan terapi, namun ada kalanya bagian tubuh yang terkena infeksi
tidak dapat ditemukan mikroorganisme atau dibiakkan sehingga pada keadaan ini salah satu
cara untuk menunjang diagnosis yaitu uji (test) serologi. Uji serologi yaitu untuk
menentukan antigen atau adanya antibodi terhadap mikroorganisme pemicu infeksi.
Adanya antibodi terhadap mikroorganisme atau komponen mikroorganisme menunjukkan
seseorang pernah terinfeksi atau pernah divaksinasi dengan mikroorganisme ini
B. UJI PRESIPITASI
Presipitasi yaitu salah satu metode yang paling sederhana untuk mendeteksi adanya
reaksi antigen-antibodi, sebab sebagian besar antigen yaitu multivalen sehingga memiliki
kemampuan untuk membentuk agregat jika ditambahkan suatu antibodi yang sesuai. Pada
prinsipnya, reaksi presipitasi dapat terjadi bila antibodi (biasanya IgG atau IgM) bereaksi
dengan antigen yang larut, menghasilkan suatu agregat yang dapat dilihat secara
makroskopis. Bila reaksi terjadi dengan bantuan medium/agar, akan terbentuk lengkung/garis
presipitasi (Mengko, 2013).
Tes presipitasi dilakukan dengan cara Ouchterlony, insensitif namun murah dibanding
dengan immunoassay. Ekstrak antigen relevan ditempatkan di sumur luar dan serum
penderita di sumur sentral. Setelah beberapa hari, hasil diperiksa untuk presipitasi yang
dibentuk oleh antibodi dengan antigen dijelaskan pada gambar 5.5 (
Gambar 5.5 Beberapa macam cara pemeriksaan/uji presipitas yang sering dipakai:
1. Uji presipitasi slide
2. Uji presipitasi tabung
3. Uji presipitasi tabung kapiler
4. Uji presipitasi cincin
5. Imunoelektroforesis
C. UJI AGLUTINASI
Reaksi atau uji aglutinasi yaitu reaksi yang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi
dalam serum melalui ikatan yang terjadi antara antibodi-antigen. Reaksi aglutinasi dilakukan
untuk antigen yang tidak larut, berbentuk partikel atau antigen yang larut tapi terikat dengan
partikel atau sel. Reaksi aglutinasi terjadi bila antigen yang berbentuk partikel direaksikan
dengan antibodi spesifik. Mekanisme terjadinya reaksi aglutinasi terjadi pada antigen binding
site (M. Radji, 2006).
Uji Aglutinasi terdiri dari beberapa macam meliputi Uji aglutinasi secara langsung
(direk), uji aglutinasi secara tidak langsung (indirek), uji hambatan aglutinasi (inhibisi) dan
Hemaglutinasi. Uji aglutinasi secara langsung dilakukan untuk menentukan antigen seluler
yang ada pada sel darah merah, bakteri dan jamur. Uji aglutinasi tidak langsung
merupakan bentuk modifikasi teknik aglutinasi dengan melibatkan carrier. Jenis carrier yang
biasa digunakan yaitu sel darah merah atau partikel lateks. Bila memakai sel darah
merah, maka akan disebut dengan uji hemaglutinasi. Uji hemaglutinasi akan menghasilkan
reaksi hemaglutinasi yang merupakan rekasi antara antigen yang ada pada permukaan
sel darah merah dengan antibodi yang komplementer. Beberapa virus antara lain virus
influenza, mumps dan measles dapat mengaglutinasi sel darah merah meski tanpa melalui
reaksi antigen antibodi (Mengko, 2013).
Pengujian berdasarkan aglutinasi merupakan metode klasik untuk penetapan antibodi.
Menurut Martini (2018) reaksi aglutinasi berlangsung dalam 2 tahap, yaitu
1. Antibodi dengan salah satu reseptornya bereaksi dengan antigen.
Hal ini disebab kan antibodi pada umumnya mempunyai lebih dari satu reseptor.
2. Antibodi dengan perantaraan reseptornya yang lain.
Antibodi bereaksi dengan molekul antigen lain yang mungkin sudah berikatan dengan
antibodi sehingga dengan demikian terbentuk gumpalan kompleks antigen-antibodi
(Gambar 5.6). Reaksi aglutinasi lebih mudah terjadi dengan antibodi kelas IgM yang
berbentuk pentamer daripada dengan IgG atau IgA yang mempunyai reseptor lebih
sedikit (Gambar 5.7).
Pada permukaan sel (bakteri atau sel lainnya) mempunyai beberapa macam
antigen/epitop. Suatu antigen atau epitop yang serupa atau hampir serupa dapat ditemukan
pada sel atau antigen yang berlainan. Serum yang mengandung antibodi terhadap reaksi
aglutinasi dengan suatu jenis kuman, namun memberikan reaksi aglutinasi dengan kuman
lainnya disebut aglutinasi silang. Antiserum yang ditimbulkan sebagai reaksi terhadap suatu
antigen, mungkin saja dapat bereaksi dengan antigen lain yang mempunyai satu atau lebih
determinan antigenik yang serupa dengan antigen pertama. Determinan antigenik yaitu
bagian spesifik makromolekul dari antigen yang dapat berikatan dengan antibodi (Gambar
5.8). Reaksi silang mempersulit diagnosis kuman dengan cara aglutinasi sehingga dalam
pengembangan reagen diperlukan antibodi tunggal (monoklonal) terhadap suatu antigen
spesifik pada suatu jenis kuman tertentu sehingga kuman dapat dibeda-bedakan dengan baik.
Keterangan:
1. Ag1 dengan dua determinan identik yang dapat bereaksi dengan antibodi
2. Ag2 mempunyai satu determinan antigen yang bereaksi dengan antibodi
3. Ag3 mempunyai determinan yang serupa walaupun tidak sama dengan Ag1, dapat
bereaksi dengan antibodi ini walau ikatannya lebih lemah dari reaksi yang
pertama. Hal ini yang disebut reaksi silang.
4. Ag4 sama sekali tidak mempunyai determinan antigenik yang serupa dengan Ag1
sehingga tidak dapat bereaksi dengan antibodi ini .
Hal di atas inilah yang menandakan spesifisitas suatu antiserum. Interaksi antigen-
antibodi dapat digunakan sebagai dasar pemeriksaan laboratorium, baik untuk menilai respon
imunologik seluler dan humoral maupun untuk menunjang diagnosis penyakit nonimunologik.
Salah satu syarat untuk reaksi untuk reaksi aglutinasi yaitu bahwa antigen harus berupa sel
atau partikel, sehingga jika direaksikan dengan antibodi spesifik terjadi gumpalan dari partikel
atau sel ini . Cara ini disebut aglutinasi direk (Gambar 5.9) seperti yang dipakai pada
reaksi widal, Weil felix, penetapan golongan darah dan lain-lain
Keterangan:
1. Hasil positif bila terjadi aglutinasi (gumpalan)
2. Hasil negatif bila tidak ada aglutinasi (gumpalan)
Pada teknik tertentu, cara aglutinasi dapat juga dipakai untuk menentukan antibodi
terhadap antigen yang larut, dengan terlebih dahulu melekatkan antigen ini pada suatu
partikel yang disebut carrier. Beberapa jenis partikel yang dapat digunakan diantaranya
eritrosit, lateks, bentonit, carbon (Charcoal). Cara ini disebut aglutinasi indirek atau pasif
(Gambar 5.10)
Keterangan:
1. Hasil positif bila terjadi aglutinasi
2. Hasil negatif bila tidak ada aglutinasi
Selain untuk mendeteksi antibodi, cara aglutinasi ini dapat digunakan untuk
menetapkan antigen, yaitu dengan melekatkan antibodi spesifik pada carrier, kemudian
mereaksikannya dengan antigen terlarut. Cara ini disebut aglutinasi pasif terbalik. Suatu
modifikasi cara aglutinasi untuk mendeteksi antigen yang larut yaitu test hambatan
aglutinasi (agglutination inhibition). Pada cara ini serum atau cairan yang akan diperiksa
direaksikan lebih dahulu dengan antibodi spesifik. Selanjutnya baru direaksikan dengan
antigen yang dilekatkan pada suatu aprtikel . Antigen yang ada dalam serum atau cairan yang
diperiksa akan mengikat antibodi spesifik, sehingga antibodi tidak mampu lagi bereaksi
dengan antigen pada permukaan partikel hingga terjadi hambatan aglutinasi (hasil positif).
jika dalam serum atau cairan yang diperiksa tidak ada antigen, maka antibodi yang
bebas dapat bereaksi dengan antigen yang melekat pada permukaan partikel dan
menimbulkan aglutinasi (hasil negatif)
Keterangan:
1. Hasil positif bila tidak ada aglutinasi
2. Hasil negatif bila terjadi aglutinasi
Pada reaksi hemaglutinasi (HA), HA merupakan cara untuk menemukan antibodi atas
dasar aglutinasi sel darah merah. Sebagai antigen dapat digunakan sel darah merah atau
antigen yang mensensitisasi sel darah merah. Uji Coombs direk merupakan cara untuk
menemukan antibodi yang dapat mengaglutinasikan sel darah merah dengan efektif. Bila
antibodi dicampur dengan sel darah merah, aglutinasi terjadi segera dijelaskan pada gambar
5.12. Sedangkan uji Coombs indirek merupakan cara untuk menemukan antibodi yang tidak
begitu efektif mengaglutinasikan sel darah merah. Mungkin pada permukaan sel ini
tidak tersedia antigen dengan cukup yang dapat mengikat antibodi. Cara ini dapat pula
dipergunakan untuk mencari antigen yang bukan berasal dari sel darah merah. Pada
hemaglutinasi direk, antigen merupakan komponen intrinsik sel darah merah. IgM dalam
cairan biologis akan diikat oleh antigen spesifik pada sel darah merah meskipun ada muatan
negative pada sel darah merah oleh sebab jarak potensial maksimal antara dua tempat ikatan
antigen tidak dicegah (Gambar 5.13)
Pada reaksi aglutinasi diperlukan perbandingan yang sesuai antara antigen dengan
antibodi agar terjadi kompleks antigen-antibodi yang besar dan terlihat sebagai aglutinasi. Bila
antigen berlebihan disebut dengan prozone yang memperlihatkan hasil anyaman menjadi
negatif sebab kompleks yang terbentuk kecil. Demikian juga bila antibodi berlebih maka akan
timbul reaksi postzone yang memperlihatkan reaksi negatif (kompleks kecil) (Gambar 5.14)
Keterangan:
1. Reaksi postzone: perbandingan jumlah antibodi terlalu banyak dibanding antigen
memicu komplek kecil dan hasil terlihat negative
2. Konsentrasi seimbang (equivalent zone): perbandingan jumlah antibodi seimbang
dengan antigen memicu komplek besar dan hasil terlihat positif
3. Reaksi prozone: perbandingan jumlah antigen terlalu banyak dibanding antibodi
memicu komplek kecil dan hasil terlihat negatif
D. FIKSASI KOMPLEMEN
Uji fiksasi komplemen atau Complement Fixation Test (CFT) merupakan cara untuk
menemukan antigen atau antibodi yang hanya bereaksi bila ada komplemen sehingga terjadi
aktivasi sistem komplemen. Pengujian ini didasarkan atas reaksi yang terdiri atas 2 (dua)
tahap, yaitu tahap pertama dimana sejumlah tertentu komplemen oleh suatu kompleks
antigen-antibodi, dan tahap kedua dimana komplemen yang tersisa (bila ada) menghancurkan
eritrosit yang telah dilapisi hemolisin. Prinsip dasar pemeriksaan ini yaitu bila antigen
dicampur dengan serum penderita yang mengandung antibodi yang homolog, dan
komplemen, maka komplemen akan diikat oleh kompleks antigen-antibodi ini sehingga
tidak ada sisa komplemen yang bebas. Bila kemudian ditambahkan sel darah merah yang telah
disensitisasi dengan sel darah merah lain tidak terjadi hemolisis, maka tes dikatakan positif.
Sebaliknya bila dalam serum tidak ada antibodi yang sesuai (homolog) dengan antigen,
maka tidak akan terjadi ikatan antigen-antibodi, sehingga komplemen dalam keadaan bebas.
Bila selanjutnya ditambahkan sel darah merah yang tersensitisasi, maka sel darah merah
ini dilisiskan oleh komplemen dan tes dikatakan negatif.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat, semua reaktan yang diperlukan untuk uji fiksasi
komplemen harus disesuaikan antara satu dengan yang lain dan berada dalam jumlah atau
titer yang optimal. Oleh sebab itu sebelum melaksanakan pemeriksaan pada sampel
penderita, terlebih dahulu dilakukan uji pendahuluan untuk menstandarisasi titer hemolisin
dan titer komplemen yang dipakai pada sistem uji ini. Titer hemolisin ditentukan oleh
pengenceran tertinggi hemolisin yang masih dapat melisiskan eritrosit berkonsentrasi 2%
secara lengkap, bila ada komplemen. Titer hemolisin ini disebut 1 unit dan untuk pemeriksaan
sampel penderita dipakai 2 unit. Oleh sebab uji fiksasi komplemen melibatkan suatu sistem
yang terdiri atas berbagai reaktan, disamping titrasi hemolisin dan komplemen diatas, setiap
reaktan harus diuji terhadap ada tidaknya faktor penghambat atau faktor yang meningkatkan
aktivasikomplemen (antikomplemen atau prokomplemen) (Gambar 5.15)
Pada saat terjadi infeksi, protein pertama dalam rangkaian protein komplemen
diaktifkan, selanjutnya memicu serangkaian aktivasi protein komplemen berikutnya (jalur
berantai atau cascade). Antibodi yang mengikat komplemen akan diaktivasi melalui “jalur
klasik”. Efek dari fiksasi komplemen menurut Roitt (2008), yaitu:
1. Opsonisasi
Partikel antigen diselubungi oleh antibodi atau komplemen yang dapat meningkatkan
pertautan makrofag ke mikroorganisme sehingga memfasilitasi dan meningkatkan
fagositosis.
2. Sitolisis
Kombinasi dari faktor-faktor komplemen dapat menghancurkan lapisan polisakarida
dinding sel patogen, sehingga berbentuk lubang-lubang akibat ruptur pada membran
sel, yang memicu lisozim dapat masuk, sitoplasma keluar, dan sel patogen akan
hancur (lisis).
3. Inflamasi
Produk komplemen berkontribusi dalam inflasi melalui aktivasi sel mast, basofil dan
trombosit darah.
Ringkasan
Dibutuhkan uji serologi untuk menunjang diagnosis penyakit infeksi sebab uji serologi
merupakan reaksi untuk menentukan antigen atau adanya antibodi terhadap mikroorganisme
pemicu infeksi. Adanya antibodi terhadap mikroorganisme atau komponen
mikroorganisme menunjukkan seseorang pernah terinfeksi atau pernah divaksinasi dengan
mikroorganisme ini . Uji Immunoassay tanpa label ini terdiri dari uji presipitasi, uji
aglutinasi, dan fiksasi komplemen.
Presipitasi yaitu salah satu metode yang paling sederhana untuk mendeteksi adanya
reaksi antigen-antibodi yang dapat terjadi bila antibodi (biasanya IgG atau IgM) bereaksi
dengan antigen yang larut, menghasilkan suatu agregat yang dapat dilihat secara
makroskopis. Beberapa macam cara pemeriksaan/uji presipitas yang sering dipakai terdiri dari
uji presipitasi slide, tabung, tabung kapiler, cincin, dan imunoelektoforesis.
Reaksi atau uji aglutinasi yaitu reaksi yang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi
dalam serum melalui ikatan yang terjadi antara antibodi-antigen. Reaksi aglutinasi dilakukan
untuk antigen yang tidak larut, berbentuk partikel atau antigen yang larut tapi terikat dengan
partikel atau sel. Uji Aglutinasi terdiri dari beberapa macam meliputi Uji aglutinasi secara
langsung (direk), uji aglutinasi secara tidak langsung (indirek), uji hambatan aglutinasi (inhibisi)
dan Hemaglutinasi.
Uji fiksasi komplemen atau Complement Fixation Test (CFT) merupakan cara untuk
menemukan antigen atau antibodi yang hanya bereaksi bila ada komplemen sehingga terjadi
aktivasi sistem komplemen. Pada saat terjadi infeksi, protein pertama dalam rangkaian
protein komplemen diaktifkan, selanjutnya memicu serangkaian aktivasi protein komplemen
berikutnya (jalur berantai atau cascade). Antibodi yang mengikat komplemen akan diaktivasi
melalui “jalur klasik”. Efek dari fiksasi komplemen yaitu opsonisasi, sitolisis, dan inflamasi.
Jenis Immunoassay Dengan Label
Metode yang kedua berdasarkan jenisnya pada pemeriksaan uji Immunoassay yaitu
Immunoassay dengan label. Berdasarkan kenyataan klinis, jika tubuh terpapar antigen
maka tubuh membentuk antibodI spesifik terhadap antigen ini . Dalam hal ini
dibutuhkan metode pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen
bakteri, virus, jamur atau parasit tertentu dapat dipakai untuk menentukan diagnosis berbagai
jenis penyakit.
Banyak teknik laboratorium yang digunakan secara rutin dalam laboratorium. Pada
pembahasan topik sebelumnya yaitu immunoassay tidak berlabel seperti aglutinasi,
presipitasi dan fiksasi komplemen. Pengujian berdasarkan aglutinasi merupakan metode
klasik (konvensional) untuk penetapan antibodi atau antigen. Banyaknya tempat pengikatan
pada antibodi dan antigen memicu terbentuknya kompleks besar saat antibodi dan
antigen bereaksi pada konsentrasi yang tepat. Sedangkan pengembangan teknik pemeriksaan
dalam bidang imunoserologi dengan label ini memakai metode yang lebih canggih
B. ASAI BERLABEL FLUORESENS (FLUORESCENT IMMUNOASSAY ATAU FIA)
Imunoasai Fluoresens yaitu tipe immunoassay yang berbeda. Metode ini
memakai teknik biokimia yang digunakan untuk mendeteksi pengikatan deteksi antibodi
dan molekul analit. Keuntungan dari sistem pendeteksian Fluorescent telah dikenal selama
bertahun-tahun. Metode ini termasuk deteksi sensitivitas yang lebih tinggi dari analit, pereaksi
yang disederhanakan dan desain pengujian yang lebih sederhana. Beberapa penelitian telah
dilakukan selama beberapa tahun terakhir yang memungkinkan penerapan sistem
immunoassay berbasis fluorescent di titik perawatan.
Immunoassay berbasis fluoresen modern digunakan sebagai pendeteksi senyawa
fluoresen yang menyerap cahaya atau energi (energi eksitasi) pada panjang gelombang
tertentu dan kemudian memancarkan cahaya atau energi pada panjang gelombang yang
berbeda. Perbedaan antara panjang gelombang cahaya eksitasi dan cahaya emisi disebut
pergeseran Stokes. Semakin besar pergeseran atau perbedaan dalam panjang gelombang,
semakin sedikit gangguan pada senyawa yang memiliki cahaya eksitasi yang terdeteksi sebagai
bagian dari cahaya emisi. Baru-baru ini sejumlah perbaikan teknis telah terjadi yang
memungkinkan penerapan sistem immunoassay sensitivitas tinggi. Hal ini termasuk
ketersediaan sumber cahaya dengan biaya rendah dengan panjang gelombang yang sempit,
fluorofor yang lebih baru dan lebih stabil yang memiliki pergeseran Stokes yang sangat luas,
detektor cahaya dengan keadaan padat yang stabil, dan mikroprosesor untuk memproses dan
menganalisis data dari setiap pengujian. saat sistem pendeteksian fluoresen dikaitkan
dengan uji aliran lateral dan dicocokkan dengan penganalisa kuat, hasil yang diperoleh yaitu
peningkatan kinerja pengujian. Peluang untuk pengujian berjalan seiring dengan penghapusan
salah tafsir yang sering dikaitkan dengan tes point-of-care yang dibaca secara visual
Intensitas fluoresensi yaitu jumlah foton yang diemisikan per unit waktu (s) per unit
volume larutan (l) dalam mol atau ekivalensinya dalam Einstein, dimana 1 Einstein = 1 foton
mol. Intensitas fluoresensi dalam unit volume larutan (medium) yang tereksitasi terjadi dalam
selang waktu transisi (lifetime). Intensitas fluoresensi ini merupakan hasil emisi de-
eksitasi sehingga lifetime pada S1 akan berpengaruh terhadap besarnya intensitas fluoresensi
Dengan memakai mikroskop fluoresen dan antibodi yang dilabel dengan molekul
fluoresen, potongan jaringan dapat diperiksa untuk sel yang mengekspresikan antigen
spesifik. Teknik direk dan indirek dapat mengevaluasi secara kualitatif dan kuantitatif berbagai
sel yang berhubungan dengan molekul pada waktu yang sama (Gambar 5.16).
Ada beberapa macam cara FIA (Fluorescent Immunoassay) menurut Baratawidjaja KG
(2013) yaitu:
1. Direk (langsung)
Cara langsung digunakan untuk menemukan antigen, immunoglobulin atau komplemen,
yang melekat pada sel jaringan penderita.
2. Indirek (tidak langsung)
Cara indirek lebih banyak digunakan untuk menemukan antibodi. Pada cara ini, serum
penderita direaksikan dengan sel atau jaringan, kemudian ditambahkan anti-antibodi
yang bertanda fluoresen dan diperiksa di bawah mikroskop ultraviolet. Cara ini dapat
segera memberikan hasil. Kadang ada fluoresen intrinsik yang berasal dari bahan
yang diperiksa.
C. ASAI BERLABEL RADIOISOTOP (RADIOIMMUNOASSAY ATAU RIA)
1. Sejarah
Yalow dan Berson mengembangkan teknik radioisotop pertama yang mempelajari
volume darah dan metabolisme yodium. Mereka kemudian mengadaptasi metode untuk
mempelajari bagaimana tubuh memakai hormon, terutama insulin, yang mengatur kadar
gula dalam darah. Para peneliti membuktikan bahwa Tipe II (onset dewasa) diabetes
disebabkan oleh tidak efisiennya penggunaan insulin. Sebelumnya, ia berpikir bahwa diabetes
hanya disebabkan oleh kurangnya insulin.
Pada tahun 1959 Yalow dan Berson menyempurnakan teknik pengukuran dan
menamakannya radioimmunoassay (RIA). RIA sangat sensitif. Hal ini dapat mengukur 1012
gram bahan per mililiter darah. sebab sampel yang kecil diperlukan untuk pengukuran, RIA
cepat menjadi alat laboratorium standar. Keuntungan utama dari RIA dibandingkan dengan
immunoassay lainnya yaitu sensitivitas yang lebih tinggi, deteksi sinyal mudah dan mapan,
serta tes cepat. Kelemahan utama yaitu risiko kesehatan dan keselamatan yang ditimbulkan
oleh penggunaan radiasi dan waktu dan biaya yang terkait dengan mempertahankan
keselamatan radiasi berlisensi dan program pembuangan. Untuk alasan ini, RIA telah
digantikan dalam praktek laboratorium klinis rutin dengan immunoassay enzim. Pada
dasarnya setiap substansi biologis yang ada antibodi spesifik dapat diukur, bahkan dalam
konsentrasi menit. Berbagai radioisotop dimanfaatkan dalam pemeriksaan RIA, I125, H3, C14.
Baik CL dan EIA memiliki keunggulan pada reagen yang lebih stabil dan dapat memiliki batas
deteksi yang lebih sensitif, serta tidak ada masalah dengan pembuangan limbah berbahaya
2. Definisi
Radioimmunoassay (RIA) yaitu metode yang mengukur adanya antigen dengan
sensitivitas yang sangat tinggi untuk mengukur jumlah yang sangat kecil dari suatu zat dalam
darah. Pada dasarnya, semua prinsip-prinsip desain assay EIA didasarkan pada kesimpulan
yang diambil dari penggunaan RIA. Meskipun RIA masih merupakan teknik yang layak, namun
sebagian besar telah digantikan oleh CL dan EIA di sebagian besar laboratorium klinis. Versi
radioaktif suatu zat, atau isotop dari substansi, dicampur dengan antibodi dan dimasukkan
dalam sampel darah pasien. Substansi non-radioaktif yang sama dalam darah mengambil
tempat isotop dalam antibodi, sehingga meninggalkan zat radioaktif gratis. Jumlah isotop
gratis kemudian diukur untuk melihat berapa banyak bahan asli dalam darah.
RIA digunakan dalam diagnosis untuk menemukan antigen tunggal atau antibodi dalam
cairan biologis. Asai imun dapat dibagi sebagai kompetitif dan nonkompetitif (Gambar 5.18).
Asai imun biasanya memakai fase padat untuk mengikat atau antigen atau antibodi. Bila
antibodi yang diikat dengan fase padat, absorpsi terjadi melalui region Fc sehingga fraksi Fab
bebas untuk mengikat antigen.
Gambar 5.18
Klarifikasi Asai Imun
Kadar antigen atau antibodi spesifik dalam larutan dapat diperiksa dengan RIA atau
ELISA. RIA merupakan suatu teknik pemeriksaan untuk menentukan antibodi atau antigen
dengan memakai reagen bertanda zat radioaktif (Gambar 5.19)
Gambar 5.19
Radioimmunoassay (RIA)
3. Prinsip
Prinsip dasar metode Radioimmunoassay (RIA) didasarkan pada reaksi antara antibodi
(dalam konsentrasi terbatas) dengan berbagai konsentrasi antigen. Digunakan untuk
menemukan antigen tunggal atau antibodi dalam cairan biologis tunggal dan teknik
pemeriksaan untuk menentukan antibodi atau antigen dengan reagen yang bertanda zat
radioaktif (Gambar 5.20) (Handoyo, 2003).
4. Metode
Target antigen diberi label radioaktif dan terikat ke antibodi spesifik (jumlah terbatas
dan dikenal dari antibodi spesifik harus ditambahkan). Sampel A, misalnya darah serum,
kemudian ditambahkan untuk memulai reaksi kompetitif antigen berlabel dari persiapan, dan
antigen berlabel dari serum sampel dengan spesifik.
Radioimmunoassay yaitu teknik assay tua namun masih digunakan sebagai alat tes
secara luas dan terus menawarkan keuntungan yang berbeda dalam hal kesederhanaan dan
sensitivitas.
Bahan dan peralatan yang dibutuhkan menurut Mengko (2013) antara lain
a. Antiserum spesifik terhadap antigen yang akan diukur.
b. Ketersediaan bentuk berlabel radioaktif antigen.
c. Sebuah metode di mana pelacak antibodi terikat dapat dipisahkan dari pelacak terikat.
d. Instrumen untuk menghitung radioaktivitas.
D. ASAI BERLABEL ENZIM (ENZYME IMMUNOASSAY ATAU EIA)
1. Definisi
Enzyme Immunoassay (EIA) yaitu tes untuk mendeteksi antigen atau antibodi dengan
penambahan enzim yang dapat mengkatalisa substrat sehingga terjadi perubahan warna.
Untuk dapat digunakan pada EIA, enzim harus memenuhi kriteria yaitu memiliki stabilitas
tinggi, spesifitas tinggi, tidak mengandung antigen atau antibodi, tidak ada perubahan oleh
inhibitor dalam sistem.
Enzim berlabel yang sering digunakan yaitu horseradish peroxidase, alkaline
phosphatase, Glocose-6-phosphatase dehydrogenase dan β-galactosidase. Keuntungan dan
kerugian, Enzyme Immunoassay (EIA) menurut Turgeon (2009) yaitu.
a. Keuntungan
1) Tes yang sensitif dapat diperoleh dengan efek penguatan dari enzim.
2) Reagen relatif murah dan jangka waktunya panjang.
3) Dapat menghasilkan tes multiple secara simultan.
4) Dapat menghasilkan konfigurasi tes dengan variasi yang luas.
5) Tidak ada bahaya radiasi selama pemberian label atau pembuangan sampah.
b. Kerugian
1) Pengukuran aktivitas enzim dapat lebih kompleks dibandingkan dengan
pengukuran dengan beberapa tipe radioisotop.
2) Aktivitas enzim dapat dipengaruhi oleh konstitusi plasma.
3) Pada saat ini tes homogen memiliki sensitivitas 10-9M dan tidak sesensitif
radioimmunoassay.
4) EIA homogen untuk protein yang besar dapat dihasilkan namun membutuhkan
reagen imunokimia yang kompleks.
2. Metode
Metode EIA memakai sifat katalisa dari enzim untuk mendeteksi dan menghitung
jumlah reaksi imunologi. Gabungan antibodi berlabel enzim atau antigen berlabel enzim
digunakan pada pemeriksaan imunologi. Enzim dan substratnya mendeteksi keberadaan dan
jumlah antigen atau antibodi yang ada pada sampel pasien.
Hasil pada tes EIA dapat juga dinilai dengan membandingkan hasil spektofometer serum
pasien dengan referensi serum kontrol. Keunggulan tes secara objektif yaitu hasilnya tidak
tergantung dari interpretasi teknisi. Pada umumnya prosedur EIA lebih cepat dan pekerjaan
laboratorium lebih sedikit dibandingkan dengan metode serupa.
3. Tipe Enzim Immunoassays menurut Turgeon ML (2009)
a. Deteksi Antigen
EIA tipe deteksi antigen terdiri atas 4 langkah (Gambar 5.21) yaitu
1) Antibodi yang spesifik terhadap antigen dilekatkan pada suatu permukaan fase
padat (a solid-phase surface) atau suatu manik-manik plastik.
2) Ditambahkan serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung
antigen.
3) Ditambahkan suatu antibodi yang spesifik terhadap antigen tertentu yang berlabel
enzim (conjugate).
4) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada
enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antigen yang ada pada
sampel pasien.
Gambar 5.21
Langkah-langkah Pemeriksaan EIA Tipe Antigen Detection
b. Deteksi Antibodi
EIA antibody detection terdiri dari 3 tipe yaitu noncompetitive EIA, competitive EIA dan
capture EIA.
• Noncompetitive EIA (Gambar 5.22)
1) Antigen yang spesifik dilekatkan pada suatu permukaan fase padat (manik-manik
plastik atau sumur mikrotiter).
2) Ditambahkan serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung
antibodi.
3) Ditambahkan antibodi yang spesifik terhadap antibodi sebelumnya yang telah
dilabel dengan enzim (conjugate).
4) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada
enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antibodi yang ada pada
sampel pasien.
Gambar 5.22
Langkah-langkah Pemeriksaan Noncompetitive EIA
• Competitive EIA (Gambar 5.23)
1) Antigen yang spesifik dilekatkan pada suatu permukaan fase padat (manik-manik
plastik atau sumur mikrotiter).
2) Serum pasien yang mungkin mengandung atau tidak mengandung antibodi
ditambahkan ke dalam plate bersama-sama dengan penambahan antibodi
berlabel enzim (conjugate) yang akan berkompetisi untuk memperebutkan
antigen yang sama.
3) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada
enzim. Jumlah warna yang terjadi berbanding terbalik dengan jumlah antibodi
yang ada pada sampel pasien.
Gambar 5.23
Langkah-langkah Pemeriksaan Competitive EIA
• Capture EIA (Gambar 5.24)
Sebuah capture EIA dirancang untuk mendeteksi tipe spesifik dari antibodi, seperti IgG
atau IgM.
1) Antibodi yang spesifik terhadap IgG atau IgM dilekatkan pada suatu permukaan
fase padat (manik-manik plastik atau sumur mikrotiter).
2) Sampel pasien yang mengandung IgG atau IgM ditambahkan.
3) Ditambahkan antigen yang spesifik.
4) Ditambahkan sebuah antibodi yang spesifik terhadap antigen yang berlabel enzim
(conjugate).
5) Ditambahkan substrat kromogenik, dan terjadi perubahan warna jika ada
enzim. Warna yang terbentuk sesuai dengan jumlah antigen yang spesifik
terhadap IgG atau IgM yang ada pada sampel pasien.
E. ASAI IMUNOKROMATOGRAFI (IMMUNOCHROMATOGRAPHIC ASSAY
ATAU ICA)
1. Definisi
Pengembangan teknik pemeriksaan dalam bidang imunoserologi yaitu
imunokromatografi, yang berasal dari kata “imunologi” dan “kromatografi”. Imunologi yaitu
cabang ilmu kesehatan yang mencakup studi tentang semua aspek dari sistem kekebalan
tubuh terutama dalam pemeriksan yaitu mengidentifikasi antigen atau antibodi. Sedangkan
kromatografi yaitu teknik dalam memisahkan molekul berdasarkan perbedaan berat pola
pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul)
yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati membran
nitroselulosa/kolom sebagai fase diam. Sehingga imunokromatografi yaitu teknik untuk
memisahkan dan mengidentifikasi antigen atau antibodi yang terlarut dalam sampel atau
disebut juga aliran samping (lateral flow test) atau dengan singkat disebut uji strip (strip test)
(Gambar 5.25)
Komponen pada imunokromatografi yang meliputi
a. Sample pad bertindak sebagai spons dan menyimpan kelebihan cairan sampel.
b. Conjugate (detektor) pad
c. Membran selulosa
d. Garis test
e. Garis kontrol
f. Absorbing pad
Keuntungan dan kekurangan metode ini yaitu :
a. Format yang disukai oleh pemakai (teknisi laboratorium).
b. Pembacaan secara makroskopik.
c. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tes sangat singkat
d. Stabil untuk jangka panjang dengan berbagai iklim.
e. Kerja secara sangat praktis.
f. Hasil pemeriksaan hanya dapat dinyatakan kualitatif belum dapat menyatakan
kuantitatif.
2. Prinsip
Prinsip kerja dari imunokromatografi pada penentuan antigen menurut Martini (2018)
yaitu
a. Sampel cair dijatuhkan atau diteteskan pada tempat sampel pad, kemudian antigen
dalam sampel akan bergerak membentuk imunokompleks dengan antibodi berlabel
emas koloid (colloidal gold labeled antibody).
b. Senyawa kompleks ini bergerak bersama dengan cairan sampel, dan saat terjadi
kontak dengan antibodi yang menempel pada membran, selanjutnya akan membentuk
senyawa immunokompleks dengan antibodi bergerak menghasilkan garis berwarna
ungu merah.
c. Pemeriksaan dikatakan valid bila muncul garis pada kontrol, baik dengan garis test
berwarna (positif) atau garis test tidak timbul warna (negatif). Bila tidak muncul garis
pada kontrol, pemeriksaan dikatakan invalid dan harus diulang. Terbentuknya garis ungu
pada area tes menunjukkan hasil positif (Gambar 5.26 dan Gambar 5.27).
Keterangan :
• Positif = jika garis kontrol berwarna dan garis tes berwarna.
• Negatif = jika tidak muncul warna atau warna lemah di








