Imunologi 5

 



ong. Stimulasi ini terjadi oleh interaksi 

langsung dengan sel B atau dengan cara menginduksi sel T atau makrofag 

untuk mensekresi faktor-faktor nonspesifik sehingga B terangsang untuk 

membentuk autoantibodi. Autoantibodi yang dibentuk pada proses ini 

umumnya terdiri atas IgM , dan biasanya menghilang sesudah  mikroba atau 

produk mikroba penyebab pembentukan antibodi ini  disingkirkan.

Teori genetik

Bahwa faktor genetik turut berperan dan memudahkan terjadinya 

penyakit autoimun di dukung oleh hasil berbagai penelitian. Penyakit 

autoimun cenderung dujumpai pada sejumlah anggota keluarga tertentu. 

Tirotoksikosis lebih sering dijumpai pada kembar identik dibanding 

kembar non-identik. Walaupun tidak ada faktor genetik tunggal yang 

bertanggungjawab terhadap terjadinya autoimunitas, faktor genetik 

utama yang berkaitan dengan penyakit autoimun yaitu  MHC kelas II. 



Telah terbuktikan bahwa ada korelasi yang kuat antara beberapa jenis 

penyakit autoimun dengan spesifitas HLA tertentu misalnya : HLA-DR3 

dengan penyakit Addison’s HLA-DR4 dengan artritis reumatoid

2. PATOGENESIS PENYAKIT AUTOIMUN

berdasar  uraian diatas tampak bahwa sebab terjadinya respons 

autoimun bermacam-macam. Walaupun belum ada bukti-bukti yang 

memastikan patogenesis penyakit autoimun, namun  diduga kerusakan 

jaringan terjadi dengan beberapa mekanisme. Pada hekekatnya ketiga 

mekanisme yang diuraikan di bawah bekerja sama untuk memicu  

keadaan patologik.

1. Kerusakan akibat destruksi sel

 Kerusakan jaringan disebabkan reaksi autoantibodi dengan 

struktur permukaan sel, baik yang utuh maupun yang telah berubah 

atau mengalami modifikasi. Destruksi biasanya terjadi bila ada 

komplemen seperti yang terjadi pada anemia hemolitik autoimun, 

atau mungkin juga melalui sitotoksisitas selular dengan bantuan 

antibodi (antibody dependen cell mediated cytotoxicity/ADCC), 

seperti yang terjadi pada tiroiditis hashimoto. Kadang-kadang 

autoantibodi terhadap reseptor sel tertentu merangsang atau 

menghambat fungsi sel tanpa merusaknya, misalnya autoantibodi 

pada tirotokikosis Grave’s yang memicu  rangsangan pada 

kelenjar sehingga terjadi hipertiroid, atau yang memicu  

hambatan mitotik dan mengakibatkan atrofi kelenjar

2. Kerusakan akibat pembentukan kompleks imun

 Kerusakan jaringan diawali dengan pembentukan kompleks yaitu 

kompleks autoantibodi-autoantigen yang kemudian menyulut 

aktivitas komplemen, granulosit dan monosit. Selanjutnya proses 

ini memicu  kerusakan jaringan sistemik seperti pada SLE 

maupun lokal seperti pembentukan arthus pada reumatoid

3. Kerusakan akibat reaksi imunologik seluler

 Kerusakan jaringan terjadi sebab  sel T sitotoksik yang 

tersensitisasi merusak sel atau jaringan secara langsung atau 

melalui produksi limfokin oleh sel T yang menyulut respons 

inflamasi



3. SPEKTRUM PENYAKIT AUTOIMUN

Penyakit autoimun dapat dianggap sebagai golongan penyakit yang 

kalau disusun berututan membentuk spektrum. Pada ujung spektrum 

yang satu ada  penyakit autoimun yang spesifik organ (organ specific), 

misalnya tiroiditis Hashimoto, myxedema primer, anemia pernisiosa. 

Pada ujung spektrum yang lain ada  penyakit autoimun yang tidak 

dispesifikasikan organ, misalnya SLE, sklerodem, dermatomiosifik 

artritis reumatoid. Ditengah-tengah yaitu  golongan penyakit yang 

kerusakanannta cenderung spesifik organ tertentu namun  autoantibodi 

yang dbentuk tidak spesifik organ ini , misalnya anemia hemolik 

autonimun, idiopthia thrombocytopenic purpura (ITP), sirosis bilier 

primer. Pada umumnya ada kecendurungan seseorang menderita lebih 

dari satu jenis penyakit autoimun, dan biasanya penyakit-penyakit 

itu ada  dalam spektrum yang sama, misalnya SLE sering disertai 

artritis reumatoid. Bhakan seringkali terjadi tumpang tindih antara 

hasil pemeriksaan serologis, misalnya pada penderita tiroiditis dengan 

antibodi terhadap kelenjar tiroid sering di jumpai antibodi terhadap 

perietal lambung. Hal ini bukan merupakan reaksi silang sebab  antibodi 

terhadap tiroid tidak akan bereaksi dengan sel-sel parietal lambung 

demikian pula sebaliknya antibodi terhadap sel parietal tidak dapat 

bereaksi dengan sel-sel kelenjar tiroid.

Penyakit autoimun organ spesifik

Beberapa contoh penyakit autoimun yang sering dijumpai dari 

golongan spesifik organ, yaitu  yang termasik penyakit autoimun 

endokin. Diduga autoimunitas diawali dengan proses inflasmasi (mungkin 

akibat infeksi) dalam kelenjar endokrin. Sel-sel inflamasi menghasilkan 

interferon dan sitokin lain yang mengiduksi ekspresi MHC kelas II pada 

permukaan sel endokrin. Kesalahan dalam ekspresi MHC kelas II atau 

pengenalan kompleks MHC antigen oleh sel-sel sistem imun secara tidak 

tepat mengakibatkan autoantigen dianggap sebagai asing. Sel endokrin 

berfungsi sebagai APC bagi protein selnya sendiri yang dikenal dengan 

sel T dan sel B autoreaktif yang mengakibatkan destruksi sel-sel sistem 

imun. Mekanisme lain yang juga mungkin terjadi yaitu  interaksi idiotip 

anti-idiotip seperti uraikan diatas. 



Penyakit autoimun organ spesifik

Beberapa contoh penyakit autoimun yang sering dijumpai dari 

golongan spesifik organ, yaitu  yang termasik penyakit autoimun 

endokin. Diduga autoimunitas diawali dengan proses inflasmasi (mungkin 

akibat infeksi) dalam kelenjar endokrin. Sel-sel inflamasi menghasilkan 

interferon dan sitokin lain yang mengiduksi ekspresi MHC kelas II pada 

permukaan sel endokrin. Kesalahan dalam ekspresi MHC kelas II atau 

pengenalan kompleks MHC antigen oleh sel-sel sistem imun secara tidak 

tepat mengakibatkan autoantigen dianggap sebagai asing. Sel endokrin 

berfungsi sebagai APC bagi protein selnya sendiri yang dikenal dengan 

sel T dan sel B autoreaktif yang mengakibatkan destruksi sel-sel sistem 

imun. Mekanisme lain yang juga mungkin terjadi yaitu  interaksi idiotip 

anti-idiotip seperti uraikan diatasAdanya autoantibodi spesifik organ 

tertentu digunakan sebagai parameter untuk menunjang diagnosis. Dari 

berbagai jenis penyakit autoimun spesifik organ, dianataranya yaitu : 

tiroiditis Hashimoto, tirotoksis Grave’s, dan sindroma mixedema primer 

(tiroiditis atrofik.)


Tiroiditis Hashimoto

Gambaran klinik tiroiditas Hashomoto bermacam-macam; mungkin 

di jumpai pembesaran kelenjar dan kelainan fungsi. Sebagian besar 

penderita menunjukkan eutiroid, namun  dapat juga menunjukkan 

hipotiroid atau hipertiroid (Hashitoksikosis). Pada penyakit ini di jumpai 

berbagai jenis autoantiroksin maupun antibodi terhadap kompleks koloid 

non-tiroglobulin

Anti-tiroglobulin dengan titer 1/10 di jumpai pada sekitar 60% 

penderita, sedang  anti-mikroson dengan titer 1/10 dijumpai pada 

94% penderita. Titer yang sangat tinggi, misalnya 1/1280 untuk anti- 

tiroglobulin dan 1/6400 untuk anti-mikrosom jarang di jumpai pada 

penyakit lain selain tiroiditis hashimoto atau tirotiksikosis Grave. 

Disamping itu ada  infiltrasi limfosit, makrotag dan sel plasma dalam 

kelenjar bahkan sering sering kali infiltrrasi itu mendesak hampir seluruh 

struktur jaringan kelenjar, dan sensitisasi terhadap antigen tiroid.

Walaupun autoantibodi tampaknya mempunyai peran penting dalam 

memicu  kelainan, ternyata bahwa respons imun selularlah yang 

terutama memicu  keadaan patologik. Telah dibutktikan bahwa pada 

keadaan ini terjadi peningkatan aktivitas sel T sitotoksik dan produksi 

limfokin oleh limfosit T. besar kemungkinan bahwa autoantibodi dibentuk 

sebab  adanya kerusakan sel akibat respons imun selular. namun  limfosit 

T sendiri tidak bersifat sitotoksik terhadap sel kelenjar tiroid; sebab  itu 

diduga bahwa disini berperan sitotoksisitas dengan bantuan antibodi 

(ADCC). Antibodi atau kompleks autoantigen melekat pada sel folikular 

dan sel itu selanjutnya dirusak oleh sel K yang mempunyai reseptor untuk 

fragmen Fc antibody.

Tirotoksis Grave’s

Penyakit grave’s yang juga dikenal sebagao toxic goiter atau exophtalmic 

goiter timbul sebagai akibat produksi antibodi yang merangsang tiroid. Ciri 

penting dari penyakit ini yaitu  adanya antibodi terhadap antigen tiroid 

yang merangsang fungsi tiroid dan berikatan dengan reseptor TSH; ada  

ekspresi MHC kelas II pada permukaan thyroid dan tanpa oftalmopati dan 

dermopati (LATS) atau thyroid stimulating antibody (TSAb). Antibodi ini 

dapat bereaksi dengan reseptor TSH yang ada  pada permukaan kelenjar 

tiroid. Interaksi antara TSAb dengan reseptor itu memicu  aktivitas 


yang sama seperti aktivitas yang dihasilkan oleh rangsangan TSH, yaitu 

produksi hormon tiroid melalui sistem adenylase. Diduga TSAb berikatan 

dengan salah satu bagian reseptor TSH atau molekul yang ada  pada 

reseptor. Reaksinya analog dengan stimulasi limfosit; limfosit B dengan 

reseptor imunoglobulin apabila ada induksi pada reseptor ini  oleh 

antigen maupun oleh anti – imunnolgobulin. Reaksi ini disebut juga reaksi 

hipersensitivitas tipe V. Penelitian Elvira tahun 2021,  pada pasien penyakit 

Grave’s dengan kadar autoantibodi yang meningkat, berhubungan dengan 

gangguan toleransi autoantigen spesifik tiroid dan tingginya kadar  IL-17 dan 

TGF-β dibanding kontrol normal. hipertiroidi yang berasal dari Ibu itu telah 

menghilang sebab  katabolisme. Ada dugaan bahwa pembesaran kelenjar 

tiroid pada penyakit Grave’s disebabkan reaksi antar antibodi dengan 

reseptor pertumbuhan (growth receptor). Hal ini memicu  sel kelenjar 

berproliferasi yang dapat dinyatakan dengan hiperaktivitas metabolik

Tabel 9.1:  Autoantibodi terhadap jaringan pada penyakit autoimun

 organ spesifik dan non-organ spesifik

Sindroma mixedema primer (Tiroiditis Atrofik)

Sebaliknya dari tirotoksikosis Grave’s serum penderita mixedema 

primer mengandung antibodi yang mampu menghambat aktivitas 

mitogenik TSH, sehingga pertumbuhan dan fungsi tiroid terganggu. 

Telah diketahui bahwa dalam serum orang normal ada  sejenis 



imunoglobulin thyroid growth immunoglobulin (TGI). yang mampu 

merangsang proliferasi kelenjar tiroid Beberapa peneliti dapat 

menunjukkan bahwa dalam serum penderita penyakit tiroid atrofik dapat 

di jumpai anti-TBI yang menghambat aktivitas TGI

Dari uraian tampak bahwa ada perbedaan yang jelas antara respons 

autoimun pada kelainan tiroid satu dengan yang lain, mulai respons 

imun yang memicu  kerusakan sel, stimulasi metabolik, peningkatan 

pertumbuhan atau hambatan mitotik. Dengan aneka ragam kombinasi 

respons imun itu dapat memicu  berbagai bentuk kelainan 

tiroid. Respons yang melibatkan antigen tiroglobulin dan mikrosom 

memicu  kerusakan jaringan, sedang  respons yang lain dapat 

merangsang atau menghambat akitivitas metabolik atau pembelahan 

sel tanpa merusaknya. Hashitoksikosis merupakan kombinasi antara 

tiroiditis Hashimoto dengan tirotoksikosis

Dinagnosis laboratorium penyakit tiroid

Walaupun respons autoimun dapat terjadi humoral maupun selular, 

namun  pada saat ini respons imulogik humoral mempunyai arti lebih 

penting untuk diagnosis laboratorium. Pada umumnya pemeriksaan 

laboratorium untuk mendeteksi antibodi dilakukan dengan cara 

aglutinasi, enzyme linked immunosirbent assay (ELISA), imunofluorensi 

atau radioimmunoassay

Penyakit autoimun non-organ spesifik

Golongan penyakit autoimun yang tidak spesifik organ dan paling 

sering dijumpai yaitu  systemic lupus erythematosus (SLE) dan artritis 

reumatoid.

Systemic lupus erythematosus (SLE)

Systemic lupus erythematosus yaitu  penyakit autoimun sistemik 

dengan peradangan multiorgan seperti persendian, kulit, otak, paru-

paru, ginjal, dan pembuluh darah, ditandai dengan produksi autoantibodi 

terhadap asam nukleat dan protein pengikatnya, yang mencerminkan 

hilangnya toleransi terhadap self. Hilangnya toleransi dengan disregulasi 

imun berkaitan dengan faktor genetik, dan lingkungan. Penyebab SLE 

belum jelas, namun berbagai faktor seperti faktor genetika bersama 


dengan faktor lingkungan terbukti berperan pada kejadian penyakit ini. 

Penelitian pada kembar identik, jika salah satu menderita SLE, 24% yang 

lain dapat menderita kelainan yang sama yang. Hormon seks wanita, 

sinar matahari, merokok, kekurangan vitamin D, dan infeksi tertentu juga 

diyakini meningkatkan risiko SLE.

Pada penderita yang secara genetik menunjukkan predisposisi untuk 

SLE dapat di jumpai gangguan sistem regulasi sel T dan fungsi sel B, yang 

dapat dinduksi oleh berbagai hal. Gejala awal yang menetap yaitu  adanya 

anergi terhadap antigen yang umum (recall antigen). Diduga hal ini timbul 

akibat adanya inti limfosit T yang memicu  limfopenia dan kepekaan 

terhadap infeksi optunistik. Defesiensi sel T penekan merupakan 

gangguan imunitas selular yang paling menonjol. Sebaliknya sel B menjadi 

hiperaktif sebab  tiadanya pengendalian oleh sel T penekan, atau aktivitas 

berlebihan melalui pembentukan B-cell-growth- faktor (BCGF).

Respon imun bawaan yang menyimpang berperan penting dalam 

patogenesis SLE, dimana cedera jaringan melalui pelepasan sitokin 

inflamasi serta aktivasi sel T dan B autoreaktif yang menyimpang, dengan 

yang terakhir memicu  produksi autoantibodi. Asam nukleat 

autoantigenik dan protein pengikatnya diperlukan untuk aktivasi spesifik 

antigen self dari limfosit autoreaktif. Autoantigen yang berikatan dengan 

autoantibodi secara langsung dapat mengaktivasi sel imun bawaan 

melalui penyerapan kompleks yang dimediasi reseptor Fc.

Hilangnya toleransi sel B pada SLE, memicu  produksi ANA oleh 

sel plasma. Lebih dari 90% pasien SLE mengalami peningkatan titer 

serum ANA, rata-rata 2-3 tahun sebelum onset klinis SLE, dan 30-70% 

pasien SLE mengalami penyakit ginjal sebab  akumulasi kompleks imun 

di glomerulus. Kompleks imun mengaktivasi jalur komplemen alternatif 

dan perekrutan makrofag proinflamasi dan sel dendritik ke glomeruli 

melalui sinyal kemotaktik yang meningkatkan produksi sitokin inflamasi 

dan mengaktifkan subset sel T autoreaktif. melalui presentasi antigen dan 

kostimulasi.

Sel T helper CD4⁺ memainkan beberapa peran kunci dalam patogenesis 

SLE. Sel T helper 1 (Th1) bertanggung jawab untuk produksi sitokin pro-

inflamasi, seperti interferon-γ (IFN-γ), yang merangsang sel dendritik 

dan myeloid untuk memproduksi IL-1, IL-6, IL-12, IL-18, TNF-α, dan BAFF 

yang memicu  lingkaran pro-inflamasi secara terus-meneru. Sel Th2 



menghasilkan sitokin IL-4 dan IL-5 yang menginduksi pergantian kelas 

isotipe antibodi menjadi autoantibodi patogen dengan afinitas tinggi. Sel 

Th17 juga menginduksi sel B untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma 

sel plasma yang memproduksi autoantibodi patogen dan hiperaktivasi sel 

myeloid yang mendorong inflamasi sistemik. Sel B dapat mengaktifkan sel T 

autoreaktif melalui presentasi antigen dan kostimulasi dan menghasilkan 

sitokin termasuk IL-6, suatu sitokin pro-inflamasi yang mampu memicu 

inflamasi dengan menghambat pembentukan sel T regulator penekan 

autoimun (Treg). Penelitian Elvira dkk pada tahun 2020, mendapatkan 

bahwa ada  korelasi positif antara sitokin pro-inflamasi IL-17 dan 

sitokin anti-inflamasi IL-10 pada penderita SLE peningkatan IL-10 pada 

penderita SLE aktif.

Manifestasi klinis SLE umumnya terjadi pada berbagai organ dan 

jeringan di seluruh tubuh dan terutama di tandai dengan vaskulitis 

sistemik yang tidak diketahui sebebnya. sebab  faktor etiologik belum 

diketahui pasti, maka diagnosis penyakit ditegakkan berdasar  adanya 

sejumlah gejala klinik dan data laboratorium. Untuk membakukan cara 

penentuan diagnosis, American Rheumatism association, yaitu bahwa 

diagnosis SLE dipastikan apabila di jumpai sedikitnya 4 kriteria dari 

daftar kriteria diagnostik

Diagnosis laboratorium SLE

Uji serologik yang bermakna untuk diagnosis SLE yaitu  :

1. Penentuan anti nuclear antibody (ANA)

 Pada penderita dapat dijumpai hasil uji ANA positif, namun hasil 

ANA positif tidak spesifik untuk SLE sebab  ANA positif dapat pula 

di jumpai pada penyakit autoimun lain. Walaupun demikian, ANA 

positif dengan titer tinggi merupakan indikasi untuk SLE, dan pada 

penderita dengan titer ANA tinggi harus dilakukan pemeriksaan 

lanjutan

2. Penentuan antibodi terhadap double stranded DNA (a-ds DNA)

 Hasil uji a-ds DNA positif spesifik untuk SLE, namun  cara pengujian 

ini tidak terlalu sensitif sebab  sekitar 20 % penderita SLE aktif 

mungkin tidak menunjukkan a-ds DNA. Peningkatan titer a-dsDNA 

sesuai dengan progresivitas SLE



3. Penentuan antibodi terhadap extractable nuclear antigen(ENA)

 Komponen protein nukleus yang tidak tergolong histone dikenal 

sebagai ENA. E extractable nuclear antigen yang terdiri dari 

berbagai jenis antigen mempunyai makna klinik sebab  dapat 

membedakan penyakit reumatoid yang satu dari yang lain. 

Antibodi terhadap ENA menunjukkan pola (speckled) bercak 

pada pemeriksaan imunofluoresensi, namun  frekuensi hasil positif 

berbeda-beda tergantung substrat yang digunakan. Beberapa 

macam ENA yang dikenal yaitu  antigen SM (SM yaitu  Inisial nama 

penderita pertama yang menampilkan antigen ini), antigen nuclear 

ribonucleoprotein (NRNP) dan antigen SS- B. antibodi terhadap SM, 

apabila ada, sangat spesifik untuk SLE, namun  sayang sekali hanya 

25% penderita SLE menunjukkan antibodi ini. Antibodi terhadap 

NRNP dijumpai pada 40% penderita anti-NRNP tidak membentuk 

anti –DNA dan mempunyai prognosis baik

Artritis Reumatoid

Artritis reumatoid atau Rheumatoid arthritis (RA) yaitu  

penyakit autoimun kronis, kompleks, dan heterogen, ditandai Hal 

ini ditandai dengan adanya inflamasi yang berlangsung lama pada 

sendi diarthrodial, mengakibatkan poliartritis simetris dan hipertrofi 

membran sinovial dengan kerusakan sendi yang progresif, destruksi 

tulang dan kartilago serta deformitas. Kompromi autoimun bersifat 

sistemik, memicu  manifestasi ekstra-artikular. Komorbiditas 

sering terjadi, oleh sebab  itu, kecacatan, gangguan kualitas hidup, 

dan kematian dini lebih tinggi dari pada populasi umum. Faktor 

genetik human lymphocyte antigen class II (HLA-II) berperan pada 

patogenesisi penyakit ini. Prediksi risiko RA yaitu  salah satu tantangan 

utama pengobatan secara individual, dan memakai  interaksi gen- 

lingkungan, pengukuran sitokin, dan deteksi autoantibodi.

Kelainan sendi yang dijumpai pada artritis reumatoid terjadi 

akibat pertumbuhan sel-sel sinovial yang merusak tulang dan tulang 

rawan. Membran sinovial menjadi hiperselular sebab  akumulasi 

sejumlah besar limfosit dalam berbagai stadium aktivitas, sel plasma 

dan makrofag. Semua sel imun menunjukkan aktivitas yang tinggi 

dan interaksi antara sel-sel ini  memicu  pembentukan 



imunolgobulin dan faktor reumatoid. Interaksi antara faktor 

reumatoid dengan Fc-IgG dan C1q membentuk kompleks, yang bila 

ada  dalam sendi akan mengawali terjadinya reaksi arthus. Sel- 

sel polimorfonuklear akan melepaskan enzim lisozom, termasuk 

proteinase dan kolagenase yang dapat merusak tulang rawan 

sendi. Kompleks itu juga akan merangsang sel -sel sinovial yang 

mirip makrofag untuk melakukan fagositosis. Sebaliknya makrofag 

merangsang limfosit T untuk melepaskan berbagai limfokin, salah satu 

diantaranya yaitu  fibroblast tik yang manarik granulosit ke tempat 

terjadinya kerusakan. Makrofag yang teraktivasi melepaskan berbagai 

mediator di antaranya plasminogen, interleukin-1 dan prostaglandin 

E2 (PGE2) yang dapat mengaktivasi osteoklas sehingga terjadi resorpsi 

tulang dan mengakibatkan penyakit lebih parah.

Proses inflamasi kronis pada sinovium memicu  hiperplasia 

yang membentuk panus, dan peningkatan aktivitas osteoklastogenik. 

Peradangan kronis ditandai dengan infiltrasi sel mononuklear 

terutama termasuk limfosit, monosit/makrofag, dan sel dendritik. 

Membran sinovial berkembangmenjadi organ limfoid sekunder, 

dimana pad germinal diproduksi faktor reumatoid dan autoantibodi. 

Akibatnya terjadi peningkatan produksi sitokin pro-inflamasi dan 

kemokin, yang berperan pada perekrutan sel baru dan kerusakan 

sendi yang progresif. Penelitian Darwin tahun 2004 yang dilakukan 

pada hewan coba artritis reumatoid mendapatkan bahwa molekul 

adesi ICAM, VICAM dan selektin-L meningkat pada pada tahap  inisiasi, 

tahap  aktif dan tahap  kronik dari RA. Sitokin pro-inflamasi TNF-α semua 

tahap  dari RA, dan IL-1 meningkat paling tinggi pada tahap  aktif. Hal 

ini mengindikasikan bahwa molekul adesi dan sitokin pro-inflamasi 

berperan pada patogenesis RA terutama pada tahap  aktf.

Proses perusakan kartilago secara langsung dapat terjadi sebab  

peningkatan aktivitas matrix metaloperoteinase (MMPs), yang 

dihasilkan oleh fibroblas dan subpopulasi seluler lainnya pada 

permukaan pannus-kartilago. Sel-seldalam infiltratinflamasi, terutama 

sel T, mengaktifkan proses osteoklastogenesis yang mengarah pada 

peningkatan proses resorptif tulang yang memicu  osteopenia 

juxta-artikular dan munculnya erosi.



Diagnosis laboratorium artritis reumatoid

ada  beberapa cara uji laboratorium yang sering digunakan untuk 

menunjang diagnosis artritis reumatoid, beberapa diantaranya yaitu :

1. Penetapan faktor reumatoid

 Ciri utama yang menentukan artritis reumatoid yaitu  adanya 

antiglobulin yang disebut faktor reumatoid, yaitu suatu 

autoantibodi terhadap fragmen Fc dari IgG. Sebagian besar faktor 

reumatoid terdiri atas molekul IgM yang dapat dideteksi dengan 

cara aglutinasi lateks. Mungkin juga faktor reumatoid terdiri atas 

molekul IgG yang tidak dapat dideteksi dengan cara aglutinasi, 

sehingga dianggap seronegatif, namun  dapat dideteksi dengan cara 

yang lebih sensitif misalnya dengan cara RIA. Hasil negatif palsu 

mungkin dijumpai bila binding sites IgM terhalang (blocked) 

sehingga reaksi faktor reumatoid IgM dengan IgG membentuk 

kompleks yang larut dan tidak memicu  aglutinasi. Namun, 

kasus yang benar- benar seronegatif juga ada, yaitu bila artritis 

reumatoid terjadi agamaglobulinemia.

 Terbentuknya anti-G diduga merupakan akibat autosensitisasi 

IgG. Anti-imunoglobulin atau faktor reumatoid diproduksi sebagai 

reaksi terhadap IgG yang mengalami perubahan konfigurasi. 

Perubahan konfigurasi atau struktur IgG telah terbukti disebabkan 

glikosilasi abnormal pada fragmen Fc dari IgG. Akibat perubahan 

struktur pada fragmen Fc ini maka fragment Fc dan IgG dianggap 

asing sehingga pembentukan anti IgG.

2. Penetapan Antibodi antinuklear

 Antibodi antinuklear (ANA) seperti yang dijumpai pada SLE juga 

dapat di jumpai pada artritis reumatoid. Sebab terbentuknya ANA 

belum diketahui pasti, namun beberapa hipotesis menyatakan 

bahwa pembentukan ANA disebabkan limfosit B yang hipotesis 

dan aktivasi klon yang reutoreaktif baik sebab  gangguan limfosit 

Ts, maupun stimulasi poliklonal terhadap sel B oleh mikroba atau 

virus. Akhir- akhir ini terungkap bahwa dalam serum penderita 

dapat di jumpai suatu antibodi yang ditujukan terhadap antigen 

nukleus limfosit yang terinfeksi dengan virus Epstein-Barr. Antibodi 

ini bereaksi dengan nukleus limfosit normal


REAKSI PENOLAKAN JARINGAN TRANSPLANTASI

Transplantasi yaitu  tindakan mentransfer sel, jaringan, atau organ 

dari satu tempat ke tempat lain, biasanya antara individu yang berbeda. 

Transplantasi diawali oleh Daedalus yang melarikan diri dari penjara 

di Crete dengan melakukan transplantasi dengan sayap burung agar 

dapat terbang. Ia berhasil melakukan transplantasi xenograft sehingga 

dapat terbang dan mendarat di Yunani. namun  anaknya Icarius gagal 

dengan transplantasinya, sebab  perlekatan transplantnya meleleh 

akibat temperatur. Keadaan ini dicatat sebagai kasus pertama dari reaksi 

penolakan transplantasi hiperakut. Hal yang berbeda yaitu  riwayat Mary 

pada zaman Bizantium yang mengalami kerusakan lengannya, kemudian 

dilakukan perbaikan secara anatomi dan fisiologi. Keberhasilan perbaikan 

ini bukan hanya oleh sebab  keahlian operator saja, akan namun  sebab  

jaringan yang dipakai yaitu  jaringan sendiri atau autograft.

Tranplantasi organ atau jaringan merupakan tindakan klinik sangat 

penting yang bertujuan mengganti fungsi organ atau jaringan yang rusak 

sebab  proses patologis yang ireversibel seperti kerusakan ginjal, hati, 

jantung, paru-paru, atau pankreas). dari donor. Namun, sistem imun 

menjadi penghalang untuk transplantasi sebab  sestem imun memliliki 

mekanisme yang rumit dan efektif untuk menolak agen asing.

Transplantasi yang dilakukan antar manusia dilakukan pada tahun 1950 

an, yaitu transplantasi ginjal dari donor manusia pada resipien manusia 

lain. Transplantasi pada spesies yang sama tapi genetik berbeda ini 

merupakan transplantasi alograft dan dari eksperimen ini diketahui 

bahwa kegagalan transplantasi merupakan penolakan atau rejeksi dari 

transplantasi yang dapat dikontrol dengan menekan aktifitas sistim 

imun mempergunakan obat-obatan yang bersifat imunosupresif. Pada 

transplantasi yang dilakukan antara subjek yang identik secara genetik 

seperti pada orang kembar monozigot yang disebut syngraft, tidak terjadi 

penolakan atau rejeksi organ transplantasi.

Walaupun mekanisme reaksi penolakan jaringan tranplantasi yang 

pasti belum di ketahui, banyak kemajuan telah di capai dalam khususnya 

identifikasi berbagai jenis antigen yang diduga bertanggung jawab 

dalam mengawali respon aloreaktif, disamping menentukan berbagai 



strategi untuk mencegah dan mengendalikan reaksi penolakan jaringan 

merupakan reaksi imunologik, dan dasar imunologik penolakan ini di 

buktikan dengan percobaan binatang. Sel limfoid berperan dalam proses 

penolakan, dibuktikan dengan adanya akumulasi sel-sel mononukler 

dalam jaringan transplan ditolak. Invasi PMN dan limfosit termasuk sel 

plasma terlihat pada jaringan segera sesudah  tranplantasi, sedang  

trombosis dan destruksi jaringan dapat dilihat dalam waktu 3-4 hari. Di 

lain pihak, jaringan tranplantasi mampu mengaktivasi semua unsur yang 

terlihat dalam pengaturan respons imun.

1. NOMENKLATUR TRANSPLANTASI

Gambar 11.1 : Jenis-jenis transplantasi

Transplantasi jaringan dari satu bagian tubuh ke bagian lain pada 

orang yang sama (autologus) merupakan transplantasi autograft. Organ 

atau jaringan yang ditransplantasikan bukan jaringan yang dianggap 

asing, sebab  itu tidak memicu  reaksi penolakan. Jaringan dari 

donor yang secara genetik identik dengan resipien (syngeneic), seperti 

pada kembar identik atau binatang yang dibiakkan dilaboratorium 


merupakan transplantasi isograft. Organ atau jaringan transplant 

tidak mengekspresikan antigen asing pada permukaannya yang dapat 

membangkitkan respons imun pada resipien, sehingga tidak ditolak. 

Dilain pihak, organ atau jaringan yang berasal dari spesies yang sama 

tapi genetik berbeda (allograft), merupakan transplantasi allogeneic 

yang dapat mengekspresikan alloantigen yang dianggap asing oleh 

resipien sehingga bila tidak diberikan imunosupresi dapat memicu  

reaksi penolakan. Organ atau jaringan yang berasal dari spesies yang 

berbeda (xenograft) yaitu  transplantasi xenogeneic, yang memicu  

penolakan transplant dengan sangat cepat (hyperacut graft rejection), 

proses penolakan dapat terjadi baik melalui interaksi dengan IgM yang 

secara alamiah ada dalam darah resipien maupun melalui respons imun 

selular yang berlangsung cepat (gambar 11.1).

Berbagai kendala dalam melaksanakan transplantasi terutama 

disebabkan ketidak cocokan donor dengan resipien secara genetik. Hal 

yang perlu dipertimbangkan pada reaksi penolakan jaringan yaitu  

kemungkinan bahwa jaringan transplan mempunyai antigen yang tidak 

dimiliki oleh resipien sehingga sistem imun resipien bereaksi dengan 

jaringan ini  dan mengakibatkan terjadinya reaksi host versus 

graft (HvGD). Lain halnya pada transplatasi sumsung tulang alogenik 

dimana jaringan sumsum tulang yang ditransplantasikan mengandung 

banyak limfosit T yang imunokompeten. Apabila resipien tidak mampu 

melawannya, sel-sel imunokompeten yang berasal dari donor akan 

merusak jaringan atau sel resipien sehingga terjadi reaksi host versus 

graft (HvGD). Ketidakmampuan penolakan jaringan oleh resipien ini 

dapat disebabkan hubungan grafik antara donor dengan resipien atau 

penurunan imunokompetensi resipien akibat imunosupresi.

2. ASPEK GENETIK TRANSPLANTASI

Antigen yang ada  pada bermacam-macam jaringan menentukan 

cocok tidaknya jaringan ini  satu dengan yang lain. Spesifisitas 

antigen yang terlibat dalam reaksi penolakan jaringan dikendalikan 

secara genetik. Individu-individu yang secara genetik identik, misalnya 

kembar satu telur, dapat saling menukar organ masing-masing tanpa 

memicu  reaksi penolakan.



Dari berbagai jenis antigen, yang paling penting pada transplantasi 

yaitu  antigen MHC kelas I maupun MHC kelas II, yang apabila tidak sesuai 

satu dengan lain akan memicu  penolakan jaringan transplantasi 

dengna tingkat kekuatan dan kecepatan yang berbeda- beda. Dari 

berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa suatu lokus pada kromosom 

yang disebut locus-H-2 merupakan bagian dari gen yang mengendalikan 

antigen transplantasi MHC. Distribusi MHC tidak merata pada semua sel. 

Molekul MHC kelas I biasanya diekspresikan pada sebagian besar sel 

berinti, sedang  MHC kelas II hanya dijumpai pada APC, yaitu sel-sel 

dendritik, makrofag teraktivasi, sel B dan pada beberapa spesies juga 

dapat dijumpai pada sel T teraktivasi dan endotel vaskular.

Ekspresi MHC dikendalikan oleh sitokin, di antaranya yang paling kuat 

yaitu  IFN-gama dan TNF. Sitokin ini dapat merangsang ekspresi MHC 

pada sel-sel yang biasanya hanya mengekspresikan MHC secara lemah. 

Penemuan terakhir menyatakan adanya antigen transplantasi lain di 

luar MHC kelas I dan II, dan tidak tergolong antigen H-2, yang disebut 

minor histocompatibility antigens. Pada mencit antigen transplantasi ini 

telah ditemukan dalam jumlah tertentu walaupun lokasinya yang tepat 

pada kromosom belum diketahui, namun  diduga antigen ini tersebat pada 

beberapa gen secara random. Diketahui bahwa minor histocompatibility 

antigen, dalam fungsinya berinteraksi dengan MHC kelas I dan MHC kelas 

II dan dapat dikeal oleh sel T aloreaktif dalam konteks MHC-nya sendiri 

(self MHC). Salah satu contoh minor histocompatibility antigen yaitu  

antigen H-Y pada pria yang diketahui ada hubungannya dengan molekul 

MHC pada permukaan sel T namun  tidak pada sel B. Mungkin juga reseptor 

insulin dapat bersifat sebagai minor histocompatibility antigen. Walaupun 

secara umum reaksi antigen minor itu lemah, istilah ”minor” dalam hal 

ini tidak berarti bahwa antigen ini selalu bereaksi lemah. Kombinasi 

beberapa antigen minor dapat memicu  reaksi penolakan jaringan 

yang, bahakan minor histocompatibility antigen merupakan sumber 

terjadinya reaksi penolakan jaringan transplantasi yang paling penting 

pada manusia, walaupun dilakukan dengan kesesuain MHC.

3. MEKANISME REAKSI PENOLAKAN

Jaringan tranplantasi yang tidak dilalui aliran limfe darah, umumnyja 

tidak akan ditolak. Hal ini dibuktikan oleh Medawan pada tahun 1948 

yang menyatakan bahwa tranplantasi. Tranplantasi sel-sel neuoro atau 



jaringan medula adrenal di otak pada penderita penyakit Parkinson di 

harapakan berhasil mengatasi gejala penyakit ini. Walaupun mekanisme 

penolakan jaringan tranplantasi belum diketahui secara pasti, banyak 

bukti-bukti ytang menyatakan peran limfosit T, baik limfosit CD4+ maupun 

CD8+, limfosit B dan berbagai produk yang dihasilkan di antaranya IL-1, 

IL-2, IFN dan TNF yang berinteraksi satu dengan lain untuk menghasilkan 

reaksi penolakan.

Peran limfosit T

Dari berbagai percobaabn telah terbukti bahwa limfosit T memegang 

peran penting pada patogenesis penolakan jaringan transplantasi, 

seperti thymectomi pada masa terjadinya pada anak-anak dengan 

defisiensi timus. Pemeriksaan terhadap jaringan tranplantasi kulit 

yang ditolak, memperlihatkan pola infiltrasi sel yang serupa dengan 

infiltrasi yang terjadi pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat (delayed 

hypersensitivity), di mana sel efektor yan berperan yaitu  limfosit T 

CD4+. Sel CD4+ diketahui dapat memudahkan terjadainya kerusakan 

jaringan bukan saja melalui produksi sitokin IFN- α dan IFN-β, terapi 

juga melalui respon imun selalu dengan perantaraan MHC kelas II Ada 

beberapa bukti yang menyatakan keterlibatan limfosit T CD4+ dan MHC 

kelas II dalam memacu kerusakan jaringan, yaitu :

a. Rekonsilitasi limfosit CD4+ kepada tikus atau mencit pasca- 

thymectomi atau pasca-iradiasi, akan mengembalikan kemampuan 

reaksi penolakan apabila padanya dilakukan tranplantasi jaringan 

alogenik

b. MHC kelas II (H-2-b) ada kalanya menunjukan mutasi pada ekson 

pada kedua gen I-A beta. Mutasi ini mengakibatkan perubahan 

koformasi A- beta, sehingga dianggap sebagai aloantigen oleh sel T. 

Apabila jaringan dengan mutasi MHC kelas II ini di tranplantasikan 

ia akan di tolak oleh sel T bersangkutan.

c. Bila antibodi CD8 digunakan secara invivo untuk merusak limfosit 

CD8+ pada resipien, maka jaringan tranplantasi yang di tolak 

yaitu  jaringan yang menunjukkan perbedaan dalam MHC kelas I. 

Walaupun liposit CD4+ merupakan ujung tombak reaksi penolakan 

jaringan. Liposit CD8 memegang peran penting pada reaksi 

penolakan jaringan dengan MHC kelas 1 yang inkompatibel.



Gambar 11.2:  Reaksi penolakan jaringan transplant melalui me-

kanisme sitotoksik oleh sel Tc dan makrofag 

Beberapa percobaan membuktikan hal itu : a ) umur jaringan 

tranplantasi dapat di perpanjang pada binatang percobaan dengan 

defisiensi limfosit T CD8+ ;b) Klon limfosit T CD8+ dapat merusak 

jaringan atau tumor yang memiliki aloantigen spesifik; c) Limfosit T 

CD8+ yang juga memegang peran penting pada penolakan jaringan 

seperti disebut di atas, limfosit T CD8+ yang belum tersensitisasi ( 

naïve) tidak memiliki kemampuan itu.

Untuk melakasanakan fungsinya, sel CD8+ yang belum tersensitisasi 

(naïve) tidak memiliki kemampuan itu. Untuk melakukan fungsinya, sel 

CD8+ perlu dibantu oleh sel CD4+, namun  sekali tersensitisasi, CD8+ dapat 

melaksanakan perannya dengan baik. Bagaimana peran limfosit T CD4+ 

dan CD8+ masing-masing dalam proses penolakan jaringan digambarkan 

oleh Waldman dengan percobaan yang membuktikan bahwa pemberian 

anti CD8 pada mencit selama 30 hari tidak mampu mempertahankan 

jaringan transplantasi. Jaringan transplantasi dapat dipertahankan lebih 

lama apabila yang diberikan yaitu  anti-CD4, namun  pemberian kedua 

jenis antibodi bersama-sama ternyata lebih efektif.

Aplikasi antibodi monoklonal terhadap antigen permukaan sel 

limfosit telah memperjelas peran limfosit pada reaksi penolakan 

jaringan. Dengan memakai  antibodi monoklonal dapat dibuktikan 

bahwa sebanyak 50-90 % sel limfosit yang ditemukan dalam infiltrat 

159


terdiri atas sel-sel dengan penanda permukaan CD3+ dan CD6+, yang 

membuktikan bahwa sel-sel ini  yaitu  sel T. Di antara populasi 

limfosit ini  perbandingan limfosit CD4+ dalam darah, banyak 

peneliti membuktikan bahwa pada reaksi penolakan transplantasi 

ginjal terjadi peningkatkan jumlah limfosit CD8+. Pada reaksi 

penolakan tranplantasi ginjal yang iriversibel, ada  peningkatan 

limfosit CD8+ dalam darah maupun di daerah perivaskular jaringan 

tranplantasi dengan perbandingan limfosit CD4+/ CD8 +. Rasio CD4+/ 

CD8+ yang lebih tinggi biasanya di jumpai pada reaksi penolakan yang 

revensibel dengan terapi yang tepat.

Peran Sitokin

Walaupun berbagai percobaan telah membuktikan peran limfosit 

T CD4+ pada reaksi penolakn reaksi itu melihatkan berbagai proses lain, 

di antara APC dan produk produk yang di hasilkanya. APC yang turut 

mengaktifasi reaksi penolakan jaringan dapat berasal dari donor ada  

daklam jaringan tranplantasi sebagai penumpang berupa sel dendritik 

interstisial, yang secara langsung dapat mengatifasi limfosit CD4+ 

resipen melalui IL-1 yang dilepaskanya. IL-1 tidak hanya penting untuk 

mengaktivasi limfosit CD4+, terapi juga merangsang limfosit CD8+ dan 

limfosit B. APC yang berasal dari resipien ada  dalam pembuluh limfe, 

menangkap antigen yang dilepaskan oleh jaringan transplantasi kemudian 

mempresentasiakn kepada limfosit T sehingga terjadi aktifasi secara tidak 

langsung. Aktivasi langsung limfosit T resipien oleh sel dendritik yang 

berasal dari donor lebih efektif di banding aktivasi tidak langsung melalui 

APC resipien, sebab  dapat limfosit resipien dapat tersensitisasi dengan 

MHC donor alogenik. Namun demikian limfosit T dapt memproduksi 

sitokin yang diperlukan unutk prolifertasi dan diferensiasikan sel lain yang 

terlibat dalam reaksi penolakan. Limfokin yang paling penting dalam proses 

rejeksi seluler yaitu  IL-2 yang diperlukan untuk aktifasi T-sitotoksin, 

dan IFN. Produksi lokal sitokin, seperti IFN-gama, TNF-alfa, dan TNF-

beta sebagai respons inflamasi terhadap jaringan transplantasi dapat 

mempengaruhi ekspresi MHC kelas I maupun kelas II pada permukaan 

jaringan. Tingkat ekspresi MHC pada permukaan jaringan transplantasi 

akan meningkat sehingga memudahkan sel efektor untuk merusaknya. 

Sitokin juga memegang peran penting pada proses rekrutmen sel lain 

ke daerah inflamasi, aktivasi makrofag dan pengrusakan jaringan secara 

langsung melalui reaksi hipersensitivitas tipe lambat 


Tidak semua bagian dari jaringan transplantasi perllu dirusak untuk 

penolakan. Sel sasaran yang paling penting yaitu  sel-sel endotel pembuluh 

darah kapiler dan sel-sel parenkim yang khas seperti sel-sel tubuli ginjal, sel 

Langerhans dan sel-sel oto jantung. TNF-b dan IFN-g dapat meningkatkan 

ekspresi molekul adhesi pada permukaan sel endotel. Hal ini diperlukan 

agar leukosit dapat melekat pada dinding pembuluh darah sebelum ia 

bermigrasi ke dalam jaringan.

Peran Antibodi

Dahulu dianggap bahwa antibodi tidak memegang peran dalam proses 

penolakan jaringan transplantasi, namun  hasil berbagai penelitian terakhir 

membuktikan sebaliknya. Pada reaksi penolakan jaringa secara hiperakut 

yang dapat terjadi dalam waktu beberapa menit sesudah  transplantasi 

(hyperacute rejection) dapat dibuktikan adanya antibodi spesifikasi 

terhadap MHC. Besar kemungkinan bahwa resipien telah tersensitisasi 

sebelumnya terhadap MHC donor melalui berbagai cara misalnya transfusi, 

kehamilan berulang kali atau penolakan jaringan tranplantasi sebelumnya. 

Sehubungan dengan itu, pada setiapresipien saat ini dilakukan uji saring 

untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi terhadap MHC donor. Antibodi 

yang telah dibentuk sebelumnya menyebebkan aktivasi komplemen, 

merusak dinding vaskular sehingga memicu  sel dan cairan keluar 

dari pembuluh darah. Reaksi ini ditandai dengan adanya hemoragi, agregasi 

trombosit dalam pembuluh darah, terbentuknya mikrotrombi, dan tanda-

tanda aktivasi komplemen dengan dilepaskannya C3a dan c5a yang dapat 

merusak sel yang ditransplantasikan.

Reaksi penolakan dini akut (acute early rejection) yang terjadi 

dalam waktu 10 hari sesudah  transplantasi, ditandai dengan infiltrasi 

sel dan pecahnya kapiler sebagai akibat reaksi hipersensitivitas yang 

melibatkan limfosit T. Reaksi penolakan lambat akut (acute late rejection) 

terjadi sesudah  11 hari pada resipien yang biasanya telah mendapat obat 

imunosupresi. Pada jaringan transplan dijumpai deposit imunoglobulin 

yang mungkin memicu  kerusakan sel melalui reaksi ADCC. Kedua 

jenis reaksi akut ini terutama disebabkan aktivasi primer limfosit T disusul 

oleh aktivasi mekanisme efektor yang lain.reaksi penolakan kronik (late 

rejection) umumnya memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa 

tahun. Reaksi ini dapat terjadi akibat beberapa hal, misalnya reaksi selular 

yang lemah atau akibat reaksi kompleks imun. Yang terakhir dibuktikan 


dengan adanya deposit kompleks antigen- antibodi pada permukaan 

jaringan transplantasi yang ditolak.

berdasar  hal-hal diatas, terbukti bahwa aksi dan interaksi antara 

respons imun seluler dan humoral perlu dipertimbangkan dalam 

memperlajari reaksi penolakan jaringan trasnplantasi.

Proses Penolakan

Proses penolakan jaringan dapat dibagi dalam 3 tahap  : yaitu:

1. tahap  aferen.

 Selama tahap  aferen partikel antigen yang dilepaskan oleh jaringan 

transplantasi masuk ke dalam pembuluh limfe dan mengsensitisasi 

limfosit T. Partikel-partikel antigen ini ditangkap oleh fagosit 

lalu diproses dan dipresentasikan melalui MHC kelas II kepada 

limfosit CD4+. Cara sentiasa yang lain yaitu  melalui sel donor 

yang menggekspresikan MHC kelas II, khususnya sel dendritik, 

yang erupakan sel APC yang sangat poten. Sel-sel ini dapat masuk 

kedalam kelenjer limfe dan merangsang respons aloreaktif.

2. tahap  sentral.

 tahap  ini melibatkan aktivasi sel-sel efektor. Pada tahap  ini terjadi 

aktivitas migrasi limfosit yang meningkat melalui endotel, 

proliferasi limfosit T dalam daerah parakorteks dan pembentukan 

folikel limfoid primer. Limfosit Tc yang spesifik terhadap antigen 

jaringan transplantasi dapat ditemukan dalam waktu 48 jam 

sesudah  tindakan transplantasi. Pada tahap  ini juga dijumpai aktivasi 

limfosit T dan sel B dalam limpa dan kelenjar limfe.

3. tahap  eferen.

 sesudah  aktivasi dalam kelenjar-kelenjar limfoid, maka limfosit 

T, B dan monosit masuk kedalam jaringan transplantasi melalui 

pembuluh darah dan merusak jaringan dengan bebagai cara, 

bergantung pada sifat inkompatibilitas, jenis jaringan dan apakah 

jaringan itu merupakan jaringan transplantasi primer atau 

sekunder.



4. APLIKASI KLINIS TRANSPLANTASI Transplantasi sum-sum tulang

Tranplantasi sumsum tulang saat ini merupakan tindakan medis 

yang banyak dilakukan untuk mengatasi penyakit-penyakit tertentu, 

misalnya keganasan hematologik, defisiensi imun dan kelainan genetic 

yang melibatkan system hemopoetik. Pada transplantasi sumsum 

tulang kita memindahkan sel-sel hemopoetik pluripoten dari donor 

yang mempu membentuk semua unsur selular darah dan sistem imun. 

Transplantasi sumsum tulang, seperti hal jaringan transplantasi yang 

lain, dpat membuktikan respons yang berkibat penolakan sumsum tulang 

yang ditransplantasikan. namun  perbedaan utama antara transplantasi 

sumsum tulang dengan transplantasi organ lain yaitu  bahwa jaringan 

trasplantasi mengandung sel T imunokompeten yang dapat bereaksi 

dengan antigen resipien dan memicu  reaksi graft versus host (GvH 

disease).

Relevansi MHC dengan transplatasi sumsum tulang sama dengan 

relevansinya dengan transplantasi organ lain, yaitu interaksi antara sel-

sel resipien yang imunokompeten dengan sel-sel transplan melalui MHC 

yang diekspresikan. Pada transplantasi sumsum tulang juga ada peran 

minor histocompatability antigen pada reaksi penolakan. Inkompatibilitas 

dalam antigen   eritrosit   ABO   memicu  reaksi hemolitik, namun  

tidak terlalu mempengaruhi keberhasilan transplantasi sumsum tulang, 

kecuali kalau resipien mempunyai titer anti-ABO terhadap eritrosit donor 

yang tinggi.

Pada transplantasi sumsum tulang untuk mengatasi keganasan hema-

tologik, seperti  leukemia, sejak beberapa tahun terakhir dikenal istilah 

graft versus leukemia (GvL) yang merupakan reaksi yang menguntung-

kan pada terapi leukemia. Berbagai percobaan telah mengungkapkan 

beberapa hal penting, misalnya bahwa relaps lebih sering terjadi sesudah  

transplantasi singenik dibanding transplantasi alogenik, dan bahwa 

GvHD ada hubungannya dengan penurunan resiko relaps sehingga GvHD 

dianggap mempunyai dampak anti-leukemia. Upaya mengurangi risiko 

terjadinya GvHD dengan menyingkirkan limfosit T dari sumsum tulang 

donor ternyata meningkatkan kemungkinan relaps. Ada bukti bahwa 

berbagai mekanisme anti- leukemik terjadi sesudah  transplantasi sumsum 

tulang pada leukemia, baik yang melibakan interaksi MHC maupun yang 

tidak.11 Reaksi yang tidak melibatkan MHC terutama diperankan oleh sel 


NK (CD3- CD16+/CD56+TcR-), dan sel LAK (hyphokine activated killer 

cells).; efek sitotoksik terjadi akibat dilepaskannya granula sitotoksik sel 

NK kepada sel sasaran, atau secara tidak langsung melalui IFN-α, IFN-g 

dan TFN-α yang diperkuat dengan IL-2 jumlah sel NK meningkat dalam 

darah penderita sesudah  transplantasi sumsum tulang dan pembentukan 

sel-sel LAK juga meningkat. Reaksi yang melibatkan MHC, seperti halnya 

reaksi aloimun yang ain diperkirakan oleh limfosit T CD4+ dan CD8+. Ada 

juga kemungkinan bahwa inkompatibilitas minor turut memegang peran 

pada reaksi GvL.

Percobaan-percobaan di atas membuktikan bahwa respon imun 

merupakan mekanisme yang penting bagi keberhasilan eradikasi 

leukemia.

Seleksi Donor

Sumsum tulang yang digunakan dapat merupakan sumsum tulang 

autolog, singenik, atau alogenik, tergntung keadaan. Sumsum tulang 

dapat berasal dari penderita sendiri (transplantasi autolog) yang biasanya 

dilakukan pada penderita keganasan hematologik. Pada keadaan ini 

sum-sum tulang diperoleh dari penderita dalam remisi. Sumsum tulang 

dapat diberi obat anti-neoplastik ex vivo atau antibodi monoclonal untuk 

mencegah atau mengurangi risiko relaps.

Sumsum tulang dapat diperoleh dari kembar identik (transplantasi 

singenik). Sumsum tulang ini merupakan sumber jaringan transplan 

yang paling ideal, sebab  tidak ada kemungkinan disparitas genetic dan 

tidak ada kemungkinan terjadi aloreaksi yang mengakibatkan penolakan 

jaringna transplantasi maupun graft versus host disease (GvHD), selain 

itu kemundkinan adanya keganasan pada donor sangat kecil. Walaupun 

demikian, sumsum tulang kembar identik tidak dapat digunakan untuk 

transplantasi pada penyakit tertentu.

Sumsum tulang dapat berasal dari donor yang mempunyai MHC dengan 

genotip atau haplotip yang sama dengan resipien (transplantasi alognik). 

Kecocokan genetic MHC kelas I dan MHC kelas II dapat dijumpai pada 

saudara sekandung dengan kemungkinan 25%. Transplantasi sumsum 

tulang dengan donor yang sesuai secara genotip mengurangi risiko reaksi 

aloimun, seperti GvHD, dan respons imun sesudah  transplantasi biasanya 

optimal. Bila tidak ada donor dengan genotip sama, dapat digunakan 



donor dengan haplotip yang cocok. Tingkat disparitas donor-resipien 

yang haplo-identik bergantung pada kesesuaian non-shared haplotype, 

misalnya bila alel HLA-A, HLA-B dan HLA-Dw dari non-shared haplotype 

ternyata identik, maka disparitasnya yaitu  0-antigen, namun  bila 

ketiganya berbeda, maka disparitasnya yaitu  3-antigen.

Disparitas donor-resipien juga bergantung pada apakah MHC donor 

dan resipien homozigot atau heterozigot. Bila MHC donor dan resipien 

keduanya keterozigot, maka ada disparitas dua arah, baik untuk rejeksi 

maupun GvHD. Bila donor mempunyai MHC homozigot dan resipien 

heterozigot, maka ada disparitasnya untuk GvHD namun  tidak untuk 

rejeksi, sedang  bila donornya yang heterozigot dan resipien homozigot 

yang terjadi yaitu  rejekai dan bukan GvHD.

Transplantasi sumsum tulang juga dapat dilakukan dengan donor 

tanpa hubungan keluarga. Pada keadaan ini kemungkinan disparitas 

MHC lebih tinggi, sehingga resiko GvHD juga lebih besar, sebab  itu donor 

dan resipien sebaiknya diuji kecocokannya dalam sebanyak mungkin 

antigen MHC termasuk yang minor untuk mencegah reaksi GvH. Peran 

inkompatibilitas minor dalam memicu  GvH dibuktikan dengan 

meningkatnya insidens GvH bila jenis kelamin donor dan resipien tidak 

sama, dan didaptnya klon sel T spesifik terhadap H-Y pada resipien pria 

yang mendapat sumsum tulang donor wanita.

Graft versus host disease (GvHD)

GvHD trejadi khususnya bila resipien tidak memiliki kemampuan untuk 

menolak transplantasi, sehingga sel-sel donor yang imunokompeten 

tetap hidup dan mempunyai cukup waktu tersensitisasi dengan sel-sel 

resipien, kemudian teraktivasi dan merusak sel-sel resipien.

Beberapa jenis jaringan lebih sering terkena GvHD, diantaranya 

sisa sel hemopoetik resipien, sel-sel epitel kulit, mukosa, saluran cerna 

dan hepar. Kematian dapat terjadi akibat aplasi sumsum tulang, gagal 

hati, enteritis, imunodefisiensi progresif atau infeksi sekunder. Pada 

percobaan binatang telah dibuktikan bahwa resiko GvHD dapat dikurangi 

dengan pemberian obat-obat imunosupresif pasca transplantasi, atau 

menyingkirkan limfosit T dari sumsum tulang donor dengan antibodi 

monoklonal terhadap limfosit T.

 


5. PEMANTAUAN TRANSPLANTASI SECARA IMUNOLOGIS

Penetapan subset limfosit pada transplantasi ginjal dilakukan untuk 

memantau dampak terapi imunosupresif terhadap sistem imun dan 

menunjang evaluasi ada tindaknya penolakan jaringan transplantasi. 

Pad umumnya dilakukan penetapan jumlah sel T dengan memakai  

pan-T marker, yaitu CD3, serta CD4 dan CD8. harus pula dilakukan 

perhitungan jumlah dan hitung jenis leukosit untuk menentukan jumlah 

absolut subset lilmfosit ini . Penetapan jumlah limfosit biasanya 

dilakukan beberapa hari sekali, terutama bila mekanisme kerja obat 

imunosupresif yaitu  menekan limfosit pada tranplsntasi diperlukan 

untuk mengetahui apakah penolakan transplantasi disebabkan oleh 

respons imun seluler. hal ini dapat diketahui bila dilakukan penetapan 

jumlah sel CD4+ dan CD8+ secara periodik. Bila rasio CD4/CD8 relatif 

tinggi dari pada 1 dan pada biopsi dijumpai kerusakan intertisial, dapat 

diduga bahwa terjadi penolakan jaringan transplantasi oleh sistem imun. 

Hal ini dapat diatasi dengan pemberian steroid. Sebaliknya bila rasio 

CD4/CD8 rendah < 0.5 dan biopsi menunjukkan kerusakan glomerular 

dan vaskular, maka penolakan jaringan mungkin disebabkan oleh hal lain, 

misalnya infeksi, dan untuk mengatasinya dilakukan pengurangan dosis 

obat imunosupresif. Pada keadaan-keadaan itu penbetapan CD4 dan CD8 

digunakan sebagia pedoman untuk memberikan terapi.

Penetapan subset limfosit sebelum transplantasi sumsum tulang 

dilakukan untuk menentukan ada tidaknya sel dalam sumsum tulang 

donor yang mungkin memicu  reaksi GvH. sesudah  transplantasi, 

yaitu 1,2,3,6 bulan pasca transplantasi penetapan subset diperlukan 

untuk mengetahui apakah transplantasi berhasil memperbaiki sistem 

imun penderita. Populasi limfosit pertama yang muncul pasca- 

transplantasi yaitu  sel NK yang mengekspresikan CD8+ dan CD16+ 

namun  tidak mengekspresikan CD3. Kemudian muncul sel T dengan 

penanda CD3+ CD4+ atau CD3+ CD8+. Sel-sel ini fungsional aktif dan 

berfungsi menggantikan limfosit resipien.



IMUNOLOGI TUMOR

Imunologi tumor perlu dipelajari dan diteliti dengan tujuan untuk 

mengetahui hubungan respon imunologi antara host dan tumor atau 

kanker, dan memakai  pengetahuan tentang respon imun terhadap 

tumor dalam diagnosis, profilaksis, dan pengobatan. Hal-hal yang 

menunjukkan adanya peranan sistem imun pada kanker ditunjang oleh 

beberapa pengamatan sebagai berikut :

1. Beberapa tumor tertentu dapat sembuh spontan.

2. Dari pemeriksaan otopsi ditemukan insiden keganasan tertentu, 

kali lebih tinggi dibanding dengan kejadian dalam klinik.

3. Pada penderita dengan defisiensi imun atau yang mendapat 

pengobatan imunosupresi, ditemukan keganasan 200 kali daripada 

yang diperkirakan.

4. Tumor terjadi lebih sering pada orang dengan supresi sistem imun 

dibanding dengan orang normal. Kebanyakan tumor dalam hal ini 

berupa keganasan limfoproliferatif.

5. Prevalensi tumor pada orang yang mendapat radiasi yaitu  100 

kali lebih besar dibanding dengan orang normal dan orang dengan 

supresi sistem imun.

1. ANTIGEN TUMOR

Transformasi maligna suatu sel dapat disertai dengan perubahan 

fenotipik sel normal dan hilangnya komponen antigen permukaan 

atau timbulnya neoantigen yang tidak ditemukan pada sel normal atau 

perubahan lain pada membran sel. Perubahan-perubahan ini  dapat 

memicu  respon sistem imun.

Ada tumor yang tidak banyak memicu  perubahan pada antigen 

sel sehingga pejamu tidka memberikan respon imun yang diharapkan. 

Disamping itu ada pula tumor yang tidak memicu  respon imun sama 

sekali, yang disebut imunological escape. Antigen spesifik tumor kadang-

kadang sulit untuk diketahui sebab  antigen ini  tidak ditemukan 

pada sel asalnya, namun  dibentuk sel yang lain.


Pembagian antigen tumor

a. berdasar  penanda serologis, antigen tumor terdiri dari:

1. Antigen kelas I yaitu  antigen yang hanya ditemukan pada tumor 

yang bersangkutan dan tidak pada sel normal atau keganasan lain.

2. Antigen kelas II yaitu  antigen yang juga ditemukan pada tumor 

lain. Sekarang antigen ini  juga ditemukan pada beberapa sel 

normal dan oleh sebab  itu antigen ini  disebut diferensiasi 

autoantigen.

3. Antigen kelas III yaitu  antigen yang ditemukan pada berbagai 

sel normal dan ganas. Antigen kelas III lebih sering ditemukan 

dibanding dengan antigen kelas I dan kelas II.

b. berdasar  penyebabnya

1. Antigen tumor yang timbul akibat bahan kimia atau fisik yang 

karsinogen.

 Antigen tumor yang ditimbulkan bahan kimia, mempunyai 

spesifisitas antigen masing-masing. Jadi tumor-tumor yang 

timbul dari sel tunggal yang ditransformir memiliki antigen sama, 

sedang berbagai tumor yang ditimbulkan oleh bahan karsinogen 

yang sama, mempunyai antigen yang berbeda satu dari yang lain. 

Demikian pula dengan tumor yang ditimbulkan akibat radiasi. Oleh 

sebab  antigen tumor yang ditimbulkan bahan kimia   dan fisik 

tidak menunjukkan reaksi silang, maka cara-cara yang berdasar  

respon imun dalam diagnosis dan pengobatan tumor ini  sulit 

diterapkan atau tidak mungkin.

2. Antigen tumor yang dicetuskan virus

 Tumor yang ditimbulkan virus onkogenik DNA atau RNA 

menunjukkan reaksi silang yang luas. Setiap virus ini  

mencetuskan ekspresi antigen yang sama yang tidak bergantung 

atas asal jaringan atau spesies.

 Bukti bahwa limfoma Burkitt, karsinoma nasofaring dan leukemia 

sel T yang ditimbulkan virus yaitu ditemukannya tumor associated 

antigen (TAA) yang berbeda dari antigen virion. Antigen ini  

biasanya shut off selama pematangan, namun  diekspresika kembali


akibat deregulasi gen pejamu atau pengaruh virus onkogenik.

3. Antigen onkofetal

 Banyak tumor mengekspresikan dirinya melalui permukaannya 

atau produknya yang dilepas kedalam darah yang mungkin ada 

dalam kadar rendah sekali yang tidak ada pada jaringan/orang 

normal. Produk ini  dapat ditunjukkan dengan antisera 

spesifik yang dibuat dalam binatang yang allogeneic atau 

xenogeneic.

 Contoh antigen onkofetal ini  yaitu  carcinoembryonic 

antigen (CEA) yang ditemukan dalam serum penderita dengan 

kanker saluran cerna, terutama kanker kolon. Antigen CEA dapat 

dilepas kedalam sirkulasi dan ditemukan dalam serum penderita 

dengan berbagai neoplasma. Kadar CEA yang meningkat (diatas 

2,5 mg/ ml) ditemukan dalam sirkulasi penderita dengan kanker 

kolon, kanker pankreas, beberapa jenis kanker paru, kanker 

mammae dan lambung. CEA telah pula ditemukan dalam darah 

penderita non-neoplastik seperti emfisema, kolitis ulseratif, 

pankreatitis, peminum alkohol dan perokok. Antigen onkofetal 

lainnya ialah alpha-fetoprotein (AFP) yang ditemukan dengan 

kadar tinggi dalam serum fetus normal, eritroblastoma testis dan 

hepatoma.

4. Antigen tumor spontan

 Tumor spontan yaitu  tumor yang timbul dengan sebab yang 

belum diketahui. Sampai sekarang antigen permukaan pada 

kebanyakan tumor spontan hanya dapat ditemukan dengan 

bantuan serum allogeneic atau xenogeneic. Dengan adanya 

teknik canggih, antibodi telah dapat ditemukan pada beberapa 

tumor antara lain melanoma

2. RESPON IMUN TERHADAP TUMOR

Efektor imun humoral dan selular yang dapat menghancurkan sel 

tumor in vitro. Pada umumnya, destruksi sel tumor melalui mekanisme 

ini  lebih efisien bila sel tumor ada dalam suspensi. Destruksi tumor 

sulit dibuktikan pada tumor yang padat.



Respon imun alamiah pada tumor

Imunitas alamiah terhadap sel tumor terjadi dengan kemampuan sel 

untuk melisis sel tumor secara spontan, tanpa melalui proses sensitisasi 

sebelumnya. Sel efektor pada repon alamiah terhadap sel kanker atau sel 

tumor yaitu  sel fagosit mononuklear, sel PMN dan sel NK. Sel-sel ini  

berbeda dengan sel Tc yang memiliki memori dan memerlukan presentasi 

MHC sebagai mediator. Proses sitolisis terjadi terhadap bermacam-

macam sel sasaran. Mekanisme yang terjadi yaitu  dengan mengaktivesi 

makrofag, sel PMN dan sel NK yang akan memicu  sitostasis, sel 

menjadi lisis, dan menghambat pertumbuhan sel. Pada respon imun 

alamiah terhadap sel tumor tidak terbentuk antibodi terhadap antigen 

tumor spesifik (gambar 12.1).

Gambar 12.1 : Imunitas alamiah terhadap sel tumor (Sumber: Bellanti, 2012)

Peranan antibodi pada imunitas tumor

Meskipun pada tumor, imunitas selular lebih banyak berperanan 

daripada imunitas humoral, namun  tubuh membentuk juga antibodi 

terhadap antigen tumor. Antibodi ini  ternyata dapat menghancurkan 

sel tumor secara langsung atau dengan bantuan komplemen, atau melalui 

sel efektor ADCC yang memiliki reseptor Fc misalnya sel K dan makrofag 

(opsonisasi) atau dengan jalan mencegah adhesi sel tumor. Pada penderita 

kanker sering ditemukan kompleks imun, namun  pada kebanyakan kanker 

sifatnya masih belum jelas.

171


Gambar 12.2 : Pendeteksian antigen tumor dengan bantuan antibodi 

(Sumber: Delves et al, 2017)

Dengan bantuan antibodi monoklonal terhadap leukosit dan 

subpopulasinya, sifat seluler dari infiltrat inflamasi dapat dianalisa lebih 

baik. Antibodi dapat ditemukan dalam serum penderita kanker atau pada 

binatang yang distimulasi dengan sel tumor atau sel kanker (gambar 12.2)

Antibodi diduga lebih berperanan terhadap sel yang bebas (leukemia, 

metastase tumor) terhadap tumor yang padat, mungkin dengan membentuk 

kompleks imun dan dengan demikian mencegah sitotoksisitas sel T.

Peranan selular pada imunitas tumor

Perkembangan sel limfoid yang tidak terkendalikan dapat mengakibat-

kan kelainan limfoproliferatif, yang ada pada umumnya tergolong kegana-

san, misalnya leukemia, limfoma dan diskrasia sel plasma. Perkembangan 

mutakhir dalam imunologi telah meningkatkan pengetahuan dan memper-

luas wawasan kita tentang diferensiasi leukosit dan asal-usul sel leukemik. 

Pada saat ini telah dimungkinkan untuk menentukan stadium diferensiasi 

limfosit dan granulosit dengan memakai  antibodi monoklonal spesi-

fik yang dapat mengidentifikasi imunofenotip atau penanda permukaan 

sel leukosit yang dikelompokkan dalam berbagai clusters of differentiation. 

Selain itu perkembangan bioteknologi dan penggunaan probe molekuler 

memungkinkan identifikasi rearrangement DNA imunoglobulin maupun 

reseptor sel TCR  yang juga dapat digunakan sebagai penanda diferensiasi 

serta mendeteksi adanya transformasi sel di tingkat molekuler



Pada pemeriksaan patologi-anatomik tumor, sering ditemukan infiltrat 

sel-sel yang terdiri atas sel fagosit mononuklear, limfosit, sedikit sel 

plasma dan sel mastosit. Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrat 

sel mononuklear merupakan indikator untuk prognosis yang baik, namun  

pada umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis. 

Sistem imun yang nonspesifik dapat langsung menghancurkan sel tumor 

tanpa sensitisasi sebelumnya. Efektor sistem imun ini  yaitu  sel Tc, 

fagosit mononuklear, polimorf, sel NK.

Sel T yang diaktifkan dapat diketahui dengan pemeriksaan laborato-

rium seperti :

1. Proliferasi sel T yang diukur dengan H thymidin

2. Produksi limfokin yang diuji dengan leucocyte migration inhibition 

(LMI)

3. Fungsi efektor dengan uji sitotoksisitas

Aktivasi sel T melibatkan sel Th, Ts, dan Tc. Sel Th penting pada 

pengerahan dan aktivasi makrofag dan sel NK. Limfokin-limfokin 

yang penting yaitu  : MIF, MAF, CFM, LT, TF, IFN, dan TNF yang dapat 

membunuh sel tumor.

Destruksi sel tumor in vitor oleh sel T spesifik dapat terjadi baik pada 

tumor yang padat maupun yang tidak. Banyak bukti-bukti yang menunjukkan 

bahwa yang berperanan disini yaitu  sel Tc. Meskipun sel Th berpartisipasi 

dalam induksi dan regulasi sel Tc, destruksi tumor terjadi atas pengaruh 

sel Tc yang memiliki spesifisitas terhadap antigen permukaan sel tumor. 

Interleukin, interferon dan sel T mengaktifkan pula sel NK.

Reaksi makrofag terhadap tumor terjadi melalui dua cara, yaitu dengan 

pengenalan antigen sel target oleh antibodi dan ikatan terjadi melalui Fcg 

receptor (FcgR) dari makrofag. Beberapa sel tumor kehilangan faktor 

inhibisi yang memicu  aktivasi sitotoksik yang non-spesifik dari 

makrofag (gambar 12.3).

Makrofag biasanya tidak menunjukkan sitotoksisitas yang jelas, 

kecuali bila diaktifkan limfokin, endotoksin, RNA, dan IFN. Aktivasi 

ditandai dengan adanya perubahan morfologik, biokimiawi dan fungsi 

sel. Makrofag yang diaktifkan biasanya menjadi sitotoksik nonspesifik 

terhadap sel tumor in vitro. Makrofag dapat pula berfungsi sebagai efektor 

pada ADCC terhadap tumor. Disamping itu makrofag dapat memicu  


efek negatif berupa supresi yang disebut makrofag supresor. Hal ini  

dapat disebabkan oleh tumor itu sendiri atau akibat pengobatan. 

Makrofag menunjukkan pula interaksi dengan sel NK.

Gambar 12.3 :  Aktivasi makrofag terhadap sel tumor. A: Ikatan FcgR 

dengan antigen tumor mengaktifkan faktor sitolisis, dan 

B: Faktor inhibisi yang mengaktifkan faktor sitotoksik, 

proteinase sitolisis dan H₂O₂ 

Kanker dapat luput dari pengawasan sistem imun tubuh bila timbangan 

faktor-faktor yang menunjang pertumbuhan tumor lebih berat dibanding 

dengan faktor-faktor yang menekan tumor.

Faktor-faktor yang mempengaruhi luputnya tumor dari pengawasan 

sistem imun tubuh yaitu  sebagai berikut:

1. Kinetik tumor (sneaking trough)

 Pada binatang yang diimunisasi, pemberian sel tumor dalam 

dosis kecil akan memicu  tumor, namun  yang besar akan 

ditolak. Sel tumor ini  dapat menyelinap (sneak trough) 

yang tidak diketahui tubuh dan baru diketahui bila tumor sudah 

berkembang lanjut dan diluar kemampuan sistem imun untuk 

menghancurkannya.



2. Modulasi antigenik

 Antibodi dapat mengubah atau memodulasi permukaan sel tanpa 

menghilangkan determinan permukaann

3. Masking antigen

 Molekul tertentu, seperti sialomusin, yang sering diikat permukaan 

sel tumor dapat menutupi antigen dan mencegah ikatan dengan 

limfosit. Sialomucin ini  dapat dihancurkan dengan 

neuraminidase V. cholerae.

4. Shedding antigen/pelepasan antigen

 Antigen tumor yang dapat dilepas dan larut dalam sirkulasi, dapat 

mengganggu fungsi sel T dengan mengambil tempat pada reseptor 

antigen. Hal itu dapat pula terjadi dengan kompleks imun antugen 

antibodi.

5. Toleransi

 Virus kanker mammae pada tikus disekresi dalam air susunya, 

namun  bayi tikus yang disusuinya toleran terhadap tumor 

ini . Infeksi kongenital oleh virus yang terjadi pada 

tikus-tikus ini  akan memicu  toleransi terhadap 

virus ini  dan virus sejenis.

6. Limfosit yang terperangkap

 Limfosit spesifik terhadap tumor dapat terperangkap didalam 

kelenjar limfe. Antigen tumor yang terkumpul dalam kelenjar limfe 

yang letaknya berdekatan dengan lokasi tumor, dapat menjadi 

toleran terhadapa limfosit setempat, namun  tidak terhadap limfosit 

kelenjar limfe yang letaknya jauh dari tumor.

7. Faktor genetik

 Kegagalan untuk mengaktifkan sel efektor T dapat disebabkan oleh 

sebab  faktor genetik.

8. Faktor penyekat

 Antigen tumor yang dilepas oleh sel dapat membentuk kompleks 

dengan antibodi spesifik yang dibentuk pejamu. Kompleks ini  

dapat menghambat efek sitotoksisitas limfosit pejamu melalui 

2 cara, yaitu dengan mengikat sel Th sehingga sel ini  tidak 

dapat mengenal sel tumor dan memberikan pertolongan sel Tc.


9. Produk tumor

 Prostaglandin yang dihasilkan tumor sendiri dapat mengganggu 

fungsi sel NK dan sel K. Faktor humoral lain dapat mengganggu 

respon inflamasi, kemotaksis, aktivasi komplemen secara 

nonspesifik dan menambah kebutuhan darah yang diperlukan 

tumor padat.

10. Faktor pertumbuhan

 Respon sel T bergantung pada interleukin. Gangguan pada makrofag 

untuk memproduksi IL-1, kurangnya kerjasama diantara subset-

subset sel T dan produksi IL-2 yang menurun akan mengurangi 

respon imun terhadap tumor.

3. IMUNODIAGNOSIS

Untuk menunjang diagnosis dan klasifikasi keganasan limfoprolifera-

tif perlu ditentukan asal-usul sel (apakah sel itu sel B atau sel T) dan sta-

dium diferensiasinya dengan identifikasi fenotif (immunophenotyping), 

dan membuktikan bahwa sel itu berproliferasi secara monoklonal. Pem-

buktian ini dilakukan dengan menentukan monoklonalitas sel maupun 

imunoglobulin yang disekresikan.

Limfosit B dapat membentuk berbagai antibodi dengan jenis dan spesi-

fisitas yang terbatas. Hal ini dimungkinkan sebab  variasi dalam penyusu-

nan gen imunoglobulin juga tidak terbatas. Pada saat perkembangan cikal 

bakal limfoid menjadi sel B, gen pembentuk imunoglobulin yang potensial 

harus melakukan rearrangement DNA imunoglobulin untuk menghasilkan 

produk atau imunoglobulin sesuai dengan yang dibutuhkan. Pada mulanya 

gen yang menentukan pembentukan imunoglobulin terdiri atas beberapa 

segmen yang letaknya terpisah satu dari yang lain sepanjang kromosom 

14 untuk lokus rantai-H, pada kromosom 2 untuk lokus rantai kappa dan 

kromosom 22 untuk rantai lambda. Penyusunan gen imunoglobulin yang 

fungsional terjadi di tingkat DNA dengan melakukan rearrangement seg-

men-segmen yang terpisah itu menjadi gen yang pada akhirnya bertanggu-

ng jawab dalam pembentukan imunoglobulin yang disekresikan.

Pada gene-rearrangement ini khas untuk satu sel dan diturunkan kepa-

da sel-sel keturunannya. Rearrangement gen imunoglobulin berlangsung 

menurut urutan tertentu; rearrangement gen ratai-H mu mendahului 

rearrangement rantai-L,d an rearrangement rantai-L kappa mendahului 

176


rantai-L lambda. Rearrangement gen rantai-H kadang-kadang dijumpai 

pada sel non-B namun  rearrangement gen rantai-L khas dan hanya di-

jumpai pada sel B, sehingga rearrangement klonal rantai-L merupakan 

indikator yang paling sensitif untuk keganasan sel B.

Proliferasi sel secara monoklonal akan menghasilkan sel-sel yang 

menunjukkan pola rearrangement gen yang sama dan selanjutnya 

memproduksi imunoglobulin dengan struktur dan sifat yang identik dalam 

hal susunan rantai-H dan rantai-L, spesifisitas, kecepatan migrasi dan sifat-

sifat lain. Imunoglobulin ini dikenal sebagai protein-M atau paraprotein 

dan biasanya tersusun atas satu kelas rantai-H baik rantai gama, alfa, 

mu, delta atau epsilon maupun subkelasnya, dan satu jenis rantai-L yaitu 

kappa atau lambda, sehingga merupakan imunoglobulin yang homogen. 

Monoklonalitas   imunoglobulin dapat diidentifikasi baik dengan 

mengevaluasi L-chain pada sel B dengan imunophenotyping, maupun 

imunoglobulin serum dengan elektroforesis dan imunoelektroforesis.

Penentuan monoklonalitas sel T tidak dapat dilakukan dengan 

imunophenotyping, namun  dengan menentukan pola rearrangement gen 

reseptor sel T (TcR) dengan teknik Southern blot atau teknik biologi 

molekuler yang lain. Imunodiagnosis tumor dapat dilakukan dengan 

dua tujuan yaitu menemukan antigen spesifik terhadap sel tumor dan 

mengukur respon imun hospes terhadap sel tumor.

Sel tumor dapat ditemukan dalam sitoplasma. Ciri-ciri suatu tumor 

dapat ditentukan dari sitoplasma, permukaan sel atau produk yang 

dihasilkan/dilepasnya yang berbeda baik dalam sifat maupun dalam 

jumlah dari orang normal. Petanda tumor mempunyai sifat antigen yang 

lemah, dan adanya antibodi monoklonal telah banyak membantu dalam 

imunodiagnosis sel tumor dan produknya. Sampai dengan sekarang, 

imunodiagnosis kanker belum dapat dipraktekkan untuk menemukan 

tumor dini, namun  mungkin mempunyai arti penting diklinik dalam 

memonitor progresi atau regresi tumor tertentu.

Pemeriksaan laboratorium

1. Penentuan monoklonalitas sel

 Proliferasi monoklonal limfosit B dapat dinyatakan dengan 

adanya sIg dan cIg monoklonal, namun  mungkin juga dijumpai 

imunoglobulin yang tidak lengkap yang hanya terdiri atas satu jenis


rantai-H atau satu jenis rantai-L. Identifikasi ini dapat dilakukan 

dengan cara imunofluoresensi. Cara ini cukup sensitif dan mudah 

dilakukan dan penafsiranpun tidak sulit, namun ada kalanya 

hasilpenentuan monokolonalitas dengan cara ini meragukan atau 

tidak memberikan kepastian. Dalam hal demikian diperlukan cara 

lain yang lebih sensitif; salah satu diantaranya yaitu  penentuan 

DNA dengan rearrengement gen imunoglobulin monoklonal. 

Penentuan DNA ini mempunyai kelebihan di atas pemeriksaan 

lain sebab  proliferasi monoklonal dapat dideteksi sekalipun tidak 

ada  penanda fenotip yang khas pada permukaan sel seperti 

rantai-L kappa atau rantai L-lambda monokloonal.

2. Menentukan monoklonalitas imunoglobulin

 Imunoglobulin monoklonal atau protein-M dapat dijumpai dalam 

serum atau urin. Untuk identifikasi protein-M dalam cairan tubuh 

umumnya diperlukan beberapa jenis test laboratorium, sebab  

tidak ada uji tunggal yang dapat mendeteksi dan mengidentifikasi 

semua kelainan imunoglobulin sekaligus.

     Salah satu sifat protein-M yaitu  mobilitas elektroforetik 

yang sama dan terbatas dari molekul-molekulnya sehingga pada 

elektroforesis molekul-molekul itu memupuk pada satu tempat dan 

pada carik elektroforesis tampak sebagai pita yang sempit dengan 

densitas yang tinggi. Pada scanning dapat dilihat suatu puncak 

yang runcing dengan dasar sempit di daerah gamaglobulin yang 

disebut M-spike. Elektroforesis dapat dilakukan sebagai penyaring 

ada tidaknya protein-M pada penderita-penderita yang dicurigai.

    Ada kalanya elektroforesis tidak memberikan hasil yang 

diharapkan, misalnya M-spike kecil yang mungkin tertutup oleh 

kadar komponen beta dan gamaglobulin yang meningkat. Rantai-L 

monoklonal seringkali tidak tampak pada elektroforesis. IgD 

dan IgE monoklonal jarang memicu  M-spike demikan pula 

protein-M pada heavy chain disease. sebab  itu perlu dilakukan 

pemeriksaan lanjutan. Identifikais protein-M harus dilanjutkan 

dengan menentukan kelas imunoglobulin dan tipe rantai-L 

dengan cara imunoelektroforesis dengan memakai  antiserum 

monospesifik. Pada imunoelektroforesis protein-M tampak 

menunjukkan penebalan setempat, scooping, bulging, bifurkasi 


atau distorsi pada garis presipitasi salah satu kelas imunoglobulin 

dan salah satu rantai-L, kappa atau lambda. Distorsi semacam ini 

tidak pernah tampak pada beberapa kelas imunoglobulin atau 

rantai kappa dan lambda secara bersamaan. Penetapan kelas 

imunoglobulin maupun tipe rantai-L perlu sebab  masing-masing 

kelas maupun tipe rantai-L menunjukkan prognosis yang berbeda. 

Bila pada imunolektroforesis tampak distorsi pada rantai-L tanpa 

distorsi pda IgG, IgA maupun IgM, IEP hendaknya dilakukan untuk 

menetapkan adanya protein-M kelas IgD atau IgE. Cara yang sama 

dapat diterapkan untuk menentukan protein-M dalam urin. Bila 

elektroforesis menunjukkan M-spike namun  imunoelektroforesis 

dengan anti-kappa dan anti-lambda tidak menyatakan adanya 

rantai-L monoklonal, perlu dipertimbangkan kemungkinan 

adanya rantai-H monoklonal yang ada  pada heavy chain 

disease. Imunoelektroforesis kemudian dapat dilakukan dengan 

memakai  anti serum terhadap rantai-H

3. Imunofluoresensi dan flowcytometry

 Imunoglobulin monokonal pada permukaan sel dalam sumsum 

tulang atau darah tepi perlu dtentukan terutama bila diduga 

ada mieloma nonsekretorik Protein-M non- sekretorik dapat 

ditentukan dengan teknik imunofluoresensi mikroskopik maupun 

flowcytometry. Dengan teknik ini dapat ditentukan monoklonalitas 

populasi sel yang berproliferasi, dengan menentukan rasio 

kappa/lambda. Pada keadaan normal rasio kappa/lambda 

menetap sekitar 2:1. Pada proliferasi monoklonal terjadi produksi 

berlebihan dari salah satu rantai-L, sehingga rasio kappa/lambda 

berubah. Teknik flow cytometry lebih sensitif dan dapat mengukr 

rasio rantai-L lebih tepat sebab  jumlah sel yang dievaluasi dapat 

beberapa ribu bahkan beberapa puluh ribu sekaligus. Barlogi 

dan kawan-kawan yang melakukan teknik flowcytometry dengan 

pewarnaan imunofluoresensi untuk mengevaluasi sel-sel dengan 

Ig intrasitoplasmik monokoonal menyatakan bahwa metode ini 

mampu mendeteksi sel plasma yang jumlahnya hanya 1% dari 

populasi sel yang dihitung.


Penafsiran

Fenotip yang ditampilkan pada sel menyatakan asal-usul sel dan 

stadium maturasinya. Penampilan PCA-1 pada permukaan sel menyatakan 

limfosit B pada stadium diferensiasi lanjut seperti yang dijumpai pada 

makroglobulinemia Waldenstrom. Sel yang mnampilkan PC-1 dapat 

dipastikan sebagai sel plasma.

Monoklonalitas dipastikan dengna penampilan hanya salahs atu 

rantai-L, yaitu kappa atau lambda menetap sekitar 2:1. Pad proliferasi 

monoklonal terjadi produksi berlebihan dari salah satu jenis rantai-L 

sehingga rasio kappa/lambda ini  berubah.

Beberapa bentuk gemopati monoklonal dapat dijumpai. Pada mieloma 

IgG, sekitar 75% penderita memproduksi rantai-L berlebihan yang 

kemudian dieksresikan melalui urin sebagai protein Bence Jones, atau 

dirombak. Protein-M dijumpai pada 99% penderita mieloma multipel. Pada 

sebagian kecil penderita tidak dijumpai protein-M dalam serum walaupun 

gejala klinik jelas menunjukkan gejala penyakit ini. Pada keadaan ini 

mungkin sel plasma dapat membentuk imunoglobulin namun  tidak mampu 

mensekresikannya. Bentuk ini dikenal sebagai bentuk nonskretorik. 

Sebanyak 50% protein-M merupakan IgG, 20% IgA sedang  IgD kurang 

dari 1%, dan sangat jarang dijumpai protein-M kelas IgE. Kira-kira 5% 

protein-M merupakan krioglobulin yang bersifat mudah mengendap pada 

suhu rendah dan larut kembali bila suhu ditingkatkan.

Jenis protein-M seringkali turut menentukan prognosis. Berbagaipene-

litian membuktikan bahwa penderita dengna IgG monoklonal mempu-

nyai prognosis yang lebih baik dibandingkan penderita dengan IgA mo-

nokonal. Penderita dengan protein Bence Jones dalam urin menunjukkan 

keadaan lebih parah dibandingkan penderita tanpa protein Bence Jones, 

dan dalam hal ini penderita dengna rantai-L lambda prognosisnya lebih 

buruk dibandingkan penderita dengan rantai kappa. Pada 10-15% pen-

derita timbul amiloidosis yang dapat memicu  gagal ginjal. Fibril 

amiloid ternyata mengandung rantai-L sebagai komponen utama.

4. PENCEGAHAN

Imunisasi terhadap virus onkogenik diharapkan dapat mencegah 

tumor yang diinduksi virus ini . Hal ini telah berhasil dilakukan 

pada kucing untuk mencegah leukemia dan sarkoma. Pada manusia telah 

pula banyak dilaporkan percobaan-percobaan imunisasi dengan dosis 

subletal sel tumor yang replikasinya sudah dihambat, sel tumor yang 

sudah diubah dengan enzim, ekstrak antigen dari permukaan sel tumor. 

Hasilnya masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.

5. IMUNOTERAPI

Dalam 20 tahun terakhir berbagai usaha telah dilakukan untuk 

mengobati tumor dengan cara imunologik. Sampai sekarang cara itu 

belum menunjukkan hasil efektif, baik yang diberikan sendiri atau yang 

diberikan bersamaan dengan kemoterapi, radioterapi atau operasi.

Usaha ini diatujukan untuk memperoleh imunitas terhadap tumor 

secara spesifik dengan memakai  berbagai preparat antigen tumor 

atau secara nonspesifik untuk membantu respon imun terutama 

makrofag dengan berbagai limfokin seperti interferon, IL-2, dan tumor 

necrosis factor (TNF) yang ditujukan terhadap regresi tumor.

Akhir-akhir ini telah digunakan lymphokine activated killer cells 

(LAK). Sel ini  diproduksi in vitro dengan jalan membiakkan sel 

limfosit dari penderita (atau yang diperoleh dari tumor) dengan IL-2. 

Selanjutnya limfosit ini  diinfuskan kebali kepada penderita.

Usaha lain yang telah dilakukan antara lain dengan toksin seperti ricin 

atau isotop radioaktif yang diikat dengan antibodi monoklonal tumor 

spesifik yang dapat menghantarkan toksin atau bahan radioaktif ke sel 

tumor. Efek imunotoksin ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut.