p. Pada tahapan
selanjutnya akan mengarah pada inflamasi/
peradangan akibat perantara complement, kemudian
pengerahan berbagai sel leukosit yang dimediasi oleh
Fc reseptor. Selain itu antibodi juga dapat
mengaktivasi sel yang memiliki reseptor FcyR (reseptor
IgG), kemudian natural killer cells (NK cells) berperan
sebagai sel efektor melalui mekanisme ADCC
(antibody-directed cellular cytotoxicity). Ikatan yang
terjadi antara antibodi dan antigen dapat juga
mengaktifkan complement melalui reseptor C3b yang
dapat memudahkan proses fagositosis dan pelisisan.
Mekanisme hipersensitivitas tipe II disajikan pada
Gambar 3 dibawah ini:
Gambar 8.3. Tahapan Contoh Reaksi
Hipersensitivitas Tipe II
Proses pembunuhan (killing) dari sel dapat terjadi
melalui tiga mekanisme utama yaitu: 1. Lisis sel yang
diperantarai complement, 2. Sistem ADCC (antibody
dependent cell mediated cytotoxicity) dan Jalur 3.
Opsonisasi.
a. Jalur lisis sel yang diemdiasi oleh complement
(Complementt mediated lysis of cell)
Urutan kejadian yang disajikan pada Gambar
3 dimulai saat lisi sel yang dimediasi atau
diperantarai oleh complement (atau dikenal sebagai
proses sitolitik oleh complement). Pada dasarnya
sistem complement sendiri merupakan sistem dari
enzim lisolitik yang tidak aktif pada darah. Enzim
dari sistem complement ini akan diaktivasi oleh
kompleks antigen-antibodi (Gambar 3). saat
antibodi terikat pada antigen (seperti mikroba)
maka akan terbentuk kompleks antigen-antibodi.
Kompleks antigen-antibodi akan mengaktifkan
sistem complement melalui beberapa jalur.
ada tiga jalur berbeda yang dapat
mengaktifkan complement, yaitu jalur klasik, jalur
alternatif, dan jalur mekanisme cascade.
Complement yang teraktivasi berlangsung pada
mekanisme cascade (saat complement teraktivasi
pada permukaan sel darah (red blood cells/ RBC)
maka akan memicu lisis pada sel. Aktivasi
complement C5b-9 yang diikuti lisis sel secara
langsung terjadi pada jalur klasik.
b. Jalur sitotoksisitas yang dimediasi oleh sel yang
bergantung pada antibodi/ AADC (antibody-
dependent cellular cytotoxicity)
Melalui jalur ADCC, antibodi akan terikat
dengan antigen pada sisi Fab nya. Sementara pada
bagian Fc dari antibodi memiliki reseptor sel
sitotoksik. Antiobdi akan mengubungkan target
antigen (misal mikroba) dengan sel sitotoksik dan
mendukung proses pembunuhan/ killing.
Kebanyakan sel sitotoksik juga berisi enzim digestif
dan hidrolitik, yang akan dikeluarkan pada bagian
permukaan sel target sehingga proses killing dapat
terjadi. Antibodi bertindak sebagai perantara atau
mediator yang akan membawa antigen ke sel
sitotoksik, serta sebaliknya sel sitotoksik sangat
bergantung pada antibodi untuk mengikat antigen
(oleh sebab nya pada reaksi ini dikenal sebagai
antibody-dependent cellular cytotoxicity.
3. Jalur opsonisasi
Mekanisme opsonisasi terjadi saat antigen
masuk ke dalam tubuh inang, yang setelahnya
dibentuklah antibodi. Antibodi yang telah terikat
dengan antigen melalui bagian Fab, namun sisi
bagian Fc dari antibodi tetap bersifat bebas (free).
Neutrophil sebagai sel fagositik, kemudian
makrofag, dan monosit memiliki respetor yang
dapat berikatan (binding) dengan bagian Fc dari
antibodi (dikenal sebagai reseptor FcR). Molekul
antibodi kemudian secara langsung (direct)
menghubungkan antigen yang masuk ke tubuh
dengan sel fagositik. Cross-linkage (hubungan
silang) ini akan mengaktifkan sel-sel fagositik
sehingga proses fagositosis berlangsung lebih cepat.
Aktivitas peningkatan fagositosis dengan bantuan
pengikatan antibodi terhadap antigen yang dikenal
sebagai proses opsonisasi. Dapat dikatakan juga
bahwa fragmen Fc dari antibodi merupakan
“jembatan pengubung” antara sel efektor dengan
sel target/ sasaran dalam hal ini antigen (opsonic
adherence).
4. Hipersensitivitas tipe III/ reaksi kompleks imun
Hipersensitivitas tipe III merupakan rekasi yang
melibatkan kompleks sistem imun. Sehingga reaksi ini
dikenal juga reaksi yang terjadi pada penyakit
kompleks imun. Dalam darah (sistem sirkulasi)
antibodi dapat berikatan dengan antigen yang akan
membentuk kompleks imun. Kompleks imun ini
terdeposit pada pembuluh darah (blood vessel). Akibat
yang ditimbulkan yaitu inflamasi pembuluh darah
atau dikenal sebagai vasculitis. Namun pada
reaksinya, kejadian ini tidak dengan segera
meneybabkan kerusakan jaringan secara menyeluruh,
sebab adanya aliran darah (blood flow) yang
mengganggu dan menghambat reaksi. Pada reaksi tipe
III ini juga melibatkan peran dari antibodi (IgG dan
IgM), perbedaannya yaitu bahwa antibodi disini
ditunjukkan dan dikhususkan kepada antigen yang
terlarut dalam serum.
dikenal sebagai hipersensitivitas kompleks imun,
dimana keruskan dan penghancuran sel diperantarai/
dimediatori oleh kompleks antigen-antibodi. Gambar
4 menunjukkan ilustrasi bagaimana reaksi
hipersensitivitas tipe III berjalan. saat ada
antibodi yang bergabung (combine) dengan antigennya
yang spesifik, maka akan terbentuk kompleks imun.
Secara normal, kompleks ini dapat bertahan
dalam jumlah kecil yang tidak memicu gangguan.
Perlu diketahui juga bahwa antigen yang terlibat pada
tipe III ini mirip dengan tipe lainnya, secara efek tidak
terlalu berbahaya serta merusak penjamunya.
Umumnya sel-sel fagositik dapat membersihkan
kompleks imun pada reaksi tipe III ini tanpa
memicu kerusakan yang signifikan pada
penjamunya. Namun jika memang kompleks imun yang
terbentuk mengendap terlalu banyak maka dapat
mengaktifkan complement, perekrutan sel fagosistik,
dan kerusakan jaringan. Jaringan yang spesifik pada
tipe III ini yaitu blood vessel, membran basal dari
glomerulus (ginjal) serta jaringan persendian.
Dimanapun lokasi penyimapanan kompleks
imun tesebut, maka tetap dapat mengaktifkan
complement, sel fagositik (makrofag, neutrophil),
sehingga akan muncul respon inflamasi atau cidera
jaringan. Mediator utama untuk antibodi pada tipe III
ini yaitu IgG dan IgM, dan perlu diingat bahwa
antibodi ini akan bergabung dengan antigen yang
terlarut (tidak terikat pada permukaan sel). Antigen
yang menjadi pemicu dapat berasal dari diri sendiri
atau luar (lingkungan). Kerusakan pada jaringan
terutama disebabkan oleh aktivasi complement serta
pelepasan enzim litik oleh neutrophil. Tahapan utama
yang terjadi meliputi deposit kompleks imun pada
jaringan, kemudian terjadi aktivasi complement,
aktivasi complement dapat memicu pelepasan
macrophage chemotactic factor (MCF) berupa C3b dan
C5a, atau melalui kemotaksis neutrofil (Gambar 4).
Makrofag kemudian akan melepaskan enzim serta
spesies oksigen reaktif (SOR) melalui proses
degranulasi yang akan merusak sel/ jaringan sekitar.
5. Hipersensitivitas tipe IV/ tipe lambat
Hipersensitivitas tipe IV dikenal juga sebagai
reaksi tipe lambat atau delayed type
hypersensitivity (DTH). Reaksi tipe IV tidak
melibatkan antibodi, namun sel T. akibatnya reaksi
yang timbul merupakan respon imun seluler.
Hipersensitivitas tipe terakhir yaitu tipe IV merupakan
gangguan atau kelainan yang diperantari oleh sel T
sebagai pemain utamanya. Sehingga tidak seperti tipe
lain yang melibatkan antibodi (IgE, IgG, IgM atau
kompleks antigen-antibodi). Reaksi tipe IV ini
diakibatkan oleh peradangan (inflamasi) yang
disebabkan oleh sitokin yang diproduksi dan
disekresikan oleh sel Th1 (CD4+) dan sel Th17. Atau
sitotoksisitas dan pembunuhan (killing) yang dilakukan
oleh sel CTLs CD8+ atau yang dapat kita sebut sebagai
sel T sitotoksik. Tipe IV ini sangat umum dijumpai pada
reaksi infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus,
ataupun fungi dan mikroparasit. Tahapan reaksi tipe IV
dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 8.5. Reaksi Contoh Hipersensitivitas Tipe
IV
Hipersensitivitas tipe IV membutuhkan waktu
yang lama dari awal terjadinya paparan sampai
munculnya reaksi dan respon. Seperti terlihat pada
ilustrasi Gambar 6, antigen yang dicontohkan (misal
alergen) yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan
dengan imunogen, kemudian akan di presentasikan ke
APC (makrofag) setelah antigen terikat pada reseptor
MHC kelas II yang dapat dikenali oleh sel Th naive .
Selanjutnya terjadi pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-
6, IL-12). Pelepasan sitokin ini juga memicu sel Th
Naïve berdiferensiasi (terutama akibat stimulasi IL-12),
menjadi sel Th1. Peran sel Th1 ini yaitu mensekresi
interferon-γ, yang berfungsi untuk mengaktivasi
makrofag. Makrofag yang teraktivasi akibat induksi IFN-
γ akan memicu ekspresi reseptor pada sel endotel
meningkat yang berfungsi untuk merekrut lebih banyak
leukosit ke area. Aktivitas fagositik dari makrofag
memicu pelepasan enzim lisosom dan spesies
oksigen reaktif yang dapat memicu peningkatan
reaksi inflamasi. Kenyataan bahwa APC yang melepaskan
IL-6, juga melepaskan sitokin lain yang berperan untuk
menstimulasi diferensiasi sel Th Naïve menjadi sel Th17,
yang berperan dalam releasing IL-17 (berperan sebagai
aktivator neutrofil), dan memicu reaksi inflamasi
(Gambar 6).
Gambar 8.6. Fase Sensitasi dan Efektor Pada
Hipersensitivitas Tipe Lambat (DTH)
Gambar 6 menunjukkan ada dua reaksi utama yang
terjadi pada hipersensitivitas tipe IV ini yaitu fase sensitasi
dan efektor.
a. Fase sensitasi: pada fase ini akan diwali “inisiasi
sensitasi” melalui kontak antigen secara primer. Antigen
akan dikenali dan disajikan kepada APC yaitu sel Th
CD4+. Aktivasi sel CD4+ akan menstimulasi pembentukan
sel Th (perlu diingat bahwa selama kejadian ini, sel Th
akan berkembang dengan mengikat molekul MHC kelas
2). APC yang terlibat pada DTH diantaranya makrofag
dan sel Langerhans, dan sel T CD4+ merupakan sel utama
pada fase sensitasi pada DTH. Beberapa kasus juga
melibatkan sel T CD8+, yang turut berperan pada DTH.
b. Fase efektor: pada fase ini terjadi paparan antigen kedua
kalinya, sehingga menginduksi effector phage. Kemudian
sel Th1 akan mensekresi sitokin dan berperan dalam
rekrutmen serta aktivasi makrofag serta sel inflamsi non-
spesifik pada site masuknya antigen. Makrofag sebagai
efektor utama DTH menunjukan dua tindakan, apakah
istirahat atau teraktivasi (Gambar 6). Tingkat fagositas
yang meningkat ditunjukan pada makrofag yang
teraktivasi sehingga proses killing lebih tinggi. Makrofag
teraktivasi akan mengeluarkan enzim litik yang akan
merusak jaringan sekitar serta bakteri intraseluler.
Aktivasi makrofag sangat penting pada reaksi tipe IV ini,
sebagai pertahanan terhadap parasit atau bakteri
intraseluler. DTH dapat berlangsung negatif jika antigen
tidak mudah untuk dibersihkan, sehingga reaksi DTH
berlangsung terus-menerus dan berakibat pada inflamasi
yang intensif dan kronis, serta reaksi granulomatosa.
b. Perbedaan tipe hipersensitivitas
Tabel 8.2. Perbedaan Tipe-Tipe Reaksi
Hipersensitivitas
C. Rangkuman
1. Hipersensitivitas merupakan sebuah reaksi imun
terhadap antigen yang dapat memicu keruskan
jaringan. Penyakit akibat reaksi hipersensitivitas yaitu
hypersensitivity disease atau inflamasi yang
diperantarai oleh imunitas. Reaksi ini muncul akibat
respon abnormal dan tak terkontrol terhadap antigen
asing/ sendiri (self)
2. Pembagian tipe hipersensitivitas didasarkan atas cara
atau mekanisme terjadinya kerusakan pada jaringan.
Hipersensitivitas tipe I (reaksi cepat), disebabkan oleh
aktivasi terhadap sel Th2 dan Tfh yang menghasilkan IL-
4, serta produksi antibodi (IgE) akibat antigen eksogen
(envirnonment), atau sensitasi mast cells oleh IgE serta
degranulasi mast cells pada repeat exposure.
Hipersensitivitas tipe II (sitotoksik), yang diperantarai
oleh antibodi IgG dan IgM, memicu reaksi inflamasi
yang dimediatori oleh complement dan memicu
kerusakan jaringan. Hipersensitivitas tipe III (kompleks
imun), diperantarai oleh antibodi terlarut (IgG dan IgM),
dimana ikatan antigen-antibodi yang membentuk
kompleks imun yang tedeposit di berbagai tempat
(memicu inflamasi). Hipersensitivitas tipe IV (tipe
lambat), diperantarai oleh sel T, memicu reaksi
inflamasi akibat produksi sitokin pro-inflamasi yang
disekresi oleh sel T CD4+, dan sel Th17, serta killing yang
dilakukan sel T sitotoksik (CD8+).
F. Glosarium
GM-CSF: Granulocyte-macrophage colony-
stimulating factor (GM-CSF)
CCL2: Chemokine (C-C motif) ligand 2
CXCLB: Comorbidity pathway crosstalk-based targets
and drugs
MCP1: Monocyte chemoattractant protein-1
IMUNOLOGI MUKOSA
Sistem imunitas mukosa merupakan bagian sistem
imunitas yang penting dan berlawanan sifatnya dari
sistem imunitas yang lain. Sistem imunitas mukosa lebih
bersifat menekan imunitas, sebab hal-hal berikut;
mukosa berhubungan langsung dengan lingkungan luar
dan berhadapan dengan banyak antigen yang terdiri
dari bakteri komensal, antigen makanan dan virus
dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sistem
imunitas sistemik. Antigen-antigen ini sedapat
mungkin dicegah agar tidak menempel mukosa dengan
pengikatan oleh IgA, barier fisik dan kimiawi dengan
enzim-enzim mukosa.
Antigen yang telah menembus mukosa juga
dieliminasi dan reaksi imun yang terjadi diatur oleh sel-
sel regulator. Hal ini untuk mencegah terjadinya
respons imun yang berlebihan yang akhirnya merugikan
oleh sebab adanya paparan antigen yang sangat
banyak. Sedangkan sistem imunitas sistemik bersifat
memicu respons imun oleh sebab adanya paparan
antigen. Sistem imunitas mukosa menggunakan
beberapa mekanisme untuk melindungi pejamu dari
respons imunitas yang berlebihan terhadap isi lumen
usus. Mekanisme yang dipakai yaitu barier fisik yang
kuat, adanya enzim luminal yang mempengaruhi
antigen diri yang alami, adanya sel T regulator spesifik
yang diatur fungsinya oleh jaringan limfoid usus, dan
adanya produksi antibodi IgA sekretori yang paling
cocok dengan lingkungan usus. Semua mekanisme ini
ditujukan untuk menekan respons imunitas. Kelainan
beberapa komponen ini dapat memicu
peradangan atau alergi.
2. Struktur Sistem Imunologi Mukosa
Jaringan mukosa ditemukan di saluran napas bagian
atas, saluran cerna, saluran genital dan kelenjar
mammae. Mekanisme proteksi terhadap antigen pada
mukosa, terdiri dari: membran mukosa yang menutupi
mukosa dan enzim yaitu perlindungan mekanik dan
kimiawi yang sangat kuat, sistem imun
mukosa innate berupa eliminasi antigen dengan cara
fagositosis dan lisis, sistem imun mukosa
adaptif dimana selain melindungi permukaan mukosa
juga melindungi bagian dalam badan dari masuknya
antigen lingkungan. Sistem imun lokal ini merupakan
80% dari semua imunosit tubuh pada orang sehat. Sel-
sel ini terakumulasi di dalam atau transit antara
berbagai Mucosa-Assosiated Lymphoid Ttisssue (MALT),
bersama-sama membentuk sistem organ limfoid
terbesar pada mamalia.
Sistem imun mukosa memiliki tiga fungsi utama
yaitu; (i) melindungi membran mukosa dari invasi dan
kolonisasi mikroba berbahaya yang mungkin menembus
masuk, (ii) melindungi pengambilan (uptake) antigen-
antigen terdegradasi meliputi protein-protein asing dari
makanan yang tercerna, material di udara yang terhirup
dan bakteri komensal, (iii) melindungi berkembangnya
respons imun yang berpotensi merugikan terhadap
antigen-antigen ini bila antigen ini
mencapai dalam tubuh. Sehingga disini MALT
menyeleksi mekanisme efektor yang sesuai dan
mengatur intensitasnya untuk menghindari kerusakan
jaringan dan proses imun berlebih. Sistem MALT terlihat
sebagai suatu sistem imun kompartemenisasi yang
bagus dan fungsi esensialnya berdiri sendiri dari
aparatus sistem imun. Secara fungsional, MALT terdiri
dari dua komponen yaitu jaringan limfoid mukosa
terorganisir dan sistem imunologi mukosa tersebar.
Gambar 9.2. Ilustrasi sistem imun mukosa pada
manusia. MALT regional, yang meliputi folikel sel-B dan
epitel terkait-folikel yang mengandung sel-M (M),
berfungsi sebagai situs induktif untuk kekebalan mukosa.
Antigen eksogen secara aktif disampaikan melintasi situs
ini untuk mencapai APC, seperti DC, makrofag, sel B, dan
FDC. Mukosa hidung di tengah berfungsi sebagai contoh
bagaimana DC intra- atau subepitel diam dapat
menangkap antigen di situs efektor dan bermigrasi
melalui pengeringan limfatik ke kelenjar getah bening
lokal atau regional di mana mereka menjadi APC aktif
dan merangsang sel T baik untuk produksi atau
downregulatory. respon imun (menekan). HEV
memungkinkan limfosit B dan T naif untuk memasuki
MALT (dan kelenjar getah bening). Mereka beralih dari
MALT dan kelenjar getah bening ke sirkulasi perifer
setelah dipersiapkan untuk menjadi memori/efektor B
dan sel T, di mana mereka kemudian akan ekstravasasi
di situs efektor mukosa (dicontohkan oleh mukosa usus
di sebelah kanan). Profil lokal molekul adhesi vaskular
dan kemokin mengontrol proses ini, dengan sel endotel
bertindak sebagai penjaga gerbang regional untuk
imunitas mukosa. Beberapa limfosit B namun sejumlah
besar plasmablast dan sel plasma IgA (dimer/polimer)
dan IgM (pentamer) yang mengekspresikan rantai-J
dapat ditemukan di usus lamina propria. Selain itu,
sejumlah besar sel T, sebagian besar CD4+, dan
beberapa sel plasma IgG yang tidak umum dengan
berbagai tingkat rantai-J (J), biasanya ada. Selain itu,
SIgA dan SIgM dibuat melalui transportasi epitel yang
dimediasi pIgR (mSC), dan kebocoran paraseluler
sejumlah kecil (panah rusak) dari antibodi IgG yang
diproduksi secara lokal dan yang diturunkan dari plasma
ke dalam lumen yaitu ciri khas lainnya. Reseptor Fc
neonatal berpotensi terlibat dalam transpor IgG aktif
tertentu (tidak diindikasikan). Perlu dicatat bahwa
rantai IgG dan J tidak dapat berinteraksi untuk
menyediakan situs pengikatan untuk pIgR. Selain itu,
diagram ditampilkan menunjukkan distribusi limfosit
intraepitel, terutama reseptor sel-T/+CD8+ dan
beberapa/+sel T. Karakteristik sel M dan "kantungnya"
yang terdiri dari berbagai jenis sel ditunjukkan pada
inset (pojok kiri bawah). Dengan izin Elsevier, karikatur
diubah dari Brandtzaeg dan Pabst1. Sel penyaji antigen,
sel dendritik, sel dendritik folikuler, venula endotel
tinggi, jaringan limfoid terkait mukosa, komponen
sekretori membran, reseptor Ig polimer, IgA sekretori,
dan IgM sekretorik yaitu contoh tipe sel.
3. Respons Umum Imunologi Mukosa
Antigen yang berada di lumen diambil oleh sel
epitelial abortif dan sel epitelial spesifik (sel membran
atau sel mikrofold atau sel M) di mukosa induktif,
dibawa atau langsung ditangkap oleh antigen-
presenting cel (APC) profesional (APC terdiri dari; sel
dendritik (DC), sel limfosit B dan makrofag) dan
dipresentasikan kepada sel-sel T konvensional αβ CD4+
dan CD8+, semuanya berada pada tempat induktif.
Beberapa antigen juga bisa langsung diproses dan
dipresentasikan oleh sel epitelial kepada sel T
intraepitelial tetangga (neighboring intraepithelial T
cells) meliputi sel T dengan limited resevoire
diversity (sel T γδ dan sel NKT). Respons imun mukosa
dipengaruhi oleh alamiah antigen, tipe APC yang
terlibat dan lingkungan mikro lokal. Dengan kebanyakan
tipe yaitu antigen non patogen (protein makanan),
jalur normal untuk sel dendritik mukosa dan APC lain
terlihat melibatkan sel T helper 2 dan respons berbagai
sel T regulator, biasanya hasilnya yaitu supresi aktif
imunitas sistemik, toleransi oral. Antigen dan adjuvant,
meliputi kebanyakan patogen, memiliki motif
disensitisasi oleh APC mukosa sebagai pertanda bahaya
(contoh; ligan toll-like reseptor (TLR)) disatu sisi dan
kondisi proinflamasi pada umumnya, menghasilkan
respons imun yang lebih kuat dan luas, baik sekresi
hormonal maupun sisi efektor imunitaas seluler dan
tidak menghasilkan toleransi oral. Ini diasumsikan
bahwa pengenalan patogen oleh TLR APC mukosa
membedakan dari respons pada flora komensal. namun
terakhir ditemukan bahwa pada kondisi normal, bakteri
komensal dapat dikenali oleh TLR, interaksi ini
tampaknya suatu yang penting untuk menjaga
homeostasis epitel di usus.
Sel B maupun sel T yang tersensitisasi,
meninggalkan tempat asal dimana berhubungan dengan
antigen (contohnya plak payeri), transit melewati
kelenjar limfe, masuk ke sirkulasi, dan kemudian
menempatkan diri pada mukosa terseleksi, umumnya
pada mukosa asal dimana mereka kemudian
berdeferensiasi menjadi sel plasma dan sel memori,
membentuk IgA sekretori. Afinitas sel-sel ini
kelihatannya dipengaruhi secara kuat oleh integrin
pada tempat spesifik (homing reseptors) pada
permukaannya dan reseptor jaringan spesifik
komplementari (adressin) pada sel endotel kapiler.
Pada penelitian terbaru mengindikasikan bahwa sel
dendritik mukosa dapat mempengaruhi
properti homing . Sel dendritik dari plak payeri dan
limfonodi mesentrik, namun tidak sel dendritik dari
limfa dan perifer, meningkatkan ekspresi reseptor
homing mukosa α4β7 dan reseptor CCR9, suatu reseptor
untuk gut-assosiated chemokine sel T memori dan sel T
CD8+ memori, untuk lebih suka homing di epitel
intestinal. Juga, sel dendritikimprinting of gut homing
specifity, terlihat terdiri dari retinoid acid yang
diproduksi oleh sel dendritik intestinal namun tidak oleh
sel dendritik limfoid lain. Ini mungkin bisa menjelaskan
dugaan sistem imun mukosa umum dimana imunosit
teraktivasi pada suatu tempat menyebarkan imunitas
ke jaringan mukosa jauh dari pada oleh sebab imunitas
sistemik. Pada saat yang sama, oleh sebab kemokin,
integrin dan sitokin terekspresi berbeda diantara
jaringan mukosa, fakta ini juga bisa menerangkan
sebagian, mengapa didalam sistem imun mukosa, ada
hubungan kompartemenisasi khas dengan tempat
mukosa terinduksi (contohnya usus dengan glandula
mamae dan hidung dengan saluran pernafasan dan
genital).
Adanya hubungan kompartemenisasi ini menjadi
pertimbangan tempat diberikannya imunisasi mukosa
akan efek yang diharapkan. Imunisasi oral akan
menginduksi antibodi di usus halus (paling kuat di
proksimal), kolon asenden, glandula mamae dan
glandula saliva namun tidak efektif menginduksi
antibodi di segmen bawah usus besar, tonsil dan genital
wanita. Sebaliknya imunisasi perektal, akan
menghasilkan respons antibodi yang kuat di rektum
namun tidak di usus halus dan colon proksimal. Imunisasi
per nasal dan tonsil akan memberikan respons antibodi
di mukosa pernafasan atas dan regio sekresi (saliva dan
nasal) tanpa respons imun di usus, namun juga terjadi
respons imun di mukosa vagina seperti yang terlihat
pada usaha imunisasi HIV. Penelitian pada tikus
ditemukan bahwa suntikan transkutan bisa
menimbulkan efek imunitas di mukosa vagina.
4. Mekanisme efektor dan regulator pada imunologi
mukosa
1. Mekanisme efektor
Selain mekanisme pembersihan antigen
mekanis dan kimiawi, imuitas mukosa terdiri dari sel
lain berupa sistem imune innate yang meliputi
netrofil fagositik dan makrofag, denritik sel, sel NK
(natural killer), dan sel mast. Sel-sel ini berperan
dalam eliminasi patogen dan inisisasi respons imun
adaptif. Mekanisme pertahanan sistem imun
adaptif di permukaan mukosa yaitu suatu sistem
yang diperantarai antibodi IgA sekretori, kelas
imunoglobulin predominan dalam sekresi eksternal
manusia. Imunoglobulin ini tahan terhadap protease
sehingga cocok berfungsi pada sekresi mukosa.
Induksi IgA melawan patogen mukosa dan antigen
protein terlarut bergantung pada sel T helper.
Perubahan sel B menjadi sel B penghasil IgA
dipengaruhi oleh TGF-β dan iterleukin (IL)10
bersama-sama dengan IL-4. Diketahui bahwa sel T
mukosa menghasilkan dalam jumlah yang banyak
TGF-β, IL-10 dan IL-4, sel epitelial mukosa
menghasilkan TGF-β dan IL-10, menjadi petunjuk
bahwa maturasi sel B penghasil IgA melibatkan
lingkungan mikro mukosa yaitu sel epitel dan
limfosit T tetangga.
Walaupun IgA predominan sebagai
mekanisme pertahanan humoral, IgM dan IgG juga
diproduksi secara lokal dan berperan dalam
mekanisme pertahanan secara signifikan. Sel T
limfosit sitolitik mukosa (CTL) memiliki peran
penting dalam imunitas pembersihan patogen virus
dan parasit intraseluler. Sel CTL ini juga akan
terlihat setelah pemberian imunisasi oral, nasal,
rektal ataupun vaginal dan yang terbaru
perkutaneus.
2. Mekanisme regulator
Sistem imun mukosa telah mengembangkan
berbagai cara untuk menjaga toleransi
terhadap antigen-self, antigen lingkungan pada
mikroflora, antigen makanan dan material udara
terhirup. Tolerasi ini melalui mekanisme;
aktifasi sel penginduksi kematian (induce-cell
death), anergi dan yang paling penting induksi sel T
regulatori. Anergi terhadap sel T antigen spesifik
terjadi bila inhalasi atau menelan sejumlah besar
protein terlarut, dan penghilangan (deleting) sel T
spesifik terjadi setelah pemberian antigen dosis
nonfisiologis, secara masif. Pada percobaan tikus
sudah diketahui ada 4 sel T regulator, yaitu;
(i) antigen-induced CD4+ T helper 2 like cells yang
memproduksi IL-4 dan IL-10, dan antagonis sel
efektor T helper 1, (ii) sel CD4+CD45RBlowyang
memproduksi IL-10, (iii) sel CD4+ dan CD8+ yang
memproduksi TGF-β (T helper 3), (iv) Sel
Treg (CD4+CD25+) yang mensupresi proliferasi
melalui suatu sel contact-dependent mechanism.
Meskipun in vitro, sel yang terakhir dapat
dikembangkan menjadi suatu bentuk sel antigen
spesifik in vivo setelah imunisasi. Sel ini bisa juga
mengubah aktifitas supresor pada sel CD4+ lain
dengan cara menginduksi ekspresi dari transkripsi
faktor Foxp3 dan atau ikatan MHC klas II dengan
molekul LAG-3 pada sel seperti infectious
tolerance. Mereka juga memiliki hubungan
langsung antara sel T inhibitor oleh Sel Treg , T
helper 3, sel Tr 1. Selanjutnya natural
human CD4+CD25+ Treg mengekspresikan integrin
α4β7 mukosa, saat bersama sel T CD4+
konvensional menginduksi sel T sekresiTr 1 like IL
10 dengan aktifitas supresor kuat terhadap sel T
efektor, dimana α4β1 Treg –positif lain
memperlihatkan cara yang sama dengan cara
menginduksi Thelper 3-like TGF-β-secreting
supressor T cells.
Data dari studi terakhir mengindikasikan
bahwa kesemua sel regulator yang berbeda tipenya
dan mekanismenya dapat diinduksi atau ditambah
(expand) oleh adanya antigen mukosa mengawali
terjadinya toleransi perifer. Sel T CD8+ γδ
intraepitelial mukosa respirasi dan usus juga
dicurigai berperan dalam toleransi mukosa. Jadi,
mekanisme pertahanan mukosa
dariautoagressive dan penyakit alergi melibatkan
berbagai tahap regulasi. Sedangkan aktivasi,
survival dan ekspansi sel regulator ini tampaknya
dikontrol oleh jenis terspesialisasi APC, khususnya
sel dendritik jaringan spesifik meliputi sel dendritik
di hati, plak payeri, mukosa intestinal dan paru.
Gambar 9.3. (a) Karbohidrat Zwitterionik yang
dilepaskan oleh Bacteroides fragilis mendorong
pertumbuhan sel T CD4+ di inang mamalia. Karbohidrat
zwitterionik memicu pembentukan abses jika
mukosa usus rusak dan B. fragilis menginvasi jaringan
submukosa. Sebaliknya, (b) Clostridium difficile hanya
memicu penyakit saat flora komensal alami
tubuh terganggu, yang memicu cedera yang
dimediasi toksin (jingga) pada sel epitel. (c) Sel epitel
lambung yang memiliki Helicobacter pylori yang
melekat padanya mengembangkan gastritis, tukak
lambung, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, kanker
lambung akibat peradangan yang terjadi..
5. Imunitas Mukosa Pada Masing-Masing Organ
Mukosa gastrointestinal, urogenital, dan saluran
pernapasan semuanya mengandung folikel limfoid yang
terisolasi.
a. Sistem imunitas mukosa saluran napas
Sistem imunitas mukosa saluran napas terdiri
dari nose-associated lymphoid tissue (NALT),
larynx-associated lymphoid tissue (LALT), and the
bronchus-associated lymphoid tissue (BALT).1BALT
terdiri dari folikel limfoid dengan atau tanpa
germinal center terletak pada dinding bronkus.
Sistem limfoid ini ada pada 100% kasus fetus
dengan infeksi amnion dan jarang ada
walaupun dalam jumlah sedikit pada fetus yang
tidak terinfeksi. Pembentukan jaringan limfoid
intrauterin ini merupakan fenomena reaktif dan
tidak mempengaruhi prognosis.
Respons imun diawali oleh sel M (microfold
cells) yang berlokasi di epitel yang melapisi folikel
MALT. Folikel ini berisi sel B, sel T dan APC yang
dibutuhkan dalam pembentukan respons imun. Sel
M bertugas untuk uptake dan transport antigen
lumen dan kemudian dapat mengaktifkan sel T. Sel
APC dalam paru terdiri dari sel dendritik submukosa
dan interstitial dan makrofag alveolus. Makrofag
alveolus merupakan 85% sel dalam alveoli, dimana
sel dendritik hanya 1%. Makrofag alveolus ini
merupakan APC yang lebih jelek dibandingkan sel
dendritik. sebab makrofag alveolus paling banyak
ada pada alveolus, sel ini berperan melindungi
saluran napas dari proses inflamasi pada keadaan
normal. Saat antigen masuk, makrofag alveolus
akan mempengaruhi derajat aktivitas atau maturasi
sel dendritik dengan melepaskan sitokin. Sel
dendritik akan menangkap antigen,
memindahkannya ke organ limfoid lokal dan setelah
melalui proses maturasi, akan memilih limfosit
spesifik antigen yang dapat memulai proses imun
selanjutnya.
Setelah menjadi sel memori, sel B dan T akan
bermigrasi dari MALT dan kelenjar limfoid regional
menuju darah perifer untuk dapat melakukan
ekstravasasi ke efektor mukosa. Proses ini
diperantarai oleh molekul adesi vaskular dan
kemokin lokal, khususnya mucosal addressin cell
adhesion molecule-1 (MAdCAM-1). Sel T spesifik
antigen yaitu efektor penting dari fungsi imun
melalui sel terinfeksi yang lisis atau sekresi sitokin
oleh Th1 atau Th2. Perbedaan rasio atau polarisasi
sitokin ini akan meningkatkan respons imun dan
akan membantu sel B untuk berkembang menjadi
sel plasma IgA.
b. Sistem imunitas mukosa saluran cerna
Luas permukaan saluran cerna mencapai
hampir 400m2 dan selalu terpajan dengan berbagai
antigen mikroba dan makanan sehingga dapat
menerangkan mengapa sistem limfoid saluran cerna
(gut associated lymphoid tissue /GALT) memegang
peranan pada hampir 2/3 seluruh sistem imun.
Pertahanan mukosa yaitu struktur komplek yang
terdiri dari komponen selular dan non selular.
Pertahanan yang paling kuat masuknya antigen ke
jaringan limfoid mukosa yaitu adanya enzim yang
ada mulai dari mulut sampai ke kolon. Enzim
proteolitik di dalam lambung (pepsin, papain) dan
usus halus (tripsin, kimotripsin, protease
pankreatik) berfungsi untuk digesti. Pemecahan
polipeptida menjadi dipeptida dan tripeptida
bertujuan agar dapat terjadi proses digesti dan
absorpsi bahan makanan, dan membentuk protein
imunogenik yang bersifat nonimun(peptida dengan
panjang asam amino <8-10 bersifat imunogenik yang
buruk). Efek protease berlipat ganda dengan adanya
garam empedu yang memecah karbohidrat dan akan
didapatkan suatu sistem yang poten untuk
meningkatkan paparan antigen(Ag). Kadar pH yang
sangat rendah di dalam lambung dan usus halus dan
produk bakteri di dalam kolon berfungsi sebagai
respons imun terhadap antigen oral. Sebagian besar
respons imun ini berfungsi melindungi manusia dari
bahann patogen. Perubahan untuk merespons atau
menekan respons imun berhubungan dengan cara
antigen masuk ke dalam tubuh. Patogen invasif
(yang merusak pertahanan) memicu respons agresif,
sedangkan untuk kolonisasi luminal dibutuhkan yang
lebih bersifat respons toleran.
Komponen utama pertahanan tubuh yaitu
produk gen musin. Glikoprotein musin melapisi
permukaan epitel dari rongga hidung/orofaring
sampai ke rektum. Sel goblet yang menghasilkan
mukus secara kontinu memberikan pertahanan yang
kuat pada persambungan epitel. Partikel, bakteri
dan virus menjadi terperangkap dalam lapisan
mukus dan akan dikeluarkan dengan proses
persitaltik. Pertahanan ini mencegah patogen dan
antigen masuk ke bagian bawah epitel, disebut
proses eksklusi nonimun. Musin juga berfungsi
sebagai cadangan IgA. Antibodi ini berasal dari
epitel dan dikeluarkan ke dalam lumen.
Antibodi sIgA ada dalam lapisan mukus
berikatan dengan bakteri/virus dan mencegah
menempel pada epitel. Hubungan faktor-faktor,
disebut sebagai faktor trefoil, membantu
memperkuat pertahanan dan memicu pemulihannya
bila ada defek. Tidak adanya produk gen musin
atau faktor trefoil, manusia menjadi lebih rentan
terhadap inflamasi dan kurang mampu memperbaiki
kerusakan barier. Apakah defek ini berperan
pada pasien dengan alergi makanan masih dalam
penelitian.
Lapisan barier berikutnya yaitu sel epitel.
Bersama-sama dengan persambungan bagian apeks
dan basal yang kuat, membran dan ruang antara sel
membatasi masuknya makromolekul yang besar.
Namun demikian, persambungan yang kuat ini masih
mungkin dilalui oleh di- dan tripeptida serta oleh
ion-ion tertentu. Pada keadaan inflamasi,
persambungan ini menjadi kurang kuat sehingga
makromolekul dapat masuk ke dalam lamina
propria, contohnya respons terhadap antigen
makanan atau masuknya mikroorganisme lumen.
Pada keadaan ini, antigen makanan akan menjadi
antigen asing, dimana pada individu yang memiliki
bakat alergi akan menginduksi proses alergi menjadi
berlanjut.
Sel epitel usus dapat memproses sebagian
antigen lumen dan mempresentasikannya ke sel T
dalam lamina propria. Dalam keadaan normal,
interaksi ini memicu aktivasi selektif sel T
CD8+ regulator. Pada penyakit tertentu
(contohnya inflammatory bowel disease), aktivasi
beberapa sel rusak sehingga memicu inflamasi
menetap. Pada alergi makanan, alergen yang
menembus epitel akan menempel pada sel mast
mukosa . Sel T yang teraktivasi dalam Peyer’s
patch setelah paparan dengan antigen disebut
sebagai Th3. Sel ini berfungsi
mengeluarkan transforming growth factor-
β, memicu sel B untuk menghasilkan IgA dan
berperan pada terjadinya toleransi oral (aktivasi
antigen spesifik non respons terhadap antigen yang
masuk per oral). Sel T regulator yang paling baru
dikenal yaitu dengan fenotip CD4+ CD25+
CD45RA+. Sel ini awalnya dikenal pada gastritis
autoimun dan berfungsi menghambat kontak antar
sel dan dapat memicu kelainan autoimun pada
neonatus yang mengalami timektomi.
6. Aspek Klinis Imunologi Mukosa
a. Imunisasi
Alasan utama menggunakan vaksinasi
melalui mukosa yaitu bahwa fakta kebanyakan
infeksi masuk melalui permukaan mukosa dan pada
infeksi ini, jarang diberikan vaksin topikal untuk
menginduksi respons imun protektif. Vaksinasi
mukosa diharapkan akan memberikan perlindungan
dengan cara mencegah penempelan dan kolonisasi
patogen pada epitel mukosa dan mencegah
penetrasi dan replikasi di mukosa serta menangkal
ikatan toksin mikrobial pada epitel mukosa dan sel
lain yang terkena. Beberapa organisme (V.
cholerae) memberikan imunitas dengan cara
memproduksi IgA sekretori dan dihubungkan
dengan memori imunologi. Organisme lain (H.
pylori, klamidia, herpes) memberikan imunitas
protektif dengan diperantarai oleh sel T helper CD4
dan mungkin juga sel sitolitik CD8 dan sel NK. Pada
mukosa pernafasan dan genital yang lebih
permeabel dan mudah dipenetrasi oleh antibodi
daripada mukosa intestinal, juga bisa mendapatkan
imunitas protektif dengan pemberian imunisasi
parenteral. Cara yang sama juga bisa terjadi pada
infeksi enterik (Shigella spp dan Salmonella typhi).
Infeksi kedua organisme ini bisa memicu
penyakit setelah multiplikasi dan induksi inflamasi
di kelenjar limfoid mukosa. Walaupun demikian
masih ada kesulitan dalam mengembangkan vaksin
mukosa untuk mendapatkan kadar antibodi IgAs
yang memadai. Baru beberapa vaksin mukosa yang
ditemukan. Idealnya vaksin mukosa: (i) terlindungi
dari eliminasi fisik dan enzim pencernakan, (ii)
tempat target masuk mukosa meliputi membran
atau sel M, (iii) paling tidak, vaksin untuk melawan
infeksi, menstimulasi secara tepat sistim
imun innate yang akan mengaktifkan sistem imun
adaptif. Untuk itu perlu dicari sistem pengantaran
antigen dan adjuvant yang baik. Dalam penelitian,
adjuvant yang paling baik yaitu toksin kolera.
Molekul DNA bakteri atau oligodeoxynucleotide juga
merupakan adjuvant yang menjanjikan.
Pada vaksin oral polio, akan bisa
menghasilkan antibodi di darah yang menimbulkan
efek proteksi mencegah terjadinya mielitis akibat
sebaran virus polio yang menempel di sistem saraf.
Kelebihan OPV dibanding dengan IPV, OPV bisa juga
mempoduksi IgAs yang memberikan respons imun
lokal di mukosa intestinal, tempat primer virus polio
untuk replikasi dan multiplikasi. Hal ini bisa
mencegah penularan orang ke orang, dan
menimbulkan herd immunity. Walau ada
kelemahan akan adanya virulensi yang pulih pada
virus vaksin sehingga bisa memicu sakit.
Vaksin-vaksin untuk melawan infeksi enterik
antara lain V.cholerae, S.typhidan rotavirus. namun
masih belum ditemukan vaksin untuk ETEC dan
shigella. Kolera merupakan organisme terbanyak
pemicu diare bakterial. Sebelumnya diberikan
imunisasi parenteral namun tidak menimbulkan
respons imun mukosa usus sehingga sekarang sudah
ditarik. Saat ini ada 2 vaksin kolera oral yang terdiri
dari pertama, vaksin rekombinan dan vaksin
inaktifasi yang terbukti aman dan stabil, efektif,
dan bisa menghasilkan herd immunity. Efek poteksi
didapat dari produksi antibodi SigA anti-toksin dan
anti-bakterial di usus. Kedua, vaksin kolera hidup
yang dilemahkan terbukti aman dan bisa
memberikan proteksi 60-100% di negara tidak
endemis, namun tidak bisa membeikan proteksi yang
bermakna di negara endemis sepeti Indonesia.
Vaksin terhadap tifus pertama kali berupa
vaksin sel utuh, memberikan proteksi yang baik
namun ada reaksi lokal yan berat dan sering
demam. Saat ini ada 2 jenis yang direkomendasikan
yaitu vaksin yang terdiri dari antigen Vi kapsul
polisakarida murni, diberikan secara parenteral
dosis tunggal yang memberikan proteksi 70% dan
aman ditoleransi dengan baik. Jenis yang lain
yaitu vaksin hidup yang dilemahkan yang diberikan
secara oral memberikan perlindungan 67% selama 3
tahun, akan namun proteksi imunitas mukosa lokal
belum diketahui. Vaksin rotavirus yang terdahulu
yaitu suatu vaksin quadrivalen dari rotavirus resus
monyet, namun cepat ditarik sebab dicurigai
memicu intususepsi. Saat ini telah
dikembangkan vaksin oral rotavirus hidup yang
dilemahkan, memberikan proteksi 62-90%.
Vaksin untuk infeksi saluran nafas antara lain
vaksin influensa dan pneumokok yang disuntikkan.
Diharapkan akan terbentuk IgG yang melindungi
penyebaran sistemik organisme ini . Dimana
mungkin juga secara transudasi memberikan
proteksi lokal mukosa saluran pernafasan bawah.
Saat ini telah ada vaksin influensa yang diberikan
topikal lewat nasal. Dengan cara ini tejadi respons
imun seperti alamiahnya, bisa terjadi imunitas lokal
dengan membentuk sIgA yang menempel di
permukaan virus hemaglutinin dan neuroamidase
dan sistemik dengan cara membentuk IgG yang
mencegah penyebaran virus sistemik, viremia.
Kedua macam vaksin ini memberikan proteksi
sebesar 60-90%.
Vaksin mukosa untuk imunoterapi saat ini
mulai dipikirkan. Adanya toleransi imunologi di
mukosa menjadikan pilihan strategi untuk
mengembangkannya, untuk mengobati kesakitan
yang diakibatkan reaksi imun terhadap alergen
maupun antigen-self atau autoimmune disease.
Masih perlu diteliti lagi seberapa besar dan
seberapa sering alergen yang diberikan untuk bisa
menimbulkan efek protektif dengan aman. Teknik-
teknik baru dengan menggunakan modifikasi
alergen, vaksinasi gen alergen atau analog peptida
digabung dengan adjuvant yang sesuai
meningkatkan keamanan dan efikasi imunoterapi
mukosa pada alergi dan asma.
b. Penyakit inflamasi usus
Ada dua penyakit yang penting pada
penyakit inflamasi usus (inflammatory bowel
disease) yaitu kolitis ulserativa (UC) dan Crohn’s
disease (CD). Kedua penyakit itu bisa mengenai baik
anak-anak maupun dewasa. Penyakit UC yaitu
suatu keadaan yang ditandai dengan adanya respons
inflamasi dan perubahan morfologi pada kolon.
Inflamasi terbatas di sepanjang kolon dan dapat
diikuti dengan ulkus, edema dan perdarahan.
Sedangkan CD yaitu inflamasi menyerupai UC
namun bisa terjadi di seluruh bagian dari usus.
Bisanya segmen yang sakit diselingi bagian segmen
usus yang sehat disebut sebagai skip area.
Respons inflamasi yang merusak disebabkan
langsung oleh sebab pengenalan terhadap self-
antigen seperti musin, sel goblet, kolonosit, dan
sel-sel lain. Sejumlah penelitian mencurigai CD
pada manusia yaitu suatu penyakit yang
diperantarai sel T helper 1 dan berlebihan.
Sedangkan untuk UC masih sedikit diketahui apa
yang memerantarainya. Beberapa studi
menyebutkan bahwa profil sitokin UC lain dengan
CD. Kemungkinan yang lebih berperan dalan UD
yaitu T helper 2 dibanding T helper 1, juga
dicurigai adanya respons imun humoral yang
abnormal terjadi pada UC.
c. Imunitas mukosa saluran pernafasan pada asma
dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Imunoglobulin A berperan pada homeostasis
mukosa dan pertahanan host serta merupakan
mekanisme pertahanan pertama terhadap kelainan
jalan nafas kronis. Ini sudah diketahui, namun
perannya terhadap PPOK dan asma baru sedikit
diketahui. Pada PPOK diperkirakan bahwa respons
IgA mukosa terganggu dan terjadi kekurangan
transport IgA melewati epitel bronkus, yang
mungkin memunculkan proteinase neutrofil, dimana
akan mendegradasi reseptor imunoglobulin yang
dimediasi rute transepitelial ini. Sebaliknya,
respons IgA terhadap alergen pada asma memainkan
peran suatu proses patogenik dengan cara aktifasi
eosinofil. Jadi, IgA menginduksi degranulasi
eosinofil, dimana kita ketahui bahwa produk
degranulasi eosinofil terdiri dari mediator-mediator
inflamasi yang memicu klinis asma terjadi.
Defisiensi IgA selektif berhubungan dengan
peningkatan prevalensi atopi, dimana pada
percobaan pada tikus dengan asma menunjukan
adanya efek protektif oleh IgA. Sehingga masih
diperlukan penelitian lagi untuk mencari peran
imunitas mukosa dan kemungkinan imunoterapi
yang efektif terhadap asma dan PPOK.
d. Peran imunitas mukosa urogenital terhadap
infeksi saluran kemih
Selain pertahanan fisik, kimiawi dan sistem
imune innate , IgA memiliki peran yang sangat
penting dalam pertahana terhadap antigen dan
patogen di saluran urogenital. Ada satu penelitian
yang mengukur kadar IgA urine pada anak-anak
perempuan dengan ISK asimtomatik dan anak-anak
ISK simtomatik dibandingkan dengan anak sehat
tanpa ISK. Mereka menemukan bukti bahwa pada
anak sehat, ekskresi IgA rendah pada bayi kurang
dari 6 bulan dan pada umur 6-15 tahun terlihat
sekresi IgA meningkat dengan bertambahnya umur.
Pada anak-anak dengan ISK berulang asimtomatik
tanpa kelainan saluran kemih, ternyata memiliki
kadar IgA yang lebih rendah dibanding kontrol.
Sedangkan pada anak dengan ISK simtomatik tanpa
kelainan saluran kemih memiliki kadar ekskresi
IgA yang lebih tinggi dari kontrol. Anak dengan ISK
simtomatik dengan kelainan saluran kemih
memiliki kadar ekskresi IgA paling tinggi.
Disimpulkan bahwa kadar IgA rendah bisa dijadikan
pertanda terjadinya ISK berulang pada anak-anak
perempuan tanpa kelainan saluran kemih.
Imunoterapi kelihatannya memiliki
prospek yang baik untuk tatalaksana ISK dimasa
mendatang. Paling tidak ada 2 penelitian yang
mendukung hal ini . Penelitian dengan
menggunakan vaksinasi pervaginal ada
perbadaan bermakna angka reinfekasi dibanding
plasebo. Pada kelompok vaksin memperlihatkan 50%
pasien tidak terjadi reinfeksi ISK dibanding hanya
17% pada plasebo. Sedangkan penelitian yang
menggunakan vaksin oral, suatu metaanalisis
menyatakan bahwa pasien ISK yang mendapatkan
vaksin (18 uropatogenik E. coli) terjadi penurunan
yang nyata pada angka rekurensi dibanding dengan
plasebo. Tidak didapatkan perbedaan efek samping
yang bermakna dibanding kontrol. Sehingga, dengan
adanya resistensi yang semakin meningkat,
imunoterapi terhadap ISK akan menjadi alternatif
yang efeksif dan aman.
Sistem imun mukosa memiliki tiga fungsi
utama yaitu; (i) melindungi membran mukosa dari
invasi dan kolonisasi mikroba berbahaya yang
mungkin menembus masuk, (ii) melindungi
pengambilan (uptake) antigen-antigen terdegradasi
meliputi protein-protein asing dari makanan yang
tercerna, material di udara yang terhirup dan
bakteri komensal, (iii) melindungi berkembangnya
respons imun yang berpotensi merugikan terhadap
antigen-antigen ini bila antigen ini
mencapai dalam tubuh.
Mekanisme pembersihan antigen melalui
beberapa cara yaitu; mekanis dengan barries fisik,
kimiawi dengan enzim-enzim, sistem
imune innatemeliputi netrofil fagositik dan
makrofag, denritik sel, sel NK (natural killer), dan
sel mast. Sel-sel ini berperan dalam eliminasi
patogen dan inisisasi respons imun adaptif.
Mekanisme pertahanan sistem imun adaptif di
permukaan mukosa yaitu suatu sistem yang
diperantarai antibodi IgA sekretori. Sistem imunitas
mukosa memiliki berbagai cara untuk menjaga
toleransi terhadap antigen-self, antigen lingkungan
pada mikroflora, antigen makanan dan material
udara terhirup. Tolerasi ini antara lain melalui
mekanisme; aktifasi sel penginduksi kematian
(induce-cell death), anergi dan yang paling penting
induksi sel T regulator. Adanya toleransi imun ini
melindungi tubuh dari terjadinya reaksi imun yang
berlebihan yang merugikan.
Kelainan klinis yang berhubungan dengan
imunitas mukosa diantaranya yaitu defisiensi IgA
selektif, inflammatory bowel disease, asma dan
PPOK . Defisiensi IgA selektif yaitu defisiensi berat
atau total tidak ada imunoglobulin A dalam serum
atau sekresi, tanpa ada defisiensi klas
imunoglobulin lain dimana fungsi sel T limfosit,
fagosit dan komplemen masih normal. kemungkinan
pemicu defisiensi ini yaitu gangguan sintesis
akibat sel B tidak bisa mencapai matur atau
gangguan sekresi. Penyakit inflamasi usus
(inflammatory bowel disease) yaitu kolitis
ulcerativa (UC) dan Crohn’s disease (CD),
pemicu nya belum diketahui. Sejumlah penelitian
mencurigai CD pada manusia yaitu suatu penyakit
yang diperantarai sel T helper 1 dan berlebihan.
Sedangkan untuk UC masih sedikit diketahui apa
yang memerantarainya. Pada asma, respons IgA
terhadap alergen memainkan peran suatu proses
patogenik dengan cara aktifasi eosinofil, sedangkan
PPOK diperkirakan bahwa respons IgA mukosa
terganggu dan terjadi kekurangan transport IgA
melewati epitel bronkus, yang mungkin
memunculkan proteinase neutrofil, dimana akan
mendegradasi reseptor imunoglobulin yang
dimediasi rute transepitelial ini.
Sistem imunitas mukosa ternyata
memiliki sifat kompartemenisasi dimana ada
hubungan imunitas antara satu kompartemen
dengan kompartemen lain. Adanya hubungan
kompartemenisasi ini menjadi pertimbangan
tempat diberikannya imunisasi mukosa akan efek
yang diharapkan. Vaksinasi mukosa dan imunoterapi
kelihatannya memiliki prospek yang baik untuk
tatalaksana infeksi dimasa mendatang,
menggantikan peran antibiotik yang semakin
bertambah resistensinya dan antivirus. Untuk itu,
pemahaman imunologi mukosa yang komplek dan
belum sepenuhnya dimengerti menjadi sangat
penting.
C. Rangkuman
Sistem imunitas mukosa lebih bersifat menekan imunitas,
sebab hal-hal berikut; mukosa berhubungan langsung
dengan lingkungan luar dan berhadapan dengan banyak
antigen yang terdiri dari bakteri komensal, antigen
makanan dan virus dalam jumlah yang lebih besar
dibandingkan sistem imunitas sistemik. Hal ini
untuk mencegah terjadinya respons imun yang berlebihan
yang akhirnya merugikan oleh sebab adanya paparan
antigen yang sangat banyak. Sistem imunitas mukosa
menggunakan beberapa mekanisme untuk melindungi
pejamu dari respons imunitas yang berlebihan terhadap isi
lumen usus. Mekanisme yang dipakai yaitu barier fisik
yang kuat, adanya enzim luminal yang mempengaruhi
antigen diri yang alami, adanya sel T regulator spesifik yang
diatur fungsinya oleh jaringan limfoid usus, dan adanya
produksi antibodi IgA sekretori yang paling cocok dengan
lingkungan usus.
Mekanisme proteksi terhadap antigen pada mukosa,
terdiri dari: membran mukosa yang menutupi mukosa
dan enzim yaitu perlindungan mekanik dan kimiawi
yang sangat kuat, sistem imun mukosa innate berupa
eliminasi antigen dengan cara fagositosis dan lisis,
sistem imun mukosa adaptif dimana selain melindungi
permukaan mukosa juga melindungi bagian dalam
badan dari masuknya antigen lingkungan. Sel-sel ini
terakumulasi di dalam atau transit antara
berbagai Mucosa-Assosiated Lymphoid
Ttisssue (MALT), bersama-sama membentuk sistem
organ limfoid terbesar pada mamalia. Sistem imun
mukosa memiliki tiga fungsi utama yaitu; (i)
melindungi membran mukosa dari invasi dan kolonisasi
mikroba berbahaya yang mungkin menembus masuk,
(ii) melindungi pengambilan (uptake) antigen-antigen
terdegradasi meliputi protein-protein asing dari
makanan yang tercerna, material di udara yang
terhirup dan bakteri komensal, (iii) melindungi
berkembangnya respons imun yang berpotensi
merugikan terhadap antigen-antigen ini bila
antigen ini mencapai dalam tubuh. Secara
fungsional, MALT terdiri dari dua komponen yaitu
jaringan limfoid mukosa terorganisir dan sistem
imunologi mukosa tersebar.
Mukosa hidung di tengah berfungsi sebagai contoh
bagaimana DC intra- atau subepitel diam dapat
menangkap antigen di situs efektor dan bermigrasi
melalui pengeringan limfatik ke kelenjar getah
bening lokal atau regional di mana mereka menjadi
APC aktif dan merangsang sel T baik untuk produksi
atau downregulatory. Mereka beralih dari MALT dan
kelenjar getah bening ke sirkulasi perifer setelah
dipersiapkan untuk menjadi memori/efektor B dan
sel T, di mana mereka kemudian akan ekstravasasi di
situs efektor mukosa (dicontohkan oleh mukosa usus
di sebelah kanan). Profil lokal molekul adhesi
vaskular dan kemokin mengontrol proses ini, dengan
sel endotel bertindak sebagai penjaga gerbang
regional untuk imunitas mukosa. Beberapa limfosit B
namun sejumlah besar plasmablast dan sel plasma IgA
(dimer/polimer) dan IgM (pentamer) yang
mengekspresikan rantai-J dapat ditemukan di usus
lamina propria.
Selain itu, sejumlah besar sel T, sebagian besar CD4+,
dan beberapa sel plasma IgG yang tidak umum dengan
berbagai tingkat rantai-J (J), biasanya ada. Respons
Umum Imunologi Mukosa Antigen yang berada di
lumen diambil oleh sel epitelial abortif dan sel
epitelial spesifik (sel membran atau sel mikrofold atau
sel M) di mukosa induktif, dibawa atau langsung
ditangkap oleh antigen-presenting cel (APC)
profesional (APC terdiri dari; sel dendritik (DC), sel
limfosit B dan makrofag) dan dipresentasikan kepada
sel-sel T konvensional αβ CD4+ dan CD8+, semuanya
berada pada tempat induktif. Respons imun mukosa
dipengaruhi oleh alamiah antigen, tipe APC yang
terlibat dan lingkungan mikro lokal. Dengan
kebanyakan tipe yaitu antigen non patogen (protein
makanan), jalur normal untuk sel dendritik mukosa dan
APC lain terlihat melibatkan sel T helper 2 dan respons
berbagai sel T regulator, biasanya hasilnya yaitu
supresi aktif imunitas sistemik, toleransi oral.
Antigen dan adjuvant, meliputi kebanyakan patogen,
memiliki motif disensitisasi oleh APC mukosa
sebagai pertanda bahaya (contoh; ligan toll-like
reseptor (TLR)) disatu sisi dan kondisi proinflamasi
pada umumnya, menghasilkan respons imun yang lebih
kuat dan luas, baik sekresi hormonal maupun sisi
efektor imunitaas seluler dan tidak menghasilkan
toleransi oral. Ini diasumsikan bahwa pengenalan
patogen oleh TLR APC mukosa membedakan dari
respons pada flora komensal..
IMUNODEFISIENSI
1. Pengertian Imunodefisiensi
Imunitas merupakan kekebalan terhadap
penyakit terutama penyakit infeksi. Imun sistem
yaitu semua hal yang berperan dalam proses imun
seperti sel, protein, antibody dan sitokin/kemokin.
Fungsi utama sistem imun yaitu pertahanan
terhadap infeksimikroba, walaupun substansi non
infeksious juga dapat meningkatkan kerja sistem
imun. Respon imun yaitu proses pertahanan tubuh
terhadap semua bahan asing, yang terdiri dari
sistem imun non spesifik dan spesifik.
Imunodefisiensi yaitu kondisi saat
kekebalan tubuh terganggu sehingga tidak bisa
melawan infeksi dan penyakit. Jenis gangguan ini
dapat membuat tubuh mudah terinfeksi oleh virus
dan bakteri. Gangguan ini bisa dimiliki sejak lahir
(primer) atau didapatkan di kemudian hari
(sekunder). Keadaan ini terjadi oleh adanya
penurunan atau ketiadaan respon imun normal. Hal
ini dapat terjadi secara primer yang pada umumnya
disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan,
serta secara sekunder akibat penyakit utama lain
seperti infeksi, pengobatan kemoterapi,
sitostatika, radiasi, obat-obatan imunosupresan
(menekan sistem kekebalan tubuh) atau pada usia
lanjut dan malnutrisi (Kekurangan gizi).
2. Klasifikasi Imunodefisiensi
Imunodefisiensi terbagi menjadi dua, yaitu
imunodefisiensi primer yang hampir selalu
ditentukan faktor genetik. Sementara
imunodefisiensi sekunder bisa muncul sebagai
komplikasi penyakit seperti infeksi, kanker, atau
efek samping penggunaan obat-obatan dan terapi.
a. Imunodefisiensi Primer
Gangguan immunodefisiensi primer merujuk
beragam gangguan yang ditandai dengan
berkurangnya atau tidak adanya salah satu atau
lebih komponen dari sistem kekebalan tubuh.
Gangguan ini dapat bersifat kronis dan
biasanya merupakan gangguan yang cukup penting.
Imunodefisiensi primer memicu individu tidak
dapat merespon secara adekuat infeksi yang ada
sehingga respon terhadap gangguan infeksi tidak
adekuat. Para peneliti telah mengidentifikasi lebih
dari 150 jenis imunodefisiensi primer.
Imunodefisiensi dapat mempengaruhi limfosit B,
limfosit T, atau fagosit. Gangguan imunodefisiensi
primer diantaranya yaitu:
1) Defisiensi IgA (imunoglobulin)
Imunoglobin ditemukan terutama di air
liur dan cairan tubuh lain sebagai perlindungan
pertama tubuh. pemicu nya genetik maupun
infeksi toksoplasma, virus cacar, dan virus
lainnya. Orang yang kekurangan IgA cenderung
memiliki alergi atau mengalami pilek dan infeksi
pernapasan lain walaupun tidak parah.
2) Granulomatos kronis (CGD)
Penyakit imunodefisiensi yang diwariskan
sehingga penderitanya rentan terhadap infeksi
bakteri atau jamur tertentu. Penderitanya tidak
dapat melawan infeksi kuman yang umumnya
ringan pada orang normal.
3) Bruton's Agammaglobulinemia
Kelainan yang ditandai kegagalan
prekursor limfosit B sebab cacat pada gen
kromosom X. Penyakit ini paling sering
ditemukan pada pria walaupun secara sporadik
terjadi juga pada wanita. Penyakit mulai
terlihat pada usia 6 bulan setelah imunoglobin
maternal mulai habis.
4) Severe combined immunodeficiency (SCID)
SCID yaitu gangguan sistem kekebalan
tubuh serius sebab limfosit B dan limfosit T.
Mereka yang kekurangan hampir mustahil
melawan infeksi. Bayi yang mengalam SCID
umumnya mengalami kandidiasis oral, diaper
rash, dan kegagalan berkembang.
5) Sindroma DiGeorge (thymus displasia)
Sindrom cacat lahir dengan penderita
anak-anak yang lahir tanpa kelenjar timus.
Tanda sindroma ini antara lain menurunnya level
sel T, tetanus, dan cacat jantung bawaan.
Telinga, wajah, mulut dan wajah dapat menjadi
abnormal.
6) Sindroma Chediak-Higashi
Ditandai dengan ketidakmampuan
neutrofil untuk berfungsi sebagai fagosit secara
normal.
7) Hyper IgM syndrome
Penyakit ini ditandai dengan produksi IgM
namun defisiensi IgA dan IgE. Akibatnya terjadi
cacat pada respon imun sel T helper dan
maturasi sel B dalam sekresi imunoglobin
terhambat.
8) Wiskott-Aldrich Syndrome
Penyakit yang terkait dengan kromosom X
ditandai dengan trombositopenia, eksema, dan
rentan infeksi sehingga memicu kematian
dini.
b. Imunodefisiensi Sekunder
Penyakit ini berkembang umumnya setelah
seseorang mengalami penyakit. pemicu yang lain
termasuk akibat luka, kurang gizi atau masalah
medis lain. Sejumlah obat-obatan juga
memicu gangguan pada fungsi kekebalan
tubuh. Immunodefisiensi sekunder, diantaranya
yaitu :
1) Infeksi
HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS
(acquired immunodeficiency syndrome) yaitu
penyakit umum yang terus menghancurkan sistem
kekebalan tubuh penderitanya. pemicu nya yaitu
virus HIV yang mematikan beberapa jenis limfosit
yang disebut sel T-helper. Akibatnya, sistem
kekebalan tubuh tidak dapat mempertahankan
tubuh terhadap organisme biasanya tidak
berbahaya. Pada orang dewasa pengidap AIDS,
infeksi HIV dapat mengancam jiwa.
2) Kanker
Pasien dengan kanker yang menyebar luas
umumnya mudah terinfeksi mikroorganisma. Tumor
bone marrow dan leukimia yang muncul di sumsum
tulang belakang dapat mengganggu pertumbuhan
limfosit dan leukosit. Tumor juga menghambat
fungsi limfosit seperti pada penyakit Hodgkin.
3) Obat-obatan
Beberapa obat menekan sistem kekebalan
tubuh, seperti obat kemoterapi yang tidak hanya
menyerang sel kanker namun juga sel-sel sehat
lainnya, termasuk dalam sum-sum tulang belakang
dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, gangguan
autoimun atau mereka yang menjalani transplantasi
organ dapat mengurangi kekebalan tubuh melawan
infeksi.
4) Pengangkatan Lien
Pengangkatan lien sebagai terapi trauma atau
kondisi hematologik dapat memicu
peningkatan suspeksibilitas terhadap infeksi
terutama Streptococcus pneumoniae.
3. Etiologi
Beberapa pemicu dari immunodefisiensi
yang didapat antara lain:
a. Penyakit keturunan dan kelainan metabolisme
1) Diabetes
2) Sindroma Down
3) Gagal ginjal
4) Malnutrisi
5) Penyakit sel sabit
b. Bahan kimia dan pengobatan yang menekan
sistem kekebalan
1) Kemoterapi kanker
2) Kortikosteroid
3) Obat immunosupresan
4) Terapi penyinaran
c. Infeksi
1) Cacar air
2) Infeksi sitomegalovirus
3) Campak Jerman (rubella kongenital)
4) Infeksi HIV (AIDS)
5) Mononukleosis infeksiosa
6) Campak
7) Infeksi bakteri yang berat
8) Infeksi jamur yang berat
d. Penyakit darah dan kanker
1) Agranulositosis
2) Semua jenis kanker
3) Anemia aplastik
4) Histiositosis
5) Leukemia
6) Limfoma
7) Mielofibrosis
8) Mieloma
e. Pembedahan dan trauma
1) Luka bakar
2) Pengangkatan limpa
f. Lain-lain
1) Sirosis sebab alkohol
2) Hepatitis kronis
3) Penuaan yang normal
4) Sarkoidosis
5) Lupus eritematosus sistemik
4) Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang menonjol pada
Imunodefisiensi yaitu infeksi berulang atau
berkepanjangan atau oportunistik atau infeksi
yang tidak umum yang tidak memberikan respon
yang adekuat terhadap terapi antimikroba. Telah
diketahui bahwa reaksi imunologi pada infeksi
merupakan interaksi antara berbagai komponen
dalam sistem imun yang sangat komplek. Kelainan
pada sistem fagosit, limfosit T dan limfosit B
maupun dalam sistem komplemen dapat
menampilkan gejala klinik yang sama sehingga
sulit dipastikan komponen mana dari sistem imun
yang mengalami gangguan. Penderita dengan
defisiensi limfosit T biasanya menunjukan
kepekaan terhadap infeksi virus, protozoa, dan
jamur yang biasanya dapat diatasi dengan respon
imun seluler. Gejala penyakit imunodefisiensi
berbeda-beda tergantung pada jenisnya dan
individu. Tanda dan gejala imunodefisiensi
meliputi:
a) Pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi
telinga, meningitis, atau infeksi kulit yang
berulang
b) Infeksi darah
c) Peradangan dan infeksi organ dalam
d) Kelainan darah, seperti jumlah trombosit yang
rendah atau anemia
e) Masalah pencernaan, seperti kram, kehilangan
nafsu makan, mual, dan diare
f) Pertumbuhan dan perkembangan lambat atau
tertunda
g) Gangguan autoimun, seperti lupus,
rheumatoid arthritis serta diabetes tipe 1.
5) Dampak Imunodefisiensi Terhadap Tubuh
Respon imun bawaan merupakan garis
pertahanan pertama terhadap organisme yang
berpotensi menyerang pertahanan tubuh.
Pengenalan yang baik terhadap ancaman dan
induksi gangguan dari kaskade inflamasi
merupakan langkah-langkah penting dalam
mengeliminasi organisme patogen dari sistem.
Kegagalan sistem bawaan untuk mengidentifikasi
patogen akan berdampak menunda induksi respon
imun dan dapat memperburuk hasil infeksi.
Banyak sel dan protein yang terlibat dalam respon
imun bawaan termasuk diantaranya fagosit
(neutrofil dan makrofag), sel dendritik dan
protein komplemen. Fagosit terutama bertanggung
jawab untuk proses fagositosis, sebuah proses di
mana sel menelan dan menghilangkan patogen
yang menyerang tubuh. Protein komplemen
berfungsi untuk mengidentifikasi dan
mengopsonisasi (mantel) antigen asing membuat
mereka rentan terhadap fagositosis. Cacat
dalam pengembangan dan fungsi dari setiap
unsur-unsur kekebalan bawaan dapat
memicu imunodefisiensi primer dan kata
lain gangguan imunodefisiensi primer akan
berdampak pada kurang adekuatnya sel tubuh
membentuk pertahanan untuk mengikat
patogen. Kegagalan ini pada umumnya disebabkan
oleh sebab mutasi gen atau faktor biokimia lain
seperti enzym.
Sedangkan imunodefiensi sekunder akan
berdampak yaitu semakin menurunnya respon
kekebalan tubuh manusia dimana individu
ini akan mudah sekali mengalami infeksi
oportunistik (infeksi penyerta) sehingga kualitas
hidup individu ini akan semakin menurun.
C. Rangkuman
Imunodefisiensi yaitu kondisi saat
kekebalan tubuh terganggu sehingga tidak bisa
melawan infeksi dan penyakit. Jenis gangguan ini
dapat membuat tubuh mudah terinfeksi oleh virus
dan bakteri. Imunodefisiensi terbagi menjadi dua,
yaitu imunodefisiensi primer yang ditentukan
faktor genetik. Sementara imunodefisiensi
sekunder bisa muncul sebagai komplikasi penyakit
seperti infeksi, kanker, atau efek samping
penggunaan obat-obatan dan terapi.
Beberapa pemicu dari immunodefisiensi
yang didapat antara lain Penyakit keturunan dan
kelainan metabolisme, bahan kimia dan
pengobatan yang menekan sistem kekebalan,
infeksi, penyakit darah dan kanker, pembedahan
dan trauma serta lain-lain.
Tanda dan gejala imunodefisiensi antara lain
meliputi Pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi
telinga, meningitis, atau infeksi kulit yang
berulang, infeksi darah, peradangan dan infeksi
organ dalam, kelainan darah, seperti jumlah
trombosit yang rendah atau anemia, masalah
pencernaan, seperti kram, kehilangan nafsu
makan, mual, dan diare, pertumbuhan dan
perkembangan lambat atau tertunda, gangguan
autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis serta
diabetes tipe 1.
Gangguan imunodefisiensi primer akan
berdampak pada kurang adekuatnya sel tubuh
membentuk pertahanan untuk mengikat patogen.
Kegagalan ini pada umumnya disebabkan oleh
sebab mutasi gen atau faktor biokimia lain seperti
enzym.
Sedangkan imunodefiensi sekunder akan
berdampak yaitu semakin menurunnya respon
kekebalan tubuh manusia dimana individu
ini akan mudah sekali mengalami infeksi
oportunistik (infeksi penyerta) sehingga kualitas
hidup individu ini akan semakin menurun.
PROSES PATOLOGIS
HIPERSENSITIVITAS
Imunitas spesifik merupakan mekanisme ampuh untuk
menyingkirkan pathogen dan antugen asing. Mekanisme
efektor system imun sperti komplemen, fagosit,sitokin dan
lain-lainnya tidak spesifik untuk antigen asing. Kerena aitu
respon imun dan reaksi inflamasi yang menyertai respon
imun kadang-kadang disertai kerusakan jaringan tubuh itu
sendiri baik lokal maupun sistemik. Pada umumnya efek
samping demikian dapat dikendalikan dan membatasi diri
(self-limited) dan berhenti sendiri dengan hilangnya
antigen asing. Disamping itu dalam keadaan normal ada
toleransi terhadap antigen self sehingga kalanya merespon
atau reaksi imun itu berlebihan atau tidak terkontrol dan
rekasi demikian disebut reaksi hipersensivitas
Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi bila
jumlah antigen yang mausk realtif banyak atau bila status
imunologik seseorang baik seluluer maupun humoral
meingkat. Reaksi itu tidak pernah timbul pada pemaparan
pertama dan merupakan ciri khas individu bersangkutan.
Reaksi hipersensitivitas menimbulkan manifestasi klinik
dan patologik yang sangat heterogen
Bila seseorang pernah terpapar pada
antigen tertentu,maka pemaparan berikutnya dengan
antigen yang sama memicu respons imunologik
sekunder dengan tujuan menyingkirkan antigen ini .
Hal ini merupakan reaksi alami tubuh untuk
mempertahankan diri. Namun, pada keadaan tertentu.
Reaksi imunologik itu berlangsung berlebihan atau tidak
wajar sehingga menimbulkan kerusakan jaringan.. Reaksi
hipersensitivitas dapat terjadi bila jumlah antigen yang
masuk relatif banyak atau bila status imunologik seseorang
baik secara selular maupun humoral, meningkat. Reaksi itu
tidak pernah timbul pada pemaparan pertama dan
merupakan ciri khas individu bersangkutan.
Reaksihipersensitivitas menimbulkan manifestasi klinik dan
patologik yangsangat heterogeny dan heterogenitas itu
ditentukan oleh: 1) jenis respon imun yang memicu
kerusa








