Imunologi 8

 



p. Pada tahapan 

selanjutnya akan mengarah pada inflamasi/ 

peradangan akibat perantara complement, kemudian 

pengerahan berbagai sel leukosit yang dimediasi oleh 

Fc reseptor. Selain itu antibodi juga dapat 

mengaktivasi sel yang memiliki reseptor FcyR (reseptor 

IgG), kemudian natural killer cells (NK cells) berperan 

sebagai sel efektor melalui mekanisme ADCC 

(antibody-directed cellular cytotoxicity). Ikatan yang 

terjadi antara antibodi dan antigen dapat juga 

mengaktifkan complement melalui reseptor C3b yang 

dapat memudahkan proses fagositosis dan pelisisan. 

Mekanisme hipersensitivitas tipe II disajikan pada 

Gambar 3 dibawah ini: 

 

Gambar 8.3. Tahapan Contoh Reaksi 

Hipersensitivitas Tipe II 

 Proses pembunuhan (killing) dari sel dapat terjadi 

melalui tiga mekanisme utama yaitu: 1. Lisis sel yang 

diperantarai complement, 2. Sistem ADCC (antibody 

dependent cell mediated cytotoxicity) dan Jalur 3. 

Opsonisasi. 

a. Jalur lisis sel yang diemdiasi oleh complement 

(Complementt mediated lysis of cell) 

Urutan kejadian yang disajikan pada Gambar 

3 dimulai saat  lisi sel yang dimediasi atau 

diperantarai oleh complement (atau dikenal sebagai 

proses sitolitik oleh complement). Pada dasarnya 

sistem complement sendiri merupakan sistem dari 

enzim lisolitik yang tidak aktif pada darah. Enzim 

dari sistem complement ini akan diaktivasi oleh 

kompleks antigen-antibodi (Gambar 3). saat  

antibodi terikat pada antigen (seperti mikroba) 

maka akan terbentuk kompleks antigen-antibodi. 

Kompleks antigen-antibodi akan mengaktifkan 

sistem complement melalui beberapa jalur. 

ada  tiga jalur berbeda yang dapat 

mengaktifkan complement, yaitu jalur klasik, jalur 

alternatif, dan jalur mekanisme cascade. 

Complement yang teraktivasi berlangsung pada 

mekanisme cascade (saat  complement teraktivasi 

pada permukaan sel darah (red blood cells/ RBC) 

maka akan memicu  lisis pada sel. Aktivasi 

complement C5b-9 yang diikuti lisis sel secara 

langsung terjadi pada jalur klasik. 

b. Jalur sitotoksisitas yang dimediasi oleh sel yang 

bergantung pada antibodi/ AADC (antibody-

dependent cellular cytotoxicity) 

 Melalui jalur ADCC, antibodi akan terikat 

dengan antigen pada sisi Fab nya. Sementara pada 

bagian Fc dari antibodi memiliki reseptor sel 

sitotoksik. Antiobdi akan mengubungkan target 

antigen (misal mikroba) dengan sel sitotoksik dan 

mendukung proses pembunuhan/ killing. 

Kebanyakan sel sitotoksik juga berisi enzim digestif 

dan hidrolitik, yang akan dikeluarkan pada bagian 

permukaan sel target sehingga proses killing dapat 

terjadi. Antibodi bertindak sebagai perantara atau 

mediator yang akan membawa antigen ke sel 

sitotoksik, serta sebaliknya sel sitotoksik sangat 

bergantung pada antibodi untuk mengikat antigen 

(oleh sebab nya pada reaksi ini dikenal sebagai 

antibody-dependent cellular cytotoxicity. 

3. Jalur opsonisasi 

 Mekanisme opsonisasi terjadi saat  antigen 

masuk ke dalam tubuh inang, yang setelahnya 

dibentuklah antibodi. Antibodi yang telah terikat 

dengan antigen melalui bagian Fab, namun sisi 

bagian Fc dari antibodi tetap bersifat bebas (free). 

Neutrophil sebagai sel fagositik, kemudian 

makrofag, dan monosit memiliki respetor yang 

dapat berikatan (binding) dengan bagian Fc dari 

antibodi (dikenal sebagai reseptor FcR). Molekul 

antibodi kemudian secara langsung (direct) 

menghubungkan antigen yang masuk ke tubuh 

dengan sel fagositik. Cross-linkage (hubungan 

silang) ini  akan mengaktifkan sel-sel fagositik 

sehingga proses fagositosis berlangsung lebih cepat. 

Aktivitas peningkatan fagositosis dengan bantuan 

pengikatan antibodi terhadap antigen yang dikenal 

sebagai proses opsonisasi. Dapat dikatakan juga 

bahwa fragmen Fc dari antibodi merupakan 

“jembatan pengubung” antara sel efektor dengan 

sel target/ sasaran dalam hal ini antigen (opsonic 

adherence). 

4. Hipersensitivitas tipe III/ reaksi kompleks imun 

Hipersensitivitas tipe III merupakan rekasi yang 

melibatkan kompleks sistem imun. Sehingga reaksi ini 

dikenal juga reaksi yang terjadi pada penyakit 

kompleks imun. Dalam darah (sistem sirkulasi) 

antibodi dapat berikatan dengan antigen yang akan 

membentuk kompleks imun. Kompleks imun ini 

terdeposit pada pembuluh darah (blood vessel). Akibat 

yang ditimbulkan yaitu  inflamasi pembuluh darah 

atau dikenal sebagai vasculitis. Namun pada 

reaksinya, kejadian ini tidak dengan segera 

meneybabkan kerusakan jaringan secara menyeluruh, 

sebab  adanya aliran darah (blood flow) yang 

mengganggu dan menghambat reaksi. Pada reaksi tipe 

III ini juga melibatkan peran dari antibodi (IgG dan 

IgM), perbedaannya yaitu  bahwa antibodi disini 

ditunjukkan dan dikhususkan kepada antigen yang 

terlarut dalam serum. 

 

dikenal sebagai hipersensitivitas kompleks imun, 

dimana keruskan dan penghancuran sel diperantarai/ 

dimediatori oleh kompleks antigen-antibodi. Gambar 

4 menunjukkan ilustrasi bagaimana reaksi 

hipersensitivitas tipe III berjalan. saat  ada  

antibodi yang bergabung (combine) dengan antigennya 

yang spesifik, maka akan terbentuk kompleks imun. 

Secara normal, kompleks ini  dapat bertahan 

dalam jumlah kecil yang tidak memicu  gangguan. 

Perlu diketahui juga bahwa antigen yang terlibat pada 

tipe III ini mirip dengan tipe lainnya, secara efek tidak 

terlalu berbahaya serta merusak penjamunya. 

Umumnya sel-sel fagositik dapat membersihkan 

kompleks imun pada reaksi tipe III ini tanpa 

memicu  kerusakan yang signifikan pada 

penjamunya. Namun jika memang kompleks imun yang 

terbentuk mengendap terlalu banyak maka dapat 

mengaktifkan complement, perekrutan sel fagosistik, 

dan kerusakan jaringan. Jaringan yang spesifik pada 

tipe III ini yaitu  blood vessel, membran basal dari 

glomerulus (ginjal) serta jaringan persendian. 

Dimanapun lokasi penyimapanan kompleks 

imun tesebut, maka tetap dapat mengaktifkan 

complement, sel fagositik (makrofag, neutrophil), 

sehingga akan muncul respon inflamasi atau cidera 

jaringan. Mediator utama untuk antibodi pada tipe III 

ini yaitu  IgG dan IgM, dan perlu diingat bahwa 

antibodi ini akan bergabung dengan antigen yang 

terlarut (tidak terikat pada permukaan sel). Antigen 

yang menjadi pemicu dapat berasal dari diri sendiri 

atau luar (lingkungan). Kerusakan pada jaringan 

terutama disebabkan oleh aktivasi complement serta 

pelepasan enzim litik oleh neutrophil. Tahapan utama 

yang terjadi meliputi deposit kompleks imun pada 

jaringan, kemudian terjadi aktivasi complement, 

aktivasi complement dapat memicu pelepasan 

macrophage chemotactic factor (MCF) berupa C3b dan 

C5a, atau melalui kemotaksis neutrofil (Gambar 4). 

Makrofag kemudian akan melepaskan enzim serta 

spesies oksigen reaktif (SOR) melalui proses 

degranulasi yang akan merusak sel/ jaringan sekitar.  

5. Hipersensitivitas tipe IV/ tipe lambat 

Hipersensitivitas tipe IV dikenal juga sebagai 

reaksi tipe lambat atau delayed type 

hypersensitivity (DTH). Reaksi tipe IV tidak 

melibatkan antibodi, namun  sel T. akibatnya reaksi 

yang timbul merupakan respon imun seluler. 

Hipersensitivitas tipe terakhir yaitu tipe IV merupakan 

gangguan atau kelainan yang diperantari oleh sel T 

sebagai pemain utamanya. Sehingga tidak seperti tipe 

lain yang melibatkan antibodi (IgE, IgG, IgM atau 

kompleks antigen-antibodi). Reaksi tipe IV ini 

diakibatkan oleh peradangan (inflamasi) yang 

disebabkan oleh sitokin yang diproduksi dan 

disekresikan oleh sel Th1 (CD4+) dan sel Th17. Atau 

sitotoksisitas dan pembunuhan (killing) yang dilakukan 

oleh sel CTLs CD8+ atau yang dapat kita sebut sebagai 

sel T sitotoksik. Tipe IV ini sangat umum dijumpai pada 

reaksi infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus, 

ataupun fungi dan mikroparasit. Tahapan reaksi tipe IV 

dapat dilihat pada Gambar 5. 

 

Gambar 8.5. Reaksi Contoh Hipersensitivitas Tipe 

IV 

Hipersensitivitas tipe IV membutuhkan waktu 

yang lama dari awal terjadinya paparan sampai 

munculnya reaksi dan respon. Seperti terlihat pada 

ilustrasi Gambar 6, antigen yang dicontohkan (misal 

alergen) yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan 

dengan imunogen,  kemudian akan di presentasikan ke 

APC (makrofag) setelah antigen terikat pada reseptor 

MHC kelas II yang dapat dikenali oleh sel Th naive . 

Selanjutnya terjadi pelepasan sitokin pro-inflamasi (IL-

6, IL-12). Pelepasan sitokin ini juga memicu  sel Th 

Naïve berdiferensiasi (terutama akibat stimulasi IL-12), 

menjadi sel Th1. Peran sel Th1 ini yaitu  mensekresi 

interferon-γ, yang berfungsi untuk mengaktivasi 

makrofag. Makrofag yang teraktivasi akibat induksi IFN-

γ akan memicu  ekspresi reseptor pada sel endotel 

meningkat yang berfungsi untuk merekrut lebih banyak 

leukosit ke area. Aktivitas fagositik dari makrofag 

memicu  pelepasan enzim lisosom dan spesies 

oksigen reaktif yang dapat memicu  peningkatan 

reaksi inflamasi. Kenyataan bahwa APC yang melepaskan 

IL-6, juga melepaskan sitokin lain yang berperan untuk 

menstimulasi diferensiasi sel Th Naïve menjadi sel Th17, 

yang berperan dalam releasing IL-17 (berperan sebagai 

aktivator neutrofil), dan memicu  reaksi inflamasi 

(Gambar 6). 

 

 

Gambar 8.6. Fase Sensitasi dan Efektor Pada 

Hipersensitivitas Tipe Lambat (DTH) 

 

 Gambar 6 menunjukkan ada dua reaksi utama yang 

terjadi pada hipersensitivitas tipe IV ini yaitu fase sensitasi 

dan efektor.  

a. Fase sensitasi: pada fase ini akan diwali “inisiasi 

sensitasi” melalui kontak antigen secara primer. Antigen 

akan dikenali dan disajikan kepada APC yaitu sel Th 

CD4+. Aktivasi sel CD4+ akan menstimulasi pembentukan 

sel Th (perlu diingat bahwa selama kejadian ini, sel Th 

akan berkembang dengan mengikat molekul MHC kelas 

2). APC yang terlibat pada DTH diantaranya makrofag 

dan sel Langerhans, dan sel T CD4+ merupakan sel utama 

pada fase sensitasi pada DTH. Beberapa kasus juga 

melibatkan sel T CD8+, yang turut berperan pada DTH. 

b. Fase efektor: pada fase ini terjadi paparan antigen kedua 

kalinya, sehingga menginduksi effector phage. Kemudian 

sel Th1 akan mensekresi sitokin dan berperan dalam 

rekrutmen serta aktivasi makrofag serta sel inflamsi non-

spesifik pada site masuknya antigen. Makrofag sebagai 

efektor utama DTH menunjukan dua tindakan, apakah 

istirahat atau teraktivasi (Gambar 6). Tingkat fagositas 

yang meningkat ditunjukan pada makrofag yang 

teraktivasi sehingga proses killing lebih tinggi. Makrofag 

teraktivasi akan mengeluarkan enzim litik yang akan 

merusak jaringan sekitar serta bakteri intraseluler. 

Aktivasi makrofag sangat penting pada reaksi tipe IV ini, 

sebagai pertahanan terhadap parasit atau bakteri 

intraseluler. DTH dapat berlangsung negatif jika antigen 

tidak mudah untuk dibersihkan, sehingga reaksi DTH 

berlangsung terus-menerus dan berakibat pada inflamasi 

yang intensif dan kronis, serta reaksi granulomatosa. 


b. Perbedaan tipe hipersensitivitas 

Tabel 8.2. Perbedaan Tipe-Tipe Reaksi 

Hipersensitivitas 

 

C. Rangkuman 

1. Hipersensitivitas merupakan sebuah reaksi imun 

terhadap antigen yang dapat memicu  keruskan 

jaringan. Penyakit akibat reaksi hipersensitivitas yaitu  

hypersensitivity disease atau inflamasi yang 

diperantarai oleh imunitas. Reaksi ini muncul akibat 

respon abnormal dan tak terkontrol terhadap antigen 

asing/ sendiri (self) 


 

2.  Pembagian tipe hipersensitivitas didasarkan atas cara 

atau mekanisme terjadinya kerusakan pada jaringan. 

Hipersensitivitas tipe I (reaksi cepat), disebabkan oleh 

aktivasi terhadap sel Th2 dan Tfh yang menghasilkan IL-

4, serta produksi antibodi (IgE) akibat antigen eksogen 

(envirnonment), atau sensitasi mast cells oleh IgE serta 

degranulasi mast cells pada repeat exposure. 

Hipersensitivitas tipe II (sitotoksik), yang diperantarai 

oleh antibodi IgG dan IgM, memicu  reaksi inflamasi 

yang dimediatori oleh complement dan memicu  

kerusakan jaringan. Hipersensitivitas tipe III (kompleks 

imun), diperantarai oleh antibodi terlarut (IgG dan IgM), 

dimana ikatan antigen-antibodi yang membentuk 

kompleks imun yang tedeposit di berbagai tempat 

(memicu  inflamasi). Hipersensitivitas tipe IV (tipe 

lambat), diperantarai oleh sel T, memicu  reaksi 

inflamasi akibat produksi sitokin pro-inflamasi yang 

disekresi oleh sel T CD4+, dan sel Th17, serta killing yang 

dilakukan sel T sitotoksik (CD8+). 


F. Glosarium 

GM-CSF: Granulocyte-macrophage colony-

stimulating factor (GM-CSF) 

CCL2: Chemokine (C-C motif) ligand 2 

CXCLB: Comorbidity pathway crosstalk-based targets 

and drugs 

MCP1: Monocyte chemoattractant protein-1 

 

 IMUNOLOGI MUKOSA 


Sistem imunitas mukosa merupakan bagian sistem 

imunitas yang penting dan berlawanan sifatnya dari 

sistem imunitas yang lain. Sistem imunitas mukosa lebih 

bersifat menekan imunitas, sebab  hal-hal berikut; 

mukosa berhubungan langsung dengan lingkungan luar 

dan berhadapan dengan banyak antigen yang terdiri 

dari bakteri komensal, antigen makanan dan virus 

dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan sistem 

imunitas sistemik. Antigen-antigen ini   sedapat 

mungkin dicegah agar tidak menempel mukosa dengan 

pengikatan oleh IgA, barier fisik dan kimiawi dengan 

enzim-enzim mukosa. 

Antigen yang telah menembus mukosa juga 

dieliminasi dan reaksi imun yang terjadi diatur oleh sel-

sel regulator. Hal ini untuk  mencegah terjadinya 

respons imun yang berlebihan yang akhirnya merugikan 

oleh sebab  adanya paparan antigen yang sangat 

banyak. Sedangkan sistem imunitas sistemik bersifat 

memicu respons imun oleh sebab  adanya paparan 

antigen. Sistem imunitas mukosa menggunakan 

beberapa mekanisme untuk melindungi pejamu dari 

respons imunitas yang berlebihan terhadap isi lumen 

usus. Mekanisme yang dipakai yaitu  barier fisik yang 

kuat, adanya enzim luminal yang mempengaruhi 

antigen diri yang alami, adanya sel T regulator spesifik 

yang diatur fungsinya oleh jaringan limfoid usus, dan 

adanya produksi antibodi IgA sekretori yang paling 

cocok dengan lingkungan usus. Semua mekanisme ini 

ditujukan untuk menekan respons imunitas. Kelainan 

beberapa komponen ini dapat memicu  

peradangan  atau alergi. 

 

2. Struktur Sistem Imunologi Mukosa 

Jaringan mukosa ditemukan di saluran napas bagian 

atas, saluran cerna, saluran genital dan kelenjar 

mammae. Mekanisme proteksi terhadap antigen pada 

mukosa, terdiri dari: membran mukosa yang menutupi 

mukosa dan enzim yaitu  perlindungan mekanik dan 

kimiawi yang sangat kuat, sistem imun 

mukosa innate berupa eliminasi antigen dengan cara 

fagositosis dan lisis, sistem imun mukosa 

adaptif  dimana selain melindungi permukaan mukosa 

juga melindungi bagian dalam badan dari masuknya 

antigen lingkungan. Sistem imun lokal ini merupakan 

80% dari semua imunosit tubuh pada orang sehat. Sel-

sel ini terakumulasi di dalam atau transit antara 

berbagai Mucosa-Assosiated Lymphoid Ttisssue (MALT), 

bersama-sama membentuk sistem organ limfoid 

terbesar pada mamalia. 

Sistem imun mukosa memiliki  tiga fungsi utama 

yaitu; (i) melindungi membran mukosa dari invasi dan 

kolonisasi mikroba berbahaya yang mungkin menembus 

masuk, (ii) melindungi pengambilan (uptake) antigen-

antigen terdegradasi meliputi protein-protein asing dari 

makanan yang tercerna, material di udara yang terhirup 

dan bakteri komensal, (iii) melindungi berkembangnya 

respons imun yang berpotensi merugikan terhadap 

antigen-antigen ini  bila antigen ini  

mencapai dalam tubuh. Sehingga disini MALT 

menyeleksi mekanisme efektor yang sesuai dan 

mengatur intensitasnya untuk menghindari kerusakan 

jaringan dan proses imun berlebih. Sistem MALT terlihat 

sebagai suatu sistem imun kompartemenisasi yang 

bagus dan fungsi esensialnya berdiri sendiri dari 

aparatus sistem imun. Secara fungsional, MALT terdiri 

dari dua komponen yaitu jaringan limfoid mukosa 

terorganisir dan sistem imunologi mukosa tersebar. 

 

Gambar 9.2. Ilustrasi sistem imun mukosa pada 

manusia. MALT regional, yang meliputi folikel sel-B dan 

epitel terkait-folikel yang mengandung sel-M (M), 

berfungsi sebagai situs induktif untuk kekebalan mukosa. 

Antigen eksogen secara aktif disampaikan melintasi situs 

ini untuk mencapai APC, seperti DC, makrofag, sel B, dan 

FDC. Mukosa hidung di tengah berfungsi sebagai contoh 

bagaimana DC intra- atau subepitel diam dapat 

menangkap antigen di situs efektor dan bermigrasi 

melalui pengeringan limfatik ke kelenjar getah bening 

lokal atau regional di mana mereka menjadi APC aktif 

dan merangsang sel T baik untuk produksi atau 

downregulatory. respon imun (menekan). HEV 

memungkinkan limfosit B dan T naif untuk memasuki 

MALT (dan kelenjar getah bening). Mereka beralih dari 

MALT dan kelenjar getah bening ke sirkulasi perifer 

setelah dipersiapkan untuk menjadi memori/efektor B 

dan sel T, di mana mereka kemudian akan ekstravasasi 

di situs efektor mukosa (dicontohkan oleh mukosa usus 

di sebelah kanan). Profil lokal molekul adhesi vaskular 

dan kemokin mengontrol proses ini, dengan sel endotel 

bertindak sebagai penjaga gerbang regional untuk 

imunitas mukosa. Beberapa limfosit B namun  sejumlah 

besar plasmablast dan sel plasma IgA (dimer/polimer) 

dan IgM (pentamer) yang mengekspresikan rantai-J 

dapat ditemukan di usus lamina propria. Selain itu, 

sejumlah besar sel T, sebagian besar CD4+, dan 

beberapa sel plasma IgG yang tidak umum dengan 

berbagai tingkat rantai-J (J), biasanya ada. Selain itu, 

SIgA dan SIgM dibuat melalui transportasi epitel yang 

dimediasi pIgR (mSC), dan kebocoran paraseluler 

sejumlah kecil (panah rusak) dari antibodi IgG yang 

diproduksi secara lokal dan yang diturunkan dari plasma 

ke dalam lumen yaitu  ciri khas lainnya. Reseptor Fc 

neonatal berpotensi terlibat dalam transpor IgG aktif 

tertentu (tidak diindikasikan). Perlu dicatat bahwa 

rantai IgG dan J tidak dapat berinteraksi untuk 

menyediakan situs pengikatan untuk pIgR. Selain itu, 

diagram ditampilkan menunjukkan distribusi limfosit 

intraepitel, terutama reseptor sel-T/+CD8+ dan 

beberapa/+sel T. Karakteristik sel M dan "kantungnya" 

yang terdiri dari berbagai jenis sel ditunjukkan pada 

inset (pojok kiri bawah). Dengan izin Elsevier, karikatur 

diubah dari Brandtzaeg dan Pabst1. Sel penyaji antigen, 

sel dendritik, sel dendritik folikuler, venula endotel 

tinggi, jaringan limfoid terkait mukosa, komponen 

sekretori membran, reseptor Ig polimer, IgA sekretori, 

dan IgM sekretorik yaitu  contoh tipe sel. 

3. Respons Umum Imunologi Mukosa 

Antigen yang berada di lumen  diambil oleh sel 

epitelial abortif dan sel epitelial spesifik (sel membran 

atau sel mikrofold atau sel M) di mukosa induktif, 

dibawa atau langsung ditangkap oleh antigen-

presenting cel (APC) profesional (APC terdiri dari; sel 

dendritik (DC), sel limfosit B dan makrofag) dan 

dipresentasikan kepada sel-sel T konvensional αβ CD4+ 

dan CD8+, semuanya berada pada tempat induktif. 

Beberapa antigen juga bisa langsung diproses dan 

dipresentasikan oleh sel epitelial kepada sel T 

intraepitelial tetangga (neighboring intraepithelial T 

cells) meliputi sel T dengan limited resevoire 

diversity (sel T γδ dan sel NKT). Respons imun mukosa 

dipengaruhi oleh alamiah antigen, tipe APC yang 

terlibat dan lingkungan mikro lokal. Dengan kebanyakan 

tipe yaitu  antigen non patogen (protein makanan), 

jalur normal untuk sel dendritik mukosa dan APC lain 

terlihat melibatkan sel T helper 2 dan respons berbagai 

sel T regulator, biasanya hasilnya yaitu  supresi aktif 

imunitas sistemik, toleransi oral. Antigen dan adjuvant, 

meliputi kebanyakan patogen, memiliki  motif 

disensitisasi oleh APC mukosa sebagai pertanda bahaya 

(contoh; ligan toll-like reseptor (TLR)) disatu sisi dan 

kondisi proinflamasi pada umumnya, menghasilkan 

respons imun yang lebih kuat dan luas, baik sekresi 

hormonal maupun sisi efektor imunitaas seluler dan 

tidak menghasilkan toleransi oral. Ini diasumsikan 

bahwa pengenalan patogen oleh TLR APC mukosa 

membedakan dari respons pada flora komensal. namun  

terakhir ditemukan bahwa pada kondisi normal, bakteri 

komensal dapat dikenali oleh TLR, interaksi ini 

tampaknya suatu yang penting untuk menjaga 

homeostasis epitel di usus. 

Sel B maupun sel T yang tersensitisasi, 

meninggalkan tempat asal dimana berhubungan dengan 

antigen (contohnya plak payeri), transit melewati 

kelenjar limfe, masuk ke sirkulasi, dan kemudian 

menempatkan diri pada mukosa terseleksi, umumnya 

pada mukosa asal dimana mereka kemudian 

berdeferensiasi menjadi sel plasma dan sel memori, 

membentuk IgA sekretori. Afinitas sel-sel ini 

kelihatannya dipengaruhi secara kuat oleh integrin 

pada tempat spesifik (homing reseptors) pada 

permukaannya dan reseptor jaringan spesifik 

komplementari (adressin) pada sel endotel kapiler. 

Pada penelitian terbaru mengindikasikan bahwa sel 

dendritik mukosa dapat mempengaruhi 

properti homing . Sel dendritik dari plak payeri dan 

limfonodi mesentrik, namun  tidak sel dendritik dari 

limfa dan perifer, meningkatkan ekspresi reseptor 

homing mukosa α4β7 dan reseptor CCR9, suatu reseptor 

untuk gut-assosiated chemokine sel T memori dan sel T 

CD8+ memori, untuk lebih suka homing di epitel 

intestinal. Juga, sel dendritikimprinting of gut homing 

specifity, terlihat terdiri dari retinoid acid yang 

diproduksi oleh sel dendritik intestinal namun  tidak oleh 

sel dendritik limfoid lain. Ini mungkin bisa menjelaskan 

dugaan sistem imun mukosa umum dimana imunosit 

teraktivasi pada suatu tempat menyebarkan imunitas 

ke jaringan mukosa jauh dari pada oleh sebab  imunitas 

sistemik. Pada saat yang sama, oleh sebab  kemokin, 

integrin dan sitokin terekspresi berbeda diantara 

jaringan mukosa, fakta ini  juga bisa menerangkan 

sebagian, mengapa didalam sistem imun mukosa, ada 

hubungan kompartemenisasi khas dengan tempat 

mukosa terinduksi (contohnya usus dengan glandula 

mamae dan hidung dengan saluran pernafasan dan 

genital). 

Adanya hubungan kompartemenisasi ini menjadi 

pertimbangan tempat diberikannya imunisasi mukosa 

akan efek yang diharapkan. Imunisasi oral akan 

menginduksi antibodi di usus halus (paling kuat di 

proksimal), kolon asenden, glandula mamae dan 

glandula saliva namun  tidak efektif menginduksi 

antibodi di segmen bawah usus besar, tonsil dan genital 

wanita. Sebaliknya imunisasi perektal, akan 

menghasilkan respons antibodi yang kuat di rektum 

namun  tidak di usus halus dan colon proksimal. Imunisasi 

per nasal dan tonsil akan memberikan respons antibodi 

di mukosa pernafasan atas dan regio sekresi (saliva dan 

nasal) tanpa respons imun di usus, namun  juga terjadi 

respons imun di mukosa vagina seperti yang terlihat 

pada usaha imunisasi HIV. Penelitian pada tikus 

ditemukan bahwa suntikan transkutan bisa 

menimbulkan efek imunitas di mukosa vagina.  

4. Mekanisme efektor dan regulator pada imunologi 

mukosa 

1. Mekanisme efektor 

Selain mekanisme pembersihan antigen 

mekanis dan kimiawi, imuitas mukosa terdiri dari sel 

lain berupa sistem imune innate yang meliputi 

netrofil fagositik dan makrofag, denritik sel, sel NK 

(natural killer), dan sel mast. Sel-sel ini berperan 

 

dalam eliminasi patogen dan inisisasi respons imun 

adaptif.   Mekanisme pertahanan sistem imun 

adaptif di permukaan mukosa yaitu  suatu sistem 

yang diperantarai antibodi IgA sekretori, kelas 

imunoglobulin predominan dalam sekresi eksternal 

manusia. Imunoglobulin ini tahan terhadap protease 

sehingga cocok berfungsi pada sekresi mukosa. 

Induksi IgA melawan patogen mukosa dan antigen 

protein terlarut bergantung pada sel T helper. 

Perubahan sel B menjadi sel B penghasil IgA 

dipengaruhi oleh TGF-β dan iterleukin (IL)10 

bersama-sama dengan IL-4. Diketahui bahwa sel T 

mukosa menghasilkan dalam jumlah yang banyak 

TGF-β, IL-10 dan IL-4, sel epitelial mukosa 

menghasilkan TGF-β dan IL-10, menjadi petunjuk 

bahwa maturasi sel B penghasil IgA melibatkan 

lingkungan mikro mukosa yaitu sel epitel dan 

limfosit T tetangga. 

Walaupun IgA predominan sebagai 

mekanisme pertahanan humoral, IgM dan IgG  juga 

diproduksi secara lokal dan berperan dalam 

mekanisme pertahanan secara signifikan. Sel T 

limfosit sitolitik mukosa (CTL) memiliki  peran 

penting dalam imunitas pembersihan patogen virus 

dan parasit intraseluler. Sel CTL ini juga akan 

terlihat setelah pemberian imunisasi oral, nasal, 

rektal ataupun vaginal dan yang terbaru 

perkutaneus. 

2. Mekanisme regulator 

Sistem imun mukosa telah mengembangkan 

berbagai cara untuk menjaga toleransi 

terhadap antigen-self, antigen lingkungan pada 

mikroflora, antigen makanan dan material udara 

terhirup. Tolerasi ini  melalui mekanisme; 

aktifasi sel penginduksi kematian (induce-cell 

death), anergi dan yang paling penting induksi sel T 

regulatori. Anergi terhadap sel T antigen spesifik 

terjadi bila inhalasi atau menelan sejumlah besar 

protein terlarut, dan penghilangan (deleting) sel T 

spesifik terjadi setelah pemberian antigen dosis 

nonfisiologis, secara masif. Pada percobaan tikus 

sudah diketahui ada 4 sel T regulator, yaitu; 

(i) antigen-induced CD4+ T helper 2 like cells yang 

memproduksi IL-4 dan IL-10, dan antagonis sel 

efektor T helper 1, (ii) sel CD4+CD45RBlowyang 

memproduksi IL-10, (iii) sel CD4+ dan CD8+ yang 

memproduksi TGF-β (T helper 3), (iv) Sel 

Treg  (CD4+CD25+) yang mensupresi proliferasi 

melalui suatu sel contact-dependent mechanism. 

Meskipun in vitro, sel yang terakhir dapat 

dikembangkan menjadi suatu bentuk sel antigen 

spesifik in vivo setelah imunisasi. Sel ini bisa juga 

mengubah aktifitas supresor pada sel CD4+ lain 

dengan cara menginduksi ekspresi dari transkripsi 

faktor Foxp3 dan atau ikatan MHC klas II dengan 

molekul LAG-3 pada sel seperti infectious 

tolerance. Mereka juga memiliki  hubungan 

langsung antara sel T inhibitor oleh Sel Treg , T 

helper 3, sel Tr 1. Selanjutnya natural 

human CD4+CD25+ Treg mengekspresikan integrin 

α4β7 mukosa, saat  bersama sel T CD4+ 

konvensional menginduksi sel T sekresiTr 1 like IL 

10 dengan aktifitas supresor kuat terhadap sel T 

efektor, dimana α4β1 Treg –positif lain 

memperlihatkan cara yang sama dengan cara 

menginduksi Thelper 3-like TGF-β-secreting 

supressor T cells. 

Data dari studi terakhir mengindikasikan 

bahwa kesemua sel regulator yang berbeda tipenya 

dan mekanismenya dapat diinduksi atau ditambah 

(expand) oleh adanya antigen mukosa mengawali 

terjadinya toleransi perifer. Sel T CD8+ γδ 

intraepitelial  mukosa respirasi dan usus juga 

dicurigai berperan dalam toleransi mukosa. Jadi, 

mekanisme pertahanan mukosa 

dariautoagressive dan penyakit alergi melibatkan 

berbagai tahap regulasi. Sedangkan aktivasi, 

survival dan ekspansi sel regulator ini tampaknya 

dikontrol oleh jenis terspesialisasi APC, khususnya 

sel dendritik jaringan spesifik meliputi sel dendritik 

di hati, plak payeri, mukosa intestinal dan paru. 

Gambar 9.3. (a) Karbohidrat Zwitterionik yang 

dilepaskan oleh Bacteroides fragilis mendorong 

pertumbuhan sel T CD4+ di inang mamalia. Karbohidrat 

zwitterionik memicu  pembentukan abses jika 

mukosa usus rusak dan B. fragilis menginvasi jaringan 

submukosa. Sebaliknya, (b) Clostridium difficile hanya 

memicu  penyakit saat  flora komensal alami 

tubuh terganggu, yang memicu  cedera yang 

dimediasi toksin (jingga) pada sel epitel. (c) Sel epitel 

lambung yang memiliki Helicobacter pylori yang 

melekat padanya mengembangkan gastritis, tukak 

lambung, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, kanker 

lambung akibat peradangan yang terjadi.. 

5. Imunitas Mukosa Pada Masing-Masing Organ 

Mukosa gastrointestinal, urogenital, dan saluran 

pernapasan semuanya mengandung folikel limfoid yang 

terisolasi. 

a. Sistem imunitas mukosa saluran napas  

Sistem imunitas mukosa saluran napas terdiri 

dari nose-associated lymphoid tissue (NALT), 

larynx-associated lymphoid tissue (LALT), and the 

bronchus-associated lymphoid tissue (BALT).1BALT 

terdiri dari folikel limfoid dengan atau tanpa 

germinal center terletak pada dinding bronkus. 

Sistem limfoid ini ada  pada 100% kasus fetus 

dengan infeksi amnion dan jarang ada  

walaupun dalam jumlah sedikit pada fetus yang 

tidak terinfeksi. Pembentukan jaringan limfoid 

intrauterin ini merupakan fenomena reaktif dan 

tidak mempengaruhi prognosis.  

Respons imun diawali oleh sel M (microfold 

cells) yang berlokasi di epitel yang melapisi folikel 

MALT. Folikel ini berisi sel B, sel T dan APC yang 

dibutuhkan dalam pembentukan respons imun. Sel 

M bertugas untuk uptake dan transport antigen 

lumen dan kemudian dapat mengaktifkan sel T. Sel 

APC dalam paru terdiri dari sel dendritik submukosa 

dan interstitial dan makrofag alveolus. Makrofag 

alveolus merupakan 85% sel dalam alveoli, dimana 

sel dendritik hanya 1%. Makrofag alveolus ini 

merupakan APC yang lebih jelek dibandingkan sel 

dendritik. sebab  makrofag alveolus paling banyak 

ada  pada alveolus, sel ini berperan melindungi 

saluran napas dari proses inflamasi pada keadaan 

normal. Saat antigen masuk, makrofag alveolus 

akan mempengaruhi derajat aktivitas atau maturasi 

sel dendritik dengan melepaskan sitokin. Sel 

dendritik akan menangkap antigen, 

memindahkannya ke organ limfoid lokal dan setelah 

melalui proses maturasi, akan memilih limfosit 

spesifik antigen yang dapat memulai proses imun 

selanjutnya. 

Setelah menjadi sel memori, sel B dan T akan 

bermigrasi dari MALT dan kelenjar limfoid regional 

menuju darah perifer untuk dapat melakukan 

ekstravasasi ke efektor mukosa. Proses ini 

diperantarai oleh molekul adesi vaskular dan 

kemokin lokal, khususnya mucosal addressin cell 

adhesion molecule-1 (MAdCAM-1). Sel T spesifik 

antigen yaitu  efektor penting dari fungsi imun 

melalui sel terinfeksi yang lisis atau sekresi sitokin 

oleh Th1 atau Th2. Perbedaan rasio atau polarisasi 

sitokin ini akan meningkatkan respons imun dan 

akan membantu sel B untuk berkembang menjadi 

sel plasma IgA. 

b. Sistem imunitas mukosa saluran cerna 

Luas permukaan saluran cerna mencapai 

hampir 400m2 dan selalu terpajan dengan berbagai 

antigen mikroba dan makanan sehingga dapat 

menerangkan mengapa sistem limfoid saluran cerna 

(gut associated lymphoid tissue /GALT) memegang 

peranan pada hampir 2/3 seluruh sistem imun. 

Pertahanan mukosa yaitu  struktur komplek yang 

terdiri dari komponen selular dan non selular. 

Pertahanan yang paling kuat masuknya antigen ke 

jaringan limfoid mukosa yaitu  adanya enzim yang 

ada  mulai dari mulut sampai ke kolon. Enzim 

proteolitik di dalam lambung (pepsin, papain) dan 

usus halus (tripsin, kimotripsin, protease 

pankreatik) berfungsi untuk digesti. Pemecahan 

polipeptida menjadi dipeptida dan tripeptida 

bertujuan agar dapat terjadi proses digesti dan 

absorpsi bahan makanan, dan membentuk protein 

imunogenik yang bersifat nonimun(peptida dengan 

panjang asam amino <8-10 bersifat imunogenik yang 

buruk). Efek protease berlipat ganda dengan adanya 

garam empedu yang memecah karbohidrat dan akan 

didapatkan suatu sistem yang poten untuk 

meningkatkan paparan antigen(Ag). Kadar pH yang 

sangat rendah di dalam lambung dan usus halus dan 

produk bakteri di dalam kolon berfungsi sebagai 

respons imun terhadap antigen oral. Sebagian besar 

respons imun ini berfungsi melindungi manusia dari 

bahann patogen. Perubahan untuk merespons atau 

menekan respons imun berhubungan dengan cara 

antigen masuk ke dalam tubuh. Patogen invasif 

(yang merusak pertahanan) memicu respons agresif, 

sedangkan untuk kolonisasi luminal dibutuhkan yang 

lebih bersifat respons toleran.   

Komponen utama pertahanan tubuh yaitu  

produk gen musin. Glikoprotein musin melapisi 

permukaan epitel dari rongga hidung/orofaring 

sampai ke rektum. Sel goblet yang menghasilkan 

mukus secara kontinu memberikan pertahanan yang 

kuat pada persambungan epitel. Partikel, bakteri 

dan virus menjadi terperangkap dalam lapisan 

mukus dan akan dikeluarkan dengan proses 

persitaltik. Pertahanan ini mencegah patogen dan 

antigen masuk ke bagian bawah epitel, disebut 

proses eksklusi nonimun. Musin juga berfungsi 

sebagai cadangan IgA. Antibodi ini berasal dari 

epitel dan dikeluarkan ke dalam lumen.   

Antibodi sIgA ada  dalam lapisan mukus 

berikatan dengan bakteri/virus dan mencegah 

menempel pada epitel. Hubungan faktor-faktor, 

disebut sebagai faktor trefoil, membantu 

memperkuat pertahanan dan memicu pemulihannya 

bila ada  defek. Tidak adanya produk gen musin 

atau faktor trefoil, manusia menjadi lebih rentan 

terhadap inflamasi dan kurang mampu memperbaiki 

kerusakan barier. Apakah defek ini  berperan 

pada pasien dengan alergi makanan masih dalam 

penelitian. 

Lapisan barier berikutnya yaitu  sel epitel. 

Bersama-sama dengan persambungan bagian apeks 

dan basal yang kuat, membran  dan ruang antara sel 

membatasi masuknya makromolekul yang besar. 

Namun demikian, persambungan yang kuat ini masih 

mungkin dilalui oleh di- dan tripeptida serta oleh 

ion-ion tertentu. Pada keadaan inflamasi, 

persambungan ini menjadi kurang kuat sehingga 

makromolekul dapat masuk ke dalam lamina 

propria, contohnya respons terhadap antigen 

makanan atau masuknya mikroorganisme lumen. 

Pada keadaan ini, antigen makanan akan menjadi 

antigen asing, dimana pada individu yang memiliki 

bakat alergi akan menginduksi proses alergi menjadi 

berlanjut. 

Sel epitel usus dapat memproses sebagian 

antigen lumen dan mempresentasikannya ke sel T 

dalam lamina propria. Dalam keadaan normal, 

interaksi ini memicu  aktivasi selektif sel T 

CD8+ regulator. Pada penyakit tertentu 

(contohnya inflammatory bowel disease), aktivasi 

beberapa sel rusak sehingga memicu  inflamasi 

menetap. Pada alergi makanan, alergen yang 

menembus epitel akan menempel pada sel mast 

mukosa . Sel T yang teraktivasi dalam Peyer’s 

patch setelah paparan dengan antigen disebut 

sebagai Th3. Sel ini berfungsi 

mengeluarkan transforming growth factor-

β, memicu sel B untuk menghasilkan IgA dan 

berperan pada terjadinya toleransi oral (aktivasi 

antigen spesifik non respons terhadap antigen yang 

masuk per oral). Sel T regulator yang paling baru 

dikenal yaitu  dengan fenotip CD4+ CD25+ 

CD45RA+. Sel ini awalnya dikenal pada gastritis 

autoimun dan berfungsi menghambat kontak antar 

sel dan dapat memicu  kelainan autoimun pada 

neonatus yang mengalami timektomi. 

6. Aspek Klinis Imunologi Mukosa 

a. Imunisasi 

Alasan utama menggunakan vaksinasi 

melalui mukosa yaitu  bahwa fakta kebanyakan 

infeksi masuk melalui permukaan mukosa dan pada 

infeksi ini, jarang diberikan vaksin topikal untuk 

menginduksi respons imun protektif. Vaksinasi 

mukosa diharapkan akan memberikan perlindungan 

dengan cara mencegah penempelan dan kolonisasi 

patogen pada epitel mukosa dan mencegah 

penetrasi dan replikasi di mukosa serta menangkal 

ikatan toksin mikrobial pada epitel mukosa dan sel 

lain yang terkena. Beberapa organisme (V. 

cholerae) memberikan imunitas dengan cara 

memproduksi IgA sekretori  dan dihubungkan 

dengan memori imunologi. Organisme lain (H. 

pylori, klamidia, herpes) memberikan imunitas 

protektif dengan diperantarai oleh sel T helper CD4 

dan mungkin juga sel sitolitik CD8 dan sel NK. Pada 

mukosa pernafasan dan genital yang lebih 

permeabel dan mudah dipenetrasi oleh antibodi 

daripada mukosa intestinal, juga bisa mendapatkan 

imunitas protektif dengan pemberian imunisasi 

parenteral. Cara yang sama juga bisa terjadi pada 

infeksi enterik (Shigella spp dan Salmonella typhi). 

Infeksi kedua organisme ini bisa memicu  

penyakit setelah multiplikasi dan induksi inflamasi 

di kelenjar limfoid mukosa. Walaupun demikian 

masih ada kesulitan dalam mengembangkan vaksin 

mukosa untuk mendapatkan kadar antibodi IgAs 

yang memadai. Baru beberapa vaksin mukosa yang 

ditemukan. Idealnya vaksin mukosa: (i) terlindungi 

dari eliminasi fisik dan enzim pencernakan, (ii) 

tempat target masuk mukosa meliputi membran 

atau sel M, (iii) paling tidak, vaksin untuk melawan 

infeksi, menstimulasi secara tepat sistim 

imun innate yang akan mengaktifkan sistem imun 

adaptif. Untuk itu perlu dicari sistem pengantaran 

antigen dan adjuvant yang baik. Dalam penelitian, 

adjuvant yang paling baik yaitu  toksin kolera. 

Molekul DNA bakteri atau oligodeoxynucleotide juga 

merupakan adjuvant yang menjanjikan. 

Pada vaksin oral polio, akan bisa 

menghasilkan antibodi di darah yang menimbulkan 

efek proteksi mencegah terjadinya mielitis akibat 

sebaran virus polio yang menempel di sistem saraf. 

Kelebihan OPV dibanding dengan IPV, OPV bisa juga 

mempoduksi IgAs yang memberikan respons imun 

lokal di mukosa intestinal, tempat primer virus polio 

untuk replikasi dan multiplikasi. Hal ini bisa 

mencegah penularan orang ke orang, dan 

menimbulkan herd immunity. Walau ada 

kelemahan akan adanya virulensi yang pulih pada 

virus vaksin sehingga bisa memicu  sakit. 

Vaksin-vaksin untuk melawan infeksi enterik 

antara lain V.cholerae, S.typhidan rotavirus. namun  

masih belum ditemukan vaksin untuk ETEC dan 

shigella.  Kolera merupakan organisme terbanyak 

pemicu  diare bakterial. Sebelumnya diberikan 

imunisasi parenteral namun  tidak menimbulkan 

respons imun mukosa usus sehingga sekarang sudah 

ditarik. Saat ini ada 2 vaksin kolera oral yang terdiri 

dari pertama, vaksin rekombinan dan vaksin 

inaktifasi yang terbukti aman dan stabil, efektif, 

dan bisa menghasilkan herd immunity. Efek poteksi 

didapat dari produksi antibodi SigA anti-toksin dan 

anti-bakterial di usus. Kedua, vaksin kolera hidup 

yang dilemahkan terbukti aman dan bisa 

memberikan proteksi 60-100% di negara tidak 

endemis, namun  tidak bisa membeikan proteksi yang 

bermakna di negara endemis sepeti Indonesia. 

Vaksin terhadap tifus pertama kali berupa 

vaksin sel utuh, memberikan proteksi yang baik 

namun  ada  reaksi lokal yan berat dan sering 

demam. Saat ini ada 2 jenis yang direkomendasikan 

yaitu vaksin yang terdiri dari antigen Vi kapsul 

polisakarida murni, diberikan secara parenteral 

dosis tunggal yang memberikan proteksi 70% dan 

aman ditoleransi dengan baik. Jenis yang lain 

yaitu  vaksin hidup yang dilemahkan yang diberikan 

secara oral memberikan perlindungan 67% selama 3 

tahun, akan namun  proteksi imunitas mukosa lokal 

belum diketahui. Vaksin rotavirus yang terdahulu 

yaitu  suatu vaksin quadrivalen dari rotavirus resus 

monyet, namun  cepat ditarik sebab  dicurigai 

memicu  intususepsi. Saat ini telah 

dikembangkan vaksin oral rotavirus hidup yang 

dilemahkan, memberikan proteksi 62-90%. 

Vaksin untuk infeksi saluran nafas antara lain 

vaksin influensa dan pneumokok yang disuntikkan. 

Diharapkan akan terbentuk IgG yang melindungi 

penyebaran sistemik organisme ini . Dimana 

mungkin juga secara transudasi memberikan 

proteksi lokal mukosa saluran pernafasan bawah. 

Saat ini telah ada vaksin influensa yang diberikan 

topikal lewat nasal. Dengan cara ini tejadi respons 

imun seperti alamiahnya, bisa terjadi imunitas lokal 

dengan membentuk sIgA yang menempel di 

permukaan virus hemaglutinin dan neuroamidase 

dan sistemik dengan cara membentuk IgG yang 

mencegah penyebaran virus sistemik, viremia. 

Kedua macam vaksin ini  memberikan proteksi 

sebesar 60-90%. 

Vaksin mukosa untuk imunoterapi saat ini 

mulai dipikirkan. Adanya toleransi imunologi di 

mukosa menjadikan pilihan strategi untuk 

mengembangkannya, untuk mengobati kesakitan 

yang diakibatkan reaksi imun terhadap alergen 

maupun antigen-self atau autoimmune disease. 

Masih perlu diteliti lagi seberapa besar dan 

seberapa sering alergen yang diberikan untuk bisa 

menimbulkan efek protektif dengan aman. Teknik-

teknik baru dengan menggunakan modifikasi 

alergen, vaksinasi gen alergen atau analog peptida 

digabung dengan adjuvant yang sesuai 

meningkatkan keamanan dan efikasi imunoterapi 

mukosa pada alergi dan asma. 

b. Penyakit inflamasi usus 

Ada dua penyakit yang penting pada 

penyakit inflamasi usus (inflammatory bowel 

disease) yaitu kolitis ulserativa (UC) dan Crohn’s 

disease (CD). Kedua penyakit itu bisa mengenai baik 

anak-anak maupun dewasa. Penyakit UC yaitu  

suatu keadaan yang ditandai dengan adanya respons 

inflamasi dan perubahan morfologi pada kolon. 

Inflamasi terbatas di sepanjang kolon dan dapat 

diikuti dengan ulkus, edema dan perdarahan. 

Sedangkan CD yaitu  inflamasi menyerupai UC 

namun  bisa terjadi di seluruh bagian dari usus. 

Bisanya segmen yang sakit diselingi bagian segmen 

usus yang sehat disebut sebagai skip area. 

Respons inflamasi yang merusak disebabkan 

langsung oleh sebab  pengenalan terhadap self-

antigen seperti musin, sel goblet, kolonosit, dan 

sel-sel lain. Sejumlah penelitian mencurigai CD 

pada manusia yaitu  suatu penyakit yang 

diperantarai sel T helper 1 dan berlebihan. 

Sedangkan untuk UC masih sedikit diketahui apa 

yang memerantarainya. Beberapa studi 

menyebutkan bahwa profil sitokin UC lain dengan 

CD. Kemungkinan yang lebih berperan dalan UD 

yaitu  T helper 2 dibanding T helper 1, juga 

dicurigai adanya respons imun humoral yang 

abnormal terjadi pada UC. 

c. Imunitas mukosa saluran pernafasan pada asma 

dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) 

Imunoglobulin A berperan pada homeostasis 

mukosa dan pertahanan host serta merupakan 

mekanisme pertahanan pertama terhadap kelainan 

jalan nafas kronis. Ini  sudah diketahui, namun  

perannya terhadap PPOK dan asma baru sedikit 

diketahui. Pada PPOK diperkirakan bahwa respons 

IgA mukosa terganggu dan terjadi kekurangan 

transport IgA melewati epitel bronkus, yang 

mungkin memunculkan proteinase neutrofil, dimana 

akan mendegradasi reseptor imunoglobulin yang 

dimediasi rute transepitelial ini. Sebaliknya, 

respons IgA terhadap alergen pada asma memainkan 

peran suatu proses patogenik dengan cara aktifasi 

eosinofil. Jadi, IgA menginduksi degranulasi 

eosinofil, dimana kita ketahui bahwa produk 

degranulasi eosinofil terdiri dari mediator-mediator 

inflamasi yang memicu  klinis asma terjadi. 

Defisiensi IgA selektif berhubungan dengan 

peningkatan prevalensi atopi, dimana pada 

percobaan pada tikus dengan asma menunjukan 

adanya efek protektif oleh IgA. Sehingga masih 

diperlukan penelitian lagi untuk mencari peran 

imunitas mukosa dan kemungkinan imunoterapi 

yang efektif terhadap asma dan PPOK. 

d. Peran imunitas mukosa urogenital terhadap 

infeksi saluran kemih 

Selain pertahanan fisik, kimiawi dan sistem 

imune innate , IgA memiliki  peran yang sangat 

penting dalam pertahana terhadap antigen dan 

patogen di saluran urogenital. Ada satu penelitian 

yang mengukur kadar IgA urine pada anak-anak 

perempuan dengan ISK asimtomatik dan anak-anak 

ISK simtomatik dibandingkan dengan anak sehat 

tanpa ISK. Mereka menemukan bukti bahwa pada 

anak sehat, ekskresi IgA rendah pada bayi kurang 

dari 6 bulan dan pada umur 6-15 tahun terlihat 

sekresi IgA meningkat dengan bertambahnya umur. 

Pada anak-anak dengan ISK berulang asimtomatik 

tanpa kelainan saluran kemih, ternyata memiliki  

kadar IgA yang lebih rendah dibanding kontrol. 

Sedangkan pada anak dengan ISK simtomatik tanpa 

kelainan saluran kemih memiliki  kadar ekskresi 

IgA yang lebih tinggi dari kontrol. Anak dengan ISK 

simtomatik dengan kelainan saluran kemih 

memiliki  kadar ekskresi IgA paling tinggi. 

Disimpulkan bahwa kadar IgA rendah bisa dijadikan 

pertanda terjadinya ISK berulang pada anak-anak 

perempuan tanpa kelainan saluran kemih. 

Imunoterapi kelihatannya memiliki  

prospek yang baik untuk tatalaksana ISK dimasa 

mendatang. Paling tidak ada 2 penelitian yang 

mendukung hal ini . Penelitian dengan 

menggunakan vaksinasi pervaginal ada  

perbadaan bermakna angka reinfekasi dibanding 

plasebo. Pada kelompok vaksin memperlihatkan 50% 

pasien tidak terjadi reinfeksi ISK dibanding hanya 

17% pada plasebo. Sedangkan penelitian yang 

menggunakan vaksin oral, suatu metaanalisis 

menyatakan bahwa pasien ISK yang mendapatkan 

vaksin (18 uropatogenik E. coli) terjadi penurunan 

yang nyata pada angka rekurensi dibanding dengan 

plasebo. Tidak didapatkan perbedaan efek samping 

yang bermakna dibanding kontrol. Sehingga, dengan 

adanya resistensi yang semakin meningkat, 

imunoterapi terhadap ISK akan menjadi alternatif 

yang efeksif dan aman. 

Sistem imun mukosa memiliki  tiga fungsi 

utama yaitu; (i) melindungi membran mukosa dari 

invasi dan kolonisasi mikroba berbahaya yang 

mungkin menembus masuk, (ii) melindungi 

pengambilan (uptake) antigen-antigen terdegradasi 

meliputi protein-protein asing dari makanan yang 

tercerna, material di udara yang terhirup dan 

bakteri komensal, (iii) melindungi berkembangnya 

respons imun yang berpotensi merugikan terhadap 

antigen-antigen ini  bila antigen ini  

mencapai dalam tubuh. 

Mekanisme pembersihan antigen melalui 

beberapa cara yaitu; mekanis dengan barries fisik, 

kimiawi dengan enzim-enzim, sistem 

imune innatemeliputi netrofil fagositik dan 

makrofag, denritik sel, sel NK (natural killer), dan 

sel mast. Sel-sel ini berperan dalam eliminasi 

patogen dan inisisasi respons imun adaptif. 

Mekanisme pertahanan sistem imun adaptif di 

permukaan mukosa yaitu  suatu sistem yang 

diperantarai antibodi IgA sekretori. Sistem imunitas 

mukosa memiliki  berbagai cara untuk menjaga 

toleransi terhadap antigen-self, antigen lingkungan 

pada mikroflora, antigen makanan dan material 

udara terhirup. Tolerasi ini  antara lain melalui 

mekanisme; aktifasi sel penginduksi kematian 

(induce-cell death), anergi dan yang paling penting 

induksi sel T regulator. Adanya toleransi imun ini 

melindungi tubuh dari terjadinya reaksi imun yang 

berlebihan yang merugikan.    

Kelainan klinis yang berhubungan dengan 

imunitas mukosa diantaranya yaitu  defisiensi IgA 

selektif, inflammatory bowel disease, asma dan 

PPOK . Defisiensi IgA selektif yaitu  defisiensi berat 

atau total tidak ada imunoglobulin A dalam serum 

atau sekresi, tanpa ada defisiensi klas 

imunoglobulin lain dimana fungsi sel T limfosit, 

fagosit dan komplemen masih normal. kemungkinan 

pemicu  defisiensi ini yaitu  gangguan sintesis 

akibat sel B tidak bisa mencapai matur atau 

gangguan sekresi. Penyakit inflamasi usus 

(inflammatory bowel disease) yaitu kolitis 

ulcerativa (UC) dan Crohn’s disease (CD), 

pemicu nya belum diketahui. Sejumlah penelitian 

mencurigai CD pada manusia yaitu  suatu penyakit 

yang diperantarai sel T helper 1 dan berlebihan. 

Sedangkan untuk UC masih sedikit diketahui apa 

yang memerantarainya. Pada asma, respons IgA 

terhadap alergen memainkan peran suatu proses 

patogenik dengan cara aktifasi eosinofil, sedangkan 

PPOK diperkirakan bahwa respons IgA mukosa 

terganggu dan terjadi kekurangan transport IgA 

melewati epitel bronkus, yang mungkin 

memunculkan proteinase neutrofil, dimana akan 

mendegradasi reseptor imunoglobulin yang 

dimediasi rute transepitelial ini. 

Sistem imunitas mukosa ternyata 

memiliki  sifat kompartemenisasi dimana ada 

hubungan imunitas antara satu kompartemen 

dengan kompartemen lain. Adanya hubungan 

kompartemenisasi ini menjadi pertimbangan 

tempat diberikannya imunisasi mukosa akan efek 

yang diharapkan. Vaksinasi mukosa dan imunoterapi 

kelihatannya memiliki  prospek yang baik untuk 

tatalaksana infeksi dimasa mendatang, 

menggantikan peran antibiotik yang semakin 

bertambah resistensinya dan antivirus. Untuk itu, 

pemahaman imunologi mukosa yang komplek dan 

belum sepenuhnya dimengerti menjadi sangat 

penting. 

 

C. Rangkuman 

Sistem imunitas mukosa lebih bersifat menekan imunitas, 

sebab  hal-hal berikut; mukosa berhubungan langsung 

dengan lingkungan luar dan berhadapan dengan banyak 

antigen yang terdiri dari bakteri komensal, antigen 

makanan dan virus dalam jumlah yang lebih besar 

dibandingkan sistem imunitas sistemik. Hal ini 

untuk  mencegah terjadinya respons imun yang berlebihan 

yang akhirnya merugikan oleh sebab  adanya paparan 

antigen yang sangat banyak. Sistem imunitas mukosa 

menggunakan beberapa mekanisme untuk melindungi 

pejamu dari respons imunitas yang berlebihan terhadap isi 

lumen usus. Mekanisme yang dipakai yaitu  barier fisik 

yang kuat, adanya enzim luminal yang mempengaruhi 

antigen diri yang alami, adanya sel T regulator spesifik yang 

diatur fungsinya oleh jaringan limfoid usus, dan adanya 

produksi antibodi IgA sekretori yang paling cocok dengan 

lingkungan usus. 

Mekanisme proteksi terhadap antigen pada mukosa, 

terdiri dari: membran mukosa yang menutupi mukosa 

dan enzim yaitu  perlindungan mekanik dan kimiawi 

yang sangat kuat, sistem imun mukosa innate berupa 

eliminasi antigen dengan cara fagositosis dan lisis, 

sistem imun mukosa adaptif  dimana selain melindungi 

permukaan mukosa juga melindungi bagian dalam 

badan dari masuknya antigen lingkungan. Sel-sel ini 

terakumulasi di dalam atau transit antara 

berbagai Mucosa-Assosiated Lymphoid 

Ttisssue (MALT), bersama-sama membentuk sistem 

organ limfoid terbesar pada mamalia. Sistem imun 

mukosa memiliki  tiga fungsi utama yaitu; (i) 

melindungi membran mukosa dari invasi dan kolonisasi 

mikroba berbahaya yang mungkin menembus masuk, 

(ii) melindungi pengambilan (uptake) antigen-antigen 

terdegradasi meliputi protein-protein asing dari 

makanan yang tercerna, material di udara yang 

terhirup dan bakteri komensal, (iii) melindungi 

berkembangnya respons imun yang berpotensi 

merugikan terhadap antigen-antigen ini  bila 

antigen ini  mencapai dalam tubuh. Secara 

fungsional, MALT terdiri dari dua komponen yaitu 

jaringan limfoid mukosa terorganisir dan sistem 

imunologi mukosa tersebar. 

Mukosa hidung di tengah berfungsi sebagai contoh 

bagaimana DC intra- atau subepitel diam dapat 

menangkap antigen di situs efektor dan bermigrasi 

melalui pengeringan limfatik ke kelenjar getah 

bening lokal atau regional di mana mereka menjadi 

APC aktif dan merangsang sel T baik untuk produksi 

atau downregulatory. Mereka beralih dari MALT dan 

kelenjar getah bening ke sirkulasi perifer setelah 

dipersiapkan untuk menjadi memori/efektor B dan 

sel T, di mana mereka kemudian akan ekstravasasi di 

situs efektor mukosa (dicontohkan oleh mukosa usus 

di sebelah kanan). Profil lokal molekul adhesi 

vaskular dan kemokin mengontrol proses ini, dengan 

sel endotel bertindak sebagai penjaga gerbang 

regional untuk imunitas mukosa. Beberapa limfosit B 

namun  sejumlah besar plasmablast dan sel plasma IgA 

(dimer/polimer) dan IgM (pentamer) yang 

mengekspresikan rantai-J dapat ditemukan di usus 

lamina propria. 

Selain itu, sejumlah besar sel T, sebagian besar CD4+, 

dan beberapa sel plasma IgG yang tidak umum dengan 

berbagai tingkat rantai-J (J), biasanya ada. Respons 

Umum Imunologi Mukosa Antigen yang berada di 

lumen  diambil oleh sel epitelial abortif dan sel 

epitelial spesifik (sel membran atau sel mikrofold atau 

sel M) di mukosa induktif, dibawa atau langsung 

ditangkap oleh antigen-presenting cel (APC) 

profesional (APC terdiri dari; sel dendritik (DC), sel 

limfosit B dan makrofag) dan dipresentasikan kepada 

sel-sel T konvensional αβ CD4+ dan CD8+, semuanya 

berada pada tempat induktif. Respons imun mukosa 

dipengaruhi oleh alamiah antigen, tipe APC yang 

terlibat dan lingkungan mikro lokal. Dengan 

kebanyakan tipe yaitu  antigen non patogen (protein 

makanan), jalur normal untuk sel dendritik mukosa dan 

APC lain terlihat melibatkan sel T helper 2 dan respons 

berbagai sel T regulator, biasanya hasilnya yaitu  

supresi aktif imunitas sistemik, toleransi oral. 

Antigen dan adjuvant, meliputi kebanyakan patogen, 

memiliki  motif disensitisasi oleh APC mukosa 

sebagai pertanda bahaya (contoh; ligan toll-like 

reseptor (TLR)) disatu sisi dan kondisi proinflamasi 

pada umumnya, menghasilkan respons imun yang lebih 

kuat dan luas, baik sekresi hormonal maupun sisi 

efektor imunitaas seluler dan tidak menghasilkan 

toleransi oral. Ini diasumsikan bahwa pengenalan 

patogen oleh TLR APC mukosa membedakan dari 

respons pada flora komensal.. 




 IMUNODEFISIENSI 

 

1. Pengertian Imunodefisiensi 

Imunitas merupakan kekebalan terhadap 

penyakit terutama penyakit infeksi. Imun sistem 

yaitu  semua hal yang berperan dalam proses imun 

seperti sel, protein, antibody dan sitokin/kemokin. 

Fungsi utama sistem imun yaitu  pertahanan 

terhadap infeksimikroba, walaupun substansi non 

infeksious juga dapat meningkatkan kerja sistem 


imun. Respon imun yaitu  proses pertahanan tubuh 

terhadap semua bahan asing, yang terdiri dari 

sistem imun non spesifik dan spesifik. 

Imunodefisiensi yaitu  kondisi saat  

kekebalan tubuh terganggu sehingga tidak bisa 

melawan infeksi dan penyakit. Jenis gangguan ini 

dapat membuat tubuh mudah terinfeksi oleh virus 

dan bakteri. Gangguan ini bisa dimiliki sejak lahir 

(primer) atau didapatkan di kemudian hari 

(sekunder). Keadaan ini terjadi oleh adanya 

penurunan atau ketiadaan respon imun normal. Hal 

ini dapat terjadi secara primer yang pada umumnya 

disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan, 

serta secara sekunder akibat penyakit utama lain 

seperti infeksi, pengobatan kemoterapi, 

sitostatika, radiasi, obat-obatan imunosupresan 

(menekan sistem kekebalan tubuh) atau pada usia 

lanjut dan malnutrisi (Kekurangan gizi). 

 

2. Klasifikasi Imunodefisiensi 

Imunodefisiensi terbagi menjadi dua, yaitu 

imunodefisiensi primer yang hampir selalu 

ditentukan faktor genetik. Sementara 

imunodefisiensi sekunder  bisa muncul sebagai 

komplikasi penyakit seperti infeksi, kanker, atau 

efek samping penggunaan obat-obatan dan terapi. 

 

a. Imunodefisiensi Primer 

Gangguan immunodefisiensi primer merujuk 

beragam gangguan yang ditandai dengan 

berkurangnya atau tidak adanya salah satu atau 

lebih komponen dari sistem kekebalan tubuh. 

Gangguan ini  dapat bersifat kronis dan 

biasanya merupakan gangguan yang cukup penting. 

Imunodefisiensi primer memicu  individu tidak 

dapat merespon secara adekuat infeksi yang ada 

sehingga respon terhadap gangguan infeksi tidak 

adekuat. Para peneliti telah mengidentifikasi lebih 

dari 150 jenis imunodefisiensi primer. 

Imunodefisiensi dapat mempengaruhi limfosit B, 

limfosit T, atau fagosit. Gangguan imunodefisiensi 

primer diantaranya yaitu: 

             1)  Defisiensi IgA (imunoglobulin) 

Imunoglobin ditemukan terutama di air 

liur dan cairan tubuh lain sebagai perlindungan 

pertama tubuh. pemicu nya genetik  maupun 

infeksi toksoplasma, virus cacar, dan virus 

lainnya. Orang yang kekurangan IgA cenderung 

memiliki alergi atau mengalami pilek dan infeksi 

pernapasan lain walaupun tidak parah. 

              2) Granulomatos kronis (CGD) 

Penyakit imunodefisiensi yang diwariskan 

sehingga penderitanya rentan terhadap infeksi 

bakteri atau jamur tertentu. Penderitanya tidak 

dapat melawan infeksi kuman yang umumnya 

ringan pada orang normal. 

             3)  Bruton's Agammaglobulinemia 

Kelainan yang ditandai kegagalan 

prekursor limfosit B sebab  cacat pada gen 

kromosom X. Penyakit ini paling sering 

ditemukan pada pria walaupun secara sporadik 

terjadi juga pada wanita.  Penyakit mulai 

terlihat pada usia 6 bulan setelah imunoglobin 

maternal mulai habis. 

             4)  Severe combined immunodeficiency (SCID) 

SCID yaitu  gangguan sistem kekebalan 

tubuh serius sebab  limfosit B dan limfosit T. 

Mereka yang kekurangan hampir mustahil 

melawan infeksi. Bayi yang mengalam SCID 

umumnya mengalami kandidiasis oral, diaper 

rash, dan kegagalan berkembang. 

             5)  Sindroma DiGeorge (thymus displasia) 

Sindrom cacat lahir  dengan penderita 

anak-anak yang lahir tanpa kelenjar timus. 

Tanda sindroma ini antara lain menurunnya level 

sel T, tetanus, dan cacat jantung bawaan. 

Telinga, wajah, mulut dan wajah dapat menjadi 

abnormal. 

             6)  Sindroma Chediak-Higashi 

Ditandai dengan ketidakmampuan 

neutrofil untuk berfungsi sebagai fagosit secara 

normal. 

   7)  Hyper IgM syndrome 

Penyakit ini ditandai dengan produksi IgM 

namun  defisiensi IgA dan IgE. Akibatnya terjadi 

cacat pada respon imun sel T helper dan 

maturasi sel B dalam sekresi imunoglobin 

terhambat. 

             8)  Wiskott-Aldrich Syndrome 

Penyakit yang terkait dengan kromosom X 

ditandai dengan trombositopenia, eksema, dan 

rentan infeksi sehingga memicu  kematian 

dini. 

 

b. Imunodefisiensi Sekunder 

Penyakit ini berkembang umumnya setelah 

seseorang mengalami penyakit. pemicu  yang lain 

termasuk akibat luka, kurang gizi atau masalah 

medis lain. Sejumlah obat-obatan juga 

memicu  gangguan pada fungsi kekebalan 

tubuh. Immunodefisiensi sekunder, diantaranya 

yaitu : 

1) Infeksi 

HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS 

(acquired immunodeficiency syndrome) yaitu  

penyakit umum yang terus menghancurkan sistem 

kekebalan tubuh penderitanya. pemicu nya yaitu  

virus HIV yang mematikan beberapa jenis limfosit 

yang disebut sel T-helper. Akibatnya, sistem 

kekebalan tubuh tidak dapat mempertahankan 

tubuh terhadap organisme biasanya tidak 

berbahaya. Pada orang dewasa pengidap AIDS, 

infeksi HIV dapat mengancam jiwa. 

2) Kanker 

Pasien dengan kanker yang menyebar luas 

umumnya mudah terinfeksi mikroorganisma. Tumor 

bone marrow dan leukimia yang muncul di sumsum 

tulang belakang dapat mengganggu pertumbuhan 

limfosit dan leukosit. Tumor juga menghambat 

fungsi limfosit seperti pada penyakit Hodgkin. 

 

3) Obat-obatan 

Beberapa obat menekan sistem kekebalan 

tubuh, seperti obat kemoterapi yang tidak hanya 

menyerang sel kanker namun  juga sel-sel sehat 

lainnya, termasuk dalam sum-sum tulang belakang 

dan sistem kekebalan tubuh.  Selain itu, gangguan 

autoimun atau mereka yang menjalani transplantasi 

organ dapat mengurangi kekebalan tubuh melawan 

infeksi. 

4) Pengangkatan Lien 

Pengangkatan lien sebagai terapi trauma atau 

kondisi hematologik dapat memicu  

peningkatan suspeksibilitas terhadap infeksi 

terutama Streptococcus pneumoniae. 

 

3. Etiologi 

Beberapa pemicu  dari immunodefisiensi 

yang didapat antara lain: 

a. Penyakit keturunan dan kelainan metabolisme 

1) Diabetes  

2) Sindroma Down  

      3) Gagal ginjal  

      4) Malnutrisi  

      5) Penyakit sel sabit  

b. Bahan kimia dan pengobatan yang menekan 

sistem kekebalan 

1)  Kemoterapi kanker  

2)  Kortikosteroid  

3)  Obat immunosupresan  

4)  Terapi penyinaran  

c. Infeksi 

1) Cacar air  

2) Infeksi sitomegalovirus  

3) Campak Jerman (rubella kongenital)  

4)  Infeksi HIV (AIDS)  

5)  Mononukleosis infeksiosa  

6)  Campak  

7)  Infeksi bakteri yang berat  

8)  Infeksi jamur yang berat  

d. Penyakit darah dan kanker  

1) Agranulositosis  

2) Semua jenis kanker  

3) Anemia aplastik  

4) Histiositosis  

5) Leukemia  

6) Limfoma  

7) Mielofibrosis  

8) Mieloma  

e. Pembedahan dan trauma  

1) Luka bakar 

2) Pengangkatan limpa 

f. Lain-lain  

1) Sirosis sebab  alkohol  

2) Hepatitis kronis  

3) Penuaan yang normal  

4) Sarkoidosis  

5) Lupus eritematosus sistemik 

 

4) Manifestasi Klinis 

Gejala klinis yang menonjol pada 

Imunodefisiensi yaitu  infeksi berulang atau 

berkepanjangan atau oportunistik atau infeksi 

yang tidak umum yang tidak memberikan respon 

yang adekuat terhadap terapi antimikroba. Telah 

diketahui bahwa reaksi imunologi pada infeksi 

merupakan interaksi antara berbagai komponen 

dalam sistem imun yang sangat komplek. Kelainan 

pada sistem fagosit, limfosit T dan limfosit B 

maupun dalam sistem komplemen dapat 

menampilkan gejala klinik yang sama sehingga 

sulit dipastikan komponen mana dari sistem imun 

yang mengalami gangguan. Penderita dengan 

defisiensi limfosit T biasanya menunjukan 

kepekaan terhadap infeksi virus, protozoa, dan 

jamur yang biasanya dapat diatasi dengan respon 

imun seluler. Gejala penyakit imunodefisiensi 

berbeda-beda tergantung pada jenisnya dan 

individu. Tanda dan gejala imunodefisiensi 

meliputi: 

a) Pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi 

telinga, meningitis, atau infeksi kulit yang 

berulang 

b) Infeksi darah 

c) Peradangan dan infeksi organ dalam 

d) Kelainan darah, seperti jumlah trombosit yang 

rendah atau anemia 

e) Masalah pencernaan, seperti kram, kehilangan 

nafsu makan, mual, dan diare 

f) Pertumbuhan dan perkembangan lambat atau 

tertunda 

g) Gangguan autoimun, seperti lupus, 

rheumatoid arthritis serta diabetes tipe 1. 

5) Dampak Imunodefisiensi Terhadap Tubuh 

  Respon imun bawaan merupakan garis 

pertahanan pertama terhadap organisme yang 

berpotensi menyerang pertahanan tubuh. 

Pengenalan yang baik terhadap ancaman dan 

induksi gangguan dari kaskade inflamasi 

merupakan langkah-langkah penting dalam 

mengeliminasi organisme patogen dari sistem. 

Kegagalan sistem bawaan untuk mengidentifikasi 

patogen akan berdampak menunda induksi respon 

imun dan dapat memperburuk hasil infeksi. 

Banyak sel dan protein yang terlibat dalam respon 

imun bawaan termasuk diantaranya fagosit 

(neutrofil dan makrofag), sel dendritik dan 

protein komplemen. Fagosit terutama bertanggung 

jawab untuk proses fagositosis, sebuah proses di 

mana sel menelan dan menghilangkan patogen 

yang menyerang tubuh. Protein komplemen 

berfungsi untuk mengidentifikasi dan 

mengopsonisasi (mantel) antigen asing membuat 

mereka rentan terhadap fagositosis. Cacat 

dalam pengembangan dan fungsi dari setiap 

unsur-unsur kekebalan bawaan dapat 

memicu  imunodefisiensi primer dan kata 

lain gangguan imunodefisiensi primer akan 

berdampak pada kurang adekuatnya sel tubuh 

membentuk pertahanan untuk mengikat 

patogen. Kegagalan ini pada umumnya disebabkan 

oleh sebab  mutasi gen atau faktor biokimia lain 

seperti enzym. 

  Sedangkan imunodefiensi sekunder akan 

berdampak yaitu semakin menurunnya respon 

kekebalan tubuh manusia dimana individu 

ini  akan mudah sekali mengalami infeksi 

oportunistik (infeksi penyerta) sehingga kualitas 

hidup individu ini  akan semakin menurun. 

 

 

C. Rangkuman  

Imunodefisiensi yaitu  kondisi saat  

kekebalan tubuh terganggu sehingga tidak bisa 

melawan infeksi dan penyakit. Jenis gangguan ini 

dapat membuat tubuh mudah terinfeksi oleh virus 

dan bakteri. Imunodefisiensi terbagi menjadi dua, 

yaitu imunodefisiensi primer yang ditentukan 

faktor genetik. Sementara imunodefisiensi 

sekunder bisa muncul sebagai komplikasi penyakit 

seperti infeksi, kanker, atau efek samping 

penggunaan obat-obatan dan terapi. 

Beberapa pemicu  dari immunodefisiensi 

yang didapat antara lain Penyakit keturunan dan 

kelainan metabolisme, bahan kimia dan 

pengobatan yang menekan sistem kekebalan, 

infeksi, penyakit darah dan kanker, pembedahan 

dan trauma serta lain-lain.  

Tanda dan gejala imunodefisiensi antara lain 

meliputi Pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi 

telinga, meningitis, atau infeksi kulit yang 

berulang, infeksi darah, peradangan dan infeksi 

organ dalam, kelainan darah, seperti jumlah 

trombosit yang rendah atau anemia, masalah 

pencernaan, seperti kram, kehilangan nafsu 

makan, mual, dan diare, pertumbuhan dan 

perkembangan lambat atau tertunda, gangguan 

autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis serta 

diabetes tipe 1. 

Gangguan imunodefisiensi primer akan 

berdampak pada kurang adekuatnya sel tubuh 

membentuk pertahanan untuk mengikat patogen. 

Kegagalan ini pada umumnya disebabkan oleh 

sebab  mutasi gen atau faktor biokimia lain seperti 

enzym. 

  Sedangkan imunodefiensi sekunder akan 

berdampak yaitu semakin menurunnya respon 

kekebalan tubuh manusia dimana individu 

ini  akan mudah sekali mengalami infeksi 

oportunistik (infeksi penyerta) sehingga kualitas 

hidup individu ini  akan semakin menurun. 

 

 PROSES PATOLOGIS 

HIPERSENSITIVITAS 


 

Imunitas spesifik merupakan mekanisme ampuh untuk 

menyingkirkan pathogen dan antugen asing. Mekanisme 

efektor system imun sperti komplemen, fagosit,sitokin dan 

lain-lainnya tidak spesifik untuk antigen asing. Kerena  aitu 

respon imun dan reaksi inflamasi yang menyertai respon 

imun kadang-kadang disertai kerusakan jaringan tubuh itu 

sendiri baik lokal maupun sistemik. Pada umumnya efek 

samping demikian dapat dikendalikan dan membatasi diri 

(self-limited) dan berhenti sendiri dengan hilangnya 

antigen asing. Disamping itu dalam keadaan normal ada 

toleransi terhadap antigen self sehingga kalanya merespon 

atau reaksi imun itu berlebihan atau tidak terkontrol dan 

rekasi demikian disebut reaksi hipersensivitas 

             Reaksi hipersensitivitas dapat  terjadi bila 

jumlah antigen yang mausk realtif banyak atau bila status 

imunologik seseorang  baik seluluer maupun humoral 

meingkat. Reaksi itu tidak pernah timbul pada pemaparan 

pertama dan merupakan ciri khas individu bersangkutan. 

Reaksi hipersensitivitas menimbulkan manifestasi klinik 

dan patologik yang sangat heterogen 

              Bila seseorang pernah terpapar pada 

antigen tertentu,maka pemaparan berikutnya dengan 

antigen yang sama  memicu  respons imunologik 

sekunder dengan tujuan menyingkirkan antigen ini . 

Hal ini merupakan reaksi alami tubuh untuk 

mempertahankan  diri. Namun, pada keadaan tertentu. 

Reaksi imunologik itu berlangsung berlebihan atau tidak 

wajar sehingga menimbulkan kerusakan  jaringan.. Reaksi 

hipersensitivitas dapat terjadi bila jumlah antigen yang 

masuk relatif banyak atau bila status imunologik seseorang 

baik secara selular maupun humoral, meningkat. Reaksi itu 

tidak pernah timbul pada pemaparan pertama dan 

merupakan ciri khas individu bersangkutan. 

Reaksihipersensitivitas menimbulkan manifestasi klinik dan 

patologik yangsangat heterogeny dan heterogenitas itu 

ditentukan oleh: 1) jenis respon imun  yang memicu  

kerusa

kan jaringan dan 2 ) sifat dan lokasi  antigen yang 
menginduksi atau yang merupakan sasaran dari respon imun 
ini . Berdasarkan mekanisme imunologik yang terjadi, 
secara umum  reaksi hipersensitivitas tipe I,II,III, dan IV. 
Klasifikasi itu didasarkan pada mekanime patogik utama 
yang bertanggung jawab atas kerusakn sela tau jaringan. 
Reaksi tipe I, II, dan III terjadi sebab  interaksi antara 
antigen dnegan antibody sehingga termasuk reaksi humoral  
sedangkan rekasi tipe IV terjadi sebab  interaksi antara 
antigen dengan reseptor yang ada  pada permukaan 
limfosit T dan mengaktifkan limfosit T sehingga  termasuk 
reaksi selular.  Reaksi tipe 1 terjadi apabila antigen 
lingkungan dan respon  IgE memicu  penglepasan 
berbagi mediator oleh sel mastosit yang berkaibat  reaksi  
inflamasi. Tipe 11 terjadi apabila berikatan dengan antigen 
(baik self maupun asing) merangsang terjadinya fagositosis 
,aktivitas killer cells atau lisis oleh komplemen). Tipe III 
terjadi apabila komplek antigen-antobodi dalam jumlah 
banyak  dan tidak dapat dibersihkan  secara adekuat oleh 
retikuloendotel dan memicu  reaksi  serum sickness, 
sedangkan tipe IV  dapat terjadi apabila antigen  
tertangkap oleh makrofag  namun  tidak dibersihkan  atau 
disingkirikan. Hal ini merangsng  sel T memproduksi  sitokin 
yang memicu   reaksi inflamasi 
 
              Hipersensitivitas yaitu  respon imun yang 
berlebihan dan tidak diinginkan  sebab  dapat 
menimbulkan kerusakan jaringan  tubuh. Reaksi ini  
oleh Gell dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi menurut 
kecepatannya dan mekanisme imun yang terjadi. Reaksi ini 
terjadi dapat terjadi sendiri-sendiri, namun  dalam klinis dua 
atau lebih jenis reaksi ini  sering terjadi sering 
bersamaan 

Reaksi tipe 1 
Reaksi tipe yang disebut tipe cepat, reaksi 
anafilaksis atau reaksi  alergi dikenal reaksi  yang segerea 
timbul sesudah antigen masuk kedlam tubuh. Istilah alergi 
yang pertama kali digunakan  von Pirquet pada tahun 1906 
diartikan sebagai  reaksi penjamu yang berubah” bila 
terjadi kontak dengan bahan yang sama  untuk kedua kali 
atau lebih 
          Antigen yang masuk tubuh akan ditangkap oleh 
fagosit, diprosesnya lalu dipresentasikan ke sel Th2. Sel 
yang akhir melepas sitokin akan merangsang sel B untuk 
membentuk IgE. IgE akan diikat terutama oleh sel mast 
mellaui reseptor Fc ( juga oleh basofil dan eosinophil). Bila 
ada allergen yang sama  masuk tubuh akan diikat oleh IgE 
tadi (spesifik) dan menimbulkan degranulasi  ini   
mengeluarkan berbagai mediator antara lain histamin  
 
(Gambar 1) yang didapat dalam granul-granul sel dan 
menimbulkan gejala pada reaksi hipersensitivitas tipe 1 
            Penyakit-penyakit yang timbul segera 
sesudah tubuh terpajan dengan allergen yaitu  asma 
bronkial, rhinitis, ultikaria dan dermatitis atopic. 
Disamping histamin, mediator lain seperti prostaglandin 
dan leukotrin (SRS-A) yang dihasilkan metabolism asam 
arakidonat berperan pada fase lambat dari reaksi tipe I 
yang sering timbul beberapa jam sesudah kontak dengan 
alergen 
             Hipersensitivitas tipe 1 ditandai oleh reaksi 
alergi yang terjadi segera setelah pemaparan dengan 
antigen yang disebut allergen. Jenis reaksi ini penting dan 
sering dijumpai. Pemaparan  antigen yang pada hakekatnya 
tidak berbahaya untuk pertama kali, tidak menimbulkaaan 
reaksi yang merugikan. namun  pemaparan  berikutnya 
dapat menimbulkan reaksi local maupun sistemik  yang 
kadang- kadang demikian hebat dan membahayakan seperti 
yang  terjadi pada renjatan anafilaktik 
      Istilah atopi menyatakan  gejala klinik dari 
hipersensitivitas tipe 1 mencakup asma eksim,hay fever, dan 
urtikaria. Gejala ini biasanya muncul pada individu  dengan 
anggota kelurga yang menunjukan gejala yang sama, yaitu 
menunjukan reaksi alergi segera terpapar pada antigen 
lingkungan. 
 
   
Gambar 10.2. Reaksi Tipe 1              
Reaksi Tipe II  yaitu  reaksi sitotoksitosisitas yang 
memerlukan bantuan antibodi  
Penggolongan reaksi hipersensitivitas semula 
berdasarkan atas perbedaan mekanisme kerusakan jaringan 
yang diakibatkannya. Baik reaksi tipe II maupun rekasitipe 
III melibatkan IgG dan IgM. Perbedaannya yaitu  bahwa 
reaksi tipe II antibody ditujukan kepada antigen yang 
ada  pada permukaan sela tau jaringan tertentu, 
sedangkan pada reaksi tipe III antibodi  ditujukan kepada 
antigen  yang larut dalam serum. Jadi pada reaksi tipe II, 
antibodi yang ada  dalam serum bereaksi dengan 
antigen yang berada pada permukaan suatu sel yang 
merupakan  komponen membran sel 
Sering kali suatu substansi berupa mikroba dan 
molekul molekul kecil lain atau haptan, melekat pada 
permukaan sel dan bersifat sebagai antigen. Komplek 
antigen-antibodi pada permukaaan sel sasaran  akan 
dihancurkan oleh sel efektor, misalnya oleh efektor, 
misalnya oleh makrofag maupun oleh neutrophil dan 
monosit atau limfosit T-sitotoksik dan sel NK sehingga 
mungkin dapat memicu   kerusakan sel itu sendiri. 
Pada keadaan inisulit membedakan antara reaksi imun yang 
normal dengan reaksi hipersensitivitas 
 
 
Mekanisme kerusakan jaringan 
Proses sitolisis terjadi melalui beberapa mekanisme 
yaitu: 
a. Proses sitolisis oleh sel efektor. Pada proses 
sitolisis ini perlu kontak antar sel efektor dengan 
sel sasaran. Kontak ini terjadi melalui molekul 
immunoglobulin yang terikat oleh antigen pada 
permukaan sel sasaran yang kemudian  
berinteraksi  dengam reseptor Fc yang ada  
pada permukaan sel efektor, misalnya makrofag 
,neutrophil, eosinophil dan sel NK. Dengan 
demikian fragmen Fc merupakan jembatan  
antara sel efektor dengan sel sasaran (opsonic 
adherence) 
b. Proses sitolisis  oleh komplemen. Proses sitolisis 
oleh komplemen terjadi sebab  Clq merupakan 
reseptor  Fc larut dan pengikatannya  pada 
kompleks antigen-antibodi yang ada  pada 
permukaan sel merangsang aktivasi C3. 
Selanjutnya terjadi aktivasi komplemen melalui 
jalur klasik yaitu aktivasi C5b-9 diikuti lisis  sel 
sasaran secara langsung.  
c. Proses sitolis  oleh sel efektor dengan bantuan 
komplemen (immune adherence). Sel sasaran 
yang dilapisi komplemen dapat rusak oleh sel 
efektor sebab  sel efektor memiliki resepetor 
utntuk c3b dan c3d. Pengikatan C3b dan C3d 
melalui reseptor  C3 pada permukaan sel efektor 
meningkatkan proses sitolisis oleh sel  efektor. 
 
      Subkelas immunoglobulin yang 
berbeda beda menunjukan kemampuan yang 
berbeda pula dalam hal intrekasi  dengan 
berbagai sel efektor  dan system komplemen. 
Hal ini berkaitan dengan  perbedaan 
karakteristik pengikatan  apada jenis reseptor Fc 
berbedasatu sama lain. Baik dengan fragmen-
fragmen komplemen maupun IgG dapat 
bertindak  selaku opsonin yang melapisi 
permukaan sl mikroba, atau sel lain sehingga sel 
efektor dapat lebih mudah menghancurkannya. 
Opsonisasi meningkatkan aktivitas lisosom 
fagosit dan meningkatkan kemampuannya untuk 
melepaskan produk- produk  
Oksigen realtif, misalnya superoksida, 
sehingga hal itu juga meningkatkan kemampuan 
sel efektor untuk menimbulkan keadaan 
imunopatologik pada reaksi  hipersensitivitas. 
Disamping itu antibodi yang terikat pada 
reseptor Fc pada permukaan sel efektor 
merangsang sel itu untuk melepaskan asam 
arakhidonik yang menghasilkan prostaglandin 
dan leukotriene yang terilbat dalam reaksi 
inflamasi . Beberapa unsur lain misalnya C5a 
berfungsi sebagai factor kemotaktik yang 
menarik sel efektor kerah terjadinya inflamasi 
Reaksi tipe II disebut juga reaksi sitotoksik terjadi 
sebab  dibentuk antibody jenis IgG atau IgM terhadap 
antigen yang merupakan bagian sel penjamu. Antibody 
ini  dapat mensensitasi Sel K sebagai efektor antibody 
dependent cell cytoxicity (ADCC) atau mengaktifkan 
komplemen dan menimbulkan lisis. Contoh reaksi tipe II 
yaitu  destruksi sel darah merah akibat reaksi transfuse  
dan penyakit anemia hemolitik pada bayi baru dilahirkan 
dan dewasa. Sebagian kerusakan jaringan pada penyakit  
autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis  juga 
ditimbulkan melalui mekanisme reaksi tipe II. Anemia 
hemolitik dapat ditimbulkan oleh obat seperti penisilin 
,kinin dan sulfonamid 
Mekanisme kerusakan jaringan 
a. Proses sitolisis oleh sel efektor pada proses 
sitolisis perlu ada kontak antara sel sel efektor 
dengan sel sasaran. Kontak antara sel efektor 
dengan sel sasaran. Kontak ini terjadi melalui 
molekul immunoglobulin yang terikat oleh 
antigen pada permukaaan sel sasaran yang 
kemudian berinteraksi dengan reseptor Fc yang 
ada  pada permukaan sel efektor, misalnya 
makrofag, neutrophil, eosinophil dan sel NK. 
Dengan demikian  fragmen Fc merupakan 
jembatan antara sel efektor dengan sel sasaran 
(opsonic adherence) 
b. Proses sitolis oleh komplemen.proses sitolisis 
oleh komplemen terjadi sebab  CLq merupakan 
resepetor  Fc yang larut dan pengikatannya pada 
kompleks antigen-antibodi yang ada  pada 
permukaan sel merangsang aktivasi C3. 
Selanjutnya terjadi aktivasi komplemen dengan 
jalur klasik yaitu aktivasi C5b-9 diikuti lisis sel 
sasaran  secara langsung 
c. Proses sitolisis oleh sel efektor  dengan bantuan 
komplemen (immune adherence) Sel sasaran 
yang dilapisi komplemen dapat rusak oleh sel 
efektor sebab  sel efektor  memiliki reseptor 
untuk c3b dan C3d. Pengikatam C3b dan C3d 
melalui reseptor C3 pada permukaan sel efektor 
meningkatkan proses sitolisis oleh sel efektor. 
 
3. Reaksi  Tipe III 
                  Reaksi tipe III disebut komplek imun terjadi 
akibat endapan komplek antigen-antobodi 
dalam jaringan atau pembuluh darah. Antibody 
disini biasnya jenis IgG. Komplek ini  
mengaktifkan komplemen yang kemudian 
melepas berbagai mediator terutama 
macrophage chemotactic factor. Makrofag yang 
dikerahkan ketmpat ini  akan merusak 
jaringa sekitarnya . antigen dapat berasal dari 
infeksi kuman pathogen yang pesisten (malaria), 
bahan terhirup spora jamur yang menimbulkan  
alveolitis ekstrinsik alergi) atau dari jaringan 
sendiri (penyakit autoimun) infeksi ini  
disertai antigen dalm jumlah yang berlebihan, 
namun  tidak disertai respons antibody efektif. 
Sebab-sebab  reaksi tipe III dan alat tubuh yang 
sering merupakan sasaran penyakit komplek 
imun  
 
    Komplek imun sebenarnya terbentuk setiap kali 
antibodi bertemu dengan antigen, namun  dalam keadaan 
normal pada umumnya komplek ini segera disingkirkan 
secara efektif oleh jaringan  retikuloendotel, tetai 
adakalanya pembentukan kompleks imun  memicu  
reaksi hipersensitivitas. Keadaaan imunopatologik 
akibat pembentukan komplek imun  ada dalam 3 
golongan 
1. Akibat kombinasi infeksi kronis yang ringan 
dengan respon antibody yang lemah, 
menimbulkan pembentukan komplek imun 
kronis yang dapat mengendap diberbagai 
jaringan  
2. Komplikasi dari penyakit autoimun dengan 
pembentukan autoantibodi secara terus 
menerus yang berikatan dengan jaringan self 
3. Komplek imun yang terbentuk pada permukaan 
tubuh misalnya dalam paru-paru, akibat 
terhidupnya antigen secara berulang kali 
 
Dalam keadaan normal komplek imun 
dimusnakan oleh sel fagosit mononuclear 
terutama  dalam hati, limpa,paru tanpa 
bantuan komplemen imun merupakan factor 
penting. Pada umumnya komplek yang besar 
mudah dan cepat dimusnakan dan oleh sebab  
itu dapat lebih lama ada dalam sirkulasi 
meskipun  untuk jangka waktu lama, baisanya 
bila komplek imun menembus dinding 
pembuluh darah dan mengendap dijaringan.  
Gangguan fungsi ginjal diduga dapat 
merupakan sebab mengapa komplek imun sulit 
dimusnakan 
 
4. Reaksi Tipe IV : reaksi Hipersensitivitas tipe 
lambat 
 
Reaksi ini tidak melibatkat antibodi 
namun  melibatkan sel-sel limfosit. Pada 
percobaan binatang  hipersensitivitas ini  tidak 
dapat dipindahkan dari binatang yang satu 
kepada yang lainnya dengan memindahkan 
serum, namun  pemindahan hipersensitivuats 
dengan  memindahkan limfosit T. Limfosit 
yaitu  sel imunospesisifik dan pada 
permukaannya memiliki  berbagi reseptor 
antigen baik untuk antigen jaringan maupun 
molekul molekul kecil yang melekat pada 
membrane sel kemudian bersifat antigen. 
Reaksi tipe IV disebut reaksi tipe lambat pada 
umumnya timbul lebih dari 12 jam setelah 
pemaparan antigen. Dikenal 4 jenis reaksi 
hypersensitivitas  tipe lambat yaitu: reaksi 
Jones-Mote, reaksi kontak, reaksi tuberculin 
dan reaksi granuloma 
a. Reaksi Jones Mote 
Merupakan reaksii yang timbul  hanya 
sebentar mencapai puncaknya paling 
lambat  setelah 24 jam dan kemudian 
berkurang atau enghilang. Reaksi Jones-
Mote disebut cutaneous basophil 
hypersentitivity, sebab  menunjukan 
infiltrasi basofil dalam jumlah besar 
dikulit. Menkanisme reaksi Jones-Mote dan 
manifestasi kliniknya hingga saat ini belum 
jelas 
b. Reaksi kontak (contact hypersensitivity) 
Dermatitis kontak ini dikenal dalam 
klinik sebagai dermatitis yang timbul pada 
kulit tempat kontak dengan allergen. 
Reaksi maksimal terjadi setelah  48 jam 
dan merupakan reaksi epidermal Sel 
Langerhans sebagai antigen presenting cell 
(APC), sel Th1 dan makrofag memegang 
peran pada reaksi disini 
c. Tuberkulin 
Reaksi tuberkulin yaitu  reaksi 
dermal yang berbeda dengan reaksi 
dermatitis kontak dan terjadi 20 jam 
setelah terpajan antigen. Reaksi terdiri 
atas infiltrasi sel mononuclear (50% yaitu  
limfosit dan sisanya monosit0 setelah 48 
jam, timbul infiltrasi limfosit dalam jumlah 
besar sekitar pembuluh darah yang 
merusak  hubungan serat-serat kolagen 
kulit.Bila reaksi menetap, reaksi tuberkulin 
dapat berlanjut menimbulkan kavitas atau 
granulomata. 
 
d. Reaksi granulomata 
         Reaksi ini dianggap penting 
sebab  banyak menimbulkan banyak efek 
patologis. Hal ini  terjadi oleh adanya 
antigen yang persisten dalam makrofag 
yang biasanya berupa mikroorganisme yang 
tidak dapat dihancurkan atau komplek 
imun yang menetap misalnya pada 
alveolitis alergik 
         Reaksi granulomata terjadi 
sebagai usaha badan untuk membatasi 
kehadiran antigen yang persisten dalam 
tubuh, sedangkan reaksi tuberkulin 
merupakan respons imun selular yang 
terbatas. Kedua reaksi ini  dapat 
terjadi akibat sensitasi terhadap antigen 
mikroorganisme yang sama misalnya pada 
M.Tuberculosae dan M.lepra. Granulomata 
terjadi pada hipersensitivitas terhadap 
zerkonium sarcoidosis dan rangsangan 
bahan non-antigenik seperti bedak 
(talcum). Dalam hal ini makrofag tidak 
dapat dimusnakan benda  inorganic 
ini . Granulomata non-imunologis 
dapat dibedakan  dari imunologisnya oleh 
sebab  yang pertama tidak mengandung 
limfosit. 
      Dalam reaksi granulomata 
ditemukan sel epiteloid yang diduga 
berasal dari sel-sel makrofag. Sel sel 
raksasa Langerhans, sel ini  
memiliki  bebrapa nucleus yang tersebar 
dibagian perifer sel dan oleh sebab  itu 
diduga sel ini  merupakan hasil 
differensiasi terminasi sel 
monosit/makrofag 
           Granulomata imunologis 
ditandai oleh inti yang terdiri atas sel 
epiteloid dan makrofag, kadang-kadang 
ditemukan sel raksasa yang dikelilingi oleh 
ikatan limfosit. Disamping itu dapat 
ditemukan fibrosis (endapan serat kolagen) 
yang terjadi akibat profelirasi fibroblast 
dan peningkatan sintesis kolagen). Pada 
beberapa penyakit sperti tuberkulosis, 

 
dibagian sentral dapat ditemukan nekrosis 
dengan hilangnya struktur jaringan